Beranda blog Halaman 352

Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [1]: Hudan dalam Surah Al-Baqarah Ayat 185

0
Fungsi pokok Al-Quran sebagai petunjuk
Fungsi pokok Al-Quran sebagai petunjuk

Di antara tiga fungsi pokok Al-Quran adalah hudan lin nas. Al-Quran sebagai petunjuk telah menyediakan seluruh panduan dan membekali manusia untuk menjalankan kehidupannya. Tujuannya, agar manusia terhindar dari kesesatan atau salah jalan. Inilah salah satu fungsi pokok Al-Quran yang dilukiskan oleh-Nya dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

”Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (Q.S. al-Baqarah [2]: 185)

Makna Hudan

Para ulama menafsirkan kata hudan lin nas secara beragam. Di antaranya al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan, menafsirkan redaksi hudan lin nas adalah

رشاداً للناس إلـى سبـيـل الـحقّ وقصد الـمنهج

“Petunjuk bagi manusia menuju jalan kebenaran dengan jalan yang metodis”.

Berbeda dengan al-Tabari, Ibnu Katsir lebih menggabungkan ketiga redaksi hudan lin nas wa bayyinatin minal huda wal furqan dengan makna “Ini adalah sebuah sanjungan kepada Al-Quran bahwa Allah swt menurukannya sebagai petunjuk bagi hati seorang hamba sehingga ia merasakan keamanan, kebenaran lalu mengikuti petunjuk Al-Quran” (haadza madhun lil quran alladzi anzalahullahu hudan li qulubil ‘ibadai mimman aamana bihi wa shadaqahu wa atba’ahu).

Sedangkan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, ia membagi penafsiran kata hudan menjadi beberapa bagian (wajah), di antaranya pertama, Allah swt menjadikan Al-Quran beserta ayat-ayatnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa (hudan lil muttaqin). Kedua, selain kepada orang yang bertakwa, Al-Quran juga menjadi petunjuk bagi umat manusia secara keseluruhan tanpa kecuali (hudan lin nas).

Baca juga: Perbedaan Fungsi Mushaf dan Tafsir dalam Internal Umat Islam

Penafsiran serupa juga disampaikan al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf bahwa kata hudan bermakna hidayatun lin nas ilal haq (petunjuk bagi manusia menuju kebenaran). Hal ini juga diamini oleh al-Baidhawi, hanya saja ia menggabungkan ketiga fungsi Al-Quran sehingga memunculkan dua pemaknaan, yaitu pertama, Al-Quran turun sebagai petunjuk bagi manusia dengan i’jaz-nya (hidayatun lin nas bi i’jazihi wa ayati) dan memandu manusia menuju kepada kebenaran (mimma yahdli ilal haq). Kedua, Al-Quran berfungsi pembeda antara perkara yang bathil dan haq (wa yufraqu bainahu wa bainal bathila bima fihi minal hukmi wal ahkami).

Al-Mahalli dan al-Suyuthi dalam Tafsir Jalaian juga ikut nimbrung menyampaikan pemaknaannya, keduanya menafsiri kata hudan sebagai pedoman bagi manusia agar terhindar dari kesesatan (hadiyan min al-dhalalah). Tak pelak, Ibnu Atiyyah secara khusus menafsiri kata hudan dengan corak sufistiknya. Dalam kitabnya, al-Muharrar al-Wajiz ia menuturkan bahwa hudan adalah sebuah keteguhan dan MoU awal (lil ‘ahdi wal murad al-awwal) bahwa manusia pasti membutuhkan sebuah petunjuk dalam segala aktifitasnya.

Baca juga: Memperingati Earth Day: Simak Perhatian Al-Quran Terhadap Lingkungan

Melanjutkan Ibn ‘Atiyyah, Al-Khazin dalam Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil menuturkan bahwa petunjuk (hudan) itu dibutuhkan agar manusia terhindar kesesatan (al-dhalalah). Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sesungguhnya Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia secara keseluruhaan (hudan lin nas ‘ala al-ijmali).

Muqatil bin Sulaiman dalam tafsirnya, ia mempunyai penafsiran yang patut kita renungkan bersama, yaitu Al-Quran sebagai petunjuk tidak hanya berkutat pada persoalan baik-buruk, lebih dari itu ia juga menghindarkan manusia dari perkara syubhat (remang-remang, tidak jelas) inilah yang diterminologikannya dengan term “agama” (al-din min al-syubhat wa al-dhalalah).

Lebih jauh, al-Biqa’i dalam Nadzm al-Durar, ia menafsirkan redaksi hudan lin nas cukup rinci dengan mengutip perkataan al-Harali,

هدى للناس قال الحرالي: فيه إشعار بأن طائفة الناس يعليهم الصوم أي بالتهيئة للتدبر والفهم وانكسار النفس إلى رتبة الذين آمنوا والمؤمنين ويرقيهم إلى رتبة المحسنين، فهو هدى يغذو فيه فقد الغذاء القلب كما يغذو وجوده الجسم ولذلك أجمع مجربة أعمال الديانة من الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه أن مفتاح الهدى إنما هو الجوع وأن المعدة والأعضاء متى أوهنت لله نور الله سبحانه وتعالى القلب وصفى النفس وقوى

“Di dalam petunjuk itu terkandung beberapa keutamaan bagi sekelompok orang yang berpuasa, yaitu mereka lebih sering merenung, tadabbur, memecah hawa nafsu (memerangi), dan menertibkannya. Dengan hal itu, mereka diangkat derajatnya sebagai orang yang beriman dan muhsinin. Lebih dari itu, petunjuk (hudan) itu merupakan makanan bagi kalbu (ghada’ al-qalbi) sebagaimana makanan untuk jism (tubuh manusia). Tidak lain tujuan mereka adalah mengharap keridhaan Allah swt semata (Q.S. al-An’am [6]: 52). Dan kunci petunjuk itu melalui rasa lapar, di mana rasa itu “melemahkan” fisik manusia sehingga mampu memancarkan cahaya Allah (nurullah swt), cahaya kalbu, memurnikan jiwa dan menjadikan jasad manusia semakin kuat”.

Baca juga: Tafsir Ayat Syifa: Al-Quran sebagai Obat Penyakit Hati Manusia

Tidak jauh berbeda dengan al-Biqa’i, Ismail Haqqi dalam Ruh al-Bayan menafsirkan hudan lin nas dengan hidayatun lin nas ila sawa’ al-shirat fihi min al-i’jazi wa ghairihi (petunjuk bagi manusia menuju jalan yang lurus beserta segenap kemukjizatan Al-Quran, dan lain sebagainya).

Hampir senada dengan Ismail Haqqi, Ibn Ajibah dalam al-Bahr al-Madid, lebih menggunakan redaksi thariq al-wushul. Artinya, Al-Quran sebagai hudan lin nas menuntun manusia untuk mampu mencapai wushul ilallah (sampai kepada Allah) (hadiyan lahum ila thariq al-wushul). Ia tidak hanya sebagai petunjuk lahiriyah, melainkan petunjuk batiniyah dengan segenap kemujizatan yang dikandungnya.

Terakhir, al-Jilani dalam Tafsir al-Jilani, ia mengatakan bahwa hudan lin nas bermakna menauhidkan Allah swt dari yang asalnya “menuhankan” yang lain, umpamanya materi, harta, tahta, dan sebagainya menuju keyakinan sejati bahwa tiada Tuhan selain Allah swt (bi tauhidillahi al-mutawajjihin nahwi janabihi yahdihim ila martabati al-yaqini).

Al-Quran sebagai Petunjuk

Dari beragam penafsiran di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa manusia tidak boleh lepas kendali atau abai terhadap sumber primer ajaran agama Islam, yaitu Al-Quran. Fungsi pokok Al-Quran sebagai hudan (petunjuk) berarti bahwa Al-Quran dapat memandu manusia menuju jalan yang lurus dan menghindarkannya dari kesesatan.

