Beranda blog Halaman 208

Menghindari Kesalahan Logika dalam Memahami al-Quran Menurut Al-Ghazali

0
Logika
Logika

Mi’yar al-‘Ilm adalah salah satu kitab babon dalam ilmu mantiq atau logika yang dikarang oleh Hujjah al-Islam, Imam al-Ghazali. Kata Mi’yar dalam bahasa Indonesia berarti timbangan, al-‘ulum berarti ilmu pengetahuan. Maka dengan sendirinya, judul kitab ini telah memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka akan menjumpai suatu “alat” untuk menimbang suatu kebenaran pengetahuan. Dalam pengantar kitab ini, al-Ghazali menyebut,

 كَذَلِكَ لَا يُفْرَقُ بَيْنَ فَاسِدِ الدَّلِيْلِ وَقَوِيْمِهِ وَصَحِيْحِهِ وَ سَقِيِمِهِ اِلَّا بِهَذَا الْكِتَابِ, فَكُلُ نَظَرٍ لَا يُتَّزَنُ بِهَذَا الْمِيْزَانِ وَلَا يُعَارُ بِهَذَا الْمِعْيَارِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ فَاسِدُ الْعِيَارِ غَيْرُ مَأْمُوْنِ الْغَوَائِلِ وَ الْأَغْوَارِ

“Begitu juga halnya perihal cara membedakan antara dalil yang rusak dengan dalil yang tepat, mana dalil yang absah dan dalil yang cacat. Keduanya tidak bakal bisa dibedakan kecuali dengan adanya kitab ini (dengan ilmu mantiq maksudnya, pen). Maka setiap pemikiran yang tidak ditimbang dan diukur terlebih dahulu dengan timbangan ilmu  ini (mantiq), ketahuilah bahwa pemikiran tersebut bukanlah pemikiran yang sempurna, artinya ia tidak bebas dari sesat pikir dan tipuan.” (Mi’yar al-‘Ilm, hal 26)

Untuk saat ini, di mana teknologi memudahkan akses terhadap penyebaran informasi, mau tidak mau kita akan selalu dihadapkan oleh berbagai macam informasi dan pemikiran. Utamanya dalam topik agama, setiap orang sekarang dengan bebas “mengaji” kepada seorang dai atau ustaz. Yang asli atau tidak.

Kita harus bersikap hati-hati terhadap kemudahan dan banyaknya sumber ilmu agama sekarang. Langkah-langkah memilah sumber mana yang relevan untuk kita jadikan pegangan perlu kita lakukan. Karena itulah kitab karya al-Ghazali ini agaknya perlu kita baca kembali dan pahami benar. Seperti judulnya, dengan belajar kitab ini kita akan memiliki “penimbang” untuk melakukan check and recheck terhadap limpahan informasi yang ada sekarang.

Baca Juga: Mengapa Al-Quran Mukjizat Terbaik? Ini Jawaban al-Suyuthi dalam al-Itqan

Kegunaan dari ilmu Mantiq tak lain untuk menjaga pikiran kita dalam merumuskan sesuatu agar tidak cacat pikir. Istilah yang digunakan logika dalam hal ini adalah logical fallacy. Syaikh al-Akhdluri, pengarang Sullam al-Munawraq -kitab yang menadzamkan pembahasan logika- berkata,

وَبَعْدُ فَالْمَنْطِقَ لِلْجَنَانِ # نِسْبَتُهُ كَالنَّحْوِ لِلِّسَانِ

فَيَعْتَصِمُ الْاَفْكَارَعَنْ غَيِّ الْخَطَا # وَعَنْ دَقِيْقِ الْفَهْمِ يَكْشِفُ الْغِطَا

“Lalu setelahnya, maka hubungan Mantiq dengan pikiran # sama seperti hubungan antara nahwu dengan kecakapan berbicara.

Maka Mantiq menjaga akal pikiran agar tidak tergelincir dan melakukan kesalahan kesalahan # dan membantunya menyingkap tebalnya awan pemahaman yang runyam.”

Memahami Qiyas (Silogisme)

اَلنَّظَرُ الثَّالِثُ فِى الْمُغَلَّطَاتِ فِى الْقِيَاسِ وَفِيْهِ فُصُوْلٌ

“Pembahasan yang ketiga tentang kesalahan-kesalahan logika di dalam logika deduktif. Di dalamnya terdapat beberapa sub tema pembahasan.”

اَلْفَصْلُ الْاَوَّلُ فِى حَصْرِ مَثَارَاتِ الْغَلَطِ

“Tema pertama terkait batasan kesalahan-kesalahan berpikir.”

Saya pilihkan bab ini, di mana al-Ghazali akan menjelaskan macam-macam kesalahan logika dalam penalaran deduktif. Setidaknya dengan begitu kita akan dapat mengetahui macam-macam cacat pikir dan dapat menghindarinya.

Al-Ghazali menerangkan bahwa tatkala premis-premis dalam silogisme telah memenuhi semua standar dan aturan-aturan agar dapat menghasilkan suatu kesimpulan, “Maka secara otomatis dan pasti kesimpulan yang dihasilkannya merupakan suatu kebenaran, tidak ada keraguan di dalamnya.”

Lalu katanya, “Apabila kesimpulan yang dihasilkan salah, tidak lain itu dikarenakan adanya cacat di dalam standar dan syarat-syarat silogisme itu sendiri.” Sang hujjah al-Islam ini kemudian mengklasifikasikan tujuh macam kesalahan penalaran dalam logika deduktif.

Kesalahan Logika dan Validitas Silogisme

اَلْمَثَارُ الْاَوَّلُ: اَنْ لَا تَكُوْنَ عَلَى شَكْلٍ مِنَ الْاَشْكَالِ الثَّلَاثَةِ

“Kesalahan pertama adalah kesimpulan (natijah) tidak dihasilkan dari tiga macam silogisme yang valid.”

Perlu diketahui sebelumnya bahwa untuk menyusun suatu silogisme yang menghasilkan kesimpulan setidaknya diperlukan tiga komponen utama. Premis Mayor (Mukaddimah Kubra), Premis Minor (Mukaddimah Sughra), dan Terma Penengah (Had Ausath). Contohnya:

Setiap manusia akan mati.           – Premis Mayor

Fulan adalah manusia                   – Premis Minor

Maka Fulan akan mati.                 – Kesimpulan

Terma penengah dalam contoh di atas adalah kata manusia. Sebab kata “manusia” layaknya tali yang menghubungkan antara “Fulan” pada premis minor dengan “takdir kematian”-nya pada premis mayor. Karena ikatan itulah kemudian dapat dihasilkan kesimpulan bahwa “Fulan akan mati”.

Nah, jadi inti dari kesalahan logika yang pertama ini adalah bahwa jika “ikatan”itu tidak dijumpai maka suatu silogisme tidak akan menghasilkan kesimpulan yang benar.

“Ikatan” tersebut adakalanya dengan jelas kita sadari tidak ada atau malah tidak jelas; samar. Contoh yang yang dengan jelas kita ketahui letak kesalahannya adalah silogisme berikut,

Semua rakyat Indonesia wajib bayar pajak.                – Premis Mayor

Fulan adalah Penyanyi.                                             – Premis Minor

Maka Fulan wajib bayar pajak.                                   – Kesimpulan

Pada contoh di atas, dengan jelas kita dapat mengetahui letak kesalahan berpikirnya. Tidak ada hubungan yang mengikat antara Premis Mayor dan Minor.

Namun terkadang, “ikatan” tersebut hilang tanpa kita sadari. Kata al-Ghazali,

وَ اِنَّمَا يَغْلَطُ إِذَا وَجَدَ مَا هُوَ مُشْتَرَكٌ لَفْظًا مَعَ اخْتِلَافْ الْمَعْنَى

“Hanya saja, kita akan sering salah dalam berpikir apabila “ikatan” tersebut sepintas nampak ada namun sebenarnya tidak ada.”

Pada bagian inilah kita sering terkecoh. Pasalnya, terdapat banyak pemahaman dan klaim beberapa oknum yang melandasinya dengan ayat al-Quran, yang sepintas terlihat benar namun sejatinya cacat logika nalar. Berikut salah satu contohnya.

