Beranda blog Halaman 446

Tafsir Surat Yasin Ayat 26-27: Pesan Damai Selalu Menyelimuti Hati Orang-orang yang Tulus

0
Yasin Ayat 26-27
Surat Yasin Ayat 26-27

Akhir yang indah didapat oleh Habib al-Najjar. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pemuda itu meninggal dengan indah dan penuh kebahagiaan karena kukuh mempertahankan keimanannya. Ia pun tidak membenci kaum Antokiah yang telah mencelakakannya. Ia tidak dendam sedikitpun. Pesan damai selalu ia ungkapkan bahkan menjelang ajalnya.

Mengenai pesan damai ini termaktub dalam Tafsir Surat Yasin Ayat 26-27. Tidak hanya pesan damai, ia pun termasuk orang-orang yang dimuliakan oleh Allah swt. Redaksi lengkapnya sebagai berikut:

قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙ

بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ

“Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,”

“apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.” (Surat Yasin Ayat 26-27)

Setelah Habib menyampaikan nasehatnya, ia menerima tanggapan kurang baik dari kaum Antokiah. Suyuti mengatakan ia dirajam hingga meninggal dunia. Seketika, menjelang kematiannya, malaikat menyeru kepadanya “udkhul al-jannah”(Masuklah ke surga). Terkait dengan ini terdapat beberapa perbedaan apakah ia masuk surga dengan keadaan hidup atau dalam keadaan meninggal dunia.

Muhammad al-Shawi dalam Hasyiah al-Shawi mengatakan ada dua pendapat mengenai apakah ia masuk surga dalam keadaan hidup atau meninggal. Pendapat pertama mengatakan bahwa Habib diangkat kesurga dalam keadaan hidup sebagaimana Nabi Isa as. Pendapat kedua Habib dimasukkan ke surga ketika meninggal dunia. Penulis rasa pendapat terakhir ini lebih make sense daripada yang pertama, sebagaimana pendapat Quraish Shihab.

Dalam Tafsir Al Misbah, Shihab mengatakan bahwa masuknya seseorang ke surga atau neraka tidak akan terlaksana sebelum terjadinya kiamat besar dan kebangkitan dari kubur. Menguatkan pendapat kedua ini, Ibnu Katsir mengutip dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kalimat dalam ayat 26 ini merupakan nasiha ketika sudah meninggal. Sedangkan nasihat ketika hidup adalah ayat 25.

Hal ini pun sesuai jika merujuk pada hadis yang menceritakan tentang kebingungan di padang mahsyar, sebagaimana hadis nomor 6080 dalam Sahih Bukhari atau hadis nomor 284 dalam Shahih Muslim. Kiranya terlalu panjang jika hadisnya dikutip dalam artikel singkat ini.

Namun kesimpulannya adalah pendapat mengenai apakah Habib diangkat ke surga ketika hidup atau setelah mati, pendapat yang kedua memang lebih masuk akal. Sebagaimana dinyatakan pula oleh al-Bantani bahwa Habib meninggal sebagai syahid dan mendapatkan anugerah sebagaiamana syuhada’ pada umumnya.

Mengutip dari Mujahid, Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim mengatakan bahwa Allah swt memperlihatkan wujud ganjaran yang akan ia dapat.  Begitu istimewanya ganjaran itu sehingga ia berharap kaum Antokiah juga mendapatkan ganjaran itu. Hal tersebut terungkap dalam ya laita qaumi ya’lamun (Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui).

Ibnu Katsir juga mengutip dari Qatadah bahwa Habib sangat berharap kepada Allah swt agar menampakkan juga ganjaran itu kepada kaum Antokiah, sebagaimana Allah tampakkan kepadanya agar kaum antokiah mengurungkan niat untuk merajamnya. Namun sayang, kaum Antokiah sudah terhijab oleh keingkarannya sehingga Habib meninggal dalam keadaan dirajam dan Allah swt memasukkannya dalam golongan al-mukramin (orang-orang yang dimuliakan).

al-mukramin ini merupakan bentuk ganjaran yang diberikan oleh Allah swt kepada Habib al-Najjar selain pengampunan Allah swt. Tidak semua orang termasuk dalam golongan al-mukramin ini. Thaba’taba’i menggaris bawahi bahwa al-Qur’an tidak menyandangkan sifat ini –dalam bentuk mutlak- kecuali kepada dua kelompok.

Pertama kepada malaikat dan kedua kepada hamba-hambanya yang tulus dan murni yang dipiilihNya sendiri untuk mengabdi kepadaNya semata. Meskipun Allah swt menganugerahkan kemuliaan kepada seluruh makhluknya, namun tidak semua makhluk termasuk dalam golongan al-mukramin ini. Al-Bantani menambahkan bahwa iman dan amal salih akan mengantarkan seseorang kepada derajat al-Ghufran (pengampunan) dan al-ikram (pemuliaan).

Salah satu contoh Sahabat yang mendapatkan derajat al-Mukramin ini adalah Urwah bin Mas’ud. Ia termasuk golongan ini berdasarkan hadis yang diriwakatkan oleh Abi Hatim bahwa suatu saat Urwah meminta Nabi untuk mengutus dirinya kepada kaumnya, yakni Bani Tsaqif, untuk menyeru kepada kaumnya untuk memeluk Islam. Nahas, dirinya dipanah oleh salah satu kaumnya dan Nabi saw berkata: “Urwah ini seperti tokoh dalam surat Yasin (Habib al-Najjar).

Keteguhan iman dan kontinyu dalam ibadah dan dakawah akan berkahir indah sebagaimana yang telah dialami oleh Habib al-Najjar. Selain itu, perlu diingat bersama bahwa Habib melakukan dakwahnya dengan tulus dan santun. Ia mengungkapkan argumentasi-argumentasi cerdas. Meskipun pada akhirnya kematiaannya tragis, sebelum kematiannya ia tetap berharap kaumnya mendapatkan ganjaran dan kebahagiaan sebagaimana ia dapatkan.

Kiranya sekian penjelasan singkat tafsir surat Yasin ayat 26-27. Nantikan penjelasan berikutnya. Wallahu A’lam bi al-Sawab.

Tafsir al-Azhar: Nabi Adam, Benarkah dari Surga Diturunkan di Sumatera (Pulau Swarna Dwipa)?

0
Nabi Adam, Benarkah dari Surga Diturunkan di Sumatera (Pulau Swarna Dwipa)

Pada Tafsir yang ditulis Buya Hamka ada hal yang menarik, yaitu ketika ia menulis karya tafsirnya, ia tidak hanya memasukkan peristiwa apa yang sedang terjadi saat itu ke dalam tafsirnya, namun juga mencantumkan cerita-cerita lokal yang berkaitan dengan penjelasan suatu ayat. Seperti halnya kisah Nabi Adam, konon ketika dari surga, ia diturunkan di Pulau Sumatera yang disebut dengan Pulau Swarna Dwipa. Pemaparan ini bisa ditemui ketika Buya Hamka memaparkan tafsiran ayat 36-38 surat al-Baqarah.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ  (36)فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ(37)قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(38)

Ayat ini berkisah tentang Nabi Adam a.s beserta istrinya; Hawa, yang melanggar aturan Allah Swt. Ketika Allah memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada Nabi Adam a.s beserta istrinya di taman surga. Salah satunya yakni mengonsumsi makanan apa pun yang mereka berdua inginkan. Namun, dilarang untuk mendekati satu pohon dan mengomsumsi buahnya.

Perihal nama buah pohon tersebut yang selama ini sangat familiar di dengar, yakni buah khuldi atau buah yang kekal, menurut Buya Hamka itu penafsiran yang salah. Sebab, bukan Allah yang menamainya, melainkan dari setan ketika membujuk Nabi Adam.

Baca juga: Tafsir al-Azhar (2): Bolehkah Malafalkan Bacaan Salat Selain Bahasa Arab?

