Beranda blog Halaman 283

Tafsir Surah Fathir Ayat 18

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 18 menerangkan tentang kedahsyatan hari Kiamat. Dimana semua orang kalang kabut untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, tak sempat memikirkan, istri, anak, orang tua, dan lainnya, yang dipikirkan adalah amal yang hendak ia setorkan dihadapan Allah Swt. Maka, beruntunglah mereka yang suci hatinya, dan giat menjalankan amal saleh semasa di dunia.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 14-17


Ayat 18

Pada ayat ini, Allah menerangkan kedahsyatan hari Kiamat. Pada hari itu setiap orang memikul dosanya masing-masing. Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika ada yang merasa dosanya berat sekali, lalu meminta bantuan kepada orang lain untuk memikul sebagian dosanya, maka dosa itu tidak akan dipukulkan kepada yang diminta, sekalipun itu kaum kerabatnya, seperti ayah, anak, dan lain sebagainya.

Setiap orang di hari Kiamat itu sibuk dengan urusannya masing-masing memikirkan dan merenungkan apa gerangan yang akan menimpa dirinya. Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. (Luqman/31: 33)

Ayat lain menjelaskan:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ  ٣٤  وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ  ٣٥  وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ  ٣٦  لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ  ٣٧

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 34-37).

Dalam tafsir al-Qurthubi diriwayatkan dari Ikrimah bahwa seorang bapak menggantungkan harapan kepada anaknya di hari Kiamat dan berkata, “Wahai anakku! Bagaimana aku sebagai bapakmu,” lalu anak itu memujinya dengan pujian yang baik.

Bapak itu berkata lagi kepada anaknya, “Wahai anakku! Aku benar-benar memerlukan dari amal baikmu sekalipun hanya seberat zarah, supaya aku selamat dari keadaanku sebagaimana yang engkau lihat.”

Anaknya menjawab, “Wahai bapakku! Alangkah sedikitnya yang engkau minta, tetapi aku sendiri khawatir terhadap diriku sebagaimana bapak khawatir terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, saya tidak dapat memberikan apa-apa barang sedikit pun.” Kemudian ia beralih kepada istrinya yang menggantungkan harapannya dan berkata, “Wahai Fulanah! Bagaimanakah aku sebagai suamimu?”

Lalu dipuji-pujinya suaminya itu dengan pujian yang baik. Berkatalah suami itu kepada istrinya, “Aku meminta kepadamu satu saja dari amal baikmu, semoga dengan pemberianmu aku selamat dari keadaanku, sebagaimana yang kamu saksikan ini.”

Istrinya menjawab, “Alangkah sedikitnya yang engkau minta, namun aku tidak bisa memberikannya karena aku khawatir juga seperti apa yang engkau khawatirkan.”


Baca Juga : Benarkah Kata Hisab dalam Al-Quran Hanya Bermakna Perhitungan Amal?


Kandungan ayat ini sebagai penghibur hati Rasulullah karena dakwahnya yang tidak mendapat sambutan baik dari kaumnya dan mereka tetap keras kepala. Allah menjelaskan bahwa yang dapat menerima nasihat dan peringatan-Nya hanyalah orang-orang yang takut kepada Allah dan azab-Nya yang pedih di hari kemudian, sekalipun mereka tidak melihatnya.

Tidak seperti halnya orang-orang yang telah dipatri hatinya oleh Allah sehingga mereka tidak tahu apa-apa. Mereka mengerjakan salat yang diwajibkan sesuai dengan rukun dan syaratnya, mensucikan hati mereka, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Barang siapa menyucikan dirinya dari syirik, perbuatan dosa, dan kedurhakaan, seperti ria, ujub, dusta, dan menipu, kebaikannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Begitu pula sebaliknya, kalau ia berbuat maksiat bergelimang dosa, maka mudaratnya itu kembali kepada dirinya.

Ayat ini ditutup dengan satu penjelasan bahwa semua urusan dikembalikan kepada Allah. Tiap-tiap orang akan dibalas sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Kalau baik akan dibalas dengan baik, begitu pula sebaliknya, kalau amalnya jahat akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Firman Allah:

وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ

Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. (al-Anfal/8: 44)

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 19-20

 

Tiga Faktor Terjadinya Perluasan Makna Kata dalam Al-Qur’an Menurut Mardjoko Idris

0
Mardjoko Idris
Mardjoko Idris

Makna sebuah kata dalam ayat Al-Qur’an seringkali dijumpai berbeda-beda, baik ditemui dalam tradisi penafsiran, terjemahan, maupun dalam bentuk lainnya. Perbedaan tersebut merupakan bentuk perluasan makna dar asalnya, yang disebabkan oleh beberapa faktor. Di sini, Mardjoko Idris termasuk sarjana bidang Ilmu Balaghah, yang mengurai tiga faktor terjadinya perluasan makna, sebagaimana dalam bukunya Pertentangan dan Perbedaan Makna dalam Al-Qur’an.

Menurut Mardjoko Idris bahwa yang dimaksud perluasan makna adalah adanya makna selain makna yang asli, leksikal atau kamus. Dalam linguistik Arab, makna selain makna yang asli disebut ta’adudul-makna (berbilangnya makna). Ini terjadi karena kemungkinan tiga faktor, yakni (1) Konteks bahasa, (2) Gaya bahasa majaz, dan (3) Perbedaan mufrad. Tulisan ini akan menjelaskan secara ringkas tiga faktor tersebut.

Tentang Mardjoko Idris dan Kajiannya

Mardjoko Idris merupakan dosen di fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau menempuh jenjang pendidikan S1 hingga S3 di kampus tempat mengajarnya tersebut, UIN Sunan Kalijaga. Sebelumnya, beliau belajar pada Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di Ngesrep, kemudian di SMA Al-Islam/MAAIN Surakarta (tidak selesai), kemudian di KMI Pondok Modern Gontor Ponorgo.

