Beranda blog Halaman 407

Tafsir Surah Al-An’am Ayat 159: Benang Merah Fanatisme Agama Dulu dan Kini

0

Fanatisme agama adalah sebuah bentuk sikap kukuh dan kekakuan seorang terhadap kepercayaannya dengan sangat berlebihan tanpa penghayatan. Sikap-sikap tersebut pada ujungnya melahirkan fenomena takfiri yang marak terjadi sekarang, bukan hanya kepada lintas kepercayaan, namun juga sesama saudara seiman yang berbeda madzhab atau aliran. Jelas, hal tersebut menodai prinsip luhur agama yang hanif dan rahmatan lil ‘alamin. Fanatisme agama yang terjadi saat ini bukanlah suatu yang baru. Fanatisme agama hari ini ternyata memiliki benang merah dengan keadaan zaman dulu sebagaimana yang terekam dalam Surah Al-An’am ayat 159.

Tafsir Surah Al-An’am ayat 159

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”

Asbabun nuzul ayat tersebut dirujuk dari hadis riwayat Ibnu Abbas yang ditakhrij oleh At-Tirmidzi yaitu berkenaan dengan kerasulan Nabi Muhammad. Pada waktu Nabi Muhammad diangkat menjadi seorang rasul dan dibekali hujjah kalam Allah, umat yahudi dan nasrani berpecah belah dalam agama mereka. Lalu ayat ini turun sebagai petunjuk dari Allah bahwa Rasulullah tak usah mengurusi mereka, karena Allah sendiri nantinya yang akan menentukan nasib mereka kelak.

Baca juga: Ayat-Ayat Jihad dalam Al-Quran: Klasifikasi dan Kontekstualisasinya Di Era Kekinian

Mengenai makna innaladzina diinahum ada perbedaan tafsiran di antara mufassir periode klasik, pertengahan, hingga kontemporer. Mufassir klasik Jarir At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an mengartikannya sebagai umat yahudi dan nasrani kala itu, dan juga umat Islam yang mengikuti Al-Quran tanpa mengetahui hukumnya.

Di periode pertengahan ada mufassir Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsrinya Mafatih al-Ghayb yang memaknai lafadz tersebut uumat yahudi dan nasrani yang saling mengafirkan. Selain itu ayat ini juga ditujukan kepada umat Islam menjauhi fanatisme agama dan tidak terpecah belah.

Ahmad Mustafa Al-Maraghi seorang mufassir kontemporer dalam Tafsir Al-Maraghi juga memberikan pandangan yang sama dengan pendapat Ar-Razi yang terakhir. Menurut Al-Maraghi, turunnya ayat ini adalah sebuah bentuk perintah Allah kepada umat Islam agar bersatu mengikuti Rasul dan kitab sucinya Al-Qur’an, dan tidak terpecah belah.

Baca juga: Ayat-Ayat Wasathiyah: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 143 Menurut Hasbi al-Shiddiqie

Fanatisme agama dalam konteks Surah Al-An’am ayat 159

Sebelum lebih lanjut membahas fanatisme agama, akan lebih baik jika menyepakati definisi tersebut, baik secara baku mufrodat Arab, maupun istilah yang digunakan dalam surah Al-An’am ayat 159. Dalam kamus Arab versi Almaany, kata fanatik diistilahkan pada beberapa kata yaitu pada lafadz mutahammis, mas’uur, dan ta’asshub. Namun, Al-Qur’an tidak menggunakan kata-kata tersebut untuk merujuk makna fanatik sebagaimana dalam surah Al-An’am 159 yang justru menggunakan lafazd syiya’an.

Lafadz syiya’an merupakan bentuk lain dari lafadz syi’ah yang berarti pengikut. Pada surah Al-Al-An’am ayat 159, Tafsir Kemenag memaknai kata syiya’an dengan berkelompok atau bergolong-golong, karena setiap anggotanya akan saling menguatkan. Orang-orang yang berkelompok-kelompok cenderung mengikuti kelompoknya dan di sinilah lafadz syiya’an atau syi’ah tersebut bisa selaras dengan makna fanatik. Tentu definisi istilah tersebut hanya pada berfungsi di kisaran ulumul qur’an, dan tidak bisa digunakan dalam ranah madzhab atau teologi aliran seperti Suni dan Syiah.

Baca juga: Tinjauan Tafsir terhadap Jihad, Perang dan Teror dalam Al-Quran

Pada penafsiran surah Al-An’am ayat 159 di atas, bisa digambarkan keadaan dan masalah sosial yang terjadi pada waktu ayat ini diturunkan. Kondisi umat beragama pada waktu itu, dalam artian para ahlul kitab yahudi dan nasrani sebagaimana diungkapkan At-Thabari, Ar-Razi, dan Al-Maraghi adalah berpecah belah ketika Rasulullah diutus menjadi rasul. Mereka saling menyalahkan satu sama lain, yahudi mengafirkan nasrani begitu pula sebaliknya nasrani mengafirkan yahudi.

Surah Al-An’am ayat 159 merekam hiruk pikuk klaim takfiri para ahlul kitab tersebut dengan menyebutkan lafadz syiya’an untuk sikap fanatik mereka yang berlebihan pada golongan. Melalui surah ini, Allah ingin memberi pesan kepada Rasulullah agar tidak perlu mengurusi mereka, dan menegaskan kepada umat islam agar tidak mengikuti sikap fanatisme beragama mereka.

Fanatisme agama hari ini, suatu benang merah

At-Thabari, Ar-Razi, dan Al-Maraghi memiliki satu buah pemaknaan yang sepadan tentang khitab surah Al-An’am ayat 159 selain ditujukan kepada ahlul kitab, yahudi dan nasrani. Dalam penafsiran mereka, khitab lain yang dituju oleh ayat tersebut adalah umat Islam yang melakukan bid’ah, dan yang tidak mengamalkan ajaran Islam dengan benar.

Kata ‘bid’ah’ tentu tidak bisa dimaknai secara leksikal. Kata tersebut mengalami pergeseran dan perkembangan makna, bahkan dalam perkembangannya mengalami kategorisasi akibat pergerakan konteks zaman. Sedangkan yang dimaksud ahlul bid’ah oleh para mufassir di atas cenderung merujuk kepada fanatisme beragama yang dilakukan oleh ahlul kitab maupun oleh umat Islam sendiri.

Penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim terhadap surah Al-An’am ayat 159 tersebut selaras dengan pandangan demikian, karena menurutnya secara lahiriyah ayat ini bersifat umum. Ayat ini berlaku bagi setiap orang yang fanatik terhadap agama yaitu pada firqah-firqah dan golongan mereka sendiri tanpa mengindahkan saudara yang lain, mengikuti hawa nafsu dan kesesatan egoisme, maka Allah membebaskan Rasulullah dari tanggung jawab terhadap mereka.

Baca juga: Makna Kebebasan Beragama dan Toleransi dalam Al-Quran

Dari sini kita bisa menarik sebuah benang merah, sebuah keterkaitan sikap yang sama yang terjadi pada umat dahulu maupun umat Islam sendiri hingga hari ini, yaitu fanatisme beragama. Akibat sikap tersebut, jangankan penganut antar kepercayaan, perbedaan aliran dan madzhab seagamapun disalahkan dan dikafirkan oleh mereka sang empunya sikap ini. Umat Islam perlu menyegarkan pemikiran kembali salah satunya dengan mengingat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, “mereka yang bukan saudara seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.

Perbedaan sebenarnya memanglah sunatullah yang terjadi pada setiap kepercayaan. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memaparkan bahwa sepanjang perbedaan itu tujuannya sama, didasari kaidah kebebasan disiplin ilmu, dan hanya metode dan cara panjdang yang berbeda maka itu tidak jadi persoalan. Sedangkan surah Al-An’am ayat 159 tersebut menyudut pada fanatisme kelompok yang membawa perpecahan. Umat Islam hari ini telah mengalami polarisasi luar biasa akibat fanatisme kelompok maupun kepercayaan. Maka dari itu pesan ayat tersebut adalah larangan bagi umat Islam untuk bersikap fanatik berlebihan hingga menyalahkan dan mengafirkan yang lain sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

Wallahu a’lam.

Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29

0
tafsir surah at takwir
Tafsiralquran.id

Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29 kali ini akan berbicara mengenai maksud pengemukaan sumpah. Sumpah ini telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah At Takwir Ayat 10-18


Maksud sumpah yang disampaikan dalam Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29 ini adalah bahwa apa yang beritahukan oleh Nabi Muhammad saw adalah kebenaran yang hak. Hal itu perlu ditegaskan karena sebagaian orang kafir menuduh Nabi sebagai orang yang gila.

Ayat 19-21

Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan objek sumpah yang disebutkan dalam ayat 15-18 di atas, yaitu sesungguhnya apa yang diberitahukan oleh Muhammad saw tentang peristiwa-peristiwa hari Kiamat bukanlah kata-kata seorang dukun atau isapan jempol.

Akan tetapi, benar-benar wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril dari Tuhannya. Allah telah menyifati utusan yang membawa Alquran tersebut, yaitu Malaikat Jibril, dengan lima macam sifat yang mengandung keutamaan:

  1. Yang mulia pada sisi Tuhannya karena Allah memberikan padanya sesuatu yang paling berharga yaitu hidayah, dan memerintahkannya untuk menyampaikan hidayah itu kepada para nabi-Nya diteruskan kepada para hamba-Nya.
  2. Yang mempunyai kekuatan dalam memelihara Alquran jauh dari sifat pelupa atau keliru.
  3. Yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy.
  4. Yang ditaati di kalangan malaikat karena kewenangannya.
  5. Yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu karena terpelihara dari sifat-sifat khianat dan penyelewengan.

Ayat 22

Dalam ayat ini, Allah menyifati Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa Muhammad itu bukanlah orang gila, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang kafir Mekah.

Kalimat “sahibukum” (temanmu) dalam ayat ini merupakan alasan untuk menerangkan kedustaan mereka. Sebab, setiap orang akan mengenal tabiat temannya yang sehari-hari bergaul dengannya.

Orang-orang Quraisy itu selalu bergaul dengan Nabi Muhammad semenjak beliau masih kecil dan mengetahui kejujuran beliau. Oleh karena itu, mereka memberikan julukan kehormatan kepadanya dengan kata-kata “al-Am³n” sebelum beliau menjadi nabi.

Beliau tidak pernah berdusta, menyalahi janji, atau berkhianat, sehingga apa-apa yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad itu tentang sifat gila, tukang sihir, atau pendusta adalah bohong semata.

Ayat 23

Nabi Muhammad pernah melihat Jibril dalam bentuk yang asli dua kali dalam hidupnya. Pertama, ketika beliau berada di Gua Hira sebelum turunnya Surah al-Muddassir, dan kedua, ketika beliau mi’raj ke langit ketujuh. Firman Allah

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ  ١٣  عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى   ١٤

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. (an-Najm/53: 13-14)

Ayat 24

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang bakhil dalam menyampaikan seluruh wahyu yang disampaikan malaikat Jibril kepadanya. Di samping itu, beliau adalah seorang yang sangat dipercaya karena tidak pernah mengubah wahyu walaupun satu huruf dengan ucapannya sendiri.


Baca juga: Surah Al-Baqarah Ayat 129: 3 Harapan Nabi Ibrahim Untuk Figur Nabi Muhammad saw


Ayat 25

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa Alquran bukanlah perkataan setan yang terkutuk, dan bukanlah perkataan yang diletakkan oleh setan di atas lidah Muhammad ketika mengganggu akalnya seperti yang dituduhkan oleh orang Quraisy.

Muhammad sudah terkenal sejak kecilnya dengan pikiran yang sehat dan tidak pernah berbuat khianat. Oleh karena itu, apa yang diterangkan oleh Muhammad tentang berita akhirat, surga, dan neraka bukanlah perkataan setan.

Ayat 26

Kemudian Allah menerangkan bahwa orang-orang Quraisy itu telah sesat, jauh dari jalan kebenaran, dan tidak mengetahui jalan kebijaksanaan, sehingga Allah bertanya kepada mereka, “Maka ke manakah kamu akan pergi?”

Maksudnya ialah sesudah diterangkan bahwa Alquran itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya terdapat pelajaran dan petunjuk yang membimbing manusia ke jalan yang lurus, ditanyakan kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh lagi?”

Ayat 27-28

Kemudian Allah menyatakan bahwa Alquran itu tiada lain hanya peringatan bagi semesta alam, bagi mereka yang mempunyai hati cenderung kepada kebaikan. Namun demikian, tidak semua manusia dapat mengambil manfaat dari Alquran ini.

Yang mengambil manfaat ialah siapa yang mau menempuh jalan yang lurus. Adapun orang yang menyimpang dari jalan itu, maka ia tidak dapat mengambil manfaat dari peringatan Alquran.

Ayat 29

Dalam ayat ini, Allah mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak sendiri untuk berbuat sesuatu yang dikehendakinya bilamana tidak sesuai dengan kehendak Allah.


Baca setelahnya:  Tafsir Surah Al Infithar Ayat 1-6


(Tafsir Kemenag)

Esensi Qalam dan Anjuran Menulis Dalam Al-Quran

0
qalam dan anjuran menulis dalam Al-Quran
qalam dan anjuran menulis dalam Al-Quran

Selain perintah untuk membaca, dalam surah Al-Alaq juga terdapat anjuran menulis, tepatnya di ayat 4-5. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah diantara semua makhluk ciptaan-Nya. Sebab, manusia diberi anugerah oleh Allah berupa indera yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Dari pengetahuan inilah manusia dapat mengelola bumi, menundukkan makhluk lain untuk dimanfaatkan bagi kelangsungan hidupnya, membuat suatu perubahan diatas dunia, hingga mampu mengenal Tuhan yang menciptakan dirinya.

Ilmu pengetahuan manusia boleh jadi didapatkan dari hasil  pembelajaran mereka sendiri. Namun perlu untuk diketahui bahwa dalam pembelajaran itu, terdapat kontribusi Allah Swt, zat yang maha mengetahui segala sesuatu, yang mengajari manusia dengan perantaraan qalam. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(Dzat) yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan qalam, mengajar manusia apa yang belum diketahui(nya) (QS. Al-Alaq: 4-5)

Baca Juga: Tadabbur Atas Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Wahyu Pertama Perintah Membaca

Qalam dan pena

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, kata (القلم) al-qalam terambil dari kata kerja (قلم) qalama yang berarti memotong ujung sesuatu. Beliau mencontohkan pengertian ini seperti memotong ujung kuku yang disebut (تقليم) taqlim, tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai (مقاليم)  maqālīm, anak panah yang runcing ujungnya dan bisa digunakan untuk mengundi, dinamai pula qalam, seperti dalam QS. Al-Imran [3]:44.

Maka, alat yang digunakan untuk menulis dinamai dengan qalam karena pada mulanya alat tersebut dibuat dari suatu bahan yang dipotong dan di peruncing ujungnya. Quraish shihab melanjutkan bahwa kata qalam disini dapat berarti hasil dari penggunaan alat tersebut, yakni tulisan. Ini karena bahasa sering kali menggunakan kata yang berarti “alat” atau “penyebab” untuk menunjukkan “akibat” atau “hasil” dari penyebab atau penggunaan alat tersebut. Misalnya, jika seseorang berkata, “saya khawatir hujan”, maka yang dimaksud dengan kata “hujan” adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.

Makna di atas dikuatkan oleh firman Allah dalam QS. Al-Qalam ayat 1, yakni firman-Nya: Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa surah al-Qalam turun setelah akhir ayat kelima surah al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya kedua kata qalam tersebut berkaitan erat, bahkan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikian.

