Beranda blog Halaman 514

Ingin Punya Keturunan Yang Saleh? Amalkan 3 Doa Nabi Ibrahim Ini

0
Keturunan yang saleh
Doa Nabi Ibrahim foto: share-quran.com

Mempunyai keturunan yang saleh dan salehah merupakan idaman setiap orang tua. Berbagai daya upaya dilakukan agar bisa mendapatkan keturunan yang saleh dan salehah, mulai berdoa, bertirakat, hingga menyiapkan pendidikan terbaik bagi anak tersebut. Semua ini dilakukan oleh orang tua, karena bagi mereka anak adalah penerus dan pengganti mereka di masa depan yang diharapkan bisa memberikan hal terbaik bagi agama, bangsa dan negara.

Salah satu upaya pertama yang bisa dilakukan oleh orang tua agar mendapatkan keturunan yang saleh adalah melalui perantara doa. Karena ia merupakan senjatanya orang muslim. Maksudnya, doa adalah sarana terpenting bagi muslim untuk menggapai sesuatu yang diidam-idamkan. Dengan doa, secara tidak langsung mereka sudah meminta restu kepada Allah Swt. Doa juga merupakan sebuah harapan dan keyakinan yang mampu membawa mereka kepada tercapainya keinginan tersebut.

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak bentuk ungkapan doa dengan berbagai tujuannya. Sebagian besar doa-doa tersebut dilafalkan oleh para nabi dan orang-orang pilihan menurut Al-Qur’an. Diantara nabi yang diceritakan melakukan doa dalam Al-Qur’an adalah nabi Ibrahim. Melalui doanya, nabi Ibrahim berharap agar anak-anaknya menjadi keturunan yang saleh dan senantiasa taat kepada Allah Swt.

Baca Juga: Doa Untuk Orang Tua dalam Al-Quran dan Tafsir Surat Al-Isra’ [17]: 24

Dari sekian banyak doa nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an, setidaknya ada tiga doa tentang harapan agar mendapatkan keturunan yang saleh. Tiga doa ini bisa dilakukan dan ditiru oleh setiap orang tua muslim, terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan keturunan yang saleh sebagaimana nabi Ibrahim as. Karena meskipun semua doa kebaikan bertujuan dan berposisi sama, namun doa-doa yang ma’tsur (diriwayatkan) baik dalam Al-Qur’an ataupun hadis lebih utama.

  1. Doa agar mendapatkan keturunan yang saleh

Hampir semua muslim mungkin mengetahui bahwa nabi Ibrahim memiliki dua putra, yaitu nabi Ismail dan nabi Ishak. Keduanya terlahir dari rahim ibu yang berbeda, yakni nabi Ismail lahir dari Siti hajar dan nabi Ishak lahir dari Sarah. Namun, tidak banyak orang mengetahui bahwa sebelum kelahiran kedua anaknya tersebut, nabi Ibrahim telah melakukan penantian yang cukup panjang, hingga akhirnya dikaruniai dua anak yang menjadi tokoh sentral bagi umat beragama di Dunia.

Dalam fase penantian tersebut, nabi Ibrahim sering berdoa kepada Allah sebagaimana tercantum dalam QS. As-Saffat [37] ayat 100 yang berbunyi:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠٠

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

Menurut Quraish Shihab, doa ini dilakukan nabi Ibrahim, karena ketika itu beliau tidak menemukan seorang yang dapat beliau andalkan sebagai penerus-kecuali Luth as-maka beliau berdoa tanpa menggunakan panggilan “Ya/wahai” untuk mengisyaratkan kedekatan beliau kepada Allah: “Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk kelompok orang-orangyang saleh. Maka Kami memberinya kabar gembira bahwa dia akan dianugerahi dengan seorang anak yang amat penyantun.” (Tafsir Al-Misbah [13]: 61)

  1. Doa agar diri dan keturunan senantiasa istikamah dalam ketaatan

Doa kedua yang dilakukan nabi Ibrahim dalam upaya agar mendapatkan keturunan yang saleh termuat dalam QS. Ibrahim [14] ayat 40-41:

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ ٤٠ رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ ࣖ ٤١

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”

Doa nabi Ibrahim di atas ditujukan untuk dirinya, keturunannya dan kaum muslim agar diampuni segala dosa mereka dan juga agar mereka semua senantiasa menjaga shalat serta ibadah-ibadah lainnya dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Dengan demikian, mereka semua bisa melewati yaum al-hisab dengan lancar dan bisa masuk ke dalam surga-Nya.

  1. Doa agar diri dan keturunan senantiasa tunduk kepada Allah

Berkenaan hal ini nabi Ibrahim pernah berdoa bersama nabi Ismail ketika melakukan rekonstruksi Ka’bah pasca banjir besar pada masa nabi Nuh sebagaimana termaktub dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 128 yang berbunyi:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ١٢٨

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Tiga doa nabi Ibrahim di atas merupakan doa-doa yang bisa diamalkan oleh setiap orang tua agar keturunannya menjadi orang yang saleh. Namun sebagai catatan, doa hanyalah salah satu sarana diantara sekian banyak sarana untuk mendapatkan keturunan yang saleh. Disamping itu, masih banyak sarana lain yang mesti dilakukan, seperti mendidik, mengajari, menjadi suri tauladan, dan hal-hal lain yang dapat menunjang anak secara positif. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Yunus Ayat 62: Tak Ada Rasa Takut dan Sedih bagi Wali Allah

0
tafsir surat yunus ayat 62
tafsir surat yunus ayat 62

Perasaan takut dan sedih merupakan perasaan yang dapat dialami oleh setiap orang. Apabila mendapatkan sebuah musibah, lazimnya manusia akan merasakan kesedihan. Kemudian apabila seseorang mengharapkan supaya tidak terjadi sesuatu padanya di masa yang akan datang, maka itu dinamakan sebagai orang yang merasakan kekhawatiran atau ketakutan. Namun, hal itu akan berbeda jika kita mencermati tafsir Surat Yunus ayat 62, yang menjelaskan tidak adanya rasa takut dan sedih bagi segolongan orang.

Golongan yang diberikan anugerah oleh Allah Swt. berupa ketiadaan rasa khawatir, takut, dan sedih itu adalah sebagai wali Allah Swt., berikut ini redaksi ayatnya:

أَلَاۤ إِنَّ أَوۡلِیَاۤءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ

“Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Q.S. Yunus (10): 62]


Baca juga: Maryam Binti ‘Imran, Perempuan yang Menjadi Wali Allah


Makna al-Khauf dan al-Huzn

Dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Syekh Ibnu ‘Asyur menjelasaan bahwa makna al-khauf ialah tidak mengharapkan datangnya suatu perkara yang tidak disukai. Adapun al-huzn beliau artikan sebagai emosi, atau hancurnya jiwa sebagai akibat dari terjadinya perkara yang tak tidak diharapkan.

Perbedaan di antara keduanya–menurut Syekh Ibnu ‘Asyur–ialah rasa takut (khauf) itu dijumpai “sebelum” terjadinya perkara. Atau dengan kata lain tidak mengharapkan terjadinya suatu perkara di masa yang akan datang. Sedangkan rasa sedih (huzn) itu dapat dijumpai “setelah” terjadinya suatu perkara, baik atas dasar penyesalan maupun tidak.

Baca juga: Covid-19 dan Kisah Ketakutan Kepada Selain Allah dalam Al Quran

Ketika menafsirkan penggalan ayat “la khaufun ‘alaihim”, Imam Ibnu Katsir memberikan penjelasan bahwa ketakutan yang dimaksud ialah ketakutan mengenai masa depan mereka di akhirat kelak. Sedangkan penggalan ayat “wa la hum yahzanun”, beliau artikan sebagai kesedihan yang diakibatkan dari perilaku di masa lalu, yaitu yang dilakukannya ketika di dunia.

