Beranda blog Halaman 216

Tafsir Surah Ghafir Ayat 21-24

0
Tafsir Surah Ghafir
Tafsir Surah Ghafir

Setelah menerangkan tentang sikap khianat yang tidak disukai oleh Allah. Tafsir Surah Ghafir Ayat 21-24 kembali memberi peringatan kepada kaum kafir Mekah melalui lisan Nabi Muhammad, bahwa mereka seharusnya belajar atas kejadian-kejadian yang menimpa umat terdahulu, sebagaimana sejarah yang telah mereka ketahui melalui puing-puing bekas azab Allah kepada mereka.

Tafsir Surah Ghafir Ayat 21-24 juga mengulang kembali kisah-kisah pemimpin terdahulu yang ingkar, sombong, bahkan ada yang mengaku sebagai Tuhan. Namun, diakhir hayatnya, mereka dimusnahkan oleh Allah dengan cara yang mengenaskan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah GhafirAyat 18-20


Ayat 21

Dalam ayat ini, kaum kafir Mekah yang mengingkari kebenaran risalah Nabi Muhammad diminta untuk mendatangi puing-puing peninggalan sejarah umat-umat terdahulu yang telah dimusnahkan Allah.

Mereka dapat menyaksikannya setiap kali melewati tempat tersebut dalam perjalanan dagang ke utara atau selatan. Mereka adalah bangsa-bangsa yang lebih kuat fisiknya daripada kaum kafir Mekah, misalnya kaum ‘Ad, kaum Samud, dan lain-lain.

Di samping lebih kuat secara fisik, mereka juga dikaruniai Allah kemakmuran, penduduk yang banyak, keunggulan dalam membangun, keahlian dalam pertanian, dan sebagainya sehingga mereka maju dan berkebudayaan tinggi.

Akan tetapi, kemajuan dan kebudayaan tinggi yang mereka miliki itu membuat mereka sombong dan lupa daratan lalu mendustai para rasul yang diutus kepada mereka, bahkan di antara para rasul itu ada yang mereka lukai bahkan dibunuh.

Karena dosa dan perlakuan di luar batas itulah, Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka. Pertanian mereka dihancurkan, bangunan-bangunan megah diluluhlantakkan, dan harta benda dimusnahkan, sehingga mereka menderita dan sengsara.

Tidak ada yang dapat menghentikan kehancuran yang mereka alami, dan tidak ada yang dapat menolong mereka dari penderitaan. Hal itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kaum kafir Mekah, dan siapa saja yang datang sesudah mereka, bahwa manusia yang ingkar pastilah dihukum Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

Ayat 22

Sebab utama Allah menjatuhkan azab itu adalah kekafiran mereka. Mereka tidak mau menerima kebenaran yang dibawa para rasul, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, manusia perlu berbuat baik dalam hidup di dunia ini, dan adanya hari kemudian tempat manusia menerima balasan perbuatannya.

Apa yang disampaikan para nabi itu adalah kebenaran sejati dan tidak dapat dibantah, tetapi mereka menentangnya. Bila Allah menghukum, maka hukuman-Nya amat keras. Karena pembangkangan itu, Allah menghancurkan mereka. Itulah akibat pembangkangan terhadap kebenaran agama.

Peristiwa-peristiwa itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kaum kafir Mekah yang membangkang kepada ajakan Nabi Muhammad. Mereka hendaknya segera sadar dan berhenti dari kedurhakaan mereka karena mereka pun bisa mengalami nasib yang sama seperti umat-umat terdahulu itu.


Baca Juga : Pandangan Para Mufasir Tentang Peristiwa Pengangkatan Nabi Isa 


Ayat 23-24

Dalam dua ayat ini ditegaskan bahwa Nabi Musa diutus Allah sebagai Rasul-Nya kepada Fir’aun, Haman, dan Karun untuk menyeru mereka beriman. Fir’aun adalah Raja Mesir yang memandang dirinya Tuhan. Haman adalah perdana menterinya. Sedangkan Karun adalah saudagar dan hartawan terkaya pada waktu itu.

Mereka bertiga disebutkan secara khusus dalam ayat ini, karena merekalah secara pribadi yang bertanggung jawab atas pengaruh yang mereka tanamkan pada penduduk Mesir agar mendustakan Nabi Musa dan menyembah kepada Fir’aun. Bila ketiga orang ini sudah beriman, maka rakyat Mesir akan segera beriman pula.

Nabi Musa diutus Allah kepada mereka dengan membawa ajaran-ajaran dalam kitab suci Taurat dan mukjizat-mukjizat yang diberikan kepadanya. Inti ajaran yang disampaikan Nabi Musa kepada mereka adalah agar beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbuat baik, dan beriman dengan adanya hari kemudian tempat manusia menerima balasan amalnya.

Mukjizatnya antara lain tongkat menjadi ular dan tangannya yang bercahaya. Akan tetapi, mereka menolak ajaran itu dan membangkang, bahkan menyatakan dirinya Tuhan. Rentetan peristiwa dakwah Nabi Musa terhadap Fir‘aun itu antara lain diungkapkan dalam ayat-ayat berikut.

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ  ١٥  اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ  ١٦  اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ  ١٧  فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ  ١٨  وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ  ١٩  فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ  ٢٠  فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ  ٢١  ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ  ٢٢  فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ  ٢٣  فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ  ٢٤  فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ  ٢٥  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ  ٢٦

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa? Ketika Tuhan memanggilnya (Musa) di lembah suci yaitu Lembah Tuwa; pergilah engkau kepada Fir’aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas, Maka katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?” Lalu (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi dia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru (memanggil kaumnya). (Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah). (an-Nazi’at/79: 15-26).