Baca Juga: Empat Catatan Muchlis M. Hanafi atas Perkembangan Tafsir Tematik di Indonesia

Mardjoko Idris termasuk sarjana yang produktif menghasilkan tulisan, baik berupa artikel jurnal, buku, dan lainnya. Di antara tulisan-tulisannya yang terkait isu makna Al-Qur’an adalah Ilmu Balaghah (2007), Semantik Al-Qur’an (2008), Stilistika Al-Qur’an (2009), Gaya bahasa Nida dalam Al-Qur’an (2014), Kalimat Perintah dalam Al-Qur’an (2013), Tuturan dalam Al-Qur’an: Tinjauan Direct-Indirect Speech Act (2009), Pertentangan dan Perbedaan Makna dalam Al-Qur’an (2014).

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa isu faktor perluasan makna sebuah ayat termuat dalam buku Pertentangan dan Perbedaan Makna dalam Al-Qur’an, yang diterbitkan pada 2014 di KaryaMedia Yogyakarta. Isu tersebut dibahas pada bab lima.

Bab satu adalah pengantar, bab dua adalah Pandangan Para Linguis terhadap Pertentangan Makna, bab tiga adalah Prinsip Dasar Pertentengan Makna dalam Balaghah, bab empat adalah Prinsip Dasar Pertentangan Makna dalam Linguistik Umum, bab lima adalah Faktor-faktor Perluasan Makna dalam Al-Qur’an, dan bab enam adalah Pertentangan Makna dalam Al-Qur’an.

Tiga Faktor Perluasan Makna

Sebagiaman telah dikemukakan terdahulu bahwa minimal terdapat tiga faktor yang menyebabkan terjadinya perluasan makna.: (1) Konteks bahasa yang mengitarinya, (2) Gaya bahasa majas, (3) Perbedaan mufrad. Yang dimaksud perluasan makna karena faktor konteks bahasa adalah terjadinya perbedaan konteks yang mengitarinya, atau dikenal Ikhtilafu Al-Siyaq Al-Lughawi.

Misalnya, kata Al-Bathil yang memiliki makna asal kebatilan atau sebagai lawan kebenaran. Dalam Q.S Al-Baqarah: 188, kata Al-Bathil tidak atau kurang tepat bermakna kebatilan, melainkan Al-Tahrif dan Al-Tazwir, yakni membelokkan arah. Dalam Q.S Al-Anfal: 8, kata Al-Bathil bermakna Al-Kufr dan Al-Dhalalah, yakni kekafiran dan kesesatan. Dalam Q.S Shaf: 27, kata Al-Bathil bermakna Al-‘Abas, yakni tidak ada tujuan atau main-main.

Contoh lainnya adalah kata Al-Fakhisyah yang memiliki makna asal yaitu menunjuk pada suatu perbuatan atau perkataan yang sangat keji. Dalam Q.S Al-Naml: 54, Al-Fakhisyah tidak atau kurang tepat bermakna perbuatan yang sangat keji, melainkan bermakna Al-Liwath, yakni bersetubuh dengan lakil-laki. Dalam Q.S Al-Nisa: 15, Al-Fakhisyah bermakna Al-Zina, yakni perbuatan zina.

Yang dimaksud perluasan makna pada faktor gaya bahasa majaz adalah penggunaan kata bukan dimaksudkan untuk makna yang sebenarnya, karena adanya hubungan antara makna hakiki dengan makna majazi hubungan yang langsung.

Misalnya, kata Al-Abu yang memiliki makna asal yaitu ayah. Dalam QS. Al-Zukhruf: 22, Al-Abu lebih tepat dimaknai nenek atau paman atau guru/pendidik. Ini karena adanya hubungan antara makna hakiki dengan makna majazinya, yakni keduanya sama-sama memelihara, serta memberi perhatian yang besar terhadapnya.

Yang dimaksud perluasan makna pada faktor perbedaan mufrad adalah adanya kata secara sepintas lalu memiliki kesamaan, tetapi sebenarnya memiliki asal kata yang berbeda. Misalnya, kata Asfar yang memperlihatkan perluasan atau perbedaan makna antara yang terdapat pada QS. Al-Jumu’ah: 5 dengan yang terdapat pada QS. Al-Saba’: 19.

Baca Juga: Mengenal Badriyah Fayumi, Mufasir Perempuan Indonesia Pejuang Keadilan Gender

Pada QS. Al-Jumu’ah: 5, Asfar merupakan bentuk jamak dari kata (mufrad) sifrun yang bermakna buku-buku. Sementara pada QS. Al-Saba’: 19, Asfar merupakan bentuk jamak dari kata (mufrad) safar yang bermakna jarak perjalanan.

Contoh lainnya adalah kata Amtsal yang memperlihatkan perluasan atau perbedaan makna antara yang terdapat pada QS. Al-Waqi’ah: 23 dengan QS. Ibrahim: 25. Pada QS. Al-Waqi’ah: 23, Amtsal merupakan bentuk jamak dari (mufrad) mitslun yang bermakna bagaikan/seperti atau bak. Sementara pada QS. Ibrahim, Amtsal merupakan bentuk jamak dari (mufrad) matsal yang bermakna contoh atau perumpamaan.