Fulan telah memfitnah Said                     – Premis Minor

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan seperti disebut al-Quran al-Baqarah: 191.                                                                                                                          – Premis Mayor

Maka Fulan telah menzalimi Said dengan tindakan yang lebih kejam daripada membunuhnya.

Sejenak kita pahami bahwa silogisme di atas telah benar sebab terdapat “ikatan” di antara kedua premis.

Namun jika kita teliti, sebenarnya arti kata “fitnah” dalam kedua premis berbeda, ini mengakibatkan “ikatan” itu tidak lagi ada. Kata fitnah dalam premis minor memiliki arti telah berkata bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang.

Baca Juga: Ketika Nabi Ibrahim Menanyakan Allah tentang Cara Menghidupkan Orang Mati

Sedangkan kata fitnah dalam al-Quran pada ayat tersebut tidak sama maknanya seperti di atas. Ia malah berarti suatu tindakan penindasan, penganiayaan dan teror orang-orang kafir terhadap umat Islam. (Tafsir Anbarsari, hal 163)

Inilah macam kesalahan pertama dalam berpikir yang sering saya jumpai berkenaan dengan dakwah-dakwah yang mengatasnamakan al-Quran. Imam al-Ghazali menyebut bahwa, “Dan sangat sulit untuk mengetahui perbedaan di dalam macam kesalahan yang satu ini, dan ini juga merupakan kesalahan terebsar di dalam logika.”

Maka dari itu, kita harus lebih berhati-hati lagi dengan informasi yang beredar sekarang, lebih-lebih yang berkaitan dengan topik tafsir keagamaan. Wallahu A’lam.

Surat Al-Fajr Ayat 15 – 16: Kekayaan yang Sesungguhnya dan Kritik Atas Pandangan Materialistis

0
Kekayaan
Kekayaan

Jika kita bertanya tentang kebahagiaan kepada masyarakat modern, umumnya mereka menjawab memiliki kekayaan harta yang melimpah, populer dan punya jabatan. Ketiga hal itu merupakan indikator sebuah kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup.

Padahal jika asumsi tersebut benar, mengapa ada saja orang kaya yang stres dan ada artis yang bunuh diri? Dan kenapa ada tukang becak pinggir jalan masih bisa tersenyum kepada takdir? Ini artinya kebahagiaan atau kekayaan itu tidak bergantung kepada sesuatu yang sifatnya material semata. Memang benar manusia memerlukan materi, tapi itu bukanlah segala-galanya dan bukan juga ukuran kebahagiaan/kemuliaan.

Pandangan yang materialistis seperti ini dibantah dalam Alquran, tepatnya pada firman Allah Q.S. Al-Fajr [89]: 15-16 yang bunyinya,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“.

Baca Juga: Benarkah Ibn ‘Arabi Mendukung Paham Panteisme dalam Tafsirnya?

Al-Zuhaili dalam ­al-Tafsir al-Munir (15/612-613) menjelaskan bahwa pada ayat di atas Allah ingin menjelaskan kesalahan persepsi sebagian manusia yang menjadikan banyaknya harta sebagai tolak ukur keridhaan Allah, seakan-akan ketika mereka diberkan harta dan kenikmatan itu artinya mereka dimuliakan oleh Allah dan mereka adalah orang pilihan Allah, padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Persepsi keliru seperti ini tidak hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang tidak beriman, tetapi juga bisa menjangkiti orang-orang Islam yang belum mengetahui ataupun mengetahui hakikat dunia dan kehidupan ini.

Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (8/398) menyebutkan bahwa hakikatnya harta benda itu adalah ujian dan cobaan, bukan tolak ukur keridhaan Allah,

يقول تعالى منكرا على الإنسان في اعتقاده إذا وسع الله عليه في الرزق ليختبره في ذلك, فيعنقد أن ذلك من الله إكرام وليس كذلك, بل هو ابتلاء وامتحان.

Terjemah bebasnya, pada ayat ini Allah mengingkari anggapan sebagian manusia bahwa seandainya Allah meluaskan rizki mereka itu berarti Allah sedang memuliakan mereka, padahal anggapan ini tidaklah benar karena hakikatnya harta benda itu adalah cobaan (ibtila’) dan ujian (imtihan).

Dan sebaliknya pada ayat 16 sebagian manusia itu meyakini jika Allah ‘menahan’ rezeki mereka dan membuat mereka melarat, artinya Allah sedang murka dan menimpakan kehinaan kepada mereka. Persepsi ini juga keliru.

Dalam Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil (5/310) imam al-Baidhawi menjelaskan bahwa anggapan seperti ini juga tidak bisa dibenarkan dan sebenarnya berangkan dari sempitnya cara pandang terhadap kehidupan dan kebahagiaan serta buruknya prasangka kepada Allah.

Kesimpulan dari dua ayat ini sebagaimana disampaikan oleh al-Zuhaili (15/613-614) adalah bahwa kekayaan, harta dan jabatan bukanlah pertanda akan ridha-Nya Allah terhadap seorang hamba, begitu juga sebaliknya bahwa kefakiran dan ‘pas-pasan’ bukanlah pertanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba.

Karena harta dan semua yang Allah titipkan kepada seorang hamba adalah amanah dari-Nya, maka yang terpenting bukanlah soal banyaknya harta tersebut melainkan bagaimana cara dia mendapatkannya serta bagaimana cara dia bertanggung jawab atas amanah yang diberikan Allah tersebut.

Ada sebuah sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa kekayaan yang sebenarnya itu adalah hati yang kaya. Beliau bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: “لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ”. (رواه البخاري).

Terjemahnya, Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “kekayaan itu tidaklah diukur dengan banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan hati”. (HR. Bukhari).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Hukum dan Ketentuan Jumlah Mahar dalam Pernikahan

Jiwa atau hati yang kaya adalah kuncinya. Memiliki kekayaan harta  itu masih bagaikan pisau bermata dua, ia bisa mengantarkan kepada kebaikan dan juga keburukan. Namun orang dengan hati yang kaya akan mampu membuat semua yang ia miliki menjadi bermakna.

Terakhir, Al-Baidhawi mengatakan,

فإن التقتير قد يؤدي إلى كرامة الدارين, والتوسعة قد تفضي إلى قصد الأعداء والإنهماك في حب الدنيا.

Sungguh, terkadang kefakiran dan kekurangan itu bisa mengantarkan kepada kemuliaan di dunia dan akhirat, dan kelapangan harta terkadang bisa mengantarkan kepada permusuhan serta cinta dunia (dan oleh karena itu kelak akan mendapatkan balasan dari Allah).”

Demikianlah pandangan tentang materialism yang didasarkan pada Surat Al-Fajr ayat 15 – 16 dan keterangan dalam hadis Nabi saw. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Tafsir Maqashidi: Fondasi Mencapai Kebahagiaan Sejati

0
Fondasi Mencapai Kebahagiaan Sejati
Fondasi Mencapai Kebahagiaan Sejati

Diskursus tafsir maqashidi sejak tiga tahun kebelakang menjadi primadona di dunia Ilmu Al-Quran dan Tafsir, khususnya di Indonesia. Padahal, dalam konteks yang luas maqashid Al-Quran telah digaungkan oleh mufasir dan ahli ushul fikih. Sehingga, tidak heran ada kedekatan konsep antara maqashid al-syari’ah dengan maqashid Al-Quran. Berangkat dari itu, karena tafsir maqashidi bukan sebagai metode atau pendekatan belaka, melainkan mencapai pemahaman dalam mencapai hidup yang ideal. Tulisan singkat ini akan memberikan pandangan singkat terkait dengan maqashid Al-Quran sebagai fondasi mencapai kebahagiaan.

Namun, apabila dianalisis lebih mendalam ada perbedaan yang signifikan antara kedua konsep tersebut. Dr. Wasfi ‘Asyur Abu Zayd dalam bukunya, yang dialihbahasakan oleh  Ulya Fikriyati dengan judulnya Metode Tafsir Maqasidhi Memahami Pendekatan Baru Penafsiran Al-Quran menyebutkan, kami menetapkan bahwa maqashid Al-Quran lebih luas dan lebih mencakup banyak hal dibandingkan dengan maqashid al-syari’ah.

