Beranda blog Halaman 431

Perintah dan Teladan Kasih Sayang Rasulullah saw Kepada Semua Makhluk

0
Kasih Sayang
Kasih Sayang

Rasulullah adalah sosok teladan bagi umat manusia. Ia memiliki sifat kasih sayang yang besar terhadap siapa pun. Hal ini misalnya digambarkan oleh Allah Swt di dalam QS. Ali Imran [3]: 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[urusan peperangan dan hal-hal duniawi]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Menyayangi sesama dan makhluk Allah Swt yang lain adalah sifat terpuji. Kita bisa mendapatkan beberapa hadis Rasulullah yang menyinggung soal ini, di antaranya:

  1. Kasih sayang di antara kaum mukminin menjadikan mereka satu tubuh. Rasulullah menyatakan ini dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sebagai berikut:

عَنِ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، كَمَثَلِ الجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى». رواه البخاري ومسلم.

Dari Nu’man bin Basyir dia berkata, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “Engkau melihat orang-orang yang beriman dalam saling cinta, saling kasih, dan saling sayang di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh. Bila salah satu dari bahagian tubuh mengeluh sakit, seleuruh tubuhnya akan turut merasakan sakit (demam) dan tidak dapat tidur.” HR Bukhari dan Muslim.

  1. Penghuni surga nantinya adalah mereka yang memiliki sifat kasih sayang di dunia ini. Hal ini dikatakan oleh Rasulullah Saw. dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban:

عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ بِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيفٌ مُتَصَدِّقٌ». رواه ابن حبان.

Dari ‘Iyadh bin Himar, sesungguhnya Rasulullah Saw. telah bersabda: “Penghuni surga ada 3 macam, yaitu (1) penguasa yang berlaku adil, dan yang mampu melaksakan perintah Allah, (2) seseorang yang lemah lembut kepada kerabat dan kepada muslim, dan sesama, dan (3) seseorang yang fakir/miskin yang suci berbudi luhur, tetapi selalu menjaga dirinya (dari meminta-minta), suka bersedekah. HR Ibn Hibban.

Baca Juga: Pengertian Kata Syukur dan Penggunaannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Setiap orang seharusnya memiliki sifat penyayang kepada sesama dan kepada makhluk-makhluk Allah yang lain. Orang-orang yang pengasih dan penyayang akan mendapatkan hal yang sama dari Allah Swt selamanya. Ini juga tergambar dari berbagai hadis Rasulullah, sebagai berikut:

  1. Allah menyayangi siapapun yang menyayangi hamba-Nya. Rasulullah menyatakan:

«إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ»

“Allah akan menyayangi hanya hamba-hamba-Nya yang menyayangi makhluk-Nya.” HR Bukhari dan Muslim.

  1. Allah memerintahkan manusia untuk mengasihi dan menyayangi. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي قَابُوسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو، يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ أَهْلُ السَّمَاءِ الرَّحِمُ شَجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ». روه الحاكم

“Orang-orang yang menyayangi (makhluk Allah yang lain) pasti akan disayangi Allah. Oleh sebab itu, sayangilah semua yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu.” HR. al-Hakim.

  1. Allah tidak akan menyayangi orang-orang yang tidak menyayangi manusia lain. Rasulullah bersabda:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ»

“Allah tidak akan menyayangi orang-orang yang tidak menyayangi manusia.” HR Muslim.

Baca Juga: Memahami Makna Kata Ikhlas dan Penafsirannya dalam Al-Quran

Kasih sayang yang lahir dari seseorang harus memiliki banyak objek. Ia harus diarahkan kepada semua objek. Objek dari sikap penyayang haruslah luas, tidak hanya terbatas dalam ruang lingkup yang kecil, tetapi juga harus mencakup semua dimensi. Objek-objek itu bisa dirangkum dalam beberapa hal berikut:

  1. Kasih sayang terhadap diri. Ini adalah yang paling utama dan paling inti dari semua objek. Menyayangi diri sendiri diwujudkan dalam bentuk perbuatan-perbuatan atau tindakan yang menyelamatkan dirinya dari hal-hal yang membahayakan dengan cara memenuhi semua kebutuhan primernya dan menghindarkan diri dari segala hal-hal menimbulkan madarat bagi dirinya.
  2. Kasih sayang terhadap sesame manusia. Dimulai dari orang-orang yang paling dekat, seperti kedua orang tua, ayah dan ibu, suami/isteri, anak, cucu, mertua, keluarga dekat, keluarga jauh, tetangga, kawan karib, kenalan, dan orang-orang tidak dikenal, baik muslim maupun non-muslim.
  3. Kasih sayang terhadap hewan dan bintang. Setiap orang harus sayang terhadap hewan dan binatang. Seseorang yang memelihara hewan harus senantiasa menjaganya dengan cara memeliharanya dengan baik. Menjaga agar hewan itu tetap mendapat makanan dan minuman yang layak sesuai dengan kebiasaannya.
  4. Kasih sayang terhadap tumbuh-tumbuhan. Kasih terhadap tumbuh-tumbuhan itu harus diwujudkan terhadap semua tumbuhan-tumbuhan yang ada, baik yang memberi manfaat langsung bagi kehidupan manusia maupun manfaat tidak langsung.
  5. Kasih sayang terhadap makhluk-makhluk Allah yang lain, seperti batu, tanah, air, dan lain-lain. Kasih sayang terhadap mereka diwujudkan dalam bentuk penggunaan benda-benda itu secara proporsional.

6. Kasih sayang terhadap Allah. Kasih sayang terhadap Allah diwujudkan dalam bentuk takwa kepada-Nya dengan melaksakan semua perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan begitu, akan datang kasih sayang Allah yang luar biasa terhadap dirinya.

Demikianlah dalil al-Quran dan hadis terkait dengan keutamaan sifat kasih sayang dan 6 objek yang patut dijadikan pusatnya. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah an-Nazi’at Ayat 23-30

0
tafsir surah an-nazi'at
Tafsiralquran.id

Dalam artikel sebelumnya telah dijelaskan bahwa Fir’aun tetap membangkan terhadap ajakan Nabi Musa as yang lebah lembut, kali ini dalam Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 23-30 akan membicarakan mengenai kesombongan Fir’aun. Akibat kesombongannya itu Fir’aun mendapat siksa di dunia dan akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah an-Nazi’at Ayat 12-22


Selain itu dalam Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 23-30 ini juga membicarakan mengenai himbauan Allah swt kepada manusia agar selalu memanfaat akalnya untuk berfikir. Khususnya memikirkan adanya jagat raya yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi manusia.

Ayat 23-24

Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa Fir’aun mengumpulkan pembesar-pembesarnya dan berseru memanggil kaumnya yang sebagiannya terdiri dari para tukang sihir. Dengan penuh kesombongan, Fir’aun berkata, “Akulah tuhan kamu yang paling tinggi. Jangan ikuti ajakan Musa.”

Ayat 25

Maka Allah menurunkan siksa kepadanya, bukan di dunia saja bahkan juga di akhirat. Siksaan di dunia ialah dengan ditenggelamkan bersama kaumnya di Laut Merah, dan siksaan di akhirat dengan dijerumuskan ke dalam neraka Jahanam, yang merupakan tempat kembali yang sangat buruk.

Ayat 26

Pada ayat ini dijelaskan sesungguhnya pada kejadian yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal dan dapat memperhitungkan tiap-tiap kejadian dengan akibatnya, terutama bagi orang yang takut kepada Allah.

