Beranda blog Halaman 498

Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto

0
mushaf Istiqlal
mushaf Istiqlal

Jika kita mendengar kata Islam dan Soeharto, yang pertama kali muncul adalah ingatan-ingatan buram. Saat itu, aktivitas politik dan organisasi Islam selalu diawasi oleh pemerintah. Tentu hal ini mengakibatkan akan mundurnya umat Islam, terlebih pada tahun 1970-1980. Namun, pada tahun 1990-an ada hal yang unik dari pemerintahan Soeharto. Pemerintahan ini justru mendukung pembuatan masterpiece kebudayaan Islam, yakni Mushaf Istiqlal.

Mushaf ini ditulis pada kertas dengan ukuran 123 x 88 cm. Jumlah halamannya 965 halaman yang terdiri dari empat halaman muka, 938 halaman ayat-ayat, tiga halaman  doa khatam Al Qur’an, dan 20 halaman terakhir berisi keterangan penulisan. Mushaf ini disebut sebagai karya yang luar biaa karena selain bahan yang disiapkan sangat bagus, illuminasinya pun sangat indah. Ornamen itu terdiri dari 45 tipe, yang menggambarkan corak khas dari 42 wilayah Indonesia yang berbeda dan tiga campuran.

Mushaf ini mulai dikerjakan setelah Presiden Soeharto meresmikan proyek ini. Pada Festival Istiqlal I bertepatan dengan 15 Oktober 1991(7 Muharam 1412 H), dia menuliskan huruf ba’ pada lafadz basmalah. Setelah peresmian, mushaf ini pun dikerjakan selama empat tahun dan diluncurkan pada Festival Istiqlal II, 23 September 1995 (27 Rabi’ul Akhir 1416 H). Mushaf ini juga ditashih terlebih dahulu oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Departemen (sekarang Kementerian) Agama RI, pada 6 Juni 1995 (7 Muharam 1416).


Baca juga: Tayyar Altikulac: Filolog Muslim Pengkaji Manuskrip Al-Qur’an Kuno


Membicarakan latar belakang penulisan mushaf ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari usaha para ulama, cendikiawan muslim, seniman, kaligrafer, dan tokoh lainnya.  Mereka membentuk tim pengelola yang terdiri dari ulama Al Qur’an, lajnah pentashihan Al Qur’an, kaligrafer yang dipimpin oleh H Faiz Abdul Rozak, desainer yang dipimpin oleh A.D Pirous dengan tim dari seniman ITB, illuminator, dan korektor. Karena penyusunannnya disokong oleh tim yang professional, maka karya seni ini berhasil lahir seperti apa yang diharapkan.

Dalam buku Ketika Mushaf Menjadi Indah karangan Ibnan Syarif, penulisan Mushaf Istiqlal disebut untuk dapat menunjukkan hubungan Indonesia dan Islam. A.D Pirous pun menyebut bahwa mushaf ini untuk menapak kembali seni asasi Islam, agar dilestarikan sebagai manifestasi ekspresi seni Islam. Bahkan, Pirous menyebut bahwa upaya penulisan mushaf Istiqlal ini agar Indonesia menjadi pusat seni mushaf.

“Jika Selama ini seni kaligrafi dan seni kerajinan berpusat di Istambul, seni tilawah berpusat di Mekah dan seni sastra Islam di Islamabad, maka kita ingin seni mushaf ini dipusatkan di Indonesia,” ungkap Pirous yang saat itu menjadi informan.


Baca juga: Macam-Macam Bentuk Nafsu Menurut Al-Quran


Namun, ada beberapa komentar terkait penulisan mushaf ini, terlebih pada posisi pemerintah Soeharto yang mendukung penuh. Ibnan Syarif mendialogkan Analisa dari Kenneth M. George Guru Besar Antropologi Universitas Oregon, yang menulis mushaf Istiqlal dalam perspektif sosiologi dan antropologi. Artikelnya ini berjudul “Design on Indonesia’s Muslim Communities”.  George menyebut Soeharto memiliki tujuan politik saat mendukung pembuatan mushaf ini. Guru besar yang akrab dengan AD Pirous itu mengungkapkan, campur tangan pemerintah Soeharto merupakan isyarat dan manuver untuk mencari keuntungan politik. Selain itu, pemerintah Soeharto juga dapat mengontrol aktitas dan hasil seni budaya umat Muslim Indonesia.

Namun dibalik komentar itu, kehadiran Mushaf Istiqlal saat ini telah menjadi seni agung umat Muslim Indonesia. Bahkan, versi cetak mushaf ini sering digunakan untuk cindera mata diplomasi antarnegara. Tentu untuk mengetahui keagungan itu, lebih baik kita juga melihat beberapa karakteristiknya.


Baca juga: Paradigma Al-Qur’an tentang Nilai Perdamaian Sebagai Inti Ajaran Islam


Karakteristik Mushaf Istiqlal

Dari segi jumlah halaman yang begitu banyak, mushaf ini memang memberikan ruang yang lebih untuk illuminasi. Misalnya Surah al-Fatihah, surah ini ditulis di dua halaman bersebelahan (kanan-kiri). Illuminasi dua halaman tersebut mewakili seluruh ragam budaya Indonesia (waktu itu 27 provinsi) yang menghiasi khat Surah al-Fatihah sebagai ummul Qur’an.

Media yang digunakan pun spesial, tintanya adalah Martin’s Black Star India dari Amerika, dan kertasnya bermerek Durex ex dari Jerman. Sementara alat tulisnya bernama handa, tumbuhan sejenis pakis yang banyak tumbuh di negeri topis seperti Indonesia dan Malaysia.

Layout ayatnya pun unik karena menitikberatkan pada ruang tengah, bukan full-text layaknya mushaf biasa. Meski begitu, mushaf ini secara rasm tetap mengikuti aturan mushaf satandar Indonesia, termasuk tanda bacanya juga. Hanya saja desainnya lebih berwarna daripada mushaf Standar.


Baca juga: Michael Sells, Mengenalkan Aspek Aural dan Skriptural Sebagai Pendekatan Terhadap Al-Qur’an


Sebagai salah satu karya seni, kehadiran mushaf ini tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi Muslim Indonesia. Sementara sebagai produk dari kebijakan pemerintah, mushaf ini tetap memiliki dampak terhadap kehidupan sosial politik Muslim saat itu. Tentu ada banyak sudut pandang terkait hal ini, yang jauh lebih penting adalah kebijaksanaan kita dalam membacanya.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bi al-shawab[]  

 

Tafsir Al-Qalam 2-4: Pujian Allah terhadap Budi Pekerti Mulia Rasulullah

0
Budi pekerti Rasulullah
Budi pekerti Rasulullah

Akhlak sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam ajaran Islam. Salah satu hal yang menjadi nilai lebih Rasulullah ialah kemuliaan akhlaknya. Hingga pada masanya, banyak dari kalangan musuh yang akhirnya masuk Islam karena melihat budi pekerti Nabi. Bahkan keluhuran akhlak Nabi mendapat perhatian dari Allah dan diabadikan dalam surat Al-Qalam ayat 2-4, yakni:

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Berkat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila (2), dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang putus-putusnya (3), dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (4)”

Baca juga: Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 56: Perintah Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Sebab turunnya ayat

Kerasulan Muhammad memang cukup mendapatkan pertentangan terlebih bagi kaum kafir Makkah. Imam al-Thabary dalam menerangkan bahwa orang-orang musyrik Makkah mengatakan kepada nabi saw dan menuduhnya sebagai orang gila hingga menyebutnya setan. Maka kemudian Allah menurunkan ayat ke duaturunlah ayat ke dua dari surat al-Qalam tersebut.(Imam at-Thabary, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran,23:528)

Adapun pada ayat ke empat diterangkan oleh Imam as-Suyuthi dengan mengutip riwayat Abu Nu’aim dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa tiada seorang pun dari kalangan sahabat dan keluarganya yang memanggilnya, kecuali beliau berkata “labbaika” (aku penuhi panggilanmu). Oleh karenanya Allah swt menurunkan ayat ke empat sebagai penjelasan tentang gambaran akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah (Imam al-Suyuthi, ad-Durul Manthur,8:243)

Baca juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Tafsir Al-Qalam ayat 2-4

Dalam ayat ke dua ini, Hamka memahaminya sebagai suatu hiburan yang amat halus dan penuh kasih sayang dari Allah. Setelah Nabi Muhammad berdakwah menyampaikan dan mengajarkan kaumya akan tauhid dan ma’rifat kepada Allah. Ternyata sangat besar reaksi yang disampaikan kepadanya. Bermacam tuduhan hingga dianggap gila dilemparkan kaum musyrik kepada Nabi Muhammad saw (Hamka. Tafsir al-Azhar)

Ar-Razi dalam Mafatih al-ghaib juga menambahkan bahwa lafad بِنِعْمَةِ dipahami bahwa nikmat Allah sangat terlihat pada diri Rasulullah. Dengan bahasa yang fasih, akal yang sempurna, kehidupan bahagia, selamat dari segala cobaan hingga berperilaku mulia. Semua sifat itu merupakan bentuk negasi dari sifat gila pada diri Rasul saw. Ini juga senada dengan pendapat Wahbah az-Zuhaili yang mengkaitkan dengan kecerdasan akal dan akhlak yang baik (Fakhruddin ar-Razi, ,30:600)