Maka, salah satu kunci untuk menggapai petunjuk Al-Quran adalah dengan berpuasa. Berpuasa menjadi starting point untuk melatih jiwa manusia, mengontorl emosi dan amarah serta mengendalikan hawa nafsu kebinatangannya. Manusia, untuk mencapai Allah sw (wushul ilallah), mengharuskan melepaskan segala atribut materi untuk melesat kepada-Nya. Artinya, orientasi hidupnya hanya untuk Allah swt semata.

Dunia, harta, tahta, prestasi, dan reputasinya ia letakkan di tangan, tidak dihati. Hatinya tetap senantiasa terpaut kepada Allah swt. Inilah yang digambarkan oleh Allah dalam Q.S. al-An’am [6]: 52, “Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sebab mereka mengharapkan keridhaan-Nya”.

Ridha Allah swt adalah segalanya untuk kita. Semoga puasa yang kita jalani bersama senantiasa diridhai dan diberkahi oleh-Nya. Aamiin. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Yusuf ayat 35-40

0
Tafsir Surah Yusuf
Tafsir Surah Yusuf

Tafsir Surah Yusuf ayat 35-40 mengisahkan tentang Yusuf dan dua pemuda bekas tukang siram kebun raja dan bekas bendahara raja ketika di penjara. Selengkapnya baca Tafsir Surah Yusuf ayat 35-40 di bawah ini…..


Baca Juga: Tafsir Surah Yusuf Ayat 19-20: Kesabaran Nabi Yusuf Saat Jadi Korban Human Trafficking


Ayat 35

Ayat ini menerangkan bahwa menteri beserta istrinya telah melihat bukti-bukti bahwa Yusuf adalah orang baik, jujur, dan mempunyai akhlak yang mulia serta mempunyai keimanan dan kepercayaan yang teguh kepada Tuhannya. Selama mereka bergaul dengan Yusuf, tidak pernah mereka melihat perbuatan Yusuf yang salah. Nyata bagi mereka, bahwa Yusuf selalu dipelihara Tuhannya dan dilindungi-Nya dari perbuatan-perbuatan yang keji. Walaupun dia dituduh, dibujuk, dan diancam namun Yusuf tetap tenang dan selalu meminta perlindungan kepada Tuhannya.

Hal seperti itu bukan saja diketahui dengan jelas oleh menteri dan istrinya, tetapi juga oleh seluruh keluarga istana. Sungguh pun begitu, Yusuf tetap dimasukkan ke dalam penjara untuk waktu yang tidak ditentukan sebagai pelaksanaan dari permintaan istrinya, agar dianggap oleh orang banyak bahwa Yusuf bersalah, padahal istrinya yang bersalah. Yusuf tidak merasa sengsara dan hina dalam penjara. Dengan pergaulan dalam penjara itu, Yusuf bertambah kuat imannya, bertambah tabah hati dan jiwanya, makin banyak rahasia manusia yang diketahuinya, dan makin besar keagungan Allah yang dirasakannya.

Ayat 36

Ayat ini menerangkan bahwa bersama-sama dengan Yusuf masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Menurut riwayat, kedua pemuda itu ialah bekas tukang siram kebun raja dan bekas bendahara raja. Keduanya dimarahi karena bersalah dan dimasukkan ke dalam penjara. Pada suatu ketika, Yusuf melihat kedua pemuda itu duduk dengan bersedih hati seperti orang melamun. Maka Yusuf menyapa kedua pemuda itu, “Mengapa kalian dalam keadaan begini?” Jawab mereka, “Kami tadi malam bermimpi yang aneh dan ajaib, sehingga kami gelisah dan sedih seperti yang engkau lihat ini.

Kami tidak tahu apa tafsir mimpi kami ini.” Yusuf berkata kepada keduanya, “Tafsir mimpi kamu itu hanya Allah yang mengetahuinya, cobalah ceritakan kepada saya apa mimpi kalian.” Maka salah seorang dari keduanya bercerita tentang mimpinya dan katanya, “Saya bermimpi bahwa saya sedang berada dalam sebuah kebun anggur yang sangat lebat buahnya dan menghijau warnanya. Seakan-akan di tangan saya ada sebuah gelas kepunyaan raja.

Dengan gelas itulah, saya menampung airnya sesudah saya peras anggur itu untuk dijadikan minuman.” Sesudah itu yang seorang lagi menceritakan mimpinya pula, seraya berkata, “Saya bermimpi bahwa saya membawa sebuah keranjang di atas kepala saya, penuh dengan bermacam-macam roti dan makanan. Tiba-tiba terbang melayang di atas kepala saya beberapa ekor burung, lalu disambarnya semua roti dan makanan yang ada dalam keranjang itu dan dibawanya terbang jauh.” Keduanya memohon kepada Yusuf, agar Yusuf sudi memberikan tafsir mimpi mereka. Kepada Yusuf tertumpu harapannya, karena hanya Yusuf yang paling mereka percayai. Selama dalam penjara mereka telah mengenal Yusuf sebagai orang yang baik, luas ilmunya, baik pergaulannya, dan dekat dengan Tuhannya.

Ayat 37

Dalam ayat ini diterangkan, sebelum Yusuf memberikan takwil mimpi kedua pemuda itu, lebih dahulu dia berdakwah tentang kebesaran dan kekuasaan Allah, tentang nikmat Allah yang telah diperolehnya, dan sikap yang tidak mau tunduk kepada agama yang tidak benar. Yusuf berkata kepada kedua pemuda itu, “Sebelum kamu berdua menerima makanan yang dikirimkan untukmu, aku sudah tahu apa makanan itu dan akan aku jelaskan kepadamu sekarang ini.”

Menurut riwayat, bahwa orang-orang kerajaan ada yang mengirimkan kepada orang-orang yang bersalah dalam penjara yaitu makanan yang dicampur dengan racun dengan maksud untuk membunuh mereka. Yusuf sudah tahu maksud orang-orang kerajaan itu dan telah dijelaskan kepada kedua orang pemuda itu. Yusuf menjelaskan bahwa ilmu yang seperti itu adalah wahyu dari Tuhannya kepadanya. “Dengan ilmu itulah saya dapat mentakwilkan mimpi, bukan seperti tukang tenung dan ahli nujum yang mempergunakan pertolongan setan, menerka-nerka dan menjampi-jampi yang belum tentu benar terkaannya itu,” kata Yusuf.

Selanjutnya Yusuf menjelaskan bahwa dia tidak mau terpengaruh oleh ajaran agama yang salah. Dia tinggalkan kepercayaan orang-orang yang tidak benar itu, orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah dan mengingkari kehidupan akhirat.

Ayat 38

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Yusuf melanjutkan pembicaraan-nya dengan kedua pemuda itu sebelum menerangkan takwil mimpi mereka. Yusuf mengatakan bahwa dia hanya patuh mengikuti agama nenek moyangnya, yaitu agama Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub a.s., agama tauhid bukan agama yang mempersekutukan Allah. “Tidak sepantasnya bagi kami para nabi dan rasul untuk mempersekutukan Allah dengan yang lain, seperti halnya dengan golongan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya.

Mereka mempersekutukan Allah dengan yang lain, seperti matahari, bulan, berhala-berhala dan lain-lain. Kepercayaan tauhid itu termasuk karunia Allah kepada kami para nabi dan rasul, begitu juga kepada semua orang yang mempunyai kepercayaan yang sama. Allah telah memberikan petunjuk kepada kami dan manusia yang beriman. Dengan diutusnya kami para nabi dan para rasul, kami menunjukkan kepada mereka mana jalan yang lurus dan mana jalan yang bengkok, kami terangkan kepada mereka kepercayaan yang benar. Namun begitu masih ada saja manusia yang tidak tahu bersyukur kepada Allah,” kata Yusuf.

Ayat 39

Yusuf meneruskan dakwahnya dengan menyeru kedua pemuda yang menjadi kawannya dalam penjara itu, “Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa Yang Perkasa?”

Seruan ini adalah yang ikhlas dari seorang kawan yang setia dan jujur kepada kawan-kawannya. Pertanyaan dalam seruan ini adalah merupakan suatu penegasan, bahwa berhentilah menyembah tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu dan sembahlah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu tidak akan dapat menolong mereka dari siksaan di akhirat. Hanya Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa saja yang dapat memberikan pertolongan di kala susah dan membantu di kala sempit.

