Beranda blog Halaman 508

Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Masih dalam pembahasan mengenai orang-orang musyrik, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14 ini menekankan pada perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar menanyakan tentang ke-Esaan Allah swt. Sudah pasti orang-orang musyrik itu tahu kebenarannya tapi mereka lebih memilih untuk membangkang.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 9-11 


Lebih jauh, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14 dijelaskan sifat kasih sayang Allah terhadap orang-orang musyrik. Namun sayangnya mereka tidak merasakan kasih sayang itu karena hatinya sudah terutup akibat dari prilaku mereka sendiri yang ingkar kepada Nabi Muhammad saw. Salah satu contohnya adalah tidak adanya Azab yang langsung ditimpakan kepada mereka sebagaimana umat terdahulu.

Peringatah Allah kepada Nabi Muhammad untuk senantiasa menyampaikan risalahnya diulang lagi dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14 ini. Khususnya sebagai penutup pembahasan kali ini. Nabi Muhammad dihimbau oleh Allah agar tidak menjadi seperti orang-orang musyrik yang taat kepada Allah swt.

(12) Allah menyuruh Rasul-Nya agar bertanya kepada kaumnya yang ingkar, siapa pemilik segala yang ada di langit dan di bumi ini? Pertanyaan ini untuk membantah dasar keyakinan yang menyekutukan Allah (syirik), karena orang Arab jahiliah sebenarnya telah mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi ini adalah “Allah” (al-‘Ankabµt/29:61 dan Luqman/31: 25).

Kemudian Allah memerintahkan Rasul untuk memberikan jawaban, bahwa “semuanya itu milik Allah”. Kaum musyrik tentu akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang serupa. Tidak ada jawaban lain bagi mereka; dan mereka tidak akan memungkirinya, karena itu mereka tidak boleh menyandarkan sesuatu dari alam ini selain kepada Allah. Hanya Allah Raja dan Pemilik alam raya ini dengan segala isinya.

Allah, yang diakui oleh orang musyrik sebagai Pencipta yang menciptakan langit dan bumi dan yang memiliki keduanya, telah memperkenalkan diri-Nya melalui Rasul-Nya bahwasanya sifat kasih sayang merupakan keharusan dari zat-Nya, sifat kasih itu meliputi seluruh makhluk-Nya.

Dia Maha Penyayang kepada seluruh hamba-Nya dengan melimpahkan bermacam-macam nikmat lahir dan batin kepada mereka. Jika mereka berbuat dosa Dia tidak segera menjatuhkan azab kepada mereka, sebaliknya mereka diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah. Perbuatan dosa yang mereka lakukan sehingga mengakibatkan murka Allah adalah akibat kesalahan manusia itu sendiri.

Bukankah karena kasih sayang Allah, manusia itu diciptakan dalam keadaan fitrah yang sempurna? Kemudian mereka diberi kesempatan untuk mengenali dan mengesakan-Nya dengan jalan menunjukkan bukti-bukti yang ada pada diri manusia dan di alam semesta ini. Karena rahmat Allah, rasul-rasul diutus kepada mereka dengan membawa Kitab-kitab yang penuh dengan ajaran-ajaran yang menuju kepada rida-Nya dan yang mencegah mereka dari murka-Nya.

Tetapi kemudian manusia itulah yang menodai ajaran yang baik itu dengan berbagai kejahatan yang mereka lakukan. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan menghina para rasul. Allah berfirman:

وَمَا ظَلَمْنٰهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْا هُمُ الظّٰلِمِيْنَ

Dan tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.  (az-Zukhruf/43:76)

Karena rahmat Allah itu pulalah orang musyrik Mekah tidak dibinasakan seperti umat-umat terdahulu.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الله َلَمَّا خَلَقَ خَلْقًا كََتَبَ كِتَابًا عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِيْ سَبَقَتْ غَضَبِيْ

(رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

Sesungguhnya ketika Allah telah selesai menciptakan makhluk ini, Allah menulis Kitab yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Berdasarkan kasih sayang itu, Allah akan menghimpun seluruh manusia pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Keadilan akan ditegakkan pada hari itu. Tak seorang pun yang akan luput dan dialpakan.

Adalah menjadi rahmat yang besar bagi hidup dan kehidupan manusia, bilamana setiap orang yakin dan sadar akan kejadian hari berkumpul itu. kesadaran ini menjadi pendorong baginya untuk membersihkan jiwanya dan meluhurkan budinya. Ketidakadilan yang terjadi dalam kehidupan duniawi, tentulah akan diperhitungkan oleh Allah dengan penuh keadilan pada hari Kiamat itu.

Orang yang merugikan dirinya sendiri, yakni orang yang menodai fitrah kejadian dirinya yang bersih, merusak mentalnya yang sehat dan menghilangkan kesediaannya untuk menerima kerasulan Muhammad dan tidak mau mendengarkan wahyu, dan mereka memilih jalan kekafiran, karena mereka tidak beriman kepada hari akhirat, merekalah orang yang merugi.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 144: Cinta Tanah Air Itu Fitrah Manusia


(13) Ayat ini menyatakan bahwa alam dengan segala isinya menjadi milik Allah, segala yang terjadi di waktu malam dan di siang hari adalah juga kepunyaan Allah. Bagaimana pun kecilnya sesuatu benda, yang menempati sudut mana pun dalam ruang alam semesta ini, pastilah dia dalam kekuasaan Allah. Tak mungkin ia bergerak dan diam di segala ruang dan waktu tanpa kodrat dan iradat Allah, sebab ia milik-Nya. Penguasaannya mutlak pada Allah.

Kemudian ditegaskan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Jarak jangkauan pendengaran-Nya melingkupi alam ini. Walaupun bunyi langkah seekor semut di atas batu yang licin pun pasti tidak akan luput dari pendengaran dan pengetahuan-Nya.

(14) Dalam ayat ini, Allah memerintahkan lagi kepada Rasul-Nya agar bertanya kepada kaum musyrik:

“Apakah patut selain Allah aku jadikan pelindung yang memberikan pertolongan kepadaku sewaktu dalam kesulitan atau menolak bencana menimpaku?”

Tentulah Rasul tidak berbuat seperti halnya orang-orang musyrik dan ahli-ahli kitab zaman dulu. Mereka itu menjadikan sembahan-sembahan mereka, dan pendeta-pendeta mereka, sebagai pelindung, yang menurut Itiqad (keyakinan) mereka dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka atau menolak kesengsaraan dari mereka.

Tidak ada pelindung atau penolong yang sebenarnya kecuali Allah yang menciptakan langit dan bumi. Allah mengemukakan sifat-Nya sebagai Pencipta untuk menegaskan penolakan pikiran yang menempatkan selain Allah sebagai penolong; sebab hanya Allah sajalah yang patut dimintai pertolongan.

Tidak patut selain Dia dijadikan perantara yang dapat mempengaruhi kehendak Ilahi. Hanya kepada Pencipta langit dan bumi ini, doa dan harapan ditujukan. Kehendak-Nya tak dapat dipengaruhi oleh siapapun juga.

Dialah Tuhan Yang memberi rezeki, makan dan minum serta segala kemanfaatan kepada manusia. Sebaliknya Dia tidak memerlukan makan-minum dan rezeki, bahkan Dia Suci dari segala kebutuhan akan makan-minum dan lain sebagainya, dan Dia tidak memerlukan orang lain.

Firman Allah:

مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. (az-Zariyat/51: 57)

Selanjutnya Rasulullah saw diperintahkan untuk menyampaikan kepada orang kafir bahwa beliau diperintahkan Allah untuk menjadi orang yang pertama berserah diri kepada-Nya, menjunjung tinggi perintah-Nya, tidak akan memohon kepada selain Dia, dan terus menegakkan agama ditengah-tengah umatnya.

Rasul Muhammad juga dilarang untuk menjadi orang musyrik, yakni orang yang menyembah selain Allah dan menganggap selain Allah sebagai penolong atau perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 15-18


(Tafsir Kemenag)

Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya

0
tadabbur al-quran
tadabbur al-Quran

Pada tulisan lalu kita telah mengulas seputar Tilawah al-Quran. Dalam tulisan ini kita akan mengurai makna tadabbur al-Quran dan implementasinya.

Kata tadabbur (تدبر) berasala dari kata dubur (دبر), yang berarti “belakang” dan lawan dari kata qubul (قبل), yang berarti “depan.” Kata dubur al-syay’ (دبر الشيء) artinya bahagian belakang sesuatu, sedangkan qubul al-Syay’ (قبل الشيء), artinya “bahagian depan sesuatu.”