Dalam riwayat yang ditampilkan oleh Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya, dan juga dari Ibnu Abi Hatim yang diterima dari Abdullah bin Mas’ud beserta sahabat lainnya, menceritakan bahwa, ketika itu Iblis hendak masuk ke dalam surga. Namun, dihadang oleh malaikat penjaga surga. Lalu, Iblis merayu seekor ular; yang waktu itu masih berkaki 4, agar diperbolehkan masuk ke dalam mulutnya. Ular tersebut mengiyakan, dan masuklah Iblis ke dalamnya, sehingga mereka bisa masuk ke dalam surga.

Melalui ular tersebut, Iblis pun leluasa merayu Nabi Adam agar memakan buah terlarang itu. Namun, karena Nabi Adam selalu menolaknya, akhirnya Iblis pun merayu Hawa. Dan, Hawa akhirnya termakan bujuk rayuan si Iblis, hingga keduanya memakan buah tersebut. Maka, atas perbuatannya itu, turunlah ketiganya ke bumi ini.

Lalu, di manakah Nabi Adam dan Hawa pertama kali diturunkan? Jawaban inilah yang menguntai banyak pernyataan.

Dikutip dari riwayat Ibnu Abi Hatim yang diterima dari Abdullah bin ‘Umar, bahwa Nabi Adam diturunkan di bukit Shafa, sedangkan Hawa diturunkan di bukit Marwah. Dalam riwayat selanjutnya dijelaskan bahwa Nabi Adam diturunkan di antara Mekkah dan Tha‘if. Kemudian, dalam riwayat Ibnu Asakir dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi Adam diturunkan di Hisdustan, sedang Hawa di Jeddah.

Baca juga: Hasiyah Al-Sawi: Penjelas Tafsir Jalalain Paling Populer di Indonesia

Ini adalah riwayat yang sering dijumpai. Namun tahukah Anda, bahwa Buya Hamka memaparkan cerita yang berbeda, dan bahkan bertolak belakang dengan riwayat-riwayat tersebut?

Dikutip dari kisah Syeikh Yusuf Tajul Khalwati dalam surat-surat yang ia kirim dari Sailan (Ceylon) kepada para muridnya yang berada di Makassar dan Banten pada akhir abad 17. Sebelum Syeikh Yusuf tersebut dipindahkan ke Afrika Selatan, beliau selalu menyebutkan bahwa beliau sangat bersyukur, sebab di pulau pengasingan itu, yakni Pulau Serendip; selain menjadi tempat turunnya Nabi Adam, beliau masih bisa beribadah kepada Allah.

Pesan Buya Hamka Pulau Swarna Dwipa adalah Pulau Sumatera

Cerita dari Syeikh Yusuf itulah yang kemudian mewarnai khazanah cerita-cerita terkait Nabi Adam. Di waktu itu, Pulau Serendip diduga kuat adalah nama lain dari Pulau Ceylon. Namun, dalam penyelidikan para ahli yang terakhir, kata Buya Hamya, Pulau Serendip bukanlah Pulau Ceylon, melainkan Pulau Sumatra. Karena kata Serendip merupakan bahasa Sansekerta yang ditulis menggunakan bahasa Arab. Maksud dari Serendip ialah Swarna Dwipa, yang merupakan nama lain dari Pulau Sumatera zaman dulu.

Sekalipun ada rasa bangga sebab asal muasal manusia dari Pulau Sumatera, kata Buya Hamka, namun dari cerita-cerita tersebut tidak ada yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, tidak ada satupun hadis shahih yang menguatkannya.

Wallaahu ‘alaam.

Maut Tidak Selalu Kematian, Kenali Lima Makna Maut dalam Al-Quran

0
Maut dalam Al-Quran
Maut dalam Al-Quran

Setiap sesuatu yang hidup di muka bumi ini pasti akan bertemu dengan kematian. Kematian dalam Al-Quran disimbolkan dengan kata maut. Di dalam Al-Quran, kata maut terulang sebanyak 161 dengan berbagai derivasinya. Adapun Maut yang dipahami oleh kebanyakan orang adalah sebuah peristiwa berpisahnya roh dari jasad seseorang. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa makna maut dalam Al-Quran?

Fakhruddin ar-Razi dalam kitabnya Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa kematian yang dialami manusia terjadi dua kali. Pertama, kematian yang dialami manusia sebelum ditiupkannya ruh yaitu ketika dalam masih kandungan. Kedua, kematian yang dialami manusia ketika menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya yaitu ketika manusia meninggalkan dunia yang fana ini.

Maut secara bahasa merupakan mashdar dari kata mata-yamutu-mautan yang mempunyai arti mati. Dalam bahasa Arab, maut juga dapat berarti diam, tak bergerak, menjadi dingin, rusak, hilang, sesuatu yang tidak memiliki ruh, dan kosong dari bangunan penduduk.

Menurut Ibnu Mandzur dalam kitabnya Lisan al-Arab menjelaskan bahwa mati adalah lawan kata dari hidup, keduanya adalah istilah yang saling berlawanan satu sama lain seperti halnya siang dan malam, gelap dan terang, dingin dan panas.

Lima makna maut dalam Al-Quran

Di sini kita akan menemukan bahwa kata maut dalam Al-Quran tidak selalu berarti kematian. Pertama, Maut berarti mati-nya makhluk hidup, seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Sebagaimana firman-Nya:

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

Artinya: Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (Q.S Ar-Ruum: 19)

Menurut Wahbah Az-Zuhaili, ayat di atas merupakan sebuah tanda bahwa Allahlah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, sebagaimana menjadikan manusia dari mani, dan tumbuhan yang mati di bumi, Allahlah yang menjadikan yang mati menjadi hidup. Sebagaimana mengeluarkan mani dari manusia, telur dari burung, Allahlah yang menurunkan hujan dari langit dan menghidupkan tanah setelah mati dan kering. Dengan menghidupkan yang demikian wahai manusia, kalian juga akan dibangkitkan dari kubur-kubur kalian untuk dihisab dan dibalas.

Baca Juga: Tafsir Surat Az-Zumar Ayat 42: Dua Jenis Kematian menurut Al-Quran

Sederhananya, Kematian yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah kematian yang bersifat sementara disebabkan hilangnya kekuatan namiyah, kemudian atas anugerah dan rahmat dari Allah Swt dapat hidup kembali.

Kedua, Maut berarti hilangnya perasaan. Sebagaimana firman-Nya:

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

Artinya: Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan. (Q.S. Maryam: 23).

Menurut Quraish Shihab, rasa sakit ketika akan melahirkan memaksa Maryam untuk bersandar dan menutup dirinya pada pangkal pohon kurma. Pada saat itu, ia membayangkan kemungkinan sikap ingkar keluarganya terhadap kelahiran anaknya kelak. Bahkan, ia berharap cepat meninggal dunia agar kejadian ini tidak lagi berarti dan cepat dilupakan.

Keadaan yang dialami oleh Maryam terjadi karena ia merasa lemah ketika akan melahirkan dan merasa tidak siap untuk menghadapi ejekan dari orang lain, sehingga ia berpikir bahwa mati adalah satu-satunya opsi terbaik pada waktu itu.

Ketiga, Maut berarti hilangnya akal, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. (Q.S An-Naml: 80).

Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat di atas adalah kamu tidak dapat memperdengarkan kepada mereka sesuatu pun yang bermanfaat bagi mereka. Demikian pula halnya orang-orang kafir (di masamu) pada hati mereka terdapat penutup dan pada telinga mereka terdapat penutup kekafiran. Sederhananya, maut yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk mendengarkan seruan dari Tuhan.

Keempat, Maut berarti kesedihan yang mendalam/rasa khawatir, sebagaimana firman-Nya:

 يَتَجَرَّعُهُ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ ۖ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ

Artinya: diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat. (Q.S Ibrahim: 17).

Menurut Quraish Shihab, maksud ayat di atas adalah ia meminumnya dengan susah payah. Seolah-olah ia meneguknya seteguk demi seteguk, tapi tidak juga bisa menelannya, karena wujudnya yang sangat kotor dan menjijikkan. Penghuni neraka itu disiksa dengan siksaan teramat berat yang semestinya membuat ia mati dan bebas dari penderitaan. Tetapi kenyataannya ia tetap hidup untuk menerima siksa yang lebih dahsyat.

