Beranda blog Halaman 499

Macam-Macam Bentuk Nafsu Menurut Al-Quran

0
macam-macam bentuk nafsu
macam-macam bentuk nafsu

Allah Swt menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-sebaiknya (mendekati sempurna). Manusia memiliki dua dimensi utama, yakni jasad dan roh. Keduanya saling terkait dan saling mengikat antara satu sama lain. Selain itu, manusia juga diberi akal dan nafsu yang dibutuhkan untuk kehidupan mereka. Nafsu ini bermacam-macam bentuknya, ada yang baik dan ada yang jahat. Berikut ini penjelasan macam-macam bentuk nafsu menurut Al-Quran

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Asbab al-Takhallush Min al-Hawa menyebutkan bahwa “hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginan.” Ibnu Rajab juga menjelaskan tentang hawa nafsu ini. Menurutnya, “terkadang hawa nafsu juga digunakan untuk menyebutkan cinta atau kecondongan kepada kebenaran dan selainnya.”

Sedangkan menurut Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi menjelaskan bahwa nafsu itu adalah bergabungnya ruh dengan jasad. Dua entitas ini mewujudkan suatu keinginan yang memiliki berbagai kecondongan, baik maupun buruk. Ia berkata, “Apabila ruh bergabung dengan jasad, itulah nafsu, dan lahirlah kehidupan yang diliputi kebaikan dan keburukan.”

Baca Juga: Mutawalli As-Sya’rawi: Mufasir Kontemporer dari Mesir

Dalam Al-Qur’an, kata yang merujuk kepada makna nafsu setidaknya disebutkan sebanyak 9 kali, yakni pada QS. Ali Imran [3]: 39, QS. An-Nisa [4]: 135, QS. Al-Maidah [5]: 30, QS. Yusuf [12]: 53, QS. Taha [20]: 96, QS. Al-Ahzab [33]: 32, QS. Sad [38]: 26, QS. Al-Jasiyah [45]: 23, dan QS. An-Naziat [79]: 40. Sebagian besar ayat tersebut menunjukkan bahwa nafsu mendorong kepada keburukan.

Meskipun demikian, jika ayat-ayat Al-Qur’an di atas dicermati dengan baik, sebenarnya nafsu – yang sering berkonotasi negatif dalam pandangan manusia – memiliki beragam bentuk. Macam-macam bentuk nafsu ini memiliki nama-nama tersendiri sesuai dengan sifat dan kecenderungannya. Berikut penjelasan secara singkat mengenai macam-macam bentuk nafsu menurut Al-Qur’an:

  1. Nafsu Ammarah bi as-su’

Bentuk nafsu yang pertama adalah nafsu ammarah yang selalu mendorong manusia kepada pelanggaran dan kejahatan. Nafsu ini memiliki beberapa karakter seperti bakhil, dengki, bodoh, sombong, marah, cinta yang berlebihan, senang melakukan perkara jelek atau hina. Nafsu ammarah jika tidak dikendalikan dengan baik dapat menyebabkan pemiliknya berbuat dosa.

Allah Swt berfirman:

۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٥٣

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 53)

Baca Juga: Tinggalkan Rebahan, Mari Produktif di Tengah Pandemi: Tafsir Surat Al-Asr Ayat 1-3

  1. Nafsu Lawwamah

Bentuk nafsu yang kedua adalah nafsu lawwamah yang mengingatkan, menggugah, mengoreksi, dan menyalahkan perbuatan buruk. Nafsu ini disebut lawwamah karena sering mencela pemiliknya sebab ia telah melakukan kesalahan, baik dosa besar, dosa kecil, ataupun meninggalkan perintah Allah Swt yang bersifat wajib atau anjuran.

Akibatnya, jika seseorang terlalu mendengarkan nafsu lawwamah, maka ia akan menyesal, menyalahkan diri secara berlebih-lebihan dan merasa jauh dari rahmat Allah Swt. Padahal rahmat Allah Swt senantiasa melingkupi hamba-Nya dan Dia memerintahkan setiap hamba-Nya untuj tidak berputus asa apapun yang terjadi. Nafsu ini memiliki karakter khusus, yakni menyesal, mengikuti keseanangan, menipu, menggunjing, riya, zalim, lupa, dan ujub.

Allah Swt berfirman:

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ٢

“Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah [75]: 2)

  1. Nafsu Muthmainnah, Radhiyah dan Mardhiyah

Bentuk nafsu ketiga adalah nafsu muthmainnah yang tentang dan tentram. Nafsu ini senantiasa menyuruh pemiliknya untuk berbuat kebaikan dan taat kepada Allah Swt. nafsu muthmainnah memiliki karakter pemberi, tawakal, suka beribadah (menghamba dengan penuh keikhlasan), suka bersyukur, ridha dengan segala ketetapan Allah Swt, dan takut kepada-Nya.

Saya menyebutkan nafsu muthmainnah, radhiyah dan mardhiyah secara bersamaan, karena nafsu radhiyah dan mardhiyah adalah tingkatan selanjutnya dari nafsu muthmainnah, yakni nafsu muthmainnah yang telah diterima Allah Swt. Alasan lain adalah karena Allah Swt menyebutkannya dalam konteks ayat yang sama. Dengan kata lain, ketiganya merupakan entitas yang sama, akan tetapi memiliki posisi dan waktu yang berbeda.

Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ ٢٨

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr [89]: 27-28)

Menurut Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi macam-macam bentuk nafsu yang disebutkan penulis di atas memiliki periodesasi yang berbeda, yakni di Dunia dan akhirat. Beliau berkata, “Nafsu ammarah, lawwamah, dan muthmainnah berkaitan dengan Allah Swt dalam kehidupan dunia. Sedangkan nafsu radhiyah dan mardhiyah berkaitan dengan kehidupan akhirat.”

Terakhir (sebagai catatan bagi pembaca), sekalipun nafsu ammarah dan lawwamah memiliki kecondongan yang mampu membuat pemiliknya kepada keburukan dan kejahatan, namun bukan berarti keduanya dimusnahkan dan disirnakan. Karena tanpa keduanya memiliki keunggulan khusus pada aspek tertentu. Agama Islam hanya mengajarkan pemeluknya agar tidak dikendalikan kedua nafsu tersebut secara membabi buta. Mereka harus mengontrolnya dengan baik melalui bantuan nafsu muthmainnah. Dengan demikian, manusia dapat hidup secara proporsional.

Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 68-69

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Bergeser sedikit dari pembahasan lalu, Tafsir Surat Al An’am Ayat 68-69 ini berbicara mengenai perintah Allah swt kepada Nabi Muhammad saw agar tidak berkumpul dengan orang kafir yang memperolok ayat Allah swt. Meski pembahasan kali ini berbeda namun masih dalam pembicaraan mengenai perilaku tercela orang kafir.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 64-67


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 68-69 ini juga berbicara tentang sifat kemanusiaan Nabi Muhammad saw, yaitu lupa. Namun lupa di sini maksudnya adalah menunjukkan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad saw bahwa ia sama dengan manusia yang lain yang wajib menyembah Allah swt, tidak menyekutukannya, serta harus mematuhi perintah Allah swt. Di sini dicontohkan juga lupa yang pernah dialami Nabi Isa as.

Pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 68-69 ini diakhiri dengan penegasan Allah saw kepada orang-orang mukmin bahwa mereka tidak akan menanggung dosa orang lain yang berbuat zalim. Namun yang perlu dilakukan adalah mengingatkan mereka yang berbuat zalim.

Ayat 68

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad, jika ia duduk bersama orang-orang kafir, dan mereka memperolokkan ayat-ayat dan agama Allah, hendaklah segera meninggalkan mereka kecuali jika mereka mengalihkan pembicaraan mereka kepada masalah yang lain. Tindakan ini dilaksanakan agar orang-orang kafir sadar bahwa tindakan mereka itu tidak disukai Allah dan kaum Muslimin, atau jika Nabi tetap duduk bersama mereka, berarti Nabi seakan-akan menyetujui tindakan mereka itu.

