Beranda blog Halaman 284

Tafsir Surah An-Nur Ayat 58-59: Etika Anak Ketika Ingin Masuk Kamar Orang Tua

0
Tafsir Surah An-Nur Ayat 58-59: Etika Anak Ketika Ingin Masuk Kamar Orang Tua
Etika Anak Ketika Ingin Masuk Kamar Orang Tua

Perkembangan anak ditentukan oleh pendidikan yang didapat dari lingkungan sekitarnya. Segala sesuatu yang didengar dan dilihat oleh anak biasanya akan membekas dan bahkan menjadi contoh untuknya. Termasuk dalam hal ini adalah perilaku atau kebiasaan orang tuanya. Jika dicontohkan sesuatu yang baik, besar kemungkinan sikap anak juga menjadi baik, begitu pula sebaliknya.

Peran orang tua dalam keluarga sangat dibutuhkan untuk memberikan anak pengaruh yang baik dalam tahap perkembangannya. Salah satunya yang terkait dengan pendidikan akhlak atau cara berperilaku. Melalui pendidikan akhlak, anak diajarkan tentang berbagai etika berperilaku yang harus ia jalankan dan yang harus ia tinggalkan.

Pendidikan akhlak yang terpenting adalah mengenai sikap anak itu sendiri terhadap orang tuanya. Di antaranya mengajarkan anak untuk meminta izin ketika akan memasuki ruangan pribadi orang tuanya. Hal ini juga merupakan bagian dari sex education yang mencegah anak untuk melihat hal-hal yang dikhawatirkan atau tidak pantas.

Misalnya saja ketika anak memasuki kamar, orang tuanya sedang melakukan hubungan suami-istri atau sedang tidak menggunakan busana, maka akan memunculkan kebingungan bagi sang anak. Dilansir dari https://www.klikdokter.com, memang belum ada penelitian yang mengatakan bahwa anak yang melihat orang tua berhubungan seks akan memiliki gangguan mental.

Namun hal itu tetap akan memberi pengaruh sesuai dengan usia anak. Ketika usia anak 2 sampai 3 tahun mungkin belum mengerti, tetapi ketika anak yang sudah berusia remaja atau usia sekolah, besar kemungkinan anak akan meniru atau penasaran ingin merasakan hal serupa.

Dampak inilah yang semestinya dikhawatirkan oleh setiap orang tua. Pentingnya membiasakan anak untuk meminta izin ketika memasuki ruangan pribadi menjadi suatu keharusan yang dijalankan. Perintah ini sebagaimana termaktub dalam QS. An-Nur ayat 58-59 sebagai berikut.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلٰثَ مَرّٰتٍۗ مِنْ قَبْلِ صَلٰوةِ الْفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُوْنَ ثِيَابَكُمْ مِّنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْۢ بَعْدِ صَلٰوةِ الْعِشَاۤءِۗ ثَلٰثُ عَوْرٰتٍ لَّكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌۢ بَعْدَهُنَّۗ طَوَّافُوْنَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ وَاِذَا بَلَغَ الْاَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوْا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Terjemah: “Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan) yaitu, sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah salat Isya. (Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur dewasa, maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang lebih dewasa meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. An-Nur [24]: 58-59).

Baca juga: Surah An-Nur [24] Ayat 27: Anjuran Mengucap Salam Ketika Bertamu

Tafsir QS. An-Nur ayat 58-59

Quraish Shihab (2009: 609) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa An-Nur Ayat 58-59 ini turun ketika Nabi saw. memerintahkan seorang anak bernama Mudlij Ibn ‘Amir agar memanggil Umar bin Khattab. Hal itu terjadi pada siang hari saat Umar sedang beristirahat. Sang anak masuk tanpa izin, sehingga ia mendapati Umar dalam keadaan yang tidak beliau senangi.

al-Qurthubi (2009: 757-758) menjelaskan bahwa ayat di atas menjelaskan tentang waktu-waktu yang diharuskan meminta izin bagi seorang anak ketika memasuki ruangan pribadi orang tuanya. Setidaknya anak meminta izin dalam tiga waktu; Pertama, sebelum salat Subuh, karena ketika itu adalah waktu bangun tidur yang dikhawatirkan pakaian sehari-hari belum dipakai. Kedua waktu Zuhur, sebab ketika itu orang-orang menanggalkan pakaiannya bersama suami atau istrinya. Ketiga, setelah salat Isya, sebab waktu tersebut adalah waktu untuk tidur atau beristirahat.

Berkaitan dengan hal tersebut, Ibnu Katsir (2004: 82-83) mengutip riwayat al-Auza’i dari Yahya bin Abi Katsir. Ia mengatakan bahwa: “Apabila seorang anak masih balita, ia harus meminta izin kepada kedua orang tuanya (bila ingin masuk menemui keduanya dalam kamar) pada tiga waktu tersebut. Apabila telah mencapai usia baligh, ia harus meminta izin pada setiap waktu.

Baca juga: Tafsir Surah Yusuf Ayat 11-14: Waspadai Firasat Buruk Orang Tua terhadap Anaknya!

Ibrah Ayat Sebagai Basis Sex Education

An-Nur Ayat 58-59 mengarahkan manusia pada norma sosial dalam lingkungan keluarga. Hal ini bertujuan untuk mendidik anak agar memahami privasi orang tuanya. Orang tua menghindari terlihatnya perbuatan yang dianggap rahasia dan tidak pantas untuk diperlihatkan kepada anak.

Sebab betapa besarnya suatu bahaya, jika secara tiba-tiba anak memasuki ruangan pribadi orang tuanya yang sedang melakukan hubungan seksual, lalu keluar dan menceritakan apa yang dilihatnya kepada orang lain. Bukan hanya itu, anak bisa saja akan semakin bingung dan selalu teringat dengan pemandangan yang telah dilihatnya bahkan anak dapat menirukannya. Hal inilah yang menjadi sebab pentingnya bagi orang tua untuk mengajarkan anak meminta izin pada waktu-waktu tertentu.

Langkah-langkah Membiasakan Anak Meminta Izin

Sementara langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membiasakan anaknya meminta izin adalah dengan membiasakan anak mematuhi peraturan. Pertama, orang tua hendaknya selalu membuat peraturan dan menyampaikannya kepada anak. Meski anak belum mengerti, setidaknya orang tua dapat membimbing dan mencontohkan.

Misalnya ketika orang tua menggunakan sesuatu milik anaknya, maka harus meminta izin terlebih dahulu, begitu pula ketika memasuki kamarnya. Hal ini akan menjadi pelajaran bagi sang anak dan ia akan mengikuti kebiasaan orang tuanya.

Kedua, jika anak tersebut masih kecil maka orang tua dapat mengajarkan anak untuk memahami simbol atau warna pada ruangan atau benda yang tidak boleh digunakan tanpa izin.  Misalnya dengan memberikan kertas warna merah di depan pintu kamar orang tua, maka sang anak akan mengerti bahwa pintu tersebut tidak boleh dibuka tanpa seizin orang tuanya. Ketika kebiasaan-kebiasaan ini terus dilakukan, anak akan selalu ingat dan patuh tanpa harus mengetahui alasannya. Wallahu A’lam.

Baca juga: Surat Al-Isra’ [17] Ayat 23: Perintah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Tafsir Surah Saba’ Ayat 21-22

0
Tafsir Surah Saba'
Tafsir Surah Saba'

Melanjutkan tafsir sebelumnya, Tafsir Surah Saba’ Ayat 21-22 membicarakan tentang penentangan Allah atas sangkaan iblis, bahwa ia telah menyesatkan manusia. Bagi Allah, Iblis tidak memiliki kekuasaan untuk itu, adapun tipu daya yang dilakukan oleh Iblis adalah bentuk ujian Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan tidak berpengaruh pada keimanan seorang hamba, sama sekali.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Saba’ Ayat 19-20


Tafsir Surah Saba’ Ayat 21-22 juga menceritakan tentang perintah Allah kepada Muhammad Saw. agar menantang kaum musyrik Makkah, apakah mereka bisa memberikan bukti nyata manfaat dari berhala yang mereka sembah? Apakah berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri dapat menolong mereka? Jika tidak, bagaimana mungkin mereka menyembah sesuatu yang tidak bergeming sama sekali?

