Beranda blog Halaman 388

Berbagai Cara Allah Menjaga Al-Quran dalam Tafsir Surah Al-Hijr Ayat 9

0
cara Allah menjaga Al-Quran
cara Allah menjaga Al-Quran

Al-Quran sebagaimana kita ketahui telah dijamin penjagaannya oleh Allah. Berbagai cara Allah menjaga Al-Quran, sebagaimana ditegaskan dalam tafsir surah Al-Hijr ayat 9.

Berikut bunyi QS. Al-Hijr [15]: 9,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hirj [15]:9)

Menurut As-Sa’di dalam Taisīr al-Karīm al-Raḥmān (halaman 429), Allah menjaga Al-Quran pada masa penurunannya dan setelah masa penurunannya. Pada masa penurunannya Allah menjaga Al-Quran dari pencurian setan sedangkan pada masa sesudah penurunannya, Allah menjaga Al-Quran dari perubahan, penambahan, maupun pengurangan lafad dan penggantian maknanya. Cara Allah menjaga Al-Quran salah satunya dengan menyimpannya di dalam dada utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad, dan kemudian di dalam dada umat Nabi Muhammad.

Baca Juga: Baca Ayat Ini Untuk Menjaga Hafalan Al-Quran dan Semua Ilmu Pengetahuan

Makna ‘menjaga Al-Quran’

Penjagaan Al-Quran ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah dan anugerah dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang dititipi Al-Quran. Sementara menurut al-Māwardī dalam al-Nukat wa al-‘Uyūn (juz 3, halaman 149), ada tiga makna terkait makna kata “menjaga”: 1) Allah menjaga Al-Quran hingga hari kiamat, 2) Allah menjaga Al-Quran dari setan yang ingin membuat kebatilan di dalamnya atau menghilangkan kebenaran Al-Quran, dan 3) Allah menjaga Al-Quran di dalam orang-orang yang Allah kehendaki menjadi orang baik dan menghilangkan Al-Quran dari hati orang-orang yang Allah kehendaki menjadi orang yang buruk.

Ibn al-Jauzī dalam Zād al-Masīr (juz 2, halaman 525), sebelum masuk pada penafsiran tentang makna ‘menjaga’, terlebih dahulu ia menyinggung tentang penggunaan kata ‘nahnu’. Dikaitkan dengan konteks penjagaan Al-Quran, kata naḥnu yang bermakna “Kami” pada ayat tersebut mengandung pengertian bahwa Allah melibatkan makhluk-Nya dalam misi penjagaan Al-Quran ini.

Ibn al-Jauzī melanjutkan bahwa mayoritas mufasir merujukkan kata al-żikr kepada Al-Quran. Sedangkan kata ganti hu ada dua pendapat. Pendapat pertama merujuk kepada al-żikr (Al-Quran) dan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Pendapat kedua merujuk kepada Nabi Muhammad sehingga maknanya menjadi “dan Kami (pula) yang menjaga Nabi Muhammad dari para setan dan musuh-musuhnya”. Maksudnya adalah orang-orang yang menuduh gila pada Nabi Muhammad

Ibn ‘Asyūr dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (juz 14, halaman 21) mengutip ‘Iyādh menceritakan bahwa Ismā’īl ibn Ishāq ditanya mengenai rahasia alasan kitab-kitab terdahulu yang mengalami banyak perubahan, sedangkan Al-Quran tidak.

Beliau menjawab “sesungguhnya Allah memasrahkan kepada ulama-ulama mereka untuk menjaga kitab-kitab mereka sendiri. Allah berfirman ‘sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah’ (QS. Al-Mā`idah[5]:44) sedangkan Allah menjaga Al-Quran dengan dzat-Nya sendiri.

Hal ini berarti ketika Allah menurunkan kitab-kitab sebelum Al-Quran, Allah memasrahkan penjagaannya kepada para ulama mereka sedangkan terhadap Al-Quran, Allah sendiri yang benar-benar menjaganya.

Baca Juga: Pemeliharaan Al-Quran Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Berbagai cara Allah menjaga Al-Quran

Fakhr al-Dīn al-Rāzī dalam Mafātiḥ al-Ghaib (juz 19, halaman 123) merinci cara Allah menjaga Al-Quran. Pertama, Allah menjadikan Al-Quran sebagai mukjizat sehingga tidak ada satu makhluk pun yang mampu menambah dan mengurangi Al-Quran. Hal ini karena ketika ada makhluk yang mengurangi Al-Quran, maka akan mengubah susunan Al-Quran itu dan orang-orang yang berakal akan segera menyadari bahwa perubahan itu bukan bagian dari Al-Quran.

Kedua, Allah menjaga Al-Quran dari siapapun yang ingin  memalingkan makna Al-Quran. Ketiga, Allah melemahkan semua makhluk untuk merusak Al-Quran dengan melestarikan orang-orang yang terus menghafal, mengkaji, dan mempopulerkan Al-Quran. Keempat, ketika ada yang mengubah satu huruf atau satu titik dari Al-Quran, maka orang-orang akan berkata kepadanya “ini adalah kebohongan bagi kalam Allah”. Bahkan orang tua yang disegani sekalipun ketika melakukan laḥn (kesalahan) pada sebuah huruf maka anak anak akan berkata padanya “Anda salah wahai orang tua, yang benar adalah demikian dan demikian”.

Al-Qurṭubī dalam al-Jāmi’ Li Aḥkām al-Qur’ān (juz 5, halaman 10) menceritakan kisah dari Yaḥyā ibn Akṡam. Khalifah al-Makmūn mempunyai majlis diskusi. Suatu hari di tengah kerumunan orang, datang seorang laki-laki Yahudi yang bagus pakaiannya, tampan wajahnya. Laki-laki tersebut mampir berbicara dengan bagus dan lugas.

Ketika dia akan pergi, Khalifah al-Makmūn memanggilnya dan berkata “apakah kamu seorang bani Isrāil? ”benar” jawabnya. Lalu Khalifah al-Makmūn berkata “masuklah ke dalam Islam” Dia menjawab “(agama Yahudi) agamaku dan agama nenek moyangku” dan dia pun pergi.

Setahun kemudian, dia datang lagi sebagai seorang muslim dan dia membahas dengan baik ilmu fikih. Setelah majlis selesai, Khalifah al-Makmūn memanggilnya lagi dan berkata “bukankan kamu teman kami kemarin?” dia menjawab “betul”

Khalifah al-Makmūn lanjut bertanya “apa yang membuat kamu masuk Islam?” dia bercerita “aku pergi dari hadapanmu dan tak lama kemudian aku melakukan sebuah . Aku menulis Taurat berjumlah tiga naskah. Di dalamnya ada bagian yang aku tambahi dan aku kurangi. Lalu aku masukkan ke dalam gereja. Maka kitab tersebut laku terjual. Kemudian aku melakukan hal yang sama pada Injil lalu aku jadikan barang dagangan dan laku terjual.

Hal tersebut juga aku lakukan pada Al-Quran. Lalu aku tawarkan pada penjual buku dan dia pun menelaahnya. Ketika dia tahu ada penambahan dan pengurangan pada Al-Quran dia melempar dan tidak mau membelinya. Dari kejadian itu aku tahu bahwa Al-Quran terjaga dan karena itulah aku masuk Islam.

