Beranda blog Halaman 118

Lima Kriteria Seorang Guru yang Tergambar dalam Al-Qur’an

0
Kompetensi Yang Harus Dimiliki oleh Pendidik
Kriteria Menjadi Seorang Guru

“Menjadi seorang guru adalah menjadi teladan”. Demikianlah ungkapan singkat namun penuh makna. Peran guru sebagai sosok digugu dan ditiru sampai kapanpun takkan pernah terganti. Begitu sentralnya peran seorang guru, sehingga mampu mempengaruhi karakter seorang murid. Oleh karena itu, pada artikel kali ini, kita akan mengulas lima pokok kriteria memilih guru bagi seorang pelajar menurut Al-Quran. Simak ulasannya.

Memiliki Kemampuan Manajerial yang Matang

Dalam Kurikulum 2013, memiliki kemampuan manajerial yang matang disebut kompetensi pedagogik. Kompetensi ini meniscayakan kemampuan guru dalam merancang pelaksanaan pembelarajan, mengelola kelas, memahami karakter peserta didik dan mampu mengembangkan kemampuan peserta didik. Kemampuan manajerial atau pedagogik ini tergambar dalam Q.S. al-Kahfi [18]: 70, 71, 72, 75, 76, dan 78.

قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا ࣖ فَانْطَلَقَاۗ حَتّٰٓى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَاۗ قَالَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَاۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا قَالَ اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang apa pun sampai aku menerangkannya kepadamu.” Kemudian, berjalanlah keduanya, hingga ketika menaiki perahu, dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.” Dia berkata, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”

Baca Juga: Pentingnya Membangun Nalar Argumentatif

Kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir di atas dapat menjadi pelajaran penting bagi seorang guru untuk dapat memiliki kompetensi pedagogik secara matang. Nabi Khidir sebenarnya sudah memahami karakter Nabi Musa yang “agak bebal”. Oleh karenanya, ia menanyakan kepadanya, “apakah engkau mampu mengikutiku?”. Lantas Nabi Musa menimpali, “ya, aku bersedia”. Namun di tengah perjalanan, Nabi Musa gerah dan tak tahan untuk tidak mempertanyakan kelakukan gurunya, Nabi Khidir yang menurutnya “nyeleneh”.

Nah, di sinilah letak ketegasan sang guru. Dengan nada tegas, Nabi Khidir berkata “jika engkau mengikutiku, jangan banyak bertanya”. Kalimat tersebut ia tegaskan beberapa kali. Namun, karena karakter Nabi Musa yang penasaran sekali, ia tak tahan untuk tidak mengomentari kelakuan “nyeleneh” gurunya. Puncaknya, Nabi Khidir dengan tegas berkata “Inilah waktu perpisahan antara aku dan engkau. Aku akan memberitahukan kepadamu makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya”, sebagaimana terlukiskan dalam Q.S. al-Kahfi [18]: 78.

Dari kisah tersebut, ada dua hikmah yang dapat diambil. Pertama, bagi seorang guru harus tegas dalam mendidik, ia harus paham betul mengenai batasan-batasan dalam mengajar. Yang kedua, bagi seorang peserta didik, ia harus menaati perintah sang guru selama tidak melanggar ketentuan syariat dan bersabar untuk tidak meluapkan segala pertanyaannya kecuali dipersilahkan oleh gurunya.

Dapat menjadi Teladan

Bagi seorang pelajar, patut kiranya memilih guru yang dapat menjadi teladan yang baik (uswah hasanah). Atau dalam kurikulum 2013, teladan yang baik merupakan bagian dari kompetensi kepribadian. Dan ini harus dimiliki oleh seorang guru. Rasul saw sendiri mencerminkan sosok guru yang dapat menjadi teladan bagi para keluarga, sahabat dan umatnya sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Ahzab [33]: 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. (Q.S. al-Ahzab [33]: 21)

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsirkan kata uswah atau iswah berarti teladan. Shihab menjelaskan makna uswah dengan menyitir penafsiran al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf bahwa ada dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat dalam diri rasul itu. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secaa totalitasnya adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama. Lanjut Shihab, pakar tafsir dan hukum, al-Qurtubi, mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, tetapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran.

Selain menjadi teladan, bagi seorang guru wajib memiliki karakter yang penyantun dan penyayang terhadap peserta didik, baik peserta didik yang taat maupun sebaliknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Q.S. al-Taubah [9]: 128,

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. al-Taubah [9]: 128)

Tidak cukup di situ, di dalam Al-Quran surah Thaha ayat 44, guru juga hendaknya berbicara lembut (tidak kasar) dan menenangkan sekalipun kepada peserta didik yang dianggapnya bebal dan menjengkelkan. Kata Allah, “faqula lahu qaulan layyina la’allahu yatadzakkaru au yakhsya” (maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”).

Mudah Memaafkan dan Suka Bermusyawarah (Hablun Minannas)

Kriteria ketiga yang harus diperhatikan seorang pelajar dalam memilih guru adalah pilihlah guru yang mudah memaafkan dan suka bermusyawarah atau berdikusi bersama. Dalam kurikulum 2013, kriteria ketiga ini disebut juga kompetensi sosial. Hal ini dilukiskan Allah swt dalam Q.S. Ali Imran [3]: 159,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Q.S. Ali Imran [3]: 159)

Ahli di Bidangnya

Kriteria keempat berikutnya adalah pilihlah sosok guru yang memiliki ekspertasi di bidangnya sehingga ia memiliki kompetensi dan pemahaman yang mendalam, tidak sepotong-potong. Atau kalau di dalam istilah kurikulum 2013, kompetensi semacam ini disebut kompetensi profesional seperti yang dinyatakan Allah swt dalam Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 7, “bertanyalah kalian kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Epistemologi ‘Irfani dalam Pendidikan Islam

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 7)

Memiliki Kedekatan dengan Allah SWT (Hablun Minallah)

Terakhir, pilihlah seorang guru yang memiliki kedekatan yang baik dengan Allah Swt sebab ia akan selalu dalam bimbingan Allah dan kecil kemungkinan akan terperdaya oleh hawa nafsu. Inilah yang kami sebut dengan kompetensi spiritual. Betapa banyak fenomena guru belakangan ini yang mencabuli anak didiknya, bersikap keras, memukuli dan mencemooh (bully) anak didiknya sendiri, bisa jadi disebabkan renggangnya hubungan dia dengan Allah swt. Karenanya, kedekatan yang baik kepada Allah akan memberi nilai tambah sehingga ilmu yang dipelajari benar-benar memberi kemanfaatan bagi dirinya sendiri maupun kepada orang lain sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. al-Sajdah [32]: 16,

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. al-Sajdah [32]: 16

Bentuk kedekatan kepada Allah swt salah satunya, menurut ayat di atas, adalah mendirikan shalat malam dengan memohon ampun kepada Allah dan menginfakkan sebagian rizki yang dimiliki untuk orang lain, dan tidak memperkaya diri sendiri. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 6-7: Mengisi Momen Kemerdekaan dengan Bersyukur

0
Kemerdekaan
Kemerdekaan

Kini, kita telah tiba pada hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke-77 tahun. Usia kemerdekaan ini merupakan pencapaian yang begitu besar mengingat perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan tersebut menempuh jalan yang amat panjang.

Berbicara soal kemerdekaan, Alquran juga pernah menceritakan tentang kisah Bani Israil yang dilepaskan dari jajahan Fir’aun. Sebagaimana terekam dalam QS. Ibrahim [14]: 6 sebagai berikut.

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ

Terjemah: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”. (QS. Ibrahim [14]: 6)

Tafsir Surah Ibrahim [14]: 6 Memoriam Kekejaman Fir’aun Menjajah 

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini, Allah ﷻ mengisahkan tentang Nabi Musa yang mengajak umatnya untuk mengenang nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yakni ketika Allah menyelamatkan mereka dari kekejaman Firaun beserta para pengikutnya, yang telah menyiksa mereka dengan siksaan yang berat, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup.