Menyaksikan mukjizat Nabi Musa dan ajakannya untuk beriman itu, Fir’aun menuduh bahwa Nabi Musa seorang pesihir dan pembohong besar. Dalam ayat lain disebutkan bahwa Fir’aun menuduh Nabi Musa pesihir dan gila:

فَتَوَلّٰى بِرُكْنِهٖ وَقَالَ سٰحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

Tetapi dia (Fir’aun) bersama bala tentaranya berpaling dan berkata, “Dia adalah seorang pesihir atau orang gila.” (az-Zariyat /51:39).

Tuduhan itu disampaikan Fir’aun setelah ahli-ahli sihirnya tidak mampu mengalahkan mukjizat Nabi Musa, yaitu tongkatnya yang berubah menjadi ular dan menelan ular-ular yang berasal dari tambang-tambang yang disihir oleh ahli-ahli sihir tersebut. Bahkan ahli-ahli sihir itu berbalik meninggalkan Fir’aun dan beriman kepada Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ghafir 25-26


Tafsir Surah Ghafir Ayat 4-5

0
Tafsir Surah Ghafir
Tafsir Surah Ghafir

Tafsir Surah Ghafir Ayat 4-5 secara umum mengurai bagaimana cara Allah menghibur Nabi Muhammad yang terkadang sedih menghadapi sikap kaumnya, terutama mereka yang mengingkari al-Qur’an, bahkan menganggap bahwa al-Qur’an hanyalah dusta yang dibuat-buat oleh Muhammad dan pengikutnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah GhafirAyat 1-3 (2)


Ayat 4

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa hanya orang-orang kafir yang tidak senang kepada kebenaran, suka mendebat, menentang, dan mendustakan isi Al-Qur’an serta menuduhnya yang bukan-bukan.

Di antara perkataan mereka adalah bahwa Al-Qur’an itu hanya syair, sihir, dongeng orang-orang dahulu, atau tuduhan lainnya yang meremehkan. Padahal, sudah jelas dan diketahui oleh umum bahwa semua isi Al-Qur’an itu adalah benar.

Suatu perdebatan yang sifatnya mempertanyakan isi Al-Qur’an adalah perbuatan yang sangat tercela dan merupakan suatu kekafiran, sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

جِدَالٌ فِى الْقُرْاٰنِ كُفْرٌ (رواه أحمد عن أبى هريرة)

Memperdebatkan isi Al-Qur’an adalah kekafiran. (Riwayat A¥mad dari Abµ Hurairah)

Adapun perdebatan yang mempersoalkan sesuatu dengan maksud untuk mencari dan menguatkan sesuatu yang hak, menjelaskan yang masih samar-samar, mengambil suatu pengertian hukum, menolak paham-paham dan kepercayaan yang menyimpang dan tidak sesuai dengan ajaran Islam, serta menentang pengertian yang meremehkan isi Al-Qur’an, adalah perbuatan yang baik dan terpuji.

Bahkan, yang demikian itu adalah perbuatan yang menjadi tugas para nabi.

Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan Nabi Muhammad supaya jangan teperdaya dengan kemewahan yang diperoleh para penentangnya, kebebasan gerak mereka dari satu kota ke kota yang lain, berjual-beli dan berdagang seenaknya sehingga memperoleh kekayaan yang bertumpuk-tumpuk.

Bagaimanapun juga, kesemuanya itu mempunyai batas, dan sifatnya sementara paling lama sama dengan umurnya. Sesudah itu mereka akan mendapat siksaan yang amat pedih di akhirat. Firman Allah:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ  ١٩٦  مَتَاعٌ قَلِيْلٌ  ۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗوَبِئْسَ الْمِهَادُ   ١٩٧

Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka Jahanam. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal. (Ali ‘Imran/3: 196-197)


Baca Juga : Surah Ali Imran [3] Ayat 14: Kecenderungan Alamiah Manusia Terhadap Duniawi Harus Dikontrol


Ayat 5

Pada ayat ini, Allah menghibur Nabi Muhammad agar jangan cemas dan gusar menghadapi kaumnya yang selalu menentang dan mendustakannya. Hal demikian adalah sunatullah yang berlaku pada setiap nabi dan rasul yang diutus Allah.

Kaum Nuh mendustakan Nabi Nuh, begitu pula umat-umat yang lain, telah mendustakan para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka, seperti kaum ‘Ad, Samud, dan lain-lain. Bahkan, selain mendustakan para rasul, mereka juga merencanakan makar terhadap para rasul.

Mereka berusaha melawan para rasul mereka dan menganiaya sekehendak hati. Mereka tidak henti-hentinya menentang, mendustakan, dan mendebat rasul-rasul dengan alasan yang batil dan tak berdasar.

Di antara perkataan mereka adalah rasul-rasul itu manusia-manusia biasa seperti mereka juga, dengan maksud untuk melepaskan kebenaran, mengaburkan yang hak yang datangnya dari Allah, serta senantiasa mematikan dan memadamkan cahaya (agama) Allah, sebagaimana firman Allah:

يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّآ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai. (at-Taubah/9: 32)

Allah tidak tinggal diam melihat perbuatan jahat yang menunjukkan kebejatan akhlak mereka itu. Mereka diazab dengan siksaan yang amat pedih dan dibinasakan oleh Allah, bahkan ada yang dimusnahkan sehingga mereka seakan-akan tak pernah ada di bumi ini.