Nabi Muhammad dan para sahabatnya serta kaum Muslimin pada setiap masa diperintahkan untuk meninggalkan orang-orang yang memperolok ayat-ayat Alquran. Termasuk di dalamnya segala macam tindakan yang tujuannya memperolok agama Allah, menafsirkan dan menakwilkan ayat-ayat Alquran hanya karena mengikuti keinginannya.

Jika ayat-ayat ini dihubungkan dengan ayat-ayat yang memerintahkan kaum Muslimin agar memerangi orang-orang yang menentang agama Islam, seakan-akan kedua ayat ini berlawanan. Ayat ini seakan-akan menyuruh kaum Muslimin tetap bersabar walau apapun tindakan orang-orang kafir terhadap mereka. Sedang ayat-ayat lain yang memerintahkan agar membunuh orang-orang kafir di mana saja mereka ditemui.

Jawabannya ialah bahwa ayat-ayat ini diturunkan pada masa Nabi Muhammad, masih berada di Mekah, di saat kaum Muslimin masih lemah, yang pada waktu itu tugas pokok Nabi ialah menyampaikan ajaran tauhid. Pada masa ini belum ada perintah berperang dan memang belum ada hikmah diperintahkan berperang.

Setelah Nabi di Medinah, dan keadaan kaum Muslimin telah kuat, serta telah ada perintah berperang, maka sikap membiarkan tindakan orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah adalah sikap yang tercela, bahkan diperintahkan agar kaum Muslimin membalas tindakan mereka itu.

Kemudian Allah memperingatkan Nabi Muhammad, bahwa jika ia dilupakan setan tentang larangan Allah duduk bersama-sama orang yang memperolok-olokkan agama itu, kemudian ingat maka segera ia berdiri meninggalkan mereka, jangan duduk bersama mereka.


Baca juga: Tidak Sama yang Buruk dengan yang Baik, Jangan Terjebak Keburukan yang Melenakan!


Yang dimaksud dengan “Nabi lupa” di sini ialah lupa terhadap hal-hal yang biasa, sebagaimana manusia biasa juga lupa. Tetapi Nabi tidak pernah lupa terhadap hal-hal yang diperintahkan Allah menyampaikannya.

Para ahli tafsir sepakat menyatakan bahwa Nabi Muhammad pernah lupa, tetapi bukan karena gangguan setan, sebagaimana firman Allah swt:

وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ

… Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa… (al-Kahf/18: 24);Nabi Adam pernah lupa, sebagaimana firman Allah:

فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا

… tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya. (Taha/20: 115)

Nabi Musa pun pernah lupa, firman Allah swt:

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا نَسِيْتُ وَلَا تُرْهِقْنِيْ مِنْ اَمْرِيْ عُسْرًا

Dia (Musa) berkata, ”Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (al-Kahf/18: 73)

Nabi Muhammad, pernah lupa di waktu beliau salat, lalu beliau bersabda:

إِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ اَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِيْ

(رواه البخاري ومسلم عن عبد الله)

“Aku tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kamu, aku lupa sebagaimana kamu lupa, karena itu apabila aku lupa, maka ingatkan aku.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah)

Allah menegaskan bahwa setan hanya dapat mempengaruhi orang-orang yang lemah imannya, sedangkan terhadap orang yang kuat imannya, setan tidak sanggup mempengaruhinya dan menjadikannya lupa kepada Allah.

Allah swt berfirman:

اِنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ   ٩٩

  اِنَّمَا سُلْطٰنُهٗ عَلَى الَّذِيْنَ يَتَوَلَّوْنَهٗ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِهٖ مُشْرِكُوْنَ ࣖ  ١٠٠

Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (an-Nahl/16: 99-100)

Berdasarkan keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setan tidak sanggup menjadikan hamba yang beriman lupa terhadap sesuatu, apalagi menjadikan Nabi lupa terhadap sesuatu, karena ia tidak dapat menguasai hamba Allah yang beriman.

Dalam ayat ini disebutkan, setan menjadikan Nabi lupa hanya merupakan kebiasaan dalam bahasa, bahwa segala macam perbuatan yang tidak baik adalah disebabkan perbuatan setan, sekalipun yang melakukan bukan setan. Seandainya seorang hamba yang mukmin kuat imannya lupa, maka lupanya hanyalah karena pengaruh hati dan jiwanya sendiri, bukan karena pengaruh atau gangguan setan.

Sebagian ulama menetapkan hukum berdasarkan ayat ini, sebagai berikut:

  1. Wajib menjauhkan diri dari orang-orang yang sedang mempermainkan ayat-ayat Allah, atau orang-orang yang mentakwilkan ayat-ayat Allah hanya karena mengikuti keinginan hawa nafsunya, seandainya tidak mampu menegur mereka agar menghentikan perbuatan itu.
  2. Boleh duduk bersama untuk membicarakan sesuatu yang bermanfaat dengan orang-orang kafir, selama mereka tidak memperolokkan agama Allah.

Ayat 69

Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang mukmin yang bertakwa kepada Allah tidak bertanggung jawab atas perbuatan orang-orang musyrik yang memperolokkan ayat-ayat Allah dan mereka tidak akan menanggung dosa orang musyrik. Mereka berkewajiban memberi peringatan kepada kaum musyrik yang berbuat demikian, untuk tidak lagi memperolokkan ayat-ayat Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 70-72


(Tafsir Kemenag)

Selisih Keutamaan Antar Ayat dan Surat dalam Al-Quran, Benarkah Ada?

0
Selisih keutamaan antar ayat dan surat dalam Al-Quran
Selisih keutamaan antar ayat dan surat dalam Al-Quran

Seluruh umat Islam meyakini bahwa Al-Quran  adalah kitab suci yang mulia dan memiliki tingkat keutamaan yang tinggi. Namun, tahukah anda ada perdebatan antar ulama’ mengenai keberadaan selisih keutamaan antar ayat Al-Quran? Bahwa ayat tertentu dalam surat tertentu, lebih utama dari ayat yang lainnya. Sehingga terkesan mencederai keutamaan ayat yang lain.

Baca juga: Apakah Nabi Menafsirkan Ayat Al-Quran Seluruhnya dan Telah Menyampaikannya Kepada Para Sahabat?

Kontroversi Al-Fadhil dan Al-Mafdhul

Al-fadhil maknanya ayat atau surat yang unggul, sedang al-mafdhul maknanya ayat atau surat yang tersaingi keunggulannya oleh ayat yang lain. Perdebatan keberadaan al-fadhil dan al-mafdhul adalah perdebatan mengenai keberadaan selisih keutamaan atau ada satu ayat yang lebih utama dari ayat yang lain. Imam Malik adalah salah satu ulama’ yang menolak keberadaan al-fadhil dan al-mafdhul. Penolakan beliau disebabkan dikarenakan pemilahan adanya al-fadhil dan al-mafdhul, seakan-akan merendahkan ayat Al-Quran yang tersaingi keunggulannya oleh ayat yang lain (Faidul Khabir/22).

Pendapat berbeda dinyatakan oleh Imam Izzudin Ibn Abdissalam, Ishaq Ibn Rawahaih, Al-Baihaqi dan Ibn ‘Arabi serta kebanyakan para ulama’. Mereka berpendapat bahwa al-fadhil dan al-mafdhul memang ada dalam Al-Quran. Pendapat mereka berpijak pada beberapa hadis yang memang menyatakan bahwa ayat kursi semisal, lebih utama dari ayat yang lain (Syarah Sayyid Al-Musawi/22).