Sementara Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan kembali bahwa kala itu Fir’aun dan para pengikutnya, telah menyiksa Bani Israil berupa penindasan dan penghinaan, menerapkan kerja paksa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak sanggup dilakukan. Mereka juga membantai anak lelaki yang baru lahir dan masih kecil karena khawatir munculnya seorang anak yang akan menjadi sebab kehancuran kerajaan Fir’aun sebagaimana tafsir mimpi yang dialami Fir’aun. Sedangkan anak-anak perempuan dibiarkan tetap hidup sebagai perempuan-perempuan hina dan tertindas.

Baca Juga: Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Maka kemudian pada ayat berikutnya Allah SWT mengingatkan manusia untuk bersyukur terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikannya. Sebab pada setiap rasa syukur atas nikmat tersebut akan melahirkan berbagai kebaikan-kebaikan berikutnya. Sebagaimana dinyatakan dalam QS. Ibrahim [14]: 7 sebagai berikut.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Terjemah: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7)

Sebagai lanjutan dari ayat sebelumnya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Allah menjanjikan dua konsekuensi ketika manusia memilih salah satu dari keduanya. Pertama, ketika manusia bersyukur maka Allah akan menambah nikmat yang diterima, tetapi apabila kufur maka justru nikmat tersebut akan dicabut bahkan mereka akan disiksa.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mengatakan bahwa secara spesifik ayat tersebut ditujukan kepada Bani Israil dengan perintah yang berisi untuk mensyukuri nikmat penyelamatan dan lain-lain yang pernah Allah berikan kepada mereka berupa keteguhan iman dan ketaatan. Allah akan menambah nikmat-nikmat itu jika mereka bersyukur.

Wujud Syukur Kemerdekaan Sesuai Kapasitas Masing-masing

Peringatan Nabi Musa kepada Bani Israil dan perintah Allah untuk bersyukur dalam ayat di atas sejatinya merupakan tindakan-tindakan yang harus dilakukan dalam mengisi kemerdekaan. Miftahul Arifin dalam buku Aktivasi Mukjizat Surat Al-Fatihah menjelaskan bahwa wujud rasa syukur dapat ditunjukkan dengan amal kebaikan yang berlandaskan pada keikhlasan hati. Sehingga dapat dipahami bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas (sesuai kapasitas diri dan hati) akan melahirkan rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah.

Kisah tauladan yang telah dicontohkan oleh Nabi Musa as. ketika mengingatkan umatnya atas nikmat dan terbebas dari penjajahan Fir’aun di atas, membuka memori kita bersama untuk juga mensyukuri anugerah kemerdekaan Indonesia setelah menerima kekejaman penjajah yang telah menindas bangsa ini.

Baca Juga: Surah An-Nisa [4]: 59: Larangan Melakukan Kudeta terhadap Pemerintah yang Sah

Wujud syukur yang dapat dilakukan ketika momen kemerdekaan ini adalah dengan melakukan hal-hal yang menunjukkan semangat kemerdekaan sesuai kapasitas masing-masing. Bagi pelajar misalnya, dapat mengisi peringatan kemerdekaan dengan mengikuti upacara bendera dengan baik serta memanjatkan doa untuk para pejuang terdahulu. Begitu pun dengan elemen-elemen masyarakat yang lain dapat menunjukkan semanagat kemerdekaan tersebut sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Penutup

Maka sepantasnya, anugerah kemerdekaan, keselamatan, dan kemakmuran bangsa ini disikapi dengan rasa syukur yang utama kepada Allah SWT kemudian diwujudkan dengan semangat cinta tanah air dan mensyukuri anugerah kemerdekaan. Bentuk rasa syukur tersebut tidak hanya dipanjatkan melalui doa, tetapi melalui tindakan nyata sesuai dengan kapasitas masing-masing walau dengan hal-hal yang sederhana namun penuh makna. Wallahu A’lam.

Kritik Alquran Terhadap Kesenjangan Sosial

0
Kesenjangan sosial
Kesenjangan sosial

Sejak awal penurunan, Alquran melontarkan kritik terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Mekah. Kritik tersebut merupakan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang berakhlak dan berkeadilan.

Fazlur Rahman dalam Tema-tema Pokok Alquran (2017: 56) mencatat bahwa ketimpangan ekonomi menjadi sesuatu yang paling umum mendapat kecaman dari Alquran. Itulah yang paling sulit diperbaiki serta merupakan akar konflik sosial. Terjadi banyak penyiksaan terhadap anak perempuan, anak yatim, kaum perempuan, hingga perbudakan. Dari sudut pandang ekonomi, Mekah merupakan kota perdagangan yang makmur, akan tetapi ia memiliki dunia bawah tanah yang berisi eksploitasi kaum lemah dan berbagai praktik perdagangan yang curang.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11: Larangan Saling Menghina Dan Merendahkan dalam Al-Quran

Mekah saat itu menampilkan kehidupan bermegah-megahan dengan kekikiran yang egois dan tidak berperasaan di satu sisi, namun ada kemiskinan luar biasa dan kesengsaraan di sisi lain. Menurut Rahman (2017: 56), Alquran membuat pernyataan yang mengesankan untuk merespons situasi tersebut, seperti dalam Q.S. Attakasur [102]: 1-4.

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ . حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ . كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ .ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ

“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).” (Q.S. Attakasur [102]:1-4)

Alquran tentu tidak melarang usaha mengumpulkan kekayaan dan menggapai kemakmuran. Bahkan, kedamaian dan kekayaan dipandang sebagai bentuk rahmat Allah. Akan tetapi, penyalahgunaan kekayaan akan membuat manusia menyimpang dari meraih nilai-nilai yang lebih tinggi. Mereka yang menyimpang itu hanya mementingkan kehidupan dunia saja, sementara kehidupan akhirat mereka lalaikan. Dalam konteks ini, bahkan para ahli ibadah yang tidak memperhatikan nasib orang-orang miskin pun dapat terjerumus dalam kemunafikan. Alquran mengistilahkan mereka dengan allazi yukadhdhibu bi al-din (orang yang mendustakan agama) dalam Alma’un.

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ. فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ. وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ. فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ. الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ. الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ. وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim; dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.” (Q.S. Alma’un [107]:1-7)

Dalam Tafsir Al-Azhar (2015, 9: 673), Buya Hamka menegaskan bahwa orang yang membenci anak yatim adalah orang yang mendustakan agama, walaupun dia beribadah. Buya Hamka juga menjelaskan bahwa rasa benci, sombong, dan kikir tidak boleh ada dalam jiwa seseorang yang mengaku beragama. Dia mengaku menyembah Allah, tetapi hamba Allah tidak dipedulikan dan tidak diberi pertolongan. Artinya, spirit Alquran menginginkan agar orang yang menjalankan ritual ibadah secara individu juga memiliki rasa kepedulian secara sosial.

Baca juga: Semangat Filantropi dalam Al-Quran dan Keadilan Ekonomi

Dalam istilah Gus Mus, sesorang hendaknya memadukan antara soleh ritual dan soleh sosial. Yang dikatakan Gus Mus tersebut memang menjadi tuntutan bagi Muslim untuk ihsan kepada diri sendiri dan orang lain. Sebagai salah satu dasar pensyariatan saleh sosial dan ritual terdapat pada Alquran. Pada banyak ayat,  salat dan zakat disandingkan (Misal Q.S. 2: 43, 83, 110, 177, 277; QS. 4: 77; QS. 5: 55). Salat merupakan simbol ibadah ritual disandingkan dengan zakat yang berdimensi sosial.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa Alquran mengajarkan spirit kepedulian sosial dan melawan kesenjangan sosial. Secara tegas, Alquran menyatakan sebagai berikut.

“Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Q.S. Alisra’ [17]:26)

Baca juga: Kritik Al-Quran Terhadap Fenomena Pembunuhan Anak Di Masa Jahiliyah

Ayat di atas menegaskan perintah untuk memberikan hak kepada orang lain yang membutuhkan seraya diiringi larangan untuk menghambur-hamburkan harta. Hal ini relevan dengan fakta bahwa biasanya orang yang berbuat boros dalam membelanjakan harta cenderung tidak memiliki kepedulian sosial. Sikap seperti ini dikritik keras oleh Alquran. Berdasarkan itu semua, Alquran memiliki tujuan utama membentuk masyarakat yang adil dan makmur. Semua itu dapat dicapai apabila setiap individu senantiasa menjaga rasa kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Wallahu a’lam[]

Tuntunan Alquran untuk Hilangkan Insecurity Berlebih

0
Insecurity
Insecurity

Insecurity atau perasaan tidak aman seringkali muncul pada kebanyakan orang, terutama pada anak muda usia remaja. Berbagai tren dan gaya mereka ikuti hanya ingin memenuhi rasa ketidakpuasan terhadap standar kecantikan dan ketampanan yang banyak diimpikan.

Bahkan ironisnya, ada orang-orang yang sampai melakukan operasi plastik demi memperindah diri dan tidak ingin dianggap jelek oleh orang lain. Rasa insecurity yang berlebihan ini sejatinya memberi dampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang hingga berujung pada perbuatan yang tidak dibenarkan seperti merubah bagian tubuh atau menyesali dirinya diciptakan dengan kemampuan yang sudah dimiliki.

Lalu bagaimana kata Alquran ketika menyikapi rasa insecurity berlebihan ini? Allah SWT menjawabnya dalam Q.S. Attin [95]: 4 sebagai berikut.

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Attin [95]: 4)

Tafsir Q.S. Attin [95]: 4 manusia adalah ciptaan Allah yang terbaik

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam Surah Attin ini Allah SWT telah bersumpah dengan buah-buahan yang bermanfaat dan tempat-tempat yang mulia. Kemudian Allah menegaskan dalam ayat keempat surah ini bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik.

Dari segi fisik, misalnya, hanya manusia yang berdiri tegak sehingga otaknya bebas berpikir, yang menghasilkan ilmu, dan tangannya juga bebas bergerak untuk merealisasikan ilmunya itu, sehingga melahirkan teknologi.

Bentuk manusia adalah yang paling indah dari semua makhluk-Nya. Dari segi psikis, hanya manusia yang memiliki pikiran dan perasaan yang sempurna. Terlebih lagi, hanya manusia yang beragama.

Baca juga: Amalan Untuk Mengatasi Krisis Kepercayaan Diri dalam Al-Quran

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga mengatakan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang terbaik secara batin dan zahir. Bentuknya bagus dan susunannya indah; kepala dengan segala isinya, dada dengan segala talentanya, perut dengan segala yang terkandung di dalamnya dan kedua tangan dengan segala apa yang disentuhnya, serta kedua kaki dengan segala beban yang dipikulnya. Oleh karena itu, para ahli filsafat berkata, “Sesungguhnya manusia itu adalah alam semesta yang kecil karena segala sesuatu yang terkandung di dalam seluruh makhluk ada di dalam diri manusia.

Demikian pula M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan bentuk dan sifat yang amat baik dibandingkan makhluk yang lain.

Namun sayangnya, terkadang manusia itu lupa dengan potensi-potensi tersebut dan menelantarkannya. Manusia lebih menuruti hawa nafsu dan syahwatnya. Ketika manusia tidak sadar dengan kelebihan yang dimilikinya, Allah kemudian memposisikan mereka pada tempat yang serendah-rendahnya sebagaimana ditegaskan dalam ayat kelima:

ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ

 “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),” (Q.S. Attin [95]: 5)

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan tempat tersebut adalah neraka. Hal ini disebabkan kekufuran yang dilakukan oleh sebagian manusia. Namun pendapat lain mengatakan manusia akan menyesali segala kesalahannya tersebut ketika mereka telah tua (renta) dan daya pikirnya berkurang.

Meredam insecurity dengan fokus pada kelebihan diri

Ayat di atas menegaskan bahwa manusia tercipta dengan segenap kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia diberi fisik yang bagus disertai dengan psikis ataupun daya pikir yang hebat. Semestinya kelebihan-kelebihan ini dijadikan modal dalam menepis rasa tidak aman atas kekurangan diri yang berlebihan.

Tsindisyfa dalam bukunya Insecure No, Bersyukur Yes menjelaskan bahwa rasa tidak aman muncul ketika seseorang terlalu fokus dengan kekurangan diri sendiri. Padahal jika lebih cermat dan menggali potensi dirinya, terdapat banyak kelebihan yang dimiliki dan tidak perlu membanding-bandingkan dengan kelebihan orang lain.

Baca juga: Kunci Ketiga dan Keempat Menggapai Kebahagiaan: Beribadah dan Jujur

Jaminan Allah dalam Surah Attin di atas memberi penegasan bahwa manusia perlu menyadari bahwa diri mereka adalah makhluk versi terbaik yang diciptaan oleh Allah sehingga Dia memberi banyak kelebihan. Kelebihan-kelebihan itu kemudian dituntut untuk digali, dikembangkan, dan dipelihara dengan baik.

Kelebihan fisik misalnya, dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Sementara psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya agama dan pendidikan yang baik. Dengan demikian bahwa pada diri setiap manusia terdapat kelebihan masing-masing yang berbeda dengan segenap versi terbaiknya. Tugas manusia adalah menjaga anugerah-Nya bukan malah merubahnya.

Penutup

Kunci utama dalam menghilangkan rasa tidak aman adalah dengan mensyukuri ciptaan yang telah dianugerahkan kepada kita. Apalagi Q.S. Attin ayat 4 di atas memberi keyakinan bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk ciptaan terbaik. Sehingga, fokus pada diri sendiri dengan potensi dan kelebihan yang dimiliki adalah kunci untuk menepis rasa tidak aman yang berlebihan. Sebab Allah memerintahkan untuk memanfaatkan potensi dan kelebihan tersebut, bukan malah merubah dan menyesali anugerah yang telah diberikan-Nya. Wallahu a’lam.

Tafsir Azan: Hayya ‘Ala al-Falah Sebagai Seruan Ekonomi

0
Tafsir Azan: Hayya ‘Ala al-Falah Sebagai Seruan Ekonomi
Tafsir Azan

Azan disyariatkan pada tahun pertama hijriyah. Awal mula azan disyariatkan ketika umat Islam pada saat itu bingung bagaiamana cara memberitahu masuknya waktu salat.

Singkat cerita, Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya di hadapan Rasulullah soal azan dan kalimatnya. Umar bin Khattab pun bermimpi serupa. Akhirnya wahyu turun membenarkan mimpi dua sahabat Nabi tersebut.

Azan menjadi kesepakatan kaum muslimin pada waktu itu untuk memberitahu masuknya waktu salat dan seruan mengajak melaksanakan salat. Secara bahasa, azan berarti pemberitahuan atau seruan. Sedangkan menurut istilah, ia adalah pemberitahuan tentang waktu salat dengan lafaz yang sudah ditetapkan oleh syariat.

Kata azan dalam Alquran dan hadis

Kata azan termaktub dalam Alquran dengan makna yang bervariatif. Di antara ayat Alquran yang mencantumkan lafaz azan adalah Q.S. Alanbiya [21]: 109:

فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ اٰذَنۡـتُكُمۡ عَلٰى سَوَآءٍ

 Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian ajaran yang sama.

