Beranda blog Halaman 160

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 13-14 (Part 1)

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 13-14 bagian pertama ini berbicara mengenai perintah untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada manusia. salah satunya dengan meminta perlindungan kepada Allah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 12


Ayat 13-14

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila manusia berada di atas punggung binatang, perahu, kapal, kereta api, pesawat terbang dan lain-lain hendaklah mengingat nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, hendaklah mengagungkan Allah dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak yang dituduhkan orang-orang musyrik kepada-Nya, dan hendaklah mereka membaca ayat ini sebagai doa:

سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَۙ   ١٣  وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ   ١٤

Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. (az-Zukhruf/43: 13-14)

Andaikata Allah tidak menundukkan alam semesta dengan ilmu yang dianugerahkan-Nya tentu manusia tidak dapat melakukannya, karena yang demikian itu diluar kemampuan mereka.

Bacaan doa itu mengingatkan manusia agar selalu bersiap-siap menghadapi hari pembalasan saat seluruh manusia akan menghadapi dan mengalaminya dan jangan lalai mengingat Allah, baik pada waktu bepergian atau tidak, di waktu berlayar atau tinggal di kampung halaman.

Sehubungan dengan tafsir di atas, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abµ Dawud, dan an-Nasa’i bahwa Rasulullah saw, apabila bepergian dan berkendaraan mengucapkan takbir tiga kali dan membaca doa tersebut di atas.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عََلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيْرِهِ خَارِجاً إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلاًثاً ثُمَّ قَالَ (سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّا اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ). (رواه مسلم وابوداود والنسائي)

Apabila Nabi saw mengendarai kendaraannya untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau bertakbir tiga kali. Kemudian beliau membaca, “Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”(Riwayat Muslim, Abµ Dawud, dan an-Nasa’i)


Baca juga: Hukuman Bagi Pelaku Pemerkosaan dalam Islam


Ayat di atas mengajarkan agar manusia mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan berupa binatang dan memperlakukannya dengan baik. Kesetaraan di antara makhluk, terutama antara binatang dan manusia, sangat ditekankan Tuhan. Salah satu ayat di bawah ini menjelaskan bahwa binatang juga umat Tuhan, sama dengan manusia. Walau mereka mempunyai ciri, kekhususan dan sistem yang berbeda-beda, pada hakikatnya, mereka sama dengan manusia di mata Tuhan. Dan manusia diwajibkan untuk mengingatnya.

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ   ٣٨

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”  (al-An’am/6: 38)

Beberapa ayat Al-Qur’an menyinggung mengenai binatang, antara lain tentang bagaimana manusia harus bersikap terhadap binatang, kegunaan binatang untuk manusia, perilaku binatang yang harus ditiru manusia, dan banyak lagi lainnya.

Dalam hubungan kesetaraan antar mahluk ini, ada tulisan seorang arif, Muhammad Fazlur Rahman Ansari, berbunyi demikian, “Segala yang di muka bumi ini diciptakan untuk kita, maka sudah menjadi kewajiban alamiah kita untuk: menjaga segala sesuatu dari kerusakan; memanfaatkannya dengan tetap menjaga martabatnya sebagai ciptaan Tuhan; melestarikannya sebisa mungkin, yang dengan demikian, mensyukuri nikmat Tuhan dalam bentuk perbuatan nyata.”


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 13-14 (Part 2)


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 12

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 12 berbicara mengenai ciptaan Allah yang memenuhi bumi meliputi manusia, hewan, dan lain-lain.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 11


Ayat 12

Di antara sifat Allah yang disebut dalam ayat ini ialah Dia-lah yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan, laki-laki perempuan, jantan-betina, baik dari jenis tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, buah-buahan, bunga-bungaan dan lain-lain maupun dari jenis hewan dan manusia.

Dia pula yang menjadikan kendaraan berupa perahu, kapal yang dapat dipergunakan untuk mengangkut manusia dan keperluan barang dagangan di laut, dan binatang ternak, seperti unta, kuda, himar, sapi dan lain-lain yang dapat dipergunakan sebagai alat pengangkutan di darat, dan lain-lain yang dapat menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain, baik di darat maupun di laut dengan macam alat perhubungan.


Baca juga: Tafsir Surah Quraisy Ayat 1: Mengenal Kabilah Quraisy


Sesuai dengan firman Allah:

وَّالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةًۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ  ٨

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Nahl/16: 8)

Penjelasan mengenai Allah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan dapat dilihat penjelasannya pada Surah asy-Syµra/42: 11. Beberapa ayat lain yang membicarakan hal yang sama adalah Yasin/36: 36, ar-Ra’d/13: 3, dan az-Zariyat/51: 49.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 13 (Part 1)


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Attaubah Ayat 36: Kesunahan Puasa Rajab

0
Kesunahan puasa Rajab
Kesunahan puasa Rajab

Semua jenis ibadah pada hakikatnya adalah baik bahkan kebaikan itu sendiri, terlepas dari waktu dan tempat dilaksanakannya ibadah tersebut. Hanya saja terkadang waktu dan tempat menjadi sebab tidak sahnya suatu ibadah, semisal salat dihukumi batal bila dilaksanakan di dalam kamar mandi, atau seperti puasa di hari raya, baik idul fitri maupun idul adha.

Waktu dan tempat juga dapat menjadi sebab nilai pahala suatu ibadah menjadi bertingkat dan berlipat-lipat, seperti ibadah di yang dilakukan di waktu dan di tempat-tempat yang memiliki keutamaan.

