Beranda blog Halaman 201

Tafsir Surah Muhammad Ayat 26-27

0
Tafsir Surah Muhammad
Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 26-27 masih berbicara tentang kaum munafik, diantaranya adalah tentang pengkhianatan mereka kepada Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Al-Qur’an memperingatkan mereka dengan kematian, bahwa ketika ajal datang, sudah tidak ada waktu bagi mereka untuk bertaubat.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25


Ayat 26

Orang-orang munafik kembali kepada kekafiran, padahal tadinya mereka kelihatan telah beriman, karena mereka memihak dan bersekutu dengan orang Yahudi dari Bani Na«ir dan Bani Quraizah untuk memerangi orang yang beriman.

Kaum munafik menyatakan bahwa mereka akan turut berperang di pihak Bani Na«ir dan Bani Qurai§ah menghadapi kaum Muslimin jika sekiranya suku Yahudi itu diusir dari Medinah.

Orang Yahudi pernah menganjurkan kepada kaum munafik agar memperlihatkan kekafiran mereka dengan terang-terangan. Akan tetapi, mereka tidak mematuhi anjuran itu, kecuali dalam beberapa hal.

Di antara yang tidak mereka patuhi adalah anjuran untuk menyatakan kekafiran dengan terus-terang. Kekafiran itu tetap mereka rahasiakan karena masih mengharapkan keuntungan dengan menyembunyikannya.

Akan tetapi, Allah mengetahui tindakan yang mereka rahasiakan, karena tidak satu pun yang tidak diketahui-Nya. Dalam ayat lain, Allah menerangkan cara mereka mengatur siasat dan tipu dayanya. Allah berfirman:

وَيَقُوْلُوْنَ طَاعَةٌ  ۖ فَاِذَا بَرَزُوْا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ غَيْرَ الَّذِيْ تَقُوْلُ ۗ وَاللّٰهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُوْنَ ۚ فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا   ٨١

Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan,“(Kewajiban kami hanyalah) taat.” Tetapi, apabila mereka telah pergi dari sisimu (Muhammad, sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah mencatat siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung. (an-Nisa’/4: 81)

Ayat 27

Ayat ini masih berbicara tentang kaum munafik, apakah yang akan mereka lakukan jika tetap berada dalam kemunafikan itu. Mereka hanya dapat melakukan kemunafikan dan tipu daya semasa mereka masih hidup, berkuasa, dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

Bagaimana pendapat mereka bila Allah menghilangkan kesehatan mereka dengan seketika, dan ketuaan berangsur pula mendekati kehidupan mereka? Bagaimana pendapat mereka pada waktu kematian mendekati mereka dan malaikat maut memukul muka dan punggung mereka; apakah yang akan mereka lakukan?


Baca Juga: Empat Kata yang Digunakan Al-Quran untuk Makna Kematian


Bagaimana pula pendapat mereka jika mereka mati dengan tiba-tiba, sehingga tidak ada kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk bertobat kepada Allah yang menentukan segala sesuatu di akhirat? Jika mereka memikirkan dan merenungkan semuanya itu, tentu mereka tidak akan melakukan perbuatan ingkar dan dosa.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ketika malaikat akan mencabut nyawa mereka, malaikat akan mengeluarkan roh mereka dengan kuat dan kasar serta memukul wajah dan punggung mereka.

Orang Arab amat takut dipukul di wajah dan punggung. Karena mereka takut dipukul musuh di wajah dan punggung, maka mereka tidak mau pergi berperang. Ayat ini menunjukkan keadaan orang-orang munafik dalam keadaan sengsara dan terhina pada waktu menghadapi sakaratul maut. Allah berfirman:

وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْۚ

Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang- orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka. (al-Anfal/8: 50)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Muhammad Ayat 29-31


 

Unsur Linguistik dalam Tradisi Baca-Tulis Al-Qur’an

0
Unsur Linguistik dalam Tradisi Baca-Tulis Al-Qur'an
Tradisi Baca-Tulis Al-Qur'an

Dalam sebuah majelis pengajian, penulis mendapatkan ulasan yang sangat menarik terkait hukum menuliskan salam dengan bahasa ‘ajam, bahasa Indonesia misalnya. Kiai Abdul Muhaya, salah seorang dosen UIN Walisongo, yang memberikan materi ketika itu mencoba mengaitkan hukum penulisan salam dengan teori simbol dalam kajian linguistik.

Menurut beliau, tulisan salam dengan bahasa ‘ajam tak ubahnya simbolisme sesuatu yang abstrak, yang dalam kajian linguistik disebut dengan bahasa. Sehingga bagaimana pun bentuk dan model simbol yang digunakan, yang harus diperhatikan adalah bahasa asal yang menjadi dasar simbolisme ini.

Ulasan Kiai Muhaya ini setelah penulis ingat kembali mirip dengan penjelasan yang diberikan Mahmud Fahmiy Hijaziy dalam Al-Lughah al-‘Arabiyyah ‘Abr al-Qurun. Ia menyebutkan bahwa dalam teori linguistik, tulisan (kitabah) merupakan tahapan kedua setelah lisan (lughah). Tulisan merupakan upaya visualisasi atau simbolisme, dari bahasa verbal yang abstrak menjadi sebuah simbol-simbol nyata.

Dengan adanya simbol-simbol (baca: tulisan) ini, muncullah manfaat dan faedah yang tidak dapat dijumpai sebelumnya, manakala hanya sebatas pada kata-kata verbal yang abstrak (baca: lughah). Seperti langgengnya sebuah kebudayaan umat manusia dan persebarannya dalam lingkup wilayah yang lebih luas.