Dalam Tafsir al-Jalalain (hal. 432), lafaz “azantukum” dalam ayat tersebut dimaknai “memberitahu”. Lafaz azan juga terdapat dalam Q.S. Attaubah [9]: 3:

وَاَذَانٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖۤ

Dan inilah suatu pemakluman dari Allah dan rasul-Nya”.

Pemakluman menjadi arti kata azan dalam ayat tersebut. Ibnu Kasir dalam tafsirnya mengemukakan bahwa maksud dari “pemakluman” pada ayat tersebut adalah pemberitahuan dan pendahuluan kepada umat manusia.

Lebih lanjut, dasar hukum seruan azan adalah fardu kifayah sebagaimana pendapat dari Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Ensiklopedi Shalat. Penetapan hukum tersebut didasari oleh Q.S. Almaidah [5]: 58; “Dan apabila kalian menyeru (mereka) untuk mengerjakan salat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”.

Lalu diperkuat hadis Nabi riwayat Bukhari; “Jika telah tiba waktu salat hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan. Dan hendaklah orang yang paling tua di antara kalian yang menjadi imam” (H.R. Bukhari).

Baca juga: Pengeras Suara Masjid, Syiar Islam, dan Toleransi Beragama

Azan seruan ekonomi?

Selama ini seruan salat itu dipahami hanya sebatas seruan pertanda masuknya waktu salat, khususnya salat wajib lima kali sehari. Seruan salat tersebut memang dilantunkan pada bagian keempat kalimat azan; hayya ala al-shalati (mari kita salat). Sayangnya ada yang luput dari perhatian dan pemahaman umat Islam pada bagian kelimanya; hayya ala al-falah (marilah menuju kemenangan).

Masih banyak dari kita mempertanyakan tentang ajakan menuju kemenangan tersebut. Maka perlu dikaji mengapa lafaz azan bagian kelima mengajak umat Islam menuju kemenangan? Apa arti sesungguhnya perintah tersebut? Dan apa maksud dan tujuan dari seruan tersebut?

Hayya ala al-falah seruan memperhatikan sektor perekonomian?

Prof. K.H. Yudian Wahyudi, Ph.D menyatakan bahwa selain azan bermakna mengajak umat Islam untuk menunaikan salat, ternyata ia juga mengandung seruan untuk menggiring umat Islam memperhatikan sektor ekonomi.

Hal tersebut bisa ditemukan dari seruan “hayya ala al-falah” (marilah menuju kemenangan). Jika diperhatikan, kata al-falah seakar dengan kata fallah. Kata fallah menggunakan kata penyangkat (sighat muballaghat) yang semestinya dimaknai “maha pemenang” tetapi orang Arab mengartikannya “petani”.

Alasan Prof. Yudian memaknai hayya ala al-falah sebagai seruan ekonomi, sebab jika melihat konteks perekonomian saat Islam pertama dirisalahkan sangatlah tragis. Dunia saat itu dikuasai oleh perekonomian agraris. Sementara Jazirah Arab khususnya wilayah Makkah dan Madinah sangat kering dan tandus, padahal menurut Alquran air merupakan sumber kehidupan sebagaimana yang disebutkan dalam Q.S. Alanbiya [21]: 30 “Dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup.

Maka seruan azan “hayya ala al-falah” adalah seruan kepada umat Islam untuk bergerak menuju pusat-pusat air. Seruan ini kemudian berkolerasi dengan perintah wudu atau bersuci dengan air yang merupakan syarat sahnya salat. Maka salah satu hikmah di balik seruan azan adalah menggiring umat Islam untuk menuju ke pusat-pusat air.

Dengan menggiring umat Islam ke pusat-pusat air berarti juga mengarahkan mereka ke pusat-pusat pertanian, perdagangan, dan perekonomian sekaligus. Pada waktu itu pusat-pusat perekonomian berada di jantung kekuasaan di bawah kendali impremium Bizantium Romawi dan Sassanid Persia.

Baca juga: Aturan Toa Masjid dan Refleksi Moderasi Islam

Dari sini dapat dipahami mengapa umat Islam menduduki kawasan-kawasan pertanian terbaik dunia yang disebut dengan wilayah Bulan Sabit. Wilayah ini berbentuk bulan sabit yang mengandung tanah basah dan subur di antara tanah gersang atau semigersang di kawasan mesopotomia, sekeliling Sungai Tigris dan Efrat, hingga ke lembah Sungai Nil dan delta Sungai Nil. Wilayah ini mencangkup sebagian besar Asia Barat dan Afrika Timur Laut.

Dengan demikian, azan adalah seruan akidah sekaligus seruan ekonomi. Dengan azan, umat Islam digiring menuju tempat ibadah tetapi harus menempel dengan pusat air yang berarti pusat pertanian, perdagangan, dan perekonomian. Selain itu, air juga berhubungan dengan budaya maritim karena dua pertiga dunia adalah air.

Rasulullah saw. bersabda, “Ajarkanlah anak-anakmu memanah, berkuda, dan berenang”. Perintah berenang dapat dimaknai sebagian seruan untuk menguasai teknologi maritim (Penafsiran-penafsiran Prof. KH. Yudian Wahyudi, Ph.D Membumikan Al-Quran dari Nama ke Pancasila, hal. 27-28).

Itulah penjelasan Prof. Yudian Wahyudi tentang azan sebagai seruan ekonomi. Melaksanakan salat yang diserukan azan adalah suatu keharusan kita sebagai hamba. Namun jangan lupa sektor ekonomi yang juga perlu diperhatikan, terutama oleh umat Islam.

Jika ingin jaya kembali maka umat Islam harus mengikuti seruan azan untuk menguasai pusat-pusat air, pertanian, perdagangan, dan perekonomian, sekaligus menguasai teknologi, tidak terkecuali teknologi maritim. Wallahua’alam.

Baca juga: Bacaan Amin dan Keutamaan Membacanya Setelah Surah Alfatihah

Qishah al-Gharaniq, Riwayat “Turunnya” Ayat-ayat Setan

0
Qishah al-Gharaniq, Riwayat “Turunnya” Ayat-ayat Setan
Qishah al-Gharaniq, Riwayat “Turunnya” Ayat-ayat Setan

Belum lama ini perhatian publik dunia tertuju pada penikaman yang dialami Salman Rushdie, penulis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Pelakunya seorang pemuda imigran Lebanon di New York bernama Hadi Matar.

Penikaman tersebut merupakan rentetan dari reaksi sebagian umat muslim yang dipicu isi novel Salman yang menghina Nabi Muhammad, sayidah Aisyah, dan malaikat Jibril. Reaksi pertama yang diterima Salman adalah vonis mati yang dikeluarkan oleh Ayatollah Khomeini untuknya.

Novel tersebut berangkat dari sebuah riwayat yang dikisahkan para sejarawan muslim dalam karya-karyanya dan masyhur dikenal dengan Qishah al-Gharaniq (Kisah Burung Bangau).

Penting diketahui, tulisan ini bukan untuk mempertentangkan kebenaran Qishah al-Gharaniq dengan novel Salman tersebut. Akan tetapi difokuskan pada Qishah al-Gharaniq dan komentar para ulama terhadapnya. Seperti apa Qishah al-Gharaniq itu?

Kisah Burung Bangau

Kisah ini dapat kita temui dalam buku-buku sirah Nabi Muhammad dan dalam beberapa karya tafsir Alquran. Buku sirah berjudul Nur al-Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin (2013) karya Muhammad Hudhari Beik adalah salah satunya.

Kisah bermula dari rencana kembalinya para muhajirin dari Habasyah ke Makkah setelah tiga bulan mereka tinggal di negeri Raja Najasyi. Rencana itu disebabkan karena kehidupan mereka di tanah asing selama tiga purnama itu ternyata tidak membuat keadaan mereka menjadi lebih baik (Hudhari, hal. 58).

