Beranda blog Halaman 117

Ibrah Surah Alfil: Iri dan Dengki Penyebab Kehancuran

0
Ibrah Surah Alfil: Iri dan Dengki Penyebab Kehancuran
Surah Alfil

Surah Alfil merupakan salah satu surah yang paling awal diturunkan. Surah yang berisi lima ayat ini termasuk golongan surah makiyah yang karakternya ringkas, mudah dibaca, dan mudah menarik perhatian pembaca.

Ulama tafsir menegaskan, meskipun ayat-ayat dalam surah makiyah pendek dan ringkas, tetapi menghadirkan pesan yang kuat dengan nada tegas kepada liyan. Dalam Surah Alfil terkandung kisah dan episode komunitas masa lalu. Mereka adalah masyarakat Makkah pra-Islam.

Satu pesan penting yang disampaikan dalam Surah Alfil adalah bahwa iri dan dengki merupakan penyakit hati yang dapat menghancurkan empunya. Kisah serangan Abrahah dan pasukan tentaranya terhadap Kakbah yang tesurat dalam Surah Alfil sangatlah populer dalam catatan sejarah. Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir, misi penyerangan ke Kakbah dilakukan Abrahah tidak lain karena kedengkian terhadap kesuksesan tempat ibadah itu yang menarik perhatian banyak orang untuk menziarahinya.

Dijelaskan dalam Tafsir al-Jalalain, Abrahah kemudian membangun sebuah gereja di Shan’a (Yaman) dengan tujuan untuk menandingi tempat ibadah yang berada di Makkah sana, supaya orang-orang berpaling dan tidak menziarahi Kakbah lagi.

Bangsa Arab menyebutnya dengan al-Qalis, karena bangunannya yang tinggi. Sebab, orang yang melihatnya akan mengangkat kepala sehingga qolansuwah (peci) mereka yang melihat bisa-bisa terjatuh karena mendongak terlalu tinggi.

Kecemburuan dan kemarahan Abrahah terhadap pesaingnya semakin kuat dan tak tertahankan. Dia semakin iri dengan Kakbah dan memutuskan untuk menghancurkannya sehingga orang tidak bisa lagi mengunjunginya.

Abrahah menyiapkan pasukan besar termasuk gajah dengan tujuan menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Makkah dan menyebabkan kehancuran besar-besaran di Kakbah. Namun demikian, serangan mereka gagal karena Allah Swt. mengirimkan sekawanan burung yang membawa dan menjatuhkan batu api kepada mereka. Ini sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. Alfil/105: 1-5,

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ ١ اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍۙ ٢ وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ ٣ تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ ٤ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ ࣖ ٥

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (Q.S. Alfil/105: 1-5).

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa Abrahah dan bala tentaranya bergerak menuju Kakbah dengan pasukan gajah untuk menakut-nakuti penduduk Makkah. Akan tetapi, Allah membinasakan mereka sebelum maksud jahat itu tercapai. Peristiwa Gajah ini menjadi suatu peristiwa yang paling terkenal di kalangan bangsa Arab, sehingga peristiwa ini mereka jadikan patokan tanggal bagi peristiwa-peristiwa lainnya.

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menyebutkan banyak yang tewas seketika karena serangan sekawanan burung yang membawa batu panas itu. Sementara beberapa berhasil melarikan diri kembali ke negara mereka, termasuk Abrahah. Meskipun selamat dari tempat kejadian, Abrahah mengalami rasa sakit yang luar biasa hingga meninggal tak lama kemudian karenanya.

Iri dan dengki sumber kehancuran

Baca juga: Kisah Pasukan Bergajah dan Burung Ababil dalam Surah Alfîl

Sifat iri dan dengki yang tertanam di dalam hati Abrahah terhadap kesuksesan pihak lain, dalam hal ini Kakbah telah mendorongnya untuk berbuat kejahatan dengan merusak bangunan tempat ibadah yang populer di Arab itu. Lebih-lebih kedengkian tersebut juga membuatnya tidak mampu melihat potensi lain dari negerinya yang mungkin lebih bisa dikembangkan, kendati bukan sama seperti sektor perdagangan dan pariwisata di wilayah Makkah.

Nasib buruk yang menimpa Abrahah telah menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa penyakit iri hati dapat merusak pelakunya. Kita harus menghancurkan keirian dan kedengkian dalam hati sebelum penyakit itu menghancurkan kita.

Sifat hasad, baik iri maupun dengki adalah klaster penyakit jiwa yang paling parah dan memiliki dampak luar biasa, karena dapat menyebabkan dan mendatangkan bencana bukan hanya bagi orang lain, namun juga dirinya sendiri. Terkait ini, Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah yang berbunyi; Waspadalah kalian terhadap hasad (iri dan dengki) karena ia dapat menghabiskan kebajikan, seperti api menghabiskan kayu bakar (H.R. Abu Daud).

Nabi telah memperingatkan kita untuk menjauhi sifat hasad karena itu melemahkan jiwa, membahayakan, dan mengikis pahala-pahala amal saleh yang telah dilakukan.

Baca juga: Surah Annisa Ayat 32: Larangan Iri Hati Terhadap Orang Lain

Nasihat Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali mengatakan, hasad adalah sikap batin berupa ketidaksenangan terhadap kebahagiaan atau kesuksesan pihak lain dan berusaha untuk menghilangkannya. Dalam pengertian ini, orang yang memiliki kecemburuan di dalam hatinya mencerminkan ketidaksenangannya terhadap keputusan Allah Swt.

Pada hakikatnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Bidayatul Hidayah bahwa penyakit hasad mengakibatkan si penderitanya lelah, sebab kecemburuan yang mendalam dan terus menerus terhadap orang lain. Itu menjadikan pikiran dan hatinya tumpul karena selalu merasa resah oleh berkat yang diperoleh orang lain dari Allah Swt.

Lebih lanjut, Al-Ghazali menawarkan kepada kita obat untuk penyakit iri dan dengki. Beliau menasihati, ketika hasad memaksa seseorang untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang buruk, dia harus mengalahkan sifat tercela tersebut yang berada dalam dirinya. Dia harus berpikir bahwa sifat hasad hanya akan membuat dirinya tidak pernah puas. Dengan demikian dia dapat mengalahkan penyakit iri dan dengki, sehingga sifat hina tersebut tunduk dengan kecerdasan akalnya.

Q.S. Alfil memberikan pelajaran penting bahwa Abrahah sebagai simbol sifat hasad dalam hati mesti dihancurkan sebelum penyakit itu malah menghancurkan diri kita. Hendaknya kita menghindari sifat tercela yang menggerogoti hati itu. Kita harus ikut bahagia, bahkan lebih baik lagi jika turut mensyukuri nikmat yang didatangkan Allah untuk orang lain. Dengan begitu hati akan terasa tenang dan damai sentosa. Wallahu a’lam.[]

Baca juga: Penjelasan tentang Hati yang Sakit dalam Q.S. Albaqarah: 10

Belajar Menghadapi Mental Block dari Kisah Siti Maryam

0
Belajar Menghadapi Mental Block dari Kisah Siti Maryam
Belajar Menghadapi Mental Block dari Kisah Siti Maryam

Mental block adalah salah satu gejala psikologis yang dialami seseorang ketika terjadi penolakan tak terkendali yang berasal dari otak. Kondisi ini didefinisikan sebagai bentuk penyangkalan di alam bawah sadar terhadap sebuah pemikiran atau emosi. Saat mental block terjadi, seseorang tidak dapat berpikir dengan baik seperti biasanya, khususnya dalam topik-topik tertentu. Akibat yang sering terjadi dari mental block ini adalah terjadi keputusasaan atau hilangnya harapan akan berhasil (hellosehat.com).