Berdasarkan keterangan yang diberikan para mufasir dapat disimpulkan bahwa Al-Quran itu senantiasa dijaga oleh Allah dan dijamin keotentikannya oleh Allah hingga hari kiamat. Penjagaan itu juga melibatkan pihak lain, yaitu  melalui peran para pembaca, penghafal, pengkaji, dan orang-orang yang selalu melestarikan ajaran-ajaran Al-Quran.

Surah al-Kahfi Ayat 110: Melihat Sisi Kemanusiaan Nabi Muhammad Saw

0
Sisi kemanusiaan Nabi Muhammad saw
Sisi kemanusiaan Nabi Muhammad saw

Dalam pandangan teologis umat Islam, nabi Muhammad saw adalah manusia sempurna (al-insan al-kamil). Beliau Adalah nabi dan rasul terakhir dari rangkaian utusan Allah Swt di muka bumi sejak nabi Adam as. Karena itulah, dirinya sangat dikagumi dan dipuji-puji oleh umat Islam sampai-sampai terkadang mereka melupakan sisi kemanusiaan nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw – pada hakikatnya – memang utusan Allah swt. Hal ini telah ditegaskan oleh Al-Qur’an dan perkataan beliau sendiri (hadis). Secara faktual, ia juga memiliki sifat-sifat yang sempurna dari berbagai aspek dan ia maksum atau bersih dari segala bentuk dosa. Kendati demikian, nabi saw tetaplah manusia dan beliau juga melakukan apa yang biasa manusia lakukan secara alamiah.

Nabi Muhammad saw bersabda:

إنما أنا بشرٌ، أنسى كما تنسَوْن، فإذا نسِيتُ فذكِّروني

Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian, maka jika aku lupa,

ingatkanlah aku.” (al-Jami’ al-Shahih Li al-Bukhari).

Hadis di atas secara jelas menyatakan bahwa Baginda saw serupa dengan manusia lainnya dalam konteks kemanusiaan. Sisi kemanusian nabi Muhammad saw ini berkisar pada fitrah-fitrah manusia. Meskipun demikian, beliau tidaklah sama seutuhnya dengan manusia biasa. Sebab, ada sisi keistimewaan yang Allah swt berikan padanya dan itu tidak diberikan kepada selainnya.

Baca Juga: Sisi lain dari Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw, Tafsir Alternatif Surah Al-Isra ayat 1

Menurut para ulama, sisi kemanusiaan nabi Muhammad saw atau diutusnya nabi dari golongan manusia memiliki hikmah tersendiri seperti kehadiran nabi sebagai manusia adalah sebagai suri teladan atau role model bagi manusia secara empiris sehingga bisa diikuti. Selain itu, sisi kemanusian nabi Muhammad saw juga dijadikan sebagai pelajaran bagi umatnya sebagaimana yang terjadi dalam kasus ‘lupa’ pada hadis di atas (Marah Labid).

Surah Al-Kahfi [18] Ayat 110: Nabi Muhammad Saw Juga Manusia

Dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang menunjukkan tentang sisi kemanusiaan nabi Muhammad saw. Salah satunya adalah surah al-Kahfi [18] ayat 110 yang berbunyi:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ ١١٠

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18] ayat 110).

Menurut al-Sa’adi, surah al-Kahfi [18] ayat 110 bermakna, “Katakanlah wahai Muhammad kepada orang-orang kafir dan selainnya bahwa engkau bukanlah Tuhan, bukan pula sekutu Tuhan, engkau tidak mengetahui hal yang gaib, dan engkau tidak mengusai perbendaharaan Allah swt. Katakanlah, ‘Aku adalah manusia seperti kalian, seorang hamba Allah. Hanya saja aku diberikan wahyu yang membedakan antara aku dan kalian’.”

Katakanlah, “Melalui wahyu tersebut, aku diperintahkan untuk mengabarkan kepada kalian bahwa Tuhan kalian Esa, tidak ada Tuhan selain Dia dan tidak ada seorang pun yang berhak disembah – sedikit pun – selain Dia. Oleh karena itu, Aku menyeru kalian untuk melakukan amal saleh yang dapat mendekatkan kalian dengan-Nya sehingga kalian mendapatkan pahala dan terhindar dari azab-Nya.”

Syekh Nawawi al-Bantani menuturkan bahwa surah al-Kahfi [18] ayat 110 memiliki dua sisi penekanan, yakni penegasan sisi kemanusian nabi Muhammad saw dan sisi keistimewaannya dibandingkan manusia lain karena wahyu. Dengan wahyu tersebut beliau mengetahui berbagai hal yang bersifat gaib, mulai dari surga, neraka, pahala, dosa, hingga Kenyataan Keesaan Allah swt.

Pandangan serupa disampaikan oleh Imam al-Syaukani dalam Fath al-Qadir. Ia menyatakan bahwa surah al-Kahfi [18] ayat 110 merupakan perintah Allah swt kepada nabi Muhammad saw untuk menyatakan dirinya sebagai manusia sebagaimana kaumnya. Apa yang membedakan antara nabi saw dan kaumnya hanyalah wahyu yang Allah swt berikan sebagai modal dakwah untuk mengenalkan Islam.

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa Al-Qur’an ingin menegaskan sisi kemanusiaan nabi Muhammad saw dan keistimewaannya dibandingkan manusia lain. Sisi ini perlu ditegaskan agar tidak terjadi dua hal, yakni pemujaan berlebihan terhadap nabi saw sebagaimana yang terjadi pada nabi Isa as dan pengabaian terhadap ajaran dan praktik agama karena hanya bisa dipraktikkan oleh orang-orang terpilih seperti nabi.

Baca Juga: Sisi lain dari Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw, Tafsir Alternatif Surah Al-Isra ayat 1

Di sisi lain, surah al-Kahfi [18] ayat 110 juga menegaskan bahwa apa yang nabi Muhammad saw sampaikan – seluruhnya, tanpa terkecuali – berasal dari sisi Allah swt. Berbagai informasi yang disampaikan oleh nabi saw – khususnya berkenaan dengan yang gaib seluruhnya berasal dari Allah swt, bukan berdasarkan usahanya sendiri. Inilah yang membuat dirinya spesial dibandingkan manusia lain yang hanya bersandar pada pengalaman pribadi (empirical evidence).

Pada bagian akhir surah al-Kahfi [18] ayat 110 diterangkan kandungan wahyu secara universal, yakni pengetahuan tentang Keesaan Allah swt. Melalui pengetahuan ini, barulah manusia mampu melakukan pengakuan terhadap keesaan-Nya. Bisa dikatakan bahwa inilah inti sari ajaran Islam, baik Islam yang dianut nabi Adam, nabi Musa, nabi Isa, maupun Islam yang dibawa nabi Muhammad saw. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Yunus Ayat 11 (Bagian 2)

0
tafsir surah yunus
tafsir surah yunus

Tafsir Surah Yunus Ayat 11 bagian kedua ini meneruskan pembicaraan sebelumnya. Orang-orang yang ingkar kepada Nabi Muhammad meminta hal yang tidak pantas. Mereka ingin mencelakai diri sendiri dengan permintaan azab.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 11 (Bagian 1)


Ayat 11

Permintaan ini sering diajukan orang-orang musyrik Mekah kepada Nabi Muhammad saw yang menyampaikan agama Allah kepada mereka.