Selain alasan di atas, sebagian sejarawan cenderung menjadikan sebuah kisah yang menyebabkan para muhajirin kembali ke Makkah. Yaitu islamnya kaum kafir Quraisy Makkah ketika Nabi Muhammad membaca surah Annajm [53] di depan Kakbah dan memuji sesembahan mereka dalam surah tersebut. Pendapat ini dikemukaan di antaranya oleh Musa bin Uqbah, al-Waqidi dan al-Thabari sebagaimana disebut Muhammad bin Faris al-Jamil dalam al-Hijrah ila al-Habasyah (2004).

Oleh al-Thabari, riwayat tersebut disampaikan dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (vol. II, 1968) dengan beberapa perbedaan yang tidak disebut Hudhari Beik dalam Nur al-Yaqin. Yaitu ketika Nabi Muhammad sampai pada ayat 19-20, setan menaruh dua ayat tambahan di lisan Nabi Muhammad:

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى

Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza. Serta Manata; (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?

تِلْكَ الْغَرَانِيْقُ الْعُلٰى. وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرْتَجَى

Ialah burung-burung bangau (para malaikat) yang mulia. Pertolongan mereka sungguh diharapkan.

Setelah Nabi Muhammad selesai membaca surah Annajm [53], bersujudlah seluruh orang yang berada di keliling Kakbah, baik mukmin (karena membenarkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad) maupun kafir (karena tuhan-tuhan mereka disebut dan dipuji), kecuali satu orang, yaitu al-Walid bin al-Mughirah (al-Thabari, hal. 338).

Setelah bangun dari sujud, semua orang kembali ke aktivitas masing-masing. Para kafir Quraisy sangat bahagia mendengar dua ayat tadi. “Muhammad telah menyebut tuhan-tuhan kita dengan sebaik-baiknya,” kata mereka. Lalu sampailah kabar itu ke negeri Habasyah bahwa para kafir Quraisy telah masuk Islam.

Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 62: Akal Sebagai Tameng dari Godaan Setan

Ayat-ayat Setan

Usai kejadian tersebut, lanjut al-Thabari, datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad seraya berkata, “Wahai Muhammad! Apa yang kaulakukan? Kau telah membacakan kepada manusia ayat-ayat setan! Kau mengatakan apa yang tidak sepantasnya kaukatakan!” (hal. 339).

Mendengar itu, Nabi Muhammad sangat bersedih dan takut kepada Allah. Akan tetapi kemudian Allah menenangkan hati Nabi Muhammad dan mengabarkan kepadanya bahwa semua nabi dan rasul pendahulu juga mengalami hal yang sama; dikacau oleh setan. Lalu turunlah Q.S. Alhajj [22]: 52;

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّآ اِذَا تَمَنّٰىٓ اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْٓ اُمْنِيَّتِهٖۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۙ

Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi  sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan (godaan-godaan) ke dalam keinginannya itu. Lalu, Allah menghapus apa yang dimasukkan setan itu, kemudian Allah memantapkan ayat-ayat-Nya (dalam hati orang-orang beriman). Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Maka Allah menasakh ayat-ayat setan tersebut dengan ayat-ayat lain dari-Nya, yaitu Annajm [53] ayat 21-26.

Kemudian ketika kaum kafir Quraisy mendengar penasakhan tersebut, mereka saling berkata; “Muhammad menyesal telah menyebut tuhan-tuhan kita disandingan dengan Allah. Akhirnya dia menggantinya dengan yang lain”. Buntutnya, kaum kafir Quraisy meningkatkan siksaan mereka terhadap pengikut Nabi Muhammad di Makkah (hal. 339).

Baca juga: Merasa Diganggu Setan? Amalkan Doa Ayat Kursi

Kritik atas Kisah Burung Bangau

Kisah di atas ditolak oleh banyak ulama. Salah satunya adalah Qadhi Iyadh. Dalam karyanya, al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mustafa (2013), Qadhi Iyadh mengkritiknya dalam satu subbab panjang dengan beberapa argumen yang diajukannya.

Kritik pertama dari segi sanad. Qadhi Iyadh mengatakan tidak ada satupun perawi yang dapat dipercaya kredibilitasnya. Hanya para mufasir dan sejarawan yang suka pada hal-hal aneh saja yang meneyertakan riwayat tersebut dalam karyanya tanpa peduli kebenarannya (hal. 645).

Hanya satu riwayat sahih yang dapat diterima. Namun, redaksi riwayat tersebut sama sekali berbeda dan hanya menceritakan sujudnya semua manusia dan jin bersama Nabi Muhammad usai pembacaan surah Annajm [53]. Riwayat ini justru menunjukkan keagungan Alquran. Dengan demikian tidak ada penasakhan yang terjadi (hal. 646).

Kritik kedua secara matan (redaksi). Qadhi Iyadh mengatakan, tidak ada di antara para sahabat Nabi, bahkan para musyrik Makkah yang mendengar eulogi di tengah-tengah nistaan (hal. 647).

Surah Annajm [53]: 19-23 adalah nistaan Alquran kepada berhala-berhala musyrik Makkah. Dengan demikian, sangat tidak masuk akal jika di tengah-tengah nistaan terhadap sesembahan musyrik Makkah ada eulogi atau pujian kepada mereka. Kita baca Annajm [53]: 23 yang jelas-jelas menyebut berhala-berhala itu hanyalah seonggok batu yang tidak memiliki faedah sama sekali.

اِنْ هِيَ اِلَّآ اَسْمَاۤءٌ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُۚ وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰىۗ

(Berhala-berhala) itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu ada-adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)-nya. Mereka hanya mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu. Padahal, sungguh, mereka benar-benar telah didatangi petunjuk dari Tuhan mereka.

Selanjutnya, Qadhi Iyadh mengutip beberapa riwayat; Qatadah dan Muqatil mengatakan bahwa Nabi Muhammad membaca surah Annajm dalam keadaan mengantuk sehingga perkataan beliau dianggap sebagai igauan.

Lain lagi, Ibn Syihab dari Abu Bakr bin Abd al-Rahman mengatakan bahwa Nabi Muhammad lupa, sehingga kesempatan itu dipakai oleh setan. Andai riwayat-riwayat tersebut diterima (itupun kalau benar), maka tetap tidak masuk akal sebab Nabi Muhammad terpelihara (ma’shum) dari semua kesengajaan dan kelalaian (hal. 650).

Dan yang terakhir dari segi tarikh kejadian. Hudhari Beik, menukil dari para sejarawan, menyebut bahwa hijrah kaum muslim Makkah ke Habasyah terjadi pada bulan Rajab dan kembali ke Makkah pada bulan Syawal. Sedangkan surah Annajm turun pada bulan Ramadan. Dengan demikian, ada rentang waktu satu bulan antara turunnya surah dan kembalinya muhajirin ke Makkah (hal. 59).

Menilik pada masa itu, perjalanan dari Makkah ke Habasyah dan kembali lagi ke Makkah tidak cukup ditempuh dalam satu bulan. Tak ada transportasi, baik darat maupun laut, atau teknologi yang mampu menyampaikan sebuah kabar dengan cepat. Apalagi perjalanan Makkah-Habasyah mesti menyeberangi Laut Merah. Dengan demikian, kabar yang diterima muhajirin di Habasyah tidak dapat diterima sebab alasan-alasan di atas (hal. 60).

Demikian ulasan singkat Kisah Burung Bangau dan ayat-ayat setan serta komentar para ulama terhadapnya. Wallahu a’lam.

Baca juga: Q.S. Yusuf: 28 vs Annisa: 76, Perempuan Lebih Berbahaya Daripada Setan?

Belajar Kebijaksanaan Qur’ani di Era Disrupsi

0
Era Disrupsi
Era Disrupsi

Era disrupsi ditandai dengan perubahan kehidupan yang masif oleh teknologi dan informasi. Kondisi ini melahirkan sikap mental yang sembrono dan hanya menambah jumlah manusia yang kurang bijaksana.