Sampai di sini, tiga faktor di atas memberi pemahaman bahwa sangat mungkin satu kata dalam Al-Qur’an dipahami dengan beragam makna. Keragaman tersebut menunjukkan kekayaan kosa kata dan maknanya yang dimiliki oleh bahasa Al-Qur’an. Lebih jauh, sebenarnya masih banyak faktor lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya keragaman makna, sebagaimana diakui sendiri oleh Mardjoko Idris. Meski demikian, tiga faktor ini setidaknya penting dipahami oleh kita bahwa keragaman makna adalah hal penting dalam Al-Qur’an.[] Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Fathir Ayat 14-17

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 14-17 menegaskan bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mendengar seruan mereka. Dan kelak, tuhan-tuhan tersebut akan berlepas diri dari mereka ketika Kiamat tiba. Sejatinya, manusia sangat berkepentingan kepada Allah dalam segala aspek untuk menjalani kehidupan di dunia. Sementara Allah, tidak memerlukan manusia sama sekali, sebab kekuasaan Allah sempurna.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 12-13


Ayat 14

Ayat ini menerangkan bahwa tuhan-tuhan yang mereka persekutukan dengan Allah tidak dapat mendengar apabila diseru oleh penyembahnya, karena hanya berupa benda mati yang tidak bernyawa.

Andaipun dapat mendengar seruan penyembahnya, tuhan-tuhan itu tidak akan dapat berbuat apa-apa, serta tidak dapat melayani dan mengabulkan permintaan mereka di hari kiamat nanti.

Tuhan-tuhan itu berlepas diri dari mereka, tidak mau bertanggung jawab, dan bahkan berkata, “Sebenarnya mereka itu tidaklah menyembah kami, tetapi menyembah hawa nafsu mereka, dan sesuatu yang dianggap baik menurut ajakan dan bujukan setan.” Allah berfirman:

وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لِّيَكُوْنُوْا لَهُمْ عِزًّا ۙ  ٨١  كَلَّا ۗسَيَكْفُرُوْنَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا  ٨٢

Dan mereka telah memilih tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sama sekali tidak! Kelak mereka (se-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam/19: 81-82)

Ayat 14 ini ditutup dengan ketegasan bahwa pemberitaan mengenai tuhan-tuhan yang menjadi sembahan kaum musyrikin adalah benar dan tidak mungkin keliru, karena informasi itu berasal dari Allah, Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu dengan pasti. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, baik di bumi maupun di langit. Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ

Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit. (Ali ‘Imran/3: 5)


Baca Juga : Memahami Makna Al-Quran sebagai Kalamullah


Ayat 15

Pada ayat ini diterangkan bahwa manusia sangat berkepentingan kepada Penciptanya yaitu Allah karena semua manusia membutuhkan pertolongan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, seperti kekuatan, rezeki, menolak  bahaya, mendapat kenikmatan, ilmu dan sebagainya, baik urusan dunia maupun akhirat. Semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan rahmat dan taufik Allah.

Hanya Allah yang wajib disembah dan diharapkan rida-Nya. Ia Maha-kaya, tidak memerlukan sesuatu. Maha Terpuji atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada para hamba-Nya. Setiap nikmat yang dimiliki oleh manusia berasal dari sisi-Nya. Dialah yang seharusnya dipuji dan disyukuri dalam segala hal. Di ayat lain Allah menegaskan:

لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah benar-benar Mahakaya, Maha Terpuji. (al-Hajj/22: 64)

Ayat 16-17

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak memerlukan suatu apa pun, dan Dia mempunyai kekuasaan yang sempurna. Jika Allah mau menghancurkan makhluk-Nya, maka dengan sekejap saja hancur binasalah semuanya, karena sekalipun Dia yang menciptakan, tetapi Dia tidak mempunyai keperluan sedikit pun padanya.

Dia lalu menggantinya dengan makhluk lain yang akan patuh dan taat kepada perintah-Nya, menyerukan yang baik dan mencegah yang keji dan mungkar. Yang demikian itu tidak sulit bagi Allah untuk melaksanakannya, tetapi mudah sekali. Firman Allah:

اَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللّٰهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (al-‘Ankabut/29: 19)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 18


 

Tafsir Surah Fathir 12-13

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 12-13

Setelah sebelumnya diterangkan fungsi angin yang menciptakan hujan, kali ini Tafsir Surah Fathir Ayat 12-13 menjelaskan tentang air hujan yang turun ke bumi dan menjadi dua sifat air, yakni tawar dan asin, masing-masing memiliki keistimewaannya sendiri. Dijelaskan pula bahwa Allah-lah yang menciptakan malam dan siang, serta mengatur keduanya, bahwa malam untuk istriahat, sementara siang untuk bekerja., dan Allah yang berkuasa atas segala sesuatu.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 9-11


Ayat 12

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa ada dua keistimewaan air, masing-masing mempunyai kegunaan sendiri-sendiri. Keduanya dapat menjadi tempat berkembang biak ikan yang lezat cita rasanya.

Air tawar di sungai-sungai yang mengalir melalui desa-desa dan kota-kota besar, sedap diminum, menghilangkan dahaga, menyuburkan tanah, dan menumbuhkan rumput-rumputan, tanam-tanaman, dan pohon-pohonan.

Perahu-perahu dapat berlayar di atasnya untuk membawa keperluan hidup dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan air asin, di dalamnya terdapat mutiara dan karang laut yang dapat dijadikan perhiasan, dan menjadi tempat berlayarnya kapal-kapal besar membawa hasil bumi dan tambang dari satu tempat ke tempat-tempat lain.

Pelayaran itu baik di daerah sendiri maupun ke luar negeri sebagai barang ekspor atau mendatangkannya dari luar negeri sebagai barang impor, yang tidak dapat dijangkau oleh perahu-perahu kecil, sebagai barang dagangan untuk mencari karunia Allah.

Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa kekuasaan Allah dapat menundukkan air tawar dan air asin sehingga bisa dipergunakan menurut fungsinya masing-masing. Hal demikian itu bertujuan agar manusia bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya itu.

Menurut para saintis, air nikmat diminum dan terasa segar apabila mengandung hanya sedikit garam terlarut, sedangkan rasa asin dan pahit air laut disebabkan oleh tingginya kandungan garam yang terlarut di dalamnya.