Kapan Rasa Aman dari Keduanya Diperoleh?

Merujuk kitab Hasyiyah as-Shawi, terdapat sepenggal penjelasan terkait ketiadaan rasa khawatir dan sedih bagi para wali Allah, yaitu karena mereka dijaga oleh Allah Swt. Dalam kitab tersebut, Syekh Ahmad bin Muhammad ash-Shawi menuturkan bahwa, para wali Allah itu senantiasa dijaga dari segala hal yang mungkin menyebabkan mereka merasakan ketakutan dan kesedihan di akhirat kelak.

Penafsiran tersebut beliau dasarkan pada hadis Nabi Saw., yang diceritakan oleh Sayyidina Umar bin Khattab r.a., menyangkut keadaan para wali Allah Swt. di akhirat kelak.

لا يَخافونَ إذا خافَ النَّاسُ، ولا يَحزَنونَ إذا حزِنَ النَّاسُ

“Mereka tidak takut tatkala manusia lainnya merasa takut dan tidak sedih tatkala manusia lainnya bersedih.” (H.R. Abu Dawud)

Secara zahir, ketiadaan rasa takut dan sedih itu mungkin saja dapat diperoleh para wali Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi melalui Tafsir Mafatih al-Ghaib, Imam Fakhruddin ar-Razi menajukan dua argumen penolakan terhadap pendapat yang menyebutkan bahwa ketiadaan rasa takut dan rasa sedih bagi para wali dalam surah Yunus ayat 62 ini dianggap berlaku di dunia.

Baca juga: Kisah Teladan Nabi di Bulan Muharram; Nabi Yunus Keluar dari Perut Ikan Paus

Pertama, seseorang tidak mungkin dapat aman dari kekhawatiran dan kesedihan ketika di dunia, karena sebagaimana maklum bahwa dunia merupakan tempatnya kekhawatiran dan kesedihan. Bahkan bagi orang mukmin sekali pun. Argumen ini beliau dasarkan pada hadis Nabi yang menerangkan bahwa dunia merupakan penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Dunia adalah penjara orang yang beriman, dan surganya orang kafir.” (H.R. Muslim)

Kedua, bahwasanya orang beriman, meski pun hidupnya di dunia terlihat tenang, akan tetapi mereka bukan berarti tidak merasakan kesusahan atau kesedihan berkaitan dengan urusan akhiratnya kelak. Kesusahan itu dapat muncul tatkala mereka merasa telah meninggalkan ketaatan pada Allah, meski hanya sesaat. Itulah argumen Syekh Fakhruddin ar-Razi berkaitan dengan pe-nafi-an al-khauf dan al-huzn bagi para wali Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 62.

Apabila kedua argumen di atas dapat menjadi penolak atas pendapat yang menyatakan bahwa ketiadaan rasa takut dan rasa sedih diperoleh para wali Allah di dunia, maka semakin kukuhlah pendapat yang menyatakan bahwa rasa aman dari keduanya dalam surah Yunus ayat 62 hanya berlaku di akhirat kelak. Wallahu a’lam[]

TGB Zainul Majdi: Makna Khalifah dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 30 Tidak Memuat Tendensi Politis

0
Makna Khalifah
Makna Khalifah menurut TGB Zainul Majdi

Q.S. al-Baqarah [2]: 30 digadang-gadang sebagai dalil atas tuntunan mendirikan khilafah oleh sebagian kelompok Islam. Mereka beranggapan bahwa kata “khalifah” memiliki tendensi untuk dimaknai sebagai pemimpin politik dan mengisyaratkan lahirnya sebuah bangunan politik yang disebut khilafah. Argumentasi kelompok pendukung khilafah ini tidak serta merta diterima begitu saja dan justru mendapati banyak kritik. Salah satu kritik mengenai persoalan ini disampaikan oleh TGB Zainul Majdi yang mengulas makna khalifah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 30.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

TGB Zainul Majdi menegaskan bahwa makna khalifah tidak memuat tendensi politis sehingga tidak tepat jika dimaknai bahwa Allah mengangkat Nabi Adam as. sebagai pemimpin politik. Kata “khalifah” dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 30 menurutnya mengandung makna simbolik bahwa manusia (Nabi Adam as. dan anak cucunya) diberikan amanah kepemimpinan di atas bumi yaitu menjaga nilai-nilai yang baik tetap hidup serta mengelola dan memaksimalkan potensi bumi agar senantiasa memberi kemashlahatan bagi yang hidup di dalamnya.

Ia memberikan penjelasan tambahan bahwa banyaknya penafsiran terhadap Q.S. al-Baqarah [2]: 30 oleh para Ulama menyebabkan berlakunya kaidah Ushul Fiqh, idza tatharraqa ilaihi al-ihtimal saqatha bihi al-istidlal (jika suatu ayat memiliki banyak kemungkinan penafsiran maka upaya menjadikannya dalil (tunggal) pun gugur). “jadi ketika suatu ayat sudah beragam penafsirannya maka saqatha bihi al-istidlal, tidak bisa sendirian dijadikan dalil”. Tegasnya.

Dalam konteks kenegaraan (sebab Q.S. al-Baqarah [2]: 30 banyak disetir dalam diskursus politik kenegaraan), TGB Zainul Majdi mengutip pendapat Imam al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Shulthaniyah mengenai tugas seorang pemimpin politik. Imam al-Mawardi menyebut ada sepuluh tugas yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin negara.

Baca Juga: Inilah 4 Karakter Kepemimpinan Transformatif Menurut Al Quran

TGB Zainul Majdi pun menyimpulkan bahwa penyebutan sepuluh tugas itu mengisyaratkan bahwa siapapun pemangku tampuk kepemimpinan dan bagaimanapun bentuk pemerintahannya selama mampu memenuhi kesepuluh tugas itu maka sudah dianggap sesuai dengan tuntunan agama.

Jika ditelaah dari uraiannya mengenai “khalifah”, maka bisa dicermati bahwa TGB Zainul Majdi menginginkan fenomena politisasi ayat tidak terus-menerus terjadi. Ia juga mengharapkan agar umat Islam tidak simplikatif (menggampangkan) dalam menafsirkan al-Qur’an. Sebab al-Qur’an yahtamil al-wujuh yakni memuat ragam penafsiran yang bisa dieksplorasi oleh pengkajinya, maka klaim pembenaran tunggal terhadap suatu penafsiran apalagi didasarkan kepentingan politis tidaklah dibenarkan. Wallahu a’lam.

Takwa dan Tawakkallah, Tips Mencari Rezeki Menurut Al-Quran

0
mencari rezeki
mencari rezeki

Hidup dalam situasi pandemi memang cukup membuat sebagian besar masyarakat resah. Pembatasan akses dan aktivitas kerja yang menjadi kebijakan pemerintah akhirnya berdampak pada kondisi perekonomian masyarakat yang tidak stabil. Akan tetapi Walaupun dalam kondisi yang seperti itu, kita tidak boleh berputus asa, rezeki sudah diatur oleh Allah. Kalau diperhatikan lagi, sebenarnya dalam Al-Quran ada tips yang bisa dijadikan sebagai dasar dalam mencari rezeki.

Di dalam Al-Quran, Allah swt berfirman,

…وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙوَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq:2-3)

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan ayat ini “dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan tuntunan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dari aneka kesulitan hidup – termasuk hidup rumah tangga- yang dihadapinya. Dan memberinya rezeki yakni sebab-sebab perolehan rezeki duniawi dan ukhrawi dari arah yang dia tidak duga sebelumnya. Karena itu jangan khawatir akan menderita atau sengsara karena menaati perintah Allah.”