Ayat 40

Kelanjutan dari seruan Yusuf adalah semua yang mereka sembah selain Allah itu adalah tuhan-tuhan palsu yang sengaja diberi nama bermacam-macam oleh mereka sendiri, bapak-bapak dan nenek-moyang mereka. Yusuf berkata, “Kamu yang membuatnya, kamu yang memberinya nama dan kamu pula yang menyembahnya sebagai Tuhan. Padahal dia adalah benda yang lemah yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa dan tidak ada pula keterangan dari Allah kepada rasul-rasul-Nya untuk membenarkan tuhan yang kamu buat-buat itu. Bahwa ketentuan yang benar tentang ketuhanan dan pengabdian ialah yang diatur oleh Allah yang telah diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya. Allah telah memerintahkan, bahwa janganlah kamu menyembah selain Allah. Kepada-Nyalah kamu berdoa dan minta tolong, kepada-Nyalah kamu sujud bersimpuh. Itulah agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia belum mengetahuinya.”

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Yusuf ayat 41-45


Tafsir Surah Ibrahim Ayat 14-18

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 14-18 masih berbicara tentang para Rasul dan kaumnya yang ingkar. Dijelaskan bahwa Allah akan melenyapkan kaum yang ingkar dengan azabnya, kaum tersebut Allah sifati dengan kaum yang zalim, yakni sewenang-wenang terhadap sesama, yang keras kepala tidak mau menerima kebenaran, maka dengan perilaku yang demikian sudah cukup bagi Allah untuk mengazab mereka tanpa perlu menunda-nunda.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 10-13


Ayat 14

Dalam ayat ini, Allah swt menyebutkan janji-Nya yang lain kepada para rasul, bahwa Allah akan menempatkan mereka di negeri-negeri itu, setelah umat yang zalim itu lenyap karena azab yang akan ditimpakan kepada mereka.

Janji ini akan dilaksanakan-Nya untuk orang-orang yang bertakwa, yang merasa takut untuk menghadap Allah dengan dosa yang banyak, dan merasa takut kepada ancaman dan siksa-Nya.

Dengan jelas dapat dipahami bahwa janji Allah yang disebutkan dalam ayat ini memperkuat janji-Nya yang telah disebutkan pada ayat di atas, tentang pembinasaan orang-orang yang zalim.

Setelah mereka binasa dan lenyap dari muka bumi, maka rasul-rasul bersama umatnya masing-masing yang beriman dan taat kepada Allah menjadi penghuni negeri-negeri itu, dan mereka hidup dengan tenteram di bawah limpahan rahmat dan rida Allah.

Ayat 15

Orang yang beriman kepada Allah, mengharapkan rida dan kasih sayang-Nya, serta takut kepada ancaman dan siksaan-Nya, memohon kepada Allah agar diberi kemenangan atas musuh-musuh mereka yang zalim itu. Allah mengabulkan permohonan mereka. Maka binasalah kaum yang bersifat sewenang-wenang dan keras kepala itu.

Sifat sewenang-wenang dan keras kepala adalah ciri-ciri dari orang-orang yang takabur, yang ingin menandingi kekuasaan dan kebesaran Allah.

Mereka tidak mempedulikan hukum-hukum dan peraturan yang telah dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya untuk mengatur hubungan antara sesama manusia, agar tercapai kehidupan yang harmonis, saling mengasihi dan saling menghargai. Oleh sebab itu, selayaknya mereka menerima hukuman dari Yang Mahakuasa dan Maha Penyayang.

Ayat 16

Pada ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang yang menolak kebenaran dengan mengingkari rasul yang diutus Allah kepada mereka, bahkan berani mengancam akan mengusirnya, adalah orang-orang yang ingin menandingi kekuasaan dan kebesaran Allah.

Mereka bersifat keras kepala, takabur, dan berbuat sewenang-wenang. Mereka telah berada di depan neraka Jahanam, bahkan dalam kehidupan di dunia, mereka telah merasa seperti di tepi neraka, selalu gelisah, khawatir, dan penuh keraguan.

Di akhirat nanti, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dan diberi minuman dari air kotor seperti nanah. Hal ini merupakan hukuman bagi mereka yang tidak mempedulikan hukum dan petunjuk yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.


Baca Juga : Petunjuk Al-Quran tentang Tiga Hal Untuk Memperkuat Keyakinan


Ayat 17

Dalam ayat ini, Allah swt menggambarkan betapa berat siksaan yang akan diterima atau diderita umat yang zalim di akhirat kelak, yaitu siksaan dengan api neraka yang amat panas, mereka diberi minum yang kotor seperti nanah, dan mereka minum air kotor itu, akan tetapi amat sukar bagi mereka untuk meneguknya.

Di samping itu, bahaya maut senantiasa mengancam mereka dari segala penjuru, tetapi kematian mereka ditangguhkan Allah, agar mereka merasakan kepedihan azab yang akan ditimpakan kepada mereka.

Ayat 18

Jika dalam ayat-ayat di atas Allah telah menjelaskan azab yang akan diderita orang-orang kafir dalam neraka Jahanam, maka dalam ayat ini dijelaskan-Nya kerugian besar yang akan mereka derita, yaitu pahala dari amalan kebajikan mereka di dunia, kalau ada, dihapus Allah.

Dengan demikian, mereka tidak dapat merasakan manfaat apapun dari amalan kebajikan yang mungkin pernah mereka perbuat di dunia. Amalan-amalan mereka itu diibaratkan oleh ayat ini bagaikan abu yang ditiup angin kencang, hilang tanpa kesan. Keadaan yang demikian adalah akibat dari kesesatan mereka dan penyelewengan yang jauh sekali dari petunjuk Allah swt.

.(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 19-21


 

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 10-13

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 10-13 menceritakan tentang dialog para Rasul dengan kaumnya yang ingkar. Diantara isi dialog mereka adalah tentang keraguan atas Allah sebagai Tuhan yang menciptakan langit, bumi, dan seisinya. Alih-alih beriman, justru mereka meragukan para utusan itu sebagai Rasul, mereka menganggap para utusan tersebut adalah manusia biasa sama seperti mereka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 5-9


Ayat 10

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa karena mereka menyatakan keragu-raguan terhadap apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, terutama tentang kekuasaan Allah swt, maka para rasul tersebut mengatakan kepada umatnya, “Apakah patut adanya keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?

Dia menyeru kamu untuk memberikan ampunan atas segala dosa-dosamu, dan Dia telah menangguhkan siksaan terhadapmu sampai kepada suatu masa yang ditentukan-Nya ?

Sebaliknya, umat dari masing-masing rasul itu mengatakan bahwa para rasul tersebut, menurut pandangan mereka, adalah manusia biasa seperti mereka dan tidak mempunyai kelebihan apa-apa.

Sebab itu, tidak ada alasan bagi mereka untuk menjadi pengikut rasul-rasul tersebut. Menurut mereka, para rasul itu sudah memalingkan mereka dari agama yang diwarisi dari nenek moyang mereka, serta menghalang-halangi mereka dari menyembah patung-patung yang menjadi sesembahan nenek moyang tersebut.

Oleh karena itu, mereka meminta bukti yang nyata dari para rasul untuk menunjukkan kebenaran pengutusan mereka sebagai rasul Allah swt. Padahal, rasul-rasul itu telah mengemukakan mukjizat masing-masing, yang dikaruniakan Allah kepada mereka sebagai bukti kerasulannya.

Ayat 11

Untuk menjawab pertanyaan dan permintaan umatnya, maka dalam ayat ini disebutkan ucapan para rasul itu kepada mereka bahwa benar mereka hanyalah manusia seperti umat mereka juga, hanya saja Allah telah memberikan karunia kepada mereka, yaitu berupa kenabian dan kerasulan, yang disertai mukjizat yang hanya dapat digunakan dengan seizin Allah swt.

Oleh sebab itu, bukanlah wewenang seorang rasul untuk mengemukakan mukjizat yang lain dari apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.