Ayat 21

Allah menolak dan membatalkan persangkaan Iblis yang tidak benar itu. Allah menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan sedikit pun bagi setan terhadap manusia untuk menyesatkan mereka, sehingga mereka durhaka kepada-Nya.

Tipu daya setan itu hanyalah sebagai ujian dari Allah terhadap hamba-hamba-Nya, apakah mereka mau teperdaya oleh bujukan setan ataukah mereka menolaknya sama sekali sehingga tidak mempengaruhi sedikit pun pada keimanan dan ketakwaan mereka.

Hasan al-Bashri berpendapat bahwa setan itu tidak pernah memukul manusia dengan tongkat dan tidak pernah memaksa mereka untuk melakukan sesuatu. Tindakan setan hanya sekadar melakukan tipu daya, membujuk dengan angan-angan kosong, lalu manusia menerimanya.

Tipu daya setan itu hanya seperti itu, tidak ubahnya seperti bakteri-bakteri yang menyerang manusia di musim tersebarnya wabah penyakit. Barang siapa tidak memiliki ketahanan yang kuat dalam tubuhnya untuk menahan serangan penyakit itu, ia menjadi korbannya.

Tetapi, penyakit itu tidak akan dapat menguasai orang yang di dalam tubuhnya terdapat unsur-unsur ketahanan yang kuat. Ia akan tetap sehat walafiat meskipun telah banyak orang yang jatuh sakit atau meninggal karenanya. Bila ada orang yang terperosok masuk perangkap setan maka janganlah ia menyalahkan orang lain, yang salah dan lemah dalam hal ini adalah dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, setiap manusia harus membentengi dirinya dengan iman yang kuat dengan takwa dan selalu beramal saleh.

Firman Allah:;وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim/14: 22).

Allah lalu menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa Dia mencatat segala perbuatan manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sebesar ©arrah pun. Ia akan memperhitungkan perbuatan manusia dengan seadil-adilnya dan tidak ada seorang pun yang dirugikan dalam hal ini, bahkan Dia akan membalas perbuatan yang baik dengan pahala yang berlipat ganda.


Baca Juga : Tafsir Surah Ali ‘Imran Ayat 54: Belajar Mewaspadai Makar dari Kisah Nabi Isa


Ayat 22

Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menantang kaum musyrikin Mekah, kalau berhala-berhala dan sembahan mereka benar-benar mempunyai kekuasaan walaupun sedikit, cobalah mereka buktikan hal itu dengan memberikan contoh tentang apa yang telah diciptakan atau yang mereka miliki.

Apakah berhala itu dapat memberikan pertolongan kepada mereka atau menolak bahaya yang mengancam mereka. Tentu saja mereka tidak dapat memberikan bukti-bukti seperti itu, karena tidak mungkin benda mati yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri akan dapat membuat sesuatu atau dapat menolong serta menolak kemudaratan dari mereka.

Oleh sebab itu, Allah menegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak memiliki kekuasaan sedikit pun (walau sebesar ©arrah sekalipun) terhadap langit, bumi, dan apa yang terdapat dalam keduanya, dan tidak ada kemampuan sama sekali untuk menolong mereka.

Bagaimanakah mereka sampai menyembahnya kalau mereka mempergunakan akal pikiran mereka. Dalam ayat lain, Allah menegaskan pula hal ini dengan firman-Nya.

وَالَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ مَا يَمْلِكُوْنَ مِنْ قِطْمِيْرٍۗ

Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (Fathir/35: 13)

Mereka tidak memiliki apa pun secara sendiri atau secara berserikat dengan yang lain dan tidak ada suatu apa pun yang bekerja sama dengan mereka dalam menciptakan atau memiliki sesuatu. Hal ini adalah fakta yang kita lihat di dunia.

 

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 23-24


Kisah Keluarga ‘Imran (Bag. 4): Ujian Maryam dan Kelahiran Isa yang di Luar Nalar

0
Kisah Keluarga ‘Imran (Bag. 4): Ujian Maryam dan Kelahiran Isa yang Menakjubkan
Sayyiduna Isa

Apabila kita hidup semasa dengan Siti Maryam, pastinya akan muncul rasa takjub dan kagum dengan sosok perempuan satu ini. Bagaimana tidak, sebab ialah satu-satunya perempuan yang diperbolehkan Allah untuk menjadi di Masjid al-Muqaddas. Sebelum-sebelumnya tidak pernah kejadian seperti itu. Selain juga karena melihat berbagai tingkah laku mulia dan budi pekerti luhur Maryam yang senantiasa menjaga kesucian dirinya. Putri semata wayang ‘Imran ini seakan-akan adalah sosok perempuan tanpa cela dan dosa.

Wanita Pilihan dan Ujian Allah

Hanya saja Allah ingin menguji hamba-Nya yang satu ini, sebab makin saleh tingkat spiritual seorang hamba, makin besar juga ujian yang akan diberikan padanya. Tujuannya tidak lain untuk mengangkat derajat si hamba sendiri. Ujian Maryam dalam hal ini adalah uji kepasrahan, episode ini dikisahkan pada tiga ayat berikut,

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (42) يَامَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ (43)

“Dan (ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan memilihmu di atas segala perempuan di seluruh alam. Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (Q.S. Ali ‘Imran (3): 42-43).

Jika kita amati ayat pertama, di sana terdapat pengulangan kata ishthafaki, Allah memilihmu. Yang pertama secara mutlak, sedangkan yang kedua dibarengi dengan frasa memilihmu di atas segala perempuan di seluruh alam. Kira-kira apa alasan adanya pengulangan tersebut?

Abu Hayyan menyebutkan banyak pendapat. Ada yang mengatakan bahwa pengulangan itu hanya sebagai penguat (taukid). Ada juga yang menyebut bahwa frasa ishthafaki kedua adalah sebagai penjelasan seperti apa ishthafaki yang pertama; seperti apa Maryam dipilih. Penjelasan terbaik, menurut beliau, adalah apa yang diterangkan oleh Az-Zamakhsyariy, pengarang kitab Tafsir al-Kasyaf,

“Allah telah memilihmu (Maryam) tatkala Ia menerimamu sebagai nazar ibumu, merawatmu, menganugerahimu karamah kebaikan, menyucikanmu serta menghindarkanmu dari perilaku kotor dan tercela dan dari tuduhan keji umat Yahudi bahwa kau telah berzina. Lalu ia memilihmu lagi di atas perempuan-perempuan alam semesta karena Ia telah memberikanmu Isa yang terlahir tanpa seorang ayah dan hal tersebut tidak akan pernah dialami oleh perempuan manapun selain kamu.” Penafsiran serupa juga didukung oleh al-Razi dan Ibnu Asyur. (Al-Kasyaf, juz 1 hal 362).

Baca juga: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 42: Meneladani Kebersihan dan Kesucian Diri Siti Maryam

Kabar Kelahiran Isa

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Q.S. Ali ‘Imran (3): 45).

Berbeda dengan ayat Ali Imran di atas, dalam surah Maryam dapat kita jumpai lebih detail cerita Maryam. Hal ini dapat kita rujuk pada ayat 16-33 darinya. Secara singkat ceritanya begini,

Saat sedang berasyik-masyuk di mihrab, tiba-tiba seorang laki-laki rupawan menghampiri Maryam. Melihat itu Maryam merasa terganggu. Ada rasa khawatir kalau-kalau terdapat niat buruk dari laki-laki tersebut. Kata Maryam, “Aku memohon perlindungan pada Allah darimu jika engkau orang bertakwa.”