Baca juga: Mengenal Kitab Fathul Khabir dan Ulumul Qurannya Karya Syekh Mahfudz At Tarmasi

Mengenai bahwa ada satu surat yang lebih utama dari yang lain, dapat dilihat dalam hadis riwayat Abi Sa’id Ibnul Mu’alla berikut:

قَالَ كُنْتُ أُصَلِّى فِى الْمَسْجِدِ فَدَعَانِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ أُجِبْهُ ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى كُنْتُ أُصَلِّى . فَقَالَ « أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ ( اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ ) ثُمَّ قَالَ لِى لأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِىَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِى الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ » . ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِى ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ « لأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِىَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِى الْقُرْآنِ » . قَالَ « ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) هِىَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِى أُوتِيتُهُ »

“Abi Sa’id berkata: “Aku salat di masjid. Lalu Rasulullah salallahualaihi wasallam memanggilku. Aku tidak menjawabnya. Kemudian aku berkata: “Ya Rasulullah, aku sedang salat”. Lalu Rasulullah berkata: “Bukankah Allah berfirman: ‘Jawablah Allah dan rasul-Nya ketika memanggil kalian’” Lalu Rasulullah berkata padaku: “Aku akan mengajarkanmu sebuah surat yang merupakan lebih utama-utamanya surat di dalam Al-Quran , sebelum engkau keluar dari masjid”. Lalu beliau menggandeng tanganku. Saat beliau hendak keluar masjid, aku berkata padanya: “Bukankah anda berkata ‘Aku akan mengajarkanmu sebuah surat yang merupakan lebih utama-utamanya surat di dalam Al-Quran , sebelum engkau keluar dari masjid’?” Nabi bersabda: “Al-Fatihah. Ia adalah surat dengan tujuh ayat dan merupakan Al-Quran  yang diwahyukan kepadaku”” (HR. Imam Bukhari).

Baca juga: Inilah Keutamaan Membaca Al-Quran dengan Tartil

Sedang mengenai keberadaan satu ayat lebih utama dari ayat yang lain, diperlihatkan dalam hadis sahih riwayat Ubay Ibn Ka’ab berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ». قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ». قُلْتُ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ. فَضَرَبَ فِى صَدْرِى وَقَالَ « وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ »

Rasulullah salallahualaihi wasallam bersabda: “Hai Abal Mundzir, apakau engkau tahu ayat mana dari Al-Quran  yang lebih utama ada bersamamu?” Aku berkata: “Allah dan rasulnya lebih tahu”. Nabi bersabda: “Hai Abal Mundzir, apakau engkau tahu ayat mana dari Al-Quran yang lebih utama ada bersamamu?” Aku berkata: “Ayat kursi”. Nabi kemudian menepuk dadaku dan berkata: “Demi Allah, semoga ilmu dimudahkan bagimu, hai Abal Mundzir” (HR. Imam Muslim).

Baca juga: Baca Ayat Ini Untuk Menjaga Hafalan Al-Quran dan Semua Ilmu Pengetahuan

Makna “Lebih Utama”

Para ulama’ yang meyakini ada sebagian ayat yang lebih utama dari yang lain, memaknai “lebih utama” dengan banyak hal. Hal ini diungkapkan oleh Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki dalam kitab Faidul Khabir. Sehingga tidak menutup kemungkinan satu ayat dalam satu pemaknaan lebih utama, tapi dalam hal lain tidak lebih utama. Berikut beberapa pemaknaan yang disinggung oleh para ualama’:

Pertama, bermakna lebih utama bila diamalkan. Hal ini seperti ayat yang menjelaskan tentang hukum Islam lebih utama dari ayat tentang kisah-kisah. Kedua, lebih utama dalam segi kandungannya. Seperti ayat yang mengandung ketauhidan dan sifat Allah lebih utama daripada yang tidak mengandung ketauhidan dan sifat Allah. Ketiga, lebih utama sebab ayat tersebut memiliki faidah lebih dari sekedar memperoleh pahala. Seperti ayat kursi yang dapat dibuat melindungi diri, lebih utama dari ayat selainnya yang tidak memiliki faidah serupa (Faidul Khabir/22). Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 8-9

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah sebelumnya berbicara mengenai orang beriman dan orang kafir, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 8-9 ini membicarakan tentang golongan ketiga, yaitu golongan orang munafik. Mereka adalah orang yang pura-pura masuk Islam. Islam hanya dijadikan kedok untuk menyembunyikan kekafiran mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 4-7


Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 8-9 juga dipaparkan juga kaum yang pada waktu itu termasuk golongan munafik. Mereka adalah kaum ‘Aus dan kaum Khazraj. Salah satu orang munafik dari pemuka kaum Khazraj adalah Abdullah bin Ubay. Selain menjadikan Islam sebagai kedok, mereka juga menjadi mata-mata bagi orang-orang kafir.

Pembahasan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 8-9 ini diakhiri dengan pernyataan Allah swt bahwa pada kenyataannya tidak menipun Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin. Mereka menipu diri mereka sendiri dan mencelakakan dirinya sendiri tanpa membuahkan hasil apapun.

Ayat 8

Pada ayat ini diterangkan golongan yang ketiga yaitu golongan munafik, golongan yang mengaku bahwa mereka beriman, tetapi sebenarnya tidak beriman. Pengakuan mereka tidaklah benar. Mereka mengakui demikian itu untuk mengelabui mata dan mempermainkan orang Islam.

Sewaktu Rasul saw hijrah dari Mekah ke Medinah, banyak penduduk Medinah masuk Islam dari kabilah ‘Aus dan Khazraj dan beberapa orang Yahudi. Pada mulanya masih belum tampak golongan ini. Tetapi sesudah perang Badar tahun kedua Hijri, yang membawa kemenangan bagi kaum Muslimin, mulailah timbul golongan munafik ini.

Abdullah bin Ubay, seorang pemimpin di Medinah dari kabilah Khazraj, anak dari seorang yang pernah menjadi pemimpin suku Aus dan Khazraj, oleh pengikut-pengikutnya dijadikan calon raja di Medinah. Dia berkata kepada pengikut-pengikutnya, “Situasi sekarang jelas menunjukkan kemenangan bagi Muhammad”.


Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 66: Indonesia Adalah Rumah Kita Bersama


Kemudian Abdullah bin Ubay dan pengikut-pengikutnya menyatakan masuk Islam tetapi hati mereka tetap membenci. Tujuan mereka hendak menghancurkan kaum Muslimin dari dalam, dengan berbagai macam usaha dan tipu daya. Di antara mereka banyak pula orang Yahudi.

Sabda Nabi saw:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيْرُ اِلَى هٰذَا مَرَّةً وَاِلَى هٰذَا مَرَّةً

(رواه مسلم عن ابن عمر)

Perumpamaan orang munafik seperti seekor anak kambing (yang bingung dan ragu) di antara dua kambing, bolak-balik, kadang-kadang mengikuti yang satu ini, kadang-kadang mengikuti yang lainnya. (Riwayat Muslim dari Ibnu Umar)

Mereka bukan termasuk orang-orang yang beriman yang benar dan yang merasakan keagungan Allah swt, mereka tidak pula menyadari bahwa Allah sebenarnya mengetahui perbuatan mereka lahir dan batin.

Sekiranya mereka beriman dengan iman yang benar, tentulah mereka tidak melakukan perbuatan yang menyakitkan hati Nabi saw dan kaum Muslimin. Mereka melakukan ibadah salat dan puasa, hanya untuk mengelabui mata umum, sedang hati dan jiwa mereka sesungguhnya tidak menghayati ibadah-ibadah tersebut.