Umat Muhammad saw, terutama penduduk Mekah, dapat menyaksikan bekas-bekas kehancuran mereka sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an:

وَاِنَّكُمْ لَتَمُرُّوْنَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِيْنَۙ  ١٣٧  وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ١٣٨

Dan sesungguhnya kamu (penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka pada waktu pagi, dan pada waktu malam. Maka mengapa kamu tidak mengerti? (ash-Shaffat/37: 137-138)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ghafir 6-9


Tafsir Surah Ghafir Ayat 1-3 (2)

0
Tafsir Surah Ghafir
Tafsir Surah Ghafir

Tafsir Surah Ghafir Ayat 1-3 (2) adalah lanjutan dari tafsir sebelumnya yang menerangkan tentang lima sifat Allah sebagai penurun al-Qur’an. Terkhusus sifat-sifat ini diutarakan pada ayat ke-3 dalam surah Ghafir.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah GhafirAyat 1-3 (1)


Ayat 3 (2)

  1. Hukuman-Nya Sangat Berat.

Mengenai hal ini Allah berfirman:

اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ

…Bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal). (al-Baqarah/2: 165).

Orang-orang yang berbuat jahat, bergelimang dosa seperti mendustakan dan memungkiri ayat-ayat Allah, menempuh jalan yang sesat yaitu selain jalan yang telah ditunjukkan dan digariskan-Nya, mereka itulah yang mendapat siksa Allah yang berat dan keras, sebagaimana firman-Nya:

كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Allah sangat berat hukuman-Nya. (Ali ‘Imran/3: 11).

Pada ayat lain Allah menegaskan:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai hukuman. (Ali ‘Imran/3: 4).

Dan firman-Nya pula:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ

Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shad/38: 26).

  1. Pemberi Karunia.

Setiap karunia dan nikmat yang kita peroleh adalah dari Allah sebagaimana firman-Nya:

فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَنِعْمَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (al-Hujurst/49: 8)

Dan firman-Nya:

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (an-Nahl/16: 53)

Tidak ada seorang manusia, dengan jalan apa pun, yang dapat memberi angka yang pasti mengenai banyaknya karunia dan nikmat yang telah diberikan Allah padanya, sebagaimana firman-Nya:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. (an-Nahl/16: 18).


Baca Juga : Surah Ibrahim Ayat 28: Larangan Memanipulasi Nikmat Allah Swt dalam Konteks Berbangsa


  1. Allah Maha Esa

Salah satu sifat Allah yang wajib diimani yaitu bahwa Dia Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, tiada sekutu bagi-Nya, tiada sesuatu yang serupa dengan Dia, sebagaimana firman Allah:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (asy-Syura/42: 11).

Sekiranya Ia mempunyai sekutu, ada tuhan lain yang berkuasa sama dengan kekuasaan-Nya, maka dunia ini akan hancur sebagaimana firman Allah:

لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ

Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arasy, dari apa yang mereka sifatkan. (al-Anbiya’/21: 22)

Orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga termasuk golongan yang ingkar dan kafir, karena sebenarnya Allah itu Esa, tiada Tuhan selain Dia, firman Allah:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ  ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih. (al-Ma’idah/5: 73).

Ayat ini diakhiri dengan suatu ketegasan bahwa semua makhluk akan kembali kepada Allah dan di sanalah nanti disempurnakan balasan bagi mereka menurut perbuatan mereka masing-masing sebagaimana firman Allah:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan). (al-Baqarah/2: 281)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ghafir 4-5


Tafsir Surah Ghafir Ayat 1-3 (1)

0
Tafsir Surah Ghafir
Tafsir Surah Ghafir

Surah Ghafir merupakan surah Makkiyah yang berjumlah 85 ayat dan merupakan surah ke 40 sesuai dengan urutan mushafi. Penamaan surah ini disandarkan pada ayat ke-3 yang menunjukkan salah satu sifat Allah, yaitu Ghafir, yang berarti Maha Pengampun. Adapun tafsir kali ini diawali dengan Tafsir Surah Ghafir Ayat 1-3 (1), yaitu tentang al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Swt., berikut penjelasannya.

Ayat 1

Penjelasan mengenai huruf-huruf hijaiah pada awal beberapa surah dalam Al-Qur’an seperti pada awal surah ini, telah diuraikan dengan panjang lebar pada awal Surah al-Baqarah. (Lihat “Al-Qur’an dan Tafsirnya” Jilid I)

Ayat 2

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Kitab Suci Al-Qur’an yang merupakan kitab suci bagi Nabi Muhammad dan umatnya wajib diamalkan isi dan petunjuknya.

Ia merupakan kitab suci terakhir yang membenarkan kitab-kitab suci yang sebelumnya, dan benar-benar diturunkan dari Allah, Tuhan sekalian alam, Tuhan Yang Mahaperkasa, tak ada satu makhluk pun yang dapat mengalahkan-Nya, Tuhan Yang Maha Mengetahui, tiada sesuatu yang tersembunyi bagi Allah bagaimanapun kecil dan halusnya.

Firman Allah:

تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

Kitab ini diturunkan dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (al-Ahqaf/46: 2).

Kitab Suci Al-Qur’an tidak mungkin dibuat oleh selain Allah dan tidak mungkin juga dibuat oleh Muhammad saw sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh Islam. Hal ini telah ditegaskan Allah di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

وَمَا كَانَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ اَنْ يُّفْتَرٰى مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ.