Ayat di atas secara tidak langsung  menggambarkan tentang adanya adzab bagi orang kafir yaitu berupa  siksa yang sangat menyakitkan seperti datangnya kematian. Karena kematian bagi mereka adalah musibah serta merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan dan menakutkan.

Kelima, Maut berarti tidur, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ ٱلَّذِي يَتَوَفَّىٰكُم بِٱلَّيۡلِ وَيَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُم بِٱلنَّهَارِ ثُمَّ يَبۡعَثُكُمۡ فِيهِ لِيُقۡضَىٰٓ أَجَلٞ مُّسَمّٗىۖ ثُمَّ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Artinya: Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S al-An’am: 60).

Menurut Tafsir Kemenag, ayat di atas menjelaskan tentang kekuasaan Allah terhadap makhluk-Nya, yaitu Dialah yang menjadikan malam hari untuk beristirahat dan menghilangkan kelelahannya karena berusaha di siang hari untuk mencari nafkah dan berjuang menegakkan agama-Nya. Proses itu tidak diketahui oleh manusia.

Baca Juga: Surat Al-Ankabut Ayat 2: Agar Tidak Berputus Asa dari Rahmat Allah Swt

Selain itu, tidur juga dapat dikatakan sebagai kematian ringan sebagaimana Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan berikut sanadnya dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda:

Pada tiap orang terdapat seorang malaikat, apabila orang itu tidur, maka malaikatnya mengambil rohnya dan mengembalikannya lagi kepadanya. Dan jika Allah memerintahkan agar nyawanya dicabut, maka malaikat itu mencabut nyawanya, dan jika tidak ada perintah, maka malaikat itu mengembalikannya kepada orang itu.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa kata maut dalam Al-Quran tidak selalu berarti mati atau akhir hidup dari seseorang. Semoga kita semua bisa merenunginya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6-7: Tunjukkanlah Kami ke Jalan Orang Yang Diberi Nikmat, Begini Penjelasannya

0
jalan orang yang diberi nikmat
tunjukkanlah kami ke jalan orang yang diberi nikmat

Allah swt berfirman di dalam Surat Al-Fatihah, mendorong kita agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat. Kita yang sedang mencoba mendalami firman Allah mungkin akan merasa janggal dengan hal ini, mengapa dalam persoalan penting seperti meminta agar diberi jalan yang lurus, justru kita diarahkan pada persoalan nikmat? Mengapa tidak kepada ajaran mulia para nabi dan orang-orang salih?

Apakah persoalan nikmat memang lebih penting daripada soal ajaran semisal Syariat Islam? Bukankah persoalan nikmat adalah persoalan kesenangan-kesenangan duniawi serta nikmat surgawi, yang seharusnya tak sebanding dengan syariat yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya? Ataukah ada persoalan nikmat yang tidak kita ketahui?

Komentar Pakar Tafsir Terkait “Orang-Orang Yang Diberi Nikmat”

Allah berfirman di dalam Surat Al-Fatihah ayat 6-7:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka (QS. Al-Fatihah [01] 7).

Komentar beberapa pakar tafsir tidak secara jelas mengulas mengapa justru nikmat yang disinggung, bukan persoalan ajaran agama. Mereka hanya berkomentar tentang apakah itu jalan yang lurus? Dan siapakah mereka yang dimaksud orang yang telah diberi nikmat?

Ibn Katsir semisal, berkomentar bahwa cukup beragam ungkapan para ahli tafsir terkait tafsir dari kata “jalan”. Ada yang mengartikannya sebagai Kitab Allah, ada yang mengartikannya sebagai Tali Allah, dan ada juga yang memakai ungkapan “jalan yang sama sekali tidak ada sesuatu bengkok padanya”. Namun semuanya bisa dikatakan memiliki satu kesimpulan, bahwa jalan yang dimaksud adalah mengikuti Allah dan para utusan-Nya (Tafsir Ibn Katsir/1/137).

Baca juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 10 -13: Syukurilah Nikmat Allah SWT, Jangan Sampai Mendustakannya

Sedang terkait “orang-orang yang diberi nikmat”, banyak yang mengkaitkannya dengan Surat An-Nisa’ ayat 69:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (Q.S. An-Nisa’ [04] 69).

Ayat tersebut menyatakan, mereka orang-orang yang diberi nikmat adalah para nabi, para siddiqin, para syuhada’ dan orang-orang soleh. Usai menyatakan hal itu, mereka berlanjut menerangkan tentang orang-orang yang dibenci serta orang-orang yang tersesat (Tafsir Ibn Katsir/1/140).

Keimanan Adalah Sebuah Nikmat

Hanya beberapa pakar tafsir yang menyinggung secara langsung mengapa nikmat lebih didahulukan dari persoalan ajaran. Diantaranya adalah Sayyid Thantawi dalam Tafsir Al-Wasith yang menyatakan, Allah tidak menyatakan jalan para nabi dan orang-orang salih sebagai ganti “jalan orang-orang yang diberi nikmat”, untuk menunjukkan bahwa mengetahui ajaran yang benar kemudian mau mengamalkannya pada hakikatnya adalah suatu nikmat yang besar (Tafsir Al-Wasith/1/9).

Sayyid Thanthawi kemudian mengutip keterangan beberapa ulama tentang mengapa kata “jalan” di dalam surat ke-7 disandarkan kepada orang yang diberi nikmat, bukan yang lain. Alasannya diantaranya adalah untuk menunjukkan persoalan penting yang harus diketahui oleh orang yang hendak mengikuti Allah serta rasul-Nya. Bahwa kesempatan atau kemauan diri mengikuti Allah dan rasul-Nya, pada hakikatnya adalah nikmat besar dari Allah yang harus disadari, disyukuri dan senantiasa diingat. Dan jangan terlena dengan kesempatan dapat berkumpul dengan para nabi dan orang-orang soleh.

Baca juga: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 34: Menghitung Nikmat Allah dan Rasa Iri Melihat Orang Lain

Imam Ath-Thabari berkata, Surat Al-Fatihah ayat-7 merupakan bukti jelas bahwa kemauan melaksanakan perintah Allah dan menjahui larangan-Nya, merupakan nikmat serta taufiq dari Allah kepada orang-orang yang dapat menjalankannya. Bukankah dalam ayat tersebut, Allah menyandarkan persoalan petunjuk, ketaatan serta ibadah kepada bagaimana Allah memberi nikmat kepada hamba-Nya (Tafsir Ath-Thabari/1/179).

Berbagai uraian di atas menunjukkan kepada kita, kita tidak boleh lupa bahwa kemauan diri untuk mengikuti ajaran Allah dan rasul-Nya, adalah salah satu bentuk dari nikmat Allah. Bahkan nikmat terbesar. Persoalan mengikuti ajaran Allah dan rasul-Nya memang penting. Namun kita tidak boleh lupa. Di samping harus sekuat tenaga mengikuti ajaran Allah dan rasul-Nya, kita harus bersyukur diberi nikmat oleh Allah berupa kemauan dan kesempatan untuk mengikuti Allah dan rasul-Nya. Wallahu A’lam.

Hasiyah Al-Sawi: Penjelas Tafsir Jalalain Paling Populer di Indonesia

0
Hasiyah Al-Sawi: Penjelas Tafsir Jalalain
Hasiyah Al-Sawi: Penjelas Tafsir Jalalain

Dari sekian kitab penjelas Tafsir Jalalain, Hasiyah Al-Sawi merupakan kitab yang paling populer di Indonesia. Kitab ini digunakan di beberapa pesantren untuk bahan kajian, terlebih saat bulan Ramadhan. Hasiyah ini juga menjadi satu-satunya kitab penjelas Tafsir Jalalain yang dicetak penerbit lokal Indonesia. Paling tidak, jika kita mengetik kata kunci Hasiyah Tafsir Jalalain di google, maka yang keluar adalah Hasiyah Al-Sawi. Popularitas yang begitu tinggi, tentu membawa pertanyaan apa keunikan kitab ini?