Dalam kajian Al-Qur’an, ulasan Hijaziy ini agaknya senada dengan apa yang disebutkan ‘Ali Muhammad al-Dlabba‘ dalam Samir al-Thalibin fi Rasm wa Dlabth al-Kitab al-Mubin atau Al-Farmawiy dalam Rasm al-Mushhaf wa Naqthuh mengenai relasi ilmu rasm (penulisan) dan ilmu qira’ah (pembacaan) Al-Qur’an.

Namun demikian, bukan masalah relasi ini yang hendak penulis bagikan pada tulisan kali ini. Melainkan sesuatu lain yang berkaitan dengan cerita yang ditulis oleh Ulin Nuha tentang kisah Allah yarham Simbah KH. Sya‘roni Ahmadi yang memperbolehkan penulisan Al-Qur’an dengan aksara latin dan braille (baca terlebih dahulu selengkapnya dalam Kisah Kiai Sya‘roni Membolehkan Penulisan Al-Qur’an dengan Aksara Latin dan Braille).

Dengan menandaskan pendapatnya pada Al-Bujairamiy dalam Hasyiyah Al-Bujairamiy ‘ala al-Khathib, Kiai Sya‘roni menjelaskan bahwa penulisan dan pembacaan Al-Qur’an adalah dua hal yang berbeda. Al-Qur’an boleh ditulis dengan aksara apa saja, tetapi membacanya harus sesuai dengan makhraj dan tajwid dalam lughah Arab.

Bahkan sekalipun ditulis dengan aksara Arab, jika membacanya tidak sesuai dengan qira’ah yang benar, yang demikian ini pun tidak akan diperbolehkan. Beliau memberikan contoh bacaan huruf muqaththa‘ah, ‘ain sin qaf yang dibaca dengan ‘a sa qa.

Penjelasan Kiai Sya‘roni mengenai perbedaan tulisan dan bacaan ini jika ditelusuri lebih jauh akan menemukan akar relevansinya terhadap kajian teori linguistik yang telah penulis singgung sebelumnya. Tak hanya penjelasan Kiai Sya‘roni, pandangan ulama Al-Qur’an yang keukeuh mewajibkan talaqqi musyafahah dalam bacaan Al-Qur’an pun juga demikian. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an sebagai teks tertulis merupakan fase kedua dari Al-Qur’an sebagai kalam yang dibaca.

Baca juga: Huruf Muqathaah: Cara Baca dan Pembagiannya dalam Ilmu Tajwid

Dalam teori linguistik, Al-Qur’an sebagai kalam yang dibaca adalah bahasa lisan. Ia merupakan asal yang harus dirujuk. Sementara Al-Qur’an sebagai teks tertulis (baca: mushaf) adalah seperangkat simbol (kitabah dengan arti al-maktub atau yang tertulis). Seperangkat simbol ini hanya akan bekerja jika masyarakat pemilik simbol telah memiliki kesepakatan komunal mengenai media interaksi yang digunakan, yakni lughah atau bahasa. Dan dalam Al-Qur’an, bahasa yang dimaksud adalah bahasa Arab.

Bahkan jika diamati lagi lebih dalam, bahasa Arab yang digunakan Al-Qur’an berbeda dengan bahasa Arab ‘reguler’ yang lazim digunakan dalam interaksi sosial sehari-hari masyarakat Arab. Ambil contoh saja huruf muqaththa‘ah sebelumnya, ‘ain sin qaf, yang mempunyai cara baca ‘tak lazim’ sebagaimana bahasa Arab ‘reguler’ pada umumnya.

Artinya dalam kasus bacaan Al-Qur’an, masyarakat pemilik bahasa lisan asal yang harus dirujuk adalah masyarakat Al-Qur’an, yang dalam masalah ini merupakan Rasulullah saw. dan para sahabatnya 14 abad silam sebagai representasi nyata. Ini kemudian oleh para ulama digali dan dibakukan dalam sebuah konsep sunnah muttaba‘ah yang terimplementasi dalam dua ilmu utama, qira’ah dan tajwid.

Sehingga dengan merujuk pada konsep linguistik ini, menjadi semakin jelas bahwa penulisan dan pembacaan Al-Qur’an adalah dua hal yang berbeda. Rujukan ini sekaligus meneguhkan pentingnya ngaji secara talaqqi musyafahah kepada seorang guru (baca: qari’) yang qualified berdasarkan sanad yang diterimanya hingga sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallama. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Bukti Perkembangan Al-Qur’an yang Fleksibel dan Tidak Sepi dari Perdebatan

Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25

0
Tafsir Surah Muhammad
Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25 berbicara tentang orang munafik yang menutup diri dari kebenaran dan enggan merenungi kandungan dari al-Qur’an. Maka, sikap mereka yang demikian tidak jauh berbeda dengan sikap orang kafir.

Dinyatakan bahwa yang menjadi sebab mereka bersikap buruk adalah karena kecintaan yang berlebih kepada dunia, sehingga melupakan esensi kehidupan yang sebenaranya, yaitu menghamba kepada Allah. Simak penjelasan tafsir berikut.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Muhammad Ayat 20-21


Ayat 22

Ayat ini mencela sikap kaum munafik yang selalu mengejar kesenangan hidup di dunia, dengan mengatakan, “Hai orang munafik, karena kamu selalu mengejar kesenangan hidup di dunia dan kemewahannya, maka seandainya kamu berkuasa, pastilah kamu mempunyai sifat-sifat ingin mementingkan diri sendiri dengan memperlihatkan kekuasaan kepada rakyat jelata, suka mengambil hak orang lain, dan memutuskan hubungan silaturrahim yang sangat dianjurkan untuk disambung.

Ayat 23

Orang-orang munafik yang bersikap seperti yang disebutkan di atas telah dijauhkan Allah dari rahmat-Nya. Oleh karena itu, Allah menghilangkan pendengaran mereka sehingga tidak dapat mengambil pelajaran dari apa yang dapat mereka dengar, dan Allah membutakan mereka sehingga mereka tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang mereka lihat.