Dan tidak mungkin Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah. (Yunus/10: 37).

Dan firman-Nya:

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ

Apakah pantas mereka mengatakan dia (Muhammad) yang telah membuat-buatnya? (Yunus/10: 38).

Bahkan, Kitab Suci Al-Qur’an itu diturunkan dengan latar belakang yang beraneka ragam, berisi petunjuk bagi manusia untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang. Firman Allah:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. (Ibrahim/14: 1)

Ayat 3 (1)

Pada ayat ini dijelaskan lima macam sifat Allah yang menurunkan  Al-Qur’an:

  1. Pengampun Dosa

Sifat Allah ini ditegaskan pula pada ayat yang lain, sebagaimana firman Allah:

نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُۙ

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Hijr/15: 49).

Dan firman-Nya:

اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (az-Zumar/39: 53).

Bagaimana pun banyaknya dosa seseorang apabila ia meminta ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuni semua dosanya sebagaimana dijelaskan dalam hadis Qudsi sebagai berikut:

يَا عِبَادِيْ، إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْلَكُمْ. (رواه مسلم عن أبي ذرّ)

Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kamu melakukan kesalahan di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun pada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. (Riwayat Muslim dari Abu Dzarr)


Baca Juga :Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 10: Intisari Doa Kasih Sayang dan Pengampunan


Di dalam hadis Qudsi yang lain, Allah menegaskan pula:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلاَ أُبَالِى، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى. (رواه الترمذي عن أنس بن مالك)

Allah berfirman, “Wahai anak Adam! Selagi kamu meminta dan mengharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosa-dosa yang ada padamu dan tidak Aku pedulikan lagi. Wahai anak Adam! Andaikata dosamu (bertumpuk) dan telah sampai ke awan langit, kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuninya dan tidak Aku pedulikan lagi. (Riwayat at-Tirmizi dari Anas bin Malik).

  1. Penerima Tobat

Sifat Allah ini ditegaskan pula pada ayat yang lain di dalam Al-Qur’an:

اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ

Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya. (at-Taubah/9: 104)

Seseorang yang telah berbuat kejahatan seperti penganiayaan dan lain-lain, kemudian ia bertobat, menyesali perbuatannya itu, mempertebal imannya, berbuat baik, dan tetap di jalan Allah, maka Allah akan menerima tobatnya, sebagaimana firman-Nya:

فَمَنْ تَابَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَصْلَحَ فَاِنَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ

Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. (al-Ma’idah/5: 39)

Dan firman-Nya:

وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى

Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk. (Thaha/20: 82).

Dan firman-Nya lagi:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَبَيَّنُوْا فَاُولٰۤىِٕكَ اَتُوْبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَاَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (al-Baqarah/2: 160)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ghafir 1-3 (2)


Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 125-127

0
Tafsir Surah Asy-Syu'ara
Tafsir Surah Asy-Syu'ara

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 125-127 berbicara mengenai proses dakwah yang lalui oleh Nabi Hhud as. Namun sebagaimana Nabi Nuh as, ia juga mendapat peniolakan dari kaumnya, yakni kaum ‘Ad.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 121-124


Ayat 125-127

Nabi Hud a.s. menyeru mereka agar menyembah Allah dan bertakwa kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pada Surah Hµd/11: 50-54 diterangkan bahwa Nabi Hud meminta kaumnya agar menyembah Allah dan tidak menyembah patung-patung, karena tidak ada tuhan selain Allah.

Artinya bahwa tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, berkuasa, membangkitkan dari kubur dan memiliki sifat-sifat ketuhanan, kecuali Allah.

Penyembahan terhadap patung-patung itu adalah perbuatan yang mereka ada-adakan sendiri, tidak berdasarkan keterangan dari kitab suci dan bukti nyata sedikit pun. Hud juga menyatakan bahwa dia adalah rasul Allah yang sebenarnya. Segala yang disampaikannya itu berasal dari Allah.

Nabi Hud menerangkan bahwa ia tidak mengharapkan upah dalam pekerjaannya menyeru manusia kepada agama tauhid. Upahnya semata-mata dari Allah yaitu pahala yang ia harapkan nanti di akhirat.

Nabi Hud menyeru kaumnya agar memohon ampun dan bertobat kepada Allah. Kalau mereka berbuat demikian, niscaya Allah mengampuni dosa-dosa mereka, menurunkan hujan yang akan menjadikan negeri mereka bertambah subur, dan menambah rezeki mereka.


Baca juga: Pro Kontra Teori Peminjaman dan Keterpengaruhan Al-Quran Terhadap Yahudi dan Nasrani


Di samping itu, Allah akan menjadikan mereka semakin kuat, baik fisik maupun kekuasaan. Nabi Hud mengingatkan agar mereka menghentikan perbuatan dosa yang mereka lakukan dan memohon ampunan Allah.

وَيٰقَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا وَّيَزِدْكُمْ قُوَّةً اِلٰى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ

Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”  (Hµd/11: 52)

Kaum ‘Ad tidak mengindahkan seruan Nabi Hud, bahkan mereka me-nyatakan bahwa Nabi Hud tidak membawa satu kebenaran pun dalam dakwahnya. Mereka menegaskan untuk tidak akan meninggalkan penyembahan berhala, dan tidak mempercayai seruan Nabi Hud. Allah berfirman:

قَالُوْا يٰهُوْدُ مَاجِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَّمَا نَحْنُ بِتَارِكِيْٓ  اٰلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ

Mereka (kaum ‘Ad) berkata, “Wahai Hud! Engkau tidak mendatangkan suatu bukti yang nyata kepada kami, dan kami tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu dan kami tidak akan mempercayaimu.  (Hµd/11: 53)

Mereka menuduh bahwa Nabi Hud telah dihinggapi penyakit gila yang ditimpakan oleh patung-patung mereka. Allah berfirman:

اِنْ نَّقُوْلُ اِلَّا اعْتَرٰىكَ بَعْضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوْۤءٍ

Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.”  (Hµd/11: 54).


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 128-129


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 121-124

0
Tafsir Surah Asy-Syu'ara
Tafsir Surah Asy-Syu'ara

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 121-124 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai perintah untuk mengambil hikmah atas kisah Nabi Nuh as. Kedua berbicara mengenai kisah Nabi Hud as yang juga diinggkari oleh kaumnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 120


Ayat 121-122

Setelah menerangkan kisah Nabi Nuh dan kaumnya, kebinasaan yang dialami orang-orang yang mengingkari seruan rasul dan kemenangan yang diperoleh orang-orang yang beriman, Allah lalu mengarahkan firman-Nya ini kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin.

Allah mengingatkan bahwa peristiwa di atas hendaklah menjadi iktibar atau pelajaran. Umat manusia seharusnya beriman kepada Nabi Muhammad dan menerima seruannya. Bila mereka mengingkarinya, maka hal yang sama dapat terjadi pada mereka. Allah mampu melaksanakan ancaman-Nya apabila Dia menghendaki. Akan tetapi, Allah masih memberi kesempatan kepada umat manusia, karena Ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


Baca juga: Pentingnya Mengetahui Ilmu Asbab an-Nuzul dalam Memahami Al-Quran


Ayat 123-124

Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Hud a.s. kepada kaum ‘Ad tetapi mereka mendustakan dan mengingkari seruannya. ‘Ad adalah nama suatu kaum, yang diambil dari nama nenek moyang mereka yang bernama ‘Ad.

‘Ad adalah salah seorang keturunan Sam bin Nuh. Nabi Hud sendiri termasuk salah seorang keturunan ‘Ad, yaitu Hud bin Abdullah bin Rabah bin Khulud bin ‘Ad. Itulah sebabnya di dalam ayat ini Nabi Hud disebut saudara dari kaum ‘Ad, yang maksudnya Nabi Hud termasuk salah seorang warga kaum ‘Ad.

Kaum ‘Ad bertempat tinggal di al-Ahqaf, yang sekarang dikenal dengan nama Sahara al-Ahqaf. Sekarang daerah ini termasuk salah satu bagian dari kerajaan Arab Saudi bagian selatan.

Al-Ahqaf terletak di sebelah utara Hadramaut, sebelah timur laut Yaman, sebelah selatan Nejed dan sebelah barat Oman. Sekarang tempat itu dinamai juga ar-Rab‘ al-Khali artinya “tempat yang kosong” karena memang tempat itu telah kosong, tidak didiami orang. Dalam peta biasanya ditulis Rub‘ al-Khali, itu salah, yang betul Rab‘ bukan Rub‘.

Kaum ‘Ad pada mulanya beragama tauhid, agama yang dianut nenek moyang mereka dan sesuai pula dengan fitrah manusia. Akan tetapi, setelah kerajaan mereka meluas dan membesar akibat penaklukan bangsa-bangsa lain di sekitarnya, mereka menjadi sombong dan menyembah patung-patung.

Patung-patung yang disembah itu adalah patung-patung pemimpin mereka, yang pada mulanya dibuat hanya untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka. Namun demikian, lama-kelamaan patung itu mereka sembah. Ada tiga buah patung yang mereka sembah, yaitu Saba’, Samud, dan Haba. Untuk mengembalikan mereka kepada agama yang benar, Allah mengutus seorang rasul kepada mereka, yaitu Nabi Hud, yang termasuk salah seorang dari warga mereka juga.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 125-127


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 120

0
Tafsir Surah Asy-Syu'ara
Tafsir Surah Asy-Syu'ara

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 120 berbicara mengenai peristiwa banjir bandang yang terjadai pasca pembangkangan kaum Nabi Nuh as. Di antara para pembangkang itu adalah putra Nabi Nuh sendiri.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 119


Ayat 120

Dalam Al-Qur’an dilukiskan bagaimana besarnya gelombang itu dan bagaimana Nabi Nuh berusaha menyelamatkan anaknya yang kafir. Ia memanggilnya agar naik ke kapal bersama-sama orang-orang yang beriman. Akan tetapi, ajakan itu tidak diindahkannya sehingga putra Nabi Nuh itu tenggelam bersama orang-orang kafir yang lain. Kisah itu disebutkan dalam firman Allah:

وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِۗ وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ  ٤٢  قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِ ۗقَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚوَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ  ٤٣

Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.  (Hµd/11: 42-43)

Kapal Nabi Nuh berlayar ke arah yang tidak diketahui oleh penumpang-penumpangnya. Hanya Allah yang mengetahui tujuannya itu.

Pada saat yang telah ditentukan Allah, topan itu berhenti dan banjir pun surut, seakan-akan airnya ditelan bumi. Kapal Nabi Nuh terdampar di puncak bukit yang bernama Judi. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa Bukit Judi itu terletak di Armenia Selatan yang berbatasan dengan Mesopotamia yang terkenal dengan Bukit Arafat.