Ayat 9

Orang munafik itu menipu Allah, dengan cara menipu Rasul-Nya yaitu Muhammad saw. Menipu Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin ialah dengan memperlihatkan iman, kasih sayang dan menyembunyikan permusuhan dalam batin. Mereka bergaul dengan kaum Muslimin, untuk memata-matai mereka dan kemudian menyampaikannya kepada musuh-musuh Islam. Mereka menyebarkan permusuhan dan fitnah, untuk melemahkan barisan kaum Muslimin.

Usaha kaum munafik itu gagal dan sia-sia. Hati mereka bertambah susah, sedih dan dengki, sehingga pertimbangan-pertimbangan yang benar dan jujur untuk menilai kebenaran semakin lenyap dari mereka.

Mereka sejatinya bukanlah menipu Allah, Rasul-Nya dan para mukminin, tetapi mereka menipu diri mereka sendiri. Akibatnya, perbuatan mereka itu akan menimpa diri mereka sendiri, hanya saja mereka tidak menyadarinya. Kesadaran merupakan daya jiwa untuk menanggapi sesuatu yang tersembunyi, yang tersirat dari yang nyata atau yang tidak nyata.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 10-13


(Tafsir Kemenag)

Michael Sells, Mengenalkan Aspek Aural dan Skriptural Sebagai Pendekatan Terhadap Al-Qur’an

0
Michael Sells
Michael Sells saat presentasi di John Carrol University 2015

Michael Sells adalah profesor sejarah dal literatur Islam di universitas Chicago. Ia menyelesaikan program Ph.D dengan disertasi mengenai studi komparatif antara mistisme linguistik dalam budaya Yunani, Islam, dan Kristen. Dua tahun sebelum menyelesaikan disertasi, Sells mengikuti pertemuan Quakerisme di 57th Street Meeting, Chicago. Sells pertama kalinya mendengarkan berbagai pesan perdamaian yang disampaikan oleh berbagai kelompok, baik agama dan non-agama. (The Generous Qurʼan: Ten Selected Suras, 4)

Setelah dua tahun mengikuti aliran Quakerisme, ia memiliki ketertarikan secara personal pada kajian peradaban Islam dan sastra Arab.  Kedua kajian tersebut dikembangkan sebagai topik utama dalam setiap penelitian ia ia kembangkan. Dalam proses penelitiannya, Sells pernah berkunjung di Damaskus selama tiga minggu dan menetap di Afrika Utara dan Timur Tengah selama lima tahun.

Perjalanan intelektual yang ia alami memunculkan sebuah pemikiran bahwa agama tidak mengajarkan konsep intoleransi dan radikalisme pro-kekerasan. Melalui cara pandang tersebut, Sells meyakini bahwa stigma buruk yang disampaikan oleh media terhadap Islam tidaklah sesuai dengan konsep Islam yang ia pahami.(The Generous Qurʼan: Ten Selected Suras, 5)

Baca Juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Approaching the Quran merupakan salah satu literatur pengkajian Al-Qur’an yang paling popoler di Amerika. Buku ini ditulis sebagai refleksi Sells ketika berada di Mesir dan dicetak pada tahun 1999 oleh White Cloud, Oregon. Buku ini pernah menjadi sebuah pusat kontroversi pada tahun 2002.

Approaching the Quran by Michael Sells
Approaching the Quran by Michael Sells

Permasalahan muncul ketika profesor Carl W. Ernst dari Universitas Carolina Utara (UNC) menjadikan buku ini sebagai bahan bacaan dan diskusi untuk kegiatan summer reading program yang diikuti oleh 178 forum mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa menjadi lebih kritis terhadap transmisi media di Amerika dan merasa empati pada Islam yang menjadi sasaran media sejak aksi terorisme 11 September 2001 di Washington DC.

Melihat hasil dari pertemuan summer reading, James Moeser selaku rektor UNC menarik buku Approaching the Qur’an dari kegiatan summer reading dengan alasan bahwa buku ini tidak membaca fenomena Islam secara utuh. Buku tersebut hanya memuat beberapa surat awal Al-Qur’an mengenai perdamaian dan mengabaikan banyak surat yang memuat pesan terorisme dan radikalisme pro-kekerasan.

Di dalam Approaching the Qur’an, Michael Sells mampu menjelaskan konsep Al-Qur’an dan Muhammad yang begitu kompleks ke dalam narasi yang singkat dan jelas. Ia memulai tulisannya dengan pembahasan mengenai peran Nabi Muhammad Saw dalam pembentukan Al-Qur’an. Masyarakat Arab masa Nabi menganggapnya sebagai seorang kāhin (peramal) dan sarjanawan modern menggangapnya sebagai penulis Al-Qur’an.( Approaching the Qur’an: The Early Revelations , 5)

Michael Sells menjelaskan posisi Nabi Muhammad Saw adalah sebagai penyampai wahyu. Peran Muhammad tidak dapat disamakan dengan peran Yesus dalam ajaran Kristen. Sells memberikan bahwa Yesus dalam ajaran Kristen sama dengan Al-Qur’an dalam ajaran Islam. Yesus merupakan manifestasi kalam Tuhan yang diwujudkan dengan tulang dan daging, sedangkan Al-Qur’an merupakan manifestasi kalam Tuhan yang diwujudkan secara aural dan skriptural.

Aspek aural dan skriptural merupakan dua dimensi yang dititikberatkan dalam buku Approaching the Qur’an: The Early Revelations (2001). Menurut Sells, kajian aural Al-Qur’an digunakan untuk membentangkan keindahan dan kemegahan Al-Qur’an bagi pembaca sedangkan kajian skriptural digunakan untuk mendeskripsikan setiap elemen historis yang melekat pada teks Al-Qur’an.

Michael Sells memberikan contoh pada QS. Al-Najm (53): 1-12 yang menjelaskan proses pewahyuan Muhammad. Ayat tersebut dinarasikan secara elipsis dan mefaforik. Dibutuhkan analisis skriptural yang mendalam bagi sejumlah sarjana studi Al-Qur’an untuk menjelaskan pesan yang tersembunyi di dalam ayat tersebut.

Misalnya dalam tafsir Baghawi, ia berpendapat bahwa ayat ini menjelaskan fungsi penting Nabi Muhammad yang menerima wahyu dari tempat yang tinggi. Ayat tersebut turut membantah ucapan bangsa Arab bahwa Nabi Muhammad adalah seorang kāhin. (Tafsir Baghawi , 405)

Argumen tersebut dibuktikan dengan kemampuan Nabi untuk memahami, menafsirkan, dan mengaplikasikan ayat yang diturunkan kepadanya sedangkan kāhin tidak mampu memahami dan menjelaskan segara syair yang ia dapat dari setan.

Melalui analisis aural, Sells berpendapat bahwa surat pendek yang muncul di akhir Al-Qur’an seperti QS. Al-Najm (53) memiliki memuat kekayaan makna, seni, dan otoritas Tuhan dalam struktur ayatnya. Ayat-ayat tersebut sangat mudah diterima oleh pembaca Al-Qur’an secara umum.

Baca Juga: Dr. Laleh Bakhtiar, Muslimah Amerika Perintis Psikologi Al-Quran Telah Berpulang

Proses konstruksi ayat dan pesan dengan tingkatan tersebut sangat mustahil diselesaikan dalam oleh seorang manusia yang memiliki rentan usia yang terbatas. Argumen tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an sangat mustahil diciptakan oleh Muhammad.

Analisis aural dan skriptural menjadi dua fokus penting yang terus dikembangkan oleh Michael Sells di dalam pembahasan buku Approaching the Quran. Kedua frame tersebut menjadi daya tarik dalam tulisan ini. Sekalipun demikian, Sells mengklaim bahwa ia tidak ingin memberikan legitimasi ataupun perlawanan terhadap eksistensi Al-Qur’an. Ia hanya ingin memberikan sebuah diskursus mengenai “teks berbahasa Arab yang paling berpengaruh di dunia” minimal agar dikenal, mudah dipahami, dan tidak disalahpahami oleh pembaca kontemporer. Wallahu A’lam.