Dari kata dubur (دبر) terbentuk kata dabbara (دبر), yang berarti “memikirkan sesuatu yang ada di akhir (belakang) sesuatu. Seperti dalam kalimat Tadabbartu al-amr (تدبرت الأمر), yang artinya “memandang, memperhatikan sesuatu yang ada di belakang (di akhirnya). Oleh sebab itu, penekanan makna kata tabaddur (تدبر) terkait dengan sesuatu yang terdapat di akhirnya.

Dari sini dapat dikatakan bahwa tadabbur (تدبر) adalah “pemikiran yang komprehensif yang dapat mengantarkan seseorang kepada akhir petunjuk suatu kalimat (ucapan) dan tujuan-tujuannya yang jauh.” qubul (قبل), yang berarti “depan.” Kalau kata tadabbur dikaitkan dengan Al-Qur’an sehingga menjadi tadabbur Al-Qur’an (تدبر القرآن), maka artinya adalah “pemikiran yang komprehensif yang dapat mengantar kita kepada akhir dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan tujuan-tujuan akhir yang ingin dicapai dari membaca Al-Quran.

Kata tadabbur (تدبر) di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 4 kali, yang terkait dengan AlQur’an. Di antaranya disebutkan oleh Allah di dalam QS. Muhammad [47]: 24:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Allah menegaskan di dalam ayat ini, apakah mereka tidak memperhatikan, yaitu membaca, memikirkan, menghayati, dan mendalami pesan-pesan yang terdapat di dalam Al-Quran, hingga mereka beriman kepada Allah. Ataukah hati mereka semua sudah terkunci mati, sehingga tidak dapat berpikir lagi, menghayati, memahami dan mendalami apa yang terdapat di dalam Al-Quran.

Baca Juga: Tafsir Surat Shad Ayat 29: Memahami Tujuan Diturunkannya Al Quran

Jadi, seseorang yang tidak melakukan tadabbur Al-Quran adalah orang-orang yang hatinya telah terkunci sehingga tidak dapat melihat, tidak dapat memahami, dan tidak dapat menghayati lagi apa yang dipesankan oleh Al-Quran. Hati mereka adalah hati yang mati.

Apa kedalaman makna kata tadabbur Al-Quran dan bagaimana implementasi dari makna kata itu? Mari kita perhatikan pendapat seorang ahli ilmu Al-Quran sebagai berikut.

Seorang ahli Ilmu Al-Quran Fawwaz Ahmad Zamraly dalam bukunya Kayfa Tadabbur Al-Quran mengatakan bahwa tadabbur Al-Quran adalah kegiatan membaca Al-Quran yang dirangkaikan dengan pemahaman yang mendalam dan komprehensif terhadap apa yang dibaca dari ayat-ayat Al-Quran. Pembacaan ini disertai dengan hadirnya hati untuk menyelaminya dan menghayatinya, tunduk dan patuhnya seluruh anggota badan untuk mengamalkan segala sesuatu yang dituntut oleh Al-Quran untuk diamalkan.

Jadi, dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga unsur penting dalam tadabbur Al-Quran, yaitu 1) membaca Al-Quran dengan lidah, 2) memahami dengan akal pikiran apa yang dibaca, 3) menghayati dengan hati apa yang dibaca, dan 4) mengamalkan dengan seluruh anggota badan apa yang dituntut oleh Al-Quran.

Fawwaz selanjutnya mengatakan bahwa, “Seorang mukmin yang berakal waras dan sehat, apabila dia membaca Al-Quran dia harus memahami, mendalami dan menghayati Al-Quran sehingga Al-Quran bagaikan cermin yang dengannya dia dapat melihat di dalam Al-Quran apa yang baik yang harus dilakukan, dan dapat melihat yang buruk yang harus ditinggalkan. Apa yang diminta ditinggalkan oleh Al-Quran, harus dia tinggalkan. Apa yang diminta ditakuti dari siksaannya, dia harus takuti. Apa yang dicintai dan disukai oleh Allah, harus dia penuhi dan mengharapkannya.

Ingat bahwa tadabbur Al-Qur’an adalah membaca, memahami, menghayati, dan mematuhinya dengan mengamalkan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 16-17: Kisah Iblis Mengganggu Manusia

0
Kisah Iblis mengganggu manusia
Kisah Iblis mengganggu manusia

Allah telah menjelaskan melalui firman-Nya bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Oleh karenanya Allah juga memerintahkan semua makhluk ciptaan-Nya yang lain untuk bersujud kepada manusia. Namun tidak demikian dengan Iblis, ia dalam Al-Quran digambarkan dengan sifat pembangkang. Justru pada tekadnya, Iblis mengganggu Nabi Adam As. dan seluruh keturunannya.

Tekad Iblis ini bermula sejak adanya perintah sujud kepada nabi Adam as. Iblis merasa enggan karena dirinya merasa lebih baik dalam segi material penciptaan (api) daripada Nabi Adam (tanah). bahkan dalam Al-Quran, Iblis bersumpah untuk mengganggu manusia dari berbagai penjuruh.

Baca juga: Tafsir Surat al-A’raf Ayat 12: Congkak Bentuk Pembangkangan Iblis terhadap Allah

Al-A’raf ayat 16-17, Iblis akan selalu mengganggu manusia

Keinginan Iblis dalam merusuhi kehidupan manusia bisa terlihat pada surat Al-A’raf ayat 16-17 yang berbunyi:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيم

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”

Ayat ini merupakan satu dari berbagai ayat yang menerangkan kisah Nabi Adam As. dengan Iblis. Wahbah az-Zuhaili menerangkan dalam Tafsir al-Munir bahwa kisah ini tertulis setidaknya dalam surat Al-Baqarah, Al-Hijr, Al-Isra’, Al-Kahfi, Taha dan Shad. Adapun pada surat Al-A’raf berisi penjelasan atas pemuliaan Nabi Adam As. dan keturunannya serta permusuhan Iblis dengan segala kedengkiannya.

Baca juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam

Ali as-Shabuni dalam Safwatut Tafasir menjelaskan bahwa Iblis berargumen, karena ia dihukumi sesat, maka ia akan berusaha menghalangi Adam As. dan semua keturunannya dari jalan kebenaran dan keselamatan.

Sedangkan pada ayat berikutnya, dijelaskan dalam Tafsir Jalalain bahwa Iblis akan mendatangi (mengganggu) bani Adam untuk mengajak kesesatan dari berbagai arah. Selain itu juga pada tiap jalan yang dapat merusak keimanan dan ketakwaan setiap manusia.

Adapun dalam Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran karya Imam at-Thabari, dikatakan bahwa Iblis akan mendatangi dan menghalangi dari semua jalan kebenaran dan kebatilan, sehingga ia bisa memalingkan manusia dari keselamatan dan memperindah kebatilan.

Gangguan Iblis dari berbagai Arah

Mengenai arah yang akan dilalui oleh Iblis untuk mengganggu manusia, Imam at-Thabari menukil riwayat Ibnu ‘Abbas:

 (ثم لآتينهم من بين أيديهم) ، يقول: أشككهم في آخرتهم = (ومن خلفهم) ، أرغبهم في دنياهم = (وعن أيمانهم) ، أشبِّه عليهم أمرَ دينهم = (وعن شمائلهم) ، أشَهِّي لهم المعاصي.

“(Kemuadian mendatangi dari antara dua tangan mereka) depan yakni urusan akhirat, (dari belakang) yakni urusan dunia, (dari kanan) yakni urusan agama dan (dari kiri) yakni perkara kemaksiatan”

Selain itu, at-Thabari juga menukil pendapat lain yang mengatakan bahwa depan yang dimaksud ialah urusan dunia, bagian belakang ialah akhirat, bagian kanan ialah perkara kebaikan dan bagian kiri merupakan keburukan.

Baca juga: Pakaian Isbal, Indikator Kesombongan, dan Tafsir Ayat-Ayat Takabur dalam Al-Quran

Namun demikian, Imam at-Thabari lebih memilih untuk berpendapat bahwa iblis akan mendatangi manusia baik dari sisi kebenaran maupun kebathilan. Adapun dalam jalan kebenaran akan ia sesatkan dan pada jalan kebatilan maka ia akan hiasi jalan tersebut. Sisi depan dan kanan yang berkaitan dengan akhirat, kebaikan dan keselamatan akan selalu dihalang-halangi oleh iblis, sedangkan Iblis akan menjadikan indah pada arah belakang dan kiri yakni urusan dunia dan kemaksiatan.