Ayat 24

Apakah orang-orang munafik itu tidak memperhatikan dan memahami ajaran-ajaran Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an, tidak pula merenungkan dan memikirkannya, sehingga mereka mengetahui kesalahan sikap dan tindakan mereka selama ini? Atau telah terkunci hati dan penglihatan mereka sehingga tidak dapat lagi memahami isinya?


Baca Juga: Tafsir Q.S. Ali Imran [3]: 145: Menyoal Kematian dan Ragam Motif di Balik Amal


Sikap dan tindakan yang dilakukan oleh kaum munafik itu tidak saja dilakukan terhadap orang beriman, tetapi juga terhadap orang Yahudi. Mereka menyatakan kesediaan bekerja sama dengan orang Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraizah.

Bahkan mereka bersedia mengikuti sebagian keinginan orang Yahudi untuk menarik hati mereka, tetapi semua janji dan kesediaan itu tidak mereka tepati. Mereka terkadang tidak segan-segan mencelakakan teman yang diajak bersekongkol, dengan menohok kawan seiring.

Allah berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نَافَقُوْا يَقُوْلُوْنَ لِاِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَىِٕنْ اُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيْعُ فِيْكُمْ اَحَدًا اَبَدًاۙ وَّاِنْ قُوْتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ   ١١

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. (al-Hasyr/59: 11)

Ayat 25

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang kembali kafir setelah nyata bagi mereka jalan yang lurus yang harus ditempuh dengan mengerjakan perbuatan dosa dan sesat adalah orang yang telah termakan dan terpengaruh oleh tipu daya setan.

Setan menjadikan perbuatan dosa dan kesesatan yang mereka kerjakan sebagai perbuatan baik dalam pandangan mereka, sehingga mereka hidup dengan bergelimang dosa dan kesesatan.

Di samping itu, mereka dibuai oleh angan-angan yang palsu, sesuai dengan dorongan hawa nafsu mereka. Dengan demikian, hawa nafsu itu menjadi ukuran baik atau buruknya suatu perbuatan.

Apa yang dianggap baik oleh hawa nafsu mereka, itulah yang mereka anggap baik. Hal-hal inilah yang memunculkan kemunafikan dalam diri mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Muhammad Ayat 26-27


Tafsir Surah Muhammad Ayat 20-21

0
Tafsir Surah Muhammad
Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 20-21 berbicara tentang respon orang munafik dan mukmin ketika datang perintah untuk berperang, meski perang yang dimaksud adalah sebagai upaya defensiv. Respon positif selalu ditunjukkan oleh orang-orang beriman ketika datang perintah berperang, sementara orang munafik tidak menyukai perintah tersebut, karena takut kehilangan nyawa dan kenikmatan dunia.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Muhammad Ayat 19


Ayat 20

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan setulus hati pasti bersedia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka menunggu-nunggu turunnya wahyu Allah, terutama wahyu yang berhubungan dengan perintah jihad.

Akan tetapi, perintah perang itu pada dasarnya bukan untuk menyerang, melainkan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, seperti yang terjadi dengan Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, dan lain-lain. Mereka berkata, “Mengapa Allah tidak menurunkan kepada kita ayat-ayat yang tegas dan jelas maksudnya yang di dalamnya disebutkan bahwa berperang membela agama Allah itu adalah suatu perintah wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap orang beriman.”

Sebaliknya orang-orang munafik bersikap lain. Bila diturunkan ayat yang tegas dan jelas maknanya yang berisi perintah jihad, melihat kepada Nabi dengan pandangan keingkaran dan ketakutan. Hati mereka kecut, tubuh mereka gemetar mendengarnya, dan mereka bungkam, seperti orang yang sedang menghadapi kematian.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْٓا اَيْدِيَكُمْ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۚ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَۚ  لَوْلَآ اَخَّرْتَنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا   ٧٧

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.” (an-Nisa’/4: 77).

Dari jawaban dan sikap orang munafik, tergambar apa yang tersirat dalam hati mereka. Orang yang demikian lebih baik mati daripada hidup mengekang diri dari perintah-perintah agama. Seseorang hidup untuk menjadi hamba Allah yang taat kepada-Nya, ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Orang munafik tidak melaksanakan ketaatan itu.

Mereka seakan-akan tidak memikirkan kebahagiaan hidup sesudah mati. Oleh karena itu, tidak ada arti hidup bagi mereka selain untuk melipat-gandakan perbuatan dosa yang menyebabkan mereka diazab di akhirat. Jika mereka mati waktu itu juga, azab mereka tidak akan bertambah di akhirat nanti.


Baca Juga: Kunci Ketujuh dan Kedelapan Menggapai Kebahagiaan: Menjaga Hubungan dengan Tuhan dan Alam


Ayat 21

Ayat ini menjelaskan sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang munafik, yaitu taat kepada Allah, dan mengucapkan perkataan yang makruf, bukannya takut, dan gentar menghadapi musuh. Hal itu karena kesenangan hidup di dunia telah membuat mereka terpesona dan lupa diri.

Mereka takut kehilangan kesenangan. Padahal jika mereka mengetahui bahwa kesenangan hidup di dunia adalah kesenangan yang semu dan sementara, sedangkan kesenangan hidup di akhirat adalah kesenangan yang sebenarnya, tentu mereka akan mengubah sikap.

Selanjutnya diterangkan bahwa kaum munafik itu apabila datang perintah berperang, timbullah kebencian dalam hati mereka sehingga mereka enggan ikut berperang.

