Beranda blog Halaman 137

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 4-6

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 4-6 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai seluruh hal yang berkaitan dengan Lailatul Mubarakah. Kedua mengenai hikmah dan latar belakang pengutusan Rasulullah Saw.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 1-3


Ayat 4-5

Allah menerangkan bahwa pada malam “Lailatul Mubarakah”, dijelaskan segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, hidup, mati, rezeki, nasib baik, nasib buruk dan sebagainya. Semuanya itu merupakan ketentuan dari Allah yang penuh hikmah sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Ayat 5 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada manusia dari golongan mereka sendiri, membersihkan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka al-kitab, al-hikmah; agar menjadi hujah bagi Allah atas hamba-Nya dan menjadi alasan untuk menghukum mereka apabila mereka berbuat dosa, menentang rasul yang diutus kepada mereka, menolak petunjuk yang dibawa oleh rasul itu dari Allah dan tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah dan tidak menerima siksaan Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

Tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isra’/17: 15)

Dan firman-Nya:

رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. (an-Nisa’/4: 165)


Baca juga: Mengenal K.H. Suhaimi Rafiuddin dan Naskah Tafsirnya


Ayat 6

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa hikmah dan latar belakang pengutusan rasul merupakan satu rahmat daripada-Nya bagi alam semesta sebagaimana firman-Nya:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (al-Anbiya’/21: 107)

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa rahmat itu adalah latar belakang diturunkan-Nya Al-Qur’an, karena dengan mengikuti isi dan petunjuk Al-Qur’an, manusia dapat mengatur dengan baik urusan dunia dan akhirat, memperbaiki cara hidupnya sehingga nampak bagi mereka keberkahan hidup dalam masyarakatnya. Firman Allah:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman. (al-Isra’/17: 82)

Allah itu Maha Mendengar, mendengar semua yang dikatakan manusia. Maha Mengetahui segala hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi mereka.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dhukan Ayat 7-10


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 1-3

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 1-3 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai makna dari huruf muqatha’ah. Kedua mengenai kejadia luar biasa mengenai turunnya al-Quran pada malam Lailatu Qadr.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 86-89


Ayat 1

Ayat ini terdiri dari huruf-huruf hijaiah, sebagaimana terdapat pada permulaan beberapa Surah Al-Qur’an. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Selanjutnya dipersilahkan menelaah masalah ini pada Al-Qur’an dan Tafsirnya jilid I yaitu tafsir ayat pertama Surah al-Baqarah.”


Baca juga: Bagaimana Tafsir atas Huruf Muqattaah?


Ayat 2-3

Allah menerangkan bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur’an pada malam penuh berkah yang dikenal dengan malam “Lailah Mubarakah” untuk memperingatkan hamba-Nya dan agar mereka takut kepada siksa-Nya, dan pada malam itu Dia telah memerinci semua hal yang bermanfaat bagi hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Dia adalah Tuhan semesta alam yang mengatur langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya.

Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah tentang hal ihwal hamba-Nya, hidup dan mati mereka adalah di tangan-Nya. Dialah Tuhan mereka dan Tuhan nenek moyang mereka, tetapi mereka masih juga ragu setelah kebenaran itu nyata dan jelas. Firman Allah:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ   ١  وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ  ٢  لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ  ٣

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (al-Qadr/97: 1-3)

Peristiwa turunnya Al-Qur’an itu terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, (al-Baqarah/2: 185)

Dari hadis Nabi:

عَنْ وَاثِلَةَ بن الأَسْقَعِ، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: أُنْزِلَتْ صُحُفُ اِبْرَاهِيْمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الزَّبُوْرُ لاِثْنَتَى عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الاِنْجِيْلُ لِثَمَانِ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ اْلقُرْاَنُ َلأَِرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ. (رواه أحمد والطبراني والبيهقي)

Dari Watsilah bin al-Asq’ bahwa Rasulullah saw bersabda: Suhuf Ibrahim diurunkan pada malam pertama bulan Ramadan, Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadan, Zabur pada malam 12 Ramadan, Injil pada malam 18 Ramadan dan Al-Qur’an diturunkan pada malam 24 Ramadan. (Riwayat Ahmad, aT-Tabrani, dan al-Baihaqi)

Allah menurunkan Al-Qur’an untuk memberitahukan kepada manusia tentang hal-hal yang bermanfaat untuk diamalkan dan hal-hal yang akan mencelakakan mereka, agar mereka menjauhinya, untuk menjadi hujah bagi Allah atas hamba-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dhukan Ayat 4-6


(Tafsir Kemenag)

Alquran dan Paham Ortodoks (Bagian II)

0
Alquran dan paham ortodoks
Alquran dan paham ortodoks

Setelah sebelumnya telah didiskusikan tentang Alquran, Kalam Allah, dan Perkataaan Nabi pada bagian I, sekarang saatnya untuk mendiskusikan pandangan yang kelak menjadi paham ortodoks: Lafaz dan makna Alquran berasal dari Allah. Proses “ortodoksifikasi” suatu pandangan yang sebenarnya di awal contested menarik dianalisis dalam satu tulisan tersendiri. Dalam bagian ini, saya membatasi pada cikal-bakal pandangan ortodoksi tersebut, bukan bagaimana ia menjadi paham ortodoks. Dengan kata lain, apa yang akan saya bicarakan – secara serba singkat – ini terkait pandangan proto-ortodoks.

Yakni, pandangan Ahmad ibn Hanbal dan beberapa pengikutnya. Seperti disinggung di awal, Ibn Hanbal menolak keras doktrin ke-makhluk-an Alquran sebagaimana dipromosikan Mu’tazilah. Yang relevan dengan diskusi kita ialah asumsi dasar di balik penolakannya itu: Alquran merupakan bagian dari ilmu Tuhan, dan karenanya bukan makhluk. Hal itu berarti sumber dan substansi dari apa yang diwahyukan dan menjadi Alquran, tak lain dan tak bukan adalah ilmu Tuhan. Dengan kata lain, Alquran merupakan pengejawantahan ilmu Tuhan kepada umat manusia. Dengan asumsi dasar semacam ini, dapat dipahami jika Ibn Hanbal mengidentikkan Alquran dengan ilmu Tuhan yang bersifat azali dan bukan makhluk.

Dalam konstruksi Ibn Hanbal, Tuhan melafazkan Alquran dalam bahasa Arab, yang kemudian didektikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad. Postulat semacam ini dapat ditemukan pada pemikiran ulama literalis belakangan, seperti Ibn Hazm, yang menyejajarkan Alquran dengan kalam Allah dan ilmu-Nya.  Baik Ibn Hanbal maupun Ibn Hazm bersandar pada pemahaman harfiah atas beberapa ayat Alquran dan hadis. Misalnya, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Nabi bersabda: “Ketika Allah berfirman, para penghuni langit mendengar bunyi seperti rantai diseret pada bebatuan dan mereka tak sadarkan diri hingga Jibril datang kepada mereka. Ketika sadar, mereka bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, apa yang difirmankan Tuhan?” Jibril menjawab: “Kebenaran.” Dan mereka mengulang kalimat itu.”

Bagi Ibn Hanbal, hadis di atas menunjukkan bahwa Tuhan mengucapkan kalam-Nya yang bukan makhluk dalam bahasa Arab, dan Jibril mendengarnya kemudian menyampaikannya kepada Nabi. Menariknya, kalangan teolog Asy’ariyah memahami hadis yang sama untuk mendukung pandangan mereka bahwa kalam Allah tidak berbentuk bunyi. Terbukti, kata mereka, para penghuni langit tidak bisa mendengarkan kalam Tuhan, melainkan hanya deringan suara rantai yang diseret.

Di samping karena faktor politik, penyandarannya pada tradisi secara ketat menjadikan pandangan Ibn Hanbal begitu populer dan berpengaruh. Faktor politik yang dimaksud ialah kegagalan inkuisisi (mihnah) untuk menjadikan doktrin Mu’tazilah sebagai “asas tunggal” negara, sehingga memunculkan Ibn Hanbal sebagai pahlawan yang diglorifikasi oleh massa oposisi, terlepas dari aliran teologis yang mereka anut. Kredo Ibn Hanbal pun dipersepsikan sebagai simbol tradisionalisme Islam.

Sejumlah pengikut dan simpatisan Ibn Hanbal gencar mendakwahkan doktrin Hanbalisme. Generasi kedua pendukung Ibn Hanbal, seperti Ibn Baththah al-‘Ukbari, mengusung argumen yang persis seperti dikembangkan tokoh idolanya. Yakni, mengidentikkan Alquran dengan kalam Allah. Dari generasi berikutnya, Ibn Hazm mengembangkan gagasan Ibn Hanbal lebih jauh, dengan mengatakan bahwa bukan hanya konten Alquran tergolong kalam Allah, bahkan suara manusia yang membacakan ayat-ayat Alquran pun termasuk kalam Allah.

Di sini tampak muncul dilema. Di satu sisi, teolog Hanabilah meyakini kalam Tuhan tak boleh disamakan atau diserupakan dengan kalam makhluk-Nya. Namun, di sisi lain, mereka juga meyakini bahwa kalam Allah identik dengan lafaz dan bunyi Alquran yang dibaca oleh manusia. Teolog Hanabilah di Baghdad abad ke-5H/11M yang juga menjabat sebagai Qadi, Abu Ya‘la ibn al-Farra’ (w. 458/1066), menyadari dilemma tersebut, namun dia memilih condong pada yang kedua. Baginya, kalam Allah yang azali memang terdiri dari huruf dan bunyi, serupa dengan huruf dan bunyi yang dibuat manusia.

Baca juga: Alquran, Kalam Allah, dan Perkataan Nabi

Faktor lain yang bersifat tidak langsung yang menyebabkan kredo Ibn Hanbal atraktif bagi khalayak umum ialah apa yang bisa kita sebut “skripturalisasi” yang dikembangkan oleh Syafi‘i, pendiri mazhab fikih Syafi‘i. Proyek Syafi‘i sebenarnya dimaksudkan untuk membentengi hukum Islam agar sepenuhnya bersandar pada sumber-sumber yang dianggapnya legitimat, namun punya implikasi besar pada persoalan teologis, termasuk soal natur Alquran.

