Beranda blog Halaman 435

Digitalisasi Mushaf Nusantara dan Masa Depan Kajiannya

0
mushaf Tidore
mushaf Tidore

Catatan ini berupa refleksi atas perkembangan kajian mushaf Nusantara baik berupa manuskrip, cetak, hingga digital. 2018 lalu, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran telah meluncurkan database mushaf Al-Quran Nusantara yang bisa diakses online melalui https://seamushaf.kemenag.go.id/. Ini tentu kebijakan yang luar biasa dan akan memengaruhi atmosfer kajian Al-Quran di masa depan.

Sebagian orang mungkin akan abai dan mengira bahwa mushaf-mushaf seperti ini tak lagi relevan untuk diperbincangkan. Padahal, mushaf-mushaf yang sudah susah payah didokumentasikan dan dirawat oleh berbagai museum dan perpustakaan itu memiliki banyak mutiara terpendam. Mutiara terpendam itu yang akan menjadi bukti kekayaan peradaban Islam di Nusantara. Tentu, untuk menemukan mutiara itu kita perlu menenggelamkan diri di kedalaman samudera kajian mushaf.

Kita ambil contoh pada teori yang masih kokoh terkait mushaf tertua dari Nusantara. Sampai saat ini banyak sarjana menyebut bahwa mushaf tertua Nusantara yang berhasil ditemukan berasal dari abad ke-17 awal, tepatnya tahun 1606. Mushaf ini merupakan koleksi perpustakaan Rotterdam Belanda yang dulu ditulis di Jawa namun kemudian diperoleh dari Johor Malaysia.

Di sisi lain, kita tahu bahwa ada banyak teori tentang masuknya Islam, ada yang menyebut abad ke-7, ke-13 dan lainnya. Kemudian pada tahun 1345, Ibnu Batutah seorang pelancong ternama di dunia pernah singgah di Samudera Pasai dan mencatat bahwa Sultan Pasai acap kali menghadiri pembacaan Al-Quran dan diskusi dengan rakyatnya. Ini mengindikasikan bahwa tradisi penyalinan mushaf sudah ada di Nusantara pada abad ke-14.

Tapi sayangnya, hingga detik ini belum ada lagi temuan mushaf yang lebih tua dari dari mushaf koleksi Perpustakaan Rotterdam. Sangat disayangkan bukan, jika kita hanya mendapati mushaf tertua dari abad ke-17, sementara tradisi penyalinan mushaf sudah ada pada abad ke-13 atau 14. Lantas di mana jejak-jejak penyalinan itu?

Baca juga: Manuskrip Al-Qur’an Bone: Mushaf Kuno dengan Fitur Terbanyak yang Kini Disimpan di Kanada

Mari kita berangan saja, misalkan kita berhasil menemukan mushaf lebih tua dari abad ke-17 bukankah itu menjadi temuan yang dahsyat? Kita akan mengetahui bagaimana interaksi masyarakat muslim saat itu dengan kitab sucinya. Bagaimana karakteristik fisiknya, qiraat apa yang digunakan, hingga iluminasi apa yang khas pada abad tersebut. Ini bisa jadi salah satu alasan mengapa kajian mushaf tetap harus disemarakkan.

Perihal Database of Southeast Asian Mushaf

Database of Southeast Asian Mushaf adalah pusat data digitalisasi mushaf Nusantara yang diinisiasi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ). Pusat data ini menghimpun banyak informasi, baik potret mushaf kuno, mushaf cetak, mushaf braille, hingga hasil riset para sarjanan dunia. Sebagai pusat data resmi, informasi yang disajikan sangat membantu para pengkaji mushaf. Meski demikian, karena baru berumur dua tahun kontennya pun harus kita semarakkan.

Pelbagai tokoh terkait kajian manuskrip maupun Al-Quran juga memberikan testimoni menarik. Misalnya Prof. Oman Fathurahman, guru besar filologi Islam ini menyebut bahwa database ini menunjukkan bahwa tingkat literasi bangsa Indonesia pada masa lalu sudah sangat tinggi, tidak hanya dalam hal tulisan, namun juga seni iluminasi yang beragam dari berbagai daerah. Database ini menjadi kontribusi yang penting, bukan hanya untuk Kementerian Agama, namun juga bangsa Indonesia dan dunia akademik internasional.

Dalam pusat data ini, manuskrip yang ditampilkan pun memiliki keterangan yang cukup lengkap sebagai data inventarisasi. Misalnya manuskrip mushaf Tidore, mushaf ini dijelaskan berasal dari Maluku Utara, tersimpan di Museum Kesultanan Tidore, berbahan kertas Eropa, ditulis dengan rasm imla’i dan merujuk qiraat Asim riwayat hafs.

Dalam potret digital mushaf kuno ini, gambar yang ditampilkan beresolusi tinggi sehingga sangat jelas karakter tulisan dan iluminasinya. Untuk potret lembaran yang ditampilkan hanya lima gambar yakni awal surat Al-Fatihah Al Baqarah (biasanya beriluminasi), halaman ketiga, awal surat Al-kahfi, akhir surat dan sampul mushaf.

Baca juga: Mushaf Sultan Ternate; Pernah Dianggap Tertua di Nusantara dengan Dua Kolofon Berbeda

Untuk lebih mengetahui contoh informasinya, berikut keterangan lengkap dan menjadi contoh yang serupa untuk keterangan di mushaf lainnya:

“Mushaf ini berada di musium kesultanan Tidore. Penulis atau penyalin mushaf tidak diketahui, namun tahun penyalinannya bisa diketahui, yakni tahun 1323 H. Mushaf ini sudah tidak utuh lagi, meskipun sampulnya masih ada. Ukuran mushaf ini adalah 28 x 19 x 6 cm dengan ukuran bidang teks 18 x 11 cm. Jumlah baris mushaf ini untuk setiap halamannya adalah 15, sehingga masing-masing juz terdiri sekitar 10 lembar atau 20 halaman lebih. Rasm yang digunakan adalah imlai, namun tidak seluruhnya. Qiraat yang digunakan adalah qiraat Hafs ‘an ‘Asim”.

“Tinta yang digunakan adalah hitam, merah, dan kuning; hitam untuk tulisan utama mushaf, merah untuk tanda waqaf, tanda tajwid seperti idgam, mad wajib dan jaiz, serta untuk sisi lingkaran bulatan ayat. Bagian dalam ayat sendiri diwarnai kuning. Warna kuning keemasan juga bisa dijumpai pada iluminasi bagian depan mushaf dan bagian tengah pada surah Al-Isra. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan merek Pro Patria. Tanda maqra, sumun, rubu, tanda ‘ain dan tanda pergantian juz. Kecuali itu, mushaf ini juga dilengkapi dengan doa khatmil Qur’an. Yang menarik adalah, mushaf ini menggunakan penandaan ayat pojok sebagaimana lazim digunakan untuk menghafal di pesantren-pesantren tahfidz”.

Hadirnya pusat data digitalisasi mushaf Nusantara ini menjadi langkah besar untuk terus mengembangkan kajian mushaf di masa depan. Upaya koleksi dan dokumentasi ini harus terus didukung dengan riset dan publikasi. Apa artinya koleksi dan dokumentasi jika riset dan publikasi terhenti. Oleh karena itu angin segar kajian mushaf Nusantara ini patut kita semarakkan terus menerus. Wallahu A’lam []

Tafsir Surah an-Naba’ Ayat 13-20

0
tafsir surah an naba'
Tafsiralquran.id

Tafsir Surah an-Naba’ Ayat 13-20 ini masih membahas tentang berbagai macam kekuasaan Allah swt agar dijadikan pelajaran bagi manusia. Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan sekitar tujuh contoh kekuasaan Allah. Kali ini akan melanjutkan contoh kedelapan hingga ke sembilan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah an-Naba’ Ayat 6-12


Pada Tafsir Surah an-Naba’ Ayat 13-20 ini juga membicarakan mengenai hari kebangkitan. Diawali dengan tiupan sang kakala. Bumi hancur lebur. Gunung-gunung berhamburan lalu manusia bangkit dan digiring ke padang mahsyar. Pada hari itu langit-langit terbuka dan memisahkan manusia antara yang baik dan buruk.

Ayat 13

Kedelapan, Allah menjadikan matahari sebagai pelita yang terang benderang, menyebarkan cahaya dan panasnya ke seluruh angkasa.

Allah telah menjadikan matahari yang sinarnya mengandung obat untuk membunuh kuman-kuman dan mengusir penyakit-penyakit yang dapat mengganggu makhluk yang hidup seandainya tidak cukup mendapat sinar.

Ayat 14-16

Kesembilan, Allah menurunkan dari awan air hujan yang banyak dan memberi manfaat, terutama untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi manusia dan binatang.

Hal itu bertujuan agar dapat menumbuhkan biji-bijian seperti gandum, sayur, padi, dan tumbuh-tumbuhan untuk bahan makanan manusia dan hewan ternak. Demikian pula kebun-kebun dan taman-taman yang lebat dengan daun-daunnya yang rimbun.