Seandainya mereka mempunyai iman yang kuat di dalam dada mereka, benar-benar taat kepada Allah dan mengikuti Rasul, pasti mereka ikut berperang bersama Rasul. Hal itu lebih baik bagi mereka karena dengan demikian mereka dekat kepada Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25

Tafsir Surah Muhammad Ayat 19

0
Tafsir Surah Muhammad
Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 19 diawali dengan keindahan akhlak Nabi Muhammad Saw. yang senantiasa memperhatikan umatnya, dengan mendoakan dan meminta ampunan. Beberapa ulama memebrikan tips manjur dalam bertaubat kepada Allah yaitu dengan beristighfar dan mengucapkan “Lailaha illallah”, zikir yang memiliki keutaman besar disisi Allah Swt.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Muhammad Ayat 16-18


Ayat 19

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad, apabila ia telah yakin dan mengetahui pahala yang akan diperoleh orang-orang yang beriman, serta azab yang akan diperoleh orang-orang kafir di akhirat, untuk berpegang teguh kepada agama Allah yang dapat mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Beliau juga diperintahkan untuk memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya dan dosa-dosa orang beriman, selalu berdoa dan berzikir kepada-Nya, dan tidaklah sekali-kali memberi kesempatan kepada setan untuk melaksanakan maksud buruknya kepada beliau.

Sebuah hadis sahih mengatakan, Rasulullah saw selalu berdoa:

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ خَطِيْئَتِيْ وَجَهْلِيْ وَإِسْرَافِيْ فِيْ أَمْرِيْ وَمَا اَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ هَزْلِيْ وَجِدِّيْ وَخَطَايَايَ وَعَمْدِيْ وَكُلَّ ذٰلِكَ عِنْدِيْ. (رواه البخاري عن أبي موسى الأشعري)

Wahai Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebih-lebihan, dan dosaku yang lebih Engkau ketahui daripadaku. Wahai Allah, ampunilah dosa perkataanku yang tidak serius dan perkataanku yang sungguh-sungguh, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua yang ada padaku.” (Riwayat al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari)

Rasulullah sering berdoa pada akhir salatnya, sebelum mengucapkan salam:

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا اَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اَنْتَ. (رواه البخاري ومسلم عن ابن عباس)

Ya Allah, ampunilah dosaku yang terdahulu dan yang kemudian, yang tersembunyi dan yang tampak, serta perbuatanku yang berlebihan dan dosaku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkau Tuhanku, tak ada tuhan selain Engkau.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)

يَااَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّيْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً . (رواه مسلم)

Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu maka sesungguhnya aku pun mohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali. (Riwayat Muslim).


Baca Juga: Surah Ar-Ra’d [13] Ayat 28: Zikir Dapat Menenangkan Hati


Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Hendaklah kamu membaca, “La ilaha illallah dan istigfar.” Bacalah keduanya berulang kali, maka sesungguhnya Iblis berkata, “Aku membinasakan manusia dengan perbuatan dosanya, dan mereka membinasakanku dengan membaca La ilaha illallah dan istigfar, maka ketika aku mengetahui yang demikian, mereka aku hancurkan dengan hawa nafsunya, mereka mengira mendapat petunjuk.” (Riwayat Abu Ya’la).

Dalam satu atsar diterangkan perkataan Iblis, “Demi keperkasaan dan keagungan-Mu, wahai Tuhan, aku senantiasa memperdaya mereka selama nyawa mereka dikandung badan.”

Lalu Allah berfirman, “Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni dosa mereka, selama mereka tetap memohon ampunan kepada-Ku.”

Selanjutnya Allah mendorong manusia melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan agar selalu berusaha untuk mencari rezeki dan kebahagiaan hidupnya.

Allah berfirman, “Dia mengetahui segala usaha, perilaku, dan tindak-tanduk mereka di siang hari, begitu pula tempat mereka berada di malam hari. Oleh karena itu, bertakwalah dan meminta ampun kepada-Nya.” Dalam ayat lain, Allah berfirman:

۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ  ٦

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.) Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hud/11: 6)

وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰىكُمْ بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيْهِ لِيُقْضٰٓى اَجَلٌ مُّسَمًّىۚ ثُمَّ اِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ  ٦٠

 Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (al-An’am/6: 60)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Muhammad Ayat 20-22


Tafsir Ahkam: Kontroversi Hukum Air Musta’mal

0
Air Musta'mal
Air Musta'mal

Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa salah satu yang menyebabkan air tidak lagi bisa dibuat untuk bersuci, adalah tatkala air tersebut sudah pernah dibuat bersuci dari hadas. Dalam khazanah kitab-kitab fikih, air tersebut dinamai dengan air musta’mal. Sehingga apabila kita berwudhu di sebuah baskom atau kolam air berukuran kecil di kamar mandi, dengan cara mencelupkan tangan ke baskom atau kolam tersebut semisal, maka air tersebut tidak lagi bisa dibuat untuk membasuh sebagian kepala maupun kaki.

Apa yang diyakini mazhab syafi’i tersebut bukanlah sesuatu yang disepakati oleh para ulama’. Kontroversi tentang keberadaan air musta’mal merupakan salah satu tema tafsir ahkam yang juga diulas oleh beberapa pakar tafsir di dalam tafsir mereka. Simak penjelasan para pakar tafsir dan fikih berikut ini:

Bersuci Dengan Air Musta’mal

Imam Ar-Razi menyatakan bahwa ulama’ yang tidak setuju dengan keberadaan air musta’mal adalah Imam Malik. Imam Malik meyakini bahwa air musta’mal atau bekas digunakan berwudhu, hukumnya tetap suci dan mensucikan. Dasar hukum yang dipakai adalah firman Allah:

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا

Jika kamu sakit, sedang dalam perjalanan, salah seorang di antara kamu kembali dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah kamu (QS. An-Nisa’ [4] :43).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Dalil Diperbolehkannya Berwudhu dengan Air Hujan

Imam Malik meyakini air musta’mal adalah air mutlak. Maka sudah seharusnya tetap bisa digunakan untuk bersuci sebagaimana diungkapkan dalam ayat di atas. Selain itu, sifat air mutlak bersifat suci dan mensucikan di dalam Al-Qur’an diungkapkan dengan istilah thahuurun. Dan istilah tersebut mengisyaratkan adanya proses berulang-ulang digunakan untuk bersuci (Tafsir Mafatihul Ghaib/5/496).