Bagi Syafi‘i, Alquran sebagai sumber utama hukum Islam tak bisa dipisahkan dari hadis. Sebab, yang disebut terakhir (hadis) juga merupakan sumber legitimat karena ditegaskan oleh sumber pertama (Alquran). Dengan argumen ini, Syafi‘i bukan hanya berhasil mengintegralkan hadis ke dalam suatu postulat “sumber-sumber utama” hukum Islam, namun juga mengangkat status hadis sebagai wahyu. Syafi‘i memperkenalkan apa yang bisa kita sebut “wahyu kembar” (twin revelation). Yakni, wahyu dalam bentuk Alquran dan wahyu dalam bentuk hadis.

Untuk mendukung argumennya, Syafi‘i menyebut sejumlah ayat Alquran yang memerintahkan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, seperti Q.S. Ali Imran [3]:31, 132; Annisa [4]:64, Abasa [80]; Alanfal [8]:20; dan Alhasyr [59]:7. Menurut Syafi‘i, taat kepada Allah berarti mengikuti Alquran, dan taat kepada Rasul berarti mengikuti hadis. Syafi‘i juga memaknai kata “hikmah” dalam Alquran sebagai referensi pada “hadis.” Sehingga, beberapa ayat yang menyejajarkan “al-kitab” dengan “al-hikmah” dimaknai oleh Syafi‘i sebagai kesejajaran antara Alquran dan hadis.

Seperti kita tahu, beberapa ayat menyebutkan bahwa Tuhan mengutus seorang Rasul untuk mengajarkan “al-kitab” dan “al-hikmah.” Syafi‘i mengutip ayat-ayat seperti Q.S. Albaqarah [2]:129, 151, 231; Ali Imran [3]:164; Annisa [4]:113; Alahzab [33]:34; dan Aljumuah [62]:2. Tentu, pengutipan Syafi‘i ini bersifat selektif, karena ada ayat-ayat lain yang menyebutkan Nabi Isa dan keturunan Nabi Ibrahim juga mengajarkan atau menerima “al-kitab” dan “al-hikmah,” seperti Q.S. Ali Imran [3]:48 dan Annisa [4]:54.

Ada dua implikasi penting konsep “wahyu kembar” Syafi‘i terhadap diskursus teologi soal natur Alquran yang membantu mengonsolidasi kredo Ibn Hanbal. Pertama, jika Alquran dan hadis adalah wahyu, lalu apa yang membedakan antara keduanya? Perbedaannya terletak pada: yang pertama adalah wahyu yang bersifat langsung, dan yang kedua tidak langsung. Artinya, jika wahyu dalam hadis itu mengambil bentuk makna yang diungkapkan oleh Nabi dengan lafaz-lafaznya sendiri, maka wahyu dalam Alquran mengambil bentuk makna dan lafaz sekaligus (karena langsung dari Tuhan).

Implikasi kedua, yang dikembangkan oleh para pengikut Syafi‘iyah, ialah berkembangnya kategori “wahyu yang dibacakan” (matluw) dan “wahyu yang tidak dibacakan” (ghayr matluw). Wahyu yang dibacakan merujuk pada Alquran, dan wahyu yang tidak dibacakan merujuk pada selain Alquran, yakni hadis. Dua ketegori ini ternyata begitu luas digunakan oleh generasi Muslim pasca Syafi‘i, yang memperlihatkan betapa besar pengaruh “wahyu kembar” yang diperkenalkannya. Memang, Syafi‘i dan para pengikutnya bergerak ke ranah hukum/fikih, namun pengaruhnya pada ortodoksifikasi paham tradisionalis Alquran tak boleh dipandang sebelah mata.

Nah, di luar diskursus teologis klasik di atas, apa yang bisa dipelajari dari teks-teks Alquran sendiri? Apakah Alquran menjustifikasi pandangan bahwa ia sepenuhnya kalam Allah dan sepenuhnya perkataan Nabi? Pertanyaan ini akan didiskusikan di bagian akhir tulisan ini.

Wahyu turun ke hati, diungkapkan oleh Nabi

Berbagai pandangan teologis tentang kalam Allah dan Alquran, sebagaimana didiskusikan di atas, dapat kita jadikan sebagai “something to think with” untuk memahami data-data Alquran sendiri. Memahami data-data Alquran dalam kategorinya sendiri menjadi penting dilakukan, karena perdebatan di kalangan mutakallimun kerap bermuara pada argumen rasional yang – dalam banyak hal – cenderung mengabaikan argumen skriptural (argumen berbasis kitab suci). Padahal, pada hakikatnya, yang mereka perdebatkan adalah natur kitab suci itu sendiri.

Untuk menunjukkan bahwa, dalam perspektif Alquran sendiri (tentu, dalam pembacaan saya), wahyu yang disampaikan kepada Nabi itu bersifat non-verbal (bukan ucapan atau ungkapan (‘ibarat)) dan peran Nabi memverbalkannya dengan lafaz dan bunyi, saya akan menganalisis data-data Alquran dalam tiga segmen. Pertama, data-data Alquran menunjukkan bahwa kata “wahy” dan berbagai derivasinya merujuk pada pewahyuan yang non-verbal. Kedua, kitab transenden yang ada di langit (atau, dalam bahasa para mutakallimun: kalam Allah) tidak diidentik dengan Alquran yang ada di bumi. Ketiga, proses pewahyuan dan peran Nabi memverbalkan wahyu.

Kata “awha” (mewahyukan) dan “wahy” (wahyu) muncul 78 kali dalam Alquran; 18 kali di antaranya menyebutkan bahwa Nabi Muhammad mendapatkan wahyu dengan obyek yang diwahyukan adalah Alquran yang berbahasa Arab. Dalam ayat-ayat lain, pihak yang diberi wahyu adalah figur-figur sebelum Nabi, baik mereka yang digolongkan Nabi atau bukan. Bahkan, Alquran juga menyebut Tuhan memberikan wahyu kepada binatang, seperti lebah. Juga, disebutkan Tuhan memberikan wahyu kepada benda mati, seperti bumi. (Jangan salah dipahami saya membandingkan wahyu kepada para Nabi dan wahyu kepada binatang. Saya hanya menyuguhkan data dari Alquran sebelum menganalisisnya.)

Dari data Alquran tentang kata “wahy,” kita tidak mendapatkan kesan bahwa wahyu yang diberikan kepada makhluk-Nya bersifat verbal. Bisa dipastikan, wahyu yang disampaikan kepada binatang dan benda mati tidak bersifat verbal. Dalam Q.S. Azzalzalah [99]:5, Tuhan memerintahkan bumi dengan wahyu (awha), dan memerintahkan langit dengan wahyu (41:12). Sementara itu, dalam Q.S. Annahl [16]:68, Tuhan memerintahkan lebah dengan wahyu untuk membangun sarang di gunung. Perintah Ilahi yang disampaikan kepada makhluk-Nya (benda mati dan binatang) dengan wahyu tersebut jelas tidak bersifat verbal.

Bagaimana dengan wahyu yang disampaikan kepada figur-figur sebelum Nabi Muhammad? Dalam Q.S. Thaha [20]:38, Tuhan memerintahkan ibunda Musa dengan wahyu supaya meletakkan bayinya (Musa) ke dalam peti dan menghanyutkannya ke sungai. Kita tak dapat membayangkan ibunda Musa mendengar wahyu langsung dengan telinganya. Artinya, wahyu yang datang kepadanya tidak bersifat verbal.

Alquran juga menyebutkan para Nabi, seperti Nuh, Ibrahim, Musa, dan lainnya, menerima wahyu. Misalnya, Tuhan memerintahkan Musa dengan wahyu supaya melemparkan tongkat untuk mengalahkan para pesulap (Q.S. Ala’raf [7]:117); supaya memukul batu dengan tongkatnya (Ala’raf [7]:160); supaya pergi pada malam hari dan memukul untuk memecah laut (Thaha [20]:77). Yang dapat kita pahami dari ayat-ayat di atas ialah Tuhan memberi Musa wahyu untuk bertindak, bukan wahyu yang didektikan. Dengan kata lain, Tuhan menginspirasi Musa untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Jika bentuk wahyu kepada nabi-nabi sebelumnya tidak berbentuk komunikasi verbal, apakah wahyu kepada Nabi Muhammad berbeda? Dalam Q.S. Annisa [4]:163 disebutkan:

“Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’kub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Zabur kepada Dawud.”

Ayat di atas jelas menjawab: Tidak! Tuhan mewahyukan kepada Nabi sebagaimana Ia mewahyukan kepada nabi-nabi sebelumnya. Wahyu yang bersifat non-verbal yang diterima nabi-nabi sebelumnya juga berlaku untuk Nabi Muhammad sendiri. Nabi berkata hanya mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya melalui wahyu (i.e., Q.S. Alan’am [6]:50; Ala’raf [7]:203; Yunus [10]:109).

Baca juga: Catatan Kritis Mun’im Sirry terhadap Sumber tentang Kanonisasi Al-Qur’an

Sekarang, bagaimana dengan ayat-ayat yang menyebutkan Nabi menerima wahyu dalam bentuk Alquran (seharusnya “qur’an” dengan huruf “q” kecil untuk merefleksikan “qur’an” sebelum menjadi mushaf Qur’an yang ada sekarang)? Sembari menekankan fungsi Nabi sebagai pemberi peringatan (nadzir), Alquran menyebut Nabi menerima qur’an yang diwahyukan kepadanya (Q.S. Alan’am [6]:19; Asysyura [42]:7). Juga, disebutkan, Nabi diperintahkan menilawah apa yang telah diwahyukan kepadanya (Q.S. Arra’d [13]:30; Alankabut [29]:45). Secara keseluruhan, ayat-ayat tersebut menegaskan tentang “qur’an” yang diwahyukan kepada Nabi.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu memulai dengan data Alquran segmen kedua: perbedaan antara “qur’an” atau “kitab” yang tersimpan di langit dan Alquran yang ada di bumi. Kitab di langit jelas tidak dapat diakses oleh manusia, dan karenanya bisa disebut “kitab transenden.” Tentu, terlalu naif kalau kita membayangkan kitab transenden sebagai tulisan di antara dua sampul (buku), seperti mushaf Alquran yang kita miliki sekarang.

