Beranda blog Halaman 507

Pesan Kinasih Shalawat Fadhailul Qur’an, Syair Anggitan Kyai Ahsin Sakho Muhammad

0
Kyai Ahsin Sakho Muhammad
Kyai Ahsin Sakho Muhammad/Nu.or.id

Acap kali kita mendengar sholawat yang dimulai dengan lirik Sholatullahi wa salam, ‘ala man uhiyal qur’an, kemudian dilanjutkan dengan lirik berbahasa Indonesia tentang keutamaan Al Qur’an. Saking seringnya kita mendengar shalawat tersebut, terkadang malah tak tahu siapa pengarangnya. Shalawat yang disebutkan tadi merupakan shalawat fadhailul Qur’an anggitan Kyai Ahsin Sakho Muhammad.

Kyai Ahsin Sakho merupakan seorang pakar Al-Qur’an yang dikenal piawai dalam fan ilmu langka, yakni qiraah sab’ah. Kedalaman ilmunya ini, ia dapatkan selama belajar S1 sampai S3 di Fakultas Kulliyatul-Qur’an wa Dirasah Islamiyyah, Al-Jami’ah Al-Islamiyah (Universitas Islam Madinah). Sementara pendidikan dasar Al Qur’an dan keagamaan lainnya, ia dapatkan di beberapa pondok pesantren. Tercatat, ia sebagai alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Pesantren KH. Umar Abdul Manan Solo, dan Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, Kudus (Bimbingan KH. Arwani).


Baca juga: Nashiruddin Al-Baidhawi: Sang Hakim Pengarang Kitab Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil


Konsistensi Kyai Ahsin dalam bidang Al-Qur’an juga menjadikannya sebagai salah satu Dewan Pakar di Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an Kemenag. Tak heran jika kita mendapati mushaf terbitan Indonesia yang ditandatangani olehnya.  Selain itu, Kyai yang mengasuh Pondok Pesantren Dar Al Qur’an Cirebon juga mengajar di beberapa kampus Jakarta, seperti Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ), Institu Darul Rahman, PTIQ, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sebagai seorang akademisi dan kyai, tentu ia memiliki berbagai karya yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Di antara karya-karyanya yaitu Membumikan Ulumul Qur’an, Perempuan dan Al Qur’an, Manba’ul Barakat (Qiraah sab’ah), Oase Al Qur’an, dan lainnya. Bukan hanya literatur, ia pun membuat syair Qur’ani yang kemudian kita kenal dengan nama shalawat fadhailul Qur’an.


Baca juga: Benarkah Warna Merah Lafadz Walyatalattaf sebagai Tanda Tetesan Darah Usman bin Affan?


Shalawat Fadhailul Qur’an dan Pesan Kinasihnya

Shalawat fadhailul Qur’an sangat mudah kita temukan, di youtube saja salah satu channel milik Khanifah Khani yang melantunkan shalawat ini mencapai 2,3 juta viewers. Berikut link youtubenya, bisa ditonton di sini. Tentu ini menjadi salah satu bukti diterimanya syair anggitan Kyai Ahsin oleh masyarakat luas. Adapun lirik shalawat itu seperti berikut ini.

Sholatullahi wa salam, ‘ala man uhiyal qur’an    2x

Wa ahli baitihil kiram, wa shohbihi dzawil qur’an   2x

 

Dengarkanlah kata Nabi, perintahnya kita turuti

Sebaik-baik seorang abdi, belajar mengajar kitab suci

Jika Anda akan membaca, ayat qur’an kapan saja

Baca ta’awudz terlebih dulu, jangan biarkan itu berlalu

Bacalah slalu bismillah, jika dari awal surah

Selain Surah Baroah, karena tak ada sunnah

Bacalah Qur’an dengan tartil, bacanya pelan sambil memikir

Akan datang Malaikat Jibril, membawa rahmat bagi pedzikir

Jika ada yang baca Qur’an, marilah sama mendengarkan

Jika kita sama membaca, janganlah kita saling mencerca

Orang mahir baca Al-qur’an, sama malaikatur-Rahman

Orang sulit baca Al-qur’an, akan dapat dua ganjaran

Siapa senang membaca Qur’an, pastilah dia dapat ganjaran

Siapa senang bersimaan, dapat rahmat dari Yang Rahman

Barang siapa yang hafal Qur’an, nilai-nilainya diamalkan

Orang tuanya disematkan, mahkota indah yang berkilauan

Jika selesai mengaji, tutuplah mushaf yang suci

Benarkanlah sang Ilahi, tanda cinta yang abadi

Itulah syair tentang Al-qur’an, kitab suci kita muliakan

Meminta Allah Yang Maha Rahman, dapat syafa’atnya Al-Qur’an

Sholatullahi wa salam, ‘ala man uhiyal qur’an    2x

Wa ahli baitihil kiram, wa shohbihi dzawil qur’an   2x

Putra dari Kyai Muhammad Asyrofuddin dan Nyai Umi Salamah ini secara ringan menuliskan keutamaan Al Qur’an. Keutamaan ini layaknya nasihat untuk umat muslim terhadap Al Qur’an, baik yang mendengarkan maupun membacanya. Dalam syair yang ringkas ini, tentu melibatkan banyak dalil yang kemudian disederhanakan oleh Kyai Ahsin. Salah satunya, pada lirik “Sebaik-baik seorang abdi, belajar mengajar kitab suci”. Lirik ini tentu sangat relate dengan hadis nabi “khairukum man ta’allamal Qur’an wa ‘allamahu”.


Baca juga: Mana yang Lebih Utama, Membaca Al-Quran dengan Hafalan atau dengan Melihat Mushaf?


Selain itu, pesan kinasih Allah terhadap hamba-Nya juga ditampakkan oleh Kyai Ahsin. Di bagian lirik  Jika ada yang baca Qur’an, marilah sama mendengarkan.  Jika kita sama membaca, janganlah kita saling mencerca. Orang mahir baca Al-qur’an, sama malaikatur-Rahman. Orang sulit baca Al-qur’an, akan dapat dua ganjaran. Jelas sekali pesan perdamaian ia sematkan dalam shalawat ini.

Tentu kita semua sepakat atas lirik syair yang ditulis Kyai Ahsin. Kita pun sepakat bahwa karya seperti ini terbukti ampuh menembus sekat-sekat sosial. Semua bisa menikmati, tak mengenal akademisi, maupun santri. Shalawat seperti ini mampu mengantarkan pesan- pesan Qur’ani. Wallahu a’lam []

Tafsir Surat Al An’am Ayat 19-21

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 19-21 merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yang menyinggung tentang orang musyrik yang tidak percaya kepada Rasullah saw. di sini Allah memerinahkan Rasulullah untuk sekali lagi bertanya kepada orang musyrik. Pertanyaan itu terkait dengan persaksian kelak di hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 15-18


Selanjutnya Tafsir Surat Al An’am Ayat 19-21 memberikan tambahan argumen atas kebenaran Rasulullah atas risalah yang diembannya. Namun orang musyrik tetap saja tidak mau mengakuinya secara fair. Padahal keterang tentang kebenaran Rasulullah tercantum dalam kitab-kitab mereka.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 19-21 ditutup dengan pembahasan tentang kekeliruan orang musyrik yang menyekutukan Allah dengan menganggap bahwa Allah punya anak, punya sekutu atau menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tumpuan doa dan pujaan, menjadikannya pelindung, pengantara dan lain sebagainya,

Ayat 19

Dalam ayat ini Allah memerintahkan lagi kepada Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Quraisy tentang syahidah (kesaksian pembuktian) yang lebih kuat yakni kesaksian yang tidak mungkin mengandung unsur kedustaan, kepalsuan atau kesalahan.

