Beranda blog Halaman 118

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-2

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-2 berbicara mengenai kekuasaan dank e-Mahaperkasaan Allah SWT atas segala makhluknya. Namun selain ke-Mahaperkasaan itu juga terdapat sisi ke-Mahabijaksaan Allah SWT. Ia telah mengatur segalanya dengan begitu runtut dan teratur.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 59


Ayat 1-2

Ayat pertama terdiri dari huruf-huruf hijaiah, sebagaimana terdapat pada permulaan beberapa Surah Al-Qur’an. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Selanjutnya dipersilahkan menelaah masalah ini pada “Al-Qur’an dan Tafsirnya” jilid I yaitu tafsir ayat pertama Surah al-Baqarah.”

Pada ayat berikutnya, Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana menjelaskan bahwa kitab Al-Qur’an yang sempurna itu diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw.

Disebutkan sifat Allah “Mahaperkasa” dalam ayat ini agar tergambar dalam pikiran orang yang membaca atau mendengarnya, bahwa yang menurunkan kitab Al-Qur’an itu ialah Zat yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas, tidak dapat ditandingi dan tidak dapat dibantah kehendak-Nya.

Keinginan dan kehendak-Nya pasti terlaksana sesuai dengan rencana-Nya, tidak ada kekuasaan lain yang mampu menghalang-halangi dan mengubahnya.

Demikian pula ditonjolkan sifat “Mahabijaksana” dalam ayat ini agar dipahami, bahwa dalam melaksanakan kehendak dan kekuasaan-Nya itu, Dia melaksanakan keadilan yang merata pada setiap makhluk-Nya.


Baca juga: Simbolisasi Kekayaan dalam Surah Alkahfi ayat 34


Dia bertindak, menciptakan dan melaksanakan sesuatu sesuai dengan guna dan faidahnya. Kebijaksanaan ini dapat disaksikan pada seluruh tindakan dan semua makhluk yang diciptakan-Nya, dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat yang paling sempurna.

Pada tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, dan susunan serta ketentuan-ketentuan yang berlaku pada tata surya, orang dapat mengetahui bahwa pada tiap-tiap makhluk ada hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang tidak dapat dilanggar; semuanya harus tunduk dan patuh baik secara sukarela maupun terpaksa.

Tidak satu makhluk pun yang melanggar dan menyalahi hukum dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah baginya, kecuali akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran.

Apabila orang mau menggunakan pikirannya yang jernih dan sehat tentu akan mengakui kekuasaan dan kebijaksanaan Allah terhadap semua makhluk-Nya. Dan apabila ia telah yakin akan hal itu, tentu ia akan menerima dan mengamalkan Al-Qur’an sebagai wahyu dan petunjuk Allah.

 Hal ini juga berarti bahwa diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw dalam bahasa Arab, disampaikan untuk pertama kalinya kepada orang-orang Quraisy, kemudian baru tersebar ke seluruh penjuru dunia, ada hikmahnya sesuai dengan guna dan faedahnya.

Hikmah, guna dan faidahnya itu diketahui manusia dengan perantaraan Al-Qur’an sendiri. Ada yang diketahui berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dipunyai oleh seseorang, dan ada yang belum diketahui oleh manusia, karena Yang Mahatahu hanyalah Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 3


Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 59

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 59 berbicara mengenai penyesalan yang akan dirasakan oleh orang-orang musyrik kelak. Sebaliknya orang-orang mukmin kelak akan senang dan bahagia karena mendapat anugerah dari Allah Swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58


Ayat 59

Itulah sebabnya Allah membiarkan orang-orang musyrik Mekah sesat dalam kesyirikannya, membiarkan mereka menunggu ketentuan Allah pada saat yang telah ditentukan, dan mereka pasti akan menyaksikan sendiri siapakah yang benar nanti, mereka yang selalu menyekutukan Tuhan dan berbuat dosa ataukah orang-orang yang beriman yang mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad.