Sedang dasar yang dipakai Mazhab Syafi’i salah satunya adalah sebuah hadis sahih yang diriwayatkan dari sahabat Abi Hurairah:

« لاَ يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ »

Janganlah salah seorang dari kalian mandi di air yang tidak mengalir, sementara ia sedang junub (HR. Imam Muslim).

Hadis di atas menunjukkan bahwa menghilangkan hadas besar dengan cara berendam dapat mempengaruhi air bekas berendam tersebut. Karena apabila tidak, tentu Nabi tidak melarangnya. Selain itu, belum ada riwayat sahabat tatkala dalam perjalanan mereka akan mengumpulkan air bekas wudhu untuk digunakan di lain kesempatan. Padahal keberadaan air sangat terbatas pada saat itu (Tafsir Mafatihul Ghaib/11/431).

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Munir menerangkan, mayoritas ulama’ meyakini bahwa air musta’mal sebab hadas dihukumi suci dan tidak lagi dibuat bersuci. Bersamaan dengan itu, sebenarnya ada dua pendapat yang berbeda terkait status hukumnya. Salah satunya adalah pendapat Imam Abi Yusuf dan sebuah riwayat dari Abu Hanifah yang menyatakan bahwa air musta’mal dihukumi tidak suci alias najis. Pendapat yang lain, yakni Imam Malik dan Dawud, meyakini bahwa air musta’mal adalah tetap suci dan mensucikan (Tafsir Munir/19/89 dan Al-Majmu’/1/151)

Namun Imam Al-Qurthubi menjelaskan, meski Imam Malik berpendapat bahwa air musta’mal tetap dapat digunakan untuk bersuci, beliau meyakini hukumnya makruh berwudhu dengan air musta’mal. Imam Al-Qurthubi meriwayatkan ucapan Imam Malik :”Tidak ada kebaikan dalam berwudhu dengan air musta’mal. Dan aku tidak menyukai seseorang berwudhu dengannya. Apabila ia ia berwudhu dengannya dan kemudian salat, aku tidak berpendapat bahwa ia perlu mengulangi salat dan berwudhu kembali” (Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an/13/48).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Ini Perbedaan Wudhu dan Tayamum yang Wajib Diketahui

Perlulah diketahui bahwa permasalahan di atas adalah permasalahan air bekas digunakan khusus dalam menghilangkan hadas, bukan najis maupun semacam wudhu sunnah. Para ulama’ fikih sendiri memiliki rincian yang berbeda-beda terkait air bekas menghilangkan hadas, menghilangkan najis dan bekas ibadah sunnah seperti bekas berwudhu yang sifatnya wudhu sunnah saja (Al-Hawi Al-Kabir/1/569).

Kesimpulan dari berbagai uraian di atas, berdasar keterangan Syaikh Wahbah, mayoritas ulama’ meyakini bahwa air musta’mal sebab hadas, hukumnya suci tapi tidak lagi dapat dibuat bersuci. Memang benar Imam Malik meyakini tetap dapat mensucikan, tapi beliau meyakini hukum makruh di dalamnya. Wallahu a’lam bish showab.

Tafsir Surah Muhammad Ayat 16-18

0
Tafsir Surah Muhammad
Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 16-18 berbicara tentang sikap buruk orang-orang munafik. Disebut munafik, karena mereka sering menampilkan sikap berbeda dari sikap aslinya. Orang-orang munafik banyak dikisahkan oleh al-Qur’an berkenaan dengan sikap buruk yang sering mereka lakukan. Diantara sikap buruk yang diceritakan dalam tafsir kali ini adalah ejekan mereka kepada Nabi Muhammad dan al-Qur’an.

Sebaliknya, al-Qur’an memuji sikap yang ditunjukkan oleh orang beriman, dimana mereka membuka hati dan pikiran, lalu menerima kebenaran yang ditawarkan kepada mereka melalui lisan Nabi Muhammad Saw.

Maka, merugilah mereka yang menutup hatinya dari kebenaran, sebab ketika hari Kiamat tiba, pintu taubat akan tertutup, dan penyesalan tidak lagi berguna.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Muhammad Ayat 14-15


Ayat 16

Ayat ini menjelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad membacakan Al-Qur’an, di antara yang mendengar terdapat orang-orang munafik, namun mereka tidak memahami bacaan beliau.

Setelah mereka pergi meninggalkan Nabi, mereka bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi yang berilmu dan memahami semua perkataannya, “Apakah yang dikatakan Muhammad dalam pertemuan tadi?” Pertanyaan ini adalah sesuatu yang tidak ada faedahnya.

Tujuan mereka melakukan yang demikian tidak lain hanyalah untuk memperolok-olok ucapan Rasulullah. Mereka seakan-akan memahami ucapan beliau, sehingga mereka bertanya dan memberikan tanggapan, dengan mengatakan bahwa yang diucapkan Rasulullah itu tidak ada artinya sedikit pun bagi mereka.

Diriwayatkan oleh Muqatil bahwa Nabi Muhammad berkhutbah dan menerangkan keburukan budi pekerti orang munafik dan di antara yang mendengar khutbah itu ada pula orang munafik.

Setelah khutbah selesai, orang munafik itu keluar dan bertanya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud dengan maksud memperolok-olok dan merendahkan Rasulullah. Di antaranya mereka mengatakan, “Apa yang dikatakan Muhammad tadi?” Ibnu ‘Abbas berkata, “Saya pun pernah ditanya dengan pertanyaan seperti itu.”

