Beranda blog Halaman 483

Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan yang lalu Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk selalu mematuhi perintah Allah SWT, Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121 ini pun berbicara mengenai hal tersebut. Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk tidak mengikuti aturan-aturan orang-orang musyrik.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 114-117


Perintah yang tecantum dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121 adalah dilarang mengikuti aturan mengenai hukum halal-haram orang-orang musyrik. Orang-orang musrik ketika menyembelih hewan tidak menyebut nama Allah melainkan menyebut nama-nama berhala mereka. Hal tersebut sangat dilarang keras oleh Allah.

Sebab nuzul dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121 ini berkaitan dengan pertanyaan orang-orang musyrik mengenai hukum penyembelihan. Pernyataan ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam Sunan Abi Daud dan al-Tirmizi.

Ayat 118

Sabab Nuzul surah al-An’am ayat 118-121 diriwayatkan dalam Sunan Abi Daud dan at-Tirmizi dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan, “orang-orang datang kepada Rasul saw, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita makan apa yang kita sembelih dan kita tidak makan apa yang disembelih Allah (bangkai),” maka turunlah ayat

(فكلوا ممّا ذكر اسم الله)

sampai pada firman Allah

(وان اطعتموهم انكم لمشركون)

Pada ayat ini Allah membolehkan kaum Muslimin makan sembelihan yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya, jika mereka benar-benar beriman kepada ayat-ayat Allah.

Orang-orang musyrik dan golongan-golongan lainnya telah menjadikan upacara sembelihan itu sebagai satu upacara ritual. Mereka menyertakan dasar-dasar akidah dalam upacara penyembelihan. Mereka biasa melaksanakan penyembelihan untuk mendekatkan diri kepada berhala-berhalanya dan kepada pemimpin-pemimpinnya yang didewa-dewakan.

Mereka suka menyebut nama berhala yang disanjungnya ketika menyembelih hewan dan perbuatan yang semacam ini termasuk syirik (mempersekutukan Allah). Setiap penyembelihan harus ditujukan semata-mata karena Allah. Oleh sebab itu kaum Muslimin dilarang makan sembelihan kaum musyrik karena jelas sembelihan itu membawa pada kemusyrikan.

Ayat 119

Dalam ayat ini, Allah mengajukan pertanyaan, apa halangan bagi kaum Muslimin untuk tidak makan hewan yang halal yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya? Padahal Allah telah menjelaskan kepada mereka apa yang sesungguhnya diharamkan bagi mereka, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ   ١٤٥

Katakanlah, ”Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan  makannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barang siapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi batas (darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang (al-An’am/6: 145)

Tetapi Allah memberikan keringanan kepada kaum Muslimin untuk makan makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa. Di dalam Ushul Fiqh ada sebuah kaidah yang berbunyi:

الضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

“Keadaan darurat (memaksa) membolehkan makan apa yang diharamkan”

Tindakan sebagian besar manusia memang salah dan menyesatkan dengan cara penyembelihan yang mereka lakukan, sehingga mereka terperosok ke dalam tindakan syirik, dan jauh dari akidah yang benar, yaitu kepercayaan tauhid yang dibawa para nabi dan rasul yang diutus Allah untuk umat manusia seluruhnya.

Di antara umat Nabi Nuh terdapat beberapa pemimpin yang saleh. Setelah mereka wafat, pengikut-pengikutnya mendirikan beberapa patung untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mereka jadikan teladan yang baik.

Lama kelamaan para pengikutnya melampaui batas, sehingga mereka memberikan penghormatan kepada patung-patung itu dengan cara menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada patung-patung itu, bahkan mereka memohon berkah dari patung-patung itu.