Pada akhir ayat ini ditunjukkan pula, bahwa tawakal adalah merupakan suatu prinsip dan sikap hidup yang harus menjadi pegangan bagi setiap orang yang beriman, apabila mereka sudah melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya.


Baca Juga : Surah Al-Ashr Ayat 1-3: Empat Prinsip Hidup Bagi Orang-Orang Mukmin


Ayat 12

Pada ayat ini diterangkan penegasan para rasul kepada umat mereka, bahwa bagi mereka tidak ada alasan sama sekali untuk tidak bertawakal kepada Allah swt, karena Dia telah memberikan rahmat dan nikmat yang banyak sekali kepada mereka.

Di antaranya ialah bahwa Allah swt telah menunjukkan kepada mereka jalan lurus yang mengantarkan mereka kepada cahaya iman yang terang benderang sehingga mereka memperoleh rida-Nya di dunia dan di akhirat.

Oleh sebab itu, mereka akan menghadapi semua ancaman umat mereka dengan penuh kesabaran dan keuletan serta tawakal kepada Yang Mahakuasa. Hanya kepada Allah semata-mata orang-orang mukmin bertawakal dan berserah diri. Mereka tidak merasa gentar ataupun takut terhadap ancaman orang-orang yang tidak beriman karena segala sesuatu di alam ini tunduk di bawah kekuasaan Allah.

Ayat 13

Dalam ayat ini, diceritakan lanjutan dari ucapan kaum kafir terhadap rasul-rasul, di mana mereka mengancam para rasul itu akan diusir dari negeri mereka apabila tidak menghentikan dakwah kepada agama Allah.

Kaum kafir tersebut mengajukan pilihan kepada rasul-rasul itu, apakah mereka menerima pengusiran itu, ataukah mereka bersedia untuk kembali kepada agama yang mereka warisi dari nenek moyang, yaitu agama syirik dan kufur.

Selanjutnya dalam ayat ini dijelaskan, bahwa setelah adanya ancaman kaum kafir, maka Allah swt mewahyukan kepada rasul-rasul tersebut bahwa Dia pasti akan membinasakan kaum yang zalim itu.

Wahyu ini merupakan dorongan moril yang amat besar artinya bagi masing-masing rasul yang sedang menjalankan tugas sucinya, sehingga mereka tidak merasa gentar untuk menghadapi umat yang zalim itu.

.(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 14-18


Tafsir Surah Ibrahim Ayat 5-9

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 5-9 berbicara tentang para rasul yang diutus oleh Allah, bahwa mereka mempunyai tugas yang sama yakni mensyiarkan ajaran Allah dan menunjukkan mereka ke jalan yang benar. Allah memisalkan dengan kisah Musa, dimana beragam kenikmatan sudah diberikan kepada kaumnya. Oleh karena itu Allah mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur, dan belajar dari kaum terdahulu agar azab Allah juga tidak menimpa mereka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 1-4


Ayat 5

Pada ayat ini, Allah swt menunjukkan bahwa rasul-rasul yang telah diutus kepada manusia mempunyai tugas yang sama, yaitu menyampaikan ayat-ayat Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar, mengeluarkan mereka dari kegelapan yang disebabkan kejahilan, kekafiran, dan kemaksiatan, kepada cahaya yang terang benderang karena iman, hidayah dan ilmu pengetahuan serta akhlak yang mulia.

Allah menceritakan dalam ayat ini bahwa Nabi Musa a.s. pun telah diutus untuk menyampaikan tugas tersebut, dan diperintahkan untuk menyeru kaumnya. Allah berfirman, “Keluarkanlah umatmu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang, serulah mereka agar beriman, dan mengingat hari-hari Allah”.

 Yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” ialah peristiwa penting yang telah dialami oleh umat manusia terdahulu, seperti nikmat Allah yang telah mereka peroleh ketika lepas dari perbudakan Fir’aun, atau kemurkaan dan siksa Allah yang telah menimpa diri mereka karena keingkaran.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa “hari-hari Allah” tersebut mengandung tanda-tanda keesaan dan kekuasaan-Nya. Tanda-tanda tersebut hanya dapat dipahami oleh setiap orang yang sabar dan banyak bersyukur.

Ayat 6

Dalam ayat ini, Allah swt mengisahkan tentang Nabi Musa yang mengajak umatnya untuk mengenang nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yakni ketika Allah menyelamatkan mereka dari kekejaman Fir’aun beserta para pengikutnya, yang telah menyiksa mereka dengan siksaan yang berat, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup.

Kemudian Nabi Musa mengingatkan kepada umatnya bahwa semua pengalaman yang telah mereka lalui itu sebenarnya merupakan cobaan yang amat berat dari Allah terhadap mereka, untuk menguji keimanan dan ketaatan mereka kepada-Nya.

Ayat 7

Dalam ayat ini Allah swt kembali mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Bila mereka melaksanakannya, maka nikmat itu akan ditambah lagi oleh-Nya. Sebaliknya, Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya, dan tidak mau bersyukur bahwa Dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih kepada mereka.

 Mensyukuri rahmat Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, dengan ucapan yang setulus hati; kedua, diiringi dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut untuk tujuan yang diridai-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat bahwa orang-orang yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan umum dan menolong orang, pada umumnya tak pernah jatuh miskin ataupun sengsara.

Bahkan, rezekinya senantiasa bertambah, kekayaannya makin meningkat, dan hidupnya bahagia, dicintai serta dihormati dalam pergaulan.

Sebaliknya, orang-orang kaya yang kikir, atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridai Allah, seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak bertambah, bahkan lekas menyusut. Di samping itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuk orang banyak, dan di akhirat memperoleh hukuman yang berat.


Baca Juga : Tafsir Ahkam: Hukuman Zina dan Alasan Perempuan Disebutkan Lebih Dulu


Ayat 8

Allah swt menjelaskan dalam ayat ini ucapan Nabi Musa a.s. ketika ia mengatakan kepada kaumnya, bahwa seandainya mereka dan orang-orang yang ada di bumi ini semuanya kafir kepada Allah dan mengingkari nikmat dan rahmat-Nya.

Hal ini tidak akan mengurangi kebesaran dan keagungan-Nya. Sebab, Allah swt Mahakaya, dan Terpuji, tidak memerlukan ucapan syukur mereka dan tidak membutuhkan amalan kebajikan mereka untuk kepentingan dirinya atau untuk menambah kebesaran dan kemuliaan-Nya.

Kekafiran mereka itu akan merugikan diri sendiri, karena Allah tidak menambah nikmat dan rahmat kepada mereka. Firman Allah:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ

Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba   (Nya). (Fushshilat/41: 46)

Ayat 9

Dalam ayat ini, Allah swt bertanya kepada umat manusia apakah mereka pernah mendapatkan berita tentang umat-umat yang terdahulu, serta berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah mereka alami, misalnya berita tentang kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad dan kaum Tsamud, serta umat yang datang sesudah mereka, yang hanya Allah sajalah yang benar-benar mengetahuinya?

Mereka mendustakan para rasul padahal telah membawa bukti-bukti yang nyata. Mereka menutupkan tangan ke mulut untuk menunjukkan kebencian kepada para rasul tersebut, seraya berkata, “Sesungguhnya kami menging-kari apa-apa yang diperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada kami.”

Di samping itu, umat-umat tersebut juga mengatakan kepada para rasul bahwa mereka berada dalam keragu-raguan dan tidak yakin akan kebenaran yang diserukan para rasul kepada mereka.

.(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 10-13


Tafsir Surah Ibrahim Ayat 1-4

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Surah ar-Ra’d diakhiri dengan penegasan bahwa Allah dan orang-orang yang diberi Al-Kitab akan menjadi saksi atas kebenaran risalah Nabi Muhammad. Sebagai sambungannya, Tafsir Surah Ibrahim Ayat 1-4 ini diawali dengan penjelasan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Allah.

Namun tidak semua manusia patuh dengan seruan itu, ada yang beriman adapula yang ingkar, dan keduanya tentu akan mendapatkan balasan sesuai porsinya masing-masing.