Status Makkiyah dan Madaniyah Mushaf Standar Indonesia, Apakah Berbeda dengan Mushaf Lain?

0
Status Makkiyah dan Madaniyah Mushaf Standar Indonesia
Status Makkiyah dan Madaniyah Mushaf Standar Indonesia

Makkiyah dan madaniyah dalam pemahaman dasar kita mungkin hanya berkaitan dengan tempat turunnya wahyu Al Qur’an. Namun kenyataannya, terminologi makkiyah dan madaniyah tidak sesederhana itu. Istilah ini bisa juga berkaitan dengan waktu turunnya Al Qur’an seperti sebelum dan sesudah hijrah Nabi. Bahkan bisa juga berkaitan dengan redaksi ayat yang turun, apakah tentang tauhid atau sosiokultur masyrakat. Menariknya dalam kasus berbagai mushaf yang ada di dunia, status makkiyah dan madaniyah ini tidak mesti sama satu dengan lainnya.

Contoh mudahnya, surat Ar Rahman dalam Mushaf Standar Indonesia dan mushaf Pakistan berstatus Makkiyah. Namun dalam mushaf Arab Saudi, Mesir, Libya, dan Maroko status surat ini justru Madaniyah. Tentu perbedaan seperti ini perlu dijelaskan secara gamblang, mengapa demikian.


Baca juga: Inilah Definisi dan Ciri-Ciri Ayat Makki dan Madani


Tiga Pedoman Penetapan Status Makkiyah dan Madaniyah

Sebenarnya, dalam penetapan status makkiyah dan madaniyah ada tiga pedoman. Pertama berdasarkan konteks tempat (Mekah sekitarnya atau Madinah sekitarnya). Kedua berdasarkan konteks khitab, redaksi ayat berisi tentang ketauhidan dan keimanan biasanya menjadi ciri khas untuk penduduk Mekah. Sementara redaksi tentang kehidupan sosial biasanya untuk penduduk Madinah. Kemudian pedoman yang ketiga berdasarkan waktu, apakah wahyu itu turun sebelum hijrah atau sesudahnya.

Dari beberapa pedoman itu, tentu untuk mengetahui ciri-ciri status makkiyah dan madaniyah harus berpedoman pada riwayat sahabat Nabi. Kalau pun tidak ada riwayat yang menjelaskan turunnya, maka mencermati kandungan dan karakteristik ayat menjadi alternatifnya. Meski dengan pedoman penentuan tersebut, ternyata para ulama masih membagi surat-surat itu ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama merupakan surat-surat yang disepakati status makkiyahnya. Kelompok kedua merupakan surat-surat yang disepakati status madaniyahnya. Dan kelompok ketiga berisi surat-surat yang diperselisihkan status makkiyah dan madaniyahnya. Abu Hasan Al Hashshar menyimpulkan, kelompok pertama berjumlah 82 surat, kelompok kedua berjumlah 20 surat, dan kelompok ketiga 12 surat.

Perihal penjelasan Makkiyah dan Madaniyah, Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an meluncurkan buku dengan judul Makky & Madany Perdodisasi Pewahyuan Al Qur’an pada tahun 2017. Buku ini ditulis untuk menjelaskan periode pewahyuan surat atau ayat Al Qur’an berdasarkan riwayat dari sahabat dan tabiin serta pengamatan terhadap karakteristiknya. Dalam pengantar disebut bahwa buku yang tebalnya 765 halaman ini diharapkan mampu menjadi penjelas secara ilmiah terhadap penetapan status makkiyah dan madaniyah dalam Mushaf Standar Indonesia.


Baca juga: Salim Fachry: Sang Penulis Mushaf Al-Quran Kenegaraan Pertama


Secara umum, buku ini berisi dua bab utama. Bab satu tentang makkiyah dan madaniyah dalam diskursus ilmu Al Qur’an. Sedangkan bab dua fokus pada pembahasan surat makkiyah dan madaniyah dalam Mushaf Al Qur’an Standar Indonesia. Pada bab pertama, lebih bersifat teoritis seperti pengertian makkiyah madaniyah, metode penetapan makkiyah dan madaniyah, riwayat seputar makkiyah madaniyah, surat yang disepakati dan diperselisihkan, dan urgensi ilmu makkiyah madaniyah. Sementara bab dua berisi tentang penguraian surat per surat yang ada dalam Al Qur’an.

 Contoh Pentepan Status Surat Ar Rahman

Disebutkan sebelumnya bahwa surat Ar Rahman termasuk surat yang diperselisihkan status makkiyah dan madaniyahnya. Maka dalam buku ini diuraikan pandangan mufasir baik yang berpendapat makkiyah maupun madaniyah. Kemudian dalil penetapan pun disebutkan. Dalam surat Ar Rahman dalil makkiyahnya mengikuti riwayat Ali bin Abi Thalib, riwayat Ibnu Abbas, dan riwayat Jabir. Sedangkan dalil madaniyahnya berasal dari Qatadah, Ikrimah dan Hasan bin Abi Hasan, serta pendapat lain dari Ibnu Abbas. Setelah diuraikan beberapa penjelasan itu, maka disebutkan mengapa Mushaf Standar Indonesia memilih status makkiyah untuk surat Ar Rahman.

Dalam buku ini, penulisnya mengutip pendpat Imam As Suyuti dan Al Alusi yang menyebut bahwa pendapat makkiyah merupakan pendapat jumhur ulama. Sebab selain adanya penjelasan langsung dari sahabat tentang tempat turunnya terdapat juga keterangan yang menunjukkan bahwa surat ini turun sebelum hijrah Nabi. Kemudian, terdapat karakteristik redaksi ayat yang mengindikasikan kalau surat ini makkiyah. Yakni berisi tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, berita tentang para nabi, dan hari akhir.


Baca juga: Mengenal Istilah Nakirah dan Ma’rifah dalam al-Quran


Tentu tulisan dalam artikel ini hanya pengantar, kita pun lebih baik membaca langsung buku ini. Sehingga kita dapat mengetahui alasan mengapa para ulama kita menetapkan status surat yang terkadang berbeda dengan mushaf lainnya.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam[]

Inilah Empat Pilar Tafsir Al-Quran Perspektif Al-Zarkasyi, Berikut Penjelasannya

0
tafsir al-quran
al-burhan fi ulum al-quran karangan az-zarkasyi (qureta)

Term “tafsīr” secara etimologi diartikan sebagai al-kasyf (penyingkapan) dan al-bayān (uraian) sebagaimana yang disampaikan Khalid bin Usman As-Sabt dalam Qawaid al-Tafsir: Jam’an wa Dirasatan. Definisi yang lain juga disampaikan As-Suyuthi, misalnya, dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Quran yang mengutip pemikiran Zarkasy dalam Al-Burhan fi Ulum Al-Quran ialah راجع إلى معنى الإظهار والكشف (kembali kepada makna kata yang jelas dan penyingkapan).

Definisi serupa juga dipaparkan Al-Jūzi dalam Zād al-Mashīr fī Ulūm Al-Qur’ān, ia mendefinisikan kata “tafsir” dengan إِخْرَاجُ الشَيءِ مِن مَقَامِ الخَفَاءِ إِلَي مَقَامِ التَجَلِّي (Mengungkap sesuatu dari bentuk yang samar menuju bentuk yang jelas). Ibn Faris dalam Mu’jam Maqayis Lughah dan Syauqi Dhaif menjelaskan bahwa setiap kata berstruktur huruf fa’, sa, ra’ memiliki makna īdhah (pencerahan) dan tafshīl (klasifikasi).