Seandainya mereka mau mengakui kebenaran Al-Qur’an, tentulah mereka akan yakin bahwa kemenangan itu pasti diperoleh oleh orang-orang yang mengikuti agama tauhid yang berjuang dan beramal untuk mencari keridaan Allah. Allah berfirman:

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ   ٥١  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظّٰلِمِيْنَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ   ٥٢

Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat), (yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk. (Gafir/40: 51-52)

Selama menunggu ketentuan dari Allah itu, terdapat perbedaan sikap dan keyakinan antara para pengikut rasul dengan orang-orang musyrik Mekah. Para pengikut rasul menunggu janji kemenangan dari Allah dengan bersabar dan tawakal.

Mereka yakin bahwa Allah pasti menepati janji-Nya yaitu memenangkan Islam dan kaum Muslimin di dunia dan melimpahkan kenikmatan serta kebahagiaan abadi di akhirat.


Baca juga: Ketentuan Kategorisasi Mushaf Kuno


Karena itu, mereka tidak pernah gentar dan takut, mati dan hidup bagi mereka sama saja karena semua yang ada pada mereka, jiwa maupun raga, harta dan nyawa mereka telah mereka serahkan kepada Allah. Sebaliknya, orang-orang musyrik menunggu dengan perasaan khawatir dan takut.

Mereka sangat khawatir akan dihancurkan oleh kaum Muslimin. Setiap mereka melihat perkembangan, kemajuan, dan kemenangan kaum Muslimin atas mereka, semakin bertambah pula kekhawatiran pada diri mereka.

Mereka sangat takut akan pembalasan dendam kaum Muslimin kepada mereka. Karena itu mereka berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan segala yang ada pada mereka untuk mengatasi kemajuan dan kemenangan kaum Muslimin.

Hal ini terlihat pada usaha-usaha mereka itu sebagaimana yang telah mereka usahakan di Perang Ahzab, perjanjian Hudaibiyah dan sebagainya. Sebenarnya dalam hati mereka terbayang kebenaran sesungguhnya, namun karena kesombongan dan keangkuhan, mereka tetap menjauhkan diri dari kebenaran Al-Qur’an.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-2


 (Tafsir Kemenag)

Tafsir Ahkam: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub

0
Hukum Tidur dalam Keadaan Junub
Hukum Tidur dalam Keadaan Junub

Menurut keyakinan sebagian muslim, keadaan junub adalah keadaan tidak karena bersetubuh atau keluar air mani. Dalam kondisi ini, seseorang dianjurkan untuk segera bersuci dengan mandi besar. Namun ternyata ada beberapa kasus yang berbeda, yaitu ketika seseorang yang junub kemudian dia tidak langsung bersuci malah dia cenderung sengaja membiarkan dirinya berlama-lama dalam keadaan junub tersebut dan dia bahkan melakukan aktivitas lain meski memang tidak mensyaratkan suci dari hadas besar dalam pelaksanaannya, seperti tidur, makan, minum atau lainnya. Bagaimana hukum tidur dalam keadaan junub, juga makan dan minum dalam keadaan junub?

Kasus ini menjadi sangat berkaitan dengan tafsir dari penggalan ayat Alquran tentang junub meski memang tidak langsung mengambil penjelasan dari beberapa kitab tafsir secara langsung. Berikut terjemahan dari penggalan ayat tersebut “…..Dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu” (Q.S. Albaqarah [2]: 222).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Larangan Berjalan dan Berdiam Diri di Masjid Bagi Orang yang Junub

Tidur dalam keadaan junub

Para ulama menetapkan bahwa tidur dalam keadaan junub hukumnya adalah boleh. Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan dari Aisyah:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ

Rasulullah salallahu alaihi wasallam tatkala hendak tidur dalam keadaan junub, maka sebelum tidur beliau berwudu sebagaimana wudu yang dikerjakan saat hendak salat (H.R. Bukhari dan Muslim).

Berdasar hadis ini dan beberapa hadis lain yang senada, para ulama sepakat bahwa tidur dalam keadaan junub hukumnya adalah boleh. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban berwudu bagi orang yang hendak tidur dalam keadaan junub. Mayoritas ulama menyatakan hukum berwudu sebelum tidur adalah sunah saja dan tidak wajib. Sebagian kecil ulama menyatakan bahwa wudu sebelum tidur dalam keadaan junub hukumnya adalah wajib (Syarah Muslim Li an-Nawawi/1/499).