Dalam ayat ini, Allah menyebut bermacam-macam tanaman yang tumbuh di bumi, di antaranya ada yang mempunyai batang dan ada yang tidak.

Ada yang menghasilkan buah-buahan dan ada pula yang menghasilkan biji-bijian seperti gandum, padi, dan lain-lain untuk makanan manusia. Ada pula tanaman-tanaman untuk makanan binatang ternak. Semuanya itu merupakan makanan-makanan pokok dan tambahan bagi manusia.


Baca juga: Keistimewaan Pohon Kurma (Nakhl) yang Disebutkan dalam Al-Qur’an


Ayat 17

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi pada waktu yang telah ditetapkan. Pada hari itu diputuskan siksa yang akan diterima orang yang kafir di dalam neraka dan pahala yang akan diterima orang-orang mukmin di dalam surga, baik orang-orang terdahulu, sekarang, maupun yang kemudian. Di sana akan sangat jauh beda nasib dan kehidupan mereka sesuai dengan derajat amal perbuatan mereka ketika di dunia.

Allah telah menjadikan hari itu sebagai batas antara dunia dan akhirat, tempat seluruh makhluk akan dihimpun di Padang Mahsyar agar masing-masing dapat melihat dan menyaksikan apa yang telah mereka perbuat selama hidup di dunia, sehingga orang yang berbuat kebajikan akan menerima pahalanya dan orang yang berbuat kejahatan akan menerima siksaan. Kemudian Allah menerangkan tanda-tanda hari itu dan kedahsyatannya dengan firman-Nya dalam ayat berikut ini.

Ayat 18

Pada hari Kiamat itu, ditiup sangkakala yang kedua oleh malaikat Israfil yang menyebabkan seluruh makhluk akan dibangkitkan kembali, bangkit dari kuburnya masing-masing dan berkumpul di Padang Mahsyar. Tiap-tiap umat dipimpin oleh rasulnya, sehingga datang berkelompok-kelompok seperti dalam firman Allah.

يَوْمَ نَدْعُوْا كُلَّ اُنَاسٍۢ بِاِمَامِهِمْ

(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya. (al-Isra’/17: 71)

Ayat 19

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa pada hari keputusan itu langit terbuka dan mempunyai pintu-pintu yang memisahkan satu bagian dengan bagian yang lain. Maksudnya langit itu terbelah-belah sehingga mempunyai celah-celah seakan-akan terbuka dan mempunyai pintu-pintu. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah yang lain:

اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ   ١

Apabila langit terbelah. (al-Insyiqaq/84: 1)

Hal demikian terjadi karena muncul perubahan besar dalam susunan planet-planet di alam raya, yang menyebabkan perubahan dalam daya tarik dan perjalanan orbitnya. Kejadian itu menjurus ke arah kehancuran alam raya, dan juga kehancuran alam dunia.

Ayat 20

Dalam ayat ini dijelaskan bawah gunung-gunung pada hari itu tidak lagi seperti sediakala, tetapi akan diguncang sehingga hancur lebur seperti kabut yang dari jauh kelihatan seperti bayangan air. Akan tetapi jika didekati, ternyata tidak ada apa-apa karena bagian-bagiannya telah terpecah belah, dihancurkan, dan beterbangan ke mana-mana.

Firman Allah dalam hal ini:

وَّحُمِلَتِ الْاَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَّاحِدَةًۙ  ١٤

Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. (al-Haqqah/69: 14)

Kemudian dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ    ٥  فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ   ٦

Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan. (al-Waqi’ah/56: 5-6)

Kemudian gunung-gunung itu akan dihancurleburkan seperti debu yang beterbangan seperti dijelaskan dalam firman Allah:

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ  ٥

Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (al-Qari’ah/101: 5)

Ayat 17-20 dari Surah an-Naba’/78 di atas tampaknya berbicara mengenai terjadinya kiamat. Pada ayat yang dibahas, ada penggambaran mengenai tiupan sangkakala.

Ada ayat lain yang juga menggunakan kata sangkakala atau trompet dalam menggambarkan kiamat, seperti Surah an-Nazi’at/79: 6-9, “(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, (tiupan pertama) itu diiringi dengan tiupan kedua.  Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut, pandangannya tunduk.”

Keempat ayat di atas membahas tentang apa yang akan terjadi saat terjadinya hari kiamat. Salah satu kejadian pada hari itu adalah gempa bumi yang sangat dahsyat. Pada ayat 6-9 Surah an-Nazi’at/79, peristiwa gempa, mungkin saja bumi, digambarkan dengan kata “tiupan”.

Apabila kita perhatikan ayat 6 dan 7 dari Surah an-Nazi’at/79 di atas tampak adanya kemiripan dalam gambaran tentang hari kiamat. Namun ada dua pendapat mengenai penggambarannya.


Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 33-35: Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Swt di Muka Bumi


Di satu pihak, para ulama menginterpretasikan kata ar-rajifah sebagai bunyi trompet yang pertama, dan ar-radifah adalah tiupan trompet yang kedua.  Di pihak lain, ar-rajifah dinyatakan sebagai bumi, dan ar-radifah sebagai saat terjadinya pengadilan.

Ada juga yang menginterpretasikan ar-rajifah sebagai kekacauan dari unsur-unsur bumi, sedangkan ar-radifah adalah gempa buminya. Tampaknya pendapat terakhir yang lebih realistis. Tidak ada beda antara kekacauan unsur-unsur bumi dan gempa bumi.

Akan tetapi tampaknya ada pendapat lain yang lebih masuk akal.  Mungkin kedua kata yang coba diinterpretasikan oleh banyak ulama sebenarnya menunjukkan adanya gempa utama dan gempa susulan, seperti dapat dilihat pada terjemahan dan tafsir ayat 6 dan 7 Surah an-Nzi’at/79 dalam Tafsir Al-Misbah, “Pada hari ketika berguncang-guncangan yang dahsyat, diikuti oleh yang mengiringi(nya).”

Sebelum terjadinya gempa utama (main shock), beberapa gempa kecil (fore shock) akan mengawalinya. Setelah gempa utama terjadi maka diikuti oleh  gempa susulan (after shocks) yang kekuatannya lebih kecil dan jumlahnya banyak sekali. Lambat laun gempa susulan ini menurun baik jumlah maupun kekuatannya.

Perlu diketahui bahwa gempa awal sulit diidentifikasi. Umumnya gempa utama langsung datang, dan memorak-porandakan segalanya tanpa memperlihatkan adanya gempa awal.

Sebagai gambaran adalah gempa Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dengan magnitudo Mw=9,3 datang tanpa gempa awal. Gempa yang mematahkan dasar laut sepanjang hampir 1000 km ini menimbulkan tsunami dan menghancurkan wilayah yang berada di sekitar Lautan Hindia.

Gempa Aceh ini kemudian memicu gempa Nias dengan kekuatan sangat besar pula, yakni Mw=8,7. Jadi, pada hakikatnya gempa Nias bukan gempa susulan melainkan gempa yang dipicu oleh gempa besar yang pertama. Baik gempa Aceh maupun gempa Nias diikuti gempa susulan masing-masing.

Dengan gambaran tersebut, gempa bumi yang datang pada hari kiamat akan jauh lebih dahsyat dan mampu memicu gempa-gempa yang sama dahsyatnya sehingga bumi hancur lebur.


Baca setelahnya: Tafsir Surah an-Naba’ Ayat 21-30


(Tafsir Kemenag)

Makna Kata Hidayah dalam Al-Quran dan Macamnya Menurut Al-Maraghi

0
Hidayah dalam Al-Quran
Hidayah dalam Al-Quran

Dalam muqaddimah Tafsir al-Manar Muhammad Abduh, seorang tokoh pembaharu Islam abad modern, mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab hidayah yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Oleh karena itu, seorang muslim harus berusaha memahami ayat-ayatnya dengan baik berdasarkan konteks sejarah pewahyuan dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an sendiri juga sering menyebut dirinya sebagai hidayah bagi manusia secara umum ataupun bagi muslim secara khusus (hudal lil muttaqin). Berdasarkan penelusuran penulis, kata hidayah, derivasinya dan ayat-ayat semakna yang berbicara mengenai petunjuk berjumlah sekitar 307 ayat dan tersebar di berbagai surah Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa hidayah adalah salah satu tema terpenting dalam Al-Qur’an.

Kata hidayah berasal dari kata hada-yahdi-hadyan-hidayatan yang berarti menunjukkan atau lawan dari kata adhalla yakni menyesatkan. Menurut Ragib al-Asfahani, kata hidayah bermakna petunjuk dengan kasih sayang (al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an). Hal ini seanda dengan pendapat Muhammad Abduh yang mengartikan hidayah sebagai “petunjuk dengan kasih sayang yang menyampaikan pada apa yang diharapkan atau dikehendaki.”

Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa hidayah memiliki dua unsur, yakni: petunjuk kepada apa yang diharapkan; dan disampaikan dengan ungkapan kasih sayang atau lemah lembut (luthfun). Jadi, setiap petunjuk yang tidak diberikan dengan kasih sayang mengindikasikan bahwa itu bukan hidayah secara hakiki dan bisa jadi hanya sekedar arahan biasa.