Ayat 27

Ayat ini menghimbau manusia untuk menggunakan akalnya untuk membandingkan penciptaan dirinya yang kecil dan lemah dengan penciptaan alam semesta yang demikian luas dan kokoh. Hal itu menunjukkan kekuasaan Allah.

Ibnu Khaldun menggambarkan keadaan manusia yang terlalu mengagungkan kemampuan logika tanpa mengasah kalbunya dengan mengatakan, “Bagaimana manusia dengan otaknya yang hanya sebesar timbangan emas mau digunakan untuk menimbang alam semesta?”


Baca juga: Tafsir Surat Thaha Ayat 44: Nilai Kelembutan dalam Berdakwah


Ayat 28

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah meninggikan langit, meluaskan, dan melengkapinya dengan benda-benda angkasa, seperti planet dan lainnya.

Allah lalu menetapkan ketentuan-ketentuan yang mengatur benda-benda angkasa itu, sehingga tetap di tempatnya dan tidak berjatuhan, seakan-akan menjadi perhiasan seluruh jagatnya. Menciptakan dan mengatur alam raya (makrokosmos) ini jauh lebih rumit dan kompleks daripada menciptakan manusia yang hanya disebut mikrokosmos.

Kajian saintifik modern saat ini menyatakan bahwa jagad-raya seisinya ini diawali pembentukannya dari adanya singularity. Singularity adalah sesuatu dimana calon/bakal ruang, energi, materi dan waktu masih terkumpul menjadi satu (manunggal).

Dentuman Besar (Big Bang) meledakkan singularity ini dan berkembanglah bak seperti spiral-kerucut yang terus menerus berekspansi melebar dan melebar terus. Sejak Big Bang itulah, waktu mulai memisahkan diri dari ruang, begitu pula energi, materi dan gaya-gaya memisahkan diri, dan selama bermiliar-miliar tahun terbentuklah seluruh jagad-raya yang berisi miliaran galaksi.

Ruang dan waktu terus mengalami ekspansi meluas. Inilah yang disebut dengan “meninggikan bangunannya (langitnya)”. Bahiruddin S. Mahmud menjelaskan bahwa ekspansi jagad raya bukannya tak terbatas, bukannya terus menerus. Laju ekspansi atau perkembangan ini berangsur-angsur menurun, karena gaya gravitasi antar galaksi (yang mereka sesamanya terus saling menjauh) mulai mengendur, sehingga suatu saat akan berhentilah ekspansi jagad raya itu, maka sempurnalah bangunan itu.

Ayat 29

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah telah menjadikan malam gelap gulita dan siang terang benderang, dan pergantian siang dan malam, serta perbedaan musim-musim sebagai akibat dari peredaran planet-planet di sekitar orbitnya. Mengatur dan memelihara peredaran planet-planet ini sungguh pekerjaan yang luar biasa hebatnya.

Ayat 30

Juga diterangkan bahwa Allah menjadikan bumi terhampar, sehingga makhluk Allah mudah melaksanakan kehidupan di sana. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan bumi lebih dahulu, kemudian menciptakan langit, kemudian kembali lagi ke bumi dan menghamparkannya untuk kediaman manusia.

Setelah menyiapkan tempat-tempat tinggal, maka Allah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan manusia yaitu tentang makanan dan minuman, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikutnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 31-42


(Tafsir Kemenag)

Perkembangan Penerjemahan Al-Quran di Indonesia dari Masa ke Masa

0
Al-Quran dan Terjemahnya
Al-Quran dan Terjemahnya

Terjemah Al-Quran, khususnya di Indonesia mengalami perkembangan dari masa ke masa. Di sini akan diulas versi singkat dari dinamika penerjemahan Al-Quran di Indonesia, lebih fokus lagi di lembaga resmi pemerintah yang menangani hal tersebut.

Al-Quran merupakan mukjizat yang kekal, tak terbatas oleh ruang dan waktu. Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk membimbing manusia kepada jalan yang lurus. Al-Quran meski diturunkan di Arab kepada Nabi Muhammad yang orang Arab, dan berbahasa Arab, tapi Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk bangsa Arab. Maka dari itu salah satu cara untuk memahami Al-Quran bagi kalangan non Arab adalah dengan adanya terjemah Al-Quran.

Awal mulanya banyak perdebatan di antara para ulama mengenai penerjemahan Al-Quran ini. Para ulama yang menolak terjemah dengan berargumen bahwa menerjemahkan Al-Quran akan mengurangi kemukjizatan Al-Quran.

Sedangkan, para ulama yang mendukung adanya terjemah Al-Quran, berpendapat bahwa perlunya terjemah Al-Quran dengan berpedoman kepada, Q.S. al-Baqarah Q.S. al-Baqarah: 159, Q.S. Ali-‘Imran: 138, Q.S. al-An’am: 19, QS. an-Nahl: 44, dan QS. al-Furqan: 1. Beberapa ayat ini menyinggung tentang peran dan fungsi Al-Quran di tengah kehidupan mausia. Peran dan fungsi itu akan maksimal jika manusia, khitab dari Al-Quran itu memahami kandungannya.

Penulis lebih condong kepada para ulama yang mendukung adanya terjemah Al-Quran, karena salah satu tujuan adanya terjemah adalah untuk memudahkan mengetahui makna dan kandungan dari Al-Quran itu sendiri. Khususnya bagi kalangan orang awam dan non Arab. Namun tetap diingat, jalan ini bukan jalan terakhir.

Baca Juga: Problem Status Terjemah dan Tafsir Al Quran

Mahmud Yunus: Pelopor Penerjemahan Al-Quran di Indonesia

Salah seorang ‘alim Indonesia yang menjadi pelopor penerjemahan Al-Quran di Indonesia adalah Mahmud Yunus. Ia merupakan seorang intelektual asal Sumatera Barat yang dikenal melalui karya-karyanya. Kurang lebih 75 judul buku pernah ditulis olehnya. Salah satu kitab masyhur yang pernah ditulis oleh beliau dan sering dijumpai adalah Tafsir Qur’an Karim dan Kamus Arab-Indonesia.

Dalam skripsi yang disusun oleh Anisa Al-Basiroh, ia menuliskan bahwa Tafsir Quran al-Karim karangan Mahmud Yunus awalnya diterjemahkan pada tahun 1922 dengan huruf Arab Melayu. Namun, sempat terhenti pada tahun 1924 karena beliau memilih melanjutkan pendidikannya di Mesir.

Kemudian pada tahun 1935, Kiai Mahmud Yunus kembali menerjemahkan Al-Quran beserta tafsirnya yang diberi nama: Tafsir Al-Quranul Karim. Dan ia menerbitkannya sebanyak 2 juz setiap bulannya. Saat menerjemahkan juz 7 sampai juz 18, Mahmud Yunus dibantu oleh H.M. Bakry. Lalu, pada April 1938 rampunglah terjemahan Al-Quran beserta tafsirnya lengkap 30 juz dan didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Baca Juga: Mahmud Yunus: Pendidik Prolifik Yang Menulis Tafsir Qur’an Karim

Upaya Pemerintah dalam Menerjemahkan Al-Quran dan Perkembangannya dari Masa ke Masa

Adib dalam penelitiannya, Perkembangan Terjemah Al-Qur’an di Indonesia mengatakan bahwa pemerintah Indonesia turut aktif dalam upaya penerjemahan Al-Quran ke dalam Bahasa Indonesia. Salah satu upayanya yakni dengan membentuk Lembaga Penyelenggara Penerjemah Al-Quran yang diketuai pertama kali oleh Prof. RHA. Soenarjo, SH.

