Beranda blog Halaman 268

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 1-3

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Al-Anbiya’ adalah surah ke 21 secara urutan mushaf, surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari 112 ayat. Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 1-3 menjadi pembuka tafsir kali ini, diawali dengan pembahasan tentang yaumul hisab (hari perhitungan). Suatu peistiwa yang pasti akan di alami manusia, dan terjadi setelah hari Kebangkitan.

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 1-3 menjelaskan bahwa di yaumul hisab, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawabannya. Baik orang kafir maupun mukmin akan mengalami peristiwa ini, dan akan berbeda perhitungannya. Orang kafir akan susah untuk melewati masa-masa ini, sebab sewaktu di dunia, mereka sempat tidak percaya akan adanya yaumul hisab.

Ayat 1

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa hari hisab atau perhitungan amal untuk manusia sudah dekat. Pada hari hisab itu kelak akan diperhitungkan semua perbuatan yang telah mereka lakukan selagi mereka hidup di dunia.

Selain itu, semua nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka diminta pertanggungjawabannya, baik nikmat yang ada pada diri mereka sendiri, seperti akal pikiran, makanan dan minuman, serta anak keturunan dan harta benda. Mereka akan ditanya, apa yang telah mereka perbuat dengan semua nikmat itu?

Apakah karunia Allah tersebut mereka gunakan untuk berbuat kebajikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya, ataukah semuanya itu digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang membuktikan keingkaran dan kedurhakaan mereka kepada-Nya?

Allah menegaskan bahwa manusia sesungguhnya lalai terhadap apa yang akan diperbuat Allah kelak terhadap mereka di hari Kiamat. Kelalaian itulah yang menyebabkan mereka tidak mau berpikir mengenai hari Kiamat, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjaga keselamatan diri mereka dari azab Allah.

Orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum musyrikin. Mereka adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya hari Kiamat, dan mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari hisab.

Namun demikian, ayat ini memperingatkan kepada mereka bahwa hari hisab sudah dekat. Ini adalah untuk menekankan, bahwa hari Kiamat, termasuk hari kebangkitan dan hari hisab, pasti akan datang, walaupun mereka itu tidak mempercayainya; dan hari hisab itu akan diikuti pula oleh hari-hari pembalasan terhadap amal-amal yang baik atau pun yang buruk.

Kaum musyrikin itu lalai dan tidak mau berpikir tentang nasib jelek yang akan mereka temui kelak pada hari hisab dan hari pembalasan itu. Padahal, dengan akal sehat semata, orang dapat meyakini, bahwa perbuatan yang baik sepantasnya dibalas dengan kebaikan, dan perbuatan yang jahat sepatutnya dibalas dengan azab dan siksa.

Akan tetapi karena mereka itu tidak mau memikirkan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat kelak, maka mereka senantiasa memalingkan muka dan menutup telinga, setiap kali mereka diperingatkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, yang berisi ancaman dan sebagainya.


Baca Juga : Benarkah Kata Hisab dalam Al-Quran Hanya Bermakna Perhitungan Amal?


Ayat 2

Dalam ayat ini Allah menunjukkan bukti-bukti kelalaian dan sikap masa bodoh kaum musyrikin, seperti ketika mereka mendengar ayat-ayat yang diturunkan Allah, yang disampaikan kepada mereka oleh Rasulullah saw, mereka tidak menggubrisnya, bahkan mereka memperolok-olokkannya.

Dengan demikian, ayat ini merupakan peringatan tidak hanya bagi kaum kafir tetapi juga merupakan peringatan keras bagi siapa saja yang tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan kepada mereka. Pelajaran, peringatan dan ancaman yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut tidak  menyentuh hati nurani mereka. Mereka hanya sekedar mendengar, akan tetapi tidak memperhatikannya atau merenungkannya.

Ayat 3

Dalam ayat ini Allah menerangkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka, yaitu pembicaraan di antara mereka yang disembunyikan terhadap orang lain, mengenai Rasulullah, di mana mereka mengatakan kepada sesamanya, bahwa Muhammad adalah manusia biasa seperti mereka, dan bahwa apa yang disampaikannya kepada mereka hanyalah sihir belaka.

Ini merupakan salah satu dari usaha mereka untuk menghasut orang banyak agar tidak memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah kepada mereka. Karena menurut anggapan mereka, Muhammad saw adalah manusia biasa, seperti manusia yang lain. Ia juga makan, minum serta hidup berkeluarga, bekerja dan berusaha untuk mencari rezeki, sedang ayat-ayat yang disampaikannya adalah sihir belaka, oleh sebab itu dia tidak patut untuk didengar, diperhatikan dan ditaati.

Akan tetapi dari ucapan mereka bahwa ayat-ayat itu adalah sihir, sebenarnya mencerminkan suatu pengakuan, bahwa ayat-ayat tersebut adalah suatu yang menakjubkan mereka, dan mereka merasa tidak mampu untuk menandinginya. Hanya saja, karena mereka ingin menghalangi orang lain untuk mendengarkan ayat-ayat tersebut serta mengambil pelajaran daripadanya, maka mereka menamakannya sihir, supaya orang lain menjauhinya.

Ucapan orang musyrikin di atas menunjukkan bahwa mereka menolak kenabian Muhammad dengan dua cara. Pertama, dengan mengatakan bahwa Rasul haruslah dari kalangan malaikat, bukan dari kalangan manusia, padahal Muhammad adalah manusia juga, karena mempunyai sifat dan tingkah laku yang sama dengan manusia lainnya. Kedua, dengan mengatakan bahwa ayat-ayat yang disampaikannya adalah semacam sihir, bukan wahyu dari Allah.

Kedua macam tuduhan itu mereka rahasiakan di antara sesama mereka, sebagai usaha untuk mencari jalan yang paling tepat untuk meruntuhkan agama Islam. Hal itu mereka rahasiakan karena sudah menjadi kecenderungan bagi manusia, bahwa mereka tidak akan mengajak musuh-musuh mereka berunding dalam mencari upaya untuk merusak dan membinasakan musuh-musuh itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 4-6


Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 84-85

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 84-85 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai perintah untuk bekerja sesuai dengan potensi masing-masing. Kedua berbicara mengenai pertanyaan orang Yahudi mengenai roh.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 82-83


Ayat 84

Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan kepada umatnya agar mereka bekerja menurut potensi dan kecenderungan masing-masing. Semuanya dipersilakan bekerja menurut tabiat, watak, kehendak, dan kecenderungan masing-masing.

