Beranda blog Halaman 168

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 155: Sabar adalah Kunci Kebahagiaan

0
Sabar adalah Kunci Kebahagiaan
Sabar adalah Kunci Kebahagiaan

Euforia tahun baru masih begitu terasa, beribu harapan dilangitkan dalam menyongsong masa depan yang lebih bermakna. Setiap individu bermuhasabah diri atas apa yang telah dilewati,  dengan tekad mempertahankan segala hal baik yang berhasil diraih serta memperbaiki apa yang perlu diperbaiki. Setiap manusia pasti mendambakan kebahagiaan, baik itu kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Di setiap awal tahun, tentu masing-masing memiliki harapan agar kebahagiaan selalu mengiringi di sepanjang tahun. Hanya saja, roda kehidupan yang terus berputar membuat kebahagiaan harus berbagi tempat dengan kesedihan, yang seringkali muncul saat ujian dan cobaan datang. Lantas, apakah datangnya ujian dan cobaan hanya akan memunculkan kesedihan? Bagaimana agar kunci kebahagiaan tetap dapat dirasakan ketika ujian dan cobaan datang menghampiri?

Baca juga: Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Ujian adalah keniscayaan hidup

Dalam Q.s. Al-Baqarah ayat 155, Allah Swt. Berfirman:

وَلَنَبلُوَنكُمْ بِشَيْئٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثمَرَاتِ, وَبَشرِ الصابِرِيْنَ

Dan sungguh kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit perasaan takut dan lapar, serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

Wahbah Al-Zuhaili (w. 1436 H) dalam Tafsīr al-Munīr menyatakan bahwa lafal (وَلَنَبلُوَنكُمْ) menunjukkan bahwa Allah Swt. bersumpah. Menurut Al-Zuhaili, lafal tersebut bermakna لَنُصِيْبَنكُمْ (menimpakan), dan damir (كُمْ) dalam lafal tersebut ditujukan khusus kepada orang mukmin, karena ayat ini memiliki munasabah dengan Q.s. Al-Baqarah ayat 153. Pemilihan kata “menimpakan” menunjukkan bahwa ujian dan cobaan dalam pandangan Al-Zuhaili berpotensi memberatkan manusia.

Pendapat berbeda datang dari Imam ‘Abdul Karim al-Qusyairi (w. 465 H), dalam Latā`if al-Isyārat Al-Qusyairi menyatakan bahwa ujian tidak hanya berpotensi memberatkan, melainkan juga ada yang menyenangkan. Al-Qusyairi membagi ujian dari Allah Swt. secara garis besar menjadi dua bentuk, yakni ujian berupa ni’mah (kenikmatan) dan ujian berupa mihnah (kesengsaraan). Beliau mengatakan:

ابْتَلاَهُمْ بِالنِعْمَةِ لِيُظْهِرَ شُكْرَهُمْ وَابْتَلاَهُمْ بِالْمِحْنَةِ لِيُظْهِرَ صَبْرَهُمْ

Allah Swt. menguji hambaNya dengan kenikmatan untuk menampakkan rasa syukur mereka, dan menguji dengan kesengsaraan untuk menampakkan kesabaran mereka.

Ujian dan cobaan seringkali hanya dibatasi hal-hal yang tidak disenangi, padahal bisa jadi hal-hal yang disenangi juga merupakan sebuah ujian, seperti dalam Q.s. Al-Anfal[8]: 28,

Dan ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu adalah sebuah cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah Swt. terdapat pahala yang agung.

Dalam lanjutan Q.s. Al-Baqarah [2]: ayat 155, disebutkan macam-macam ujian untuk manusia, di antaranya berupa sedikit rasa takut (al-khauf), lapar (al-jū’), kekurangan harta (naqs min al-amwāl), jiwa (al-anfus), dan buah-buahan (al-tsamarāt).

Baca juga: Keutamaan Ilmu dalam al-Quran dan Kiat Memiliki Seorang Anak yang Alim

Hikmah dibalik ujian

Al-Qusyairi merinci satu persatu macam ujian yang disebutkan. Dalam pandangan Al-Qusyairi, dalam setiap ujian tersebut terkandung hal-hal positif. Antara lain:

Dalam ujian yang berupa Khauf , di dalamnya terkandung penyucian hati (tasfiyat li sudūrihim). Makna Khauf, sebagaimana yang dijelaskan Al-Isfahani (w. 502 H) dalam Mufradāt Alfāz al-Qur`ān adalah “prediksi akan terjadinya hal yang tidak disenangi dari adanya indikasi baik itu indikasi yang sekedar dicurigai maupun yang telah diketahui”. Dan ketakutan ini berlaku atas hal-hal duniawi maupun ukhrawi. Berbeda dengan khasyyah yang merupakan rasa takut yang disertai pengagungan.

Tentu tidak ada yang menginginkan hal buruk terjadi kepada dirinya, sekalipun ia telah melihat atau mengetahui adanya indikasi hal tersebut akan terjadi. Oleh karena itu, setiap orang akan melakukan langkah antisipasi, baik berupa ikhtiar lahir maupun batin yang berupa doa. Ini juga berlaku atas hal yang bersifat ukhrawi, seperti takut terkena azab Allah, takut masuk neraka, dan semacamnya.

Barangkali hal inilah yang ingin disampaikan oleh Al-Qusyairi bahwa ujian berupa takut dapat membuat seorang hamba lebih berhati-hati dalam bertindak dan akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang mampu menghindarkan dari sesuatu yang tidak diinginkan yang salah satunya dapat dilakukan dengan berdoa kepada Allah Swt.

Baca juga: Penafsiran Maqasidi Syekh Nawawi al-Bantani Pada Kitab Marah Labid

Dalam ujian yang berupa al-jū’, sebenarnya di dalamnya terkandung pembersihan jasmani (tanqiyat al-abdān). Berdasarkan penjelasan Al-Qusyairi, kemungkinan rasa lapar yang dimaksud adalah puasa, karena sebagaimana diketahui bahwa puasa tidak hanya merupakan ibadah ruhani, namun juga jasmani, di mana banyak sekali manfaatnya bagi kesehatan manusia.

Dalam ujian yang berupa naqs min al-amwāl, sebenarnya melalui hal tersebut seorang hamba sedang menyucikan jiwanya (tazakkū bih nufūsahum). Barangkali maksud dari penyucian jiwa melalui berkurangnya harta adalah dengan hal tersebut jiwa seorang hamba dapat terhindar dari kecintaan terhadap harta yang membuat hatinya menjadi buta.

