Beranda blog Halaman 161

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 49-51

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 49-51 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kuasa Allah meliputi langit dan bumi. Kedua berbicara mengenai proses komunikasi antara Allah dan hambanya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 47-48


Ayat 49-50

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi, memiliki, berkuasa dan berbuat sekehendak-Nya terhadap apa yang ada di langit dan di bumi. Apa saja yang Dia kehendaki pasti terwujud dan menjadi kenyataan, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terwujud.

Dia memberikan nikmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tidak seorang pun dapat menghalangi apa yang dikehendaki-Nya tidak seorang pun dapat memberikan nikmat kepada siapa yang tidak dikehendaki-Nya. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya.

Dia-lah yang memberikan keturunan anak perempuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, memberikan keturunan anak laki-laki kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberikan keturunan anak laki-laki dan perempuan, dan ada pula yang dijadikannya mandul, tidak memiliki keturunan, semua itu ada hikmahnya.

Semuanya itu menunjukkan ke-Mahakuasaan Allah yang tidak seorang pun dapat menentang-Nya. Dia berbuat sekehendak-Nya sesuai dengan kodrat-Nya dan tidak seorang pun yang sanggup merintangi-Nya atau turut membantu mengatur keinginan-Nya.

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan, bahwa Allah Maha Mengetahui siapa-siapa yang layak dan berhak dianugerahi tiap-tiap macam karunia tersebut di atas. Dia Mahakuasa menciptakan apa yang dikehendaki dan berbuat sekehendak-Nya menurut kebijaksanaan dan ilmu-Nya.


Baca juga: Tafsir Surah Ar Rum Ayat 23: Kemampuan Mendengar bagi Orang yang Tidur


Ayat 51

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Allah tidak akan berkata-kata dengan hamba-Nya kecuali dengan salah satu dari tiga cara seperti berikut ini:

  1. Dengan wahyu, yakni Allah menanamkan ke dalam hati sanubari seorang nabi suatu pengertian yang tidak diragukannya bahwa yang diterimanya adalah dari Allah. Seperti halnya yang terjadi dengan Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda:

اِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِى رُوْعِى أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا فَاتَّقُواالله وَأَجْمِلُوْا فِى الطَّلَبِ. (رواه ابن حبان)

Sesungguhnya Ru¥ul Qudus telah menghembuskan ke dalam lubuk hatiku bahwasanya seseorang tidak akan meninggal dunia hingga dia menerima dengan sempurna rezeki dan ajalnya, maka bertakwalah kepada Allah dan berusahalah dengan cara yang sebaik-baiknya. (Riwayat Ibnu Hibban)

  1. Di belakang tabir yakni dengan cara mendengar dan tidak melihat siapa yang berkata, tetapi perkataannya itu didengar, seperti halnya Allah berbicara dengan Nabi Musa, Firman Allah :

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ

Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku. (al-A’raf/7: 143)

  1. Mengutus seorang utusan, yakni Allah mengutus Malaikat Jibril, maka utusan itu menyampaikan wahyu kepada siapa yang dikehendaki Allah, sebagaimana halnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad saw dan kepada nabi-nabi yang lain.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَأْتِيْكَ الْوَحْيُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحْيَانًا يَأْتِيْنِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ.وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَايَقُوْلُ.قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيْدِ الْبَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَﺇِنَّ جَبِيْنَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقاً. (رواه البخاري)

‘Aisyah meriwayatkan bahwa Al-Harist bin Hisyam bertanya kepada Nabi saw, “Bagaimana cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah saw menjawab, “Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Cara inilah yang sangat berat bagiku. Setelah ia berhenti, aku telah mengerti apa yang telah dikatakan-Nya; kadang-kadang malaikat mewujudkan dirinya kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, maka aku mengerti apa yang dibicarakannya”. Berkata ‘Aisyah ra, sesungguhnya saya lihat Nabi ketika turun kepadanya wahyu di hari yang sangat dingin, kemudian setelah wahyu itu berhenti terlihat dahinya bercucuran keringat. (Riwayat al-Bukhari)

Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah itu Mahatinggi lagi Mahasuci dari sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. Dia disebut menurut kebijaksanaan-Nya, berbicara dengan hamba-hamba-Nya, adakalanya tanpa perantara baik berupa ilham atau berupa percakapan dari belakang tabir.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 52-53


(Tafsir Kemenag)

Asmaulhusna dan Keutamaan bagi yang Menghafalnya

0
Asmaulhusna
Asmaulhusna

Umar Faruq dalam bukunya Khasiat & Fadhilah 99 Asmaul Husna: Nama-nama Indah Allah Swt (hal. 7), menyebut bahwa Asmaulhusna adalah nama-nama terbaik yang dimiliki oleh Allah Swt sebagai cerminan dari sifat-sifat-Nya. Indikator baiknya nama-nama tersebut dapat dilihat dari frasa Asmaulhusna itu sendiri. Kata husna merupakan bentuk muannats dari kata ahsan yang berarti “terbaik”.

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya al-Asma al-Husna: Mengenal Nama Nama Allah, kata husna yang bermakna terbaik (superlatif) tersebut menunjukkan bahwa nama-nama yang dimiliki Allah Swt. tidak hanya sampai pada taraf “baik” saja, tetapi yang “terbaik” jika dibandingkan dengan nama-nama baik lainnya.