Tafsīr dimaknai sebagai memaparkan sesuatu dan menjelaskan segala yang berkaitan dengannya dari segi makna, rahasia, dan hukum.  Abu Badr al-Dīn al-Zarkasy (w. 1392) mengutarakan polemik dan urgensi “tafsir” bagi masyarakat sepanjang masa dalam kitab Al-Burhān fī Ulūm al-Qur’ān sebagai berikut:

Seorang mufassir takkan mampu memahami Al-Quran kecuali berbekal berbagai ilmu secara komprehensif dan berdialektika kepada Allah dengan ketakwaannya, baik secara tertutup maupun terang-terangan, serta bersandar pada-Nya di saat menghadapi berbagai persoalan yang samar. Berbagai ungkapan dan kebenaran tidak dapat dipahami olehnya (mufassir) kecuali yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

Baca juga: Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah pada Penafsiran Al-Quran Menurut Mufassir

Tulisan ini membahas epistemologi tafsir yang digagas oleh Abu Badr al-Dīn al-Zarkasy dalam kitabnya, Al-Burhān fī Ulūm al-Qur’ān. Al-Zarkasy menjelaskan makna “tafsir” sebagai ilmu mengenai turunnya suatu ayat dan surat yang disertai berbagai kisah, tanda turunnya ayat, kategorisasi wilayah Mekkah dan Madinah, makna singular dan makna plural (muhkam-mutasyabihat), ayat penghapus dan yang dihapus (nāskh-mansukh), makna umum dan khusus, makna mutlak dan makna terbatas, serta ikhtisar dan penafsiran ayat dan suratnya.

Definisi tersebut dipaparkan secara rinci untuk menunjukkan bahwa penafsiran Al-Quran membutuhkan kualifikasi mufassir dengan kapasitas intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi. Ia mengutip sebuah periwayatan dari Ibn Mas’ud sebagai berikut: “Barangsiapa yang menginginkan wawasan umat terdahulu dan umat masa depan hendaknya mempelajari Al-Quran”.

Dalam proses penafsiran, al-Zarkasy membagi peran penting tafsir atas empat pilar utama di dalam teks Al-Quran; penafsiran makna lahir (ẓāhir), makna batin (in), makna hukum (hadd), dan makna inti (maṭla’). Menurut al-Zarkasy, setiap ayat mengandung keempat aspek tersebut. Ia menitikberatkan fungsi penting keempat pilar tersebut sebagai suatu kajian relasional. Empat pilar tersebut berfungsi untuk menghasilkan produk penafsiran yang konkrit dan aplikatif.

“Makna lahir” merupakan bacaan literal seseorang terhadap Al-Quran, sedangkan “makna batin” merupakan hasil pemahamannya. Makna hukum/makna batasan dalam ayat berfungsi untuk menetapkan hukum halal dan haram, sedangkan “makna inti” berfungsi untuk menjelaskan konteks ayat tersebut semisal mengenai berupa janji dan ancaman.

Empat pilar tersebut terdapat pada setiap ayat di dalam Al-Quran. Seorang mufassir memerlukan keempat pilar penafsiran Al-Quran sebagai jalan untuk menemukan kebenaran hakiki. Menurut al-Zarkasy, seseorang yang berbekal ilmu, wawasan, ketakwaan, dan pemikiran yang bersih mampu menemukan sifat-sifat kebenaran di dalam Al-Quran melalui proses persaksian terhadap kebenaran ilmu (ilm al-yaqīn), kebenaran mata (‘ain al-yaqīn), dan kebenaran hakiki (ḥaqq al-yaqīn).

Baca juga: Inilah Solusi Menyikapi Kontradiksi Riwayat Pada Asbabun Nuzul

Seseorang yang mengklaim telah memahami makna hakiki Al-Quran tanpa memahami keempat pilar di dalamnya seperti mengklaim telah memasuki bagian dalam sebuah rumah tanpa melewati pintu. Seseorang yang mengaku telah memahami makna tersirat Al-Quran tanpa memahami makna lahiriahnya seperti seolah-olah memasuki sebuah rumah tanpa melewati pintu.

Tafsir lahiriah/ kajian tekstualitas bergerak dalam aspek kajian bahasa yang penting untuk dipahami dan dianalisa secara masif; Hal ini didasarkan pada Al-Quran yang turun dengan bahasa Arab, bukan bersandar pada berbagai bahasa manusia lainnya. Maka hendaklah seorang mufassir memahami bahasa Arab atau sebagian besar dari konsep kebahasaannya.

Tujuan al-Zarkasy mengingatkan perkara ini sebagai peringatan untuk memahami segala sesuatu secara sistematis. Seorang pelajar tafsir hendaknya merujuk pada makna lahiriah yang telah penulis sebut untuk memahami makna batin dari ilmu Al-Quran secara jelas; bahwa pemahaman atas kalam Allah tidak berujung, sebagaimana tiada berakhirnya perdebatan mengenainya; Manusia tidak memiliki otoritas dan kapasitas yang mumpuni untuk mengoreksi validitas Al-Quran.

Seseorang yang tidak memiliki ilmu, wawasan, ketakwaan, dan pemikiran mengenai Al-Quran dan ilmu-ilmunya takkan merasakan kenikmatannya sama sekali. Al-Zarkasy menegaskan argumennya dengan kutipan berikut:

Ibn Sab’ berpendapat dalam Syifā al-Shudūr: perkataan Abu Darda’ dan Ibn Mas’ud tidak hanya mencakup tafsir secara lahiriah. Beberapa ulama berpendapat: “Setiap ayat memiliki 60.000 pemahaman dan seseorang takkan sampai pada pemahaman paripurna”. Sebagai ulama yang lain berpendapat: “Al-Quran mengandung 77.200 makna di setiap kalimatnya, kemudian tiap kalimatnya dilipatkan gandakan menjadi empat makna; makna lahir, makna batin, makna batasan, dan konteks”.

Seseorang yang menguasai makna tafsir secara lahir –yakni makna leksikal secara bahasa– takkan cukup untuk memahami hakikat suatu makna. Contoh kasus tersebut dalam ayat QS. Al-Taubah (9): 14 “Bunuhlah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan tanganmu”, posisi umat Islam sebagai pembunuh (orang-orang yang syirik) akan mempertanyakan posisi Allah sebagai penyiksa. Di sisi lain, apabila Allah adalah sang penyiksa melalui perantara tangan mereka maka seharusnya diksi perintah di dalam ayat tersebut bukanlah bermakna membunuh.

Hakikat makna pada ayat di atas diperluas dari cakupan yang luas melalui berbagai ilmu relasional. Di satu sisi, ayat tersebut menjelaskan pentingnya bagi seorang Mukmin untuk memahami korelasi antara perbuatan dan batas kemampuan. Sedangkan di sisi lain, seseorang pun perlu memahami korelasi antara batas kemampuan manusia dibanding kemampuan Allah hingga titik pengungkapan dan pencerahan pemahaman pada manusia mengenai keterbatasannya untuk memahami berbagai perbedaan makna lahiriah dalam suatu penafsiran. Wallahu A’lam.

Menggali Nilai-nilai Santri pada Kisah Nabi Musa As dalam Surat Al-Kahfi

0
Menggali nilai santri pada kisah Nabi Musa As
Menggali nilai santri pada kisah Nabi Musa As

Sudah menjadi ciri khas tersendiri bila santri selain memiliki kompetensi dalam keilmuan, mereka juga memiliki nilai lebih yakni pada bidang moral-etis. Hal ini tampaknya terbangun dari satu ‘maqalah’ al-adabu fawqal ‘ilmi (adab/etika di atas ilmu) di kalangan santri. Dalam Al-Quran nilai moral etis ini sudah ditunjukan melalui kisah Nabi Musa As dengan Nabi Khidir As. Kisah tersebut termuat dalam Surat Al-Kahfi.