Hal ini terjadi dikarenakan kecepatan teknologi tidak dibarengi dengan kesiapan sikap dan mental yang matang. Tidak sedikit dari mereka yang ikut menebar kebencian, berita bohong, pertengkaran remeh dan hal-hal tak berfaedah lainnya.

“Yang hilang dari kita adalah kebijaksanaan”, boleh jadi kalimat ini tepat menggambarkan situasi seperti sekarang. Lalu apa itu kebijaksanaan? Mengapa ia menjadi hal penting untuk menghadapi era disrupsi? Berikut akan dijawab melalui kajian ayat dan penafsirannya!

Hikmah dalam Al-Qur’an

Kebijaksanaan dalam bahasa Arab disebut dengan ḥikmah. Kata ini disebut sebanyak 208 kali di dalam Al-Qur’an. Berasal dari susunan huruf ha-kaf-mim, yang berarti menghalangi. Satu akar kata dengan ḥukum yang berfungsi menghalangi terjadinya penganiayaan. Atau ḥakamah, yaitu kendali bagi hewan. Sementara ḥikmah adalah sesuatu yang bila diperhatikan akan menghalangi terjadinya kesulitan dan mendatangkan kemaslahatan.

Baca Juga: Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Satu dari sekian ayat ḥikmah yang sesuai dengan pembahasan ini adalah Q.S Al-Baqarah [2]: 269 berikut ayat dan terjemahannya:

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٢٦٩

“Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab.”

Perihal ayat ini, Quraish Shihab menejaskan bahwa ayat sebelumnya membahas dua jalan; jalan Rahman dan jalan setan. Sehingga, hikmah kemudian dipahami dalam arti pengetahuan tentang baik dan buruk, serta kemampuan menerapkan yang baik dan menghindar dari yang buruk (Tafsir al-Mishbaḥ, jil. 1, hal. 581).

Melengkapi penjelasan Quraish Shihab, Makarim Asy-Syirazi menjelaskan bahwa hikmah berarti kesadaran untuk membedakan antara yang haq dan batil dengan kebersihan hati dan kejernihan pikiran. Sehingga mampu mengambil sikap yang banyak memberi maslahat dan menghindari kemudaratan (Tafsīr al-Amṡal, jil. 2, hal. 315).

Dua mufasir di atas memandang hikmah sebagai suatu sikap mental, kewaspadaan, kesadaran untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hal ini juga dikuatkan dengan penafsiran Al-Biqa’i, bahwa mereka yang bijaksana harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia akan tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira, dan tidak pula melakukan sesuatu dengan sembrono.

Menjadi Ululalbab

Setelah memahami kebijaksanaan dalam kata ḥikmah, Allah menyifatkan ḥikmah dengan kebaikan yang banyak (khairan kaṡīrā). Kemudian Allah menutup ayat tersebut dengan, Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab.” Lalu siapakah ululalbab itu?

Secara bahasa ululalbab terdiri dari dua kata; ulū yang berarti pemilik atau penyandang dan; al-bāb bentuk jamak dari lubb berarti saripati sesuatu. Sebagaimana isi kacang, disebut dengan lubb. Quraish Shihab menyebut ululalbab sebagai orang yang memiliki akal murni, tidak diselubungi oleh “kulit”; yakni kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan berpikir.

Baca Juga: Meninjau Ulang Makna Asyiddaa’u alal Kuffar dalam Al-Quran Surah Al-Fath Ayat 29

Menjadi ululalbab berarti tidak terkaburkan dengan cepatnya informasi dan masifnya teknologi. Mampu berpikir murni dan jernih, tidak mudah terpicu pertengkaran di media dan selalu menyikapi segala sesuatu sesuai tempat, porsi dan proporsinya.

Tulisan ini menjadi pengingat untuk sama-sama kita belajar kebijaksanaan di era disrupsi. Kemudian sembari perlahan menyiapkan sikap dan mental untuk menghadapi derasnya informasi dan teknologi. Selanjutnya keluar menjadi ululalbab yang bijaksana dalam berpikir dan bertindak sebagaimana tuntunan Al-Qur’an. Wallahu’alam. []

Melihat Decentering Islamic Studies dari Kacamata Mushaf Nusantara

0
Salah satu mushaf di Museum Institut PTIQ Jakarta
Salah satu mushaf di Museum Institut PTIQ Jakarta

Decentering Islamic Studies merupakan tema utama dalam kolokium yang diadakan oleh Universitas Islam Internasional Indonesia pada 12-13 Juli 2022 lalu. Ada catatan menarik yang penulis ingin sajikan dalam artikel ringan ini.

Penulis bersama dua kolega (Alif Jabal Kurdi dan Muhammad Azka Rijal) dari Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta berkesempatan untuk mempresentasikan karya kolaborasi kami dalam acara tersebut. Acara dengan tema Decentering Islamic Studies: Towards New Approaches in The Study of Islam and Muslim Societies ini menerima paper kami yang berjudul Study of Qur’anic Manuscripts and Decentering of Islamic Studies: Unraveling the Lack of Attention to SEA Qur’anic Manuscript.

Baca juga: Menembangkan Al Quran: Manuskrip Macapat Tafsir Surah Al Fatihah dalam Aksara Jawa

Kolokium yang diselenggarakan tersebut merupakan langkah untuk mendiskusikan lebih lanjut dalam konteks kajian Islam global, khususnya kedudukan Indonesia sebagai salah satu negara mayoritas muslim terbesar dunia. Secara sederhana, decentering Islamic Studies adalah upaya untuk memperjuangkan potret keislaman di berbagai wilayah sebagai suatu keotentikan. Maka, tidak bisa melihat Arab sebagai great tradition, sementara Indonesia dan potret Islam lainnya sebagai little tradition.

Mengutip salah satu liputan mengenai acara tersebut, Faried F. Saenong selaku ketua acara menyampaikan bahwa, “Decentering Islamic Studies pada dasarnya melanjutkan cita-cita ulama Nusantara dulu untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat studi Islam di dunia”, jelasnya.

Bagi kami, hal ini relevan dengan perhatian yang masih minim terhadap kajian mushaf Nusantara sebagai korpus penelitian dan konservasi.

Pengantar decentering Islamic studies

Decentering Islamic Studies perlu menjadi penekanan yang serius karena masih adanya dikotomi antara great tradition dan little tradition, menggunakan istilah dari Robert Redfiels. Nusantara, atau secara khususnya adalah Indonesia merupakan salah satu pemeluk Islam terbesar di dunia. Namun, dikotomi yang selama ini terjadi membuat Islam di wilayah Nusantara menjadi pelengkap saja.

Ini yang menurut Talal Asad patut dikritisi, karena setiap tradisi memiliki keunikannya masing-masing. Setiap tradisi tentu menampilkan ekspresi yang beragam akan keyakinannya pada Islam. Begitupun secara teologis, Islam hadir justru ingin mendobrak kelas-kelas sosial yang ada. Setiap pemeluk Islam dipandang secara sama tanpa ada yang direndahkan.

Baca juga: Mushaf Kuno dan Ekonomi Kreatif

Ekpresi atas Islam tentu ada beragam baik melalui tradisi lisan, teks, gambar, arsitektural, hingga upacara ritual. Tradisi teks apalagi, sebagaimana yang disebutkan Talal Asad bahwa Islam Diskursif tidak bisa dilepaskan dari teks. Begitupun yang disebut oleh Nasr Hamid Abu Zayd bahwa umat muslim menjalani kehidupan melalui peradaban teks (hadharatun nash). Teks kemudian bisa dimaknai secara luas, teks yang dalam dasar-dasar Islamic law bermakna sumber hukum terdiri dari Alquran, Hadis, Ijmak, dan Qiyas. Namun dalam konteks yang lebih umum, teks itu mencakup segala jejak yang ada, yang bersinggungan dengan Islam dan keislaman.