Baca juga: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 237: Bagaimana Mahar Jika Terjadi Perceraian dalam Pernikahan?

Dengan begitu, tafsir maqashidi bukan sebagai metode atau pendekatan belaka, melainkan mencapai pemahaman dalam mencapai hidup yang ideal. Misalnya, tafsir maqashid diekplorasi dengan moderasi Islam; atau dikombinasikan dengan konsep pribumisasi Islam. Tulisan singkat ini akan memberikan pandangan singkat terkait dengan maqashid Al-Quran sebagai fondasi menggapai kebahagiaan.

Fondasi Mencapai Kebahagiaan Sejati

Al-Quran telah memberikan perhatian kepada manusia sebagai salah satu objek diturunkannya kitab tersebut. Perhatian tersebut dapat dilihat dari bagaimana Al-Quran memberikan resep yang diinginkan oleh manusia itu sendiri. Kebahagiaan sejati menjadi salah satu dari sekian banyak cita-cita manusia. Kendati demikian, ada hubungan dekat antara keduanya.

Pertama, hubungan visi dan misi. Seseorang tidak akan memahami dan menjadikan Al-Quran sebagai teman dalam kesehariannya, kecuali memahami apa yang diinginkan Al-Quran. Visi Al-Quran diturunkan cukup beragam sampai yang bersifat universal, menjadi pedoman manusia; hingga yang khusus, seperti menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbaik.

Baik visi yang sifatnya umum atau khusus, visi tersebut merupakan cita-cita manusia ketika mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, Al-Quran mencantumkan langkah-langkah untuk menggapai visi tersebut. Sangat sederhana dan tidak sulit, Al-Quran memberikan tips supaya manusia mengikuti perintah Allah sebagai sumber Al-Quran dan Nabi Muhammad sebagai utusan dalam membumikan Al-Quran.

Kedua, hubungan proses. Titik penekanan maqashid Al-Quran adalah memenuhi nilai-nilai universal manusia, meliputi hidup, agama, jiwa, harta, dan keturunan. Namun, nilai-nilai tersebut merupakan sebagian dari proses menemukan maqashid Al-Quran.

Proses dalam menemukan maqashid Al-Quran pertama kali dengan memperhatikan redaksi ayat tersebut. Terkadang, dalam ayat tersebut disebutkan secara langsung tujuan diturunkannya Al-Quran. Ditempat lain tidak disebutkan secara rinci apa dan bagaimana tujuan diturunkannya ayat tersebut. Kasus tersebut harus dipecahkan dengan teknis yang lebih terperinci.

Baca juga: Mengapa Para Pecinta Rasulullah Sulit Mengisahkan Kemuliaan Nabi Saw?

Bagaimanapun proses menemukan maqashid Al-Quran adalah fondasi mencapai kebahagiaan sejati. Kenapa demikian? Karena manusia telah menemukan apa yang telah diinginkan oleh dirinya sendiri, telah memenuhi sesuai tujuan pedomannya (dengan tidak menyebutkan diinginkan Allah). Setelah menemukannya, manusia lebih yakin bahwa tujuan Al-Quran bukanlah sebagai beban, melainkan untuk memenuhi kebahagiaan.

Misalnya dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 38.

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًاۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  (٣٨)

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Ayat di atas merupakan salah satu contoh ayat yang secara eksplisit (jelas) disebutkan maqashidnya. Bahwa petunjuk atas perkara agama maupun dunia bagi manusia, Al-Quran telah melukiskannya. Maksudnya, Al-Quran yang disebut sebagai pedoman bahkan petunjuk pada dasarnya akan menjadi modal bagi manusia untuk meraih kesenagan.

Yang dimaksud dengan “petunjuk” di dalam ayat tersebut adalah petunjuk Allah. Muhammad Sayyid Thanthawi berpendapat, bahwa penggabungan lafaz هُدًى dengan lafaz هُدَايَ memiliki faedah mengagungkan sekaligus menegaskan bahwa petunjuk Allah lah yang paling berhak untuk diikuti; sehingga kita akan mendapatkan ketenangan di dunia dan kebahagiaan di akhiraat (al-Tafsir al-Wasith li Thanthawi 1,103).

Berangkat dari itu, bahwa petunjuk Allah, baik Al-Quran atau yang tersirat, tujuannya adalah menjaga manusia dari rasa sedih dan membentuk umat bahagia, di dunia dan di akhirat.

Kendati kebahagiaan menjadi keinginan semua manusia, namun untuk menggapainya tidak sederhana, seperti membalikan telapak tangan. Disamping maqashid di atas, ayat tersebut juga menampilkan maksud lain, salah satunya adalah prosesi dalam mencapai jiwa yang tenang.

Qs. Al-Baqarah [2]: 38 tersebut menurut Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya (al-Tafsir al-Wasith li Zuhaili 1, 24) berhubungan dengan kediaman Nabi Adam as dan Hawa, yakni di surga. Spesifiknya, ayat tersebut merupakan perintah Allah kepada Nabi Adam dan Hawa supaya meninggalkan surga.

Meninggalkan tempat tinggal bagi siapa pun pasti akan merasakan kesedihan, berat, dan penuh tantangan. Namun, Allah dalam ayat tersebut memberikan cara supaya tidak merasakan kesedihan yaitu dengan mengikuti petunjuk-Ku.

Dari analisis tersebut, maqashid yang didapatkan yaitu seseorang yang menginginkan kebahagiaan, kesenangan sejati, dan ketenangan jiwa pasti melewati terlebih dahulu kekecewaan dan kesedihan. Tetapi, setelah itu manusia akan menemukan petunjuknya dan jalannya untuk keluar dan sanggup beradaptasi dengan keadaan. Di sinilah manusia akan merasakan kesenangannya. Wallahu A’lam.

Mengapa Para Pecinta Rasulullah Sulit Mengisahkan Kemuliaan Nabi Saw?

0
Pecinta Rasulullah Sulit Mengisahkan Kemuliaan Nabi Saw
Pecinta Rasulullah Sulit Mengisahkan Kemuliaan Nabi Saw

Apa yang terjadi jika pembaca memiliki seseorang yang teramat dicinta, dapatkah memberikannya sanjungan yang memuaskan, yang mampu memberikan gambaran sepenuhnya, atau paling tidak dapat mewakili segenap perasaan yang tengah dirasa? Atau justru tak satu pun kata yang terucap? Bagaimana jika ternyata seseorang tersebut merupakan special case dan worth study, layak dipelajari?. Seseorang yang dimaksud tentulah kemuliaan Nabi Saw.

Maka tak mengherankan jika mulut para pujangga maulid, yang karyanya sering kita baca, menjadi ‘tergagap’ tatkala hendak mengisahkan kemuliaannya, shallallahu ‘alaih wa sallam. Al-Imam al-Jalil ‘Abdurrahman al-Diba‘iy dalam karyanya, al-Maulid al-Diba‘iy menyebutkan,

قَالَ بَعْضُ وَاصِفِيْهِ مَا رَأَيْتُ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ مِثْلَهُ. فَيَعْجِزُ لِسَانُ الْبَلِيْغِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْصِيَ فَضْلَهُ.

“Beberapa dari mereka yang menggambarkan Rasulullah Saw berkata, “Tak pernah aku melihat sebelumnya atau bahkan suatu hari nanti sosok seperti Rasulullah Saw”. Maka setiap tutur kata para pujangga akan menjadi lemah tatkala hendak membilang keutamaannya.”