Baca juga: Uraian Singkat Beberapa Mufasir Indonesia Modern dari A. Hassan hingga Quraish Shihab


Dengan berakhirnya topan dan banjir besar itu, serta berlabuhnya kapal Nabi Nuh dengan selamat di atas Bukit Judi, berarti Allah telah menepati janji-Nya. Dia menyelamatkan orang-orang yang beriman, yang mengikuti seruan Nabi Nuh, dan menghancurkan orang-orang kafir, yang mengingkari seruannya.

Setelah kapal itu berlabuh, Nabi Nuh ingat kembali kepada putranya yang tenggelam. Ia memohonkan keselamatan untuk putranya karena termasuk keluarganya. Akan tetapi, Allah mengingatkan Nabi Nuh bahwa putranya itu bukan lagi keluarganya karena telah menjadi orang kafir. Allah berfirman:

وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ  ٤٥  قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ  ٤٦

Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.”  (Hµd/11: 45-46)

Orang-orang yang beriman bersama Nabi Nuh yang selamat dari topan dan banjir lalu berkembang biak, sampai kepada manusia sekarang. Di antara mereka ada yang mukmin dan ada pula yang kafir. Ada yang ditimpa azab di dunia ini sehingga musnah, dan ada pula yang diselamatkan. Ada yang bahagia dan ada yang sengsara, ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Allah berfirman:

قِيْلَ يٰنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلٰٓى اُمَمٍ مِّمَّنْ مَّعَكَ ۗوَاُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.”  (Hµd/11: 48).


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 121-124


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 119

0
Tafsir Surah Asy-Syu'ara
Tafsir Surah Asy-Syu'ara

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 119 berbicara mengenai doa Nabi Nuh as agar diselamatkan dari ancaman-ancaman keras dari kaumnya. Pada akhirnya Allah mengabulkan doanya dengan memerintahkan untuk membuat kapal yang besar.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 115-118


Ayat 119

Allah mengabulkan doa Nabi Nuh dan memerintahkan agar ia bersama orang-orang yang beriman membuat sebuah kapal besar yang dapat mengangkut mereka semua, beserta barang-barang keperluan dan alat-alat perlengkapan mereka.

Nabi Nuh bersama para pengikutnya mulai membuat kapal. Kaumnya heran dan tercengang melihat apa yang dilakukannya. Mereka tidak mengetahui apa yang sedang dibuat Nabi Nuh itu.

Kaumnya menganggap Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman, terutama yang ikut membantunya membuat kapal itu, telah gila. Setiap orang yang lewat di dekat Nabi Nuh membuat kapal itu mengejek dan mencemooh perbuatannya.

Perintah Allah agar Nabi Nuh membuat kapal dan sikap kaum Nabi Nuh itu dijelaskan dalam firman-Nya:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۚاِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ  ٣٧  وَيَصْنَعُ الْفُلْكَۗ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَاٌ مِّنْ قَوْمِهٖ سَخِرُوْا مِنْهُ ۗقَالَ اِنْ تَسْخَرُوْا مِنَّا فَاِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُوْنَۗ   ٣٨  فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ مَنْ يَّأْتِيْهِ عَذَابٌ يُّخْزِيْهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيْمٌ  ٣٩

“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa azab yang kekal.”  (Hµd/11: 37-39)


Baca juga: Pentingnya Mengetahui Ilmu Asbab an-Nuzul dalam Memahami Al-Quran


Ejekan itu dijawab Nabi Nuh dengan mengingatkan mereka akan azab Allah yang akan ditimpakan kepada orang-orang kafir yang tidak meng-indahkan seruan rasul-Nya. Jika mereka selalu bersikap demikian, maka azab itu akan segera datang. Pada saat menerima azab dan malapetaka itu, mereka akan menyesal untuk selama-lamanya.

Namun demikian, penyesalan itu tak ada gunanya lagi karena semua pintu tobat telah tertutup bagi mereka. Allah mengingatkan Nabi Nuh agar tidak lagi melayani orang-orang yang zalim itu, karena keimanan mereka tidak bisa diharapkan lagi, dan telah menjadi ketetapan Allah untuk membinasakan mereka.

Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya telah berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah membuat kapal itu. Setelah selesai, tibalah saat-saat yang dijanjikan Allah, yaitu membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang yang beriman.

Pada saat itu, bumi memancarkan air dari segala penjuru dan meluap, seperti luapan air yang sedang mendidih di dalam kuali tempat memasak. Dalam waktu yang singkat, air itu telah menenggelamkan permukaan bumi.

Pada saat itu, Allah memerintahkan agar Nabi Nuh menyuruh orang-orang yang beriman naik ke atas kapal dengan membawa perlengkapan yang diperlukan. Allah juga memerintahkan untuk membawa binatang-binatang piaraan mereka, masing-masing seekor jantan dan betina, agar dapat berkembang biak nanti setelah topan dan banjir berhenti.