Di antara beberapa ibadah yang terikat dengan waktu sehingga nilai pahalanya bertingkat-tingkat adalah puasa. Selain wajib, puasa juga memiliki hukum sunah yaitu selain puasa Ramadan, puasa karena nazar, dan puasa karena denda. Jika demikian maka puasa sunah adalah puasa-puasa yang dilakukan tidak karena suatu tuntutan wajib tetapi semata karena hendak mendekat (taqarrub) kepada Allah, sebut saja puasa Rajab.

Baca Juga: Tafsir Surah At-Taubah Ayat 36: Menanam Amalan di Bulan Rajab

Tingkatan puasa-puasa sunah

Menurut Imam Ghazali puasa-puasa sunah dapat menjadi utama (muakkad) jika dilakukan diwaktu-waktu yang utama pula. Dalam kitab Ihya’-nya, beliau berkata:

اعْلَمْ أَنَّ اسْتِحْبَابَ الصَّوْمِ يَتَأَكَّدُ فِي الْأَيَّامِ الْفَاضِلَةِ وَفَوَاضِلُ الْأَيَّامِ بَعْضُهَا يُوجَدُ فِي كُلِّ سَنَةٍ وَبَعْضُهَا يُوجَدُ فِي كُلِّ شَهْرٍ وَبَعْضُهَا في كل أسبوع

Ketahuilah, bahwa puasa-puasa sunah dapat menjadi utama (muakkad) jika dilakukan pada waktu-waktu utama (fadilah). Dan waktu-waktu utama itu ada yang terulang setiap pergantian tahun, bulan dan setiap pergantian minggu”

Adapun puasa sunah yang dilakukan setiap perputaran minggu seperti puasa senin, kamis dan jumat. Semetara bulanan adalah puasa diawal, tengah dan akhir setiap bulan. Sedangkan puasa tahunan seperti puasa di hari-hari Arafah, ‘Asyura, sepulah pertama bulan Zul Hijjah dan sepuluh pertama bulan Muharram. Kemudian puasa dibulan-bulan utama, seperti bulan Zul-Qa’dah, Zul Hijjah, Muharram dan Rajab ditambah dengan bulan Sya’ban. (Ihya Ulumiddin vol. 1 hal. 928)

Atas dasar itu, menurut Imam Ghazali Rajab merupakan salah satu bulan yang dianjurkan berpuasa.

Bulan Rajab menjadi mulia (utama) karena termasuk dari empat bulan haram yang tersebut di dalam al-Quran Surah at-Taubah ayat 36 Allah berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

Empat bulan haram itu adalah Zul Qa’dah, Zul Hijjah, Muharram dan Rajab sesuai dengan sebuah riwayat yang dikutib oleh  Fakhruddin ar-Razi:

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ:وَاحِدٌ فَرْدٌ وَثَلَاثَةٌ سَرْدٌ

Bulan haram itu satu tunggal dan tiga berurutan” (Mafatih al-Ghaib vol. 1 hal. 121)

Baca Juga: Mengapa Empat Bulan Ini Disebut Bulan Haram? Simak Penjelasannya

Kemuliaan bulan Rajab

Tentang keutaman bulan Rajab menurut Syekh Mulla Ali Qari (W. 1014 H) diisyaratkan oleh penggalan ayat

فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

Bahwa dilipat gandakannya dosa kezaliman dibulan-bulan haram demikian pula pahala amal-amal kebaikan, itu menunjukkan bahwa bulan-bulan itu amat mulia termasuk bulan rajab sendiri. Walaupun pada dasarnya setiap kezaliman itu buruk tetapi keburukan dosa yang dilakukan dibulan haram lebih keci dari pada bulan lainnya dengan bukti sangat dilarangnya perperangan dibulan-bulan haram itu. Sebaliknya amal kebaikan tentu bernilai lebih pula.

Hal ini sesuai ucapan Qatadah yang beliau kutib “Pahala amal kebaikan yang dilakukan dibulan-bulan haram lebih besar dari bulan-bulan lain, begitu pula dosa kezaliman dibulan-bulan itu lebih besar dari pada dosa kezoliman dibulan-bulan lain” (Risalah al-Adab Fi Rajab, hal. 25)

Baca Juga: Inilah Larangan di Bulan Haram yang Perlu Diketahui

Puasa Rajab antara sunah dan tidak

Salah satu pembahasan khusus yang dijelaskan Syekh Mulla Ali Qari dalam Risalah al-Adab fi Rajab-nya adalah tentang apakah benar puasa dibulan Rajab itu disunahkan berdasarkan hadis-hadis Nabi ataukah tidak?

Menurut dia, puasa di bulan Rajab, meskipun hadis-hadis yang meriwayatkannya hampir semuanya dhaif (lemah) namun dengan banyaknya jalur hadis-hadis yang meriwayatkanya maka hadis itu dapat dianggap kuat. Selain itu bukankah kaidah ilmu hadis menyebutkan bahwa hadis-hadis dhaif dapat diamalkan jika berkaitan dengan keutamaan-keutamaan ibadah (fadhailul a’mal). Terdapat tidak kurang dari 14 hadis yang dia sebutkan tentang kesunahan puasa di bulan Rajab itu. (Risalah al-Adab Fi Rajab, hal. 30)

Atas dasar itu, dia memiliki pandangan yang sama dengan Imam Ghazali yang juga mengakui kesunahan puasa di bulan Rajab. Dan salah satu hadis yang beliau kutip adalah:

رَجَبٌ شَهْرٌ عَظِيمٌ، يُضَاعِفُ اللهُ فِيهِ الْحَسَنَاتِ، فَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ سَنَةً

Rajab adalah bulan agung, Allah lipat gandakan di dalamnya pahala kebaikan, barang siapa yang berpuasa sehari dalam bulan Rajab maka seakan dia telah puasa selama setahun”( al-Mu’jam al-Kabir Li at-Thabrani vol. 6 hal. 69)

Jawaban Mulla Ali Qari kepada orang yang melarang puasa Rajab

Yang menarik adalah Mulla Ali Qari mengkritik ulama yang tidak mengakui kesunahan puasa Rajab yang bahkan melarang serta mengklaim puasa Rajab itu bidah.

Dia berkata: “Tidak ada gunanya tindakan sebagian ulama yang melarang puasa di bulan Rajab bahkan mengklaim bidah itu, karena bagaimanapun puasa pada hakikatnya adalah ibadah sedangkan ibadah pastilah baik. Manusia tidaklah diciptakan kecuali untuk beribadah. Selain itu, bukankah semua ulama telah sepakat bahwa hadis-hadis dhaif boleh di amalkan jika berkaitan dengan fadhailul amal”. (Risalah al-Adab Fi Rajab, hal. 41-42)

Sehingga terlepas dari waktu kapan puasa itu dilakukan, selagi tidak dalam waktu yang diharamkan pada dasarnya puasa tetaplah dianjurkan, apalagi di bulan Rajab yang termasuk dari bulan-bulan haram yang tentu memiliki keutamaan dari bulan-bulan lain.

Dengan begitu, sekiranya tidaklah patut mempermasalahkan orang disekitar kita yang dengan tulus hati berpuasa dibulan Rajab, tanpa perlu mengucilkannya hanya karena hadis yang digunakan itu dhaif. Karena bagaimanapun tetap ada ulama yang menganggap puasa Rajab itu sunah. Wallahu a’lam.

Kritik Sumber Ilmu Rasm Utsmaniy

0
Kritik Sumber Ilmu Rasm Utsmaniy
Kritik Sumber Ilmu Rasm Utsmaniy

Ali Fitriana Rahmat dalam Sepuluh Pijakan Ilmu Rasm Utsmani Yang Patut Diketahui menyebutkan bahwa ada perbedaan pendapat ulama mengenai sumber (istimdad) ilmu rasm. Ahmad Muhammad dalam Latha’if al-Bayan menganggap konsensus sahabat sebagai sumber ilmu ini. Ahmad Malik dalam Miftah al-Aman fi Rasm al-Qur’an bahkan menguatkannya dengan merujuk petunjuk (irsyad) Rasulullah Saw. Sementara Salim Muhaisin dalam Al-Fath al-Rabbaniy cenderung menyebut karya para ulama yang dirumuskan berdasarkan al-mashahif (mushaf-mushaf yang dikirim ‘Utsman berikut dengan salinannya) sebagai sumber ilmu rasm.

Perbedaan pendapat ini jika dirunut pada sejarah kemunculan dan perkembangannya, pada dasarnya akan menemukan relevansi kebenarannya masing-masing. Hal ini dikarenakan perbedaan penekanan sudut pandang historis dari masing-masing pendapat yang ada. Namun begitu, kritik ontologis terhadap sumber ilmu rasm tetap harus dilakukan sebagai bagian dari perkembangan kajian akademik.

Rasm utsmaniy didefinisikan sebagai tulisan yang digunakan untuk menuliskan ayat-ayat Alquran, dari semua tahapan penulisannya hingga tahapan terakhir di era khalifah Utsman. Definisi yang lain menyebutkan bahwa rasm utsmaniy adalah tulisan yang disepakati oleh khalifah Utsman dan sahabat yang lain di masanya.

Rasm Utsmaniy: dari nabi, sahabat atau lainnya?

Jika mengacu pada definisi ini, pendapat Ahmad Muhammad dan Ahmad Malik sebelumnya agaknya dapat dibenarkan, dengan mengatakan bahwa sumber ilmu rasm adalah petunjuk Rasulullah Saw. serta konsensus para sahabat. Hal ini dikarenakan definisi rasm ini berupaya mengakomodir setiap produk penulisan Alquran dari seluruh tahapan penulisan yang ada: era Rasulullah Saw. bersama dengan kuttab al-wahy-nya, era Abu Bakr dengan Suhuf-nya, dan era Utsman dengan al-mashahif-nya.

Dua pendapat ini juga tampaknya terafiliasi mazhab tauqifiy yang menganggap rasm ‘utsmaniy sebagai produk ajaran syari‘, Allah Swt. dan rasul-Nya. Mazhab rasm yang berpegangan pada riwayat Mu‘awiyah dan Anas bin Malik,

أَلِقِ الدَّوَاةَ، وَحَرِّفَ الْقَلَمَ، وَانْصِبِ الْبَاءَ، وَفَرِّقِ السِّيْنَ، وَلَا تُعَوِّر الْمِيْمَ، وَحَسِّن اللهَ، وَمُدَّ الرَّحْمنَ، وَجَوِّدِ الرَّحِيْمَ.

“Tetapkanlah tinta, miringkan (ujung) pena, tegakkan (tinggikan gerigi) huruf ba’, pisahkan (tegaskan gerigi) huruf sin, percantik (tulisan) Allah, panjangkan (tulisan) al-rahman, dan perindah (tulisan) al-rahim”

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا دَعَا رَجُلًا إِلَى الْكِتَابَةِ يَقُوْلُ: أَلِقِ الدَّوَاةَ، وَحَرِّفِ الْقَلَمَ، وَجَوِّدْ بسم الله الرحمن الرحيم: أَقِم الْبَاءَ وَفَرِّج السِّيْن وَافْتَحْ الْمِيْم وَحَسِّن اللهَ وَجَوِّد الرَّحْمن الرَّحِيْم، فَإِنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْل كَتَبَهَا فَجَوَّدَها فَدَخَلَ الجَنَّةَ

“Nabi ketika memanggil salah seorang sahabat untuk menuliskan wahyu berkata: “Tetapkanlah tinta, miringkan (ujung) pena, perindah tulisan bismillahirrahmanirrahim: tegakkan (tinggikan gerigi) huruf ba’, pisahkan (tegaskan gerigi) huruf sin, lubangi huruf mim, percantik (tulisan) Allah, dan perindah (tulisan) al-rahman al-rahim. Karena seorang dari Bani Israil yang menulisnya lantas memperindahnya, ia kemudian masuk surga”

Namun demikian, pendapat keduanya ini tampaknya memiliki kelemahan dari aspek sandaran yang digunakan. Riwayat Mu‘awiyah dan Anas bin Malik di atas masih banyak mendapat sorotan terkait keabsahan jalur riwayatnya, terutama oleh kelompok oposisi yang menganggap hakikat rasm adalah hasil ijtihad para sahabat.

Kemudian jika menitikberatkan pada aspek ijma‘ (konsensus) sahabat, pertanyaannya kemudian adalah bukankah ijma‘ yang dilakukan para sahabat hanya sekadar aklamasi yang diikuti dengan penyalinan al-mashahif milik ‘Utsman? Sedangkan dalam beberapa literatur ilmu rasm, sumber yang umumnya dijadikan adalah al-mashahif-nya, bukan ijma‘-nya. Sehingga rujukan yang lebih tepat barangkali adalah output dari ijma‘ tersebut, berupa al-mashahif yang dikirim oleh ‘Utsman yang kemudian dijadikan sebagai master mushaf salinan.

Sekarang, bagaimana dengan pendapat Salim Muhaisin dalam Al-Fath al-Rabbaniy yang memilih karya ulama yang disusun berdasar al-mashahif? Berdasarkan catatan yang diberikan Zainal Arifin dari Ganim Qadduriy al-Hamd, hingga abad ke-4 hijriah karya di bidang rasm oleh para ulama masih didominasi dengan karya perbandingan antara al-mashahif. Barangkali hal ini yang menjadi pegangan Salim Muhaisin dalam pendapatnya. Karya-karya seperti Ikhtilaf Mashahif al-Syam wa al-Hijaz wa al-‘Iraq milik Ibn ‘Amir (w. 118 H./736 M.), Ikhtilaf Mashahif Ahl al-Madinah wa Ahl al-Kufah wa Ahl al-Basrah milik ‘Ali al-Kisa’iy (w. 189 H./805 M.), dan Ikhtilaf al-Mashahif Ahl al-Amshar wa Rasmuh milik Khalaf bin Hisyam (w. 229 H./844 M.).

Akan tetapi, jika dicermati kembali, dengan judul dan konten perbandingan al-mashahif di dalamnya, bukankah karya-karya ini sendiri justru merujuk pada al-mashahif, dan bukan merupakan sumber primer? Jika demikian, tidakkah sebaiknya merujukkan sumber ilmu rasm secara langsung kepada al-mashahif, dan bukan pada karya perbandingannya?

Penulis sendiri belum menjumpai ulasan lebih lanjut perihal alasan pemilihan masing-masing pendapat di atas. Namun demikian, dengan melihat pada literatur ilmu rasm yang selalu mencantumkan al-mashahif sebagai rujukan, penulis menganggap bahwa sumber otoritatif dalam ilmu rasm adalah al-mashahif, baik yang dikirim oleh ‘Utsman kala itu atau pun produk salinannya. Beberapa pernyataan dari Abu ‘Amr al-Daniy dan Abu Dawud Sulaiman setidaknya dapat menguatkan anggapan penulis ini,

هَذا كِتَابٌ أَذْكُرُ فِيْهِ إِنْ شَاءَ اللهُ مَا سَمِعْتُهُ مِنْ مَشِيْخَتِيْ، وَرَوَيْتُهُ عَنْ أَئِمَّتِي مِنْ مَرْسُوْمِ خُطُوْطِ مَصَاحِفِ أَهْلِ الْأَمْصَارِ-الْمَدِيْنَةِ وَمَكَّةَ وَالْكُوْفَةِ وَالْبَصْرَةِ وَالشَّامِ وَسَائِرِ الْعِرَاقِ-

“Ini merupakan kitab yang akan aku (Al-Daniy) sebutkan di dalamnya, insyaAllah, apa yang aku dengar dari guru-guruku, dan aku riwayatkan dari imam-imamku, meliputi rasm dan tulisan mushaf-mushaf ahl al-amshar-Madinah, Makkah, Kufah, Bashrah, Syam, dan Iraq.”

وَعَلَى مَصَاحِفِ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ يَكُوْنُ تَعْوِيْلُنَا إِنْ شَاءَ اللهُ فِي الْهِجَاءِ

“Dan kepada mushaf-mushaf penduduk Madinah pegangan kami (Abu Dawud) dalam masalah hija’ (rasm).”

Jika harus memilih pendapat-pendapat di atas, penulis sendiri lebih cocok dengan pendapat Ahmad Muhammad dalam Latha’if al-Bayan, yang menyandarkan pada konsensus para sahabat. Hal ini dikarenakan adanya kedekatan al-mashahif dengan ijma‘ para sahabat. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 11

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 11 berbicara mengenai hikmah penciptaan hujan sebagai rahmat bagi manusia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 9-10


Ayat 11

Allah menurunkan hujan dari langit sesuai dengan keperluan untuk menghidup-suburkan tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan.

Dia menurunkan hujan tidak lebih dari yang diperlukan sehingga tidak melimpah ruah melampaui batas dan akhirnya menjadi bencana, seperti halnya air bah yang merusak dan membinasakan, dan tidak pula terlalu sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan untuk kesuburan tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan kering dan layu, dan mengakibatkan timbulnya bencana kelaparan yang menimpa makhluk Allah di mana-mana.

 Dengan turunnya hujan dari langit sesuai dengan kadar yang diperlukan, maka hidup dan makmurlah negeri yang telah mati yang tidak lagi ditumbuhi tanam-tanaman dan pohon-pohonan. Sebagaimana Allah kuasa menghidupkan negeri yang telah mati, begitu pula Dia kuasa menghidupkan dan mengeluarkan orang-orang mati itu dari kubur dalam keadaan hidup, sebagaimana firman Allah:

وَّيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَيُحْيٖ بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). (ar-Rµm/30: 24)

Dan firman-Nya:

فَسُقْنٰهُ اِلٰى بَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَحْيَيْنَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ  كَذٰلِكَ النُّشُوْرُ

Maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus) lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah mati (kering). Seperti itulah kebangkitan itu. (Fatir/35: 9)

Apa yang dikemukakan oleh ayat ini dibuktikan oleh ilmu pengetahuan yang ditemukan manusia saat ini. Diperkirakan dalam waktu satu detik, sebanyak 16 juta ton air menguap dari bumi. Menggunakan angka ini, maka diperhitungkan akan adanya 513 triliun ton air yang menguap dari bumi dalam setahun.

Angka ini ternyata sama dengan perhitungan mengenai jumlah air hujan yang turun dalam setahun. Dengan demikian, air melakukan sirkulasi yang seimbang secara terus-menerus. Kehidupan di bumi sangat bergantung pada keberlanjutan siklus air yang demikian ini. Walaupun banyak teknologi mencoba mengintervensi siklus alami ini, seperti membuat hujan buatan, pada kenyataannya siklus air tidak dapat dibuat secara artifisial.

Proporsi air hujan tidak hanya penting dalam bentuk jumlahnya, tetapi juga kecepatan turunnya butir air hujan (menurut ukuran yang diperlukan). Kecepatan butir air hujan tidak melebihi kecepatan standar, tidak peduli berapa ukuran butir air hujan itu. Umumnya butiran air hujan mempunyai diameter 4,5 mm. Kecepatannya sekitar 8 meter per detik.


Baca juga: Tafsir Surah Quraisy Ayat 1: Mengenal Kabilah Quraisy


Pada ukuran yang lebih kecil, tentunya kecepatannya lebih rendah. Pada ukuran butiran yang lebih besar dari 4,5 mm, tidak berarti kecepatannya makin tinggi. Kecepatannya tetap, yaitu sekitar 8 meter per detik. Hal ini disebabkan karena bentuk butiran yang cair itu akan berinteraksi dengan udara dan angin sehingga bentuk butir air itu berubah sedemikian rupa yang mengakibatkan kecepatan jatuhnya menurun dan tidak melebihi kecepatan standar.

Menghidupkan negeri yang mati dengan air (hujan) dari langit telah difirmankan pada Surah Fussilat/41: 39, bahwasanya dengan diturunkan hujan di daerah yang tandus maka daerah tersebut akan (bisa, dengan kehendak Allah) ditumbuhi pepohonan. Pada ayat ini ditekankan bahwa air dari langit diturunkan menurut kadar tertentu.

Kebangkitan manusia setelah alam kubur sering diibaratkan dengan menghidupkan tanah yang tandus dengan air hujan. Perumpamaan ini dapat kita bandingkan dengan tumbuhnya biji-bijian atau spora liar yang terbawa tiupan angin dan terserak di atas tanah yang kering.

Apabila tanah yang kering ini mendapat siraman hujan dengan jumlah yang cukup (menurut ukuran yang diperlukan), maka biji-biji tersebut akan tumbuh menjadi kecambah-kecambah dan kemudian menjadi tumbuhan.