Terkait kondisi mental block ini, ada satu kisah menarik dalam Alquran, yaitu tentang kondisi Siti Maryam saat dia akan melahirkan Nabi Isa. Hal tersebut terekam dalam Q.S. Maryam [19]: 23-25 sebagai berikut.

فَأَجَآءَهَا ٱلۡمَخَاضُ إِلَىٰ جِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ قَالَتۡ يَٰلَيۡتَنِي مِتُّ قَبۡلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسۡيٗا مَّنسِيّٗا فَنَادَىٰهَا مِن تَحۡتِهَآ أَلَّا تَحۡزَنِي قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيّٗا وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا

Terjemah: “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Q.S. Maryam [19]: 23-25).

Baca juga: Tafsir Q.S. Ali Imran Ayat 139: Berdamai dengan Mental Health

Tafsir Q.S. Maryam [19]: 23-25 tentang kisah melahirkan Siti Maryam

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ketika Maryam merasa sakit karena akan melahirkan anaknya, dia terpaksa bersandar pada pangkal pohon kurma untuk memudahkan kelahiran. Dengan penuh kesedihan dia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.”

Maryam mengharapkan seandainya mati saja sebelum melahirkan karena merasa beratnya penderitaan akibat melahirkan anak tanpa seorang ayah. Dia yakin hal ini akan berakibat timbulnya tuduhan dan cemoohan dari kaumnya yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Maka datanglah Jibril dan berseru dari suatu tempat yang rendah, dan mengatakan kepada Maryam untuk tidak bersedih hati, karena Allah telah mengalirkan sebuah anak sungai di bawahnya. Ini merupakan suatu rahmat bagi Maryam karena di tempat itu pada mulanya kering; tidak ada air yang mengalir, tetapi kemudian terdapat aliran air yang bersih.

Jibril kemudian menyuruh Maryam untuk menggoyang pohon kurma supaya pohon itu menjatuhkan buahnya yang telah masak kepadanya. Dan ini adalah rahmat yang lain untuk Maryam karena pada mulanya pohon kurma itu telah kering. Namun, dengan kehendak Allah ia menjadi hijau dan subur kembali serta berbuah sebagai rezeki untuk Maryam.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah juga menjelaskan bahwa Maryam membayangkan kemungkinan sikap ingkar keluarganya terhadap kelahiran anaknya kelak. Dia pun berharap cepat meninggal dunia supaya kejadian ini tidak lagi berarti dan cepat dilupakan.

Senada dengan hal di atas, Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir juga mengatakan bahwa kala itu Maryam berangan-angan untuk mati karena malu dari manusia dan karena takut jika mereka menganggapnya sebagai orang yang buruk dalam agama. Dia berangan-angan menjadi sesuatu yang tidak diindahkan seperti sebatang tonggak dan tali.

Namun, dia tetap melaksanakan perintah Allah untuk menggoyangkan batang kurma itu yang kemudian mengugurkan kurma-kurma basah dan segar yang sudah masak dan dapat langsung dimakan, tanpa perlu difermentasi dan diolah. Hal ini juga menjadi salah satu kuasa Allah yang begitu luar biasa.

Baca juga: Kisah Keluarga ‘Imran (Bag. 4): Ujian Maryam dan Kelahiran Isa yang di Luar Nalar

Kondisi Siti Maryam yang mengalami mental block

Kondisi mental dan mindset Siti Maryam yang tergambar dalam ayat di atas benar-benar dalam keadaan yang hampir putus asa. Hal tersebut ditunjukkan dengan perkataan, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini…” yang melukiskan betapa kesakitan dirinya ketika akan melahirkan dan akibat-akibat yang akan dia terima pasca melahirkan kelak.

Kondisi mental Siti Maryam yang hampir putus asa tersebut menandakan mental block yang begitu berat karena ketidakmampuan dirinya dalam mengendalikan mindset serta adanya ketakutan untuk menjalani hidupnya yang penuh cobaan kelak.

Yusdarmanto dalam bukunya, Spiritual Mental Block Breaking mengatakan bahwa kondisi Siti Maryam saat itu sedang mengalami mental yang terperangkap dengan segenap penderitaan yang sedang dan akan dia rasakan.

Namun, pelajaran penting yang didapat adalah meski Siti Maryam berada pada fase mental block, dia tetap berpegang dan mengikuti perintah Allah dengan menggoyangkan batang pohon kurma tersebut. Hal ini mengisyaratkan bahwa ketika seseorang mengalami mental block, tidak berarti terus berlarut dengan kerapuhan tersebut. Namun, hendaknya dia tetap mencari petunjuk Allah dengan beribadah dan berdoa serta mengikuti saran-saran terbaik dari orang yang dipercaya.

Penutup

Banyak pertolongan Allah Swt. yang tidak bisa tertangkap oleh mindset dan mental manusia sebagai sebuah solusi ketika dalam keadaan mental block. Namun, Siti Maryam tidak demikian. Dia tetap menjalankan perintah Allah walau keadaannya sedang rapuh dan hampir putus asa.

Pelajaran terpetik dari kisah Siti Maryam ini kemudian menunjukkan bahwa dalam kondisi mental block sekali pun, akan selalu ada pertolongan yang Allah berikan. Hanya saja pertolongan tersebut ada yang disadari manusia melalui akalnya, tetapi ada pula yang hanya memerlukan keimanan sebagaimana yang dilakukan Maryam. Wallahu a’lam.

Baca juga: Tuntunan Alquran untuk Hilangkan Insecurity Berlebih

Tafsir Tarbawi: Pandai-pandailah Memanfaatkan Momentum Belajar dengan Baik!

0
Memanfaatkan momentum untuk belajar
Memanfaatkan momentum untuk belajar

“Pandai-pandailah memanfaatkan momentum dengan baik!” Begitulah kalimat yang harus dipegang erat oleh pelajar. Momentum yang dimaksud tidak lain adalah momentum belajar di usia muda dan nikmat kesehatan. Dua momentum tersebut merupakan kenikmatan terbesar yang dimiliki bagi seorang manusia. Tidak setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, baik di bangku sekolah, pesantren maupun nikmat kesehatan yang prima.

Dua nikmat tersebut juga yang sering dilalaikan manusia, tak terkecuali seorang pelajar. Bagi pelajar, dua nikmat tersebut harus dimanfaatkan dengan baik agar kelak tidak menyesal di hari tua. Artikel ini mengulas bagaimana seharusnya seorang pelajar memanfaatkan dua momentum tersebut dengan mendasarkan pada firman Allah Q.S. Yunus [10]: 49 di bawah ini.