Begitu juga dengan Al-Imam Muhammad bin Sa‘id bin Hammad bin ‘Abdullah al-Shanhajiy al-Bushiriy dalam Qashidah al-Burdah-nya, serta Al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyiy dalam maulid Simth al-Durar-nya secara berturut-turut,

فَإِنَّ فَضْلَ رَسُوْلِ اللهِ لَيْسَ لَهُ * حَدٌّ فَيُعْرِبُ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ

“Karena sungguh keistimewaan Rasulullah tak terbatas, hingga tak satu pun lisan mampu menuturkannya”

وَعَلَى تَفَنُّنِ وَاصِفِيْهِ بِوَصْفِهِ * يَفْنَى الزَّمَانُ وَفِيْهِ مَا لَمْ يُوْصَفِ

“Betapa pun luasnya pengetahuan seseorang akan keluhurannya, hingga waktu terhenti, akan selalu ada sesuatu yang belum ia dapati”

Penyebab Sulit Menggambarkan Kemuliaan Nabi Saw

Namun demikian, selain aspek psikologis yang mendasari kesulitan pengisahan kemuliaan Rasulullah Saw. sebagaimana dapat dimengerti dari syair-syair di atas, penulis memahami adanya faktor lain yang menyebabkan hal itu terjadi. Dimana posisi Rasulullah Saw. adalah seorang nabi yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an, hingga menciptakan sebuah hubungan yang tak terpisahkan antara pribadi Rasulullah dengan Al-Qur’an itu sendiri.

Baca juga: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 237: Bagaimana Mahar Jika Terjadi Perceraian dalam Pernikahan?

Hubungan ini lah yang disebut Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai The Living Al-Qur’an. Dalam ulasannya, Prof. Ahimsa menyebutkan bahwa Rasulullah Saw., dalam artian yang sebenarnya yakni sosok Muhammad, merupakan Al-Qur’an yang hidup. Hal ini dikarenakan kuatnya pemahaman di kalangan internal umat Islam bahwa akhlak Rasulullah Saw. merupakan Al-Qur’an.

Sehingga, dalam bingkai teori Prof. Ahimsa ini, gambaran terhadap Rasulullah Saw., etika misalnya, menjadi sangat sulit karena seorang ‘pujangga’ mau tak mau harus memahami juga nilai-nilai yang tersebutkan dalam Al-Qur’an. Padahal di sisi lain, pemahaman terhadap nilai Al-Qur’an sendiri selalu mengalami perkembangan. Maka menggambarkan (ihsha’) kemuliaan Rasulullah Saw. agaknya menjadi sesuatu yang barangkali hampir mustahil dilakukan.

Tendensi yang digunakan Prof. Ahimsa sebelumnya adalah sebuah hadis yang masyhur diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah r.a.,

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ، عَنْ الْحَسَنِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ، فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، أَخْبِرِينِي بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: ” كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ، أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ، قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ}”

“Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim, ia berkata: “Telah menceritakan kepada kami Mubarak, dari Al-Hasan, dari Sa‘ad bin Hisyam bin ‘Amir, ia berkata: “Saya mendatangi ‘Aisyah seraya berkata: “Wahai Umm al-Mu’minin, kabarkan kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam.” ‘Aisyah berkata: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Tidakkah engkau membaca firman Allah (Surah Al-Qalam [68]: 4): “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (HR. Ahmad)

Baca juga: Uraian Singkat Beberapa Mufasir Indonesia Modern dari A. Hassan hingga Quraish Shihab

Dalam hadis ini terlihat bahwa Sayyidah ‘Aisyah r.a. berusaha memberikan penjelasan terhadap karakter sifat Rasulullah Saw. dengan menggunakan kandungan ayat Al-Qur’an. Yang dalam bahasa kajian saat ini dikenal dengan syarh al-hadits bi al-qur’an, dimana karakter sifat yang disebutkan menjadi representasi dari hadis nabawiy, dan ayatnya merupakan Al-Qur’an itu sendiri.

Jika demikian, adanya relasi yang terbangun antara Al-Qur’an dan hadis nabawiy, maka aktifitas menggambarkan (ihsha’) Rasulullah Saw. menjadi semakin sulit. Karena seperti halnya Al-Qur’an, kajian mengenai hadis juga terus mengalami perkembangan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesulitan yang dialami oleh para pujangga maulid sebagaimana telah penulis sebutkan di awal, selain didasarkan pada faktor psikologis bahwa Rasulullah Saw. merupakan sosok yang menjadi utusan, juga disebabkan adanya tuntutan terhadap pemahaman yang menyeluruh terhadap nilai-nilai yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis nabawiy, yang mencakup aqwal, af’al, dan taqrir. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 237: Bagaimana Mahar Jika Terjadi Perceraian dalam Pernikahan?

0
Mahar Jika Terjadi Perceraian
Mahar Jika Terjadi Perceraian

Mahar sudah dikenal sejak masa masa jahiliyah, jauh sebelum Islam datang. Akan tetapi, mahar sebelum datangnya Islam, mahar bukan diperuntukkan bagi calon istri tetapi untuk ayah atau kerabat laki laki dari pihak istri. Karena konsep perkawainan menurut hukum adat pada masa Islam belum datang, perkawinan sama dengan transaksi jual beli, yaitu jual beli antara calon suami sebagai pembeli dan ayah atau keluarga dekat laki laki dari calon istri sebagai pemilik barang. Kemudian ketika Al-Qur’an turun, pranata mahar tetap di lanjutkan. Hanya saja konsepnya mengalami perubahan. Sebelum adanya Islam, mahar diberikan kepada calon mertua, maka setelah turunnya Al-Qur’an, mahar itu diperuntukkan bagi perempuan yang kan dinikahinya. Akan tetapi bagaimana mahar jika terjadi perceraian?

Baca juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (3): Surah Ibrahim Ayat 5

Jika terjadi perceraian sebelum berlangsungnya hubungan seksual (berhubungan badan) antara suami dan istri, maka suami diwajibkan membayar setengah dari mahar yang telah ditentukan. Allah swt. berfirman dalam surah al-Baqarah : 237 :

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Jika kamu menceraikan istri istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan itu lebih dekat kepada taqwa.

Quraish syihab dalam Tafsir al Misbah menjelaskan bahwa ayat ini turun dalam konteks apabila perceraian dijatuhkan sebelum terjadinya hubungan seksual, tetapi tetap disepakati kadar mahar sebelum perceraian, maka yang wajib diserhkan oleh suami adalah seperdua jumlah yang ditetapkan itu. Hal ini adalah karena salah satu tujuan perkawinan belum terlaksana, yaitu hubungan seksual.

Baca juga: Petunjuk Al-Quran tentang Cara Menilai Peserta Didik: Tafsir Surah Qaf Ayat 17-18

Akan tetapi apabila jumlah mahar belum ditentukan sebelum perceraian tejadi, maka suami wajib mata’ atau mat’ah (pemberian berdifat hiburan) kepada istrinya yang diceraikan, sebagai pengganti kekecewaan hatinya atau gangguan psikologis yang mungkin dideritanya. Adapun jumalahnya tida ditentukan, melainkan bergantung pada kekayaan dan kemampuan materi suaminya.

Para suami yang menceraikan istrinya sebelum bersetubuh, tidak diwajibkan membayar sesuatu, namun demikian sungguh bijaksana jika para suami memberikan sesuatu kepadanya, karena itu hendaklah kalian berikan suatu mut’ah (pemberian kepada mereka). Karena perceraian tersebut menimbulkan sesuatu yang dapat mengerutkan hati istri dan keluarganya.

Jika seandainya perceraian tejadi disebabkan salah satu dari suami istri meninggal, maka mahar sepenuhnya menjadi hak istri. Jika yang meninggal suaminya, maka mahar diserahkan kepada istri. Akan tetapi kalau istri yang meniggal, maka mahar diserahkan oleh suami kepada wali istrinya. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para fukaha. Karena menurut mereka syarat wajib mahar itu ada dua, yaitu dukhul atau mati (Lihat Wahbah al Zuhaili, al Fiqhul al Islami wa Adillatuh, Juz VII, hal. 288 290).

Baca juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (2): Surah Hud Ayat 120

Ayat ini juga mengindikasikan bahwa perceraian sebelum terjadinya hubungan seksual tidak dilarang. Dalam perceraian yang demikian, suami tidak membayar mahar tetapi ia wajib membayar uang penghibur (mutah) kepada istri yang diceraikannya.

Wallahu a’lam bis Shawab []

Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (3): Surah Ibrahim Ayat 5

0
dalil maulid Nai dalam Al-Quran (3)_surah Ibrahim ayat 5
dalil maulid Nai dalam Al-Quran (3)_surah Ibrahim ayat 5

Melanjutkan artikel yang lalu, kali ini dalil maulid Nabi yang ketiga, Dr. Alwi bin Ahmad Al-Idrus menukil surah Ibrahim [14]: 5 berikut,

وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ……

“..dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur.”