Ukuran kandungan garam di dalam air biasa dinyatakan dengan kegaraman atau salinitas yang satuannya adalah gram garam per kg air, atau karena BD air = 1, dalam gram/liter. Empat belas abad yang lalu, ketika ilmu kimia praktis belum ada, ayat ini telah menyatakan bahwa salinitas air laut berbeda-beda.

Kenyataan ini terbukti kini bahwa apa yang dinyatakan dalam ayat ini benar adanya. Hasil pengukuran di seluruh dunia memperlihatkan bahwa salinitas rata-rata air laut adalah sebesar 34,72 gr/l. Tetapi salinitas rata-rata ketiga samudra besar memiliki perbedaan: 34, 90 untuk Samudra Atlantik, 34,76 untuk Samudra Hindia dan 34,62 untuk Samudra Pasifik.

Salinitas air di lautan terbuka umumnya bervariasi antara 33 sampai 37 gram/l. Salinitas tertinggi di laut terbuka dijumpai di Laut Merah ( sekitar 41 gr/l), sedangkan salinitas terendah dijumpai di Teluk Bothnia dan Laut Baltik (Masing-masing sekitar 10 dan 20 gr/l).


Baca Juga : Tafsir Ahkam: Bolehkah Berwudhu dengan Air Laut?


Ayat 13

Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah yang memasukkan malam ke dalam siang, maka jadilah siang itu lebih panjang dari malam, begitu pula sebaliknya. Dia memasukkan siang ke dalam malam maka jadilah malam itu lebih panjang dari siang. Silih bergantinya siang dengan malam merupakan suatu rahmat dari Allah.

Pada waktu siang, manusia bekerja mencari rezeki dan pada waktu malam mereka beristirahat untuk melepaskan lelah dan mengumpulkan tenaga baru untuk dipergunakan lagi esok harinya.

Allah menundukkan siang dan malam, dan menjadikan matahari dan bulan beredar menurut ketentuan yang telah digariskan. Tidak satu pun di antaranya yang menyalahi ketentuan itu, sehingga tidak terjadi tabrakan. Ini semua merupakan rahmat dari Allah, karena dengan demikian bilangan tahun dan perhitungan waktu dapat diketahui, sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat yang lain:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). (Yunus/10: 5).

Hanya Allah yang melakukan semua itu. Tuhan yang mempunyai kekuasaan yang sempurna dan mutlak. Dialah Tuhan yang wajib disembah. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah hamba-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya.

Berbeda dengan berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik, yang tidak memiliki daya kemampuan sedikit pun, sekalipun setipis kulit ari. Bahkan, sembahan mereka itu adalah milik Allah Pencipta semesta alam.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 14-17


Tafsir Surah Fathir Ayat 9-11

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 9-11 menerangkan bahwa Allah yang menciptakan angin yang menggiring awan sehingga menghasilkan hujan yang bisa dinikmati oleh manusia serta makhluk lain yang ada di bumi. Bagi manusia yang menginginkan kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, hendaknya taat atas perintah Allah Swt. Salah satu bentuk ketaatannya, adalah dengan mengimani kisah penciptaan Adam, dan meyakini bahwa umur manusia tidak ada yang kekal abadi.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 6-8


Ayat 9

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Dia-lah Yang Menciptakan angin yang menggerakkan awan tebal yang mengandung air kemudian membawanya ke bumi yang tandus, dan menurunkan hujan.

Dengan turunnya air hujan, bumi yang mati dan tidak ada pepohonan sedikit pun di atasnya berubah menjadi subur. Bumi menumbuhkan buah-buahan yang bermacam-macam dan beraneka ragam cita rasanya.

Demikianlah Allah menghidupkan bumi sesudah mati dengan hujan yang turun dari awan. Kalau manusia mau menggunakan akalnya dan memikirkan dengan sungguh-sungguh tanda kekuasaan Allah seperti kejadian yang tersebut di atas, tentu ia akan sampai kepada suatu kesimpulan bahwa Allah yang berkuasa menghidupkan tanah yang mati, tentunya kuasa pula menghidupkan manusia yang sudah mati sekalipun telah hancur dan tulang-belulangnya berserakan.

Diriwayatkan dari Abu Ruzain al-‘Uqaili bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw tentang bagaimana cara Allah menghidupkan orang mati dan apa tanda-tandanya pada makhluk.

Rasulullah saw menjawab, “Wahai Abu Ruzain, pernahkah engkau melalui suatu lembah kaummu yang gersang, kemudian kamu melaluinya kembali dalam keadaan subur dan menghijau?” Abµ Ruzain menjawab, “Pernah.” Rasulullah bersabda, “Begitulah Allah menghidupkan orang yang sudah mati.”

Baca Juga :

Ayat 10

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa barang siapa ingin mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat, hendaklah ia senantiasa taat kepada Allah karena semua kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat adalah kepunyaan-Nya.

Dialah yang menerima perkataan-perkataan yang baik seperti kalimat tauhid, zikir, membaca Al-Qur’an, dan lainnya, begitu pula amal-amal yang baik yang disertai dengan keikhlasan akan diberi pahala oleh Allah.

Sesuatu amal, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang dilakukan tanpa keikhlasan tidak akan berpahala, bahkan akan mendapat azab karena dianggap mendustakan agama.

Ibadah salat, zakat, dan amal-amal baik yang lain apabila dilakukan dengan ria, yakni dikerjakan bukan untuk mencari keridaan Allah, tetapi mencari pujian atau ketenaran di masyarakat, tidak akan diterima oleh Allah. Firman Allah:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ  ٤  الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ  ٥  الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ  ٦  وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ  ٧

Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan. (al-Ma’un/107: 4-7)

Orang-orang yang merencanakan kejahatan terhadap orang-orang Islam, seperti merencanakan suatu hal yang akan menyebabkan mundurnya Islam atau kurang mendapat perhatian dari masyarakat dan lain-lain, akan mendapat siksa yang pedih di hari Kiamat dan rencana buruknya akan hancur tidak mencapai sasarannya seperti yang dialami orang-orang kafir Mekah.