Kemudian ayat itu menerangkan apa sebab kaum munafik melakukan yang demikian. Orang-orang yang telah diterangkan sifat-sifatnya itu adalah mereka yang telah dicap dan dikunci mati hatinya, sehingga mereka tidak dapat lagi menerima petunjuk dan kebenaran yang telah disampaikan kepada mereka.

Ayat 17

Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang yang berlawanan sifatnya dengan orang munafik. Mereka adalah orang yang telah mendapat petunjuk, beriman, mendengar, memperhatikan, dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Dada mereka dilapangkan Allah, hati mereka menjadi tenteram bila mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an atau bila mereka membacanya, pengetahuannya semakin bertambah tentang agama Allah. Allah menambah petunjuk lagi bagi mereka dengan jalan ilham dan membimbing mereka untuk mengerjakan amal saleh serta memberi kesanggupan kepada mereka untuk menambah ketaatan dan ketakwaan mereka.


Baca Juga: Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 77: Berbuat Baiklah Sebagaimana Allah Berbuat Baik Padamu!


Ayat 18

Orang-orang yang telah dicap dan dikunci mati hatinya sehingga tidak dapat lagi menerima kebenaran dan petunjuk adalah orang yang hidupnya sudah tidak lagi berfaedah. Mereka hanya menunggu-nunggu kematian dan kedatangan hari Kiamat yang datang secara tiba-tiba.

Apabila hari Kiamat itu telah datang, dan memang telah terlihat tanda-tandanya, maka tidak ada lagi gunanya peringatan bagi mereka, dan Allah tidak akan menerima tobat mereka, bahkan tidak ada gunanya lagi iman dan amal bagi mereka. Allah berfirman:

وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ  ٢٣

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. (al-Fajr/89: 23)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Muhammad Ayat 19


Tafsir Surah Muhammad Ayat 14-15

0
Tafsir Surah Muhammad
Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 14-15 diawali dengan keterangan pentingnya berpikir, mendatabburi keesaan Allah, sampai menemukan jalan kebenaran serta mendapatkan surganya Allah. Surga yang terdapat sungai didalamnya, dan memiliki jenis serta sifat yang berbeda, sebagaimana uraian tafsir berikut.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Muhammad Ayat 12-13


Ayat 14

Ayat ini menjelaskan perbandingan antara orang-orang yang beriman dengan orang kafir dengan mengatakan, “Apakah sama orang yang mau berpikir sehingga ia mempunyai pengertian, pemahaman, dan keyakinan terhadap agama Allah dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad saw dengan orang-orang yang tidak mau menggunakan pikirannya, sehingga ia tidak percaya bahwa Allah akan memberi balasan yang setimpal kepada orang-orang yang menuruti hawa nafsunya dan godaan setan?

Tentu saja kedua macam orang itu tidak sama, bahkan perbedaan keduanya sangat besar. Pada ayat yang lain Allah berfirman:

۞ اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ    ١٩

Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (ar- Ra’d/13: 19)

Dan firman Allah:

لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ  اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ   ٢٠

Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (al-Hasyr/59: 20)


Baca Juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid


Ayat 15

Tidak sama ganjaran yang akan diperoleh orang yang beriman di akhirat dengan ganjaran yang akan diperoleh orang yang tidak beriman. Ayat ini melukiskan keadaan surga dan neraka dalam bentuk simbolis yang menarik sekali.

Dimulai dengan kata “perumpamaan” (matsalul-jannati). Pertama “surga”, dan “perumpamaan” kedua, “samakah” (kaman) yang dirangkum dalam nada tanya. Kata az-Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf, ungkapan ini dalam bentuk afirmasi, tetapi hakikatnya penyangkalan atau suatu negasi.

Sifat-sifat surga yang dijelaskan dalam ayat ini di antaranya: pertama, di dalamnya mengalir sungai yang banyak dan setiap sungai mempunyai air yang berbagai macam jenis dan rasanya serta enak diminum oleh para penghuni surga. Di antara jenis air itu ialah:

  1. Ada yang airnya jernih lagi bersih, tidak dikotori oleh suatu apa pun. Oleh karena itu, tidak akan berubah rasa, warna, dan baunya.
  2. Ada sungai yang mengalirkan air susu yang baik diminum. Susu itu tetap baik dan enak, tidak akan berubah rasanya karena rusak atau busuk.
  3. Ada sungai yang mengalirkan khamar yang enak diminum, menyehatkan, dan menyegarkan tubuh dan perasaan peminumnya. Tidak seperti khamar di dunia, sekalipun enak diminum oleh pecandunya, tetapi dapat merusak tubuh, akal, dan pikiran. Oleh karena itu, khamar di surga halal diminum, sedangkan khamar di dunia haram.
  4. Ada sungai yang mengalirkan madu yang bersih, seperti madu yang telah disaring, enak, dan menyehatkan badan peminumnya.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan lain-lain dari Mu’awiyah bin Haidah, ia berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: فِى الْجَنَّةِ بَحْرُ اللَّبَنِ وَ بَحْرُ الْمَاءِ وَ بَحْرُ الْعَسَلِ وَ بَحْرُ الْخَمْرِ ثُمَّ تَشَقَّقَ اْلأَنْهَارُ مِنْهَا بَعْدُ. (رواه أحمد والترمذي وغيره عن معاوية بن حيدة)

Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Di surga ada lautan susu, lautan air, lautan madu, dan lautan khamar, kemudian mengalirlah sungai-sungai dari lautan-lautan itu.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, dan lain-lain dari Mu’awiyah bin Haidah).

Kedua, di dalam surga terdapat buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya, berbeda warna, bentuk, dan rasanya. Semuanya merupakan makanan yang enak bagi setiap penghuni surga.

Ketiga, penduduk surga adalah orang-orang bersih dari segala noda dan dosa, karena mereka telah diampuni Allah Tuhan Yang Maha Penyayang, Pelindung mereka.