Menurut sebagian mufasir, keluarga Nabi Nuh yang ikut masuk ke dalam kapal itu hanyalah seorang istri yang beriman dan tiga orang putranya, yaitu Sam, Ham, dan Yafi£. Demikianlah Nabi Nuh mulai berlayar dengan menyebut nama Allah, mengarungi banjir seperti laut itu, menempuh ombak yang menjulang seperti gunung.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 120


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 115-118

0
Tafsir Surah Asy-Syu'ara
Tafsir Surah Asy-Syu'ara

Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 115-118 berbicara mengenai kegigihan dan kesungguhan dakwah Nabi Nuh as. Meskipun medapatkan penolakan keras dari kaumnya, ia tetap sabar melaksanan tugas kerasulannya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 111-114


Ayat 115

Selanjutnya Nuh mengatakan kepada kaumnya bahwa dia hanyalah seorang rasul yang diutus Allah kepada mereka untuk menyampaikan agama-Nya. Ia juga menyampaikan peringatan dan ancaman bahwa azab Allah akan ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar dan durhaka, serta orang-orang yang mengingkari seruan rasul. Sedangkan orang-orang yang mengikuti seruan rasul, dan mengindahkan perkataan dan ancaman itu, baik kaya atau miskin, bangsawan atau rakyat biasa, akan dibalas Allah dengan surga yang penuh kenikmatan.

Ayat 116

Demikianlah Nabi Nuh melaksanakan tugasnya sebagai seorang rasul Allah. Ia berusaha sekuat tenaga menyampaikan seruan Allah, siang dan malam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Semakin giat Nabi Nuh menyeru mereka, semakin kuat pula halangan dan rintangan yang diberikan kaumnya. Sikap mereka itu dilukiskan dalam firman Allah:

وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ

Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.  (Nuh71: 7)

Akhirnya mereka mengancam Nabi Nuh untuk segera menghentikan usahanya mengajak mereka mengikuti agama yang didakwahkannya. Jika ia masih melanjutkan usahanya itu dan tidak menghentikannya, mereka akan merajam dan membinasakan Nabi Nuh.


Baca juga: Kunci Pertama Menggapai Kebahagiaan: Beriman Kepada Allah Swt


Ayat 117

Mendapat ancaman seperti itu, Nabi Nuh tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengadu kepada Allah bahwa kaumnya telah mendustakannya. Ia berharap dengan doa itu akan mendapat pertolongan dari Allah.

Ayat 118

Selanjutnya Nabi Nuh berdoa agar Allah memberikan keputusan yang adil mengenai permasalahan yang terjadi antara dirinya dan kaumnya.

Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk membawa mereka ke jalan yang benar, tetapi sambutan mereka justru berupa ancaman untuk mencederainya. Nabi Nuh yakin ancaman itu tidak main-main. Oleh karena itu, Nabi Nuh betul-betul berdoa agar ia dan kaum mukminin pengikutnya diselamatkan Allah dari ancaman tersebut.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syu’ara Ayat 119


(Tafsir Kemenag)

Diskusi Rasm Tentang Makna Ke-ummiy-an Nabi Muhammad Saw

0
Diskusi Rasm Tentang Makna Ke-ummiy-an Nabi Muhammad Saw
Diskusi Rasm Tentang Makna Ke-ummiy-an Nabi Muhammad Saw

Diskusi tentang makna ke-ummiy-an Nabi Saw sejatinya telah banyak dilakukan ulama dan pakar Al-Qur’an. Seperti diskusi imajiner antara ‘Abd al-Hayy al-Farmawy dengan Dr. Nashir al-Din al-Asad yang diabadikan dalam Rasm al-Mushhaf wa Naqthuhu dan Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudlu‘iy. Atau dalam sajian yang lebih sederhana, tulisan dari Muhammad Anas Fakhruddin dalam tafsiralquran.id berjudul ‘Nabiyyil Ummiyyil’, Benarkah Berarti Nabi Tidak Bisa Baca Tulis?

Diskusi yang diangkat pada dasarnya berkutat pada pembahasan makna kata ummiy secara literal berikut perbandingan aplikasinya terhadap diksi-diksi ummiy dalam Al-Qur’an. Sementara arti literal dan yang masyhur di kalangan Arab menunjukkan pada ketiadaan kemampuan baca tulis, aplikasi dalam diksi Al-Qur’an tidak sepenuhnya demikian.

Diksi ummiy yang disebutkan sebanyak enam kali, yakni dalam QS. Al-A‘raf [7]: 157 dan 158, QS. Ali Imran [3]: 20 dan 75, QS. Al-Jumu’ah [62]: 2, serta QS. Al-Baqarah [2]: 78, dimaknai secara beragam. Beberapa diantaranya menerapkan makna literal yang ada. Sedangkan yang lain menggunakan makna takwil yang jauh berbeda.

Baca juga: Al-Qur’an dalam Menjaga Harmonisasi dan Toleransi Antar Umat Beragama

Pangkal permasalahan lahirnya perbedaan pemaknaan ummiy ini boleh jadi terletak pada upaya pengagungan Nabi Saw. dari sifat-sifat yang tidak selayaknya dimiliki. Dalam koridor diskusi ini merupakan ketidakmampuan membaca dan menulis. Meski nyatanya, tidak semua ulama dan pakar Al-Qur’an menganggap negatif keberadaan sifat ini bagi Nabi Saw.

Masalah kemudian merambah pada kelanggengan sifat ummiy Nabi Saw., apakah hingga akhir hayatnya beliau tetap buta huruf atau di penghujung hidupnya beliau mampu membaca dan menulis? Masalah yang juga mengalami perbedaan pendapat di kalangan ulama dan pakar berdasarkan perbedaan argumentasi yang telah disebutkan masing-masing.