Perbedaan pendapat ini disebabkan dalam sebagian redaksi hadis, anjuran berwudu memakai kata perintah yang mengindikasikan hukum wajib di dalamnya. Namun mayoritas ulama menepis kemungkinan hukum wajib tersebut. Dengan dasar adanya sebagian hadis yang memakai redaksi yang menunjukkan bahwa wudu adalah suatu pilihan yang boleh tidak dilakukan. Maka untuk menghindari pertentangan antara hadis-hadis tersebut, hukum yang diambil adalah sunah (Subul as- Salam/1/291).

Meski menurut mayoritas ulama hukum berwudu sebelum tidur adalah sunah, tapi mereka juga menyatakan hukum makruh meninggalkan wudu tersebut. Imam al-Nawawi menyatakan bahwa kesimpulan ini didukung hadis yang diriwayatkan dari Ali bahwa Nabi bersabda:

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلاَ جُنُبٌ وَلاَ كَلْبٌ

Malaikat enggan memasuki rumah yang didalamnya ada gambar, orang junub, serta anjing (HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Ketahuilah, Apa Makna Junub Di dalam Al-Qur’an

Sebagian ulama memahami bahwa maksud dari orang junub tersebut adalah orang yang mengalami keadaan junub dan tidak segera melakukan mandi besar. Ada juga yang memahami bahwa orang junub yang dimaksud adalah orang yang memiliki kebiasaan menunda-nunda mandi besar saat mengalami junub.

Imam al-Nawawi juga menyatakan bahwa hukum sunah berwudu tersebut juga berlaku bagi perempuan yang haid atau nifas, yang sudah selesai haid atau nifasnya. Selain itu, kesunahan berwudu juga belaku saat orang junub hendak makan, minum, atau berhubungan intim untuk kedua kalinya (al-Majmu’/2/157).

Imam al-Munawi menuturkan beberapa keterangan ulama mengenai hikmah di balik anjuran wudu tersebut. Ada yang menyatakan bahwa wudu tersebut akan meringankan hadas yang ditanggung orang yang junub. Menurut sebagian ulama, wudu tersebut dapat menghilangkan hadas kecil dari orang yang junub tersebut. Ada yang menyatakan hikmah dari wudu adalah membuat diri menjadi semangat untuk mandi atau mengembalikan stamina saat hendak berhubungan intim untuk kedua kalinya. Ada menyatakan, wudu tersebut akan mengusir setan yang mengganggu keberkahan makan, minum dan selainnya (Faidul Qadir/5/120).

Kesimpulan

Dari berbagai keterangan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa tidur, makan atau minum dalam keadaan junub hukumnya boleh. Namun sebisa mungkin berwudu sebelum melakukan itu semua.

Hal ini menunjukkan perhatian Islam pada kesucian diri saat hendak melakukan segala sesuatu. Kesucian tersebut tidak hanya mencakup lahiriyah yang berarti menjaga kebersihan dari hal kotor yang kasat mata, tapi juga batin yang mencakup suci dari hadas kecil maupun besar yang tak kasat mata. Namun perlu dicatat bahwa kegiatan yang dilakukan dalam masa waktu menunda itu adalah aktivitas wajib seperti salat dan lainnya. Jika sudah meyangkut kegiatan atau ibadah wajib, maka beda lagi permasalahan dan pembahasannya. Wallah a’lam.

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai anugerah penghuni surga. Kedua mengenai alasan turunnya al-Qur’an menggunakan bahasa Arab.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56


Ayat 57

Segala nikmat yang diterima penghuni surga itu adalah karunia Allah yang diberikan sebagai tanda bahwa Dia meridai perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan selama hidup di dunia, dan sebagai bukti bahwa mereka mengikuti petunjuk wahyu yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, taat kepada perintah-perintah yang harus mereka lakukan dan menjauhkan semua larangan yang harus mereka hentikan.

Yang demikian itu mereka terima sebagai hasil jerih payah yang telah mereka lakukan dan imbalan dari keimanan mereka. Hasil yang mereka peroleh itu adalah hasil yang tiada bandingnya jika dibandingkan dengan hasil yang pernah dicapai seseorang selama hidup di dunia, menikmati hasil cucuran keringat sendiri yang merupakan suatu kenikmatan tersendiri pula.

Baca juga: Cara Jamuan Disuguhkan untuk Ahli Surga dalam Surah Al-Insan Ayat 5

Ayat 58

Allah menjelaskan petunjuk dan peringatan yang telah disampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah yang disampaikan oleh Rasul-Nya, Muhammad saw, berupa wahyu-Nya yang diturunkan dengan bahasa yang sudah mereka pahami yaitu bahasa mereka sendiri, bahasa Arab.

Hal itu dimaksudkan agar kaum musyrik Mekah dapat dengan mudah mengambil petunjuk dan pelajaran dari pokok-pokok agama Islam, tamsil ibarat dan kisah-kisah umat yang dahulu yang terdapat di dalam Al-Qur’an wahyu yang telah diturunkan itu.

Dengan membaca Al-Qur’an mereka akan merenungkan ayat-ayat yang menyuruh agar manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah yang terdapat dalam kejadian langit dan bumi beserta apa yang ada antara keduanya, demikian pula bukti-bukti adanya hari kebangkitan.

Dengan bimbingan dan peringatan itu, diharapkan mereka mau bertobat, kembali ke jalan yang benar, mau mengakui dan mencari kebenaran yang hakiki dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan nenek moyang mereka yang telah nyata kesesatannya.

Akan tetapi lantaran kebekuan hati mereka karena kesombongan dan keangkuhan mereka, maka petunjuk dan kebenaran yang dikemukakan Al-Qur’an kepada mereka tidak dapat mereka terima, sehingga mereka tetap dalam kegelapan dan kesesatan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dhukan Ayat 59


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56 berbicara mengenai salah satu kenikmatan yang akan diperoleh ketika di surga. Salah satunya adalah keabadian yang kekal dan tidak pernah tua.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55


Ayat 56

Dalam ayat ini Allah menerangkan kenikmatan lain yang dianugerahkan-Nya di dalam surga, yaitu mereka tidak akan merasakan mati seperti yang mereka rasakan di dunia. Mereka akan hidup kekal di surga.

Hal ini berarti bahwa penghuni surga itu tetap dalam keadaan sehat wal afiat jasmani dan rohani dan mereka telah naik ke suatu martabat yang tidak dianugerahkan Allah kepada makhluk yang lain, kecuali malaikat yaitu hidup kekal penuh kebahagiaan.

Dalam hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Muslim digambarkan keadaan penghuni-penghuni surga itu, yaitu:

عَنْ أََبى هُرَيْرَةَ وَاَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنَادِيْ مُنَادٍ ِﺇنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلاَ تَسْقَمُوْا أَبَداً وَﺇنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوْتُوا أَبَداً وَﺇنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرَمُوْا أَبَداً وَاِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوْا فَلاَ تَبْتَئِسُوْ أَبَدًا. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Sa’id bahwasanya Rasulullah saw bersabda, seorang penyeru menyerukan, “Sesungguhnya kamu akan selalu sehat, karena itu kamu tidak akan menderita sakit selama-lamanya; sesungguhnya kamu akan tetap hidup dan tidak akan mati selama-lamanya, dan sesungguhnya kamu akan tetap muda dan tidak akan pernah mengalami ketuaan selama-lamanya dan sesungguhnya kamu akan merasa nikmat dan tidak akan menderita selama-lamanya.” (Riwayat Muslim)


Baca juga: Stefan Wild dan Luxenberg dalam Memaknai Bidadari Surga dalam Al-Quran


Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa para penghuni surga itu terpelihara dari siksa neraka.