Mereka meminta yang tidak pantas kepada Nabi, seperti meminta datangnya azab kepada mereka sebagaimana yang pernah didatangkan kepada bangsa-bangsa dahulu kala, meminta datangnya kiamat dan sebagainya, sebagaimana firman Allah:

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلٰتُۗ وَاِنَّ رَبَّكَ لَذُوْ مَغْفِرَةٍ لِّلنَّاسِ عَلٰى ظُلْمِهِمْۚ وَاِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيْدُ الْعِقَابِ

Dan mereka meminta kepadamu agar dipercepat (datangnya) siksaan, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksaan sebelum mereka. Sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan  bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sungguh, Tuhanmu sangat keras siksaan-Nya.  (ar-Ra’ad/13: 6)

Dan firman Allah:

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِۗ وَلَوْلَآ اَجَلٌ مُّسَمًّى لَّجَاۤءَهُمُ الْعَذَابُۗ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Dan mereka meminta kepadamu agar segera diturunkan azab. Kalau bukan karena waktunya yang telah ditetapkan, niscaya datang azab kepada mereka dan (azab itu) pasti akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. (al-‘Ankabµt/29: 53)

Bahkan orang-orang musyrik itu, karena sangat ingkar kepada Al-Qur′an, berani berdoa agar disegerakan azab atas mereka seandainya yang disampaikan Muhammad itu adalah benar. Allah berfirman:

وَاِذْ قَالُوا اللهم  اِنْ كَانَ هٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَاَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ اَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ

Dan (ingatlah,) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (al-Anf±l/8: 32)

Orang-orang musyrik yang mengingkari adanya Hari Kiamat, menantang Rasulullah agar disegerakan datangnya Hari Kiamat itu, sebagaimana firman Allah:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِهَاۚ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مُشْفِقُوْنَ مِنْهَاۙ وَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهَا الْحَقُّ ۗ اَلَآ اِنَّ الَّذِيْنَ يُمَارُوْنَ فِى السَّاعَةِ لَفِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ

Orang-orang yang tidak percaya adanya Hari Kiamat meminta agar hari itu segera terjadi, dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa Kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya Kiamat itu benar-benar telah tersesat jauh. (asy-Syµra/42: 18)


Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 8-11: Penyesalan Orang yang Ingkar di Hari Kiamat


Tujuan orang-orang musyrik meminta kepada Nabi Muhammad saw agar didatangkan segera hukuman yang dijanjikan itu, bukan hanya karena mereka tidak percaya kepadanya, tetapi juga untuk membantah dan melemahkan hujah dan bukti kenabian, memperolok-olokan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka dan untuk mengatakan kepada Nabi Muhammad saw bahwa mereka sangat mengingkari segala macam yang disampaikan beliau kepada mereka. Adakalanya di antara mereka ada yang percaya kepada Nabi saw, tetapi rasa dengki kepada Muhammad dan fanatik kepada agama nenek moyang mereka telah menyebabkan mereka tetap mengingkarinya.

Dari ayat ini dipahami bahwa Allah tidak akan memperkenankan doa dan permintaan mereka, dan tidak menghendaki kehancuran mereka seperti yang telah dialami oleh umat yang telah lalu, tetapi Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Muhammad diutus sebagai nabi dan rasul terakhir kepada seluruh manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu Allah selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Kalau mereka tetap dalam keingkaran dan kekafirannya sampai mati, maka Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih.

Allah tidak akan mendatangkan azab kepada mereka di dunia sebagaimana yang telah ditimpakan kepada umat-umat yang dahulu, karena seandainya Allah menimpakan azab kepada mereka, tentu mereka akan musnah semuanya, dan kemusnahan itu akan menimpa pula orang-orang yang beriman yang hidup dan berdiam di antara mereka, sebagaimana firman Allah:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً  وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (an-Nahl/16: 61)


Baca satelahnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 12-13


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Tabiin: Ragam Kekhasan Madrasah Tafsir Bashrah

0
Madrasah Tafsir Bashrah
Ilustrasi Madrasah Tafsir Bashrah

Sebagai salah satu madrasah terkemuka, Madrasah Tafsir Bashrah memiliki beberapa kekhasan dalam aktivitas kajiannya terhadap al-Qur’an. Muhammad ibn Abdullah ibn ‘Ali al-Khudhairi dalam karyanya Tafsir al-Tabi’in menyebutkan empat poin pembeda antara Madrasah Tafsir Bashrah dengan madrasah lainnya.

Keempat poin pembeda tersebut ialah 1) Memiliki uslub lughawy (gaya bahasa) yang khas; 2) Menyisipkan pesan-pesan hikmah dalam penafsirannya; 3) Menjauhi penggunaan israilliyah; 4) Menonjolkan al-tafsir bis sunnah (tafsir dengan riwayat hadis).

Memiliki Uslub Lughawy yang Khas

Uslub atau gaya bahasa memang tidak bisa dilepaskan dari faktor geografis dan demografis. Pemilihan kata yang diekspresikan dalam bentuk lisan maupun tulisan, tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan serta interaksi sosial yang terjadi di suatu daerah.

Setidaknya dapat dijelaskan secara lebih detail alasan di balik gaya bahasa khas yang dimiliki oleh Madrasah Tafsir Bashrah. Pertama, Bashrah memang terkenal sebagai salah satu pionir peletakan kaidah-kaidah Nahwu. Maka hingga hari ini, tidak heran jika penikmat keilmuan ini mengenal madzhab Nahwu Bashrah sebagai salah satu rujukan dalam mengambil kaidah-kaidah Nahwiyah.

Baca Juga: Ijtihad Tabiin dan Kontribusinya terhadap Tafsir bi al-Ma’tsur

Keunikan madzhab Nahwu Bashrah terletak pada komposisi stilistika bahasanya yang bercampur dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di lingkup geografisnya. Fenomena tersebut terjadi secara alamiah sebab Bashrah merupakan salah satu pusat perdagangan. Hasilnya, dalam stilistika bahasanya ditemukan pengaruh kebudayaan Hindi maupun daerah Timur lainnya yang pada akhirnya menyebabkan keunikan dan kekhasan pada gaya bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Bashrah.

Kedua, Bashrah juga merupakan kota yang menjadi saksi banyaknya kaum Mawali (masyarakat non-Arab) yang masuk Islam. Kaum Mawali itupun mulai mempelajari bahasa Arab agar dapat memahami al-Qur’an. Implikasinya terjadi percampuran stilistika bahasa antara bahasa Ibu dengan bahasa Arab yang mereka pelajari. Sampai kemudian banyak dari kaum Mawali yang berhasil menguasai keilmuan Nahwu serta Sastra dan sampai menjadi sosok yang begitu populer hingga saat ini. Sebut saja Imam Sibawaih dan Hasan al-Bashri serta Abul Aswad al-Du’ali yang langsung teringat jika membicarakan dua keilmuan tersebut.

Menyisipkan Pesan-Pesan Hikmah Dalam Penafsiran

Kekhasan atau keistimewaan lainnya dari tafsir-tafsir yang lahir dari para cendekiawan Bashrah ialah kelihaian mereka dalam menyisipkan pesan-pesan hikmah dalam setiap penafsirannya. Para cendekiawan Bashrah terlihat enggan untuk menghadirkan penafsiran yang kering dan tidak berbekas bagi pembacanya. Mereka seakan ingin agar setiap produk penafsirannya selalu memberi impact bagi sisi ruhaniyah pembacanya.