Lembaga ini berhasil menerjemahkan Al-Quran untuk pertama kalinya pada 17 Agustus 1965. Terjemahan versi pertama ini diresmikan oleh Menteri Agama saat itu, yaitu kiai Saifuddin Zuhri. Terjemahan ini dicetak dalam 3 jilid yang setiap jilidnya berisi 10 juz.

Kemudian pada tahun 1971 dilakukan penyempurnaan pada edisi sebelumnya yang kemudian dicetak dalam satu jilid, sehingga terlihat tebal sekitar 1294 halaman. Cetakan edisi ini diberi nama Al-Quran dan Terjemahnya. Terjemahan edisi ini mendapat sambutan yang positif dari umat islam di Indonesia. Umat islam di Indonesia merasa terbantu memahami kitab sucinya dengan adanya terjamahan Al-Quran ini.

Lalu pada 1989, sebagaimana juga ditulis dalam laman resmi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, Kemenag melalui Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran melakukan kajian penyempurnaan terjemahan Al-Quran di Indonesia. Penyempuarnaan ini tidak menyeluruh, hanya fokus pada penyempurnaan redaksional yang dianggap tidak sesuai dengan Bahasa Indonesia saat itu. Tim ini dipimpin oleh ketua Lajnah saat itu, yaitu Drs. H. Abdul Hafidz Dasuki.

Pada tahun 1990, hasil penyempurnaan ini juga diterbitkan oleh pemerintah Saudi Arabia. Mereka membagikan Al-Quran secara gratis dan terjemahnya kepada jama’ah haji Indonesia saat itu sebelum kembali ke Indonesia.

Baca Juga: Apakah Terjemahan Al-Quran Dapat Disebut Karya Tafsir? Inilah Pemetaan Levelisasi Mufasir Menurut Para Ahli

Penyempurnaan selanjutnya dilakukan oleh Kemenag pada tahun 1998 sampai tahun 2002. Penyempurnaan kali ini lebih menyeluruh, sehingga memakan waktu empat tahun. Perbaikan yang dilakukan meliputi empat aspek. Pertama, aspek Bahasa. Kedua, aspek konsistensi. Ketiga, aspek substansi. Keempat, aspek transliterasi.

Awal penyempurnaan terjemah pada periode ini dipimpin oleh kepala Lajnah saat itu, yaitu Drs. H. Ahmad Hafidz Dasuki, M.A. Namun saat finalisasi penyempurnaan, Lajnah dipimpin oleh Drs. H. Fadhal Bafadhal, M.Sc. Terjemahan edisi tahun 2002 terlihat lebih tipis dibandingkan dengan edisi 1998. Dari 1290 halaman menjadi 924 halaman, berkurang 370 halaman.

Selain karena sistem terjemahan 2002 lebih singkat, ada beberapa bagian yang dihilangkan seperti bagian pembukaan dan footnote. 14 tahun kemudian, menindaklanjuti Musyararah Kerja Nasional (MUKERNAS) Ulama Al-Quran, Kemenag melalui Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran melakukan kajian penyempurnaan selanjutnya. Kajian penyempurnaan ini diketuai oleh Kepala Lajnah, Dr. Muchlis Hanafi, M.A.

Baca Juga: Uraian Lengkap Soal Terjemah Al-Quran dan Perbedaannya dengan Tafsir

Pada penyempurnaan kali ini, ada lima instrumen penyempurnaan yang ditetapkan untuk menghasilkan terjemahan yang lebih baik. Lima instrumen tersebut antara lain:

  1. Konsultasi public secara offline. Dilaksanakan di Jawa Tengah, Jakarta, Padang, dan Malang pada tahun 2017.
  2. Penelitian lapangan penggunaan terjemahan Al-Quran di masyarakat.
  3. Membentuk tim yang terdiri dari 15 orang pakar; Al-Quran, Tafsir, Bahasa Arab, dan Bahasa Indonesia. (bersidang setiap bulan sejak 2016-2019)
  4. Konsultasi public online. Guna menjaring usulan dan aspirasi masyarakat secara online melalui website Portal Konsultasi Publik.
  5. Mukernas Ulama Al-Quran tahun 2018 dan Ijtimak Ulama Al-Quran tahun 2019. Kegiatan ini sebagai forum uji publik dan uji shahih sekaligus menjaring masukan dari para ulama Al-Quran Indonesia.

Dan Pada tanggal 14 Oktober 2019, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Bidang Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI meluncurkan terjemahan Al-Quran Kementerian Agama Edisi Penyempurnaan.

Adanya perkembangan penerjemahan Al-Quran di Indonesia dari masa ke masa ini menunjukkan tren positif, yakni upaya penyempurnaan yang terus dilakukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, tidak menutup kemungkinan akan ada evaluasi dan penyempurnaan (lagi) di masa-masa berikutnya.

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 84-87

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Pada pembahasan sebelumnya telah dipaparkan bagaimana berpalingnya Bani Israil dari perintah-perintah Allah. Sedangkan untuk Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 84-87 membahas mengenai janji yang dilanggar oleh orang Yahudi.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 83


Allah telah memerintahkan Bani Israil untuk tidak melakukan pertumpahan darah. Namun dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 84-87 ini diterangkan bahwa Bani Israil melanggar perintah Allah, mereka merusaknya dengan membunuh saudara mereka sendiri.

Ayat 84

Dalam ayat ini Allah telah mengambil janji dari Bani Israil agar mereka benar-benar menjauhi pertumpahan darah di antara mereka, dan tidak saling mengusir dari negeri masing-masing.

Mereka hendaklah merupakan kesatuan bangsa karena satu agama dan satu keturunan. Masing-masing hendaklah merasa bahwa diri dan darahnya adalah diri dan darah kaumnya.

Ayat ini juga mengandung larangan mengerjakan kejahatan-kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman mati (qisas), atau pengusiran dari kampung halaman yang berarti “membunuh diri sendiri”.

Bilamana mengerjakan suatu kesalahan yang dapat dijatuhi hukuman mati, maka berarti membunuh dirinya sendiri. Pada akhir ayat ini Allah menyatakan bahwa orang Yahudi pada zaman Rasul saw mengaku menerima janji itu, bahkan mereka menjadi saksi atas janji itu.

Ayat 85

Dalam ayat ini disebutkan kenyataan tentang pelanggaran orang Yahudi terhadap larangan Allah itu. Di Medinah sejak sebelum Nabi Muhammad saw terdapat tiga suku Yahudi yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadir, Bani Quraizah. Ketiga suku itu terlibat dalam perang saudara yang terjadi antara kabilah Aus dan Khazraj; keduanya penduduk asli kota Medinah.

Bani Qainuqa dan Bani Nadir adalah sekutu kabilah Khazraj, sedangkan Bani Quraizah adalah sekutu kabilah Aus. Dengan demikian terjadilah peperangan dan usir-mengusir antara sesama kaum Yahudi sendiri.

Ayat ini menerangkan bahwa sesudah menerima janji yang kuat itu, mereka merusaknya dengan membunuh saudara-saudara mereka sendiri, mereka saling membunuh sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang terhadap mereka, sedangkan mereka mengaku bahwa janji Allah itu juga dikenakan pada mereka.

Sebagian orang Yahudi membantu orang-orang Arab yang telah menjadi sekutu mereka dengan membuat dosa seperti pembunuhan dan peperangan, dan membantu mereka di dalam permusuhan seperti pengusiran dari kampung halaman. Bilamana ada yang tertawan, baik orang Arab ataupun orang Yahudi yang bermusuhan, maka untuk melepaskannya mereka meminta uang tebusan.