Baca Juga: Baca Ayat Ini Sebagai Doa Agar Orang Mendapatkan Hidayah Islam

Pengertian ini secara implisit juga memberikan kesan kepada muslim bahwa dalam rangka mengajak orang menuju hidayah, mereka harus senantiasa mengutamakan sikap kasih sayang dibanding amarah dan sikap keras. Mereka harus menyampaikan kebaikan dan melarang keburukan dengan cara yang terbaik. Sebab, kebaikan yang dilempar atau tidak disampaikan dengan baik mungkin tidak akan diterima oleh orang yang mendapatkannya.

Macam-Macam Hidayah dalam Al-Quran

Kata hidayah dalam Al-Quran memiliki beberapa makna khusus di samping makna utamanya sebagai petunjuk. Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam kitabnya Tafsir al-Maraghi berpendapat bahwa hidayah yang ditujukan kepada manusia dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu hidayah ammah (hidayah yang umum) dan hidayah khashah (hidayah yang khusus).

Hidayah Ammah (Hidayah Umum)

Hidayah Ammah atau hidayah umum ialah hidayah yang Allah swt berikan kepada segenap makhluk untuk dijadikan sebagai pedoman kehidupan. Setiap manusia dan makhluk Allah swt memilikinya sesuai kadar yang ditentukan baginya. Dengan demikian, terlepas dari apakah ia muslim atau non-muslim, hidayah ini akan senantiasa ada dan hadir bersamanya.

Firman Allah swt:

قَالَ رَبُّنَا الَّذِيْٓ اَعْطٰى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى ٥٠

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.”  (QS. Taha [2]: 1).

Makna hidayah pada ayat ini adalah hidayah secara umum yang diberikan kepada setiap makhluk di alam semesta, baik manusia, hewan, benda maupun tumbuhan. Hidayah tersebut Allah berikan kepada makhluknya dalam bentuk yang bermacam-macam sesuai dengan peranan mereka di dunia. Misalnya, lebah yang diperintahkan untuk membuat sarang di hutan dan di pegunungan.

Hidayah Ammah – menurut al-Maraghi – terbagi kepada empat bentuk, yakni hidayah al-wijdan (insting), hidayah al-hawas (panca indera), hidayah al-‘aql (akal), dan hidayah al-din (agama). Masing-masing hidayah akan penulis jelaskan secara singkat sebagai berikut.

Hidayah al-wijdan atau insting – atau yang disebut Tantawi al-Jawhari sebagai  hidayah al-gharizati – ialah gerak hati (impuls) yang terdapat pada diri manusia dan binatang. Setiap makhluk Allah swt memiliki suatu daya dorong dalam keberlangsungan hidup mereka seperti nafsu birahi, rasa takut, dan dorongan untuk melakukan sesuatu.

Hidayah al-hawas atau panca indera – menurut al-Maraghi adalah indera badani yang peka terhadap rangsangan dari luar seperti rangsangan cahaya, bunyi, dan sebagainya. Hidayah ini secara langsung ditransmisikan oleh panca indera yang dimiliki manusia, hewan maupun tumbuhan.

Sedangkan hidayah akal adalah daya jiwa yang berfungsi memahami dan mengetahui nilai-nilai etis (baik dan buruk), dan epistemologis (benar dan salah), serta memiliki fungsi pengikat, penahan, dan pengendali hawa nafsu sehingga berhasil mengangkat manusia menjadi makhluk yang bijaksana. Dalam arti tertentu, akal inilah yang membuat manusia lebih bijaksana dibandingkan binatang.

Baca Juga: Surat Ghafir [40] Ayat 60: Allah Swt Akan mengabulkan Doa Setiap Hamba

Adapun hidayah al-din atau agama adalah anugerah yang Allah berikan kepada manusia melalui para nabi dan rasul sebagai petunjuk agar mereka tidak tersesat dalam menjalani kehidupan dunia. Hidayah ini berbentuk tuntunan-tuntunan dan penjelasan tentang syariat keagamaan. Menurut sebagian ulama, hidayah ini adalah fitrah alamiah manusia untuk bertuhan dan beragama.

Hidayah Khasah (Hidayah Khusus)

Hidayah khasah ialah hidayah yang diberikan Allah swt kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Dengan kata lain, hidayah ini tidak menyeluruh dan hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kualifikasi atau persyaratan khusus. Menurut ulama, hidayah semacam ini disebut sebagai hidayah taufiq sebagaimana dalam firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 272 yang berbunyi:

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ ٢٧٢

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). (QS. Al-Baqarah [2]: 272).

Selain dua macam hidayah yang disebutkan di atas, para ulama – seperti Husain bin Muhammad al-Damaghani  dalam Qamus al-Qur’an – membagi hidayah dalam Al-Quran – berdasarkan makna relasional atau konteks ayat di mana ia berada – ke dalam beberapa bentuk, di antaranya sebagai berikut:

Hidayah dalam arti penjelasan (QS. As-Sajadah [32]: 26); hidayah dalam arti agama Islam (QS. Al-Hajj [22]: 67); hidayah dalam arti dakwah (QS. As-Sajdah [32]: 24); hidayah dalam arti pengetahuan (QS. Al-An’am [6]: 161); hidayah dalam arti rasul dan kitab suci (QS. Al-Baqarah [2]: 38); hidayah dalam arti petunjuk (QS. Al-Qasas [28]: 22); hidayah dalam arti perintah rasul (QS. Al-Baqarah [2]: 159); hidayah berarti Al-Qur’an (QS. Al-Kahf [18]: 55); dan sebagainya.

Namun jika kita cermati berdasarkan penjelasan di atas, kata hidayah dalam Al-Quran secara umum merujuk pada petunjuk kepada sesuatu dan mayoritas menuju kebaikan. Hidayah dalam makna petunjuk diberikan kepada seluruh makhluk Allah swt, termasuk manusia. Sedangkan hidayah dalam arti mengikuti agama Allah (berislam) hanya diberikan kepada makhluk-makhluk tertentu sesuai kehendak Allah swt (hak prerogatif-Nya). Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 74

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Pada pembahasan sebelumnya telah berbicara mengenai alasan perintah menyembelih sapi, pada Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 74 ini berbicara mengenai watak orang-orang Yahudi.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 71-73


Watak orang-orang Yahudi yang digambarkan dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 74 ini bahwa hati mereka keras seperti batu atau melebihi batu. Maksud dari penyataan ini adalah hati mereka tidak bisa meneriman petunjuk Allah swt. Selain itu dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 74 juga dijelaskan terkait pembahasan hati dari sisi sains.

Ayat 74

Dalam ayat ini diungkapkan watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka diberi petunjuk ke jalan yang benar dan sudah pula memahami kebenaran, hati mereka keras membatu bahkan lebih keras lagi.

Allah mengumpamakan hati orang Yahudi itu dengan batu yang dalam istilah geologi digunakan untuk menyebut segala macam benda yang merupakan spesies dari karang, atau materi seperti karang yang bersifat keras, untuk menunjukkan kekerasan hati mereka untuk menerima petunjuk Allah. Bahkan mungkin lebih keras lagi.

Walaupun batu itu keras, tetapi pada suatu saat dan oleh suatu sebab dapat terbelah atau retak. Dari batu yang retak itu memancarlah air, dan kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai. Kadang-kadang batu-batu itu jatuh dari gunung karena patuh kepada kekuasaan Allah. Demikianlah halnya hati orang Yahudi lebih keras dari batu bagaikan tak mengenal retak sedikit pun.

Hati mereka tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama ataupun nasihat-nasihat yang biasanya dapat menembus hati manusia. Namun demikian, di antara hati yang keras membatu itu terdapat hati yang disinari iman, sehingga hati itu berubah dari keras menjadi lembut karena takut kepada Allah.

Yang demikian itu banyak disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Hati yang tadinya biasa membangkang menentang agama akhirnya menjadi lembut, orang yang biasanya berbuat maksiat menjadi orang yang taat berkat petunjuk Allah.

وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Ali ‘Imran/3:199)

Demikian pula pada ayat lain, Allah berfirman:

وَمِنَ الْاَعْرَابِ مَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبٰتٍ عِنْدَ اللّٰهِ وَصَلَوٰتِ الرَّسُوْلِ ۗ

Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa Rasul. (at-Taubah/9:99)

Menurut saintis, kata “hati” tidak menunjuk pada organ hati (liver), melainkan umumnya mengacu kepada jantung. Jantung adalah suatu organ bagian dalam, terletak di bagian dada dan berukuran sebesar kepalan tangan. Jantung terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Setiap sisi terbagi lagi menjadi dua ruang, yaitu ruang atas (atrium) dan ruang bawah (Ventrikel).

Ruang-ruang itu berdenyut sebanyak 70 kali per menit untuk menjaga aliran darah ke seluruh tubuh. Apabila dihitung, maka jantung akan berdenyut sebanyak lebih dari 30 juta kali dalam setahunnya.