Seperti disinggung di awal, penggunaan kata “kitab” atau “kitab Allah” dalam Alquran untuk merujuk pada kitab transenden jauh lebih dominan (sekitar 255 kali) dibandingkan kata “kalam Allah.” Kitab transenden ini disebut dengan berbagai istilah, seperti “lauh mahfuz”, “kitab maknun”, “kitab mubin”, “kitab hakim” atau “kitab” saja. Karena kemunculannya yang cukup banyak, sulit membuat analisis koheren tentang ayat-ayat di mana kata “kitab” muncul. Jikapun kita perlu membuat semacam pemahaman konseptual apa itu “kitab transenden” untuk membedakannya dari Alquran, maka yang menyatukan makna konseptual “kitab” dalam berbagai ayat ialah statusnya sebagai ketetapan atau ketentuan Ilahi.

Hal ini bisa dipahami, sebab kata “kutiba” (yang umum diartikan “ditulis”) seringkali digunakan Alquran dalam makna “ditetapkan.” Misalnya, ayat tentang kewajiban puasa di bulan Ramadan menyebut “kutiba ‘alaikum al-shiyam” (Q.S. Albaqarah [2]:183) yang berarti “telah ditetapkan kepadamu puasa.” Ayat tentang perang berbunyi “kutiba ‘alaikum al-qital” (Q.S. Albaqarah [2]:116) (telah ditetapkan bagimu berperang), ayat tentang qisas “kutiba ‘alaikum al-qisas” (Q.S. Albaqarah [2]:178) (telah ditetapkan kepadamu qisas).

Dari data-data Alquran dapat diperoleh suatu kesan kuat bahwa kitab transenden berisi ketetapan-ketetapan Tuhan yang bersifat azali, dan karenanya harus dibedakan dari Alquran atau kitab suci yang dimiliki umat-umat sebelumnya yang ditulis dalam bahasa berbeda. Karena itu, ketika Alquran menyebut Tuhan menurunkan atau memberikan “kitab” kepada Nabi Muhammad tak dapat dipahami sebagai tulisan dalam dua sampul, melainkan ketetapan-ketetapan Ilahi. Sebab, sederhananya, “kitab” yang diwahyukan kepada Nabi di zamannya belum berbentuk mushaf Alquran, sebagaimana kita lihat saat ini, yang terdiri dari tulisan di antara dua sampul.

Jika penjelasan ini dapat diterima, maka kitab transenden dapat dikatakan sumber dari Alquran. Perlu segera ditambahkan di sini, sumber adalah satu hal, dan identik adalah hal lain. Artinya, sebagaimana akan dijelaskan lebih jauh nanti, Alquran memang bersumber dari kitab transenden, tapi tidak berarti keduanya identik. Sebab, Alquran merupakan bentuk verbalisasi kitab transenden, yakni wahyu atau ketetapan Ilahi yang non-verbal. Sebagai ketetapan Ilahi, kitab transenden tidak terbatas pada apa yang diverbalkan dalam Alquran. Karena itu, kita temukan ayat-ayat seperti:

“Tidakkah engkau tahu bahwa Tuhan mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah kitab.” (Q.S. Alhajj [22]:70)

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya.” (Q.S. Alhadid [57]:22)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa semua ketentuan Ilahi terkait apa yang ada di langit dan bumi, bahkan bencana yang menimpa bumi, tercatat dalam kitab transenden. Sebagian ketentuan Ilahi dalam kitab transenden itu dikomunikasikan kepada umat manusia melalui Kitab-Kitab Suci, baik itu Alquran maupun Kitab Suci umat sebelumnya. Juga perlu dicatat, beberapa ayat secara jelas membedakan antara kitab transenden dan qur’an yang diturunkan kepada Nabi. Misalnya,

“Itu adalah ayat-ayat kitab yang jelas (kitab mubin). Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai qur’an berbahasa Arab (qur’anan ‘arabiyyan), agar kamu mengerti.” (Q.S. Yusuf [12]:1-2)

“Itu adalah ayat-ayat kitab dan qur’an yang jelas.” (Q.S. Alhijr [15]:1)

“Itu adalah ayat-ayat qur’an dan kitab yang jelas.” (Q.S. Annaml [27]:1)

Dalam pemahaman tradisional (terutama dalam kitab-kitab tafsir), kata “kitab” dan “qur’an” yang disebutkan secara bersamaan di atas dianggap merujuk pada Alquran yang ada sekarang. Artinya, bagi mereka, Alquran identik dengan kitab transenden. Suatu pemahaman yang bertentangan dengan keyakinan mereka sendiri bahwa Tuhan tidak akan menyebutkan sesuatu secara sia-sia. Ketika kata” kitab” dan “qur’an” disebutkan secara bersamaan atau terpisah pastilah punya makna tersendiri. Pemahaman tradisional yang mengidentikkan Alquran dengan kitab transenden menjadikan mereka menafsirkan kata “tilka” (yang berarti “itu”) dalam ayat-ayat di atas sebagai bermakna “ini.” Maka, bagian awal dari ayat-ayat tersebut biasanya diterjemahkan “Ini adalah ayat-ayat”, bukan “itu adalah ayat-ayat.” Bagi mereka yang membedakan antara Alquran dan kitab transenden, maka kata “tilka” yang menunjuk pada kitab transenden harus diterjemahkan “itu.”

Baca juga: Tanggapan Fred Donner atas Kajian Otentisitas Al-Quran Para Revisionis

Setelah distingsi antara kitab transenden dan Alquran dapat dibuktikan, maka kita sekarang dapat membuktikan data-data Alquran ketiga yang menunjukkan peran Nabi memverbalkan kitab transenden atau wahyu yang non-verbal itu. Data-data ini terkait proses pewahyuan atau diturunkannya kitab transenden kepada Nabi. Selain kata “awha” yang sudah didiskusikan di atas, Alquran menggunakan kosakata “anzala” atau “nazzala,” yang secara literlek berarti “menurunkan.” Apa perbedaan simantik antara “nazala”, “anzala”, dan “nazzala,” tapi tidak relevan untuk diulas dalam tulisan ini.

Kata “anzala”,” nazzala” dan “tanzil” muncul sekitar 266 kali dalam Alquran. Bukan hanya terkait proses penurunan Alquran, melainkan juga merujuk pada banyak obyek. Misalnya, Tuhan menurunkan “hujan/air” dari langit, atau menurunkan “hidangan” (ma’idah) atau “rizki”, dan seterusnya. Selain Alquran dan kitab, Tuhan juga menurunkan dzikr. Dari berbagai ayat di mana kata “anzala” atau “nazzala” muncul, yang menjadi penekanan adalah kekuasaan Tuhan untuk menurunkan apapun sesuai kehendak-Nya. Dalam kaitan ini, sebenarnya tidak begitu relevan apakah yang menjadi perantara proses penurunan Alquran adalah malaikat Jibril atau al-ruh al-amin atau Tuhan sendiri. Apalagi soal siapakah itu al-ruh al-amin. Sebab, dalam perspektif Alquran, siapapun utusan-Nya, semua itu terjadi karena kekuasaan Tuhan.

Yang relevan didiskusikan di sini ialah bahwa Tuhan menurunkan Alquran ke dalam hati Nabi Muhammad. Dalam dua ayat (Q.s. Albaqarah [2]:97; Asysyu’ara [26]:193-194), Jibril dan al-ruh al-amin membawa wahyu ke dalam hati nabi (‘ala qalbika). Tentu saja, wahyu yang masuk ke dalam hati Nabi bersifat non-verbal. Dan dua ayat itu pulalah yang dijadikan basis skriptural oleh Fazlur Rahman untuk berargumen bahwa lafaz-lafaz Alquran berasal dari Nabi Muhammad sendiri. Argumen Rahman dapat dijustifikasi, sebab jika wahyu non-verbal disampaikan ke dalam hati Nabi, maka implikasi logisnya adalah Nabi sendiri yang memverbalkan wahyu yang diterimanya itu.

Dua ayat itu juga dapat menjadi penjelasan bentuk interaksi “utusan” Tuhan yang menyampaikan wahyu kepada Nabi, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Asysyura [42]:51, sebuah ayat tentang cara penyampaian wahyu yang sudah diulas oleh banyak ulama dan sarjana.

Bukti lain bahwa Nabi memverbalkan wahyu non-verbal atau kitab transenden yang diwahyukan kepadanya adalah sejumlah ayat yang menegaskan bahwa kitab transenden “dijelaskan” (fushshilat) dalam “qur’an” yang berbahasa Arab. Misalnya, ayat yang berbunyi: “Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, qur’an dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (Q.S. Fushilat [41]:3). Ayat ini memperlihatkan bagaimana kitab transenden dikomunikasikan kepada manusia di bumi. Yakni, dijelaskan sehingga menjadi “qur’an” yang berbahasa Arab. Di tempat lain disebutkan, “Demi kitab yang jelas. Kami menjadikan qur’an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti” (Q.S. Azzukhruf [43]:2-3). Sejumlah ayat lain meneguhkan bagaimana kitab transenden itu dijelaskan (fushshilat) atau diuraikan (mufashshal), misalnya Q.S. Alan’am [6]:114; Ala’raf [7]:52; Yunus [10]:37; Hud [11]:1; dan Yusuf [12]:111.

Pertanyaan yang tersisa, siapa yang menjelaskan atau menguraikan kitab transenden? Hanya ada dua opsi: (1) “Utusan” yang dikirim Tuhan untuk menyampaikannya kepada Nabi, atau (2) Nabi sendiri. Dua opsi itu dianut oleh sebagian ulama-ulama klasik sebagaimana diriwayatkan oleh Zarkasyi dan Suyuti. Hemat saya, opsi pertama dengan sendiri runtuh karena adanya ayat-ayat yang menyebutkan bahwa “utusan Tuhan” itu menyampaikannya ke dalam hati Nabi. Artinya, yang disampaikan adalah wahyu yang non-verbal, sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Argumen lain kenapa opsi pertama tidak dapat dipertahankan adalah karena dalam banyak sekali ayat Tuhan mewahyukan kalam-Nya (awha) langsung kepada Nabi, tanpa perantaraan. Dengan demikian, opsi yang tersisa ialah Nabi-lah yang menguraikan wahyu non-verbal dengan lafaz-lafaznya sendiri.