Arah yang tidak dilalui Iblis

Masih dalam Jami’ul Bayan karangan imam at-Thabari, menukil riwayat Ibnu ‘Abbas yang mengatakan bahwa Iblis tidak menyebutkan dari atas mereka (manusia). Hal ini karena arah tersebut merupakan arah datangnya rahmat kasih sayang Allah Swt. yang diturunkan kepada hamba-Nya.

Senada dengan pemikiran Fakhruddin ar-Razi, dalam Tafsirul Kabir disebutkan bahwa saat Iblis mengucapkan tekadnya, maka para malaikat menjadi kasihan terhadap nasib manusia.

Lantas malaikat berkata: “wahai tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan setan? “

Kemudian, Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih ada dua jalan. Dua jalan itu ialah jalan atas dan bawah. Apabila manusia mengangkat kedua tangannya dalam doa dan penuh kerendahan hati dalam besujud serta penuh kekhusyuan, maka Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Oleh karenanya bagi umat Islam, janganlah pernah berhenti meminta ampunan serta perlindungan dari-Nya. Karena betapapun dosa yang telah dilakukan selama kita masih mau untuk mengankat tangan untuk berdoa serta bersujud (sholat) sebagai bukti kerendahan hati, Insyaallah rahmat-Nya akan selalu turun kepada umat manusia.

Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Luqman ayat 18: Jauhi Sikap Sombong dan Angkuh!

0
Larangan bersikap sombong dan angkuh
Larangan bersikap sombong dan angkuh

Ketika seseorang mendapatkan popularitas, jabatan atau kedudukan yang tinggi, biasanya ia berpotensi untuk bersikap sombong dan angkuh. Ini disebabkan oleh kurangnya kontrol diri dan hati pasca naiknya derajat di masyarakat. Akibatnya, ia kadangkala merasa superior dibandingkan orang lain atau bahkan menghina orang lain dengan segala keterbatasan mereka.

Akar dari permasalahan sikap sombong dan angkuh bukanlah popularitas, jabatan atau kedudukan, tetapi hati yang kotor dan dipenuhi pelbagai penyakit. Sebenarnya, siapapun dan di manapun berhak untuk mendapatkan popularitas, jabatan atau kedudukan yang tinggi, asalkan dirinya mampu membersihkan dan menjaga hati dari berbagai penyakit.

Pada dasarnya, melawan otoritas kesombongan dan keangkuhan bukanlah hal yang mudah. Pertentangan dan perdebatan seseorang dengannya akan senantiasa berlangsung dalam hati selama ia masih hidup. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. seringkali mengingatkan umat Islam agar mempersiapkan diri melawan kesombongan. Ia bersabda:

ِرَجَعنَا مِنَ الجِهاَدِ الأَصغَرِ إلى الجهادِ الأَكبَرِقالُوا: وما الجهادُ الأكبَرِ؟ قال: جهادُ القَلب

 “Kita kembali dari Jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad paling besar itu?” Beliau bersabda: “Jihad hati.” (HR. Al-Baihaqi)

Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa hati adalah area pertempuran sesungguhnya bagi seorang muslim. Di sana keimanan dan kekufuran bertarung, cinta dan benci saling berlawanan, serta tempat bisikan kebaikan dan kejahatan saling mengalahkan. Tanpa penjagaan dan kewaspadaan yang baik, hati akan dipenuhi dengan pelbagai kejahatan dan dosa.

Baca juga: Pakaian Isbal, Indikator Kesombongan, dan Tafsir Ayat-Ayat Takabur dalam Al-Quran

Dampak Sikap Sombong dan Angkuh

Sikap sombong dan angkuh adalah salah satu dari sekian banyak penyakit hati yang harus disingkirkan. Keduanya tergolong ke dalam al-ifāt al-madzmūmah atau sifat tercela. Ini adalah sifat yang semestinya dihindari dan tidak sepantasnya dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki daya upaya kecuali atas izin Allah Swt.

Selain merupakan sifat tercela, sombong dan angkuh adalah sifat yang dapat menghantarkan pelakunya ke dalam jurang kenistaan. Iblis yang awalnya berposisi sebagai maha guru para malaikat di surga dengan keilmuanya, jatuh dan terpuruk akibat sikap sombong dan angkuh menolak perintah Allah Swt. untuk bersujud kepada nabi Adam as.

Baca juga: Meski di Bawah Pimpinan Firaun, Allah Tak Perintahkan Nabi Musa Untuk Berontak

Sikap sombong dan angkuh sangatlah berbahaya bagi manusia. Karena itulah ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang memperingatkan manusia agar tidak bersikap sombong dan angkuh. Bahkan Nabi Saw mengatakan bahwa orang yang memiliki rasa sombong di dalam hatinya–meskipun sekecil biji sawi atau bahkan atom–tidak akan bisa memasuki surga.

Tafsir QS. Luqman [31] Ayat 18

 Salah satu ayat Al-Qur’an yang melarang manusia untuk bersikap sombong dan angkuh adalah QS. Luqman [31] ayat 18 yang berbunyi:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”

Menurut Quraish Shihab, ayat ini merupakan nasihat Lukman al-Hakim kepada anaknya agar berakhlak dan memiliki sopan santun ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Beliau menasihati anaknya dengan berkata: “Dan wahai anakku, janganlah engkau berkeras memalingkan pipimu yakni mukamu dari manusia—siapa pun dia—karena didorong oleh penghinaan dan kesombongan”

Baca juga: Tafsir Surat Al-Ma’un 1-3: Ingat, Tidak Saleh Sosial Juga Pendusta Agama!

Selanjutnya ia juga berujar, “Hadapilah setiap orang dengan wajah berseri penuh rendah hati. Dan bila engkau melangkah, janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh, tetapi berjalanlah dengan lemah lembut penuh wibawa. Sesungguhnya Allah tidak menyukai yakni tidak melimpahkan anugerah kasih sayang-Nya kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Tafsir Al-Misbah [11]: 139).

Kata mukhtālan diambil dari akar kata yang sama dengan khayā atau khayal. Karenanya kata ini pada mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalan, bukan kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya orang semacam ini berjalan dengan angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Akibatnya, keangkuhan tampak secara nyata dalam kesehariannya.

Sedangkan kata fakhūran bermakna membanggakan diri layaknya seekor kuda yang cara berjalannya mengesankan keangkuhan. Kedua kata ini yakni mukhtālan dan fakhūran mengandung makna kesombongan, kata yang pertama bermakna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku, sedang yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan.

Baca juga: Ingin Punya Keturunan Yang Saleh? Amalkan 3 Doa Nabi Ibrahim Ini

Di sisi lain, perlu dicatat bahwa penggabungan kedua kata–mukhtālan dan fakhūran–pada ayat di atas bukan berarti bahwa ketidaksenangan Allah Swt baru lahir bila keduanya tergabung bersama-sama dalam diri seseorang. Tidak! Jika salah satu dari kedua sifat itu disandang oleh manusia, maka hal itu telah mengundang murka-Nya (Tafsir Al-Misbah [11]: 140).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa QS. Luqman [31] ayat 18 memerintahkan manusia untuk tidak berlaku sombong, baik perasaan, sikap, perkataan maupun perbuatan. Karena hal itu dapat mengundang kemurkaan Allah Swt. dan Dia tidak menyenangi orang-orang yang bersikap sombong dan angkuh di muka bumi sekecil apapun itu. Wallahu a’lam[]

Mengapa Surat al-Insyiqaq Baik Dibaca Ibu Hamil? Simak Penjelasannya

0
surat al-Insyiqaq untuk ibu hamil
Surat al-Insyiqaq untuk ibu hamil

Surat al-Insyiqaq pada masa Nabi dikenal dengan surat idzâ insyaqqat as-Samâ’. Dalam beberapa kitab tafsir dan mushaf, nama surat ini kemudian dipersingkat menjadi al-Insyiqaq. Adapun tema dari surat ke-83 ini, al-Biqâi mengatakan bahwa al-Insyiqâq adalah surat yang menjelaskan lebih rinci akhir surat sebelumnya (al-Muthaffifîn), yakni balasan  nikmat dari Allah bagi para hambaNya yang beriman dan patuh, juga balasan siksa bagi hambaNya yang ingkar. Surat ini dalam perhitungan ulama Makkah, Madinah dan Kuffah terdiri dari 25 ayat, sedangkan menurut perhitungan ulama Basrah terdapat 23 ayat.