Dalam ujian yang berupa naqs min al-anfus, sebenarnya melalui hal tersebut Allah Swt. sedang melipatgandakan pahala hambaNya. Sangatlah wajar jika Allah Swt. sampai memberi pahala berlipat, mengingat beratnya momen ketika seseorang kehilangan orang-orang di sekitarnya, khususnya keluarga tercinta.

Terakhir, dalam ujian yang berupa naqs min al-tsamarāt, sebenarnya melalui hal tersebut Allah Swt. hendak memberi ganti dengan jumlah yang berkali-kali lipat. Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, buah-buahan di sini dapat diartikan secara harfiah yakni buah dalam arti hasil tanaman ataupun majazi yakni buah dalam arti sebuah pencapaian yang diperoleh dari suatu perjuangan.

Sabar adalah kuncinya

Berdasarkan penjelasan dari Al-Qusyairi yang telah dipaparkan sebelumnya, sudah sewajarnya setiap orang harus senantiasa berpikir positif ketika diuji dengan sebuah cobaan, mengingat selalu ada hikmah di dalamnya. Hikmah-hikmah tersebut tentu tidak akan didapatkan ketika seseorang tidak menyikapi sebuah ujian dengan positif, yakni berusaha bersabar dan menerima segala ujian dan cobaan yang terjadi. Hal itu ditegaskan di penutup ayat: “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

Di sinilah kuncinya, yakni bersabar ketika diuji oleh Allah Swt. Menurut Al-Qusyairi, orang yang sabar ialah orang yang legowo atas takdir yang telah terjadi. Sabar memanglah bukan hal yang mudah untuk dilakukan, bahkan Al-Zuhaili menyatakan bahwa al-sabr asyaddu syay` batiniy ‘ala al-nafs (sabar merupakan perkara batin yang paling berat bagi jiwa manusia), maka tak heran jika Allah Swt. menjanjikan kabar gembira bagi mereka yang mampu berusaha untuk senantiasa bersabar, yang menurut Al-Zuhaili kabar gembira tersebut berupa surga.

Baca juga: Berapa dan Apa Saja Ayat Mansukh dalam Al-Qur’an? Ini Pendapat Para Ulama

Syihab al-Din Al-Alusi (w. 1270 H) dalam Ruh al-Ma’ani mengutip sebuah maqalah yang berbunyi: “al-sabr miftāh al-faraj” (sabar adalah kunci kebahagiaan). Inilah modal utama dalam menyongsong kehidupan di tahun baru ini dan yang akan mendatang. Karena sejatinya, kebahagiaan bukan tentang berapa banyak kenikmatan yang diperoleh, melainkan bagaimana senantiasa melihat sisi positif dari setiap hal yang terjadi, baik suka maupun duka. Semoga kita semua memperoleh pertolongan Allah dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar, sehingga kebahagiaan akan selalu mengiringi langkah kita meski banyak ujian dan cobaan yang silih berganti. Wallahu A’lam[].

Menampakkan Amal Sedekah Menurut Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 271

0
Menampakkan Amal Sedekah
Menampakkan Amal Sedekah

Mendengar istilah bersedekah, tentunya tak asing lagi di dengar. Secara bahasa, sedekah berasal dari kata ash-Shadaqah, yang diambil dari asal kata al-Shidq yang berarti “benar” (Candra Hirmawan, dkk, Sedekah: Hidup Berkah Rezeki Melimpah, 17). Maka pada umumnya, sedekah adalah perilaku manusia dalam rangka membantu orang lain, tatkala bertujuan mencari ridho Allah Swt.

Secara implisit, sedekah tidak hanya diartikan sebagai pemberian harta kepada seseorang, tetapi lebih dari itu, sedekah mencakup juga dengan semua perbuatan baik, bisa bersifat fisik, maupun nonfisik. Sehingga bersedekah bisa dilakukan siapa saja, kapan pun, dan dimana pun (Ahmad Rajafi, dkk, Khazanah Islam, Perjumpaan Kajian dengan Ilmu Sosial, 158).

Baca juga: Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Dalam bersedekah tentu yang diinginkan adalah memberikan yang terbaik. Tidak ingin amalnya mendadak berkurang pahalanya karena diketahui oleh orang lain (Taufiq FR, Tak Henti Engkau Berlari Dikejar Rezeki, 107). Hal ini, termaktub dalam firman Allah yang berbunyi:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Baqarah [2]: 271).

Antara Sedekah Tersembunyi dan Terang-terangan, Manakah yang Lebih Utama?

Ayat di atas, menjelaskan bahwa menyembunyikan sedekah sunah lebih utama daripada menampakkannya. Begitu juga dengan ibadah lainnya, melakukannya dengan sembunyi-sembunyi lebih baik jika memang ibadah tersebut adalah ibadah sunnah. Karena melakukannya secara sembunyi-sembunyi lebih bisa menjamin kemurniannya. Kecuali jika melakukannya secara terang-terangan diyakini bisa mendatangkan maslahat, seperti bisa menarik orang lain untuk menirunya (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, 02/97).

Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa sedekah secara sembunyi-sembunyi itu lebih baik daripada secara terang-terangan. Alasannya, sedekah secara tersembunyi cenderung lebih bisa menghindari riya’ atau pamrih. Namun ini akan berbeda jika sedekah secara terang-terangan dapat menarik banyak orang untuk ikut berbondong-bondong meniru bersedekah (Hasan Muhammad A, Panduan Beribadah Khusus Pria: Menjalankan Ibadah sesuai Tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, 536).

Baca juga: Keutamaan Ilmu dalam al-Quran dan Kiat Memiliki Seorang Anak yang Alim

Sejalan dengan itu, entah sedekah sunah ataupun wajib, tentu belum bisa dipungkiri dengan jelas tentang keterkaitannya dalam meraih kebaikan yang hakiki, hal ini dijelaskan dalam firman Allah yang berbunyi:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (QS. Ali Imran [3]: 92).

Syarat Meraih Hidup yang Baik

Dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan tentang ayat di atas bahwa menyebut iman adalah perkara yang mudah, tetapi mencapai hasil iman yang mulia adalah ujian hati yang berat. Orang belum akan mencapai kebaikan (birr) atau hidup yang baik bahkan jiwa yang baik, jika belum sanggup mendermawankan barang yang paling dicintainya (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 02/06).

Bukan hanya itu, simbol kebaikan ini tentunya memilki prinsip yang harus dipenuhi. Tentang hal ini, secara lahiriyah termaktub dalam firman Allah yang berbunyi:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah [2]: 177).

Dalam ayat di atas, kebajikan mampu terpenuhi manakala mempunyai lima prinsip (Ahmad Nur Alam B, Manusia dalam Perspektif Pendidikan Al-Qur’an, 246), yaitu:

  1. Prinsip aqidah (al-Iman), meliputi iman kepada Allah, hari akhir, kemudian para malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.
  2. Prinsip sosial atau kemanusiaan (al-Mu’amalah), yaitu memberikan harta yang dicintainya kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta-minta, dan hamba sahaya.
  3. Prinsip ubudiyah (‘ibadah), seperti mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.
  4. Prinsip berkomitmen (mu’ahadah), yaitu menempati janji bilamana ia berjanji.
  5. Prinsip integritas, yaitu sabar di dalam kesempitan dan penderitaan.

Maka dari itu, dari pemaparan yang di atas dapat disimpulkan bahwasannya bersedekah dengan cara tersembunyi adalah cara yang terbaik bilamana melaksanakan sedekah sunah. Namun, kebaikan yang diliputi daripada sedekah tersebut tentunya harus memegang prinsip aqidah, sosial, ubudiyah, berkomitmen, dan untegritas. Akhir kata, wallahu a’lamu bishowab[].

Baca juga: Bebas Bukan Berarti Tanpa Etika, Berikut Etika Jurnalistik dalam Al-Quran

Berapa dan Apa Saja Ayat Mansukh dalam Al-Qur’an? Ini Pendapat Para Ulama

0
Berapa dan Apa Saja Ayat yang Dinasakh dalam Al-Qur’an? Ini Pendapat Para Ulama
Nasikh dan mansukh dalam Al-Qur’an

Ilmu nasakh termasuk salah satu komponen penting yang harus dikuasai oleh mereka yang ingin memahami langsung ayat-ayat Al-Qur’an. Mengetahui mana ayat mansukh atau yang dihapus, baik teks dan atau hukumnya saja, dan mana ayat nasikh atau yang menghapus menurut al-Suyuti dan banyak ulama termasuk syarat mutlak menjadi seorang mufassir.

Bayangkan jika seumpama ada mufassir yang tidak menguasai betul ilmu ini, bisa saja dia menetapkan hukum dari ayat yang sudah tergantikan dengan hukum dari ayat lain. Jadi, meskipun ayat tersebut masih terdapat dalam Al-Qur’an dan terus dibaca hingga hari ini, jika termasuk ayat mansukh, hukum yang dikandungnya tidak boleh diberlakukan lagi. Ini pendapat mayoritas ulama.

Baca juga: Contoh Penafsiran dengan Menggunakan Ilmu Nasakh

Akan tetapi masalahnya adalah, untuk menentukan jumlah ayat yang dinasakh secara pasti itu sangat sulit, karena tidak ada ketentuan yang benar-benar disepakati di kalangan para ulama. Seperti pertanyaan mendasar tentang apa definisi dari nasakh itu sebenarnya? Bagaimana konsep pemberlakuan nasakh? bahkan ada-tidaknya nasakh itu sendiri juga masih diperselisihkan. Oleh karena itu, wajar kiranya jika pertanyaan tentang apa saja dan berapa jumlah ayat yang dinasakh itu tidak satu jawaban.

Ulama yang meyakini adanya nasakh dalam Al-Qur’an, menentukan jumlah ayat yang dinasakh berdasarkan subjektivitas pemahaman masing-masing mereka terhadap penafsiran suatu ayat. Ada yang menganggap ayat tertentu bertentangan dengan ayat lain dan tidak ada cara mengkompromikan keduanya kecuali dengan menasakh ayat yang turun di awal dengan ayat yang turun belakangan. Namun bagi ulama lain, kedua ayat tersebut tidak saling bertentangan, maka tidak ada nasakh dan keduanya sama-sama dapat berlaku secara bersamaan.

Jumlah ayat mansukh menurut ulama dari masa ke masa

Secara garis besar, perbedaan penentuan jumlah ayat yang dinasakh ini cenderung mengerucut jumlahnya dari masa ke masa. Jumlah ayat yang dinasakh menurut ulama terdahulu (mutaqaddimin) cenderung lebih banyak ketimbang apa yang diyakini ulama yang datang kemudian (mutaakhkhirin).

Baca juga: Konsep Nasikh Mansukh Menurut Syah Waliyullah al-Dahlawi

Berikut beberapa pendapat ulama tentang jumlah ayat yang dinaskh dalam Al-Qur’an:

  1. Menurut ulama mutaqaddimin (sahabat dan tabi’in), jumlah ayat yang dinasakh mencapai 500 ayat, bahkan lebih. Syah Waliyyullah al-Dahlawi menerangkan ini terjadi karena pemahaman nasakh mereka masih berdasarkan makna nasakh secara bahasa. Berbeda dengan ulama mutaakhkhirin yang memahami nasakh berdasarkan istilah yang semakin mempersempit maknanya. Misalnya ketika ada ayat yang bermakna umum atau mutlak, kemudian dikhususkan, dikecualikan, atau diikat dengan sifat tertentu, ini menurut ulama mutaqaddimin sudah dikategorikan sebagai ayat mansukh. Sedangkan menurut ulama mutaakhkhirin, ini belum termasuk nasakh (al-Fauz al-Kabir fi Ushul al-Tafsir, hal. 47).
  2. Gamal al-Banna dalam Tafnid Da’wa al-Nasakh fi al-Qur’an (hal. 14-15) menyebutkan pendapat beberapa ulama tentang jumlah ayat-ayat mansukh yang masih tergolong banyak, namun tidak sebanyak pendapat ulama mutaqaddimin. Antara lain Ibn al-Jauzi yang berpendapat ada 247 ayat mansukh, Abu ‘Abdullah ibn Hazm berpendapat 210 ayat, Ibn Salamah berpendapat 212 ayat, Abu Ja‘far al-Nahhas berpendapat 134 ayat, dan ‘Abdul Qadir al-Baghdadi berpendapat 66 ayat.
  3. Al-Zarkasyi dalam al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (hal. 353) menyebutkan bahwa ayat-ayat yang dinaskh hukumnya saja -bukan teksnya- itu terdapat dalam 63 surah. Beliau ketika menjelaskan hal ini tidak memerinci surah apa saja yang memuat ayat-ayat mansukh, atau ayat mana saja spesifiknya. Namun yang pasti jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah surah yang beliau sebutkan.
  4. Al-Suyuti dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (hal. 466-467) menyebutkan jumlah ayat yang dinasakh menurutnya ada 20 ayat, yaitu QS. Al-Baqarah: 180, 184, 187, 217, 240, 284; Ali Imran: 102; An-Nisa: 8, 15, 33; Al-Ma’idah: 2, 42, 1o6; Al-Anfal: 65; At-Taubah: 41; An-Nur: 3, 58; Al-Ahzab: 52; Al-Mujadalah: 12; dan Al-Muzzammil: 2.
  5. Al-Zarqani dalam Manahil al-‘Irfan (vol. 2, hal. 199-212) menyatakan ada tujuh kelompok ayat saja yang tergolong ayat mansukh. Kesimpulan ini didapat setelah ia mengkaji kembali 22 ayat yang sering dianggap para ulama sebelumnya telah dinasakh. Ketujuh kelompok ayat mansukh versi al-Zarqani ialah Al-Baqarah: 180, Al-Baqarah: 184, Al-Baqarah: 240, An-Nisa: 15-16, An-Nur: 3, Al-Mujadalah: 12, dan Al-Muzzammil: 1-4.
  6. Syah Waliyyullah al-Dahlawi kemudian mengerucutkan lagi menjadi hanya lima ayat saja. Lima ayat Al-Qur’an yang menurut al-Dahlawi telah dinasakh adalah QS. Al-Baqarah: 180, Al-Baqarah: 234, Al-Anfal: 65, Al-Ahzab: 52, dan Al-Mujadalah: 12 (al-Fauz al-Kabir fi Ushul al-Tafsir, hal. 52).

Penutup

Demikian beberapa pandangan ulama tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dinasakh. Adapun nasikh atau ayat yang menasakh bisa jadi jumlahnya lebih banyak atau lebih sedikit dari ayat yang dinasakh. Bisa jadi pula ada yang nasikhnya bukan ayat juga, melainkan hadis, karena ada perbedaan pendapat tentang apakah Al-Qur’an bisa dinasakh oleh selainnya atau tidak. Untuk penjelasan lebih lengkapnya lagi, pembaca dapat merujuk langsung ke kitab-kitab ulumul qur’an yang sebagian telah penulis sebut di atas.

Baca juga: Bolehkah Menasakh Al-Qur’an dengan Hadits?

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 29

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 29 berbiacara mengenai kekuasaan Allah SWT. Salah satu tandanya adalah selain menciptakan langit dan bumi juga menciptakan makhluk yang ada di antara keduanya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 27-28


Ayat 29

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa sebagian dari tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya ialah diciptakan-Nya langit dan bumi serta apa yang tersebar pada keduanya seperti binatang yang melata dan bergerak termasuk manusia, jin, dan semua hewan dengan berbagai bentuk dan corak serta warnanya.

Allah Mahakuasa mengumpulkan manusia di hari kemudian, baik yang datang lebih dulu maupun kemudian, begitu juga makhluk yang lain di Padang Mahsyar. Kemudian Dia akan memberikan balasan kepada mereka dengan seadil-adilnya, sebagaimana firman Allah:

;وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْاَرْضَ بَارِزَةًۙ وَّحَشَرْنٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ اَحَدًاۚ   ٤٧

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. (al-Kahf/18: 47)

Apabila ayat di atas diperhatikan, kita merasa bahwa Allah sedang menjelaskan mengenai adanya makhluk hidup lain di luar angkasa. Sebelum membahas ayat di atas, perlu disimak terlebih dahulu ayat terkait di bawah:

;وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ   ١٣

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang bepikir. (al-Jasiyah/45: 13)

Ayat di atas menyebutkan kata “menundukkan”. Kata tersebut dapat diinterpretasikan bahwa manusia dapat memanfaatkan benda-benda langit, seperti planet dan bintang. Contohnya adalah bulan dan matahari yang mempunyai orbit yang teratur.

Keteraturan orbit ini digunakan manusia untuk membuat penanda waktu atau penanggalan dan hal-hal lain untuk keperluan hidupnya. Contoh lain adalah mengenai datangnya besi dari luar angkasa yang secara jelas dinyatakan pada Surah al-Hadid/57: 25.

Secara jelas disebutkan bahwa Allah telah menciptakan galaksi, planet, bintang dan benda langit lainnya, dan menyebarkan padanya, di antaranya, makhluk hidup sebagai hasil ciptaan-Nya. Artinya, sangatlah memungkinkan bahwa Dia mengirimkan ciptaan dari satu planet ke planet lainnya. Demikian pula halnya dengan dua ayat lain yang membahas mengenai binatang ternak yang diturunkan dari ruang angkasa. (al-An’am/6:143 dan az-Zumar/39: 6)


Baca juga: Bebas Bukan Berarti Tanpa Etika, Berikut Etika Jurnalistik dalam Al-Quran


Dari sudut ilmu pengetahuan, banyak pembuktian mengarah pada apa yang dijelaskan Al-Qur’an. Pada tanggal 7 Agustus 1996, para peneliti NASA (badan antariksa Amerika Serikat) mengumumkan akan adanya temuan kehidupan mikroskopis di planet Mars tiga miliar tahun yang lalu.

Walaupun banyak yang menentang teori ini, namun temuan pesawat ruang angkasa Galileo akan adanya laut yang berwarna merah di bawah lapisan es di satelit planet Jupiter, Europe, sangat menjanjikan.

Dalam waktu dekat akan terjawab pertanyaan tertua yang selalu tertanam dalam benak manusia: “Apakah ada makhluk hidup di atas sana? Ataukah kita yang ada di dunia ini adalah satu-satunya makhluk hidup di alam raya?”

Apabila memang ada kehidupan di atas sana, maka di manakah mereka dapat ditemukan? Tebakan kita, pertama adalah di planet-planet yang ada di sana. Di “bumi-bumi” yang ada pada galaksi-galaksi yang ada di alam semesta. Al-Qur’an menjelaskan fenomena tersebut pada Surah at-Talaq/65: 12 yang menyatakan, “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa.”

Dengan demikian, karena terdapat jutaan galaksi, maka Allah juga menciptakan miliaran bumi, tersebar di alam semesta. Sedangkan kata “bumi” yang digunakan di sini menunjukkan planet yang mempunyai kehidupan.

Dengan berpegang pada pernyataan Al-Qur′an dan sedikit bukti yang diperoleh ilmu pengetahuan, kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa makhluk di luar angkasa memang ada.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita akan dapat menemukannya? Allah memberikan indikasinya pada Surah Fu¡¡ilat/41: 53 “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru…” Indikasi ini memberikan harapan bahwa pada suatu ketika kita akan dapat bertemu dengan kehidupan di luar planet bumi (ektraterestrial), termasuk di dalamnya makhluk yang cerdas.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 30


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 27-28

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 27-28 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai pengetahuan Allah terhadap hikmah pembagian rizki masing-masing makhluknya. Kedua berbicara mengenai kekuasaan Allah atas segala sesuatu. Salah satunya penurunan hujan.


Baca juga: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 25-26


Ayat 27

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia tidak akan memberi hamba-Nya rezeki yang berlimpah-limpah, jika pemberian itu bisa membawa mereka kepada keangkuhan dan ketakaburan, sebagaimana firman Allah:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ  ٦  اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ  ٧

Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. (al-‘Alaq/96: 6-7)

Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya dengan kadar tertentu, sesuai kehendak dan selaras dengan kebijaksanaan-Nya.

Dengan sifat rahman Allah, Dia tetap memberikan rezeki meskipun orang itu tidak beriman, bahkan ketika melupakan Tuhannya, saat itulah Allah melimpahkan lebih banyak lagi rezekinya. Apabila mereka tetap tidak bersyukur, dan larut dalam kesenangan, barulah Allah menjatuhkan azabnya sebagaimana firman Allah:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ  ٤٤

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (al-An’am/6: 44)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa kekayaan seseorang bukan indikator bahwa Allah sayang kepadanya, tetapi kekayaan justru menjadi batu ujian bagi keimanan seseorang.

Contoh bagaimana sikap seseorang terhadap kekayaannya, dapat dilihat apakah dia menggunakannya untuk memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain, karena keterlibatan hak orang lain pada kekayaannya dan sebagai tanda bersyukur kepada sang pemberi kekayaan, atau dia menggunakan kekayaan itu hanya untuk kesenangan dirinya dan mengaku bahwa kekayaannya diperoleh melalui usahanya sendiri, sehingga lupa kepada Allah yang memberi kekayaan. Allah berfirman:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ  ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ࣖ  ٢٨

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (al-Anfal/8: 28)

Dalam hal ini, Karun dan Fir’aun menjadi contoh nyata, karena kekayaan dan kejayaannya menyebabkan keduanya sombong kepada Allah.

Abu Hani’ al-Khaulany berkata, “Saya mendengar ‘Amr bin Khurait dan lainnya mengatakan bahwasanya ayat ini (ayat 27) diturunkan kepada ahlu¡-¡uffah (penghuni beranda masjid Nabi di Medinah); mereka berangan-angan memiliki harta benda (yang bertumpuk-tumpuk), mereka mengangankan kemegahan dunia.


Baca juga: Keutamaan Ilmu dalam al-Quran dan Kiat Memiliki Seorang Anak yang Alim


Ayat 28

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menurunkan hujan dari langit, membantu mereka yang telah berputus asa karena air yang diharapkan datang dari langit tak kunjung datang.

Dia-lah yang memberi berkah hujan itu dan mendatangkan manfaat yang banyak serta menjadikan tanah subur. Dia-lah yang menguasai urusan hamba-Nya, memberikan mereka maslahat. Dia-lah yang wajib dipuji atas rahmat yang telah dikaruniakan kepada mereka.

Qatadah berkata, “Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada ‘Umar bin al-Khattab, Hujan tidak turun, manusia sudah putus asa wahai Amirul Mukminin. Umar menjawab, Engkau sekalian akan dikaruniai hujan, lalu beliau membaca ayat ini.”

Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 29

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 25-26

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 25-26 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai tobat dan syarat-syaratnya. Kedia berbicara mengenai doa-doa orang saleh yang pasti dikabulkan oleh Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 23-24


Ayat 25

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menerima tobat hamba-Nya, memaafkan perbuatan dosa dan kejahatan.

Sayyidina Ali pernah ditanya tentang tobat. Beliau menjawab bahwa tobat itu ada enam syarat yaitu:

  1. Menyesali perbuatan maksiat yang telah dikerjakan pada masa lalu.
  2. Mengerjakan ibadah wajib yang telah ditinggalkan.
  3. Mengembalikan hak orang yang telah diambilnya secara zalim.
  4. Memaksakan diri merasakan pahitnya ketaatan sebagaimana dia merasakan manisnya maksiat.
  5. Menundukkan hawa nafsu dalam ketaatan sebagaimana ia telah memanjakannya dengan berbuat kemaksiatan.
  6. Menangis, sebagai ganti gelak tawa yang pernah dilakukannya.

Ayat ini ditutup dengan penjelasan bahwa Allah itu Maha Mengampuni segala dosa dan mengetahui segala apa yang dikerjakan hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, lalu mereka dibalas dengan pahala atau siksa.


Baca sebelumnya: Ada Isyarat Mitigasi Bencana dalam Mimpi Sang Raja di Kisah Nabi Yusuf


Ayat 26

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia senantiasa memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan menambah bagi mereka pahala dan karunia, sebagaimana firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Gafir/40: 60);Allah berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. (al-Baqarah/2: 186);Sebaliknya bagi orang-orang kafir, di hari Kiamat nanti mereka akan merasakan azab yang sangat pedih.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 27-28


(Tafsir Kemenag)

Bukan Sekadar Tafsir, Berikut 3 Ciri Tafsir Ideal yang Dibutuhkan Umat

0
Bukan Sekadar Tafsir, Ini 3 Ciri Tafsir Ideal yang Dibutuhkan Umat
Khazanah tafsir Al-Qur'an yang tak terhitung jumlahnya

Al-Qur`an  yang menjadi rujukan utama umat Islam tidak hanya sekadar kitab suci dibaca, namun juga harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara untuk bisa memahami dan menerapkan al-Qur`an dalam kehidupan adalah dengan membaca tafsirnya.

Sejak masa klasik hingga kontemporer saat ini, telah banyak kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para mufassir. Maka ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungi sekarang: “Tafsir seperti apa yang ideal untuk umat?”

Setidaknya ada tiga ciri tafsir ideal yang penulis pahami dari berbagai pandangan ulama, di mana ketiganya saling terkait dan berhubungan antara satu dan lainnya. Dua ciri pertama dilihat dari produk tafsir yang dihasilkan. Satu ciri terakhir dilihat dari sikap seorang mufassir terhadap kebenaran tafsirnya. Ketiga ciri tersebut ialah pertama, mampu merespons permasalahan umat. Kedua, mencegah kerusakan dan mewujudkan kemaslahatan. Ketiga, menafikan kebenaran mutlak suatu penafsiran. Berikut uraiannya:

Merespons Permasalahan Umat

Ciri pertama tafsir ideal ialah tafsir yang responsif terhadap permasalahan umat di setiap zamannya, termasuk juga permasalahan yang muncul di masa sekarang. Ini sebagaimana halnya al-Qur`an yang turun secara berangsur-angsur pada masa Nabi Muhammad saw. untuk menjawab persoalan-persoalan yang silih berganti yang terjadi pada umat ketika itu (Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur`ān).

Hal ini juga sudah seharusnya bisa diterapkan di masa sekarang. Al-Qur`an diharapkan mampu memberikan solusi untuk setiap permasalahan yang dihadapi umat. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika penafsiran al-Qur`an selalu mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pada era klasik misalkan, bentuk tafsir yang akrab dikenal para ahli tafsir adalah tafsir bi al-ma`tsūr (tafsir dengan riwayat), yaitu penafsiran al-Qur`an yang dilakukan dengan cara merujuk kepada riwayat, baik riwayat itu yang disandarkan kepada perkatan Nabi saw., sahabat, maupun tabi’in, atau tafsir ayat al-Qur`an dengan ayat al-Qur`an lainnya.

Pada perkembangan berikutnya mulai muncul bentuk tafsir bi al-ra`y, yaitu tafsir yang tidak hanya menggunakan riwayat, tetapi juga menggunakan atau didominasi oleh ijtihad pribadi para mufassir dalam memahami isi kandungan al-Qur`an.

Kemudian muncul empat metode tafsir yang dikenal oleh para pengkaji tafsir dengan ragam coraknya, yaitu metode ijmali (global), metode tahlili (analitik), metode muqarin (perbandingan), dan metode maudhu’i (tematik). Adapun corak tafsir sangat beragam macamnya sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh para mufassir, seperti corak fikih, teologi, filsafat, tasawuf, dan lainnya.

Selanjutnya mulai muncul metode-metode tafsir yang lebih aktual, seperti metode tafsir maqashidi (tafsir berbasis maqashid al-syari’ah dan maqashid al-qur`an) dan metode hermeneutika dengan ragam teori, seperti teori double movement Fazlur Rahman, teori rethinking Muhammad Arkoun, teori tafsir pembebasan Farid Esack, dan lainnya.

Dengan melihat perkembangan metode dan teori dalam menafsirkan al-Qur`an, tidak menutup kemungkinan akan selalu muncul metode dan teori baru untuk menafsirkan al-Qur`an. Hal ini bertujuan guna merenspons dan menjawab persoalan zaman yang semakin kompleks. Maka salah satu ciri tafsir ideal adalah mampu merespon permasalahan umat di setiap zamannya.

Baca juga: Tafsir Maqashidi: Sebuah Pendekatan Tafsir yang Applicable untuk Semua Ayat

Mencegah Kerusakan dan Mewujudkan Kemaslahatan

Ciri kedua tafsir ideal adalah mampu mencegah kerusakan dan mewujudkan kemaslahatan, baik dalam ranah keimanan manusia kepada Tuhan, ranah hubungan sosial antar sesama, maupun ranah hubungan ekosistem antara manusia dengan lingkungan sekitar (Argumentasi Keniscayaan Tafsir Maqashidi sebagai Basis Moderasi Islam).

Ciri tafsir ideal kedua ini memiliki keterkaitan yang erat dengan ciri pertama. Di mana, meskipun suatu tafsir mampu merespon permasalahan umat, namun apabila keluar atau melenceng dari ketiga ranah yang telah disebutkan, maka tafsir tersebut belum bisa dikatakan tafsir ideal.

Dalam ranah keimanan manusia kepada Tuhan, apabila tafsir yang dihasilkan menjadi penyebab rusaknya akidah dan tidak mewujudkan kemaslahatan dalam ranah keimanan kepada Tuhan, maka tafsir tersebut tidak bisa dikatakan tafsir ideal. Misalkan tafsir yang mengarah kepada paham pluralisme yang menganggap bahwa semua agama benar, atau mencampuradukkan antara keyakinan agama Islam dengan agama lain dalam hal akidah. Maka tafsir demikian bukan termasuk tafsir ideal.

Dalam ranah sosial hubungan antarsesama manusia, jika tafsir yang dihasilkan justru membuat kerusakan dan tidak mewujudkan kemaslahatan dalam interaksi sosial, maka tafsir tersebut juga tidak bisa dikatakan tafsir ideal. Misalkan tafsir yang mengarah kepada paham radikalisme, terorisme, peperangan, dan semisalnya. Tafsir yang demikian tersebut bukan termasuk tafsir ideal.

Demikian halnya dalam ranah hubungan manusia dengan lingkungan sekitar. Jika tafsir yang dihasilkan menyebabkan terjadinya kerusakan alam dan tidak mewujudkan kemaslahatan, maka tafsir tersebut juga bukan termasuk tafsir ideal. Misalkan tafsir yang mengarah kepada eksploitasi alam. Tafsir yang demikian bukan termasuk tafsir ideal.

Melihat beberapa contoh di atas, maka tafsir ideal ialah tafsir yang tidak hanya merespons permasalahan yang terjadi, tetapi juga mampu mencegah kerusakan dan mewujudkan kemaslahatan, baik dalam ranah keimanan yaitu hubungan manusia kepada Tuhan, ranah sosial yaitu hubungan manusia dengan sesama, maupun ranah ekosistem yaitu hubungan manusia dengan lingkungan.

Baca juga: Tugas Khalifah dan Krisis Ekologi: Tafsir Kiai Sahal Mahfudh [Bagian 1]

Menafikan Kebenaran Mutlak Suatu Penafsiran

Sebaik-baik mufassir ialah yang tidak mengakui kemutlakkan akan kebenaran tafsirnya. Karena yang mengetahui kebenaran hakiki dari makna yang terkandung di balik ayat-ayat al-Qur`an  hanya Allah Swt. semata. Tugas mufassir adalah berusaha memahami makna yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Qur`an  sesuai dengan porsi kemampuan akal pemikiran manusia yang sangat terbatas (Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān).

Boleh jadi pemahaman kita keliru dan pemahaman orang lain yang benar. Dengan menafikan kebenaran mutlak suatu penafsiran, akan tercipta rasa saling menghargai dan menghormati, sehingga akan tercipta keharmonisan antarsesama.

Adapun jika seseorang mengakui hanya pemahaman tafsirnya yang paling benar, maka keadaan seperti ini dapat menyebabkan munculnya fanatisme yang berlebihan terhadap satu pemahaman tafsir tertentu, dan serta-merta akan menyalahkan tafsir-tafsir lain yang tidak sejalan dengan tafsir yang ia yakini. Bahkan lebih berbahaya lagi, jika seseorang sampai pada level mencaci dan menghina dengan membabi-buta orang-orang yang tidak sepaham dengannya.

Melihat ketiga ciri tafsir ideal di atas, maka untuk mewujudkan tafsir ideal tidak cukup hanya melihat dari produk tafsir itu sendiri, melainkan juga bagaimana sikap seorang mufassir, termasuk juga umat Islam pada umumnya, dalam menyikapi ragam tafsir yang ada. Karena sudah tentu tafsir al-Qur`an  akan semakin beragam, dan semakin banyak metode maupun teori yang digunakan oleh para pengkaji tafsir dalam usaha untuk mengungkap dan memahami makna-makna yang sangat kaya yang terkandung di balik ayat-ayat al-Qur`an. Wallahu a’lam.

Baca juga: Mengurai Dua Peta Tipologi Pemikiran Tafsir Kontemporer

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 23-24

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 23-24 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai informasi-informasi ukhrawi yang disampaikan ketika di dunia. Kedua mengenai penolakan terhadap tuduhan-tuduhan orang-orang kafir terhadap Nabi Muhammad SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 21-22


Ayat 23

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang telah diberitakan mengenai pemberian karunia dan kesenangan serta kemuliaan di akhirat bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh adalah suatu berita gembira yang disampaikan di dunia agar jelas bagi mereka bahwa hal ini pasti menjadi kenyataan.

Selanjutnya Allah memerintahkan Muhammad saw menyampaikan kepada kaumnya bahwa di dalam menjalankan tugas menyeru dan menyampaikan agama yang benar, ia tidak meminta balasan apa pun, tetapi ia hanya mengharapkan kasih sayang terhadap dirinya dan kerabatnya.

Barang siapa berbuat baik, taat, dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melipatgandakan kebaikan kepadanya. Satu kebaikan dibalas sekurang-kurangnya dengan sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan bahkan lebih banyak lagi, sebagai rahmat dan karunia dari Allah, sebagaimana firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۚوَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا  ٤٠

Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya. (an-Nisa’/4: 40)

Firman Allah:

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. (al-An’am/6: 160)

Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (al-Baqarah/2: 261)

Selanjutnya ayat 23 ini ditutup dengan suatu penjelasan bahwa Allah mengampuni kesalahan hamba-Nya bagaimanapun banyaknya dan melipatgandakan pahala amal kebaikan meskipun sedikit, karena Dia adalah Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.


Baca juga: Keutamaan Ilmu dalam al-Quran dan Kiat Memiliki Seorang Anak yang Alim


Ayat 24

Dalam ayat ini Allah menolak tuduhan kaum musyrikin Mekah bahwa Muhammad saw itu mengada-adakan dusta terhadap Allah. Ini adalah perbuatan yang amat buruk. Seandainya Allah menghendaki, tentu Dia dapat mengunci mati hati mereka, karena perbuatan semacam itu tidak dilakukan kecuali oleh kaum musyrikin.

Tetapi sunah Allah telah berlaku dan akan terus berlaku bahwa Dia selalu menghancurkan dan menghapuskan yang batil serta menguatkan yang hak dan menanamkan hakikat yang hak itu di kalangan manusia sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.

Itulah sebabnya agama yang dibawa oleh Muhammad saw hari demi hari makin bertambah kuat dan mantap, makin tersebar luas, serta semakin bertambah banyak penganutnya.

Allah Maha Mengetahui semua yang tersimpan dalam hati, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, maka segala sesuatu terjadi berdasarkan ilmu Allah yang amat luas, meliputi segala sesuatu.

Oleh sebab itu, tuduhan mereka terhadap Nabi Muhammad yang dianggap telah mengada-adakan kebohongan tentang Allah diketahui oleh-Nya dan telah dibuktikan ketidakbenarannya dalam ayat ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 25-26


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

0
Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam
Gus Dur

Abdurrahman Wahid atau lebih akrap disapa Gus Dur adalah tokoh nasional yang mendunia. Ia dikenal luas sebagai sosok pejuang moderasi beragama. Walau pandangan-pandangannya yang ‘terlampau jauh’ seringkali membuat kebanyakan orang gagal paham.

Ada satu buku milik Gus Dur yang cukup menarik berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini mulanya merupakan kumpulan tulisan Gus Dur yang menyimpan gagasan brilian tentang moderasi. Di dalamnya ada banyak penafsiran-penafsiran kontekstual Gus Dur atas ayat-ayat Al-Quran yang mewacanakan Islam moderat. Tulisan ini mencoba mengulik bagaimana Gus Dur mengkontekstualisasikan pesan-pesan Al-Quran dalam kehidupan terutama soal keberagaman dan keberagamaan.

Tafsir Kontekstual Gus Dur

Tafsir kontekstual adalah sebuah strategi menanamkan nilai-nilai Al-Quran dalam setiap aspek kehidupan. Mulai aspek agama, sosial, politik, hingga ekonomi. Secara istilah, tafsir kontekstual adalah menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan menganilisis perspektif kebahasaan, historis, antropologi, dan sosiologi yang berkembang dalam kehidupan sebelum Islam dan perkembangan Islam seiring dengan turunnya wahyu Al-Quran, kemudian menemukan pesan moral dan hal-hal pokok di dalamnya (Saleh, Metodologi Tafsir Kontemporer dalam Pandangan Fazlur Rahman, hlm. 58).

Mengingat teks Al-Quran yang multi-interpretatif dan sering diperdebatkan, maka muncullah penafsiran dengan pendekatan yang kontekstual ini. Untuk itulah, setelah menggali pesan moral yang terkandung dalam ayat, langkah selanjutnya adalah kontekstualisasi dengan mendialogkan ayat sesuai realita sekarang. Ini berarti sebuah upaya menafsirkan ayat dengan melakukan proyeksi dalam situasi kekinian, dengan memperhatikan segi historis dan lafdziyah sehingga fenomena-fenomena yang ada di masyarakat dibawa pada makna Al-Quran yang dinamis (Hasbiyallah, Paradigma Tafsir Kontekstual: Upaya Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an, hlm. 32).

Qatrun Nada dalam Tafsir Kontekstual KH. Abdurrahman Wahid (Telaah 9 Nilai Utama Pemikiran Gus Dur) menyebutkan bahwa tafsir kontekstual Gus Dur jika dilihat dari sumbernya, tergolong tafsir bi al-ra’y berdasarkan beberapa analisis kebahasaan, kaidah tafsir, dan ushul fiqh akan dalam menafsirkan teks Al-Qur’an. Namun tidak dapat dipastikan konsistensinya karena Gus Dur sendiri belum pernah menyatakan diri sebagai seorang ahli tafsir. Jika dilihat dari segi metode, tafsir kontekstual Gus Dur tergolong tematik, yakni berawal dari problem sosial yang menjadi topik kajian kemudian dikontekstualisasikan makna ayat secara tepat meskipun tidak rinci, baik rasional maupun supra-rasional.

Corak penafsiran Gus Dur adalah ijtima’i (sosial kemasyarakatan) berdasarkan problem kemanusiaan dan kebangsaan. Pada beberapa penafsiran ayat seringkali berupa autokritik terhadap pemahaman teks keislaman yang sering diperdebatkan serta berisi beberapa gagasan sebagai kontemplasi, khususnya untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan dan kebangsaan. Gus Dur seringkali menafsirkan ayat-ayat Al-Quran menggunakan takwil dan dirumuskan sesuai ideologi Sunni moderat yang dijadikan prinsip.

Baca juga: Penafsiran Kontekstual Gus Dur Terhadap Surat Al-Nisa Ayat 34

Pluralisme, Toleransi, dan Perdamaian

Gus Dur kerap berpesan khususnya bagi para cendekiawan dan intelektual muslim bahwa kitab-kitab tafsir klasik tidaklah dogmatis (anti pembaruan). Maka sah-sah saja, bahkan penting untuk mengembangkan serta mengkontekstualisasikan wacana, pemahaman, dan penafsiran para ulama terdahulu (NU Online, Gus Dur: Perlu Kontekstualisasi Tafsir). Pemikiran-pemikiran Gus Dur tentang moderasi beragama sejatinya berpulang pada tiga prinsip utama, yaitu pluralisme, toleransi, dan perdamaian.

Pertama, prinsip pluralisme. Ketika menjelaskan arti penting pluralisme, Gus Dur menyitir QS. Al-Hujurat [49]: 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  ١٣

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Gus Dur dalam bukunya, Islamku, Islam Anda, Islam Kita memaknai ayat ini sebagai dasar prinsip pluralisme; bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan segenap perbedaan, baik laki-laki dan perempuan, suku, adat, etnis, bahasa, dan bangsa. Perbedaan di antara umat manusia telah memberikan warna dalam kehidupan dan menjadi sarana untuk saling mengenal—tentu juga saling memahami—satu sama lain. Ayat ini ditutup dengan jaminan persamaan hak semua manusia. Bahwa yang menjadi pembeda di sisi Tuhan adalah tingkat dan kualitas ketakwaannya, bukan yang lain.

Prinsip pluralisme ini akan melahirkan prinsip kedua, toleransi. Harus diakui, cara terbaik menghadapi perdebatan terutama masalah keagamaan adalah dengan mengakui bahwa Islam menghargai perbedaan dan keragaman. Bagi Gus Dur, QS. Ali Imran [3]: 103 sudah cukup terang benderang. Islam tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat atau pandangan. Silang pendapat itu sudah wajar. Sebab, apa yang diwanti-wanti oleh Islam justru adalah pertentangan dan perpecahan (Gus Dur, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, hlm. 154).

Dalam kehidupan beragama dan berbangsa, prinsip toleransi sangatlah penting untuk menghapus segala bentuk diskriminasi, otoriter, tindak kekerasan dan menganggap rendah orang lain. Gus Dur meyakini Islam adalah agama yang sempurna dan komplit. Islam sudah menetapkan pokok-pokok dan prinsip ajarannya. Sementara hal-hal yang sifatnya rinci dan detal (cabang) mesti dipahami sesuai dengan situasi serta kondisi yang sedang berkembang. Bagaimanapun juga, perbedan pendapat hanya terjadi pada perincian (cabang) ajaran Islam, tidak pada pokok dan prinsipnya.

Prinsip ketiga adalah perdamaian. Prinsip perdamaian ini bermuara pada QS. Al Baqarah [2]: 208:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ  ٢٠٨

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Menurut Gus Dur dalam bukunya, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, kata al-silmi pada ayat ini lebih bermakna perdamaian. Karena itu, mayoritas kaum muslimin sepakat bahwa Islam adalah agama pengayom dan pelindung tanpa pandang bulu. Lebih jauh Gus Dur mengaitkan (memunasabahkan) ayat ini dengan QS. Al Anbiya’ [21]: 107; bahwa Nabi saw diutus tidak lain adalah sebagai rahmat untuk semesta alam. Dengan mengutip beberapa mufasir yang memaknai kata al-‘alamin terbatas pada manusia, Gus Dur lalu membuat kesimpulan bahwa kehadiran Nabi saw untuk menguatkan rasa persaudaraan dan menabur perdamaian antar sesama manusia. Wallahu a’lam []

Baca juga: Mengulik Kembali Nilai Pluralisme dalam Surah Al-Hujurat Ayat 13

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 21-22

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 21-22 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai orang-orang musyrik yang tidak mengikuti seruan Allah. Kedua berbicara mengenai perbedaan antara orang-orang mukmin dan zalim ketika di akhirat kelak.


 Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 19-20


Ayat 21

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang musyrik tidak mengikuti agama Islam yang disyariatkan Allah, tetapi mengikuti apa yang digariskan oleh setan-setan mereka, baik yang berupa jin maupun manusia.

Mereka mengharamkan sesuatu menurut nafsu mereka seperti mengharamkan unta yang terpotong telinganya, dan menghalalkan bangkai, darah, judi, dan lain-lain. Begitu pula hal-hal yang menunjukkan kesesatan mereka yang telah dilakukan pada zaman jahiliyah.

Sekalipun demikian mereka masih diberi kesempatan untuk bertobat, karena Allah telah menggariskan suatu ketentuan, yaitu penangguhan azab bagi mereka sampai hari Kiamat. Kalau tidak, niscaya mereka itu sudah dibinasakan, sebagaimana firman Allah:

بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ اَدْهٰى وَاَمَرُّ   ٤٦

Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (al-Qamar/54: 46)

Mereka itu telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri karena telah mengada-adakan hal-hal yang tidak disyariatkan Allah. Mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka, suatu tempat yang penuh siksa yang pedih dan seburuk-buruk tempat kembali.


Baca juga: Bebas Bukan Berarti Tanpa Etika, Berikut Etika Jurnalistik dalam Al-Quran


Ayat 22

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang zalim itu kelihatan takut, dibayang-bayangi oleh akibat dari berbagai perbuatan jahat yang pernah dilakukannya di dunia, dan siksa yang merupakan balasan dari perbuatan jahatnya yang pasti akan menimpa mereka.

Sedangkan orang-orang yang beriman kepada Allah serta taat kepada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya akan dimasukkan ke dalam surga, suatu tempat yang penuh dengan taman-taman yang indah, menikmati segala keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya sesuai dengan keinginannya baik yang berupa makanan, minuman, maupun yang berupa pemandangan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas dalam hati seorang manusia.

Semuanya itu adalah suatu kenikmatan besar yang dikaruniakan Allah kepada mereka, yang jauh lebih besar daripada kemewahan yang pernah ada di dunia, sebagaimana firman Allah:

ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ  ٢١

Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (al-Hadid/57: 21)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 23-24


(Tafsir Kemenag)