Perjalanan darah, apabila diukur dan dimulai dari paru-paru dan jantung, akan mengalir melalui urat darah di seluruh tubuh sepanjang 96.000 km. Jarak tersebut ditempuh dalam 23 detik setiap kali putaran. Terlihat bagaimana pentingnya peran jantung dalam kehidupan manusia.


Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 26-27: Pesan Damai Selalu Menyelimuti Hati Orang-orang yang Tulus


Kata jantung dalam bahasa Arab adalah ‘qalb’. Kata tersebut juga digunakan untuk maksud lain, yaitu untuk mengartikan perasaan atau kalbu. Kalbu, sebagaimana jantung, dalam kehidupan juga sangat penting. Nabi Muhammad saw, setelah mencontohkan banyak hal mengenai kebaikan dan keburukan, mengatakan mengenai kalbu dalam artian pusat rasa atau pusat kepekaan, demikian:

“ ….. Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging sebesar kunyahan, apabila baik, baiklah seluruh jasad dan apabila rusak, rusaklah seluruh jasad. Ia adalah kalbu.” (Riwayat al-Bukhari melalui Nu’man bin Basyir)

Jantung atau kalbu sering juga disandingkan dengan “hati”. Seringkali disatukan dan menjadi jantung-hati. Ada beberapa ayat terkait mengenai hati dan kepekaan, dua di antaranya adalah Surah al-Isra’/17: dan Qaf/50: 37 yang artinya sebagai berikut:

“Dan Kami jadikan hati mereka terutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Quran, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci).” (al Isra’/17: 46) “Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengaran, sedang dia menyangsikannya.” (Qaf/50: 37)

Dalam bahasa Alquran, disebutkan bahwa hati yang ditutup akan menjadikan pemiliknya tidak dapat menerima kebenaran apalagi mengikutinya. Ia hanya dapat mengikuti hal-hal yang tidak sejalan dengan yang hak, yakni hawa nafsu. Penutupan hati yang dilakukan Allah adalah sebagai dampak dari perbuatan mereka sendiri. Mereka enggan menggunakan pendengaran, penglihatan dan hatinya, sehingga pada akhirnya hati berkarat dan tertutup.

Secara tradisional, orang menganggap bahwa komunikasi antara kepala/otak (akal) dan jantung/hati (perasaan) berlangsung satu arah, yaitu bagaimana hati bereaksi terhadap apa yang diperintahkan otak. Akan tetapi, sekarang terungkap bahwa komunikasi antara hati dan otak berlangsung sangat dinamis, terus menerus, dua arah, dan setiap organ tersebut saling mempengaruhi fungsi mereka satu sama lain.

Suatu penelitian mengungkap bahwa hati melakukan komunikasi ke otak dalam empat jalan, yaitu (1) transmisi melalui syaraf, (2) secara biokimia melalui hormon dan transmiter syaraf, (3) secara biofisik melalui gelombang tekanan, dan (4) secara energi melalui interaksi gelombang elektromagnetik. Semua bentuk komunikasi tersebut mengakibatkan terjadinya aktivitas di otak. Penelitian mengungkapkan bahwa pesan yang disampaikan hati kepada otak akan mempengaruhi perilaku.

Selama ini para ahli mempercayai bahwa medan elektromagnetik hati adalah medan yang paling kuat yang dimiliki manusia. Medan ini tidak hanya mempengaruhi setiap sel yang ada dalam tubuhnya, akan tetapi juga mencakup ke segala arah ruang di sekitarnya. Diduga bahwa medan elektromagnetik adalah pembawa informasi yang sangat penting. Bahkan dapat dibuktikan pula bahwa medan elektromagnetik seseorang dapat mempengaruhi cara kerja otak orang lain.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 75-79


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Yasin ayat 39-40: Semua Makhluk Langit Adalah Ciptaan Allah Swt

0
Yasin ayat 39-40
Yasin ayat 39-40

Sebelumnya telah dibahas bagaimana matahari yang berputar pada porosnya  dan menjadi salah satu asbab adanya siang dan malam (tafsir ayat 37). Adapun pada pembasahan kali ini kita akan mengulas tafsir surat Yasin ayat 39-40 tentang matahari, bulan, dan semua mahluk langit adalah ciptaan Allah. Sebagaimana Firman-Nya:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

  1. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.
  2. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

Dua ayat diatas secara tekstual bisa dikatakan sebagai ayat-ayat sains, yang sebagian Mufassir sudah mengulasnya meski hanya secara ringkas. Terdapat perdebatan dikalangan ulama terkait tafsir ilmi, sebagian menghindari penafsiran yang bernuansa sains dengan alasan bahwa al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan, akan tetapi ia merupakan teks untuk membimbing manusia (hudan li al-nas) pada nilai-nilai tauhid dan moral.

Kita kesampingkan dulu perdebatan yang sudah menyejarah itu, fokus pembahasan kali ini adalah untuk membaca bagaimana penafsiran para ulama terkait ayat-ayat diatas.

Setelah sebelumnya Allah menegaskan peredaran bagi Matahari, maka pada ayat ini, Bulan pun ditetapkan kadar dan sistem perdarannya di beberapa tingkat/posisi tertentu (al-manazil).

Baca Juga: Tafsir Fiqh (4): Al-Qurthubi dan al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

Istilah “al-manazil” oleh bangsa Arab adalah tempat turunnya bintang, dan menurut Zamaksyari, Qurthubi, serta beberapa mufassir lain, menyebut ada 28 al-manazil, yaitu:

Syaratan, Butayn, Tsurya, Dabaran, Haq’ah, Han’ah, Dzira’, Tsanrah, Tarf, Jabhah, Kharatan, Sarfah, ‘Awwa’, Samak, Ghafr, Zubanayan, Iklil, Qalb, Syawlah, Na’a’im, Baldah, Sa’d al-Zabh, Sa’d Bula’, Sa’d Su’ud, Sa’d al-Akhbiyah, Farghr al-Mutaqaddam, Farghr al-Mu’akhkhar, dan Batn al-Haut.

Apabila semuanya sudah dilalui hingga akhir, maka akan kembali ke awal, dan setiap hitungan 2-3 manazil juga akan terjadi gugusan bintang, dimana ratusan bintang akan berpendar indah menghiasi malam-malam bersama bulan. Terhitung pada manazil ke-28, akan ada peristiwa terputusnya orbit, yang memunculkan hilal, dimana bulan akan meredup, menua, bagai tandan tua termakan masa (kal ‘urjunil qadim) hingga lenyap, lalu lahir kembali menunaikan tugasnya.

Begitupun manusia, perjalanannya mirip seperti bulan, ia beranjak tumbuh sedikit-demi sedikit, dari bayi, terlentang, merangkak, berjalan menjadi anak-anak, tumbuh sebagai remaja, hingga dewasa. Ketika tua, kekuatannya akan menurun, membungkuk, semakin lemah, hingga lelap, dan menutup usia.

Matahari dan Bulan adalah dua makhluk ciptaan Allah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Menurut Qurthubi, keduanya tercipta dari api, yang kemudian dibungkus oleh cahaya. Matahari dibungkus oleh cahaya ‘Ars, sedangkan bulan dibungkus dari cahaya Kursiy.

Keduanya beredar sesuai ketentuan, Mujahid berkata, “Keduanya memiliki batasan yang telah ditentukan, tidak mungkin mendahului atau membelakangi, apabila penguasa siang (matahari) datang, maka penguasa malam (bulan) hilang, begitupun sebaliknya”

Quraish menambahi, bahwa kata yanbaghi (يَنْبَغِيْ) mulanya bemakna “meminta sesuatu lalu memperolehnya”, proses ini kemudian melahirkan makna baru, yaitu “dapat/mampu”. Sehingga konteks ayat ini bisa dimaknai dengan ketidak mampuan bulan dan matahari untuk saling mendahului.

Baca Juga: Tafsir al-Lubab Karya Quraish Shihab, Tafsir Ringkas Cocok untuk Orang Sibuk

Menariknya, Zuhaili mengumpamakan tata surya sebagai lautan, dimana Matahari, Bulan, dan Bumi sedang berenang didalamnya. Karena itu pula redaksi akhir ayat 40 menggunakan kata يَسْبَحُوْن (yasbahun) yang berarti berenang. Menurutnya, dalam 1 tahun Matahari berotasi pada teritorinya (mengitari bumi) sekitar jarak tempuh 93 juta mil. Sedangkan Bulan beredar mengelilingi bumi setiap bulannya terhitung 240 ribu mil, adapun Bumi beredar mengelilingi Matahari, satu putaran terhitung sama dengan 1 tahun (365 hari).

Lebih jauh lagi jika melihat jarak dengan bintan-bintang yang dinamai dengan galaxy, untuk menempuhnya membutuhkan kecepatan cahaya sekitar 104.000.000.000 mil/detik, sedangkan antara bumi ke matahari dan bulan membutuhkan kecepatan cahaya sekitar 186.000 mil/detik.

Hamka menilai bahwa ayat ini memperlihatkan betapa kuasanya Allah dan kecilnya manusia. Semakin seseorang melihat ke langit, semakin kecil sesuatu yang terlihat, maka sejatinya adalah yang paling besar. Dan sebesar-besarnya sesuatu itu, ia tetaplah makhluk ciptaan Allah. Wallahu a’lam.