Quraish Shihab melanjutkan, “dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah setelah upaya maksimal, niscaya Dia, yakni Allah mencukupi keperluannya antara lain ketenangan hidup di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan mencapai urusan yang dikehendaki-Nya sehingga semua tidak akan meleset. Karena Dia-lah penyebab dari segala sebab, jika Dia berkehendak Dia hanya berkata “Jadilah” maka jadilah yang dikehendaki-Nya itu. Sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu ketentuan yang berkaitan dengan kadar ukuran dan waktu untuk masing-masing, sehingga tidak ada yang terlampaui.”


Baca Juga: Covid-19 dan Kisah Ketakutan Kepada Selain Allah dalam Al Quran


Perihal bertakwa dan tawakal, Rasulullah saw. pernah menjelaskan hadis sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir,

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِن نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

dari [Jabir bin Abdullah] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia. Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi rezekinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah yang baik dalam mencari dunia, ambilah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Sunan Ibnu Majah, No. 2144)

Dua hal yang perlu kita perhatikan disini adalah Takwa dan Tawakal.  Allah memerintahkan hamba-Nya untuk  bertakwa karena Rezeki yang telah dikaruniakan oleh-Nya kepada kita, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut,

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

Allah bahkan telah berjanji , bahwa mereka yang bertakwa akan di limpahkan-Nya berkah dari langit dan bumi, yang dalam hal ini tentulah rezeki. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

 “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf:96)

Baca Juga: Ini Dua Potensi yang Dimiliki Manusia dalam Al-Quran

Jadi jelaslah sudah bahwa saat kita bertakwa kepada Allah, yakni menjalankan segala Perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, niscaya jalan untuk mendapatkan rezeki akan dimudahkan oleh-Nya. Inilah yang menjadi pedoman kita dalam berusaha agar tetap selalu menempuh cara yang halal sebagaimana yang telah diatur dalam syariat islam, dan menjauhi hal-hal yang tidak dibenarkan dalam agama, seperti menjual barang haram, riba, dan lain sebagainya.

Di samping itu, kita juga di perintahkan untuk bertawakkal dalam berusaha. Tawakkal tidak berarti semata-mata menyerahkan segalanya kepada Allah tanpa dibarengi dengan usaha dan kerja keras. Melainkan Tawakkal dilakukan setelah berusaha secara maksimal sampai batas kemampuan yang dimiliki, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.  Sebagaimana diceritakan dalam hadits Nabi sebagai berikut,

“…Anas bin Malik berkata : ada seorang yang  bertanya “wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? Beliau menjawab, “ Ikatlah untamu terlebih dahulu, baru kemudian bertawakkal…”. (HR. At-Tirmidzi, No. 2441)

Dalam hadits lain, sebagaimana yang dikutip Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, Rasulullah Saw bersabda; “Seandainya kalian bertawakkal dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki sebagaimana Allah memberikan pada seekor burung, pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, dan kembali ke sangkarnya pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

Jadi Kesimpulannya, Allah-lah yang mengatur rezeki setiap hamba-Nya. Tugas manusia hanya berusaha secara maksimal lalu menyerahkan hasil usaha tersebut kepada Allah yang Maha Kuasa, dan dalam usaha mencari rezeki dan karunia-Nya itu,  kita tetap bersikap takwa, yakni berusaha pada jalur yang benar dan harus menjauhi apa yang tidak sesuai ketentuan syariat agama islam. Dengan demikian, insyaAllah Rezeki akan mudah kita dapatkan dan juga akan menuai barokah dalam pemanfaatannya bagi kehidupan.

Wallahu A’lam

Beginilah Seharusnya Memaknai Bacaan Bismillah

0
bismillah
bismillah

Sebagai ayat pertama dari Surat Al-Fatihah, bismillah adalah ayat Al-Quran yang bisa jadi yang paling sering dibaca oleh setiap orang muslim. Bagaimana tidak, bismillah adalah bacaan yang diajarkan kepada umat muslim untuk dibaca setiap hendak melakukan hal baik. Hal ini diketahui secara umum. Maka mulai sejak masih usia balita bahkan, tradisi mengajari anak untuk membaca basmallah sebelum makan maupun minum, sudah ada.

Sayangnya, menjadikan bismillah sebagai bagian rutinitas sehari-hari, seakan mendangkalkan perhatian pembacanya terhadap makna basmalah. Bismillah hanya difahami sekedar sesuatu yang penting dibaca saja. Bukan dihadirkan maknanya dalam setiap hal yang diawali bacaan basmalah.

Adapula yang hanya sekedar mengerti bahwa makna dari bismillah adalah “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Namun dengan mengetahui makna tersebut, ia kebingungan apa tindak lanjutnya terhadap makna itu. Misalnya, bukankah makna “dengan menyebut” menunjukkan kata tersebut dalam tata bahasa adalah kata keterangan, atau lebih tepatnya keterangan alat. Lalu bagaimanakah seharusnya kita memaknai bacaan bismillah?

Baca juga: Mengaji ‘Bismillah’ [1], tuntunan Allah yang mentradisi di kalangan para Nabi

Membangun Komunikasi dengan Allah

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, dalam bismillah ada kata kerja yang disamarkan. Kata kerja ini berbeda-beda bergantung dengan pekerjaan yang hendak dilakukan dengan diawali basmallah. Minum dengan bismillah berarti menunjukkan makna basmalahnya adalah: “Aku minum dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bekerja dengan basmallah berarti menunjukkan makna bismillahnya adalah: “Aku bekerja dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Tafsir Ibn Katsir/1/121).

Makna-makna ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang hendak dilakukan dan disertai basmallah di depannya, dikaitkan dengan nama Allah. Keterkaitan ini, menurut Ibn Katsir, berbentuk tabaruk (berharap memperoleh kebaikan) serta isti’anah (meminta pertolongan kepada allah) agar perkerjaan yang dilakukan dapat sempurna dan diterima oleh Allah (Tafsir Ibn Katsir/1/121).

Baca juga: Tafsir Bismillah (2): Permulaan dari Banyak Doa

Memandang keterkaitan ini, minum dengan basmallah semisal, menunjukkan makna basmalahnya adalah: “Aku minum dan berharap bertambahnya kebaikan dalam minumanku atau tindakan minumku. Atau, aku minum dan berharap semoga air yang aku minum atau tindakan minumku memperoleh kesempurnaan berupa memberi kesegaran serta kesehatan pada tubuh, serta diterima Allah sebagai amal ibadah. Semuanya berkat kekuasaan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Menyadari Segala Sifat Allah dalam Setiap Tindakan

Keberadaan tabaruk dan isti’anah di sini bila difahami secara mendalam, berarti hendak membangun komunikasi antara apa yang kita kerjakan dengan Allah sebagai tuhan. Komunikasi tersebut berupa menghadirkan keberadaan Tuhan dalam hati, diantara berjubalnya pikiran dengan apa yang hendak ia lakukan. Semisal hendak makan, maka basmallah menghadirkan Allah diantara pikiran-pikiran semacam hendak beli bahan makanan dimana? hendak memasak apa? hendak makan dengan siapa? serta ide-ide lain yang biasa terlintas di pikiran manusia tatkala makan.

Baca juga: Mengapa Surat At-Taubah Tanpa Basmalah? Begini Penjelasannya Dalam Tafsir Al-Mishbah

Imam Ar-Razi menjelaskan, memperdengarkan basmallah pada diri menghadirkan kesadaran pada akal, bahwa manusia dalam menjauhi larangan Allah serta melaksanakan perintah-Nya semuanya memperoleh kekuatan dari Allah (Tafsir Mafatihul Ghaib/1/185). Artinya, manusia menjadi sadar bahwa pada dasarnya manusia tidak memiliki kemampuan apa. Kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki manusia adalah pemberian dari Allah. Ini sama saja menghadirkan adanya sifat Allah dalam pekerjaan yang dilakukan. Kesadaran tersebut dapat dibagi dalam beberapa tahap.