Allah juga menegaskan bahwa Dia tidaklah mengutus seorang Rasul dengan bahasa yang berbeda dari bahasa suatu kaum sehingga mereka susah untuk memahami, justru Rasul yang diutus sangat fasih dengan bahasa ibu kaumnya, dan yang demikian masih banyak golongan yang ingkar daripada yang menataatinya.

Ayat 1

Surah ini dimulai dengan “Alif Lam Ra”. (Lihat tafsirnya pada jilid pertama pada judul “mafatihus suwar”.)

Dalam firman Allah swt sesudah Alif Lam Ra menjelaskan maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur’an  kepada Nabi Muhammad. Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah agar petunjuk dan peraturan-peraturan yang dibawa Al-Qur’an itu dapat menjadi tuntunan dan bimbingan kepada umatnya.

Dengan petunjuk itu mereka dapat dikeluarkan dari kegelapan ke cahaya yang terang-benderang, atau dari kesesatan dan kejahilan ke jalan yang benar dan mempunyai ilmu pengetahuan serta peradaban yang tinggi, sehingga mereka memperoleh rida dan kasih sayang Allah swt di dunia dan di akhirat.

Penegasan tentang fungsi Al-Qur’an ini sangat penting sekali, apalagi jika dihubungkan dengan ayat-ayat yang lalu, di mana Allah swt telah menyebut-kan adanya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an, baik sebagian, maupun keseluruhannya.

Selanjutnya dalam ayat ini diterangkan bahwa Rasulullah hanya dapat menjalankan tugas tersebut di atas dengan izin dan bantuan dari Allah swt, dengan cara memberi kemudahan dan menguatkan tekad beliau dalam menghadapi segala rintangan.

Al-Qur’an merupakan jalan yang dibentangkan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Terpuji bagi Nabi Muhammad dan umatnya.

Ayat 2

Allah swt kembali mengingatkan kekuasaan-Nya dalam ayat ini dengan menegaskan bahwa Dialah yang memiliki dan menguasai semua yang ada di langit dan di bumi.

 Oleh karena Allah swt adalah Pemilik dan Penguasa atas segala makhluk-Nya di alam ini, maka Al-Qur’an yang diturunkan-Nya adalah petunjuk ke jalan yang terbaik yang menjamin kebahagiaan hakiki.


Baca Juga : Surah Al-Anam Ayat 153, Menyusuri Jalan Menuju Kebahagiaan


Ayat 3

Dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa orang-orang yang lebih menyukai kehidupan duniawi daripada kehidupan ukhrawi, menghalangi orang lain dari jalan Allah, dan menginginkan agar orang-orang menjauhi jalan lurus yang diberikan Allah kepada manusia, mereka itu sesat sejauh-jauhnya.

Berbagai urusan duniawi tidak boleh melalaikan kita dari mempersiapkan diri bagi kehidupan ukhrawi. Akan tetapi, kehidupan duniawi itu juga tidak boleh diabaikan sama sekali, sebagaimana firman Allah:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia (al-Qashash/28: 77)

Orang-orang kafir tidak hanya mengingkari Al-Qur’an, tetapi juga menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti jalan yang benar itu, yaitu menghalangi manusia mengenal ajaran Islam dan menjadikannya pedoman hidup. Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang sesat dan berusaha menyesatkan orang lain, sehingga kejahatan mereka berlipat ganda.

Mereka juga berusaha dengan berbagai tipu daya agar jalan lurus yang ditunjukkan Allah itu menjadi bengkok. Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan apa yang sesuai dengan kehendak hawa nafsu dan maksud jahat mereka.

Dengan demikian, maka kesalahan yang mereka lakukan menjadi berlipat ganda lagi. Sewajarnyalah mereka itu ditimpa kemurkaan Allah karena mereka itu telah sesat dan kafir.

Ayat 4

Pada ayat yang terdahulu telah disebutkan bahwa diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw merupakan rahmat bagi manusia.

Kemudian dalam ayat ini, Allah menjelaskan pula rahmat-Nya yang lain, yaitu diutus-Nya para rasul kepada suatu kaum menggunakan bahasa yang dipakai oleh kaum tersebut.

Ini memudahkan komunikasi antara para rasul tersebut dengan umat mereka untuk memberikan penjelasan dan bimbingan kepada umat-umat tersebut.

 Akan tetapi, walaupun kitab suci telah diturunkan dalam bahasa mereka masing-masing, dan para rasul telah berbicara dengan mereka dalam bahasa yang sama, namun masih saja ada di antara mereka yang enggan mendengar, memahami, dan mengikutinya.

Oleh karena itu, Allah membiarkan mereka ini sesat dan Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa dan Maha Bijaksana.

.(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 5-9


Surah an-Najm [53] Ayat 49: Bintang Sirius dan Masyarakat Arab

0
Bintang Sirius
Bintang Sirius

Bintang Sirius atau α Canis Majoris adalah bintang paling terang di langit malam. Nama Sirius diambil kata Yunani Σείριος (Seirios), yang berarti “berkilau”. Nama ini disematkan padanya karena tingkat keterangannya. Dengan magnitudo tampak −1.46, bintang Sirius hampir dua kali lebih terang dari Canopus, bintang paling terang ke-2 di langit malam.

Bintang Sirius dapat dilihat hampir di semua tempat di permukaan Bumi kecuali oleh orang-orang yang tinggal pada lintang di atas 73,284° utara. Saat terbaik untuk melihat bintang ini adalah sekitar tanggal 1 Januari, di mana ia mencapai meridian pada tengah malam. Pada kondisi yang sesuai, bintang ini dapat dilihat dengan mata telanjang saat Matahari masih berada di atas horizon.

Dilansir National Geographic, “Berdasarkan data astronomi bintang Sirius adalah bintang yang cahayanya paling terang di langit malam, yang berada di rasi Canis Majoris, bintang ini terbit pada musim panas. Bintang Sirius juga merupakan sistem bintang ganda, dinamai Sirius A dan Sirius B, yang mana bintang Sirius A cahayanya sangat terang sehingga menutupi bintang Sirius B yang lebih redup.”

Baca Juga: Wa An-Najm Idha Hawa: Demi Bintang, Demi Muhammad, Demi Al-Quran

Bintang ini menempati posisi sentral dalam sejarah peradaban manusia. Misalnya, bagi bangsa Mesir kuno, Sirius dipersonifikasi sebagai seorang dewa, tepatnya Dewi Isis (istri Osiris) yang dianggap sebagai Dewi kesuburan. Dalam konteks sosial, bintang Sirius digunakan sebagai petunjuk bepergian atau perjalanan musim dingin dan musim panas, baik di siang hari maupun di malam hari.

Pengistimewaan bintang ini juga terjadi di kalangan Bangsa Arab dan ini dapat terlihat dalam gubahan syar-syair mereka. Bahkan diceritakan bahwa bintang Sirius atau Syi’ra disembah oleh kaum Lakham yang tinggal di wilayah Hebron, tepi barat Palestina. Penyembahan mereka ini disebabkan kekaguman mereka terhadap bintang Sirius yang bersinar terang di malam hari bak penyelamat dari kegelapan (The Brightest Stars).

Kemasyhuran bintang Sirius inilah yang menyebabkan Al-Qur’an menyebutnya dalam surah an-Najm [53] ayat 49. Penyebutan ini tidak bertujuan mengafirmasi kepercayaan masyarakat Arab terhadap bintang Syi’ra, melainkan sebagai “penekanan” terhadap keesaan Allah swt, bahwa bintang yang mereka puja saat itu – yakni an-najm asy-syi’ra – merupakan salah satu dari sekian banyak ciptaan-Nya.

Firman Allah swt:

وَاَنَّهٗ هُوَ رَبُّ الشِّعْرٰىۙ ٤٩

Dan sesungguhnya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi‘ra.” (QS. An-Najm [53] Ayat 49).

Secara umum, surah an-Najm [53] ayat 49 menginformasikan tentang Allah swt sebagai pencipta sekaligus pemilik bintang Syi‘ra atau Sirius. Dalam konteks khitab kepada bangsa Arab Al-Qur’an seakan-akan berkata, “Dan sesungguhnya Allahlah Tuhan yang memiliki bintang Syi‘rai yang selama ini kalian agung-agungkan. Karena itu, Allah lebih berhak untuk kalian agungkan dari bintang itu.”