Allah swt sebagai Penguasa semesta alam mengetahui siapa di antara manusia yang mengikuti kebenaran dan siapa di antara mereka yang mengikuti kebatilan. Semuanya nanti akan diberi keputusan yang adil.

Allah berfirman tentang perintah bekerja:

قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوْا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ اِنِّيْ عَامِلٌۚ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ مَنْ تَكُوْنُ لَهٗ عَاقِبَةُ الدَّارِۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat  (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung. (al-An’am/6: 135)

Ayat 85

Orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi Muhammad tentang roh yang dapat menghidupkan jasmani, apakah hakikatnya dan apakah dapat dibangkitkan kembali.

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi untuk menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa masalah roh adalah urusan Allah, hanya Dialah yang mengetahui segala sesuatu, dan Dia sendirilah yang menciptakannya.

Kata rµ¥ dalam Al-Qur’an mempunyai tiga arti, yaitu:

Pertama: Yang dimaksud dengan rµh adalah Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. (asy-Syµra/42: 52)

Pengertian ini sesuai dengan isi ayat 82 Surah al-Isra’, dimana diterangkan bahwa Al-Qur’an menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Juga sesuai dengan ayat 87 surah yang sama yang menerangkan bahwa jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan melenyapkan Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dengan demikian, Nabi tidak akan memperoleh pembelaan.

Kedua: Malaikat Jibril. Dalam Al-Qur’an banyak perkataan rµh yang diartikan dengan Jibril a.s., seperti dalam firman Allah swt.

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ   ١٩٣  عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ    ١٩٤

Yang dibawa turun oleh ar-Rµ¥ al-Am³n (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan. (asy-Syu‘ar±’/26: 193-194);Dan firman Allah swt:

فَاَرْسَلْنَآ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

…lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. (Maryam/19: 17)

Ketiga: Berarti  roh  yang  ada  dalam badan, yang merupakan sumber kehidupan dari makhluk hidup. Menurut Jumhur Ulama, kata rµ¥ dalam ayat ini adalah roh yang ada dalam badan (nyawa). Firman Allah:

وَالَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُّوْحِنَا وَجَعَلْنٰهَا وَابْنَهَآ اٰيَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya; Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah)  bagi seluruh alam. (al-Anbiya’/21: 91)

Pendapat yang menyamakan rµh dengan nafs (roh/nyawa) ini adalah pendapat yang banyak dianut ulama (jumhur) dan sesuai dengan sebab ayat ini diturunkan. Allah berfirman:

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (al-Hijr/15: 29)

Ayat-ayat tersebut di atas mengajak umat manusia supaya memahami isi Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, agar tidak tersesat ke jalan yang tidak benar.

Sebaliknya mereka yang tidak berusaha untuk memahami isi Al-Qur’an tidak akan bisa memanfaatkannya sebagai pedoman hidup, bahkan mereka melakukan tindakan dan perbuatan yang dapat menjauhkan mereka dari pemahaman terhadap ayat-ayatnya dengan benar.

Mereka menanyakan kepada Nabi saw hal-hal yang tidak mungkin diketahui manusia, yang sebetulnya tidak ada gunanya untuk diketahui, kecuali hanya sekedar untuk menguji Nabi.


Baca juga: Memahami Falsafah Jawa “Urip Iku Urup” Melalui Tafsir Surah Al-Isra Ayat 7


Allah swt dalam ayat ini menyatakan bahwa Ia hanya memberi manusia sedikit sekali pengetahuan mengenai roh. Akan tetapi, di antara ulama ada yang telah mencoba mendalami hakikat roh itu. Di antaranya ialah:

  1. Roh itu ialah semacam materi cahaya (jisim, nurani) yang turun ke dunia dari alam tinggi, sifatnya berbeda dengan materi yang dapat dilihat dan diraba.
  2. Roh itu mengalir dalam tubuh manusia, sebagaimana mengalirnya air dalam bunga, atau sebagaimana api dalam bara. Roh memberi kehidupan ke dalam tubuh seseorang selama tubuh itu sanggup dan mampu menerimanya, dan tidak ada yang menghalangi alirannya. Bila tubuh tidak sanggup dan mampu lagi menerima roh itu, sehingga alirannya terhambat dalam tubuh, maka tubuh itu menjadi mati. Pendapat ini dikemukakan oleh ar-Razi dan Ibnul Qayyim.

Sedangkan Imam al-Gazali dan Abu Qasim ar-Ragib al-Asfahani berpendapat bahwa roh itu bukanlah materi dan sesuatu yang berbentuk, tetapi ia hanyalah sesuatu yang bergantung pada tubuh untuk mengurus dan menyelesaikan kepentingan-kepentingan tubuh.

Sikap kaum Muslimin yang paling baik tentang roh ialah mengikuti firman Allah ini, bahwa hakikat roh itu tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena hanya Allah yang mengetahuinya dengan pasti.

Yang perlu dipercayai adalah bahwa roh itu ada. Allah hanya memberikan gejala-gejalanya kepada manusia sendiri pun mengetahui adanya roh itu, serta menghayati gejala-gejalanya. Maka yang perlu diteliti dan dipelajari dengan sungguh-sungguh ialah gejala-gejala roh itu, yang dilakukan dalam psikologi. Mempelajari gejala-gejala jiwa ini bahkan termasuk hal yang diminta oleh Allah dalam firman-Nya:

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? az-Zariyat/51: 21)

Karena hanya Allah yang mengetahui tentang hakikat roh, maka pada ayat ini Allah swt menegaskan kepada manusia bahwa ilmu Allah itu Maha Luas, tidak dapat diperkirakan, meliputi segala macam ilmu, baik ilmu tentang alam yang nyata, maupun yang tidak nyata, baik yang dapat dicapai oleh pancaindera, maupun yang tidak.

Karena kasih sayang Allah kepada manusia, maka dianugerahkan-Nya sebagian kecil ilmu itu kepada manusia,  tidak ada artinya sedikit pun bila dibanding dengan kadar ilmu Allah.