Masing-masing golongan Yahudi menebus bangsanya yang menjadi tawanan itu, walaupun tawanan itu musuhnya. Mereka mengemukakan alasan bahwa kitab suci mereka memerintahkan agar mereka menebus tawanan-tawanan bangsa yang suci itu.

Jika mereka benar-benar beriman kepada kitabnya seperti yang mereka katakan, mengapa mereka mengusir, saudara-saudaranya dari kampungnya, sedangkan Taurat melarang mereka berbuat begitu? Kalau demikian, bukankah itu berarti mengejek agama? Mengapa mereka beriman pada sebagian Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?

Allah telah membuat janji dengan Bani Israil di dalam Taurat, agar tidak saling membunuh dan mengusir di antara sesamanya. Dalam Taurat disebutkan,  Siapa saja hamba lelaki atau perempuan dari Bani Israil yang kamu dapati, bayarlah harganya dan merdekakanlah dia.

Namun mereka tetap saling membunuh di antara sesamanya dan tetap saling mengusir. Mereka menyalahi janji mereka kepada Allah. Apabila ada yang ditawan, mereka menebusnya, sebagai ketaatan mereka kepada janji. Hal itu menunjukkan bahwa mereka mengimani sebagian isi Kitab dan tidak percaya kepada bagian yang lain.

Pembalasan terhadap para pelanggar ketentuan-ketentuan di atas ialah kebinasaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Kenyataan telah menunjukkan bahwa umat yang berlaku curang terhadap perintah Allah dan melempar agama ke belakang, mereka akan bercerai-berai dan akan ditimpa azab kehinaan sebagai pembalasan terhadap kerusakan akhlak dan kejahatannya.

Adapun orang-orang yang tetap berlaku benar, menyucikan dirinya dan baik keadaannya, akan memperoleh nikmat di sisi Tuhannya. Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa-apa yang mereka kerjakan. Dia akan memberi balasan terhadap segala perbuatan manusia.


Baca juga: Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 120: Benarkah Yahudi dan Nasrani Tidak Rela Terhadap Islam?


Ayat 86

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa merekalah orang-orang yang mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menerima kehidupan dunia ini sebagai ganti kehidupan akhirat. Mereka memberi bantuan kepada sekutu-sekutu mereka yang menyembah berhala, kerena hendak mengambil keuntungan duniawi.

Pada hari kiamat mereka akan diazab dengan azab yang berat dan tidak diberi bantuan apa-apa, sebab perbuatan mereka telah mencantumkan mereka dalam golongan orang-orang celaka.

Oleh karena itu tertutuplah pintu rahmat Ilahi pada mereka. Mereka tidak mendapatkan penolong yang dapat menolong mereka, dan tidak pula mendapatkan pembela yang dapat membantu mereka. Mereka tetap abadi di dalam neraka Jahanam.

Ayat 87

Allah swt telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa a.s., kemudian Allah mengutus sesudahnya beberapa orang rasul yang datang silih berganti. Maka, setiap waktu selalu ada rasul yang menyampaikan agama Allah. Dengan demikian tidak ada alasan bagi mereka untuk melupakannya, mengganti atau mengubah peraturan-peraturan yang telah ditetapkan Allah.

Sesudah itu Allah menyebutkan Nabi Isa a.s. dalam ayat ini secara khusus di antara para rasul itu, dan menerangkan bahwa dia telah diberi mukjizat yang dapat membuktikan kebenaran kenabiannya. Kemudian Allah menyebutkan pula bahwa Isa a.s. telah diberi wahyu serta diperkuat dengan Rohulkudus (Jibril a.s.), dan ketinggian akhlak.

Kemudian Allah menjelaskan sikap orang-orang Yahudi, bahwa apabila datang utusan Allah dengan membawa peraturan, yang tidak sesuai dengan kehendak hawa nafsu mereka, mereka bersikap sombong dan congkak terhadap utusan itu dengan cara berbuat sewenang-wenang dan berbuat keji di bumi, lalu sebagian dari para rasul itu mereka dustakan, seperti Nabi Isa dan Nabi Muhammad, dan sebagian lagi mereka bunuh seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya.

Maka tidaklah mengherankan apabila mereka tidak mempercayai seruan Muhammad saw, karena membangkang dan mengingkari itu termasuk tabiat yang telah merasuk dalam jiwa mereka.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 88-90


(Tafsir Kemenag)

Variasi Qiraat Al-Quran dan Contohnya dalam Surat Al-Fatihah Ayat 4

0
Variasi Qiraat
Variasi Qiraat

Sudahkah anda mengentahui bahwa al-Quran dapat dibaca dengan berbagai macam? Jika belum, anda perlu belajar tentang ilmu qiraat. Artikel ini akan mengulas seputar definisi qiraat dan contoh variasi qiraat dalam surat Al-Fatihah ayat 4.

Qiraat adalah sebuah madzhab bacaan lafaz-lafaz al-Quran, baik menyangkut perpindahan huruf maupun harakat, perubahan dialek seperti tahqiq, isymam, imalah, dan lain-lain yang dinisbatkan kepada seorang Imam yang memiliki jalur bersambung kepada Nabi Muhammad saw.

Variasi qiraat (bacaan) ini bersumber dari Nabi saw secara langsung yang kemudian diriwayatkan kepada generasi tabi’in oleh para sahabat hingga sampai kepada kita. Ada beberapa syarat yang diajukan oleh para ulama agar sebuah qiraat bisa diterima di antaranya:

Baca Juga: Ahli Qiraat dan Lukis: Sisi Lain Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Manuskrip Al-Quran Peninggalannya

Pertama: Qiraat harus sesuai dengan kaidah bahasa arab, seperti segi kefasihannya.

Kedua: Qiraat harus sesuai dengan rasm Usmani. Jika terdapat sedikit perbedaan, maka qiraat tersebut masih dapat diterima.

Ketiga: Qiraat harus memiliki sanad yang shahih.

Jika tidak memenuhi salah satu dari ketiga syarat ini, maka bacaan tersebut tidak diterima.

Beberapa qiraat yang terkenal dan memenuhi persyaratan di atas adalah qiraat Imam tujuh, yaitu Nafi’ al Madani, Ibnu Katsir al Makky, Abu Amr, Ibnu Amir as Syami, Ashim al Kuufi, Hamzah al Kuufi dan Al Kisa’i al Kuufi, qiroat Imam tujuh ini lebih dikenal dengan nama qiraat mutawatirah.

Meskipun demikian, sesungguhnya qira’at al Qur’an sangat banyak sekali variannya. Tetapi yang dapat dipakai hanyalah yang riwayatnya mutawatir dalam arti jalurnya sangat kuat karena diriwayatkan oleh banyak orang yang tidak mungkin bersepakat berbohong.

Baca Juga: 7 Bacaan Gharib dalam al-Quran menurut َQiraat Ashim Riwayat Hafs

Berikut ini adalah beberapa contoh variasi qiraat dalam ayat keempat surah al Fatihah, baik yang dapat dipakai maupun yang tidak dapat dipakai karena termasuk aahad (tidak mutawatir) atau bahkan syadz (menyalahi yang lebih kuat).

1- Qiroat Ashim, al Kisa’i, Ya’qub dan Kholaf bin Hisyam:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

2- Qiroat Nafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr, Ibnu Amir dan Hamzah:

مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Kedua qiroat di atas adalah mutawatirah dan dipakai oleh umat Islam sekarang dalam bacaan mereka.

Sedangkan qiroat-qiroat yang tidak dipakai karena riwayat nya ahad atau syadz adalah:

3- Diriwayatkan dari Aisyah dan Sa’ad bin Abi Waqqash:

مَلِكُ يَوْمِ الدِّيْنِ

4- Diriwayatkan dari Anas bin Malik:

مَلِكَ يَوْمِ الدِّيْنِ

5- Bacaan al A’mash dan al Mathu’i, diriwayatkan dari Abu Hurairah:

مَالِكَ يَوْمِ الدِّيْنِ

6- Bacaan Yahya bin Ya’mar dan Abu Hanifah, diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib:

مَلَكَ يَوْمَ الدِّيْنِ

7- Bacaan as Sya’bi dan Abu Usman an Nahdy:

مِلْكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

8- Bacaan Ashim al Juhduri, diriwayatkan dari Abu Hurairah:

مَلْكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

9- Bacaan Aun bin Abi Syaddad al Aqiily, diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz:

مٰلِكُ يَوْمِ الدِّيْنِ

10- Bacaan Abu Ubaid dan Aun al Aqiily:

مَالِكٌ يَوْمَ الدِّيْنِ

11- Bacaan Abu Roja al Athaaridy, diriwayatkan dari Ubay bin Kaab:

مَلِيْكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

12- Bacaan Ibnu Abi Ashim:

مِلْكًا يَوْمَ الدِّيْنِ

13- Dalam sebuah riwayat di kitab al Bahrul Muhith tanpa menyebut nama:

مَلّاكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

14- Dalam sebuah riwayat di kitab al Bahrul Muhith tanpa menyebut nama:

مَلْكَ يَوْمِ الدِّيْنِ

Semua variasi bacaan ini semuanya masih bisa terbaca dalam Rosam Usmani yang tertulis

ملك يوم

tanpa harakat dan titik.

Demikianlah penjelasan tentang qiraat, variasinya, dan contoh bacaannya dalam riwayat yang mutawatir surat al-Fatihah Ayat 4. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 12-22

0
tafsir surah an-nazi'at
Tafsiralquran.id

Setelah sebelumnya berbicara mengenai hari kebangkitan yang diingkari oleh orang-orang musyrik, kali ini dalam Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 12-22 akan berbicara mengenai kesadaran mereka bahwa hari kebangkitan merupaka sesuatu yang pasti.


Baca juga: Tafsir Surah an Nazi’a’t Ayat 1-10


Kala itu orang-orang musyrik menyatakan kesadarannya bahwa hari kebangkitan itu nyata. Untuk lebih menyadarkan lagi, dalam Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 12-22 ini juga dikemukakan kisah Nabi Musa as. Bagaimana Nabi Musa as berdakwah kepada Fir’aun yang sudah melewati batas.

Ayat 12-14

Dalam ayat ini akhirnya mereka berkata juga, “Kalau demikian, sungguh kami akan mengalami pengembalian yang sangat merugikan.” Allah menjawab ejekan dan penyesalan mereka itu dengan menjelaskan bahwa pengembalian itu cukup sederhana saja, yaitu dapat terjadi hanya dengan satu kali tiupan saja oleh Malaikat Israfil.

Akhirnya mereka menyadari bahwa manusia tidak dapat memandang peristiwa hari kebangkitan itu sebagai mustahil. Sebab, dengan itu mereka dapat serta merta akan hidup kembali di permukaan bumi sebagai permulaan hari akhirat.

Ayat 15-16

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan Nabi Muhammad tentang kisah Musa dalam bentuk pertanyaan, yaitu apakah belum diketahui olehnya tentang kisah Musa yang diutus Allah kepada Fir’aun untuk menyampaikan risalahnya dengan cara yang halus dan lemah lembut seperti tercantum dalam firman Allah:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى   ٤٤

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (Taha/20: 44)


Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 43-44: Kuasa Allah Swt dan Bahtera Nabi Nuh As


Ayat 17-19

Tugas Nabi Musa ialah supaya pergi kepada Fir’aun dan menasihatinya karena Fir’aun sudah melampaui batas, berlaku sombong terhadap Bani Israil dan memperbudak mereka dengan kekejaman yang luar biasa dan di luar peri kemanusiaan.

Di antaranya adalah perintah untuk membunuh bayi-bayi laki-laki dan membiarkan bayi perempuan hidup. Kemudian Allah menyuruh Nabi Musa supaya melaksanakan dakwah dengan halus dan lemah lembut.

Nabi Musa diperintahkan untuk berdialog secara baik-baik dengan Fir’aun dan mengemukakan pertanyaan apakah Fir’aun mau membersihkan diri dari kesesatan. Fir’aun telah bergelimang dalam kesesatan, sehingga sebaiknya mau menerima petunjuk dari Allah yang dibawa Nabi Musa. Fir’aun perlu menempuh jalan kebajikan yaitu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat.

Kemudian Nabi Musa diperintahkan untuk menjelaskan secara terbuka dengan mengajak Fir’aun untuk mengikuti risalahnya menuju ke jalan Allah dengan bertakwa kepada-Nya.

Ayat 20-22

Kemudian Allah menerangkan bahwa Fir’aun tetap membangkang dan tidak mau mengikuti ajakan Nabi Musa sehingga Musa terpaksa memperlihatkan mukjizat-mukjizatnya.

Lalu Musa memperlihatkan kepada Fir’aun mukjizat yang besar yaitu tongkat menjadi ular dan telapak tangan yang bersinar terang. Meskipun begitu, Fir’aun masih mengingkari kenabian Musa dan tetap bersikap durhaka dan menentang Allah. Kemudian Fir’aun berpaling dan berusaha untuk mengadakan perlawanan kepada Musa.


Baca setelahnya: Tafsir Surah an-Nazi’at Ayat 23-30


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Yasin Ayat 43-44: Kuasa Allah Swt dan Bahtera Nabi Nuh As

0
Yasin Ayat 43-44
Yasin Ayat 43-44

Berkat kuasa Allah Swt kakek buyut kita bisa selamat dari banjir bandang yang terjadi pada masa Nabi Nuh as sehingga manusia masih eksis sampai sekarang. Demikian sebagaimana yang diterangkan dalam tulisan sebelumnya. Adapun tulisan ini akan membahas kuasa dan tujuan Allah Swt menyelamatkan manusia dari musibah di perjalanan selama berada di dalam bahtera Nabi Nuh As. Berikut tafsir dari surah Yasin ayat 43-44:

وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ

إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

Artinya:

(43)   Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.

(44)   Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.

Makna ayat di atas menurut al-Thabathaba’i ialah bahwa nasib orang-orang dan binatang-binatang yang ada di atas bahtera Nabi Nuh itu sepenuhnya berada di tangan Allah Swt. Apabila Allah berkehendak, bisa saja mereka semua tenggelam dan tak terselamatkan, namun Dia berkehendak sebaliknya. Itu semua tiada lain merupakan rahmat Allah Swt.

Baca Juga: Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i: Arsitek Tafsir Al-Mizan

Ibn Asyur menjelaskan, ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya membicarakan belas kasih Allah Swt yang telah menyelamatkan mereka yang menaiki kapal Nabi Nuh as. Nah ayat ini kemudian memperingatkan bahwa Allah Swt berkuasa merubah nikmat tersebut menjadi musibah.

Pola ungkapan ini merupakan ciri khas al-Qur’an di mana komposisi pesan ayat senantiasa berimbang. Ayat yang mengandung pesan anjuran (targhib) selalu diiringi dengan dengan ayat yang mengandung peringatan (tarhib) atau sebaliknya. Sehingga seseorang tidak merasa besar ketika diberi kenikmatan dan tidak pula putus asa dari turunnya rahmat.

Quraish Shihab menambahkan, kata “sarikh“ berasal dari kata “sarakha” yang berarti berteriak minta tolong. Kata “sarikh” sendiri berarti orang yang diteriaki untuk dimintai pertolongan. Orang yang terjebak dalam bahaya di perjalanan biasanya tidak memiliki siapa pun untuk dimintai pertolongan. Hanya Allah lah satu-satunya yang bisa mendengarkan teriakannya dan menyelamatkannya dari musibah yang sedang dihadapi.

Menariknya, dalam menjelaskan ayat ini Quraish menyinggung tragedi tenggelamnya kapal Titanic. Berdasarkan ceritanya disebutkan bahwa sebelum berlayar, perancang kapal sesumbar mengatakan bahwa Tuhan pun tak kuasa membuat kapal besarnya tersebut karam. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Kejadian ini menunjukkan betapa angkuhnya manusia serta betapa besarnya kuasa Allah Swt dalam menentukan nasib mereka.

Semua aktivitas perjalanan memang lumrahnya dilakukan dengan sukar dan berisiko mengalami kecelakaan atau musibah, terlebih ketika berlayar di lautan lepas. Terkait hal itu, Hamka mengatakan bahwa tidak ada yang lebih dapat memahami pesan ayat ini melebihi para pelaut itu sendiri yang sering mengalami kondisi antara hidup dan mati pada saat berlayar mengarungi samudra luas.

Selanjutnya pada ayat ke 44 dikatakan bahwa tujuan manusia diselamatkan dari musibah berkaitan dengan dua hal, yakni sebagai rahmat dan untuk memberikan kesenangan hidup lebih. Nawawi al-Bantani menjelaskan, adakalanya orang yang diselamatkan sudah diketahui Allah bahwa ia akan beriman, maka selamatnya ia adalah sebuah rahmat dari Allah Swt.

Adakalanya pula orang yang diselamatkan tersebut merupakan orang yang dalam ilmu Allah akan mendustakan kebenaran, maka tujuan dia diselamatkan ialah supaya dapat merasakan kesenangan hidup lebih lama sampai selesai masanya dan kemudian dia akan mendapatkan balasan yang lebih pedih pula.

Ini yang dinamakan oleh ulama sebagai istidraj. Oleh karena itu menurut Nawawi al-Bantani, keselamatan dari musibah duniawi tidaklah berarti positif selamanya, ia dapat berarti malapetaka apabila tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas iman yang lebih baik.

Baca Juga: Mufasir-Mufasir Indonesia: Biografi Syekh Nawawi Al-Bantani

Adapun yang dimaksud dengan kata “ila hin” (sampai waktunya), At-Tabari mengutip dari Qatadah bahwa maksudnya ialah “ilal maut” (sampai kematiannya). Maka siapa saja yang diberikan kesempatan hidup, hendaknya ia mengisi sisa umurnya sebaik mungkin sebelum tiba ajalnya.

Sekian tafsir dari surat Yasin ayat 43-44 mengenai bagaimana Allah Swt berkuasa menyelamatkan maupun menimpakan musibah kepada manusia yang sedang melakukan perjalanan dan apa hikmah dari takdir yang ditetapkannya. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis sawab.

Respons Al-Quran terhadap Perbuatan Vandalisme

0
Respons Al-Quran terhadap perbuatan vandalisme
Respons Al-Quran terhadap perbuatan vandalisme

Vandalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lain (keindahan alam dan sebagainya), perusakan dan penghancuran secara ganas. George T Falkness mendefinisikan perbuatan vandalisme merupakan sebuah tindak kejahatan yang bertujuan untuk merusak barang-barang.

Tindakan yang dilakukan bukan hanya merusak fasilitas umum yang tersedia, namun juga fasilitas yang menunjang kebutuhan pribadi. Jadi, vandalisme merupakan suatu perbuatan yang mempunyai tujuan untuk merusak ataupun menghancurkan benda atau karya, baik buatan manusia maupun alam ciptaan Allah SWT. Perbuatan vandalisme tentu bukan hanya merugikan diri sendiri, akan tetapi dampak dari perbuatan tersebut juga dirasakan oleh orang lain dan lingkungan sekitar. Allah SWT. dalam Q.S. al-Rum [30]: 41 berfirman:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Baca juga: Resolusi Al-Quran Menghadapi Tantangan Digital di Era Post-Truth

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Juz 11: 77, mengemukakan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara keduanya serta kemanfaatan yang ada didalamnya telah berkurang, bisa juga keduanya mengalami kerusakan dengan sendirinya.

Sementara itu, Ibnu ‘Asyur mendefinisikan kerusakan yang dimaksud dalam ayat diatas adalah semesta alam yang telah diciptakan oleh Allah dalam sebuah komponen yang sangat serasi dan menunjang kebutuhan manusia, mengalami kerusakan akibat dari perbuatan buruk yang mereka lakukan, sehingga hal ini mengakibatkan ketimpangan atau ketidakseimbangan ekosistem alam. Kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem alam, begitupula kerusakan yang dilakukan di tempat-tempat umum, hal ini juga mengakibatkan rusaknya fasilitas umum sehingga akomodasi manusia menjadi terhambat.

Kerusakan yang dilakukan oleh manusia bukan hanya berdampak pada alam ataupun fasilitas yang tersedia, akan tetapi kerusakan juga dapat menimpa manusia itu sendiri. Sebagaimana penafsiran Quraish Shihab pada Q.S. al-Baqarah [2]: 205 yang berbunyi:

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ

Artinya: “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.

Baca juga: Tafsir Surat Ar-Rum Ayat 41: Menyoal Manusia dan Krisis Ekologis

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Juz 1:446 mengartikan kalimat al-harts wa al-nasl adalah tanaman dan binatang ternak, akan tetapi juga dapat dipahami dalam arti wanita dan anak-anak. Sehingga, kerusakan yang terjadi pada manusia adalah ketika manusia itu melecehkan wanita akan berdampak pada rusaknya generasi muda/anak-anak. Kemudian kata tawalla dapat pula dipahami dengan arti memerintah. Sehingga, apabila manusia diberi kekuasaan, kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang mana kebijakan tersebut dapat menimbulkan kerusakan, seperti eksploitasi alam dan lain sebagainya.

Kerusakan-kerusakan di muka bumi tentunya juga dapat menghambat aktivitas manusia sebagai khalifatullahi fi al-ardh atau wakil Allah di bumi. Oleh karena itu, manusia juga harus senantiasa melakukan pengelolaan yang terus berkesinambungan untuk meminimalisir terjadinya kerusakan. Allah SWT. berfirman dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 30 yang berbunyi:

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Artinya: “ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?” tuhan berfirman: “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Baca juga: Tafsir Ilmi Kemenag: Bumi yang Dinamis dan Relevansinya Bagi Kehidupan

Manusia sebagai tangan kanan Allah atau wakil Allah di bumi, sudah sepatutnya untuk merepresentasikan sifat allah dalam mengelola alam semesta raya. Diantara sifat tersebut adalah terus menerus mengurus atau memelihara dan selalu menebar rahmat atau kasih sayang di bumi. Oleh sebab itu, kewajiban seorang manusia terhadap semesta sebagai bentuk tanggungjawabnya dan pengabdiannya kepada Allah adalah terus melakukan pemeliharan alam termasuk juga pemeliharaan terhadap diri sendiri dan orang lain guna mempertahankan kebutuhan hidupnya.