Demikianlahn penjelasan ringkas dari tafsir surat Yasin ayat 39-40, tunggu series tasfir Yasin selanjutnya. Semoga bermanfaat

Menyoal Politisasi Tamkin oleh Ikhwanul Muslimin Perspektif Al-Quran (1): Klarifikasi Makna

0
Klarifikasi makna tamkin Ikhwanul Muslimin
Klarifikasi makna tamkin Ikhwanul Muslimin

Kehadiran ayat tamkin telah “mengaspirasi” (baca: dijadikan aspirasi) Ikhwanul Muslimin dalam menyemaikan benih gagasannya. Tak pelak politisasi ayat pun tak terhindarkan. Dalam sejarah Islam, politisasi ayat bukanlah hal baru. Saya kira fenomena politisasi ayat tidak hanya terjadi dalam Islam, akan tetapi menghinggapi di semua agama. Karena itu, pada kesempatan ini saya akan sedikit mengulas makna tamkin yang seharusnya.

Klarifikasi Makna Tamkin

Secara bahasa tamkin berasal dari kata makkana, yumakinu, tamkin, artinya memperkuat, memperkokoh, mengamankan, meneguhkan. Muhammad Ali ash-Shalaby dalam Tabshirul Mu’minin Fiqh Nasr wa Tamkin fi Quran, tamkin secara bahasa ialah kekuasaan, kekuatan, kerajaan. Sebagaimana yang disitir dalam Al-Quran,

اِنَّا مَكَّنَّا لَهٗ فِى الْاَرْضِ وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu (Q.S. al-Kahf [18]: 84)

Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan kata makkanna dengan,

بالقوة والرأي والتدبير والسعة في المال والاستظهار بالعدد وعظم الصيت وكبر الشهرة

Kekuatan, gagasan, pemikiran, kesenangan dalam bentuk materi (kekayaan), popularitas, dan otoritas penuh.

Dalam pengertian yang lain, tamkin bermakna pemberdayaan. Penyebutan kata tamkin dalam Al-Quran sebanyak 18 kali. Secara umum tamkin memiliki beraneka ragam makna, di antaranya, pemberian kekuasaan dari Tuhan sebagaimana dalam Q.S. al-Kahfi: 84; (2) memberikan nikmat dunia atau mata pencaharian seperti Q.S. al-An’am: 6, kemampuan dan kemenangan atas sesuatu seperti Q.S. al-Anfal: 71, tetap kokoh, stabil di suatu tempat sebagaimana dalam Q.S. al-Mursalat: 21.

Baca juga: TGB Zainul Majdi: Makna Khalifah dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 30 Tidak Memuat Tendensi Politis

Lebih dari itu, Faridah Zamrad dalam Mafhum at-Tamkin fi al-Quran menyebutkan bahwa tamkin dalam Al-Quran secara umum terbagi dua makna; tamkin fi syai dan tamkin al-syai. Tamkin fi syai adalah upaya pemberdayaan dengan memperhatikan pemanfaatan potensi sumber daya alam sebagaimana disitir dalam Q.S. al-A’raf: 8, juga termasuk segala kebutuhan hidup lainnya sebagaimana dalam Q.S. al-Ahqaf: 24, Q.S. al-kahfi: 82, Q.S. al-An’am: 6.

Sedangkan tamkin al-syai adalah pemberdayaan yang mengaksentuasikan pada sisi spiritual, seperti peningkatan iman dan takwa, akhlak karimah, termasuk peningkatan ilmu pengetahuan sebagaimana disitir dalam Q.S. al-Nur: 52.

Dengan demikian, manusia dikatakan berdaya tatkala ia mampu memiliki dan memanfaatkan dua hal, yaitu sumber daya materi (sandang, pangan, papan atau harta, tahta dan sejenisnya) dan sumber daya spiritual atau agama (akhlak karimah, intelektualitas).

Baca juga: Mengkaji Slogan Kembali Kepada Al-Quran dan Al-Hadits

Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin (IM) merupakan gerakan politik yang muncul di Timur Tengah. IM didirikan pada Maret 1928 oleh Hasan al-Banna. IM memusatkan gerakannya pada kegiatan reformasi moral dan sosial (Munawir Sjadzali dalam Islam Tata Negara: Sejarah dan Pemikiran). Ikhwanul Muslimin bejuang dalam bidang politik sebagaimana penuturan Hasan al-Banna,

“Bila ada yang mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah kaum politisi dan dakwahnya adalah dakwah politik wahai kaum muslimin sesungguhnya kami menyerukan dakwah dengan Al-Quran sebelah kanan dan Sunnah sebelah kiri serta amalan-amalan para salafus shalih adalah para suri tauladan kami. Kami menyeru pada hukum-hukum dan petunjuk Islam. Apabila hal ini kalian anggap politik, alhamdulillah berarti kami adalah pelopor dalam politik (Hasan al-Banna dalam Jabir, Membentuk Jama’atul Muslimin).

Baca juga: Kisah Akhnas Ibn Syuraiq dan Pergulatan Politik Berbaju Agama di Indonesia

Beranjak dari pernyataan al-Banna, ia mendengungkan gerakan reformis melalui IM-nya dengan merekrut beberapa tokoh, dan mempolitisir makna ayat Al-Quran untuk dijadikan legitimasi gerakannya. Salah satu politisasi ayat yang dilakukannya yang menurut saya sangat fundamental dan penting untuk kita ketahui bersama adalah tamkin.

Syekh Usamah dalam Islam Radikal; Telaah Kritis Radikalisme dari Ikhwanul Muslimin Hingga ISIS menjelaskan bahwa tamkin adalah sebuah konsep yang sangat fundamental dan merupakan pondasi bangunan pemikiran Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok Islam radikal lainnya yang lahir dari rahimnya. Pemikiran ini telah diwacanakan dan diberi landasan teori dengan sebuah metode yang mengubahnya menjadi gerakan politik yang terorganisir, yang sejalan dengan konteks umum teori-teori mereka yang berangkat dari pengafiran kaum muslimin; masyarakat, sistem, pemerintah, ulama dan lembaga-lembaga mereka.

Demikianlah ulasan singkat terkait makna tamkin dan Ikhwanul Muslimin, nantikan serial berikutnya dalam tafsiralquran.id.

Wallahu A’lam.

Sabar dan Tekad Kuat, Kunci Sukses Menjadi Pemimpin

0
Sabar dan tekad kuat, kunci jadi pemimpin
Sabar dan tekad kuat, kunci jadi pemimpin

Sabar dan tekad kuat adalah dua kunci sukses bagi seorang pemimpin. Sudah menjadi mandat baginya untuk merawat masyarakat dan memakmurkan kehidupan mereka. Tanpa adanya sifat sabar dan tekad kuat, mustahil pemimpin mampu mengatur dan mebangun negara. Ibarat kata pepatah, al-i’timad ‘ala al-nafs asas al-najah (teguh dalam prinsip/pendirian kunci sukses) dan sabar kunci kesuksesan. Dalam Al-Quran, dua kunci itu Allah firmankan pada Surat as-Sajdah ayat 24-25.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sungguh, Tuhanmu, Dia yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang dahulu mereka perselisihkan padanya.

Baca juga: Ibrah Kisah Nabi Yusuf: Menjadi Pejabat di Bawah Kepemimpinan Non-Muslim

Konteks ayat

Sebenarnya, tidak ada satu pun riwayat yang persis menjelaskan sebab turunnya ayat 24-25 ini. Akan tetapi, bila mengacu pada konten yang berbicara soal risalah dari Bani Israel, maka mengindikasikan bahwa ayat ini turun sebagai risalah perdamaian kaum Yahudi Madinah yang telah tertarik dengan Islam dan berdekatan dengan zaman ketika Nabi saw. akan menyebarkan dakwah ke Madinah. Anggapan ini mengacu pada Surat as-Sajdah ayat 23 dan 24.

Mengutip Abid Al-Jabiri dalam Fahmul Qur’anil Hakim, penghargan yang Allah swt. berikan kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel  dapat dipahami sebagai analogi bagi Islam yang dibawa dan didakwahkan oleh Nabi saw. berharap untuk dapat hidup dan berbaur dengan Yahudi Madinah dengan menjunjung nilai-nilai tolesansi dan saling melengkapi.

Ketika para pengikut Nabi Musa as. dapat menjadi panutan bagi kaumnya dalam hal agama, maka begitu pun kaum Nabi Muhammad saw.. Mereka juga dapat menjadi panutan bahkan untuk seluruh umat. Panutan yang senantiasa menggolarakan prinsip-prinsip ketauhidan dan ketaatan. Sebagaimana Allah swt. menjadikan Taurat sebagai petunjuk untuk Bani Israil dan kaum Nabi Musa as. sebagai panutan, begitu pula Al-Quran, ia adalah kitab petunjuk untuk seluruh umat, dan pengikut Nabi saw. adalah panutan seluruh umat.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 59: Bentuk Dukungan Rasulullah Terhadap Pemimpin dan Ulama

Dengan begitu, risalah Nabi saw. ini menjadi penyempurna risalah-risalah sebelumnya yang telah dijelaskan pada Surat Al-‘Anbiya’, tentang janji Allah swt. kepada Nabi Musa as. yang telah terbukti. Dan bahwa Allah swt. telah menetapkan dalam Kitab Zabur, sesungguhnya yang berhak menjadi pewaris dunia adalah hamba-hambanya yang saleh.