Pertama kita perlu tahu penulisnya. Ia adalah Ahmad bin Muhammad al-Sawi Al-Misri Al-Khalwati Al- Maliki salah seorang pimpinan ulama Al-Azhar Kairo. Ia lahir pada tahun 1175 H/1761 M. di desa So’ al-Hijr dan wafat pada tahun 1241 H/1825 M. di Madinah. Tumbuh menjadi penganut tarekat, ia pun dikenal sebagai pembesar sufi, sekaligus mufassir. Dalam catatan sanad pendidikannya, ia pun tersambung pada dua penulis Tafsir Jalalain, yakni Jalaluddin Al-Mahalli dan Al-Suyuthi.

Kedua kita perlu mengetahui juga, mengapa kitab Hasiyah Al-Sawi begitu populer di Indonesia? Padahal kitab ini ditulis oleh ulama dari madzhab fiqh Maliki, sementara muslim di Indonesia bermadzhab fiqh Syafi’i. Nampaknya, hasiyah ini memiliki keistimewaan khusus yang mendukung pembelajaran tafsir di pesantren. Selain itu, karya ulama Al-Azhar memang lazim menjadi bahan kajian tanpa membedakan latar belakang madzhabnya.

Baca juga: Kajian Semantik Kata Nikmat dalam Al-Quran: Perbedaan Kata An-Ni’mah dan An-Na’im

Sejarah Penulisan Kitab Hasiyah Al-Sawi

Dalam muqaddimahnya, Syekh Al-Sawi begitu memuliakan ilmu tafsir. Ia menyebut bahwa tafsir adalah ilmu pengetahuan yang paling agung derajatnya. Dan pada zamannya, Tafsir Jalalain merupakan tafsir yang populer dan mendapat perhatian lebih dari para pengkaji dan peneliti. Hingga ia diminta oleh seorang da’I yang tidak disebutkan namanya untuk membacaka Tafsir Jalalain. Ia pun membaca dan menuliskannya menjadi kitab Hasiyah ini.

Masih dalam muqaddimah itu, Syekh Al-Sawi menyebut kitab ini sebagai ringkasan dari karya gurunya Syekh Sulaiman Al-Jamal. Memang Syekh Sulaiman Al-Jamal juga menuliskan hasiyah Tafsir Jalalain dengan judul Al-Futuhat al-Illahiyah bitaudihi al-jalalain bi Daqa’iq al-Khafiyyah. Ia meringkas kitab gurunya karena ia menganggap karangan gurunya itu telah merangkum 20 kitab tafsir yang ia punya.

Ia pun menyebutkan 20 tafsir itu terdiri dari: Tafsir Al-Baidawi, Al-Khazin, Al-Khatib, Al-Samin, Abu Su’ud, Al-KAwasyi, Al-Bahr, Al-Nahr, Al-Saqiyah, Al-Qurtubi, Al-Kasyaf, Ibn ‘Atiya, Al-Tahrir, dan Al Itqan.

Baca juga: Inilah 16 Kitab Hasiyah Tafsir Jalalain dari Berbagai Madzhab (Part 2)

Ada salah satu catatan menarik mengenai tafsir ini. Muhammad Ali Iyyazi dalam Al-Mufassirun Hayatuhum wamanhajuhum menyebut bahwa kitab ini baru dicetak pada tahun 1988 M. Artinya, terdapat jarak selama 181 tahun dari waktu rampungnya penulisan. Namun karena begitu populernya, Imam Zaki Fuad dalam penelitiannya Kajian atas Kitab Hasiyah Al-Sawi ala Tafsir Al-Jalalain berasumsi bahwa sebelum adanya percetakan, sudah terjadi pengajian dengan menyalin ulang secara manual.

Keistimewaan Hasiyah Al-Sawi 

Hasiyah Al-Sawi disusun dengan metode tahlili, sebuah metode dengan analisis yang mendalam. Ia menggunakan berbagai disiplin ilmu untuk menganalisa suatu penafsiran. Tak heran jika banyak bahasan  fikih, nahwu, saraf, dan qiraat dalam kitabnya.

Selain itu, Al-Sawi memberikan narasi-narasi yang beragam. Ia tak hanya meringkas dari karya gurunya, namun juga mensyarah, mengoreksi, dan membandingkan dengan penafsiran-penafsiran lainnya. Karakter pengkritik, pensyarah, ahli bahasa, hingga sufistik pun ia sertakan.  Setidaknya itulah beberapa keistemawaan Hasiyah Al-Sawi sehingga sangat populer di Indonesia. Tentu, alangkah baiknya jika kita membaca lebih lanjut penjelas tafsir Jalalain ini. Semoga bermanfaat!

Wallahu a’lam[]

 

 

 

 

Metode tahlili, corak tafsir bil ra’yi

 

 

 

 

 

Mengenal Muhammad Arkoun serta Pemahamannya tentang Al-Quran

0
muhammad Arkoun
muhammad Arkoun

Muhammad Arkoun lahir pada tanggal 1 februari 1928 di Taourirt-Mimoun, Kabilia Al-Jazair, sebuah pegunungan berpenduduk Barber (sebutan untuk penduduk yang tesebar di Afrika bagian Utara) yang menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian, peternakan dan perdagangan kerajinan tangan. Adapun bahasa yang dipakai oleh penduduk Barber adalah bahasa non-Arab (‘ajamiyah).

Muhammad Arkoun dilahirkan dari keluarga yang merupakan tokoh masyarakat di daerahnya dan masih menggunakan bahasa asli Kabilia. Walaupun demikian sebagai putra Kabilia, Arkoun mempunyai pemahaman yang sangat baik tentang bahasa tak tertulis Kabilia dan bahasa Arab yang merupakan bahasa keagamaan tertulis. Selain itu, dalam menulis gagasannya ia seringkali menggunakan bahasa Prancis.

Kabilia adalah tempat pertama pendidikan formal dari tingkat dasarnya dimulai. Selanjutnya, ia pergi ke kota Pelabuhan Oran untuk menempuh pendidikan tingkat menengahnya. Setelah lulus dari pendidikan menengahnya, ia memilih University of Algiers untuk melanjutkan studi Sarjananya dengan mengambil konsentrasi Bahasa dan Sastra Arab sampai tahun 1954.

Sorbonne University Prancis adalah tempat selanjutnya yang dipilih oleh Arkoun untuk menempuh program Pascasarjana dengan konsentrasi yang sama. Dikarenakan merasa betah di Prancis, kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan program Doktoralnya. Tepat pada tahun 1969, Arkoun telah resmi menyandang gelar Doktor dalam bidang Sastra dengan desertasinya yang berjudul “L’Humanisme Arabe au IVe/ Xe Sience: Miskawayh Philosope et Historian” (Humanisme dalam Pemikiran Etika Miskawayh seorang pemikir Arab abad X Masehi yang menekuni bidang kedokteran dan filsafat).

Baca juga: Mengenal Toshihiko Izutsu, Poliglot Asal Jepang, Pengkaji Semantik Al-Quran

Sejak tahun 1961-1969, Arkoun sudah dipercaya untuk menjadi dosen pada Universitas tempat ia belajar. Pada tahun 1970-1972, Arkoun mengajar di Universitas Lyon, sebelum kemudian kembali ke Paris karena diberikan kepercayaan sebagai guru besar sejarah pemikiran islam di Universitas Sarbonne Prancis. Pada tahun 1972-1977

Arkoun menjadi guru bahasa Arab dan peradaban Islam di Universitas Paris VIII. Tidak hanya itu, Arkoun juga sering diundang dan menjadi dosen tamu pada sejumlah Universitas di luar Perancis, seperti University of California di Los Angeles, Princeton University, dan Temple University di Philadelphia.