Syahadah ialah keterangan yang bersumber dari pengetahuan, pengenalan dan keyakinan yang didasarkan atas penyerapan indrawi atau tanggapan pikiran dan perasaan. Perkara apakah yang akan disaksikan itu? Lalu, siapakah yang menjadi saksi, agar kesaksian itu tidak diragukan?

Perkara yang diminta untuk disaksikan itu ialah kerasulan Muhammad dan keesaan Allah yang diajarkan beliau. Orang-orang kafir menolaknya. Untuk menghadapi hal ini, Allah meminta Rasul untuk bertanya, apakah kesaksian yang paling besar? Nabi Muhammad diminta untuk menjawab, bahwa kesaksian terbesar adalah kesaksian dari Allah bahwa Nabi telah beriman sedang kafir Quraisy telah ingkar.

Juga bahwa mereka kemudian diminta kesaksian mereka, apakah betul ada tuhan-tuhan selain Allah. Nabi Muhammad diminta untuk menyatakan bahwa beliau tidak pernah menyaksikan hal itu. Yang disaksikannya hanyalah bahwa Tuhan itu Esa, dan beliau tidak bertanggung jawab atas kesaksian mereka.

Allah telah menurunkan Alquran kepada beliau untuk memperingatkan tentang azab bagi mereka yang mendustakan kenabiannya dan ajaran yang dibawanya yang sudah diperkuat dengan kesaksian Allah. Demikian juga, Alquran itu diturunkan untuk memberikan peringatan kepada semua orang yang telah sampai Alquran itu kepada mereka. Wajiblah atas mereka untuk mengikuti Alquran sampai hari Kiamat.

Kesaksian Allah atas kerasulan Muhammad ialah:

Pertama: Kitab Alquran sebagai mukjizat yang abadi. Manusia tidak mampu menirunya baik mengenai bahasa ataupun maknanya serta isinya yang mengandung berita-berita gaib, janji kemenangan bagi Rasul dan umatnya terhadap orang-orang musyrik. Dalam Alquran itu sendiri banyak pertanyaan-pertanyaan Allah tentang kenabian dan kerasulan Muhammad.

Kedua: Kitab-kitab samawi seperti Taurat dan Injil yang menggambarkan tentang kelahiran Nabi Muhammad serta sifat-sifat dan tanda-tanda kenabian beliau.

Adapun kesaksian Allah atas kemahaesaan-Nya dan kemahakuasaan-Nya untuk mengadakan hari kebangkitan, di samping kesaksian kitab-Nya ialah:

Pertama: Kejadian manusia dan alam semesta ini yang banyak di dalamnya menunjukkan bukti-bukti keesaan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya.

Kedua: Hakikat tabiat manusia yang condong untuk percaya kepada keesaan Tuhan dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Kemudian Allah menyuruh Rasulullah mengatakan kepada orang musyrik bahwa mereka sebenarnya mengakui adanya Tuhan lain di samping Allah dan beliau tidak akan mengakui sebagaimana pengakuan mereka. Bahkan beliau diperintahkan untuk mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan itu Allah Yang Maha Esa, sebagai pernyataan keyakinan yang berlawanan sepenuhnya dengan keyakinan orang musyrik dan beliau bersih dari upaya menuhankan apa yang mereka pandang sebagai sekutu Allah seperti patung, berhala atau nama-nama lain yang semakna dengan pengertian sekutu itu.


Baca juga: Tafsir QS. Ali Imran [3] ayat 14-15: Cintai Dia Sewajarnya, Cintai Tuhan Sepenuhnya


Ayat 20

Ayat ini menambah keterangan tentang kebenaran kerasulan Nabi Muhammad, yaitu keterangan bahwa Ahli Kitab dari Yahudi dan Nasrani, sebenarnya mereka mengetahui bahwa nabi yang terakhir yang diutus Allah adalah Nabi Muhammad karena tanda-tanda kenabian beliau sangat jelas tercantum dalam kitab-kitab suci mereka.

Diriwayatkan bahwa orang-orang kafir Mekah pergi ke Medinah menanyakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang sifat Muhammad. Tetapi mereka memungkiri bahwa dalam Taurat dan Injil terdapat berita tentang kenabian Muhammad. Berita tersebut sangat jelas sehingga mereka mengetahuinya dengan jelas pula sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka sendiri.

Allah menyatakan bahwa mereka telah merugikan diri mereka sendiri karena mereka tidak mempercayai kerasulan Muhammad, bahkan mengingkarinya dengan permusuhan. Oleh karena itu, mereka mengingkari apa yang mereka ketahui. Keingkaran pendeta-pendeta Yahudi itu sama alasannya dengan keingkaran orang-orang musyrik Mekah.

Pendeta-pendeta Yahudi tidak mau beriman kepada Muhammad karena takut kehilangan martabat dan kedudukan di kalangan penganut agama mereka. Dalam pandangan Islam, semua orang sama kedudukannya. Tidak ada perbedaan antara pendeta dengan rakyat. Bila melakukan kesalahan yang sama, hukumnya akan serupa pula, tidak ada perbedaan antara ulama dengan rakyat umum.

Demikian pula pemimpin-pemimpin Quraisy, mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad karena takut kehilangan martabat dan kedudukan. Bila mereka menganut agama Islam, mereka akan duduk sejajar dengan rakyat jelata dan orang-orang miskin, seperti Bilal dari Ethiopia (Habasyah) dan lain-lainnya. Mereka sendirilah yang merugikan diri sendiri. Kerugian mereka itu disebabkan kelemahan cita-cita dan kemauan mereka dan kehilangan pertimbangan akal sehat sehingga mereka mengingkari ilmu pengetahuan yang mereka miliki.

Ayat 21

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada orang yang lebih merugi daripada orang yang berbuat dusta terhadap Allah seperti mengatakan Allah itu punya anak, punya sekutu atau menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tumpuan doa dan pujaan, menjadikannya pelindung, pengantara dan lain sebagainya, dan menambah-nambah ajaran agama yang tidak ada dasarnya.

Demikian pula mereka sangat aniaya, mendustakan ayat-ayat Alquran memutarbalikkan isi kitab Taurat dan Injil dan menolak mukjizat Rasul yang dikatakan mereka sebagai sihir serta mendustakan ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan keesaan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat aniaya, yakni berbuat dusta terhadap Allah ataupun mendustakan ayat-ayat-Nya, apalagi mendustakan keduanya, tidak akan memperoleh keberuntungan di hari Kiamat. Mereka akan mendapatkan azab dari Allah. Di dunia, mereka pun tidak akan menang, karena mereka dikalahkan kaum Muslimin seperti dalam Perang Badar.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 22-25


(Tafsir kemenag)

Banyak Masalah Hidup? Ingat Ayat-Ayat Penghibur Hati ini

0
masalah hidup
Masalah Hidup dan Ayat Penghibur Hati

Bisa dipastikan bahwa hampir setiap orang mempunyai masalah hidup dalam kesehariannya. Masalah tersebut memiliki beragam bentuk dan kuantitas. Terkadang seseorang mempunyai masalah hidup yang sangat banyak, mungkin tak terhingga. Akibatnya, ia merasa berat untuk menjalani kehidupan dan dadanya terasa sesak.