Mereka dulu merencanakan akan menangkap Rasulullah saw lalu membunuh atau mengasingkannya di suatu tempat yang jauh dari tumpah darahnya, agar Islam menjadi lemah bahkan akan hilang lenyap di permukaan bumi.

Ayat 11

Pada ayat ini, Allah menerangkan kejadian Adam yang menjadi nenek moyang manusia. Ia dijadikan oleh Allah langsung dari tanah, kemudian keturunannya dijadikan dari sperma yang pada hakikatnya juga berasal dari tanah karena berasal dari makanan berupa beras, sayur-sayuran dan lain-lain, yang berasal dari tanah.

Kemudian mereka dijadikan berpasang-pasangan, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tidak ada seorang perempuan yang mengandung atau melahirkan kecuali semuanya diketahui oleh Allah, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Sejalan dengan ayat ini Allah berfirman:

اَللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ اُنْثٰى وَمَا تَغِيْضُ الْاَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۗوَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهٗ بِمِقْدَارٍ   ٨  عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ   ٩

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa yang kurang sempurna dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya. (Allah) Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Mahabesar, Mahatinggi. (ar-Ra’d/13: 8-9).

Tidak seorang pun yang berumur panjang, kecuali telah ditetapkan Allah lebih dahulu dan tertulis di Lauh Mahfuzh, tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang.

Begitu pula orang yang telah ditetapkan berumur pendek, tidak akan lebih panjang dan tidak lebih pendek demi untuk menjaga keseimbangan di bumi supaya kemakmuran tertib jalannya. Hal demikian itu bagi Allah adalah mudah, karena Dia mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 12-13


Tafsir Surah An-Nahl Ayat 113

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 113 berbicara mengenai contoh kufur nikmat yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Salah satunya adalah mendustakan dan memusuhi Rasulullah SAW. Hal tersebut yang membuat mereka mendapat azab dari Allah SWT.


Baca juga: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112


Ayat 113

Di antara perbuatan mereka yang menunjukkan kufur nikmat ialah mendustakan dan memusuhi Rasul seperti diterangkan Allah dalam ayat ini. Pada waktu Rasul datang kepada mereka memberikan pengajaran dan bimbingan, mereka mendustakan dan memusuhinya, padahal mereka itu mengetahui asal-usul Rasul serta akhlak dan pergaulannya.

Mereka memahami pula bahwa ajaran yang diajarkan oleh Rasul itu benar, tetapi karena didorong oleh kepentingan dan kebencian tanpa alasan, mereka menolak dan menentangnya. Menurut sunnah Allah, setiap umat yang telah kedatangan Rasul, tetapi mereka mendustakan dan memusuhinya, akan ditimpa azab.

Firman Allah swt:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

…Tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isra’/17: 15)

Kaum musyrikin Mekah tidak pula terhindar dari siksa Allah akibat perbuatan mereka memusuhi Nabi Muhammad saw sebagaimana umat-umat dahulu. Mereka mengalami penderitaan dan kesengsaraan akibat kelaparan bertahun-tahun lamanya. Allah menurunkan hukuman kepada mereka karena permohonan Nabi Muhammad saw setelah beliau banyak menderita kesusahan. Doa Nabi saw:

اَللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ

(رواه البخاري عن ابن مسعود)

Ya Allah turunkanlah dengan keras hukuman-Mu kepada kaum Mudhar, (musyrikin Quraisy) dan jadikanlah hukuman atas mereka itu bertahun-tahun seperti tahun kelaparan pada zaman Nabi Yusuf as. (Riwayat al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud)

Setahun lamanya kaum musyrikin Mekah menderita kelaparan yang menghabiskan kekayaan mereka, sehingga mereka terpaksa makan kulit unta, anjing, bangkai, dan tulang yang dibakar.


Baca juga: Makna Tersirat dari Pelanggaran Nabi Adam dan Hawa Makan Buah Khuldi di Surga


Sebelumnya, mereka selalu memperoleh rezeki dan makanan melimpah ruah yang datang dari segala penjuru. Akan tetapi, semuanya telah berubah sehingga mereka harus hidup dalam kekurangan. Demikian pula kehidupan mereka yang semula aman dan tenteram berubah menjadi permusuhan dan ketakutan pada Rasul saw dan sahabat-sahabatnya.

Ketakutan ini timbul sesudah Rasul dan sahabat hijrah ke Medinah. Mereka merasa cemas akan kekuatan pasukan Islam, yang pada suatu waktu dapat menyergap kabilah-kabilah dagang atau hewan ternak mereka. Begitulah azab Allah yang diturunkan kepada mereka, yaitu kelaparan dan ketakutan yang meliputi kehidupan mereka disebabkan kekufuran kepada nikmat Allah.

Mereka adalah orang-orang zalim, berbuat aniaya, dan tidak mau mensyukuri nikmat Allah. Muhammad saw beserta sahabat-sahabat dan pengikutnya mengalami perubahan kehidupan. Mereka dulunya dalam ketakutan berubah menjadi tenteram dan damai, dan dari kesusahan berubah menjadi makmur dan bahagia. Mereka pada akhirnya menjadi pemimpin umat manusia dan penguasa di dunia.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 114


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Ahkam: Hukum Membasuh Bagian Dalam Mata Saat Wudhu

0
hukum membasuh bagian dalam mata saat wudhu
hukum membasuh bagian dalam mata saat wudhu

Mata merupakan salah satu bagian wajah yang telah disepakati ulama’ wajib dibasuh tatkala berwudhu. Namun mungkin jarang ada yang mencari tahu, manakah bagian mata yang sebenarnya wajib di basuh? Apakah posisi saat mata terpejam dalam artian bagian luar kelopak mata, atau saat terbuka dalam artian bola mata, atau kedua-duanya wajib dibasuh? Berikut penjelasan ulama’ pakar tafsir dan pakar hukum fikih.