Di tahap pertama, Allah bersifat kuasa dan Maha Memberi Rizki dalam memberi kita kesempatan melakukan  pekerjaan  minum semisal, disaat ada orang lain yang tidak bisa minum sebab tidak memiliki air, atau sakit sehingga tidak bisa menggerakkan bibir atau tangan untuk minum. Di tahap kedua Allah bersifat kuasa dalam memberi kita kesempatan menyelesaikan pekerjaan kita, di saat ada orang yang diberi kesempatan mengolahnya sawahnya semisal, tapi harus berhenti di tengah-tengah sebab ia jatuh sakit. Di tahap ketiga, Allah bersifat kuasa dalam menentukan apakah pekerjaan kita membuahkan hasil atau tidak.

Kesadaran-kesadaran tersebut mendorong kita untuk bersyukur kepada Allah pada setiap detail kesempatan yang diberikan Allah kepada kita. Di sisi lain, karena berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan bergantung kehendak Allah, hal ini mengajarkan untuk tidak putus asa atau bahkan frustasi terhadap setiap kegagalan. Terlebih saat menyadari bahwa Allah maha memberi rizki dan jalan rizki-Nya tidak hanya lewat pekerjaan yang saat itu ia lakukan saja. Namun bisa lewat jalan lain, atau rupa lain yang berbeda dari yang sebelumnya kita bayangkan. Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al Maidah Ayat 46-48

0
tafsir surat al ma'idah
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al Maidah Ayat 46-48 membahas tentang peralihan dari syariat Nabi Musa as dalam taurat kepada syariat Nabi Musa as dalam Injil. Peralihan ini tentunya tetap sesuai konteks umat masa itu. Namun demikian tetap saja masih ada sebagian dari umat itu yang mengingkari.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 44-45


Tafsir Surat Al Maidah Ayat 46-48 pun berisi perintah untuk mematuhi segala yang termaktub dalam Injil dan dilarang untuk mengingkarinya. Seperti kabar tentang adanya nabi yang menjadi penutup para nabi dan rasul serta perintah untuk mematuhi kitab yang dibawa olehnya (Nabi Muhammad saw). Semuanya termaktub jelas dalam Injil.

Pembahasan dalam Tafsir Surat Al Maidah Ayat 46-48 ini ditutup dengan anjuran untuk mengamalkan apa yang termaktub dalam Alquran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan di kemudian hari siapaun yang mengingkari Alquran akan mempertanggung jawabkan pilihannya masing-masing.

Ayat 46

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sesudah berakhir masa nabi-nabi penganut dan pelaksana isi Taurat, maka diutuslah Nabi Isa putra Maryam mengikuti jejak nabi-nabi Bani Israil terdahulu, melaksanakan Taurat yang telah diturunkan sebelumnya.

Kemudian diturunkan Injil kepada Nabi Isa yang menyempurnakan isi Taurat yang telah berakhir masa berlakunya, disesuaikan dengan situasi dan kondisi umat dan masyarakatnya. Kitab Injil itu berisi petunjuk, dan merupakan cahaya yang menerangi umatnya, sehingga mereka dapat melihat jalan yang benar yang membahagiakan mereka.

Injil membenarkan kitab samawi sebelumnya, yaitu Taurat yang mengandung nilai-nilai yang dapat menyelamatkan umatnya dari kesesatan dalam akidah dan amal perbuatan, seperti tauhid memberantas syirik dan berhala yang menjadi sumber khurafat dan kebatilan.

Injil berisi petunjuk dan pengajaran, misalnya ajaran yang memberitahukan bahwa akan muncul seorang nabi (Perjanjian Baru, Yohanes xiv.16, xv. 26 dan xvi.7. lihat juga tafsir atas as-Saff/61:6), yang mempunyai sifat-sifat mulia, syariatnya lebih sempurna dan bersifat universal (menyeluruh) tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Dia adalah nabi penutup dan rasul terakhir. Tetapi petunjuk dan pengajaran ini semua tidak ada yang dapat memanfaatkannya kecuali orang-orang yang bertakwa.


Baca juga: Inilah Rambu-Rambu Toleransi Beragama Menurut Al-Quran: Perbedaan Adalah Keniscayaan


Ayat 47

Dalam ayat ini dengan tandas Allah memerintahkan pengikut Kitab Injil, yaitu penganut syariat Nabi Isa, supaya melaksanakan isi kitab Injil sampai datangnya nabi dan rasul penutup dari bangsa Arab, agar mereka menghukum sesuai dengan apa yang telah diturunkan Allah di dalamnya, tidak diselewengkan dan tidak ditafsirkan dengan keinginan hawa nafsunya, seperti halnya penganut syariat Nabi Musa.

Sekalipun demikian, tidak sedikit dari mereka yang tidak patuh, menyelewengkan makna dan pengertiannya. Mereka mengubah dan menyesuaikan dengan kehendak pemimpin-pemimpinnya, sehingga Kitab Injil yang asli yang benar-benar samawi tidak diketahui lagi di mana adanya. Mereka itu adalah orang-orang fasik karena tidak lagi menghukum dan memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah.

Ayat 48

Setelah menerangkan bahwa Taurat telah diturunkan kepada Nabi Musa, dan kitab Injil telah diturunkan pula kepada Nabi Isa dan agar kedua kitab tersebut ditaati dan diamalkan oleh para penganutnya masing-masing. Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menurunkan Alquran kepada Nabi dan Rasul terakhir Muhammad saw. Alquran adalah Kitab Samawi terakhir yang membawa kebenaran, mencakup isi dan membenarkan Kitab suci sebelumnya seperti Taurat dan Injil. Alquran adalah kitab yang terpelihara dengan baik, sehingga ia tidak akan mengalami perubahan dan pemalsuan. Firman Allah menegaskan:

لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ ۗتَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ

(yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji. (Fussilat/41:42).

Alquran adalah kitab suci yang menjamin syariat yang murni sebelumnya, dan kitab suci yang berlaku sejak diturunkannya sampai hari kemudian. Oleh karena itu, wajib menghukumkan dan memutuskan perkara anak manusia sesuai dengan hukum yang telah diturunkan Allah, yang telah terdapat di dalam Alquran. Bukanlah pada tempatnya menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsu mereka yang bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Tiap-tiap umat diberi syariat (peraturan-peraturan khusus), dan diwajibkan kepada mereka melaksanakannya, dan juga mereka telah diberi jalan dan petunjuk yang harus dilaksanakan untuk membersihkan diri dan menyucikan batin mereka. Syariat setiap umat dan jalan yang harus ditempuh boleh saja berubah-ubah dan bermacam-macam, tetapi dasar dan landasan agama samawi hanyalah satu, yaitu tauhid.

Taurat, Injil, dan Alquran, masing-masing mempunyai syariat tersendiri, yang berisi ketentuan-ketentuan hukum halal dan haram, sesuai dengan kehendak-Nya untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak. Firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad),  melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (al-Anbiya’/21:25).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan),” Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut.” (an-Nahl/16:36).

Sekiranya Allah menghendaki, tentulah Dia dapat menjadikan semua manusia hanya dengan satu syariat dan satu macam jalan yang akan ditempuh dan diamalkan mereka sehingga dari zaman ke zaman tidak ada peningkatan dan kemajuan, seperti halnya burung atau lebah, kehendak Allah tentu akan terlaksana dan tidak ada kesulitan sedikit pun, karena Allah kuasa atas segala sesuatu.

Tetapi yang demikian itu tidak dikehendaki oleh-Nya. Allah menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat mempergunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya.

Demikianlah Allah menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri, untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam kitab samawi-Nya, untuk diberi pahala atau disiksa.

Oleh karena itu seharusnyalah manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal saleh, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh nabi penutup rasul terakhir Muhammad saw. Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya, untuk kepentingan dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan kembali kepada Allah memenuhi panggilan-Nya ke alam baka. Di sanalah nanti Allah akan memberitahukan segala sesuatu tentang hakikat yang diperselisihkan mereka. Orang yang benar-benar beriman akan diberi pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng tanpa alasan dan bukti, akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.

Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 49-51

(Tafsir Kemenag)

Mushaf Pangeran Diponegoro, Bagaimana Kondisinya Sekarang?

0
Mushaf Pangeran Diponegoro
Mushaf Pangeran Diponegoro

Nama besar Pangeran Diponegoro tentu membawa kita pada peristiwa Perang Jawa 1825-1830. Sisi kepahlawanan Pangeran Dponegoro tentu sangat familiar dengan kita. Namun kali ini kita tidak sedang menggali kisah perjuangan itu belaka, melainkan fokus pada mushaf Al Qur’an yang dinisbatkan pada nama sang pangeran, yakni Mushaf Pangeran Diponegoro.

Mushaf Pangeran Diponegoro saat ini berada di Pondok Pesantren Nurul Falah Menoreh, Salaman, Magelang, Jawa Tengah. Sebelum disimpan di sini, manuskrip Al Qur’an ini ditemukan oleh KH. Achmad Nur Shodiq dengan kondisi sudah tidak terawat di Langgar Agung Pangeran Diponegoro, yang lokasinya tidak jauh dari pesantren.


Baca juga: Pengumpulan Al-Quran dan Kisah Diskusi Alot Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit


Tentu kita bertanya-tanya, apakah mushaf itu benar-benar tulisan Pangeran Diponegoro atau bukan? Lalu bagaimana ceritanya,  mushaf itu bisa ada disebut mushaf Pangeran Diponegoro? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa membedah hasil penelitian Hanifatul Hasna di Jurnal Hermeneutika dengan judul “Karakteristik Manuskrip Al-Qur’an Pangeran Diponegoro: Telaah Atas Khazanah Islam Era Perang Jawa”.

Alkisah, pada pertengahan Juli 1825, Pangeran Diponegoro mengumpulkan 1500 warga Tegalrejo guna melakukan perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan ini dipicu atas kelancangan pihak Belanda yang melakukan perbaikan jalan-jalan kecil, namun melewati batas pagar di Timur Tegalrejo. Karena gesekan-gesekan seperti ini, peperangan pun terjadi semakin besar yang kelak kita kenal sebagai perang Jawa.

Tentu perlawanan masyarakat Jawa tidak membuat Belanda diam ataupun jera. Mereka justru melakukan pengepungan dan membakar kediaman Pangeran Diponegoro. Akhirnya Pangeran Diponegoro pergi ke gua Selarong Bantul sebagai markasnya. Setelah berhasil lolos, Pangeran Diponegoro pindah ke Menoreh, karena dianggap strategis untuk latihan perang.

Di Menoreh inilah, sang pangeran singgah selama dua minggu dan melakukan ritual ibadah dan mujahadah di Langgar Agung. Tempat inilah yang kemudian menjadi situs ditemukannya manuskrip Al Qur’an itu. Tercatat bahwa Pangeran Diponegoro berada di Menoreh dari tanggal 21 Februari sampai 7 Maret 1830.

Melihat dari waktu persinggahan yang begitu singkat, tentu tidak mungkin bagi Pangeran untuk menulis sebuah mushaf Al Qur’an. Apalagi kondisi saat itu perang masih berlangsung. Lantas, tulisan siapa sebenarnya mushaf ini?


Baca juga: Mana yang Lebih Utama, Membaca Al-Quran dengan Hafalan atau dengan Melihat Mushaf?


Naskah Mushaf Pangeran Diponegoro

Manuskrip mushaf Pangeran Diponegoro ditemukan bersamaan dengan manuskrip kitab Ushul Fiqh di Langgar Agung. Teks mushaf ini masih dalam keadaan utuh dan terbaca sangat jelas. Namun kondisi naskahnya rentan rusak karena factor usia.  Ditambah lagi, beberapa lembar di bagian awal -akhir manuskrip ini sudah mulai rusak dan sobek.

Mushaf Pangeran Diponegoro berukuran 32 x 21 cm dan tebalnya 7 cm. Total halaman keseluruhan manuskrip ini 848 halaman. Jumlah halaman di setiap juz-nya tidak konsisten. Tidak seperti mushaf cetak dengan waqaf sudut yang konsisten jumlah halamannya. Nampaknya sampul manuskrip ini terdapat hiasan atau tulisan tertentu, namun sudah mulai memudar sehingga tidak dapat dilihat secara jelas.

Perihal iluminasi, mushaf ini menunjukkan identitasnya sebagai mushaf bangsawan/elite. Hal ini terlihat dari meriahnya ornamen yang ditampilkan di bagian awal, tengah dan akhir mushaf. Tiap iluminasi yang ditampilkan terdiri dari tiga lapis, dengan keunikan khas gaya iluminasi Jawa. Kekhasan ini tampak dari pola segitiga yang berada di luar lapisan pertama dan kedua. Dalam khazanah iluminasi Nusantara, sebenarnya gaya iluminasi Jawa sangatlah beragam, namun pola segitiga selalu menjadi ciri khasnya.


Baca juga: Salim Fachry: Sang Penulis Mushaf Al-Quran Kenegaraan Pertama


Adapun penulisan nama surat dan jumlah ayatnya ditulis dengan pola kaligrafi floral. Sebuah teknik penulisan huruf-huruf Arab yang menyatukan dengan figur tumbuhan. Iluminasi di mushaf ini menggunakan tinta emas, hitam, merah, dan putih. Bisa disebut, pola mushaf Pangeran Diponegoro ini mirip dengan mushaf kuno Puro Pakualaman, koleksi perpustakaan Widyapustaka Puro Pakualaman Yogyakarta.

Kertas yang digunakan oleh mushaf Pangeran Diponegoro ini terdapat garis-garis halus rapi, yang menyiratkan hasil olahan pabrik. Ini juga berbeda dengan manuskrip mushaf kuno sederhana yang menggunakan kertas daluwang dari tanaman saeh.

Dari sisi kaligrafi dan iluminasi, manuskrip ini digarap oleh dua orang yang berbeda. Satu orang fokus pada ayatnya, satu lagi pada iluminasinya. Menurut keterangan KH. Achmad Nur Sodiq, mushaf ini ditulis oleh Kyai Abdul Aziz Wonosobo salah satu murid Pangeran Diponegoro atas perintah sang pangeran.

Tentu, keterangan terkait karakteristik dan spesifikasi teks dalam mushaf Pangeran Diponegoro perlu dibahas lebih lanjut. Tulisan ini dapat disimpulkan bahwa mushaf ini dibuat oleh murid pangeran, yang saat bersinggah selama dua minggu di Menoreh digunakan untuk beribadah.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Tafsir Surat Al Maidah Ayat 44-45

0
tafsir surat al ma'idah
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al Maidah Ayat 44-45 menyambung pembahasan sebelumnya yang berbicara tentang penyelewengan sesuatu yang ada dalam Taurat. Pada pembahasan ini memberitahu apa sebenarnya yang ada dalam kitab Taurat dan bagaimana harus diamalkan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 41-43


Tafsir Surat Al Maidah Ayat 44-45 ini juga dibahas tentang kekeliruan bersikap yang seharusnya lebih menaati Nabi Muhammad saw namun lebih memilih mengikuti pembesar-pembesar mereka yang sudah nyata-nyata menyesesatkan.

Pada akhir pembasahan Tafsir Surat Al Maidah Ayat 44-45 dikemukakan contoh hukum yang ada di dalam Taurat. Semisal hukuman membunuh bagi pembunuh yang melakukan pembunuhannya secara zalim. Namun begitu tetap saja mereka tidak mematuhinya.