Sang laki-laki menjawab, “Tenanglah, sesungguhnya aku adalah utusan Tuhanmu untuk memberitahukan kabar gembira atas akan lahirnya seorang putra darimu,” ternyata ia adalah Malaikat Jibril.

Telak saja Maryam kaget dan merasa bingung. Apa tanggapan orang jika kemudian ia tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang putra, padahal ia tidak pernah menikah sebelumnya? “Bagaimana bisa aku memiliki seorang anak sedangkan belum pernah ada laki-laki yang menyentuhku dan aku bukanlah seorang pezina!” Begitu tanya Maryam.

Kegusaran ini memang hal yang wajar. Sebagai hamba yang selalu berusaha menjaga kesucian dirinya, tentu masyarakat sekitar akan sangsi melihat ia tiba-tiba hamil tanpa pernah menikah.

Di sini terdapat salah satu hikmah urutan ayat-ayat Ali ‘Imran (42-45). Terhitung dua kali Malaikat Jibril memanggil Maryam (ya maryam) -Panggilan pertama dalam ayat 42, dan panggilan kedua pada ayat 45-. Seruan pertama berisikan kabar gembira penyucian Maryam. Adapun seruan kedua menginformasikan kabar gembira akan kelahiran Isa as.

Abu Hayyan menyebut bahwa alasan penyampaian kabar gembira terlebih dahulu adalah sebagai pembukaan (muqaddimah) kabar kelahiran Isa as. Tujuannya sebagai penegasan bahwa kelahiran Isa, selain sebagai ujian, juga adalah sebuah rahmat untuk Maryam. Penegasan ini penting sebab jika tidak demikian akan muncul dalam benak Maryam persangkaan bahwa Tuhan sedang mengutuk dan menghinakan dirinya sebab kelahiran anak tanpa keberadaan seorang ayah. (al-Bahr al-Muhith, juz 2 hal 480).

Baca juga: Kisah Nabi Isa, Lahir Tanpa Ayah Hingga Diangkat ke Langit

Masa Kehamilan Maryam

Pada masa-masa kehamilan, Maryam mengasingkan dirinya di suatu tempat terpencil di daerah timur (Bethlehem, Palestina) di bawah naungan pohon kurma. Walaupun pernah diyakinkan Malaikat Jibril bahwa kehamilan ini adalah karunia Allah, pengasingan dirinya dan bayang-bayang stigma masyarakat yang masih membayang membuatnya bersedih kembali. (Q.S. Maryam (19): 23).

Kembali Malaikat Jibril datang menghibur Maryam. Kata Jibril, “Jangan kau bersedih hati, Allah telah mengalirkan satu mata air segar di sisimu dan  nikmatilah buah kurma dari pohon ini. Tinggal kau goyangkan saja dahannya niscaya akan berguguran kurma-kurma masak yang lezat.”

“Bagaimana jika seseorang lewat dan menanyakan alasan pengasinganku di sini?” Maryam menanyakan kekhawatiran lainnya.

“Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapapun pada hari ini.” (Q.S. Maryam (19): 26).

Baca juga: Surah Maryam [19] Ayat 26: Kisah Maryam Berpuasa Bicara

Pelajaran Penting bagi Manusia

Orang pertama yang menyadari kehamilan Maryam adalah sosok terdekatnya, yakni bocah laki-laki bernama Yusuf, ia juga merupakan khadam al-Muqaddas. Melihat perut Maryam layaknya ibu hamil, Yusuf akhirnya menyadari bahwa Maryam sedang hamil. Yusuf lalu menanyakan sebab kehamilan Maryam dengan ungkapan metaforis berikut,

“Apakah mungkin tumbuh tanaman tanpa ada biji benih sebelumnya?”

Maryam lalu menjawab, “Iya, mungkin saja.”

Yusuf kebingungan, bagaimana bisa demikian, sebab yang ia ketahui tanaman hanya dapat tumbuh dari biji tanaman. Lalu kata Maryam,

“Allah Swt. pertama kali menciptakan biji tanaman tidak berasal dari tumbuhan yang telah masak, dan Ia menciptakan tumbuhan pertama dengan tanpa biji sebelumnya. Boleh jadi engkau telah berpikiran bahwa Allah tidak mampu menciptakan tanaman dari tanpa sebuah biji, bukankah jika demikian Allah bukan Dzat Yang Maha Mampu?” Maryam menjelaskan panjang lebar.

Yusuf menjadi paham dan menyadari kesalahan persepsinya, “Aku berlindung pada Allah dari pemahaman salah seperti itu. Engkau memang benar dan telah berkata dengan cahaya hikmah.” (Ruh al-Ma’aniy, juz 2 hal 159).

Maka, selang beberapa bulan Maryam melahirkan Isa, sang kalimat Allah. Di dalam al-Quran, Allah menyebut bahwa kisah kelahiran Isa tanpa ayah ini bertujuan sebagai pelajaran bagi manusia. Firman-Nya,

قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

“(Jibril) berkata, “Demikianlah yang terjadi. Tuhanmu berkata, “Hal itu adalah mudah bagiku. Itu aku tujukan sebagai ayat untuk manusia dan rahmat dariku. Dan keputusanku pasti terlaksana.” (Q.S. Maryam (19): 21).

Dalam kaitannya dengan sains (naturalisme), pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah bahwa apa yang terjadi di alam semesta mutlak berada di bawah aturan dan wewenang Allah. Apa yang dikenal sebagai hukum alam atau hukum fisika, dalam Islam disebut sebagai sunnatullah, aturan-aturan Allah. Hukum alam tidak bersifat determinis. Fenomena alam tak lain adalah manifestasi-Nya (tajalli). (Mantiq: Catatan Ngaji Logika al-Ghazali, hal 200).

Oleh karenanya, istilah yang tepat bukan hukum alam (laws of nature) melainkan keteraturan alam (regularities of nature). Di sebagian besar kasus alam bergerak secara regular, tapi kadang ia bertingkah secara irregular-tidak biasa, sesuai kehendak-Nya, sebagaimana dibuktikan oleh kisah-kisah di luar nalar (khariq al-‘adah) yang terjadi pada kehamilan Hannah, Iiysa’ binta Faqudza atau pada kehamilan Maryam ini. Wa Allahu a’lamu.

Baca juga: Kisah Keluarga ‘Imran (Bag. 2): Nabi Zakariya dan Pengasuhan atas Maryam

Tafsir Surah Saba’ Ayat 19-20

0
Tafsir Surah Saba'
Tafsir Surah Saba'

Sebelumnya, diceritakan bahwa kaum Saba’ yang selamat dari bencana kemudian melakukan perjalan ke Makkah dan Syam. Akan tetapi, sebagaimana dijelaskan Tafsir Surah Saba’ Ayat 19-20, ketika mereka sudah mendapatkan kemudahan, jusru meminta disepanjang perjalanan agar tidak ada tempat singgah, ini menunjukkan watak kesombongan mereka, yang tanpa mereka sadari sikap tersebut justru menganiaya diri mereka sendiri.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Saba’ Ayat 16-18


Allah pun mengabulkan permintaan mereka, dan akhirnya mereka terpencar sebagai suatu kaum, hingga kini tidak ada jejak tentang kaum ini. Sampai-sampai Iblis mengira bahwa Allah telah membinasakan kaum Saba’ dan negerinya, dan membuat Iblis bangga bahwa ia telah menjerumuskan manusia lagi.

Ayat 19

Oleh karena itu, mereka meminta kepada Allah supaya di sepanjang perjalanan antara suatu negeri dengan negeri lain tidak ada tempat singgah untuk beristirahat, sehingga perjalanan harus dilanjutkan walaupun akan menderita berbagai macam kesulitan.