Adapun Pada ayat ke tiga ini Allah menganugerahkan pahala kepada Nabi saw secara terus menerus. Bagi al-Shabuni, siapa yang mengerjakan suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang ia ajar hingga hari kiamat tanpa mengurangi pahala orang yang diajar. Dari situ bisa dibayangkan banyaknya orang yang sudah diajar oleh Nabi saw bahkan sanad keilmuannya masih bersambung hingga sekarang. (Ali al-Shabuni, Shofwatut Tafasir,3:401)

Pada ayat ke empat, al-Qurthuby memaknai lafad خُلُقٍ sebagai budi pekerti yang luhur nan terpuji. Adanya lafad ­innaka kemudian tambahan huruf lam pada kata ‘ala menggambarkan keluhuran budi pekerti Nabi saw yang sampai pada puncaknya. Sifat عَظِيمٍ yang dikaitkan dengan khuluq semakin tak terbayangkan betapa agungnya akhlak Nabi Muhammad saw. (al-Qurthuby, al-Jami li Ahkam al-Quran,14:213)

Wahbah az-Zuhaili merinci makna khuluqin ‘adzim dengan sifat pemalu, dermawan, santun, pemberani dan segala akhlak terpuji dan mulia. Ini juga seperti sifat-sifat wajib yang dimiliki para Nabi dalam keyakinan Suni seperti al-Sidqu (jujur), amanah (dapat dipercaya), Fathanah (cerdas) dan tabligh (menyampaikan kebenaran).

Baca juga: Ikutilah Nabi Muhammad Saw Niscaya Allah Mencintai Dirimu

Rasulullah merupakan Al-Quran yang hidup

“Nabi Muhammad merupakan al-Quran yang hidup” bukan sekedar kalimat yang tak berdasar. Ini berdasar pada riwayat Aisyah yang ditanyai oleh seseorang sahabat.

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَتْ: فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

“Wahai Ummu al-Mu’minin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlaq rasulullah saw, maka Aisyah menanyainya kembali: apakah kamu tidak membaca al-Quran? maka aku menjawab: iya. Maka Aisyah menjawab : sesunggunnya akhlaq Rasaulullah saw ialah al-Quran” (HR. Muslim).

Maksud dari pernyataan Aisyah ra bahwa akhlak Rasul merupakan al-Quran ialah bahwa Rasul saw telah menjadikan perintah dan larangan al-Quran sebagai tabiat dan karakternya. Tiap al-Quran memerintahkan sesuatu, maka beliau lakukan. Begitu pula sebaliknya apabila turun ayat yang bersifat larangan, maka beliau akan meninggalkannya. Setidaknya itu yang dijelaskan oleh Hamka dalam tafsirnya.

Ar-Razi dalam tafsirnya juga memaparkan kisah Sayyidah Aisyah yang menceritakan akan keagungan akhlak Rasulullah saw. Suatu ketika Aisyah membuatkan makanan untuk Rasul, ternyata Hafsah juga membuatkan makanan untuknya. Lantas Aisyah meminta budaknya untuk melempar makanannya bila hafsah membawa terlebih dahulu. Ternyata Hafsah terlebih dahulu membawa makanan. Maka budak tersebut melakukan perintah Aisyah. Saat itu Rasul dalam keadaan kenyang namun tetap mengumpulkan makanan dan meminta mengambilkan piring sebagai pengganti.

Baca juga: Inilah Potret Perayaan Maulid Nabi dalam Al-Quran

Itu merupakan sedikit gambaran akan keagungan akhlak baginda Nabi Muhammad saw. Semoga umat Islam senantiasa bisa meniru semua akhlak Raslulullah saw. Walaupun semua itu nampaknya sulit bahkan hampir tidak mungkin, tetapi sebisa mungkin berusaha dan menjadikan Rasul sebagai Uswatun Hasanah merupakan suatu perkara yang bernilai kebaikan. Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al An’am Ayat 73-76

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 73-76 ini meneruskan pembahasan lalu mengenai kebenaran ayat Allah swt. manusia diajak untuk memikirkan segala yang ada di alam semesta ini yang penuh keindahan dan kenyaman. Semuanya tidak lepas dari kontrol Sang Pencipta yaitu Allah swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 70-72


Lalu dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 73-76 ini Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kisah Nabi Ibrahim as. Penyampaian kisah ini dimaksudkan agar orang-orang kafir kembali pada ajaran yang murni bukan malah mengikuti ajaran nenek moyang mereka yang sesat.

Lebih lanjut Tafsir Surat Al An’am Ayat 73-76 ini berbicara mengenai interaksi Allah swt dengan Nabi Ibrahim as. Mulai dari ajaran ketauhidan, keindahan semesta alam yang teratur meluputi seluruh galaksi.

Ayat 73

Allah mengajak manusia untuk memikirkan kejadian alam semesta ini agar terbuka pikirannya serta meyakini, bahwa kejadian alam semesta ini yang penuh dengan keindahan tentu ada yang menciptakan, yaitu Allah Yang menciptakan langit dan bumi dengan segala penghuninya yang menjadi bukti kebenaran, serta menciptakan pula hukum alam yang berlaku umum yang kadangkala mengandung hikmah dan rahasia yang menunjukkan sifat-sifat Pencipta-Nya, keesaan-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Langit dan bumi serta segala isinya diciptakan Tuhan secara serasi dan teratur, tidak ada yang sia-sia. Allah berfirman:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا

”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.” (Ali ‘Imran/3: 191)

Juga firman-Nya:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ  ٣٨  مَا خَلَقْنٰهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ

Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar). (ad-Dukhan/44: 38-39)

Allah menegaskan bahwa pada saat menciptakan alam dan menetapkan hukum-hukum-Nya, semuanya berjalan menurut kehendak-Nya, tak ada kesulitan sedikit pun dan tak ada yang menghalangi serta mengubah hukumnya. Semua kejadian berlangsung baik dengan patuh ataupun secara terpaksa. Itulah sebabnya Allah menegaskan bahwa pada saat menciptakan langit dan bumi Dia menciptakannya dengan benar, karena seluruh perintah-Nya adalah benar dan ciptaan-Nya pun benar, sesuai dengan firman-Nya:

اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُ

Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. (al-A’raf/7:54)

Di samping itu, Allah juga memiliki kekuasaan untuk mengadili seluruh manusia setelah mereka dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan di hari mahsyar. Itulah kekuasaan Allah yang tidak dapat ditandingi oleh raja-raja dan penguasa-penguasa betapa pun luasnya kekuasaan mereka.

Karena meskipun raja-raja itu berkuasa untuk membuat peraturan dan memberikan hukuman kepada pelanggarnya, namun mereka pada hari Kiamat tidak berdaya lagi, karena pada saat itu kekuasaan hanya di tangan Allah semata.

Kemudian Allah memberikan keterangan tentang kekuasaan-Nya, untuk memberikan pengertian kepada seluruh manusia bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Allah mengetahui seluruh alam, baik yang tampak ataupun yang tidak mengetahui perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan ataupun yang dilakukan secara rahasia. Dia sangat bijaksana menciptakan segala sesuatu secara serasi dan harmonis sesuai dengan fungsinya.

Oleh sebab itu, tidak layak bagi manusia yang berakal untuk menghambakan diri kepada selain Allah baik secara langsung ataupun dengan maksud menjadikannya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat 74

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengingatkan orang-orang musyrik kepada kisah nenek moyangnya yang mereka muliakan, yaitu Nabi Ibrahim agar mereka mengikuti agama nenek moyang mereka. Ibrahim mengajak manusia untuk beragama tauhid dan menghentikan perbuatan syirik.

Dalam kisah ini diungkap kembali percakapan antara Nabi Ibrahim dengan bapaknya Azar. Nabi Ibrahim menanyakan kepada bapaknya dan kaumnya apakah pantas mereka itu menjadikan berhala-berhala, yang mereka buat sendiri sebagai tuhan? Mengapa mereka tidak menyembah Allah yang menciptakan mereka dan menguasai berhala-berhala itu.

Semestinya mereka tahu bahwa Allah-lah yang berhak disembah. Itulah sebabnya maka Nabi Ibrahim menegaskan bahwa dirinya betul-betul mengetahui bahwa bapak dan kaumnya terjerumus ke dalam lembah kesesatan yang nyata, jauh menyimpang dari jalan yang lurus.

Perbuatan mereka jelas tersesat dari ajaran wahyu dan menyimpang dari akal yang sehat, karena berhala-berhala itu tidak lain hanyalah patung-patung hasil pahatan yang dibuat dari batu, kayu atau logam, dan lain-lain. Semestinya berhala lebih rendah derajatnya dari pemahatnya.

Mereka seharusnya mengerti bahwa berhala-berhala itu bukanlah Tuhan, akan tetapi merekalah yang menjadikannya sebagai Tuhan. Oleh sebab itu tidak masuk akal apabila ada manusia yang menyembah sesama makhluk padahal makhluk itu tidak sanggup menguasai jagat raya dan segala isinya, apalagi yang disembah itu patung yang tak dapat berbuat apa-apa.