Kadangkala seseorang juga merasa bahwa hidupnya hanya diisi oleh masalah hidup yang tak berkesudahan, tanpa jeda, tanpa jalan keluar dan tanpa kemudahan sama sekali. Akhirnya, segala hal dalam kehidupannya dirasakan sebagai sesuatu yang negatif, tanpa sisi positif sedikitpun. Pada titik ini biasanya ia akan berpikir untuk menyerah saja.

Memang, banyaknya masalah hidup bisa memunculkan pikiran-pikiran negatif yang menyebabkan seseorang menjadi cemas, stres, bahkan mengalami depresi berat. Jika hal ini tidak dihadapi dan diatasi dengan baik, maka itu dapat memicu permasalahan lain yang lebih fatal, bahkan mungkin berujung pada kematian (naudzubillah).

Bagi mereka yang sedang memiliki banyak masalah, tidak mengapa untuk bersedih, berduka, kecewa ataupun terluka. Wajar bagi manusia untuk merasakan itu semua–tanpa terkecuali–karena manusia adalah makhluk Allah yang hidup, berkembang, dan memiliki hati. Hanya saja, sebaiknya mereka jangan terlarut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Cara Menyikapi Masalah Hidup

Berkenaan dengan masalah hidup, sebenarnya banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenainya dan bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap. Sebagian besar ayat tersebut menyentuh ranah kesadaran, bahwa masalah senantiasa datang namun ingatlah bahwa Allah akan selalu membersamainya. Diantara ayat itu adalah:

  1. Allah selalu membersamai kita

Ketika seseorang bersedih karena suatu hal, sebaiknya ia mengingat bahwa Allah Swt akan selalu membersamainya. Sehingga permasalahan apapun yang dihadapi tidak akan membuatnya merasa sendiri dan tak berarti. Dengan itu, ia akan mampu menyelesaikan masalah melalui usaha, doa, dan tawakal. Firman Allah Swt:

…“Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”… (QS. At-Taubah [9]: 40)

Ayat ini turun ketika Rasulullah Saw dan Abu Bakar bersembunyi di dalam goa Tsur. Beliau mengatakan hal tersebut untuk menenangkan dan menguatkan hati Abu Bakar bahwa Allah senantiasa membersamai mereka sesulit dan sesukar apapun permasalahan hidup, terutama ketika menghadapi pengejaran kaum kafir Quraisy.

  1. Dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan

Ketika seseorang menghadapi berbagai kesulitan dan masalah hidup, hendaknya ia mengingat bahwa akan selalu ada kemudahan pada setiap kesulitannya tersebut. Ini merupakan janji Allah kepada manusia. Firman-Nya:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦

“Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (al-Insyirah: 6)

Oleh karena itu, sesulit dan sesukar apapun permasalahan hidup yang kita hadapi sebaiknya kita meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa segala masalah pasti memiliki akhir yang indah bagi kita. Dengan begitu, fokus kita bukanlah masalah tetapi bagaimana menyelesaikannya dengan baik sehingga bisa mencapai kemudahan yang Allah janjikan.

  1. Allah tidak akan membebani seseorang melebihi batasnya

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ ٢٨٦

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Makna ayat ini merupakan ungkapan yang familiar di kalangan umat Islam, Mungkin kita seringkali menyebutkannya tanpa sadar bahwa itu merupakan ayat Al-Qur’an. Secara singkat ayat ini bermakna bahwa Allah tidak akan memberikan beban–baik itu kewajiban, larangan ataupun beban hidup–lebih dari yang bisa ditahan oleh hamba-Nya.

  1. Selalu ada solusi bagi setiap masalah

Kita harus meyakini bahwa setiap masalah pasti memiliki solusi atau jalan keluarnya. Oleh karena itu, jangan pernah berputus asa apalagi menyerah dan mengakhiri semuanya dengan cara-cara yang tidak semestinya. Allah Swt berfirman:

….وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.“ (QS. At-Talaq [65]: 2)

Dengan mengingat dan meresapi ayat-ayat di atas, seseorang diharapkan tidak akan merasa sendiri ketika menghadapi berbagai masalah hidup. Karena Allah selalu membersamainya kapanpun dan dimanapun ia berada. Segala masalah yang dihadapinya juga tidak akan melebihi batas kemampuannya. Karena Allah tidak menimpakan suatu masalah yang melebihi kesanggupan hamba-Nya.

Adapun rasa sedih, duka, kecewa dan putus asa yang dirasakan oleh manusia ketika mengalami suatu masalah adalah hal yang lumrah dialami. Allah tidak pernah melarang manusia untuk bersedih ataupun berduka, hanya saja jangan sampai kesedihan atau duka tersebut dilebih-lebihkan dan menghambat kehidupannya. Ya Allah, berikanlah kami hati yang lapang dan tenang. Aamiin.

Muhammad Abu Zahrah: Pakar Fikih Penulis Kitab Zahrah al-Tafasir

0
Muhammad Abu Zahrah
Muhammad Abu Zahrah

Universitas Al-Azhar merupakan salah satu kampus Islam yang tertua di Dunia. Berbagai cendekiwan Islam telah dilahirkan dari rahim Al-Azhar. Keberadaan para intelektual muslim tersebut semakin mengukuhkan peran Al-Azhar dalam perkembangan geliat pemikiran Islam di Dunia. Salah satu sosok Azhari yang berpartisipasi dalam pengembangan keilmuan Islam kontemporer dengan pemikiran dan karya-karyanya adalah Muhammad Abu Zahrah.

Biografi Intelektual Abu Zahrah

Mufasir kontemporer ini memiliki nama lengkap Muhammad ibn Ahmad ibn Musthafa Abu Zahrah. Abu Zahrah dilahirkan pada 29 Maret 1898 di desa al-Mahallah al-Kubra, Mesir. Sejak kecil ia telah mendapatkan tarbiyah dari orang tuanya tentang dasar-dasar keislaman. Belum genap usia sembilan tahun, Abu Zahrah kecil sudah mampu menghafalkan Al-Qur’an

Setelah mempelajari berbagai ilmu dasar Islam, Abu Zahrah kemudian mendalami cabang keilmuan umum, seperti Matematika, Geografi, Filsafat, dan Bahasa Arab. Pada tahun 1913, Abu Zahrah memulai petualangan intelektualnya di Universitas Al-Ahmadi di Tanta, Mesir selama tiga tahun. Kecerdasannya dalam memahami ilmu-ilmu yang diajarkan mengakibatkan Syaikh al-Ahmadi al-Dhawahiriy memberikan sebuah penghargaan khusus kepadanya.

Kemudian, Pada tahun 1916, melanjutkan studi di Madrasah al-Qadha’ al-Syar’iy selama sembilan tahun hingga tahun 1925. Di tempat tersebut Abu Zahrah menekuni hukum-hukum tentang peradilan syari’ah. Tidak puas sampai disitu, Abu Zahrah kemudian melanjutkan studinya di Universitas Darul Ulum dan mendapatkan gelar sarjana pada tahun 1927.


Baca juga: Jamaluddin al-Qasimi: Sosok Pembaharu Islam Penulis Tafsir Mahasin al-Ta’wil


Sejak tahun 1927, Abu Zahrah sudah mulai aktif mengajar di Universitas Darul Ulum dan Madrasah al-Qadha’ al-Syar’iy. Pada tahun 1933, ia dipercaya menjadi dosen di Fakultas Ushuluddin, setahun kemudian ia juga mengajar di Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar, Kairo. Abu Zahrah juga termasuk perintis berdirinya Ma’had al-Dirasat al-Islamiyah. Seiring bertambahnya waktu, Abu Zahrah juga mulai menjadi anggota di berbagai lembaga ilmiah.