Beginilah watak mereka dan watak orang-orang sombong, sudah mendapat kemudahan, justru mereka menginginkan kesulitan dan penderitaan. Tidak ubahnya seperti Bani Israil yang telah diberi Allah makanan yang baik yaitu Manna dan Salwa, lalu mereka meminta makanan biasa, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۗ قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَكُمْ مَّا سَاَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. (al-Baqarah/2: 61)

Sebenarnya dengan permintaan itu, kaum Saba’ telah menganiaya diri sendiri dan tidak puas dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Mereka telah lupa bahwa Allah menghancurkan negeri mereka yang subur dan makmur tiada lain karena mereka tidak mau beriman dan bersyukur atas karunia Allah.

Oleh sebab itu, Allah memenuhi perminta-an mereka dengan meniadakan tempat singgah dalam perjalanan mereka, sehingga mereka kesulitan melakukan perdagangan, dan kehidupan mereka menjadi susah.

Mereka harus hijrah ke negeri lain meninggalkan negeri mereka dan berpencar-pencar ke sana kemari. Kabilah Jafnah bin Amr terpaksa tinggal di negeri Syam, Aus dan Khazraj di Medinah, dan Azad (Uman) tinggal di Oman.

Demikian pula kabilah-kabilah yang lain. Hilanglah wujud mereka sebagai suatu umat yang dahulunya sangat masyhur sebagai suatu umat yang mulia yang mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi.

Yang tinggal hanya cerita-cerita yang diriwayatkan dari mulut ke mulut dan kemasyhuran mereka hanya menjadi bahan penghibur, dibicarakan pada waktu mereka berjaga di malam hari.

Sesungguhnya yang dialami kaum Saba’ ini patut menjadi pelajaran bagi setiap orang yang sabar dan tahu bersyukur atas setiap nikmat yang diterimanya dari Allah. Setiap hamba harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan bersabar menerima cobaan-Nya. Bahkan ia harus bersyukur kepada Allah walaupun mendapat cobaan dari-Nya.

Diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqas bahwa Rasulullah bersabda:

عَجِبْتُ مِنْ قَضَاءِ اللهِ تَعَالَى لِلْمُؤْمِنِ اِنْ اَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ رَبَّهُ وَشَكَرَ وَاِنْ اَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ حَمِدَ رَبَّهُ وَصَبَرَ  يُؤْجَرُ الْمُؤْمِنُ فِى كُلِّ شَيْءٍ حَتىَّ اللُقْمَةَ يَرْفَعُهَا اِلَى اِمْرَاَتِهِ. (رواه احمد)

Aku mengagumi ketetapan Allah untuk seorang mukmin. Bila ia mendapat kebaikan ia memuji dan bersyukur kepada-Nya. Bila ia ditimpa musibah ia memuji dan bersyukur kepada-Nya. Orang mukmin mendapat pahala dalam segala hal walaupun hanya sesuap makanan yang ia berikan untuk istrinya. (Riwayat Aاmad)


Baca Juga : Genealogi Kajian Tafsir di Kawasan Yaman: Masa Nabi dan Sahabat (1)


Ayat 20

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Iblis menyangka kaum Saba’ yang telah dibinasakan Allah beserta negeri mereka telah mengikutinya dan dengan penuh kepatuhan melaksanakan tipu dayanya.

Ia menyangka mereka telah mendurhakai Allah dan tidak bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, kecuali sebagian orang yang beriman yang tetap imannya dan tidak menerima tipu daya itu.

Dengan demikian, Iblis menyangka bahwa dia dapat menguasai manusia dan membawa mereka ke jalan kesesatan, sebagaimana diikrarkan di hadapan Allah. Hal ini tersebut dalam firman-Nya:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٨٢  اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ  ٨٣

(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (Sad/38: 82-83)

 

 (Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 21-22

Tafsir Surah Saba’ Ayat 16-18

0
Tafsir Surah Saba'
Tafsir Surah Saba'

Tafsir Surah Saba’ Ayat 16-18 menceritakan bagaimana bentuk siksa yang Allah turunkan kepada kaum yang ingkar, yakni kaum Saba’. Kebanggaan mereka terhadap bendungan Ma’arib, seketika diruntuhkan oleh Allah dengan membobol bendungan tersebut dan menimbulkan bencana yang hebat. Negeri mereka dilanda banjir besar yang merubuhkan apa saja yang menghambar arusnya. Allah menujukkan kepada mereka kekuasaan-Nya dan membuat mereka tak berdaya, kesombongan mereka hanyalah omong kosong semata.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Saba’ Ayat 14-15


Diceritakan pula dalam Tafsir Surah Saba’ Ayat 16-18 kalau diantara mereka yang selamat melakukan perjalanan hijrah dari negeri yang hancur tersebut menuju negeri yang subur, yakni Syam dan Makkah, mereka memulai kehidupan baru di dua negeri tersebut, baik berdagang ataupun bercocok tanam.

Ayat 16

Mereka menolak dan berpaling dari seruan Allah, bahkan meng-halangi orang-orang yang insaf beriman kepada-Nya. Allah lalu menimpakan siksaan kepada mereka dengan membobolkan Bendungan Ma’rib dan terjadilah malapetaka yang hebat.

Negeri mereka dilanda banjir yang deras, dan menghanyutkan semua yang menghalangi arusnya. Kebun-kebun yang berada di kiri dan kanan negeri itu menjadi musnah, dan semua binatang ternak mereka hanyut. Korban manusia pun tidak terhitung banyaknya, sehingga hanya sedikit orang yang masih hidup. Hanya beberapa kelompok kecil dari mereka yang selamat dari malapetaka yang dahsyat itu.

Mereka yang selamat ini pun tidak dapat tinggal dengan senang di tempat mereka semula. Sebagian dari mereka lalu hijrah ke tempat lain yang subur karena tidak ada lagi kebun-kebun yang bisa mereka tanami dengan baik dan tidak banyak lagi binatang-binatang ternak yang akan mereka pelihara.

Tanah-tanah yang dahulu subur telah menjadi tandus karena semua air yang tersimpan di dalam bendungan telah tumpah ke padang pasir yang dapat menelan air berapa pun banyaknya. Yang tumbuh di bekas kebun-kebun mereka hanya tumbuhan yang tidak banyak gunanya, buahnya pun pahit. Bila mereka ingin bercocok tanam yang mereka harapkan hanya air hujan yang turun dari langit saja.


Baca Juga : Surat al-Mumtahanah Ayat 8: Al-Quran Ketika Menyikapi Pluralitas Beragama di Indonesia


Ayat 17

Demikianlah sunatullah telah berlaku terhadap kaum Saba’ sebagaimana yang berlaku bagi umat-umat yang sombong dan durhaka sebelumnya, tidak mau menerima kebenaran, serta selalu menolak dan membangkang terhadap ajaran Allah yang dibawa oleh para rasul-Nya. Demikianlah Allah menimpakan azab dan malapetaka kepada kaum kafir yang mengingkari dan tidak bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan kepada mereka.

Ayat 18

Kaum Saba’ yang masih tinggal di negerinya, walaupun mengalami kesulitan hidup karena negeri mereka telah menjadi lekang dan tandus, mengadakan perjalanan untuk berdagang dari suatu negeri ke negeri yang lain, terutama ke negeri-negeri yang agak besar, seperti Mekah dan Syam di utara dan barat laut.

Negeri-negeri tersebut pada waktu itu termasuk negeri yang makmur yang menjadi pusat perdagangan. Perjalanan di antara negeri-negeri itu mudah dan aman karena adanya kampung-kampung tempat singgah para musafir bila kemalaman dan kehabisan bekal atau merasa letih.

Mereka dapat bertahan hidup dan dapat pula bercocok tanam sekadarnya pada waktu musim hujan. Mereka juga memelihara binatang ternak ketika di sana masih banyak padang rumput. Ini adalah suatu nikmat dari Allah kepada mereka walaupun tidak sebesar nikmat yang dianugerahkan-Nya ketika Bendungan Ma’rib belum hancur dan musnah.