Beberapa riwayat hadis juga menguatkan pandangan bahwa, setidaknya, sebagian wahyu diterima Nabi sebagai komunikasi non-verbal. Misalnya, diriwayatkan oleh Malik ibn Anas dalam al-Muwaththa’ bahwa al-Harits ibn Hisyam bertanya kepada Nabi: “Bagaimana wahyu disampaikan kepada njenengan?” Nabi bersabda: “Kadang-kadang saya terima seperti deringan lonceng dan inilah yang paling berat. Bunyi itu kemudian lenyap, tapi saya dapat memahami apa yang dikatakan. Kadang-kadang malaikat datang dalam wujud laki-laki dan ia bicara pada saya, dan saya ingat apa yang dia katakan.” ‘A’isyah berkata: “Saya pernah melihatnya [wahyu] turun kepadanya [Nabi] pada suatu hari yang dingin. Ketika ia pergi darinya, dahinya [Nabi] bercucuran keringat.” Menurut hadis ini, ada kalanya Nabi menerima wahyu non-verbal, hanya berupa bunyi bel/lonceng. Nabi memahaminya dan memverbalkannya.

Sebagai penutup, saya berharap sudah berhasil memperlihatkan bahwa pandangan Rahman, “Alquran seratus persen firman Tuhan dan seratus persen perkataan Nabi” dapat dijustifikasi melalui data dari Alquran sendiri. Saya juga berharap telah berhasil memberikan pendasaran argumentasi yang lebih kokoh dibanding yang dikatakan Rahman sendiri.

Pada spektrum yang lain, saya berharap berhasil memperlihatkan bahwa Rahman salah ketika mengatakan “indeed, all medieval thought” (seluruh pemikiran abad pertengahan) tidak menyetujui apa yang dia gagas. Seperti ditunjukkan dalam tulisan ini, pandangan bahwa lafaz Alquran tidak berasal dari Tuhan diterima cukup luas di kalangan mutakallimun abad pertengahan.

Lalu, kenapa sekarang pandangan semacam ini asing dan bahkan, mungkin, dianggap sesat? Rumput yang bergoyang pun tak akan mampu menjawab.

Alquran, Kalam Allah, dan Perkataan Nabi (Bagian I)

0
Alquran, kalam Allah, dan perkataan Nabi
Alquran, kalam Allah, dan perkataan Nabi

Apakah Alquran merupakan kalam Allah secara verbatim, dalam arti lafaz-lafaznya berasal dari Tuhan? Fazlur Rahman, sarjana asal Pakistan, berpendapat “tidak.” Bagi Rahman, dalam hal bahwa Alquran itu terjaga dari kesalahan, maka ia sepenuhnya kalam Allah. Namun, dalam kaitannya sebagai wahyu yang disampaikan ke dalam hati Nabi dan diungkapkan dengan lisannya, maka ia sepenuhnya perkataan Nabi. Berikut saya kutipkan kalimat Rahman dalam bukunya, Islam:

“the Qur’an is entirely the Word of God and, in an ordinary sense, also entirely the word of Muhammad.”

Sayangnya, kata Rahman, ulama-ulama ortodoks (bahkan seluruh pemikir Muslim abad pertengahan) tidak memiliki perangkat intelektual untuk mengombinasikan antara eksternalitas kalam Tuhan dan keintiman koneksinya dengan pengalaman kenabian Muhammad.

Saya setuju dengan Rahman bahwa Alquran sepenuhnya kalam Tuhan dan, pada saat yang sama, sepenuhnya perkataan Nabi. Namun demikian, Rahman salah ketika mengatakan bahwa tak ada ulama terdahulu yang sependapat dengannya.

Baca juga: Dialektika Alquran dan Budaya dalam Kerangka Pikir Ingrid Mattson

Seperti yang ditunjukkan dalam tulisan ini, banyak ulama terdahulu menjawab pertanyaan di atas secara negatif. Jika di zaman modern, pendapat Rahman (dan sedikit sarjana lain) tergolong minoritas (bahkan dia menghapi penolakan keras dari ulama-ulama Pakistan), di abad pertengahan (atau, lebih tepatnya, masa Islam Klasik) justru pandangan seperti itu diterima cukup luas, jika tak boleh dikatakan mayoritas dengan berbagai varian argumentasinya.

Dalam tulisan ini, saya mendemonstrasikan sejumlah kalangan yang berpendapat bahwa lafaz-lafaz Alquran tidak berasal dari Allah langsung. Di tengah analisis itu, juga didiskusikan pandangan yang di kemudian hari menjadi paham ortodoksi. Yakni, pandangan Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya, yang ditopang oleh argumen skripturalisasi yang diperkenalkan oleh Syafi’i. Di bagian akhir tulisan, saya akan mendiskusikan pembacaan saya atas Alquran dan hadis untuk memperlihatkan bahwa sumber utama Islam sendiri membuka ruang bagi pandangan “Alquran sebagai kalam Ilahi dan sekaligus perkataan Nabi.”

Lafaz Alquran bukan dari Allah

Pada abad ke-14 dan 15 M, dua penulis ulum Alquran ternama, Zarkasyi dan Suyuti, meriwayatkan tiga pandangan utama terkait pertanyaan bagaimana malaikat Jibril menyampaikan Alquran kepada Nabi. Pertama, Alquran diwahyukan dalam lafaz dan makna. Artinya, Jibril menghafalkan lafaz-lafaz Alquran dari lauhul mahfuz, dan menyampaikannya kepada Nabi. Kedua, Jibril menyampaikan maknanya dan Nabi yang mengekspresikannya dengan lafaz-lafaz Arab. Menurut Zarkasyi dan Suyuti, mereka yang berpendapat demikian menafsirkan Q.S. Asysyura [26]: 193-195 secara letterlijk. Ketiga, Jibril menerima Alquran dalam maknanya, kemudian dia mengekspresikan dengan lafaz Arab. Sang malaikat membaca Alquran di langit dalam bahasa Arab, kemudian turun ke bumi dan mendiktekannya kepada Nabi.

Dalam al-Burhan dan al-Itqan, baik Zarkasyi maupun Suyuti tidak memberikan penilaian pada tiga pendapat di atas. Namun demikian, keduanya tampak menguatkan perdapat pertama. Hal ini, misalnya, terlihat bagaimana mereka mendiskusikan sejumlah riwayat yang menyebutkan bahwa “Tuhan berbicara dengan wahyu” (takallama Allah bi al-wahy). Kedua penulis juga mengelaborasi berbagai riwayat seputar proses turunnya Alquran dalam dua tahapan. Yakni, diturunkan ke langit bumi pada satu malam, dan kemudian diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur.

Pada abad ke-14 dan 15, hampir bisa dipastikan dua pendapat terakhir sudah tidak lagi populer. Tapi, hal itu tidak menafikan kenyataan bahwa apakah lafaz Alquran berasal dari Tuhan atau tidak merupakan persoalan khilafiyah. Yang tidak termasuk khilafiyah adalah sumber keilahian Alquran, yakni bahwa Alquran bersumber dari Allah.

Namun, apakah proses pewahyuannya melibatkan “makna” dan “lafaz” sekaligus, ataukah lafaznya berasal dari Nabi sendiri atau Jibril? Hal ini merupakan persoalan yang menyulut perdebatan intens. Pada periode lebih awal, dua pandangan terakhir itu sebenarnya cukup menonjol, terutama di kalangan teolog Muslim (mutakallimun).

Istilah “kalam Allah” sebenarnya tipikal diskursus teologis di kalangan para mutakallimun, yang berkembangan pesat sejak abad ke-3 H atau ke-9 M. Pada dua abad sebelumnya, istilah itu jarang ditemukan. Dalam Alquran, frasa “kalam Allah” hanya muncul tiga kali. Istilah yang banyak ditemukan dalam Alquran ialah “kitab Allah.” Berbagai riwayat yang dinisbatkan kepada beberapa sahabat dan tabi’in juga tidak merujuk pada Alquran sebagai “kalam Allah,” melainkan “kitab Allah.”

Baca juga: 7 Keistimewaan Al-Qur’an Menurut Yusuf al-Qaradlawi Bagian I: Al-Qur’an Kitab Ilahi

Sebenarnya menarik untuk dianalisis secara historis (sungguhpun di luar jangkauan tulisan ini) bagaimana deskripsi tentang Alquran dalam perbincangan teologis bergeser dari “kitab Allah” menjadi “kalam Allah.” Kata “kitab” dalam Alquran punya makna yang cukup dinamis. Barangkali ketika wahyu Alquran mulai diidentikkan dengan mushaf Alquran, maka konsep “kalam Allah”, yang disebutkan oleh kalangan ortodoks sebagai sifat esensial Tuhan, mulai mengambil alih signifikansi “kitab Allah.”

Sejak abad ke-3H/9M, “kalam Allah” muncul sebagai istilah cukup menonjol untuk mendefinisikan Alquran, seiring dengan perdebatan apakah Alquran itu makhluk (diciptakan) atau bukan. Suatu perdebatan sengit yang melibatkan kubu Mu’tazilah dan penolaknya, terutama Ahmad ibn Hanbal. Saya hanya akan menggarisbawahi beberapa aspek dari perdebatan tersebut yang relevan dengan tema tulisan ini.

Menarik dicatat, baik kubu Mu’tazilah maupun Ahmad ibn Hanbal dan pendukungnya sama-sama berpendapat bahwa lafaz Alquran berasal dari Allah. Bagi kubu pertama, Allah menciptakan Alquran sekaligus lafaz dan bacaannya (atau, bagaimana membunyikannya). Bagi kubu kedua, Alquran dan lafaznya berasal dari Allah dan bukan ciptaan-Nya. Di luar kedua kubu tersebut, sejumlah mutakallimun membedakan antara Alquran sebagai berasal dari Allah di satu sisi, dan lafaz dan bacaanya yang berasal dari Jibril atau Muhammad di sisi lain.

Salah seorang teolog terkemuka asal Basrah, Abdullah ibn Kullab (w. 241H/855M), membuat distingsi antara kalam Allah dan ekspresi atau ungkapan Arabnya dalam bentuk Alquran yang terdiri dari huruf dan bunyi Arab. Seperti yang nanti akan tampak jelas, pandangan Ibn Kullab ini berpengaruh besar terhadap Abu Hasan al-Asy’ari, pendiri mazhab teologi Asy’ariyah. Pandangan Ibn Kullab dapat ditemukan dalam karya besar Asy’ari, yakni Maqalat al-Islamiyyin. Setelah berargumen bahwa kalam Allah itu sifat yang eternal, Ibn Kullab berkata:

Kalam [Allah] bukanlah huruf atau bunyi, dan tidak dapat dibagi dan dipecah-pecah atau diubah. Ia merupakan satu makna (yang esensial) dalam Tuhan. Sementara tulisan (rasm) [Alquran] merupakan huruf-huruf yang beragam dan ia juga bacaan Alquran. Adalah suatu keasalahan jika dikatakan bahwa kalam Allah adalah ini dan itu atau sebagian darinya. Sesungguhnya ungkapan-ungkapan (‘ibarat) tentang kalam Allah berbeda-beda dan beragam…. Kalam Allah disebut berbahasa Arab semata-mata karena tulisan [Alquran] yang merupakan ungkapan dan bacaannya itu berbahasa Arab.”

Baca juga: Perdebatan Orientalis tentang Historisitas Alquran

Karya Ibn Kullab tidak sampai kepada kita sekarang. Tapi, dari berbagai kutipan yang dicatat oleh Asy’ari tampak jelas bagaimana ia membedakan antara kalam Allah yang bersifat azali dan Alquran yang berbentuk tulisan dan bunyi. Jika yang pertama bersifat eternal, maka yang disebut terakhir tidak. Alquran berbahasa Arab yang terdiri dari huruf, kata, frasa, dan bunyi merupakan ungkapan dari kalam Allah dalam bahasa manusiawi, dan bukan kalam Allah itu sendiri. Dengan kata lain, lafaz-lafaz Alquran dan bunyinya yang kita baca dan dengar bukanlah kalam Allah, melainkan ekspresi manusiawi atas kalam Allah.

Dengan argumen ini, Ibn Kullab memahami kisah Nabi Musa dalam Q.S. Attaubah [9]:6 “supaya ia mendengar (yasma‘) kalam Allah” sebagai “supaya ia memahami (yafham) kalam Allah.” Penafsiran Ibn Kullab ini didasarkan pada asumsi bahwa kalam Allah itu tidak bisa terdengar atau didengar oleh telinga manusia. Penafsiran “mendengar” sebagai “memahami” ini kemudian menjadi trademark dari mazhab teologi Asy’ariyah.

Lalu, bagaimana proses pewahyuan Alquran kepada Nabi Muhammad terjadi? Sulit melacak jawaban Ibn Kullab. Dalam Majmu’ al-Fatawa, Ibn Taimiyah mengutip pandangan Ibn Kullab yang memberikan semacam indikasi. Menurut Ibn Taimiyyah, Ibn Kullab menafsirkan kata “inzal” (menurunkan wahyu) secara metaforis. Yakni, “menjadikannya [wahyu yang diturunkan] diketahui” (al-i‘lam bihi) dan “menjadikannya dipahami” (ifhamuhu). Seperti diduga, Ibn Taimiyah menyebut pandangan Ibn Kullab untuk ditolaknya.

Ibn Taimiyah mengakui bahwa orang pertama yang menggagas pemisahan antara kalam Allah dan lafaz-lafaz Alquran adalah Ibn Kullab, yang kemudian diikuti oleh sejumlah mutakallimum, termasuk Abu al-Hasan al-Asy’ari. Berikut saya kutipkan reaksi Ibn Taimiyah:

“Orang pertama yang menggagas ini adalah Ibn Kullab. Namun demikian, dia dan para pengikutnya seperti Asy’ari dan lainnya berkata bahwa Alquran tersimpan dalam hati, terbaca dengan lisan, dan tertulis dalam mushaf…. Kemudian para pengikut mereka mengikuti satu mazhab bahwa Alquran merupakan makna esensial dalam Tuhan dan bahwa huruf-hurufnya bukan termasuk kalam Allah, melainkan Dia ciptakan di udara, atau diciptakan oleh Jibril atau Muhammad.”

Dalam banyak kesempatan, Ibn Taimiyah menyandingkan pandangan Ibn Kullab dan Asy’ari, yang memperlihatkan kemiripan antara keduanya. Bahkan pernyataan yang disangkal Ibn Taimiyah di atas dapat ditemukan dalam karya asli Asy’ari, yakni al-Ibanah fi Usul al-Diyanah. Seperti jamak dipahami, perhatian Asy’ari ialah untuk menolak gagasan Mu’tazilah bahwa Alquran itu makhluk. Dia sangat tegas menolak pandangan tersebut, bahkan menolak pandangan mereka yang tawaqquf (tidak mengatakan Alquran makhluk atau bukan makhluk). Bagi Asy’ari, jelas Alquran bukan makhluk.

Namun, apakah lafaz Alquran berasal dari Allah dan karena itu bukan makhluk? Saya harus akui, pandangan Asy’ari cukup rumit karena pendapatnya yang termaktub dalam edisi al-Ibanah yang ada sekarang tampak berbeda dari yang diriwayatkan oleh Ibn Furak (w. 406/1015), generasi kedua teolog Asy’ariyah. Dalam al-Ibanah, Asy’ari menegaskan segala hal yang terkait Alquran bukan makhluk. Bahkan, ia keberatan dengan istilah “lafaz”. Sebab, menurutnya, Alquran tidak bisa dilafazkan, melainkan dibaca atau ditilawah.

Baca juga: Membaca Al-Qur’an sebagai Fenomena Resepsi dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam Mujarrad maqalat al-Syaikh Abi al-Hasan al-Asy’ari, Ibn Furak meriwayatkan pandangan Asy’ari yang membedakan antara kalam Allah dan tulisan/bacaan/bunyinya. Sementara kalam Allah bersifat azali, tulisan/bacaan/bunyinya bersifat temporal.

Pandangan Asy’ari yang dikutip Ibn Furak ini sejalan dengan definisinya tentang kalam sebagai “makna yang terkandung dalam jiwa dan tidak memiliki bunyi atau huruf,” suatu teori yang dikenal dengan “kalam nafsi”. Berikut saya kutipkan pandangan Asy’ari secara lebih detail:

“Kalam Allah terdengar bagi-Nya melalui pendengaran-Nya yang azali, dan terdengar bagi makhluk (manusia) melalui pendengaran temporal (asma’ haditsah). Kalam itu dibaca dan ditilawah dengan bacaan dan tilawah para pembaca. Dan bacaan atau tilawah mereka bersifat temporal, sementara yang terbaca dan tertilawah tidak…. Maka, kalam Allah itu terbaca dan tertilawah ketika terjadi pembacaan dan tilawah. Tidak bisa dikatakan [kalam Allah] masih terbaca, sebab semua bacaan dan tilawah tersifat temporal.”

Ada dua tahapan untuk memahami pandangan Asy’ari di atas. Pertama, distingsi antara kalam Allah yang azali dan bacaan/tilawah/tulisan/bunyi yang bersifat temporal. Kedua, secara ontologis, kalam Allah tidak mengambil tempat di mana bacaan/tilawah berada. Sebagai contoh, kalam Allah tertulis di atas papan tulis, tapi bukan berarti ia secara fisik betul-betul ada di atas papan tulis itu. Jika ini bisa dipahami, maka pandangan Asy’ari dapat dirumuskan sebagai berikut: Kalam Allah merupakan sifat Tuhan yang tak terpisahkan dari-Nya. Sementara ayat-ayat yang terbagi ke dalam sejumlah surat itu dapat diaplikasikan pada Alquran, tapi tidak diaplikasikan pada kalam Allah. Sebab, surah dan ayat-ayat itu bersifat fisik. Ingat, definisi kalam nafsi-nya Asy’ari! Tentu saja, kata Asy’ari, Alquran dapat disebut kalam Allah, sebagaimana Taurat, Zabur, atau Injil juga demikian. Yakni, ketika beragam ungkapan dalam bahasa manusia mengekspresikan kalam Allah, “walaupun penamaan-penamaan tersebut tidak ada secara azali.”

Lagi-lagi, muncul pertanyaan: Bagaimanakah kalam Allah itu diturunkan kepada Nabi? Sebelum saya kutipkan pernyataan untuk menjawab pertanyaan di atas, secara implisit Asy’ari berpendapat bahwa Nabi-lah yang membacakan kalam Allah dengan huruf dan bunyi yang begitu mempesona sehingga tak ada yang mampu menandinginya (kemukjizatan Alquran). Maka bisa dikatakan, kata Asy’ari, “bacaan Nabi yang sedemikian [atas kalam Allah] merupakan mukjizat, sebab dia menginisiasi bacaan yang tak seorangpun mampu menirunya.” Kemudian, Asy’ari mengidentifikasi dua mukjizat Alquran: Bacaannya dan informasi tentang hal-hal ghaib.

Nah, pernyataan Asy’ari yang relevan untuk menjawab pertanyaan di atas sebagai berikut:

“Arti ‘menurunkan Alquran’ (inzal Alquran) adalah mengirimkan utusan (rasul) untuk membawanya turun, dalam arti bahwa ia menghafalnya di suatu tempat di atas (‘uluw) kemudian menyampaikannya di suatu tempat di bawah (sufl). Disebutkan, ia membawa turun Alquran berdasarkan makna dan menyampaikan di bawah apa yang didengarnya di atas.”

Baca juga: Respon-Respon yang Muncul Terhadap Doktrin Universalisme al-Qur’an

Saya kira, kutipan pernyataan Asy’ari ini cukup eksplisit menegaskan bahwa ia membenarkan pandangan Alquran tidak diturunkan dengan lafaz. Pandangan ini diikuti dan dikembangkan lebih lanjut oleh teolog Asy’ariyah dari generasi berikutnya, seperti Baqillani, Juwaini, Shiqilli dan lainnya. Mereka mengafirmasi “kalam nafsi”-nya Asy’ari, dan membedakannya dengan bacaan verbal yang terdiri dari huruf dan bunyi. Yang menarik dicatat adalah generasi Asy’ariyah pasca Asy’ari lebih menekankan peran Jibril sebagai “pencipta” lafaz-lafaz Alquran, bukan Nabi sendiri.

Distingsi antara kalam Allah di satu sisi dan ayat serta surah Alquran di sisi lain sebenarnya diterima luas di kalangan mutakallimun non-Hanbali. Abu Mansur al-Maturidi, pendiri teologi Maturidiyah, dalam Kitab Tauhid-nya, juga mengemukakan hal serupa. Ada kesamaan proposisi antara Maturidi dan Asy’ari, yakni bahwa kalam Allah tidak bisa terdengar/terbaca. Artinya, secara ontologis, kalam Allah tidak dapat diidentikkan dengan Alquran yang berbentuk tulisan dan bunyi.

Murid-murid Maturidi yang berpengaruh menyebarkan teologi Maturidiyah, seperti Abu Bakar ‘Iyad dan Abu Salamah al-Samarqandi, menyetujui pandangan itu. Yang disebut terakhir menulis karya penting, berjudul Jumal Ushul al-Din, di mana dia mengelaborasi lebih jauh perbedaan antara kalam Allah dan Alquran. Karena sudah ada sarjana lain yang mendiskusikan pandangan teolog Maturidiyah, termasuk Samarqandi, saya merasa tidak perlu mengulang di sini. Saya sarakan pembaca untuk membaca tulisan Philip Dorrol, berjudul The Doctrine of the Nature of the Qur’an in the Maturidi Tradition.

Perlu dicatat, Samarqandi yang disebutkan di atas berbeda dengan Samarqandi penulis Kitab Sawad al-A’dham, yang hidup pada paruh pertama abad ke-4H/10M. Samarqandi yang ini memang menyamakan antara kalam Allah dan Alquran yang ada di tangan kita. Dia bahkan menuntut kaum beriman untuk bersaksi bahwa “Alquran merupakan kalam Allah yang tidak diciptakan (ghayr makhluq), sebab Alquran memang realitasnya kalam Allah, bukan sekadar metaforis (majazi).” Suatu pandangan yang sebenarnya cukup unik di kalangan para pengikut Maturidiyah awal. Di kalangan ulama Maturidiyah generasi berikutnya, seperti Bazdawi dan Nasafi, distingsi antara kalam Allah dan Alquran yang terdiri dari ayat dan surah ditegaskan secara eksplisit.

Terkait status lafaz-lafaz Arab Alquran, dalam karyanya berjudul Ushul al-Din, Bazdawi menegaskan bahwa “surah-surah [Alquran] yang memiliki awal dan akhir serta dibagi menjadi segmen-segmen sebenarnya-benarnya (‘ala al-haqiqah) bukanlah kalam Allah, melainkan komposisi yang disusun oleh Allah (mandhum nadhdhamahu) dan menunjuk pada kalam Allah, seperti halnya komposisi [penyair] Imra’ al-Qais yang menunjuk pada kalam-nya, tetapi bukan kalam itu sendiri.” Walaupun demikian, berbeda dengan Maturidi sendiri, komposisi Alquran disebutnya sebagai perbuatan Tuhan, dan karenanya bersifat azali.

Nasafi merupakan teolog Maturidiyah prolifik dengan tingkat loyalitas tinggi pada ajaran Maturidi sendiri. Di antara karya pentingnya ialah Bahr al-Kalam fi ‘Ilm al-Tauhid, al-Tamhid fī Qawa‘id al-Tauhid, dan Tabshirat al-Adillah fi Ushul al-Din. Dalam kitab yang disebut terakhir ini, dia mengelaborasi pandangannya tentang perbedaan kalam Allah dan Alquran. Setelah mendiskusikan ke-azali-an kalam Allah, ia menulis:

“Sementara ungkapan-ungkapan (‘ibarat) dalam bahasa Arab, Ibrani atau Suryani merupakan huruf-huruf dan bunyi dan itu bersifat temporal (muhdats) dan diciptakan (makhluq) dalam lokusnya. Ungkapan-ungkapan tersebut memang menunjuk pada kalam yang merupakan sifat-sifat Tuhan yang azali …. Tetapi, ‘ibarat itu diciptakan. Kalam Allah adalah sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagi atau tidak dipartisi, dan ia juga bukan berbahasa Arab atau Ibrani atau Suryani.”

Kutipan di atas begitu jelas sehingga tak perlu dikomentari panjang lebar: Kalam Allah tidak berbahasa Arab, Ibrani, atau Suryani! Saya berharap sudah berhasil menunjukkan betapa luasnya penerimaan gagasan bahwa lafaz-lafaz Alquran tidak berasal dari Allah. Saya sebenarnya masih ingin mendiskusikan pandangan Abu Hanifah dan para pengikutnya, tapi bagian pertama tulisan ini sudah terlalu panjang.

Mengenal K.H. Suhaimi Rafiuddin dan Naskah Tafsirnya

0
Mengenal K.H. Suhaimi Rafiuddin dan Naskah Tafsirnya
Salah satu penampakan naskah tafsir karya Kiai Suhaimi (Sumber: Komunitas Pegon)

Lima tahun lalu telah ditemukan naskah tafsir Alquran di Banyuwangi, Jawa Timur karya K.H. Suhaimi Rafiuddin. Kiai asal Madura yang berkiprah di Banyuwangi ini memberikan judul tafsirnya dengan nama تفسير القرآن الكريم بربهاسا إندونيسيا (Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia).

Ditemukannya naskah tafsir ini tentu semakin menambah warisan yang sangat berharga bagi Indonesia di bidang Tafsir Alquran. Oleh karena itu, sebagai pengantar, saya mencoba memperkenalkan naskah tafsir ini sekaligus penulisnya pada para pembaca. Dengan harapan menambahkan rasa cinta dan peduli kita untuk melestarikan khazanah turats ulama-ulama Nusantara.

Profil K.H. Suhaimi Rafiuddin

K.H. Suhaimi Rafiuddin lahir pada 29 Sya’ban 1337 H. atau bertepatan pada 30 Mei 1919 M. Beliau lahir di daerah Galis, Pamekasan, Madura. Di kawasan yang sempat dijuluki sebagai pulau Sejuta Langgar oleh Menpora Imam Nahrawi inilah Suhaimi membentuk karakternya sebagai insan terpelajar dan berbudi luhur.

20 tahun sudah Suhaimi menikmati hari-harinya dengan penuh makna di tanah kelahirannya. Tepat di tahun 1939, Suhaimi melakukan perjalanan jauh menuju Banyuwangi. Di kota paling ujung arah timur dari pulau Jawa inilah, dia belajar di pesantren Lateng yang didirikan oleh K.H. Saleh Syamsuddin (1278/1862 – 1371/1952).

Bersama kiai yang ditunjuk langsung oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Chasbullah sebagai anggota pendiri Nahdlatul Ulama itu, Suhaimi banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti nahwu, fikih, tafsir, dan yang lainnya.

Berguru kepada K.H. Saleh Syamsuddin adalah pilihan yang tepat bagi Suhaimi. Sebab, selain alim dan istikamah, ilmu dari kitab-kitab yang diajarkan oleh kiai yang turut andil dalam kemerdekaan Indonesia itu bersanad muttaṣil (bersambung) hingga sampai pada muallif (pengarang)-nya. Dengan demikian, jejak intelektual Suhaimi terekam jelas. Transmisi keilmuannya terhubung secara berkesinambungan hingga pada para ulama pengarang kitab.

Berproses dari pergulatan intelektual seserius itu, nalar Suhaimi tumbuh semakin tajam dan kritis. Tak sedikit masyarakat menilainya sebagai orang yang alim dan pantas dipanggil “Kiai”. Bahkan pada dekade 70-an, dia termasuk salah seorang ulama yang cukup dihormati oleh banyak masyarakat.

Jejak kealiman Kiai Suhaimi dapat dibuktikan dari beberapa manuskrip peninggalannya. Komunitas Pegon yang diketuai oleh Ayung Notonegoro berhasil mengidentifikasi karya-karya Kiai Suhaimi yang masih berupa tulisan tangan.

Di antaranya yang terlacak adalah A’māl al-Yaum min al-Aurād wa Aẓkār, al-Risālah al-Saniyyah li Qawā’id al-Naḥwiyyah, Bāb al-Zakāt, Bahjah al-Saniyyah li Syarḥ Safīnah, Mimbar Islām fī Radio Amatir Gema Buwana, Syaraḥ Arba’īn Nawawī Juz II, Manāqib Syekh Ṣāliḥ Syamsuddin Lateng, dan Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia (Kata Pengantar: Menghidupkan Kembali K.H. Suhaimi Rafiuddin dalam Tasīr Surat al-Fātiḥah).

Selain berkhidmah di bidang ilmu keagamaan, Kiai Suhaimi juga merupakan seorang aktivis ormas Islam Nahdlatul Ulama yang berkiprah untuk melayani umat demi kemaslahatan bersama.

Tercatat, pada tahun 1955, dia menjabat sebagai Ketua Ranting NU, Kampung Melayu. Di tahun 1968, dia kembali dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai Rais Tsani PCNU Banyuwangi. Di tahun 1975, dia masih tetap mendapat amanah menjadi bagian dari kepengurusan PCNU Banyuwangi sebagai Ketua di Bidang Dakwah (Kata Pengantar: Menghidupkan Kembali K.H. Suhaimi Rafiuddin dalam Tasīr Surat al-Fātiḥah).

Akhirnya, pada tahun 1982. Kiai Suhaimi menghembuskan napas terakhirnya dengan beragam kontribusi yang besar untuk Islam yang raḥmatan lil ‘ālamīn. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga yang jaraknya dekat dari kediamannya di Kampung Melayu, Banyuwangi. Lahul Fātiḥah.

Baca juga: Kiai Zaini Mun’im dan Naskah Tafsirnya

Naskah Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia

Naskah Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia pertama kali ditemukan dan diperkenalkan oleh Komunitas Pegon. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang riset, dokumentasi, publikasi pesantren, dan sejarah Nahdlatul Ulama di Banyuwangi. Naskah tafsir tersebut ditemukan di musala Nurul Hidayah, musala pribadi milik Kiai Suhaimi yang terletak di Kampung Melayu, Banyuwangi.

Ditinjau dari aspek judulnya, Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia, sebetulnya direncanakan oleh Kiai Suhaimi sebagai karya tafsir utuh yang memuat penafsiran Alquran dari Q.S. Alfātiḥah hingga Annās. Namun, pada faktanya tampak di dalam naskah ini penafsirannya terhenti di ayat ke-36 Q.S. Albaqarah. Terhentinya penulisan tafsir ini mutlak disebabkan oleh wafatnya Kiai Suhaimi.

Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia ditulis dengan menggunakan dwi bahasa, yakni bahasa Arab dan bahasa Indonesia, dan juga dwi aksara, yaitu aksara Arab asli dan aksara Arab Pegon. Dari judul yang diberikan sebetulnya mencerminkan bahwa bahasa yang digunakan dalam karya tafsir ini adalah bahasa Indonesia. Akan tetapi, jika dicermati dengan saksama, penggunaan bahasa Arab justru lebih dominan ketimbang bahasa Indonesia.

Naskah Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia ditulis tangan oleh Kiai Suhaimi dengan menggunakan tinta hitam, kecuali di halaman 54 terdapat tinta berwarna biru. Naskah tafsir ini ditulis dengan ketebalan 200 halaman. Ditulis dalam buku tulis berjenis kertas HVS bergaris ukuran 20.5 x 15.5 cm merk “Nasional” yang diproduksi oleh pabrik kertas Basuki Rachmat yang ada di Banyuwangi. Per lembarnya terdapat 28 garis.

Teks yang ditulis dalam naskah Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia memiliki panjang yang sama dengan garis yang terdapat dalam buku tulis tersebut, yakni 14.5 cm. Buku tulis yang digunakan sebagai objek penulisan tafsir ini terdapat 11 kuras. Masing-masing kurasnya terdiri atas 26 lembar kertas.

Naskah Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia diperkirakan ditulis pada rentang tahun 1978 hingga 1982. Asumsi ini didasarkan pada tahun berdirinya pabrik kertas Basuki Rachmat pada tahun 1978 dan wafatnya Kiai Suhaimi di tahun 1982. Sehingga, sangat mustahil naskah itu ditulis di luar tahun-tahun tersebut.

Keberadaan naskah Tafsir al-Qur’ān al-Karīm Berbahasa Indonesia sekarang disimpan di kantor Komunitas Pegon. Lokasinya di perumahan Villa Mutiara Hijau di kawasan Karangrejo-Banyuwangi.

Naskah tafsir ini oleh Jamaliyah, istri Kiai Suhaimi, telah diserahkan kepada Ayung Notonegoro untuk disimpan, dirawat, dan dilestarikan sebagai warisan intelektual yang dapat memberikan kontribusi khazanah tafsir Alquran di Indonesia (Penafsiran Kiai Banyuwangi terhadap Surah al-Fatihah, Qof: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir, vol. 5, no. 1, 2021).

Baca juga: Bahasa dan Aksara Yang Digunakan Dalam Tafsir Al-Quran di Nusantara

Keharusan Menahan Diri Bagi Orang yang Tidak Puasa di Bulan Puasa

0
Keharusan Menahan Diri Bagi Orang yang Tidak Puasa di Bulan Puasa
Keharusan Menahan Diri Bagi Orang yang Tidak Puasa di Bulan Puasa

Kewajiban utama bagi orang yang berpuasa adalah menahan diri dari makan dan minum. Namun, kadang hal ini disalahpahami dengan memunculkan kesimpulan, bahwa orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan bebas makan dan minum semaunya. Entah dia tidak berpuasa sebab puasanya batal dengan melakukan hal yang dilarang secara sengaja, atau memang dia semisal sakit sehingga boleh membatalkan puasa. Padahal, ada kalanya orang yang tidak puasa tetap harus menahan diri dari makan minum sepanjang hari. Berikut penjelasannya:

Kewajiban menahan diri tidak hanya untuk yang berpuasa

Allah berfirman:

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ

Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam (Q.S. Albaqarah [2]: 187).

Ayat di atas menjelaskan kewajiban imsak. Imsak adalah istilah yang dipakai ulama untuk tindakan menahan diri dari makan, minum, serta berhubungan intim bagi orang yang berpuasa. Imsak ini dilaksanakan mulai dari masuknya waktu subuh sampai masuknya waktu maghrib. Namun perlu diketahui bahwa imsak di bulan puasa tidak hanya disyariatkan pada orang yang berpuasa saja.

Syekh Wahbah al-Zuhaili menerangkan, orang yang makan atau minum dengan sengaja serta tanpa uzur tatkala siang hari di bulan puasa, puasanya menjadi batal. Dia tidak hanya berkewajiban mengganti puasanya, tapi juga berkewajiban imsak pada hari itu sampai malam tiba. Sehingga, dengan batalnya puasa, dia tidak bisa makan dan minum dengan seenaknya (Tafsir al-Munir/2/151).

Imsak juga disyariatkan bagi orang yang baru masuk Islam serta anak yang baru memasuki usia balig tatkala siang hari di bulan puasa. Hanya saja, imsak yang ini sifatnya tidak wajib dan hanya sekadar sunah saja (Tafsir al-Qurthubi/2/293).

Imam al-Nawawi menjelaskan, disyariatkannya imsak bagi selain orang yang berpuasa bertujuan untuk menghormati waktu berpuasa (lihurmatil waqt); dan ini hanya ada pada ibadah puasa di bulan Ramadan saja (Al-Majmu’/6/329 dan 7/388).

Selain itu, imsak bagi selain orang berpuasa ini tidak lantas menjadikan pelakunya berstatus orang yang berpuasa. Hanya saja dia memperoleh pahala dengan melakukan imsak tersebut; dan hanya memperoleh dosa bila meninggalkan imsak tersebut dalam keadaan tidak berpuasa tanpa uzur.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Kewajiban Puasa Menurut Para Mufasir

Setiap orang yang tidak berpuasa tanpa adanya uzur wajib melakukan imsak sampai malam. Mereka antara lain adalah orang yang makan, minum, atau berhubungan intim dengan sengaja; dan juga orang yang tidak melakukan niat berpuasa.

Sedangkan orang yang tidak berpuasa sebab uzur, maka dia hanya sekadar sunah saja dalam melakukan imsak. Mereka antara lain adalah orang yang baru masuk Islam atau baru masuk usia balig tatkala siang bulan Ramadan, orang sakit atau gila yang sembuh di siang harinya, orang yang tiba dari bepergian saat siang hari, dan perempuan yang haid atau nifasnya berhenti di siang hari (I’anatut Thalibin/2/269).

Kesimpulan

Dari keterangan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan, imsak atau menahan diri dari makan, minum, maupun berhubungan intim di bulan puasa tidak hanya diwajibkan bagi orang yang berstatus sedang berpuasa saja. Namun, juga diwajibkan bagi orang yang melakukan larangan puasa sehingga puasanya batal tanpa adanya uzur. Kewajiban imsak ini sebagai hukuman bagi dirinya yang telah melakukan larangan tatkala berpuasa.

Bagi orang yang tidak berpuasa atau puasanya batal sebab adanya uzur, dia sunah melakukan imsak. Meski begitu, dia dianjurkan bila hendak makan atau minum agar tidak melakukannya di hadapan orang yang tidak mengetahui keadaan mereka. Hal ini agar tidak memancing fitnah atau prasangka buruk dari orang yang melihat (Al-Majmu’/6/256). Wallahu a’lam bishshawab.

Baca juga: Perbedaan Durasi Waktu Puasa dan Alternatif Hukumnya

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 86-89

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 86-89 berbicara mengenai tigal hal. Pertama mengenai kebodohan orang-orang musyrik ketika mengharap syafaat terhadap berhala. Kedua mengenai pertentangan dalam diri orang-orang musyrik sediri. Ketiga mengenai kabar baik bagi orang-orang muslim.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 81-85


Ayat 86

Ayat ini menerangkan bahwa semua berhala dan dewa-dewa disembah oleh orang-orang musyrik untuk mendapat syafaatnya, padahal berhala itu tidak kuasa berbuat dan tidak memiliki sesuatu pun, bahkan mereka itu sendiri dikuasai dan dimiliki oleh penyembah-penyembahnya.

Mungkinkah mereka memberikan syafaat dalam keadaan demikian? Adapun orang-orang yang mengucapkan kalimat tauhid, memahami serta meyakininya, ia berjalan sesuai dengan petunjuk Allah, seperti malaikat, Nabi Isa, maka syafaat mereka berfaidah di sisi Allah, dan Allah akan memberikan syafaat kepada orang-orang yang pantas menerimanya.

Sa’id bin Jubair berkata, “Maksud ayat ini ialah berhala-berhala itu tidak memberi syafaat sedikit pun, yang bisa memberi syafaat itu hanyalah orang yang mengakui kebenaran, beriman kepada Allah berdasarkan ilmu yang dipelajari, dan pandangannya yang jauh.”

Ayat 87

Dalam ayat ini diterangkan bahwa perkataan dan perbuatan orang-orang musyrik itu saling bertentangan. Jika ditanyakan kepada mereka, siapakah yang menciptakan seluruh makhluk ini, maka mereka menjawab dan mengakui, “Hanya Allah sajalah yang menciptakannya, tidak berserikat dengan seorang pun.”

Mereka tidak sanggup membantah kenyataan itu, tetapi perbuatan dan tindakan mereka membuktikan bahwa mereka mempersekutukan Allah. Mengapa orang-orang musyrik itu berpaling sehingga menyembah selain Allah atau hanya menyembah Allah saja sesuai dengan pengakuan mereka. Hal tersebut menunjukkan kebodohan mereka.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30: Kecaman terhadap Kaum Musyrikin Mekah


Ayat 88

Muhammad saw berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya orang-orang yang aku seru untuk mengikuti ajaranmu sesuai dengan perintahmu adalah orang-orang yang telah terkunci mati hatinya sehingga mereka tidak mau beriman.”Firman Allah:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (al-Baqarah/2: 6)

Ayat 89

Setelah Allah mendengar ucapan Rasulullah saw itu, Dia berfirman, “Hai Muhammad, berpalinglah engkau dari mereka, janganlah engkau berputus asa karena keangkuhan mereka untuk beriman, janganlah engkau melayani perkataan-perkataan mereka yang buruk itu, dan tindakan-tindakan yang menghinakanmu dan pengikutmu, maafkanlah mereka, kelak mereka akan mengakui kesalahannya dan merasakan akibat kekafiran mereka.”

Ayat ini merupakan janji Allah kepada kaum Muslimin, dan janji itu ditepati-Nya dengan penaklukan kota Mekah. Peristiwa tersebut menyebabkan manusia masuk Islam secara berbondong-bondong. Maka tersebarlah agama Islam ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang singkat.

Allah berfirman:

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ  ١  وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ  ٢  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ  ٣

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (an-Nasr/110: 1-3)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 1-3


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 84-85

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 84-85 berbiacara mengenai dua hal. Pertama mengenai kemustahilan Allah mempunyai anak. Kedua mengenai kekuasan Allah atas segala hal di alam semesta.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 81-83


Ayat 84

Dalam ayat ini ditegaskan lagi kemustahilan Allah mempunyai anak dengan menyatakan, “Hanya Dialah yang disembah oleh penghuni langit dan penghuni bumi, hanya Dia sajalah yang berhak disembah, tidak ada yang lain, karena Dialah Tuhan yang segala tindakan-Nya mempunyai hikmah dalam menciptakan dan melakukan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faidahnya, dan hanya Dia pula yang Maha Mengetahui keadaan mereka, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati manusia.

Dalam ayat ini disebutkan dua macam sifat Allah yaitu Hakim dan ‘Alim. Bila Allah mempunyai sifat Hakim dan ’Alim, tentulah putra-Nya mempunyai sifat-sifat itu pula. Namun jika diperhatikan sifat-sifat yang dipunyai oleh yang mereka katakan anak Tuhan itu, ternyata sifatnya berbeda dengan sifat-sifat Tuhan.

Sebagaimana patung-patung al-Lata, al-Uzza dan Manat yang disembah oleh orang-orang musyrik Mekah, semuanya adalah benda-benda mati yang tidak dapat berbuat dan mengetahui sesuatu pun.

Demikian pula Nabi Isa yang dipercayai sebagai anak Allah oleh orang Nasrani, padahal orang Nasrani sendiri mengakui bahwa Isa itu kadang-kadang tidak mengetahui dan tidak mempunyai hikmah dalam melakukan segala tindakan-tindakannya.

Bukanlah Isa pernah menangis ketika mendengar berita terbunuhnya seseorang yang tidak bersalah sehingga ia minta kepada pengikut-pengikutnya agar menunjukkan kuburan orang yang terbunuh itu. Sifat yang demikian tentu tidak wajar pada seseorang yang diyakini sebagai putra Allah.


Baca juga: Pandangan Para Mufasir Tentang Peristiwa Pengangkatan Nabi Isa


Ayat 85

Mahasuci Allah yang memiliki dan menguasai kerajaan langit dan bumi beserta semua isinya, dan alam-alam lain yang tidak atau belum diketahui hakikat dan keadaannya. Dialah yang mempunyai pengetahuan tentang hari Kiamat.

Tidak seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat itu. Kepada-Nyalah kembali segala sesuatu, kemudian Dia membalas semua amal perbuatan manusia dengan balasan yang setimpal.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 86-89


(Tafsir Kemenag)

Tips Mendapat Malam Lailatulqadar Ala M. Quraish Shihab

0
Lailatulqadar
Meraih Lailatulqadar

Tak terasa kita sekarang sudah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Itu artinya kita akan dihadapkan suatu kemuliaan yang dimiliki bulan Ramadhan yakni malam lailatulqadar.

Malam lailatulqadar adalah suatu malam yang dinilai oleh Alquran lebih baik dari seribu bulan. Malam yang dimuliakan oleh Allah karena pada malam ini Allah Swt. awal menurunkan kalamnya (Alquran) dimuka bumi.

Malam lailatulqadar adalah malam yang penuh berkah, dimana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Dukhan: 3-5:

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ‌ اِنَّا كُنَّا مُنۡذِرِيۡنَ فِيۡهَا يُفۡرَقُ كُلُّ اَمۡرٍ حَكِيۡمٍۙ اَمۡرًا مِّنۡ عِنۡدِنَا‌ؕ اِنَّا كُنَّا مُرۡسِلِيۡنَ

Artinya: Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam, dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar disisi kami. (QS Al-Dukhan: 3-5)

Baca Juga: Keunikan dan Rahasia Lailatulqadar

Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. pada bulan Ramadhan sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Baqarah: 185 serta dalam malam qadar tercantum dalam QS Al-Qadar: 1.

Quraish Shihab dalam karyanya Wawasan Al-Qur’an mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam mulia. Tidak mudah diketahui betapa besarnya kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan oleh adanya pertanyaan dalam bentuk pengagungan yaitu:

وَمَا اَدْرَىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Artinya: Dan taukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr: 2).

Menurut M. Quraish Shihab pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Qur’an berkaitan dengan obyek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.

Kata ma adraka sendiri terulang dalam Al-Qur’an sebanyak tiga belas kali. Sepuluh diantaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang berkaitan dengan hari kemudian. Kesemuanya merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya.

Itu artinya begitu mulianya malam lailatulqadar ini, sehingga Allah Swt. tidak mau jika malam mulia tidak dipertemukan hamba yang mulia pula. Allah Swt. sengaja merahasiakan malam ini, bahkan kekasihnya Rasulullah Saw. pun tidak mengetahuinya secara pasti. Akan tetapi Rasulullah Saw. hanya memprediksi bahwa lailatulqadar jatuh sepuluh terakhir pada bulan Ramadahan.

Apakah ada tanda secara khusus Datangnya Lailatulqadar?

Hal ini masih diperdebatkan oleh kalangan ulama. Yang jelas Rasulullah Saw. tidak menjelaskan secara spesifik mengenai kebenaran tanda-tanda fisik material yang mempertanyakan kehadiran malam lailatulqadar seperti: membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan dll. Kalaupun toh ada hadis Rasulullah Saw. yang menjelaskan semacam itu menurut M. Quraish Shihab perlu dipertanyakan kesahihanya.

Rasulullah Saw. tidak mengajarkan kepada umatnya melihat tanda malam lailatulqadar dengan tanda berupa fisik material. Akan tetapi Rasulullah Saw. mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mempersiapkan diri, menyucikan diri dan berdoa agar dipertemukan malam kemuliaan itu.

Menurut Quraish Shihab, seandainya ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. (M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hal. 541).

Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh lailatulqadar tidak mungkin akan diraih kecuali orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke suatu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang dilokasi itu, walaupun semua orang mendambahkanya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tidak sudi mampir?.

Prediksi Rasulullah Saw. Tentang Malam Lailatulqadar

Sebuah hadis riwiyat Aisyah ra. yang menjadi pijakan bagi para ulama prihal lailatul qadar sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُجَاوِرُ فِيْ اْلعِشْرِ الاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ, وَيَقُوْلُ  تَحَرُّو لَيْلَةَ القَدرِ فِيْ العَشْرِ الاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: Dari Aisyah ra pula, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Carilah lailatul qadar itu dalam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan.” (HR. Bukhari).

Hadis riwayat Aisyah ini tergolong hadis yang shahih dan yang meriwayatkanya adalah Imam Bukhari, selain itu hadis ini menjadi pijakan para ulama dalam berpendapat mengenai malam lailatulqadar.

Akan tetapi malam ganjil dari sepuluh malam terkhir Ramadhan tidak ada yang tau pasti kapan terjadinya. Apa malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 dan malam 29 semua rahasia Allah Swt. dan kita sebagai hamba hanya bisa mencari dan terus mencari malam kemuliaan tersebut.

Mendapat Malam Lailatulqadar Ala Quraish Shihab

Dalam karyanya Wawasan Al-Quran M. Quraish Shihab memberi penjelasan yang sangat gamblang mengenai lailatulqadar. Akan tetapi penulis menarik tiga point yang relevan, yang bisa menjadi pijakan agar kita mendapat malam lailatul qadar. Adapun 3 point tersebut sebagai berikut:

  1. Menyucikan jiwa

Malam kemuliaan tidak akan didapatkan oleh jiwa yang kotor. Itulah mengapa malam ini hadir pada bulan Ramadhan terakhir, diharapkan seorang hamba pada penghujung Ramadhan jiwa sudah bersih disebabkan puasa serta peribadatan yang dilakukan sejak awal Ramadhan.

  1. Mempersiapkan diri dalam menyambutnya

Salah satu praktik mempersiapkan diri dalam menyambutnya adalah dengan sering I’itikaf di masjid lebih-lebih malam hari. Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dalam I’itikaf  juga dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa. Nabi Saw. selalu melakukan i’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Juga dalam rangka mempersiapkan diri adalah  dengan melakukan shalat malam baik itu shalat isya’ berjamaah, shalat tarawih, shalat tahajud dll.

Baca Juga: Menilik Hakikat Puasa Lewat Perang Badar

  1. Doa agar dipertemukan

Riwayat mengatakan bahwa pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan Rasulullah Saw. sering melakukan I’itikaf dan disanalah Rasulullah Saw bertadarus dan merenung sambil berdoa. Salah satu doa yang diucapkan Rasulullah Saw. adalah doa sapu jagat.

 رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَّفِى الۡاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan perihalalah kami dari siksa api neraka (QS Al-Baqarah: 201).

Doa ini bukan sekedar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan akhirat, akan tetapi lebih memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan yang dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha.

Tiga tips ini adalah sebuah ikhtiar hamba dalam mendapatkan malam kemuliaan. Diharapkan dengan ikhtiar kita menggapai malam lailatulqadar ini, kita bisa meraih malam penuh keberkahan. Aminn ya rabbal alamin. Wallahua’alam

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 81-83

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 81-83 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai tuduhan mengenai anak Tuhan. Kedua mengenai counter terhadap tuduhan Tuhan mempunya anak. Ketiga mengenai azab bagi merena yang tidak bertaubat atas tuduhan batil kepada Allah Swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 78-80


Ayat 81

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa seandainya ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak dan mereka dapat membuktikan kebenarannya dengan alasan-alasan yang kuat, maka Nabi Muhammad adalah orang pertama yang mengakui dan mengagungkan-Nya, sebagaimana orang memuliakan anak seorang raja karena memuliakan bapaknya.

Pendapat ini berdasar karena bahwa anak tuhan merupakan bagian dari Tuhan, karena itu kedudukan putranya itu sama dengan kedudukan-Nya sendiri.

Pengertian di atas menunjukkan suatu penegasan bahwa hal tersebut sangat mustahil bagi Allah. Firman Allah:

لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (az-Zumar/39: 4)


Baca juga: Menelaah Kembali Konsep Darul Islam dan Darul Harb


Ayat 82

Ayat ini menyatakan kesucian Allah dari anggapan orang-orang musyrik itu dengan menyatakan, “Mahasuci Allah yang memiliki langit dan bumi beserta semua yang ada di dalamnya, Dia memiliki ‘Arasy yang agung, mustahil bagi Allah mempunyai seorang anak seperti yang dikatakan mereka.”

Ayat 83

Karena orang-orang musyrik itu tidak mau mengubah kepercayaan mereka yang batil dan sesat itu, maka Allah menyampaikan pesan kepada Rasulullah, “Ya Muhammad, biarkanlah orang-orang yang membuat dusta tentang Allah dengan mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, memperbincangkan kebohongan mereka dan biarkanlah mereka hidup bersenang-senang dalam kekafiran di dunia ini, sampai datang azab yang dijanjikan Allah kepada mereka.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 84-85


(Tafsir Kemenag)