Asmaulhusna dalam Alquran

Salah satu ayat di dalam Alquran yang menjelaskan tentang Asmaulhusna adalah Surah Al Araf [7]: 180 yang berbunyi sebagai berikut:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al Araf [7]: 180)

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (hal. 380-381) ayat ini turun berkaitan dengan sifat kaum musyrik yang menyekutukan Allah Swt. Dosa menyekutukan Allah Swt. merupakan pertanda batalnya pengakuan akan sifat yang paling khusus bagi Allah Swt. Sehingga dengan adanya ayat ini orang-orang beriman diseru kembali untuk selalu meng-Esa kan-Nya dengan menyebut Allah Swt. melalui nama-nama-Nya.

Penyebutan di sini bisa berarti dengan memohon doa melalui salah satu dari Asmaulhusna tersebut dengan harapan mendapat petunjuk dari Allah Swt. Perintah untuk meninggalkan kaum musyrik di akhir ayat ini menunjukkan betapa kejinya perbuatan mereka yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-Nya atau menyematkan sesuatu yang tidak layak bagi Zat Allah Swt. Yang Maha Agung.

Baca Juga: Pandangan Gus Baha tentang Hadis Larangan Memelihara Anjing

Lafaz “yulhiduna” dalam ayat ini menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (hal. 609) diambil dari lafaz “lahad” yang bermakna tempat untuk menguburkan orang mati. Biasanya di dalam kubur dibuatkan tempat yang terletak di sudut untuk membaringkan mayat. Sehingga makna “yulhiduna” dalam ayat ini dapat diartikan dengan orang yang menyudut (membuat lubang lain). Membuat lubang lain di sini diartikan oleh beliau dengan membuat pengertian lain menjadi dua macam. Pertama, kaum musyrik memberi sifat kepada Allah Swt. dengan bukan sifat-Nya dan yang kedua memberi sifat Allah Swt. dengan sifat yang tidak layak bagi-Nya.

Mengenai jumlah dari Asmaulhusna tersebut terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla menyebut bahwa jumlah Asmaulhusna adalah 99. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Adapun dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa nama-nama Allah Swt tidak memiliki batas jumlah. Pendapat yang berbeda juga disampaikan oleh Ath-Thabathabai dalam tafsirnya Al Mizan yang menyatakan bahwa Allah Swt  memiliki 127 nama. Dalam kitab Syareh Al-Asma Al-Husna karangan Barjam Al-Andalusi menyebut bahwa jumlah asmaul husna adalah 132 nama. Namun pendapat yang populer adalah pendapat yang menyatakan bahwa jumlah Asmaulhusna adalah 99.

Keutamaan Asmaulhusna

Pendapat yang menyatakan bahwa jumlah Asmaulhusna ada 99 didasarkan pada sebuah hadis yang di dalamnya juga terdapat keterangan tentang pahala surga bagi siapa yang mampu mengahafalnya. Berikut narasi dari hadis tersebut yang dikutip dari kitab Shahihain dari sahabar Abu Hurairah:

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمَا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَ فِي لَفْظٍ: مَنْ حَفِظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ

“Bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang menjaganya maka dia akan masuk surga. Dalam lafaz lain: siapa yang menghafalnya maka ia akan masuk surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang cacat mengenai hadis ini. Bahkan Ibnu Hajar Al Asqalani pun memuat hadis ini dalam kitab beliau, Bulughul Marom. Hadis ini kemudian sangat populer di kalangan masyarakat. Tidak hanya itu, hadis ini juga dijadikan motivasi oleh para guru di sekolah-sekolah agar mendorong muridnya untuk menghafalkan 99 Asmaulhusna. Berkat surga yang dijanjikan bagi siapa yang mampu menghafalnya, maka hal ini memberi dorongan tersendiri agar orang-orang bersemangat untuk menghafalkannya, bahkan beserta artinya.

Usaha untuk menghafal ini memang tidak keliru, terlebih lagi yang dihafal adalah nama-nama Allah Swt. dan ditujukan kepada para siswa yang sedang menuntut ilmu. Bahkan Nabi Muhammad Saw. sendiri pun merupakan sosok manusia yang sangat pandai dalam menghafal. Namun yang menjadi permasalahan adalah ketika hadis ini hanya difahami secara tekstual. Bahkan di buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X (hal. 101) yang disusun oleh H. Aminuddin dan Harjan Syuhda hadis ini tidak dilengkapi dengan penjelasan lebih lanjut. Makna أَحْصَاهَا  atau حَفِظَهَا  dalam hadis tersebut hanya difahami hafal secara verbal. Yang dikhawatirkan adalah ketika umat Islam meninggalkan kewajiban yang lain dan hanya mengandalkan hafalan Asmaulhusna dengan niat akan meraih surga.

Jika difahami lebih lanjut tentu makna أَحْصَاهَا  atau حَفِظَهَا  sangat luas. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah An Nawawi ‘Ala Muslim (juz IX/hal. 39) makna أَحْصَاهَا tidak hanya menghafal, tetapi juga beriman terhadapnya dan melaksanakan konsekuensi dari nama-nama tersebut serta beramal dengan isi kandungannya.