Baca juga: Tinggalkan Rebahan, Mari Produktif di Tengah Pandemi: Tafsir Surat Al-Asr Ayat 1-3


Ayat 75

Allah memberikan penjelasan, bagaimana Dia menampakkan keagungan ciptaan-Nya di langit dan di bumi, tata susunannya ataupun keindahan tata warnanya. Allah menampakkan kepada Ibrahim benda-benda langit yang beraneka ragam bentuk dan susunannya, serta beredar menurut ketentuannya masing-masing secara teratur.

Bumi yang terdiri dari lapisan-lapisan yang banyak mengandung barang tambang dan perhiasan, sangat berguna bagi kepentingan manusia. Kesemuanya itu menjadi bukti adanya kekuasaan Allah, yang dapat dipahami oleh manusia jika mereka mau berpikir sesuai dengan fitrahnya.

Allah menjelaskan pula tujuan dari pengenalan Ibrahim terhadap keindahan ciptaan-Nya yaitu agar Ibrahim benar-benar mengenal hukum alam yang berlaku di dunia ini, dan kekuasaan Allah yang mengendalikan hukum-hukum itu, agar dapat dijadikan bukti  ketika menghadapi orang-orang musyrik yang sesat, dan menjadi pegangannya agar termasuk orang yang betul-betul meyakini keesaan Allah.

Ayat 76

Allah menjelaskan proses pengenalan Ibrahim secara terperinci. Pengamatan pertama Nabi Ibrahim tertuju pada bintang-bintang, yaitu pada saat bintang nampak bercahaya dan pada saat bintang itu tidak bercahaya, dilihatnya sebuah bintang yang bercahaya paling terang. (Yaitu planet Yupiter (Musyatari) dan ada pula yang mengatakan planet Venus (Zahrah) yang dianggap sebagai dewa oleh pemuja bintang yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno, sedang kaum Ibrahim juga termasuk pemujanya).

Maka timbullah pertanyaan dalam hatinya. “Inikah Tuhanku?” Pertanyaan ini adalah merupakan pengingkaran terhadap anggapan kaumnya, agar mereka tersentak untuk memperhatikan alasan-alasan pengingkaran yang akan dikemukakan.

Tetapi, setelah bintang itu tenggelam dan sirna dari pandangannya, timbul keyakinan bahwa yang tenggelam dan menghilang tidak bisa dianggap sebagai Tuhan.

Ini sebagai alasan Nabi Ibrahim untuk mematahkan keyakinan kaumnya, bahwa semua yang mengalami perubahan itu tidak pantas dianggap sebagai Tuhan. Kesimpulan Ibrahim itu merupakan hasil pemikiran dan pengamatan yang benar dan sesuai dengan fitrah. Siapa yang melakukan pengamatan serupa itu, niscaya akan berkesimpulan yang sama.

Sementara itu sebagian mufassir seperti Ibnu Kafir mengatakan bahwa pengamatan Nabi Ibrahim terhadap bintang, bulan dan matahari bukanlah pengamatan pertama, tetapi merupakan taktik Nabi Ibrahim untuk mengajak kaumnya agar tidak menyembah sesuatu benda yang timbul tenggelam. Akan tetapi hendaklah mereka menyembah Zat Yang Kekal dan Abadi yaitu Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 77-80  


(Tafsir Kemenag)

Tayyar Altikulac: Filolog Muslim Pengkaji Manuskrip Al-Qur’an Kuno

0
Tayyar Altikulac
Tayyar Altikulac

Dalam sejarah dunia akademis, studi tentang naskah kuno atau manuskrip Al-Quran baru muncul pada abad ke-18. Mayoritas para pengkaji manuskrip Al-Quran pada saat awal kemunculan studi tersebut adalah para orientalis Barat. Hal ini dikarenakan manuskrip-manuskrip Al-Qur’an tersebut banyak disimpan di beberapa perpustakaan Barat. Salah satu pelopor muslim yang melakukan penelitian secara mendalam terhadap manuskrip Al-Qur’an adalah Tayyar Altikulac.

Biografi Intelektualitas Tayyar Altikulac

Filolog muslim yang memiliki nama lengkap Tayyar Altikulac, lahir pada tahun 1938 di daerah Devrekani, Turki. Semenjak kecil ia telah mendapatkan pendidikan keagamaan dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilanya menghafalkan Al-Qur’an di usia yang masih anak-anak yaitu sembilan tahun. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah dasar yang ada di Devrekani. Kemudian menempuh pendidikan menengah pertama dan menengah atas di Istanbul.

Tidak berhenti disitu, Altikulac melanjukan studi sarjana di Istanbul High Islam Institute dan lulus pada tahun 1963. Selanjutnya, ia meneruskan studi di Universitas Baghdad dengan mengambil spesialisasi pada bidang bahasa dan sastra Arab. Masih di kampus yang sama, ia menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang tafsir. Puncaknya, Altikulac diangkat menjadi guru besar di Universitas Azerbaijan, sehingga berhak menyandang gelar Profesor.


Baca Juga: Empat Mushaf Kuno Koleksi Museum Ronggowarsito, Bagamaina Bentuknya?


Dalam dunia akademis, Tayyar Altikulac aktif mengajar dan menjadi direktur di Imam Hatip High School, Istanbul (1963-1965). Ia juga menjadi dosen di beberapa kampus, seperti Keyseri Institute dan Marmara University. Selain itu, Altikulac juga ikut serta berperan aktif dalam pengembangan kajian akademik di Turki sebagai seorang peneliti. Beberapa lembaga ilmiah yang dikembangkan oleh Tayyar Altikulac adalah Turkiye Diyanet Foundation, Islam Arastirmalari Merkezi (ISAM), dan TDV Encyclopedia of Islam, dimana ia menulis dan meninjau lebih dari 1.500 entri.

Tidak hanya dalam dunia akademis, Altikulac juga merambah dunia pemerintahan. Beberapa jabatan yang ia peroleh antara lain adalah wakil presiden Direktorat Urusan Keagamaan Turki (1971-1976), Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan Agama (1976-1977), anggota Dewan Departemen Pendidikan (1977-1978), dan Presiden Direktorat Urusan Keagamaan Turki (1978-1986). Aktivitas politik lain yang dijalani oleh Altikulac adalah menjabat sebagai presiden Komite Pendidikan Nasional, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga di parlemen Turki selama dua periode (1995-2002). Selain itu, ia juga termasuk di antara pendiri Adalet ve Kalkinma, yaitu sebuah partai politik di Turki.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul Tayyar Altikulac and His Contribution to Qur’anic Manuscript Studies karya Ahmed Shaker, dijelaskan bahwa awal mula ketertarikan Altikulac terhadap studi manuskrip kuno Al-Qur’an dimulai pada akhir tahun 1960-an. Pada saat itu, ia terpesona terhadap informasi yang terdapat pada salinan kuno Al-Qur’an yang ditunjukkan oleh dua penulis, yaitu Muhammad ‘Abd al-Azim az-Zurqani (ulama Al-Azhar), dan Muhammad Hamidullah (sarjana Hyderabadi).

Tayyar Altikulac dalam salah satu kegiatannya
Tayyar Altikulac dalam salah satu kegiatannya

Ketertarikanya terhadap dua hasil kajian manuskrip tersebut, membuat Altikulac semangat untuk melakukan penelitian terhadap manuskrip Al-Qur’an. Buktinya, selama musim panas tahun 1969, ia pergi menuju ke Kairo untuk merealisasikan keinginanya tersebut. Sayangnya, karena kurangnya kerja sama secara resmi sekaligus minimnya pengalaman, pada saat itu ia tidak berhasil. Namun, kegagalan tersebut tidak menyurutkan minatnya untuk mengkaji manuskrip Al-Qur’an. Empat dekade kemudian, ia telah meneliti, memeriksa dan melakukan digitalisasi secara langsung terhadap naskah-naskah manuskrip Al-Qur’an.


Baca Juga: Bukan Hanya Pintu Bledeg Ki Ageng Selo, Mushaf Kuno di Museum Masjid Agung Demak Ini Juga Menawan


Pengalamannya dalam mengkaji naskah-naskah manuskrip Al-Qur’an ia ceritakan dalam suatu karya tulisnya yaitu al-Masahif al-Mansubah ila Utsman wa Ali. Dalam karya tersebut diceritakan bahwa ia menemui sebuah naskah manuskrip yang memiliki berat hingga mencapai 80 kg. Hal ini dikarenakan manuskrip tersebut terbuat dari kulit rusa. Berbagai pengalaman dan pemahaman yang ia dapatkan selama menggeluti manuskrip tersebut menjadi modal dasar bagi Altikulac untuk berkontribusi terhadap penelitian manuskrip Al-Qur’an dalam skala yang lebih luas.

karya Tayyar Altikulac
karya Tayyar Altikulac

Kotribusinya Terhadap Kajian Manuskrip Al-Qur’an

Pada permulaan abad ke-21, lembaga penelitian Research Centre for Islamic History, Art and Culture (IRCICA) mulai menggalakkan proyek pengumpulan naskah Al-Qur’an kuno. Pada tahun 2002, IRCICA menerbitkan naskah Al-Qur’an yang berasal dari tahun 1186 M. Naskah tersebut kemudian dikenal dengan nama Mushaf Fadil Basha yang disimpan di Sarajevo. Kemudian pada tahun 2005, IRCICA kembali mempublikasikan naskah Al-Qur’an yang dibuat pada tahun 1803 M. Salinan naskah tesebut dikenal dengan nama Mushaf Qazan yang diyakini sebagai Al-Qur’an cetak pertama di dunia Islam.