Muhammad Arkoun adalah seorang ilmuan yang terkenal sangat produktif dalam menghasilkan karya sejak tahun 1970an, diantara karya-karyanya yang penting diketahui adalah Al Fikr Al Islami; Naqd Wa Ijtihad diterbitkan di Beirut, Al Fikr Al Islami; Qira’ah ‘Ilmiyyah diterbitkan di Beirut, Rethinking Islam Today diterbitkan di Washington, Pour Une Critique De La Islamique diterbitkan di Paris, L’ Islam Religion At Societe diterbitkan di Paris, dan Essais Sur La Pensee Islamique diterbitkan di Paris.

Pemahaman Muhammad Arkoun tentang Al-Quran

Sebelum mengkaji lebih jauh tentang pola pemahaman Arkoun terhadap Al-Quran, kiranya perlu diketahui terlebih dahulu bahwa menurut Arkoun sebagaimana dikutip oleh Ahmad Munir dalam Kritik Nalar Islam, Al-Quran adalah wahyu yang berfungsi sebagai amanat yang sangat kaya dan luas sehingga dapat diberikan makna konkret dalam setiap keadaan berbeda yang dilalui umat manusia. Dalam hal ini, Arkoun membedakan tiga tingkatan tentang wahyu sebagaimana berikut:

Tingkatan pertama, wahyu sebagai firman Allah Swt yang transenden, tidak terbatas, serta tidak diketahui oleh manusia. Untuk menunjukkan realitas wahyu semacam ini Arkoun sering menyebutnya dengan anggitan al-Lauh al-Mahfudh atau Umm al Kitab.

Tingkat kedua, menunjukkan penampakan wahyu dalam sejarah. Berkenaan dengan Qur’an, anggitan ini menunjukkan pada realitas firman Allah Swt sebagaimana diwahyukan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad Saw selama kurang lebih dua puluh tahun.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Tingkat ketiga, menunjuk wahyu sebagaimana sudah tertulis dalam mushaf dengan huruf dan berbagai macam tanda yang ada di dalamnya. Berkenaan dengan Al-Quran, anggitan ini sering disebut oleh Arkoun sebagai Kanon Resmi Tertutup (Official Closed Canons) atau mushaf utsmani yang dipakai orang muslim sampai saat ini.

Selanjutnya, Muhammad Arkoun menelaah secara kritis terhadap pola pembacaan para mufassir sebelumnya hingga akhirnya ia menemukan pemahaman yang terbentuk oleh kebiasaannya yaitu selalu melakukan dialog dan interaksi dengan komunitas lain yang menunjukkan realitas hakiki sebuah dinamika pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya yaitu linguistik khususnya semiotika dan filsafat bahasa.

Analisis semiotika dalam pandangan Muhammad Arkoun membuat para peneliti mendekati suatu teks tanpa interpretasi tertentu sebelumnya. Walaupun demikian, fungsi analisis semiotik masih terbilang sangat terbatas. Arkoun memberikan argumen bahwa sampai dengan hari ini, semiotika masih mengabaikan sifat khusus dari teks-teks keagamaan dan para ahli semiotika.

Baca juga: Dr. Laleh Bakhtiar, Muslimah Amerika Perintis Psikologi Al-Quran Telah Berpulang

Oleh karena itu, Moh.Fauzan dan Muhammad Alfan dalam Dialog Pemikiran Timur Barat menyebutkan bahwa Muhammad Arkoun menawarkan dua tahapan dalam semiotika sebagaimana berikut:

Tahapan linguistik kritis

Pada tahapan yang pertama ini, Arkoun menggunakan sejumlah unsur linguistik yang biasa disebutnya dengan istilah modalisateur du discours (memeriksa tanda-tanda bahasa), yaitu determinan (Isim ma’rifat), kata ganti orang (dhomir), kata kerja (fi’il), kata benda (isim dan musamma), struktur sintaksis, struktur persajakan.  Pemeriksaan terhadap unsur-unsur tersebut bertujuan untuk menganalisis aktan-aktan yaitu pelaku yang melakukan tindakan yang berada dalam sebuah teks atau narasi. Menurutnya, semakin kita menegaskan modalisateur du discour maka kita semakin memahami maksud dari penuturnya.

Tahapan hubungan kritis

Pada tahapan yang kedua ini, Arkoun mengarahkannya pada petanda terakhir, tapi bukan berarti bertujuan untuk menapak tilas lewat peran-peran yang ada dalam teks. Adapun jalan yang dapat ditempuh untuk menemukan petanda terakhir adalah dengan  melalui eksplorasi historis yang bertujuan untuk membaca kembali salah satu khazanah tafsir klasik serta mencari petanda terakhir di dalamnya dan eksplorasi antropologis yang bertujuan untuk mencari petanda terakhir dengan teori-teori tentang mitos yang memperlihatkan bagaimana bahasa dipakai dalam berbagai jenis simbol.

Wallahu a’lam[]

Kitab Al-Mutawakkili Karya As-Suyuthi: Mengenal Kosakata Serapan dalam Al-Quran

0
Kitab Al-Mutawakkili 2
Kitab Al-Mutawakkili 2

Imam As-Suyuthi merupakan seorang ulama yang banyak dirujuk oleh para pemikir Islam setelahnya, baik mutaakhirin maupun kontemporer, terutama dalam diskursus studi Al-Quran. Karya besarnya tentang tema tersebut antara lain kitab Al-Mutawakkili. Kitab ini yang akan diulas dalam tulisan ini.

Karya-karya As-Suyuthi yang lain yang juga cukup terkenal adalah Al-Itqan fi Ulum al-Quran, Lubab An-Nuqul fi Asbab An-Nuzul, Al-Muhadzdzab fi ma waqa’a fi Al-Quran min Al-Mua’rrab, dan Asrar Tartib Al-Quran dan Mufhamat Al-Aqran fi Mubhamat Al-Quran.

Bisa dikatakan, Imam As-Suyuthi adalah seorang ulama ensiklopedi cum prolifik, yang sama sekali tidak meninggalkan suatu fan ilmu, kecuali ikut berkontribusi dalam menuangkan pandangannya. Misalnya kitab Al-Asybah wa An-Nadhair (ushul fiqh).

Sebagaimana karya-karya Imam As-Suyuthi lainnya, kitab ini menarik sebab—sependek pembacaan saya—belum ada ulama lain yang mengarang karya dengan tema seperti ini. Bahkan ia menulis dua risalah sekaligus dalam mengupas tentang kata serapan dalam Al-Quran, yaitu kitab Al-Muhadzdzab dan kitab Al-Mutawakkili. Namun yang menjadi korpus tulisan ini hanya seputar risalah yang terakhir.

Risalah Al-Mutawakkili adalah kitab kecil yang termasuk pada bagian yang saling terkait dalam tema ulum al-quran, yang menjelaskan bermacam-macam bahasa non-Arab yang digunakan di dalam al-Quran.

Begini tajuk lengkapnya, al-Mutawakkili fii maa warada fi al-Quran bi al-Lughah al-Habasyiyyah wa al-Farisiyyah wa al-Hindiyyah wa al-Turkiyyah wa al-Zanjiyyah wa al-Nabthiyyah wa al-Qibthiyyah wa al-Suryaniyyah wa al-‘Ibraniyyah wa al-Rumiyyah wa al-Barbariyyah. Bahasa-bahasa yang digunakan dalam Al-Quran dari bahasa Habsyi, Persia, Hindia, Turki, Zanji, Nabth, Qibthi, Suryani, Ibrani, Romawi, dan Barbar.

Baca Juga: Jalaluddin As-Suyuthi: Pemuka Tafsir yang Multitalenta dan Sangat Produktif

Ihwal Penamaan Kitab Al-Mutawakkili

Dalam naskah (pdf) yang dipublikasikan Perpustakaan Universitas Princeton, yang diterbitkan (cetak) oleh Maktabah al-Qudsiy wa al-Buraid, Damaskus, 1348 Hijriah atau 1929 Masehi, tercantum keterangan Imam As-Suyuthi mengenai alasan penamaan kitab belieu tersebut.