Apabila curah hujan sangat banyak maka biji-bijian atau spora yang menjadi bakal benih tumbuh-tumbuhan akan hanyut terbawa aliran air. Seandainya aliran air tidak sampai menghanyutkan, tetapi bila kadar kelembaban air dalam tanah terlalu berlebih maka biji-bijian tidak akan tumbuh menjadi kecambah, malahan akan membusuk. Semuanya menurut ukuran.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 12


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 9-10

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 9-10 berbicara mengenai dua hal. Pertama pengetahuan alam bawah sadar orang-orang musyrik. Kedua mengenai hikmah penciptaan bumi sebagai rahmat bagi manusia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 5-8


Ayat 9

Ayat ini ditujukan Allah kepada Rasul-Nya bahwa apabila dia bertanya kepada kaumnya yang musyrik, siapakah yang menjadikan alam semesta seperti langit, bumi dan lainnya, mereka dengan tandas menjawab, bahwa semuanya itu diciptakan oleh Allah, Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui segalanya, tidak satu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ  ٥

Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit. (Ali ‘Imran/3: 5)


Baca juga: Mengenal Imam Mazhab Rasm Bagian 2: Abu Dawud Sulaiman Najah


Ayat 10

Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan menyiapkan bagi makhluk-Nya untuk tempat mereka menetap, berpijak dan mengayunkan kaki, diperlengkapi dengan jalan-jalan agar mereka dapat berkunjung dari satu tempat ke tempat yang lain, baik yang dekat maupun yang jauh untuk kepentingan hidup dan penghidupan, kepentingan ekonomi dan perdagangan, dan lain-lain. Sejalan dengan ayat ini firman Allah:

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ  ٦

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan. (an-Naba’/78: 6)

Firman Allah:

وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ   ٣١

Dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (al-Anbiya’/21: 31)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 11


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 5-8

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 5-8 berbicara megenai tiga hal. Pertama mengenai rahmat dan kasih sayang Allah kepada umat manusia. Kedua mengenai hiburan Allah kepada Nabi Muhammad. Ketiga mengenai kehancuran yang akan dialami oleh orang-orang kafir.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 1-4


Ayat 5

Allah mencela kaum musyrik Mekah dengan mengatakan: Apakah Kami akan berhenti memperingatkan kamu dengan Al-Qur’an karena kamu sudah begitu mendalam dalam kekafiranmu, selalu meninggalkan perintah Kami dan melakukan larangan Kami?

Tidak! Kami sekali-sekali tidak akan berbuat demikian, karena rahmat dan kasih sayang Kami kepadamu, meskipun kamu seharusnya dibinasakan, atau dibiarkan sesat sampai mati, karena perbuatanmu sudah keterlaluan dan melampaui batas.

Qatādah berkata, “Sekiranya Al-Qur’an itu telah diangkat atau ditiadakan ketika ia ditolak orang-orang pertama dari umat terdahulu, maka pasti mereka binasa, tetapi Allah selalu memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka dan Muhammad saw senantiasa menyeru mereka selama dua puluh tahun lebih menurut izin dan kehendak Allah.”

Ayat 6-7

Pada ayat ini Allah menghibur Rasul-Nya Muhammad saw yang sedang duka, karena ia didustakan oleh kaumnya, dan Allah memerintahkan kepadanya agar dia bersabar. Tidak sedikit rasul yang telah diutus oleh Allah sejak dahulu diingkari dan diejek oleh kaumnya sebagaimana ia diingkari dan diejek pula.

Demikianlah Sunnatullah yang merupakan satu ketentuan dari Allah yang tidak dapat diubah lagi, sebagaimana firman Allah:

سُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا   ٦٢

Sebagai sunah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (al-Ahzab/33: 62)


Baca juga: Sejarah Kemunculan Tafsir Pesantren


Ayat 8

Allah menerangkan bahwa Dia menghancurkan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul dan mereka tak dapat mengelak dan menghindar apabila bencana itu datang, padahal mereka jauh lebih kuat dan perkasa dibandingkan dengan kaum Nabi Muhammad saw. Yang demikian itu hendaknya menjadi perhatian umat Muhammad. Firman Allah:

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ كَانُوْٓا اَكْثَرَ مِنْهُمْ وَاَشَدَّ قُوَّةً وَّاٰثَارًا فِى الْاَرْضِ

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi. (Gafir/40: 82)

Ayat ini ditutup dengan satu peringatan kepada umat Muhammad bahwa ketentuan Allah yang berlaku pada umat yang mendustakan rasul, kiranya menjadi pelajaran bagi mereka karena tidak mustahil mereka itu juga akan ditimpa bencana sebagaimana halnya umat yang terdahulu itu. Firman Allah:

فَجَعَلْنٰهُمْ سَلَفًا وَّمَثَلًا لِّلْاٰخِرِيْنَ ࣖ  ٥٦

Maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian. (az-Zukhruf/43: 56);Allah juga berfirman:

سُنَّتَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ فِيْ عِبَادِهِۚ

Itulah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. (Gafir/40: 85)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 9-10


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 1-4

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 1-4 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai sumpah Allah dengan al-Qur’an. Kedua mengenai penggunaan bahasa Arab dalam al-Qur’an. Ketiga mengenai al-Qur’an di Lauh Mahfuz.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 52-53


Ayat 1

 Permulaan ayat ini terdiri dari huruf-huruf hijaiah, sebagaimana terdapat pada permulaan beberapa surah lainnya. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Selanjutnya silahkan menelaah masalah ini pada Al-Qur’an dan Tafsirnya jilid I yaitu tafsir ayat pertama Surah al-Baqarah.”

Ayat 2

Allah bersumpah, demi Kitab Suci Al-Qur’an yang menerangkan petunjuk dan hidayah, dan penjelasan hal-hal yang diperlukan manusia di dunia dan di akhirat untuk mencapai kebahagiaan. Barang siapa mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah digariskan di dalam Al-Qur’an, dia akan beruntung dan selamat, dan barang siapa yang menyimpang daripadanya, maka dia akan merugi dan sesat dari jalan yang benar.


Baca juga: Tafsir Surah Albaqarah Ayat 29: Bumi untuk Kesejahteraan Hidup Manusia


Ayat 3

Allah menerangkan bahwa Dia telah menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab bukan dalam bahasa ‘Ajam (bahasa-bahasa asing) karena yang akan diberi peringatan pertama kali adalah orang-orang Arab agar mereka mudah memahami pelajaran dan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya, dan dengan mudah mereka dapat memikirkan arti dan maknanya.

Dia tidak menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa ‘Ajam agar tidak ada alasan bagi mereka untuk mengatakan bagaimana mereka dapat memahami isi    Al-Qur’an karena bahasanya bukan bahasa Arab, bahasa kami, sebagaimana firman Allah:

وَلَوْ جَعَلْنٰهُ قُرْاٰنًا اَعْجَمِيًّا لَّقَالُوْا لَوْلَا فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ ۗ ءَاَ۬عْجَمِيٌّ وَّعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌ

Dan sekiranya Al-Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. (Fussilat/41: 44)

Ayat 4

Allah menerangkan kedudukan Al-Qur’an di Lauh Mahfuz bahwa ia telah ada dalam ilmu-Nya yang azali, amat tinggi nilainya karena dia mengandung rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah yang menerangkan kebahagiaan manusia, dan petunjuk-petunjuk yang membawa mereka ke jalan yang benar. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ    ٧٧  فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ   ٧٨  لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ    ٧٩  تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ   ٨٠

Dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. (al-Waqi’ah/56: 77-80)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 5-8


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 52-53

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 52-53 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana nabi-nabi terdahulu pun begitu. Kedua berbicara mengenai syariat Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 49-51


Ayat 52

Allah menerangkan bahwa sebagaimana Dia menurunkan wahyu kepada rasul-rasul terdahulu Dia juga menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad saw berupa Al-Qur’an sebagai rahmat-Nya.

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Muhamamad saw sebelum mencapai umur empat puluh tahun dan berada di tengah-tengah kaumnya, belum tahu apa Al-Qur’an itu dan apa iman itu, dan begitu juga belum tahu apa syariat itu secara terperinci dan pengertian tentang hal-hal yang mengenai wahyu yang diturunkan-Nya, tetapi Allah menjadikan Al-Qur’an itu cahaya terang benderang yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba

yang dikehendaki-Nya dan membandingkan kepada agama yang benar yaitu agama Islam. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا كُنْتَ تَرْجُوْٓا اَنْ يُّلْقٰٓى اِلَيْكَ الْكِتٰبُ اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ  فَلَا تَكُوْنَنَّ ظَهِيْرًا لِّلْكٰفِرِيْنَ ۖ   ٨٦

Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir. (al-Qasas/28: 86)

Dan firman-Nya:

قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌ ۗوَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًىۗ ٤

Katakanlah, “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. (Fussilat/41: 44)

Firman Allah:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ

Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus. (al-Isra’/17: 9)

Dengan cahaya Al-Qur’an itulah, Allah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus yaitu agama yang benar.


Baca juga: Ketika Kaum Sufi Berinteraksi dengan Alquran


Ayat 53

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa jalan yang lurus itu ialah jalan yang telah disyariatkan Allah pemilik langit dan bumi serta penguasa keduanya, berbuat sekehendak-Nya, dan sebagai hakim yang tidak dapat digugat keputusan-Nya.

Ayat ini diakhiri dengan satu peringatan bahwa semua urusan makhluk pada hari Kiamat nanti dikembalikan kepada Allah tidak kepada yang lain. Maka ditempatkanlah setiap mereka itu pada tempat yang layak baginya, di surga atau di neraka. Firman Allah:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗوَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ ࣖ  ١٠٩

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. (Ali Imran/3: 109)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 1-4


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Tokoh ‘Keajaiban Zaman’ dari Turki, ‘Badiuzzaman’ Said Nursi

0
Badiuzzaman Said Nursi
Badiuzzaman Said Nursi

Badiuzzaman Said Nursi lahir di desa Nurs, Anatolia Timur tahun 1293 H/1876 M tepat diakhir masa ke khalifahan Ustmani (Sultan Abdul Hamid II), dan wafat pada tahun 1960 M. Badiuzzaman Said Nursi merupakan seorang yang alim, tawaduk, zuhud, genius serta banyak menguasai berbagai macam disiplin keilmuan. Kehausan akan ilmu pengetahuan sudah muncul semenjak Said Nursi di usia belia. Ia tumbuh sebagai anak yang kritis. Ia sering mengajukan pertanyaan kritis kepada ayah dan ibunya. Dalam rangka belajar dan mencari guru yang handal dan profesional, ia sering berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain, dari satu madrasah ke madrasah yang lain. (Siratu al-Dhatiyah, 2008)

Kegeniusan Nursi mulai terlihat ketika ia mampu menyelesaikan dan memahami pelajaran dalam jangka waktu tiga bulan saja, padahal untuk orang lain, normalnya diperlukan waktu dua puluh tahun. (Biografi Said Nursi, 29). Julukan “Badiuzzaman” yang berarti “keajaiban zaman” di depan namanya sebagai sebagai bentuk pengakuan ulama dan para ilmuwan terhadap kecerdasannya, pengetahuan serta wawasannya yang luas. (al-Lama’at, vi)