Surat al-Insyiqaq oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai surat yang baik dibaca seorang perempuan ketika hamil, karena dirasa mampu memperlancar saat persalinan serta untuk kebaikan bayi dan ibunya.

Ayat 1-5 ; Kepatuhan Bumi dan Langit pada Allah

اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ. وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۙ . وَاِذَا الْاَرْضُ مُدَّتْۙ , وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۗ

Lima ayat di awal surat al-Insyiqaq, dalam Tafsir al Misbah dijelaskan, Allah ingin menunjukkan bahwa langit dan bumi sangatlah patuh pada-Nya. Langit yang damai dengan kekokohannya tanpa tiang, bumi yang luas dengan lapangnya, ketika Allah perintahkan untuk langit meruntuhkan dirinya, maka akan runtuhlah langit. Begitupun kelapangan dan keluasan bumi, ketika Allah perintahkan memuntahkan segala isi yang ada dalam perutnya, maka akan hancur gunung yang menjadi pasaknya -saling berbenturan. Langit dan Bumi dalam ayat ini seakan digambarkan hidup, yang penuh kepatuhan pada Rabb-Nya.

Kata adzinat yang terbentuk dari kata udzun memiliki arti telinga sebagai indra pendengaran. Ayat ini menggunakan kata adzinat  dimaksudkan adalah patuh. Seseorang yang mendengarkan dengan baik, tentu akan patuh, sebagaimana kepatuhan langit dan bumi pada Tuhannya.

Pembukaan ayat ini yang dimulai dari kepatuhan Langit dan Bumi, mengingatkan sebagaimana pada awal semua makhluk termasuk manusia menyatakan kepatuhan pada Rabb-nya (baca QS. Fushshilat [41] : 11). Ketika membaca awal surat ini, kemungkinan besar pengharapan agar  anak yang dikandung seorang perempuan hamil,  memiliki kepatuhan pada Allah, sebagaimana kepatuhan langit dan bumi pada-Nya. Ketika membacanya, berdoalah, dan memintalah untuk kepatuhannya pada Allah.


Baca juga: Ingin Punya Keturunan Yang Saleh? Amalkan 3 Doa Nabi Ibrahim Ini


Ayat 6-15; Kabar Pemberian Kitab melalui Tangan Kanan dan Balik Punggung

Sepuluh ayat selanjutnya berbicara tentang balasan, dan penghakiman. Sepuluh ayat ini memperingatkan bahwa antara satu hamba dengan satu hamba lainnya tidak sama. Ada yang menerima kitabnya melalui tangan kanannya, ada juga yang menerima dari balik punggungnya.

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖۙ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ وَّيَنْقَلِبُ اِلٰٓى اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ

Ibnu Asyûr mengartikan kata kadih, dan kadhan, yakni bersungguh-sungguh hingga letih dalam melakukan kegiatan. Menurutnya, manusia dalam bekerja pada dasarnya melihat untuk hari esoknya, bahkan masa depannya. Karena itulah ayat di atas seakan menyatakan bahwa usaha manusia di dunia akan berlanjut akhirnya bertemu Allah. Kata kadhih dan kadhan memberi gambaran perjalanan manusia menuju Allah. Kehidupan di dunia dengan tujuan hidup di akhirat. Manusia mau atau tidak, pasti akan berakhir usahanya dengan kematian dan pertemuan dengan Allah.

Dalam ayat di atas dijelaskan, bahwa ada hamba yang menerima kitab nya melalui tangan kanan. Kata al-Yamîn berarti kanan, namun nenurut Quraish Shihab juga memiliki arti kekuatan. Kebahagiaan, dan keberkatan. Simbol kanan dalam agama adalah lambang kebajikan dan keberuntungan, begitupun dalam ayat di atas menjelaskan penghuni surga disebutkan dengan sebutan  ash-hâb al-yamin (kelompok kanan).

Selanjutnya, selain pemberian kitab melalui tangan kanan, kitab juga diberikan pada sebagian hamba melalui balik punggungnya.

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ فَسَوْفَ يَدْعُوْا ثُبُوْرًاۙ وَّيَصْلٰى سَعِيْرًاۗ اِنَّهٗ كَانَ فِيْٓ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ اِنَّهٗ ظَنَّ اَنْ لَّنْ يَّحُوْرَ ۛ بَلٰىۛ اِنَّ رَبَّهٗ كَانَ بِهٖ بَصِيْرًاۗ

Kecelakaan bagi seorang hamba yang menerima kitab dari balik punggungnya. Adalah ia yang tidak sama sekali memiliki perhitungan tentang akhirat. Ayat ini tidak harus dipertentangkan dengan ayat al-Quran lainnya yang mengatakan bahwa ada hamba yang menerima kitab dari tangan kirinya. Ada sebagian ulama yang mengatakan, bisa jadi seorang hamba menerima kitab dari balik punggungnya menggunakan tangan kirinya. Ada pula yang berpendapat, bahwa seseorang yang menerima kitab dari balik punggungnya adalah dari bagian kelompok muslim yang durhaka. Sedangkan yang menggunakan tangan kiri, adalah orang hamba yang kafir.

Dari dua macam penerimaan kitab di hari kemudian nanti, ketika membaca ayat-ayat ini diharapkan ibu hamil memohon untuk calon bayinya, agar termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang menerima kitab melalui tangan kanannya.


Baca Juga: Hikmah Membaca Surat Maryam bagi Ibu Hamil


Ayat 16-19; Tingkatan yang Dilalui Manusia dalam Perjalanan Hidup

فَلَآ اُقْسِمُ بِالشَّفَقِۙ وَالَّيْلِ وَمَا وَسَقَۙ وَالْقَمَرِ اِذَا اتَّسَقَۙ لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍۗ

Dari ayat 16-19 ini, yang menjadi perdebatan para ulama adalah tentang arti, latarkabunna thabaqan ‘an thabaq. Perbedaan ini menurut Quraish Sihab dikarenakan banyaknya makna latarkabunna dan thabaq. Kata rakib  yang menjadi dasar kata la tarkabunna,yang mulanya memiliki makna ‘mengendarai’, secara majazi memiliki arti mengalahkan,menguasai, mengikuti, menelusuri, mengatasi, meninggi, dan selalu bersama. Sedangkan, kata Thabaq, mengandung makna persamaan sesuatu atau situasi yang lain, baik yang bertumpuk atau tidak.

Jabir Ibn Abdillah memahami kalimat di atas sebagai situasi kematian, kebangkitan, dan kebahagiaan atau kesengsaraan. Ibnu Abbas memahami kalimat tersebut sebagai ancaman menyangkut hari Kiamat, yakni situasi yang suli setelah situasi sulit sebelumnya.

Sedangkan al-Biqâi, memahami kalimat tersebut sebagai perjalanan setiap manusia yang bertingkat. Dari tingkat dalam perut ibu, kemudian lahir ke bumi dalam keadaan bayi, menyusu, disapih, kemudian remaja, dewasa, tua dan pikun, hingga meninggalkan dunia menuju Barzakh. Dibangkitkan dari kubur, digiring ke Padang Mahsyar, di hisab, melawati shirat, hingga akhirnya surga, atau neraka.

Berbeda, Sayyid Quthub memaknai kalimat tersebut, bahwa manusia akan mengalami sebuah situasi satu menuju situasi lain yang telah digariskan. Situasi tersebut yang dilukiskan olehnya sebagai kendaraan, dan semua manusia akan dibawa oleh kendaraannya pada arah yang ditetapkan yang pada akhirnya akan menemui Tuhannya, sebagaimana ayat-ayat terdahulu.

Membaca berbagai pendapat di atas, penulis sedikit menyimpulkan, bahwa pembacaan surat al-Insyiqaq untuk ibu hamil sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar anak yang dikandungnya diberikan situasi-situasi (kendaraan) yang baik, ketetapan yang baik, dengan keimanan dan perjumpaan yang sempurna dengan Tuhannya kelak di akhirat.

Baca juga: Inilah Enam Makna Doa dalam Al-Quran

Ayat 20-25; Siksa Allah Pedih bagi Hamba yang Ingkar, dan Pahala Tiada Putus Bagi Hamba Beriman.

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَۙ وَاِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْاٰنُ لَا يَسْجُدُوْنَ ۗ ۩ بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُكَذِّبُوْنَۖ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يُوْعُوْنَۖ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ

Enam ayat penutup surat al-Insyiqaq ini mengingatkan kembali akan siksaan pedih bagi hamba yang ingkar, enggan bersujud pada-Nya, dan mendustakan ayat Al-Quran. Sebaliknya, pahala tak terputus bagi yang beriman serta beramal saleh.

Kata yukadzibûn dan yu’ûn, disamping bermakna kesinambungan juga bermakna  seakan sikap buruk itu tampak mereka lakukan. Dan penggunaan kata kerja masa lampau pada kata amanû dalam ayat terakhir tersebut mengisyaratkan bahwa apa yang dikerjakan mereka di dunia akan berlanjut hingga setelah kematian. Kata mamnun yang menutup surat ini, bermakna putus yang berakar dari kata manna, jadi ghairu mamnûn, berarti ganjaran yang tidak putus-putus. Bisa juga terambil dari minnah yang memiliki arti ganjaran yang tidak disebut-sebut. Kurang lebih seperti itu penjelasan Quraish Shihab.

Dari enam ayat terakhir ini, seakan memberikan gambaran pada setiap yang membacanya, khusunya ibu hamil, untuk mengabarkan pada anak yang dikandungnya, bahwa ada hamba yang mendapat siksa, juga hamba yang mendapat pahala yang tidak terputus. Tentu, ketika masa kehamilan seorang ibu sudah memasuki empat bulan, hendaknya seringlah berinteraksi dengan anak dalam kandungannya dengan membaca Al-Quran. Karena pembentukan diri seorang anak salah satunya dimulai sejak ia dalam kandungan ibunya. Selain itu, perbanyaklah berdo’a dan berdzikir ketika kandungan mulai empat bulan, qada dan qadar nya mulai diberikan.

Wawwahu a’lam bissowâb

Pentingnya Menata Niat Bagi Pengajar dan Pelajar Al-Quran

0
belajar al-quran
belajar al-quran (islamidia.com)

Mengajar dan belajar Al-Quran juga memerlukan tujuan yang benar. Tidak asal mengajar Al-Quran dengan dalih bahwa mengajarkan firman Allah dengan model apapun dan tujuan apapun sudah pasti bagus. Mengajar atau belajar Al-Quran tidak boleh untuk tujuan duniawi, seperti dijadikan modus untuk mencari jabatan atau mengundang perhatian manusia. Maka inilah pentingnya menata niat bagi pengajar dan pelajar Al-Quran. Banyak ayat maupun hadis yang menyinggung tentang hal ini.

Kesimpulan di atas disampaikan salah satunya oleh Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan, Fi Adabi Hamalatil Qur’an. Imam an-Nawawi menyatakan, tidak sepatutnya mengajar serta belajar Al-Quran dilakukan dengan niat berbau duniawi. Seperti untuk memperoleh harta, jabatan, kekuasaan, posisi di antara teman sejawat, pujian manusia atau perhatian khalayak banyak. Tidak patut pula dilakukan dengan tujuan, agar guru yang dimintai ilmu atau murid yang diajari, memiliki semacam belas kasihan sehingga mau memberi semacam hadiah (At-Tibyan/26).

Dalil Al-Quran dan Hadis

Imam An-Nawawi mengajukan beberapa dalil dari Al-Quran dan hadis yang mendorong agar memiliki niat yang benar, dalam mengajar atau belajar Al-Quran. Di antaranya:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir (QS. Al-Isra’ [17] 18).

Sedang dari hadis Nabi, diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda:

 مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mencari ilmu, yaitu sesuatu yang sepatutnya dicari karena Allah azza wa jalla semata, dengan tujuan hanya memperoleh sesuatu yang berbau duniawi, maka ia tidak akan menemukan bau surga di hari kiamat (HR. Abi Dawud dan Ibn Majah).

Baca juga: Ini Alasan Penting Belajar Ilmu Al-Quran dan Tafsirnya

Dalam hadis lain, diriwayatkan dari Anas, Khudzaifah dan Ka’ab ibn Malik, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Barangsiapa mencari ilmu agar keilmuannya tampak di antara para ulama’, unggul diantara orang bodoh, atau mendapat perhatian khalayak banyak, maka Allah akan memasukkannya ke neraka (HR. at-Tirmidzi).

Adanya Kecenderungan Duniawi Tatkala Tujuan Sudah Benar

Berbagai hadis di atas menunjukkan, niat mengajar atau belajar haruslah benar. Tidak boleh untuk tujuan duniawi, tapi haruslah karena Allah. Seperti agar murid yang diajari dapat semakin mengenal Al-Quran dan semakin mudah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Atau mengajar tajwid agar si murid dapat membaca Al-Quran dengan baik dan benar, sebagaimana perintah Allah kepada setiap hambanya agar membaca Al-Quran dengan tartil. Lalu bagaimana bila sudah mengajar atau belajar dengan tujuan karena Allah, tapi tetap terlintas di pikiran adanya tujuan duniawi?

Imam As-Sindiy dalam syarahnya atas hadis Ibn Majah di atas berkomentar, hadis tersebut merupakan ancaman bagi orang yang tidak memiliki tujuan dalam berinteraksi dengan ilmu, kecuali hanya tujuan duniawi saja. Namun apabila ia memiliki niat memperoleh ridha Allah, dan besertaan itu ia memiliki kecenderungan terhadap duniawi, maka tidak masuk pada ancaman tersebut (Hasyiyah As-Sindiy/1/235).

Ini menunjukkan, tidak apa-apa bila di tengah mengajar atau belajar, terlintas tujuan duniawi. Yang terpenting, tujuan duniawi tersebut bukanlah tujuan utama. Melainkan kecenderungan atau keinginan yang kadang tak bisa dihindari manusia. Dan jangan sampai tujuan duniawi tersebut membuat lalai dari tujuan utama. Maka hal inilah betapa pentingnya menata niat kita dalam belajar Al-Quran.

Baca juga: 7 Etika Yang Harus Diperhatikan Ketika Bergaul dengan Al-Quran

Di antara tujuan-tujuan duniawi yang tidak boleh ada saat mengajar atau belajar Al-Quran adalah, agar keilmuannya tampak di antara para ulama’, unggul diantara orang bodoh, atau mendapat perhatian khalayak banyak. Imam al-Mubarkafuri menjelaskan, salah satu gambaran “mengajar atau belajar Al-Quran dengan tujuan agar keilmuannya tampak di antara para ulama’” adalah, seperti agar ia dapat ikut berbicara dalam perdebatan para ulama’. Sehingga ia bisa menunjukkan pada orang lain bahwa ia adalah orang yang berilmu (Tuhfatul Ahwadzi/6/454).

Sedang gambaran “mengajar atau belajar Al-Quran dengan tujuan agar mendapat perhatian khalayak banyak” adalah, seperti agar dengan itu ia memperoleh simpati orang lain sehingga mudah memperoleh harta, jabatan, atau menjadi pusat perhatian khalayak banyak (Tuhfatul Ahwadzi/6/454). Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-An’am Ayat 108: Pentingnya Tindakan Preventif dalam Bersikap

0
preventif
ilustrasi tindakan preventif (maxmanroe.com)

Tindakan preventif merupakan upaya terbaik dalam menentukan sikap apapun. Tentu setelah mempertimbangkan banyak hal, agar tidak berdampak suatu madharat yang lebih besar. Bukan hanya dalam urusan agama, berbangsa dan bernegara pun perlu menerapkan upaya ini sebagai prinsip. Demikian dianggap penting karena dapat mencegah konflik yang memicu terjadinya perpecahan di masyarakat.

Di berbagai negara telah terjadi konflik kekerasan antarwarga yang memiliki latar belakang yang berbeda. Sebagai negara yang mayarakatnya sangat majemuk, yakni dengan keragaman agama, suku, dan ras, juga  memunculkan keanekaragaman kultur yang berbeda-beda. Dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk bisa tetap menjaga NKRI.

Tindakan preventif ini dalam Mashadir al-Ahkam as-Syar’iyyah oleh sebagian madzhab empat disebut Saddu Dzara’I (mencegah terbukanya jalan kerusakan), dan di sebagian madzhab lainnya masuk dalam kaidah fiqih yang disebut Dar’u al-Mafasid Muqaddam ala Jalb al-Mashalih (menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada meraih kebaikan). Kaidah seperti ini ditetapkan dalam agama karena begitu pentingnya untuk menata tanatan sosial masyarakat.