Model penamaan kitab Al-Mutawakkili ini juga lazim dipakai oleh kebanyakan ulama klasik. As-Suyuthi menuturkan bahwa penulisan risalah tersebut merupakan permintaan Amirul Mukminin Al-‘Abbasiy Al-Mutawakkil, keturunan paman Nabi Muhammad Saw, Sayyidina Abbas, untuk menghimpun dan mengidentifikasi lafal-lafal dalam al-Quran yang diadopsi dari bahasa selain Arab seperti Habsy, Persia, Koptik dan lain sebagainya.

Sebab itulah, penamaan kitab tersebut dinisbatkan kepada sosok yang meminta beliau untuk menuliskannya, yang tak lain adalah Amirul Mukminin Al-Mutawakkil. Model tersebut terinspirasi oleh Imam Abu Bakr al-Syasyi, yang mengarang sebuah kitab fikih atas perintah Khalifah al-Mustadhir Billah. Lalu kitab itu diberi tajuk al-Mustadhiriy.

Ada pula Imam Haramain. Beliau mengarang dua kitab fikih yang diberi nama masing-masing al-Ghiyatsiy dan al-Nidzamiyyah, merujuk pada sosok gubernur Ghiyats al-Din Nidzam al-Mulk. Lalu Imam Ibn Faurak yang mengarang kitab ushul al-din berjudul al-Ghiyatsiy yang dinisbatkan kepada sosok yang sama dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Baca Juga: Kosa Kata Bahasa Asing dalam Al-Quran

Kontroversi Ta’rib dalam Al-Quran

Seperti bahasa pada umumnya, bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Quran tidak bisa lepas dari saling mempengaruhi dan menyerap dari bahasa asing yang lazim diistilahkan dengan at-ta’rib, arabisasi. Hal tersebut tidak lain disebabkan adanya persinggungan antara bangsa Arab dengan bangsa lainnya. Sebut satu contoh saja adalah adanya transaksi perdagangan antar bangsa.

Lebih jauh, sejak zaman jahiliyah atau sebelum turunnya Al-Quran, bahasa Arab telah mengalami proses ta’rib. Hal itu dapat dilihat dari bahasa syair-syair jahili. Kendati demikian, keberadaan kosakata serapan dalam Al-Quran yang merupakan kalamullah masih menjadi perdebatan yang panjang di kalangan cendekiawan muslim.

Baca Juga: Kata-Kata Asing dan Cikal Bakal Kamus Al-Quran

Secara garis besar, perbedaan pendapat tersebut dapat dibagi menjadi empat kelompok. Pertama, mereka yang menolak adanya ta’rib dalam Al-Quran seperti Imam As-Syafii, Abu Ubaidah, Qadhi Abu Bakar dan Ibnu Faris. Mereka mendasarkan pendapat mereka pada firman Allah QS. Yusuf [12]: 2,

 إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Kedua, mereka yang berpendapat bahwa ada kata-kata asing (gharib) dalam al-Quran, tetapi tidak berarti keluar dari kearabannya, sebagaimana kata Arab dalam syair Persia, misal, tidak menjadikannya keluar dari ke-persia-annya. Mereka berargumen dengan firman Allah QS. Ibrahim [14]: 4,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوۡمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمۡۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٤

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Ketiga, Mereka yang mengatakan bahwa ada kesamaan bahasa antara bangsa-bangsa non-Arab ketika itu. Ibnu Jarir, sebagai yang memegang pendapat ini mengatakan bahwa kata-kata asing (gharib) dalam al-Quran bukanlah asing dalam arti sebenarnya, namun itu hanyalah fenomena kesamaan bahasa, di mana bangsa-bangsa lainnya juga menggunakannya.

Keempat, mereka adalah golongan yang menengahi ketiga pendapat sebelumnya. Mereka merumuskan bahwa semua kata-kata al-Quran adalah bahasa Arab, termasuk yang telah di-ta’rib, karena kata-kata asing itu telah mengalami arabisasi dan jamak dipakai oleh bangsa Arab jauh sebelum turunnya al-Quran.

Golongan ini juga membagi ta’rib menjadi dua; ta’rib makna (membuat isim Arabiy sebagai ganti isim A’jamiy) dan ta’rib isti’mal (membuat isim A’jamiy menjadi A’rabiy dengan mengikuti pakem pola Arab).

Baca Juga: Mengenal Kamus Fathurrahman, Memudahkan Melacak Kosakata Dalam Al-Quran

Kosakata Mu’arrab dalam Al-Quran

Di antara keempat golongan di atas, Imam As-Suyuthi adalah salah satu ulama yang menempati golongan keempat, yang menjadi penengah. Selanjutnya beliau mengklasifikasi tipologi kosakata mu’arrab berdasarkan bangsa asal kosakata tersebut. Ada sebelas bangsa yaitu, Ethiopia (Habsy), Persia, Romawi, India, Suryani, Ibrani, Nabtain (Lebanon), Koptik, Negro dan Turki serta Barbar.

Klasifikasi tersebut dilakukan Imam As-Suyuthi secara teliti dan mendalam. Beliau bukan hanya mendasarkan klasifikasinya itu pada syair-syair, atau atas persepsi subyektifnya, akan tetapi juga mendasarkan pada keterangan sanad dan riwayat dair para Sahabat, Tabiin, dan generasi-generasi selanjutnya.

Kita sebut beberapa contoh saja. Di antara kosakata al-Quran yang berasal dari Persia adalah Sijjil (QS. Al-Fil [105]: 4), Abariq (QS. Al-Waqiah [56]: 18), Zanjabil (QS. Al-Insan [76]: 17), dan Kafur (QS. Al-Insan [76]: 5).

تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ مِّن سِجِّيلٖ ٤

بِأَكۡوَابٖ وَأَبَارِيقَ وَكَأۡسٖ مِّن مَّعِينٖ ١٨

وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ١٧

 إِنَّ ٱلۡأَبۡرَارَ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ٥

Dari semua riwayat yang tertulis dalam kitab Al-Mutawakkili, kurang lebih 129 kosakata mu’arrab dirangkum oleh Imam As-Suyuthi menjadi sebuah gubahan nazam dalam kitab Al-Muhadzdzab fi Maa Waqa’a fi al-Quran min Al-Mu’arrab. Wallahu a’lam.

Mengenal Kitab Ilmu At-Tafsir: Referensi Dasar Ilmu Tafsir

0
Ilmu At-Tafsir
Ilmu At-Tafsir

Salah satu kitab dasar dalam bidang ilmu tafsir yang dipakai oleh lembaga pendidikan pesantren, adalah kitab berjudul Ilmu At-Tafsir. Kitab karya Imam As-Suyuthi ini merupakan sebuah kitab yang cukup lengkap mengulas poin-poin penting dalam Ilmu Tafsir, meski secara ukuran tidak terlalu tebal dan paparannya cenderung ringkas, tidak terlalu mendetail.

Kitab ini menjadi materi pelajaran paling dasar tentang Ilmu Tafsir di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Tulisan ini akan mencoba mengulas lebih dalam seluk beluk tentang kitab ini.

Baca Juga: Mengenal Alfiyah di Bidang Ilmu Tafsir Karya Al-Iraqi

Karya Cuplikan

Kitab Ilmu At-Tafsir yang penulis ulas dalam tulisan ini adalah kitab yang dipakai dan dicetak sendiri oleh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Kitab ini terdiri dari 76 halaman dengan sebuah pendahuluan di depannya dan tulisan di sampul yang berbunyi manqul min kitab itmam ad-dirayah (dicuplik dari kitab Itmam Ad-Dirayah).

Di bagian pendahuluan, sang penukil juga memberikan keterangan bahwa kitab tersebut adalah muqtathafat atau beberapa cuplikan dari kitab Itmam Ad-Dirayah (Ilmu At-Tafsir/4).