Quraish Shihab menuturkan penyebutan tentang ketundukan bintang Sirius kepada Allah swt merupakan kritik halus Al-Qur’an terhadap kebiasaan sebagian masyarakat Arab yang mengagung-agungkan atau bahkan menyembah bintang tersebut. Ketika musim panas melanda, mereka memohon kepada bintang Syi‘ra agar hujan turun membawa rezeki buat diri, binatang dan tumbuhan mereka.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Allah swt kemudian menegaskan pada surah an-Najm [53] ayat 49 bahwa Dialah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Pemelihara dan Pengendali bintang Syi‘ra. Oleh karena itu – sebagaimana ditekankan pada ayat sebelumnya – seharusnya manusia, khususnya bangsa Arab, memohon kepadanya soal rezeki, kekayaan dan hujan, bukan kepada bintang Sirius (Tafsir al-Misbah [13]: 439).

Dalam Tafsir al-Muntakhab yang disusun pakar-pakar Mesir, surah an-Najm [53] ayat 49 berisi tentang informasi terkait bintang tersebut. Ia adalah bintang paling terang pada gugusan “Bintang Anjing” (Dog Star). Bintang ini berada di sekitar 18 derajat sebelah selatan garis tengah langit dan dikenal juga dengan nama Dog Star (Bintang Anjing), nama yang sudah dikenal sejak 3.000 tahun yang lalu.

Selanjutnya dinyatakan bahwa Allah secara khusus menyebut bintang Sirius pada ayat ini, karena sebagian bangsa Arab pada zaman Jahiliah menyembah bintang itu, begitu pula orang-orang Mesir kuno. Hal itu disebabkan karena munculnya bintang ini dari sebelah timur pada sekitar pertengahan bulan Juli sebelum terbit matahari, bersamaan dengan masa pasang sungai Nil di Mesir bagian tengah yang merupakan peristiwa penting dunia.

Thabathaba’i menulis bahwa suku Khuza’ah adalah penyembah bintang Sirius, dan salah satu di antaranya adalah Abu Kabsyah yakni salah seorang kakek Nabi saw dari sisi ibu beliau. Karena itu kaum musyrikin Mekah menggelar Nabi Muhammad saw dengan Ibn Abi Kabsyah (Putra Abu Kabsyah) karena agama yang dianut Nabi Muhammad saw berbeda dengan anutan kaum musyrikin itu.

Baca Juga: Menilik Konsep Energi dan Klasifikasinya dalam Al-Quran

At-Thabari menjelaskan dalam tafsirnya, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, surah an-Najm [53] ayat 49 bermakna: “Ya Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu adalah pemilik bintang Syi’ra. Bintang tersebut adalah bintang yang dahulu disembah oleh sebagian orang jahiliah, mereka menyembahnya sebagai Tuhan selain Allah swt.”

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa Syi’ra merupakan salah satu dari makhluk Allah swt. Bintang ini tidak dapat memberi mudarat atau manfaat bagi manusia sedikit pun kecuali atas izin Allah. Untuk itu, posisikan ia sebagaimana mestinya dan jangan berlebih-lebihan mengistimewakannya sebagaimana yang dilakukan bangsa Arab dan Mesir kuno dahulu. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 11 (Bagian 2)

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 11 bagian dua ini masih berbicara mengenai malaikat yang bertugas mengawasi manusia, yaitu malaikat yang bertugas mencatat segala amal perbuatan manusia. selain itu di sini juga membahas sekelumit tentang kesejarahan Islam.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 11 (Bagian 1)


Ayat 11 (2)

Allah swt telah menugaskan para malaikat itu untuk mencatat amal perbuatan manusia meskipun kita tidak tahu bagaimana cara mereka mencatat. Kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah sendiri cukup untuk mengetahuinya, tetapi mengapa Dia masih menugaskan malaikat untuk mencatatnya?

Mungkin di dalamnya terkandung hikmah agar manusia lebih tunduk dan berhati-hati dalam bertindak karena kemahatahuan Allah melingkupi mereka. Amal mereka terekam dengan akurat sehingga kelak tidak ada yang merasa dizalimi dalam pengadilan Allah.

Ali bin Abi Talib mengatakan bahwa tidak ada seorang hamba pun melainkan ada malaikat yang menjaganya dari kejatuhan tembok, jatuh ke dalam sumur, dimakan binatang buas, tenggelam, atau terbakar. Akan tetapi, bilamana datang kepastian dari Allah atau saat datangnya ajal, mereka membiarkan manusia ditimpa oleh bencana dan sebagainya.

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa dari kenikmatan dan kesejahteraan yang dinikmatinya menjadi binasa dan sengsara, melainkan mereka sendiri yang mengubahnya. Hal tersebut diakibatkan oleh perbuatan aniaya dan saling bermusuhan, serta berbuat kerusakan dan dosa di muka bumi. Hadis Rasulullah saw:

;إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ يُوْشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِعِقَابٍ (أخرجه أبو داود والترمذي وابن ماجه عن أبي بكر الصديق)

Jika manusia melihat seseorang yang zalim dan tidak bertindak terhadapnya, maka mungkin sekali Allah akan menurunkan azab yang mengenai mereka semuanya. (Riwayat Abµ Dawud, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah dari Abu Bakar as-Siddiq)

Pernyataan ini diperkuat dengan firman Allah:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. (al-Anfal/8: 25)

Kaum muslimin pada fase pertama penyebaran Islam telah mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur’an dengan penuh keyakinan dan kesadaran, sehingga mereka menjadi umat terbaik di antara manusia.


Baca juga: Ragam Penafsiran atas Frasa La’allakum Tattaqun dalam Surah al-Baqarah Ayat 183


Mereka menguasai berbagai kawasan yang makmur pada waktu itu, serta mengalahkan kerajaan Roma dan Persia dengan menjalankan kebijaksanaan dalam pemerintahan yang adil, dan disaksikan oleh musuh-musuhnya.

Orang-orang yang teraniaya dibela dalam rangka menegakkan keadilan. Oleh karena itu, agama Islam telah diakui sebagai unsur mutlak dalam pembinaan karakter bangsa dan pembangunan negara.

Setelah generasi mereka berlalu dan diganti dengan generasi yang datang kemudian, ternyata banyak yang melalaikan ajaran agama tentang keadilan dan kebenaran, sehingga keadaan mereka berubah menjadi bangsa yang hina.

Padahal sebelum itu, mereka merupakan bangsa yang terhormat, berwibawa, mulia, dan disegani oleh kawan maupun lawan. Mereka menjadi bangsa yang diperbudak oleh kaum penjajah, padahal sebelumnya mereka sebagai penguasa. Mereka menjadi bangsa yang mengekor, padahal dahulunya mereka merupakan bangsa yang memimpin.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya telah mencantumkan sebuah bab dengan judul: Kezaliman dapat Menghancurkan Kemakmuran.

Beliau mengemukakan beberapa contoh dalam sejarah sebelum dan sesudah Islam, bahwa kezaliman itu menghancurkan kekuasaan umat Islam dan merendahkan derajatnya, sehingga menjadi rongrongan dari semua bangsa. Umat Islam yang pernah jaya terpuruk beberapa abad lamanya di bawah kekuasaan dan penjajahan orang Barat.

Apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum dengan penyakit, kemiskinan, atau bermacam-macam cobaan yang lain sebagai akibat dari perbuatan buruk yang mereka kerjakan, maka tak ada seorang pun yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 12


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surah Yusuf ayat 30-34

0
Tafsir Surah Yusuf
Tafsir Surah Yusuf

Tafsir Surah Yusuf ayat 30-34 melanjutkan kisah Yusuf dan istri al-‘Aziz. Demi memperbaiki nama baiknya istri al-‘Aziz ini mengundang semua perempuan Mesir untuk melihat ketampanan Yusuf yang membuat istri al-‘Aziz tergoda.

Selengkapnya baca kisah Yusuf dan istri al-‘Aziz dalam Tafsir Surah Yusuf ayat 30-34 di bawah ini….


