Beranda blog Halaman 509

Rambu-Rambu Ketaatan Terhadap Pemimpin: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59

0
Ketaatan Terhadap Pemimpin
Ketaatan Terhadap Pemimpin

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup secara berkelompok. Kehidupan berkelompok ini–baik bagi suku primitif ataupun masyarakat modern–secara tidak langsung menuntut mereka untuk mencari dan menemukan sosok pemimpin. Karena tanpa kehadiran dan ketaatan terhadap pemimpin, kehidupan masyarakat tidak akan stabil dan berpotensi mengalami perselisihan.

Sosok pemimpin adalah seorang yang dengan segala kemampuannya mampu mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan memperbaiki pikiran, perasaan dan tindakan masyarakat yang dipimpinnya ke arah yang lebih baik. Kehadirannya diharapkan dapat menjadikan kehidupan masyarakat lebih stabil, makmur, damai, dan aman sentosa.

Urgensi sosok pemimpin

Pemimpin adalah pilar utama kehidupan masyarakat. Jika suatu masyarakat dipimpin oleh pemimpin yang berkompeten, maka kemungkinan besar masyarakat tersebut mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan mereka dengan baik, begitu pula sebaliknya. Tanpa kehadiran dan ketaatan terhadap pemimpin, masyarakat akan menjadi kacau balau bahkan mungkin berakibat pada kehancuran.

Agama Islam sangat menyadari pentingnya kehadiran sosok pemimpin sebagai pilar utama masyarakat, baik yang berskala kecil maupun besar. Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

Jika tiga orang berada dalam perjalanan, maka siapkan mereka mengangkat seorang dari mereka sebagai pemimpin.”  (HR Abu Dawud)

Al-Khattabi menuturkan, perintah Rasulullah ini bertujuan agar kelompok masyarakat bersatu, tidak bercerai berai, dan agar tidak terjadi perbedaan yang dapat memecah belah mereka. Sekalipun ada problematika tersebut di masyarakat, kehadiran sosok pemimpin diharapkan dapat mengatasi dan menyelesaikannya.

Baca Juga: Inilah Cara Memberikan Nasihat Kepada Pemimpin Menurut Al-Quran

Sedangkan imam asy-Syaukani menjelaskan bahwa ungkapan hadis tersebut mengisyaratkan kewajiban mengangkat pemimpin bagi setiap kelompok masyarakat muslim, baik berskala kecil ataupun besar. Sebab seorang pemimpin dapat menjadi pengatur, pendorong dan penengah kelompok masyarakat yang dipimpinnya ke arah situasi serta kondisi yang lebih baik.

Tafsir QS. Nisa’ [4]: 59

Mayoritas ulama menyepakati kewajiban mengangkat pemimpin demi stabilitas masyarakat. Akan tetapi mereka berbeda pendapat mengenai sejauh mana otoritas pemimpin terhadap masyarakat, bagaimana bentuk kepemimpinan semestinya, dan sejauh mana ruang lingkup ketaatan terhadap pemimpin tersebut bagi masyarakat.

Jika umat Islam merujuk kepada Al-Qur’an, sebenarnya terdapat rambu-rambu ketaatan terhadap pemimpin, yakni QS. Nisa’ [4]: 59 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ ٥٩

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Nisa’ [4]: 59)

Ayat di atas memerintahkan orang mukmin agar menaati putusan hukum dari siapa pun yang berwewenang menetapkan hukum. Secara berurut dinyatakan-Nya; Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dalam perintah-perintah-Nya yang tercantum dalam Al-Q ur’an dan taatilah rasul-Nya, yakni Muhammad Saw dalam segala macam perintahnya, baik perintah melakukan sesuatu, maupun perintah untuk tidak melakukannya yang tercantum dalam sunnahnya yang sahih.

Menurut Quraish Shihab, pada ayat tersebut Allah juga memerintahkan orang-orang mukmin untuk mengindahkan dan menaati perintah ulil amri, yakni orang yang berwewenang menangani urusan-urusan mereka, selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah Swt atau perintah Rasul-Nya (Tafsir Al-Misbah [2]: 483).

Baca Juga: Tafsir Surat At-Taubah Ayat 122: Pencari Ilmu Wajib Membangun Expertise

Jika orang-orang mukmin berbeda pendapat tentang sesuatu karena mereka tidak menemukan secara tegas petunjuk Allah dalam Al-Qur’an dan tidak juga petunjuk Rasul dalam sunnah yang sahih, maka permasalahan itu harus mereka kembalikan kepada nilai-nilai universal firman Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an, serta nilai-nilai universal tuntunan Rasul Saw dalam sunah-nya.

Pada ayat ini, terdapat perbedaan signifikan antara ketaatan terhadap Allah Swt dan rasul-Nya dengan ketaatan terhadap pemimpin. Ketaatan pertama bersifat mutlak-absolute, artinya ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya dilakukan tanpa syarat apapun. Karena perintah Allah dan rasul tidak mungkin salah atau keliru. Sedangkan ketaatan kedua bersifat mutlak-kondisional, yakni selama pemimpin tidak menyeleweng dari syariat Allah dan peraturan yang berlaku.

Adapun yang dimaksud dari pemimpin di sini adalah orang-orang yang berwewenang mengurus urusan kaum muslimin. Mereka adalah orang-orang yang diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan, seperti para penguasa/pemerintah, alim ulama, dan orang yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok, profesi dan golongan.

Perlu dicatat bahwa kata al-amr berbentuk makrifat atau difinite. Ini menjadikan banyak ulama membatasi wewenang pemilik kekuasaan hanya terbatas pada persoalan-persoalan kemasyarakatan, bukan persoalan akidah atau keagamaan murni. Selanjutnya, karena Allah memerintahkan umat Islam taat kepada mereka, maka itu berarti bahwa ketaatan tersebut bersumber dari ajaran agama, dan siapa yang tidak mematuhinya akan mendapatkan dosa (Tafsir Al-Misbah [2]: 484).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kehadiran sosok pemimpin di tengah masyarakat sangatlah penting. Oleh karenanya umat Islam berkewajiban untuk mengangkat seorang pemimpin dan wajib taat kepadannya. Ketaatan terhadap pemimpin ini bersifat mutlak-kondisional, artinya mutlak namun bersyarat, yakni selama perintah pemimpin tersebut tidak melanggar syariat dan konstitusi. Wallahu a’lam.

Benarkah Nabi Adam AS Penghuni Pertama di Bumi?

0
Benarkah Nabi Adam AS penghuni pertama?
Benarkah Nabi Adam AS penghuni pertama?

Manusia merupakan salah satu makhluk yang dibekali akal pikiran guna melangsungkan kehidupan di bumi. Bagi kebanyakan muslim sudah menjadi keyakinan bahwa Nabi Adam AS. merupakan nenek moyang manusia karena darinyalah  keturunan manusia bermula.

Namun tidak jarang ada yang mengatakan bila sebelum Nabi Adam AS. diciptakan, ternyata sudah ada makhluk lain yang tinggal di Bumi. Oleh karenannya, akan sangat menarik untuk diulas berbagai sudut pandang mengenai persoalan ini.

Baca juga: Nabi Adam dalam Al-Quran: Manusia Pertama dan Tugasnya di Dunia

Tafsir al-Baqarah ayat 30

sebagai salahsatu makhluk yang mendiami bumi, manusia telah diberi Allah mandat  sebagai khalifah di bumi. Hal ini tertuang pada surat al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui””

Baca juga: Kisah Dua Anak Nabi Adam: Kedengkian Qabil Terhadap Habil Yang Membawa Petaka

Al-Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradat fi gharib al-Quran menjelaskan bahwa khalifah memiliki makna asal “belakang”. Sedangkan dalam al-Jami’ li ahkam al-Quran, al-Qurthubi berpendapat bahwa khalifah bermakna sebagai generasi pengganti.

Antara dua kata (belakang & pengganti) sebenarnya masih ada keterkaitan. Bila dicermati maka akan ditemukan bahwa khalifah bermakna “pengganti” karena yang menggantikan selalu datang di belakang/setelah yang digantikan.

Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat ini termasuk pada ayat mutasyabihat (bermakna samar). Adapun Makna khalifah dalam tafsir al-Maraghi ialah perwakilan Allah sebagai pelaksana tugas di bumi untuk memimpin manusia dengan segala watak dan perilakunya seperti mereka yang gemar berperang atau yang selalu sibuk bertasbih dan menyucikan-Nya.

Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir menafsirkan خَلِيفَةً yaitu seseorang yang memilki hak sebagai utusan pengganti  tuhan di bumi dalam menjalani urusan-Nya, Namun dalam hal ini, bukan berarti Tuhan meninggalkan atau tidak bisa mengurus sendiri akan ciptaan-Nya. Tapi memang kehendak Tuhan seperti itu.

Malaikat tidak bermaksud memprotes

Lafad إِذْ pada awal ayat menunjukan sebuah kejadian yang berlalu namun bermakna sedang berlangsung. Sedangkan dialog antara Allah dengan Malaikat yang digambarkan pada ayat ini dilakukakan tanpa perantara sehingga dilaog disini sama-sama mendengar dan berbicara.

Melihat proses tanya jawab dalam ayat tersebut nampak sekilas seakan-akan para malaikat menentang rencana-Nya untuk menjadikan manusia sebagai pengatur kehidupan di bumi.Hal ini tidak bisa dibenarkan mengingat para malaikat merupakan makhluk yang sangat patuh kepada Allah.

Ibnu Kathir dalam tafsir al-Quran al-Adzim menerangkan bahwa karena ketidak tahuan para malaikat membuat mereka menanyakan rencana tersebut kepada Allah. Malaikat juga memiliki argumen berdasar pada pengalaman sebelumya yang memperlihatkan kerusakan yang diakibatkan makhluk sebelum adanya manusia.

Lebih lanjut, ibnu Kathir menjelaskan bahwa maksud para malaikat bertanya ialah sebagai cara menggali informasi atas ketidak tahuannya. Mereka ingin mengetahui hikmah dari rencana tersebut yang menurut mereka itu tak perlu dilakukan. Namun demikian Allah menutup ayat tersebut dengan

 قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“ Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”

Penghuni Bumi sebelum Nabi Adam AS.

Berdasar pada argumen para malaikat yang mengatakan “orang-orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah”, bila dicermati maka akan ditemukan bahwa malaikat sudah pernah melihat kerusakan yang dilakukan makhluk sebelum Nabu Adam As.

Sebelum diciptakannya nabi Adam AS., dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa ada terdapat banul Jin yang dikisahkan jika mereka suka kekerasan, konflik dan permusuhan hingga peperangan yang menumpahkan darah. Banul Jin yang dimaksud ialah bangsa jin dan semua keturunannya.

Baca juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam

Yang cukup menarik dalam bahasan ini ialah jika melihat dalam kitab tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur. Dalam tafsirnya ia menerangkan bahwa khalifah merupakan pengganti dari satu golongan yang sebelumnya tinggal di bumi yakni al-Hinnu dan al-Binnu. Makhluk ini memiliki kemiripan dengan manusia.

وَإِمَّا أَنْ يُرَادَ مِنَ الْخَلِيفَةِ مَعْنَاهُ الْحَقِيقِيُّ إِذَا صَحَّ أَنَّ الْأَرْضَ كَانَتْ مَعْمُورَةً مِنْ قَبْلُ بِطَائِفَةٍ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ يُسَمَّوْنَ الْحِنَّ وَالْبِنَّ

“adapun makna khalifah yang dimaksud ialah segolongan makhluk yang diyakini pernah mendiami bumi sebelum nabi Adam as dan kondisi mereka sangat makmur, mereka disebut dengan al-Hinnu dan al-Binnu”

Ibnu ‘Asyur juga memaparkan kisah-kisah dan keyakinan bangsa lain seperti bangsa persia yang meyakini adanya al-Rammu dan al-Tammu sebagai makluk sebelum manusia, juga bangsa persia yang meyakini al-Titan.

Terlepas akan pendapatnya, Ibnu ‘Asyur tidak keras kepala kepada pembaca untuk meyakini penafsirannya. Adanya kisah dan keyakinan bangsa lain dalam tafsirnya bisa dipahami sebagai bahan penambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas, tidak lebih. Wallahu a’lam[]

Benarkah Warna Merah Lafadz Walyatalattaf sebagai Tanda Tetesan Darah Usman bin Affan?

0
warna merah lafadz walyatalattaf
warna merah lafadz walyatalattaf

Terdapat beberapa keterangan bahwa penulisan walyatalattaf dengan warna merah merupakan pengenang atas kematian Khalifah Usman bin Affan. Warna merah disebut sebagai tanda tetesan darah yang ketika Khalifah Usman dibunuh, beliau memegang mushaf Al Qur’an. Apakah benar warna merah lafadz walyatalattaf sebagai tanda tetesan darah?

Kita perlu membedah terlebih dahulu perihal lafadz walyatalattaf. Pertama, apakah semua mushaf Al Qur’an memberikan warna merah terhadap lafadz walyatalattaf? Kedua, apakah alasannya sehingga lafadz walyatalattaf yang dipilih?

Hal dasar yang perlu kita pahami adalah, mushaf Al Qur’an berbeda dengan Al Qur’an itu sendiri. Mushaf merupakan medium pengejawantahan tulisan Al Qur’an yang memang seiring berkembangnya waktu akan ada modifikasi. Sementara Al Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah) tentu sampai kapanpun tidak akan berubah.

Dari pengetahun dasar ini, kita sebenarnya memaklumi berbagai ragam mushaf di kalangan Muslim seluruh dunia. Termasuk dalam perihal yang akan kita bahas, yakni penulisan lafadz walyatalattaf. Tentu tidak semua mushaf Al Qur’an baik berupa manuskrip maupun cetak menuliskan lafadz ini dengan tinta merah. Ada juga yang ditulis dengan tinta hitam namun tebal, tapi ada juga yang ditulis sama dengan lafadz lainnya.


Baca juga: Kaidah Asbabun Nuzul: Manakah yang Harus didahulukan, Keumuman Lafaz atau Kekhususan Sabab?


Ketika berbicara tentang lafadz walyatalattaf dan bertinta merah, biasanya kita akan kembali pada ingatan saat kecil dahulu. Memang mushaf-mushaf dengan gaya huruf-huruf tebal, lebih dominan menyajikan lafadz walyatalattaf dengan warna merah. Mushaf ini bernama mushaf Bombay, sebuah mushaf yang dicetak di Mumbai India, kemudian diikuti oleh sebagian percetakan mushaf di Indonesia. Berikut contoh penulisan lafadz ini dengan tinta merah di mushaf Bombay.

Dari gambar di atas, selain lafadz walyatalattaf yang berwarna merah juga terdapat keterangan nisfu Al Qur’an (pertengahan Al Qur’an). Dari keterangan ini, sebenarnya alasan dasar mengapa warna merah itu dipilih, karena untuk membedakan lafadz tersebut dengan lafadz-lafadz yang lain. Lantas bagaimana dengan pendapat bahwa penulisan warna merah ini sebagai tanda untuk mengenang darah Usman bin Affan yang dibunuh saat memegang mushaf Al Qur’an?

Memang diberbagai catatan, seperti Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah menyebut bahwa Usman bin Affan terbunuh saat sedang membaca Al Qur’an. Hal ini senada dengan bukti mushaf Al Qur’an tertua yang disimpan di Tashkent, Uzbekistan. Berdasarkan catatan reportase detikcom tentang mushaf tersebut, Penjaga Museum itu menyebut bahwa di mushaf tersebut terdapat bekas ceceran darah Usman saat dibunuh, dan itu menunjukkan pada Surat Al Baqarah.


Baca juga: Mana yang Lebih Utama, Membaca Al-Quran dengan Hafalan atau dengan Melihat Mushaf?


Dalam riwayat Imam Ahmad dari Amrah binti Arthah juga menyebut bahwa tetesan darah yang menimpa mushaf itu QS. Al Baqarah ayat 137.

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dari uraian tersebut, nampaknya alasan penulisan walyatalattaf dengan tinta merah untuk mengenang kematian Usman bin Affan cenderung tidak tepat. Karena darah yang menetes di mushaf Usman bin Affan justru menunjukkan surat Al Baqarah, bukan Al Kahfi sebagaimana kabar-kabar yang sering beredar.


Baca juga: Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [2]: Mengembangkan Kemampuan Akal dalam Berkomunikasi


Walyatalattaf  Pertengahan Al Quran

Sebenarnya ada beberapa pendapat tentang pertengahan Al Qur’an, terlebih jumlah ayat pun berbeda menurut para ulama. Ada yang menyebut 6204 ayat, ada yang menyebut 6214 ayat, 6219 ayat, 6226 ayat, dan 6236 ayat. Dari berbagai pendapat itu, jumlah kalimat dalam Al Qur’an menurut Al-Fadl Ibnu Syazan, dari Ata Ibnu Yasir, adalah 77.439 kalimat. Sementara huruf keseluruhannya ada yang berpendapat sebanyak 321.180 huruf, namun ada juga yang menyebut 323.015 huruf.

Mengutip dalam kitab Tafsir At Tahrir wa Tanwir anggitan Ibnu Asyur yang menyebut beberapa pendapat tentang pertengahan mushaf Al Qur’an. Jumhur ulama menyebut bahwa huruf ta’ dalam lafadz walyatalattaf (QS. Al Kahfi :19) merupakan pertengahan Al Qur’an. Namun ada pendapat lain, seperti Imam Ibnu Athiyah menyebut bahwa Imam Nawawi berpendapat bahwa pertengahan Al Qur’an adalah huruf nun dalam lafadz nukran (QS. Al Kahfi :74).

Dari penjelasan tersebut, nampaknya sudah cukup mewakili kegalauan kita, mengapa walyatalattaf di sebagian mushaf berwarna merah.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam[]

Tafsir At-Tawhidi, Pelopor Hadyu Al-Quran dalam Kitab Tafsir

0
tafsir at-tawhidi
tafsir at-tawhidi

Tafsir At-Tawhidi merupakan kitab tafsir karya Hasan At-Turabi, mufasir kontemporer asal Sudan yang sarat akan nuansa hadyu as-surat (hidayah surat) di dalamnya. Tafsir ini menampilkan kesatuan dan keutuhan hidayah Al-Quran. Menurut At-Turabi, kebanyakan tafsir klasik tidak menampilkan secara eksplisit hadyu Al-Quran, sebagaimana pula yang dikritik oleh Husain az-Zahabi yang melihat bahwa banyak di antara sekian kitab tafsir klasik yang justru terjebak oleh romantisme dan fanatisme mazhab masing-masing sehingga melupakan tujuan pokok dari penafsir yaitu hidayah Al-Quran.

Hasan At-Turabi melihat bahwa betapapun tafsir klasik telah menjelaskan kandungan hidayah Al-Quran, akan tetapi acapkali absen dalam penafsiran dan tidak bertegur sapa dengan ayat atau surat yang lain. Padahal Al-Quran disusun secara sistematis dan saling terkait antara satu ayat atau satu surat dengan ayat atau surat yang lain.

Latar Belakang Penulisan Tafsir At-Tawhidi

Sejak tahun 1994 Hasan At-Turabi mulai membentuk sebuah kelompok diskusi mingguan yang rutin diikuti oleh murid dan teman-temannya. Kelompok diskusi ini mengusung tema dan metode, “metode tafsir Al-Quran yang integral” atau yang ia sebut dengan Tafsir At-Tawhidi li Al-Quran.

Sejatinya, pendekatan tawhidi bukanlah hal baru dalam keilmuan At-Turaby terkait metode tafsir semata, melainkan melandasi gerak gerik At Turaby dalam segala aspek pemikiran dan gerakan sosial keagamaan bahkan gerakan politiknya. Bermula dari diskusi mingguan terkumpulan sedikit demi sedikit tafsir yang kemudian menjadi sebuah buku besar dengan judul Tafsir At-Tawhidi.

Kajian mingguan ini semakin hari semakin bertambah peminatnya. Jika pada awalnya hanya diikuti oleh segelintir orang baik pakar hukum dan ilmu kealaman maupun ilmu sosial, sekarang diikuti dari berbagai kalangan lintas keilmuan dan status sosial yang beragam. Hasan At-Turabi memang getol menyuarakan metode tafsir at-tawhidi, alasannya adalah memperkaya kajian tafsir yang sudah ada dengan memberikan gambaran utuh atas surat-surat dan ayat Al-Quran yang memuat ragam tema dan hikmah.

Baca juga: Alasan Tafsir Jalalain Jadi Tafsir Favorit di Pesantren

Jika ditilik secara garis besar, sebenarnya gagasan Hasan At-Turabi tentang tafsirnya senada dengan gerakan pembaharuannya dalam bidang keislaman yang lebih banyak dipengaruhi oleh pendekatan ushul fiqih khususnya maqasidus syari’ah yang pernah lama tenggelam dalam khazanah pemikiran Islam, dan saat ini dihidupkan kembali oleh Hasan At-Turabi melalui metode tafsir yang cukup baru yaitu tawhidi. Dari refleksi maqashid ini, Hasan At-Turabi memulai membangun bangunan epistemologi, dan metodologi keilmuannya dalam menafsirkan Al-Quran yaitu metode tawhidi.

Karakteristik Kitab dan Metode Penulisannya

Tafsir ini terdiri dari 3 jilid yang masing-masing jilid memuat 10 juz Al-Quran. Jilid pertama terdiri dari sepertiga awal Al-Quran (Al-fatihah sampai At Taubat), jilid kedua (Surat Yunus sampai Surat Al-‘Ankabut), jilid ketiga (masih dalam proses penulisan, belum dipublikasikan). Hasan At-Turabi menulis tafsir ini berdasarkan tartib-mushafi bukan nuzuli. Dan termasuk kategori kitab tafsir maudhu’i (tematik).

Sebelum menerangkan kandungan ayat secara detail, Hasan At-Turabi menjelaskan hubungan tematik masing-masing ayat dalam surat secara utuh.

Hadyu As Surat adalah Kekhasan Tafsir at-Tawhidi

Hasan At-Turabi memberikan distingsi pada tafsir ini dengan hadyu as-surat (intisari petunjuk surat). Dalam menjelaskan kandungan utuh suatu surat, ia mengambil munasabah antara ayat satu dengan ayat yang lain melalui pemaparan singkat. Ia juga concern menampilkan keutuhan hidayah antara satu dengan yang lain.

Baca juga: Tafsir Al-Azhar (1): Penggunaan Bahasa Lokal dalam Mengagungkan Nama Allah

Hal ini tampak pada penjelasan Q.S. An Nisa berikut ini,

Surat an-Nisa (Inti hidayah Surat Al-Quran)

Surat an-Nisa itu turun di Madinah yang zamannya setelah dua surat sebelumnya, yaitu al-Baqarah dan Ali Imran sekitar tahun empat hijriyah. Di mana peradaban masyarakat muslim telah terbentuk di Madinah. Setelah pertolongan dan hijrah, masalah keluarga menjadi tiang sosial. Lalu masalah jihad menguat, banyak yang mati dan beruntun, banyak pertanyaan kaum muslim seputar hukum keluarga dan warisan. Sehingga sangat tepat jika hidayah surat an-Nisa ini membicarakan keluarga, interaksi dan warisan. Surat ini tersambung dengan sebelumnya dalam urutan Al-Quran. Sebab, ia dimulai dengan masalah takwa yang menjadi akhir pembahasan surat Ali Imran Juga di dalam masalah ayat ketauhidan dan perang di jalanNya. (At-Turabi, 2017, hal. 54)

Dari penjelasan ini, ia melanjutkannya dengan tartil ayat (membaca pelan ayat Al-Quran). Artinya, Hasan At-Turabi menafsirkan per ayat Al-Quran. Hal ini agak berbeda pada penafsir yang umumnya menganalisis mufradat Al-Quran terlebih dahulu atau membahas fan gramatikal bahasa Arab. Akan tetapi tidak untuk Hasan At-Turabi, ia lebih tertarik menjabarkan kembali maksud ayat Al-Quran dengan bahasanya sendiri yang menyerap bahasa Al-Quran pula.

Dia mengatakan,

(عموم الآية) على الناس أن يتقوا ربهم تذكرا أنه خلقهم من نفس واحدة وجعل ذلك أصلا لوحدة البشر يتساوى ولا يتفاخر ويتراحم ولا يتهاجر في المحاقة والمواجبة المتكاملة للذكور والإناث، وفي الموالاة والمعاملة بين العروق والشعوب المتكاثرة، فمن وراء ذلك على الناس جميعا رقابة الله الواحد

“(Keumuman ayat al-Qur‟an) Manusia itu harus bertakwa pada Tuhan demi mengingatkan bahwa Dia menciptakan mereka dari satu diri dan itu dijadikan sebagai dasar kesatuan manusia, mereka sama tidak boleh sombong, harus kasih sayang tidak boleh meninggalkan hak-kewajiban, sempurna bagi laki-laki dan perempuan, kasih sayang, saling membantu antar golongan dan bangsa yang banyak. Yang disamping itu semua, mereka harus merasa melihat Allah swt. Sang Maha Esa. (At-Turabi, 2017, hal. 66).

Baca juga: Mengenal Corak Tafsir Fiqhi dan Kitab-kitabnya

Jika menelisik tafsir ini, lebih mengarah kepada rasio sebagai cara dia menemukan benang merah (korelasi) antar ayat dan surat Al-Quran. Selain itu, ia juga menggunakan rasio untuk mencari hikmah dari pemakaian kata tertentu. Untuk menarik makna universal dari ayat Al-Quran, ia tidak segan untuk menolak pemahaman tekstualis hadis demi menghadirkan isu-isu kontemporer, semisal kesetaraan gender.

Jadi, Tafsir At-Tawhidi menggunakan metode tafsir tematis strukturalis yang diharapkan oleh Hasan At-Turabi mampu menyatukan kembali konteks-konteks Al-Quran baik berupa ayat maupun surat-suratnya serta kandungan keduanya dalam bingkai satu kesatuan utuh tidak parsial sebagaimana yang lazim dalam kitab-kitab tafsir yang sudah ada. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 6-8

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Masih menyambung pembahasan sebelumnya, Tafsir Surat Al An’am Ayat 6-8 berbicara mengenai orang-orang musyrik. Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak percaya atas kerasulan Nabi Muhammad saw. Allah memperingatkan mereka bahwa sikap mereka itu sama halya dengan umat-umat terdahulu yang mengingkari utusan Allah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 


Lebih lanjut, Tafsir Surat Al An’am Ayat 6-8 ini membahas tentang kemakmuran yang dialami oleh umat terdahulu. Namun sayangnya mereka ingkar dan mendapatkan azab dari Allah lalu dimusnahkan. Ada dua penyebab azab itu diterima oleh umat-umat terdahulu tersebut. Pertama ingkar kepada rasul dan kedua kufur nikmat. Persis dengan sikap perilaku orang-orang musyrik Mekah.

Pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 6-8 ditutup dengan kekeliruan orang-orang kafir Mekah tentang konsep kenabian. Menurut mereka seharusnya Nabi Muhammad didampingi oleh seorang malaikat atau Allah turunkan malaikat sebagai nabi di dunia. Namun lagi-lagi itu hanya anggapan sebarang.

Ayat 6

Allah memperingatkan bahwa sesungguhnya orang kafir sudah mengetahui berapa banyak generasi dari umat-umat terdahulu yang telah dimusnahkan Allah seperti kaum Nuh, ‘Ad, Samud dan lain-lain. Mereka termasuk generasi-generasi umat yang telah diberi Allah kekuatan, keteguhan, kemerdekaan di bumi yang belum pernah diberikan Allah kepada orang Arab yang musyrik itu.

Bumi mereka senantiasa mendapat curahan air hujan yang deras menimbulkan kemakmuran dan kesuburan. Sungai-sungai mengalir membasahi kebun-kebun tanaman mereka, menambah indah dan makmur bumi mereka. Segala nikmat dan anugerah Allah yang diberikan kepada umat terdahulu tidak menghalangi azab-Nya disebabkan dosa yang mereka perbuat.

Dua macam dosa yang mereka perbuat yang mengakibatkan kebinasaan mereka adalah: Pertama, dosa menentang rasul-rasul dan mengingkari ajaran-ajaran mereka serta memperolok-olokkannya; dan kedua, dosa kufur nikmat, yakni sikap ingkar terhadap berbagai nikmat yang telah diberikan Allah kepada mereka. Mereka bahkan mempergunakan nikmat-nikmat itu untuk hal-hal yang berlawanan dengan petunjuk Allah.

Banyak ayat Alquran yang menceritakan tentang sebab-sebab kehancuran mereka. Misalnya antara lain firman Allah:

وَمَا كُنَّا مُهْلِكِى الْقُرٰىٓ اِلَّا وَاَهْلُهَا ظٰلِمُوْنَ

… dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri; kecuali penduduknya melakukan kezaliman.  (al Qasas/28: 59)

Azab Tuhan yang dijatuhkan kepada umat yang ingkar ada dua macam, yaitu:

Pertama, azab dengan cara membinasakan secara menyeluruh sampai musnah. Kedua, azab dengan cara melenyapkan kemerdekaan dan kekuatan umat itu sehingga mereka menjadi umat yang lemah dan hina.

Bilamana mereka musnah, maka yang lain yang memiliki sifat-sifat yang baik, berlawan dengan sifat-sifat umat yang musnah itu akan muncul menggantikan mereka.

Ayat ini memperingatkan kaum musyrik Mekah bahwa kekuatan dan kekuasaan mereka tidaklah dapat menghalangi hukuman Allah, seperti halnya telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu.


Baca juga: Isyarat Pelestarian Alam Dibalik Kisah Nabi Shalih, Unta dan Kaum Tsamud


Ayat 7

Ayat ini menjelaskan keraguan orang kafir yang ingkar terhadap kebenaran wahyu dan kerasulan Muhammad. Nabi Muhammad sesungguhnya sudah mengetahui, berdasarkan keterangan ayat-ayat yang lalu, bahwa sebab-sebab mereka mendustakan agama ialah berpalingnya mereka dari ayat-ayat Alquran dan tertutupnya hati mereka untuk merenungkan dan memikirkan kejadian-kejadian dalam alam ini.

Banyak bukti keesaan Allah nampak pada diri manusia sendiri dan di atas bumi ini, baik ayat kauniyah maupun ayat yang berbicara tentang alam raya yang sangat jelas; tak ada yang kabur dan samar. Namun demikian orang musyrik tetap dalam kekafiran. Penjelasan-penjelasan Alquran terhadap bukti keesaan Allah di alam ini tidak mengubah pendirian mereka.

Seandainya wahyu itu diturunkan kepada Nabi Muhammad telah tercetak di atas kertas dan mereka dapat menyaksikannya dengan mata kepala mereka, dan memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentu orang kafir masih akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

Kata-kata demikian didorong oleh kesombongan yang luar biasa dan permusuhan yang mendalam. Mereka tetap memandang wahyu Ilahi itu sebagai sihir, dan merasa diri mereka kena sihir.

Ayat 8

Dalam ayat ini diterangkan tentang anggapan orang kafir Mekah mengenai kerasulan. Mereka berpendapat semestinya ada malaikat yang mendampingi Muhammad turut memberi peringatan bersamanya dan memperkuat kerasulannya atau Allah menurunkan malaikat sebagai rasul, bahkan mereka menghendaki dapat melihat Tuhan (al Furqan/25: 7 dan 21).

 Di kalangan orang Arab terdapat kepercayaan tentang adanya hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya. Menurut mereka, yang patut menjadi penghubung (rasul) mestinya makhluk rohani (malaikat).

Manusia, meskipun dia memiliki kesempurnaan rohani yang tinggi, seperti akal, akhlak dan adab yang mulia, namun tidak mungkin dia menjadi rasul, karena dia masih bergaul dengan manusia dan masih memiliki kebutuhan jasmani, seperti makan, minum dan berusaha. Fenomena kepercayaan seperti ini, bukan hal yang baru ada pada zaman Nabi Muhammad, tetapi telah ada sejak zaman Nabi Hµd (al Mu′minun/23: 33-34)

Kaum musyrik Mekah mempunyai dua anggapan mengenai kedudukan malaikat dalam kerasulan. Anggapan pertama ialah malaikat itu sendiri yang menjadi rasul. Anggapan kedua ialah malaikat itu menyertai Nabi dan menjelaskan langsung kepada mereka bahwa Muhammad adalah Nabi.

Anggapan mereka yang kedua ini, jika tidak dikaitkan dengan kehadiran malaikat secara langsung di hadapan mereka, tidaklah menjadi sumber perselisihan, sebab Muhammad sudah menerangkan kepada mereka, bahwa mereka selalu didatangi malaikat.

Tetapi mereka memandang diri mereka sederajat dengan Nabi dalam sifat-sifat kemanusiaan. Oleh karena itu, mereka berpendapat sanggup pula berhadapan dengan malaikat dan menerima pelajaran langsung dari malaikat. Di sinilah letak kekeliruan yang besar dari orang-orang kafir, terhadap diri sendiri; mereka menolak segala sesuatu yang tidak mereka peroleh secara langsung.

Terhadap anggapan mereka yang kedua, Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa kalau Allah menghadirkan malaikat di hadapan mereka dalam bentuknya yang asli yang terjadi tentulah kehancuran mereka, dan mereka tidak akan diberi kesempatan untuk menyatakan iman, bahkan azab segera akan menimpa mereka.

Kehancuran mereka dapat disebabkan oleh kedahsyatan wujud malaikat itu saat malaikat itu menampakkan diri kepada mereka, atau mereka dimusnahkan oleh malaikat karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 9-11


(Tafsir Kemenag)

Konsep Kepribadian Ulul Albab dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 190-191

0
Konsep ulul albab
Konsep ulul albab

Kepribadian orang cerdas sesungguhnya sudah dijelaskan pada surat Ali ‘Imran ayat 190-191. Pada ayat ini, orang cerdas disebut dengan Ulul albab. Bahkan menariknya lagi, orang yang mampu berfikir kristis, juga bisa masuk pada kategori ulul albab. Lantas, bagaimana konsep kepribadian ulul albab dalam Al-Quran?. berikut Firman Allah SWT, Surat Ali ‘Imran ayat 190-191:

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰت لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰما وَقُعُودا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

Baca juga: Beda Derajat Orang yang Berilmu dan Tidak Berilmu

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 190-191

Ayat ini merupakan bantahan bagi kaum Yahudi yang mengklaim kefakiran Allah (Innallaha ta’ala faqirun wa nahnu aghniyaa). Kemudian pada kitab  Lubaabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul karangan Jalaluddin as-Suyuti, Surat Ali ‘Imran ayat 190-191 ini turun untuk menjelaskan bukti kaum Yahudi mengklaim kefakiran Allah SWT.

Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “orang-orang Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan bertanya kepada mereka, apa tanda-tanda yang dibawa Musa kepada kalian?”

Orang-orang Yahudi itu menjawab “Tongkat dan tangan yang putih bagi orang-orang yang melihatnya.”

Lalu, orang-orang Quraisy itu mendatangi orang-orang Nasrani, lalu bertanya kepada mereka, “apa tanda-tanda yang diperlihatkan Isa?”

Mereka menjawab, “Dia dulu menyembuhkan orang yang buta, orang yang sakit kusta dan menghidupkan orang mati.” Lalu mereka mendatangi Nabi SAW.

Lalu berkata kepada beliau, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk mengubah bukit shafa menjadi emas untuk kami.” Lalu beliau berdoa, maka turunlah firman Allah surat ali imron ayat 190-191.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Semangat Pendidikan Islam Ada pada Orang yang Berilmu

Ayat 190 bicara tentang hikmah penciptaan langit dan bumi hanya dirasakan oleh ulul albab, yakni orang-orang yang mengingat Allah SWT.

Syaikh Imam al-Qurthubi pada kitab tafsirnya yaitu Tafsir al-Qurtubi, menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk melihat, merenung, dan mengambil kesimpulan atas tanda-tanda ke Tuhanan. Tanda-tanda tersebut tidak mungkin ada, kecuali Allah lah yang menciptakannya. Dan orang yang bisa melakukan perenungan atas segala penciptaan Allah SWT pada alam semesta, hanyalah ulul albab.

Bagaimanakah Ciri-ciri yang Dinamai Ulul Albab?

Ulu dalam bahasa Arab berarti ashab yaitu pemilik. Sedangkan albab adalah bentuk jamak dari al-lubb yang berarti inti segala sesuatu (substansi). Dalam Al-Quran, kata ini disebutkan sebanyak 16 kali dan selalu merujuk pada arti orang yang berakal.

Pada kitab Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab, ayat tersebut dijelaskan sebagian dari ciri-ciri siapa yang dinamai Ulūlalbāb. Mereka adalah orang, baik laki-laki atau perempuan, yang terus menerus mengingat Allah, dengan ucapan dan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi apapun. Dengan cara apa mereka mengingat Allah? Yakni dengan cara berdizikir. Sedangkan jika untuk objek akal pikiran adalah seluruh makhluk ciptaan Allah, diberikan kebebasan akal seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam.

Baca juga: Belajar Ontologi Filsafat dari Kisah Nabi Ibrahim

Dengan demikian, dapat disimpulkan, ulul albab ialah orang-orang yang menggunakan akal dan logikanya dengan baik dan benar untuk mengenal siapakah Allah, serta memahami segala keagungan dan kekuasaan Allah. Dengan melalui tanda-tanda ciptaan Allah, maupun hukum ketetapan Allah, serta memahami sabab nuzul ayat Al-Quran, maka semua itu bisa disebut dengan ulul albabWallahu a’lam[]

Tafsir Surat At-Taubah Ayat 122: Pencari Ilmu Wajib Membangun Expertise

0
Membangun expertise bagi pencari ilmu
Membangun expertise bagi pencari ilmu

Kita sepakat, mencari ilmu wajib bagi setiap manusia yang berakal. “Thalabul ‘ilm faridatun ‘ala kulli muslimin wal muslimah”, sabda Nabi yang berarti mencari ilmu fardhu bagi tiap umat Islam, menjadi salah satu landasan perintah tersebut. Akan tetapi, tidak hanya itu. Membangun expertise (keahlian), juga penting dan Allah perintahkan melalui firmanNya dalam Surat Al-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”


Baca juga: Inilah Cara Memberikan Nasihat Kepada Pemimpin Menurut Al-Quran


Mencari ilmu sama dengan memajukan peradaban

Surat at-Taubah ayat 122 ini merupakan warning terhadap sahabat Nabi agar sebagian mereka memperdalam ilmu agama, setelah mereka semua memilih untuk ikut jihad di medan perang. Secara kronologis, ayat ini turun berkenaan dengan perintah Rasulullah kepada sahabatnya untuk ikut sariyyah (peperang tanpa Rasulullah). Lalu, seluruh sahabat bertandang ke medan perang, hingga Rasulullah pun sendirian di Madinah. Lalu turunlah ayat ini untuk menyerukan perintah memperdalam ilmu agama bagi sebagian sahabat, agar tidak semua pergi berperang. (Lubabun Nuzul fi Asbabin Nuzul, Jalaluddin As-Suyuthi)

Pada ayat-ayat sebelumnya dalam surat at-Taubah, Allah lebih menekankan perintah untuk berperang dan larangan untuk ceroboh dalam peperangan. Setelah cukup menyampaikan perintah itu, Allah lalu menutup surat ini dengan instruksi memperdalam ilmu agama. Karena, ilmu dan pengetahuan juga menjadi salah satu kunci majunya suatu peradaban.

Ibnu ‘Asyur dalam at-Tahrir wat-Tanwir menyebutkan, memperdalam ilmu dan pengetahuan termasuk tujuan ajaran Islam.


Baca juga: Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [2]: Mengembangkan Kemampuan Akal dalam Berkomunikasi


Menurut Ibnu ‘Asyur, transmisi ilmu dan etiket keislaman termasuk tujuan ajaran Islam dan upaya untuk membangun religiusitas masyarakat, serta mewujudkan umat yang berperadaban agar umat Islam memiliki kebijakan yang sesuai dengan Islam. Maka menyuruh umat untuk berperang saja tidak memenuhi maslahat. Sebagian mereka harusnya, ada yang mendalami ilmu agama.

Lalu, apa yang dimaksud ilmu agama? Apa hanya ilmu tentang akidah dan tatacara ibadah? Ternyata tidak sesederhana itu.

Thantawi Jauhari dalam al-Jawahir fi Tafsiril Quranil Karim menyebutkan ilmu agama dalam ayat itu mencakup semua ilmu. Baik yang berorientasi pada ilmu agama langsung seperti; tafsir, fikih, dan akidah, atau pun tidak seperti; teknik, kedokteran, ilmu pertambangan, dan lain-lain. Masing-masing ilmu tersebut merupakan urusan penting bagi umat. Sehingga, wajib untuk diperdalam.

Imam az-Zarnuji dalam kitab at-Ta’limul Muta’allim mengistilahkan ilmu jenis kedua itu dengan “ma yaqa’u fi ba’di ahyaanin” (ilmu yang dibutuhkan pada masa tertentu). Menurutnya, hukum mempelajari ilmu ini pun juga wajib secara kifayah (kewajiban kolektif).


Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 97: Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah


Tafaqqahu fiddin, kewajiban Membangun Expertise bagi Pencari Ilmu

Tafaqqahu merupakan derivasi dari mashdar tafaqquh, yang berarti takalluful faqahah (mencari pemahaman dengan sungguh). Ibnu ‘Asyur mentafsir dengan fahmu ma yaduqqu (faham secara mendalam), atau semakna dengan ahli suatu bidang ilmu. Maka, ayat ini menjadi dalil perintah untuk membangun kepakaran (expertise).

Bila melihat konteks ayat, perintah membangun expertise bukan berarti lebih penting daripada berperang. Melainkan lebih pada pembagian tugas untuk berperang dan mendalami ilmu. Karena, pada waktu itu, seluruh sahabat ikut berperang, maka, Allah memerintahkan agar sebagian meraka belajar dan membangun kepakaran.

Kedua hal tersebut saling berkait-kelindan, sehingga harus dibagi sesuai kebutuhan dan pemenuhan tujuan ajaran Islam. Artinya, jumlah orang yang mendalami ilmu agama harus bisa memenuhi kebutuhan umat dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban. Begitu pun jumlah orang yang ikut berperang, harus bisa memenuhi kebutuhan keamanan. Sehingga, kita bisa memahami, bahwa substansi ayat itu adalah perintah untuk membangun kepakaran bagi sejumlah orang sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Bila kita hadapkan dengan situasi saat ini. Yang kata Tom Nichols dalam the Death of Expertise, ‘These are dangerous times. Never have so many people had access to so much knowledge, and yet been so resistant to learning anything’ (sekarang ini adalah fase yang berbahanya, karena banyak orang yang bisa mengakses ilmu pengetahuan, tapi tidak banyak mau belajar apa pun). Maka, membangun expertise perlu untuk direvitalisasi. Digelorakan lagi.

Karena itu, kita butuh banyak lagi orang yang mau belajar dan mendalami ilmu, sehingga bisa memproduksi generasi-generasi yang expert, yang cukup untuk bisa memperbaiki peradaban. Maka, siapa saja yang memutuskan untuk menjadi pelajar dan pembelajar, sudah seharusnya untuk mendalami ilmu yang ia pelajari. Karena, tugas pelajar tidak hanya belajar, tapi juga menyampaikan pada yang lain. Apalagi bagi pembelajar, harus ahli agar bisa profesional pada bidangnya. Dengan begitu, kita bisa berkontribusi lebih optimal sesuai dengan keahlian masing-masing. Wallahu a’lam[]

 

Inilah Cara Memberikan Nasihat Kepada Pemimpin Menurut Al-Quran

0
Nasihat Kepada Pemimpin
Nasihat Kepada Pemimpin foto: vectorstock.com

Setiap orang boleh–bahkan harus–memberikan nasihat kepada pemimpin yang zalim, terutama orang berilmu (alim) dan memiliki kepahaman mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi. Dengan saran tersebut diharapkan para pemimpin dapat kembali ke jalan kepemimpinan sesungguhnya.

Pemimpin adalah rantai yang menggerakkan sepeda (bangsa dan negara). Ketika rantai tersebut berkarat dan mengakibatkan malfungsi serta terhambatnya laju sepeda, maka saat itu dibutuhkan pelumas rantai, yaitu orang-orang alim. Mereka bertugas untuk menghilangkan karat-karat itu dari rantai sepeda.

Ketika seseorang ingin melumasi rantai agar karat menghilang, tentu harus dilakukan dengan cara yang benar. Begitu pula ketika orang alim ingin memberikan nasihat kepada pemimpin. Ada langkah-langkah konkrit dan jitu yang harus dilaksanakan agar nasihat mereka dapat didengar dan diterima dengan baik oleh si pemimpin.

Tanpa langkah yang baik, sebuah nasihat mungkin tidak akan bermakna. Karena memberikan nasihat kepada pemimpin itu seperti memberi makanan kepada orang yang membutuhkan. Jika hal tersebut dilakukan dengan metode yang salah–dilempar misalnya–maka dapat dipastikan bahwa orang itu tidak akan menerimanya, begitu juga sebaliknya.

Baca Juga: Pemimpin Harus Berlaku Adil dan Menjalankan Amanah

Nasihat yang baik adalah hikmah yang disampaikan dengan bahasa lembut, baik, sopan, tegas dan tidak dibumbui oleh keinginan untuk mempermalukan si pemimpin. Jika nasihat disampaikan menggunakan bahasa kasar, diksi provokatif, dan semata-mata untuk menjatuhkan pemimpin–terlepas dari efektifitasnya–maka itu adalah nasihat yang kurang baik.

Cara Memberikan Nasihat Kepada Pemimpin Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an seringkali mengajarkan kepada pembaca-nya untuk bersikap adil serta bijaksana dalam segala kondisi dan situasi, termasuk dalam konteks memberikan nasihat kepada pemimpin. Karena nasihat yang baik juga harus disampaikan dengan cara yang baik pula. Salah satu pengajaran nilai tersebut termaktub dalam firman Allah Swt yang berbunyi:

اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَخُوْكَ بِاٰيٰتِيْ وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِيْۚ ٤٢اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ ٤٣ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ٤٤

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha [20]: 42-44)

Menurut Quraish Shihab, kelompok ayat di atas merupakan lanjutan kisah nabi Musa as dan nabi Harus as yang diberi tugas untuk menyampaikan dakwah kepada Fir’aun dan bani Israil. Keduanya diutus oleh Allah karena pada waktu itu bani Israil sudah mulai jauh dari Allah Swt dan karena kesewenangan Fir’aun (Tafsir Al-Misbah 8]: 305).

Pada ayat tersebut Allah seakan berfirman, “Wahai Musa pergilah engkau beserta saudaramu Harun dengan membawa ayat-ayat-Ku (yakni mukjizat-mukjizat yang telah aku berikan), dan juga ayat-ayat-Ku (perintah Allah Swt). Berpegang teguhlah dengannya dan jangan kamu berdua lalai, jemu, melemah dan terlena dalam mengingat-Ku.”

Dia lalu berfirman, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun penguasa tirani itu dengan berbekal mukjizat-mukjizat yang telah Ku-anugerahkan padamu, karena sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kedurhakaan. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, yakni dengan cara yang tidak mengandung antipati dan amarahnya, mudah-mudahan ia ingat akan kebesaran Allah dan kelemahan makhluk atau paling tidak ia akan takut kepada-Ku.”

Pada ayat ini Allah memerintahkan nabi Musa dan nabi Harun berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut dan bukan dengan kata-kata memerangi atau membunuh. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Fir’aun atau Ramses II adalah penguasa yang melampaui batas dan sukar menyadari kekuasaan adalah titipan Allah, ia tetap harus didakwahi dengan cara yang terbaik, yakni lemah lembut (Tafsir Al-Misbah 8]: 307).

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 32: Yang Lebih Penting dari Pemimpin Adalah Kebijakan yang Berpihak

Hal itu dilakukan karena dakwah adalah upaya menyampaikan hidayah. kata hidayah terdiri dari huruf ha, dal dan ya yang salah satu maknanya adalah menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sinilah lahir kata hidayah yang secara asal merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati. Dengan demikian, seorang mubalig harus bijak dalam berdakwah dengan mendahulukan kelembutan, bukan kekerasan.

Dalam konteks memberikan nasihat kepada pemimpin seorang muslim juga harus berlaku demikian. Sebaiknya ia mengedepankan narasi-narasi dan diksi yang tidak mengandung kekerasan dan kebencian agar nasihatnya menembus hati-hati yang zalim. Karena jika suatu nasihat disampaikan dengan diksi yang provokatif, itu tidak akan diterima dan bahkan mungkin mengundang amarah dan kebencian.

Dengan demikian, menasihati pemimpin berarti membantu mereka berjalan di atas kebenaran, menaatinya dalam rambu yang dibenarkan (agama dan konstitusi), mengingatkan dengan cara yang terbaik sesuai situasi kondisi (lemah lembut diutamakan), memberitahu mereka letak-letak kesalahannya, dan memberikan mereka solusi yang seharusnya dilakukan, bukan hanya menyalahkan.

Adapun pemimpin-pemimpin yang tetap lalai pasca diingatkan dan diperingatkan sebaiknya dievaluasi secara komprehensif kinerjanya. Evaluasi tersebut penting dilakukan agar pemimpin itu dipertimbangkan untuk dipilih atau tidak pada periode selanjutnya. Ingatlah “rantai yang sudah tidak bisa digunakan untuk menggerakkan sepeda sudah selayaknya untuk diganti.” Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 ini berbicara tentang kepantasan Allah untuk disembah oleh manusia. Allah juga menerima doa dan harapan seluruh manusia. Nama Allah telah dikenal oleh orang-orang sebelum Muhammad diutus. Ke-berhak-an Allah untuk disembah tersebut karena Dia menjadi tujuan manusia untuk memohon pertolongan dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk membangkitkan orang mati, sebagaimana pembahasan sebelumnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 2


Orang-orang musyrik tidak mempercayai adanya hari kebangkitan. Padahal hal itu jelas-jelas sudah dipahami oleh mereka. Hal ini tidak lain merupakan pembangkangan dari mereka dan Allah Maha mengetahui isi hati mereka sedalam apapun mereka sembunyikan. Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 ditambahkan bahwa orang-orang musyrik tersebut tidak berusaha menggunakan akalnya untuk merenungkan kebenaran Alquran.

Pada akhirnya pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 ini ditutup dengan pernyataan Allah  atas orang-orang musyrik. Mereka sengaja berpaling dari kebenaran dan akibat dari sikap tersebut adalah ditutupnya pintu kebenaran bagi mereka.

Ayat 3

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah adalah yang berhak disembah, yang menerima doa dan harapan dari semua makhluk-Nya di langit dan di bumi. “Allah” adalah nama yang agung bagi Tuhan Rabbal ‘Alamin, yang sudah dikenal oleh Bangsa Arab sebelum Islam. Bangsa Arab pada zaman jahiliah, bila ditanya tentang Tuhan yang berhak disembah, mereka akan menjawab “Allah.” Tuhan yang memiliki sifat-sifat yang mereka kenal itulah yang mereka sembah.

Ayat lain yang sejalan dengan maksud ayat ini ialah firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ فِى السَّمَاۤءِ اِلٰهٌ وَّ فِى الْاَرْضِ اِلٰهٌ ۗوَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ

Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui. (az Zukhruf/43: 84)

Kedua ayat ini, yakni al An’am/6:3 dan az Zukhruf/43:84 dengan jelas mengagungkan Allah karena kekuasaan-Nya menghidupkan kembali orang yang telah mati, dan lebih-lebih karena kekhususan diri-Nya dalam mengetahui hari kebangkitan dan keesaaan-Nya dalam ketuhanan serta keesaan zat-Nya yang disembah di langit dan di bumi. Kepada Allah sajalah ditujukan doa segala makhluk di alam semesta ini.

Kemudian Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui segala yang mereka rahasiakan atau yang mereka tampakkan, baik perkataan dan perbuatan mereka maupun segala yang terbetik dalam hati mereka. Semua yang diusahakan oleh manusia, tidak luput dari pengetahuan Tuhan. Perbuatan yang baik akan diberi pahala, perbuatan yang buruk akan diberi hukuman. Sangatlah sempurna perhatian Tuhan terhadap perbuatan manusia karena semua perbuatan akan mendapatkan balasan dari-Nya.

Ayat 4

merenungkan bukti-bukti kebenaran ayat-ayat Alquran yang menjelaskan bukti-bukti keesaan Allah, hari kebangkitan dan keluasan ilmu-Nya. Bahkan mereka tidak pula merenungkan dan tidak berusaha mencari petunjuk dari tanda-tanda alamiyah yang mereka saksikan di permukaan bumi ataupun di dalam diri mereka sendiri.

Semua ayat kauniyah dan ayat yang meneguhkan kenabian Muhammad, semuanya mereka tinggalkan dan dustakan. Padahal ayat-ayat itulah yang menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai dan mengurusi alam semesta ini dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.


Baca juga: Zaghlul al-Najjar, Geolog Asal Mesir Pakar Tafsir Sains Al-Quran


Sekiranya mereka tidak berpaling dari ayat-ayat Allah akibat keras kepala, atau fanatik kepada pemimpin-pemimpin mereka, tentu kebenaran akan tampak bagi mereka, dan mereka tidak akan menentang ajaran Rasulullah saw.

Senada dengan ayat ini, Allah berfirman pada Surah al Anbiya′/21: 2-3:

مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّهِمْ مُّحْدَثٍ اِلَّا اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ ۙ  ٢  لَاهِيَةً قُلُوْبُهُمْ

Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main. Hati mereka dalam keadaan lalai. (al Anbiya′/21: 2-3)

Ayat 5

Allah menerangkan bahwa sebab orang-orang musyrik selalu berpaling dari ayat-ayat Allah, karena mereka telah mendustakan yang hak ketika yang hak tersebut datang kepada mereka. Kejahatan mereka ini sebagai akibat mereka menutup jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Yang dimaksudkan dengan “yang hak” ialah agama Allah yang dibawa Nabi Muhammad, yang mengandung kaidah-kaidah agama, hukum-hukum syariat, ibadah, muamalat, haram dan halal, akhlak dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu dijelaskan dalam Alquran. Mereka mendustakan agama berarti mendustakan Alquran sebagai dasar agama. Jika mereka memahami Alquran dan merenungkannya tentu mereka tidak mendustakan ajaran-ajaran agama itu.

Allah menegaskan kelak akan terbukti bagi mereka kebenaran berita-berita yang selalu mereka ejek di dunia. Suatu ketika mereka mengalami kehinaan di dunia ini, dan kebinasaan di akhirat akibat kedustaan mereka kepada agama. Sebaliknya mereka menyaksikan kemenangan kaum Muslimin. Peringatan Allah kepada mereka, sebelumnya dianggap angin lalu.

Demikian pula terhadap janji Allah untuk kemenangan kaum Muslimin, yang ternyata kemudian berita-berita itu terbukti, antara lain dengan datangnya musim kering yang menimpa mereka, dan hancurnya kaum musyrik pada Perang Badar dan perang-perang yang lain, serta kemenangan kaum Muslimin dengan pembebasan kota Mekah (Fath Makkah).

Dalam Alquran berulang kali diceritakan ejekan-ejekan kaum musyrik terhadap para nabi dan agama Allah, ejekan ini bertingkat-tingkat. Pertama, mereka tidak memperdulikan ayat-ayat Allah dan tanda-tanda alami serta tidak mau merenungkannya. Kedua, mereka mendustakannya. Sikap kedua ini melebihi tingkatan pertama, karena orang-orang yang bersikap acuh belum tentu mendustakan. Ketiga, mereka memperolokkannya. Orang yang mendustakan belum tentu dia sampai pada sikap memperolokkan. Sikap memperolokkan ini sudah mencapai puncak keingkaran. Orang-orang kafir menjalani ketiga tingkatan tersebut.


Baca Setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 6-8 


(Tafsir Kemenag)

Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [2]: Mengembangkan Kemampuan Akal dalam Berkomunikasi

0
Maqashid Al-Quran dari Ayat Perang
Maqashid Al-Quran dari Ayat Perang

Pada tulisan sebelumnya sudah dibahas maqashid Al-Quran dari ayat perang yang pertama, yaitu Hifz al-Din wa Tathwir Wasailih (mempertahankan agama dan mengembangkan segala sarana untuk kemajuan agama). Di artikel ini akan dilanjutkan pada maqashid Al-Quran dari ayat perang yang kedua, hifz al-Aql wa tatwiruh (mengembangkan kemampuan akal dengan baik).

Dari konsep-konsep maqashid Al-Quran yang ada, penulis menawarkan tujuh poin utama: lima bagian disintesakan dari maqashid al-shari‘ah yaitu al-din, al-nafs, al-‘aql, al-‘irdh, dan al-mâl, ditambah dengan dua poin lain: al-huquq al-insaniyah dan ‘imarat al-‘alam. Ketujuh maqshid tersebut tidak  cukup dengan hanya di-idafah-kan kepada term hifz sebagaimana yang dikenal dalam ilmu maqashid  al-sharî‘ah.  

Kata hifz lebih menonjolkan sisi pasif dan bukan aktif. Sedangkan perkembangan dunia saat ini tentunya menuntut manusia untuk bergerak aktif dan bukan hanya menjadi pribadi yang pasif dan menunggu apa yang akan terjadi. Dengan demikian, penulis mempertimbangkan gagasan Jasser Audah yang menawarkan term development  atau tathwir untuk menyandingi term hifz dengan menerapkan teori sistem.


Baca Juga: Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [1]: Mempertahankan Agama Tidak Selalu Harus dengan Kekerasan


Ayat-ayat yang digunakan sebagai contoh di sini masih sama, yaitu ayat perang yang tersebar surat at-Tawbah ayat 5, 29, 36 dan 41, di samping itu juga berlaku untuk ayat-ayat yang bertema sama.

  1. Surat at-Tawbah [9]: 5

فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۚ فَاِنْ تَابُوْا وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

  1. Surat at-Tawbah [9]: 29

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صٰغِرُوْنَ ࣖ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

  1. Surat at-Tawbah [9]: 36

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“….dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

  1. Surat at-Tawbah [9]: 41

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”


Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Beruntunglah Bagi Mereka yang Menjadi Pakar di Bidangnya


Hifz al-‘Aql wa Tathwiruh

Maqashid AlQuran yang kedua adalah agar manusia bisa mengembangkan kemampuan akalnya dengan baik. Pencapaian akal yang baik harus didukung dengan pengembangan berbagai ilmu pengetahuan dan menarik ‘ibrah dari perjalanan sejarah manusia. Dalam banyak ayat, Al-Quran memberikan apresiasi kepada mereka yang menjaga dan menggunakan akalnya dengan baik. Seperti pada ayat:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al- Mujadilah [58]: 11).

Menggunakan akal sehat merupakan perintah atas semua umat Muslim dalam segala keadaan. Akal sehat juga dibutuhkan ketika mengontekstualisir ayat Al-Quran, termasuk ayat perang dengan masanya dan juga masa kini. Aktivitas ini  penting  untuk  menjadikan Al-Quran mu’ashir li nafsih,  wa mu‘ashir lana fî al-waqt dhatih. Hal ini disampaikan oleh al-Jabiri dalam Madkhal Ila Al-Quran al-Karim. Menafikan akal dalam proses mendialogkan antara teks dan realita sama artinya dengan menafikan salah satu spirit dari tujuh semangat maqashid Al-Quran.

Dalam konteks keindonesiaan, mengadopsi begitu saja perintah “radikal” yang terekam dalam ayat perang, berarti “membunuh” akal itu sendiri. Tipologi masyarakat Indonesia yang “cepat panas” dan “suka dipuji” seharusnya lebih harus diperhatikan dalam proses penafsiran ayat-ayat tersebut.

Dalam menghadapi masyarakat dengan tipe demikian sejatinya juga telah diakomodir oleh salah satu diksi yang dicontohkan Al-Quran dalam berkomunikasi dengan penganut agama lain dalam ayat:

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۙوَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ () قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ () قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah: ‘Allah’, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: ‘Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang amal yang kamu perbuat’. Katakanlah: ‘Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”. (QS. Saba’ [34]: 24-26).


Baca Juga: Pentingnya Berprasangka Baik Dalam Rangka Toleransi Beragama dalam Al-Quran


Jika kita perhatikan lebih saksama, ayat tersebut mengajarkan bagaimana seharusnya memilih diksi yang tepat dalam mengomunikasikan tentang Islam kepada non-Muslim. Tentunya proses seleksi untuk menentukan diksi yang tepat di antaranya menggunakan pertimbangan akal.

Kandungan ayat tersebut menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah seakan mengajarkan kita untuk berkata: “Mungkin kami yang benar, mungkin pula kamu; mungkin kami yang salah, mungkin pula kamu. Kita serahkan saja kepada Tuhan untuk memutuskannya”. Ungkapan yang tentu saja “lebih sopan” dibanding dengan: “Kamilah yang benar, dan kamu sekalianlah yang sesat”.

Kesimpulan ini ditarik dari pemilihan kata ajramna yang berarti pelanggaran-pelanggaran untuk mendeskripsikan ajaran agama Islam, dan justru penggunaan kata ta‘malun yang berarti amal baik untuk menjelaskan keyakinan orang-orang non-Muslim. Allah sama sekali tidak mengajarkan kita untuk menggunakan kata “dosa” atau pun “pelanggaran” ketika menunjukkan eksistensi kaum non-Muslim demi menghindari apriori terhadap Islam juga untuk menjaga perasaan mereka.

Hal ini bukan berarti bahwa kita menganggap agama kita sebagai ajaran yang salah. Tapi merupakan sebuah etika ketika berhadapan dan berkomunikasi kepada “yang lain” tentang perbedaan yang ada. Dalam konteks pribadi, mengimani agama Islam sebagai agama yang benar adalah sebuah keharusan, karena keimanan mutlak didasari oleh keyakinan akan kebenaran.

Namun demikian, mengekspos keyakinan pribadi tersebut dengan mendiskreditkan mereka yang berbeda keyakinan bukanlah pilihan bijak dalam komunikasi antaragama. Kita bebas memuji agama kita “di dalam”, dan di saat yang sama kita diajarkan untuk tidak berlebihan dalam memaksakannya “ke luar”. Memperkenalkan the polite Islam, justru menjadi sebuah pilihan bijak dalam proses dakwah masa kini.

Dengan demikian, menderadikalisir ayat-ayat “radikal” layak untuk dipertimbangkan khususnya dalam ranah tafsir Nusantara untuk Indonesia yang berkemajuan.

Wallahu A’lam