Allah menyuruh mereka mempergunakan nikmat itu dengan sebaik-baiknya dan berjalan dengan membawa barang dagangan di antara negeri-negeri dengan aman, walaupun jarak yang ditempuh mereka kadang-kadang amat jauh. Mereka dapat singgah di kampung-kampung yang ada di sekitar kota-kota besar itu bila merasa lelah. Bila mereka kemalaman mereka dapat berhenti di kampung yang terdekat dan demikianlah seterusnya.

 

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 19-20


Tafsir Surah Saba’ Ayat 14-15

0
Tafsir Surah Saba'
Tafsir Surah Saba'

Tafsir Surah Saba’ Ayat 14-15 menerangkan bahwa betapa pun besarnya kekuasaan Nabi Sulaiman hingga bisa mempekerjakan jin sesuai keinginannya, namun, begitu ajalnya tiba maka tidak akan ada yang dapat menunda. Maka ketika Allah telah menetapkan kematian atas Nabi Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya yang dijadikan sandaran ketika dia wafat.

Tafsir Surah Saba’ Ayat 14-15 juga menceritakan reaksi jin ketika melihat jenazah Nabi Sulaiman jatuh tersungkur, jin menyadari bahwa ia telah wafat. Ini adalah bukti lain bahwa, jin tidak mengetahui hal gaib,sebagaimana anggapan sebagian orang. Sekiranya mereka mengetahui – wafatnya Nabi Sulaiman – tentu mereka akan berhenti mengerjakan pekerjaan berat demi Nabi Sulaiman yang mereka kira masih hidup dan mengawasi mereka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Saba’ Ayat 11-13


Disaat yang sama, Tafsir Surah Saba’ Ayat 14-15 juga memberikan pesan tentang anugerah Allah yang besar kepada hamba-Nya yang taat dan bersyukur dengan mengerjakan amal saleh, antara lain Nabi Daud dan Sulaiman. Sebaliknya, Kaum Saba’, karena mereka mengingkari nikmat Allah, Allah pun menghukum mereka.

Ayat 14

Ayat ini menerangkan bahwa ketika ajalnya telah dekat, Nabi Sulaiman duduk di atas singgasananya bertelekan pada tongkatnya. Pada waktu itulah Sulaiman meninggal dunia dan tidak seorang pun yang tahu bahwa dia sudah meninggal baik para pengawalnya, penghuni istana, maupun jin-jin yang selalu bekerja keras melaksanakan perintahnya.

Dia jatuh tersungkur karena tongkatnya dimakan rayap, sehingga tidak dapat menahan berat tubuhnya. Ketika itu, barulah orang sadar bahwa Sulaiman sudah meninggal, demikian pula jin-jin yang tetap bekerja keras melaksanakan perintahnya.

Pada waktu itulah mereka mengakui kelemahan diri mereka, karena tidak dapat mengetahui bahwa Sulaiman telah meninggal. Kalau mereka tahu bahwa Sulaiman telah meninggal, tentulah mereka tidak akan tetap bekerja keras, karena mereka hanya diperintahkan Allah patuh kepada Nabi Sulaiman saja, tidak kepada pembesar-pembesar di istananya.

Allah tidak menerangkan dalam ayat ini berapa lama Sulaiman bertelekan di atas tongkatnya sampai ia jatuh tersungkur.

Sebagian mufassir mengatakan bahwa Nabi Sulaiman bertelekan pada tongkatnya sampai ia mati selama satu tahun. Mereka mengatakan bahwa Nabi Daud telah mulai membangun Baitul Makdis tetapi tidak dapat menyelesaikan pembangunannya.

Ketika sudah dekat ajalnya, ia berwasiat kepada Nabi Sulaiman agar menyelesaikan pembangunannya. Nabi Sulaiman memerintahkan jin yang tunduk di bawah kekuasaannya supaya menyelesaikan bangunan itu. Tatkala Sulaiman merasa ajalnya sudah dekat, dia ingin menyembunyikan kematiannya kepada jin-jin yang bekerja keras menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu Nabi Sulaiman bertelekan di atas tongkatnya agar kalau ia mati, orang akan menyangka ia masih hidup karena masih duduk bertelekan di atas tongkatnya. Akhirnya tongkatnya itu dimakan rayap dan patah. Pada waktu itu, barulah diketahui bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal.

Mereka ingin mengetahui berapa lama Sulaiman bertelekan pada tongkat itu setelah ia meninggal, dengan mengambil sisanya. Setelah mereka perhitungkan, ternyata rayap itu dalam sehari semalam hanya memakan sebagian kecil saja dari tongkat itu, sehingga dibutuhkan waktu satu tahun untuk dapat merusaknya.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa Sulaiman bertelekan pada tongkatnya sampai ia meninggal. Memang tongkat itu telah lama dimakan rayap tanpa diketahui oleh Sulaiman.

Pada waktu Sulaiman bertelekan di atas tongkat ketika ajalnya tiba, tongkat itu sudah lapuk juga. Tidak mungkin seorang raja akan dibiarkan saja oleh keluarga dan pengawalnya tanpa makan dan minum, tanpa menanyakan kepadanya hal-hal penting yang harus dimintakan pendapatnya.

 Mana yang benar di antara kedua pendapat ini tidak dapat kita ketahui. Dalam kisah-kisah para nabi banyak sekali terjadi hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia karena mereka diberi mukjizat oleh Allah.

Kalau Nabi Sulaiman bertelekan hanya sebentar saja lalu roboh tersungkur, tentu para jin tidak akan menyesal demikian hebatnya karena mereka telah telanjur bekerja menyelesaikan Baitul Makdis.


Baca Juga : Kisah Nabi Sulaiman Dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja


Ayat 15

Di sebelah selatan negeri Yaman berdiam suatu kaum bernama Saba’. Mereka menempati suatu daerah yang amat subur sehingga mereka hidup makmur dan telah mencapai kebudayaan yang tinggi. Mereka dapat menguasai air hujan yang turun lebat pada musim tertentu dengan membangun sebuah bendungan raksasa yang dapat menyimpan air untuk musim kemarau.

Bendungan itu boleh dikatakan bendungan alami karena terletak di antara dua buah bukit dan di ujungnya didirikan bangunan yang tinggi untuk mencegah air mengalir sia-sia ke padang pasir. Mereka membuat pintu-pintu air yang bila dibuka dapat mengalirkan air ke daerah yang mereka kehendaki. Bendungan ini terkenal dengan Bendungan Ma’rib atau Bendungan al-‘Arim.

Banyak di antara ahli sejarah dan peneliti di barat meragukan tentang adanya Bendungan Ma’rib ini. Akhirnya seorang peneliti dari Perancis datang sendiri ke selatan Yaman untuk menyelidiki sisa-sisa bendungan itu pada tahun 1843.

Dia dapat membuktikan adanya bendungan itu dengan menemukan bekas-bekasnya, lalu memotret dan mengirimkan gambar-gambarnya ke suatu majalah di Perancis. Para peneliti lainnya menemukan pula beberapa batu tulis di antara reruntuhan bendungan itu. Dengan demikian, mereka bertambah yakin bahwa dahulu kala di sebelah selatan Yaman telah berdiri sebuah kerajaan yang maju, makmur, dan tinggi kebudayaannya.

Pada ayat ini, Allah menerangkan sekelumit tentang kaum Saba’ yang mendiami daerah sebelah selatan Yaman itu. Mereka menempati sebuah lembah yang luas dan subur berkat pengairan yang teratur dari Bendungan Ma’rib.

Di kiri dan kanan daerah mereka terbentang kebun-kebun yang amat luas dan subur yang menghasilkan bahan makanan dan buah-buahan yang melimpah ruah.