Dalam Tafsir Salman juga di jelaskan, qalam diartikan sebagai “pena” dan hasilnya berupa “tulisan” bila manusia yang mempergunakannya. Akan tetapi, apakah qalam Allah sama dengan qalam manusia? Tentu saja tidak. Maksud qalam dalam ayat ini adalah Allah mengajarkan manusia dengan berbagai media. Namun saat itu media yang dipahami manusia hanyalah qalam dalam makna “pena”. Allah bisa saja mengajarkan manusia secara langsung sehingga manusia mengerti, namun menurut ayat ini tidaklah demikian keadaannya.

Dijelaskan pula bahwa rangkaian kata ‘allama bi al-qalami dapat diartikan dengan dua cara. Pertama, dia itu tulisan yang bisa menjadikan mengerti tentang segala yang gaib. Kedua, bahwa yang dimaksud ialah mengajarkan manusia menulis dengan qalam. Dua kata ini saling berdekatan, dan yang dimaksud keduanya adalah keutamaan dan anjuran menulis. Sama seperti penjelasan dalam tafsir kemenag, dimana mengajar yang dimaksud pada ayat diatas bermakna memberikan kemampuan terhadap manusia untuk menggunakan alat tulis.

Baca Juga: Tafsir Surat Al ‘Alaq Ayat 1-7

Anjuran menulis dalam Al-Quran

Berkaitan dengan makna tersebut, Hamka menafsirkan, terlebih dahulu Allah Ta’ala mengajar manusia menggunakan qalam. Setelah ia pandai mempergunakan qalam  itu, Allah lalu memberikan pengetahuan yang banyak kepadanya, sebagaimana firman Allah pada ayat selanjutnya; mengajar manusia apa yang belum diketahui(nya), sehingga ia dapat mencatat ilmu yang baru didapatnya dengan qalam yang telah ada di tangannya.

Berangkat dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa secara tidak langsung manusia dianjurkan untuk menulis sebagai sarana dalam memperoleh pengetahuan. Al-Qurtubi pun dalam tafsirnya mengatakan bahwa pada ayat ini Allah mengingatkan kepada manusia akan fadhilah ilmu menulis dan anjuran menulis, karena di dalam ilmu penulisan terdapat hikmah dan manfaat yang sangat besar, yang tidak dapat dihasilkan kecuali melalui penulisan. Ilmu-ilmu pun tidak dapat diterbitkan kecuali dengan penulisan, begitu pula dengan hukum-hukum yang mengikat manusia agar selalu berjalan di jalur yang benar.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda,

قَيِّدُوْا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ

Ikatlah ilmu dengan tulisan (HR. At-Thabrani dan Hakim dari Abdullah bin Amr)

Dalam redaksi yang lain,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَ الْكِتَابَةُ قَيْدُهُ , قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْجِبَالِ الْوَاثِقَةِ

Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu, ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.

Karenanya, Wahbah Zulhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa seandainya tidak ada tulisan, pastilah ilmu-ilmu itu akan punah, agama tidak akan berbekas, kehidupan tidak akan baik, dan aturan tidak akan stabil. Pemahaman inilah yang mengilhami para ulama terdahulu sehingga karya mereka yang berupa tulisan-tulisan masih dapat kita nikmati sampai sekarang ini. Penulis teringat pada perkataan Pramoedya Ananta Toer, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Singkatnya, Semoga pembahasan ini dapat menginspirasi para pembaca untuk berkarya dalam bentuk tulisan, yang jika dibaca akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, dan akan mendatangkan pahala yang terus mengalir hingga di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal Alamin

Ragam Pemaknaan Ayat-Ayat tentang Bidadari Surga

0
Bidadari Surga
Bidadari Surga

Mukjizat bahasa Al-Qur’an yang bersifat multi interpetatif atau berpeluang menimbukan perbedaan penafsiran, hal tersebut nyatanya tak terkecuali pada ayat-ayat eskatologis. Konsep pemaknaan bidadari surga misalnya yang memiliki ragam penafsiran atau bahkan telah terjadi reinterpretasi (pemaknaan ulang).

Bidadari surga yang secara arus mainsteam tafsir diartikan sebagai sosok perempuan cantik yang disediakan hanya untuk mukmin laki-laki, kini mulai didiskusikan kembali dalam ranah tafsir Al-Qur’an. Berikut ragam pemaknaan ayat-ayat tentang bidadari surga dari klasik hingga kontemporer.

Ayat-ayat tentang bidadari dalam Al-Qur’an

Lafad yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan pendamping di surga -bidadari- sangat beragam. Lafad-lafad tersebut di antaranya hūr’īn, qāsirātu tarf, kawāiba atrāba, khairātun hisān, lu’lu al-maknūn, abkāra, baidū maknūn, ‘uruban atrāba, dan azwājun muthaharatun. Lafad tersebut tersebar dalam beberapa surat di antaranya Q.S Shad : 52, al-Waqiah : 22, as-Shaffat : 48-49, ad-Dukhan : 54, at-Thur: 20, an-Naba : 33, al-Baqarah : 25, ali-Imran : 15, an-Nisa : 57, dan ar-Rahman : 56.

Tetapi mari kita lihat perbedaanya dari lafad hūr’īn yang mewakili lafad yang diturunkan di Makkah, dan lafad  azwājun muthaharatun yang mewakili lafad yang digunakan di Madinah. Lafad hūr’īn dalam Q.S al-Waqiah [56] : 23

وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ

“Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah”

Lafad azwājun muthaharatun salah satunya dalam Q.S al-Baqarah [2] : 25 :

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا  قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗ وَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu’. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.

Pendapat Mufasir Klasik

At-Thabari memaknai lafad hūr’īn dengan perempuan yang memiliki mata putih bersih, kulit bersih dan memiliki bola mata lebar yang sangat indah. Terdapat dalam kitab at-Thabari, riwayat Mujahid bahwa nanti orang-orang yang masuk surga dinikahkan dengan bidadari yang bermata putih, tulang betisnya terlihat di balik busana yang dikenakan. Bahkan, orang bisa melihat wajahnya dari balik jantung karena kulitnya yang bersih dan tipis (Jami’ al-Bayan, Juz 22, 51).

Baca Juga: Imam At-Thabari, Sang Maestro Tafsir Al-Quran Pertama Dalam Islam

Sementara itu, lafad azdwājun muthaharatun ditafsirkan at-Thabari dengan sosok perempuan yang memiliki kesucian dari segala kotoran yang ada pada kaum perempuan di dunia. Kotoran tersebut seperti haid, nifas, air besar-kecil, dan segala sesuatu yang tidak disukai termasuk jenis noda dan dosa.

Demikian pula penafsiram al-Qurthubi terhadap hur-in dan azwajun muthaharatun sama dengan at-Thabari, dengan penambahan hadis-hadis seperti hadis dari Abu Hurairah : “Mahar untuk menikahi bidadari adalah beberapa genggam kurma dan beberapa helai roti” juga riwayat Abu Qirshafah: “Mengeluarkan sampah dari dalam masjid adalah mahar untuk menikahi bidadari,” (Jami’ Ahkam Al-Qur’an, Juz 15, 396).

Pendapat Mufasir Modern Kontemporer

Pada masa modern-kontemporer, di samping ayat tentang bidadari ditafsirkan apa adanya sesuai lafadnya, namun beberapa tafsir seperti tafsir Al-Misbah memberikan keterangan lebih lanjut mengenai pemaknaan bidadari surga. Menurut Quraish Shihab lafad Hūr’īn berasal dari lafad Haurā yang bisa dimaknai sebagai sesuatu yang feminim atau maskulin. Lebih lanjut Quraish Shihab menyatakan bahwa bidadari surga merupakan iming-iming yang mempunyai hakikat berbeda sesuai harapan kesenangan setiap orang.