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Hukum Berkumur dan Menyedot Air Ke Hidung dalam Wudhu

Membasuh mata sebagai bagian dari wajah

Menjawab pertanyaan apakah mata wajib dibasuh bersamaan dengan wajah saat berwudhu, perlulah diperjelas lagi mengenai yang dimaksud mata dalam pertanyaan tersebut. Bila yang dimaksud adalah kelopak mata, Imam A-Nawawi dalam Al-Majmu’ menyatakan ulama’ telah sepakat bahwa tempat keluarnya air mata wajib di basuh bersamaan dengan wajah pada saat wudhu. Namun bila yang dimaksud dengan mata adalah bagian mata yang terbuka saat melihat atau bola mata, maka para ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini. Dan inilah yang menjadi salah satu kajian dari para ahli tafsir (Al-Majmu’/1/370).

Para ulama’ ahli tafsir mengulas hukum membasuh bagian dalam mata saat wudhu tatkala menjelaskan tafsir firman Allah yang berbuyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki (QS. Al-Ma’idah [5] :6).

Imam Al-Qurthubi tatkala mengulas bagian-bagian wajah yang diperselisihkan ulama mengenai kewajiban membasuhnya menyatakan, mengenai persoalan dua mata, ulama’ telah sepakat bahwa bagian dalam mata tidak wajib dibasuh. Alasannya adalah menghindari kesulitan sebab air yang nantinya mengenai mata dapat menyakiti mata.

Hanya saja, Imam Al-Qurthubi menyatakan ada riwayat dari ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa ia memercikkan air ke kedua matanya. Namun berdasarkan keterangan Ibn ‘Arabi, Abdullah melakukannya tatkala kedua mata beliau sudah buta, sehingga memercikkan air ke mata tidaklah menyakiti mata beliau (Tafsir Al-Jami’ Liahkamil Qur’an/6/84).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Beda Pendapat Tentang Batas Mengusap Kepala Saat Wudhu

Imam Ar-Razi memberikan keterangan sedikit berbeda, yang berpendapat bahwa bagian dalam mata wajib dibasuh adalah Ibn ‘Abbas. Ibn ‘Abbar beralasan dengan menggunakan ayat di atas bahwa dalam wudhu wajib membasuh keseluruhan wajah, dan mata adalah bagian dari wajah. Sedang ulama’ yang tidak mewajibkan, beralasan bahwa membasuh bagian dalam mata dapat menyakiti mata. Padahal di akhir ayat di atas Allah berfirman (Tafsir Mafatihul Ghaib/5/484):

مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur (QS. Al-Ma’idah [5] :6).

Meski ada beberapa ulama’ yang disinyalir meyakini bahwa membasuh bagian dalam mata hukumnya wajib, tapi tampaknya pendapat tersebut menurut kalangan ahli fikih tidak dapat diikuti. Hal ini dibuktikan banyaknya ulama’ yang menyatakan bahwa ada ijma’ atau kesepakatan antar ulama’, bahwa bagian dalam mata tidak wajib dibasuh. Diantara ulama’ yang menyatakannya adalah Imam Asy-Syafi’i, Ibn Jarir dan Imam An-Nawawi (Mausu’atul Ijma’ fi Fiqhil Al-Islami/1/249).

Sebagai penutup, Imam Al-Umrani menjelaskan, membasuh bagian dalam mata tidak diwajibkan sebab tidak ada keterangan dari Nabi Muhammad saw, baik itu berupa ucapan maupun tindakan, yang menyatakan perlunya membasuh bagian dalam mata. Berbeda dengan berkumur atau menghirup air ke hidung yang memang ada keterangan dari Nabi Muhammad tentang keduanya.

Hanya saja, menurut Al-Umrani ada sebagian pengikut mazhab Syafi’i yang menghukumi Sunnah membasuh bagian dalam mata. Selain itu, ada pula yang menyatakan Sunnah mengusap bagian tempat keluarnya air mata, untuk berjaga-jaga ada kotoran mata yang menutupi kulit di bagian tersebut (Al-bayan/1/118). Wallahu a’lam bish showab.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112 berbica mengenai nikmat yang banyak diingkari oleh manusia, khsususnya oleh masyarakat Arab pada waktu itu. mereka terlena oleh kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah sehingga lupa untuk bersyukur.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 110-111


Ayat 112

Dalam sejarah umat masa lampau, banyak contoh-contoh yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat manusia sesudahnya. Satu kaum yang tinggal pada suatu negeri, semula hidup bahagia lahir dan batin, aman, dan tenteram. Mereka terpelihara dari ancaman musuh dan jauh dari bencana kelaparan dan kesengsaraan. Allah melimpahkan rezeki kepada mereka, baik rezeki yang terdapat di negeri mereka sendiri, maupun rezeki yang datang dari luar.

Semuanya itu membuat mereka hidup makmur dan damai. Namun demikian, segala nikmat Allah yang melimpah itu tidak mereka syukuri bahkan mereka menjadi kafir dan ingkar kepada-Nya. Hidup mereka tidak lagi terikat dengan norma susila dan keagamaan.

Mereka mabuk dengan kekayaan dan kemewahan sehingga lupa tanggung jawab mereka terhadap bangsa dan negara. Oleh karena itu, Allah menurunkan hukuman berupa bencana kelaparan dan kecemasan yang meliputi kehidupan mereka. itulah balasan bagi mereka.