Kaum Saba’ pada mulanya menyembah matahari, namun setelah pimpinan kerajaan dipegang Ratu Balqis, mereka menjadi kaum yang beriman dengan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Sulaiman. Hal ini diceritakan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيْدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَاٍ ۢبِنَبَاٍ يَّقِيْنٍ   ٢٢  اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ    ٢٣  وَجَدْتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُوْنَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُوْنَۙ    ٢٤

Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk. (an-Naml/27: 22-24)

Tetapi, lama-kelamaan kaum Saba’ menjadi sombong dan lupa bahwa kemakmuran yang mereka miliki adalah anugerah dari Yang Mahakuasa dan Maha Pemurah. Allah dengan perantaraan rasul-Nya memerintahkan agar mereka mensyukuri-Nya atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan kepada mereka.

Negeri mereka menjadi subur dan makmur berkat karunia Allah Yang Maha Pengampun, melindungi mereka dari segala macam bahaya dan malapetaka.

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 16-18

Dasar Hukum dan Syarat-Syarat Penyembelihan Hewan Kurban

0
Hewan Kurban
Hewan Kurban

Kata “kurban” pada hakikatnya berasal dari bahasa Arab, yaitu “qurban” (قربان), yang berarti “dekat”, “mendekatkan diri”. Istilah ini selalu kita gunakan dalam kaitan dengan kegiatan penyembelihan hewan pada hari Raya Idul Adha. Hari Raya Idul Adha itu sendiri pada hakikatnya berarti “Hari raya di mana seseorang harus kembali untuk melakukan kurban dengan memotong hewan kurban”. Istilah “qurban” sendiri dalam istilah Arabnya jarang digunakan, dan istilah yang paling umum digunakan untuk itu ialah “adha” (أضحى) atau “udhiyah” (أضحية).

Kata “qurban” atau “udhiyah” itu berarti “nama bagi sesuatu yang disembelih atau dikurbankan pada hari Raya Idul Adha. Menurut istilah ulama fikih, “kurban” yaitu penyembelihan hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah swt. pada waktu tertentu. Atau dengan perkataan lain bahwa “kurban” adalah nikmat atau rezeki yang dikurbankan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari kurban.

Kurban, sebagaimana zakat dan shalat dua hari raya, mulai diperintahkan pada tahun kedua hijrah. Perintah itu berdasarkan ayat Al-Qur’an, hadis Rasulullah, dan ijma’ ulama.

Dasar Perintah Kurban

Dasarnya di dalam Al-Qur’an ialah ayat 2 Surat Al-Kautsar, 108 yang berbunyi: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (lalu lakukanlah salat dan berkurbanlah).

Dasar lainnya di dalam hadis ialah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah:

((مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ إِرَاقَةِ الدَّمِ، إِنَّهَا لَتَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ، فَطَيِّبُوْا بِهَا نَفْسًا)) رواه الحاكم وابن ماجه والترمذي.

Tidak ada suatu pekerjaan yang paling disukai oleh Allah untuk dikerjakan pada hari nahar (idul adha) selain daripada mengalirkan darah hewan (menyembelih hewan kurban), karena hewan kurban itu pada hari kiamat nanti akan datang dengan tanduknya, kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darah sembelihan itu langsung diterima oleh Allah swt., sebelum darah itu sampai di tanah. Karena itu, harumkanlah setiap jiwa dengan sembelihan itu”.

Baca Juga: Memaknai Hari Raya Kurban: Membaca Kembali Surah Al-Kautsar Ayat 2

Hewan yang dikurbankan itu akan datang di hari kiamat nanti dengan segala sifat yang dimilikinya saat disembelih, karena itulah maka hewan sembelihan itu haruslah yang lengkap sifat-sifatnya.

Para ulama sepakat bahwa berkurban adalah pekerjaan yang sangat disukai Allah dan sangat dianjurkan di dalam agama.

Di dalam ibadah kurban terdapat beberapa hikmah penting. Di antaranya ialah a) sebagai tanda syukur atas nikmat Allah swt. yang tak terbilang jumlahnya, b) sebagai tanda syukur atas umur panjang yang diberikan Tuhan setiap tahun, dan c) untuk menjauhkan diri dari segala kejahatan.

Hukum Melakukan Kurban

Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hukum melakukan kurban. Abu Hanifah dan kawan-kawannya menyatakan bahwa hukum berkurban itu wajib setiap tahun bagi orang-orang muqim. Abu Yusuf menyatakan sunat mu’akkad. Pandangannya ini didasarkan pada sebuah hadis yang menyatakan: “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berkurban, lalu ia tidak berkurban, maka ia tidak boleh mendekati tempat salat kami”.

Ulama selain Hanafi berpendapat bahwa berkurban hukumnya sunnat mu’akkad (bukan wajib). Makruh hukum meninggalkannya bagi yang mampu. Menurut Syafi’i, sunnat aini sekali seumur hidup, dan sunat kifayah bagi satu keluarga. Dasar pandangan mereka ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah: “Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Apabila engkau sudah melihat bulan sabit Zulhijjah, dan engkau ingin melakukan kurban, maka kurbanlah”.

Sehubungan dengan syarat kurban, ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu yarat wajib atau sunahnya dan syarat sahnya. Satu-satunya syarat bagi yang akan berkurban adalah mampu melakukan kurban. Bagi yang tidak mampu tidak disyaratkan.

Mampu, menurut Hanafiyah, ialah seseorang yang memiliki harta yang nilainya sama dengan nisab zakat, atau seseorang yang memiliki harta yang lebih daripada sandang, pangan, dan pakaian.

Mampu, menurut Malikiyah, ialah seseorang yang memiliki harta, (senilai hewan kurban) lebih daripada kebutuhan pokoknya pada tahun itu. Jika dia mampu berutang, ia harus berutang.

Mampu, menurut Syafi’iyyah, ialah seseorang yang memiliki harta (senilai hewan kurban) lebih daripada yang ia butuhkan dan keluarganya pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyriq.

Mampu, menurut Hanbali, ialah seseorang yang kemungkinan besar dapat memperoleh harta senilai harga hewan kurban itu, meski dengan berutang, dengan catatan bahwa dia diperkirakan mampu membayar utangnya.

Syarat Sah Hewan Kurban

Syarat-syarat sahnya hewan kurban itu adalah sebagai berikut: a) Hewan yang disembelih itu harus sempurna dan lengkap sifat-sifatnya dan sehat. b) Hewan harus disembelih pada waktu-waktu tertentu. Menurut Hanafiyah: penyembelihan hewan kurban dilakukan pada malam hari (selama dua malam), yaitu malam tanggal 11 (malam kedua) dan 12 Zulhijjah (malam ketiga), tidak boleh pada malam Hari Raya Idul Adha dan malam ke-14. c) Malikiyah menambahkan dua syarat lagi, yaitu 1) yang sembelih haruslah muslim, dan 2) harga 1 hewan sembelihan itu bukanlah harga patungan.

Baca Juga: Nabi Muhammad Saw Gemar Berkurban Setiap Tahun

Syarat-syarat bagi orang yang diperintahkan untuk berkurban. Mereka yang diperintahkan berkurban ialah a) muslim (bukan kafir), b) orang merdeka (bukan budak) , c) balig (bukan di bawah umur), d) berakal (waras), e) muqim (tinggal, bukan musafir), dan f) mampu.

Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai sembelihan kurban bagi seseorang yang belum baligh. Abu Hanifah berpendapat, wajib hukumnya berkurban. Malikiyah, sunat berkurban, sedangkan Syafi’iyyah dan Hanbali, tidak sunat.