Kemudian Allah menerangkan keadaan orang-orang yang hidup dalam neraka. Mereka meminum air yang sangat panas yang menghancurkan usus mereka dan api neraka yang membakar hangus muka mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Muhammad Ayat 16-17


Moderasi dalam Islam dan Upaya Preventif Tindakan Radikal di Internet

0
Radikal
Moderasi dan Upaya Preventif Tindakan Radikal

Akibat kecenderungan masyarakat kepada dunia digital, kerap kali masyarakat melihat konten-konten kekerasan yang melibatkan agama di dalamnya. Seperti contoh aksi pengeboman oleh teroris dan sebagainya. Aksi radikal tersebut tak lain mengatasnamakan agama dan politik semata. Peristiwa itu membawa dampak negatif bagi sebagian masyarakat yang dalam dirinya belum tertanam sikap moderat.

Berangkat dari permasalahan di atas, dalam tulisan ini akan dibahas mengenai upaya preventif yang perlu dilakukan atas tindakan kelompok radikal di media sosial melalui konsep moderasi dalam Islam. Sehingga, dengan penanaman sikap moderasi dalam masyarakat maka, tidak ada lagi masyarakat yang menelan mentah-mentah informasi seputar kelompok ekstrem yang mengatasnamakan agama Islam.

Moderasi atau dalam Islam disebut dengan wasathiyah adalah sebuah kerangka berpikir, bagaimana bersikap dan bagaimana cara menjaga pola keseimbangan terhadap semua aspek kehidupan. Maka menjadi seorang moderat membutuhkan sentuhan keseimbangan dan keadilan dalam menjalankan maknanya.

Konsep Moderasi dalam Berdigital

Maksud moderasi dalam konteks ini adalah membawa pemahaman masyarakat kepada pemahaman yang moderat, tidak mendewakan rasio berpikir bebas tanpa batas dan tidak ekstrim dalam beragama apalagi di era digital seperti saat ini.

Dalam dunia digital, eksistensi manusia mengalami banyak perubahan yang mendasar dari sebuah bentuk tubuh yang bergerak, menjadi tubuh yang diam di tempat dan hanya mampu menyerap informasi melalui gadget atau elektronik. Pada titik inilah terdapat kesempatan bagi kelompok tertentu untuk menyuburkan konflik keagamaan.

Baca Juga: Membaca Ummatan Wasatan Sebagai Pesan Moderasi dalam Al-Quran

Dengan datangnya fenomena tersebut, moderasi beragama perlu diterapkan, dengan adanya moderasi beragama melalui dialog dan saluran kanal digital secara terus menerus, masyarakat muslim akan selamat dari persimpangan keagamaan di ranah digital. Karena moderasi adalah konsep yang tidak membenarkan adanya pemikiran radikalisme dalam agama dan juga tidak mengabaikan kandungan al-Qur’an yang posisinya sebagai dasar hukum utama.

Menurut Yusuf Al-Qardhawi, moderasi (wasathiyah) adalah karakteristik Islam yang tidak dimiliki oleh ideologi lain. Telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 143 berikut:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ … البقرة: 143

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (umat yang adil, yang tidak berat sebelah, naik ke dunia maupun akhirat, tetapi seimbang antara keduanya) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…. (QS. Al-Baqarah [2]: 143).

Kata أُمَّةً وَسَطًا Menurut Ali al-Shabuni mempunyai arti umat yang adil, yang dimaksud adil di sini adalah seimbang tidak radikal juga tidak liberal.

Ada dua sikap manusia dalam beragama selain moderat yang dikenal dengan istilah ekstrem kanan (tatarruf tashaddudi) dan ekstrem kiri (tatarruf tasahhuli). Ekstrem kanan mempunyai tiga tingkatan, yaitu (a) puritatisme, yaitu ideologi yang berusaha mengembalikan semua aspek kepada sumber ajaran agama yang murni, kelompok ini cenderung menilai bid’ah terhadap ajaran agama yang bercampur dengan budaya, (b) fundamentalisme dan radikal, kelompok ini mudah menilai kafir paham yang berseberangan dengan kelompoknya, (c) terorisme, paham ini menyatakan kafir dan wajib diperangi jikalau seseorang tidak mengambil hukum dari al-Qur’an dan hadis.

Sedangkan ekstrem kiri terdapat paham liberal, yakni paham yang bersifat bebas seperti pembolehan melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama berdasar rasionalitas. (Zakki, 2021)

Konteks moderasi beragama sendiri memahami radikal sebagai suatu ideologi yang berusaha melakukan perubahan pada tatanan sosial dan politik dengan menggunakan cara ekstrem (kekerasan) yang mengatasnamakan agama, baik secara fisik maupun pemikiran.

Upaya pencegahan semua itu dengan tindakan deradikalisasi (proses penghilangan sikap radikal), salah satu bentuknya adalah dengan penanaman sikap moderat. Lebih jauh, sikap radikal ini bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia yang cenderung agamis, terpelajar, toleran, dan mampu berkomunikasi dengan keberagaman.

Dalam ayat lain juga menyebutkan konsep moderasi beragama, antara lain:

قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukanlah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada tuhanmu)” (QS. Al-Qalam [68]: 28).

Ibnu Jarir At-Thabari berpendapat bahwa kata ausathuhum dalam ayat tersebut bermakna “orang yang paling adil dari mereka”. Sama seperti At-Thabari, Al-Qurthubi menafsiri ayat ini sebagai orang yang paling ideal, paling adil, paling berakal dan paling berilmu.

Penanaman Sikap Moderat Sebagai Upaya Preventif Tindakan Radikal dalam Dunia Digital

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa prinsip wasathiyah atau moderasi adalah yang paling adil, terbaik, menengah dan paling berpengetahuan dalam arti Al-Qur’an. Sehingga umat Islam adalah umat yang paling moderat dari umat yang lainnya.