Demikian pula dengan mufassir Sayyid Qutb ketika menafsirkan ayat-ayat tentang bidadari, ia tidak tenggelam pada penambahan pendapat pribadi atau konstruksi patriarki. Sayyid Qutb lebih fokus pada pembahasan hakikat kesenagan surga secara keseluruhan. Sayyid Qutb berpendapat bahwa ungkapan ‘Terdapat bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan dengan baik’ adalah kiasan dari makna psikologis dan spiritual. (Fi Zilalil Qur’an, 139).

Menurut Quraish Shihab azwājun muthaharatun adalah pasangan yang berulang kali disucikan dari segala jenis kotoran. Pengertiannya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki pasangannya masing-masing. Penyucian dalam lafad tersebut bukan hanya dari haid, melainkan mencakup segala yang mengotori jasmani dan jiwa seperti dengki, cemburu, bohong, khianat dan sebagainya.

Selain itu, dewasa ini muncul pemahaman bahwa kepercayaan terhadap gambaran bidadari surga yang disuguhkan oleh mufasir klasik memperlihatkan konstruksi penafsiran yang terkesan diskriminatif terhadap perempuan dalam perspektif gender. Menurut aktifis gender beberapa tafsir panjang lebar membicarakan sifat dan  karakteristik kecantikan bidadari tanpa memperhatikan konteks ayat saat diturunkan.

Seiring dengan perkembangan zaman, kesadaran kesetaraan laki-laki dan perempuan lebih disuarakkan, kajian Ulumul Qur’an juga metode menafsirakan Al-Qur’an mengalami perkembangan. Oleh sebab itu penafsiran bidadari pun mengalami perkembangan. Beberapa pemikir atau pengkaji Al-Qur’an mulai memperhatikan aspek-aspek baru dalam memahami ayat Al-Qur’an khusunya di sini terhadap konsep bidadari. Secara maudhu’i kini ayat-ayat tentang bidadari dimaknai ulang.

Amina Wadud dalam bukunya Quran and Women, 97 memahami ayat tentang bidadari dengan menggunakan bahasa ‘teman pendamping di surga’. Amina menarik kesimpulan bahwa terdapat tiga tingkatam ketika Al-Qur’an berbicara tentang teman pendamping di surga.

Baca Juga: Amina Wadud dan Hermeunitika Tauhid dalam Tafsir Berkeadilan Gender

Pertama, penggunaan istilah hūr’īn mencerminkan tingkat pemikiran komunitas Makkah yang mementingkan harta juga perempuan. Kedua, penggambaran pendamping di surga pada periode Madinah dengan memakai istilah zawj, melambangkan masyarakat Madinah  yang mulai memahami Islam. Ketiga, Al-Qur’an telah melampaui dua tingkat sebelumnya dan berbicara tentang kenikmatan yang jauh lebih penting daripada keduanya, yaitu kedekatan dengan Allah swt.

Selain Amina, Tokoh Indonesia Faqihuddin Abdul Kodir dengan teori kesalingan (Qira’ah Mubadalah, 311-324) menggunakan lafad azwājun muthaharatun (pasangan suci) dan ayat-ayat kesetaraan balasan amal perbuatan manusia sebagai bukti adanya bidadara untuk muslim perempuan.

Selaras dengan Faqihuddin, Nur Rofiah pegiat ngaji KGI (Keadilan Gender Islam) mengatakan dalam bukunnya Nalar Kritis Muslimah bahwa, bahasa manusia bersifat simbolik termasuk bahasa manusia yang digunakan  dalam Al-Qur’an. Bidadari surga yang digambarkan dengan lafad-lafad yang dipinjam Al-Qur’an adalah simbol kenikmatan surga. Sedangkan penggambaran kenikmatan surga tidak berhenti pada bidadari, melainkan akhir penjelasan surga bersifat spiritual yaitu bertemu dengan Allah.

Menurut Rofiah, Al-Qur’an menggambarkan surga yang bersifat materiil hanyalah perumpamaan, karena Al-Qur’an (saat ayat bidadari diturunkan) sedang berbicara kepada masyarakat yang belum mempunyai kesadaran spiritual yang memadai.

Demikian ragam pemaknaan bidadari surga dari tafsir klasik hingga modern kontemporer. Hal tersebut menunjukkan kepada kita proses usaha manusia untuk memahami kalam ilahi, ilmu Allah yang tiada batas. Sebenarnya masih banyak diskusi tentang hal ini, namun penulis ingin menyajikannya dalam suguhan yang singkat, setidaknya sebagai pemantik diskusi selanjutnya. Wallahu’alam.

Tafsir Surah Yusuf Ayat 7: Belajarlah dari Kisah Nabi Yusuf!

0
Tafsir surah Yusuf ayat 7
Tafsir surah Yusuf ayat 7

Secara jelas dalam ayat 7 ini Allah menyatakan bahwa terdapat hikmah dan tanda kebesaranNya yang harus dipelajari dalam kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. Mulai dari mimpi Nabi Yusuf dan anjuran sang ayah, Nabi Yakub untuk tidak menceritakan mimpinya itu meski terhadap saudara-saudaranya dan banyak lagi setelah ini. Semuanya itu, melalui tafsir surah Yusuf ayat 7 ini, kita diperintah oleh Allah untuk merenungkan dan mengambil pelajaran di dalamnya.

Surah Yusuf ayat 7 itu berbunyi,

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ (7)

“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya. (QS. Yusuf [12]: 7)

Ada beberapa penafsiran yang menarik pada surah Yusuf ayat 7 ini, antara lain yaitu informasi tentang pernikahan Nabi Yakub As. dengan sepupunya sendiri bahkan hingga dua kali; jawaban dari pertanyaan orang-orang Yahudi pada Rasulullah Saw mengenai sebab pindahnya keluarga Yakub dari Kan’an ke Mesir; dan di akhir ayat disampaikan pesan tersirat tentang bahwa kisah tersebut adalah sebuah pelajaran bagi orang-orang yang berfikir. Semua pembahasan ini tertuang dalam tafsir surah Yusuf ayat 7.

Baca Juga: Saudara-Saudara Yusuf Adalah Para Nabi: Tafsir Surah Yusuf Ayat 6

Nabi Yakub As. Menikah dengan Sepupunya

Bagi sebagian orang, menikah dengan sepupu itu dihindari dan dianggap tidak menyenangkan, namun siapa sangka ternyata Nabi Yakub menikah dengan sepupunya sendiri. Nabi Yakub yang dikenal mempunyai dua belas anak, ia bahkan dua kali menikah dengan sepupunya. Istri yang pertama merupakan sepupu Nabi Yakub sendiri adalah ibu dari enam  saudara Yusuf dan satunya lagi ibu dari Yusuf dan Binyamin.

Dalam Tafsir al-Baghawy  dijelaskan bahwa Allah memberikan Nabi Yakub dua belas anak dari dua istri dan dua budak. Istri pertamanya adalah Liya Binta Layana, sepupunya sendiri dari pamannya. Kemudian dari Liya ini dikaruniai enam anak, mereka adalah Rubil/Rubin, Syam’un, Lawy, Yahudza, Zabalun/Zablun dan Aasyir. Kemudian Nabi Yakub juga mempunyai empat anak dari Zulfah dan Yalhimah-dua budak perempuannya-mereka adalah Dan, Naftaly/Naftuly, Jad dan Asyiir.

Setelah Liya Binta Layana meninggal, Nabi Yakub menikah dengan sepupunya untuk yang kedua kalinya, yaitu Rahila, saudari dari Liya. Nabi Yakub mendapatkan dua anak dari Rahila. Keduanya adalah Yusuf dan Binyamin.