Kaidah tersebut disarikan dari firman Allah swt dalam Q.S. al-An’am Ayat 108 :

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِما كانُوا يَعْمَلُونَ

“dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 44: Sebuah Pengingat Bagi Para Dai dan Mubalig

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Imam Abdurrazaq meriwayatkan dari Ma’mar, ia dari Qatadah: “Di zaman Nabi dulu, ada seorang muslim yang mencela sesembahan orang-orang kafir, lalu celaan tadi dibalas oleh orang kafir dengan berlebihan. Mereka mengolok-olok Allah SWT dengan celaan yang amat dan tanpa didasari ilmu”.

Dari larangan mencaci sesembahan orang-orang kafir ayat tersebut, al-Qurthubi (al-Jami’ li Ahkami al-Quran,07/61) menilai bahwa QS. (al-An’am [06]: 108) merupakan bentuk bagian dari perdamaian. Ayat ini sebagai dalil wajibnya menerapkan kaidah Saddu ad-Dzara’I dalam menyikapi suatu permasalahan. Dan terkadang seseorang juga perlu mengalah atas kebenaran atau hak yang dia miliki apabila tindakannya dalam mempertahankan haknya akan berdampak keburukan yang lebih besar.

Sejalan dengan kaidah di atas adalah pesan suci Rasululla saw.

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مِنْ اَلْكَبَائِرِ شَتْمُ اَلرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ اَلرَّجُلُ وَالِدَيْهِ? قَالَ: نَعَمْ. يَسُبُّ أَبَا اَلرَّجُلِ, فَيَسُبُّ أَبَاهُ, وَيَسُبُّ أُمَّهُ, فَيَسُبُّ أُمَّهُ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11: Larangan Saling Menghina Dan Merendahkan dalam Al-Quran

Menyikapi Masalah-Masalah Kebangsaan

Di tengah masyarakat, sering kita menjumpai aksi-aksi frontal sebagian kelompok yang mungkin secara lahiriah (sekilas) akan dianggap benar oleh seseorang, atau bagi orang yang mengedepankan emosional. Di antara isu yang biasa diangkat adalah isu keagamaan. Padahal dalam menyikapi suatu permaslahan harus benar-benar jeli dan memahami konsekuensi dari penetapan suatu hukum, dengan tidak mengesampingkan tindakan preventif.

Dalam konteks kebangsaan, prinsip ini ditujukan kepada semua pihak yang mempunyai peran dalam suatu negara, pemerintah ketika menetapkan kebijakan, rakyat ketika menyuarakan pendapat, dan ulama dalam menyampaikan dakwahnya. Karena bertindak tanpa mempertimbangkan dampak dan akibat, bisa jadi akan timbul permasalahan baru dan madharatnya lebih besar.

Sebagai contoh, isu penolakan terhadap pancasila sebagai ideologi negara dan tekad kelompok tertentu untuk menegakkan khilafah sebagai bentuk kepemerintahan. Bagi para pengusung khilafah, seandainya mencermati nilai-nilai pancasila, sebetulnya tidak ada satupun yang bertentangan dengan Islam (Munas NU, 1983). Dan jika khilafah diterapkan sebagai sistem pemerintahan, maka ini adalah perbuatan makar, tidak melindungi kemajemukan bangsa dan akan mengancam keutuhan NKRI (Arif, 2016).

Baca juga: Ngaji Gus Baha’: Cara Agar Tidak Mudah Kecewa dengan Orang

Dan dalam permasalahan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, seorang pendakwah tidak boleh serampangan di tengah masyarakat. Paling tidak ada tiga syarat yang harus terpenuhi untuk melegitimasi tindakannya. Pertama, dia harus betul-betul mengetahui permasalahan yang diperintahkan atau dicegah. Kedua, tindakannya tidak menambah keburukan yang lebih besar. Ketiga, terdapat prasangka bahwa tindakannya ada manfaatnya. (Ad-Dasuqi, 2/275)

Syarat-syarat tersebut merupakan bukti pentingnya tindakan preventif, demikian agar permasalahan tidak bertambah kacau, sehingga akan bertentangan dengan Maqashid as-Syariah. Wallahu A’lam Bisshawab.

Ibnu Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim

0
Ibn Katsir
Tafsir Ibn Katsir

Bagi kalangan pengkaji ulumul Qur’an dan tafsir pasti sudah tidak asing lagi dengan Ibn Katsir dan magnum opusnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim. Ibn Katsir memiliki nama lengkap Imaduddin Abul Fida’ Ismail ibn ‘Amr ibn Katsir ibn Dhoui ibn Katsir ibn Zara’ al-Bashri al-Dimasyqi. Sebagai seorang yang faqih dan merupakan ulama ternama di kalangan madzhab Syafi’i, Ibn Katsir juga digelari dengan sebutan al-Imam al-Jalil al-Hafidz.

Imaduddin kecil lahir pada tahun 700 H di Bushra, Suriah. Di saat usianya baru menginjak 3 tahun ia telah ditinggalkan oleh ayahnya tercinta, lantas di usianya yang ke-7 ia bersama saudaranya Kamaluddin merantau ke Damaskus dan mempelajari khazanah keilmuan Islam di sana. Di usianya yang ke-11 tahun, Ia telah berhasil menghafalkan al-Qur’an lengkap 30 Juz serta telah mempelajari qira’at beserta tafsirnya.

Di antara guru-gurunya yang berhasil membawanya menjadi pemuda yang gemilang dan penuh ilmu ialah Burhanuddin al-Fazari, Ishaq al-Amidi, Ibn ‘Asakir, Ibn Taimiyah dan al-Mizzi—seorang ahli Hadis yang menjadi pemandunya saat mengkhatamkan Tahzib al-Kamal. Al-Mizzi tidak hanya menjadi guru namun juga menjadi mertuanya setelah menikahkan Imaduddin muda dengan putrinya.

Di antara guru yang paling mempengaruhi pemikirannya ialah Ibn Taimiyah. Ibn Qadhi Syuhbah dalam Thabaqat-nya mengatakan bahwa antara Ibn Katsir dan Ibn Taimiyah terjalin sebuah ikatan khusus yang pada akhirnya mempengaruhi sebagian besar pemikiran Ibn Katsir. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim merupakan wujud aplikatif dari kaidah tafsir yang ditulis oleh Ibn Taimiyah, Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir.

Baca Juga: Fakhruddin Ar-Razi: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir Mafatih Al-Ghayb

Sebagai seorang ulama yang dinilai memiliki derajat keilmuan yang tinggi, Ibn Katsir memiliki warisan keilmuan yang termaktub dalam karya-karyanya. Adapun di antara karya-karya peninggalannya ialah magnum opusnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, kemudian al-Ahkam dalam bidang fiqh namun sayangnya belum terselesaikan secara lengkap, lalu al-Bidayah wa al-Nihayah dalam bidang Tarikh/Sejarah dan al-Mukhtashar serta Syarh Shahih al-Bukhari dalam bidang Hadis.

Ibn Katsir wafat di bulan Sya’ban pada tahun 774 H di Damaskus dan dikebumikan di samping makam gurunya Ibn Taimiyah di pemakaman al-Shufiyah.

Mengulas Secara Ringkas Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim

Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim merupakan salah satu kitab tafsir bil ma’tsur yang terkenal. Dikatakan bahwa kitab ini merupakan kitab nomer dua setelah kitab tafsir karangan Ibn Jarir al-Thabari. Sebagai kitab tafsir bil ma’tsur, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim memuat banyak sekali riwayat penafsiran salaf.

Salah satu hal menarik dari kitab tafsir karangan al-Imam al-Jalil al-Hafidz ini ialah pada bagian pendahuluannya yang panjang. Di dalamnya, Ibn Katsir menuliskan semacam pengantar mengenai ilmu al-Qur’an dan tafsir. Namun setelah ditelusuri ternyata sebagian besar isinya merupakan salinan dari tulisan gurunya, Ibn Taimiyah, yang bisa dilihat dalam kitab Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir.

Dari sisi isi penafsirannya, Ibn Katsir menuliskan penafsiran dengan kalimat yang mudah serta diperingkas. Adapun jika ditilik dari sisi metodologi penafsirannya, Ia biasanya melakukan penafsiran dengan metode tafsirul qur’an bil qur’an. Lalu menambahkan riwayat-riwayat yang sesuai dengan pembahasan ayat baik berupa hadis maupun atsar.