Baca Juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58

Apa maksud ‘hari-hari Allah’?

Maksud dari hari-hari Allah adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada manusia, baik berupa nikmat maupun siksaan yang mereka alami. Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal al-Quran menuturkan, “semua hari adalah hari Allah. Tetapi maksud dari ayat tersebut adalah hari-hari terjadinya peristiwa bagi manusia atau sekelompok golongan, berupa nikmat atau siksaan seperti kisah peringatan Musa kepada kaumnya yang akan diceritakan kemudian. Hari-hari tersebut kemudian disebut dengan ayyam (hari-hari) mereka, seperti halnya hari-hari bagi kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan kaum-kaum setelahnya. Inilah yang maksud hari-hari (Allah).”

Ayat tersebut, meski diturunkan untuk menyinggung Bani Israil, tetapi hukumnya adalah umum, sebagaimana kaidah usul katakan, al-‘ibratu bi ‘umum al-lafzhi la bi khusus al-sabab; makna ayat dipahami dari lafalnya yang umum, bukan sebabnya yang khusus. Karena tujuan turunnya ayat tersebut tak lain adalah sebagai peringatan dan pelajaran untuk manusia seluruhnya.

Jika peristiwa-peristiwa penting yang dialami kaum terdahulu diperintahkan untuk mengingatnya, tidakkah peristiwa lahirnya Nabi Muhammad Saw dan kisah hidup beliau lebih penting dan lebih perlu untuk diingat? Pun kita sudah mafhum, bahwa nikmat Allah terbesar bagi hambaNya adalah adanya Nabi Muhammad, sosok yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kegemilangan.

Tak sedikit sarjana Eropa yang mengakui Nabi Muhammad sebagai sosok luar biasa. Sebagai contoh, sebutlah Tolstoy. Ia mengakui Nabi Muhammad sebagai seseorang yang berhasil melepaskan suatu umat yang hina dari belenggu-belenggu tradisi yang buruk. Yang telah membuka jalan bagi umatnya untuk meningkatkan mutu dan menjadi umat yang berkemajuan. Tolstoy juga mengatakan bahwa ajaran (syariat) yang dibawa Muhammad kelak akan memimpin dunia karena kesesuaiannya dengan akal dan etika (Abdullah Salih al-Jumah, Udzama’ bila Madaris).

Senada dengan Tolstoy, Tarif Khalidi dalam Images of Muhamad (2021) mengutip Jad al-Maula, “masa sebelum kedatangan Muhammad ditandai oleh fakta bahwa seluruh dunia saat itu tertutupi oleh awan tebal praktik politeisme, kebodohan, keburukan, dan ketidakadilan, di mana kejahatan menindas moralitas dan orang-orang jahat menduduki kekuasaan di seluruh bangsa. Oleh karena itu, kemunculan Muhammad menjadi keharusan mutlak, yang pada gilirannya melakukan reformasi masyarakat secara besar-besaran yang pernah dilakukan oleh manusia, sebelum atau setelah kedatangannya.”

Baca Juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (2): Surah Hud Ayat 120

Nabi Muhammad saw. itu nikmat teragung

Pada artikel yang lalu, telah disebutkan bahwa rahmat serta nikmat paling agung yang diberikan Allah kepada hambaNya adalah kedatangan Nabi Muhammad Saw. Dalam kitabnya, al-Risalah, Imam Syafii menuturkan bahwa ketercerahan umat hingga sekarang ini adalah sebab adanya Nabi Muhammad Saw.

“Semoga Allah membalas Nabi Muhammad dengan sebaik-baik balasan pengutus kepada yang diutus. Nabi Muhammad Saw, beliau lah yang menyelamatkan kita dari kehancuran, yang menjadikan kita sebagai umat terbaik sepanjang sejarah manusia, yaitu mereka yang memeluk agama yang diridai (Islam). Tiada nikmat yang kita rasa, baik nikmat lahir dan batin, yang dengan nikmat tersebut kita dapat keberuntungan di dalam agama dan dunia ataupun terhindarkan dari hal-hal yang dibenci, kecuali semua itu berkat Nabi Muhammad Saw.”

Dengan demikian, sudah barang tentu umat Muslim mesti bersyukur atas nikmat teragung itu. Keharusan bersyukur ini ditunjukkan oleh akhir ayat di atas,

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur.”

Jika hari-hari Allah tersebut, sebagaimana telah di jelaskan di depan, berupa siksaan atau bencana, maka kita harus menyikapinya dengan sabar. Dan jika hari-hari Allah berupa nikmat dan anugerah, maka bersyukur adalah sikap yang paling tepat.

Ibn ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir menuturkan, “…keberadaan ayat yang berbeda-beda, sebagian ayat nasehat dan larangan, sebagian lagi ayat nikmat dan siksaan yang berkaitan seperti لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ  (bagi setiap yang sangat sabar dan bersyukur). Kata sabar pada potongan ayat tersebut memiliki kesesuaian dengan larangan. Sebab lazimnya peringatan itu membuat nafsu untuk melakukan kebalikannya (kebalikan larangan berarti perintah), takut kalau-kalau akibat yang buruk menimpanya jika ia melakukan sesuatu yang dilarang. Sementara pemberian nikmat, itu membuat nafsu untuk bersyukur. Dengan demikian, penyebutan dua sifat beriringan tersebut mengantarkan pada pemahaman bahwa ayyamullah (hari-hari Allah) ada yang berupa nikmat dan yang berupa siksa.

Menukil Syaikh Abd al-Fattah Ali Syihab dalam al-I’lam bi Fatawa Aimmah al-Islam haula Maulidih ‘alahis shalah was salam, beliau menuturkan, “kami, umat Muslim, memeringati hari lahir (maulid) kekasih kita, Nabi Muhammad Saw mengikuti ulama salafus salih kami, dengan harapan memperoleh syafa’at beliau Saw untuk kami. Kami juga memeringati malam Lailatulqadr sebagai sarana dakwah selain juga memegang teguh al-Quran yang diturunkan pada malam tersebut. Seperti halnya kami memeringati hijrah beliau Saw, sebagai pengingat kepatuhan mutlak dan pengorbanan tinggi yang dilakukan oleh beliau Saw. Seperti halnya juga kami memeringati momen-momen penting dari peperangan dan kemenangan beliau Saw beserta para sahabat dalam menegakkan panji Islam.”

Bukankah semua yang telah disebutkan merupakan ayyamullah (hari-hari Allah) yang mesti umat Muslim ingat, supaya apa yang ditinggalkan Allah baik berupa pemberian maupun bencana menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kaum muslimin, sehingga mereka dapat menyongsong masa depan berbekal pelajaran yang diberikan Allah melalui hari-hari penting tersebut.

Baca Juga: Meneladani Akhlak Nabi Muhammad saw di Akhir Bulan Maulid

Menutup artikel kali ini, mari renungkan kembali makna surah Ibrahim [15] ayat 5 secara lengkap sebagai dalil maulid Nabi dengan menghadirkan Kanjeng Nabi di dalamnya,

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

“Sungguh Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan (membawa) tanda-tanda (kekuasaan) Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), “Keluarkanlah kaummu dari berbagai kegelapan kepada cahaya (terang-benderang) dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur.”

Shallu ‘ala An-Nabi Muhammad!

Petunjuk Al-Quran tentang Cara Menilai Peserta Didik: Tafsir Surah Qaf Ayat 17-18

0
Petunjuk Al-Quran tentang memberi nilai peserta didik
Petunjuk Al-Quran tentang memberi nilai peserta didik

Penilaian sikap menjadi aspek penting yang wajib dilakukan oleh seorang pendidik terhadap anak didiknya. Aspek afektif atau sikap menjadi poin penilaian utama yang disoroti selain penilaian kognitif (pengetahuan) dan penilaian psikomotorik (keterampilan). Tiga aspek tersebut menjadi poin dalam menilai peserta didik yang populer digunakan oleh para pendidik.

Terlebih pada kurikulum 2013, penilaian sikap lebih diutamakan dibandingkan dengan penilaian pengetahuan atau keterampilan. Sebab sikap sejatinya adalah buah dari pembelajaran yang dilakukan. Penguasaan terhadap pengetahuan yang memunculkan keterampilan adalah untuk membentuk sikap atau akhlak yang baik terutama dalam tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

Berdasarkan pedoman penilaian pendidikan (Kemendikbud, 2017) sebagaimana dikutip oleh Mulyasa, bahwa penilaian sikap merupakan kegiatan untuk mengetahui perilaku spiritual dan sosial peserta didik yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar kelas sebagai hasil pendidikan.

Demikian penting penilaian sikap untuk dilakukan sehingga menjadi penilaian utama yang diwajibkan dalam kurikulum 2013. Namun bagaimana sesungguhnya Al-Qur’an memberi percontohan tentang penilaian sikap ini? Allah Swt. berfirman dalam QS. Qaf [50]: 17-18 sebagai berikut.

إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ

Terjemah: “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf [50]: 17-18)

Baca Juga: Belajar Menjadi Pendidik Profesional Melalui Kisah Dakwah Nabi Yunus

Tafsir QS. Qaf [50]: 17-18 tentang Malaikat yang Mencatat Amal

Ibnu Katsir menjelaskan dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun melainkan senantiasa di bawah pengawasan malaikat yang mencatatnya, tidak ada sepatah kata dan satu gerakan pun yang luput dari pengawasan malaikat.

Al-Ahnaf bin Qais mengatakan: “Malaikat yang berada di sebelah kanan mencatat kebaikan, yang ia sekaligus menjaga malaikat yang menempati sebelah kiri. Jika seorang hamba melakukan kesalahan, maka malaikat sebelah kanan akan berkata kepadanya” ‘Tahan dulu!’ Jika ia memohon ampunan kepada Allah, maka ia akan mencegahnya agar tidak mencatat dan jika hamba tersebut tidak mau memohon ampun, maka barulah malaikat mencatatnya.”

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir juga menjelaskan bahwa meskipun Allah Swt. mengetahui segala yang ada dalam hati manusia, Dia ingin tetap menugaskan dua malaikat yang bertugas mencatat dan mengawasi perbuatan manusia sebagai bukti sehingga mereka tidak bisa mengelaknya.

Allah menyatakan lebih dekat kepada manusia dari setiap hal yang dekat darinya ketika dua malaikat pencatat amal mencatat segala yang ia ucapkan dan kerjakan. Di sebelah kanan dan kirinya ada satu malaikat yang senantiasa menyertainya. Qa’iid adalah orang yang duduk bersamamu. Malaikat sebelah kanan bertugas mencatat segala amal kebajikan, sedangkan malaikat sebelah kiri mencatat segala amal keburukan.

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ كِرَامٗا كَٰتِبِينَ يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ

Terjemah: “10. Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), 11. Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), 12. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Infithar [82]: 10-12)

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan maksud dari kalimat   وإن عليكم لحفظين “padahal sesungguhnya bagi kamu ada yang mengawasi,” yaitu pengawas yang berasal dari golongan malaikat.

Shihab juga menambahkan bahwa kalimat tersebut ditujukan kepada semua manusia yang mukallaf (dewasa dan berakal) tanpa terkecuali. Demikian pula kata على  yang terdapat dalam firman-Nya عليكم  mengisyaratkan betapa besar kuasa malaikat untuk mengawasi dan memperhatikan perbuatan manusia. Apalagi Allah yang berada pada kedudukan lebih tinggi dari malaikat.

Baca Juga: Ragam Pemaknaan Kata Rabb dalam Surah al-Fatihah Ayat 2 dan Kaitannya dengan Pendidikan

Evaluator (Malaikat) Allah Sebagai Pencontohan Penilaian

Melalui QS. Qaf [50]: 17-18 yang diperkuat dengan QS. Al-Infithar [82]: 10-12 di atas telah menggambarkan adanya evaluator atau penilai yang Allah kirimkan untuk mencatat segala perbuatan manusia ketika hidup di dunia. Pencatatan tersebut meliputi amal baik dan juga amal buruk.

Namun tidak semua amal manusia dicatat mentah-mentah begitu saja, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir di atas bahwa sebelum mencatat malaikat akan menimbang dan memberi kesempatan terlebih dahulu ketika manusia melakukan amal jahat hingga ia memohon ampun kepada Allah. Namun ketika tidak niatan untuk taubat, maka barulah malaikat akan mencatat amal buruknya.

Demikian keadilan yang diberikan Allah kepada manusia begitu luar biasa, bahkan saat manusia melakukan kezhaliman kepada-Nya sekalipun. Selain itu, dalam ayat tersebut Allah mengajarkan tentang pentingnya penilaian kepada manusia untuk melihat sejauh mana kualitas amal kebaikan ataupun amal keburukannya.

Kontekstualisasi ayat ini adalah percontohan bagi pendidik dalam menilai peserta didiknya. Pertama, penilaian harus dilakukan secara autentik (sebagaimana adanya) yang terkait dengan penilaian sikap baik atau penilaian sikap buruk. Namun seorang pendidik, harus memberi kesempatan kepada peserta didiknya untuk berubah ketika sikap yang ditunjukkan tidak baik.

Hal tersebut sebagaimana Allah contohkan melalui malaikat yang memberi kesempatan bertaubat kepada manusia sebelum mencatat amalnya. Kedua, Allah juga mencontohkan tentang pentingnya proses validasi penilaian untuk melihat sejauh mana tingkat keakuratan hasil penilaian tersebut.

Sebagaimana yang dilakukan Allah dalam menilai amal baik manusia. Sejatinya, Allah mengetahui secara pasti setiap perbuatan manusia bahkan lebih tahu dari siapapun. Namun Allah tetap melibatkan malaikat dalam mencatat amal manusia agar perekaman amal tersebut tidak terbantahkan lagi. Demikian pentingnya seorang pendidik melibatkan peserta didik ataupun pendidik yang lain dalam proses penilaian sikap. Hal ini bertujuan agar data penilaian betul-betul valid dan terhindar dari subyektivitas yang berlebihan.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Inilah Tujuan Pendidikan Islam

Penutup

Penilaian yang baik adalah penilaian yang mengedepankan keadilan. Hal ini ditunjukkan dengan cara seorang guru yang menilai peserta didik sebagaimana adanya tanpa dikurangi atau dilebihkan sedikit pun. Terkhusus pada penilaian sikap, pendidik semestinya betul-betul cermat dalam mengobservasi maupun meneliti sikap peserta didik sebagaimana malaikat Allah yang begitu apik dalam mencatat amal manusia.

Selain dirinya sendiri, pendidik juga semestinya melibatkan orang lain baik teman sebaya peserta didik atau melalui pendidik yang lain. Hal ini bertujuan agar hasil penilaian benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana Allah yang Maha Tahu tetapi tetap melibatkan malaikat dalam mencatat amal manusia. Wallahu A’lam.

Surat Al-Ankabut Ayat 30: Doa Nabi Luth as. yang Diabadikan Allah SWT dalam Al-Quran

0
Doa Nabi Luth dalam Al-Quran
Doa Nabi Luth dalam Al-Quran

Nabi luth as merupakan dzurriyah nabi Ibrahim as. Beliau adalah nabi yang berbeda, pada dasarnya nabi-nabi lainnya bertugas untuk menyampaikan ajaran tauhid, tetapi nabi Luth diutus menjadi nabi dan rasul atas dasar misi yakni meluruskan suatu kebiasaan buruk yang dialami masyarakat pada saat itu, tetapi hal itu bukan berarti menafikan bahwa beliau tidak mengajarkan ajaran tauhid. Kisah Nabi Luth diabadikan dalam Al-Quran. Dalam kisah ini terdapat doa Nabi Luth kepada Allah, ia mengadu tentang perbuatan kaumnya kepada Allah.

Buruknya Perilaku Kaum Nabi Luth as.

Kisah nabi Luth banyak di muat dalam al-Qur’an yang terkenal dengan kisah kaumnya yang melakukan kemaksiatan yang belum pernah dilakukan seorang pun sebelumnya yaitu homoseksual, banyak ayat yang membahas mengenai kisah tersebut antara lain:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 28)

Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya Al-Wajiz menjelaskan bahwa maksiat yang dilakukan kaum nabi Luth atau yang dikenal dengan kaum Sodom adalah praktik perbuatan buruk yang dibenci oleh orang-orang normal, yaitu ‘mendatangi’ dubur laki-laki, dan maksiat tersebut sama sekali belum pernah dilakukan oleh kaum-kaum sebelumnya.

Kemaksiatan yang dilakukan kaum Sodom adalah kebiasaan baru yang buruk, hal itu dilakukan bukan karena tidak ada wanita tetapi memang kaum Sodom adalah kaum yang durhaka. Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwasannya selain mereka berbuat keji dalam seks, mereka juga melakukan perbuatan yang tidak layak dipertontonkan di khalayak umum seperti mereka kerap kali saling mengeluarkan angin (kentut) kemudian tertawa, dan mereka juga sering mengadu kambing, domba dan berlomba-lomba mengadu suara ayam. (Ibnu Katsir, 2020 juz 3: 369).

Nabi Luth seringkali mengingatkan kaumnya dan menyuruh untuk meninggalkan perbuatan keji tersebut, tetapi hal itu sama sekali tidak mendapat respon baik dari kaumnya. Bahkan banyak dari kaumnya itu membantah anjuran dari nabi Luth dan lebih parahnya mereka tidak segan-segan mengusir nabi Luth beserta para pengikutnya untuk pergi dari kotanya.

Baca Juga: Doa Nabi Ayyub as dalam Al-Quran untuk Kesembuhan Penyakit

Permohonan Nabi Luth as Kepada Allah SWT

قَالَ رَبِّ ٱنصُرْنِى عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْمُفْسِدِينَ

“Ya Tuahnku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 30).

Begitulah doa nabi Luth dalam keadaan terdesak atas kedurhakaan umatnya. Lafadh ٱنصُرْنِى menurut Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya memaknai sebagai turunnya azab, dan lafadh  ٱلْمُفْسِدِينَ mempunyai makna kaum yang rusak dan durhaka dengan bersetubuh terhadap sesama lelaki dan juga selalu mengada-adakan maksiat. (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Munir, 1418 H juz 20: 229)

Baca Juga: Pesan di Balik Doa Nabi Ibrahim dalam Surah Asy-Syu’ara Ayat 83-89

Al-Sa’di mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa pada saat itu nabi Luth berputus asa dan menurutnya umatnya telah pantas mendapatkan azab. Maka dari itu nabi Luth sampai berdoa memohon pertolongan Allah agar umatnya diberikan azab yang setimpal dengan apa yang umatnya perbuat. Setelah itu para malaikat menyuruh nabi Luth beserta keluarganya (selain istri) untuk segera pergi meninggalkan kota Sodom karena ada riwayat yang menyebutkan bahwa istri nabi Luth termasuk orang yang tertinggal. Kemudian pada saat itulah Allah menurunkan azab kepada kaum Sodom berupa hujan batu. Berikut firman Allah dalam al-Qur’an:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَرًا ۖ فَسَآءَ مَطَرُ ٱلْمُنذَرِينَ

“Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka sangat jelek hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu” (Q.S. Asy-Syuara [42]: 173)

Setelah Allah membinasakan kaum Nabi Luth dan menyelamatkan Luth dan pengikutnya, Allah membinasakan tempat tinggal mereka dengan menjadikannya laut mati yang airnya busuk yang terletak di Baitul Maqdis bersebelahan dengan negeri al-Kark dan Asy-Syawik. Tempat tersebut dijadikan Allah sebagai jalan yang biasa dilalui siang dan malam hari oleh musafir, supaya orang-orang dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

Dengan dijadikannya tempat kaum Nabi Luth sebagai laut mati, umat Islam seharusnya menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran, tanda kekuasaan Allah dalam menurunkan azab bagi mereka yang membangkang akan perintahnya, mendustai utusannya dan mengikuti hawa nafsu.

Dalam kitab Safwah al-Tafasir, As-Shabuni berkata: “Dan ketahuilah bahwa salah seorang nabi tidak akan mendoakan suatu kaum kepada kehancuran kecuali dia mengetahui bahwa sesungguhnya ketidakhadiran mereka lebih baik dari pada keberadaan mereka”. Wallahua’lam.

Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (2): Surah Hud Ayat 120

0
dalil maulid nabi dalam Al-Quran
dalil maulid nabi dalam Al-Quran

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini kita akan membaca dalil kedua tentang kebolehan merayakan peringatan Maulid Nabi yang diambil dari petunjuk Al-Quran. Dalil maulid Nabi yang kedua ini yaitu Hud [11]: 120.

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Nabi Muhammad), yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang mukmin.”

Manthuq Surah Hud [11]: 120

Manthuq adalah bentuk isim maf’ul kata nathaqa-yanthiqu yang berarti pembicaraan. Sedangkan secara istilah, menurut al-Amidi dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, manthuq adalah makna yang dipahami dari petunjuk lafal secara qath’i terhadap pembicaraan. Sementara menurut al-Juwaini dalam al-Burhan adalah pengertian yang diperoleh dari apa yang tersurat.

Jika kita membaca Hud [11]: 120, maka manthuq ayat tersebut adalah hati Rasulullah Saw menjadi teguh dan tenang ketika mendengarkan kisah-kisah rasul terdahulu.

Al-Thabari dalam tafsir ayat “maa nutsabbitu bihi fu`adaka.. kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu,” ini meneruskan, “maka jangan risau dengan pendustaan yang dilakukan oleh kaummu, dan bantahlah apa yang mereka tuduhkan, jangan kausempitkan dadamu,” kemudian diteruskan dengan ayat berikut,

فَلَعَلَّكَ تَارِكٌۢ بَعْضَ مَا يُوْحٰىٓ اِلَيْكَ وَضَاۤىِٕقٌۢ بِهٖ صَدْرُكَ اَنْ يَّقُوْلُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ جَاۤءَ مَعَهٗ مَلَكٌ ۗاِنَّمَآ اَنْتَ نَذِيْرٌ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ ۗ

“Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu menjadi sempit karena (takut) mereka mengatakan, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta (kekayaan) atau datang malaikat bersamanya?” (Hud [11]: 12).

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Mafhum Muwafaqah Surah Hud [11]: 120

Kita urai definisi mafhum terlebih dahulu. Mafhum adalah makna yang dipahami dari lafal bukan menurut yang dibicarakan, sebagaimana definisi yang diberikan al-Amidi dalam kitab yang sama. Sementara al-Juwaini dalam al-Burhan mendefinisikan mafhum sebagai pengertian yang diperoleh dari arti yang tidak disebutkan secara jelas.

Kemudian mafhum terbagi menjadi dua; muwafaqah (yang sesuai antara yang disebutkan dengan yang tidak disebutkan) dan mukhalafah (yang tidak disebutkan berbeda dengan yang disebutkan).

Lalu kita kembali ke Hud [11]: 120. Dari ayat yang telah disebut di atas, kita menemukan mafhum muwafaqah-nya bahwa jikalau Nabi Muhammad Saw—yang derajatnya sangat luhur—Allah teguhkan dan tenangkan hati beliau Saw dengan kisah-kisah rasul terdahulu, maka kita—umat muslim, tentu lebih butuh kisah-kisah Nabi Muhammad saw supaya hati kita menjadi teguh dan tenang.

Metode ihtijaj (berhujah) dengan cara mafhum awlawi atau qiyas aula di atas adalah termasuk dalil yang kuat, dan meninggalkan cara tersebut sama halnya dengan bertolak belakang dengan manhaj al-Quran dan sunnah. Contoh lain penggunaan qiyas aula adalah dalam al-Isra’ [17]: 23

فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“…maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Sekadar mengucapkan kata “ah” (atau kata-kata kasar lainnya) kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama, apalagi memperlakukan mereka lebih kasar, dengan memukul, misalnya? Jika ada seseorang yang mengingkari hal tersebut dengan beranggapan hanya “ah” yang dilarang, dan selainnya boleh, maka ia telah melakukan bid’ah senyata-nyatanya, sama seperti kelompok Dhahiriyah yang mengada-ada itu.