Tafsir Surah Saba’ Ayat 11-13

0
Tafsir Surah Saba'
Tafsir Surah Saba'

Tafsir Surah Saba’ Ayat 11-13 berbicara tentang kemukjizatan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Diantara mukjizat Nabi Daud adalah mampu melunakkan besi, mukjizat tersebut dipilih Allah sesuai dengan kondisi masyarakat tersebut yang banyak berprofesi sebagai pandai besi. Namun jelas, baju besi dari Daud jauh berbeda dan lebih bagus dari baju besi kaumnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Saba’ Ayat 9-10


Selanjutnya, Tafsir Surah Saba’ Ayat 11-13 juga megisahkan tentang mukjizat Nabi Sulaiman, diantaranya adalah mampu berinteraksi dengan segala makhluk, seperti; angin, hewan, jin, dll. Diceritakan dalam ayat ini, bagaimana Allah memerintahkan angin dan jin untuk tunduk pada Sulaiman, membantu apa saja yang menjadi kebutuhannya, termasuk membangun istana.

Ayat 11

Lalu Allah memerintahkan kepada Nabi Daud supaya membuat baju besi istimewa dari bahan besi yang lunak bukan seperti baju yang dikenal pada masa itu. Biasanya baju besi pada masa itu dibuat dari kepingan-kepingan besi yang tipis disusun seperti baju, tetapi baju besi itu sangat mengganggu pemakainya selain menimbulkan panas pada badan dan membatasi gerak.

Tetapi, baju besi yang dibuat Daud, karena besinya telah menjadi lunak, jauh berbeda dengan baju besi biasa. Baju besi itu dibuat seperti gulungan-gulungan rantai yang disusun rapi sehingga baju besi itu mengikuti gerak badan.

Dengan demikian, pemakainya dapat bergerak dengan bebas tanpa merasakan gangguan apa pun. Dengan baju besi yang lunak itu, Daud dapat membuat alat senjata yang baru untuk mempertahankan kerajaannya dari serangan musuh.

Kemudian untuk mensyukuri karunia yang diberikan-Nya, Allah memerintahkan pula supaya Daud dan kaumnya selalu mengerjakan amal saleh dan mempergunakan segala nikmat yang dikaruniakan Allah itu untuk mencapai keridaan-Nya. Dia selalu melihat dan mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya.


Baca Juga : Mencontoh Spirit dan Doa Nabi Sulaiman dalam Mensyukuri Nikmat


Ayat 12

Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman sehingga dapat membawanya ke tempat-tempat yang diingininya dengan cepat sekali. Dalam waktu setengah hari saja angin dapat membawanya ke tempat yang jaraknya sebulan perjalanan, baik perjalanan itu pada waktu pagi sampai zuhur maupun pada waktu siang mulai dari zuhur sampai terbenamnya matahari.

Qat±dah dalam menafsirkan ayat ini menyatakan, “Angin dapat membawa Sulaiman dari pagi sampai tergelincirnya matahari sejauh sebulan perjalanan dan dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya sejauh sebulan perjalanan pula.

Dalam hal ini, al-Hasan al-Bashri berkata, “Sulaiman pernah berangkat dengan mengendarai angin, dari Damaskus ke Istakhr lalu dia turun di sana untuk makan siang, kemudian dia berangkat lagi ke Kabul untuk bermalam di sana. Padahal jarak antara Damaskus dan Istakhr adalah sebulan perjalanan bagi orang yang berjalan cepat dan jarak antara Istakhr dan Kabul adalah sebulan perjalanan pula.

Karunia lainnya yang diberikan Allah kepada Sulaiman ialah melunakkan tembaga seperti lilin sehingga mudah dibentuk menurut keinginan orang yang mengolahnya. Hal ini sama dengan karunia yang diberikan kepada Nabi Daud yaitu melunakkan besi.

Di antara karunia itu pula ialah menundukkan jin untuk bekerja membuat apa saja yang diingini Sulaiman. Jin-jin itu selalu taat dan patuh mengikuti perintahnya, karena mereka diancam oleh Allah dengan azab yang pedih apabila tidak memenuhi perintah Sulaiman.

Ayat 13

Oleh sebab itu, mereka dengan giat sekali melaksanakan apa yang diperintahkan Sulaiman, seperti membangun tempat-tempat beribadah, arca-arca yang indah yang terbuat dari kayu, tembaga, kaca, dan batu pualam, serta belanga-belanga besar untuk memasak makanan yang cukup untuk berpuluh-puluh orang.

Karena besar dan luasnya, bejana-bejana itu kelihatan seperti kolam-kolam air. Mereka juga membuatkan untuk Sulaiman periuk yang besar pula yang karena besarnya tidak dapat diangkat dan dipindahkan.

Karena jin mempunyai kekuatan yang dahsyat, dengan mudah mereka membuat semua yang dikehendaki Sulaiman seperti membangun istana yang megah dan mewah, serta menggali selokan-selokan untuk irigasi sehingga kerajaan Sulaiman menjadi masyhur sebagai suatu kerajaan besar dan paling makmur, tidak ada suatu kerajaan pun di waktu itu yang dapat menandinginya.

Hal ini ialah sebagai realisasi dari doanya yang dikabulkan Tuhan seperti tersebut dalam firman-Nya.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ  ٣٥  فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ  ٣٦  وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّاۤءٍ وَّغَوَّاصٍۙ  ٣٧

Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. (Shad/38: 35-37)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Sulaiman sebagai keluarga Daud supaya bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya. Mensyukuri nikmat Allah itu bukanlah sekadar mengucapkan, tetapi harus diiringi dengan amal saleh dan mempergunakan nikmat itu untuk hal-hal yang diridai-Nya.

Diriwayatkan oleh at-Tirmizi bahwa Nabi Muhammad naik ke atas mimbar lalu membaca ayat ini. Lalu beliau bersabda, “Ada tiga sifat bila dipunyai oleh seseorang berarti dia telah diberi karunia seperti karunia yang diberikan kepada keluarga Daud.” Kami bertanya kepada beliau, “Sifat-sifat apakah itu?” Rasulullah menjawab, “Pertama: Berlaku adil, baik dalam keadaan marah maupun dalam keadaan senang.

Kedua: Selalu hidup sederhana baik di waktu miskin maupun kaya. Ketiga: Selalu takut kepada Allah baik di waktu sendirian maupun di hadapan orang banyak.

Allah mengiringi perintah-Nya supaya Sulaiman bersyukur atas nikmat yang diterimanya dengan menjelaskan bahwa sedikit sekali di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar bersyukur kepada-Nya. Bagaimana seorang hamba bersyukur kepada Tuhannya dapat dilihat dari cara bersyukur Nabi saw kepada Allah.

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتىَّ تَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لَهُ اَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ اَفَلاَ اَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا (رواه مسلم)

Dari ‘Āisyah bahwa Rasulullah salat di malam hari sampai kedua telapak kakinya bengkak, maka aku (‘Aisyah), berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat seperti ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang sekarang dan dosamu yang akan datang?” Rasulullah menjawab, “Bukankah aku ini seorang hamba yang bersyukur?” (Riwayat Muslim)

 

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 14-15


 

Tafsir Surah Al-Jinn ayat 25-28

0
Tafsir Surah Al Jinn
Tafsir Surah Al Jinn

Tafsir Surah Al-Jinn ayat 25-28 menjelaskan tentang janji Allah akan datangnya hari kiamat, dan terdapat pula hadis tentang hari kiamat yang mana orang mukmin tidak akan gembira mendengarnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jinn ayat 21-24


Ayat 25

Ayat ini dan ayat-ayat sesudahnya adalah jawaban atas pertanyaan, “Bilakah datangnya hari yang dijanjikan itu kepada kami.” Allah menyuruh Nabi-Nya agar menyampaikan kepada manusia bahwa hari Kiamat itu pasti akan tiba, tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, tidak ada yang mengetahui kapan waktunya tiba, apakah dalam waktu dekat ataukah masih dalam jangka waktu yang panjang.