Baca Juga: Ibrah Kisah Nabi Yusuf: Menjadi Pejabat di Bawah Kepemimpinan Non-Muslim


Ayat 30

Dalam ayat ini diterangkan bahwa kejadian yang dirahasiakan itu, akhirnya tersebar juga. Bagaimana usaha menteri beserta segenap keluarga istana menutup-nutupi rahasia rumah tangganya, usahanya itu sia-sia saja. Berita itu telah menjadi buah bibir perempuan dalam kota. Lebih-lebih di kalangan istri pembesar-pembesar dan pemimpin kerajaan itu. Mereka membicarakannya, bahwa istri menteri menggoda bujangnya. Bukan hanya sekadar mengatakan bahwa istri menteri telah jatuh cinta kepada bujangnya itu, dan tidak memperdulikan lagi akibat-akibat buruk yang akan terjadi, seperti nama suaminya menjadi tercemar. Selanjutnya mereka mengatakan, “Sungguh kami melihat istri menteri itu sudah menempuh jalan sesat yang akan membawa kepada kehinaan.”

Ayat 31

Pergunjingan perempuan-perempuan itu sampai juga ke telinga istri menteri yang menyebabkan ia merasa marah bercampur malu. Dia tidak mengira bahwa berita mengenai dirinya akan tersebar luas seperti itu, sebab sudah cukup usahanya untuk menutupi rahasia itu. Dia mencari akal, bagaimana caranya menutup malu yang sudah tersebar luas itu. Maka diundangnyalah perempuan-perempuan terkemuka itu datang ke rumahnya menghadiri suatu jamuan. Untuk pesta itu, sudah diatur tempat sebaik-baiknya, makanan yang enak-enak, dan minuman dari berbagai macam sudah disiapkan. Tidak ketinggalan buah-buahan yang segar dan manis yang bermacam jenis dan ragamnya sudah disediakan di meja makan. Kursi-kursi yang bagus sudah disusun untuk dapat duduk bersantai, menikmati makanan dan buah-buahan yang lezat cita rasanya.

Undangan ini mendapat sambutan yang hangat, lebih-lebih dari perempuan-perempuan yang ingin mengetahui kejadian yang sudah menjadi buah bibir selama ini, terutama ingin melihat anak muda yang bernama Yusuf itu. Meriah sekali pesta itu. Gelak tawa bersahut-sahutan, omong dan kelakar menjadi-jadi. Bermacam makanan dihidangkan tidak putus-putusnya. Begitu juga minuman. Terakhir sekali dihidangkan buah-buahan. Kepada masing-masing yang hadir diberikan sebuah pisau untuk mengupas buah-buahan. Di saat itu, istri menteri yang menjadi nyonya rumah, memerintahkan kepada Yusuf untuk ke luar ke tengah-tengah para tamu yang sedang duduk bersantai memotong buah-buahan untuk memperkenalkan dirinya.

Maka keluarlah Yusuf dan berdiri di hadapan tamu-tamu itu. Baru saja perempuan-perempuan itu melihat wajah Yusuf yang sangat elok seperti bulan purnama, kagumlah mereka melihatnya, bahkan lupa akan diri mereka masing-masing karena terpesona oleh kegagahan dan ketampanan Yusuf. Dengan tidak sadar, pisau yang ada di tangan mereka, mereka potongkan ke tangan dan jari mereka sendiri, bukan untuk memotong buah-buahan dan mereka tidak merasakan sakit perihnya.

Dari mulut mereka keluar kata-kata, “Mahasempurna Allah, dia bukanlah manusia, tetapi adalah malaikat yang mulia.” Begitu kagum dan tercengang mereka melihat Yusuf yang sangat menawan dan menggetarkan jantung mereka, inilah sosok orang yang mereka bicarakan sehari-hari dengan mempersalahkan dan mengejek istri menteri.

Ayat 32

Ayat ini menerangkan bahwa perempuan-perempuan yang diundang itu kagum dan terpesona melihat Yusuf. Melihat reaksi mereka, istri menteri itu gembira, lalu berkata, “Inilah dia Yusuf yang selalu kamu guncingkan dan selalu kamu mencela sikap saya terhadap Yusuf dan kejadian antara saya dengan dia baru-baru ini. Sekarang kamu semua terpesona memandanginya. Baru sepintas lalu kamu memandangnya, kamu sudah lupa diri. Lihatlah kamu sudah memotong jarimu karena terpesona memandang Yusuf.”

Istri al-’Aziz berkata, “Saya akui terus terang, memang sayalah yang telah jatuh cinta kepadanya dan sayalah yang menggodanya dan mengajaknya berlaku serong. Tetapi dia tetap enggan dan berlindung diri kepada Tuhannya. Dia berpaling dan menjauhkan dirinya daripadaku. Aku terus menggodanya dan merayunya sampai dia mau mengikuti keinginan hawa nafsuku. Seandainya dia juga tidak mau, aku akan katakan kepada suamiku, supaya dia dimasukkan ke dalam penjara dan tentunya dia akan menjadi orang yang hina. Suamiku tidak berani menolak usulku itu dan suamiku akan menghukum dia sesuai dengan keinginanku.”

Sengaja kata-kata itu dilontarkannya di hadapan tamu-tamu dalam jamuan yang meriah itu, supaya didengar oleh Yusuf sendiri dan supaya para tamu dapat melunakkan hati Yusuf. Lebih baik mematuhi apa saja kehendak istri al-’Aziz daripada mendapat kemarahan yang akhirnya akan dipenjara-kan, hidup bersama-sama dengan orang-orang jahat dan hina-dina. Bila Yusuf mau mengikuti kehendaknya, tentu Yusuf akan beruntung seluruh kekayaan dan kemewahan isi istana itu dapat pula dikuasai Yusuf. Pendek-nya, semua yang hadir pada waktu itu telah berpihak kepada istri al-’Aziz, tidak lagi menyalahkan dan mengejeknya. Semua membenarkan, sudah sepantasnya istri menteri tergoda dan tergila-gila oleh Yusuf yang tinggal di rumahnya. Maka semua perempuan itu, turut membujuk Yusuf agar mematuhi kehendak istri menteri itu, tanpa malu-malu dan takut-takut.

Ayat 33

Ayat ini menerangkan bagaimana keteguhan hati dan kekuatan iman Yusuf yang tidak mempan segala bujukan dan rayuan, begitu juga semua kata-kata untuk melunakkan hati Yusuf yang keluar dari mulut perempuan-perempuan itu. Tidak mencemaskan hati Yusuf gertakan dan ancaman yang mengatakan bahwa Yusuf akan dipenjarakan dan dihukum, kalau dia tidak mau tunduk mengikuti ajakan untuk berbuat serong itu. Mendengar semua itu, Yusuf hanya berlindung diri kepada Allah, menundukkan kepala sambil berdoa agar dijauhkan Tuhan dari godaan perempuan-perempuan itu seraya berkata,

“Ya Tuhanku, penjara yang gelap lagi sempit itu lebih baik bagiku daripada dalam istana, menghadapi perempuan-perempuan yang cantik yang selalu menggoda dan mengajakku untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. Aku khawatir ya Allah, bila aku masih tinggal dalam istana ini, selalu berhadapan dengan perempuan-perempuan yang menggodaku, kalau-kalau semangatku melemah, imanku luntur, sehingga aku terperosok jatuh ke lembah kehinaan bersama mereka. Ya Allah, hindarkanlah aku dari godaan-godaan mereka. Tidak ada daya dan kekuatan bagiku untuk lepas dari bahaya itu selain dengan pertolongan dan petunjuk-Mu. Ya Allah, kalau bukan karena pertolongan dan petunjuk-Mu, aku akan jadi orang yang bodoh, sesat jalan dan mudah terpedaya akhirnya terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan maksiat.”