Firman Allah swt:

۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ كُفْرًا وَّاَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِۙ    ٢٨  جَهَنَّمَ ۚيَصْلَوْنَهَاۗ وَبِئْسَ الْقَرَارُ   ٢٩

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (Ibrahim/14: 28-29);

Seharusnya mereka bersyukur atas segala nikmat yang besar itu, dan tidak berbuat sebaliknya. Karena kekafiran, Allah menukar suasana aman dan tenteram lagi penuh kemakmuran, menjadi suasana kelaparan dan ketakutan. Demikian juga keadaan kota Mekah dan penduduknya.

Kota Mekah karena letaknya yang strategis, di tengah-tengah Jazirah Arab, telah menjadi kota lintas perdagangan antara bagian utara dan selatan. Tiga pasar yang termasyhur terdapat di sekitarnya, yaitu: Pasar Ukaz dekat Pasar Taif, Majannah dekat Mekah, dan ªulmajaz dekat Arafah.

Pasar-pasar itu ramai dikunjungi pada bulan Zulkaidah dan Zulhijah oleh bangsa Arab dari segala kabilah. Di samping bulan-bulan itu untuk melakukan ibadah haji di Ka’bah, mereka mengadakan pula bermacam-macam kegiatan, seperti berdagang dan membaca syair-syair yang indah.


Baca juga: Mengenal Istilah Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfashil


Kota Mekah sejak sebelum Islam sudah merupakan kota yang ramai. Banyak orang yang berkunjung ke kota Mekah itu membawa rezeki dan kemakmuran. Al-Qur’an menceritakan letak kota Mekah yang berada di antara dua negeri yang besar yaitu Syam dan Yaman.

Firman Allah swt:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ  ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ  ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ  ١٥  فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ   ١٦

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), ”Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi  (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr. (Saba’/34: 15-16)

Bahwa kota Mekah itu negeri yang aman dan damai, dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

وَقَالُوْٓا اِنْ نَّتَّبِعِ الْهُدٰى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ اَرْضِنَاۗ اَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَّهُمْ حَرَمًا اٰمِنًا يُّجْبٰٓى اِلَيْهِ ثَمَرٰتُ كُلِّ شَيْءٍ رِّزْقًا مِّنْ لَّدُنَّا وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan mereka berkata, ”Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (Allah berfirman) Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-Qasas/28: 57)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 110-111

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 110-111 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai tekanan yang dialami oleh umat Islam. Kedua berbicara mengenai amal perbuatan di dunia yang kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 101-104


Ayat 110

Allah menerangkan keadaan kaum Muslimin di Mekah yang sangat tertekan, sehingga tidak berani memperlihatkan keislaman mereka. Bilamana kelihatan melakukan ibadah, mereka dipaksa dan disiksa agar kembali kepada agama nenek moyang mereka yaitu agama syirik seperti apa yang dialami ‘Ammar bin Yasir, Khabbab, dan lain-lain. Karena penghinaan dan ancaman penganiayaan itu, mereka lalu berpura-pura kembali kepada agama syirik.

Mereka mengikuti kemauan kaum Quraisy di bawah ancaman siksa. Ketika mendapatkan kesempatan hijrah meninggalkan kota Mekah, mereka pun pergi untuk hijrah. Dengan ikhlas mereka berpisah dengan sanak keluarga, harta benda, dan kampung halaman hanya karena mengharapkan rida Allah.

Bermacam-macam penderitaan dan kesulitan yang mereka hadapi dalam hijrah itu, baik dalam perjalanan maupun begitu tiba di tempat yang dituju. Semua penderitaan dan kesulitan itu mereka hadapi dengan penuh kesabaran serta tawakal kepada Allah.

Tempat yang menjadi tujuan mereka adalah negeri Habasyah (Ethiopia) yang jaraknya sangat jauh dari Mekah. Jarak yang jauh itu mereka tempuh dengan jalan kaki. Ketika sampai di tempat tujuan, mereka harus berjuang lagi mempertahankan keimanan sambil berdakwah.

Sesudah mereka mengalami cobaan dan penderitaan itu, Allah mengampuni kesalahan yang mereka lakukan di bawah ancaman siksaan seperti mengucapkan kata-kata kufur kembali. Allah swt memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya dengan memberikan pahala yang besar bagi mereka pada hari akhirat kelak.


Baca juga: Tafsir Iqra’: Perintah Al-Quran untuk Tanggap Literasi


Ayat 110

Pada hari perhitungan, setiap orang akan diminta pertanggung-jawabannya atas setiap perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia, baik berupa kebajikan maupun kejahatan. Firman Allah swt:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا  ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. (Ali ’Imran/3: 30)

Tidak seorang pun pada hari itu yang dapat membela orang lain. Masing-masing memikul bebannya sendiri dan tidak akan memikul dosa orang lain. Firman Allah swt:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (Fatir/35: 18)

Semua perbuatan yang bersifat kebajikan ataupun kejahatan pada hari itu akan mendapat balasan dan tidak ada seorang pun yang dirugikan. Setiap orang sepenuhnya akan memperoleh balasan dari setiap perbuatannya. Yang berbuat kebajikan diberi pahala dengan sempurna atas amal kebajikannya, dan yang berbuat maksiat diberi hukuman dengan sempurna atas perbuatan maksiatnya. Firman Allah swt:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ࣖ

Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan). (al-Baqarah/2: 281)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Iqra’: Perintah Al-Quran untuk Tanggap Literasi

0
iqra': perintah tanggap literasi
iqra': perintah tanggap literasi

Pada pembukaan pidato-pidato, tepatnya ketika mengenang jasa Nabi Muhammad, sering sekali kita mendengar kalimat ‘Nabi Muhammad adalah orang yang mengantarkan umat manusia dari zaman kegelapan menuju terang benderang’. Biasanya, ungkapan tersebut hanya dikonotasikan ke aspek-aspek spiritual semata, seperti ibadah, perintah dan larangan Allah, dosa dan pahala, dan semacamnya. Tidak banyak yang mengatakan bahwa proses menuju pada kehidupan yang terang benderang itu dengan bekal literasi, sebagaimana perintah ayat iqra’, yakni tanggap literasi.