Allah memperkenankan manusia untuk mengambil manfaat dari apa yang telah diciptakan oleh-Nya. Namun, hal demikian harus dilakukan secara bijak dan penuh tanggungjawab, tidak dilakukan secara berlebihan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan.

Sifat rahmat atau kasih sayang dalam menjalani tugas manusia sebagai wakil Allah di bumi juga perlu dimiliki. Karena, apabila manusia berinteraksi dengan manusia lain, tetapi tidak dilandasi dengan sifat rahmat atau kasih sayang, yang akan timbul adalah permusuhan dan pertengkaran antar sesama manusia. Permusuhan dan pertengkaran tentunya bukanlah suatu hal yang baik, karena hal ini dapat memicu adanya perkelahian atau peperangan yang dapat mengakibatkan kerusakan terhadap diri dan orang lain. Pada akhirnya, sifat saling memelihara dan menebar rahmat atau kasih sayang, menjadi poin penting dalam menjalani kehidupan manusia sebagai wakil Allah di bumi.

Wallahu a’lam bi shawab.

Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 1-11

0
tafsir surah an-nazi'at
Tafsiralquran.id

Artikel ini membahas tentang surah an Nazi’at, kususnya Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 1-11. Surah ini termasuk kategori makiyah dan berjumlah 46 ayat. Nama an-Naziat terambil dari ayat pertama. Selain itu surah ini juga disebut sebagai surah as-Shahirah yang terambil dari ayat 14 dan surah at-Thammah yang terambil dari ayat 34.

Baca sebelumnya: Tafsir Surah an-Naba’ Ayat 31-40

Sebagai pembuka, Tafsir Surah an Nazi’at Ayat 1-11 ini diawali dengan sumpah dengan maksud menegaskan adanya hari kebangkitan yang diiingkari oleh orang-orang musyrik. Diawali dengan kematian lalu pada hari kiamat dibangkitkan kembali.

Ayat 1-7

Pada ayat-ayat ini, Allah berfirman dalam bentuk sumpah terhadap beberapa malaikat yang mencabut nyawa manusia dengan keras dan juga kepada para malaikat yang mencabut nyawa manusia dengan lemah-lembut. Hal ini dalam rangka menegaskan adanya hari kebangkitan yang diingkari orang-orang musyrik.

Ayat-ayat selanjutnya yang juga dalam bentuk kalimat-kalimat sumpah kepada para malaikat yang turun dari langit dengan cepat sambil membawa perintah Allah. Bahkan Allah bersumpah kepada para malaikat yang mendahului malaikat yang lain dengan kencang, serta para malaikat yang mengatur dunia.

Firman-firman dalam bentuk sumpah ini banyak terdapat pada surah-surah Makiyah karena banyak orang-orang musyrik menolak dan mengingkari hari kebangkitan, seperti pada Surah as-Saffat/37: 1-4:

وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ  ١  فَالزّٰجِرٰتِ زَجْرًاۙ  ٢  فَالتّٰلِيٰتِ ذِكْرًاۙ  ٣  اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ   ٤

Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, demi (rombongan) yang mencegah dengan sungguh-sungguh, demi (rombongan) yang membacakan peringatan, sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa. (as-Saffat/37: 1-4);

Adapun jawab qasam (isi dari sumpah) pada awal Surah an-Nazi’at ini terdapat dalam ayat 6, yaitu sungguh pada saat alam berguncang ketika tiupan sangkakala pertama, semuanya rusak dan hancur.

 Tiupan sangkakala yang pertama itu kemudian diikuti oleh tiupan kedua yang membangkitkan manusia dari kuburnya. Inilah hari Kiamat dalam arti yang sebenarnya.

Ayat-ayat permulaan pada Surah an-Nazi’at ini oleh jumhur mufasir dipahami sebagai sumpah-sumpah kepada para malaikat. Akan tetapi, ada mufasir lain, seperti Ahmad Musaafa al-Maragi, yang memahami sumpah ini bukan kepada para malaikat, tetapi kepada bintang-bintang yang beredar menurut aturan tertentu, seperti matahari, bulan, dan planet-planet yang lain.

Dalam tafsir al-Marāg³, ayat-ayat ini dipahami sebagai bintang-bintang yang sigap dan cepat jalannya, cahaya-cahaya yang keluar dari bintang ke bintang, dan bintang-bintang yang jalannya cepat dari bintang-bintang yang lain.

Adapun tentang pemahaman jawab qasam-nya sama dengan pendapat jumhur mufasir.


Baca juga: Inilah Macam-Macam Qasam dalam Al-Quran, Simak Penjelasannya


Ayat 8-9

Pada ayat-ayat ini dijelaskan bahwa hati orang-orang kafir pada waktu itu sangat takut setelah mereka menyaksikan sendiri apa yang telah diberitahukan kepada mereka dahulu di dunia.

Orang-orang kafir Mekah ketika di dunia bahkan telah diberitahu langsung oleh Nabi Muhammad. Pandangan mereka tertunduk lemas, selalu melihat ke bawah karena rasa takut dan gelisah yang sangat tinggi.

Pada ayat lain digambarkan keadaan orang-orang kafir pada hari Kiamat itu sebagai berikut:

مُهْطِعِيْنَ مُقْنِعِيْ رُءُوْسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ اِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ ۚوَاَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌ ۗ    ٤٣

Mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong. (Ibrahim/14: 43)

Ayat 10-11

Pada ayat ini kemudian dijelaskan bahwa orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan bertanya dengan nada penyesalan, “Apakah kami betul-betul dikembalikan seperti kehidupan semula?” Hal ini juga pernah mereka tanyakan, sebagaimana terdapat dalam firman Allah:

قَالُوْٓا ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَ  ٨٢

Mereka berkata, “Apakah betul, apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? (al-Mu’minµn/23: 82)

Pada hari Kiamat pun mereka masih bertanya, “Apakah kami akan dibangkitkan juga apabila telah menjadi tulang-belulang yang hancur dan bersatu dengan tanah?” padahal ketika di dunia sudah dijelaskan dalam firman Allah:

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ   ٧٨  قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ  ٧٩

Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin/36: 78-79)


Baca setelahnya: Tafsir Surah an-Nazi’at Ayat 12-22


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Terjemahan Al-Quran Bersajak dalam Bahasa Aceh Karya Tengku Mahjiddin Jusuf

0
Terjemahan Al-Quran Bersajak
Terjemahan Al-Quran Bersajak Bahasa Aceh

Satu lagi khazanah terjemahan Al-Quran dalam bahasa daerah di Indonesia, yaitu terjemahan Al-Quran bersajak dalam bahasa Aceh yang ditulis oleh Tengku Haji Mahjiddin Jusuf. Judul lengkap terjemahannya yaitu Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai karya terjemahan ini.

Karir Keorganisasian dan Intelektualitas Tengku Mahjiddin Jusuf

Tengku H. Mahjiddin Jusuf lahir di Peusangan, Aceh Utara pada tanggal 6 September 1918. Dia berasal dari keluarga yang agamis, pendidikan pertamanya didapatkan langsung dari sang ayah, Tgk. Fakir Jusuf seorang ulama dan pengarang sya’ir. Keahlian menulis syairnya didapatkannya dari sang ayah.  