Tafsir global

Allah swt. dalam ayat 24 menjelaskan bahwa Ia telah menjadikan sebagian dari Bani Israel sebagai panutan dalam agama. Berdasarkan tafsiran Wahbah az-Zuhayli dalam Tafsir al-Munir, panutan agama yang dimaksud ialah nabi. Ada pula yang menafsirkannya dengan nabi dan rahib.

Nabi atau rahib itulah yang bertugas untuk mendakwahkan tauhid, ubudiyah, dan syariat kepada umat serta menunjukkannya pada jalan kebenaran. Hal ini dilakukan atas dasar mandat dari Allah swt., selama para panutan tersebut mampu bersabar dalam menahan beratnya beban yang dipukul dan sabar dari cobaan-cobaan dunia. Juga, selama mereka yakin terhadap ayat-ayat yang telah Allah swt. turunkan.

Pada ayat selanjutnya, Allah swt. menyatakan kepada Nabi saw. bahwa kelak di hari kiamat Allah swt. memutuskan segala konflik agama antara mukmin dan kafir, hingga semua dapat balasan yang setimpal dengan apa yang diperbuat.

Baca juga: 3 Macam Sikap Sabar yang Digambarkan dalam Al-Quran

Sabar dan tekad kuat kunci sukses pemimpin

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, ayat ini membicarakan tentang kenikmatan yang diberikan kepada suatu kaum berupa dihadirkannya pemimpin-pemimpin yang dapat membimbing menuju kebenaran. Yaitu pemimpin yang penuh kesabaran dan bertekad kuat..

Frasa Sabaru pada ayat 24, diambil dari kata as-sabr, yang secara bahasa berarti menahan diri dalam kesempitan. Sementara secara istilah, sabar diartikan dengan menahan hawa nafsu sesuai dengan tuntutan akal dan syariat. Menurut ar-Raghib al-Ishfahani dalam Mufradat Alfadzil Quran, sabar memiliki beberapa sinonim, sesuai dengan konteks kata itu digunakan. Pertama, sabar, diartikan dengan menahan nafsu dari tindakan maksiat. Kedua, shaja’ah, diartikan dengan menahan rasa takut ketika peperangan. Ketiga, lapang dada, diartikan dengan menahan kebosanan. Keempat, menyembunyikan kabar. Frasa ini kemudian dapat dipahami dengan menahan diri dari hal-hal negatif, sehingga melatih pemimpin agar tidak grusa-grusu dalam mengambil tindakan.

Sementara frasa yuqinun: diambil dari kata yakin, salah satu sifat ilmu di atas taraf makrifat dan dirayah. Ilmu tertinggi. Sebagaimana yang dijelaskan al-Ishfahani, yakin adalah ketika sesuatu yang menjadi objek sudah benar-benar tertancap dalam pemahaman besertaan tetapnya hukum, sehingga tidak ada lagi bentuk pertentangan. Dengan pengertian ini, dapat dipahami bahwa pemimpin yang baik ialah yang memiliki tekad kuat tak tergoyahkan.

Baca juga: Kisah Akhnas Ibn Syuraiq dan Pergulatan Politik Berbaju Agama di Indonesia

Dengan adanya tekad kuat, pemimpin dapat menebar kemaslahatan pada rakyatnya, tanpa ada ragu. Dengan kesabaran, pemimpin dapat melaksanakan tanggungjawabnya dengan istikamah.. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila sabar adalah sebagian dari iman, dan sebagian lainnya adalah rasa syukur dengan mentaati perintah dan menjauhi larangan.

Dua pilar ini sangatlah penting untuk menjadi acuan seorang pemimpin yang bertanggungjawab. Hal ini karena dengan tekad itulah, hakikat perintah dan larangan bisa diketahui. Dan, dengan kesabaran, apa yang dilarang bisa dihindari serta apa yang diperintah bisa dilaksanakan dengan khidmat. Ibarat kata, berpegang teguh pada prinsip dan keyakinan adalah kunci kesuksesan, dan bahwa orang sabar dan pemaaf adalah yang berhati mulia’. Tanpa keduanya mustahil harapan akan terealisasi.

Sebagaimana konteks ayat di atas, yang memberikan isyarat bagi minoritas muslim Mekah kala itu agar tetap bersabar sebagaimana orang-orang pilihan dari Bani Israel. Di lain sisi, bertekad kuat sebagaimana tekad orang-orang pilihan itu, sehingga membuat mereka pantas untuk menjadi pemimpin, generasi sekarang pun harus demikian. Dengan sabar dan tekad kuat, kepemimpinan akan dapat terlaksana dengan baik. Wallahu a’lam[]

Surat Al-Araf Ayat 172: Perjanjian Manusia dengan Tuhan

0
Surat Al-Araf Ayat 172
Ilustrasi Surat Al-Araf Ayat 172

Artikel ini akan menjelaskan Surat al-Araf Ayat 172 tentang perjanjian dengan Allah Swt. Menurut ayat ini, setiap manusia telah mengikat janji dengan Tuhannya sebelum mereka dilahirkan. Allah Swt berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (ٍSurat Al-Araf Ayat 172)

Ibn Katsir ketika menjelaskan ayat ini mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan dalam shahihain (Bukhari dan Muslim) yang menyatakan, “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci), yakni beragama (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nasrani atau majusi”.

Baca Juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim

Lebih lanjut, Ibn Katsir menegaskan bahwa melalui Surat Al-Araf Ayat 172 ini, Allah Swt. menginformasikan kepada setiap manusia, bahwa ketika mereka masih berada di alam ruh (rahim), Allah telah mengikat mereka dengan sebuah persaksian bahwa Allah adalah Tuhan mereka, tidak ada tuhan lain selain Dia. Hal ini dimaksudkan agar kelak manusia tidak mengatakan bahwa mereka lalai akan hal ini (persaksian).

Ironisnya, ketika kelak manusia sudah lahir ke muka bumi, kemudian ia bertumbuh dari kanak-kanak menjadi remaja kemudian dewasa sampai akhirnya meninggal dunia, banyak di antara mereka yang justru melupakan perjanjian tersebut.

Perjalanan hidup anak manusia diwarnai dengan beragam peristiwa, baik yang menghadirkan suka maupun yang meninggalkan duka. Warna-warni kehidupan tersebut pada gilirannya akan membentuk pribadi setiap manusia.

Ada orang yang sebagian besar hidupnya diwarnai penderitaan dan kekecewaan, tetapi justru semakin mendekatkan dirinya kepada Allah. Hingga akhirnya Allah pun melimpahkan karunia berupa kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Di sisi lain, ada pula orang yang sebagian besar hidupnya diliputi kesenangan, kelimpahan materi, tetapi justru menjauhkan dirinya dari Allah, hingga pada akhirnya berujung dengan dihilangkannya segala kenikmatan dan kesenangan hidup yang pernah dialaminya.

Pada hakekatnya, jika kita semua mengingat perjanjian yang pernah kita ikrarkan dan sepakati dengan Allah ketika berada di alam rahim, sebagaimana disebut oleh ayat di atas, maka perjalanan hidup kita akan senantiasa berada di jalan yang benar dan diridlai Allah. Tetapi jika kita melupakannya, maka sangat mungkin perjalanan hidup kita akan melenceng jauh dari jalan kebenaran.

Janji dengan Tuhan adalah janji tauhid, janji untuk terus mengesakan-Nya, janji untuk selalu berada di jalan-Nya. Jika janji tersebut kita pegang teguh, maka Tuhan pun akan terus menuntun kita tetap berada di jalan-Nya. Tetapi jika kita mengingkarinya, maka Dia pun akan memalingkan wajah-Nya dari kita.

Tuhan sesuai dengan persangkaan kita kepada-Nya. Jika kita mengingat-Nya dalam diri kita, maka Dia pun akan mengingat kita dalam diri-Nya. Demikian disebutkan dalam sebuah hadis qudsi.

Betapa banyak di antara kita, atau mungkin diri kita sendiri yang sering melupakan Tuhan. Tuhan hanya kita tempatkan di masjid, mushalla, tempat-tempat ibadah, majelis taklim serta majelis dzikir. Sedangkan ketika kita di kantor, di pasar, di tempat kerja, di jalan, di tempat-tempat umum, kita tinggalkan Tuhan, kita tidak sertakan Dia dalam aktivitas keseharian kita.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 180: Anjuran Berdoa dan Berdzikir dengan Asmaul Husna

Dengan demikian, maka yang terjadi adalah munculnya manusia-manusia dengan kepribadian ganda. Di satu sisi mereka kelihatan khusyu’ ketika beribadah, tekun mendengar ceramah-ceramah keagamaan, rajin mengikuti majelis taklim dan majelis dzikir, tetapi di sisi lain, mereka juga gemar melakukan kejahatan; korupsi, kolusi, penyalahgunaan wewenang dan jabatan, curang dalam berdagang, dan sederet tindak kejahatan lainnya.