Diriwayatkan bahwa tatkala ayat ini diturunkan, orang-orang Yahudi menjawab, “Kami telah diberi ilmu yang banyak. Kami telah diberi kitab Taurat. Siapa yang telah diberi kitab Taurat, berarti dia telah diberi kebaikan yang banyak.” Maka turunlah ayat 109 Surah al-Kahf. Allah swt berfirman:

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Muhammad), ”Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (al-Kahf/18: 109)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 86-87


(Tafsir Kemenag)

Mengulas Penafsiran Q.S. al-Alaq Ayat 1-5 dari Kacamata Tafsir non Tarbawi

0
Q.S. al-Alaq (96)
Q.S. al-Alaq (96)

Selain diakui sebagai wahyu pertama yang diturunkan Q.S. al-Alaq (96) juga kerap dijadikan rujukan utama dalam pengembangan wacana Tafsir Tarbawi. Term iqra’, ‘allama dan al-qalam menjadi kata kunci utama yang dibahas dalam penafsiran yang berorientasi pada wacana tarbiyyah.

Namun sebagaimana diketahui bahwa wacana Tafsir Tarbawi merupakan wacana mutakhir dalam pengembangan kajian tafsir. Secara lebih spesifik bahkan corak tafsir tersebut hanya bisa ditemui dalam karya-karya yang gamblang menentukan corak penafsiran yang diaplikasikannya. Seperti halnya karya Anwar al-Baz yang berjudul al-Tafsir al-Tarbawi li al-Qur’an al-Karim—kitab tafsir bercorak tarbawi yang menghimpun 30 juz pembahasan dan mungkin akan penulis ulas di edisi tulisan selanjutnya.

Oleh karena itu, akan menarik jika tulisan ini mengulas penafsiran dengan orientasi berbeda terhadap topik yang biasa dibicarakan dalam wacana Tafsir Tarbawi. Dengan begitu akan terlihat bagaimana perkembangan penafsiran terhadap ayat tersebut dan meninjau perbedaan atensi penjelasan serta metode dalam masing-masing penafsiran yang disajikan.

Q.S. al-Alaq (96): 1-5 dalam Tafsir Klasik, Pertengahan dan Modern

Dalam uraian ini akan ditampilkan beberapa penafsiran dari kitab-kitab tafsir yang mu’tabarah sebagai rujukan. Di mulai dari al-Tabari—sebagai representasi tafsir era Klasik—dengan karyanya Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, ia menafsirkan ayat iqra’ sampai ‘allama bi al-qalam dengan mengutip beberapa riwayat. Pada penjelasan iqra’, Tabari hanya mengulasnya sebagai ayat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dengan menyisipkan kisah Nabi yang “dipaksa” Jibril untuk iqra’.

Baca Juga: Membaca Al-Qur’an sebagai Fenomena Resepsi dalam Kehidupan Sehari-hari

Lalu pada term al-qalam, Tabari menyinggungnya sebagai nikmat yang agung dan sebab tegaknya kehidupan. Ia tidak menyepadankannya dengan representasi makna apapun yang sebenarnya mungkin didapati dari makna lafziyyah-nya. Selanjutnya pada kalimat ‘allama al-insan ma lam ya’lam justru baru dijumpai makna lafziyyah dari al-qalam di mana ia mengutip beberapa riwayat—salah satu riwayat dibawa oleh seseorang bernama Yunus—yang menyampaikan bahwa maksudnya ialah “mengajarkan tulisan kepada manusia dengan pena”.

Sementara itu, Ibn Katsir—sebagai representasi tafsir era Pertengahan—justru memperlihatkan penafsiran yang lebih luas dari Tabari meskipun ada beberapa hal yang sama. Kesamaannya terletak pada pemaknaan iqra’ yang sama sekali tidak menyinggung sisi kebahasaannya dan cenderung langsung masuk pada fenomena turunnya wahyu pertama kali. Lalu perbedaannya dapat dijumpai pada perluasan makna pada ayat-ayat selanjutnya.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ‘alaqah sebagai bagian dari awal penciptaan manusia menunjukkan beberapa kemuliaan manusia itu sendiri. Kemuliaan itu di antaranya manusia diajarkan langsung oleh Allah apa yang tidak diketahuinya, lalu ilmu yang diberikan itu menjadi pembeda antara manusia dan malaikat. Ibn Katsir juga menjelaskan bahwa ilmu itu dapat terepresentasikan ke dalam tiga hal yaitu pikiran, lisan dan tulisan (dzhinny, lafzy dan rasmy).

Pendapat menarik lainnya datang dari Imam al-Maraghi sebagai salah satu generasi mufasir modern. Maraghi membahas bahwa perintah iqra’ yang terulang menunjukkan bahwa membaca tidak akan bisa terpatri ke dalam jiwa apabila tidak diiringi dengan konsistensi dan keistiqomahan. Lalu pada term al-qalam, ia melakukan pemaknaan yang melampaui sisi lafziyah teks dengan menafsirkannya sebagai sarana komunikasi antar sesama manusia.

Maksud dari Maraghi ialah bahwa al-qalam merupakan alat penunjang aktivitas korespondensi maupun transfer keilmuan. Selanjutnya Maraghi memberi tambahan bahwa kemuliaan manusia dengan ilmu hanya bisa didapat melalui aktivitas membaca dan menulis. Maka ia pun menyimpulkan bahwa ayat ini merupakan dalil atau hujjah tentang keutamaan membaca, menulis dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Apakah Boleh Membaca Al-Qur’an dengan Dilanggamkan Atau Dilagukan?

Dari ketiga pendapat tersebut dapat dijumpai bahwa penafsiran yang berorientasi umum atau non tarbawi ditemukan pola penafsiran yang menarik. Pola penafsiran tersebut bisa dilihat bahwa penafsiran yang tidak berorientasi pada wacana Tafsir Tarbawi dan tergolong dalam kategori tafsir klasik dan pertengahan, cenderung masih berkutat pada kisah pewahyuan pertama dan kurang memperhatikan sisi lafziyyah teks.

Adapun penafsiran yang sudah masuk di era modern meskipun tidak secara spesifik membahasakan penafsirannya sebagai Tafsir Tarbawi namun sudah memperlihatkan substansi pendidikan dalam ayat tersebut. Hal ini disebabkan oleh kajian dilakukan sudah mulai berkutat pada sisi kebahasaan teks dan upaya mengungkap al-i’jaz al-lughawi (mukjizat kebahasaan) dari teks serta merelevansikannya dengan konteks yang ada di zamannya kala itu. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 82-83

0

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 82-83 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai al-Qur’an yang diturunkan sebagai obat dari penyakit hati. Kedua berbicara mengenai sifat dasar manusia yang suka melupakan nikmat yang telah diberikan.


Baca juga : Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 80-81


Ayat 82

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad sebagai obat dari penyakit hati, yaitu kesyirikan, kekafiran, dan kemunafikan. Al-Qur’an juga merupakan rahmat bagi kaum Muslimin karena memberi petunjuk kepada mereka, sehingga mereka masuk surga dan terhindar dari azab Allah.

Al-Qur’an telah membebaskan kaum Muslimin dari kebodohan sehingga mereka menjadi bangsa yang menguasai dunia pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah. Kemudian mereka kembali menjadi umat yang terbelakang karena mengabaikan ajaran-ajaran Al-Qur’an.

Dahulu mereka menjadi umat yang disegani, tetapi kemudian menjadi pion-pion yang dijadikan umpan oleh musuh dalam percaturan dunia. Karena mereka dulu melaksanakan ajaran Al-Qur’an, negeri mereka menjadi pusat dunia ilmu pengetahuan, perdagangan dunia, dan sebagainya, serta pernah hidup makmur dan bahagia.

Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin bahwa mereka akan dapat memegang peranan kembali di dunia, jika mau mengikuti   Al-Qur’an dan berpegang teguh pada ajarannya dalam semua bidang kehidupan.

Sebaliknya jika mereka tidak mau melaksanakan ajaran Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan agama dan masyarakat, serta hanya mementingkan kehidupan dunia, maka Allah akan menjadikan musuh-musuh mereka sebagai penguasa atas diri mereka, sehingga menjadi orang asing atau budak di negeri sendiri.

Cukup pahit pengalaman kaum Muslimin akibat mengabaikan ajaran   Al-Qur’an. Al-Qur’an menyuruh mereka bersatu dan bermusyawarah, tetapi mereka berpecah belah karena masalah-masalah khilafiah yang kecil dan remeh, sedangkan masalah-masalah yang penting dan besar diabaikan.

Ayat ini juga mengingatkan kaum Muslimin bahwa bagi orang-orang yang zalim, yaitu yang ingkar, syirik, dan munafik, Al-Qur’an hanya akan menambah kerugian bagi diri mereka, karena setiap ajaran yang dibawa Al-Qur’an akan mereka tolak. Padahal, jika diterima, pasti akan menguntungkan mereka.


Baca juga: Doa Agar Terhindar dari Kezaliman dan Fitnah dalam Al-Quran


Ayat 83

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan sifat umum manusia, yaitu apabila diberi kenikmatan, seperti harta, kekuasaan, kemenangan dan sebagainya, mereka tidak mau lagi tunduk dan patuh kepada-Nya, bahkan mereka menjauhkan diri. Sebaliknya, apabila ditimpa kesukaran, kesengsara-an, kemiskinan, dan kekalahan, mereka berputus asa dan merasa tidak akan memperoleh apa-apa lagi.

Seharusnya mereka tidak berputus asa, melainkan tetap beramal dan berusaha untuk mendapatkan pertolongan Allah, karena menurut ajaran Al-Qur’an, orang yang berputus asa dari rahmat Allah berarti telah mengingkari rahmat-Nya.

Ayat-ayat lain yang menerangkan keadaan manusia ketika menerima rahmat Allah, ialah firman-Nya:

وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖٓ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَاۤىِٕمًا ۚفَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَآ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗۗ

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (Yµnus/10: 12)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 84-85


(Tafsir Kemenag)

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ketika

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 80-81

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 80-81 berbicara mengenai perintah untuk berdoa dengan ayat 80 ini. Kedua berbicara mengenai sesuatu yang hak tidak akan kalah dengan sesuatu yang batil.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 79


Ayat 80

At-Tirmizi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi berada di Mekah, lalu diperintahkan Allah untuk hijrah. Maka turunlah ayat ini.

Allah swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengucap-kan doa yang tersebut dalam ayat ini, yang maksudnya “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat, dan tempatkan aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat.”

Di antara contoh masuknya Rasulullah ke suatu tempat dengan benar ialah beliau dan para sahabat memasuki kota Medinah sebagai orang-orang yang hijrah dari Mekah, memasuki kota Mekah di waktu penaklukan kota itu, masuk kubur setelah mati, dan memasuki tempat yang diridai Allah, seperti masuk masjid, rumah sendiri, rumah sahabat, dan kenalan setelah minta izin darinya, dan sebagainya.

Keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti keluar dari kota Mekah waktu hijrah, keluar dari kubur waktu hari kebangkitan, atau keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti kota-kota yang menjadi tempat melakukan perbuatan maksiat dan sebagainya.

Allah swt juga memerintahkan kepada Nabi agar berdoa kepada-Nya supaya dijadikan orang yang menguasai hujah dan alasan yang dapat diterima dan ketika berdakwah, dapat memuaskan orang-orang yang mendengarkannya sehingga bertambah kuat imannya.

Jika yang mendengar orang kafir, hati mereka menjadi lunak dan mau masuk Islam. Sebagai jawaban terhadap doa Nabi Muhammad itu, Allah menerangkan bahwa Dia memelihara Nabi dari segala macam tipu daya manusia dan akan me-menangkannya terhadap orang-orang kafir, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (al-Ma’idah/5: 67)


Baca juga: Perjalanan Teks Al-Quran: Transisi Media dan Otoritas


Ayat 81

Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik bahwa sesungguhnya telah datang yang hak, yaitu Al-Qur’an, iman, dan Islam. Sedangkan yang batil yaitu kesyirikan dan kekafiran akan hancur. Kebatilan tidak akan bertahan lama, karena tidak mempunyai landasan yang benar.

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهٗ فَاِذَا هُوَ زَاهِقٌۗ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُوْنَ

Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. Dan celaka kamu karena kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya). (al-Anbiya’/21: 18)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’µd, ketika Rasulullah saw memasuki kota Mekah pada waktu penaklukan kota itu, ada 360 buah patung di sekitar Ka‘bah. Maka Rasulullah saw menusuk patung itu dengan sepotong kayu yang ada di tangannya, dan berkata:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا. جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيْدُ. (رواه البخاري و مسلم)

Telah datang yang hak dan telah lenyap yang batil, sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap. Telah datang yang hak, dan yang batil tidak akan datang lagi dan tidak akan kembali. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 82-83


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Klasifikasi Qiraat dan Para Imam Madzhabnya

0
Klasifikasi Qiraat Al-Quran dan Para Imam Madzhabnya
Klasifikasi Qiraat Al-Quran dan Para Imam Madzhabnya

Secara garis besar ilmu qiraat adalah ilmu yang mempelajari sistem dokumentasi tertulis dan artikulasi lafal al-Qur’an (Wawan Djunaedi, Sejarah Qiraat di Nusantara, hal 5). Hanya saja, ilmu qiraat tidak begitu populer di kalangan kaum muslim. Masyarakat muslim lebih akrab dengan  ilmu “tajwid” sebagai ilmu yang berkaitan dengan bacaan ilmu al-Quran ketimbang ilmu qiraat. Tak heran jika kebanyakan kaum muslim banyak yang tidak mengetahui “Madzhab Qiraatul Qur’an” yang dibaca setiap hari. Kali ini akan diulas tentang klasifikasi qiraat al-Quran serta Imam Madzhabnya

Baca Juga: Menelisik Pengertian, Sejarah dan Macam-Macam Qira’at

Qiraat secara definitif

Secara terminologi qiraat adalah salah satu Madzhab “aliran” pengucapan al-Quran yang dipilih oleh salah seorang Imam Qurra’ sebagai suatu madzhab yang berbeda dengan dengan madzhab lainnya (Manna Khalil al-Qattan, studi ilmu-ilmu Quran, hal 247). Banyak dari kalangan para ulama yang mendefinisikan Ilmu Qiraat, oleh karena itu ada beberapa pendapat ulama yang penting untuk diperhatikan antara lain :

  1. Abu Syamah al-Dimasyqi

Menurut Abu Syamah al-Dimasqi ilmu qiraat adalah :

عِلمُ الْقِرَاءَتِ عِلْمٌ بِكَيْفِيَةِ أَدَاءِ كَلِمَاتِ الْقُرْآنِ وَاخْتِلَافِهَا مَعْزُوًّا لِنَاقِلِه

Artinya : Ilmu qiraat adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara melafalkan kosa kata al-Quran dan perbedaannya yang disandarkan pada perawi yang mentransmisikannya (Wawan Djunaedi, Sejarah Qiraat di Nusantara, hal 21).

  1. Al-Zarkasyi

Menurut Al-Zarkasyi ilmu qiraat adalah :

الْقِرَاءَاتُ هِىَ اخْتِلَافُ أَلْفَاظِ الْحَيِّ اْلمَذْكُورِ فِي كِتَابِهِ الْحُرُوف أَوْكَيْفِيَتِهَا مِنْ تَخْفِيْفٍ وَ تَثْقِيْلٍ وَ غَيْرِهِمَا

Artinya : Perbedaan beberapa lafal wahyu (Al-Quran) dalam hal penulisan huruf maupun cara artikulasinya, baik secara takhfif “membaca tanpa tasdid”, tatsqil “membaca dengan tasydid”, dan lain sebagainya.

  1. Ali Ash-Shabuni

Menurut Ali Ash-Shabuni  ilmu qiraat adalah :

الْقِرَاءَتُ مَذْهَبٌ مِنْ مَذَاهِبِ النُّطْقِ فِي الْقُرْآنِ يَذْهَبُ بِه إِمَامٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْقُرَّاءِ مَذْهَبًا يُخَالِفُ غَيْرَهُ فِي النُّطْقِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَ هِيَ ثَابِتَةٌ بِأَسَانِيْدِهَا إِلَى رَسول الله صلّى الله عليه وسلّم

Artinya : Qiraat adalah salah satu mazhab dari beberapa madzhab artikulasi (kosa kata) al-Quran yang dipilih oleh salah seorang Imam Qiraat yang berbeda dengan madzhab lainnya serta berdasar pada sanad yang bersambung pada Rasulullah saw.

Dari uraian di atas dapat diketahui aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi disiplin ilmu qiraat. Obyek kajian ilmu qiraat adalah al-Qur’anul al-Karim, khususnya dari segi perbedaan lafal dan cara artikulasinya; sedang epistimologinya ialah berasal dari riwayat Rasulullah saw. dan aksiologinya yaitu untuk mempertahankan keaslian materi yang disampaikan. Hal ini dipertegas dengan pernyataan al-Zarqani didalam kitabnya, Manahil al-Irfan yang menyebutkan bahwa, qiraat al-Qur’an merupakan salah satu instrumuen untuk mempertahankan orisinilitas, sekaligus juga bermanfaat sebagai salah satu sumber penafsiran. (Al-Zarqoni, Manahil al-Irfan  fi ulum al-Quran, hal 226).

Baca Juga: Perbedaan Qiraah, Riwayah, dan Thariq Serta Contohnya dalam Ilmu Tajwid

Klasifikasi Qiraat

Klasifikasi qiraat ini didasarkan pada dua hal, kuantitas (jumlah) imam madzhabnya dan kualitas jalur sanadnya. Pertama, Berdasarkan kuantitas atau jumlah imam madzhabnya, qiraat terbagi menjadi tiga macam:

  1. Qiraat as-Sab’ah (qiraat tujuh) yang dinisbatkan kepada 7 (tujuh) imam qiraat yang terkenal yaitu: Nafi’, Ashim, Hamzah, Abdullah ibn ‘Amr, Abdullah ibn Katsir, Abu Amru ibn al-Ala, dan Ali al-Kassa’i.
  2. Qiraat al-Asyarah (qiraat sepuluh), qiraat yang dinisbatkan kepada imam qiraat yang tujuh sebelumnya ditambah dengan 3 (tiga) imam qiraat yang lain, yaitu: Abu Ja‘far, Ya‘qub dan Khalaf.
  3. Qiraat al-Arba’ah ‘asyarah, yaitu imam qiraat yang sepuluh ditambah dengan 4 (empat) Imam qiraat lainnya, yaitu: Imam Hasan al-Basri, Ibn Muhaisin, Yahya al-Yazidi dan al-Syambuzi (Muhammad Abd al-Azim al-Zarqani, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Juz 1, hlm 416-417).