Sedikit berbeda dengan keterangan dalam Tafsir Bahrul Ulum, di situ dikatakan bahwa anak dari Nabi Yakub dan Liya itu hanya empat, Zabalun dan Asyir adalah anak dari dua budak, Zulfah dan Yalhimah yang masing-masing dari kedua budak ini mempunyai tiga anak. Jadi semuanya berjumlah dua belas. As-Samarqandi juga menyinggung bahwa Nabi Yakub juga mempunyai anak perempuan, tapi tidak dijelaskan nama-namanya.

Baca Juga: Tafsir Surah Yusuf Ayat 5: Ketika Ya’qub Melarang Yusuf Menceritakan Mimpinya

Selain itu, As-Samarqandi juga menceritakan proses melamarnya Nabi Yakub pada istrinya tersebut. Di masanya, seorang laki-laki boleh menikahi dua perempuan bersaudara secara bersamaan, tetapi ini tidak terjadi pada Nabi Yakub. Ibu mertua yang juga bibinya Nabi Yakub itu tidak mengizinkan hal tersebut dan Nabi Yakub pun tidak menginginkannya.

Dalam tafsir surah Yusuf ayat 7 ini juga diceritakan bahwa bibinya itu meminta Nabi Yakub untuk bekerja dulu ke dia selama tujuh tahun, baru setelah itu boleh menikah dengan anaknya. Ketika itu Nabi Yakub ingin melamar Rahila, namun bibinya menyerahkan Liya, karena menurut bibinya, sang adik tidak boleh melangkahi kakaknya untuk menikah terlebih dahulu.

Kisah yang sama dalam Al-Quran dan Taurat dan pelajaran bagi orang yang berpikir

Orang-orang Yahudi telah bertanya kepada Rasulullah Saw, tentang kisah Nabi Yusuf As., mereka bertanya apa penyebab perpindahan anak-anak Nabi Yakub dari Kan’an ke Mesir. Kemudian Rasulullah Saw. menjawab dengan menceritakan kisah Nabi Yusuf As. dari awal sampai akhir. Ternyata kisah Yusuf yang diceritakan Rasulullah Saw. Sama dengan ajaran dalam kitab Taurat dan mereka merasa takjub dengan kejadian itu.

Bagian kisah ini menunjukkan kenabian Muhammad Saw. Selain itu juga menunjukkan ketersinambungan antara ajaran para Nabi, mulai dari Nabi Musa As. sebagai Nabi yang diberi kitab Taurat dan Nabi Muhammad Saw. Yang diberi kitab Al-Quran

Baca Juga: Kisah Mimpi Yusuf Bukan Wahyu: Tafsir Surah Yusuf Ayat 4

Pada potongan ayat aayaah li al-saailiin (tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang bertanya), Al-Baghawy menafsirkan dengan wa li man lam yasal (dan bagi orang-orang yang tidak bertanya) yang berarti bahwa ibrah dan pelajaran dalam kisah Nabi Yusuf ini tidak hanya untuk orang-orang Yahudi yang bertanya tadi, tetapi juga berlaku untuk orang-orang yang tidak bertanya.

Pendapat ulama yang menyatakan maksud aayaah li al-saailiin merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berfikir itu karena banyak pelajaran yang ada di dalamnya, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Baghawi dan As-Sam’ani dalam Tafsir Al-Quran.

Keduanya merinci pelajaran-pelajaran itu meliputi kedengkian yang telah dilakukan saudara-saudaranya yang akhirnya kembali pada mereka sendiri; mimpi Nabi Yusuf dan bagaimana Allah mewujudkan mimpi itu; keteguhan Nabi Yusuf dari rayuan perempuan, kesabarannya menjalani perbudakan dan kesabarannya tinggal di penjara; selain itu juga ada perihal kerajaan dengan segala urusan pemerintahan, kesedihan dan kesabaran Nabi Yakub atas perpisahannya dengan Yusuf serta berbagai pelajaran lainnya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat mengambil pelajaran itu. Amin

Wallahu a’lam.

Tafsir Surah At Takwir Ayat 10-18

0
tafsir surah at takwir
Tafsiralquran.id

Tafsir Surah At Takwir Ayat 10-18 ini melanjutkan pembahasan sebelumnya, yakni kejadian hari kiamat. Di sini dipaparkan mengenai terungkapnya catatan kehidupan manusia. Di jelaskan pula balasan yang layak bagi yang berprilaku buruk dan baik.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah At Takwir Ayat 6-9


Di akhir Tafsir Surah At Takwir Ayat 10-18 terdapat beberapa ayat yang menggunakan bentuk sumpah. Sumpahnya meliputi bintang-bintang, malan dan waktu subuh.

Ayat 10

Dalam ayat ini dijelaskan apabila catatan-catatan amal perbuatan manusia dibuka, maka mereka akan melihat kebajikan atau kejahatan yang mereka perbuat ketika di dunia. Mereka akan tercengang keheranan karena tidak menyangka semuanya tercatat rapi dan teliti. Allah berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ࣖ   ٤٩

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (al-Kahf/18: 49)

Bagaimana bentuk kitab atau catatan amal perbuatan manusia itu di Padang Mahsyar tidak kita ketahui. Namun kalau manusia saja mampu menciptakan berbagai alat perekam yang begitu canggih dan teliti, kita percaya bahwa Allah Sang Pencipta manusia punya sistem dan cara untuk merekam perbuatan, perkataan, dan isi hati manusia dengan hasil yang lebih baik dari apa yang dapat dibuat manusia.

Ayat 11

Dan apabila langit dilenyapkan karena kehancuran planet-planet yang ada di dalamnya. Langit yang begitu luas dapat dilipat seperti melipat kertas. Firman Allah:

يَوْمَ نَطْوِى السَّمَاۤءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ

(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. (al-Anbiya’/21: 104)

Ayat 12

Dan apabila neraka Jahim yang disediakan untuk menyiksa orang-orang kafir dan durhaka telah dinyalakan sehebat-hebatnya sehingga orang yang memasukinya merasa kesakitan yang paling dahsyat. Itulah azab yang diancamkan Allah kepada orang-orang yang mengingkari-Nya.

Firman Allah:

اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَلٰسِلَا۟ وَاَغْلٰلًا وَّسَعِيْرًا   ٤

Sungguh, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. (al-Insan/76: 4)


Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50: Hari Kiamat Datang dengan Tiba-Tiba


Ayat 13

Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang akan memasukinya yaitu orang-orang mukmin yang bertakwa. Ini adalah balasan atas jerih payah dan usaha mereka berjihad menegakkan agama Allah dan menjalankan perintah agama. Allah berfirman:

وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ۙ   ٩٠

Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. (asy-Syu’ara’/26: 90)

Ayat 14

Jika semua peristiwa-peristiwa yang disebutkan sebelum ayat ini telah terjadi, tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

Sebagian besar dari manusia ketika hidup di dunia tertipu oleh godaan setan. Mereka akan menjumpai amal perbuatan mereka pada hari Kiamat tidak diterima oleh Allah bahkan dijauhkan dari rahmat-Nya dan berada di bawah murka-Nya.

Orang-orang yang amal perbuatannya diselubungi dengan ria, tidak mendapat faedah dari amalnya itu kecuali sekadar kepayahan dan kesulitan.

Setiap orang wajib memandang kepada amal perbuatannya dengan kaca mata agama dan menimbangnya dengan timbangan yang benar, sebab Allah tidak menerima amal perbuatan melainkan yang muncul dari hati yang penuh dengan keimanan dan keikhlasan.

Ayat 15-16

Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam. Bintang-bintang itu semuanya tidak tampak oleh penglihatan pada siang hari, namun akan kelihatan bersinar pada malam hari.

Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu karena dalam keadaannya yang silih berganti, tidak tampak ketika siang dan bersinar pada malam hari, merupakan tanda atas kekuasaan Allah yang mengatur perjalanannya.


Baca juga: Bolehkah Membaca Al-Qur’an Sembari Berdiri Atau Berbaring?