Di balik kecerdasan Said Nursi tersebut, ada andil didikan kedua orangtuanya, Mirza dan Nuriye. Keduanya dikenal sebagai tokoh sufi pada masanya. Dikatakan bahwa keduanya tidak pernah meninggalkan shalat tahajud, Mirza (ayah Nursi) selalu berdzikir setiap tarikan nafasnya dan selalu menjaga dari keharaman baik dari makanan yang masuk ke keluarganya maupun hewan peliharannya, bahkan selalu mengikat mulut lembunya sampai di lapangan yang halal rumputnya. (Api Tauhid, 129) Demikian pula Nuriye (Ibu Nursi). Ia selalu menjaga dirinya dari hal yang syubhat, selalu menjaga wudu kecuali ada uzur, dan tidak menyusui anak-anaknya kecuali dalam keadaan suci. (Siratu al-Dhatiyah, 56).

Baca Juga: Konsep Masyarakat Ideal Menurut Said Nursi

Seputar Rasail Nur

Rasail Nur merupakan nama dari kumpulan kitab tafsir karangan Said Nursi. Karya tafsir ini terdiri dari sepuluh jilid yaitu al-Lama’at, al-Maktubat, al-Lama’at, al-Syua’at, Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-I’Jaz, al-Masnawi al-‘Arabi al-Nuri, al-Malahiq fi Fiqh Da’wah al-Nur, Saiqal al-Islam, Sirah al-Zatiyah, dan al-Faharis. (Mursyid Ahl al-Qur’an…, 81)

Ada cerita menarik di balik penulisan tafsir Rasail Nur. Ketika Nursi berumur lima belas tahun, ia bermimpi bertemu dengan para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi tersebut, Said Nursi mencium tangan nabi Muhammad serta meminta agar di ajarkan ilmu. Nabi Muhammad lantas berkata “Kelak kamu akan dianugerahi ilmu Alquran, kamu tidak bertanya kepada siapapun.” (Siratu al-Dhatiyah, 67)

Setelah perjumpaan dengan Nabi Muhammad SAW. dalam mimpi tersebut, Said Nursi menjadi lebih bersemangat untuk terus menuntut ilmu dan menyelami Alquran, sehingga menghasilkan karya besar yang berjumlah seratus tiga puluh risalah (al-Maktubat, x-xi). Karya-karya tersebut bahkan telah diterjemahkan lebih dari lima puluh bahasa dengan judul Rasail Nur. (Biografi Badiuzzaman Said Nursi, 974)

Selain itu, dijelaskan juga bahwa latar belakang penulisan Rasail Nur adalah untuk menguatkan keimana umat Islam di tengah kecamuk perang dan kondisi politik di bawah rezim sekuler yang melanda Turki pada saat itu. (Said Nursi dan Sufi Besar Abad 20, 130)

Baca Juga: Muhammad Rasyid Ridha: Mufasir Penerus Gagasan Pembaharuan Islam

Sekilas tentang sumber, metode dan kecenderunga tafsir      

Dilihat dari sumbernya, Said Nursi dalam menafsirkan sebuah ayat Alquran tidak hanya berdasarkan pada riwayah (man’qul) saja, namun juga berdasarkan pada ra’yu (ma’qul) atau biasa disebut dengan Iqtirani. Hal senada juga disampaikan oleh Abdul Ghofur Mustafa Ja’far, bahwa dalam menafsirkan Alquran, Said Nursi menggunakan langkah-langkah yang sama sebagaimana yang disepakati oleh para ulama, yaitu menafsirkan Alquran dengan Alquran. (al-Tafsir wa al-Mufassirun,747) Hal tersebut dapat dibuktikan dari salah satu karyanya yang berjudul Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-I’Jaz yang mencoba menafsirkan surah Albaqarah ayat ke-7 dengan surah Annisa ayat ke-69. (Isyarat al-I’jaz, 32)

Sedang dilihat dari penjelasannya, Said Nursi menafsirkan Alquran secara deskriptif, meski dalam pengakuannya ia menulis karyanya secara ringkas, tetapi dapat dilihat secara umum cara penyajian tafsirnya lebih kepada deskriptif, karena menjelaskannya dari banyak sisi. Mula-mula Nursi menafsirkan Alquran dengan Alquran, dilanjutkan dengan penjelasan dari segi balaghiah (gaya bahasanya) dan makna atau maksud yang terkandung dalam ayat Alquran. (Maqasid al-Qur’an Perspektif Said Nursi, 74).

Sementara itu, jika dilihat dari segi sasaran dan tertib ayatnya, Said Nursi menggunakan dua metode sekaligus yaitu tahlili dan juga mawdui, metode tahlili digunakan hanya di satu karyanya saja yaitu dalam Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-I’Jaz, (Maqasid al-Qur’an Persfektif Said Nursi, 78) sedangkan dalam karyanya yang lain menggunakan metode mawdui. (Mengenal Risalah Nur Karya Said Nursi, 110).

Adapun untuk kecenderungan tafsirnya, Said Nursi dalam Rasail Nur nya memiliki banyak ketertarikan, mulai dari bahasa, tasawuf, teologi, sosial kemasyarakatan maupun ilmi (sains). (Mengenal Risalah Nur Karya Said Nursi, Maghza, 120). Namun kecenderungan yang paling besar dalam karya tafsirnya adalah lughawi atau adabi (Bahasa dan sosial kemasyarakatan). (Maqasid al-Qur’an Persfektif Said Nursi, 80).