Klasifikasi qiraat yang kedua berdasarkan kualitas sanad atau jalurnya, qiraat terbagi menjadi lima macam/tingkatan, seperti berikut:

  1. Mutawatir, yaitu qiraat yang diriwayatkan oleh banyak orang (periwayat) yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta, dan sanadnya bersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kategori ini menurut mayoritas ulama adalah qiraat sab’ah. Contohnya: QS. al-Fatihah 1:4 (ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) Imam Ashim membacanya dengan tanwin dhammah pada huruf kaf كٌ sedang yang lain membaca sebagaimana dalam teks.
  2. Masyhur, yaitu qiraat sahih sanadnya sampai kepada Rasulullah saw, tetapi tidak mencapai derajat mutawatir, hanya diriwayatkan oleh seorang atau beberapa orang yang adil dan tsiqah, sesuai dengan bahasa Arab dan sesuai dengan rasm Utsmani serta terkenal di kalangan ahli qiraat. Qiraat macam ini dapat digunakan dan boleh dibaca pada waktu shalat atau di luar shalat. Adapaun bacaan al-Qur’an pada tingkatan ini adalah bacaan yang disandarkan kepada tiga imam qiraat, yaitu Abu Ja’far ibn Qa’qa al-Madani, Ya’qub Khadrami, dan Khalaf ibn Hisyam al-Bazzar. Contoh QS. al-Fatihah 1:7 صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَYa’qub al-Hadrami membacanya dengan dhammah pada huruf mim غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ  Sedangkan yang lain membacanya seperti yang tertulis dalam teks lafad yang kebanyakan beredar.
  3. Ahad, yaitu qiraat yang sahih sanadnya, tetapi menyalahi (tidak sesuai) dengan rasm Utsmani dan kaidah bahasa Arab serta tidak terkenal seperti kedua tingkatan qiraat di atas. Qiraat macam ini tidak dapat digunakan dan tidak wajib menyakininya.
  4. Syaz, yaitu qiraat yang sanadnya cacat (tidak sahih) dan tidak bersambung sanadnya kepada Rasulullah saw. Qiraat ini tidak bisa dijadikan pegangan dalam membaca al-Qur’an.
  5. Maudhu’, yaitu qiraat yang tidak ada asalnya, dibuat-buat dan dinisbatkan kepada seseorang tanpa dasar. Qiraat ini juga tidak diakui keabsahannya.
  6. Mudraj, yaitu qiraat di dalamnya terdapat tambahan qiraat sebagai penafsiran al-Qur’an seperti qiraat Sa‘ad ibn Abi Waqqas وَلَهُ اَخٌ اَوْ اُخْتٌdengan menambahمِنْ اُمٍّ  pada akhir kalimat tersebut (Halimah B, “Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya dalam Istinbaht Hukum” hal. 97-108)

Jadi macam-macam dan tingkatan qiraat di atas yang termasuk bacaan yang sahih dan boleh digunakan bacaannya adalah qiraat mutawatir dan masyhur, sementara qiraat ahad, syaz, maudhu’, dan mudraj adalah yang tidak sahih dan tidak boleh digunakan bacaannya. Wallahu a’lam

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 39-44

0

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 39-44 melanjuti tafsir sebelumnya yang menjelaskan bahwa orang kafir ketika mendengar Alquran ia seperti memperhatikan sembari memelototkan matanya, mereka berbuat demikian tak lain sebagai bentuk hinaan kepada Nabi Muhammad. Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 39-44 menjelaskan bahwa mereka akan masuk surga karena merasa lebih mulia dan tinggi derajatnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 32-38


Ayat 39

Mereka beranggapan akan masuk surga, karena merasa lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang beriman. Akan tetapi, anggapan mereka itu salah karena mereka dijadikan dari air mani seperti juga halnya seluruh manusia, tak ada bedanya. Tidak ada keistimewaan seseorang atas yang lain dan Allah tidak membeda-bedakannya. Hanya yang membedakan derajat seorang manusia dengan manusia yang lain hanya iman dan amal. Hal demikian itu adalah hukum Allah dan tidak seorang pun yang dapat mengubahnya.

Ayat 40-41

Allah bersumpah dengan diri-Nya sebagai Tuhan penguasa dan pemilik alam semesta beserta seluruh isinya, untuk menegaskan bahwa Dia kuasa menghancurkan mereka seketika dan menggantinya dengan umat lain yang lebih baik dari mereka. Tidak seorang pun yang dapat menolak kehendak-Nya atau menghindarkan diri dari azab yang akan ditimpakan itu. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۙ    ١٩  وَّمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ  ٢٠ 

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar)? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu), dan yang demikian itu tidak sukar bagi Allah. (Ibrahim/14: 19-20)

Pada akhir ayat ini, ditegaskan bahwa Allah tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun yang telah ditetapkan azab baginya. Mereka tidak akan dapat menghindarinya sebagaimana diterangkan-Nya dalam firman-Nya yang lain:

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ اَنْ يَّسْبِقُوْنَا ۗسَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ   ٤

Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu! (al-’Ankabut/29: 4)

Ayat 42

Ayat ini merupakan peringatan keras kepada kaum musyrikin yang selalu menentang dan mengingkari seruan Nabi Muhammad. Berbagai macam cara telah dilakukan untuk menyadarkan, namun mereka tetap ingkar. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membiarkan orang-orang musyrik itu mengingkari seruannya, agar mereka tenggelam dalam kesesatan dan lalai oleh kesenangan hidup yang mereka nikmati. Mereka pasti mati dan kemudian dibangkitkan pada hari Kiamat. Pada hari itu, barulah mereka mengetahui kebenaran risalah yang telah disampaikan Nabi saw kepada mereka, yaitu ketika mereka diminta mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka di dunia.

Ayat 43

Pada hari Kiamat itu, mereka dihidupkan kembali dan dibangkitkan dari kubur. Mereka datang dengan tergesa-gesa untuk memenuhi panggilan yang memanggil mereka waktu itu dengan harapan panggilan itu berisi sesuatu yang menyenangkan. Mereka datang tergesa-gesa sebagaimana ketika mereka datang untuk menyembah berhala mereka dulu waktu di dunia.

Ayat 44

Pada hari yang dijanjikan itu, orang-orang musyrik berlarian dengan kepala tertunduk menuju pengadilan Allah. Itulah hari yang pernah diperingatkan Allah kepada mereka. Hari itu adalah hari yang penuh kesengsaraan dan penderitaan. Pada hari itu tidak ada suatu pun yang dapat memberi pertolongan selain Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Nuh 28 Ayat


 

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 32-38

0

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 32-38 diterangkan beberapa cara untuk menghilangkan sifat berkeluh kesah dan kikir, salah satunya adalah dengan mengerjakan salat dan menunaikan zakat. Dijelaskan pula secara rinci dalam ayat 34 Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 32-38 tentang memelihara salat.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 29-31


Ayat 32

Dalam ayat ini, Allah menerangkan syarat-syarat lain yang dapat menghilangkan sifat suka berkeluh-kesah dan kikir, yaitu memelihara amanat yang dipercayakan kepadanya, baik berupa amanat Allah, seperti wajib beriman, mengerjakan salat, menunaikan zakat, mengerjakan haji, berjihad, dan sebagainya, maupun amanat manusia terhadap dirinya, seperti memelihara kemaluan, memenuhi janji, dan sebagainya. Amanat ialah suatu perjanjian untuk memelihara sesuatu yang dilakukan oleh hamba kepada Tuhannya, dirinya sendiri, dan orang lain.