Ayat 34

Ayat ini menerangkan bahwa akhirnya Yusuf dimasukkan ke dalam penjara. Doa Yusuf diperkenankan Tuhannya, agar Yusuf tetap dipelihara dari godaan dan tipu-daya perempuan-perempuan itu. Maka menteri memasukkan Yusuf ke dalam penjara sekadar memenuhi permintaan istrinya, oleh karena istrinya meminta kepada suaminya supaya jangan membocorkan peristiwa itu dan berusaha menenteramkan suasana rumah tangganya. Maksud Allah mengabulkan doa Yusuf untuk masuk penjara berlainan dengan maksud pembesar itu (al-’Aziz).

Maksud Allah ialah supaya Yusuf tetap bersih, terpelihara dari segala godaan yang mengotori jiwanya. Juga supaya Yusuf menjadi orang yang sabar dan tahan menderita dalam penjara, bergaul dengan orang-orang yang sudah lama meringkuk dalam penjara dengan bermacam-macam karakter, tingkah laku, dan perangainya. Sebab Yusuf akan diangkat Allah menjadi nabi untuk kaumnya. Penjara adalah tempat mendewasakannya dan tempat pertama kali Allah menurunkan wahyu kepadanya. Oleh karena itu, Allah selalu menjaganya dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui segala doa yang dipanjatkan dan segala perbuatan yang dikerjakan hamba-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Yusuf ayat 35-40


Sejarah Awal Kewajiban Puasa dan Turunnya Surah al-Baqarah Ayat 187

0
Surah al-Baqarah Ayat 187
Surah al-Baqarah Ayat 187

Kewajiban berpuasa tercantum secara jelas dalam Q.S. al-Baqarah Ayat 183. Kemudian ayat-ayat berikutnya menjelaskan hukum puasa bagi saudara kita yang sedang sakit atau dalam perjalanan, serta kapan puasa dilaksanakan. Secara umum, hal ini tidak ada yang berbeda dengan apa yang kita ketahui selama ini. Yakni mereka yang sedang sakit atau dalam bepergian bisa menggantinya di waktu lain dan puasa dilaksanakan selama bulan Ramadan setelah  posisi hilal diketahui dengan pasti.

Namun, tahukan kita bahwa ada perbedaan antara puasa yang kita kenal saat ini dengan puasa yang pernah ada pada masa Nabi Muhammad? Informasi seputar puasa yang kita ketahui sekarang ini tidak ada yang berbeda sedikitpun dari informasi yang juga dikenal pada masa Nabi. Hanya saja pernah ada sedikit perbedaan sebelum model puasa yang kita kenal ini dilegalkan oleh Allah.

Dahulu, sebelum turun Surah al-Baqarah Ayat 187, ketentuan puasa yang ada tidaklah sepenuhnya sama dengan ketentuan puasa kita. Mengenai larangan makan, minum, dan berhubungan badan masih tetap sama. Mengingat di situlah letak inti berpuasa.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah, Allah berfirman “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya (kelak). Dia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Ada dua kebahagiaan bagi orang berpuasa; kebahagiaan saat berbuka dan saat berjumpa dengan Tuhannya” (HR. Muslim). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Malik ada redaksi “… meninggalkan syahwa, makanan, dan minumannya.” (HR. Malik)

Menurut informasi hadis yang menjadi sebab nuzul Surah al-Baqarah Ayat 187 ini, berbuka puasa hanya bisa dilakukan dalam rentang waktu antara maghrib dan isya saja. Selebihnya sudah berlaku kembali ketentuan puasa (tidak boleh makan, minum, dan berhubungan badan).

Sahabat Barrā` bercerita bahwasanya “dahulu, jika salah satu sahabat Nabi berpuasa, lalu waktu berbuka tiba ia tertidur sebelum berbuka, maka ia tidak diperbolehkan lagi makan sepanjang malam itu dan siang hari berikutnya sampai tiba waktu sore (yakni waktu berbuka untuk hari esoknya)”. Hal ini tentu terasa berat bagi sebagian sahabat Nabi yang siang harinya sudah memeras keringat mencari rejeki.

Belum lagi cuaca tanah Arab yang terkenal ekstrem, hal itu tentunya membuat sahabat merasa lebih berat lagi dalam menjalani puasa di hari esoknya. Suatu ketika – tutur sahabat Barrā` bin ‘Āzib – Shirmah bin Qais al-Anshārī berpuasa. Begitu waktu puasa tiba, ia menghampiri istrinya dan bertanya ‘Apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’ ‘Tidak, tapi aku akan keluar mencarikan makanan untukmu’ jawab sang istri.

Sebagai orang yang bekerja di siang hari, Qais pun merasa letih dan tertidur. Tidak lama istrinya datang. Mengetahui suaminya tertidur, istrinya berucap ‘kasihan sekali dirimu, suamiku!’.

Keesokan harinya, ketika tengah hari tiba, Qais pingsan. Tragedi yang mengenaskan ini dilaporkan kepada Nabi lalu turunlah ayat “dihalalkan bagimu menggauli istrimu pada malam puasa” Para sahabatpun sangat senang luar biasa. Selain itu, turun pula “makan dan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian (perbedaan) antara benang putih dan benang merah” (HR. Bukhari, Ahmad, al-Darimi, Abu Dawud, dan al-Turmudzi).

Demikian awal mula kisah dibebaskannya makan dan minum pada malam hari selama bulan puasa. Hadis tadi bisa ditemukan juga misalnya dalam kitab al-Muharrar fī Asbāb Nuzūl al-Qur’an min Khilāl al-Kutub al-Tis’ah. Jika makan dan minum sudah mendapatkan lampu hijau, lantas bagaimana dengan kebutuhan yang satunya? Dalam kitab yang ditulis oleh Khalid bin Sulaiman al-Mazīnī ini ada hadis riwayat Imam Ahmad yang menjadi satu rangkaian hadis-hadis sebab turunnya Surah al-Baqarah Ayat 187.

Hadis ini menceritakan kejadian yang dialami sahabat Umar bersama istrinya. Pada bulan Ramadan – dalam hadis tersebut – ketika seseorang berpuasa kemudian tertidur menjelang waktu berbuka, haram baginya makanan, minuman, dan menggauli istri hingga tiba waktu berbuka puasa keesokan harinya.

Suatu malam, sahabat Umar pulang dari kediaman Nabi setelah terjaga bersamanya dan menjumpai istrinya tertidur. Sahabat Umar ingin menggaulinya namun istrinya mengaku bahwa dirinya telah tertidur (sehingga tidak bisa memenuhi keinginan suaminya itu). Sahabat Umarpun berkata ‘engkau tidak tidur’ dan terjadilah apa yang diinginkannya dari istrinya itu.

Keesokan harinya, sahabat Umar menghadap Nabi dan melapor perihal kejadian semalam. Lalu turunlah ayat “Allah tahu bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, Allah pun menerima taubatmu dan memaafkanmu” (HR. Ahmad). Setelah ayat ini turun, sempurna sudah kenikmatan yang dirasakan para sahabat kala itu. Mereka tidak lagi tersiksa oleh keterbatasan waktu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan biologis semisal makan, minum, dan lainnya.

Mengenai dua hadis ini, Ibn Katsīr dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhīm-nya (2/196) berkomentar “Demikianlah yang diriwayatkan dari Mujāhid, ‘Athā`, ‘Ikrimah, Qatādah, dan yang lain terkait sebab turunnya ayat ini. Ia menjadi jawaban atas kasus yang menimpa Umar bin Khattāb, Shirmah bin Qais, dan siapapun yang senasib dengan mereka. Kemudian Allah memperbolehkan berhubungan badan, makan, dan minum sepanjang malam-malam puasa sebagai bentuk kasih sayang dan keringanan”.

Kini, jika demikian kenyataannya, rasanya tidak layak bagi kita untuk mengeluhkan rasa lapar dan dahaga yang dirasakan saat berpuasa. Sebab kondisi ini hanya sampai waktu magrib saja. Pada malam harinya kita bisa menikmati aneka makanan yang dihidangkan di hadapan kita. Para sahabat – dengan kondisi wilayah yang jauh leih panas dari Indonesia – telah merasakan hal yang lebih berat dari itu. sebelum ayat ini turun, mereka hanya bisa menikmati kelezatan dunia antara waktu maghrib dan isya saja. wallāhu a’lam