Ayat 17

Dalam ayat ini, Allah bersumpah demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.

Ayat 18

Kemudian dalam ayat ini Allah bersumpah demi subuh apabila fajar mulai menyingsing dan bersinar.

Waktu subuh digunakan Allah dalam bersumpah karena waktu ini menimbulkan harapan yang menggembirakan bagi setiap manusia yang bangun pagi karena menghadapi hari yang baru. Saat itu mereka dapat menemukan hajat keperluan hidupnya mengganti yang hilang dan bersiap-siap untuk yang akan datang.

Kemudian Allah menerangkan apa yang dijadikan objek sumpahnya itu, dengan firman-Nya pada ayat berikut ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah At Takwir Ayat 6-9

0
tafsir surah at takwir
Tafsiralquran.id

Tafsir Surah At Takwir Ayat 6-9 ini meneruskan penggambaran datangnya hari kiamat. Salah satunya adalah meluapnya lautan, kobaran api muncul dari dasar bumi, jasad-jasad bertemu ruhnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah At Takwir Ayat 1-5


Ayat 6

Dan apabila lautan-lautan dijadikan meluap, sehingga menjadi satu, kemudian menyala dengan kobaran api yang tadinya terpendam di bawah bumi tersebut.

Setelah Allah menerangkan beberapa peristiwa yang menjadi permulaan hancurnya alam semesta dan matinya semua makhluk yang berada di atasnya, maka Allah menjelaskan apa yang terjadi setelah itu tentang kebangkitan.

Ayat 7

Dan apabila roh-roh dipertemukan kembali dengan tubuh untuk memasuki kehidupan di alam akhirat. Ayat ini mengandung isyarat bahwa roh-roh itu tetap utuh setelah mati dan pada hari Kiamat dikembalikan lagi pada badannya.

Pendapat lain menyebutkan arti ayat ini dengan bertemunya kelompok orang-orang termasuk ashabul-yamin dengan kelompok ashabul-yamin.

Ibnu  Abbas mengatakan bahwa arti ayat ini adalah dipertemukannya roh orang-orang yang beriman dengan pasangan-pasangannya di surga dan roh orang-orang kafir dipertemukan dengan setan-setan pembantunya.


Baca juga: Apa Makna “Kiamat Sudah Dekat” dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya


Ayat 8-9

Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa bayi-bayi yang pernah dikubur hidup-hidup akan dihidupkan kembali di hadapan orang yang menguburkannya dan ditanya karena dosa apakah dia dibunuh.

Jawaban pertanyaan ini memberikan kesan yang lebih dalam kepada si pembunuhnya karena bayi perempuan itu akan menjawab bahwa ia dikubur hidup-hidup tanpa dosa sama sekali, hanya karena orang tuanya takut dihinggapi kefakiran dan kemiskinan. Kebiasaan orang Arab pada zaman Jahiliah ini sangat di luar peri kemanusiaan.

Di kalangan mereka ada yang tidak mengubur hidup-hidup anaknya yang perempuan, tetapi ia memberikan pekerjaan kepadanya dengan menggembalakan kambing di padang pasir dengan pakaian bulu dan membiarkan hidup dalam kesepian.

Dan ada pula yang membiarkan anak perempuannya itu hidup sampai umur enam tahun kemudian ia berkata kepada ibunya, “Dandanilah anak ini dengan pakaian yang baik, karena akan dibawa ziarah mengunjungi bibinya.” Sebelumnya ia telah menggali sebuah sumur di padang pasir.

Setelah ia sampai dengan anak perempuannya itu di tepi sumur itu, lalu berkata, “Tengok, apa yang ada dalam sumur itu.” Kemudian anak perempuan itu ditendang dari belakang dan setelah jatuh ke dalam sumur itu lalu ditimbun dan diratakan dengan tanah.

Dan di antara mereka ada yang berbuat lebih kejam lagi daripada ini. Setelah datang agama Islam, maka kekejaman yang di luar peri kemanusiaan itu diganti dengan sikap yang penuh ramah dan kesayangan.

Di antara alasan pembunuhan anak perempuan di masa Jahiliah adalah karena anak perempuan dianggap tidak punya nilai ekonomis yang bisa menguntungkan keluarga. Alasan lain adalah karena anak perempuan dianggap sangat lemah, sering menjadi korban pelecehan seksual atau karena perempuan dianggap sebagai penggoda laki-laki yang bisa membuat malu keluarga.

Dalam Surah an-Nahl/16: 58, Allah menggambarkan seorang laki-laki yang mendapat kelahiran putrinya dengan wajah hitam karena menahan marah.

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ   ٥٨

Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. (an-Nahl/16: 58)

Islam adalah agama yang menghormati perempuan, sama seperti menghormati laki-laki. Oleh sebab itu, Islam melarang pembunuhan bayi laki-laki maupun perempuan, baik karena kemiskinan atau karena takut miskin. Allah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ

Janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (al-An’am/6: 151)


Baca setelahnya: Tafsir Surah At Takwir Ayat 10-18


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Makna Ibadah dalam Q.S. al-Dzariyat [51]: 56 Menurut Harun Nasution

0
Harun Nasution
Harun Nasution

Q.S. al-Dzariyat [51]: 56 pada umumnya dinilai oleh Mufasir sebagai salah satu ayat yang menjelaskan secara eksplisit hakikat tujuan manusia diciptakan di muka bumi ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Secara jelas ayat tersebut menyatakan bahwa Allah menciptakan Jin dan Manusia sebagai subjek yang memiliki kewajiban untuk beribadah kepada-Nya. Namun bagaimana sejatinya bentuk ibadah yang dimaksud oleh ayat tersebut? Apakah ibadah yang dimaksudkan adalah ibadah-ibadah wajib seperti shalat, zakat puasa, haji?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Harun Nasution dalam salah satu karyanya, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, mengutarakan pandangan mengenai penafsiran yang tepat terhadap kalimat لِيَعْبُدُوْنِ.

Ada setidaknya dua poin pembahasan yang ia uraikan sebagai bentuk penjelasannya atas lafadz لِيَعْبُدُوْنِ Q.S. al-Dzariyat [51]: 56. Pertama, Harun memaknai dan menafsirkan lafadz لِيَعْبُدُوْنِ dengan “ketundukan dan kepatuhan” dan tidak dengan makna “ibadah ataupun menyembah” yang umumnya dipakai.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 28: Manfaat Ibadah Haji dalam Segi Sosial dan Ekonomi

Harun Nasution menguraikan alasan rasional bahwa makna ibadah dan menyembah tidak ia pilih sebab Allah sebagai Sang Pencipta tidaklah membutuhkan hajat atau keinginan untuk dipuja ataupun disembah oleh hamba-Nya.

Pendapat Harun ini senada dengan pelajaran Akidah yang diberikan dalam suatu Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa segala bentuk permintaan makhluk kepada Allah, dan apabila Allah penuhi tidaklah mengurangi apa yang Allah punya kecuali layaknya setetes air di ujung jarum yang dicelupkan di samudera.

Alasan Harun memilih makna tunduk dan patuh ialah sebab kesesuaiannya dengan makna muslim dan muttaqi. Implikasi maknanya, bahwa ketundukan dan kepatuhan menjadi simbol dari usaha manusia untuk melakukan penyerahan secara total kepada Allah dengan melakukan serta menghindari apa yang diperintahkan-Nya (perbuatan baik dan dilarang-Nya (perbuatan buruk). Maka hakikat penciptaan manusia menurut Harun ialah sebagai subjek yang senantiasa berusaha berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk.

Kedua, Harun tidak menggunakan makna menyembah ataupun sembahyang (istilah yang diserap dari falsafah agama sebelum Islam), sebab kedua istilah tersebut bukan istilah yang berasal dari falsafah Islam. Istilah sembahyang menurutnya meninggalkan kesan cara beragama penganut animisme dan politeisme yang beribadah dengan dilandasi adanya rasa takut terhadap suatu kekuatan ghaib.