Tafsir Surah Yunus ayat 49

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa (menolak) mudarat dan tidak pula (mendatangkan) manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak (pula) dapat meminta percepatan.”(Q.S. Yunus [10]: 49)

Dalam hal ini, kami akan fokus pada penafsiran makna dharran (mudarat), naf’an (manfaat), dan ajal. Secara umum, ayat di atas berbicara tentang ancaman kepada orang-orang musyrik yang ingin meminta pembuktian janji Allah kepada mereka sebagaimana penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah.

al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsiri ayat di atas bahwa siapapun, termasuk Nabi Muhammad saw, tidak lebih sebagai pembawa risalah-Nya. Rasul saw hanya menyampaikan janji Allah kepada orang-orang musyrik berupa ancaman dan siksa yang akan menimpa mereka. Sebab menurut Allah, kata al-Tabari, setiap umat dan manusia pasti memiliki ajal.

Ajal yang dimaksud adalah bahwa setiap orang memiliki batas waktu hidup di dumia, dan jika waktu akhir masa hidup mereka datang, mereka tidak dapat menunda sedetikpun. Mereka tidak bisa menunda ataupun memajukannya karena semua itu berjalan sesuai ketetapan Allah.

Baca juga: Tafsir Surat At-Taubah Ayat 122: Pencari Ilmu Wajib Membangun Expertise

Tidak jauh berbeda, Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsiri kata dharran dengan makna kemudharatan dan na’fan bermakna kemanfaatan. Bagi Shihab, didahulukannya kata dharran (ضَرًّا) menunjukkan bahwa konteks pembicaraan ayat tersebut adalah siksa yang diminta agar disegerakan untuk kaum musyrikin, sehingga kata mudharat lebih tepat didahulukan ketimbang manfaat (naf’an). Kemudian kalimat, illa masya Allah (اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ), ada juga ulama yang memahaminya dalam arti “kecuali apa yang dikehendaki Allah, maka itulah yang mampu kulakukan.”

Pemahaman tersebut, menurut Shihab, mengisyaratkan bahwa banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia, walau dalam saat yang sama pun berada dalam kemampuannya. Sedangkan kata ajal dimaknai oleh Shihab sebagai batas akhir dari sesuatu, usia, atau kegiatan. Tidak cukup di situ, Shihab juga memaknai kata yasta’khiruna dan yastaqdimuna bahwa tidak ada kemampuan mereka untuk melakukannya dan dapat juga dalam arti kesungguhan, yakni mereka tidak akan mampu walaupun mereka bersungguh-sungguh untuk melakukan pengajuan atau pengunduran.

Pandai-pandailah memanfaatkan momentum

Momentum yang kami maksud adalah momentum kesempatan belajar, kesehatan, dan usia muda. Inilah yang kami maksud dengan makna ajal dalam ayat di atas. Bagi kami, setiap orang memiliki kesempatan masing-masing, termasuk ketiga hal tersebut, terkhusus sebagai pelajar. Bagi pelajar, ketiga nikmat tersebut justru harus disyukuri dengan memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari sosok guru teladan dan para pakar ilmu pengetahuan. Sebab, sabda Nabi saw, “dua nikmat yang sering diabaikan oleh manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang.”

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Perintah Bersungguh-sungguh dalam Belajar

Karena itu, selagi masih bisa belajar, masih diberikan kesehatan yang prima, dan usia muda, mari kita manfaatkan momentum tersebut untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan menebarkan manfaat kepada sesama. Pepatah Arab mengatakan,

التعلم في الصغر كالنقص على الحجر

“Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu”

Juga, Syekh al-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim berpesan khusus kepada pelajar:

تَعَـلَّـمْ فَــإِنَّ الْـعِلْـمَ زَيـْنٌ لِأَهْــلــِهِ # وَفَــضـْلٌ وَعـُـنـْوَانّ لِـكـُلِّ مَـــحَامِـدٍ

وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة # من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـد

تَفَقَّهْ فإِنَّ الفِقْهَ أَفْضَلُ قائِدٍ # إلى البِرِّ والتقوَى وأَعْدَلُ قاصِدِ

هُوَ العَلَمُ الهَادِي إلى سُنَنِ الهُدَى # هُوَ الحِصْنُ يُنْجِي مِنْ جَميْعِ الشِّدائِدِ

فإنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَورّعًا # أَشَدُّ على الشَّيْطانِ مِن أَلْفِ عَابِدِ

“Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Dan menjadi tanda dan keutamaan bagi setiap yang terpuji. Jadilkanlah hari-harimu untuk menambah ilmu dan berenanglah di lautan keutamaan ilmu! Belajarlah ilmu agama, karena ia merupakan ilmu yang paling unggul! Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa. Ia ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk Allah. Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala kegundahan. Karena itu, sesungguhnya satu orang faqih (berilmu) yang wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh.” Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Albaqarah Ayat 31: Dasar Teori Pembentukan Bahasa

0
Dasar teori pembentukan bahasa dalam Alquran
Dasar teori pembentukan bahasa dalam Alquran

Bahasa merupakan salah satu anugerah berharga yang Allah berikan kepada manusia. Dengan bahasa, manusia dapat berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, bahasa juga menjadi sebuah identitas dan menggambarkan keragaman dengan segenap perbedaan yang ada, sebab di dunia ini, ada banyak bahasa yang berbeda tergantung pada masing-masing tempat atau orang yang menuturkannya.

Berbicara mengenai bahasa, pernahkah terpikir di benak kita bagaimana bahasa bisa terbentuk? Terkait hal ini, Alquran telah mengisyaratkan teori pembentukan bahasa sebagaimana tergambar dalam Q.S. Albaqarah [2]: 31 sebagai berikut.

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبئونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

Terjemah: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”” (Q.S. Albaqarah [2]: 31)

Allah yang mengajar Nabi Adam

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ayat ini menerangkan bahwa Allah ﷻ mengajarkan kepada Adam `alaihis salam nama-nama, tugas, dan fungsinya sebagai Nabi dan Rasul, serta tugas dan fungsinya sebagai pemimpin umat. Manusia memang makhluk yang dapat dididik (educable), bahkan harus dididik (educandus), karena ketika baru lahir bayi manusia tidak dapat berbuat apa-apa, anggota badan dan otak serta akalnya masih lemah.

Tetapi, setelah melalui proses pendidikan bayi, manusia yang tidak dapat berbuat apa-apa kemudian berkembang dan melalui pendidikan yang baik, sehingga apa saja dapat dilakukan olehnya. Adam sebagai manusia pertama dan belum ada manusia lain yang mendidiknya, maka Allah secara langsung mendidik dan mengajarinya.

Baca juga: Stratifikasi Bahasa Jawa dalam Tafsir Karya Kiai Misbah Musthofa

Cara Allah mendidik dan mengajar Adam tidak seperti manusia yang mengajar sesama manusia, melainkan dengan mengajar secara langsung dan memberikan potensi kepada Adam untuk dapat berkembang. Potensi tersebut berupa daya pikir, sehingga memungkinkan Adam untuk mengetahui semua nama yang di hadapannya. Setelah nama-nama itu diajarkan-Nya kepada Adam, maka Allah memperlihatkan benda-benda itu kepada para malaikat dan diperintahkan-Nya agar mereka menyebutkan nama-nama benda tersebut yang telah diajarkan kepada Adam dan ternyata mereka tidak dapat menyebutkan nama-nama benda tersebut.

Quraish Shihab juga menjelaskan dalam Tafsir al-Misbah bahwa dalam ayat tersebut Allah mengajarkan Adam tentang nama dan karakteristik benda agar dia dapat hidup dan mengambil manfaat dari alam. Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir juga menambahkan penjelasan ayat ini bahwa Allah SWT mengadakan ujian bagi para malaikat untuk membuktikan ketidakmampuan mereka dan menggugurkan anggapan mereka bahwa mereka lebih pantas menjadi khalifah daripada khalifah yang ditunjuk-Nya. Ujian ini diadakan setelah Allah mengajari Adam nama benda materiil (seperti tumbuhan, benda mati, manusia, dan hewan) yang mendiami dunia ini, lalu Allah memperlihatkan benda-benda yang memiliki nama itu kepada para malaikat. Ternyata mereka tak mampu menyebutkan nama-nama tersebut.

Bahasa dibentuk melalui proses meniru

Mengacu pada penjelasan para mufassir di atas, dapat dipahami bahwa kemungkinan manusia untuk membahasakan atau menyebut sesuatu yang dilihat maupun didengar adalah karena proses peniruan dari penutur sebelumnya. Dalam konteks ayat di atas, penutur pertama yang mengajarkan bahasa adalah Allah SWT, kemudian ditirukan oleh Nabi Adam.

Pengajaran terhadap nama-nama benda kepada Nabi Adam mengisyaratkan bahwa sejatinya Allah sendiri telah menetapkan nama-nama tersebut sebelumnya, kemudian mempublikasikannya kepada Adam untuk diketahui dan ditirukan.  Lalu pengetahuan Adam tersebut dipamerkan kepada para malaikat untuk membantah ketidakyakinan mereka.

Baca juga: Serba-Serbi Seputar Surah Albaqarah

Hal tersebut mengindikasikan bahwa awal pembentuk bahasa bermula pada sebuah percontohan. Seseorang dapat membahasakan sesuatu karena dia mengetahui tentang hal tersebut dari penutur sebelumnya. Misalnya, seseorang dapat berbahasa Inggris, karena dia mempelajari dan menirukannya.

Meskipun begitu, Prof. Mudjia Raharjo dalam tulisannya Spekulasi tentang Asal-usul Bahasa mengatakan bahwa teori tentang asal mula bahasa masih kabur dan demikian beragam, dari yang bersifat mitos, religius, mistis sampai yang agak ilmiah. Namun poin penting yang perlu ditegaskan adalah bahwa bahasa terbentuk karena sebuah “ketetapan” yang dibuat kemudian dituturkan dan selanjutnya ditirukan.

Penutup

Teori asal-usul bahasa yang beredar masih bersifat spekulatif. Sebab tidak ada manusia yang dapat memastikan kapan dan bagaimana awal mula bahasa terbentuk. Namun sebagai seorang muslim kita juga perlu menganut teori dogmatik melalui penggembaran Alquran dalam Q.S. Albaqarah ayat 31 di atas yang menyatakan bahwa Adam telah diajari nama-nama oleh Allah terkait hal-hal yang ada di Bumi, meskipun cara Allah mengajari Adam tentu berbeda dengan cara manusia mengajari sesamanya.

Kisah yang tergambar di atas cukup memberi petunjuk bahwa sejak Adam diciptakan pun, dia sudah menggunakan “bahasa”. Hanya saja, bahasa tersebut kemudian berkembang dengan segenap perbedaan yang disebabkan keanekaragamaan latar belakang daerah atau suku. Sehingga, hal tersebut memunculkan teori baru bahwa bahasa dapat dibentuk dengan sebuah “kesepakatan”, dituturkan, kemudian ditirukan. Wallahu a’lam.

Membedah Terjemah Alquran Kemenag Edisi Penyempurnaan 2019

0
Membedah Terjemah Kemenag Edisi Penyempurnaan 2019
Sampul Al-Qur’an dan Terjemahannya edisi 2019

Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019 merupakan edisi terbaru terjemah Al-Qur’an (selanjutnya disebut terjemahan) yang diterbitkan oleh Kemenag hingga saat ini. Terjemahan ini juga turut disertakan dalam aplikasi Qur’an Kemenag, selain terjemahan tahun 2002. Terjemahan edisi penyempurnaan ini dapat didapatkan secara gratis dengan mengunduhnya pada laman Pustaka Lajnah (pustakalajnah.kemenag.go.id).

Seperti telah dijelaskan dalam pengantarnya, Terjemahan 2019 adalah edisi penyempurnaan dan penyesuaian yang ketiga setelah diterbitkan pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1965. Upaya penyempurnaannya dilakukan dari tahun 2016 hingga 2019 mencakup aspek redaksional, konsistensi, dan substansional.

Sementara dua edisi penyempurnaan sebelumnya adalah penyempurnaan pertama yang dilakukan pada tahun 1989 dan dicetak oleh Mujamma‘ Malik Fahd pada tahun 1990 hingga saat ini; dan edisi penyempurnaan kedua yang dilakukan dalam rentang waktu 1998 hingga 2002 dengan menekankan aspek konsistensi pilihan kata, substansi, dan transliterasi.

Dari segi teks Al-Qur’an, Terjemahan 2019 telah menggunakan teks terbaru yang juga digunakan pada Mushaf Standar Indonesia (MSI) edisi 2019 hingga saat ini. Teks ini ditulis oleh Isep Misbah yang pilihan font-nya kemudian dijadikan font resmi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) untuk MSI, termasuk pada aplikasi Qur’an Kemenag.

Tata letak teks Al-Qur’an Terjemahan 2019 mengikuti tata letak MSI, yakni ditulis berdasakan halaman dengan frame yang memisahkan antara halaman teks Al-Qur’an dan halaman terjemahan. Terjemahannya sendiri ditulis mengelilingi teks Al-Qur’an menggunakan dua kolom dengan penomoran ayat sesuai teks Al-Qur’an yang ada.

Layout ini cukup berbeda dengan terjemahan edisi 1989, misalnya, yang dicetak oleh Mujamma‘. Teks Al-Qur’an-nya di sini ditulis secara urut satu per satu pada bagian kanan halaman dan diikuti terjemahannya pada bagian kiri halaman.

Tata letak semacam ini memungkinkan pembaca untuk melakukan pembacaan Al-Qur’an “seperti biasa” karena tampilannya yang sama seperti mushaf Al-Qur’an lain, tanpa usaha berlebih dalam membuka halaman dikarenakan penulisan ayatnya yang satu per satu. Dengan kata lain, Terjemahan 2019 dapat difungsikan sebagai mushaf baca dan juga dapat difungsikan sebagai terjemahan.

Baca juga: Menyoal Metode Terjemah Harfiah dalam Penerjemahan Alquran

Meski demikian, ada beberapa hal yang menurut penulis mestinya dapat ditambahkan ke dalam Terjemahan 2019 ini tanpa mengurangi nilai aksentuasi fungsi dari terjemahan yang dimiliki. Di antaranya adalah halaman deskripsi mushaf atau al-ta‘rif bi al-mushhaf.

Halaman yang berisi deskripsi singkat mengenai “biografi” mushaf ini padahal sudah ditambahkan pada MSI edisi 2019 hingga 2021. Namun demikian, dalam naskah terjemahan yang penulis miliki tertanggal 2020 tidak dijumpai adanya deskripsi tersebut. Sementara jika kita bandingkan dengan terjemahan lain,  terbitan Mujamma‘ misalnya, deskripsi itu tetap dicantumkan.

Mengapa deskripsi ini penting? Karena bagi kalangan yang ingin menggunakan edisi ini “murni” sebagai mushaf baca, bukan terjemahan, dia tidak perlu merujuk pada mushaf lain untuk mengetahui cara penggunaan tanda baca, misalnya, atau aspek lain yang terdapat dalam sebuah mushaf Al-Qur’an.

Perbedaan lain yang dapat dijumpai dalam Terjemahan 2019 adalah tidak dicantumkan lagi materi-materi keilmuan yang menunjang pembelajaran dan pemahaman Al-Qur’an, seperti ilmu Al-Qur’an, sejarah Nabi dan relasinya terhadap kehadiran Al-Qur’an, atau pun sejarah penerjemahan. Hal ini mungkin disebabkan banyaknya sumber pengetahuan akan hal itu yang saat ini mudah diakses sehingga dianggap tidak dibutuhkan lagi.

Meski demikian, Terjemahan 2019 unggul dengan mencantumkan Daftar Pustaka yang dijadikan sumber dalam melakukan penerjemahan. Itu berarti bahwa dalam terjemahan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan merujuk pada literatur yang kredibel.

Sementara pada masalah teknis lain, seperti kategorisasi dan distribusi tema pembahasan ayat, Terjemahan 2019 tetap mengikuti pendahulunya. Hanya saja, secara redaksional, judul-judul yang diberikan tentu memiliki perbedaan, terutama menjadi lebih ringkas, sederhana, dan lugas. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Mengenal Proyek Terjemahan Alquran Bahasa Lokal Kemenag

Memahami Surah Ali Imran Ayat 118-120 dalam Konteks Keindonesiaan

0
Ali Imran Ayat 118-120
Memahami Ali Imran Ayat 118-120 dalam Konteks Keindonesiaan

Beberapa waktu yang lalu beredar tangkapan layar halaman Alquran yang memuat Surah Ali Imran ayat 118-120 di grup whatsapp. Dalam tangkapan layar yang saya terima, diberikan coretan yang menyorot terjemah ketiga ayat tersebut. Agar para pembaca memahami konteks dari apa yang ingin dipromosikan oleh si penyebar, berikut ini saya tampilkan Surah Ali Imran ayat 118-120: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضاءُ مِنْ أَفْواهِهِمْ وَما تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآياتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (118) هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتابِ كُلِّهِ وَإِذا لَقُوكُمْ قالُوا آمَنَّا وَإِذا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذاتِ الصُّدُورِ (119) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِها وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئاً إِنَّ اللَّهَ بِما يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (120)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil menjadi teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya (18). Beginilah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kalian, mereka berkata, “Kami beriman,” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka), “Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati (19). Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati; tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepada kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan (20).

Apabila pembaca mencermati isi dari ayat dan terjemah Surah Ali Imran Ayat 118-120 di atas, sekilas akan tampak bahwa Alquran melarang untuk berteman baik dengan non-Muslim. Ayat di atas juga sekilas menyiratkan bahwa non-Muslim selalu punya niat jahat untuk membuat kemudaratan bagi umat Muslim. Saya berasumsi kuat bahwa dengan ayat tersebut, penyebar screenshot hendak menyatakan bahwa secara teologis-normatif Alquran melarang umat Muslim untuk berteman dengan non-Muslim.

Baca Juga: Eksklusivitas Islam dalam Alquran dan Kesalahpahaman Tentangnya

Dalam konteks bernegara dan berbangsa saat ini, promosi kebencian atas nama kitab suci tentu saja berdampak serius pada munculnya segregasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang multi agama. Benarkah Alquran memerintahkan kita umat Muslim untuk tidak berteman dengan saudara di luar agama Islam? 

Bila kita telusuri dalam kitab-kitab tafsir seperti dalam Jami’ al-Bayan karya Al-Thabari dan Tafsir al-Qur’an al-’Adzim karya Ibn Katsir, ditemukan keterangan bahwa yang dimaksud dengan bithanah (teman kepercayaan) dalam ayat di atas adalah orang-orang munafik. Ayat ini ditujukan kepada sebagian sahabat Rasulullah yang masih menjalin hubungan dekat dengan orang-orang munafik karena ikatan yang sudah terjalin sejak zaman jahiliyah

Meskipun setelah saya lacak dalam kitab-kitab tafsir tidak ditemukan keterangan pasti kapan ayat ini turun secara spesifik, akan tetapi para mufasir sepakat bahwa ayat ini turun di Madinah. Dalam buku sejarah seperti al-Sirah al-Nabawiyah karya Ibn Hisyam dan al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn al-Atsir, kondisi Madinah pada waktu itu masih rentan dari serangan lawan baik di internal (Yahudi dari tiga kabilah: Qainuqa, Nadhir, Quraidhah) maupun eksternal (orang-orang Musyrik Mekah).   

Menurut catatan sejarah, terdapat sebagian orang mukmin yang seringkali membocorkan rahasia kepada orang munafik dengan maksud ingin melindungi mereka atas dasar kedekatan yang sudah terjalin. Padahal rahasia-rahasia ini selalu dibocorkan kepada pihak-pihak lawan yang berdampak pada keamanan orang-orang di Madinah. 

Mengetahui kondisi pada saat ayat turun dan penafsiran atasnya, dapat memperkaya perspektif mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap atas ayat yang apabila dibaca sekilas dapat menimbulkan polemik. Lalu pertanyaan yang muncul berikutnya, mungkinkah Alquran tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini? 

Jawabannya tentu Alquran akan selalu relevan karena sifatnya yang shalih li kulli zaman wa makan. Permasalahannya terletak pada sejauh mana kita mau terus mencari tahu dan memperkaya pengetahuan untuk memahami Alquran. 

Apabila kita telusuri ayat lain, dalam Surah al-Mumtahanah ayat 8-9 Allah Swt befirman: 

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ () إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ   

Allah tidak melarang kalian umat Islam  kepada orang-orang non muslim yang tidak memerangi kalian dalam (persoalan agama) dan tidak mengusir kalian dari rumah kalian  untuk berbuat baik dan adil kepada mereka, sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat keadilan (8). Yang Allah larang ialah untuk berbuat asih kepada mereka (orang-orang non muslim) yang memerangi kalian dalam urusan agama dan  terang-terangan mengusir kalian, orang-orang (muslim) yang berbuat asih dengan mereka adalah merupakan orang-orang dzalim (9).”

Baca Juga: Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Melalui ayat di atas, Allah Swt memerintahkan umat Muslim agar berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang non-Muslim. Apakah dengan dua ayat yang tampak kontradiktif menjadikan Alquran tidak konsisten? Tentu saja tidak. Masing-masing ayat bisa dipahami sesuai dengan konteksnya. 

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, dalam konteks Indonesia Surah Al-Mumtahanah ayat 8-9 adalah ayat yang berlaku (muhkamah) secara mutlak dan tidak diganti (mansukh) dengan ayat lain. Artinya, meskipun ada ayat yang memerintahkan untuk tidak berteman, tetapi dalam konteks Indonesia ayat yang wajib diterapkan oleh umat Muslim adalah ayat yang menganjurkan pertemanan dengan non-Muslim. 

Apa yang diungkap oleh Buya Hamka dalam tafsirnya, tentu selaras dengan apa yang telah diperjuangkan para ulama kita ketika ikut mendirikan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka. Upaya-upaya untuk melakukan perpecahan di antara anak bangsa tentu mencederai apa yang telah mereka perjuangkan dengan pikiran, harta, bahkan nyawa. Wallahu A’lam.

Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

0
tirakat dalam menuntut ilmu
tirakat dalam menuntut ilmu

Bagi pelajar, tirakat atau riyadhah merupakan suatu keharusan jika ingin ilmunya berkah dan bermanfaaat. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari dikatakan bahwa wajib bagi seorang pelajar untuk riyadah atau tirakat dalam menuntut ilmu agar muncul keberkahan dan  manfaat. Tirakat merupakan laku perbuatan menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu dalam bentuk apa pun, baik dalam bentuk puasa, menahan emosi, menahan hawa nafsu dan segala keinginan yang menggebu, tidak melihat hal-hal yang diharamkan dan lain sebagainya.

Baca Juga: Tiga Metode Pendidikan Para Rasul dalam Al Quran

Perintah tirakat dalam menuntut ilmu

Dalam hal ini, Alquran telah memberikan tuntunan tirakat yang harus dilakukan seorang pelajar, di antaranya adalah menyedikitkan tidur dan mendirikan salat malam sebagaimana ditegaskan-Nya dalam Q.S. al-Sajdah [32]: 16,

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. al-Sajdah [32]: 16)

Tirakat yang dimaksud dalam artikel ini berfokus pada kata menjauhi tempat tidur (tatajafa junubuhum), berdoa kepada Allah (yad’una rabbahum) dan menginfakkan sebagian rizki di jalan-Nya (mimma razaqnahum).

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsiri makna lambung mereka jauh dari tempat tidur dengan menyitir adalah mereka istikamah mengerjakan ibadah sunnah antara magrib dan isya’ (كانوا يتنفَّلون فـيـما بـين الـمغرب والعشاء) sebagaimana penafsiran Ibn Mutsanna, Yahya bin Said, dari Abu ‘Urwah, Qatadah dan Anas. Sedikit berbeda dengan Ibn Mutsanna, bahwa yang dimaksud tatajafa junubuhum ialah mereka mendirikan shalat atau berdoa di antara dua waktu ini (antara magrib dan isya) (يصلون ما بـين هاتـين الصلاتـين).

Selain itu, pakar tafsir kenamaan Indonesia, Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsiri ayat tersebut bahwa ayat di atas masih merupakan lanjutan uraian tentang ciri-ciri orang-orang mukmin sejati. Ayat ini melukiskan amal perbuatan mereka, sedang ayat sebelumnya, yaitu ayat 15 melukiskan sifat-sifat batin mereka.

Penggalan ayat “menjauh lambung mereka dari tempat tidur mereka” dimaksudkan bahwa orang yang beriman itu tidak banyak tidur. Mereka lebih banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat, mereka senantiasa berdoa kepada Allah diiringi dengan rasa takut (khauf) akan siksa-Nya dan penuh harap (thama’an) kepada ridha-Nya.

Baca Juga: Empat Falsafah Pendidikan Islam dalam Q.S. Al’alaq: 1-5

Penggalan ayat ini, menurut Quraish Shihab menggambarkan keadaan kaum mukmin sebagaimana dalam surah yang lain, Q.S. al-Dzariyat [51]: 17-18,

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). (Q.S. al-Dzariyat [51]: 17-18)

Masih dalam penafsiran Quraish Shihab, pada ayat di atas terlukiskan sekali lagi sifat kejiwaan orang yang beriman, yakni kendati keimanan mereka bertambah dari waktu ke waktu dan sekalipun mereka bangun tengah malam di saat yang lain terlelap tidur, mereka bergegas bangun untuk berdoa, namun itu tidak menjadikan mereka terbuai atau merasa tenang. Mereka selalu takut kepada Allah, namun tetap dibarengi dengan optimisme dan berprasangka baik kepada-Nya.

Jika dibawa pada konteks pelajar, ciri-ciri pada ayat di atas termasuk salah satu tirakat yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asyari, yakni menyedikitkan tidur. Menurut pendiri Nahdlatul Ulama ini, pelajar harus mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Persoalan tidur ini, menurut kiai asal Jombang tersebut tidak boleh melebihi dari delapan jam dalam sehari semalam. Artinya, dari 24 jam sehari, sepertiganya untuk tidur itu sudah cukup.

Inilah yang dikatakan oleh KH. Hasyim Asy’ari bahwa tirakatnya pelajar di antaranya adalah mensucikan hatinya dari tujuan keduniawian, menyedikitkan makan, minum dan tidur, mengekang hawa nafsu dan mendirikan salat malam,

Karena itulah, tidak heran jika Allah swt mengganjar orang yang bersedia tirakat dalam menuntut ilmu dengan ganjaran yang mulia, dan mengangkat levelnya menuju tahapan kemuliaan. Semoga kita semua mampu menirakati proses demi proses dalam menuntut ilmu. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Ar-Rum Ayat 46: Empat Manfaat Angin

0
tafsir surah Ar-Rum ayat 46: manfaat angin
tafsir surah Ar-Rum ayat 46: manfaat angin

Angin merupakan salah satu sumber energi yang memberi segenap manfaat bagi kehidupan manusia. Menurut sebuah penelitian, energi angin merupakan energi terbarukan yang cukup berkembang pemanfaatannya saat ini. Sebab angin adalah salah satu bentuk energi yang tersedia secara melimpah di alam ini (Syahrul, 2011).

Dari sekian banyak manfaat angin, surah Ar-Rum ayat 46 merangkum empat manfaat dan kegunaan angin bagi kehidupan manusia.

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَن يُرۡسِلَ ٱلرِّيَاحَ مُبَشِّرَٰتٖ وَلِيُذِيقَكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَلِتَجۡرِيَ ٱلۡفُلۡكُ بِأَمۡرِهِۦ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur.” (QS. Ar-Rum [36]: 46)

Baca Juga: Mengenal Enam Fungsi Angin dalam Al-Quran Perspektif Tafsir Ilmi

Tafsir surah Ar-Rum ayat 46 tentang manfaat angin

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa secara balaghah, ayat ini menggunakan bentuk bahasa al-lthnaab, yaitu untuk mengingatkan para hamba atas nikmat-nikmat yang begitu banyak. Sebenarnya, kalimat yang terakhir sudah bisa mewakili semuanya.

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini disampaikan bahwa di antara tanda kemahakuasaan Allah adalah angin yang memberikan manfaat besar kepada manusia dalam empat hal yaitu sebagai berita baik, membawa rahmat, kepentingan pelayaran, dan untuk memperoleh karunia Allah.

Pertama, sebagai pembawa berita baik, angin merupakan pendahuluan atau pertanda akan datangnya hujan. Hal itu karena angin membentuk awan. Ketika awan itu semakin padat dan mendingin, ia berubah menjadi butir-butir air, lalu turun berupa hujan. Dengan demikian, angin membawa berita gembira bagi manusia, yaitu kemungkinan turunnya hujan.