Dua fakta ini menunjukkan bahwa karya ini disusun pada mulanya tidaklah tipis seperti sekarang. Namun merupakan bagian dari kitab cukup tebal berjudul Itmam Ad-Dirayah yang merupakan karya Imam As-Suyuthi (w. 911 H.). Itmam Ad-Dirayah sendiri adalah sebuah kitab syarah dari kitab matan berjudul An-Nuqayah yang juga merupakan karya Imam As-Suyuthi.

Bila kitab Ilmu At-Tafsir dicuplik dari kitab Itmam Ad-Dirayah, apakah berarti Itmam Ad-Dirayah sebuah kitab khusus tentang ilmu tafsir? Jawabannya adalah “tidak”. An-Nuqayah yang merupakan kitab matan dari Itmam Ad-Dirayah, merupakan sebuah kitab yang berusaha mengenalkan 12 bidang ilmu kepada pembacanya.

An-Nuqayah mengenalkan: 1) Ilmu Usuluddin; 2) Ilmu Tafsir; 3) Ilmu Hadis; 4) Ilmu Usul Fikih; 5) Ilmu Faraid; 6) Ilmu Nahwu; 7) Ilmu Tashrif; 8) Ilmu Khath; 9) Ilmu Ma’ani; 10) Ilmu Bayan; 11) Ilmu Badi’; dan 12) Ilmu Tasawuf. Pada perkembangannya Imam As-Suyuthi menambahkan 13) Ilmu Kedokteran; dan 14) Ilmu Anatomi.

Baca Juga: Jalaluddin As-Suyuthi: Pemuka Tafsir yang Multitalenta dan Sangat Produktif

D. Mamduh Al-Qahthani, seorang peneliti tentang kajian ilmu tafsir dalam kitab Itmam Ad-Dirayah menemukan infomasi menarik, berdasar informasi tahun lahir Imam As-Suyuthi dan tahun dimana kitab An-Nuqayah di tulis, diperkirakan Imam As-Suyuthi menyusun kitab tersebut pada umur 22 tahun.

Hal ini cukup mengejutkan mengingat kitab yang ditulis di umur yang masih amat muda tersebut, masih menjadi karya penting yang dikaji oleh banyak orang hingga sekarang. Ditambah lagi banyaknya ulama’ yang menggubahnya menjadi syair, memberi syarah sampai memberi hasyiyah (Ilmu At-Tafsir Min An-Nuqayah/11).

Keistimewaan Kitab “Ilmu At-Tafsir”

D. Mamduh Al-Qahthani menyatakan bahwa ulasan ilmu tafsir yang ditulis oleh Imam As-Suyuthi di dalam An-Nuqayah, banyak terpengaruh oleh Mawaqi’ Al-Ulum Fi Mawaqi’ An-Nujum karya Jalaluddin Al-Bulqini (w. 824 H.)

Namun sepertinya Imam As-Suyuthi banyak melakukan modifikasi terhadap kitab Mawaqiul Ulum yang mencakup tambahan keterangan serta kritikan. Selain itu, An-Nuqayah merupakan karya ilmu tafsir yang disusun Imam As-Suyuthi sebelum karya lainnya berjudul Tahbir dan Al-Itqan yang cukup terkenal di bidang ilmu tafsir.

Ini menunjukkan bahwa keterangan ilmu tafsir dalam kitab An-Niqayah merupakan hasil penelitian intensif Imam As-Suyuthi terhadap kajian ilmu tafsir di masanya, sekaligus rintisan awalnya terhadap karya-karyanya dalam bidang ilmu tafsir yang lahir setelah An-Nuqayah.

Bentuk An-Nuqayah yang seperti ini kemudian disempurnakan oleh kitab syarah yang disusunnya sendiri berjudul Itmam Ad-Dirayah, sebelum kemudian kajian tafsir di dalamnya disendirikan menjadi kitab Ilmu At-Tafsir.

Berbagai uraian di atas memberi tahu kita tentang beberapa hal. Di antaranya adalah, bahwa kitab Ilmu At-Tafsir penting untuk dijadikan pertimbangkan sebagai materi dasar pengenal ilmu tafsir kepada para pengkaji ilmu-ilmu keislaman.

Selain itu, kita tidak perlu ragu untuk sekedar mencuplik beberapa keterangan untuk dijadikan materi bahan ajar, seperti inisiatif dari sang penukil dari kitab Ilmu At-Tafsir ini. Wallahu A’lam.

Kajian Semantik Kata Nikmat dalam Al-Quran: Perbedaan Kata An-Ni’mah dan An-Na’im

0
Nikmat dalam Al-Quran
Nikmat dalam Al-Quran

An-Ni’mah dan An-Na’im merupakan dua kosa kata yang kerap digunakan oleh Al-Quran. Kedua kosa kata ini jika ditelusuri dalam kamus-kamus bahasa Arab maka ditemukan bahwa keduanya merupakan kata yang berasal dari maddah al-kalimah (struktur pembentuk kata) yang sama yakni na-‘a-ma dan makna yang sama. Keduanya punya semangat makna yang sama pula yaitu nikmat. Seperti apa spesifikasi nikmat dalam Al-Quran yang dibedakan dalam dua istilah di atas?

Keduanya menunjukkan pada istilah nikmat dalam Al-Quran. Namun apabila keduanya ditelusuri penggunaannya secara spesifik di dalam Al-Quran dengan mempertimbangkan siyaq al-nash (konteks kebahasaan dalam teks) maka dapat dijumpai perbedaan keduanya secara jelas.

Baca Juga: Kajian Semantik: Makna Kata Jannah dalam Al-Qur’an

Nikmat dalam Al-Quran yang disampaikan melalui kata an-ni’mah baik itu berbentuk mufrad ataupun jama’ menurut Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi dalam karyanya al-I’jaz al-Bayani lil Qur’an memiliki arti spesifik yaitu kenikmatan duniawi yang bermacam-macam bentuknya. Kata an-ni’mah sendiri ini juga terdapat di 15 tempat dalam Al-Quran.

Salah satu contohnya pada QS. Al-Muzammil [73]: 11:

وَذَرْنِيْ وَالْمُكَذِّبِيْنَ اُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا

Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar.

Al-Thabari menafsirkan اُولِى النَّعْمَةِ sebagai orang yang memiliki segala kenikmatan hidup di dunia. Berbeda halnya dengan lafad an-na’im yang dalam Al-Quran dipergunakan untuk menunjukkan kenikmatan akhirat dan kebanyakan dipasangkan dengan kata jannah. Kata an-na’im sendiri terulang sebanyak 16 kali dalam Al-Quran. Inilah bagian kedua term tentang nikmat dalam Al-Quran.

Salah satu contohnya dalam QS. Luqman [31]: 8:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتُ النَّعِيْمِۙ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan

Baca Juga: Kajian Semantik Pasangan dalam Al-Quran: Perbedaan Al-Ba‘l dan Al-Zauj

Secara dzahir ayat dapat diketahui bahwa makna an-na’im dalam ayat tersebut menunjuk pada kenikmatan yang didapatkan di surga kelak.

Namun teori tersebut mengalami anomali tatkala menjumpai QS. At-Takatsur [102]: 8:

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).

Dalam Gharib Al-Quran dikatakan bahwa an-na’im dalam ayat tersebut dimaknai sebagai kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada manusia berupa keamanan, keluarga, makanan dan segala jenis kenikmatan dunia lainnya. Maka ayat ini mungkin bisa saja menjadi penggagal dari hipotesis yang menyatakan bahwa kata an-na’im selalu dimakna sebagai kenikmatan ukhrawi dalam Al-Quran.

Namun Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi menyatakan bahwa sejatinya ayat ini jika dicari sirr al-bayan-nya (penjelasan tersirat), maka didapati bahwa kata al-na’im tetap merujuk pada makna kenikmatan ukrawi.

Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang telah tersilaukan dengan kemegahan duniawi, nantinya saat mereka telah melihat neraka Jahim dengan mata kepala mereka sendiri, akan ditanyai tentang apa itu kenikmatan yang haqq (sesungguhnya).