Tradisi sesajenan yang sampai saat ini masih ada menjadi salah satu buktinya. Di mana salah satu fungsi diadakannya tradisi Sesajenan oleh sebagian masyarakat adalah untuk mencegah murkanya suatu kekuatan ghaib tertentu agar tidak menimpakan bala’ kepada masyarakat.

Atas dasar itulah, menurutnya konsep dan falsafah istilah “sembahyang” tidak sesuai dengan konsep ‘abd (hamba) dan shalla (shalat—sebagai salah satu bentuk ibadah dalam Islam). Harun menegaskan bahwa dalam Islam, Tuhan bukanlah suatu hidden power (kekuatan ghaib) yang ditakuti, melainkan Dzat yang senantiasa mencurahkan kasih sayang dan rahmatnya kepada manusia, sebagaimana terangkum dalam kalimat basmalah.

Maka baginya, ibadah bukanlah suatu aktivitas penyembahan tetapi suatu media yang menjembatani antara Sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Walhasil, dengan media ibadah manusia bisa memperlihatkan ketundukannya pada Sang Pencipta sekaligus sebagai sarana membersihkan dan memenuhi asupan pada unsur rohaninya.

Sebab rohani yang bersih lagi sehat akan berdampak pada pola perilaku manusia yang mencerminkan keluhuran budi pekerti. Dengan begitu, ibadah bukan saja berdampak pada unsur rohani manusia namun juga pada unsur jasmaninya melalui setiap bentuk perilaku yang dilakukannya.

Penafsiran Harun Nasution terhadap Q.S. al-Dzariyat [51]: 56, memberikan beberapa hal menarik yang bisa dijadikan sebagai bahan muhasabah. Pertama, ibadah harus dilandasi dengan rasa tunduk dan sikap berserah diri secara total di hadapan Sang Pencipta. Ibadah seperti ini yang nantinya akan membawa manusia memaknai hakikat (esensi dan fungsi) ibadah dan tidak sekedar menjalankan kewajibannya semata.

Baca Juga: Inilah Amalan Agar Mudah Bangun Untuk Ibadah Shalat Malam

Kedua, bukti manusia telah mengetahui hakikat dirinya dan ibadahnya tercermin dalam perilakunya. Sebagaimana dikatakan Harun bahwa hakikat penciptaan manusia ialah sebagai subjek yang dibebani kewajiban untuk senantiasa berbuat baik di muka bumi ini. Maka manusia yang telah mengenal hakikat dirinya dan ibadahnya, tidak akan pernah membiarkan dirinya terjerumus dalam perilaku buruk.

Ketiga, konsep ibadah merupakan pelengkap dari konsep khalifah dalam wacana hakikat penciptaan manusia dan isu Ekologi. Artinya bahwa manusia sebagai khalifah (pemimpin, pengelola) di muka bumi ini harus mendasarkan setiap keputusan dan tindakan yang ia kerjakan dengan landasan ta’abud lillah (ibadah kepada Allah). Dengan begitu, manusia diharapkan mampu menjadi subjek yang bijak dalam mengelola segala sumber kekayaan yang disediakan Allah kepadanya di Bumi ini dan tidak justru menjadi agen perusak yang tidak bertanggungjawab. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah At Takwir Ayat 1-5

0
tafsir surah at takwir
Tafsiralquran.id

Tafsir Surah At Takwir Ayat 1-5 berbicara tentang hari kiamat. Hari itu digambarkan dengan sangat mengerikan. Alam semesta hancur lebur. Matahari hilang sinarnya, gunung-gunung hilang akarnya. Secara ilmiah kejadian itu dinamakan dengan Big Crunch.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Abasa Ayat 33-42


Ayat 1

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa jika matahari telah digulung, telah padam cahayanya dan jatuh berantakan bersamaan dengan hancurnya alam semesta yang pernah didiami oleh makhluk-makhluk yang hidup di dunia, maka musnahlah segala alam karena berpindah kepada alam yang lain.

Ayat 2

Apabila bintang-bintang berjatuhan dan padam sekalian cahayanya.

Ayat 3

Dan apabila gunung-gunung dihancurkan setelah dicabut dari bumi, diterbangkan di angkasa ketika terjadinya gempa yang amat dahsyat sehingga gunung-gunung itu terlepas dari dasarnya dan dilemparkan di angkasa seperti awan yang ditiup angin laksana kapas.

Untuk telaah ilmiah Surah at-Takwir/81: 1-3 ini, lihat pula telaah ilmiah Surah al-Haqqah/69: 13-16 dan Surah al-Ma’arij/70: 8.

Ketika terjadi proses ke arah Big Crunch itu, yaitu proses pemadatan atau penyusutan alam semesta, maka semua materi pecah kembali menjadi materi-materi fundamental seperti quark, elektron dan sebagainya. Gaya-gaya seperti gaya gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat dan nuklir lemah mulai menyatu kembali.

Saat itulah benda-benda langit mulai kehilangan gaya-gaya gravitasinya, dan akibatnya terjadilah tabrakan-tabrakan dahsyat antar bintang, inilah gambaran bintang-bintang berjatuhan, karena kehilangan gaya-gaya gravitasinya.

Matahari yang juga merupakan jenis bintang mengalami hal sama. Ketika benda-benda langit saling mendekat, kekuatan gravitasi bagian luar boleh jadi akan melebihi cengkeraman kekuatan plasma di dalam bintang-bintang itu (termasuk matahari).

Akibatnya adalah volume matahari dan bintang-bintang yang lain akan memuai. Matahari akan menjadi lebih besar volumenya, namun tekanan internalnya berkurang, dan cukup untuk menghentikan energi yang menghasilkan reaksi perpaduan nuklirnya.

Akibatnya sinar matahari (yang memuai itu) akan meredup menjadi merah. Ketika pengembangan volume matahari telah mencapai maksimum, maka matahari akan mengalami kontraksi dan volumenya akan menurun dan menurun terus, mengecil yang akhirnya menjadi bintik hitam yang super-padat (dwarf black hole atau bintik hitam kerdil). Inikah yang dimaksud dengan matahari digulung pada ayat 1 di atas?

Benturan juga terjadi antar-planet, sehingga bumi berbenturan dengan planet-planet lainnya. Akibat peristiwa inilah terjadinya kehancuran gunung-gunung. Semua proses ini akan mengarah ke Big Crunch dan kembali menjadi singularity.


Baca juga: Alam Semesta Juga Menyatakan Patuh Pada Allah: Tafsir Surat Fushilat Ayat 11


Ayat 4

Dan apabila unta-unta bunting yang termasuk benda paling dihargai oleh orang-orang Arab, ditinggalkan dan tidak dipedulikan oleh pemiliknya karena kedahsyatan hari Kiamat tersebut. Hal ini menggambarkan kedahsyatan hari Kiamat yang jika diperkirakan, jika ada seorang laki-laki mempunyai unta yang bunting tentu ditinggalkan karena terlalu sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Ayat 5

Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan dan dimusnahkan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah At Takwir Ayat 6-9


(Tafsir Kemenag)

Ayat-Ayat Jihad dalam Al-Quran: Klasifikasi dan Kontekstualisasinya Di Era Kekinian

0
Ayat-Ayat Jihad dalam Al-Quran
Ayat-Ayat Jihad dalam Al-Quran

Pada pembahasan yang lalu telah diulas definisi jihad dan beberapa makna jihad. Maka, artikel ini hendak mengulas ayat-ayat jihad dalam Al-Quran, klasifikasi dan kontekstualisasinya dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam Al-Quran term jihad dan derivasinya terdapat 36 ayat sebagaimana disampaikan Faidhullah al-Hasani dalam al-Mu’jam al-Mufahras li Kalimati al-Qur’an al Musamma bi Fathi ar-Rahman.