Peran guru-guru mereka dari kalangan Sahabat juga turut memberikan andil besar dalam nuansa penafsiran khas yang mereka miliki. Guru mereka seperti Abu Musa al-Asy’ari telah mengajarkan mereka pengalaman hidup yang penuh kezuhudan dan suluk. Pengalaman hidup yang diajarkan oleh guru-guru mereka terbawa hingga karya-karya penafsiran yang mereka hasilkan.

Selain itu, kompetensi mumpuni mereka dalam ilmu Bahasa juga turut mendukung terciptanya penafsiran yang mampu menggubah perasaaan dan memberikan kesan mendalam pada setiap pembacanya. Tentu tidak mungkin jika kata-kata biasa tanpa ditambahkan bumbu sastra akan mampu menembus hingga hati yang terdalam.

Maka mereka para cendekiawan Bashrah terkenal dengan julukan qashshash (pemberi kisah) sebab menggunakan gaya bahasa kisah dalam menyampaikan penafsirannya. Meskipun gaya penyampaian ini dahulu ditentang karena dikhawatirkan banyak memuat riwayat-riwayat yang tidak jelas asal-usulnya, namun Hasan al-Bashri menilai bahwa gaya penyampaian ini sangat efektif dalam menekankan dzikrullah (mengingat Allah).

Menjauhi Penggunaan Israilliyah

Mayoritas jumhur Ulama menilai kebolehan penggunaan riwayat israilliyah selama tidak terdapat pertentangan dengan syariat Islam di dalamnya. Sebagaimana Madrasah Tafsir Mekkah yang banyak mempergunakan riwayat israilliyah sebagai alat bantu dalam metodologi penafsirannya.

Namun berbeda halnya dengan Madrasah Tafsir Bashrah yang terkenal cukup anti dalam penggunaan riwayat israilliyah. Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya, di antaranya: 1) sedikitnya riwayat yang sampai ke Bashrah sehingga mereka lebih dominan pada penggunaan akal seperti ijtihad dan istinbath dalam memahami maksud ayat; 2) Guru-guru utama madrasah ini terkenal sebagai sahabat yang menjauhi riwayat-riwayat israilliyah seperti Ibn Mas’ud dan Anas ibn Malik; 3) tidak adanya Muslim Ahli Kitab yang hidup di Irak. Faktor ini sekaligus menjawab mengapa begitu jarang ditemui riwayat israilliyah yang sampai ke Bashrah.

Menonjolkan Al-Tafsir Bis Sunnah

Madrasah Tafsir Bashrah juga dikenal dengan penafsirannya yang menonjolkan aplikasi penggunaan riwayat tafsir Nabi yang cukup banyak. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan banyaknya riwayat tafsir Nabi yang mereka miliki antara lain: pertama, bergurunya para pemuka Tabi’in semisal Hasan al-Bashri kepada para Sahabat yang berdomisili di Madinah seperti Anas ibn Malik yang terkenal banyak memiliki riwayat tafsir Nabi.

Kedua, para Tabi’in utama di lingkup Madrasah Tafsir Bashrah kerapkali melakukan tasahul al-riwayah (mudah menerima dan mempergunakan suatu riwayat selama secara kandungan makna benar adanya). Jadi semisal ada riwayat yang lengkap secara matan, namun kurang dalam rentetan sanadnya maupun sebaliknya, maka akan tetap dicantumkan dan ditambahkan sebagai pelengkap penafsiran. Akibatnya hadis-hadis yang diriwayatkan banyak yang dinilai sebagai hadis Mursal sebab terjadi loncatan langsung ke Nabi Muhammad tanpa penyebutan sahabat yang diambil hadisnya.

Baca Juga: Ragam Kekhasan Kajian Madrasah Tafsir al-Qur’an Mekkah Masa Tabiin

Mungkin sikap tasahul al-riwayah ini bisa menjadi alasan mengapa mereka dijuluki al-qashshash sebab banyak memasukkan riwayat yang belum jelas secara sanad dan matan namun memiliki tema yang sesuai dengan pembahasan. Namun bagaimanapun perdebatan dalam sikap tasahul ini, tetap saja telah menjadi salah satu kekhasan yang mewarnai metodologi penafsiran mereka.

Adapun jika para pembaca mengamati gaya penyampaian tafsir di Indonesia khususnya dalam acara-acara majelis pengajian yang memperingati momentum tertentu, maka akan didapati adanya kemiripan dengan gaya penyampaian Tabi’in Bashrah. Mereka menyampaikan esensi-esensi ajaran yang terdapat dalam al-Qur’an  dengan menggunakan gaya penyampaian kisah dan banyak memasukkan riwayat-riwayat fadha’ilul a’mal yang biasanya banyak dipertentangkan keshahihannya. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Yunus Ayat 11 (Bagian 1)

0
tafsir surah yunus
tafsir surah yunus

Tafsir Surah Yunus Ayat 11 terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berbicara mengenai watak alamiah manusia yang menginginkan sesuatu serba cepat dan instan. Hal itu tidak baik bagi manusia dan oleh karenanya Allah mengingatkan agar manusia selalu ingat bahwa semua hal terjadi atas kehendak Allah Swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 10


Ayat 11

Salah satu sifat dan watak manusia, adalah ingin segala sesuatu yang akan terjadi padanya dipercepat atau disegerakan, baik itu berupa hukuman atau kemudaratan, kebaikan atau pahala.

Padahal, mereka telah mengetahui bahwa semuanya itu terjadi atas kehendak Allah, sesuai dengan hukum-hukum-Nya dan sesuai pula dengan ketetapan dan aturannya. Allah berfirman:

فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا سُنَّتَ الْاَوَّلِيْنَۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا ەۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَحْوِيْلًا  ;

…Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi ketentuan Allah dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu. (Fatir/35: 43)

Dan firman Allah:

سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ  ۖوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا

(Demikianlah) hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu. (al-Fath/48: 23)

Pada ayat-ayat Al-Qur’an yang lain dijelaskan sifat tergesa-gesa yang ada pada manusia, sebagaimana firman Allah:

وَيَدْعُ الْاِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاۤءَهٗ بِالْخَيْرِۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ عَجُوْلًا

Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa. (al-Isra’/17: 11)

Dan firman Allah:

خُلِقَ الْاِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍۗ سَاُورِيْكُمْ اٰيٰتِيْ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْنِ

Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu minta Aku menyegerakannya. (al-Anbiya’/21: 37)

Sifat tergesa-gesa ingin memperoleh kebaikan dan kesenangan pada manusia itu, adalah karena keinginan mereka memperoleh manfaat dari sesuatu dalam waktu singkat, padahal mereka mengetahui bahwa segala sesuatu ada prosesnya.


Baca juga: Jangan Tergesa-gesa! Ini Dalil Larangannya dalam Al-Quran


Proses itu memerlukan tekad/niat yang kuat, kesabaran dan keuletan. Mustahil mereka akan mencapai suatu kesenangan, tetapi mereka tidak berusaha mencapainya dengan mengikuti syarat-syarat tercapainya sesuatu.

Lain halnya dengan keinginan manusia mengalami suatu siksaan, bahaya atau malapetaka.

Keinginan ini timbul karena kebodohan, ketidakimanan, kedurhakaan, dan keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad saw atau karena mereka ingin memperolok-olokan sesuatu yang tidak mereka inginkan itu, atau karena kemarahan dan kebencian mereka terhadap sesuatu dan sebagainya, seperti yang terjadi atas orang-orang yang putus asa dalam kehidupannya, maka ia memohon kematian atas dirinya.

Demikian pula orang-orang kafir yang tidak menginginkan sesuatu yang disampaikan Rasul Allah, lalu minta bukti dengan cara segera mendatangkan azab yang dijanjikan kepada mereka.

Keinginan dan permintaan mereka itu dijawab oleh Allah dengan tegas melalui firman-Nya dalam ayat ini, yaitu seandainya Allah mau memperkenankan doa dan permintaan manusia, supaya ditimpakan azab kepada mereka atau suatu malapetaka, sesuai dengan permintaan yang mereka ajukan semata-mata karena kebodohan atau ingin melemahkan bukti-bukti kenabian yang disampaikan kepada mereka, seperti yang pernah diminta oleh orang-orang musyrik Mekah, tentulah Allah akan segera mengabulkannya dan itu amat mudah bagi Allah.


Baca satelahnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 11 (Bagian 2)


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Yunus Ayat 10

0
tafsir surah yunus
tafsir surah yunus

Tafsir Surah Yunus Ayat 10 berbicara mengenai gambaran kehidupan orang-orang yang mendapatkan balasan baik di surga. Gambaran tersebut dimunculkan dalam simbol kalimat-kalimat baik yang diucapkan oleh ahli surga.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 6-9


Ayat 10

Ayat ini menggambarkan tiga perumpamaan kehidupan orang-orang mukmin di surga. Dari tiga perumpamaan itu tergambar tingkatan kehidupan rohani yang tinggi yang telah dicapai mereka.

Gambaran itu ialah:

  1. Doa mereka, dimulai dengan menyebut, “Subhanaka Allahumma
  2. Salam penghormatan mereka ialah, “Salam”.
  3. Akhir doa mereka ialah, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”.

Doa ialah permohonan yang dipanjatkan kepada Yang Mahaagung, dengan sepenuh hati dengan kata-kata yang penuh hormat, karena merasakan keagungan tempat meminta. Pengakuan akan keagungan Allah itu diungkapkan dengan perkataan “subhanaka Allahumma” (Maha Suci Engkau, wahai Allah).

Kalimat ini memberi pengertian bahwa Allah Maha Esa, hanya Dia sendirilah yang berhak disembah, yang berhak diagungkan. Setiap makhluk wajib menghambakan diri kepada-Nya selama-lamanya, baik di dunia maupun di akhirat. Makhluk yang seperti inilah yang berhak memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan yang abadi pula.

Salam penghormatan mereka ialah “salam” yang maksudnya ialah agar sejahtera dan selamat dari yang tidak disukai dan diingini. Salam penghormatan ini telah selalu pula mereka ucapkan selama hidup di dunia.

Dalam Surah al-Ahzab/33: 44 diterangkan bahwa “salam” itu pun me-rupakan salam yang diucapkan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman waktu mereka pertama kali menjumpai Allah di akhirat.

Allah berfirman:

تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهٗ سَلٰمٌ ۚوَاَعَدَّ لَهُمْ اَجْرًا كَرِيْمًا

Penghormatan mereka (orang-orang mukmin itu) ketika mereka menemui-Nya ialah, “Salam,” dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (al-Ahzab/33: 44)

Salam penghormatan ini pula yang diucapkan oleh para malaikat kepada mereka, waktu mereka pertama kali masuk surga.

Allah berfirman:

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga berrombongan.  Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga), dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar/39: 73)

Dan dalam penghormatan ini pula yang diucapkan oleh sesama orang-orang yang beriman di dalam surga. Allah berfirman:

لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا اِلَّا سَلٰمًاۗ وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيْهَا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا

Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang tidak berguna, kecuali (ucapan) salam. Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki  pagi dan petang. (Maryam/19: 62)


Baca juga: Tafsir Surah Yasin ayat 58-59: Ucapan Salam Untuk Para Penghuni Surga


Ketinggian kehidupan rohani yang dicapai oleh orang-orang yang beriman di dalam surga nanti dipahami pula dari setiap penutup doa dan permintaan yang mereka panjatkan kepada Allah, yaitu “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin” (Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam). Ucapan ini pula yang diucapkan oleh orang-orang yang beriman di waktu pertama kali masuk surga.

Allah berfirman:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ صَدَقَنَا وَعْدَهٗ وَاَوْرَثَنَا الْاَرْضَ نَتَبَوَّاُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاۤءُ ۚفَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَ

Dan mereka berkata, “Segala Puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberi tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (az-Zumar/39: 74)

Dan ucapan ini pula yang diucapkan para malaikat di waktu mereka berada di sekeliling ‘Arsy. Allah berfirman:

وَتَرَى الْمَلٰۤىِٕكَةَ حَاۤفِّيْنَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْۚ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيْلَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy, bertasbih sambil memuji Tuhannya; lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (az-Zumar/39: 75)

Dari ayat ini dipahami bahwa wajib atas tiap-tiap orang yang beriman mensucikan jiwanya, dan membersihkan dirinya. Cara mensucikan jiwa dan membersihkan diri itu ialah dengan beribadah kepada Allah, mengendalikan hawa nafsu dan mengarahkannya untuk mengerjakan perbuatan yang baik dan amal yang saleh.

Bukanlah membersihkan diri itu dengan menggunakan perantara, seperti menjadikan perantara orang-orang yang dianggap keramat dan sebagainya, atau mengharapkan syafaat dari padanya. Bahkan perbuatan yang demikian itu dapat menjurus ke arah kemusyrikan. Allah berfirman:

لَيْسَ بِاَمَانِيِّكُمْ وَلَآ اَمَانِيِّ اَهْلِ الْكِتٰبِ ۗ مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِهٖۙ وَلَا يَجِدْ لَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرً

(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu dan dia tidak akan mendapatkan  pelindung dan penolong selain Allah. (an-Nisa’/4: 123)

Tiga macam perumpamaan kehidupan rohani yang tinggi yang diperoleh oleh ahli surga itu hendaklah selalu dibiasakan dan diamalkan oleh orang-orang yang beriman selama mereka hidup di dunia agar mereka memperoleh kebahagiaan yang abadi pula.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 11 (Bagian 1)


(Tafsir Kemenag)

Umat Islam berduka Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni Dikabarkan Wafat

0
Syekh Ali Ash-Shabuni
Syekh Ali Ash-Shabuni

Innalillah wa inna ilaihi rajiun umat Islam di dunia berduka cita, hari ini Jumat (19/03) bertepatan dengan 6 Sya’ban 1442 H, seorang mufassir kenamaan asal Suriah, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dikabarkan wafat. Kabar ini banyak tersebar di beberapa platform media sosial terutama gambar dari al-Jazeera Suriah.

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni merupakan ulama yang banyak menghasilkan beragam karya dari berbagai bidang keilmuan antara lain tafsir, hadis, dan lainnya. Dalam bidang tafsir terutama, karya beliau yang banyak dikaji di Indonesia terutama adalah Shafwat al-Tafasir,  Rawai’ al-Bayan fi Tafsir al-Ahkam dan al-Tibyan fi ‘Ulum al-Quran.

Dilansir dari alsouria.net, Syekh Ali wafat di kota Yalova (يلوا) Turki dalam usia 91 tahun. Dalam laman tersebut disertakan pula kabar dari akun twitter Syekh Muhammad Basyir Haddad yang mengkonfirmasi berita wafatnya. Beberapa laman lain juga mengabarkan berita duka ini seperti islamsyria.com dan watanserb.com.

Setelah redaksi menelusuri laman twitter, banyak tweet dari sejumlah tokoh yang memberitakan wafatnya Syekh Ali Ash-Shabuni. Di antaranya adalah dari Abdul Mun’in Zainuddin, Anwar Malik, dan juga akun twitter kanal berita seperti OrientNews, dan TRTArabi.

Syekh Ali lahir di Aleppo, Suriah pada tahun 1930. Sepanjang hidupnya, beliau mengabdikan dirinya kepada agama dan dakwah. Beliau pernah beberapa kali mengunjungi Indonesia, salah satu kunjungannya adalah pada sekitar tahun 2013 dan berkeliling ke sejumlah wilayah di Indonesia termasuk ke pesantren-pesantren.

Sebelumnya Syekh Ali Ash-Shabuni pernah dikabarkan wafat sekitar tahun 2015. Namun berita ini ternyata hoaks dan tidak benar. Saat ini Syekh Ali Ash-Shabuni tercatat sebagai ketua dari Rabithah Ulama Suriah, sebuah organisasi perkumpulan Ulama Suriah yang sangat disegani di sana.

Wafatnya Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni menjadi meninggalkan lubang yang cukup besar bagi Dunia Islam. Kepakaran beliau terutama dalam bidang ilmu al-Quran dan tafsir tidak mudah untuk bisa digantikan.

Keluarga besar tafsiralquran.id sangat kehilangan tokoh Tafsir ini. Semoga apa yang sudah Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni tinggalkan berupa ilmu dan amal, terus mengalir menjadi bekal untuk beliau kembali ke sisi Allah Swt.

Tafsir Surah Yunus Ayat 6-9

0
tafsir surah yunus
tafsir surah yunus

Tafsir Surah Yunus Ayat 6-9 berbicara mengenai tiga hal. Pertama tentang tanda kekuasan Allah dalam penciptaan matahari dan bumi. Kedua tentang orang yang tidak percaya adanya akhirat. Ketiga tentang balasan bagi orang beriman di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 5 (Part 2)


Ayat 6

Pada ayat ini Allah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang lain, yaitu pertukaran malam dan siang, walaupun pertukaran dengan arti pergantian malam dan siang itu, disebabkan oleh perputaran bumi mengelilingi sumbunya.

Perbedaan panjang malam dan siang disebabkan letak suatu tempat di bagian bumi, yang disebabkan oleh pergeseran sumbu bumi itu dan dua puluh tiga setengah derajat dari putaran jalannya (garis edar) serta peredaran bumi keliling matahari.

Di samping perputaran malam dan siang itu, dalam ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Allah menciptakan di langit dan di bumi aneka ragam benda, seperti benda cair, benda padat, udara, tumbuh-tumbuhan dan binatang, guruh petir, angin semuanya itu merupakan bukti dan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, bagi orang yang mau bertakwa kepada-Nya.

Ayat 7-8

Ayat-ayat ini menerangkan bahwa alasan orang-orang yang tidak meyakini akan adanya pertemuan dengan Allah di akhirat nanti di mana semua amal perbuatan akan ditimbang dengan adil, karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia dan rela menukar kesenangan hidup di akhirat dengan kesenangan hidup di dunia yang fana ini.

Hal itu juga karena mereka terpengaruh oleh kelezatan duniawi, demikian pula orang-orang yang lalai dan tidak mengindahkan ayat-ayat Al-Qur′an, serta tidak mau mempelajari, memahami dan mengamalkannya, maka tempat mereka kelak ialah neraka Jahannam.

Balasan azab yang demikian itu adalah karena dosa-dosa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia, dan balasan itu setimpal dengan perbuatan mereka.

Dalam ayat ini disebutkan dua macam sikap dan perbuatan manusia yang menyebabkan mereka masuk neraka, yaitu:

  1. Tidak percaya akan adanya hidup sesudah mati nanti, karena telah terpengaruh oleh kesenangan duniawi.
  2. Tidak mengindahkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Tidak percaya adanya hidup sesudah mati, untuk menemui Allah, berarti tidak percaya akan keadilan Allah, dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Orang-orang yang demikian biasanya adalah orang-orang yang mengira bahwa segala sesuatu yang telah didapatnya itu, adalah semata-mata atas usahanya sendiri, bukanlah sebagai rahmat dan karunia dari Tuhan; seakan-akan dialah yang menentukan segala sesuatu.

Sifat-sifat yang demikian dapat menjurus pada kepercayaan atheisme yang berpendapat bahwa Tuhan itu tidak ada, hanya manusia sendirilah yang mengadakan segala sesuatu. Hal ini sangat bertentangan dengan pokok utama akidah Islamiyah.

Demikian pula tidak mengindahkan ayat-ayat Al-Qur’an berarti tidak percaya bahwa Al-Qur’an sebagai kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, nabi yang terakhir dan tidak percaya pula bahwa kitab itu dapat menjadi pedoman bagi manusia dalam melayarkan bahtera hidup di dunia untuk mencapai kehidupan abadi di akhirat nanti.

Kepercayaan kepada adanya hidup sesudah mati, dan Al-Qur’an itu Kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw, adalah merupakan pokok utama ajaran Islam. Mengingkari kedua ajaran pokok itu berarti mengingkari ajaran Islam. Itulah sebabnya Allah mengancam dengan sangsi yang berat berupa azab neraka Jahannam terhadap orang-orang yang mengingkari-Nya.


Baca juga: Menyeimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat, Perhatikan Semangat Doa Al-Quran Berikut!


Ayat 9

Pada ayat ini Allah menerangkan balasan dan pahala yang baik yang diterima orang-orang yang beriman dan beramal saleh di akhirat nanti yaitu mereka diberi tempat yang mulia berupa surga yang penuh kenikmatan.

Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya, satu dengan yang lain berjalin dan bersangkut paut. Amat banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan keeratan hubungan itu.

Iman berupa keyakinan dan kepercayaan kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta dan Pemilik semesta alam, Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Karena sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang ada pada-Nya itu.

Dia menganugerahkan hidayat dan petunjuk bagi manusia agar mereka dengan petunjuk itu berbahagia hidup di dunia dan di akhirat. Petunjuk ini diakui oleh orang yang beriman sebagai petunjuk dari Allah, yang perwujudannya adalah sebagaimana yang disebutkan dan yang dikemukakan contoh-contohnya di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw.

Jadi amal yang saleh yang dikerjakan oleh seorang Muslim adalah manifestasi dari imannya, atau dengan perkataan lain bahwa seseorang yang telah mengaku beriman tentulah ia suka mengerjakan amal saleh. Mustahil seseorang yang beriman tidak mengerjakannya.

Iman dan amal saleh ini menjadi sebab manusia hidup berbahagia di dunia, dan diberi balasan oleh Allah berupa surga di akhirat. Dengan demikian, mereka telah sampai ke tingkat kehidupan rohani yang paling tinggi.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 10


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Ayat Syifa: Al-Quran sebagai Obat bagi Orang Beriman

0
tafsir ayat-ayat syifa
tafsir ayat-ayat syifa

Sebagai manusia tentu pernah mengalami sakit dan berobat. Namun adakalanya pengobatan yang dilakukan baik secara medis maupun non-medis tidak kunjung menuai hasil. Sejatinya, Islam (melalui ayat syifa dan hadis syifa) telah memberi petunjuk tentang ilmu kesehatan dengan mapan (established). Terbukti hal ini telah menginspirasi Ibnu Sina untuk menguak dan menuliskannya dalam magnum opusnya yang berjudul, al-Qanun fi Thibb (The Canon of Medicine).

Salah satu dari ayat syifa (obat) dalam Al-Quran yang patut kita renungi bersama di era pandemi ialah Q.S. al-Isra’ [17]: 82, berikut ayatnya,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. (Q.S. al-Isra’ [17]: 82)

Baca Juga: Menyoal Makna Syifa dalam Al-Quran

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 82

Penafsiran ini kami fokuskan pada kalimat syifa untuk menyingkap makna syifa sedalam-dalamnya. Al-Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah swt menurunkan Al-Quran dan semua ayatnya berisi syifa (obat). Tidak ada yang bukan syifa. Dalam hal ini terjadi ikhtilaf (berbeda pendapat) di kalangan ulama.

Pendapat pertama, mengatakan, syifa-un lil qulub bi zawal al-jahli ‘anha wa izalati al-raibi (obat atau penyembuh bagi hati dengan menghilangkan kebodohan serta keraguan). Selain itu, syifa bermakna sebagai obat untuk menghilangkan kotoran dan penyakit hati agar mampu memahami mukjizat dan segala perintah Allah swt (li fahm al-mu’jizat wal umur al-dallati).

Pendapat kedua, syifa bermakna obat terhadap tubuh yang tengah sakit baik dengan rukyah, ta’awwudz, maupun pengobatan medis. Dalam satu khabar dikatakan, “man lam yastaysfa bil quran falaa syafahullaha” (barang siapa yang mencari kesembuhan dengan Al-Quran maka Allah swt akan menyembuhkan sakitnya).

Dari penafsiran ini, syifa bermakna dua hal, yaitu syifa bermakna esoteris (aspek ruh atau kejiwaan) dan syifa bermakna eksoterik (aspek jasmani). Jadi kata syifa di sini dapat digunakan tidak hanya kesembuhan secara jasmaniah, namun juga ruhaniah.

Masih tentang penafsiran al-Qurtuby, dalam satu riwayat Rasulullah saw bersabda,

” شِفَاءُ أُمَّتِي فِي ثَلَاثٍ، آيَةٌ مِنْ كِتاب اللهِ أو لَعقةٌ مِنْ عَسَلٍ أوْ شَرْطةً مِن محِجم “

“Obat kesembuhan umatku ada tiga, yaitu dari ayat-ayat kitab Allah (Al-Quran), sesendok madu dan bekam”.

Baca Juga: Quranic Immunity: Kajian Ayat-Ayat Syifa dalam Al-Quran

Selanjutnya penafsiran cukup detail disampaikan Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, ia berujar bahwa ketahuilah sesungguhnya Al-Quran adalah obat bagi mereka yang sakit baik secara ruhaniah maupun jasmaniah. Sakit ruhaniah, kata al-Razi terbagi menjadi dua, yaitu berpegang teguh pada kebatilan (al-i’tiqadu al-bathilah) dan akhlak tercela (al-akhlaq al-madzmumah).

Mereka yang senantiasa meng-agemi (baca: memegang teguh) kebatilan sesungguhnya jiwanya sedang sakit, meski fisiknya sehat bugar. Al-Razi melukiskan mereka dengan senantiasa berbuat fasad (kerusakan) dalam aspek teologi (keyakinan), kenabian, suka bermusuhan atau memecah belah persatuan masyarakat, mengingkari qadha dan qadar Allah swt dan menegasikan kebenaran mazhab.

Sakit kedua adalah berakhlak tercela. Kecenderungan ini dilukiskan Ar-Razi dengan mengingkari kebenaran Al-Quran dan justru merusaknya. Maka cara menyembuhkannya dengan akhlak mahmudah (berakhlak yang baik).

Senada dengan Ar-Razi, Ibnu Katsir juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan akhlak madzmumah adalah penyakit hati. Penyakit hati inilah yang kerapkali menggerogoti kemurnian hati manusia sehingga menimbulkan bintik-bintik hitam jika tidak cepat didelete. Penyakit hati ini, kata Ibnu Katsir, meliputi keraguan, kemunafikan, kesyirikan dan kesesatan. Sehingga para ulama tafsir sepakat bahwa Al-Quran adalah obat penawar bagi penyakit-penyakit hati di atas.

Jenis sakit kedua ialah sakit jasmaniah (al-amradh al-jasmaniyyah) adalah penyakit fisik sebagaimana pada umumnya. Maka Al-Quran melalui ayat-ayat syifa-nya dapat digunakan sebagai obat dengan cara membaca ayat-ayat syifa, berwirid dengannya, ruqyah dengan ayat-ayat syifa, bahkan meminum ayat-ayat syifa setelah dibasuh dengan air.

Kata syifa di atas juga bermakna menguatkan pemahaman keagamaan serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, memperbaiki jiwa bagaikan obat bagi orang sakit (ma huwa fi taqwim dinihim wa istilahi nufusihim kal dawa’ al-syafi lil mardha). Hal ini persis digambarkan Al-Baidhawi dalam Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil.

Lebih jauh al-Baidhawi menjelaskan maksud syifa di atas adalah surah Al-Fatihah. Di dalam Al-Fatihah sesungguhnya mengandung syifa yang luar biasa. Tidak mau kalah, Al-Qusyairi, tokoh sufistik kenamaan, ia menafsirkan ayat syifa di atas sebagaimana dalam Lathaif al-Isyarat dengan obat atas kebodohan dan terhindarnya dari ulama yang jahil, obat atas kesyirikan, obat atas kebimbangan, obat atas rasa cinta yang berlebihan terhadap duniawi dan obat atas kelakuan murid yang melampaui batas.

Dalam syairnya, ia senandungkan,

وكُتْبُكَ حَوْلِي لا تفارق مضجعي  #  وفيها شفاءٌ للذي أنا كاتِمُ

Bagaimana aku memisahkan diri dari kitabku (Al-Quran), justru aku terbangun dari tidurku karena di dalamnya penuh syifa (kesembuhan) bagiku.

Penafsiran sufistik berikutnya diwartakan Ibn ‘Ajibah dalam Al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Quran al-Majid, kata ‘Ajibah, keseluruhan Al-Quran mengandung syifa. Syifa di atas menurutnya tidak jauh berbeda dengan al-Qusyairi, Ar-Razi, dan para ulama lainnya bahwa syifa bermakna hissi (inderawi) dan maknawi. Untuk syifa hissi seperti halnya surah Al-Fatihah dan ayat syifa di atas. Adapun syifa maknawi sangatlah banyak, seperti kesembuhan atas kebimbangan dan kebodohan (wa min saqam al-raibi wal jahli), obat atas khayalan sia-sia dan tuduhan tak berdasar (wa adawa’u al-auhami wa al-syakauki).