Perilaku mereka sehari-hari seringkali tidak mencerminkan ibadah yang mereka lakukan. Mereka tidak risih dan tanpa malu lagi melakukan perselingkuhan, perzinahan, penganiayaan, bahkan pembunuhan.

Inilah bukti nyata bahwa manusia sering melupakan Tuhan, melalaikan janji sucinya dengan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya saleh, yang penuh ketaatan kepada-Nya dan kasih sayang terhadap sesamanya.

Mari kita kembali mengingat perjanjian dengan Tuhan, kemudian kita penuhi janji tersebut, sehingga kita mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia ini dan di akhirat nanti. Wallahu A’lam.

Tafsir al-Lubab Karya Quraish Shihab, Tafsir Ringkas Cocok untuk Orang Sibuk

0
Tafsir al-Lubab Karya Quraish Shihab
Tafsir al-Lubab Karya Quraish Shihab

Perkembangan tafsir di Indonesia telah menjadi isu lawas dalam kajian tafsir itu sendiri. Pada tahun 1990-an misalnya, Islah Gusmian mencatat bahwa pada era tersebut muncul tafsir-tafsir dengan jejaring sosial penulisnya secara bebas dan longgar. Pada pertengahan tahun 2012, muncul tafsir al-Lubab karya Quraish Shihab, tafsir ringkas ini memiliki makna, tujuan dan Pelajaran dari Surah-surah al-Qur’an dengan slogan “tafsir ringkas untuk orang sibuk”. Tafsir ringkas al-Lubab dinilai tetap memiliki keunikan. Berikut Spesifikasi mengenai tafsir al-Lubab;

Spesifikasi Tafsir al-Lubab

Nama al-Lubab diberikan sendiri oleh Quraish Shihab. Al-Lubab merupakan derivasi kata dari labba. Atau dengan kata lain, labba merupakan kata kerja dari al-Lubab. (Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia h.1247. )

Tafsir ringkas al-Lubab diperkirakan selesai ditulis pada bulan Juni 2008, namun baru selesai dicetak pada bulan Juli 2012. Walaupun al-Lubab merupakan anak kandung dari tafsir al-Mishbah, banyak hal yang berbeda dijumpai dalam tafsir ini. Pertama, dari segi sistematika. Sama halnya dengan tafsir al-Mishbah, al-Lubab ditafsirkan dari juz 1 hingga juz 30. Hanya saja, jumlah jilid tafsir al-Lubab menjadi 4 jilid setelah diringkas dari tafsir al-Mishbah.

Baca juga: Petunjuk Al-Quran tentang Tiga Hal Untuk Memperkuat Keyakinan

Jilid 1 mencakup surah al-Fatihah hingga surah Hud (714 halaman), jilid 2 memuat surah Yusuf hingga surah asy-Syu’ara (720 halaman), jilid 3 dari surah an-Naml hingga surah al-Fath (719 halaman) dan jilid 4 terdiri dari surah al-Hujurat hingga surah an-Nas (803 halaman).

Kitab tersebut ditulis dengan menggunakan metode ijmali atau global. Quraish Shihab mengonfirmasi kesimpulan ini. Ia menyatakan bahwa al-Lubab dapat dikategorikan ke dalam metode ini. Al-Lubab tidak menyertakan pengertian kosakata ayat, tidak menggunakan istilah-istilah yang menjadikan pemaknaan ayat menjadi luas, juga tidak membahas tema-tema tertentu.

Contoh Penafsiran Tafsir Al-Lubab

Karakteristik yang paling terlihat jelas pada tafsir ini ialah penyampaian inti sari dan pelajaran dari kandungan ayat-ayat yang dijelaskan dalam al-Mishbah. Misal mengenai penafsiran ayat 34 surah an-Nisa;

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S An-Nisa Ayat 34).

Dalam al-Mishbah, Quraish memberikan penjelasan panjang mengenai ayat tersebut. Ia memberikan uraian mengenai kata al-rijal dari segi kebahasaan yang diterjemahkan sebagai lelaki dengan tidak mengabaikan pendapat ulama lain yang mengartikannya sebagai para suami. Dengan mengutip pendapat Muhammad Thahir Ibn ‘Asyur bahwa dalam konteks kebahasan Arab tidak digunakan al-rijal dalam arti suami tetapi berbeda dengan al-nisa dan imra’ah yang dimaknai istri, ia setuju bahwa penggalan awal ayat tersebut secara umum berbicara tentang pria dan wanita dan memiliki fungsi sebagai pendahuluan untuk penggalan ayat kedua yang lebih spesifik berbicara mengenai sikap dan sifat istri-istri yang shalehah.

Baca juga: Bentuk-bentuk Filantropi yang Diperintahkan dalam Al-Quran

Quraish juga memaparkan kata qawwamun dari segi pemaknaannya hingga sampai pada kesimpulan kata tersebut diterjemahkan dengan pemimpin. Namun, pemimpin yang dimaksud ialah yang mencakup pemenuhan kebutuhan, perhatian, pemeliharaan, pembelaan dan pembinaan. Lebih lanjut, Quraish memberikan kejelasan tentang pemimpin tersebut dengan mengutip redaksi dari ayat tersebut yaitu pertama, bima fadhdhalallahu ba’dhuhum ‘ala ba’d (karena Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain) yang dimaknainya dengan memiliki keistimewaan masing-masing. Keistimewaan ini digambarkan salah satunya dari segi psikis.

Mengutip pendapat dari pakar psikologi, ia menemukan bahwa lelaki memiliki keunggulan dari segi fisiknya sedang wanita lebih pada perasaannya. Kedua, bima anfaqu min amwa lihim (disebabkan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka) yang dimaknai bahwa seorang suamilah yang berkewajiban memberikan nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Sesuai dengan redaksi ayat tersebut, Quraish selanjutnya memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat tersebut yang memuat perihal atau hal-hal yang harus dilakukan jika ada seorang istri yang nusyuz (angkuh, membangkang dan lain-lain) dengan merujuk pada ayat tersebut.

Baca juga: Penjelasan Aqsam al-Quran dan Beberapa Fakta Menarik di dalamnya

Pada al-Lubab, Quraish memberikan pemaparan bahwa ayat tersebut menjelaskan fungsi dan kewajiban masing-masing jenis kelaminnya serta yang menjadi motif perbedaan tersebut, yaitu lelaki atau suami dianggap sebagai qawwam, pemimpin dan penanggung jawab atas perempuan atau istri karena keistimewaan pria atau suami yang menjadikannya pantas menjadi qawwam.

Oleh karena itu, para lelaki atau suami menafkahkan sebagian dari harta mereka untuk membayar mahar dan membiayai hidup istri dan anak-anaknya. Lebih lanjut, ayat tersebut memberikan kategori wanita shalehah yaitu yang taat kepada Allah dan taat kepada suaminya setelah keduanya bermusyawarah bersama dan atau jika perintah suaminya tidak bertentangan dengan perintah Allah dan tidak mencabut hak-hak pribadi istrinya. Di samping itu, perempuan atau istri berkewajiban memelihara diri, hak-hak suami dan rumah tangga jika suaminya tidak ada karena Allah memelihara mereka dalam bentuk memelihara cinta suaminya.

Lalu, ayat tersebut juga memberi tuntunan kepada seorang suami bagaimana memperlakukan istrinya yang membangkang, yaitu dengan menasihati mereka pada saat yang tepat dan dengan kata-kata yang menyentuh.

Dan jika hal ini masih belum berhasil, maka sang suami diizinkan memukul tetapi dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Apabila sang istri telah patuh, maka sang suami tidak lagi dibenarkan menyusahkannya dengan cara apapun. Dan dengan itu, mereka dapat membuka lembaran baru kembali dengan bermusyawarah dalam segala persoalan kehidupan bersama.

Baca juga: Uraian Lengkap Soal Terjemah Al-Quran dan Perbedaannya dengan Tafsir

Kesimpulan di atas telah dikonfirmasi oleh Quraish Shihab dengan menyertakan slogan “Tafsir Ringkas untuk Orang Sibuk”. Juga pada penggalan penamaan tafsir ini sendiri yang pada dasarnya ingin mengungkap makna, tujuan dan pelajaran dari surah-surah al-Qur’an. Oleh karena itu, berdasarkan redaksi ayat di atas ada tiga pelajaran yang dapat dipetik:

  1. Kepemimpinan untuk setiap unit merupakan suatu yang mutlak, lebih-lebih bagi setiap keluarga, karena mereka selalu bersama dan persoalan yang mereka hadapi sering kali muncul dari sikap jiwa, tetapi kepemimpinan yang dibebankan kepada suami bukan berarti kesewenangan.
  2. Istri yang shalehah adalah yang menaati suaminya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Namun, dalam saat yang sama, suami istri hendaknya selalu bermusyawarah mencari titik temu dalam segala persoalan yang mereka hadapi.
  3. Istri yang membangkang – perintah yang wajar – sehingga melampaui batas kewajaran, maka suami dituntut menasihatinya, lalu meninggalkannya dari tempat tidur dan membatasi perselisihan mereka dalam kamar. Jika ini pun tidak berhasil, maka “memukulnya” tanpa menyakiti, karena tujuan pemukulan adalah menampakkan “ketidaksenangan suami yang mendalam”.

Pada pemaparan sebelumnya telah dideskripsikan mengenai tafsir al-Lubab oleh karena itu mengenai pembacaan kritis tafsir al-Lubab antara lain: keuniversalan makna yang dikandung, makna yang disampaikan pun global. Bagi para pengkaji tafsir, khususnya yang mendalami kitab tafsir mengenai kebahasaannya, munasabah ayat, asbab nuzul dan lain sebaginya, tentu kitab ini tidak akan mencukupi kebutuhan tersebut.

Sekali lagi, tafsir ini dirancang dan dibuat untuk orang sibuk maupun “sok” sibuk yang tidak sempat mengkaji maupun mempelajari tafsir dengan penjelasan panjang, sebagaimana slogan yang tertera pada cover kitab.

Menilik Pengertian ‘Amud Al-Quran dan Metodologinya ala Hamiduddin Farahi

0
amud al-quran
amud al-quran

Penjelasan mengenai ‘amud Al-Quran (tema sentral Al-Quran) yang dikembangkan oleh Hamiduddin Farahi, mufasir kontemporer asal India ini menjadi hal yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Pada salah satu karyanya, Dalail al-Nidzam, al-Farahi memberikan ulasan lebih lanjut tentang ‘amud Al-Quran sekalipun secara global.

Sebenarnya konseptualisasi ‘amud Al-Quran ala al-Farahi berasal dari nidzam yang terdapat dalam Al-Quran. Nidzam, dalam pandangan al-Farahi dan Islahi, seperti yang dikutip Mustansir Mir dalam Coherence in the Quran, merupakan prinsip yang sangat diperlukan dalam penafsiran. Sehingga, al-Farahi menyebutkan bahwa nidzam adalah yang pertama dan yang terpenting dari semua prinsip penafsiran. Bahkan, apabila melupakan petunjuk terhadap nidzam, maka terlupakan juga bagian terbesar dari Al-Quran (Al-Farahi, Tafsir Nidzam Al-Quran).

Nidzam Al-Quran mempunyai arti penting dalam penafsiran Al-Quran sebagaimana dipaparkan oleh Farid Ravi dalam al-Imam ‘ Abd al-Hamid al-Farahi wa Juhuduh fi al-Tafsir wa‘ Ulum al-Qur’an, adalah (1) implementasi metodologi nidzam akan mengantarkan pada tujuan Al-Quran itu sendiri; (2) nidzam adalah sebuah bukti dari kebenaran ta’wil; (3) nidzam adalah sebuah kunci untuk mengetahui hikmah di balik Al-Quran, karena ada kerahasian dalam Al-Quran; (4) nidzam membuka wawasan untuk memahami Al-Quran dari aspek balaghah.

Dengan menjaga metodologi nidzam dalam penafsiran maka akan diketahui kronologi ayat itu turun, serta sebagai respon atas kritik riwayat tafsir dengan ini juga bisa membedakan antara riwayat yang lemah dan kuat. Menerapkan nidzam dalam penafsiran akan membawa pembaca pada kemudahan dalam memahami Al-Quran

Baca juga: Mengenal Tafsir Nidzam Al-Quran karya Hamiduddin Farahi

Keberadaan nidzam sangat penting, dikarenakan nidzam merupakan satu-satunya cara untuk memahami Al-Quran denga tepat. Ketika membaca Al-Quran tanpa panduan dari nidzam, maka hanya beberapa pengetahuan yang didapat dari Al-Quran. Tanpa adanya nidzam, Al-Quran tidak lebih dari kumpulan ayat dan surat. Tapi, dengan adanya nidzam bisa berubah menjadi kesatuan yang nyata.

Sekilas ‘Amud Al-Quran

Secara bahasa ‘amud berarti tiang. Seperti yang diungkapkan Mustansir Mir dalam Coherence in the Quran,

“According to al-Farahi, each Qur’anic surah has a distinct controlling theme called ‘amud. The ‘amud (literally, “pillar, column”) is the hub of surah, and all the verses in that surah revolve around it. In attemping to establish the unity of a surah, Farahi central concern is to determine the surah’s ‘amud.”

Al-Farahi sendiri mendefinisikan ‘amud sebagai sesuatu yang menyatukan tema-tema wacana. Namun bukan berarti ‘amud yang mendorong pemersatu secara umum, melainkan ‘amud sebagai prinsip pemersatu yang spesifik dan pasti. Amud merupakan pusat dari surat, maka semua surat akan berada atau berputar di sekitarnya. Sehingga, yang menjadi orientasi al-Farahi adalah menemukan ‘amud surat.

أما العمود فلا يكون لسورة إلا واحد، وهذه الواحد ربما يحتوى واحد أشياء كثيرة

Hanya ada satu ‘amud dalam satu surat, namun bisa jadi satu ‘amud tersebut memang mengandung beberapa perkara di dalamnya. ‘Amud merupakan hal yang paling utama dalam memahami pesan tunggal.

Menurut al-Farahi, setiap surat dalam Al-Quran meki tema sentral yang menggabungkan makna dari surat itu sendiri. Tema sentral tersebut mengubah aspek-aspek yang berbeda menjadi seperti satu unit, meskipun ada arti yang berbeda dari ayat atau surat secara bersamaan.

Lebih dari itu, ‘amud dapat menyatukan seluruh surat menjadi satu kesatuan, yang kemudian ia kembangkan secara logis. Sehingga metodologi yang dilakukan oleh al-Farahi menghasilkan sebuah tafsir yang lengkap. Ini adalah gagasan utama yang kemudian diteruskan oleh al-Islahi, muridnya.

Baca juga: Inilah Ragam Pendapat Ulama tentang Nidzam Al-Quran

Metodologi ‘Amud Al-Quran

Basis dari kesatuan nidzam dalam Al-Quran adalah surat, yang bertumpu pada ‘amud. ‘Amud merupakan benang pemersatu dalam surat, dan surat harus ditafsirkan dengan mengacu pada ‘amud tersebut. Tidak hanya setiap surat adalah kesatuan, tapi juga ada hubungan yang logis di antara semua surat yang mengikuti satu sama lain. ‘Amud berfungsi sebagai tema pengontrol pada setiap surat.

Beberapa cara al-Farahi dalam mengungkapkan ‘amud Al-Quran pada saat melakukan penafsiran:

  • Dalam beberapa penafsirannya, al-Farahi menjelaskan kandungan ‘amud di awal pembahasan kemudian diikuti dengan ittishal, atau terkadang juga menggunakan kata rabith lalu disambung dengan pembahasan nidzam surat. Seperti halnya pada surat al-Dzariyat, al-Qiyamah, al-Mursalat, ‘Abasa, al-Syams, al-Tin dan al-Kautsar.
  • Terkadang juga al-Farahi mencantumkan terlebih dahulu nidzam surat, kemudian diikuti dengan ‘amud nya, seperti pada surat al-Tahrim.
  • Pada surat al-Fil misalnya, al-Farahi memberikan sebuah keterangan lebih lanjut. Karena memang al-Farahi memiliki argumen yang berbeda dari mufassir lainnya terkait mukhatab pada surat tersebut. Sebelum menguraikan kandungan ‘amud, al-Farahi memberikan sebuah intruksi untuk mengkaji terlebih dahulu terkait penjelasan siapa mukhatab yang dimaksud. Untuk mendapatkan pemahaman yang benar terkait ta’wil dan makna rabith.
  • Dan dalam 4 surat yang lain, al-Farahi tidak menunjukkan apa ‘amud yang terkandung dalam surat tersebut, yakni pada surat al-Asr, al-Fil, al-Kafirun dan al-Lahab.
  • Menurut al-Farahi, setiap surat dalam Al-Quran meki tema sentral yang menggabungkan makna dari surat itu sendiri. Tema sentral tersebut mengubah aspek-aspek yang berbeda menjadi seperti satu unit, meskipun ada arti yang berbeda dari ayat atau surat secara bersamaan.

Dari metode yang digunakan al-Farahi dalam mengungkap ‘amud Al-Quran terlihat bahwa metode penafsiran ‘amud Al-Quran tidak terlepas dari nidzam Al-Quran. Nuansa nidzam di sini sangat kental. Mustansir Mir sendiri telah mengidentifikasi enam penafsir modern yang mengembangkan gagasan tema sentral (‘amud) dalam Al-Quran, yakni al-Farahi (1930), Ashraf Ali Thanavi (19943), Sayyid Quthb (1966), al-Islahi (1997), Izzat Darwazah (1984) serta Thabathaba’i (1981), selain itu ada juga Muhammad Abdullah Darraz (1958). Metodologi ini berupaya untuk membimbing penafsir pada pemahaman yang holistik. Wallahu A’lam.