Kedua, angin merupakan salah satu yang berperan dalam proses terjadi hujan. Dengan hujan itu, Allah ingin merasakan rahmat-Nya kepada manusia. Berkat dari adanya hujan tersedialah air yang merupakan sumber kehidupan, baik bagi tanaman, hewan, maupun manusia sendiri.

Ketiga, kegunaan lain dari angin yang disebutkan dalam ayat ini adalah untuk pelayaran. Pada era kapal layar sampai era kapal mesin bahkan sampai era kapal bertenaga nuklir sekarang sekalipun, cuaca dan angin masih merupakan faktor yang menentukan atau berpengaruh dalam kesuksesan pelayaran.

Angin bertiup atas perintah Allah, dalam artian berdasar hukum-hukum yang ditentukan-Nya. Oleh karena itu, manusia perlu mengembangkan ilmu meteorologi yang mempelajari angin, cuaca, dan sebagainya agar pelayaran lancar dan maju.

Keempat, kegunaan lebih lanjut dari angin adalah untuk mencari karunia Allah. Oleh karena itu, perlu dikembangkan berbagai teknologi pemanfaatan angin selain untuk pertanian, peternakan, dan pelayaran di atas. Sekarang ini, yang sedang dikembangkan manusia adalah memanfaatkan angin sebagai sumber energi, misalnya untuk pembangkit tenaga listrik, menggerakkan mesin, dan sebagainya.

Demikian M. Quraish Shihab juga menambahkan bahwa penciptaan angin dalam ayat tersebut bertujuan agar manusia dapat mencari rezeki dari karunia-Nya dengan berdagang dan mempergunakan apa-apa yang ada di darat dan di laut dengan berbagai inovasi terbarukan melalui perantara manfaat angin. Selain itu agar manusia bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya dengan cara taat dan beribadah kepada-Nya semata.

Namun menurut Imam Al-Qurthubi, yang perlu digaris bawahi dalam ayat di atas adalah biamrihi (dengan perintah-Nya). Ketika Allah mengizinkan kapal-kapal berlayar, maka angin dapat memberi manfaat kepada manusia. Namun sebaliknya, ketika Allah tidak mengizinkan, angin dapat saja bertiup tidak tenang hingga menenggelamkan kapal-kapal manusia.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa angin dapat memberi manfaat ketika sang penciptanya mengizinkan. Oleh sebab itu, redaksi terakhir ayat tersebut mengisyaratkan manusia untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diterima melalui kemanfaatan angin tersebut.

Baca Juga: Mengenal Tujuh Istilah Angin yang Disebutkan dalam Al-Quran

Penutup

Sebagai salah satu karunia Allah untuk manusia, diciptakan angin yang dapat memberikan segenap manfaat untuk kehidupan. Namun dibalik manfaat tersebut, terdapat pula berbagai bencana yang ditimbulkannya seperti angin topan, puting beliung, dan berbagai bencana lain yang dipicu oleh angin. Hal tersebut terjadi ketika manusia tidak mampu mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Allah serta tidak mampu memakmurkan alam ini.

Sebagai contoh, ketika manusia sibuk menggunduli hutan, pohon-pohon habis ditebang sehingga menyebabkan angin dapat dengan mudah meniup tanpa ada yang menghalangi. Kemanfaatan angin yang semula menjadi rahmat, namun berubah menjadi bencana akibat dari ulah manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, karunia Allah berupa angin untuk kehidupan manusia mestinya disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Wallahu A’lam.

Tafsir Tarbawi: Perintah Bersungguh-sungguh dalam Belajar

0
Tafsir surah Al-Ankabut ayat 69
Tafsir surah Al-Ankabut ayat 69

“Man jadda wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mencapai apa yang dicita-citakan), demikian ungkapan kata mutiara (mahfudzat) yang sering didengar. Bersungguh-sungguh belajar dan tekun beribadah adalah suatu kewajiban bagi seorang pelajar. Bahkan, kewajiban bersungguh-sungguh dalam belajar Allah swt. tegaskan sendiri dalam surah Al-Ankabut ayat 69 bahwa Kami, kata Allah, benar-benar akan tunjukkan kepada mereka sesuatu yang tidak diketahuinya (lanahdiyannahum subulana). Selengkapnya mari kita simak ulasan di bawah ini.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Pentingnya Perencanaan Bagi Guru Sebelum Mengajar

Tafsir Surah Al-Ankabut Ayat 69

Di dalam surah Al-Ankabut ayat 69, Allah swt. secara tegas menyatakan bahwa Dia pasti memberi petunjuk bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari ridha Allah, tidak terkecuali belajar. Allah swt. berfirman,

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. al-Ankabut [29]: 69).

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Quran menafsirkan kalimat lanahdiyannahum subulana bahwa Allah swt. pasti memberi taufik (hidayah) atau membimbing hamba-hamba-Nya menuju jalan yang lurus (linuwaffiqannahum li ishabati al-thariqi al-mustaqimah), yaitu agama Allah (al-Islam) yang dengannya Allah swt. mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah-Nya.

Sedangkan al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf dan Al-Baidhawi dalam Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil menafsiri kata lanahdiyannahum subulana bahwa Allah swt pasti akan menambahkan hidayah dan bimbingan-Nya kepada mereka menuju jalan kebaikan dan kesuksesan (لنزيدنهم هداية إلى سبل الخير وتوفيقاً). Selain itu, al-Zamakhsyari menyitir penafsiran Abi Sulaiman al-Darani bahwa mereka yang berjihad (bersungguh-sungguh dalam belajar) di jalan Allah, maka pasti Allah ajarkan dan tunjukkan kepada mereka sesuatu yang belum dia ketahui (‘allimu lanahdiyannahum ila ma lam ya’lamu).

Tidak jauh berbeda, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan lanahdiyannahum subulana dengan barang siapa yang berjihad dengan ketaatan, maka Allah menunjukkan jalan surga baginya (man jahada bi al-tha’ah hadahu subula al-jannah). Selain itu, ia menambahkan, orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar maka sungguh dia memperoleh petunjuk dari ilmu-Nya, dan penjelasan yang gamblang atas sesuatu sejelas-jelasnya (linashila fihim al-ilm bina wa linubayyina hadza fadhlu bayan).

Bahkan, menurut al-Mawardi dalam al-Nukat wal ‘Uyun, makna jahadu memunculkan empat penafsiran, yaitu pertama, memerangi kaum musyrik agar patuh kepada kita (قاتلوا المشركين طائعين لنا). Kedua, jihad melawan hawa nafsu dan perasaan khawatir atau was-was (جاهدوا أنفسهم في هواها خوفاً منا). Ketiga, jihad dengan amal perbuatan dalam rangka meraih ketaatan dan menghindari kemaksiatan dengan mengharap pahala Allah swt (اجتهدوا في العمل بالطاعة والكف عن المعصية رغبة في ثوابنا وحذراً من عقابنا). Dan keempat, berjihadlah kepada dirimu sendiri dengan cara taubat kepada Allah atas dosa-dosamu (جاهدوا أنفسهم في التوبة من ذنوبهم).