Mulai pada tahun 2007, IRCICA mulai menfokuskan untuk mengkaji manuskrip Al-Qur’an yang banyak dikaitkan dengan era awal Islam yaitu masa sahabat Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Dalam proyek ini, Tayyar Altikulac ditugaskan untuk naskah kuno tersebut untuk kepentingan publikasi akademis. Sehingga dalam proses pengkajianya dibutuhkan pendahuluan, komentar, anotasi, dan transkripsi komprehensif dari folio Al-Qur’an untuk ditempatkan berdampingan dengan gambar naskah yang direproduksi.

Mushaf Al-Quran kuno yang sedang diteliti Altikulac
Mushaf Al-Quran kuno yang sedang diteliti Altikulac

Selama proses penelitian tersebut, Tayyar Altikulac telah menerbitkan kajian manuskrip Al-Qur’an dalam bentuk akademis dengan berbagai catatan tambahan. Beberapa naskah mansukrip yang telah dipublikasikan adalah (1) Manuskrip Al-Qur’an yang tersimpan di Museum Istana Topkapi, Turki (ISAM, 2007); (2) Manuskrip Al-Qur’an yang tersimpan di al-Masyhad al-Husaini, Kairo (IRCICA, 2009); (3) Manuskrip Al-Qur’an San’a (IRCICA, 2011); (4) Manuskrip Al-Qur’an yang tersimpan di Museum Seni Islam, Kairo (IRCICA, 2014); (5) Manuskrip Al-Qur’an dari Bibliotheque Nationale de France (IRCICA, 2015); (6) Manuskrip Al-Qur’an dari Universitats Bibliothek Tubingen (IRCICA, 2016).


Baca Juga: Keunikan Mushaf Pangeran Diponegoro; Iluminasi yang Mewah hingga Tanda Tajwid yang Lengkap


Secara ringkas, inti hasil penelitian Tayyar Altikulac terhadap beberapa naskah manuskrip Al-Qur’an tersebut dapat dijelaskan dalam beberapa poin berikut:

  1. Hampir semua naskah kuno yang telah ditemukan dan dikaji oleh Tayyar Altikulac berasal dari salinan Al-Qur’an kuno pada paruh kedua abad ke-1 atau paruh pertama abad ke-2 hijriyah (yaitu periode Umayyah: 661-750 M)
  2. Dalam istilah rasm atau ortografi, antar satu manuskrip mushaf dengan manuskrip mushaf lainya memiliki keterkaitan. Seperti mushaf yang tersimpan di Topkapi dan San’a berkaitan dengan mushaf yang ada di Madinah. Karena semua naskah tersebut disalin dari mushaf utsmani secara langsung ataupun disalin dari salinan mushaf tersebut.
  3. Semua naskah tersebut ditranskripkan oleh juru tulis yang berbeda-beda.
  4. Tidak terdapat kesamaan antara satu naskah dengan naskah yang lain, baik dalam hal dimensi, jumlah folio dan garis, serta ciri-ciri kodikologis.
  5. Tidak ada perbedaan terkait susunan ayat dan urutan surah dalam naskah-naskah kuno yang telah diteliti tersebut. Namun demikian, Altikulac menemukan beberapa kesalahan dalam penulisan rasm

Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa peran Tayyar Altikulac dalam perkembangan kajian manuskrip Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, Ahmad Shaker menyebut Altikulac sebagai orang pertama yang melakukan penelitian dan pembacaan secara penuh terhadap naskah-naskah manuskrip Al-Qur’an yang ada di Turki. Wallahu A’lam

Amaliyah Ayat-Ayat Al-Quran Untuk Mengobati Penyakit Demam

0
Penyakit Demam
Ayat Al-Quran untuk Penyakit Demam

Penyakit demam adalah kondisi di mana suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 38 derajat Celcius. Demam biasa menjadi penanda adanya suatu penyakit atau kondisi tertentu di dalam tubuh. Demam umumnya terjadi sebagai reaksi dari sistem imun dalam melawan infeksi virus, bakteri, jamur atau parasit penyebab penyakit.

Selain diakibatkan oleh penyakit tertentu atau infeksi virus dan bakteri, ada beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami penyakit demam, seperti paparan cuaca ekstrem, suhu panas, siklus menstruasi, reaksi pasca pemberian imunisasi pada anak, dan efek samping dari obat-obatan yang digunakan.

Meskipun terkadang mengkhawatirkan, sebagian besar penyakit demam yang disebabkan oleh infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya. Namun, jika demam sudah mencapai suhu lebih dari 39 derajat Celcius, maka diperlukan penanganan khusus untuk mengobati penyakit demam dan mengatasi ketidaknyamanan akibatnya.

Menurut alodokter.com, untuk mengobati penyakit demam seseorang harus memberikan obat sesuai penyebab demam itu sendiri. Apabila demam disebabkan oleh infeksi, maka sebaiknya seseorang diberikan obat untuk mengatasi infeksi tersebut, seperti obat antibiotik, antivirus, anti jamur, dan obat-obatan lainnya yang direkomendasikan dokter.

Baca Juga: Al-Quran adalah Obat Bagi Penyakit Rohani: Tafsir Surat Al-Isra Ayat 82

Sedangkan penyakit demam biasa yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, dapat diatasi dengan beristirahat, minum air putih yang cukup, dan mengkonsumsi obat penurun demam, seperti paracetamol. Dengan demikian, untuk mengobati penyakit demam yang tinggi, sebaiknya seseorang terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter agar dapat ditangani dengan tepat.

Bacaan Rukyah Untuk Penyakit Demam

Selain melalui pengobatan medis, seseorang juga bisa – sebagai usaha tambahan – mengobati penyakit demam lewat rukyah syariyyah atau bacaan Al-Qur’an.  Imam al-Ghazali menyebutkan dalam kitab adz-Dzahabul Ibris bahwa ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai sarana mengobati penyakit demam atau dalam istilah kedokteran disebut Febris.

Ayat yang bisa digunakan untuk mengobati penyakit demam adalah QS. Al-Fatihah [1] ayat 1, QS. An-Nisa’ [4]: ayat 28, QS. Al-Anfal [8] ayat 66. QS. Al-Baqarah [2] ayat 178, QS. Ad-Dukhan [44] ayat 12, dan QS. Al-An’am [6] ayat 17. Ayat-ayat tersebut dibaca berturut-turut dengan penuh keyakinan bahwa Allah Swt akan menyembuhkan penyakit melalui washilah atau perantara ayat ini.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا ٢٨

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”

…اَلْـٰٔنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًاۗ

“Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu….”

ذٰلِكَ تَخْفِيْفٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗفَمَنِ اعْتَدٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٧٨ …

“….Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barangsiapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih.

رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ اِنَّا مُؤْمِنُوْنَ ١٢

“(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman.”

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١٧

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Amaliyah ini didapatkan imam al-Ghazali dari imam Hasan al-Bashri. Beliau berkata. “Saya menulis lembaran berisi potongan ayat di atas, lalu aku letakkan pada orang yang sakit panas, maka dengan izin Allah Swt ia sembuh seperti sedia kala sebagaimana kuda lepas dari kekangan tali.”

Berdasarkan cerita tersebut, Imam al-Ghazali berkesimpulan bahwa QS. Al-Fatihah [1] ayat 1, QS. An-Nisa’ [4]: ayat 28, QS. Al-Anfal [8] ayat 66. QS. Al-Baqarah [2] ayat 178, QS. Ad-Dukhan [44] ayat 12, dan QS. Al-An’am [6] ayat 17 dapat digunakan sebagai sarana mengobati penyakit demam. Amaliyah ini tentunya harus dilandasi dengan keimanan dan keyakinan yang kuat kepada Allah Swt. Karena itu semua dapat memberikan dampak positif bagi tubuh manusia.

Baca Juga: Baca Ayat Ini Untuk Mencegah dan Menyembuhkan Penyakit Stroke

Sebaiknya amaliyah ini dibarengi dengan usaha atau ikhtiyar melalui pengobatan medis. Karena bisa jadi beberapa penyakit demam memang harus disembuhkan melalui pengobatan medis sebagai salah satu sunatullah yang harus dipatuhi manusia. Selain itu, sebelum merasakan sakit – baik sakit jasmani atau mental – seseorang sebaiknya menjaga kesehatannya, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

Terakhir, ayat Al-Qur’an tersebut hanya berfungsi sebagai washilah kesembuhan, sedangkan yang memberi kesembuhan hanyalah Allah Swt. Oleh karena itu, berdoalah dan mengharap kepada-Nya secara sungguh-sungguh tanpa keraguan. Adapun jikalau penyakit tidak sembuh pasca berdoa, maka bersabarlah dan terus berusaha, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Yakinlah bahwa Allah Maha Tahu dengan takdirmu. Wallahu a’lam

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 10-13

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah pada pembahasan yang lalu telah dikemukakan bahwa orang munafik itu menipu dirinya sendiri, dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 10-13 ini membicarakan tentang akibat yang akan mereka rasakan karena telah berpura-pura menjadi mukmin.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 8-9


Lebih lanjut Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 10-13 memperjelas bahwa akibat yang akan dirasakan orang munafik adalah penyakit jiwa. Sakit tersebut membuat jiwa mereka tidak tenang, selalu gelisah, dipenuhi iri-dengki. Dan penyakit itu semakin parah seiring kebenaran Nabi Muhammad saw sedikit demi sedikit terungkap dan memperoleh banyak kemenangan.

Dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 10 13 juga dipaparkan sifat angkuh orang-orang munafik tersebut. Jika mereka diberi nasihat mereka menolak dan berbargument bahwa yang mereka lakukan merupakan sebuah rekonsiliasi antara mereka dan orang-orang mukmin. Padahal tidak demikian adanya. Allah jelas-jelas membantah hal tersebut.

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 10 13 ini diakhiri dengan sifat orang munafik yang menganggap bahwa orang-orang mukmin adalah orang-orang yang kurang akal dan bodoh. Karena mereka menganggap tindakan orang-orang mukmin ketika hijrah merupakan sesuatu yang konyol. Namun lagi-lagi Allah swt membantah hal tersebut.

Ayat 10

Pada ayat ini diterangkan keburukan dusta atau sikap berpura-pura dan akibat-akibatnya. Dendam, iri hati dan ragu-ragu termasuk penyakit jiwa. Penyakit ini akan bertambah parah, bilamana disertai dengan perbuatan nyata. Misalnya rasa sedih pada seseorang akan bertambah dalam, apabila disertainya dengan perbuatan nyata, seperti menangis, meronta-ronta dan sebagainya.

Penyakit-penyakit dengki demikian itu terdapat dalam jiwa orang-orang munafik. Oleh karena itu mereka memusuhi Allah dan Rasul-Nya, menipu dengan sikap pura-pura dan berusaha mencelakakan Rasul dan umatnya. Kemudian penyakit itu bertambah-tambah setelah melihat kemenangan-kemenangan Rasul. Setiap kali Rasul memperoleh kemenangan, bertambah pulalah penyakit mereka.

Terutama sekali penyakit bimbang dan ragu-ragu, menimbulkan ketegangan jiwa yang sangat pada orang-orang munafik. Akal pikiran mereka bertambah lemah untuk menanggapi kebenaran agama dan memahaminya, bahkan pancaindra mereka tidak mampu menangkap obyek dengan benar, seperti yang diungkapkan Allah dengan firman-Nya:

  لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ  ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (al-A’raf/7: 179)

Bukti-bukti telah nyata, cahaya kebenaran yang terang benderang juga jelas bagi mereka, namun mereka enggan menerimanya, bahkan mereka tambah erat berpegang kepada pendiriannya yang lama. Cahaya terang menjadi gelap di mata mereka dan menjadi penyakit di hati mereka.

Hati mereka bertambah susah disebabkan lenyapnya kepemimpinan mereka. Iri dan dengki tambah mendalam karena menyaksikan kukuhnya Islam dari hari ke hari. Akibat pendustaan mereka, yaitu mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir dan tipu daya mereka terhadap Allah, mereka akan menderita azab yang pedih.

Dalam ayat ini dan ayat-ayat berikutnya, Allah menerangkan sebagian dari sifat-sifat orang munafik yang melakukan tindakan-tindakan yang merusak, antara lain membantu orang-orang kafir (musuh-musuh Islam) dengan membukakan rahasia kaum Muslimin, mendorong orang-orang kafir segera menghancurkan kaum Muslimin, mengadakan perjanjian kerja sama dengan lawan-lawan Islam, menimbulkan pertentangan-pertentangan dalam masyarakat, menghasut orang-orang Islam agar meninggalkan Nabi saw dan lain sebagainya.

Firman Allah:

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan. (al-Baqarah/2: 205)


Baca juga: Michael Sells: Mengenalkan Aspek Aural dan Skriptural Sebagai Pendekatan Terhadap Al-Qur’an


Ayat 11

Bila mereka dinasihati agar meninggalkan perbuatan yang menimbulkan kerusakan di bumi, mereka selalu membuat dalih dan alasan dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya berusaha mengadakan perbaikan. Mereka bahkan menganggap apa yang mereka kerjakan sebagai usaha untuk kebaikan orang-orang Islam dan untuk menciptakan perdamaian antara kaum Muslimin dengan golongan lainnya. Mereka mengatakan bahwa tindakan-tindakan mereka yang merusak itu sebagai suatu usaha perbaikan untuk menipu kaum Muslimin.

Ayat 12

Pada ayat ini Allah membantah pernyataan orang munafik bahwa mereka mengadakan perbaikan, tetapi mereka betul-betul membuat kerusakan di bumi. Sebenarnya mereka adalah kaum perusak, tetapi mereka tidak menyadari kerusakan yang telah mereka lakukan karena setan membuat mereka memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Ayat 13

Ayat ini melanjutkan keterangan sifat dan sikap orang munafik pada ayat yang dahulu. Kaum munafik itu bila diajak beriman, melaksanakan amar makruf, dan nahi mungkar, mereka menolak dengan alasan bahwa orang-orang yang beriman itu orang-orang yang lemah akalnya, padahal kenyataannya tidak demikian.

Orang-orang munafik memandang orang-orang yang beriman itu bodoh dan lemah akal, seperti terhadap orang Muhajirin yang meninggalkan keluarga dan kampung halaman, bahkan mereka bermusuhan terhadap keluarga-keluarga mereka sendiri dan hamba sahaya seperti Suhaib, Bilal, dan Khabbab. Orang-orang Ansar dipandang mereka juga bodoh karena mereka membagikan harta dan kekayaan mereka kepada orang muhajirin.

Allah menandaskan bahwa merekalah sebenarnya orang-orang yang lemah akalnya, karena mereka tidak menggunakan akal untuk menanggapi kebenaran dan mereka terpengaruh oleh kedudukan mereka dalam kaumnya. Mereka tidak mengetahui iman dan hakikatnya, karenanya mereka tidak mengetahui pula apakah orang-orang mukmin itu bodoh-bodoh atau pintar-pintar.

Iman itu tidak akan sempurna diperoleh kecuali dengan ilmu yang yakin. Demikian pula kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai tujuan dari iman itu tidaklah dapat dimengerti kecuali oleh orang yang mengetahui hakikat iman.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat  14-18


(Tafsir Kemenag)

Pendekatan Maqashid dalam Penafsiran Al-Quran, Prof. Mustaqim: Tafsir itu Tidak Hanya On Paper

0
serial diskusi tafsir #03: pendekatan maqashid
serial diskusi tafsir #03: pendekatan maqashid

tafsiralquran.id- Sabtu (24/10) Bersama CRIS (Center Research for Islamic Studies) Foundation, tafsiralquran.id untuk ketiga kalinya menyelenggarakan serial diskusi tafsir. Kali ini mengambil tema ‘Pendekatan Maqashid dalam Tafsir: Upaya Menampilkan Tafsir Al-Quran yang Aktual, Kontekstual dan Moderat’. Sebagai nara sumber dalam diskusi kali ini yaitu dua pendekar maqashid, Prof. Abdul Mustaqim (Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga) dan Dr. Ulya Fikriyati (Dosen Ilmu Al-Quran dan Tafsir INSTIK Annuqayah). Keduanya memang sedang serius meneliti seputar pendekatan maqashid dalam tafsir.

Pak Mustaqim dan Bu Ulya, panggilan akrab keduanya, sepakat mengatakan bahwa pendekatan maqashid dalam tafsir itu dinilai dapat menampilkan dinamisasi tafsir. Dengan menggunakan Maqashid sebagai pedoman, teks Al-Quran lebih terbuka untuk berdialog baik dengan sesama teks Al-Quran terlebih dengan realita sosial di sekitarnya.

‘Tafsir itu bukan sekedar memahami (mujarrad fahm al-ayat), tetapi tafsir juga berupaya untuk merubah keadaan untuk menjadi lebih baik. tafsir itu bukan hanya diukur on paper, tetapi juga diukur dalam realita kehidupan. Dan ini juga berangkat dari fungsi kehadiran Al-Quran.’ Pak Mustaqim memberi catatan

Dialog antara teks dan realita ini diperlukan karena teks Al-Quran itu sudah final, tetap, tidak berubah sementara realita sosial di sekitarnya terus dan senantiasa berubah. ‘an-nusus mutanahiyah, wa hawadits al-ibad ghayr mutanahiyah’ Bu Ulya mengutip istilah dari ulama.

Dialog teks Al-Quran dengan realita sosial ini diperjelas oleh beliau berdua dengan masing-masing contoh penafsirannya. Bu Ulya mendialogkan Al-Quran surat At-Taubah ayat 36 tentang perintah memerangi orang-orang musyrik. Dengan pendekatan maqashid ia berpendapat bahwa tujuan utama ayat tersebut bukan perintah untuk membunuh orang musyrik, melainkan perintah untuk menegakkan keadilan, yang dulunya orang-orang Islam dibunuh, diperlakukan tidak baik, boleh kemudian membalasnya dengan hal yang serupa. Jadi untuk konteks Indonesia, orang Islam tidak dibenarkan melakukan tindak kekerasan terhadap non muslim yang hidup berdampingan dengan damai, dengan berdalil pada ayat tersebut.


Baca Juga: Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [1]: Mempertahankan Agama Tidak Selalu Harus dengan Kekerasan


Demikian pula dengan prof. Mustaqim, beliau mengambil contoh penafsiran ayat tentang hukuman bagi pencuri dengan praktik Umar bin Khattab yang tidak memotong tangan pencuri, karena kondisi pada saat itu dinilai tidak tepat, lebih memprioritaskan menjaga jiwa daripada menjaga harta.