Terpelihara dari siksa itu termasuk salah satu dari kenikmatan yang sangat berharga, karena apabila seseorang terlepas dari suatu bahaya atau melihat orang lain menderita sedangkan ia sendiri terlepas dari bahaya dan penderitaan itu, maka ia akan merasakan suatu nikmat dan merasa bahwa ia tidak pernah berbuat suatu kejahatan sehingga ia tidak mengalami penderitaan


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keingkaran orang-orang kafir terhadap siksa akhirat. Kedua berbicara mengenai kenikmatan akhirat yang diperoleh orang-orang mukmin.


Baca sebelumnya:  Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49


Ayat 50

Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir semasa hidup di dunia tidak yakin bahwa mereka benar-benar akan diazab di akhirat nanti, mereka ragu terhadap berita itu. Keragu-raguan ini tergambar dalam perkataan dan tindakan mereka. Mereka membantah adanya hari kebangkitan dan adanya hari pembalasan.

Mereka mengingkari kebenaran Al-Qur’an, bahkan mereka mengatakan Al-Qur’an itu buatan Muhammad saw dan Muhammad itu bukan utusan Allah, melainkan seorang tukang tenung dan tukang sihir.

Akan tetapi setelah mereka dibangkitkan kembali dan digiring ke padang mahsyar untuk ditimbang perbuatan-perbuatan mereka dan dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala, barulah mereka sadar akan akibat kesombongan serta sikap keras kepala mereka selama hidup di dunia.

Timbullah penyesalan yang tidak putus-putusnya pada diri mereka walaupun mereka mengetahui, bahwa penyesalan pada waktu itu tidak ada gunanya lagi. Allah berfirman:

يَوْمَ يُدَعُّوْنَ اِلٰى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّاۗ  ١٣  هٰذِهِ النَّارُ الَّتِيْ كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ   ١٤

Pada hari (ketika) itu mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), “Inilah neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (at-Tµr/52: 13-14)


Baca juga: Tafsir Surat al-Mulk Ayat 25-27: Balasan Bagi yang Ingkar Terhadap Ancaman Allah


Ayat 51-55

Sebagai perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman.

Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh antara lain ialah:

1.Mereka mendapat tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka. Di tempat itu mereka aman dari segala macam gangguan baik berupa gangguan keamanan diri mereka maupun dari gangguan keamanan jiwa mereka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan perlindungan Allah.

Tidak ada kata-kata yang menyakitkan hati, tidak ada sikap orang lain yang dapat mengguncangkan perasaan, semuanya enak didengar, indah dilihat, menyejukkan hati dan menentramkan perasaan, tempatnya yang indah, udaranya yang nyaman, mata air yang jernih memancarkan air yang mengasyikkan orang yang tinggal di dalamnya.

  1. Di dalam surga itu, orang-orang yang beriman diberi pakaian yang terbuat dari sutera, baik sutera yang halus lagi lembut, memuaskan hati orang yang memakainya, maupun sutera tebal yang beraneka warna dan menghangatkan badan.
  2. Mereka duduk berbincang-bincang, berhadap-hadapan di tempat-tempat duduk yang menyenangkan. Dari wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah rasa kebahagiaan yang tiada taranya dan rasa kepuasan terhadap pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
  3. Mereka dianugerahi teman hidup yang mendampingi mereka, berupa jodoh atau pasangan yang serasi dan sesuai dengan keinginan mereka. Jodoh mereka itu tidak ada cacat celanya dan belum pernah hatinya tertambat kepada orang lain.
  4. Mereka disuguhi buah-buahan yang beraneka ragam macamnya dan makanan yang enak, tidak habis-habisnya dan tidak pernah membosankan.

Demikian kesenangan dan kebahagiaan yang akan diperoleh ahli surga nanti. Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan itu tidak dapat dibayangkan manusia karena tidak ada bandingannya dalam kehidupan ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49 berbicara mengenai balasan bagi orang-orang yang congkak ketika di dunia. Salah satu contohnya adalah kehinaan yang dialami oleh Abu Jahal.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48


Ayat 49

Dalam suatu riwayat diterangkan sebab turunnya ayat ini. Al-Amawy meriwayatkan dalam kitabnya “Al-Magaazi” bahwa ‘Ikrimah mengatakan, Rasulullah saw pernah menemui Abu Jahal dan mengatakan kepadanya, “Celakalah kamu”. Umpatan ini diulangi beliau tiga kali.