Sanggup memelihara amanat termasuk salah satu dari sifat orang muslim, dan sifat ini pulalah yang membedakan orang mukmin dari orang munafik. Nabi Muhammad bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ (رواه البخاري و مسلم عن أبي هريرة)

Nabi Muhammad bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu: apabila ia berkata, ia berdusta, apabila ia berjanji, ia ingkar (menyalahinya), dan apabila ia diberi amanat, ia berkhianat.” (Riwayat    al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Ayat 33

Maksud kalimat “orang yang berpegang teguh dengan kesaksiannya” yang terdapat dalam ayat ini ialah orang yang mau melaksanakan kesaksian bila diperlukan dan bila menjadi saksi, ia melakukannya dengan benar, tidak berbohong, tidak mengubah atau menyembunyikan sesuatu dalam kesaksiannya itu. Firman Allah:

وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَۗ وَمَنْ يَّكْتُمْهَا فَاِنَّهٗٓ اٰثِمٌ قَلْبُهٗ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ

Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah/2: 283)

Manusia juga diperintahkan untuk melaksanakan kesaksian guna menegakkan keadilan dengan tujuan mencari keridaan Allah, bukan untuk suatu maksud yang berlawanan dengan ajaran-Nya.

وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ

Persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. (ath-Talaq/65: 2)

Ayat 34

Selain yang telah disebutkan di atas, masih ada satu hal lagi yang dapat menghilangkan sifat suka berkeluh kesah dan sifat kikir, yaitu selalu memelihara salat. Pengertian memelihara salat dalam ayat ini ialah:

  1. Berusaha melengkapi syarat-syarat salat dengan baik dan sempurna, seperti meneliti pakaian yang dipakai sehingga tidak terdapat najis, berwudu dengan baik, dan mengenyampingkan segala sesuatu yang dapat menghilangkan atau mengurangi kekhusyukan.
  2. Berusaha melaksanakan semua rukun salat dengan baik dan sempurna.
  3. Berusaha khusyuk.
  4. Berusaha melaksanakan salat wajib yang lima waktu.
  5. Berusaha melaksanakan salat pada awal waktunya.

Baca Juga: Surah Al-Furqan [25] Ayat 67: Anjuran Bersedekah Secara Proporsional


Ayat 35

Manusia yang mempunyai sifat-sifat di atas akan mendapat balasan surga di akhirat dan orang yang bersifat demikian akan dapat mengikis sifat suka berkeluh kesah dan sifat kikir dari hatinya.

Ayat 36-37

Menurut sebahagian ahli tafsir, ayat ini berhubungan dengan peristiwa ketika Rasulullah saw salat dan membaca Al-Qur’an di dekat Ka‘bah. Lalu orang-orang musyrik berkumpul berkelompok-kelompok di dekatnya sambil mengejek dan mengatakan bahwa mereka lebih pantas masuk surga daripada kaum Muslimin, karena mereka lebih mulia.

Orang-orang musyrik Mekah yang datang kepada Nabi bergegas duduk di kanan dan di kiri beliau untuk mendengar dan memperhatikan ayat-ayat yang beliau baca, seakan-akan mereka mengimaninya. Bila mendengar Nabi saw membaca Al-Qur’an, mereka memelototkan mata seperti orang ketakutan. Mereka duduk di kanan-kiri Rasulullah berkelompok-kelompok dan seakan-akan memperhatikan ayat-ayat yang dibacakan itu. Mereka juga mengangguk-anggukkan kepala, tetapi maksud mereka sesungguhnya untuk menghina Nabi Muhammad.

Ayat 38

Allah mengatakan bahwa perbuatan orang-orang musyrik itu sangat mengherankan. Apakah mereka berbuat demikian karena ingin masuk surga? Hal itu tidak mungkin karena mereka mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an itu. Allah menyediakan surga hanya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bukan untuk orang-orang kafir seperti mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 39-44


 

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 29-31

0

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 29-31 menerangkan sifat manusia yang menjaga kehormatannya dan tidak melakukan zina, mereka orang yang hatinya tenang, tidak kikir dan berkeluh kesah. Dalam Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 29-31 dijelaskan bahwa mereka yang tidak dapat menjaga kehormatannya serta melakukan zina adalah orang yang melampaui batas.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 26-28


Ayat 29-30

Dalam dua ayat ini diterangkan sifat manusia yang hatinya tenteram, tidak berkeluh kesah dan tidak kikir, yaitu orang yang menjaga kehormatannya dan tidak melakukan perbuatan zina. Mereka hanya melakukan apa yang telah dihalalkan, hanya menggauli istri-istri mereka atau dengan budak-budak perempuan yang telah mereka miliki.

Perkataan fa innahum gairu malumin (maka sesungguhnya mereka tidak tercela) memberi pengertian bahwa hak mencampuri istri atau budak-budak yang dimiliki, bukanlah hak tanpa batas, melainkan harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan agama. Menurut agama Islam, hubungan suami istri adalah hubungan yang suci, hubungan yang diridai Allah, hubungan cinta kasih, hubungan yang dilatarbelakangi oleh keinginan mengikuti sunah Rasulullah, dan ingin memperoleh keturunan. Hubungan suami-istri mempunyai unsur-unsur ibadah. Hubungan ini dilukiskan dalam firman Allah:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (al-Baqarah/2: 187)

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُو أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ. (رواه مسلم)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dunia itu adalah sesuatu yang menyenangkan, sebaik-baik harta benda kehidupan dunia itu ialah istri yang saleh.” (Riwayat Muslim)

Ayat ini memberikan petunjuk kepada suami-istri bahwa dalam melakukan hubungan dengan istri atau suami, tuan dengan budak perempuan, hendaklah dilakukan sedemikian rupa, sehingga dalam hubungan itu terdapat unsur-unsur ibadah, akhlak yang mulia, tata cara yang baik, dan sebagainya, sehingga dapat menjaga kemuliaan dan martabatnya sebagai seorang muslim. Tidak sekadar memenuhi hawa nafsu, keperluan biologis, atau seperti yang dilakukan oleh binatang, melainkan untuk tujuan yang agung.