Pada tahun 1961, Abu Zahrah menjadi anggota Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah. Selain itu, ia juga anggota dari Majlis al-A’la li al-Syu’un al-Islamiyah, Majlis Muhafadhah al-Qahirah, Lajnah Buhuts al-Qur’an, Lajnah al-Mutaba’ah, dan Lajnah al-Sunnah al-Muthahharah. Serta menjadi pembimbing di Lajnah al-Taqnin li al-Madzhabain al-Hanafi wa al-Syafi’i.

Abu Zahrah juga aktif mengikuti berbagai forum seminar ilmiah internasional, seperti Halaqah al-Dirasat al-Ijtima’iyah, Damaskus (1952); Mu’tamar al-Nadwah al-Islamiyah, di Lahore, Pakistan (1958); Mu’tamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di al-Jazair (1969), Maroko (1971), dan Kairo (1973). Serta, kunjungan di berbagai negara lainya seperti, Kuwait, Sudan, Suriah, dan Libya.


Baca juga: Tafsir At-Tawhidi, Pelopor Hadyu Al-Quran dalam Kitab Tafsir


Abu Zahrah aktif menjadi kontributor di berbagai rubrik majalah ilmiah seperti, Majallah Hadharah al-Islam, al-Qanun al-Dauliy, al-Qanun wa al-Iqtishad, al-Muslimun, al-Fiqh al-Islamiy, al-Qanun wa al-’Ulum al-Siyasah, Liwa’ al-Islam dan Majallah al-Azhar.

Pada hari Jum’at 12 April 1974, Abu Zahrah merampungkan penulisan tafsir surah al-Naml hingga adzan Dhuhur berkumandang. Namun, tak lama kemudian, Abu Zahrah tiba-tiba terjatuh dalam keadaan sujud didepan mushaf, dan lembaran-lembaran tafsir yang masih terbuka. Hingga akhirnya Abu Zahrah wafat pada waktu pertengahan adzan Maghrib.

Semasa hidupnya, Abu Zahrah telah meninggalkan banyak karya tulisan, kurang lebih terdapat 42 kitab telah ia tulis. Dalam versi lain, terdapat pendapat yang mengatakan bahwa karangan Abu Zahrah mencapai 80 karya ilmiah. Semua karangan tersebut memiliki cakupan pembahasan dalam 5 bidang kajian utama, yaitu bidang Fikih, Ulumul Qur’an dan Tafsir, Aqidah dan Pemikiran Islam, Studi Agama-agama, Ilmu Dakwah, serta bidang Ekonomi dan Sosial.

Beberapa judul kitab karangan Abu Zahrah antara lain yaitu: Tarikh al-Diyanat al-Qadimah, Ushul al-Fiqh al-Ja’fariy, al-Ahwal al-Syakhshiyah, Tarikh al-Madzhahib al-Islamiyah, Muqaranah bain al-Fiqh al-Islamiy wa al-Qanun al-Rumaniy, al-’Uqubah fi al-Fiqh al-Islamiy, al-Mu’jizah al-Kubra dan masih banyak karangan lainya. Salah satu karya Abu Zahrah yang paling fenomenal adalah Zahrah al-Tafasir.


Baca juga: Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya


Sekilas tentang Kitab Zahrah al-Tafasir

Awal mula penulisan kitab Zahrah at-Tafasir adalah ketika ia mendapat tawaran untuk mengisi rubrik tafsir pada majalah “Liwa’ al-Islam” yang sebelumnya dikelola oleh Syekh Muhammad al-Hadar al-Tunisi. Ketika pembahasan rubrik tafsir tersebut sudah mulai banyak, semangat Abu Zahrah semakin menggebu, sehingga muncul sebuah keinginan untuk menulis sebuah kitab tafsir tersendiri.

Sistematika kitab Zahrah at-Tafasir ditulis mengikuti urutan mushaf utsmani (tartib mushafi). Penafsiran dalam kitab tafsir ini tidak mencakup seluruh ayat Al-Qur’an hingga 30 juz, tetapi hanya sampai pada Q.S. al-Naml [27] ayat 73. Kitab ini diterbitkan pertama kali oleh Dar al-Fikr al-’Arabiy (1980), kemudian dicetak ulang pada tahun 1987 dengan ketebalan mencapai 10 jilid.

Terdapat dua alasan yang mendasari penulisan kitab Zahrah al-Tafasir. Pertama, banyaknya pendekatan dalam penafsiran, seringkali mengakibatkan makna al-ruhiyah dan nilai kemukjizatan dari Al-Qur’an tertutupi oleh berbagai perdebatan dan perbedaan pendapat antar madzhab yang dikutip tersebut. Kedua, ditemukan beberapa pendapat dari para Mufasir dalam memahami ayat yang menyelisihi prinsip dasar Al-Qur’an.


Baca juga: Pentingnya Menata Niat Bagi Pengajar dan Pelajar Al-Quran


Mengacu pada dua alasan tersebut, Abu Zahrah mengemukakan tiga hal yang harus diperhatikan oleh pembaca karya tafsirnya. Tiga poin tersebut antara lain, yaitu:

  1. Abu Zahrah menghindari pendekatan penafsiran yang bersifat tidak umum atau asing dalam umumnya kajian tafsir. Kecuali memang dibutuhkan untuk memudahkan pemahaman pembaca, dan itupun jarang ditemukan.
  2. Ia tidak membahas tentang perbedaan qira’at, kecuali jika perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan makna kandungan sebuah ayat Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan varian qira’at tersebut menurut Abu Zahrah termasuk salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an.
  3. Dalam sebagian uraian penafsiranya, ia menggunakan kalimat yang berpola itnab. Yaitu penambahan penjelasan terhadap suatu makna untuk menghasilkan faidah berupa kemudahan pembaca dalam memahami uraian tafsir tersebut.

Terkait sumber penafsiranya, tafsir ini menggabungkan antara sumber naqli, berupa riwayat dari Nabi, Sahabat ataupun Tabi’in. Serta juga sumber aqli berupa kompetensi rasio dalam memahami makna ayat Al-Qur’an. Selain itu, tafsir tersebut juga banyak mengutip dari pendapat para ulama salaf (klasik) maupun khalaf (modern).

Salah satu ciri utama penafsiran Abu Zahrah adalah menggunakan pendekatan bahasa (etimological approach) dalam penafsiran Al-Qur’an, baik dalam sudut pandang Nahwu, Shorof, ataupun Balaghah. Selain itu, Abu Zahrah juga sangat menghindari penggunaan riwayat israiliyat dalam proses penafsiran ayat Al-Qur’an. Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al An’am Ayat 15-18

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada akhir pembahasan yang lalu Nabi Muhammad diperintahkan untuk senantiasa menyampaikan risalahnya. Pada Tafsir Surat Al An’am Ayat 15-18 menyambung pembahasan tersebut, yaitu sebuah upaya Nabi Muhammad agar orang-orang musyrik yakin terhadap risalah yang diembannya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14


Rasulullah dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 15-18 ini berusaha meyakinkan orang-orang musyrik bahwa bila Rasulullah sendiri melakukan perkara yang dilarang oleh Allah ia juga akan mendapatkan balasan dari Allah atas apa yang telah diperbuatnya. Meskipun secara teologis Rasulullah sudah dimaksum.

Selain pembahasan di atas, Tafsir Surat Al An’am Ayat 15-18 banyak berbicara mengenai ke-Esaan Allah swt atas segala yang ada di alam raya ini. Serta tidak ada yang bisa mencegah Allah untuk memberi Rahmat maupun laknat kepada yang dikehendakiNya.

Ayat 15

Sesudah Allah menjelaskan dasar agama yang harus menjadi pegangan seorang Rasul, maka dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyatakan kepada kaum musyrik, bahwa jika beliau melakukan kemaksiatan, melanggar perintah Allah atau menyimpang dari asas agama yang ditetapkan Allah maka Rasul takut azab hari Kiamat akan menimpanya, sebab pada hari itu Allah akan berhadapan dengan hamba-hamba-Nya untuk menjatuhkan azab kepada mereka yang berdosa dan memberikan pahala kepada mereka yang beramal saleh.

Pada hari yang dahsyat ini tidak seorang pun yang dapat menolong orang lain, karena kasih sayang atau persaudaraan. Ayat ini menunjukkan sifat Rasulullah bahwa beliau meskipun jauh dari kemungkinan melakukan maksiat, namun hati beliau tetap takut kepada Allah dalam segala keadaan.

Ayat 16

Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa orang yang terhindar dari azab pada hari Kiamat, adalah orang yang mendapat rahmat dari Allah. Karena Allah membebaskan dia dari kesengsaraan pada hari yang dahsyat itu dan memberinya kenikmatan-kenikmatan dan memasukkannya ke dalam surga.

Orang yang dijauhkan dari azab itu mendapatkan dua kebahagiaan: kebahagiaan disebabkan bebas dari azab dan kebahagiaan mendapat rahmat, kebahagiaan ini merupakan keberuntungan yang besar.

Kebahagiaan yang diberikan Allah pada hari Kiamat itu benar-benar adalah rahmat kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya dan bukanlah sekali-kali suatu keharusan bagi Tuhan; sebab tidak ada kekuasaan lain di atas kekuasaan-Nya.

Tetapi sifat rahmat itu sendiri adalah suatu keharusan bagi Tuhan, karena sifat itu salah satu sifat kesempurnaan-Nya dan keharusan sifat rahmat itu pada Allah dinyatakan Allah dalam Alquranseperti tersebut dalam surah ini (al-Ma′idah/5) ayat 12 dan 54.


Baca juga: Tafsir Al-Anbiya’ Ayat 107; Nabi Muhammad Saw Adalah Rahmat Bagi Seluruh Alam


Ayat 17

Dalam ayat ini ditegaskan lagi tentang kemahakuasaan Allah, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melenyapkan suatu kemudaratan yang ditimpakan Allah kepada seseorang kecuali Allah sendiri, seperti sakit, kemiskinan, duka cita, kehinaan dan lain sebagainya yang mengakibatkan penderitaan pada manusia baik lahir maupun batin.

Bukanlah berhala-berhala, dukun-dukun atau pelindung lainnya selain Allah yang acap kali dipandang oleh orang musyrik, dapat menghilangkan kemudaratan tersebut.

Demikian pula halnya tak ada seorang pun yang dapat mencegah suatu kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang seperti kekayaan, kesehatan, kemuliaan, kekuatan dan lain sebagainya yang menimbulkan kebahagiaan baik lahir maupun batin. Allah Mahakuasa memelihara segala kebaikan agar seseorang tetap sebagaimana yang Dia kehendaki.

Setiap selesai melaksanakan salat lima waktu, Nabi Muhammad selalu membaca doa, antara lain:

اللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

(رواه البخاري عن الوراد)

Ya Allah, tak ada yang mencegah terhadap apa yang Engkau berikan, tak ada yang memberi terhadap apa yang Engkau cegah dan tidak bermanfaat kejayaan seseorang atas siksaan-Mu. (Riwayat al-Bukhari dari al-Warrad)

Ayat ini menunjukkan pula bahwa setiap manusia baik yang menginginkan kebaikan atau yang menghindari kemudaratan, haruslah meminta pertolongan kepada Allah semata-mata dengan berusaha menurut Sunnah-Nya yang berlaku dalam alam ini dan dengan memanjatkan doa sepenuhnya kepada-Nya.

Firman Allah:

ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Gafir/40: 60)

Ayat 18

Ayat ini menegaskan kesempurnaan kedaulatan Allah yang mutlak atas hamba-hamba-Nya. Dialah Penguasa yang tertinggi di atas hamba-hamba-Nya dan menyelenggarakan serta mengatur segala masalah dan urusan mereka menurut kehendak-Nya. Tidak seorang pun yang dapat memohon untuk dapat keluar dari daerah kekuasaan-Nya.

Kesempurnaan kekuasaan dan kedaulatan Allah atas hamba-hamba-Nya itu disertai dengan kesempurnaan hikmah-Nya dalam mengatur kebutuhan hamba-hamba-Nya dan keluasan ilmu-Nya terhadap segala perkara yang kecil dan tersembunyi.

Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang bermanfaat dan yang mudarat bagi hamba-hamba-Nya. Tak ada suatu perkarapun, melainkan diketahui-Nya akhir dari perkara itu. Pengaturan-Nya atas hamba-hamba-Nya ini diarahkan kepada suatu tujuan yakni kesempurnaan kemanusiaan.

Dialah Allah Yang Mahakuasa dan Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena itu, tidaklah patut menyembah kepada selain-Nya.

Firman Allah:

فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا

Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. (al-Jinn/72: 18)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 19-21


(Tafsir kemenag)

Mengaplikasikan Metode Tadabbur Saat Membaca Al-Quran dan Langkah-Langkahnya

0
Membaca Al-Quran
Membaca Al-Quran

Apa yang harus kita lakukan untuk mengimplementasikan makna tadabbur Al-Quran pada saat membaca Al-Quran? Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memahami, menghayati, dan mendalami, serta mengamalkan pesan-pesan Al-Quran. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Baca dan jagalah huruf-huruf Al-Quran sesuai dengan makhrajnya (sesuai dengan bunyi dan posisinya) agar sesuai dengan maknanya. Jika kita salah membaca huruf, maka pesannya menjadi salah. Bedakan ketika mengucapkan ح, خ, dan هـ. Bedakan ketika mengucapkan ث, س, ش, dan ص. Salah baca, salah makna.

2. Setiap kata dari ayat-ayat yang dibaca harus dipahami, diresapi, dan dihayati maknanya sehingga setiap ayat akan dipahami pesan-pesan yang disampaikannya. Jangan lewatkan sebuah ayat tanpa paham, hayati, dan dalami maknanya.

3. Apabila kita membaca sebuah ayat yang mengandung pesan dan makna rahmat Allah, maka kita berhenti sejenak untuk memahami, menghayati, dan mendalami maknanya. Berdoalah kepada Allah agar kita mendapatkan rahmat-Nya sesuai dengan pesan ayat.

4. Apabila kita membaca sebuah ayat yang mengandung ancaman dan hukuman Allah, maka kita berhenti sejenak dan memahami, menghayati, dan mendalami maknanya. Berdoalah kepada Allah agar dilindungi dari siksaan dan azab yang berat itu, dan dijauhkan dari siksaan api nereka.

5. Apabila kita membaca sebuah ayat yang menunjukkan panggilan kepada orang-orang yang beriman, seperti يأيها الذين آمنوا, maka berhentilah sejenak untuk memahami, menghayati, dan mendalami pesannya di dalam lubuk hari Anda, lalu bacalah, “Ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Yang Engkau perintahkan aku akan kerjakan, dan yang Engkau larang, aku tinggalkan dan jauhi.

6. Apabila Anda membaca ayat yang di dalamnya terkandung kata-kata “pengampunan dosa, permohonan ampun atas segala dosa”, maka katakanlah, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, daosa kedua orang tuaku, dan dosa-dosa lainnya.”

7. Apabila Anda membaca ayat yang di dalamnya terkandung perbuatan taubat, atau perintah untuk pertobat, maka berhentilah sejanak di ayat itu, lalau katakanlah: “Ya Allah aku bertobat kepada-Mu, dan terimalah taubatku.”

Selain ketika membaca al-Quran, ada beberapa hal lagi yang perlu kita lakukan dalam melakukan tadabbur terhadap Al-Quran. Fawwaz Ahmad Zamraly tentang sarana-sarana yang dapat membantu tadabbur Al-Quran sangat menarik untuk dikemukakan dalam uraian ini.

Baca Juga: Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya

Dia menguraikan 13 sarana ini dalam suatu uraian yang sangat panjang. Tiga belas sarana itu harus diupayakan oleh seseorang sehingga dia dapat melakukan tadabbur terhadap Al-Quran. Tiga belas sarana itu dapat disimpulkan dalam uraian yang ringkas sebagai berikut:

1. Ada sikap yang kuat di dalam hati untuk Mengagungkan Allah Swt dan Mencintai-Nya.

2. Menghadirkan hati dan menfokuskan pendengaran ketika membaca Al-Qur’an.

3. Selalu beristighfar, bertaubat dan menjauhkan perbuatan maksiat kepada Allah.

4. Membaca, mendengar, dan bertadabbur Al-Quran itu harus dengan hati yang tulus hanya karena Allah.

5. membaca Al-Quran harus dengan hati yang khusyu, takut, dan tunduk kepada Allah.

6. memperhatikan dan menelaah hasil penafsiran para ulama tafsir tentang ayat-ayat Al-Quran.

7. Memohon perlindungan kepada Allah Swt dari godaan setan yang dapat mengganggu tadabbur.

8. Memilih waktu-waktu yang tepat untuk membaca Al-Quran, seperti pada saat hati pembacanya riang, gembira, dan senang, seperti pada pagi hari atau malam hari.

9. Memilih tempat-tempat yang tepat untuk membaca, seperti di masjid.

10. Memilih ukuran atau jumlah ayat yang dibaca sehingga tidak ada rasa terpaksa untuk membacanya.

11. Membaca ayat ayat al-Quran secara pelan-pelan, tidak terburu-buru sehingga memungkinkan untuk memahami dan tadabbur terhadap apa yang dibaca.

12. Membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan makhraj dan tajwidnya.

13. Selalu dekat dengan Al-Quran dan membacanya.

Tiga belas hal tersebut kelihatannya cukup berat untuk dilakukan. Tetapi, kalau sudah kita membiasakannya kita akan bisa dan kita dapat merasakan kenikmatan melakukan tadabbur itu. Wallahu A’lam.

Ikrar Setia Kaum Hawariyyun: Refleksi Peringatan Hari Sumpah Pemuda

0
Ikrar setia Kaum Hawariyyun
Ikrar setia Kaum Hawariyyun

Pemuda biasanya dikaitkan dengan orang yang umurnya berkisar antara 15-30 tahun. Pemuda memiliki karakter spesifik yang produktif, jiwanya  optimis, revolusioner dan visioner. Mereka juga memiliki kontribusi yang besar dalam pembentukan serta keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karakter pemuda ini juga digambarkan dalam Al-Quran dengan mengkisahkan kaum  Hawariyyun, sahabat Nabi Isa dari golongan Pemuda.

Kisah Nabi Isa dan Kaum Hawariyyun

Ketika Nabi Isa akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi, Nabi Isa mengumpulkan seluruh pengikut-pengikutnya dan bertanya kepada mereka.

“Siapakah diantara kalian yang ingin menjadi temanku di Surga dengan menyerupai diriku dan menggantikan posisiku untuk dibunuh oleh kaum Yahudi?”, tanya Nabi Isa.

Tentu, dibutuhkan loyalitas yang tinggi dan komitmen yang kuat untuk melakukan itu. Semua pengikut Nabi Isa diam kecuali sekelompok Kaum Hawariyyun yang berjumlah 12 orang. Mereka para pemuda sekaligus sahabat Nabi Isa yang dengan tegas menyatakan siap berkorban demi keberlangsungan syariat yang dibawa Nabi Isa.

Kemudian Nabi Isa mengulangi pertanyaan hingga tiga kali, dan hanya mereka pulalah yang menyatakan siap berkorban. (al-‘Alusi, Ruhul Ma’ani)

baca juga: Ini Daftar 15 Bayi yang bisa Bicara Menurut Para Mufassir

Peristiwa ini terekam dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 52-53:

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”

Nabi Isa menguji keimanan dan komitmen para kaumnya dengan bertanya, “siapakah diantara kalian yang siap menjadi Penolong agama Allah?”

Baca juga: Inilah Tiga Mukjizat Al-Quran

Sekelompok Pemuda dari Hawariyyun menjawab dengan tegas bahwa kami siap menjadi penolong agama Allah. Diriwayatakan mereka terdiri dari dua belas orang dari keturunan Nabi Sham’un, Ya’kub dan Yuhana. Mereka menggunakan baju putih dan pekerjaannya mencari ikan. (as-Shabuni, Shafwatut Tafasir)

Para Mufassir berbeda pendapat terkait Makna “Man Anshari Ila Allaah” .  Al-Jilani menafsirkan siapa yang siap berdakwah dengan menunjukkan kebenaran kepada orang-orang yang tersesat dan menolong serta menjagaku (Nabi Isa) atas kedhaliman Mereka?  Kaum Hawariyyun pun Menjawab “Kami siap menjadi penolong Utusan Allah, kami akan menjaganya dengan sebaik-baiknya dan mengembangkan seluruh potensi yang kita miliki untuk melanjutkan syariat dan Hukum-hukum Allah agar senantiasa terus hidup dan berjalan di Muka bumi. Karena Sesungguhnya kami Telah bersaksi atas kerasulanmu dan Atas apa yang diwahyukan kepadamu, dan kami termasuk orang yang berpasrah diri dengan Iman yang Murni dan kebaikan-kebaikan yang diberikan kepada kami semuanya datang dari Allah dan untuk dikembangkan demi kemaslahatan dibumi. (‘Abdul Qadir al-Jailani, Tafsir al-Jilani)

Pemuda Hawariyyun digambarkan Al-Quran sebagai pemuda yang loyal dan berkomitmen. Perubahan yang dibawa Nabi Isa menjadi momen bagi mereka untuk ikut menjadi pelopor perubahan dari kekufuran yang telah sekian lama tumbuh subur di masa itu.

Refleksi Sumpah Pemuda

Kisah ini dapat kita jadikan sebagai refleksi untuk mengingat sumpah pemuda. Sumpah pemuda dipelopori oleh para pemuda dan juga sebagai kristalisasi pembentukan negara kesatuan republic Indonesia. Karena keberanian dan sikap visioner para pemuda yang andil dalam sumpah pemuda terwujudlah kemerdekan Indonesia.

Kini, kita sebagai pemuda dapat meneladani semangat revolusioner dan loyalitas dari kisah pemuda Hawariyyun. Mereka siap berkorban dan melakukan apa saja demi menjaga ketauhidan. Kita dapat berkontribusi apapun potensi yang kita miliki untuk agama dan bangsa. Dengan membangun  keloyalitasan kita Pada Negara dan agama, maka hal-hal sulit dan berat menjadi mudah kita lakukan. Tapi perubahan tidak dapat kita lakukan sendirian, kita harus saling berkolaborasi dengan pemuda lainnya. Hal itu juga yang dikisahkan Al-Quran dengan pemuda hawariyyun, mereka berkolaborasi dan berkomitmen bersama. Sehingga tetap ada yang menjaga kebenaran dan berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca juga: Cara Elegan Merawat Keberagaman Menurut Al-Quran

Dengan berkolaborasi, perubahan menjadi lebih mudah dilakukan dan diwujudkan. Hal baik yang awal mulanya manfaatnya kecil bisa menjadi lebih besar kebermanfaatannya. Sesuatu yang dirasa berat dan sulit jika dilakukan sendiri, akan lebih mudah dan mungkin jika dilakukan bersama. Perubahan bisa dilakukan dimana dan apa saja, kontribusi kecil maupun besar dilingkungan kita yang sekiranya membawa manfaat lanjutkan dan terus lakukan inovasi. Wallahu a’lam[]

Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah pada Penafsiran Al-Quran Menurut Mufassir

0
Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah
Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah

Al-Qur’an diturunkan dengan beberapa lahjah, tidak hanya satu, atau yang masyhur dengan istilah sab’atu ahruf. Akan tetapi juga ditemukan suatu ayat mempunyai tata cara baca lebih dari satu, misalnya di dalam surat al-Fatihah, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ dan  يَوْمِ الدِّينِ  ملك , dan di beberapa ayat yang lain. Lantas adakah konsekuensi perbedaan qiro’ah pada penafsiran Al-Quran?

Nabi Muhammad Saw sebagai pembaca sekaligus pengamal al-Qur’an pertama kali, mempunyai banyak murid yang berbeda-beda kapasitas keilmuannya, yaitu para sahabat, meskipun mereka tidak perlu diragukan lagi integritasnya. Termasuk dalam menerima cara pembacaan (qiro’ah) al-Qur’an, ada sahabat yang menerima hanya satu tata cara baca, ada yang dua, dan ada beberapa sahabat yang menerima dari Nabi Saw tata cara baca (qiro’ah) yang bermacam-macam. Lantas para sahabat berpencar ke luar wilayah arab guna menyebarkan ajaran islam, berbekal qiro’ah yang mereka ketahui.

Perbedaan pengetahuan tentang qiro’ah inilah yang akan diikuti oleh generasi selanjutnya, yaitu generasi tabi’in, dilanjutkan oleh tabi’i tabi’in dan seterusnya. Sampai pada generasi ulama yang fokus mempelajari qiro’ah. Inilah yang melatar belakangi lahirnya ilmu qiro’ah (Syekh Az-Zarqani, Manahil ‘Irfan, [Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmia] hal. 228).

Berpijak pada ilmu qiro’ah, timbul pertanyaan : Apakah perbedaan qiro’ah menimbulkan penafsiran yang berbeda pula? mari kita pelajari lewat tafsir para ulama mufassir yang kredibel.


baca juga: Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya


Pada surat al-fatihah ayat ketiga, ada qiro’ah ‘ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ‘ dengan alif, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Kisai dan ‘Asim, sedangkan yang lain tanpa alif ‘مَلِك ‘. Lafadz مالك adalah isim fa’il dari مَلَكَ – مِلْك yang bejrarti ‘memiliki’, sehingga berimplikasi pada makna ‘Dzat yang memiliki’ yang memiliki hal segala hal. Sedangkan مَلِك terbentuk dari lafadz مُلْك yang berarti ‘kerajaan/kekuasan’, sehingga berimplikasi pada makna ‘raja/penguasa’ yang mempunyai wewenang segala hal yang ada dalam kekuasaannya. (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Tafsir Jamal [Beirut ; Dar Al-Kutub Al-Ilmiah] juz 8, hal 456).

Syekh Muhamad Mutawalli Sya’rowi menjelaskan perbedaan makna keduanya, ketika Allah Swt berfirman ‘مالك يَوْمِ الدين’ maka mengandung makna bahwa Dia adalah satu-satunya dzat yang memiliki hari tersebut, terserah apa yang akan dilakukan sesuai kehendakNya. Sedangkan ketika Allah berfirman ‘ملك يَوْمِ الدين’ maka kehendakNya dan otoritasNya melebihi siapapun, baik itu yang merasa punya otoritas.


Baca juga: Mengenal Tafsir As-Sya’rawi: Tafsir Hasil Kodifikasi Ceramah


Jika orang yang membaca qiro’ah yang pertama, maka berarti dia menegaskan bahwa ‘pemilik hari itu (kiamat) hanya Allah Swt’, tidak ada satupun yang mampu mengintervensi. Namun jika membaca qiro’ah yang kedua, maka dia menyatakan bahwa ‘Allah Swt pada hari itu (kiamat) menghakimi semua makhluknya, termasuk orang yang dianggap raja/penguasa ketika di dunia’. (Syekh Mutawalli Sya’rowi, Tafsir Sya’rowi [Kairo : Dar An-Nur, 2010] juz 1, hal. 73)

Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah Menurut Mufassir

Imam Fahrudin ar-Razi menjelaskan konsekuensi hukum dari kedua qiro’ah tersebut. Menurutnya:

  1. Qiro’ah مَالِكِ menunjukan harapan yang lebih besar daripada qiro’ah مَلِك. Karena qiro’ah pertama berimplikasi pada seorang hamba meminta sandang, pangan, papan, rokhmat, pendidikan dan segala kebutuhannya. Sedangkan qiro’ah kedua berimplikasi pada keadilan.
  2. Meskipun qiro’ah مَلِك lebih luas daripada مَالِكِ hanya saja seakan Allah yang mengharapkan manusia, berbeda dengan مَالِكِ yang menunjukan bahwa manusia yang berharap pada Allah Swt.
  3. Qiro’ah مَلِك ketika dihadapkan pada kondisi fisik seseorang, maka yang masuk hanya orang yang fisiknya kuat. Berbeda dengan مَالِكِ, yang mengayomi siapa saja termasuk orang yang sakit dan lemah atau kekurangan secara fisik. Bahkan para pendosa sekalipun.
  4. Qiro’ah مَلِك mengandung unsur wibawa, kekuasaan dan politik. Sedangkan qiroah مَالِكِ mengandung nilai kasih sayang. (Imam Fahrudin ar-Razi, Mafatihul Ghoib, [Kairo: Darul Hadis, 2012] juz 1, hal. 265-267)

Perbedaan qiro’ah yang berimplikasi makna beda juga ada pada surat at-Taubah ayat 128 :

لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ (128)

Artinya : “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah : 128)


Baca juga: Pentingnya Menata Niat Bagi Pengajar dan Pelajar Al-Quran


Yang menjadi konsentrasi kita adalah lafadz ‘ مِنْ أَنْفُسِكُمْ ‘. Jumhur ulama qiro’ah membaca dengan mengharokati dhomah huruf fa’, sedangkan Abi Amr Ra membaca lafadz dengan mengharokati fathah huruf fa’’ مِنْ أَنْفَسِكُمْ’.