Namun, pendapat lain mengatakan terdapat sebanyak 34 kali dalam Al-Quran seperti yang diwartakan Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqih Jihad. Lebih dari itu, sesungguhnya ayat jihad dalam Al-Quran tidak terlepas dari konteks Makkiyah dan Madaniyah. Muhammad Izzat Darwazah misalnya, dalam al-Tafsir wa al-Hadits, ia menjelaskan ayat-ayat jihad yang masuk klaster Makkiyah lebih cenderung menyingkap prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Selain itu, mengandung spirit yang kuat untuk menghadapi kaum Quraisy.

Baca juga: 4 Macam Bacaan Mad Badal dalam Ilmu Tajwid dan Contohnya

 Berbeda dengan ayat-ayat jihad klaster Makkiyah, ayat-ayat jihad klaster Madaniyah lebih condong pada seruan untuk melakukan jihad fi sabilillah. Hampir senada dengan Izzat Darwazah, Muhammad Sa’id al-Asymawi, mantan ketua Pengadilan Tinggi Kairo yang juga penulis buku al-Islam al-Siyasy atau Islam and the Political Order, ia menyoroti ayat-ayat jihad dalam konteks sejarah.

Al-Asymawi berpendapat bahwa ayat-ayat jihad periode Makkah lebih mengaksentuasikan makna spiritual daripada makna fisik (eksoterik). Jihad periode ini lebih merekomendasikan untuk tetap menjaga iman, bersabar, dan menahan diri dari cercaan, cacian, hujatan dan hinaan kaum kafir Quraisy. Adapun ayat-ayat jihad periode Madinah, jihad dimaknai dengan membangun keseimbangan sosial baik dari aspek ekonomi, dakwah, pendidikan maupun politik.

Klasifikasi Ayat-Ayat Jihad

Ada beberapa ayat-ayat jihad yang dapat kita klasifikasikan dalam beberapa hal, sebagai berikut,

Jihad bermakna perang

Makna ini kita dapati salah satunya dalam Q.S. al-Tahrim [66]: 9,

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْۗ وَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Q.S. al-Tahrim [66]: 9)

Ayat di atas acapkali diselewengkan oleh orang-orang yang phobia terhadap Islam. Sebab, jika dipahami secara letterlijk, ayat ini memang sedikit “SARA” karena orang kafir dan munafik “harus” diperangi. Namun tahukah anda bahwa sesungguhnya ayat ini tidak terlepas dari konteks sosial saat itu.

Baca juga: Bolehkah Membaca Al-Qur’an Sembari Berdiri Atau Berbaring?

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menuturkan bahwa ayat ini punya makna lain yaitu fungsi berdakwah. Artinya ayat ini mengisyaratkan untuk mendakwahkan Islam kepada orang kafir dengan lisan, perbuatan dan hati ataupun sesuai kemampuan yang dimiliki. Kemudian Quraish Shihab juga menyitir pendapat al-Thabathaba’i bahwa orang kafir boleh langsung diperangi, akan tetapi ada tahapan dakwah di sana. Tahapan dakwah saja tidak cukup, kata al-Thabathaba’i – mereka baru boleh diperangi apabila mengusik atau mengancam eksistensi kaum muslim.

Jihad Moral

Bentuk jihad kedua yaitu jihad moral sebagaimana dalam Q.S. al-‘Ankabut [29]: 69,

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-‘Ankabut [29]: 69)

Yusuf al-Qaradhaiwi memaknai jihad dalam konteks ayat ini adalah jihad moral, yaitu jihad mermerangi hawa nafsu dan godaan setan. Sehingga jihad “perang” terhadap kaum kafir quraisy tidak termasuk dalam ayat ini.

Jihad Dakwah

Bentuk jihad ketiga adalah berdakwah atau mensyiarkan ajaran Islam. Sebagaimana terlukiskan dalam Q.S. al-Nahl [16]: 110,

ثُمَّ اِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِيْنَ هَاجَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا فُتِنُوْا ثُمَّ جَاهَدُوْا وَصَبَرُوْاۚ اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ

Kemudian Tuhanmu (pelindung) bagi orang yang berhijrah setelah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar, sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. al-Nahl [16]: 110)

Masih tentang pendapat al-Qaradhawi, ayat ini lebih menganjurkan jihad dengan dakwah dan tabligh, serta jihad prihatin terhadap penderitaan dan kesulitan. Selain itu, jihad di sini dimaknai dengan jihad dengan kesabaran. Jika merujuk pada klasifikasi kesabarannya al-Ghazali, maka terbagi dalam tiga hal, yakni sabar dalam ketaatan, sabar dalam kemaksiatan (maksudnya, dengan menahan diri untuk menjauhi kemaksiatan) dan sabar dalam musibah (bersabar atas kehendak Allah atas ujian dan cobaan yang diberikan-Nya).

Baca juga: Tafsir Surat Yasin ayat 63-65: Ketika Seluruh Tubuh Bersaksi di hadapan Allah Swt

Jihad Memperbaiki Diri

Bentuk jihad keempat adalah jihad dengan memperbaiki diri. Sebagaimana dalam Q.S. al-Anfal [8]: 74,

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (Q.S. al-Anfal [8]: 74)

Ayat di atas juga mengisyaratkan jihad untuk memperbaiki diri. Setelah memperbaiki diri, baru berjihad sosial dengan memberi rasa aman dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Penafsiran ini juga diamini oleh Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm, pakar gender Islam dan dosen Pascasarjana IIQ Jakarta bahwa kata hijrah pun jihad dalam konteks ini adalah berpindah dari keadaan yang tadinya buruk beralih kepada yang baik, dari yang sudah baik menuju keadaan yang lebih atau jauh lebih baik.

Adapun klasterisasi jihad lebih rinci pembaca dapat mendalami dalam Zad al-Ma’ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. DI sana ia menjelaskan kurang lebih 13 macam tingkatan jihad (maratib al-jihad). Di antaranya yang dapat saya paparkan yaitu jihad al-nafs (jihad memperbaiki diri), jihad al-syaithan (jihad melawan syaithan), jihad al-kuffar wa al-munafiqin (jihad melawan orang kafir dan munafik), dan jihad al-babi al-zulmi wa al-bida’ wa al-munkarat (jihad melawan orang zalim, ahli bid’ah dan pelaku kemungkaran).

Kesimpulan

Berpijak pada uraian di atas, setidaknya dapat diklasifikasikan dalam tiga konteks. Pertama, jihad dalam konteks pribadi, yaitu berusaha membersihkan pikiran dan hati dari segala kotoran dan hegemoni pengaruh jahat sehingga memunculkan rasa senang, ikhlas dan ridha dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, jihad dalam konteks kolektif, yakni berusaha agar ajaran agama Islam mampu didakwahkan dan disyiarkan dalam sosial-kemasyarakatan agar manusia semakin bahagia hidupnya, tidak hanya di dunia melainkan di akhirat.

Baca juga: Mengenal Nama-nama Lain Surah Al-Fatihah dan Penjelasan Hadisnya

Ketiga, jihad dalam konteks kebangsaan, yaitu berusaha menjaga dan merawat negara Indonesia serta mencegah adanya tindakan separaratisme maupun ekstrimisme yang berusaha menggerogoti keutuhan rumah kita bersama. Jihad ini juga termasuk bagian dari perintah agama.

Dari tiga konteks tersebut, maka arena jihad sangatlah luas dan mencakup hajat hidup kaum muslimin khususnya dan manusia pada umumnya. Karena itu, sungguh sangat tidak dibenarkan apabila jihad dilakukan dengan cara-cara yang bertolakbelakang dengan ajaran Islam, misalnya dengan provokasi, politisasi ayat, penaburan benih-benih ekstrimis, dan semacamnya. Semoga kita semua terhindari dari semua itu dan mampu berjihad sesuai ajaran Islam dan kapasitas yang kita miliki. Wallahu A’lam.