Ayat 44

Kitab Taurat yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa, berisi bimbingan dan petunjuk bagi manusia kepada yang hak, sehingga mereka dapat keluar dan selamat dari kesesatan dan penyembahan berhala, dan juga merupakan cahaya yang menerangi hal-hal yang masih samar-samar ataupun yang masih gelap bagi mereka, sehingga mereka dapat melihat jalan yang benar, baik dalam urusan agama, maupun duniawi.

Kitab Taurat menjadi petunjuk bagi nabi-nabi yang telah menyerahkan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan, yaitu Nabi Musa dan nabi-nabi dari Bani Israil sesudahnya, sampai kepada Nabi Isa. Kitab ini telah digunakan untuk memutuskan perkara orang-orang Yahudi saja, karena memang Taurat itu diturunkan khusus untuk orang-orang Yahudi.

Begitu juga tokoh-tokoh dan pendeta-pendeta mereka, telah menggunakan Taurat itu sebagai undang-undang di kala tidak ada nabi bersama mereka, karena mereka itu semua telah diperintahkan Allah supaya memelihara kitab Taurat, dan menjadi saksi serta bertanggung jawab atas pelaksanaannya.

Jangan sampai mereka menyelewengkan hukum-hukum yang ada di dalamnya, dan menyembunyikan karena bertentangan dengan keinginan hawa nafsu mereka, atau karena takut kepada pembesarnya sehingga tidak berani menegakkan hukum terhadap mereka, seakan-akan mereka itu lebih takut kepada sesama manusia daripada kepada Allah.

Lain halnya dengan Abdullah bin Salam yang hidup sampai masa al-Khulafa ar-Rasyidµn. Dia seorang Yahudi yang benar-benar menegakkan hukum Allah, sehingga mengakibatkan orang lain benci dan tidak senang kepadanya. Dia menegakkan hukum rajam kepada siapa saja yang harus dihukum karena perbuatan zina, sekalipun kepada pemimpin atau pembesar mereka.

Jangan sampai mereka tidak menyebarkan dan tidak menjelaskan hukum-hukum itu karena keuntungan dunia atau keuntungan yang diterimanya dari orang-orang yang berkepentingan, misalnya uang sogok, atau pangkat yang dijanjikan kepadanya, karena semuanya ini tidak ada arti dan nilainya jika dibandingkan dengan pahala yang akan mereka peroleh di akhirat, Firman Allah:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ    ٨٨  اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ   ٨٩

”(Yaitu) di hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (asy Syu’ara/26: 88 dan 89).

Barang siapa menghukum atau memutuskan suatu perkara tidak sesuai dengan hukum Allah, seperti halnya orang-orang Yahudi yang menyembunyikan hukum rajam terhadap orang berzina yang bersuami atau beristri dan menggantinya dengan hukuman dera dan menghitamkan mukanya, lalu diarak berkeliling supaya disaksikan oleh masyarakat, dan lain-lainnya, berarti mereka melakukan penyelewengan hukum. Ketahuilah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang ingkar.


Baca juga: Tafsir Tarbawi: Belajar Semangat Menuntut Ilmu dari Nabi Musa AS


Ayat 45

Di dalam Taurat, telah ditetapkan bahwa nyawa harus dibayar dengan nyawa. Orang yang membunuh tidak dengan alasan yang benar dia harus dibunuh pula dengan tidak memandang siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh. (Keluaran xxi. 24-25: “harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak…”). Hukuman hampir serupa terdapat juga dalam Imamat xxiv. dan Ulangan xix.21.

Sekalipun penetapan dan ketentuan tersebut, diketahui oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi, namun mereka tetap tidak mau menjalankan dan melaksanakannya. Mereka tetap memandang adanya perbedaan derajat dan strata di dalam masyarakat. Mereka menganggap bahwa golongan Yahudi Bani Nadir lebih tinggi derajat dan kedudukannya dari golongan Yahudi Bani Quraizah, dan golongan Bani Quraizah kedudukannya lebih rendah dibanding dengan kedudukan golongan Bani Nadir.

Sehingga apabila seorang dari golongan Bani Nadir membunuh seorang dari golongan Bani Quraizah dia tidak dibunuh, karena dianggap tidak sederajat. Tetapi kalau terjadi sebaliknya yaitu seorang dari Bani Quraizah membunuh seorang Bani Nadir, maka dia harus dibunuh. Hal ini dan semacamnya, yang merupakan pembangkangan dan penolakan terhadap bimbingan, petunjuk dan hukum-hukum Allah yang ada di dalam Kitab Taurat berjalan terus sampai datangnya agama Islam.

Setelah itu Bani Quraizah mengadukan adanya perbedaan kelas di dalam masyarakat mereka, kepada Nabi Muhammad, oleh beliau diputuskan bahwa tidak ada perbedaan antara si A dan si B antara golongan Anu dan golongan Fulan, di dalam penerapan hukum. Hukum tidak memandang bulu, semua orang harus diperlakukan sama. Mendengar keputusan Rasulullah saw ini, golongan Bani Nadir rnerasa diturunkan derajatnya karena telah dipersamakan dengan golongan Bani Quraizah, orang yang mereka anggap rendah. Maka turunlah ayat ini.

Dalam ayat ini Allah menegaskan kembali bahwa di dalam Taurat telah digariskan suatu ketetapan bahwa jiwa harus dibayar dengan jiwa sama dengan hukum kisas yang berlaku dalam syariat Islam. Pembunuh yang telah akil balig bila ia membunuh sesama Islam dan sama-sama merdeka, maka pembunuh tersebut baik seorang maupun beberapa orang harus dikenakan hukuman bunuh. Kecuali bagi orang gila yang benar-benar rusak akalnya, orang yang sedang tidur sampai dia bangun, dan anak kecil sampai dia balig, bila mereka membunuh tidak dikenakan hukuman kisas sesuai dengan sabda Nabi saw:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَقْلُوْبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

(رواه احمد وابو داود عن الحاكم و عمر بن الخطاب)

“Qalam telah diangkat dari tiga macam orang (artinya mereka tidak diperlakukan sebagai orang-orang mukallaf) yaitu orang-orang gila yang benar-benar telah rusak akalnya, sampai ia sembuh, orang yang tidur, sampai ia bangun, dan anak-anak sampai ia balig.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dari al-Hakim dan Umar bin al-Khattab).

Selanjutnya orang yang mencukil mata atau memotong hidung atau telinga atau mencabut gigi orang lain, maka dia wajib dikenakan hukuman kisas, ditindak sesuai dengan perbuatannya, sesuai dengan firman Allah:

فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ

“Barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah dia yang seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (al-Baqarah/2:194).

Begitupun melukai orang ada kisasnya. Orang yang melukai orang lain, dia pun harus dilukai pula sama dengan luka yang diperbuatnya baik mengenai lebar maupun dalamnya, sebagaimana firman Allah:

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖ

“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (an Nahl/16:126).

Barang siapa melepaskan hak kisasnya dengan penuh kerelaan, dan memaafkan si pelaku sehingga tidak jadi dikisas, itu menjadi penebus dosa bagi yang memaafkan. Orang yang dibebaskan dari hukum kisas karena dimaafkan oleh pihak keluarga orang yang terbunuh, tidaklah berarti dia telah bebas dari hukuman seluruhnya, tetapi dia masih dikenakan hukuman diat (ganti rugi), sebagaimana sabda Nabi saw.:

عَنْ اَبِيْ عَمْرٍو, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَتَلَ مُتَعَمِّدًا رُفِعَ اِلَى أَوْلِيَاءِ الْمَقْتُوْلِ فَاِنْ شَاءُوْا قَتَلُوْا وَاِنْ شَاءُوْا اَخَذُوا الدِّيَةَ

(رواه الترمذي)

Dari Abu Amr, Rasulullah Saw bersabda, “Barang Siapa membunuh dengan sengaja, maka putusannya diserahkan kepada ahli waris orang yang dibunuh. Kalau mereka mau (mengkisas) mereka dapat membunuhnya, dan apabila mereka mau (membebaskannya dari kisas) maka mereka berhak menerima diat (ganti rugi).” (Riwayat at-Tirmizi).