Menerka peradaban dari mushaf Nusantara

Khusus mengenai Alquran, ‘teks kitab suci’ ini disepakati oleh seluruh umat Muslim sebagai objek wajib dari rukun iman sekaligus pedoman kehidupan. Sayangnya, Alquran masih dilihat dalam konteks penafsiran dan diskursus isinya saja. Dalam artian, ada sisi Alquran yang tidak dilihat secara utuh oleh Umat Muslim dan para sarjana yaitu mushaf Alquran. Mushaf Alquran dianggap sebagai masa lalu yang telah lewat yang berhasil dituntaskan oleh Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan. Pembahasan mushaf Alquran dianggap sudah selesai. Padahal ada banyak perkembangan yang terjadi, baik meliputi rasm, syakl, harakat, tanda waqaf, qiraat, hingga bentuk mushaf (manuskrip, cetakan atau digital).

Manuskrip Alquran juga selama ini mendapat perhatian berbeda, misalnya pendapat Filolog kolonial yang menganggap bahwa manuskrip Alquran Nusantara adalah salinan terburuk yang tidak otoritatif daripada manuskrip Alquran dari Timur Tengah –dalam keterangan British Library–. Dalam kajian filologi, banyak sarjana yang mendiamkan manuskrip Alquran Nusantara karena secara resmi mushaf Alquran sudah selesai dikanonisasi, bagi mereka tidak ada yang perlu dikaji lagi apalagi disunting.

Baca juga: Penulisan Al-Quran sebagai Awal Tradisi Intelektual Islam Menurut Ali Romdhoni

Keadaan tersebut tentu berbeda jika melihat kajian mushaf dari sisi lain dan tidak untuk menyunting teks Alquran. Kajian dengan pendekatan kodikologi yang mengupas segala aspek fisik naskah seperti kertas yang digunakan, iluminasi, sampul, tinta, dan lainnya menjadi bagian yang harus diperjuangkan dan menjadi perhatian serius. Begitupun paleografi yang menunjukkan perkembangan gaya penulisan manuskrip Alquran dari zaman ke zaman.

Bisa dibayangkan bagaimana jika manuskrip mushaf Nusantara dilihat sebagai tradisi yang utuh, maka akan tampak peradaban yang begitu kompleks dan memiliki keunikan sendiri. Sisi-sisi seperti ini menjadi bukti bahwa perlu melihat desentralisasi kajian Islam melalui mushaf Nusantara. Upaya yang dilakukan seperti menyemarakkan riset mushaf Nusantara dan menampilkan digitalisasinya merupakan langkah yang harus diapresiasi dan terus dikembangkan.

Wallahu a’lam

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

0
menghormati guru adalah bagian dari jihad
menghormati guru adalah bagian dari jihad

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan, tugas, hingga tanggung jawab guru adalah hal yang memerlukan pengejawantahan. Pendidikan Islam khususnya, tentu saja melandaskan segalanya kepada tuntunan Alquran sebagai wujud pedoman komprehensif.

Dalam konteks ini, Alquran banyak memperkenalkan istilah tipologis seorang guru dalam Islam. Misal saja guru sebagai murabbiy (Q.S. Al-Isra’ [17]: 24), mu’allim (Q.S. Al-Baqarah [2]: 151), mudarris (Q.S. Al-An’am [6]: 105), mursyid (Q.S. Al-Kahf [18]: 17), dan lainnya. Beberapa ayat yang dinukil tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa posisi dan kedudukan manusia sebagai seorang guru merupakan suatu amanah dan kemuliaan. Maka dari itu, guru pada dasarnya bukan sebatas petugas atau pekerja pemerintah—yang digaji—yang dibebankan tugas untuk mendidik, lebih dari itu guru secara filosofis terikat kontrak akademis dengan Tuhan.

Pada tulisan kali ini saya mencoba mengulas kedudukan seorang guru berdasar pada salah satu ayat pendidikan (tarbawiy), yakni surah Hud ayat 88. Berikut penjelasannya:

 قَالَ يٰقَوْمِ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كُنْتُ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَرَزَقَنِيْ مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ اُخَالِفَكُمْ اِلٰى مَآ اَنْهٰىكُمْ عَنْهُ ۗاِنْ اُرِيْدُ اِلَّا الْاِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُۗ وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ ٨٨

“Dia (Syuaib) berkata, “Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.”

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Empat Kompetensi Yang Harus Dimiliki oleh Pendidik

Definisi dan kompetensi seorang guru

Seorang pujangga muslim, Ahmad Syauqi Bey, dalam karyanya al-a’mal al-syi’riyyah al-kamilah (1988) menulis, “Hormatilah paraguru, sebab mereka hampir tak ubahnya sebagaimana kedudukan Rasul”. Barangkali memang demikian, dalam kacamata tafsir surah Hud ayat 88 di atas seorang guru dideskripsikan dalam posisi seorang utusan Allah, yakni Nabi Syu’aib a.s. Bedanya, guru adalah kepanjangan tangan dari fungsi orang tua dalam keluarga (Q.S. 31: 13), sementara Rasul adalah penyampai risalah sejati dari Allah.

Dengan demikian, guru pada hakikatnya bukan profesi sederhana, pun tidak hanya penyampai ilmu (muta’allim) dalam pembelajaran an sich. Lebih dari itu, guru adalah seorang Rasul (utusan) dalam kapasitasnya sebagai pembaca risalah dan penyampai hikmah. Hal ini sebagaimana ungkapan ayat di atas, “Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)?”. Frasa bayyinatin min rabbi di sana menurut Wahbah Al-Zuhaili (2013: 386) berarti ilmu dan wahyu kenabian yang terintegrasi. Penjelasan tersebut senada dengan apa yang diungkapkan Ibnu Katsir (1998: 296) bahwa kata bayyinah bermakna keilmuan dan kata rizqan hasanan berarti wahyu nubuwwah.

Dengan demikian, konteks diksi bayyinah dalam ayat di atas tidak hanya terbatas pada perolehan (acquired knowledge) semata, melainkan juga pada hakekat keabadian (perennial knowledge) atau dalam bahasa Sayyed Hossein Nasr disebut “Kearifan Tuhan”. Jika salah satunya tidak dikuasai, Naquib Al-Attas berpandangan bahwa hal tersebut akan membawa seorang guru pada kondisi kebingungan dan kekeliruan yang berimplikasi pada perjalanan pendidikan tanpa kejelasan tujuan. Artinya, integrasi antara keduanya adalah modal dasar yang senantiasa perlu dimiliki oleh seorang guru.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Inilah Tujuan Pendidikan Islam

Fungsi dan tanggung jawab: long life educator

Sebagaimana kompetensi yang perlu dimiliki di atas, menjadi seorang guru atau pendidik merupakan profesi dan tugas keabadian. Artinya, sebab menuju tujuan pendidikan Islam (al-sa’adat al-daroin) membutuhkan proses perjalanan maka tanggung jawab guru pun pada hakikatnya adalah terus berproses dan mendidik hingga tanpa batas. Hal ini sebagaimana ungkapan ayat di atas, “Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup.”.

Menurut Al-Sya’rawi (1991: 6622), ungkapan Nabi Syu’aib di atas menjadi penegasan nyata bahwa tugas kenabian tidak ditetapkan untuk mendatangkan kerusaakan (mafsadat) sebagaimana pandangan kaumnya, namun semata untuk memperbaiki (al-ishlah) kehidupan. Begitu pula Menurut Al-Zuhaili (2013: 386), frasa tersebut bermakna bahwa pada dasarnya semua informasi yang disampaikan Nabi Syua’ib kepada kaumnya berlandaskan niat suci untuk mencapai kebaikan (al-shalih) melalui perbaikan (al-ishlah). Niat tersebut tentunya dibatasi oleh kata “ma istatho’tu”, yakni bermakna semampunya. Dalam konteks ini, semampunya atau batas kesanggupan berarti sesuai kompetensi dan waktu yang dimiliki.

Dengan demikian, nilai yang dapat dipetik seorang guru dari potongan ayat di atas adalah: 1) hendaknya seorang guru menyelenggarakan pendidikan semata-mata untuk mewujudkan kebaikan (shalih) sebagai buah dari perbaikan (al-ishlah); 2) terus berproses mewujudkan kompetensi guru yang mampu memperbaiki dan menggunakannya untuk melakukan pendidikan; dan 3) selalu berusaha mendidik selagi mampu dalam kompetensi dan waktu, atau long life educator. Artinya, tanggung jawab seorang guru tidak terbatas pada waktu pensiun atau selesai tugasnya dari pemerintah, namun jika masih mungkin dan mampu maka tugasnya adalah hingga akhir hayat.

Dalam ungkapan selanjutnya juga dijelaskan, “Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.”. Menurut Al-Sya’rawi, potongan ayat ini merupakan landasan dasar dari segala perbuatan dan niat yang diungkapkan sebelumnya, yakni segalanya harus berlandaskan hati yang suci atau keikhlasan. Artinya, kemuliaan kedudukan seorang guru dan tujuan pendidikan yang dilakukannya juga akan terwujud manakala dilandaskan pada niat yang tulus dan ikhlas dalam mendidik. Wallahu a’lam.

Meninjau Ulang Makna Asyiddaa’u alal Kuffar dalam Al-Quran Surah Al-Fath Ayat 29

0
Asyiddaa’u alal Kuffar
Asyiddaa’u alal Kuffar

Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk berlaku kasih dan sayang terhadap sesama, sehingga menciptakan toleransi beragama. Akan tetapi, tidak jarang Islam sering mendapat tuduhan sebagai agama yang mengajarkan radikalisme dan terorisme karena adanya ayat-ayat dan hadis tentang perilaku keras dan perang. Padahal tuduhan tersebut tidak memiliki argumen yang kuat. Hal yang perlu dikoreksi atau dikritik bukanlah ayat Al-quran atau hadis, tetapi pemahaman manusia yang membaca dan menafsirkan ayat-ayat Al-quran tersebut yang perlu dipertanyakan. Salah satunya akan diurai dalam tulisan ini tentang makna Asyiddaa’u alal kuffar dalam Al-Quran Surah Al-Fath Ayat 29, tidak sedikit orang-orang menganggap bahwa ayat ini mendukung berlaku keras terhadap orang-orang kafir.

Tafsir Surah Al-Fath Ayat 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Baca Juga: Sihir: Antara Fakta dan Trik Belaka

Dalam Tafsir al-Baghawi dijelaskan bahwa isi kandungan ayat 29 surah al-Fath adalah ayat yang mempunyai makna sesungguhnya orang yang beriman itu keras tehadap musuh agama, sangat kasih sayang dan lembut terhadap saudaranya yang seiman. Tafsir al-Baghawi ini tergolong tafsir klasik karena tafsir Al-Qur’an yang disusun oleh Imam Husain bin Mas’ud Al-Baghawi (w. 1122 M), ditulis sebagai ringkasan dari tafsir milik Ahmad bin Muhammad Ats-Tsa’labi (w. 1035 M). Saat ini tersedia dalam empat jilid terbitan Libanon dan delapan jilid terbitan Kairo.

Kemudian penafsiran mufassir klasik lain datang dari Al-Qurtuby yang mengutip penjelasan Ibnu Abbas, ia menyebutkan bahwa kerasnya para sahabat kepada orang kafir laksana harimau terhadap mangsanya. Disebutkan bahwa para sahabat yang dimaksud yaitu orang-orang yang berada di Hudaibiyah, dalam narasi aslinya seperti ini,

 قال ابن عباس: أهل الحديبية أشداء على الكفار، أي غلاظ عليهم كالأسد على فريسته.

Al-Qurthuby secara langsung berpendapat bahwa siapapun yang mencela sahabat dari para rasul atau menyangsikan riwayatnya, maka orang tersebut termasuk orang yang membatalkan syariat kaum muslimin. Hal itu merupakan bukti salah satu isi Penafsiran  surah al-Fath ayat 29 berbicara mengenai karakter sahabat Nabi Muhammad yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir namun lemah lembut terhadap sesama mukminin.

Penafsiran Tentang Berlaku Keras Terhadap Orang Kafir Menurut Mufassir Kontemporer

Tidak sedikit umat muslim yang salah dalam menafsirkan perkataan Asyiddaa’u alal kuffar (bersikap keras terhadap orang-orang kafir) yang terdapat dalam surah al-Fath ayat 29. Secara zahir memang artinya adalah berlaku keras terhadap orang-orang kafir, hanya saja menurut mufassir kontemporer Indonesia yakni M. Quraish Shihab kata kafir tidak selamanya diartikan sebagai non-muslim, melainkan siapa saja yang melakukan kegiatan yang bertentangan dengan agama Islam. Baik itu orang muslim sekalipun. Bahkan asyidda’u ala al-kuffar pada ayat tersebut digunakan dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama, hal ini juga senada dengan mufassir kontemporer Wahbah Zuhaili yang ditulis dalam karyanya kitab Tafsir al-Munir.

Ini yang mungkin tidak disebutkan dalam tafsir klasik al-Baghawi dan Al-Qurthuby yang telah disebutkan di atas, dalam keterangannya juga tidak ada penyebutan kondisi konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Sehingga narasi yang terbangun seakan-akan keras dalam kondisi apapun. Hal ini senada apa yang ditulis Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya, bahwa Allah tidak terburu-buru memerintahkan kaum muslimin melawan orang-orang musyrik, salah satu hikmahnya adalah agar pikiran, akal dan kesabaran memiliki peran penting dalam membentuk pribadi umat Islam agar lebih bersabar dalam menghadapi problem kehidupan. Maka, dari sini kita mampu menganalisis bahwa keras dalam konteks tersebut adalah dalam peperangan, dan dalam peperangan ada sebuah etika, tidak serta merta peperangan tanpa melakukan ikhtiar baik terlebih dahulu dengan sikap yang lebih hangat atau lebih sopan.

Berdasarkan kitab Ashabu Nuzulil Qur’an karya Abi al-Hasan Ali al-Wahidi menjelaskan bahwa ketika Nabi Saw berada di Makkah, jihad tidak menggunakan jalan kekerasan sama sekali meski perlakuan kafir Quraisy terhadap umat Islam sangat luar biasa. Namun, pada saat itu belum ada perintah untuk peperangan dari Allah. Setelah ada perintah dari Allah, maka Rasulullah baru melakukan strategi peperangan.

Baca Juga: Prioritas Memilih Imam Salat: Antara Ahli Fikih dan Hafiz Alquran

Dapat disimpulkan bahwa bersikap keras terhadap non-muslim menurut M. Quraish Shihab tidak hanya kepada non-Muslim saja, bahkan juga ditunjukkan kepada orang munafik. Selain itu juga dapat dipahami bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang buruk terhadap agama Islam meskipun mereka masih beragama Islam.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa makna kafir biasa dipahami sebagai siapa yang tidak memeluk agama Islam. Makna ini menurutnya tidak keliru, akan tetapi perlu diketahui bahwa Alquran menggunakan kata kafir dalam berbagai bentuknya untuk banyak arti yang puncaknya adalah pengingkaran terhadap keesaan Allah swt. dan disusul dengan keengganan melaksanakan perintah Allah swt. dan mengerjakan perintah-Nya. Berarti menurut M. Quraish Shihab, umat Islam tidak hanya dilarang menjadikan se-orang pemimpin itu berasal dari non-Muslim, bahkan Allah Swt.