Dinamika Perkembangan Pendekatan Maqashid dalam Penafsiran Al-Quran

Keduanya dengan saling melengkapi menyampaikan dinamika perkembangan Maqashid Al-Quran atau Tafsir Maqashidi dalam dunia penafsiran Al-Quran.

Bu Ulya membagi sejarah perkembangan maqashid Al-Quran ini menjadi empat fase berdasar pada karya atau literatur yang  ada.

  1. Fase Nukleus, maqashid Al-Quran masih sederhana, menjadi bagian dari pembahasan bidang lain dan bersifat sporadis. Fase ini ditemukan dalam Jawahir Al-Quran karya Abu Hamid Al-Ghazali
  2. Fase Aplikatif pre-teoritisasi. Pada fase ini maqashid Al-Quran sudah mulai diaplikasikan dalam pembacaan teks Al-Quran, namun belum dibakukan dalam konsep keilmuan sendiri. Misal dapat ditemukan dalam Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Manar dan Fath Al-Bayan fi Maqashid Al-Quran
  3. Fase Formatif Konseptual. Maqashid Al-Quran mulai dirumuskan konsep keilmuannya, dibakukan sebagai alat dinamisasi tafsir, memberikan paradigma baru dalam melihat teks Al-Quran. Fase ini dapat dilihat di karya Taha Jabir Al-Alwani, Hannan Lahham, Abdul Karim Al-Hamidi dan lainnya
  4. Fase Transformatif Kontekstual. Maqashid Al-Quran mulai disebut secara eksplisit, menjadi acuan dan rambu dalam menafsirkan Al-Quran, mulai dilakukan reformasi pemaknaan teks-teks Al-Quran. Hal ini bisa dilihat antara lain dalam Tafsir Ibnu Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir, Hannan Lahham dalam Tafsir surat At-Taubah, dan Taha Jabir al-‘Alwani dalam Tafsir surat Al-An’am.

Baca Juga: Mengenal 8 Maqasid Al Quran  Versi Ibnu ‘Asyur


Melengkapi klasifikasi dari Dr. Ulya, Prof. Mustaqim menyampaikan dinamika perkembangan pendekatan maqashid berdasar pada praktik penafsiran Al-Quran sejak masa Nabi.

  1. Dinamika perkembangan tafsir maqashidi itu sudah dimulai bersamaan dengan turunnya Al-Quran itu sendiri, makanya kemudian disebut practical maqashidi (maqashid yang dipraktikkan) dan ini sudah ada sejak zaman Nabi, sahabat hingga tabiin. Seperti pada tuntunan shalat. Nabi tidak hanya mengajarkan bagaimana tata cara shalat, tetapi juga mengajari tentang salah satu maqashid shalat yaitu ketenangan. Begitu juga ibadah haji. Maqashidul haj itu antara lain transformasi sosial (melalui hadis) misal Thib al-kalam (ucapannya bagus), tidak mengeluarkan narasi-narasi kebencian, ith’am at-tha’am (dermawan), ifsya’ as-salam (menebar kedamaian)
  2. Quasi theorytical maqashidi rintisan awal teori maqashid, mulai dirintis oleh para atba’ tabiin dan imam mujtahid dalam rangka tahqiqul maslahah wa dar’u al-mafasid. Misal berbentuk produk qiyas, maslahah mursalah, dan istihsan.
  3. Theorytical maqashid, sudah berbentuk teori yang mulai dibangun oleh para ulama sekitar abad ke-5 hingga abad ke-8
  4. Philosophycal and critical maqashid. Maqashid sebagai filsafat tafsir mempunyai dua fungsi: pertama sebagai kritik terhadap produk tafsir yg belum menguak aspek atau dimensi maqashidiyah. kedua yaitu mengembangkan, tathwir at-tafsir agar tafsir di era modern dan kontemporer ini bisa lebih mengacu pada nuansa yang lebih maqashidiyah, kemaslahatan lebih bisa direalisasikan dan mafsadah lebih bisa dihindari, juga lebih solutif pada problem sosial keagamaan dan model-model pemahamannya pun akan lebih kontekstual.

Baca Juga: Pentingnya Memahami Esensi Islam Sebagai Agama dan Pengaruhnya Bagi Penafsiran Menurut Prof. Quraish Shihab


Lebih lanjut, Prof. Mustaqim juga menyinggung tentang lima nilai fundamental Al-Quran (Qur’anic fundamental value atau al-Qiyam al-Asasiyah al-Qur’aniyah) dalam rangka memperkuat basis tafsir maqashidi

Pertama, al-‘Adalah (nilai-nilai keadilan), termasuk tauhid. Tauhid itu memperlakukan Tuhan degan adil. Maka ketika berlaku syirik (menyekutukan Tuhan) Al-Quran mengistilahkannya dengan dhalim. Kedua, insaniyah atau humanity (nilai-nilai kemanusiaan). Ketiga, al-musawah (kesetaraan), terutama ayat-ayat yang berkaitan dengan gender.

Keempat, al-wasathiyah (moderasi), karena salah satu makna maqashid sendiri adalah wasathiy (tengah-tengah), antara al-ittijah al-harfi an-nasshiy (penafsiran yang cenderung tekstual) dan al-ittijah al-liberally at-tafshily (penafsiran yang terlalu jauh dari teks). Pendekatan maqashid ada di kelompok yang ketiga yaitu al-ittijah al-maqashidiy as-siyaqi (penafsiran yang mengakomodir teks dan tujuan ayat). Sedang value yang kelima yaitu al-hurriyah wa al-mas’uliyah (nilai kebebasan dan tanggung jawab).

Berpedoman pada lima nilai ini, maqashid Al-Quran diharapkan mampu menampilkan tafsir Al-Quran yang tidak hanya aktual dan kontekstual, tetapi juga solutif atas permasalahan sosial. Semoga bermanfaat!

Sampai jumpa lagi di Serial-Serial Diskusi Tafsir berikutnya.

Mengenal lebih dekat Ilmu Tajwid dan Asal-Usulnya Menurut Para Ulama

0
Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid

Salah satu cabang keilmuan yang sangat penting dalam membaca al-Qur’an adalah ilmu Tajwid. Menurut al-Jazari, tajwid berarti membaca al-Qur’an dengan sempurna (sesuai kaidahnya), baik dari sisi makharijul huruf, shifatul huruf, dan hukum-hukumnya.

Makharijul huruf adalah kaidah tentang tempat keluarnya bacaan dari anggota tubuh manusia, misalnya huruf Qaf tempat keluarnya dari tenggorokan. Shifatul huruf adalah sifat yang selalu melekat pada setiap huruf, contohnya pada huruf Sin bersifat Hams (mengandung desasan). Sedangkan, hukum-hukum Tajwid terdiri dari berbagai macam, seperti panjang setiap bacaan (mad), ketebalan atau ketipisan bacaan huruf, contohnya dalam huruf ra’.

Kaidah-kaidah diatas, menurut al-Jazari bertujuan untuk membaca al-Qur’an sesuai tempatnya, tidak berlebihan dan tidak sesuai kehendak sendiri.

Jika mempelajari ilmu Tajwid, kurang pas rasanya tanpa menyinggung ilmu Qiraat, karena keduanya memiliki keterkaitan. Sehingga, penulis akan sedikit menyinggung perbedaannya supaya lebih fokus pembahasannya.

Ilmu Tajwid dan ilmu Qiraat sama-sama membahas tentang bacaan al-Qur’an, namun memiliki perbedaan substansial. Ilmu Qiraat membahas al-Qur’an dari segi (berbagai) ragam bacaannya dengan riwayat langsung dari Rasulullah dan bertujuan menjaga orisinalitas bacaan al-Qur’an.

Ragam bacaan al-Qur’an yang masyhur adalah Qira’at as-Sab’ah atau Qira’at tujuh. Salah satunya adalah Qiraat Imam ‘Ashim riwayat Hafs yang dipakai mayoritas umat muslim di Asia Tenggara.

Baca Juga: Qiraat dan Tajwid, Apakah Kita Perlu Belajar Semuanya?

Sedangkan, ilmu Tajwid membahas bacaan al-Qur’an dari segi kejelasan lafadz, tempat keluarnya huruf, dan bertujuan untuk menghindari kesalahan dalam membaca al-Qur’an (yang berbahasa Arab), khususnya bagi umat muslim non-Arab.

Belakangan ini, sudah terdapat berbagai macam metode dalam membaca al-Qur’an. Metode tersebut pada dasarnya berasal dari para imam Qiraat dengan sanad yang menyambung hingga Rasulullah SAW.

Sejarah dan Asal-Usul Ilmu Tajwid

Pada saat pertama kali al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, proses penyampaian al-Qur’an dilakukan secara langsung oleh Nabi Saw kepada para sahabat. Dalam proses tersebut, sekaligus terdapat transfer kaidah bacaan al-Qur’an (yang sekarang dikenal dengan ilmu Tajwid).

Namun, karena pada saat itu wilayah Islam baru berada di Jazirah Arab, dan penduduknya mafhum dengan bacaan al-Qur’an (yang berbahasa Arab), belum terdapat dorongan untuk membuat ilmu tentang kaidah membaca al-Qur’an. Sampai saat Islam tersebar ke daerah di luar Arab, diusulkan untuk menyusunnya supaya tidak terjadi kesalahan pembacaan al-Qur’an.

Menurut Abu Ya’la, sebagimana dikutip oleh Ahmad Hanifuddin dan Rustom Nawawi, sebagian ulama qurra berpendapat bahwa pertama kali dimulai penyusunan ilmu Tajwid oleh Abu Aswad ad-Duali, seorang tabiin yang membuat harakat dan tanda waqaf pada al-Qur’an.

Pendapat yang lain mengatakan Abu Muzahim Musa bin Ubaidillah al-Khaqani sebagai penyusun ilmu Tajwid pertama dengan karyanya, al-Qashidah al-Khaqaniyah. Pendapat ini dikuatkan oleh Abu amr ad-Dani yang juga menulis karya tentang ilmu Tajwid setelahnya, dengan judul Syarh Qashidah Abu Hazim al-Khaqaniyah dan at-Tahdid fi al-Itqan wa at-Tajwid.

Setelah al-Qashidah al-Khaqaniyah, muncul berbagai karya dari ulama Qiraat. Karya tersebut tentang ilmu Qiraat itu sendiri yang di dalamnya membahas tentang ilmu Tajwid, ataupun khusus membahas tentang ilmu Tajwid.

Beberapa karya yang masyhur di antaranya adalah Matn Al-Jazariyah dan Matn As-Syatibiyah. Kedua karya ini membahas tentang cara membaca al-Qur’an menurut Imam ‘Ashim Riwayat Hafs. Dari kedua karya ini juga muncullah berbagai karya tentang ilmu Tajwid dan metode membaca al-Qur’an di Indonesia yang kemudian dikenal dengan thariq (madzhab) As-Syatibiyyah dan thariq Al-Jazariyah.

Baca Juga: Inilah Keutamaan Membaca Al-Quran dengan Tartil

Mayoritasnya menggunakan Matan as-Syatibiyah karena kemudahan membacanya, walaupun Matn al-Jazariyah juga tetap digunakan. Perbedaan keduanya secara umum adalah pada panjang bacaaan mad, sifat huruf dan beberapa kalimat gharib dalam al-Qur’an.

Seperti pada Mad Wajib muttashil, thariq as-Syatibiyah dibaca 4 harakat baik ketika dibaca waqaf ataupun di washal. Sedangkan, thariq al-Jazariyah membacanya 4 atau 5 harakat ketika washal, dan 6 harakat saat dibaca waqaf. Dari kedua thoriq ini kemudian muncullah kitab-kitab Tajwid seperti Hidayatu as-Shibyan dan Tuhfatu al-Athfal. Wallahu A’lam.

Karel A. Steenbrink, Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Belanda

0
steenbrink
karel a steenbrink (komisihakkwi)

Penelitian kisah Al-Quran telah banyak dilakukan baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim. Orientalis mengkaji Al-Quran khususnya, kisah Al-Quran yang juga terdapat pada Bibel/Alkitab, seperti kisah-kisah nabi terdahulu. Salah satu orientalis yang mengkaji Al-Quran adalah Karel Adriaan Steenbrink, peneliti asal Belanda. Ia banyak mengkaji Al-Quran, seperti kisah Isa atau Yesus dalam Al-Quran.

Profil Karel A. Steenbrink

Karel A. Steenbrink lahir pada tanggal 16 Januari 1942 di kota Breda, Belanda. Ia lahir di tengah-tengah keluarga katolik yang sangat taat. Ia adalah anak kesepuluh dari 12 bersaudara. Sebuah keluarga besar yang setiap hari melayani gereja, mengajar di sekolah dasar katolik, menulis di koran katolik, dan berkecimpung dalam partai politik katolik dan serikat pekerja denominasi sampai pada pertengahan tahun 1960-an.

Keluarga besar ini sejalan dengan sikap Gereja Katolik dan Konsili Vatikan pada tahun 1960-an yang mulai mementingkan pendapat pribadi khalayak umum dibanding dengan menaati hukum doktrin gereja yang cenderung mengatur dan membatasi reproduksi manusia, di samping kebahagiaan pribadi pula, Ia lahir di tengah-tengah Perang Dunia II, atau lebih tepatnya menjelang masa penjajahan bangsa Jepang di Indonesia.

Di tengah-tengah keluarga tersebut, ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang pluralis, seperti yang ia dapati dalam sikap ayah dan ibunya yang berbeda dan tak segan bertentangan. Ayahnya yang seorang ritualis sangat berpegang teguh pada peraturan yang diberikan dari atasan, layaknya kebaktial formal seperti Misa Kudus setiap pagi di Gereja Paroki.

Sedangkan ibunya jarang pergi beribadat ke gereja kecuali hari Minggu. Ibunya lebih cenderung melakukan ibadah individual. Ketika pulang dari pasar, ia menyempatkan diri untuk membakar lilin di Gereja Katedral di depan patung Maria yang dilanjutkan dengan duduk hening beberapa saat. Bagi ibunya, menemani semua anaknya sarapan, duduk, ngobrol, dan minum teh bersama jauh lebih penting dari pada harus setiap pagi pergi ke gereja.

Baca juga: Robert of Ketton dan Dinamika Penerjemahan Al-Quran, Menjawab Kesimpulan Keliru Soal Kontribusi Orientalis dalam Studi Al-Quran

Sementara itu, ayahnya tidak terlalu suka pada patung dan membakar lilin di depannya. Apalagi sampai harus berziarah yang disertai piknik dan rekreasi. Ia mengannggap hal tersebut terlalu mencampuri urusan keseriusan ibadah dengan hanya bertujuan rekreasi belaka. Namun begitu, keluarganya masih tetap bisa hidup rukun dalam sebuah pernikahan yang bahagia sampai lebih dari 55 tahun dan tetap beragama Katolik sampai wafat.

Steenbrink termasuk seorang akademisi yang produktif menghasilkan karya. Beberapa di antaranya adalah: Pesantren Madrasah dan Sekolah, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia abad ke-19,  Kitab Suci atau Kertas Toilet?,  Kawan dalam Pertikaian, Adam Redivivus: Muslim Elaborations of the Adam Saga with Special, Reference to the Indonesian Literary Tradition  De Korte Hoofdstukken van de Koran, De Jesusverzen in de Koran  Javanese Stories of Jesus,  A History of Christianity in Indonesia,  Mencari Tuhan dalam Kacamata Barat,  Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern,  The Study of Comparative Religions by Indonesian Muslim,  Indonesia: Too Much Religion,  Otobiografi Seorang Islamolog Indonesia,  Low Religion Dialogue in the Netherlands, Catholics in Independent Indonesia, Catholics in Indonesia, Dan lain-lain

Pemikiran Karel Steenbrink Tentang Al-Quran

Pemikiran Karel Steenbrink yang paling menonjol terkait Al-Quran ialah bahwa Steenbrink menafsirkan ayat-ayat tentang Yesus dalam Al-Quran sesuai dengan urutan Al-Quran yang ada saat ini. Oleh karena itu, pengisahan Yesus dalam buku ini tidak berjalan sesuai dengan kronologis dari mulai kelahiran sampai kembali Yesus nanti ke dunia pada akhir zaman.

Maka dari itu di sini mencoba menjelaskan tentang gambaran Steenbrink tentang Yesus dalam Al-Quran.

Strengthened with the Holy Spirit (dikuatkan dengan Roh Suci) Q.S: al-Baqarah 87, 136, dan 253

Steenbrink menggambarkan Yesus disini sebagai seorang Nabi yang memiliki proving (bayyinat/bukti kebenaran) yang juga disebut dengan “sign” atau tanda (ayat). Selanjutnya, Steenbrink menerangkan bahwa penyebutan Ruh al-Quds (Roh Suci), Jibril (Gabriel) meniupkan sesuatu ke dalam mantel Maryam (Mary) yang kemudian ia pakai dan dari sanalah Maryam kemudian mengandung Yesus.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Pada ayat terakhir ini Isa atau Yesus dikatakan sebagai yang paling asketik, mistik, dan dekat dengan Tuhan dari pada nabi-nabi lain seperti Musa (Moses), Sulaiman (Solomon), dan Yusuf (Joseph) putra Ya’kub (Jacob)

Grandson of Imran (Anak Cucu Imran), Q.S: Ali Imran 35-63 dan 84

Kali Isa atau Yesus digambarkan sebagai contoh bagi Tuhan kepada manusia. Pertama-tama pada ayat ini dimulai dengan kejutan bagi Ibunda Maryam atau Istri Imran, Hannah binti Faqud yang mendapatkan anak perempuan yang secara normal tidak akan bisa melayani kuil mana pun, karena biasanya diisi oleh laki-laki.

Kemudian setelah itu diceritakan bahwa Maryam melihat penampakan malaikat, seperti yang ada pada Injil Lukas. Maryam seringkali berdoa dengan merenggangkan pergelangan kakinya, yakni berdoa dengan lutut yang menyebabkan kulitnya menebal karena seringnya berlutut. Ia juga menjelaskan bahwa Isa atau Yesus memiliki empat gelar teologi “Word (Firman)”, “Messiah” (al-Masih), “Held in Honour” (orang yang terkemukan), dan “close to God” (dekat dengan Tuhan). Isa juga dilahirkan melalui kekuatan Tuhan dan sabda-Nya tanpa campur tangan manusia.

A Servant as example (Hamba yang menjadi contoh), QS. Al-Zukhruf: 57-65

Dalam surah ini, Steenbrink mengemukakan bahwa Isa atau Yesus pada surah ini dipandang “hanyalah” seorang hamba terhormat. Ayat-ayat ini, menurut Steenbrink, merupakan pendukung kenabian Muhammad, karena perdebatan Muhammad dengan kaum Nasrani pada waktu itu. Selain itu, ayat ini berkenaan dengan konflik Muhammad dengan orang Makkah yang mengatakan: “Kenapa Tuhan-tuhan kami ditolak? Sedangkan engkau menggunakan Yesus sebagai perumpamaan? Dan kemudian Muhammad menjawab bahwa ia tidak menggambarkan Isa sebagai Tuhan atau rival Tuhan, atau Putra Tuhan, melainkan hanya sebagai seorang hamba yang telah diberi kenikmatan.

Selanjutnya, Steenbrink mengutip pendapat Hamka bahwa kelak Yesus akan turun ke bumi dengan cara khusus (dengan lahir dari seorang perawan), untuk menunjukkan keagungan dan kekuasaan Tuhan. Dalam hal ini, Yesus juga merupakan tanda yang baik untuk mendukung keyakinan akan adanya hari pembangkitan.

Pada ayat berikutnya, Steenbrink menjabarkan bahwa kata “البينات “berarti mukjizat yang Yesus tunjukkan. Sedangkan kata “الحكمة “berarti insight (wawasan) yang telah diberikan kepada Yesus. Banyak kaum orientalis khususnya Horovits berpendapat bahwa Kitab, Hikmah, Taurat/Torah, dan Injil/Gospel adalah empat buku yang ada dari mulai Ibrahim sampai Yesus. Kitab dan Hikmah seharusnya adalah wahyu yang turun sebelum Musa. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 70-72

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 70-72 ini menyambung pembahasan lalu yang berbicara mengenai perintah Allah swt agar Nabi Muhammad saw tidak berkumpul dengan orang kafir yang memperolok ayat Allah swt. namun dalam pembahasan kali ini lebih mempertegas lagi, yakni perintah untuk memutuskan hubungan dengan mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 68-69


Di samping itu dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 70-72 ini Nabi Muhammad saw dan orang-orang beriman juga diperintahkan untuk selalu mengingatkan mereka atas kebenaran ayat Allah swt dan juga terus menyebarkan risalah Nabi Muhammad saw. Karena hanya itu yang dapat menyelamatkan orang-orang kafir itu dari kesesatan dan kesengsaraan kelak di akhirat.

Sebagai penutup, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 70-72 ini Allah mengingatkan agar orang-orang mukmin agar selalu menjalankan semua perintah Allah swt dan menjauhi diri dari perilaku yang kelak dapat merugikan diri mereka sendiri.

Ayat 70

Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman agar memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai mainan dan sasaran senda gurau.

Mereka itu telah teperdaya oleh kesenangan hidup duniawi, dan telah lupa bahwa kehidupan yang sebenarnya, ialah di akhirat nanti. Mereka tidak membersihkan diri dan jiwa mereka, tidak memperbaiki budi pekerti mereka sebagaimana yang telah diajarkan Allah, mereka lalai dan lupa akan pertemuan dengan Allah di akhirat nanti, mereka menyia-nyiakan waktu yang berharga dengan mengisi kehidupan duniawi dengan berbagai perbuatan yang merugikan diri mereka sendiri.

Allah memerintahkan pula agar Rasul dan kaum Muslimin memberi peringatan kepada mereka dengan ayat-ayat Alquran, agar mereka tidak dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatan mereka sendiri. Pada hari itu tidak sesuatu pun yang dapat menolong, mendatangkan kebaikan atau menolak kejahatan dan kesengsaraan yang mereka alami selain dari Allah. Pada hari itu tidak ada lagi alat yang dapat dijadikan untuk menebus diri agar terhindar dari azab Allah.

Sebagaimana firman Allah swt:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ

Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima, bantuan tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong. (al-Baqarah/2: 123)

Ayat ini membantah pendapat yang mengatakan bahwa di akhirat nanti ada pemberi syafaat yang dapat menolak atau meringankan azab selain Allah, seperti berhala-berhala, orang yang dianggap memiliki karamah dan sebagainya.

Allah menegaskan bahwa orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah itu berarti mereka telah mengharamkan atas dirinya pahala dan karunia Allah di akhirat nanti, karena itu bagi mereka azab yang pedih, mereka dijerumuskan ke dalam neraka akibat perbuatan mereka sendiri dan di neraka itu mereka meminum air yang mendidih disebabkan kekafiran mereka.

Ayat 71

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya untuk mengatakan kepada orang-orang yang mengajak beliau untuk mengikuti agama mereka lalu bersama-sama menyembah berhala, agar mereka tidak meminta pertolongan kepada selain Allah seperti menyembah batu atau pepohonan dan lain-lain yang tidak dapat memberikan manfaat atau menolak madarat.

Akan tetapi dia hanya beribadah kepada Allah semata, Yang mempunyai kekuasaan, Yang memberikan manfaat atau mudarat dan Yang menguasai makhluk, Yang menghidupkan dan mematikan.

Orang-orang yang berpikir secara wajar, tentu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah; sesungguhnya menghambakan diri kepada Zat yang dapat diharapkan manfaat-Nya dan ditakuti siksaan-Nya, lebih utama dan lebih baik daripada menghambakan diri kepada sesuatu yang tidak dapat diharapkan manfaatnya, menghambakan diri kepada Allah lebih baik daripada kembali kepada jalan yang sesat dan bergelimang dalam kemusyrikan.

Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa menyembah selain Allah tidak patut dilakukan karena sebab-sebab berikut ini:

  1. Orang yang berpikir secara wajar akan memohon pertolongan kepada Zat Yang Mahakuasa, Yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak madarat.
  2. Mereka tidak mau murtad seperti keadaan mereka sebelum memeluk agama Islam.
  3. Orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah dan diselamatkan dari jurang kesesatan tidak mungkin bisa disesatkan kembali oleh siapa pun juga, seperti ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّضِلٍّ ۗ اَلَيْسَ اللّٰهُ بِعَزِيْزٍ ذِى انْتِقَامٍ

Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Mahaperkasa dan mempunyai (kekuasaan untuk) menghukum? (az-Zumar/39: 37)

Dalam ayat ini digambarkan bahwa orang-orang yang murtad sesudah beriman adalah seperti orang yang terkena bisikan setan, atau seperti orang kebingungan dalam mencapai sesuatu yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Mereka dalam keadaan bimbang, karena merasa bahwa dirinya berada di antara persimpangan jalan. Mereka telah meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat tak tentu arah dan tujuannya.


Baca juga: Menggali Nilai-nilai Santri pada Kisah Nabi Musa As dalam Surat Al-Kahfi


Di tengah-tengah kebingungan itu mereka digambarkan seolah-olah dipanggil oleh kawan-kawannya yang beriman untuk kembali kepada jalan yang lurus, akan tetapi mereka itu tidak dapat memenuhi panggilan tersebut karena mereka telah memisahkan diri. Pandangan dan pikirannya sudah ditujukan kepada bisikan setan, sehingga tidak dapat lagi mendengar seruan itu.

Gambaran ini sesuai dengan firman Allah:

كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّ

… seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. (al-Baqarah/2: 275)

Sesudah itu Allah memberikan dorongan kepada Nabi Muhammad agar selalu berusaha agar orang-orang musyrik dapat memenuhi panggilan Nabi untuk kembali ke jalan yang lurus dan menjauhi jalan yang sesat, yang membingungkan pikirannya.

Allah menegaskan bahwa petunjuk yang benar ialah petunjuk yang diturunkan Allah, yang termuat dalam ayat-ayat-Nya. Di dalam petunjuk itulah terdapat bukti-bukti dan keterangan-keterangan tentang kebenaran-Nya yang tidak mengandung kebatilan.

Seruan ini berbeda dengan seruan yang dikumandangkan oleh orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya yang hanya mengekor kepada jejak nenek moyang mereka. Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar mengatakan kepada mereka bahwa tugas yang dibebankan pada beliau ialah  menyerahkan jiwa raganya semata-mata kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Ayat 72

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya untuk mendirikan salat secara tetap dan menjalankannya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan syariat. Allah juga memerintahkan agar mereka bertakwa, yaitu memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat membawa dirinya ke jalan yang menyimpang dari agama Allah dan syariat-Nya dan memelihara diri dari kemudaratan dan kerusakan yang membahayakan dirinya.

Pada akhir ayat ini Allah memperingatkan kepada seluruh manusia bahwa Allah akan mengumpulkan mereka di hari mahsyar. Pada hari itu manusia akan digiring untuk menghadap Tuhan-Nya, dan akan diperiksa segala amal perbuatannya serta diberi balasan sebagaimana mestinya. Peringatan ini diberikan agar mereka dapat berpikir dan merasakan bahwa menyembah selain Allah atau merasa takut terhadap kekuasaan selain Allah, atau mengharapkan pertolongan kepada selain Allah adalah tindakan yang tidak benar.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 73-76


(Tafsir Kemenag)