Surah al-Ma‘arij ini Makkiyyah, jadi waktu itu belum ada ketentuan pernikahan seperti yang kemudian diatur dalam Surah an-Nisa’/4: 24-25. Kata-kata au ma malakat aimanuhum yang terdapat dalam beberapa surah, sering diterjemahkan “atau budak-budak perempuan yang mereka miliki” Ayat ini memerlukan penjelasan, seperti dikemukakan oleh beberapa mufasir secara lebih mendalam, bahwa ma malakat aimanuhum ialah perempuan yang sudah bercerai dengan suaminya, yang sekarang menjadi miliknya (biasanya dari tawanan perang), dan harus dalam arti tawanan dalam perang jihad, di bawah perintah imam yang saleh dan adil dalam menghadapi lawan yang hendak menindas orang beriman.

Tawanan perempuan itu boleh digauli, tetapi harus dengan dinikahi terlebih dulu, dan perkawinan itu bukan karena didorong oleh nafsu, melainkan untuk memelihara kesucian pihak perempuan, yang dalam hal ini berarti pihak suami menghindari perbuatan zina dan sekaligus mengangkat martabat perempuan dari status budak bekas tawanan perang (yang memang sudah berlaku umum waktu itu) menjadi perempuan mereka, tidak lagi berstatus budak. Kebiasaan tawanan perang semacam ini sekarang sudah tidak berlaku lagi

Jika seorang muslim telah dapat melakukan hubungan dengan istrinya atau dengan budaknya sesuai dengan tuntutan agama Islam, berarti ia telah dapat menguasai puncak hawa nafsunya, karena puncak hawa nafsu itu terletak dalam hubungan seperti antara laki-laki dan wanita. Jika mereka telah dapat melakukan yang demikian, maka mereka akan lebih dapat melakukan hal-hal yang lain yang lebih rendah tingkatnya.


Baca Juga: Tafsir Ahkam: Hukuman Zina dan Alasan Perempuan Disebutkan Lebih Dulu


Ayat 31

Barang siapa yang berbuat di luar ketentuan-ketentuan tersebut, misalnya berzina, melakukan homoseksual atau lesbian, mereka adalah orang-orang yang melampaui batas.

Dalam ayat yang sebelum ini, diterangkan bahwa di antara syarat menghilangkan suka berkeluh kesah dan sifat kikir ialah menjaga kehormatan dan kemuliaan diri, yaitu hanya dengan mencampuri istri atau budak yang dimiliki. Selain dari itu, dengan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat mendorong atau mempercepat orang melakukan perbuatan yang terlarang itu, seperti pergaulan bebas antara laki-laki dan wanita, dan sebagainya. Oleh karena itu, Allah menegaskan dalam firman-Nya:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ  ٣٠

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (an-Nur/24: 30)

Dalam ayat ini dapat dipahami bahwa Allah memerintahkan agar kaum Muslimin memelihara pandangannya adalah untuk menjaga diri dari perbuatan zina.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 32-38


 

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 26-28

0

Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 26-28 menjelaskan bahwa orang yang mengerjakan salat dan menunaikan zakat adalah orang yang tidak suka berkeluh kesah. Selain itu mereka juga mempercayai hari akhir, yang mana dalam Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 26-28 disebutkan bahwa mereka akan memperoleh pahala iman dan amal semasa hidupnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 22-25


Ayat 26-27

Orang yang tidak suka berkeluh kesah adalah orang yang menjalankan salat dan menunaikan zakat. Merekalah yang percaya adanya hari kiamat, adanya hidup setelah mati, dan waktu ditimbang semua amal perbuatan yang telah dikerjakan selama hidup di dunia. Amal baik dibalas dengan surga, sedangkan perbuatan jahat, yang tidak diridai Allah akan dibalas dengan neraka.

Orang yang percaya akan adanya hari akhirat sangat yakin bahwa mereka pada hari itu akan mendapat pahala iman dan amal yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka percaya bahwa hidup di akhiratlah hidup yang sebenarnya; sedangkan hidup di dunia hanyalah hidup sementara, untuk mempersiapkan diri bagi hidup di akhirat itu. Oleh karena itu, segala macam cobaan yang datang kepada mereka selama di dunia, dihadapi dengan tabah dan sabar. Mereka tidak pernah berkeluh-kesah, bagaimana pun cobaan yang diderita. Mereka tidak pula akan kikir untuk menolong sesamanya yang hidup dalam kepapaan dan penderitaan.

Telah menjadi dasar bagi kebahagiaan hidup manusia ialah bahwa usahanya menghindarkan diri dari bahaya dan kemudaratan selalu lebih besar dan lebih didahulukan daripada usahanya untuk memperoleh kebahagiaan dan kemanfaatan. Akan tetapi, manusia dalam kehidupannya sehari-hari kadang-kadang lupa atau lalai terhadap dasar ini. Dia kadang-kadang cepat terpukau oleh sesuatu yang kelihatannya akan mendatangkan kebaikan atau memberi manfaat baginya. Maka dikerjakanlah sesuatu itu dengan tidak memperhitungkan atau mempertimbangkan kemudaratan yang akan ditimbulkannya. Akibatnya ia menderita dan sengsara. Itulah hukuman dan azab dari Tuhan atas kelalaian itu.

Ada kaidah Usul Fikih yang berbunyi:

دَرْءُ اْلمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menolak kemudaratan itu didahulukan daripada mengambil maslahat.

Ayat 28

Tidak satu pun di antara manusia yang merasa dirinya aman dari kedatangan azab Tuhannya. Oleh karena itu, ia berusaha agar dia terjauh dari azab itu dengan bertakwa kepada-Nya. Azab Tuhan hanya akan ditimpakan kepada orang yang tidak bertakwa kepada-Nya. Semua orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, mendirikan salat wajib, menunaikan zakat, dan percaya kepada adanya hari akhirat, hari dilaksanakan keadilan yang sesungguhnya, akan tenteram hatinya dan tidak merasa khawatir akan kedatangan azab Allah, sekalipun mereka belum dapat memastikan apakah mereka termasuk penghuni surga atau penghuni neraka. Yang menenteramkan hati orang yang beriman itu ialah iman dan amal saleh yang telah dikerjakan. Firman Allah:

مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ  ٦٩ 

Barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati. (al-Ma’idah/5: 69)

Dan firman-Nya:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ࣖ  ١١٢

Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (al-Baqarah/2: 112)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Ma’arij ayat 29-31