Nabi saw pernah ditanya Jibril tentang hari Kiamat ketika berhadapan dengan Nabi saw dalam rupa seorang Badui, tetapi beliau tidak menjawabnya. Antara lain Jibril bertanya, “Hai Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat itu.” Beliau menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Kemudian orang Badui itu bertanya lagi dengan suara keras, “Hai Muhammad! Bilakah tibanya hari Kiamat itu?” Nabi menjawab, “Jangan khawatir, ia pasti datang, tetapi apa yang telah engkau sediakan untuk menghadapinya?” Badui menjawab, “Saya tidak banyak mengerjakan salat atau puasa, tetapi saya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu Nabi saw bersabda, “Maka engkau bersama orang-orang yang engkau cintai.” Anas berkata, “Orang-orang mukmin tidak gembira terhadap sesuatu sebagaimana gembira mereka mendengar hadis ini.”

Ayat 26

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa Dia mengetahui semua yang gaib, tidak terlihat, dan tidak diketahui oleh hamba-Nya. Semua yang gaib yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, dapat diketahui oleh para rasul yang diridai oleh-Nya dan Dia akan memperlihatkan kepada mereka sekadar apa yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman:

وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَ

Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 255)

Ayat ini menunjukkan bahwa pekerjaan tukang tenung, ahli nujum, dan tukang sihir semuanya itu salah karena mereka tidak termasuk orang-orang yang diridai Allah, bahkan mereka termasuk yang dibenci-Nya. Ayat ini juga menerangkan bahwa orang-orang yang mengaku bahwa bintang itu dapat menunjukkan siapa yang akan hidup dan siapa pula yang akan mati, adalah orang-orang yang telah kafir dan mengingkari Al-Qur’an.

Fakhruddin ar-Razi berkata, “Yang dimaksud dengan tidak dapat menyaksikan yang gaib adalah gaib yang khusus yaitu tentang waktu tibanya hari Kiamat.”

Ayat 27

Selanjutnya Allah mengungkapkan bahwa para rasul yang memperoleh keridaan-Nya sehingga dapat menyaksikan alam gaib, dijaga oleh malaikat Hafadzah dengan penjagaan yang sangat ketat. Dengan penjagaan itu, godaan setan, jin, dan para pengacau lainnya tidak sampai kepada mereka, sehingga para rasul itu dapat menyampaikan wahyu-wahyu Allah menurut aslinya. Mereka juga dijaga dari rongrongan setan-setan manusia sehingga mereka selamat dari bahaya dan kemudaratan manusia.

Adh-dahhak berkata, “Allah tidak mengutus seorang rasul kecuali baginya telah disiapkan pengawal-pengawal dari malaikat untuk menjaganya dari setan-setan yang datang dalam bentuk rupa malaikat. Bila setan-setan itu datang, maka pengawalnya mengingatkannya agar hati-hati karena yang datang itu setan, dan bila yang menemui rasul itu malaikat, maka pengawal berkata, “Ini adalah utusan Tuhanmu.”

Pengawal-pengawal itu adalah malaikat yang bertugas menjaga kekuatan lahir dan batin para rasul dan untuk memelihara mereka dari bisikan-bisikan setan.

Ayat 28

Dalam penutup Tafsir Surah Al-Jinn ayat 25-28 khususnya ayat ini, Allah menerangkan tujuan dari penjagaan yang sangat rapi itu, yaitu agar para rasul itu dapat menjalankan tugas dengan sempurna dan agar wahyu-wahyu yang disampaikan kepada mereka terpelihara dengan baik. Penjagaan itu juga bertujuan agar dapat dibuktikan dengan pasti bahwa para rasul itu telah menyampaikan risalah Tuhan mereka kepada manusia dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman:

وَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ   ١١

Dan Allah pasti mengetahui orang-orang yang beriman dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang munafik.  (al-’Ankabut/29: 11)

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa ilmu-Nya meliputi apa yang diketahui oleh malaikat-malaikat pengawas, apa yang telah ada, dan yang akan ada satu persatu. Dia mengetahui segala sesuatu secara sempurna, tidak ada persamaan. Malaikat itu adalah perantara yang menyampaikan ilmu-ilmu-Nya kepada para rasul.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Muzzammil ayat 1


 

Tafsir Surah Al-Jinn ayat 21-24

0
Tafsir Surah Al Jinn
Tafsir Surah Al Jinn

Tafsir Surah Al-Jinn ayat 21-24 dijelaskan bahwa Rasulullah sebagai manusia yang paling mulia di sisi Allah juga tidak bisa melindungi dirinya sendiri apalagi orang lain. Oleh sebab itu Tafsir Surah Al-Jinn ayat 21-24 ini Allah juga menghibur Rasulullah bahwa kelak mereka yang mendustai perkara jin akan mendapat siksa.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jinn ayat 17-20


Ayat 21

Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak dapat bertindak lain dalam persoalan tersebut, tidak sanggup memberi petunjuk, dan mendatangkan kebahagiaan atau kebajikan bagi mereka. Allah memerintahkan Nabi saw untuk menyampaikan kepada orang-orang kafir bahwa ia tidak dapat memberi suatu kemudaratan kepada mereka, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia, dan tidak dapat pula memberi manfaat kepada mereka. Hanya Allah yang dapat berbuat demikian seluruhnya. Allah memiliki segala sesuatu dan Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah karena Dialah yang akan memberi pahala atas tindakannya yang baik. Dia pulalah yang akan memberi balasan kepada orang-orang kafir atas tindakan-tindakan buruk yang mereka lakukan. Hal ini berarti pula bahwa Nabi saw tidak akan meninggalkan dakwah walaupun orang-orang kafir terus menentang.

Ayat 22-23

Dalam Tafsir Surah Al-Jinn ayat 21-24 khususnya 2 ayat-ayat ini, Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak sanggup melindungi dirinya sebagaimana ia tidak sanggup pula melindungi orang lain. Oleh sebab itu, Allah menyuruh Nabi-Nya untuk mengatakan bahwa tidak ada seorang pun di antara makhluk Allah yang sanggup melindunginya dari kemudaratan bila Allah menghendakinya. Tidak ada yang dapat membantunya dan tidak ada tempat berlindung selain kepada Allah. Bila Nabi saw terus menjalankan risalah dan menaati-Nya, Allah pasti akan melindunginya. Maksudnya, tidak ada yang akan membela Nabi saw dari ancaman-ancaman Allah bila ia tidak menjalankan risalah-Nya. Nabi hanya bertugas untuk menyampaikan risalah dan peringatan Allah sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. (al-Ma’idah/5: 67)

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa barang siapa yang berani durhaka terhadap suatu perintah atau larangan-Nya serta mendustai Rasul-Nya maka baginya telah disediakan neraka yang akan ditempatinya untuk selama-lamanya. Ia tidak akan sanggup menghindarkan diri dari neraka itu.

Ayat 24

Allah lalu menghibur dan menenteramkan Nabi Muhammad serta mengejek orang-orang kafir karena kekurang perhatian mereka terhadap jin, sedangkan mereka mengaku sebagai cerdik pandai, dan juga karena kecerobohan mereka mendustakan dan mengejek sesuatu. Akan tetapi di samping itu, mereka cepat mengakui kebenaran jin serta mengharap petunjuk darinya. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir senantiasa menghina dan mengejek orang-orang mukmin sehingga mereka melihat dengan mata kepala sendiri siksa-siksa yang dijanjikan kepada mereka. Ketika itu, barulah mereka sadar siapakah sebenarnya yang hina, apakah orang-orang mukmin yang mentauhidkan Allah ataukah orang-orang musyrik yang tidak mempunyai pembantu dan penolong?

حَتّٰىٓ اِذَا رَاَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ اِمَّا الْعَذَابَ وَاِمَّا السَّاعَةَ ۗفَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضْعَفُ جُنْدًا

… sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik azab maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya. (Maryam/19: 75)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Jinn ayat 25-28