Jika ditautkan ke sistem teknologi digital saat ini, secara tidak langsung umat Islam dituntut untuk lebih berhati-hati ketika memberikan dan mencari informasi seputar keagamaan. Karena pemegang kanal digital sendiri tidak hanya dari umat muslim tetapi banyak juga dari kalangan non-muslim yang minim pengetahuannya tentang Islam.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pendidikan Islam

Dan demi menjaga keharmonisan hidup di era modern yang banyak menggunakan teknologi digital, sikap ideal atau moderat (wasathiyah) sangat baik untuk diaplikasikan, karena penerapan sikap moderasi membawa seseorang untuk lebih fleksibel dalam menyelesaikan konflik dalam dirinya sendiri serta dapat memudahkan dalam berinteraksi dengan komunitas atau kelompok lain yang berbeda.

Salah satu solusi yang tepat dalam menghadapi radikalisasi beragama adalah dengan menanamkan sikap moderat, karena sikap moderasi dalam beragama merupakan bukti stabilitas ketuhanan yang dilandasi kesadaran dalam memahami nas agama. Wallahu A’lam.

Kunci Kesembilan dan Kesepuluh Menggapai Kebahagiaan: Berdoa dan Bertawakal

0
Berdoa dan Bertawakal
Berdoa dan Bertawakal

Setelah kunci pertama hingga kunci kedepalan diulas pada artikel sebelumnya, artikel kali ini akan mengulas kunci kesembilan dan kesepuluh dalam menggapai kebahagiaan. Dua kunci tersebut adalah berdoa dan bertawakal. Berdoa adalah salah satu kunci penting dalam kehidupan manusia. Sebab, doa menjadi jalan terakhir yang dilakukan oleh manusia setelah mereka melakukan berbagai usaha.

Doa dilakukan oleh seseorang untuk memohon kepada Dzat yang lebih tinggi, yaitu Allah swt., untuk mengatur dan menentukan hal-hal yang baik bagi manusia. Berdoa adalah memohon untuk mendapatkan hal-hal yang positif dan menghindarkan hal-hal yang negatif, baik di dunia maupun di akhirat. Berdoa juga menggambarkan bahwa kita sangat membutuhkan kepada pertolongan Allah. Orang yang selalu berdoa adalah orang yang selalu merasa diri memiliki banyak kekurangan.

Orang yang tidak mau bermohon atau berdoa kepada Allah adalah orang-orang yang mendapatkan kebaikan dari Allah. Allah Yang Maha Mengatur akan mengatur segala keadaan dan kondisi hamba-hamba-Nya. Orang yang tidak mau berdoa adalah orang yang sangat pelit terhadap dirinya. Doa dapat menentukan perubahan dalam kehidupan manusia. Manusia sangat ditentukan oleh dua keadaan, yaitu gagal atau sukses. Gagal membuat manusia putus asa, sedangkan sukses membuat manusia girang dan penuh suka cita.

Baca Juga: Kunci Kelima dan Keenam Menggapai Kebahagiaan: Ikhlas dan Menjaga Hubungan

Rasullullah menyatakan: “Tidak ada yang dapat menolak qadar Tuhan, kecuali doa. Tidak ada pula yang dapat menolak keputusan Tuhan, kecuali doa.

Di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan manusia untuk senanrtiasa berdoa. Hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam QS. Ghafir/40: 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahanam dalam Keadaan hina dina.”

Di dalam hadisnya Rasulullah menyatakan: “Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah telah bersabda: :Berdoalah kalian kepada Allah, dan engkau harus meyakini bahwa Allah mengabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari seseorang yang hati lalai dan lupa dari mengingat Allah. (HR Tirmidzi)

Sebagaimana berdoa, kunci selanjutnya yakni bertawakal. Bertawakal adalah menyerahkan segala urusan yang telah dilakukan hanya kepada Allah semata. Sebab, Allahlah yang menentukan segala urusan manusia. Sebab, suatu usaha boleh jadi gagal sebahagiannya, gagal setengahnya, dan bahkan gagal total. Suatu usaha juga boleh sukses sebahagiannya, sukses setengahnya, atau sukses semuanya. Sikap tawakal seseorang harus ada dalam berbagai usaha setelah melakukan upaya-upaya untuk menyukseskan segala usaha yang telah dilakukan. Oleh sebab itu, bertawakal adalah salah satu kunci penting dalam kehidupan.

Bertawakal yaitu menyerahkan semua urusan sesuai dengan qada’ dan takdir Allah. Orang yang tidak memiliki tawakal dalam usahanya pasti akan kecewa jika usahanya gagal. Tawakal adalah penangkal untuk menghalangi adanya kekecewaan yang terjadi akibat kegagalan dalam usaha.

Allah swt memerintahkan setiap manusia untuk bertawakal dalam segala usaha mereka. Hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam QS. Ali ‘Imran/3: 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[urusan duniawi]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Baca Juga: Kunci Ketujuh dan Kedelapan Menggapai Kebahagiaan: Menjaga Hubungan dengan Tuhan dan Alam

Rasulullah dalam suatu hadisnya juga menunjukkan pentingnya sikap tawakal dalam usaha. Hal ini dinyatakan di dalam sebuah hadis sebagai berikut: “Dari Abu Tamim al-Jaisyani, ia berkata bahwa aku pernah mendengar Umar berkata bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda: “sekiranya engkau mau bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka patilah Allah melimpahkan rezeki-Nya kepada kalian sebagaimana Ia memberikan rezeki kepada burung-burun, yang pada pagi hari ketika mereka keluar perutnya kosong, dan ketika pulang, perutnya penuh. HR Ibn Majah.”

Demikianlah penjelasan tentang berdoa dan bertawakal sebagai kunci kebahagiaan. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.