Baca Juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

Contoh lain adalah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ketika Nabi Muhammad Saw tinggal di Madinah, beliau bertemu dengan seorang Yahudi yang sedang berpuasa di hari Asyura. Nabi Muhammad bertanya, “dalam rangka apa kalian berpuasa?” jawabnya kaum Yahudi, “hari ini adalah hari agung. Hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Firaun beserta kaumnya ke dalam laut. Lalu Musa berpuasa di hari itu sebagai wujud syukur, dan kami melakukan hal yang sama.”

Kemudian Nabi Muhammad membalas, “kami lebih berhak meniru Musa daripada kalian.” Lantas Nabi Muhammad berpuasa di hari itu dan memerintahkan para sahabat sekalian untuk turut berpuasa.

Dari riwayat tersebut, Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata, “dari riwayat tersebut, sudah semestinya kita bersyukur kepada Allah Ta’alaa atas anugerah yang Dia berikan di hari-hari tertentu, baik berupa nikmat yang dicurahkan ataupun bahaya yang dihilangkan. Dan hari-hari itu diulang setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan berbagai ibadah seperti salat, puasa, membaca al-Quran, sedekah, dan lain sebagainya. Lalu adakah nikmat yang lebih agung daripada nikmat lahirnya Muhammad, Sang Nabi Pembawa Rahmat, shallallahu ‘alaihi wa sallam?” (al-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawa).

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 56: Perintah Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Faidah Kisah-Kisah

Di antara faidah utama kisah-kisah al-Quran, dan kisah-kisah lain pada umumnya adalah manthuq dari Hud [11]: 120 itu sendiri, yaitu meneguhkan hati Rasulullah dan hati umatnya atas agama Allah. Selain itu, kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar sehingga pesan-pesan yang terkandung tertancap di dalam jiwa, sebagaimana surah Yusuf [12]: 111,

لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ

“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.”

Senada dengan hal tersebut, Ibn Abd al-Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhluhu mengutip kalam Imam Abu Hanifah tentang kisah para ulama, “kisah-kisah ulama dan kebaikan-kebaikan mereka itu lebih aku sukai daripada fikih, sebab kisah-kisah mereka merupakan adab dan akhlak yang mesti ditiru oleh suatu kaum.”

Jika demikian, tentu kisah hidup Nabi Muhammad Saw. lebih utama untuk kita simak dan pelajari. Inilah yang kami maksud dengan dalil maulid Nabi, karena dalam peringatan maulid Nabi, kita kembali diingatkan dengan kisah Nabi Muhammad saw. Hal itulah yang juga diajarkan Imam Ali Zainal Abidin kepada para ulama dengan berkata, “kami mengajar dan menceritakan ekspedisi-ekspedisi (dan kisah hidup) Rasulullah Saw. seperti halnya kami mengajarkan setiap surah dalam al-Quran.” Bukan hanya sekadar kisah, tetapi kebaikan dunia-akhirat lah yang kita peroleh dari kisah-kisah hidup Nabi Muhammad Saw. Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad.

Kunci Ketiga dan Keempat Menggapai Kebahagiaan: Beribadah dan Jujur

0
Kebahagiaan
Kunci Kebahagiaan

Kunci kebahagiaan yang ketiga adalah beribadah. Ibadah menjadi salah satu kunci hidup yang sangat penting. Manusia diciptakan oleh Allah untuk satu tujuan, yaitu beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Manusia yang sudah beribadah kepada Allah adalah manusia yang hidup sesuai dengan tujuan hidupnya. Manusia yang tidak beribadah adalah manusia yang hidup di dunia tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Kata Allah di dalam Al-Qur’an, “Aku tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepada Allah swt.”

Ibadah harus dilakukan dengan khusyuk. Hanya dengan cara itu ibadah kita diterima oleh Allah swt. Ibadah yang kita lakukan tidak hanya sebagai kewajiban kita kepada-Nya, akan tetapi ibadah itu dilakukan untuk manusia itu sendiri. Ibadah yang dilakukan secara khusyuk akan menghasilkan ketenangan batin ketika di dunia dan menghasilkan kenikmatan rohani di akhirat.

Baca Juga: Kunci Pertama Menggapai Kebahagiaan: Beriman Kepada Allah Swt

Secara garis besarnya ibadah dapat dibagi atas 3 kategori, yaitu: 1) beriman (berakidah yang benar), 2) berislam (beribadah yang benar), dan 3) berihsan (berakhlak yang benar).

Allah memerintahkan kepada manusia untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini antara lain dinyatakan di dalam QS. Al-Baqarah/2: 21: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

Hadis riwayat Ahmad dari Abdullah Ibn Umar: “Dari Abdullah ibn Umar, ia berkata. Rasulullah memegang badanku lalu berkata: Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihatnya, dan hiduplah di dunia ini bagaikan engkau seorang asing atau seorang perantau. HR Ahmad.”

Hadis riwayat Ahmad ibn Hanbal dari Abu Umamah: Dari Abu Umamah, ia berkata. Aku berhaji bersama Rasulullah saw pada haji wada’. Lalu beliau mengucapkan al-hamdulillah, dan memuji kebesaran Allah. Kemudian beliau berkata, ketahuilah bahwa barangkali kalian tidak akan melihat lagi aku sesudah tahun ini, ketahuilah bahwa barangkali kalian tidak akan melihat lagi aku sesudah tahun ini, ketahuilah bahwa barangkali kalian tidak akan melihat lagi aku sesudah tahun ini, lalu tiba-tiba seseorang yang berbadan tinggi berdiri, lalu dia bertanya kepada Rasulullah: “Apa yang harus kami lakukan. Rasulullah menjawab: “Sembahlah Tuhanmu, lakukanlah salat lima waktumu, puasalah pada bulan Ramadan, berhajilah ke baitullah, tunaikanlah zakatmu dengan baik untuk membersihkan dirimu, agar kamu memasuki surga Tuhanmu”. HR Ahmad.

Kunci kebahagiaan nomor keempat adalah Jujur. Ia adalah salah satu kunci dalam kehidupan. Bahkan, jujur adalah modal utama dalam kehidupan. Orang yang jujur adalah orang yang dapat dipercaya. Jujur dalam perkataan adalah mengucapkan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan. Jujur dalam perbuatan adalah melaksanakan sesuatu sesuai dengan aturan dan ketetapan yang ada. Kalau Anda sudah membiasakan diri jujur dalam perkataan maupun perbuatan, maka Anda akan selalu dipercaya oleh orang lain. Akan tetapi kalau Anda pernah tidak jujur atau khianat, maka Anda tidak akan dipercaya selama hidupmu.

Jujur akan menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan, tidak hanya bagi dirimu, tetapi juga bagi orang lain. Jujur tidak hanya baik bagimu di dunia ini, tetapi juga baik bagi dirimu di akhirat. Jujurmu akan mengantarkan engkau untuk mencapai kenikmatan akhirat. Jujurmu adalah perwujudan dari iman yang ada di dalam dirimu. Kata Rasulullah: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur.” Karena itu, jujurlah sepanjang hidupmu.

Baca Juga: Kunci Kedua Menggapai Kebahagiaan: Memiliki Ilmu yang Luas

Allah menjanjikan untuk menyiapkan pengampunan dan pahala yang besar bagi orang-orang yang jujur. Hal ini dikatakan oleh Allah di dalam QS. al-Ahzab [33]: 35: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim [orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya], laki-laki dan perempuan yang mukmin[orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Rasulullah Saw. juga memerintahkan kepada seluruh umatnya agar jujur dalam segala ucapan dan perbuatannya. Hal ini antara lain dikemukakan di dalam sebuah hadis riwayat al-Tirmidzi dari Abdullah ibn Mas’ud: “Dari Abdullah ibn Mas’ud ra, ia berkata. Rasulullah telah bersabda: Wajib bagi engkau untuk jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebaikan mengantarkan kalian ke surga, dan seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan senantiasa menuntut kejujuran akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah oleh kalian berdusta, karena berdusta akan membawa kalian kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan akan mengantar kalian ke dalam neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan menuntut berdusta akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta. HR Tirmidzi.