Kemudian Abu Jahal menarik tangannya dari tangan Rasulullah saw dan berkata, “Apa yang engkau ancamkan kepadaku. Engkau dan Tuhanmu tidak akan mampu melakukan tindakan apa pun terhadap aku. Sebenarnya, jika engkau mengetahui, akulah orang yang paling perkasa dan paling mulia di lembah (Mekah) ini.

Engkau telah mengetahui bahwa akulah yang paling perkasa di antara penduduk negeri Bata’ atas kaumnya.  Kemudian Abu Jahal mati dalam Perang Badar dalam keadaan hina. Maka turunlah ayat ini seakan-akan menyindir perkataan Abu Jahal yang juga merupakan perkataan orang-orang Kafir Mekah pada waktu itu.

Pada ayat ini Allah menggambarkan hardikan dan cemoohan yang diucapkan malaikat Zabaniyah kepada penghuni-penghuni neraka. Para malaikat mengatakan kepada mereka itu.

“Rasakanlah hai orang yang mengaku perkasa dan mulia ini, rasakanlah olehmu pembalasan dari dosa yang telah kamu kerjakan selama hidup di dunia; seakan-akan kamulah yang menentukan segala sesuatu, tidak ada orang yang lebih berkuasa dari kamu.”


Baca juga: Membangun Resiliensi Diri dengan Sabar dan Salat


Mereka berpendapat bahwa kesenangan duniawi itu adalah kesenangan yang sebenarnya. Karena itu mereka gunakan seluruh hidup dan kehidupan mereka untuk mendapatkan kesenangan itu. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau tahu bahwa sebenarnya hidup mereka bergantung pada manusia yang lain.

Bahkan mereka berpendapat bahwa semua yang mereka peroleh itu adalah semata-mata hasil jerih payah mereka sendiri, mereka lupa bahwa semuanya itu adalah berasal dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tindakan mereka menunjukkan bahwa mereka merasa dirinya berkuasa lagi perkasa.

Tetapi apa yang mereka alami pada hari pembalasan adalah kebalikan dari apa yang mereka duga sebelumnya. Mereka merasakan siksaan yang pedih dan derita yang maha berat. Mereka merasa tidak ada nilai harga dirinya di hadapan para malaikat yang sedang menyiksa mereka. Mereka menyesali diri mereka tiada putus-putusnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48 berbicara mengenai gambaran kerasnya siksa neraka. salah satunya adalah direnggut dan diseret-seret lalu dilemparkan ke tengah api yang berkobar-kobar.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46


Ayat 47-48

Kemudian Allah menerangkan apa yang harus dilakukan malaikat kepada penghuni neraka itu. Allah memerintahkan kepada malaikat Zabaniyah merenggut dan menyeret penghuni-penghuni neraka itu dan melemparkannya ke tengah-tengah nyala api yang sedang berkobar-kobar sehingga mereka hangus terbakar.

Ungkapan ini merupakan gambaran bagi manusia, bagaimana berat dan kerasnya siksa yang akan dialami penduduk neraka nanti.


Baca juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid


Setelah malaikat Zabaniyah itu mencampakkan penghuni-penghuni neraka ke tengah-tengah api yang menyala-nyala itu, maka ia pun menyiram mereka dengan cairan panas yang mendidih. Siksaan seperti itu adalah siksaan yang paling berat yang akan mereka rasakan dan terasa lebih merata ke seluruh badan mereka.