Baca Juga: Doa Nabi Ayyub as dalam Al-Quran untuk Kesembuhan Penyakit

Al-Quran sebagai Syifa (Obat)

Dari paparan tafsir di atas, sesungguhnya Al-Quran adalah obat penawar bagi orang beriman. Dalam konteks ayat ini, orang mukmin kerapkali dihadapkan pada kepelikan persoalan sehingga ia merasa hyperstress, kecemasan berlebihan, dan malah meminta bantuan kepada “orang pintar” yang justru menjerumuskannya pada kesyirikan.

Karena itu, pada masa pandemi seperti ini sebagaimana penjelasan Ibn al-Qayyim dan al-Dzahabi, Al-Quran adalah obat yang sempurna bagi manusia (syifa-un lin nas) untuk semua penyakit baik jasmani maupun ruhani. Lantas bagaimana caranya mengaplikasikan Al-Quran sebagai syifa?

Dale F. Eickelman dalam Al-Quran Sains dan Ilmu Sosial, terj. Lien Iffa Naf’atu Fina dan Ari Hendri menjelaskan fisik Al-Quran dapat ditempatkan pada orang yang sakit, atau misalnya sakit mata, membiarkan mata orang sakit menatap Al-Quran, berwirid dengan ayat syifa di atas dengan jumlah tertentu per hari, atau menuliskannya dalam selembar kertas lalu dilipat dan dimasukkan dalam satu wadah, dan berbagai resepsi lainnya.

Ibn al-Qayyim juga menggarisbawahi bahwa keyakinan manusia dan diri sendiri akan kuasa Allah swt itulah yang sangat esensial. Betapa tidak? Al-Quran sebagai hudan telah memberikan panduan-panduan syifa, demikian pula pengobatan medis, semua itu hakikatnya yang memberi kesembuhan hanyalah Allah swt semata. Hanya dengan pasrah dan meminta kepada-Nyalah penyakit dan segala problem dapat teratasi.

Sebagai penutup, Fazlur Rahman pernah melukiskan Islam dalam karyanya, Health and Medicine in the Islamic Tradition, bahwa Islam tidak hanya sekadar agama (ortodoksi) yang berkutat pada persoalan teologis melainkan Islam juga memiliki konsepsi kesehatan yang established (mapan). Sehingga umat Islam harus yakin akan kebenaran Al-Quran sebagai syifa. Wallahu A’lam

Tafsir Surah Yunus Ayat 5 (Part 2)

0
tafsir surah yunus
tafsir surah yunus

Tafsir Surah Yunus Ayat 5 (Part 2) meneruskan pembicaraan mengenai contoh dari ayat yang menyebutkan matahari dan bulan secara beriringan. Setelah sebelumnya menerangkan dua dari tiga aspek penting matahari dan bulan, kali ini menerangkan aspek ketiganya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 5 (Bagian 1)


Ayat 5

Ketiga, ketentuan Allah tentang garis edar yang teratur dari bulan dan matahari dimaksudkan agar supaya manusia mengetahui perhitungan tahun dan ilmu hisab (lita’lamµ ‘adad as-sinina walhisab).

Bisa dibayangkan, seandainya bulan dan matahari tidak berada pada garis edar yang teratur, atau dengan kata lain beredar secara acak, bagaimana kita dapat menghitung berapa lama waktu satu tahun atau satu bulan? Maha Suci Allah yang Maha Pengasih yang telah menetapkan segalanya bagi kemudahan manusia.

Hal ini dijelaskan pula oleh firman Allah:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِى السَّمَاۤءِ بُرُوْجًا وَّجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَّقَمَرًا مُّنِيْرًا

Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan bersinar. (al-Furqan/25: 61)

Dalam hakikat dan kegunaannya terdapat perbedaan antara sinar matahari dan cahaya bulan. Sinar matahari lebih keras dari cahaya bulan.

Sinar matahari itu terdiri atas tujuh warna dasar sekalipun dalam bentuk keseluruhannya kelihatan berwarna putih, sedang cahaya bulan adalah lembut, dan menimbulkan ketenangan bagi orang yang melihat dan merasakannya.

Demikian pula kegunaannya. Sinar matahari seperti disebutkan di atas adalah sumber hidup dan kehidupan, sumber gerak tenaga dan energi. Sedang cahaya bulan adalah penyuluh di waktu malam.

Tidak terhitung banyak kegunaan dan faedah sinar matahari dan cahaya bulan itu bagi makhluk Allah pada umumnya, dan bagi manusia pada khususnya. Semuanya itu sebenarnya dapat dijadikan dalil tentang adanya Allah Yang Maha Esa bagi orang-orang yang mau menggunakan akal dan perasaannya.

Allah menerangkan bahwa Dia telah menetapkan garis edar dari bulan dan menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan-Nya.

Pada tiap malam, bulan melalui suatu manzilah. Sejak dari manzilah pertama sampai manzilah terakhir memerlukan waktu antara 29 atau 30 malam atau disebut satu bulan.

Dalam sebulan itu bulan hanya dapat dilihat selama 27 atau 28 malam, sedang pada malam-malam yang lain bulan tidak dapat dilihat, sebagaimana firman Allah:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai tempat peredaranya yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (Yasin/36: 39)

Maksud ayat ini ialah bulan itu pada awal bulan adalah kecil berbentuk sabit, kemudian setelah melalui manzilah ia bertambah besar sampai menjadi purnama, setelah itu kembali berangsur-angsur kecil, dan bertambah kecil yang kelihatan seperti tandan yang melengkung, akhirnya menghilang dan muncul kembali pada permulaan bulan.


Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 38: Kuasa Allah Swt dalam Pergerakan Matahari


Allah berfirman:

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ

Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. (ar-Rahman/55: 5)

Allah menciptakan bulan dan menjadikannya beredar menjalani garis edar dalam manzilah-manzilah-Nya agar dengan demikian manusia dengan mudah mengetahui bilangan tahun, perhitungan waktu, perhitungan bulan, penentuan hari, jam, detik dan sebagainya, sehingga mereka dapat membuang rencana untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk masyarakat, untuk agamanya serta rencana-rencana lain yang berhubungan dengan hidup dan kehidupannya sebagai anggota masyarakat dan sebagai hamba Allah. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (al-Isra’/17: 12)

Dengan mengetahui perhitungan tahun, waktu hari dan sebagainya, dapatlah manusia menetapkan waktu-waktu salat, waktu puasa, waktu menunaikan ibadah haji, waktu turun ke sawah, dan sebagainya.

Allah menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan semua makhluk itu adalah berdasarkan kenyataan, keperluan, dan mempunyai hikmah yang tinggi.

Dan Allah menerangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya itu kepada orang-orang yang mau menggunakan akal pikirannya dengan benar dan kepada orang-orang yang mau mengakui kenyataan dan beriman berdasarkan bukti-bukti yang diperolehnya itu.

Dengan perkataan lain, tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah ini tidak akan berfaedah sedikit pun bagi orang-orang yang tidak mau mencari kebenaran, yang hatinya dipenuhi oleh rasa dengki dan rasa fanatik kepada kepercayaan yang telah dianutnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Yunus Ayat 6-9


(Tafsir Kemenag)