Adapun makna lanahdiyannahum subulana (memperoleh petunjuk dan keberuntungan), Al-Mawardi membaginya menjadi tiga hal. Pertama, surga sebagaimana penafsiran al-Saddi. Kedua, Allah membimbingnya menuju agama yang benar sebagaimana periwayatan al-Naqasy. Ketiga, diberi petunjuk dan bimbingan dari sesuatu yang belum diketahui seperti yang dikemukakan oleh Abbas Abu Ahmad. Keempat, Allah swt sungguh memberikan rasa ikhlas dan tulus kepada hamba-Nya atas segala yang perbuatannya, baik sedekahnya, selawatnya, salatnya, maupun puasanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Yusuf bin Asbath.

Baca Juga: Dua Metode Pendidikan Pralahir Berbasis Alquran

Perintah bersungguh-sungguh dalam belajar

Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim pernah berpesan dalam syairnya, bagi seorang pelajar harus mampu menahan diri dari hawa nafsu yang menggebu karena itu bagian daripada bersungguh-sungguh dalam belajar.

إن الهوى لهو الهوان بعينه وصريع كل هوى صريع هوان

“Sungguh hawa nafsu itu rendah nilainya, barangsiapa terkalahkan oleh hawa nafsunya berarti ia terkalahkan oleh kehinaan”.

Lanjut Az-Zarnuji, bagi seorang pelajar harus memanfaatkan di usia mudanya untuk menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya (afdhalu al-auqati syarakhu al-syababi). Dan pelajar harus memanfaatkan seluruh waktunya untuk belajar (wa yanbagi an yastaghriqa jami’a auqatihi), apabila ia bosan dengan satu bidang ilmu, maka selinganlah dengan bidang ilmu yang lain (faidza malla ‘an ‘ilmin yasytaghilu bi ‘ilmin akhara).

Oleh karena itu, penting bagi seorang pelajar untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dan menahan diri dari hawa nafsu serta segala keinginan yang menggebu karena belajar adalah sebuah proses, bukan sesuatu sekali jadi. Tekuni prosesnya, Insya Allah hasilnya pun berkualitas. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 36: Bantahan Terhadap Misoginis

0
tafsir surah Al-Baqarah ayat 36
tafsir surah Al-Baqarah ayat 36

Misoginis merupakan istilah untuk orang yang memiliki kebencian atau rasa tidak suka terhadap perempuan secara ekstrem. Perilakunya sendiri disebut dengan misogini. Hampir sebagian besar pelaku misogini adalah pria, tetapi ada juga perempuan yang memiliki perilaku demikian.

Di antara wujud dari kebencian para misoginis terhadap perempuan adalah melalui narasi keagamaan yang menyudutkan perempuan. Nasaruddin Umar dalam buku Jihad Melawan Religious Hate Speech menjelaskan bahwa kebencian misoginis terhadap perempuan menyebabkan mereka menuduh bahwa perempuan adalah penyebab laki-laki terusir dari surga.

Persepsi tersebut didasarkan kepada kisah Nabi Adam yang digoda oleh Siti Hawa untuk memakan buah Khuldi di surga hingga dia menurutinya dan menyebabkan Allah mengusir mereka berdua. Lalu bagaimana Alquran mengomentari hal ini? Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 36 sebagai berikut.

فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيۡطَٰنُ عَنۡهَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ

Terjemah: “Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 36)

Baca Juga: Tidak Benar Bahwa Al-Quran itu Misoginis, Simak Penjelasannya

Tafsir surah Al-Baqarah ayat 36

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini dijelaskan, bahwa setan telah menggoda Adam`alaihis salam dan istrinya sehingga akhirnya mereka tergoda dan melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah pohon Khuldi. Dalam melakukan godaan itu, setan berusaha untuk meyakinkan Adam bahwa dia benar-benar hanya memberikan nasihat yang baik.

Karena kesalahan yang telah dilakukan Adam dan istrinya, maka Allah ﷻ mengeluarkan mereka dari kenikmatan dan kemuliaan yang telah mereka peroleh, lalu Allah ﷻ memerintahkan agar mereka turun dari surga itu ke bumi. Sejak itu mereka dan setan senantiasa dalam keadaan bermusuhan satu sama lain.

Demikian pula M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut iblis yang iri dan dengki kepada Adam, mulai membujuk mereka berdua (Adam dan istrinya Hawa) untuk memakan buah pohon Khuldi, sehingga mengakibatkan mereka tergoda dan memakannya.

Wahbah Az-Zuhaili juga menegaskan dalam Tafsir Al-Munir bahwa mereka terbujuk oleh godaan setan sehingga mereka keluar dari surga ke bumi dan kesengsaraan dunia. Permusuhan antara manusia dan setan telah tumbuh. Iblis adalah musuh Adam dan istrinya, Hawa, serta anak cucu mereka; dan manusia adalah musuh lblis. Maka dari itu waspadailah godaannya.

Redaksi kata mereka pada beberapa penafsiran di atas mengisyaratkan bahwa yang dibujuk dan dirayu oleh iblis adalah lebih dari satu orang yaitu Adam dan istrinya Hawa.

Baca Juga: Perempuan dalam Al-Quran: Antara Pernyataan Allah Sendiri dan Kutipan atas Ucapan Orang Lain

Bantahan Terhadap Persepsi Misoginis

Mengacu kepada beberapa penafsiran ayat di atas, tidak ada kalimat atau redaksi yang menyebutkan bahwa Hawa lah yang semata-mata menggoda Nabi Adam memakan buah dari pohon terlarang sehingga melanggar perintah Allah. Namun dalam ayat tersebut iblis secara langsung berbicara dan membujuk keduanya.

Bahkan dalam ayat yang lain yaitu Surah Al-A’raf ayat 20 digambarkan bahwa iblis berkata bahwa: ““Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).”

Perkataan iblis dalam ayat di atas kembali memperkuat bahwa Nabi mendengar sendiri bujukan dan rayuan iblis tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa bukan pihak perempuan yang menjadi penyebab utama Nabi Adam terusir dari surga, tetapi karena tipu muslihat iblis itu sendiri.

Ahmad Rifa’i dalam bukunya Bahkan Tuhan Pun Berqurban menjelaskan pendapat yang mengatakan bahwa Hawa adalah penyebab terusirnya Adam hanya merupakan sandaran dikriminatif untuk merendahkan perempuan, padahal persepsi tersebut dibantah Allah melalui ayat ini.

Baca Juga: Respon Al-Qur’an Terhadap Toxic Masculinity dalam Berumah Tangga

Penutup

Allah telah menciptakan manusia sama secara kemanusiaan (Q.S. An-Nisa [4]: 1) hingga mereka dapat saling bekerja sama satu sama lain, bukan saling mendiskriminasi. Bahkan terkait persepsi misoginis tersebut, seharusnya yang lebih dipertanyakan adalah kekuatan dari laki-laki (Adam) itu sendiri yang seharusnya lebih tegar dalam menghadapi godaan Iblis daripada istrinya Hawa (M. Quraish Shihab, Islam yang Saya Pahami).

Kesan pada ayat di atas menunjukkan bahwa Allah tidak membuat kasta antara laki-laki dan perempuan. Allah menciptakan dua jenis manusia ini dengan segenap sisi baik dan buruknya masing-masing. Tidak ada diskriminasi dan rasa superioritas satu sama lain. Wallahu A’lam.