Layaknya muda-mudi Aceh pada zamannya, Tengku Mahjiddin menimba ilmu agama terlebih dahulu di beberapa dayah (pondok) baru kemudian melanjutkan pendidikan formalnya ke perguruan tinggi di Madrasah al-Muslim hingga tahun 1937 (sekarang menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al-Muslim Aceh). Dalam kata pengantar bukunya disebutkan bahwa Tengku Mahjiddin pernah melanjutkan pendidikannnya di Padang sampai tahun 1941, namun tidak dijelaskan secara lebih spesifik.

Setelah menyelesaikan pendidikannnya secara formal Tengku Mahjiddin kembali ke Aceh dan ditunjuk sebagai pemimpin Madrasah al-Muslim, tetapi berhenti di tengah jalan karena dipilih sebagi Kepala Negeri (setingkat camat) di Peusangan, dan tidak berlangsung lama dia kemudian dipindahkan ke Banda Aceh dan ditugaskan sebagai Kepala Pendidikan Agama.

Karena kepiawannya dalam memimpin, dia mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi, yaitu sebagai Kepala Pendidikan Agama  provinsi Sumatra Utara, namun jabatan ini hanya sebentar diemban (1951-1952) dan kembali lagi ke Aceh menjabat sebagai Kepala Pendidikan Agama di Aceh.

Jabatan lain yang pernah diembannya adalah sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mewakili partai politik Islam (MASYUMI) Majelis Syura Muslim Indonesia  dan anggota Majelis Ulama Indonesia untuk daerah Aceh.

Walaupun dia banyak berkecimpung di dunia pemerintahan, dia tetap berdedikasi di bidang agama. Tengku Mahjiddin adalah seorang imam di Masjid Baiturrahman Banda Aceh, dan dia juga menulis beberapa buku pelajaran untuk Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) dalam bidang tafsir dan bahasa Arab, seperti terjemahan Al-Quran bersajak dalam bahasa Aceh ini. Ia juga mulai merintis pengajaran tahfidz Al-Quran pada tahun 1990.

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran mencatat karya Tengku Mahjiddin yang lain yang ditulis dalam bahasa Aceh seperti ‘Hikayat Nabi Yusuf’, juga beberapa hikayat (syair dalam bahasa Aceh yang lain) dan buku tentang ayahnya yang berjudul ‘Fakir Jusuf, Penulis Hikayat Aceh’. Beberapa karya hikayatnya dan buku yang terakhir ini belum sempat diterbitkan.

Atas jasa dan pengabdiannya kepada Al-Quran, termasuk pula karya terjemahan Al-Quran bersajak tersebut, lembaga resmi pentashih mushaf Al-Quran ini memasukkan Tengku Mahjiddin sebagai salah satu di antara ulama, para penjaga Al-Quran. Ia meninggal dunia pada malam Hari Raya Idul Fitri tahun 1414 H bertepatan dengan 14 Maret 1994 M.

Latar Belakang Penulisan Terjemah

Tengku Mahjiddin mulai melakukan penerjemahan pada tanggal 25 November 1955 ketika dia dalam tahanan. Empat tahun Mahjiddin pernah mendekam di penjara Binjai, tepatnya setelah peristiwa pemberontakan Aceh tahun 1953. Selama dalam tahanan dia hanya menerjemahkan tiga surat, yaitu: QS. Yasin [36], QS. al-Kahfi [18], dan QS. al-Insyirah dan diterbitkan di Harian Duta Pantjatjita Banda Aceh tahun 1965. Proses penerjemahan sempat terhenti selama 20 tahun kemudian dilanjutkan kembali pada tahun 1977 dan selesai pada tahun 1988.

Dalam kata pengantar buku Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh, penyunting mengatakan bahwa dalam melakukan penerjemahan Tengku Mahjiddin bukan sekedar memberikan informasi, tetapi juga berupaya mempengaruhi emosi pembaca, seperti berusaha mendekatkan makna dengan latar budaya dan lingkungan pembaca.

Penjelasan ini secara tidak langsung bisa mengidentifikasi alasan Tengku Mahjiddin dalam menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Aceh, yaitu agar masyarakat Aceh memahami isi kandungan Al-Qur’an dan merasakan Al-Qur’an berbicara kepadanya.

Pendekatan makna terhadap latar budaya salah satunya dapat dilihat ketika Tengku Mahjiddin  menerjemahkan firman Allah Q.S At-Tin [95]: 1

وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ

Tengku Mahjiddin menerjemahkan teks tersebut dengan Demi boh ara dan boh zaitun. Ketika ditanya oleh tim penyunting mengapa Tengku Mahjiddin menerjemahkan buah tin menjadi buah ara, dia menjawab bahwa buah zaitun sudah dikenal di Aceh sekurang-kurangnya dari minyaknya, sedangkan buah tin hampir tidak dikenal. Oleh karena itu ia lebih memilih terjemahan boh ara.

Metode Terjemahan dan Sumber

Pada awalnya Al-Quran terjemahan ini ditulis dengan Arab Jawi. Dan setelah mengalami beberapa proses penyuntingan dari tahun 1993-1994, untuk pertama kalinya terjemahan Al-Quran  ini diterbitkan dengan bahasa latin. Selama proses penyutingan, tim penyunting selalu berkonsultasi langsung dengan Tengku Mahjiddin sehingga apabila ada kata atau kalimat yang perlu diubah maka penyunting meminta beliau sendiri yang mengganti kata atau kalimat tersebut.

Sesuai dengan jenis terjemahannya, terjemah Al-Quran bersajak dalam bahasa Aceh ini, akan langsung terlihat sajak pada setiap penggalan ayat yang diterjemahankannya. Setiap penggalan ayat terdiri dari empat baris dan setiap empat baris memiliki sepuluh suku kata dan setiap akhir baris ada persamaan bunyi.

Dalam proses terjemahan, Tengku Mahjiddin lebih dulu menangkap maksud teks baru kemudian memformulasikannya dalam sajak bahasa Aceh. Hal ini terbilang rumit karena harus memenuhi syarat dan kriteria yang tidak ada dalam terjemahan bebas.

Metode terjemahan yang dipakai dalam terjemah Al-Quran bersajak ini adalah metode tarjamah tafsiriyyah, sebagaimana defenisi tarjamah tafsiriyyah oleh Manna’ Khalil al-Qattan dalam kitabnya Maba>his fi Ulum Alqur’a>n, yaitu menjelaskan menjelaskan  makna kalimat dengan bahasa lain tanpa terikat kepada kaidah-kaidah atau struktur bahasa asal. Terjemahan  jenis ini tidak mengabaikan penjagaan kaidah dan struktur bahasa asal, selama penerjemah sanggup mengungkap makna dari teks yang diterjemahkan.

 Dalam proses terjemahannya, Tengku Mahjiddin merujuk kepada beberapa kitab-kitab tafsir di antaranya adalah kitab al-Mishba@hu al-Munir fi Tahdzibi Tafsi@r karya Ibn Kastir, Tafsir Al- Kasya@f karya al-Zamakhsyari, Jami’ al-Bayan ‘an ta’wi@li Alquran karya Ibnu Jarir al-Thabari. Kemudian untuk bahan pembanding terjemahan bahasa Indonesia, Tengku Mahjiddin merujuk Alquran Bahasa Indonesia susunan A. Hassan, Mahmud Yunus, H.B Jassin dan Alquran Terjemahan Kementrian Agama Republik Indonesia.

Demikian sekilas tentang terjemahan Al-Quran bersajak ini, karya tersebut tentu menambah warna dalam dunia dan kajian terjemahan Al-Quran di Indonesia. Wallahu A’lam.