Qiro’ah pertama adalah bentuk jamak dari نفْس yang berarti ‘diri/jiwa’, sedangkan qiro’ah kedua adalah bentuk isim tafdhil dari lafadz نفيس yang berarti ‘indah/bersih’ dan berimplikasi pada makna ‘paling indah/bersih’. Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Zadul Masir fi ilmi Tafsir menjelaskan masing-masing interpretasi dari kedua qiro’ah di atas. Menurutnya, qiro’ah pertama menunjukkan beberapa makna.

Yang pertama, Nabi Saw dari bangsa Arab, kedua, Nabi Saw dari kelompok yang kalian kenal, ketiga, dari nikah yang sah, keempat, dari golongan manusia bukan malaikat. Sedangkan qiro’ah kedua menunjukkan makna ; pertama, Nabi Saw paling utama akhlaknya, kedua, paling mulia nasabnya, ketiga, paling taat kepada Allah Swt. (Ibnu Jauzi, Zadul Masir fi Ilmi Tafsir, [Maktabah Syamilah] juz 2, hal. 313)

Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan, bahwa ragam qiro’ah sedikit banyak menimbulkan penafsiran yang beda pula. Wallohu A’lm []

Surat Al-Mu’awwidzatain Dan Memahami Kisah Disihirnya Nabi Muhammad

0
Surat Al-Mu’awwidzatain
Surat Al-Mu’awwidzatain

Keberadaan Surah An-Nas dan Al-Falaq atau disebut juga dengan surat Al-Muawwidzatain (2 surat yang dibuat perlindungan), sebuah surat yang erat kaitannya dengan peristiwa disihirnya Nabi Muhammad. Ya, karena peristiwa tersebut ditengarai sebagai asbabun nuzul atau sebab diturunkannya Surah Al-Falaq dan An-Nas. Hal ini sebagaimana yang disinggung Imam As-Suyuthi dalam kitab Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul.

Kisah disihirnya Nabi Muhammad adalah kisah yang cukup menyedot perhatian para ulama’. Hal ini berkaitan banyaknya anggapan bahwa kesempurnaan dan keterjagaan Nabi Muhammad seharusnya membuat dirinya tidak mempan disihir. Namun nampaknya riwayat-riwayat tentang turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain seperti mementahkan anggapan tersebut.


Baca juga: Rambu-Rambu Ketaatan Terhadap Pemimpin: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59


Lalu apakah riwayat disihirnya Nabi Muhammad benar adanya? Apabila benar, apakah kejadian tersebut tidak menciderai keterjagaan Nabi Muhammad? Tulisan ini tidak hendak memaparkan secara lengkap riwayat tentang disihirnya Nabi, tapi akan mengulas tentang  kisah disihirnya Nabi Muhammad berdasar keterangan para ulama’. Sehingga memperlengkap referensi tentang sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain.

Disihirnya Nabi Sebagai Sebab Turunnya Surat Al-Muawwidzatain

Riwayat disihirnya Nabi sebagai sebab turunnya Surat Al-Muawwidzatain disebutkan salah satunya oleh Imam As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul. Imam as-Suyuthi menyodorkan dua riwayat yang memiliki cerita agak berbeda. Pertama, riwayat Ibn Abbas yang mengkisahkan dua malaikat yang berbincang-bincang kemudian menyinggung bahwa Nabi disihir, serta sihir itu hancur dengan bacaan Surat Al-Muawwidzatain. Kemudian yang kedua, riwayat Anas ibn Malik yang menceritakan Nabi sakit keras dan Malaikat Jibril turun membawa Surat Al-Mu’awwidzatain.

Namun Imam As-Suyuthi menjelaskan di tengah-tengah memaparkan dua riwayat tersebut, bahwa hadis disihirnya Nabi dapat ditemukan rujukannya dalam kitab sahih. Hanya saja, tanpa menyinggung tentang Surat Al-Muawwidzatain. Mengenai sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain, disebutkan dalam riwayat yang berbeda. Oleh karena itu, secara tidak langsung Imam As-Suyuthi mengakui, sebenarnya masih ada masalah terkait benar tidaknya kisah disihirnya Nabi merupakan sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain (Lubabun Nuqul/148).


Baca juga: Benarkah Nabi Adam AS Penghuni Pertama di Bumi?


Disihirnya Nabi Tidak Menciderai Keterjagaan Nabi Muhammad

Sayyid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki dalam kitab Muhammad Rasulullah Al-Insan Al-Kamil menjelaskan, riwayat tentang disihirnya Nabi Muhammad adalah riwayat yang sahih dan disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim. Sehingga tidak perlu ada kajian lagi mengenai keabsahan hadis disihirnya Nabi. Hanya saja, meski riwayat disihirnya Nabi Muhammad adalah riwayat yang sahih, akan tetapi tidak lantas riwayat tersebut menunjukkan terciderainya keterjagaan Nabi dengan sebab Nabi mempan terkena sihir (Muhammad Rasulullah/122).

Batasan terciderainya keterjagaan Nabi adalah, apabila pengaruh sihir tersebut sampai mempengaruhi kejujuran Nabi atau sifat-sifat Nabi yang lain. Maka apabila sihir tersebut tidak sampai mempengaruhi kejujuran Nabi, atau hanya sekedar membuat Nabi seperti kebingungan, tapi beliau tetap tahu mana yang sebenarnya terjadi dan mana yang tidak, maka sihir tersebut tidak sampai menciderai keterjagaan Nabi.

Sayyid Muhammad mengajukan bukti bahwa sihir tersebut tidak sampai mempengaruhi sifat-sifat Nabi, dan bahwa akal serta hati Nabi tetap terjaga, dengan tidak adanya riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad tatkala disihir mengucapkan atau melakukan sesuatu di luar hal-hal yang biasa beliau lakukan. Padahal andai kata ada, pasti akan tersebar luas disebabkan banyaknya musuh-musuh Nabi Muhammad yang menunggu munculnya suatu kesalahan dari Nabi Muhammad, untuk dijadikan bahan mengejek maupun menyakiti beliau (Muhammad Rasulullah/123).


Baca juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim


Justru keberadaan Nabi yang terkena sihir sehingga sempat membuat beliau kebingungan, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar terjaga hati, akal, aqidah dan ucapannya. Hal itu juga menunjukkan bahwa hal-hal ringan yang biasa menimpa lumrahnya manusia, yang juga menimpa Nabi Muhammad, sekuat apapun tidak akan sampai menciderai sifat-sifat kenabian beliau (Muhammad Rasulullah/123).

Anggapan Keliru Tentang Keterjagaan Nabi

Ishamah atau keterjagaan nabi kadang difahami secara keliru oleh sebagian orang. Mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad terjaga berarti beliau, yang dianggap sebagai kekasih Allah yang mengetahui banyak tentang hal-hal ghaib, berarti tidak mempan terkena hal-hal semacam sihir para dukun yang notabene menyembah selain Allah. Maka saat mendengar riwayat bahwa Nabi pernah terkena sihir, mereka pun kaget atau bahkan tidak mempercayai riwayat tersebut.

Pemahaman yang tepat atas keterjagaan Nabi adalah, segala sesuau yang menimpa Nabi tidak sampai mengurangi derajad beliau. Seperti membuat akal beliau terganggu. Maka Nabi Muhammad bisa saja mengalami hal-hal yang bisa dialami manusia biasa, semacam sakit demam, lupa, disakiti orang lain, selama hal itu tidak sampai menciderai derajad kenabian beliau. Wallahu a’lam.