Bersungguh-sungguh dalam belajar

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ada pada permulaan surat Al-Kahfi ayat 66 yang berbunyi:

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Musa berkata kepada Khidhir “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu”

Al-Maraghi dalam tafsirnya mengkutip hadis riwayat al-Bukhari yang mengisahkan bahwa suatu ketika Nabi Musa berpidato di hadapan kaumnya kemudian ia ditanyai tentang siapa orang yang paling berilmu. Lantas Nabi Musa menjawab “saya”.

Jawaban tersebut yang kemudian membuat Allah menegur Nabi Musa dan menerangkan bahwa ada orang yang lebih alim dibandingnya. Allah juga memperintahkannya untuk berguru kepada orang alim tersebut.

Baca juga: Santri dan Prioritas Kewajiban Menjaga Nyawa

Pada ayat di atas, dalam Tafsir al-Quran al-Adzim, Ibnu Katsir menerangkan bahwa pertanyaan itu bukan pemaksaan, melainkan sebagai permintaan belas kasihan. Ini menunjukan adab seorang pencari ilmu terhadap gurunya. Bahkan, Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menyatakan jika ini merupakan pertanyaan yang penuh etika dan kelembuatan

Pada lafad أَتَّبِعُكَ , Quraish Shihab dalam al-Misbah menerangkan adanya penambahan huruf ta yang mengindikasikan kesungguhan dalam upaya mengikuti gurunya itu. Bahkan setelah mendengar jawaban Nabi Khidir pada ayat berikutnya yakni:

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dia menjawab:”Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu”

Bersikap Tawadhu’

kembali pada ayat ke 66, Quraish Shihab menambahkan bahwa pada kata “bolehkah aku mengikutimu?”, selain nampak kesantunan, Nabi Musa juga menjadikan dirinya sebagai pengikut (santri). Inilah yang Quraish Shihab maksud dengan sikap tawadhu’. Meskipun Musa merupakan seorang nabi yang senantiasa diberi petunjuk bahkan bergelar Ulul Azmi dan Kalimullah, ia tetap merasa belum pandai.

Sikap tawadhu’ umumnya diartikan sebagai sikap merendahkan diri. Maksudnya ialah sikap yang membebaskan seseorang dari ikatan kedudukan tinggi sehingga ia merasa masih di bawah. Ia merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang lain. kebalikan dari sifat ini ialah sombong.

Baca juga: Ketahui Ayat-Ayat Favorit Santri Bekal Rohani dari Para Kyai

Patuh terhadap Guru

Kesungguhan Nabi Musa untuk belajar juga dikuatkan kembali dalam ayat ke 69 yang berbunyi:

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

“Musa berkata:”Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam  sesuatu urusanpun”

Quraish Shihab memfokuskan pada lafad Insya Allah yang menurutnya memiliki kesan bahwa kesabaran nabi Musa dikaitkan dengan kehendak Allah. Dengan begitu, ia tidak bisa dikatakan berbohong karena ketidaksabarannya, karena ia telah berusaha.

Kemudian pada ayat ke 70, maka disebutkan prasyarat yang diajukan Nabi Khidir yakni

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”

Saat Nabi Musa diperbolehkan untuk mengikuti Nabi Khidir, Nabi Khidir memberikan syarat kepadanya agar tidak melemparkan pertanyaan tentang peristiwa yang akan terjadi selama bersamanya hingga Nabi Khidir sendiri yang menjelaskan. Ibnu Katsir juga menerangkan bahwa sebelum Nabi Khidir menjelaskan tindakannya, maka Nabi Musa dilarang untuk bertanya kepadanya.

Namun Quraish Shihab dalam al-Misbah memiliki keterangan yang sedikit berbeda. Menuruntnya Nabi Khidir tidak bermaksud melarangnya secara tegas, tetapi lebih mengaitkan larangan tersebut pada kehendak Musa. Artinya larangan tersebut bukan keinginan Nabi Khidir melainkan sebagai konsekuensi Nabi Musa dalam mengikuti Nabi Khidir.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul

Modal utama santri dalam menuntut ilmu

Di kalangan pesantren, kitab Ta’lim al-Muta’allim hampir sudah menjadi kewajiban bagi santri untuk mengkajinya. Salah satu hal yang menarik dari kitab karangan syaikh az-Zarnujy ialah saat ia mengutip syair dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib yang berisi tentang 6 syarat yang harus dimiliki oleh pencari ilmu yakni, cerdas, semangat, sabar, ada biaya, ada bimbingan guru dan waktu yang lama.

Belajar dari kisah Nabi Musa, maka bisa terlihat pula nilai-nilai santri yang terdapat padanya. Kesungguhan, kesabaran, ketawadhu’an dan sebagainya menjadi modal utama seorang santri dalam mencari ilmu. Meskipun dikisahkan bahwa Nabi Musa tidak cukup sabar dalam melihat perilaku Nabi Khidir yang menurutnya di luar kewajaran, namun hikmah yang terkandung dari kisah tersebut ialah bahwa ketidak sabaran itu muncul dari kurangnya pengetahuan.

Baca juga: Riyadhah KH. M. Munawwir Krapyak, dari Wirid Al Qur’an hingga Bertemu Nabi Khidir

Pada akhirnya mematuhi perintah guru (selama dalam kebaikan) merupakan kewajiban bagi para pencari ilmu (santri) dan kesabaran termasuk syarat utama mencari ilmu. Imam Syafi’i pernah mengatakan dalam syairnya:

فَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَعَلُّمِ سَاعَةً ** تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهلِ طُولَ حَيَاتِهِ

 “barangsiapa belum pernah merasakan mecari ilmu walau sesaat, maka ia akan menelan kebodohan sepanjang hidupnya”.

Wallahu a’lam[]

Telah Syahid Guru Kami, Syekh Muhammad Adnan al-Afyouni

0
Syekh Muhammad Adnan Al-Afyouni
Syekh Muhammad Adnan Al-Afyouni

Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun. Telah syahid guru kami, Syekh Muhammad Adnan al-Afyouni, di Qudsia Provinsi Damaskus.

Syahidnya beliau menambah daftar panjang ulama yang diserang secara keji oleh teroris yang mengatasnamakan Islam.

Syeikh Adnan adalah sosok ulama yang mempunyai peran sangat penting dalam proses rekonsiliasi konflik di Suriah.

Beliaulah ulama yang turun langsung meng-islahkan pihak-pihak yang bertikai.

Beliau ulama yang mendapatkan kepercayaan, baik dari pemerintah maupun oposisi, karena integritasnya yang tinggi.

Beliau juga termasuk ulama yang sangat dekat dengan umat Islam Indonesia, mempunyai ratusan murid di Indonesia, melakukan serangkaian kunjungan rutin ke Indonesia semasa menjadi mufti Provinsi Damaskus, mewanti-wanti agar jangan sampai apa yang menimpa negaranya terjadi pula di Indonesia.

Beliau juga mempunyai kedekatan dengan ulama-ulama Indonesia, terutama Habib Luthfi bin Yahya, Anggota Wantimpres RI dan ketua Jamiyah Toriqoh Mutabarah al-Nahdliyah (JATMAN).

Kami kehilangan seorang guru, ulama, dan rekonsiliator.

Syahidnya beliau mengingatkan pada kita bahwa perjuangan melawan radikalisme dan terorisme masih panjang. Perlawanan terhadap Khawarij dan turunannya adalah jalan hidup para ulama, dari generasi sahabat hingga periode kita sekarang ini.

Semoga dilipatgandakan segala kebaikannya, dikumpulkan bersama para pendahulunya di surga firdaus-Nya. Amin.