Barang siapa tidak menjalankan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, yaitu kisas yang didasarkan atas keadilan, melainkan mempergunakan hukum sekehendak hatinya, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim, karena melanggar hukum Allah dan menganggap pihak yang dibunuh atau dianiaya itu adalah golongan rendah, tidak sederajat dengan pihak yang membunuh atau yang menganiaya.

Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 46-48

(Tafsir Kemenag)

Inilah Enam Makna Doa dalam Al-Quran

0
makna doa dalam Al-Quran
makna doa dalam Al-Quran

Setiap manusia pasti memiliki hajat (keinginan) atau kebutuhan untuk memiliki sesuatu. Keinginan yang ia sampaikan kepada seseorang atau kepada Allah swt, itulah yang dinamakan doa. Secara keseluruhan, kata doa dalam Al-Quran dan derivasinya terulang sebanyak 213 kali dalam 55 surat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kata doa merupakan kosa kata yang populer dan menunjukkan bahwa manusia membutuhkan sandaran kepada Allah swt (ihtiyaju lighairihi).

Doa secara bahasa berasal dari kata da’a – yad’u – du’aan, artinya seruan, panggilan, permintaan, dan permohonan. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan, kata ad-du’a adalah bentuk mashdar dari kata kerja (fi’il) da’a, yad’u, du’a yang berarti ibadah, memohon bantuan dan pertolongan. Sedangkan menurut istilah, para ulama berbeda-beda dalam menafsirkannya. Al-Qadhi Iyadh misalnya, ia mendefinisikan doa sebagai ibadah yang hakiki karena menunjukkan kepasrahan diri kepada Allah swt dan berpaling selain dari-Nya.

Adapun at-Thabari dalam Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Ayil Qur’an memaknai doa dengan segala bentuk amal yang diperintahkan oleh Allah, baik yang bersifat sunnah maupun wajib. Penafsiran berbeda juga dituturkan oleh Quraish Shihab, menurutnya doa merupakan bentuk permintaan yang ditujukan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan dan kemampuan tinggi, yang melebihi kedudukan dan kemampuan dirinya.

Baca juga: Doa Nabi Zakaria dan Tafsir Ali Imran [3]: 38

Enam Makna Doa dalam Al Quran

As-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an menyebutkan kata doa memiliki enam makna. Enam makna itu ialah ibadah, meminta bantuan, permohonan, ucapan, panggilan, dan memberi nama. Berikut penjelasannya.

Doa bermakna Ibadah

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ

Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (Q.S. Yunus [10]: 106)

Muhammad ‘Ali as-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menafsirkan ayat di atas sebagai bentuk ta’kidan lin nahy (memperkuat larangan). Gunanya, untuk sekali-kali tidak menyembah selain Allah swt, yaitu sesuatu yang tidak memberi manfaat maupun madharat. Misalnya, berhala dan arca.

Adapun ayat-ayat Al Quran yang masuk dalam kategori bermakna ibadah, di antaranya Q.S. Al-An’am [6]: 71, Q.S. Al-Qasas [28]: 88, Q.S. Al-Furqan [25]: 68 dan 77, dan Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 42.

Baca juga: Doa Untuk Orang Tua dalam Al-Quran dan Tafsir Surat Al-Isra’ [17]: 24Doa Sapu Jagat dan Tafsir Surah al-Baqarah [2]: 201Doa Al-Quran: Doa Taubat NasuhaMerasa Diganggu Setan? Amalkan Doa Ayat KursiDoa Al-Quran: Doa Agar Diringankan Dari Beban Kehidupan

Doa bermakna Meminta Bantuan

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan jika kamu meragukan (Al-Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 23)

Quraish Shibab menafsirkan redaksi wad’u syuhadaakum dengan makna ajaklah penolong-penolong kalian yang dapat membantu menyusun satu surah. Atau pun hasil karya kalian semisal dengan satu surah dalam Al-Quran. Kata wad’u di sini bermakna meminta bantuan.

Doa bermakna Permohonan

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Gafir [40]: 60)

Dijelaskan dalam Shafwah al-Tafasir karya ‘Ali as-Shabuni, yang dimaksud dengan redaksi ud’uni astajib lakum adalah berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan apa yang kalian minta dan aku beri apa yang kalian mohonkan. Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskan dengan mengutip sabda Rasul saw, man lam yad’ullahu ‘azza wa jalla, ghadaba ‘alaih (barang siapa yang berdoa selain kepada Allah swt, maka Allah murka kepadanya).

Doa bermakna Ucapan

دَعْوٰىهُمْ فِيْهَا سُبْحٰنَكَ اللّٰهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلٰمٌۚ وَاٰخِرُ دَعْوٰىهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Doa mereka di dalamnya ialah, “Subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami), dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam” (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, “Al-hamdu lillahi Rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam). (Q.S. Yunus [10]: 10)

Hasbi as-Shiddieqiy dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur menuturkan bahwa orang-orang mukmin di dalam surga selalu mengawali doa dan pujian kepada Allah dengan ucapan “subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau Ya Tuhan kami). Adapun penghormatan mereka di surga dengan ucapan “salam” yang bermakna kesejahteraan dan hal itu pula penghormatan (tahiyyah) orang-orang mukmin ketika di dunia.

Doa bermakna Panggilan (Nida’)

يَوْمَ يَدْعُوْكُمْ فَتَسْتَجِيْبُوْنَ بِحَمْدِهٖ وَتَظُنُّوْنَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا

Yaitu pada hari (ketika) Dia memanggil kamu, dan kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, (rasanya) hanya sebentar saja kamu berdiam (di dalam kubur). (Q.S. Al-Isra’ [17]: 52)

Ayat di atas menjelaskan tentang kondisi manusia tatkala di hari kiamat nanti. Sebagaimana yang dituturkan oleh Quraish Shibab bahwa kata yad’ukum bermakna Allah swt memanggil manusia melalui perantara pemanggil, lalu manusia secara sigap dan cepat memenuhi panggilan itu sembari memuji-Nya.

Doa bermakna Memberi Nama

لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). (Q.S. An-Nur [24]: 63)

Pada redaksi du’aar rasuli, kata rasul dalam ayat itu berlaku sebagai pelaku pemanggilan. Ada juga yang memahaminya dalam arti panggilan kamu kepada rasul, dalam hal ini rasul berkedudukan sebagai objek. Jika demikian, menurut Quraish Shibab adalah jangan jadikan panggilan kepada Rasul sama halnya dengan panggilan kamu satu sama lain.

Setelah mengulas beberapa istilah penggunaan makna doa dalam Al-Quran, dapat dikatakan bahwa kata doa dapat digunakan dalam berbagai macam pengertian. Tentunya, sesuai konteks yang ada sehingga dapat diketahui perbedaan antara maksud dan tujuan doa yang dipanjatkan.

Dan, satu hal yang perlu kita ingat, berdoalah kepada-Ku, kata Allah, “niscaya Aku kabulkan”. Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang senantiasa berdoa, menghamba dan mengharap ridha hanya kepada-Nya. Amin.

Wallahu a’lam[]

Mengulik Makna Kiamat dalam Al-Quran

0
kiamat
kiamat

Salah satu rukun iman yang harus dipercayai oleh setiap mukmin adalah percaya akan terjadinya hari kiamat. Ia juga merupakan unsur pokok dari elemen-elemen akidah. Kiamat adalah suatu peristiwa yang sangat serius dan misterius. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya, bahkan Nabi Muhammad SAW. sekalipun.

Meskipun kapan terjadinya kiamat merupakan rahasia Allah, manusia tetap diberi petunjuk berupa tanda-tanda akan terjadinya, baik melalui Al-Quran maupun Hadis Nabi. Oleh karena itu, kajian tentang kiamat serta tanda-tandanya tidak pernah selesai dan habis.

Menjelang kiamat itu sendiri terjadi perbincangan tentangnya terus berkembang, karena manusia memang haus akan mengetahui hal-hal yang misterius (ghaib), namun pasti terjadinya. Surah-surah yang berkenaan dengan kiamat dalam periode yang kedua (tentang kebangkitan, pembalasan dan kejadian-kejadian hari kiamat). Surah-surah tersebut di antaranya: surah al-Qari’ah, al-Zalzalah, dan al-Qiyamah

Surah al-Qari’ah

Dalam kitab Fahm Al-Quran Al-Hakim, al-Qari’ah pada urutan ke-28 setelah surah Quraisy dan sebelum surah al-Zalzalah. Makna dari surah al-Qari’ah ini adalah kiamat. Surah ini tidak memiliki asbab al-nuzul. Namun, surah ini diklasifikasikan kepada dua pokok pembahasan: pertama, ayat 1-5 menjelaskan tentang dahsyatnya kiamat. Kedua, ayat 6-11 menjelaskan tentang balasan berupa pahala atau siksa.

Baca juga: Sedang Dirundung Musibah? Bersabarlah! Ini 4 Keutamaan Sabar Menurut Al-Quran

Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu, Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu, Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Q.S. al-Qari’ah: 1-5)

 Dalam tafsirnya al-Jabiri menjelaskan bahwa kiamat adalah suatu peristiwa yang sangat mengerikan. Kondisi manusia saat itu seperti anai-anai yang berhamburan bergerak tidak tentu arah. Sedangkan gunung digambarkan seperti bulu wol atau kapas yang terpotong-potong dan terlempar (Abid al-Jabiri, Al-Tafsir Al-Wadhih Hasb Tartib Al-Nuzul, 142).

Melihat dari penafsiran al-Jabiri tentang surah al-Qari’ah di atas, ia tidak terlalu panjang lebar dalam menafsirkannya. Penulis hanya mendapatkan bahwa al-Jabiri dalam menafsirkan surah ini hanya menggunakan pendekatan bahasa. Hal ini mungkin dikarenakan bahwa peristiwa kiamat adalah suatu yang ghaib yang tidak seorangpun mengetahui kapan terjadinya, namun Al-Quran hanya memberikan petunjuk berupa tanda-tanda terjadinya. Informasi Al-Quran mengenai peristiwa kiamat adalah merupakan sebuah konsep keimanan, karena surah-surah ini diturunkan di Mekkah yang notabene adalah masa-masa dakwah Nabi Muhammad SAW. dalam menanamkan nilai-nilai ketauhidan dan keimanan terhadap para sahabat.

Surah al-Zalzalah

Al-Jabiri menjelaskan dalam mukadimahnya bahwa ia telah menyusun surah ini di antara surah-surah madaniyah (urutan ke-93). Akan tetapi, menurut sebagian besar mufasir menyatakannya sebagai surah makkiyah. Di antaranya Ibn Abbas, Ibn Mas‘ud, Mujahid, Jabir, Atha‘, al-Dhahak, al-Bughawi, Ibn Katsir, Muhammad bin Hasan al-Naisaburi dan lain-lain. Menurutnya inilah pendapat yang lebih kuat. Di samping itu, surah ini mempunyai korelasi dengan surah sebelumnya.

Baca juga: Musibah Ledakan di Beirut, Ingat Tafsir Surat At Taghabun Ayat 11

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya, pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Terjemahan Surah al-Zalzalah ayat 1-8)

Pada ayat kedua dijelaskan bahwa ketika bumi digoncangkan (kiamat) ia (bumi) mengeluarkan sesuatu yang ada dalam perutnya yakni mayit-mayit yang ada di dalam kubur. Lalu manusia bertanya, apa yang terjadi dengannya (bumi)? Tuhanmu memerintahkannya untuk bergerak dan bergoncang sebagai tanda terjadinya kiamat.

Baca juga: Penjelasan Al Quran tentang Musibah dan Pandemi

Para mufasir berbeda pendapat dan berdebat mengenai makna ayat  ke 7 dan ke 8, apakah ayat ini secara umum ditujukan kepada orang beriman dan orang kafir? Sebagaimana diketahui bahwa orang-orang beriman akan diberi pahala di akhirat atas segala kebaikan yang telah mereka perbuat di dunia, tetapi apakah orang beriman akan disiksa atas kejahatan yang mereka lakukan di dunia? Sebaliknya, orang-orang kafir akan disiksa di akhirat atas kejahatan yang mereka lakukan di dunia, apakah kebaikan mereka akan dibalas pahala? Para ahli tafsir berbeda dalam memahami ayat ini

Pertama, Sebagian mufasir mengatakan: baik mukmin maupun kafir semuanya mendapatkan balasan dari Allah atas kebaikan dan kejahatan yang mereka lakukan. Namun perbedaannya, seorang mukmin akan diperlihatkan (dibalas) kebaikannya serta diampuni kejahatannya. Sedangkan orang kafir semua kebaikannya tertolak serta tetap mendapat balasan (siksa) atas kejahatan yang mereka perbuat.

Kedua,  Menurut sebagian mufasir lain: orang kafir yang melakukan kebaikan akan mendapat balasan atas kebaikannya tersebut di dunia tidak di akhirat, balasan tersebut bisa terjadi pada dirinya sendiri, keluarganya ataupun hartanya. Sedangkan orang mukmin justru sebaliknya, yaitu kejahatan yang dilakukan orang mukmin akan dibalas di dunia tidak di akhirat, baik terhadap dirinya, keluarganya maupun hartanya.

Baca juga: Ketika Ditimpa Musibah, Terus Ngapain? Ini Seharusnya Sikap Seorang Muslim

Surah al-Qiyamah

Menurut beberapa mufasir pada surah ini terdapat banyak riwayat yang menjelaskan tentang asbab al-nuzulnya. Al-Wahidi misalnya mengatakan bahwa: apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya) turun pada Umar bin Rabi‘ah, ia mendatangi Nabi SAW. lantas berkata: ceritakan kepadaku tentang hari kiamat! Kapan terjadinya?

Dan bagaimana keadaannya? Lalu Nabi menceritakannya. Kemudian Umar bin Rabi‘ah berkata: jika engkau telah melihatnya niscaya aku tidak membenarkanmu dan tidak beriman dengannya! Apakah Allah mengumpulkan tulang belulang ini? Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan skeptis Umar bin Rabi‘ah tersebut.

Klasifikasikan kandungan surah al-Qiyamah ke dalam 5 kelompok. (1) ayat 1-4 (sebagai pembuka surah) menjelaskan tentang hari kiamat, (2) ayat 5-10 menjelaskan tentang terjadinya kiamat, (3) ayat 11-21 menjelaskan tentang hisab, (4) ayat 22-35 menjelaskan tentang orang-orang yang gembira dan takut serta balasannya, (5) ayat 36-40 (sebagai penutup surah) menjelaskan tentang kembali hidup setelah mati.

Selain itu, tanda-tanda kiamat lainnya juga banyak disebutkan dalam beberapa surah/ayat dalam Al-Quran, di antaranya dalam surah al-Qari’ah dan al-Zalzalah yang dijelaskan sebelumnya. Tanda-tanda tersebut antara lain: manusia seperti anai-anai yang berhamburan bergerak tidak tentu arah, gunung seperti bulu wol atau kapas yang terpotong-potong dan terlempar, bumi berguncang dahsyat dan mengeluarkan isinya; mayit dan semua benda yang tersimpan di dalamnya, manusia dibangkitkan dari kuburnya; disatukan kembali tulang belulangnya dan lain-lain. Wallahu A’lam.