Dalam ayat yang lain diterangkan pula siksaan yang seperti itu, Allah berfirman:

۞ هٰذَانِ خَصْمٰنِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ  فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ ۚ  ١٩  يُصْهَرُ بِهٖ مَا فِيْ بُطُوْنِهِمْ وَالْجُلُوْدُ ۗ  ٢٠  وَلَهُمْ مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيْدٍ   ٢١

Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih. Dengan (air mendidih) itu akan dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka. Dan (azab) untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. (al-Hajj/22: 19-21)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46 berbicara mengenai salah satu gambaran bagaimana siksaan penghuni neraka. salah satunya digambarkan dengan keadaann pohon zaqqum.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 41-42


Ayat 43-46

Allah menggambarkan bagaimana siksaan yang disediakan bagi orang-orang kafir penghuni neraka. Dalam ayat yang lain, digambarkan keadaan pohon zaqqum itu yaitu mayangnya saja menakutkan orang yang melihatnya, Allah berfirman:

طَلْعُهَا كَاَنَّهٗ رُءُوْسُ الشَّيٰطِيْنِ  ٦٥  فَاِنَّهُمْ لَاٰكِلُوْنَ مِنْهَا فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۗ   ٦٦

Mayangnya seperti kepala-kepala setan. Maka sungguh, mereka benar-benar memakan sebagian darinya (buah pohon itu), dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya (zaqqµm). (as-Saffat/37: 65-66)

Betapa nyeri dan perihnya perut orang yang memakan buah zaqqum itu digambarkan seperti rasa yang dirasakan seseorang yang meminum kotoran minyak yang sedang mendidih, panasnya diumpamakan seperti panas air yang sedang mendidih yang dapat melumatkan dan menghancurkan perut orang yang meminumnya.


Baca juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid


Sesudah memakan buah zaqqµm itu orang-orang kafir akan dipaksa lagi meminum-minuman air yang sangat panas. Allah berfirman:

ثُمَّ اِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيْمٍۚ   ٦٧

Kemudian sungguh, setelah makan (buah zaqqum) mereka mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas. (as-Saffat/37: 67)

Demikianlah perasaan orang kafir pada saat mereka makan dan pada saat mereka minum.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 41-42

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 41-42 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai peristiwa yang akan terjadi ketika hari kiamat. Salah satunya terputusnya hubungan anatara satu dengan yang lain. Kedua mengenai umat selamat di hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 39-40


Ayat 41

Pada hari itu, terputuslah hubungan antara orang seorang dengan yang lain, bahkan tidak ada lagi hubungan anak dengan bapaknya, hubungan anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya, apalagi hubungan teman dengan teman.

Yang dapat menolong dan menentukan nasib manusia hanyalah amal perbuatannya sendiri yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Barang siapa yang banyak menanam amal kebaikan, tentu akan mendapat hasil yang berlimpah dari amal kebaikannya itu.

Sebaliknya, barang siapa yang mengikuti keinginan hawa nafsunya, tentulah akan mendapat azab neraka. Tidak ada suatu pun yang dapat mengurangi azab mereka walaupun itu anak kandung, kerabat, atau handai taulan. Allah berfirman:

فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَلَآ اَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ وَّلَا يَتَسَاۤءَلُوْنَ  ١٠١

Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga diantara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya. (al-Mu’minun/23: 101)

Dan firman Allah:

وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ   ١٠  يُبَصَّرُوْنَهُمْ

Dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. (al-Ma’arij/70: 10-11)

Pada bagian akhir ayat ini, Allah menandaskan bahwa orang kafir Mekah yang tetap hidup bergelimang dalam kemusyrikan dan kesesatan, pada hari pembalasan nanti mereka tidak dapat pertolongan dari siapa pun juga.


Baca juga: Tiga Kondisi Kaget Manusia pada Hari Kiamat


Ayat 42

Allah menyebutkan hamba-hamba-Nya yang tidak akan mengalami azab yang mengerikan yaitu orang-orang yang mendapat limpahan rahmat-Nya, mereka adalah orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat-Nya, menaati semua perintah dan menghindari semua larangan-Nya.

Mereka itu tidak memerlukan pembela dan penolong untuk menyelamatkan diri mereka dari siksaan Allah, karena amal salehnya telah cukup menjadi jaminan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang tidak layak mendapat siksaan neraka.

Kemudian Allah menyatakan bahwa Dia adalah Mahaperkasa terhadap segala musuh-musuh-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat melawan-Nya. Dia juga Maha Penyayang terhadap penegak agama-Nya dan para hamba-Nya yang selalu tunduk serta patuh kepada-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46


(Tafsir Kemenag)