Baca Juga: Hukuman Bagi Pelaku Pemerkosaan dalam Islam

Komaruddin Hidayat dalam bukunya Psikologi Ibadah (hal. 46-49) menyatakan bahwa makna حَفِظَهَا  dalam hadis tersebut adalah “memelihara”. Artinya, orang yang mampu menghafal 99 Asmaulhusna akan berusaha memelihara dirinya untuk meneladani sifat-sifat agung yang dimiliki oleh Allah Swt. Orang yang hafal bahwa sifat Allah Swt. al-Bashir yang bermakna Allah Maha Melihat akan menjaga dirinya dari segala perbuatan maksiat. Sebab ia yakin dan faham bahwa makna dari al-Bashir tersebut merupakan sifat pengawasan Allah Swt. terhadap apa saja yang diperbuat hamba-Nya.

Begitu juga nama-nama lainnya, ketika ia mampu menghafal nama tersebut berserta artinya dan faham tentang nama itu maka segala sifat baik yang ada pada Asmaulhusna dapat terpancar dalam dirinya. Sehingga wajar jika seseorang mampu memelihara dirinya terlebih lagi dengan cerminan 99 Asmaulhusna tersebut akan mengantarkan ia kepada surga-Nya Allah Swt.

Tulisan ini bukan berarti meremehkan usaha menghafal, namun lebih ditujukan bagaimana hafalan secara verbal tersebut dapat diimplementasikan dan terpancar melalui amal baik yang dilakukan. Semoga tulisan ini memberi kita semangat untuk selalu meneladani sifat-sifat Allah Swt. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 47-48

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 47-48 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai perintah untuk taat kepada utusan Allah SWT. Kedua mengenai cemasan atas orang-orang yang tidak mengikuti perintahnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 45-46


Ayat 47

Allah menerangkan bahwa Dia telah memerintahkan agar manusia patuh dan taat serta menerima seruan Rasul-Nya, agama Allah yang disampaikan sebelum datang hari dimana tidak seorang pun dapat menahan, menolak dan menghalangi kedatangannya yaitu hari Kiamat.

Pada hari itu mereka tidak mempunyai suatu tempat pun untuk berlindung yang akan menyelamatkan mereka dari kesusahan, dan mereka itu tidak dapat mengingkari kejahatan-kejahatan yang telah diperbuatnya di dunia, karena semuanya itu sudah tertera dengan jelas di dalam buku catatan amalan masing-masing dan lidah serta anggota tubuh mereka pun menjadi saksi.

Bagaimana pun juga mereka tidak akan dapat melarikan diri dan menghindar dari kedahsyatan hari itu. Dalam hubungan ini Allah berfirman:

يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ  ١٠  كَلَّا لَا وَزَرَۗ  ١١  اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ  ١٢

Pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?” Tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu. (al-Qiyamah/75: 10-12)


Baca juga: Tiga Kondisi Kaget Manusia pada Hari Kiamat


Ayat 48

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila Nabi Muhammad saw telah menunaikan tugas menyampaikan risalah menyeru orang-orang musyrik kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus, tetapi mereka itu tidak menyambut baik dan tidak mau menerimanya bahkan mereka itu tetap menolak dan berpaling dari kebenaran, maka hendaklah Rasul membiarkan sikap mereka tanpa perlu gusar dan cemas.

Hal ini dikarenakan Rasul tidak diberi tugas mengawasi dan meneliti amal perbuatan orang-orang musyrik itu, tetapi dia hanya diberi tugas menyampaikan apa yang diturunkan dan diperintahkan Allah kepadanya. Apabila Nabi Muhammad saw telah melaksanakan kewajibannya, maka beliau sudah dianggap menunaikan misinya, sebagaimana firman Allah:

فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ   ٤٠

Maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, dan Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka). (ar-Ra’d/13: 40);Dan firman-Nya:

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ  ٢١  لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ  ٢٢

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (al-Gasyiyah/88: 21-22);Dan firman-Nya pula:

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)

Selanjutnya Allah menerangkan tabiat dan watak manusia, yaitu apabila diberi kekayaan, dikaruniai kesenangan hidup, kesejahteraan jasmani, perasaan aman sentosa, mereka senang dan gembira atas karunia tersebut, bahkan sering menimbulkan perasaan angkuh dan takabur.

Tetapi sebaliknya, apabila mereka ditimpa kemiskinan, penyakit, musibah yang bermacam-macam berupa banjir dan kebakaran sebagai akibat dosa dan maksiat yang dikerjakannya, mereka mengingkari semua karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

Mereka lupa akan karunia itu, bahkan mereka juga lupa mengerjakan kebaikan. Demikianlah sifat orang kafir dan tidak beriman kepada Allah. Berbeda dengan orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah, mereka bersyukur, beriman dan beribadah semakin mantap.

Apabila mereka tidak atau belum memperoleh karunia, mereka bersabar karena mereka percaya kepada ketentuan Allah; segala sesuatu dikembalikan kepada Allah, mereka menyesuaikan diri dengan firman Allah:

وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ ࣖ  ٢١٠

Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan. (al-Baqarah/2: 210)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 49-51


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 45-46

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 45-46 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai ketakutan orang-orang kafir ketika dihadapkan ke neraka. kedua berbicara mengenai ketidak berdayaan berhala-berhala yang mereka sembah ketika di dunia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 44


Ayat 45

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa ketika orang-orang kafir ini dihadapkan ke neraka, mereka sangat takut dan merasa hina karena mereka tahu dan yakin bahwa itu adalah akibat dari pelanggaran-pelanggaran dan dosa yang telah dilakukannya, mereka mengetahui kebesaran serta kekuasaan Tuhan yang telah didurhakainya.

Mereka tidak dapat menatap api neraka yang menyala-nyala itu, mereka melihatnya dengan lirikan mata yang penuh kelesuan, sama halnya dengan orang yang digiring untuk dibunuh ketika ia melihat pedang yang mengkilat yang akan menghabiskan nyawanya. Dia tidak akan mampu menatap pedang itu, tetapi dia melihatnya dengan lirik mata dan dalam keadaan lesu dan mencuri-curi penglihatan.

 Pada waktu itu orang-orang mukmin berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang telah menganiaya dirinya sendiri sehingga mereka dimasukkan ke dalam neraka dan tidak memperoleh sedikit pun nikmat dan kesenangan yang abadi di dalam surga; mereka dipisahkan dengan orang yang disayanginya, sahabat-sahabatnya, dan familinya.” Ini adalah suatu kerugian yang tak ada taranya.

Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir akan berada dalam siksaan yang berkepanjangan yang tak ada habis-habisnya. Tidak ada jalan bagi mereka untuk lepas dan menghindar dari siksaan itu.


Baca juga: Tafsir Surah Ar Rum Ayat 23: Kemampuan Mendengar bagi Orang yang Tidur


Ayat 46

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mendapat pertolongan dari siapa pun untuk menyelamatkan mereka dari siksa yang menimpa mereka. Berhala-berhala yang pernah disembah mereka di dunia tidak dapat sama sekali memberi pertolongan, bahkan mustahil akan dapat membela mereka dan melepaskan mereka dari azab yang sedang menimpa mereka.

Ayat 46 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa orang yang dibiarkan Allah sesat itu telah menjadi watak dan tabiat mereka akan selalu berbuat kejahatan, kerusakan dan pelanggaran-pelanggaran terhadap larangan agama; mereka tidak akan dapat lagi diperbaiki, tidak akan dapat lagi melakukan hal-hal yang hak dan benar di dunia ini, dan tidak akan dapat memasuki surga Jannatun-Na’im di akhirat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 47-48


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 44

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 44 berbicara mengenai segala sesuatu yang tidak akan bebas dari ketentuan Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 41-43


Ayat 44

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang dikehendaki-Nya pasti menjadi kenyataan dan tak seorang pun yang dapat menghalangi-Nya; sebaliknya apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi.

Barang siapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang telah dibiarkan sesat oleh Allah, karena selalu berbuat kejahatan tidak akan ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk ke jalan yang benar, yang akan membantunya dia mencapai kebahagiaan dan keberuntungan. Firman Allah:

وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ࣖ   ١٧

Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (al-Kahf/18: 17)

Orang-orang kafir di akhirat nanti ketika melihat dan menyaksikan azab di depan matanya, berangan-angan bisa kembali lagi ke dunia untuk berbuat baik dan beriman.


Baca juga: Sejarah Kemunculan Tafsir Pesantren


Mereka berkata, “Apakah masih ada jalan bagi kami untuk kembali ke dunia?” Andaikata mereka itu dapat kembali lagi ke dunia, mereka tidak juga akan beriman dan berbuat baik, mereka akan tetap saja melanggar larangan-larangan Allah. Hal ini digambarkan pula oleh Allah dalam ayat yang lain dengan firman-Nya:

وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ   ٢٧  بَلْ بَدَا لَهُمْ مَّا كَانُوْا يُخْفُوْنَ مِنْ قَبْلُ ۗوَلَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ   ٢٨

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An’am/6: 27-28)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 45-46


(Tafsir Kemenag)

Contoh Penafsiran dengan Menggunakan Ilmu Nasakh

0
Ilmu Nasakh
Ilmu Nasakh

Nasakh dalam kaitannya dengan penafsiran dan pengambilan hukum dapat dipahami dan digunakan sebagai bagian dari kebijakan Allah swt mengenai bagaimana menetapkan suatu hukum dalam masyarakat secara bertahap (al-tadarruj). Contoh-contoh dari penetapan hukum secara bertahap ini adalah keharaman khamar, keharaman riba, perintah untuk puasa dan lai-lain. Dapat diambil contoh konkrit dalam al-Quran mengenai khamar, terdapat empat ayat yang berbicara tentang khamar dengan tahapan-tahapan untuk kemudian benar-benar mengharamkannya secara mutlak.

  1. Surah al-Nahl [16]: 67

 و من ثمرت النخيل و الأعنب تتخذون منه سكرا و رزقا حسنا إن في ذلك لآية لقوم يعقلون

Dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang memikirkan.

Baca Juga: Urgensi Mengetahui Ilmu Nasakh untuk Memahami Al-Quran

Ayat diatas ditafsirkan oleh Ibn Jarir al-Tabari sebagai ayat yang diturunkan sebelum adanya keharaman khamar sebagaimana ia riwayatkan dari Ibn Abbas. dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa pada permulaan Islam, khamar tidaklah diharamkan.

  1. Surah al-Baqarah [02]: 219

 …يسئلونك عن الخمر و الميسر قل فيهما إثم كبير و منفع للناس و إثمهما أكبر من نفعهما

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.

Al-Maraghi dalam tafsirnya mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Abu Hurairah bahwa pada awal Rasulullah berada di Madinah, orang-orang madinah gemar meminum khamar. Kemudian mereka bertanya kepada Rasul terkait hal itu, lalu turunlah ayat di atas. Lalu pada suatu waktu sebagian dari mereka minum khamar hingga mabuk ketika dekat dengan waktu salat, sehingga turunlah ayat yang ketiga.    

  1. Surah al-Nisa [04]: 43

يأيها الذين ءامنوا لا تقربوا الصلوة و أنتم سكرى حتى تعلموا ما تقولون

Hai orang-orang yang beriman, jangalah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menyadari apa yang kamu ucapkan.

Dengan turunnya ayat ini, telah jelas larangan untuk meminum khamar meskipun baru sebatas pada saat waktu-waktu menjelang solat. Tetapi telah ditegaskan pelarangannya. Menurut Tahir ibn ‘Asyur, para sahabat lalu tidak meminum khamar terkecuali pada dua waktu yaitu setelah salat isya dan setelah salat subuh. Karena pada dua waktu itu, rentang waktu salat cukup panjang. Kemudian dengan tegas Allah swt melarang minum khamar dengan ayat yang berikutnya.   

  1. Surah al-Maidah [05]: 90-91

يأيها الذين آمنوا إنما الخمر و الميسر و الأنصاب و الأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون

إنما يريد الشيطن أن يوقع بينكم العدوى و البغضاء في الخمر و الميسر و يصدكم عن ذكر الله و عن الصلاة فهل أنتم منتهون

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat; maka tidakkah kamu mau berhenti?

Baca Juga: Kategorisasi Nasakh dan Contohnya dalam Al-Quran

Ayat terakhir ini telah menegaskan keharaman khamar secara tegas dan tidak ada toleransi lagi untuk meminumnya sepanjang waktu. Maka dari contoh ayat-ayat tentang khamar ini, sedikitnya penulis mengambil kesimpulan yang berkaitan dengan kaidah tafsir. Pertama, bahwa dalam penetapan suatu hukum di suatu tempat, Allah swt Yang Maha Bijaksana sangat memperhatikan kondisi sosial masyarakat. Allah swt tidak serta merta melarang meminum khamar, tetapi dengan menggunakan tahapan-tahapan tertentu.

Kedua, dalam menafsirkan al-Quran sangat harus diperhatikan semua ayat terutama yang berkaitan dengan nasikh-mansukh, agar produk penafsiran tidak parsial. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi mufassir untuk menafsirkan al-Quran secara komprehensif. Dengan perkataan lain, ada dua kaidah yang harus dijadikan pelajaran dari nasakh yaitu: al-tadarruj (bertahap) dan al-ijmal (komprehensif).

Refleksi Surah Ghafir ayat 61: Anjuran Istirahat dan Bekerja

0
Istirahat dan Bekerja
Anjuran Istirahat dan Bekerja

Selain bekerja tubuh manusia membutuhkan waktu istirahat untuk menstimulasi dan meregenerasi energi yang sudah dipakai untuk bekerja. Setiap manusia membutuhkan istirahat. Istirahat dan bekerja adalah bentuk work life balance yang harus termanajemen dengan baik oleh manusia sehingga terwujud kehidupan yang seimbang dan berkualitas.

Bentuk istirahat tentunya bermacam-macam, namun para pakar kesehatan sepakat bahwa tidur merupakan cara istirahat yang paling manjur bagi tubuh. Dalam konteks ini, Islam sebagai agama yang memerhatikan segala sesuatu bagi manusia juga membahas perihal bekerja dan istirahat. Karenanya Allah SWT menciptakan siang dan malam pasti bukan tanpa tujuan, di dalamnya terkandung makna dan rahasia yang bermanfaat bagi manusia.

Memaknai Waktu Siang dan Malam

Sebagai bahan refleksi, mari kita perhatikan firman Allah Swt dalam Surah Ghafir [40] ayat 61 sebagai berikut:

 اَللّٰهُ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ ٦١

“Allah-lah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya; (dan menjadikan) siang terang benderang. Sungguh, Allah benar-benar memiliki karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Allah SWT menciptakan siang yang benderang juga malam yang dingin dan tenang pasti bukan tanpa tujuan, di dalamnya terkandung makna dan rahasia yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya sebagaimana firman Allah SWT di atas, Surah Ghafir [40] ayat 61 tersebut dalam Tafsir Al-Munir karya Wahbah Al-Zuhaili masuk kepada kelompok ayat yang membahas mengenai keberadaan dan kekuasaan Allah SWT, yakni mulai dari ayat 57 sampai ayat 65.

Adapun mengenai ayat 61, Al-Zuhaili memberikan penafsiran bahwa ayat tersebut menjelaskan salah-satu wujud kekuasaan Allah Swt, yakni menciptakan pergantian siang dan malam. Selanjutnya dalam ayat tersebut, ‘Aidh Al-Qarni dalam Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa malam Allah Swt jadikan gelap dan sejuk yang berfungsi untuk “litaskunu” atau menenangkan diri, istirahat, dan revitalitas setelah banting tulang di waktu siang.

Sementara frasa “wa an-nahara mubshira” menurut Al-Zuhaili bermakna bahwa Allah SWT menjadikan siang terang benderang agar manusia dapat melihat dengan jelas kebutuhannya, bekerja banting tulang, mencari okupasi, melakukan mobilisasi, dan beberapa kemaslahatan lainnya. Hal ini menegaskan bahwa nikmat tersebut sebaiknya dimanfaatkan secara maksimal oleh manusia untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera.

Istirahat dan Bekerja sebagai Wujud Syukur

Kita sama-sama sepakat bahwa manusia memerlukan waktu untuk bekerja dan beristirahat. Kedua hal tersebut sama pentingnya untuk kemaslahatan manusia. Dalam ayat di atas, Allah SWT secara eksplisit memberikan tuntunan dan anjuran kepada manusia untuk memanfaatkan waktu siang dan malam dengan sebaik-baiknya. Siang diciptakan terang untuk banting tulang, sedangkan malam diciptakan sejuk untuk istirahat.

Menurut Al-Zuhaili, setelah memberikan tuntunan dan anjuran tersebut Allah Swt menjelaskan bahwa adanya siang dan malam merupakan wujud kekuasaan (fadhl) dan nikmat untuk manusia. Sementara manusia seringkali lupa dan kufur terhadap nikmat tersebut (QS. 22: 66; 34: 13). Banyak di antara manusia yang tidak memanfaatkan adanya siang untuk bekerja, atau adanya malam untuk beristirahat dan tidur. Manusia lupa bahwa sesungguhnya dibalik penciptaan siang dan malam beserta fungsinya mengandung kemaslahatan dan rahasia yang agung. Syahdan, hal tersebut merupakan salah satu wujud dari kufur nikmat.

Oleh karena itu, seyogianya kita sebagai manusia benar-benar memanfaatkan anugerah dan karunia Allah SWT tersebut. Tentunya kita sendiri dapat sadari betul bagaimana Allah Swt menciptakan siang begitu terang dan wujud syukur kita adalah dengan bekerja di waktu itu, begitu pun malam yang telah Allah Swt ciptakan begitu sejuk dan tenang maka wujud syukur kita adalah dengan memanfaatkannya untuk beristirahat. Sehingga kemudian kita dapat menemukan esok hari yang kembali segar dan lebih bersemangat. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 41-43

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 41-43 berbicara mengenai dua hal. Pertama berbicara mengenai perbuatan yang dimaafkan karena membela diri. Kedua berbicara mengenai balasan yang baik dari sisi Allah bagi orang yang sabar dengan tidak membalas perbuatan jahat orang lain.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 38-40


Ayat 41-42

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang yang berbuat sesuatu karena membela diri dari satu penganiayaan atau suatu kejahatan yang menimpanya, tidak ada jalan untuk menuntutnya dari sisi hukum dan ia tidak berdosa karena dia melakukannya berdasarkan hak.

Tetapi orang-orang yang berbuat zalim, berbuat kejahatan di bumi dan melampaui batas dalam memberikan pembalasan, mereka itulah yang dapat dituntut dan akan mendapat azab dan siksa yang pedih di akhirat kelak.


Baca juga: Mengenal Kiai Dahlan Khalil, Ahli Alquran dari Rejoso Jombang


Ayat 43

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang sabar dan memaafkan perbuatan jahat yang dilakukan orang lain atas dirinya, sedangkan ia sanggup membalasnya, mereka itu telah melakukan sesuatu yang utama dan mereka itu berhak menerima pahala yang banyak.

Diriwayatkan oleh Abµ Hurairah bahwa seorang laki-laki mencaci maki Abu Bakar, sedangkan Nabi duduk bersamanya, tersenyum, begitu banyak caci maki itu sehingga Abu Bakar membalas caci maki tersebut. Kemudian Nabi marah dan bangun dari duduknya, lalu Abu Bakar mengikutinya dan berkata, “Ya Rasulullah, dia telah mencaci makiku sedangkan engkau duduk (melihatnya), ketika aku membalas caci makinya engkau marah dan bangkit (meninggalkanku).”

Rasul kemudian menjawab, “Sesungguhnya (ketika engkau dicaci) malaikat ada bersamamu membalas caci maki orang tersebut, ketika engkau membalas caci maki itu, hadirlah setan (di situ), maka aku tidak mau duduk bersama setan.” Kemudian Rasul bersabda, ”Ya Abu Bakar, ada tiga hal yang semuanya benar, yaitu:

  1. Seorang hamba dianiaya, lalu dia memaafkan penganiayanya itu, maka ia akan dimuliakan Allah dan dimenangkan atas musuhnya.
  2. Seorang laki-laki yang memberikan suatu pemberian dengan maksud mengeratkan hubungan silaturahmi akan diberi Allah tambahan rezeki yang banyak.
  3. Orang yang meminta-minta dengan maksud memperkaya diri akan dikurangi Allah rezekinya.”

Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 44


(Tafsir Kemenag)

Empat Pembagian Surah Alquran

0
Empat Pembagian Surah Alquran
Pembagian Surah-Surah Alquran

Ketika membaca Alquran, pernahkah Anda memperhatikan Alquran cenderung dimulai dengan surah-surah panjang, kemudian disusul dengan surah-surah pendek? Iya, memang seperti itulah surah-surah Alquran diurutkan.

Lalu, siapakah yang mengurutkannya? Para sahabat Nabi, bukan oleh Nabi sendiri. Setidaknya itulah pendapat mayoritas ulama, sebagaimana yang dicatat oleh al-Suyuti dalam al-Itqan (hal. 138).

Jadi, ketika Khalifah Usman bin Affan membentuk tim penyusun mushaf, dia menginstruksikan susunan Alquran dimulai dari surah-surah terpanjang (al-Tiwal), kemudian surah-surah yang lebih pendek.

Nah, berdasarkan panjang dan urutannya, ada empat pembagian surah dalam Alquran; al-Tiwal, al-Mi’un, al-Matsani, dan al-Mufassal. Berikut ulasannya yang sebagian besar dikutip dari kitab Mabahits fi Ulum al-Qur’an (hal. 138-139).

al-Tiwal

al-Tiwal adalah tujuh surah panjang yang posisinya di urutan awal mushaf setelah surah Alfatihah, yaitu; surah Albaqarah, Ali Imran, Annisa, Almaidah, Alan’am, Ala’raf, dan Alanfal-Albara’ah. Surah Alanfal dan Albara’ah dalam hal ini dianggap satu kesatuan karena keduanya tidak dipisah oleh basmalah.

Ketujuh surah tersebut tergolong surah madaniyyah atau yang turun setelah Nabi hijrah ke Madinah. Bagaimana pun juga, salah satu karakteristik ayat atau surah madaniyyah adalah panjangnya ayat atau surah tersebut, seperti tujuh surah ini.

al-Mi’un

Setelah tujuh surah al-Tiwal, urutan berikutnya adalah surah-surah al-Mi’un yang rata-rata panjangnya tidak sepanjang surah al-Tiwal. al-Mi’un berarti surah-surah yang jumlah ayatnya kisaran 100-an ayat atau mendekati seratus, terambil dari kata mi’ah yang berarti 100.

Seperti al-Tiwal, jumlah surah al-Mi’un juga ada tujuh, yaitu; surah Yunus, Hud, Yusuf, Arra’ad, Ibrahim, Alhijr, dan Annahl (Asma’ al-Qur’an al-Karim wa Asma’ Suwarihi wa Ayatihi, hal. 75).

al-Matsani

Selanjutnya, surah-surah yang lebih pendek dari kategori surah al-Mi’un  dan lebih panjang dari surah al-Mufassal yang disebut dengan surah al-Matsani. Jumlah ayat dalam surah-surah al-Matsani di bawah 100 ayat.

Kata al-Matsani maknanya adalah sesuatu yang diulang-ulang. Surah-surah ini dinamakan al-Matsani karena sering dibaca berulang-ulang dibandingkan dengan surah-surah al-Tiwal dan al-Mi’un yang relatif lebih panjang.

al-Matsani juga adalah nama lain dari surah Alfatihah. Sebab, surah urutan pertama dalam Alquran ini diwajibkan untuk dibaca secara berulang di setiap rakaat salat.

Baca juga: Mengenal Nama-nama Lain Surah Al-Fatihah dan Penjelasan Hadisnya

al-Mufassal

Kategori terakhir dalam pembagian surah Alquran adalah al-Mufassal yang artinya sesuatu yang terpisah-pisah. Dinamakan demikian, karena jarak antarsurahnya pendek-pendek, sehingga terkesan banyak pemisahnya (baca: basmalah).

Jika diperhatikan, tidak hanya jarak antarsurah al-Mufassal saja yang pendek-pendek, jarak antarayatnya juga demikian. Tidak heran kemudian surah-surah ini yang biasa dipilih para pemula dalam belajar membaca atau memulai menghafal Alquran. Sebab, surah-surah pendek relatif lebih mudah dibaca dan dihafalkan dibandingkan surah-surah panjang.

Selain pendek-pendek, karakteristik surah-surah al-Mufassal ini menurut al-Suyuti juga jarang ditemukan di dalamnya ayat mansukh (ayat yang kandungan hukumnya dihapus atau diganti).

Surah al-Mufassal dibagi lagi menjadi tiga bagian; tiwal (panjang), awsat (sedang), dan qisar (pendek). Tiwal al-Mufassal dimulai dari surah Qaf (pendapat lain mengatakan surah Alhujurat) sampai surah Annaba’ (pendapat lain mengatakan surah Alburuj).

Awsat al-Mufassal dimulai dari surah Annaba’ (pendapat lain mengatakan surah Alburuj) sampai surah Adduha (pendapat lain mengatakan surah Albayyinah). Sedangkan qisar al-Mufassal dimulai dari surah Adduha (pendapat lain mengatakan surah Albayyinah) sampai dengan surah Annas atau surah terakhir.

Khusus ketika membaca surah-surah qisar al-Mufassal, pembaca dianjurkan menyelah-nyelahinya dengan bacaan takbir. Ini sebagaimana diceritakan oleh al-Khattabi yang dikutip al-Suyuti dalam al-Itqan (hal. 140).

Penutup

Empat pembagian surah di atas adalah hasil pemikiran para ulama. Memang ada beberapa riwayat yang memberitahukan bahwa Nabi pernah menyinggung istilah surah-surah al-Tiwal dan sebagainya, namun hanya sebatas itu keterlibatan Nabi dalam hal ini. Oleh karena itu, formasi ini ada banyak versi. Contohnya bisa kita lihat bagaimana variatifnya susunan surah dalam mushaf-mushaf para sahabat.