Al-Suyuthiy, sebagaimana dinukil Muhammad Anas, agaknya memilih ketidaklanggengan sifat ini mengingat adanya sebuah riwayat yang dinukilnya dari ‘Abdullah bin ‘Utbah. Hal yang sama juga diakui oleh Al-Zarqaniy dalam Manahil al-‘Irfan, bahwa di penghujung hayatnya, Nabi Saw. mampu membaca dan menulis. Berbeda dengan pendapat yang diikuti Al-Qurthuby yang mengafirmasi kelanggengan ke-ummiy-an Nabi Saw.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Ini Perbedaan Wudhu dan Tayamum yang Wajib Diketahui

Riwayat tentang kepiawaian Nabi Saw dalam menulis

Dalam frame diskusi yang sama, tetapi dengan landasan yang cukup berbeda, ilmu rasm memberikan argumentasi ‘segar’ dari yang selama ini sering dijadikan sebagai landasan. Riwayat yang dinisbatkan kepada Mu‘awiyyah, salah satu katib wahyu, dan Anas bin Malik yang berisi dhawuh pengajaran dari Nabi Saw.,

أَلِقِ الدَّوَاةَ، وَحَرِّفَ الْقَلَمَ، وَانْصِبِ الْبَاءَ، وَفَرِّقِ السِّيْنَ، وَلَا تُعَوِّر الْمِيْمَ، وَحَسِّن اللهَ، وَمُدَّ الرَّحْمنَ، وَجَوِّدِ الرَّحِيْمَ.

“Tetapkanlah tinta, miringkan (ujung) pena, tegakkan (tinggikan gerigi) huruf ba’, pisahkan (tegaskan gerigi) huruf sin, percantik (tulisan) Allah, panjangkan (tulisan) al-rahman, dan perindah (tulisan) al-rahim”

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا دَعَا رَجُلًا إِلَى الْكِتَابَةِ يَقُوْلُ: أَلِقِ الدَّوَاةَ، وَحَرِّفِ الْقَلَمَ، وَجَوِّدْ بسم الله الرحمن الرحيم: أَقِم الْبَاءَ وَفَرِّج السِّيْن وَافْتَحْ الْمِيْم وَحَسِّن اللهَ وَجَوِّد الرَّحْمن الرَّحِيْم، فَإِنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْل كَتَبَهَا فَجَوَّدَها فَدَخَلَ الجَنَّةَ

“Nabi ketika memanggil salah seorang sahabat untuk menuliskan wahyu berkata: “Tetapkanlah tinta, miringkan (ujung) pena, perindah tulisan bismillahirrahmanirrahim: tegakkan (tinggikan gerigi) huruf ba’, pisahkan (tegaskan gerigi) huruf sin, lubangi huruf mim, percantik (tulisan) Allah, dan perindah (tulisan) al-rahman al-rahim. Karena seorang dari Bani Israil yang menulisnya lantas memperindahnya, ia kemudian masuk surga”

Penelusuran sederhana yang penulis lakukan melalui Al-Mausu‘ah al-Haditsiyyah, menunjukkan bahwa dua riwayat ini, yang disebutkan Al-Qasthalaniy dalam Al-Mawahib al-Ladunniyah dan Ibn Hajar al-‘Asqalaniy dalam Lisan al-Mizan, oleh mayoritas ulama memang dianggap sebagai riwayat yang dla’if. Riwayat kedua bahkan dikatakan bathil.

Baca juga: Kunci Pertama Menggapai Kebahagiaan: Beriman Kepada Allah Swt

Namun demikian, dua riwayat ini dalam kajian ilmu rasm memiliki posisi yang cukup penting mengingat keduanya menjadi landasan ke-tauqifiy­-an rasm ‘utsmaniy. Adanya piwulang langsung dari Nabi Saw. ini menjadi legitimasi penting bahwa hakikat rasm ‘utsmaniy adalah tauqifiy dan bukan ijtihadiy sebagaimana klaim minor dari ulama dan pakar Al-Qur’an.

Sementara itu, berkaitan dengan masalah ke-ummiy-an Nabi Saw., riwayat ini agaknya memberikan takwilan lain, dimana pengajaran Nabi Saw. yang menjelaskan detail teknik kepenulisan menunjukkan adanya pengetahuan Nabi Saw. terhadap disiplin ilmu tulis-menulis. Redaksi semacam harrif al-qalam boleh jadi bahkan mengindikasikan kepiawaian Nabi Saw. dalam menulis.

baca juga; Kunci Pertama Menggapai Kebahagiaan: Beriman Kepada Allah Swt

Hal ini berarti bahwa Nabi Saw. telah memiliki pengetahuan tentang tulis-menulis yang bahkan sejak awal diturunkannya wahyu, bukan menjelang akhir hayatnya, berpijak pada redaksi awal riwayat kedua. Takwilan ini yang barang kali cukup berbeda dari yang selama ini didiskusikan dalam ‘Ulum al-Qur’an. Meskipun Dr. Musa Syahin Lasyin, sebagaimana disebutkan Al-Farmawiy, tetap bersikukuh atas ke-ummiy-an Nabi Saw. mengingat dla‘if-nya riwayat yang dijadikan sebagai landasan.

‘Ala kulli hal, diskusi mengenai ke-ummiy-an Nabi Saw. tetap mengalami perdebatan sengit di dalamnya. Masing-masing pakar dan ulama Al-Qur’an memiliki argumentasi tersendiri yang mendukung pendapatnya. Apa yang telah penulis paparkan sebelumnya setidaknya dapat menghadirkan angle lain dari perdebatan yang ada. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []