Beranda blog Halaman 510

Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

0
Pemimpin demokratis dan diplomatis
Pemimpin demokratis dan diplomatis

Menyimak kisah Nabi Sulaiman As. tentu tak bisa lepas dari Ratu Balqis, sosok pemimpin perempuan di Negeri Saba’ nan damai dan sejahtera. Beberapa fragmen kisah itu, menyiratkan amanat untuk kita tentang kepiawaian seorang perempuan untuk menjadi pemimpin yang ideal. Pemimpin nan demokratis dan dimplomatis tatkala mengambil keputusan.

Balqis, Sang Pemimpin Negeri Saba’

Meski jadi anak semata wayang, Balqis bisa menjadi pemimpin negeri Saba’ bukan tanpa usaha dan rintangan. Dalam Tafsir al-Baghawi diceritakan, konon, Balqis menaruh harapan untuk meneruskan jejak ayahnya dengan usaha keras meyakinkan penduduk Yaman.

Merespons usaha Balqis, kaum Yaman tidak semua sependapat. Ada yang mau mengakui kepemimpinan Balqis. Ada pula yang menolak. Dua respons yang pro-kontra tersebut menyebabkan Negeri Yaman terpecah menjadi dua. Satu bagian dipimpin Ratu Balqis. Bagian lainnya, dipimpin oleh seorang laki-laki. Wilayah kepemimpinan Balqis inilah yang disebut dengan Negeri Saba’. Negeri nan damai dan sejahtera di bawah naungan ratu perempuan. Sementara itu, satu kerajaan Yaman yang lain bernasib buruk, sebab rajanya lalim terhadap rakyatnya.


Baca juga: Benarkah Nabi Muhammad Mengidap Epilepsi Ketika Menerima Wahyu?


Sebagai informasi, Balqis adalah putri Raja Syarahil, pemimpin Negeri Yaman, keturunan Ya’rib bin Qahthan, nenek moyang Penduduk Arabia. Dalam Tafsir Al-Kasyaf az-Zamakhsyari menceritakan bahwa Syarahil merupakan keturunan raja Negeri Yaman. Ia putra terakhir dari 40 bersaudara sekaligus pewaris tahta kerajaan ayahnya.

Sementara itu, Ibu Balqis tidak dari sebangsa manusia, melainkan jin, bernama Raihanah binti Sakan. Keluhuran derajat Raja Syarahil membuatnya tidak pantas menikah dengan perempuan mana pun dari bangsa manusia, sehingga ia memutuskan untuk menikah dengan jin.

Demokratis Saat Membuat Keputusan

Al-Quran merekam sikap demokratis ala Ratu Balqis pada Surat An-Naml ayat 29-33:

قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ إِنِّيٓ أُلۡقِيَ إِلَيَّ كِتَٰبٞ كَرِيمٌ

إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

أَلَّا تَعۡلُواْ عَلَيَّ وَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ

قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ أَفۡتُونِي فِيٓ أَمۡرِي مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمۡرًا حَتَّىٰ تَشۡهَدُونِ

قَالُواْ نَحۡنُ أُوْلُواْ قُوَّةٖ وَأُوْلُواْ بَأۡسٖ شَدِيدٖ وَٱلۡأَمۡرُ إِلَيۡكِ فَٱنظُرِي مَاذَا تَأۡمُرِينَ

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”

“Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,”

“Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).”

“Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”

Kumpulan ayat di atas menarasikan sikap Ratu Balqis saat menerima surat dari Raja Sulaiman yang berisi ajakan untuk mengikuti ajaran tauhid. Alih-alih membuat keputusan sendiri, Balqis lebih memilih untuk urun rembug dengan para menterinya.


Baca juga: Ragam Bentuk Keadilan Sosial dalam Pandangan Al-Quran


Fadal Hasan ‘Abbas menceritakan dalam Qashasul Qur’an, bahwa kekhasan jiwa kepemimpinan Balqis ada pada sikapnya yang selalu mendiskusikan persoalan dengan rakyatnya. Termasuk saat menentukan langkah untuk merespons surat Nabi Sulaiman.

Mendiskusikan segala persoalan inilah yang mencerminkan betapa demokratisnya Ratu Balqis. Dengan selalu meminta pertimbangan rakyatnya dalam mengambil keputusan, menunjukkan bahwa Ratu Balqis tidak egois. Ia mementingkan kesejahteraan semua orang. Maka tak heran, kerajaan yang dipimpinnya bisa hidup damai, dan sarat akan kebebasan untuk berpendapat.

Para menteri Ratu Balqis kemudian hanya menunjukkan bahwa Kerajaan Saba’ memiliki perangkat militer yang kuat. Tetapi mereka menyerahkan keputusan kepada sang ratu. Hal ini sebagaimana yang tertera pada Surat An-Naml ayat 34 di atas.


Baca juga: Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat


Siasat Politik yang Diplomatis

Siasat diplomatis Ratu Balqis dinarasikan dalam QS. An-Naml ayat 34-35

قَالَتۡ إِنَّ ٱلۡمُلُوكَ إِذَا دَخَلُواْ قَرۡيَةً أَفۡسَدُوهَا وَجَعَلُوٓاْ أَعِزَّةَ أَهۡلِهَآ أَذِلَّةٗۚ وَكَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ

وَإِنِّي مُرۡسِلَةٌ إِلَيۡهِم بِهَدِيَّةٖ فَنَاظِرَةُۢ بِمَ يَرۡجِعُ ٱلۡمُرۡسَلُونَ

“Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.”

“Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.”

Sebagai seorang pemimpin cerdik nan bijaksana, Ratu Balqis tidak lantas memanfaatkan kekuatan militernya untuk menyerang kerajaan Sulaiman dengan cara yang anarkistik. Tergambar jelas dengan siasat politik diplomatis Balqis yang tergambar dalam Surat An-Naml ayat 34 dan 35.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim menjelaskan ayat 34 di atas itu menunjukkan bahwa kepemimpinan Ratu Balqis untuk tidak mengambil jalan perang. Ia mengatakan pada menteri-menterinya, bahwa meyulut api peperangan untuk menyerang negeri lain adalah kebiasaan raja-raja terdahulu, yang tidak boleh dilertarikan. Karena tindakan itu, hanya akan membuat kerusakan, pertumpahan darah, menginjak kehormatan dan kekuatan pemimpinnya. Tindak perlawanan yang anarkistik demikian ini kemudian justru membuat peradaban terdahulu hina dina dan porak poranda.


Baca juga: Keunikan Mushaf Pangeran Diponegoro; Iluminasi yang Mewah hingga Tanda Tajwid yang Lengkap


Ratu Balqis tidak ingin melakukan kebiasaan buruk para pendahulunya itu, ia lebih memilih langkah diplomasi dengan mengirimkan hadiah terlebih dahulu. Ia berharap dapat memberi kesan baik sehingga bisa membangun relasi yang kooperatif. Bagi Balqis, memberi hadiah bisa membahagikan hati penerima, menyatakan rasa kasih, dan kadang dapat menghindarkan dari peperangan. Siasat diplomatis Balqis ini ditunjukkan dalam Surat An-Naml ayat 35 di atas.

Kepiawaian Ratu Balqis dalam memimpin negara menunjukkan kepada kita bahwa perempuan pun bisa memakmurkan negara, cerdik dalam membuat siasat politik, dan bijak dalam berpikir serta bertindak untuk masyaraktnya. Perempuan mampu menjadi pemimpin yang demokratis dan diplomatis. Tentunya, dengan kredibilitas dan integritas sebagai pemimpin, sebagaimana tercermin dari pribadi Ratu Balqis.

Maka, ini semakin menunjukkan petunjuk-petunjuk Al-Quran tidak ada yang mengindikasikan perempuan sebagai subjek kedua atau bahkan menghinakan perempuan. Perempuan dan laki-laki sejatinya setara, yang membeda-bedakan hanyalah pikiran manusia. Wallahu a’lam[]

Keseimbangan Hidup Manusia Menurut Al-Quran: Tafsir QS. Al-Qasas Ayat 77

0
Keseimbangan Hidup
Keseimbangan Hidup menurut Al-Quran foto: saba.com

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki berbagai macam hasrat dan keinginan dalam hidupnya. Hasrat dan keinginan ini bila tidak dipandu dengan akal yang jernih dan ajaran agama yang luhur dapat menimbulkan keserakahan, kerakusan, ketidakpuasan berlebihan dan hal-hal lain yang dapat merusak bahkan melenyapkan eksistensi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, manusia harus menyadari pentingnya keseimbangan hidup, baik dalam mewujudkan hasrat maupun melenyapkannya.

Islam sebagai agama yang komprehensif turut mengatur tentang keseimbangan hidup. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang mengajarkan pentingnya keseimbangan hidup di Dunia. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “bukanlah orang yang paling baik diantara-kamu orang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia-hingga ia dapat memadukan keduanya (dunia dan akhirat). Janganlah kamu menjadi beban orang lain.” (Hadis riwayat Ibnu Asakir dari Anas bin Malik)

Hadis di atas mengajarkan bahwa seseorang harus memiliki keseimbangan hidup, baik persoalan duniawi maupun persoalan ukhrawi. Dalam ajaran Islam, dunia bukan hanya sebagai tempat sandiwara, tetapi juga sarana dan perantara untuk kehidupan akhirat yang abadi selama-lamanya. Tanpa kehidupan dunia yang baik (aman, tentram dan memungkinkan untuk beribadah), hampir mustahil bagi manusia untuk menggapai kesuksesan akhirat kecuali bagi orang-orang tertentu.

Baca Juga: Paham Antroposentrisme Agama (Sakhr) dan Upaya Merekonstruksinya

Seseorang harus menghadapi dunia dan segala keniscayaannya dengan tujuan kemuliaan di akhirat.” Mungkin inilah ungkapan yang paling cocok untuk menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim menjalani kehidupan dunia yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan akhirat. Syekh Muzaffer, seorang tokoh sufi asal Istanbul berkata, “sibukkan tanganmu dengan melakukan pekerjaan duniawi, dan sibukkan hatimu dengan Allah.” (Psikologi Sufi: 47).

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam juga beberapa kali menyinggung keseimbangan hidup. Salah satu ayat tersebut adalah QS. Al-Qasas [28]: 77 yang berbunyi:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ٧٧

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Menurut Quraish Shihab, ayat ini merupakan nasihat yang diberikan oleh beberapa pemuka kaum nabi Musa as kepada Qarun, bahwa ia boleh berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk meraih kesuksesan dunia dengan cara yang dibenarkan Allah Swt. Namun, hal tersebut jangan sampai membuat dirinya melupakan tujuan manusia sesungguhnya di dunia, yakni beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, segala hal yang didapatkan di dunia seyogyanya diorientasikan untuk kepentingan akhirat.

Kata fima dipahami oleh Ibn ‘Asyur mengandung makna terbanyak atau pada umumnya, sekaligus melukiskan tertancapnya ke dalam lubuk hati upaya mencari kebahagiaan ukhrawi melalui apa yang dianugerahkan Allah dalam kehidupan dunia ini. Dalam konteks Qarun adalah gudang-gudang tumpukan harta benda yang dimilikinya itu (Tafsir Al-Misbah [10]: 405).

Firman Allah, wa la tansa nashibaka min ad-dunya merupakan larangan melupakan atau mengabaikan bagian seseorang dari kenikmatan duniawi. Larangan itu dipahami oleh sebagian ulama bukan dalam arti haram mengabaikannya, tetapi dalam arti mubah (boleh untuk mengambilnya). Dengan demikian, ayat ini merupakan salah satu contoh penggunaan redaksi larangan untuk makna mubah atau boleh.

Ibn ‘Asyur memahami kalimat di atas dalam arti “Allah tidak mengecammu jika engkau mengambil bagianmu dari kenikmatan duniawi selama bagian itu tidak atas resiko kehilangan bagian kenikmatan ukhrawi. Menurutnya, ini merupakan nasihat yang perlu dikemukakan agar orang yang dinasihati tidak menghindar dari tuntunan itu. Tanpa kalimat semacam ini, boleh jadi orang yang dinasihati memahami bahwa ia dilarang menggunakan hartanya kecuali untuk pendekatan diri kepada Allah dalam bentuk ibadah murni semata-mata.

Berdasarkan penjelasan Ibn ‘Asyur di atas, dapat dipahami bahwa seseorang boleh menggunakan hartanya untuk tujuan kenikmatan duniawi selama hak Allah menyangkut harta telah dipenuhinya dan selama penggunaannya tidak melanggar ketentuan Allah swt. Dalam konteks Qarun, tidak mengapa seandainya ia mau menikmati kehidupan dunia dengan harta berlimpah, akan tetapi ia terlebih dahulu harus menunaikan kewajibannya seperti zakat dan tidak menggunakan kenikmatan tersebut untuk melakukan maksiat.

Baca Juga: Mengurusi Harta Anak Yatim, Perhatikan Pesan Surat An-Nisa Ayat 6

Sedangkan Thabathaba’i memahami penggalan ayat ini dalam arti: Jangan engkau mengabaikan apa yang dibagi dan dianugerahkan Allah kepadamu dari kenikmatan duniawi (mengabaikannya bagaikan orang yang melupakan sesuatu) dan gunakanlah hal itu untuk kepentingan akhiratmu, karena hakikat nasib dan perolehan seseorang dari kehidupan dunia ini adalah apa yang dia lakukan untuk akhiratnya karena itulah yang kekal untuknya (Tafsir Al-Misbah [10]: 406).

Dari beberapa penjelasan di atas, penulis berkesimpulan bahwa seseorang harus bersikap secara proporsional dalam persoalan dunia dan akhirat (keseimbangan hidup), dalam artian menyinergikan keduanya dan tidak meninggalkan secara mutlak salah satunya. Dunia sebagai wadah manusia untuk mengenal Allah dan berbuat kebaikan, tentu tidak bisa diabaikan dan ditinggalkan. Namun jangan tenggelam dalam glamor kehidupan dunia hingga melupakan tujuan akhir manusia, yakni kehidupan akhirat yang kekal abadi. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al Maidah Ayat 80-85

0
tafsir surat al ma'idah
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al Maidah Ayat 80-85 berbicara tentang lima hal yang berkaitan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Namun dari keduanya terdapat perbedaan dalam menerima seruan Nabi Muhammad saw.

Dalam Tafsir  Surat Al Maidah Ayat 81-85 ini pertama membahas tentang kelakuan orang Yahudi yang disaksikan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. Kelakuan mereka mirip dengan kelakuan nenek moyang mereka. Sebagaimana telah dibahas dalam ayat yang lalu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 75-79


Setelah itu pembahasan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 81-85 dilanjutkan dengan dengan sikap tidak konsisten yang dilakukan oleh orang Yahudi. Lalu dilanjutkan dengan pembahasan mengenai apa yang akan dihadapi Nabi Muhammad dalam perjuangannya.

Pembahasan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 81-85 ini ditutup dengan sikap orang-orang Nasrani yang menyambut datangnya Nabi Muhammad dengan senang hati dan tidak menyangka akan sezaman dengan Nabi Muhammad saw. Hal ini terbukti ketika mereka mendengar lantunan ayat-ayat Alquran.

Ayat 80

Setelah ayat yang lalu menerangkan keburukan tingkah laku nenek moyang orang Yahudi (Bani Israil) maka ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad menyaksikan sendiri tingkah laku orang-orang kafir Bani Israil yang ada pada zamannya, yaitu kebanyakan mereka tolong-menolong dengan orang musyrik dari kalangan Arab (kaum Nabi sendiri) dalam usaha memerangi Nabi Muhammad.

Pekerjaan yang mereka lakukan itu adalah sangat buruk sekali karena hanya mengikuti perintah hawa nafsu dan hasutan. Perbuatan itu menimbulkan kemurkaan Allah yang karenanya mereka pasti mendapat balasan daripada-Nya berupa azab api neraka untuk selama-lamanya. Orang-orang yang lepas dari api neraka adalah mereka yang mengerjakan pekerjaan yang diridai Allah.

Ayat 81

Ayat ini menerangkan bahwa kalau masyarakat Yahudi yang tolong-menolong dengan kaum musyrik Arab itu beriman kepada Nabi Musa sebagaimana pengakuan mereka, serta beriman kepada ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa, tentulah mereka tidak mungkin tolong-menolong dengan orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Karena ajaran agama mereka yang murni tidak dapat membenarkan hal itu.

Tetapi kebanyakan mereka adalah orang fasik yang oleh karenanya mereka dapat bersatu dan berkerja sama karena diikat oleh suatu kepentingan yaitu menentang Nabi Muhammad, menolak ajaran-ajaran Alquran dan berusaha membikin jera orang yang beriman kepada Muhammad.

Ayat 82

Pada ayat ini Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad  bahwa dalam perjuangannya akan menemukan manusia yang paling memusuhi dan menyakiti orang-orang mukmin. Manusia itu adalah Yahudi Medinah, musyrik Arab dan kalangan penyembah berhala. Orang Yahudi dan orang musyrik Arab sama-sama menentang ajaran Muhammad. Persamaan inilah yang mengikat kedua golongan ini, meskipun masing-masing mempunyai sifat kepribadian yang berlawanan.

Selanjutnya ayat ini memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa dia akan mendapatkan manusia yang paling dekat dan menyukai orang-orang mukmin. Manusia itu adalah orang-orang Nasrani. Sebabnya ialah di antara mereka ada golongan yang memperhatikan pelajaran agama dan budi pekerti yaitu golongan biarawan yang anti terhadap kemewahan duniawi. Mereka bertakwa dan banyak bersemadi untuk beribadah.

Tentunya kedua golongan ini orang-orang yang bersifat tawaduk (rendah hati) karena agama mereka mengajak mencintai musuh dan memberikan pipi yang kiri kepada orang yang memukul pipi kanannya.

Kebaikan orang-orang Nasrani itu telah dibuktikan oleh sejarah yaitu sambutan Raja Habasyah (Abisinia) yang disebut Najasyi yang memeluk agama Nasrani. Dia beserta sahabat-sahabatnya melindungi Muslimin yang pertama kali melakukan hijrah dari Mekah ke Habasyah karena takut dari gangguan dan fitnahan yang dilakukan oleh kaum musyrik Arab secara kejam.

Raja Romawi Timur di Syam yaitu Heraklius, ketika menerima surat Nabi Muhammad menyambutnya dengan sambutan baik dan berusaha memberikan penjelasan kepada rakyatnya, supaya dapat menerima ajakan Nabi Muhammad meskipun rakyat belum sependapat dengannya karena masih berpegang dengan kefanatikan.

Mukaukis yang menguasai Mesir, juga menyambut surat Nabi dengan sambutan yang baik, meskipun dia belum bersedia untuk menerima ajakan Nabi kepada Islam, namun beliau menjawab surat Nabi serta mengirim hadiah berharga, antara lain berupa seorang jariah yang bernama Mariah al-Qibtiyah. Demikian sambutan orang Nasrani pada masa Nabi.

Berlawanan sekali dengan orang Yahudi, meskipun mereka secara terpaksa menyatakan sikap simpatik terhadap orang-orang mukmin, namun di dalam hati mereka tersembunyi pikiran tipu daya untuk memperdayakan orang-orang mukmin. Karena ajaran-ajaran pemimpin-pemimpin Yahudi menanamkan pada mereka fanatisme kebangsaan dan pendirian bahwa Bani Israil adalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Allah.


Baca Juga: Perintah Dakwah yang Menyejukkan dalam Al-Quran


Ayat 83-84

Dalam ayat ini diterangkan bahwa pada saat kaum Nasrani mendengar dan memahami kandungan ayat-ayat Alquran, ada di antara mereka yang mencucurkan air mata karena sangat terharu dan yakin atas kebenaran Alquran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad yang ternyata membenarkan kitab suci mereka.

Mereka terharu pula oleh sifat-sifat Nabi Muhammad yang telah mereka kenal sebelumnya dari kitab suci mereka. Pada saat demikian, mereka dengan rendah hati berkata:

“Ya Tuhan kami, kami beriman kepada-Mu dan kepada rasul-rasul-Mu, terutama Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, masukkanlah kami bersama orang-orang yang mengakui kebenaran Alquran dan Nabi Muhammad, yang akan menjadi saksi pada hari Kiamat nanti bahwa Engkau benar-benar telah mengutus para nabi dan rasul-Mu, dan bahwa mereka benar-benar telah menyampaikan agama-Mu kepada umat mereka masing-masing.”

Selanjutnya mereka menyatakan bahwa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya yang terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia.

Kemudian mereka tegaskan pula bahwa mereka beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang dibawa Rasul-Nya, karena mereka sangat ingin agar Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang saleh, yaitu umat Nabi Muhammad, karena ajaran agama Islam yang benar, baik mengenai keimanan, ibadah, mu‘amalah dan akhlak yang luhur.

Ayat 85

Berdasarkan ucapan mereka yang mengungkapkan keimanan dan keikhlasan mereka yang sungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah memberi mereka pahala, berupa surga tempat mereka memperoleh kenikmatan dan karunia Allah yang berupa kebun-kebun dan taman-taman yang indah. Pada hakekatnya keindahan dan kenikmatan yang mereka peroleh di dalam surga itu tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Surga  akan dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh semasa ia hidup di dunia.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 86-88


(Tafsir Kemenag)

Benarkah Nabi Muhammad Mengidap Epilepsi Ketika Menerima Wahyu?

0
Benarkah Nabi Muhammad mengidap epilepsi?
Benarkah Nabi Muhammad mengidap epilepsi?

Mengapa sampai ada pertanyaan, benarkah Nabi Muhammad saw mengidap epilepsi? Ketika terjadi proses turunya wahyu, Nabi seringkali mengalami gejala-gejala fisik yang tidak biasa, dimana hal tersebut tidak pernah dialami Nabi selain ketika proses penerimaan wahyu. Kondisi tersebut banyak diceritakan dan diriwayatkan dalam beberapa Hadis Nabi. Salah satunya disebutkan dalam Shahih al-Bukhari nomor 2 dalam bab permulaan turunya wahyu (bad’ al-wahy).

“Dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin ra., sesungguhnya Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: Bagaimanakah caranya wahyu turun kepada anda? Jawab Rasulullah: Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku (kedengaran) seperti bunyi lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, lantas aku mengerti apa yang dikatakanya. Kadang-kadang malaikat menjelma menyerupai seorang laki-laki yang datang kepadaku. Dia berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dibicarakanya. ‘Aisyah berkata: aku pernah melihat Nabi, ketika wahyu turun kepada beliau pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimbah peluh (keringat).”

Setidaknya terdapat lima kondisi yang dialami Nabi ketika menerima wahyu.

Pertama, keringat Nabi bercucuran, walaupun pada kondisi dingin.

Kedua, Nabi menutup kepalanya, kulit bersemu merah, mendengkur seperti tertidur.

Ketiga, wajah Nabi menjadi pucat.

Keempat, turunya wahyu menyebabkan Nabi sempoyongan, tetapi tidak sampai menghilangkan kesadaran beliau.

Kelima, Nabi merasa dibebani beban yang sangat berat.

Baca juga: Kekhasan Al-Quran Sebagai Mukjizat Bagi Nabi Muhammad Saw

Terhadap kondisi yang terakhir ini, diceritakan pernah suatu ketika paha Zaid bin Tsabit tertindih oleh paha Nabi. Ketika terjadi proses turunya wahyu, Zaid merasa beban berat yang menimpa Nabi seakan-seakan membuat pahanya hampir patah. Begitu juga ketika Nabi mengendarai unta, beban wahyu tersebut menyebabkan unta tidak kuat menahan tubuh Nabi, sehingga menyebabakn Nabi harus turun dari punggung unta tersebut.

Berbagai kondisi yang dialami Nabi inilah yang kemudian dijadikan landasan oleh orientalis Barat untuk menuduh bahwa Nabi mengidap epilepsi. Dalam literatur sejarah, orang yang pertama kali menuduh Nabi epilepsi adalah seorang sejarawan Byzantium yang bernama Theopanes. Tuduhan tersebut terus berkembang luas dalam kajian Barat dan disebarluaskan oleh para orientalis Barat, seperti Prideaux, Gustav Weil, Sir William Muir, dan banyak tokoh lainya.

Definisi Epilepsi

Kata “epilepsi” berasal dari bahasa Yunani yaitu Epilambanmein, yang bermakna serangan. Secara umum, epilepsi berarti penyakit saraf yang ditandai dengan kejang dan dapat disertai dengan hilangnya kesadaran.

Penyakit epilepsi telah dikenal sejak 2000 tahun sebelum masehi. Dahulunya, epilepsi dianggap sebagai penyakit yang berkaitan erat dengan mistis. Orang pertama yang mengidentifikasi epilepsi sebagai penyakit yang disebabkan adanya gangguan otak adalah Hipokrates.

Baca  juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW

Epilepsi adalah salah satu kondisi neurologis paling umum, dengan kejadian 50 kasus baru per tahun dalam setiap 100.000 populasi manusia. Penyakit epilepsi dapat menyerang semua umur. Akan tetapi, 75% penderita epilepsi dimulai sejak anak-anak.

Menurut ILAE (International League Against Epilepsy), epilepsi adalah penyakit otak yang ditandai oleh tiga hal, yaitu (1) terjadi dua kejang spontan dengan jarak lebih 24 jam, (2) kejang yang disertai persentase kemungkinan berulangnya minimal 60% dalam 10 tahun berikutnya, dan (3) bila bangkitan kejang tersebut merupakan sindrom epilepsi.

Dalam surat keputusan Menkes RI tahun 2017, kejang epilepsi dapat menyebabkan disorganisasi paroksimal pada satu atau beberapa fungsi otak yang dapat menyerang fungsi motorik, sensorik, dan psikis penderita. Tidak hanya itu, epilepsi juga mengakibatkan hilangnya kesadaran, ketegangan otot, dan berkurangnya kemampuan bicara.

Respons Cendekiawan Muslim 

Seorang ahli Neurologi asal Pakistan, yaitu Hasan Aziz, ia menulis artikel jurnal ilmiah yang berjudul Did Prophet Mohammad (PBUH) Have Epilepsy? A Neurological Analysis. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa apa yang dianggap oleh para orientalis dan sejarawan Barat sebagai epilepsi (secara sadar atau karena kurangnya pemahaman) sebenarnya hanyalah sebatas tanda ketidaknyamanan Nabi selama proses penerimaan wahyu.

Untuk membuktikan ucapannya, Hasan Aziz melakukan diagnosis neurologis terhadap 10 kejadian turunya wahyu yang dijadikan dasar oleh orientalis barat sebagai tanda epilepsi. Ia menyimpulkan bahwa semua kejadian tersebut tidak memiliki gejala neurologis yang bisa dikategorikan sebagai epilepsi.

Penyakit epilepsi umumnya terjadi secara tiba-tiba, tanpa adanya keinginan sendiri dan disertai hilangnya kesadaran. Tetapi faktanya, Nabi justru seringkali melakukan komunikasi dua arah dengan Malaikat Jibril. Ini menunjukkan bahwa ketika wahyu turun, Nabi masih berada dalam kesadaran yang optimal.

Baca juga: Pengumpulan Al-Quran dan Kisah Diskusi Alot Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit

Secara umum, sebagian besar penderita epilepsi akan mengalami kebingungan dan amnesia. Namun, fakta historis menunjukkan bahwa Nabi sama sekali tidak pernah hilang ingatan dan justru hafal setiap wahyu yang turun, yang berjumlah 6.236 ayat tersebut. Terakhir, poin terpentingnya adalah Nabi tidak pernah mengalami kejang secara berulang, sebagaimana yang menjadi ciri utama dari penderita epilepsi.

Dalam buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an karya Taufik Adnan Amal, klaim tersebut mendapat tanggapan keras dari sarjana muslim asal Pakistan, yaitu Fazlur Rahman. Menurutnya, terdapat tiga poin penting yang menjadi alasan bahwa Nabi tidak mengidap penyakit epilepsy.

Pertama, kondisi tersebut hanya terjadi ketika masa kenabian. Hal ini dikarenakan ketika sebelum masa kenabian, Nabi sama sekali tidak pernah mengalami kondisi tersebut.

Kedua, kondisi tersebut hanya terjadi bersamaan dengan proses penerimaan wahyu dan tidak pernah terjadi secara terpisah.

Ketiga, hampir mustahil dipercaya bahwa penyakit epilepsi ini tidak mampu diidentifikasi oleh masyarakat yang berpengalaman seperti penduduk Makkah atau Madinah saat itu.

Kritik Sarjana Barat terhadap Pendahulu Mereka

Tidak hanya dari kalangan Islam, para sarjana Barat modern juga banyak yang mengkritik dan menolak terhadap tuduhan pendahulu mereka. Edward Gibbon misalnya, sejarawan Inggris tersebut menganggap bahwa tuduhan bahwa Nabi mengidap epilepsi hanyalah fitnah yang absurd.

Kemudian, William Montgomery Watt juga menambahkan bahwa apabila Nabi mengidap epilepsi, maka Nabi seharusnya akan mengalami penurunan fisik dan gangguan mental. Tetapi faktanya, kondisi fisik dan mental Nabi tidak berkurang sedikit pun.

Terakhir, Watt juga mengajak kepada mereka agar menjauhi konsepsi-konsepsi buruk tersebut. Ia juga meganjurkan kepada rekan akademisinya agar memandang Nabi Muhammad sebagai pribadi yang tulus serta jujur dalam mengemukakan pesan-pesan ilahi. Wallahu a’lam[]

Tafsir Al-Azhar (1): Penggunaan Bahasa Lokal dalam Mengagungkan Nama Allah

0
tafsir al-azhar
tafsir al-azhar

Seperti dalam pembahasan sebelumnya, bahwa Tafsir Al-Azhar lekat dengan keadaan Indonesia yang terjadi saat itu. Sentuhan sisi ke-Indonesiaan yang disuguhkan oleh Buya Hamka diawali dengan pembahasan penggunaan bahasa lokal yang mengiringi nama “Allah” sebagai bentuk pengagungan. Pembahasan tersebut disinggung oleh Buya Hamka dalam menafsirkan Surat al-Fatihah ayat 1, yakni pembahasan terkait kata “Allah”.

Untuk memulai penjelasannya, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengutip pendapat dari Raghib al-Isfahani, Buya Hamka menguraikan kalimat “Allah” dari segi bahasa. Menurut Raghib, “Allah” merupakan sebutan yang ditujukan kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Kata ini sebenarnya sudah lama digunakan oleh bangsa Arab untuk menyatakan “Yang Maha Esa”.

Kata “Allah” adalah perkembangan dari kata “Al-Ilah” yang bermakna Tuhan atau Dewa. Maka, setiap apa yang mereka puja serta dianggap sakti, mereka sebut dengan “Al-Ilah”. Jika mereka hendak menyebutkan banyak Tuhan, mereka menggunakan bentuk jamak dari kata “Al-Ilah” yakni “Al-Alihah”.

Namun dalam tahap selanjutnya, pikiran mereka berakhir pada kesimpulan, bahwa dari semua tuhan atau dewa yang mereka yang sembah hanya ada satu Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, untuk merepresentasikan apa yang ada dalam pikiran mereka, digunakanlah kata “Ilah” sebagai pengkhususan kepada Dia Yang Esa.

Baca juga: Alasan Tafsir Jalalain Jadi Tafsir Favorit di Pesantren

Supaya lebih khusus lagi, mereka menambahkan kata “Al” di depannya, sehingga menjadi “Al-Ilah”. Kemudian, mereka membuang huruf hamzah yang di tengah, maka jadilah “Allah”. Dengan menyebut nama “Allah” tersebut, berarti tidak ada lagi yang dimaksud, kecuali Yang Maha Esa.

Maka, dari penjelasan Raghib al-Isfahani tersebut, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengambil kesimpulan bahwa dari sejak dahulu orang Arab sudah mengakui adanya tauhid uluhiyah. Sebab, mereka sekali-kali tidak menggunakan kata “Allah” itu untuk yang selain dari Yang Maha Esa. Dan, tidak mau menyebut ratusan berhala yang ada dengan sebutan “Allah”. Hanya saja, dalam aspek tauhid rububiyahnya yang masih musyrik.

Setelah menguraikan hal itu, Buya Hamka menyinggung terkait penggunaan bahasa lokal dalam Tafsir Al-Azhar-nya. Dalam bahasa Melayu, Ilah diartikan dengan dewa atau tuhan. Sehingga, kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala dibahasakan dengan Dewata Mulia Raya. Ini bisa dilihat di batu bersurat Trengganu yang ditulis dengan huruf Arab, kira-kira tahun 1303 M.

Baca juga: Mufasir-Mufasir Indonesia: Biografi Abdurrauf As-Singkili

Sedangkan di Jawa, digunakan kata “Gusti” untuk mengiringi kata “Allah”, yang dalam bahasa Melayu Banjar “Gusti” berarti gelar bangsawan. Demikian halnya di Sunda, yang menggunakan kata “Pangeran”. Padahal, “Pangeran” juga memiliki arti gelar bangsawan atau anak raja.

Buya Hamka juga menyinggung kepercayaan orang Bali. Bahwa meskipun mereka beragama Hindu, mereka tetap percaya kepada “Sang Hyang Widhi”, yang berarti Yang Maha Esa. Bahkan hingga mencapai puncaknya, yakni “Sang Hyang Tunggal”.

7 Etika Yang Harus Diperhatikan Ketika Bergaul dengan Al-Quran

0
Bergaul dengan Al-Quran
Bergaul dengan Al-Quran foto: balagh.com

Kita sudah tahu semua bahwa Al-Quran adalah firman-firman (kalimat-kalimat) Allah Swt yang amat suci. Karena itu, tidak mengherankan kalau Allah menyebut Al-Quran itu sebagai Al-Qur’an al-Karim (Kitab Yang Mulia), Al-Quran al-‘Azhiim (Kitab Yang Agung), dan al-Kitab al-‘Aziiz (الكتاب العزيز/ Kitab Yang Mulia). Atas kemuliaannya ini, ketika kita bergaul dengan Al-Quran, maka ada etika-etika (akhlak-akhlak) yang harus ditunaikan untuk Al-Qur’an sebagai wujud memuliakan Al-Qur’an.

Ulama telah menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan oleh seseorang ketika bergaul dengan Al-Quran. Pendapat Imam al-Hulaimy dalam kitabnya al-Minhaj fi Syu’abil Iman dan Imam al-Zarkasyi dalam kitab al-Burhan fi Ulum al-Quran disimpulkan sebagai berikut:

  1. Disunnatkan bagi seseorang untuk membaca Al-Quran dalam keadaan suci, berwudhu, dan suci dari junub dan haid. Hal ini bisa kita lihat dari amanat Al-Quran sebagaimana tercantum dalam Surat al-Waqi’ah ayat 79. 
  2. Disunnatkan bagi seseorang yang hendak membaca Al-Quran, untuk membersihkan mulutnya, dari bau mulutnya, seperti dengan bersikat gigi atau lainnya. Kita tentu kurang senang bila mulut kita tidak sedap kemudian berbicara dengan orang lain. Apalagi ketika kita hendak berdialog dengan Allah Swt, tentu tidak elok bukan? 
  3. Disunnatkan bagi seseorang yang hendak membaca Al-Qur’an agar menghadap ke kiblat. Menghadap ke kiblat sebagaimana ketika kita hendak shalat. Artinya, kita memang sungguh-sungguh hendak beribadah dan siap untuk menghadap Allah Swt. 
  4. Disunnatkan bagi seseorang yang akan membaca Al-Quran hendaknya dengan membaca sesuatu tajwidnya. Dalam kitab-kitab ilmu tajwid seperti tuhfatul Athfal dan Matan al-Jazariyah, diterangkan bahwa hukum membaca Al-Quran dengan tajwid adalah wajib. Oleh karenanya, sudah semestinya orang yang belum bisa, belajar ilmu tajwid dan belajar menerapkannya. 
  5. Pada saat membaca Al-Quran hindarkan diri Anda dari perbuatan yang bersifat main-main, seperti tertawa-terawa, berbicara yang bukan-bukan, atau ucapan-ucapan yang tidak senonoh. Membaca Al-Quran adalah ibadah yang serius, seyogyanya kita menghindari hal-hal yang main main. 
  6. Disunnatkan untuk membaca Al-Qur’an dengan suara yang bagus, suara yang merdu. Selain belajar ilmu tajwid, dianjurkan untuk belajar ilmu tilawah yakni ilmu yang mengajarkan irama bacaan al-Quran. 
  7. Makruh hukumnya memutuskan bacaan Al-Qur’an lantaran berbicara-bicara dengan seseorang. 

Baca Juga: Inilah 4 Keutamaan Membaca Al Quran dalam Pandangan Hadis

Dari tujuh etika bergaul dengan Al-Quran di atas, semuanya adalah etika yang patut dilaksanakan. Bagi seorang Muslim, bergaul dengan Al-Quran adalah cara untuk memahami dan berdialog dengan Allah Swt. Sudah sepatutnya kita menerapkan etika tersebut. 

Semoga kita dapat bergaul dengan Al-Quran dengan pergaulan yang baik sesuai dengan etika yang telah disebutkan di atas.

Tafsir Surat Al Maidah Ayat 75-79

0
tafsir surat al ma'idah
tafsiralquran.id

Ada lima pembahasan dalam Tafsir Surat Al Maidah Ayat 75-79 ini. Pertama tentang keistimewaan Nabi Isa dan Siti Maryam serta hakikat kepribadian mereka berdua. Pada ayat selanjutnya berbicara tentang betapa sesatnya orang-orang yang menjadikan Nabi Isa as sebagai Tuhan selain Allah swt. Berbeda dengan sebelumnya yang membahas tentang status keagamaan orang Yahudi.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 72-74


Pada pembahasan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 75-79 yang ketiga berbicara kelakuan orang-orang Yahudi yang bertindak sangat keterlaluan kepada Nabi Muhammad saw. disusul dengan keadaan nenek moyang mereka yang mendapatkan siksaan ketika masa Nabi Daud as dan Nabi Isa as.

Pembahasan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 75-79 ini ditutup dengan pembicaraan tentang kebiasaan orang-orang Yahudi yang tidak mengamalkan konsep nahi mungkar. Malah mereka membiarkan kemungkaran merajalela.

Ayat 75

Ayat ini menerangkan keistimewaan kedudukan Almasih (Isa) dan keistimewaan kedudukan ibunya (Maryam) kemudian ayat ini menerangkan pula tentang hakikat kepribadian mereka berdua. Keistimewaan Almasih ialah dia adalah utusan Allah, tidak ada perbedaannya dengan rasul-rasul yang datang pada masa sebelumnya, karena masing-masing membawa tanda kerasulan dari Allah.

Jika Allah memberi kepada Nabi Isa kemampuan menyembuhkan sakit sopak dan menghidupkan orang mati sebagai mukjizat bagi Almasih, maka Allah menjadikan tongkatnya berupa seekor ular (al-A’raf/7:107) dan membelah laut (al-Baqarah/2:50) sebagai mukjizat bagi Nabi Musa. Jika Almasih dijadikan tanpa bapak, maka Nabi Adam dijadikan tanpa ibu dan bapak. Ibu Almasih adalah orang yang sangat mulia dan bertakwa kepada Allah.

Ayat ini menegaskan bahwa Almasih adalah seperti rasul-rasul yang lain, manusia biasa yang mempunyai kebutuhan jasmani, antara lain makan-makanan untuk menghindari lapar dan menjaga kesehatan untuk kelanjutan hidup. Tiap-tiap orang memerlukan sesuatu, dia adalah makhluk biasa yang karenanya tidak dapat dikatakan sebagai Tuhan pencipta dan tidak wajar disembah.

Jadi yang wajar dan yang berhak disembah hanyalah Allah Yang Mahakuasa karena Allah diperlukan pertolongan-Nya. Tiap-tiap yang diperlukan, tentulah dipandang mulia oleh yang memerlukan. Tegasnya penyembah adalah orang yang memandang dirinya sendiri rendah dan hina dari yang disembah.

Almasih sangat terkenal kuat ibadahnya kepada Allah, jadi Almasih menyembah Allah, ini menunjukkan bahwa Almasih itu “bukan Allah” karena Allah adalah yang disembah. Adalah suatu kebodohan apabila seseorang menyembah kepada orang yang sederajat dengannya baik dalam hakikat kejadian maupun dalam memerlukan pertolongan.

Selanjutnya pada akhir ayat ini, Allah menerangkan kepada Muhammad saw, bagaimana cara-cara Allah menjelaskan kepada Ahli Kitab tentang tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan kesesatan pendirian mereka tentang Almasih.

Kemudian Allah meminta perhatian Nabi Muhammad bagaimana cara-cara Ahli Kitab menolak penjelasan-penjelasan yang telah dikemukakan Allah itu, yang menunjukkan bahwa mereka memang tidak mempergunakan akal pikiran yang sehat karena mereka terbelenggu oleh taklid buta.

Ayat 76

Ayat ini menerangkan betapa sesatnya orang Nasrani yang menyembah Almasih. Muhammad mendapat perintah dari Allah supaya menanyakan kepada orang Nasrani, mengapa mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi mudarat dan tidak memberi manfaat.

Tidakkah mereka mengetahui bahwa orang Yahudi itu memusuhi Almasih dan mereka hendak membinasakannya, sedang Almasih sendiri ternyata tidak sanggup memberi mudarat kepada orang Yahudi  dan sahabat Almasih tidak dapat menolongnya. Wajarkah orang yang tidak mempunyai kesanggupan itu dipandang sebagai Tuhan.

Tidakkah mereka sendiri bercerita bahwa Yesus ketika dianiaya di atas tiang salib, dia meminta air karena haus dan orang Yahudi hanya memberikannya air cuka yang dituangkan ke lubang hidungnya.

(Markus xv. 36: “Maka datanglah seorang dengan bunga karang yang mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum dan berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.” Terdapat juga dalam Matius xxvii. 48, Yohanes xix. 29-30). Tidakkah cerita mereka ini menunjukkan bahwa Yesus itu sangat lemah. Pantaskah orang yang lemah seperti ini dipandang sebagai Tuhan.

Selanjutnya akhir ayat ini memperingatkan orang Nasrani bahwa Allah Maha Mendengar terutama ucapan kekafiran mereka dan Maha Mengetahui kepalsuan yang ada dalam hati mereka.


Baca juga: Tafsir Surah Maryam Ayat 33: Tiga Bentuk Keselamatan Yang Diminta oleh Nabi Isa


Ayat 77

Pada ayat ini Allah melarang Ahli Kitab yang pada masa Nabi Muhammad bertindak keterlaluan di dalam agama sebagaimana nenek moyang mereka dahulu dan melarang mereka mengikuti sebab-sebab yang membawa nenek moyang mereka kepada kesesatan sehingga rnenyesatkan pula orang lain dari jalan kebenaran (ajaran Islam).

Mereka meninggalkan hukum syariat dan mengikuti hawa nafsu yang buruk. Jadi dengan ayat ini dapatlah disimpulkan bahwa Ahli Kitab itu adalah:

  1. Orang-orang yang sesat sejak dahulu karena mereka mengikuti hawa nafsu dalam urusan agama, membuat bid’ah, menghalalkan yang haram dan meninggalkan sunah Rasul.
  2. Orang lain menjadi sesat, karena mereka setelah sesat berusaha menyesatkan orang lain, memperluas bid’ah yang diada-adakan oleh para pendeta mereka.
  3. Orang yang berpaling dari agama Islam, terus-menerus berada dalam kesesatan, berarti mereka telah berbuat melampaui batas, berbuat bid’ah dan menyimpang dari itikad yang benar.

Ayat 78

Ayat ini menerangkan bahwa orang kafir dari kalangan Yahudi mendapat kemurkaan dan kutukan Allah melalui ucapan Nabi Daud dan Isa putra Maryam. Ketika orang-orang Yahudi membuat kedurhakaan pada hari Sabat (hari larangan terhadap orang Yahudi menangkap ikan), Nabi Daud mengutuk mereka pada khususnya, karena melanggar kehormatan hari Sabat dan pada umumnya terhadap mereka yang membuat kedurhakaan biasa. (Mazmur cix. 17-18,/xxviii. 21-22, 31-33,/xiv. 22-28, dan pasim).

Nabi Isa pun pernah mengutuk mereka sebagai “keturunan pembunuh nabi-nabi” dan “kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak.” (Matius xxiii. 31-35). Pada akhir ayat ini dijelaskan, bahwa kutukan itu disebabkan mereka membuat maksiat dan melanggar hukum-hukum Allah dengan cara melampaui batas.

Ayat 79

Ayat ini menerangkan bahwa kebiasan Yahudi ialah membiarkan kemungkaran terjadi di hadapan mereka disebabkan mereka tidak melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Demikianlah buruknya perbuatan mereka itu, sehingga hal itu menjadi sebab adanya kutukan Allah pada mereka. Dalam hubungan ayat ini Nabi Muhammad bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لمَاَّ وَقَعَتْ بَنُو ِاسْرَائِيْلَ ِفى الْمَعَاِصى نَهَتْهُمْ عُلَمَاؤُهُمْ فَلَمْ يَنْتَهُوْا فَجَالَسُوْهُمْ فِى مَجَالِسِهِمْ وَوَاكَلُوْهُمْ وَشَارَبُوْهُمْ فَضَرَبَ اللهُ قُلُوْبَ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَعَنَهُمْ عَلَى ِلسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَ بْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ قَالَ فَجَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتىَّ تَأْطُرُوْهُمْ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا

(رواه ابو داود والترمذى وابن ماجه وقال الترمذي حديث حسن)

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. katanya, Rasulullah SAW bersabda : “Ketika orang-orang Bani Israil terjerumus di lembah maksiat, kemudian mereka dilarang oleh ulama mereka dan mereka tidak mau berhenti, maka para ulama itu mengakrabi mereka, duduk-duduk, makan-makan dan minum-minum bersama.

Allah SWT kemudian membikin hati-hati mereka saling akrab dan melaknat mereka semua melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Hal itu karena  mereka bermaksiat dan melampaui batas.” Kata Abdullah bin Mas’ud selanjutnya : Nabi SAW kemudian duduk, sebelumnya dia bersandar, lalu bersabda:

“Tidak demi Dzat yang menguasai diriku, sampai kamu benar-benar menundukkan mereka kepada kebenaran.” (Riwayat Abu Dāwud, at-Tirmizi dan Ibnu Majah. Menurut at-Tirmizi, hadis ini hasan)

Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 80-85

(Tafsir kemenag)

Ragam Bentuk Keadilan Sosial dalam Pandangan Al-Quran

0
Keadilan Sosial dalam Al-Quran
Keadilan Sosial dalam Al-Quran

Setelah kita mengerti keselarasan Pancasila dengan Islam, penting untuk kita tahu bagaimana ragam bentuk keadilan sosial menurut pandangan Al-Quran. Apakah benar sudah termanifestasi pada semua aspek kehidupan masyarakat?

Sebelumnya memang telah disinggung tafsir tentang keadilan sosial. Yakni penafsiran Ibnu ‘Asyur atas kata al-‘adl yang meliputi dua dimensi (vertikal dan horizontal). Tetapi, perlu ditelusuri lebih lanjut, bagaimana Al-Quran menggambarkan keadilan sosial itu di berbagai aspeknya, agar kita lebih mantap bahwa nilai keadilan sosial selaras betul dengan Al-Quran.


Baca juga: Tafsir Surat Ali Imran Ayat 140: Up and Down, Dinamika Kehidupan Manusia


Aspek agama

Keadilan sosial pada aspek agama termanifestasikan dalam firman Allah surat Ali ‘Imran ayat 256:

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Dalam at-Tafsir Al-Quranul Adzim, Ibnu Katsir menyantumkan salah satu riwayat yang berkenaan dengan turunnya ayat ini.

عن ابن عباس: قوله (لاإكراه في الدين) قال: نزلت في رجل من الأنصار من بني سالم بن عوف يقال له : الحصين، كان له ابنان نصرانيان وكان هو رجلا مسلما فقال للنبي صلى الله عليه وسلم: ألا أستكرههما فإنهما قد أبيا إلا النصرانية؟ فأنزل الله فيه ذلك.

“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: firman Allah (la ikraha fiddin) Ibnu ‘Abbas berkata: ayat ini turun pada peristiwa seorang laki-laki dari kaum Anshar, klan Bani Salim bi ‘Auf, yang bernama: Al-Hushain. Ia memiliki dua anak laki-laki beragama Nasrasi. Sementara ia (al-Hushain) adalah seorang muslim. Lalu, Al-Hushain bertanya kepada Nabi SAW: “Saya sudah mencoba memaksanya untuk masuk Islam, tetapi mereka berdua menolak, dan lebih memilih Nasrani. Bagaimana menurutmu? Kemudian, turunlah ayat ini”

Ibnu Katsir mengarahkan ayat ini sebagai larangan memaksa orang untuk masuk agama Islam. Kerena kebenaran Islam sudah nyata, tidak perlu paksaan agar menganutnya. Justru, bila seseorang berislam atas dasar paksaan, akan membuat tindakannya itu sia-sia, karena ia menjali Islamnya dengan terpaksa.

Meski demikian, Islam bukan berarti menganggap semua agama itu sama, melainkan sekedar mengakui kenyataan bahwa agama itu beragam. Bu Sinta Nuriyah Wahid, dalam Perempuan dan Pluralisme menganalogikannya dengan bunga dan macam-macamnya. Agama ibarat bunga, ada banyak macamnya, tapi berbeda. Islam adalah agama yang mesti kita anut, tapi kita juga harus mengakui keberadaan agama lain. Ini penting menurut hemat penulis, untuk memupuk rasa toleransi sebagai salah satu wujud keadilan dalam hubungan keberangamaan.


Baca juga: Islam Menyerukan Keadilan Sosial, Begini Penjelasan Para Mufassir


Ibnu ‘Asyur seperti yang disitir oleh Jasser ‘Auda dalam Maqashidus Shari’ah as Philosophy of Islamic Law, mendukung kebebasan beragama melalui fitur maqashidul hurriyyahnya. Ia merujuk surat al-Kahfi ayat 29, sebagai landasannya.

Aspek hukum

Keadilan dalam aspek hukum terlihat pada surat An-Nisa’ ayat 58:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

Ibnu Katsir menyatakan dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim, ayat ini, memuat perintah berlaku adil bagi al-umara’ (pemimpin/pemerintah) dan al-hukkam (penegak hukum). Tafsir Ibnu Katsir ini berdasarkan pendapat Zaid bin Aslam, Muhammad bin Ka’ab, dan Sahr bin Hawshab.

Aspek ekonomi

Dalam Al-Quran, terdapat beberapa bentuk keadilan pada aspek ekonomi, antara lain, ketentuan pencatatan utang-piutang yang adil. Hal ini tertera pada Surat Al-Baqarah ayat 282:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِٱلْعَدْلِ ۚ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah ada seorang penulis di antara kamu yang menuliskannya dengan adil”

Ayat tersebut menunjukkan ketentuan penulisan tempo dan dan objek transaksi dengan adil dalam utang piutang.

Allah juga berfirman dalam surat As-Syu’ara’ ayat 182:

وَزِنُوا۟ بِٱلْقِسْطَاسِ ٱلْمُسْتَقِيمِ

“Dan timbanglah suatu barang, bila kalian menimbangnya untuk orang lain, dengan timbangan yang lurus”

Al-Mahalli dalam Tafsir al-Jalalin menafsirkan lafadz al-mustaqim dengan al-mizan as-sawiy (timbangan yang lurus, sama, seimbang). Sementara, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Wajiznya, ayat tersebut dimaknai dengan perintah untuk menimbang dagangan dengan timbangan yang adil, sebagaimana yang berlaku di masyarakat luas.


Baca juga: Empat Mushaf Kuno Koleksi Museum Ronggowarsito, Bagamaina Bentuknya?


Konsep keadilan dalam ekonomi juga tampak dari bagaimana Islam mengatur kesejahteraan orang kaya dan miskin, yang tak lain adalah pensyariatan zakat dan infak. Banyak ayat berisi ketentuan zakat dan infak ini. Antara lain, Surat Al-Baqarah ayat 43 tentang perintah zakat, Surat at-Taubah ayat 60 tentang orang yang berhak menerima zakat, surat Al-Baqarah ayat 195 tentang perintah berinfak, dan masih banyak lagi.

Aspek Budaya

Keadilan dalam budaya tercermin pada surat Al-Hujurat ayat 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”

Dalam Tafsir al-Baghawi, al-Baghawi menyebutkan hadis riwayat Ibnu ‘Abbas, bahwa ayat itu turun mengenai kejadian Tsabit bin Qais bin Syamas dan ucapannya kepada orang yang tidak memberikan tempat pada dirinya: “Anak si fulanah”

Nabi kemudian bertanya: “Siapa yang menyebut Fulanah?”

Tsabit menjawab, “Saya, wahai Rasulullah”

Nabi bersabda kepadanya, “Lihatlah wajah orang-orang itu”

Tsabit melihat (wajah mereka), lalu Rasulullah bertanya, “Apakah yang engkau lihat?”

Tsabit menjawab,”Aku melihat yang putih, hitam dan merah.”

Nabi bersabda,”Sesungguhnya engkau tidak dapat mengungguli mereka kecuali dengan ketakwaan”

Maka turunlah pada Tsabit ayat ini. Sementara pada orang yang tidak memberikan tempat kepadanya turun ayat ya ayyuhalladzina aamanu idza qila lakum tafassahu filmajalisi (Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis) (QS. Al-Mujadalah ayat 11.

Memang ayat di atas tidak secara eksplisit membicarakan budaya. tetapi, dengan penyebutan syu’ub dan qaba’il, budaya masuk di dalamnya. Karena, budaya merupakan keniscayaan yang timbul dari bangsa, suku atau sekelompok apa pun. Sehingga, budaya pun beraneka macamnya. Dan sikap adil pada budaya dapat kita wujudkan dengan cara mau saling mengenal dan toleransi. Wallahu a’lam[]

Keutamaan Syukur Menurut Al-Quran: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7

0
Keutamaan Syukur
Keutamaan Syukur

Syukur adalah salah satu sifat terpuji yang diajarkan oleh agama Islam. Terdapat banyak ayat Al-Qur’an dan matan hadis yang menunjukkan keutamaan syukur. Syukur secara singkat dapat dimaknai sebagai pujian bagi orang yang telah memberikan kebaikan, karena telah memberikan suatu kebaikan (as-shahhah fi Al-Lughah). Dalam bahasa Indonesia, syukur diterjemahkan sebagai ungkapan rasa berterima kasih.

Secara istilah, syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada diri seseorang. Ekspresi rasa syukur bisa diungkapkan (1) melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberikan nikmat; (2) melalui hati, yakni berupa kesaksian dan kecintaan kepada Allah dari lubuk hati yang terdalam; (3) melalui anggota badan, yaitu berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah Swt (Madarijus Salikin [2]: 244).

Syukur merupakan bentuk keridhaan atau pengakuan terhadap rahmat Allah Swt dengan penuh kerendahan hati (hudhu’). Dalam pengertian yang lain, syukur dapat dipahami sebagai pujian dan pengakuan terhadap nikmat Allah Swt yang dibuktikan dengan kerendahan hati, kecintaan menerimanya disertai ucapan dan perbuatan yang selaras dengan ucapan tersebut.

Syukur nikmat adalah lawan dari kufur nikmat. Syukur merupakan akhlak mulia yang timbul karena kerelaan dan keridhaan kepada ketentuan Allah (takdir). Dalam sebuah mutiara hikmah yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari (w. 1309 M) disebutkan tentang bahaya kufur dan keutamaan syukur, bahwa seseorang yang tidak bisa bersyukur sejatinya sedang melepaskan kenikmatan yang Allah Swt berikan.

من لم يشكر النعم فقد تعرض لزوالها ومن شكرها فقد قيد بعقالها

“Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat menginginkan hilangnya nikmat tersebut dan barang siapa mensyukurinya berarti dia telah mengikat nikmat tersebut dengan talinya.” (Al-Hikam Ibnu Athaillah)

Salah satu keutamaan syukur menurut Al-Qur’an adalah menambah kenikmatan. Ini tertuang dalam surah Ibrahim ayat 7 yang berbunyi:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Menurut Quraish Shihab, ayat ini merupakan potongan perkataan nabi Musa kepada kaumnya yang Allah kutip dan sampaikan kepada nabi Muhammad Saw agar beliau mengingat serta menyampaikan pesan tersebut kepada umat Islam sebagaimana nabi Musa menyampaikannya kepada bani Israil dahulu (Tafsir Al-Misbah [7]: 21). Ayat ini secara tidak langsung juga menunjukkan adanya ketersambungan ajaran nabi Musa (agama terdahulu) dengan ajaran Islam.

Baca Juga: Pendengaran dan Penglihatan dalam Al-Quran, Bagaimana Mensyukurinya?

Nabi Musa as berkata kepada kaumnya: Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu semua tatkala Tuhan Pemelihara dan Pemberi anugerah aneka kebaikan kepada kamu memaklumkan: “Sesungguhnya Aku yakni Allah bersumpah demi kekuasaan-Ku, jika kamu bersyukur pasti Aku tambah nikmat-nikmat-Ku kepada kamu karena sungguh amat melimpah nikmat-Ku.”

Nabi Musa kemudian melanjutkan firman Allah, “oleh karena itu, maka berharaplah yang banyak dari-Ku dengan mensyukurinya dan jika kamu kufur yakni mengingkari nikmat-nikmat yang telah Ku-anugerahkan, dengan tidak menggunakan dan memanfaatkannya sebagaimana Ku-kehendaki, maka akan Ku-kurangi nikmat itu bahkan kamu terancam mendapat siksa-Ku, sesungguhnya siksa-Ku dengan berkurang atau hilangnya nikmat itu, atau jatuhnya petaka atas kamu akan kamu rasakan amat pedih.” (Tafsir Al-Misbah [7]: 21)

Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa jika seseorang bersyukur maka Allah pasti menambah nikmat-Nya. Namun, ketika berbicara tentang kufur nikmat, tidak ada penegasan bahwa pasti siksa-Nya akan jatuh. Ayat ini hanya menegaskan bahwa siksa Allah sangat pedih. Jika demikian, penggalan akhir ayat ini dapat dipahami sekedar sebagai ancaman. Di sisi lain, tidak tertutup kemungkinan keterhindaran dari siksa duniawi bagi orang yang kufur, bahkan boleh jadi nikmat tersebut ditambah-Nya dalam rangka mengulur kedurhakaan (istidraj).

Firman Allah Swt:

وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ ١٨٢ وَاُمْلِيْ لَهُمْ ۗاِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ ١٨٣

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.” (QS. al-A’raf [7]: 182-183).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa QS. Ibrahim ayat 7 menjelaskan tentang keutamaan syukur dan perintah kewajiban bersyukur secara implisit, karena Allah menjanjikan kenikmatan bagi pelakunya dan akan memberikan azab bagi mereka yang meninggalkannya. Frasa tersebut mengindikasikan bahwa bersyukur adalah sesuatu yang harus dilakukan manusia di dunia tanpa terkecuali.

Baca Juga: Sedang Dirundung Musibah? Bersabarlah! Ini 4 Keutamaan Sabar Menurut Al-Quran

Rasa syukur sendiri bermacam-macam bentuknya, bisa lewat lisan, hati dan tindakan. Namun secara umum, rasa syukur dapat dimanifestasikan dengan cara melakukan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan demikian, seseorang sudah bisa dikatakan bersyukur selama menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya, meskipun ia tidak mengetahui hakikat syukur secara mendalam.  Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 140: Up and Down, Dinamika Kehidupan Manusia

0
up and down
up and down

Kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan kemunduran, kesuksesan dan kegagalan, sekarang sehat besok sakit merupakan keadaan silih berganti yang Allah berikan kepada umat manusia agar bisa mengambil pelajaran dalam menjalani kehidupan. Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari proses up and down. Terkadang kita di atas, namun dalam beberapa waktu kita juga mengalami kepedihan tidak bertepi. Tafsir surat Ali Imran ayat 140 menyinggung dinamika kehidupan manusia ini.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 140,

إِن يَمۡسَسۡكُمۡ قَرۡحٞ فَقَدۡ مَسَّ ٱلۡقَوۡمَ قَرۡحٞ مِّثۡلُهُۥۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

M. Quraish Shihab dalam tafsirnya menyebutkan bahwa tafsir surat Ali Imran ayat 140 di atas memperingatkan kaum Muslimin jika di antara mereka banyak korban yang terbunuh ataupun terluka parah akibat kekalahan pada perang Uhud, kaum Muslimin tidak perlu merasa terhina karena hal yang sama juga pernah menimpa musuh mereka pada perang Badar. Suatu saat kemenangan akan berحihak pada satu kelompok, di kesempatan lain bisa saja di kelompok lain.


Baca Juga: Islam Melarang Berperang di Bulan Haram


Dalam Mausuah al-Ghazawat al-Kubra, dijelaskan bahwa serangkaian peperangan mewarnai perjuangan kaum Muslimin dalam menegakkan panji-panji Islam. Perjuangan umat Islam saat itu tidak selalu berbuah kemenangan, akan tetapi ada beberapa kekalahan yang harus dilewati. Perang Badar, misalnya, merupakan salah satu peperangan besar yang bisa dimenangkan oleh kelompok Islam. Kekalahan di pihak kafir Quraisy meninggalkan kebencian mendalam terhadap kaum Muslimin yang mendorong mereka untuk balas dendam. Pada puncaknya, terjadilah perang Uhud.

Walaupun di perang Badar umat Islam mendapat kemenangan, sayang sekali dalam perang Uhud yang terjadi malah sebaliknya. Umat Islam mengalami kekalahan akibat ketidakpatuhan pasukan pemanah terhadap perintah Nabi –lihat. Kekalahan umat Muslim dalam perang Uhud tersebut diabadikan Allah SWT dalam Al-Quran kemudian dijelaskan oleh para mufasir dalam tafsir surat Ali Imran ayat 140.

Jika kita resapi ayat di atas, bisa kita ambil ibrah bahwa kehidupan manusia dinamis, tidak tetap. Tangis, tawa, sedih, bahagia, merupakan bagian yang tidak akan pernah hilang selama manusia hidup di muka bumi. Sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Quran surat an-Najm [53]: 43 berikut:

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ

“Dan bahwasanya Dia-lah yang membuat orang tertawa dan menangis”


Baca Juga: Ini Dua Potensi yang Dimiliki Manusia dalam Al-Quran


Namun, adanya berbagai proses naik dan turun dalam fase kehidupan manusia tentu mengandung hikmah di dalamnya. Ketika berada dalam fase di atas, tidak lantas membuat kita merasa congkak ataupun paling hebat. Pun ketika berada dalam fase terburuk dalam kehidupan, jangan sampai membuat kita lalai dan merasa Allah SWT berbuat tidak adil terhadap kita. Sebagaimana dalam firman Allah yang lain dalam surat Al-Fajr ayat 15-16

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ () وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ

Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” (15) Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” (16)

Ada pelajaran hidup yang ingin Dia berikan melalui kesedihan yang dihadapi. Umat Muslim pada zaman Nabi saw pun harus mengalami kekalahan pada perang Uhud agar mereka mengambil ibrah. Baik kesenangan ataupun kesedihan keduanya merupakan ujian bagi umat manusia, tergantung bagaimana manusia yang bersangkutan menghadapinya.

Al-Quran surat Ali Imran Ayat 140 tersebut juga mengajarkan kita agar tidak terlalu mengutuk diri sendiri ketika mengalami hal yang tidak diharapkan. Berbagai kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, misalnya, tentu bukan solusi yang tepat ketika dirundung sebuah masalah kehidupan. Dengan bekal keimanan, manusia harus ingat bahwa dinamika kehidupan dunia seperti roda yang terus berputar. Tugas kita sebagai manusia adalah menjalaninya dengan kemampuan terbaik guna mendapatkan ridha-Nya.