Penentuan panjang atau pendeknya surah di atas tidak didasari jumlah ayat, tetapi lebih kepada panjang keseluruhan surah tersebut. Meski dalam penyusunannya, tidak benar-benar mutlak berdasarkan panjang surah. Sebab, ada surah yang lebih panjang, namun diletakkan di urutan surah yang lebih pendek darinya.

Misalnya, surah Al’asr adalah surah terpendek dalam Alquran, tapi tidak diposisikan di urutan paling akhir. Begitu pula surah Alfatihah yang termasuk surah pendek, namun berada di urutan pertama dalam mushaf. Apa kategori surahnya? dan kenapa diletakkan di urutan paling awal?

Terlepas dari itu semua, adanya pembagian ini dapat mempermudah kita memilih surah untuk keperluan tertentu seperti disinggung sebelumnya. Jika ingin belajar membaca Alquran, bisa memulai dari surah-surah akhir yang relatif pendek-pendek misalnya.

Baca juga: Menghafal Al-Qur’an di Somalia: Semangat, Sejarah dan Metodenya

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 38-40

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 38-40 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai orang-orang yang beruntung karena menjalankan syariat agama secara baik. Kedua mengenai orang-orang yang membela diri. Ketiga mengenai aturan bagi orang yang membela diri.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 36-37


Ayat 38

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang menyambut baik panggilan Allah kepada agama-Nya seperti mengesakan dan menyucikan Zat-Nya dari penyembahan selain Dia, mendirikan salat fardu pada waktunya dengan sempurna untuk membersihkan hati dari iktikad batil dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar, baik yang tampak maupun yang tidak nampak, selalu bermusyawarah untuk menentukan sikap di dalam menghadapi hal-hal yang pelik dan penting, semuanya akan mendapatkan kesenangan yang kekal di akhirat . Dalam ayat yang serupa, Allah berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali Imran/3: 159)

Demikian pula menginfakkan rezeki di jalan Allah, membelanjakannya di jalan yang bermanfaat bagi pribadi, masyarakat, nusa, dan bangsa. Mereka juga akan mendapatkan kesenangan yang kekal di akhirat.  Dalam ayat lain Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. (al-Baqarah/2: 254)

Dan firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. (al-Baqarah/2: 267)


Baca juga: Surah Al Lahab dan Prinsip Kesetaraan dalam Islam


Ayat 39

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan memperoleh kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat ialah orang-orang yang apabila diperlakukan semena-mena oleh orang lain, ia akan membela diri dan membalas kepada orang yang menzaliminya tersebut, dengan syarat pembelaan diri itu tidak melampaui kezaliman yang menimpanya.

Dalam pembelaan diri ini mereka akan mendapat pertolongan dari Allah, sebagaimana firman-Nya:

۞ ذٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهٖ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللّٰهُ

Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan (kezaliman) penganiayaan yang pernah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi), pasti Allah akan menolongnya. (al-Hajj/22: 60)

Ayat 40

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa perbuatan membela diri yang dilakukan seseorang yang dianiaya orang lain hendaklah ditujukan kepada pelaku penganiayaan dan seimbang dengan berat atau ringannya penganiayaan tersebut. Tindakan balasan atau pembelaan diri yang berlebihan tidak dibenarkan agama, hal ini sesuai dengan firman Allah:

فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ ١٩٤

Barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu. (al-Baqarah/2: 194);Di ayat lain Allah berfirman:

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ   ١٢٦

Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar. (an-Nahl/16: 126)

Dalam situasi saat ini orang-orang yang dianiaya oleh orang lain mungkin tidak bisa langsung membela diri atau menuntut haknya kepada orang-orang yang menganiayanya, karena berbagai keterbatasan, Ia bisa meminta pertolongan pihak-pihak berwajib yang bisa melakukan tindakan untuk membela haknya, seperti polisi, pengadilan dan sebagainya.

Perlu diingatkan bahwa hak seseorang harus dipertahankan, jangan hanya berdiam diri ketika orang lain merampas haknya. Banyak hadis yang menerangkan tentang hak-hak seperti:

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ أَوْ دُوْنَ دَمِهِ أَوْ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ.  (رواه أبوداود والترمذي)

Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia adalah seorang yang syahid. Siapa yang terbunuh karena mempertahankan (keselamatan) nyawa, keluarga, dan agamanya, maka ia adalah seorang yang syahid. (Riwayat Abµ Dawud dan at-Tirmizi)

Sekalipun demikian, ayat ini juga menganjurkan untuk tidak membalas kejahatan orang lain, tetapi memaafkan dan memperlakukan dengan baik orang yang berbuat jahat kepada kita karena Allah akan memberikan pahala kepada orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain, selain itu memaafkan orang lain adalah penebus dosa. Firman Allah:

وَالْجُرُوْحَ قِصَاصٌۗ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهٖ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهٗ

Dan luka-luka (pun) ada qisas-nya (balasan yang sama). Barang siapa melepaskan (hak qisas)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. (al-Ma’idah/5: 45)

Ayat 40 ini ditutup dengan suatu penegasan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang zalim yang melampaui batas ketika melakukan pembalasan atas kejahatan yang pernah dialaminya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 41-43


(Tafsir Kemenag)