Ibn Katsir tidak hanya mengutip dan menempelkan riwayat dalam penafsirannya, ia juga menerapkan analisis kritis terhadapnya dengan mengomentari dari sisi validitasnya. Hal ini menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang yang menguasai keilmuan hadis. Selanjutnya ia juga mengutip dari kitab-kitab para mufassir pendahulunya seperti Ibn Jarir.

Baca Juga: Ibn Jarir At-Thabari: Sang Bapak Tafsir

Adapun dalam menanggapi riwayat Isra’iliyat, Ibn Katsir bisa dikatakan cukup memperhatikan dan berhati-hati dalam menyikapinya. Dalam beberapa ayat yang oleh kebanyakan riwayat tafsir salaf disisipkan riwayat Isra’iliyat seperti Q.S. al-Baqarah [2]: 67, ia menuturkan:

وهذه السياقات عن عبيدة وأبي العالية والسدي وغيرهم، فيها اختلاف، والظاهر أنها مأخوذة من كتب بني إسرائيل، وهي مما يجوز نقلها ولكن لا تصدق ولا تكذب، فلهذا لا يعتمد عليها إلا ما وافق الحق عندنا. والله أعلم.

Beberapa pendapat mengenai Ubaidah, Abul ‘Aliyah, Al-Suddi dan selainnya, di dalamnya terdapat perbedaan pandangan (mengenai siapa yang dimaksudkan dalam kisah). Adapun yang pasti bahwa kisah tersebut diambil dari kitab-kitab bani Israil. Maka kisah itu pada dasarnya boleh dinukil akan tetapi tidak boleh serta merta dipercaya begitu saja maupun ditolak mentah-mentah. Oleh sebab itu (harus dipilah) dan yang boleh dijadikan sandaran adalah yang valid.

Begitulah kiranya ulasan ringkas mengenai Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim karya Ibn Katsir yang menjadi salah satu dari kitab tafsir yang wajib diketahui dan dikaji oleh peminat kajian ilmu al-Qur’an dan tafsir. Wallahu a’lam.

Jamaluddin al-Qasimi: Sosok Pembaharu Islam Penulis Tafsir Mahasin al-Ta’wil

0
Syekh Jamaluddin al-Qasimi
Syekh Jamaluddin al-Qasimi

Pemikiran Muhammad Abduh dalam perkembangan khazanah Islam modern memiliki pengaruh yang kuat di Timur Tengah. Gerakan pembaharuan berupa modernisasi Islam yang dibawanya mendapatkan sambutan baik dari beberapa kalangan intelektual Islam. Salah satu mufasir modern yang terpengaruh dan meneruskan perjuangan Muhammad Abduh tersebut adalah Syekh Jamaluddin al-Qasimi.

Biografi Singkat

Memiliki nama lengkap Muhammad Jamaluddin Abu al-Faraj ibn Muhammad ibn Sa’id ibn Qasim ibn Shalih ibn Ismail ibn Abi Bakr. Beliau lahir pada tahun 8 Jumadil Ula 1283 H/17 Septemper 1866 M di kota Damaskus. Darah ulama mengalir dalam dirinya, nama al-Qasimi merupakan nisbah kepada nama kakek beliau yaitu Syaikh Qasim yang merupakan pakar fikih Syam. Sedangkan ayahnya yaitu Syaikh Muhammad Sa’id juga merupakan pakar fikih dan sastrawan. Sehingga tidak heran jika pendidikan pertama tentang dasar keislaman ia dapatkan dari keluarganya sendiri.

Dalam kitab Tafsir al-Mufassirun karya Fadhl Hasan ‘Abbas, dijelaskan bahwa Syekh Jamaluddin al-Qasimi mempelajari ilmu dasar Islam dan menghafalkan Al-Qur’an kepada Syaikh al-Qurra’ Ahmad al-Halwani. Kemudian belajar kepada Syaikh Salim al-’Atthar tentang kitab Shahih Bukhari, al-Muwattha’, Jami’ al-Shaghir, al-Syifa’, Mashabih al-Sunnah, al-Thariqah al-Muhammadiyah, dan banyak kitab lainya.

Selain dua guru tersebut, beliau juga berguru kepada Syaikh Bakri al-Atthar, Syaikh Muhammad al-Khaniy, Syaikh al-Dasuqiy, Syaikh Mahmud al-Qushi, Syaikh Abdurrahman al-Mishri, dan mendapat ijazah sanad dari banyak ulama Mesir. Salah satu dari guru al-Qasimi yang banyak mempengaruhi perkembangan pemikirannya adalah Muhammad Abduh.


Baca Juga: Wahbah az-Zuhaili: Mufasir Kontemporer yang Mendapat Julukan Imam Suyuthi Kedua


Sejak umur 14 tahun, Syekh al-Qasimi telah aktif mengajar. Pada 1327 H, ayah beliau wafat, hal ini mengakibatkan Syekh al-Qasimi ditugasi untuk menggantikan jabatan ayahnya sebagai pengajar utama di Jami’ al-Sananiyah. Kepakarannya dalam berbagai keilmuan Islam mendapatkan pujian dari Muhammad Rashid Ridha dengan menjuluki al-Qasimi sebagai ulama Syam yang menjadi mujaddid dalam pengembangan keilmuan Islam dan penghidup al-Sunnah dengan ilmu dan amal.

Dalam Mu’jam al-Mufassirin karya ‘Adil Nawayhad, diceritakan bahwa Syekh al-Qasimi sempat melakukan pengembaraan intelektual selama 4 tahun (1308-1312 H) di Suriah, Mesir dan Madinah. Selepas rihlah ilmiah tersebut, Al-Qasimi dituduh telah mendirikan madzhab agama baru, yang mereka sebut dengan nama Madzhab al-Jamali. Tuduhan tersebut mengakibatkan al-Qasimi ditangkap oleh pemerintah pada tahun 1313 H. Karena terbukti tidak bersalah, al-Qasimi kemudian dibebaskan.

Selepas peristiwa tersebut, Syekh Jamaluddin al-Qasimi menetap di Damaskus dan mencurahkan hidupnya untuk ilmu pengetahuan dan menulis berbagai judul kitab hingga akhir hayatnya. Jamaluddin al-Qasimi wafat pada 23 Jumadil Ula 1332 H/18 April 1914, ketika usianya masih 49 tahun. Al-Qasimi dimakamkan di Maqbarah al-Bab al-Shaghir, Damaskus.

Semasa hidupnya, Syekh al-Qasimi telah menghasilkan banyak karya tulisan, kurang lebih mendekati 100 judul kitab telah ia hasilkan. Beberapa kitab tersebut antara lain adalah Qawa’id al-Tahdits min Funun Mushthalah al-Hadits, Dalail al-Tauhid, Syarh Arba’ Rasail fi al-Ushul, Tarikh al-Jahmiyah wa al-Mu’tazilah, Hayah al-Bukhari, Mau’idhah al-Mu’minin min Ihya’ Ulum al-Din, dan masih banyak lainya. Dari banyaknya karya al-Qasimi, terdapat satu kitab yang menjadi karya paling fenomenalnya yaitu kitab tafsir Mahasin al-Ta’wil.


Baca Juga: Muhammad Rasyid Ridha: Mufasir Penerus Gagasan Pembaharuan Islam


Sekilas Tafsir Mahasin al-Ta’wil

Kitab Mahasin al-Ta’wil fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim dikarang oleh Syekh al-Qasimi dalam rentang waktu selama 12 tahun, yaitu dari tahun 1317-1329 H. Dalam versi lain, Muhammad ibn Nashir al-’Ajmiy berpendapat bahwa penulisan tafsir tersebut dilakukan dalam jangka waktu 16 tahun. Tafsir ini dicetak pertama oleh penerbit Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah Kairo pada tahun 1957 dengan ketebalan mencapai 17 jilid dan ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Bahjat al-Baithar.