Hal demikian seolah-olah menyatakan bahwa Islam hanya tentang ibadah, dosa dan pahala, surga-neraka, sehingga menjauhkan manusia dari hal lainnya, seperti ilmu pengetahuan. Termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu adanya budaya membaca, menulis dan kegiatan literasi lainnya. Padahal, kalau kita mencoba mengingat sejarah peradaban Islam, salah satu aktifitas literasi (membaca, menulis, dan lainnya) inilah yang justru pernah mengantarkan Islam pada masa kejayaannya berabad-abad silam.

Dalam konteks Indonesia, sangat amat disayangkan, sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia saat ini, masih memiliki indeks literasi yang rendah. Indonesia menepati urutan ke-60 dari 61 negara dengan tingkat literasi rendah.

Ini harus menjadi perhatian bagi kita semua bahwa tanggap literasi amatlah penting dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dalam membangun peradaban yang maju, seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw melalui Al-Quran. Lantas bagaimana kita menjelaskan bahwa Islam sangat peduli terhadap literasi? Serta bagaimana peran kita dalam meningkatkan kualitas literasi umat Islam khususnya?

Baca Juga: Tafsir QS. al-‘Alaq: Membangun Peradaban dengan Iqra dan Qalam

Al-Quran sebagai sumber literasi

Wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad adalah Q.S. Al-‘alaq [96]:1-5 memerintahkan manusia untuk tanggap literasi. Berikut bunyinya,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara qalam.

Menurut Ibn Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, قرأ (qa-ra-a) yang menjadi akar kata اقرأ  (iqra’) berarti menghimpun atau mengumpulkan. Zainudin ar-Razi dalam Mukhtar ash-Shihah mengatakan قرأ (qa-ra-a) bermakna mengumpulkan dan menghimpun dan kenapa dinamakan al-Qur’an, karena al-Qur’an mengumpulkan dan menghimpun surah-surahnya. Dengan demikian al-Qur’an menghimpun banyak informasi yang bisa dijadikan sebagai sumber untuk literasi manusia.

Al-Quran sebagai kitab yang mengajarkan segala hal bagi yang ingin mempelajarinya, dijelaskan oleh Ar-Razi dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghaib ketika menafsiri ayat diatas dengan ayat lain di surah An-Nisa’[4]: 113, bahwa ‘Allah akan mengajari engkau (Muhammad) apapun yang belum kamu ketahui’. Pada ayat ini disampaikan bahwa Al-Quran dijadikan sebagai sumber literasi bagi Nabi Muhammad saw. sekaligus perintah untuk tanggap literasi. Untuk hari ini, Al-Quran banyak menginspirasi  munculnya banyak ragam ilmu, baik ilmu yang identik dengan urusan ibadah atau lainnya.

Di kesempatan lain, Ar-Razi menegaskan bahwa wahyu pertama di atas menunjukkan bentuk pemuliaan Allah dalam hal mendidik manusia, sembari mensifati Allah Yang Maha Mulia untuk memuliakan manusia melalui kitab pendidikan dan sumber literasi, yaitu Al-Quran.

Baca Juga: Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra’

Literasi dan peningkatan kualitas hidup manusia

Pendapat-pendapat para ahli tafsir di atas yang berkaitan tentang pentingnya literasi bagi umat Islam benar-benar diejawantahkan oleh para cendekiawan muslim berabad-abad lalu dengan lahirnya berbagai ilmu pengetahuan. Mereka menyadari betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Mereka kemudian merealisasikannya dengan menggiatkan literasi dengan cara penelitian, penerjemahan, dan penulisan karya.

Hal yang menjadi autokritik bagi kita adalah seringkali kita melihat kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan di masa lalu sebagai sesuatu yang kita bangga-banggakan semata tanpa kita teladani, hingga akhirnya umat Islam sekarang banyak mengalami ketertinggalan. Padahal dalam Al-Qur’an, jelas dikatakan bahwa kata لِيَتتَفَقَّهوْا   (potongan ayat 122 surah at-Taubah) berarti ‘supaya mereka terus memperdalam (pengetahuan)’ yang berarti pendalaman pengetahuan baik agama maupun lainnya bersifat berkelanjutan tanpa henti.

Imam At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan mengatakan bahwa لِيَتتَفَقَّهوْا  artinya mendengarkan apa yang terjadi di sekitar manusia, alias memperhatikan perkembangan-perkembangan yang terjadi di masyarakat. Ini menjadi penting karena ketika pengetahuan hanya ada dalam pikiran, maka dia tidak bisa menjadi solusi bagi kehidupan.  Oleh karena itu, pengetahuan tersebut perlu disampaikan, terlebih lagi dipraktikkan dalam dunia nyata, bisa dengan menulis atau yang lainnya.

Berdasar cara pandang di atas, kita bisa mengatakan bahwa Islam sangat memerhatikan soal kualitas intelektual manusia dengan literasi dan mengujinya dengan memerhatikan kenyataan yang ada. Hal ini dilakukan agar ilmu pengetahuan bukan hanya sesuatu yang bersifat teori belaka dan jauh dari kenyataan masyarakat. Salah satu contoh yaitu ilmu fikih, sebuah displin ilmu yang berbasis pada banyak referensi dan selalu memperhatikan kondisi dan situasi masyarakat.

Sekali lagi, bagaimana kita memandang literasi itulah yang menentukan bagaimana ilmu pengetahuan diperlakukan dan diimplementasikan sebagai rahmat Allah bagi semesta alam. Maka sejatinya, literasi tidak melulu soal ilmu pengetahuan yang dibaca dan didiskusikan di ruang-ruang sempit dan terbatas pada retorika. Literasi bagi umat Islam adalah sebuah solusi yang dekat dengan kehidupan manusia. Wallahu a’lam