Maka pada saat itu pula mereka juga akan mendapat ilma al-yaqin (pengetahuan yang sebenar-benarnya) bahwa kenikmatan yang sesungguhnya itu ialah kenikmatan akhirat yang telah mereka sia-siakan karena tersilaukan dengan kemegahan dunia.

Baca Juga: Teori Semantik Al-Quran Toshihiko Izutsu dan Kontribusinya dalam Studi Al-Quran

Oleh karena itu meskipun secara umum, kata an-ni’mah dimaknai sebagai kenikmatan dunia yang membuat seseorang melupakan kenikmatan sejati yakni akhirat, namun dari sirr al-bayan yang dijabarkan Bintu Syathi bisa menjadi salah satu referensi menarik bahwa ternyata teorinya bahwa an-na’im selalu dimaknai dengan kenikmatan ukhrawi mungkin tepat.

Sebenarnya upaya untuk menjelaskan perbedaan kosa kata yang sering dianggap memiliki makna yang sama (taraduf) dalam Al-Quran adalah untuk menunjukkan dan meneguhkan aspek al-i’jaz al-balaghy (mukjizat kebahasaan) dalam Al-Quran.

Hal ini juga mencegah terjadinya simplifikasi pemaknaan atau penerjemahan Al-Quran. Di mana dalam tulisan ini dibuktikan bahwa dua kata yang berasal dari maddah al-kalimah yang sama saja, bisa memiliki spesifikasi makna yang berbeda dan tidak bisa dipukul rata pemaknaannya. Wallahu A’lam.

Bacaan Ayat Al-Quran Agar Hubungan Suami Istri Harmonis

0
Keharmonisan Suami Istri
Keharmonisan Suami Istri

Hubungan suami istri yang harmonis adalah impian setiap pasangan, baik yang baru menikah ataupun yang sudah lama menikah. Sebab, dengan keharmonisan suami istri berbagai masalah rumah tangga akan mudah dihadapi secara bersama-sama. Namun pada faktanya, keharmonisan suami istri ini seringkali tidak bisa tercapai karena alasan-alasan tertentu seperti kesibukan, kurangnya komunikasi dan sebagainya.

Ada banyak hal yang mencegah atau merusak keharmonisan suami istri, misalnya – sebagaimana disebutkan dokter Ryan Thamrin (alm) – pertama, rasa jenuh dengan pasangan. Kedua, suasana monoton yang muncul akibat kebersamaan yang cukup lama. Sedangkan faktor ketiga adalah fisik, yakni hilangnya daya tarik terhadap pasangan. Faktor keempat lebih bersifat psikologis yakni komunikasi dengan pasangan.

Dari keempat faktor tersebut, yang paling mendasar dan berbahaya adalah faktor komunikasi. Ada banyak permasalahan rumah tangga yang berawal dari kurangnya komunikasi antara suami istri dan itu seringkali tidak didasari oleh keduanya jika tidak ada tindakan introspeksi. Karena itu, faktor ini kerap dianggap sebagai silent killer (pembunuh diam-diam) terhadap keharmonisan suami istri.

Keharmonisan suami istri sebenarnya merupakan salah satu tujuan berumah tangga dalam Islam. Oleh karenanya, baik suami maupun istri harus berusaha sebaik mungkin untuk mencapai tujuan tersebut. Keduanya tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat mendistorsi atau mereduksi keharmonisan rumah tangga apalagi melakukan sesuatu yang dilarang oleh Agama.

Upaya menjaga kemesraan dan ikatan emosional dengan pasangan, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari hal sederhana, seperti mengucap kata sayang, mendengar keluh kesah pasangan, memberi sentuhan mesra satu sama lain, hingga memuji kelebihan pasangan. Selain itu, suami istri harus terbuka dan menjalin komunikasi yang baik. Karena inilah kunci utama membangun keharmonisan rumah tangga.

Baca Ayat ini Agar Hubungan Suami Istri Harmonis

Selain usaha membangun keharmonisan rumah tangga melalui komunikasi yang baik, interaksi yang berkesan, dan saling mengasihi, kita (umat Islam) juga dapat menambah usaha tersebut dengan berdoa kepada Allah swt agar  Dia memberikan kedamaian, ketenangan dan berbagai kebaikan yang semestinya ada dalam rangka menjaga keharmonisan rumah tangga.

Imam al-Ghazali menyebutkan dalam kitab adz-Dzahabul Ibris bahwa ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai sarana atau washilah doa guna menjaga keharmonisan rumah tangga. Ayat yang dapat dibaca adalah surat adz-Dzariyat [51] ayat 47 untuk suami dan surat adz-Dzariyat [51] ayat 48 untuk istri. Melalui bacaan tersebut diharapkan Allah swt mewujudkan keharmonisan suami istri.

Amalan ini al-Ghazali dapatkan dari kisah Hasan al-Bahsri. Diriwayatkan bahwa ia pernah diadukan mengenai seorang laki-laki yang menikahi perempuan lalu ia berpaling dan tidak mau menggaulinya. Melalui seorang perantara, sang suami serta istri mengadu dan meminta saran kepada beliau agar masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik, tanpa merusak hubungan keduanya.

Mendengar cerita ini, Hasan al-Bashri lantas berkata, “Bawakan kepada saya dua buah telur yang dipanggang.” Dua buah telur lalu diberikan kepada Hasan al-Bashri dan beliau membelah keduanya tepat di tengah-tengah. Beliau kemudian menuliskan pada salah satu telur tersebut surat adz-Dzariyat [51] ayat 47 yang berbunyi:

وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ ٤٧

Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. adz-Dzariyat [51] ayat 47).

Kemudian Hasan al-Bashri memberikan telur itu kepada lelaki (sang suami). Lalu beliau menuliskan pada telur yang lain urat adz-Dzariyat [51] ayat 48 yang berbunyi:

وَالْاَرْضَ فَرَشْنٰهَا فَنِعْمَ الْمٰهِدُوْنَ ٤٨

Dan bumi Kami hamparkan; maka (Kami) sebaik-baik yang telah menghamparkan.” (QS. adz-Dzariyat [51] ayat 48).

Kemudian Hasan al-Bashri memberikan telur terakhir kepada perempuan (sang istri). Beliau meminta kepada keduanya agar memakan kedua telur tersebut. Ketika keduanya memakan terlur itu, Hasan al-Bashri berkata, “Pergilah kalian berdua dan carilah apa yang dicari manusia.” Lantas keduanya pergi dan seolah-olah lepas dari ikatan belenggu. Sehingga keduanya mencapai apa yang mereka inginkan selama ini.

Dari riwayat kisah tersebut, imam al-Ghazali berkesimpulan bahwa bacaan surat adz-Dzariyat [51] ayat 47 untuk suami dan bacaan surat adz-Dzariyat [51] ayat 48 untuk istri dapat membantu keharmonisan rumah tangga. Melalui dua ayat tersebut (sebagai doa), diharapkan Allah swt memberikan ketenangan, kedamaian, dan berbagai kebaikan guna mewujudkan keharmonisan suami istri.

Berdasarkan pemaparan-pemaparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa keharmonisan rumah tangga dapat dicapai melalui berbagai cara. Mulai dari hal sederhana, seperti mengucap kata sayang, mendengar keluh kesah pasangan, memberi sentuhan mesra satu sama lain, hingga memuji kelebihan pasangan. Selain itu, suami istri harus terbuka dan menjalin komunikasi yang baik.

Disamping itu semua, pasangan suami istri harus mengatasi berbagai faktor yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga, seperti rasa bosan, komunikasi yang buruk, egosentris, tindakan kasar, tidak perhatian dan sebagainya. Keduanya juga dapat berdoa kepada Allah swt agar Dia memberikan ketenangan, dan ketentraman dalam segala kondisi serta berbagai kebaikan supaya keduanya bisa harmonis dan langgeng dunia akhirat. Aamiin, wallahu a’lam.