Sistematika tafsir ini mengikuti urutan tartib mushafi, sehingga penafsiran ayat dimulai dari Q.S. al-Fatihah hingga Q.S. al-Nas. Penafsiran tersebut dijelaskan secara komprehensif (tahlili) dengan berbagai kutipan pendapat dari para ulama. Dalam pembukaan tafsirnya, al-Qasimi menjelaskan tentang kaidah-kaidah yang berkaitan dengan penafsiran Al-Qur’an sebanyak 11 kaidah. Penjelasan tentang kaidah tersebut dijelaskan secara komprehensif hingga mencapai 350 halaman. Sebelas kaidah tersebut antara lain, yaitu:

  1. Qaidah fi Ummahat ma Akhaduh
  2. Qaidah fi Ma’rifah Shahih al-Tafsir, wa Ashah al-Tafsir ‘inda al-Ikhtilaf
  3. Qaidah anna Ghalib ma Shahha ‘an al-Salaf min al-Khalaf Yarji’ ila Ikhtilaf Tanawwu’ la Ikhtilaf Tadhad
  4. Qaidah fi Ma’rifah Sabab al-Nuzul
  5. Qaidah al-Nasikh wa al-Mansukh
  6. Qaidah fi al-Qira’ah al-Syadzah wa al-Mudraj
  7. Qaidah fi Qashash al-Anbiya’ wa al-Istisyhad bi al-Israiliyat
  8. Qaidah fi anna kulla Ma’na Mustanbith min al-Qur’an, ghair Jaara ‘ala al-Lisan al-’Arabiy, fa Laisa min ‘Ulum al-Qur’an fi Syai’
  9. Qaidah anna al-Syari’ah Ummiyah, wa annahu La Budd fi Fahmiha min Ittiba’ Ma’hud al-Ummiyin wa Hum al-’Arab alladzina Nazal bi Lisanihim
  10. Qaidah al-Targhib wa al-Tarhib fi al-Tanzil al-Karim
  11. Qaidah fi annahu: Hal fi al-Qur’an Majaz am La?

Terkait dengan sumber penafsiran, Syekh al-Qasimi menggunakan empat rujukan utama. Pertama, Hadis Nabi yang diambil dari kitab-kitab Hadis mu’tabar. Kedua, pendapat atau aqwal para sahabat Nabi. Ketiga, para penutur bahasa Arab asli. Keempat, kompetensi rasio (ra’yu) dalam menangkap pesan Al-Qur’an. Selain empat sumber tersebut, al-Qasimi juga mengutip beberapa pendapat ulama, seperti Muhammad Abduh, al-Syatibi, Ibnu Taimiyah, al-Farra’, asy-Syahrastani, al-Thabari dan banyak pendapat ulama lainya.

Selain itu, Syekh al-Qasimi juga tidak fanatik dan tidak pernah membatasi hanya mengikuti pendapat madzhab tertentu. Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengambil semua khazanah keilmuan Islam dari multi madzhab selama hal tersebut bermanfaat dalam proses penafsiran. Oleh karena itu, dalam tafsir tersebut dapat ditemukan kutipan dari Asy’ariyah, Mu’tazilah, Sunni, Syiah Zaidiyah, Salafi, ataupun kalangan Sufi. Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al An’am Ayat 9-11

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 9-11 ini menjelaskan anggapan kaum musyrik Makkah tentang kerasulan malaikat seperti tersebut dalam pembahasan yang telah lalu. Di sini Allah menanggapi pernyataan mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 6-8


Tanggapan Allah dalam  Tafsir Surat Al An’am Ayat 9-11 adalah meskipun konsep mereka tentang kenabian itu terjadi dan mereka bisa melihatnya nantinya mereka juga akan ingkar pula kepada utusan tersebut. Entah itu malaikat yang berwujud manusia itu sebagai rasul atau malaikat yang mendampingi rasul. Karena mereka tidak memiliki gambaran apapun mengenai wujud malaikat.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 9-11 ini selain sebagai tanggapan atas pernyataan orang-orang kafir juga sebagai penghibur kepada Nabi Muhammad bahwa kaum-kaum rasul terdahulu juga banyak yang membangkang. Namun pada akhirnya orang-orang yang membangkang tersebut akan kalah sebagaimana umat-umat terdahulu.

Ayat 9

Kalau Allah menjadikan rasul-rasul dari golongan malaikat, seperti pendapat orang musyrik Mekah, tentulah Allah akan menjadikan malaikat itu seperti manusia laki-laki, tetapi bilamana malaikat yang menjadi Rasul (Nabi) itu menyamar dalam bentuk manusia, maka tentulah mereka akan mengatakan dia manusia. Karena mereka tidak akan melihat malaikat kecuali bentuk rupa dengan sifat-sifat kemanusiaannya.

Pada saat itu timbullah kesangsian dan keragu-raguan dalam jiwa mereka dan tentulah mereka akan mendustakan para malaikat yang menyamar menjadi manusia, seperti halnya mereka mendustakan Nabi Muhaammad. Mereka akan menyatakan pendapat mereka yaitu bahwa rasul itu haruslah malaikat. Padahal seperti apa bentuk asli malaikat mereka tidak tahu.

Demikianlah mereka berputar-putar dalam sebuah lingkaran keraguan yang tak tentu ujung pangkalnya. Kaum musyrik Mekah merupakan sebuah contoh kebanyakan manusia yang terjerumus dalam kesulitan karena kesalahan mereka dalam memilih pegangan hidup dan akhirnya mereka kebingungan mencari jalan keluar.

Ayat 10

Sesudah Allah menerangkan kekacauan pikiran orang-orang kafir tentang kerasulan dimana mereka terus menerus mengingkarinya, maka ayat ini menjelaskan, bahwa sikap perlawanan mereka terhadap kerasulan Muhammad serupa dengan perlawanan orang-orang kafir terhadap rasul-rasul Allah pada zaman dahulu. Permusuhan dan penghinaan yang dialami Nabi Muhammad dialami pula oleh rasul-rasul sebelum beliau. Firman Allah:

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya. (Yasin/36: 30)

Penghinaan orang-orang kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad merupakan kelanjutan dari permusuhan manusia terhadap para rasul sejak zaman dahulu, maka akibat yang mereka hadapi tentulah sama dengan akibat yang dihadapi oleh umat terdahulu. Ayat ini menjelaskan bahwa mereka yang mencemoohkan dan menghinakan para rasul akan ditimpa azab.


Baca juga: Kisah Nabi Nuh As dan Keingkaran Kaumnya Dalam Al-Quran


Ayat ini menerangkan sunatullah yang berlaku bagi umat manusia di masa dahulu dengan para rasul Allah. Ayat ini juga sebagai penghibur dan pelipur hati Nabi Muhammad, karena penghinaan kaumnya kepadanya, yaitu berita kemenangan terakhir kelak bagi Nabi dan pengikut-pengikut beliau, dan kekalahan musuhnya.

Hanya saja kaum Nabi Muhammad tidak akan menerima azab seperti umat-umat yang lalu, yakni kemusnahan dan kebinasaan hidup. Azab yang dijatuhkan kepada mereka tidaklah mengakibatkan kemusnahan dan kehancuran karena Nabi Muhammad adalah “Nabiyyurrahmah”, nabi yang membawa rahmat kepada umat manusia.

Ayat 11

Sesudah menjelaskan kemusnahan beberapa kaum yang memusuhi para rasul pada zaman dahulu, maka Allah, dalam ayat ini menyuruh Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada kaumnya agar mereka mengembara di atas bumi ini dan mendatangi tempat dimana orang-orang yang menduga para nabi itu dibinasakan.

Sebab, dengan pengembaraan itu mereka dapat menyaksikan sendiri tempat-tempat bersejarah agar menjadi bahan renungan bagi mereka, mengapa bangsa-bangsa terdahulu itu sampai binasa padahal mereka termasuk bangsa yang perkasa dan berkuasa. Sesudah itu hendaklah mereka melihat kepada diri mereka sendiri dan membandingkannya dengan umat-umat yang telah musnah itu.

Orang-orang kafir Mekah sebenarnya adalah pengembara karena pada umumnya mereka hidup sebagai pedagang antar daerah di semenanjung Arab. Tetapi dalam pengembaraan sebagai pedagang, mereka tidak memperhatikan bekas-bekas peninggalan umat-umat yang telah musnah seperti kaum Nuh dan Samud di Arab Utara dan kaum ‘Ad di Arab Selatan.

Betapa banyak generasi yang telah dibinasakan lalu diganti dengan generasi baru sebagaimana diterangkan Allah dalam ayat enam surah ini. Kesemuanya itu seyogyanya dijadikan bahan kajian sejarah bangsa itu sendiri walaupun akan memakan waktu yang panjang, karena dari pengalaman sejarah bangsa-bangsa yang lampau banyak diperoleh pelajaran yang bermanfaat bagi generasi-generasi mendatang.

Dengan turunnya ayat ini, hati Nabi Muhammad merasa terhibur, karena di dalamnya mengandung isyarat bahwa kaum musyrik akan mengalami kekalahan.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14


(Tafsir Kemenag)