Baca Juga: Obituari: Syekh Nuruddin Itr, Sang Mufasir dan Pembaharu Ilmu Hadis

Dilansir dari berbagai berita (redaksi), Syekh Muhammad Adnan al-Afyouni ditemukan tewas di kota kecil Qudsaya, dekat Damaskus pada Kamis (22/10) malam waktu setempat. 

“Syekh Adnan Al-Afyouni mufti dari Damaskus dan daerah pinggirannya, menjadi martir setelah teroris membom mobilnya di kota Qudsaya, Damaskus,” demikian laporan dari Kantor Berita Resmi Suriah, Syrian Arab News Agency (SANA).  

Laporan tersebut tidak menjelaskan rinci detail kelompok mana yang bertanggungjawab atas pembunuhan keji tersebut.   

Syekh Adnan lahir di Damaskus pada tahun 1954. Selain dikenal sebagai ulama, dia juga anggota dewan hukum ilmiah di Kementerian Wakaf dan seorang mufti di daerahnya. Dia juga pengawas umum dari Pusat Islam Internasional Al Sham yang melawan aksi dan pemikiran terorisme.

Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni: Pertahankan Kesejahteraan Indonesia !

0
Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni
Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni

Seseorang yang berkhidmah untuk Negara, maka dia sama saja berkhidmah untuk agama negara tersebut. Sehingga ada jargon “Hubbul Wathan Minal Iman”, cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Maqalah tersebut sudah sinkron dengan maksud dan tujuan terbentuknya negara Indonesia yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu: “Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum; dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Karena menurut cara pandang geopolitik, kelangsungan hidup suatu bangsa tergantung kepada ruang untuk hidupnya atau wilayah negara tersebut. Demi kelangsungan hidup, termasuk pelaksaan ritual keagamaan (ibadah) bagi bangsa Indonesia, maka wilayah negara Republik Indonesia harus dipertahankan.

Akhir-akhir ini, isu tentang radikalisme atau ekstrimisme acapkali naik suhu. Hal ini penting untuk selalu mendapat perhatian dan sikap oleh pemerintah sebagai bentuk perlindungan terhadap keutuhan Negara Kesatuan Replublik Indonesia. Bahaya ideologi tersebut sudah terbukti ancamannya terhadap keutuhan suatu bangsa. Sebagai contoh negara-negara timur tengah seperti Irak, Suriah, Yaman dan Libya.

Sebagai Bangsa yang cerdas, Indonesia harus melirik negara-negara tersebut untuk dijadikan i’tibar. Bahaya besarnya dapat meluluhlantahkan bangsa, hilangnya pendidikan bagi generasi muda, lapangan kerja, tempat tinggal dan lain-lain. Kerena kecintaan seorang ulama dari suriah Syaikh Adnan Afyouni terhadap Indonesia, kepeduliannya agar Bangsa dengan penduduk muslim terbesar ini tetap utuh, aman dan sejahtera, beliau menyampaikan pesan cinta untuk Indonesia.


Baca juga: Tafsir Surat Ali Imran Ayat 103: Dalil Sila Ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia


Berikut terjemahan sambutan beliau dari video yang dipublikasikan di akun youtube Sekretariat Al-Syami (Ikataan Alumni Syam Indonesia) pada 14 januari 2019, bisa klik di sini.

Segala puji bagi Allah dan Shalawat salam tercurahkan untuk Rasulullah SAW.

Suriah (Syam) adalah negara yang kaya peradaban dan bumi tempat Allah menurunkan risalahNya kepada para nabi. Rasulullah Saw. telah mendoakan keberkahan untuk Syam.  Dahulu suriah merupakan negara yang paring murah biaya hidupnya, paling damai (sejahtera) dan paling lapang dalam kebebasan. Penduduknya hidup dari latarbelakang berbeda-beda; suku, madzhab, agama dan ras, sebagai sesama saudara yang saling mencintai.  Seakan mereka dalam satu keluarga.

Suriah merupakan sumber keilmuan yang hak (baca; benar) dan murni, juga merupakan kiblatnya hidayah (petunjuk). Penduduknya seakan merasakan hidup di suatu tempat bagian dari surga. Kondisi seperti itu berlangsung hingga datangnya Arab Spring (musim semi di arab) atau demokratisasi berdarah. Peristiwa ini bermula dari konflik kecil di tengah masyarakat, kemudian terjadi demonstrasi di jalanan dan akhirnya ditunggangi kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan.

Mereka membangkitkan sentimen keagamaan dan menyulut sumbu emosi masyarakat.  Dari demonstrasi berdampak aksi-aksi ekstrimis dan perselisihan dengan angkat senjata. Sampai negara-negara besar pun melakukan intervensi di tengah perselisihan, dengan mereka membentuk tentara dan masuklah ke Suriah kelompok-kelompok ekstrimis, teroris.


Baca juga: Tafsir Kalimat Sawa’: Hidup Damai di Tengah Perbedaan, Kenapa Tidak?


Akhirnya berubahlah Suriah yang daluhu termasuk negara paling aman (sejahtera) tapi sekarang menjadi tempat berkobarnya api perang (kedzaliman) yang  ditunggangi konspirasi lebih dari banyak negara. Kelompok ISIS dan kelompok-kelompok ekstrimis lain memanfaatkan kesempatan tersebut di Suriah.

Karena fitnah, sebagian warga Suriah pun juga tergabung dengan mereka dalam perang, sehingga kami kehilangan suriah, kami kehilangan kesejahteraan, kami kehilangan stabilitas negara, kami kehilangan hidup makmur, kehilangan harapan kami di masa lampau, kami kehilangan masa depan putra-putra kami dan anak-anak kami. Kota-kota di Suriah telah hancur, penduduknya bercerai-berai, ratusan ribu orang-orang tak bersalah meninggal menjadi korban. Kami kehilangan rasa humanism antar sesama.

Oleh sebab itu, saya sampaikan kepada seluruh warga Indonesia. Indonesia merupakan negara yang indah, negara yang penduduknya baik-baik, yaitu negara yang sejahtera dan stabil. Negara yang tumbuh berkembang menjadi lebih baik.

Jangan sekali-kali kalian menjadi sebab kerusakannya. Jangan sekali-kali kalian mengedepankan  emosi  atas syariat dan rasional, sehingga berdampak seperti yang kami rasakan efeknya sampai sekarang di suriah.

Wahai saudara-saudaraku, Indonesia  berhak  untuk kalian perjuangkan segalanya. Tinggalkanlah berbagai kepentingan-kepentingan, hawa nafsu dan hal-hal lainnya, agar Indonesia tetap bermartabat, tetap indah, dan penuh berkah, tetap manjadi negara yang aman dan tentram sebagai negara penduduk muslim terbesar, negara yang moderat, negara yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya saw, negara penuh pesantren-pesantren yang mengajarkan ilmu.


Baca juga: Islam Menyerukan Keadilan Sosial, Begini Penjelasan Para Mufassir


Saya sampaikan kepada kalian, ketika sebagian dari kami dikendalikan oleh emosinya, maka inilah menjadi sebab masuknya ISIS ke negara kami dan menyebabkan masuknya teroris ke negeri kami. padahal sebelum peristiwa yang terjadi di Suriah ini, tidak ada organisasi apapun atau siapapun mampu mempermainkan keamanannya, masyarakat dan negerinya. Ini berlangsung  sampai hancurnya negeri ini yang disebabkan emosi dan tidak dipakainya rasional (akal sehat), juga karena tidak berdasar hukum syariat, maka dampaknya adalah punahnya banyak hal dari kami.

Saudara-saudaraku, Indonesia merupakan amanah di pundak kalian. Hendaknya kalian mengedepankannya atas kepentingan apapun. Dan hendaknya kalian menjaganya dari segala yang menyebabkan kerusakan, kekacauan dan tercerai-berai penduduknya.

Indonesia merupakan amanah di pundak kalian yang harus dijaga dan dilindungi. Wallahu a’lam []