Keadaan ini berlangsung terus, generasi demi generasi, dan akhirnya menyebar kepada umat yang lainnya, sehingga penghormatan yang dimaksud berubah menjadi keyakinan bahwa patung-patung itu pantas dihormati dan disembah.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 45-46: Khusyuk dalam Al-Quran


Ayat 120

Allah melarang kaum Muslimin berbuat dosa, baik yang tampak dalam perilaku maupun yang tersembunyi. Dosa-dosa yang tampak ialah yang dilakukan oleh manusia dengan mempergunakan anggota badannya, sedang dosa-dosa yang tersembunyi ialah yang tercermin dalam sikap dan hal lain yang tidak ditampakkan (perbuatan buruk yang disembunyikan), seperti menyombongkan diri, merencanakan kejahatan dan penipuan kepada manusia.

Allah menyatakan dengan tegas, bahwa semua dosa harus ditinggalkan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dan Allah memberikan ancaman bahwa siapa pun yang berbuat dosa akan ditimpa siksaan yang berat, sebagai akibat dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, dengan cara sengaja dan terang-terangan.

Adapun orang-orang yang berbuat dosa dan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka berhenti dengan melaksanakan tobat yang sungguh-sungguh, maka terhadap mereka, Allah akan memberikan ampunan dan menghapus dosa-dosanya, karena mereka telah berbuat kebajikan sebagai bukti tobatnya. Sebenarnya setiap kebaikan dapat menghilangkan kejahatan, sebagaimana difirmankan Allah:

اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ

Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. (Hµd/11: 114)

Ayat 121

Sabab Nuzul ayat ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Hakim dari Ibnu Abbas pada ayat

(وان الشيٰطين ليوحون الى)

mengatakan, “orang-orang datang kepada Nabi saw, mereka berkata: apa yang disembelih Allah jangan kalian makan, apa yang kalian sembelih, itulah yang kalian makan”, maka turunlah ayat ini.

Sesungguhnya setan-setan, jin dan manusia itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar membantah kaum Muslimin. Ikrimah berkata, “Setan dari golongan Majusi setelah mendengar bahwa Nabi Muhammad, mengharamkan bangkai, mereka menulis kepada orang Quraisy yang pada waktu itu sering mengadakan surat-menyurat dengan orang-orang Majusi.

Di dalam surat itu mereka mengatakan, “Muhammad mengaku dirinya telah mengikuti perintah Allah, tetapi mengapa ia beranggapan bahwa yang disembelih oleh manusia halal, tetapi yang disembelih oleh Allah (bangkai) adalah haram?” Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Tentang makan daging hewan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, ada beberapa pendapat di kalangan ulama Islam. Menurut Imam Malik, semua hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya haram dimakan. Menurut Imam Abu Hanifah, jika nama Allah tidak disebut dengan sengaja, maka haram makan daging hewan itu, dan jika tidak disebut karena lupa, maka halal makannya.

Menurut Imam Syafi’i, semua hewan yang ketika menyembelihnya tidak disebut nama Allah, baik disengaja maupun karena lupa, maka dagingnya halal dimakan, asalkan orang yang menyembelihnya adalah Muslim. Demikianlah jika kaum Muslimin mengikuti kehendak kaum musyrikin tentang menghalalkan bangkai, maka mereka pasti termasuk golongan musyrik.

Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang musyrik, karena dengan demikian mereka telah menetapkan adanya pihak yang berhak membuat syariat selain Allah swt.


Baca setelahnya:  Tafsir Surat Al An’am Ayat 122-123


(Tafsir Kemenag)

Kisah Bani Israil Dalam Al-Quran dan Hidangan Dari Langit

0
Kisah Bani Israil
Kisah Bani Israil

Dalam Al-Quran kisah bani Israil banyak diceritakan. Jika ditelusuri secara literal, maka dapat ditemukan bahwa kata bani Israil terulang sebanyak 43 kali dalam Al-Qur’an. Namun jika ditelusuri secara maknawi, dapat ditemukan banyak kisah bani Israil, terutama surah al-Baqarah yang mayoritas ayatnya berbicara mengenai sejarah nabi terdahulu dan bani Israil.

Salah satu kisah bani Israil yang diceritakan Al-Qur’an adalah kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit. Kisah ini dapat ditemukan dalam Surat al-Maidah ayat 111 sampai 115. Secara umum ayat-ayat ini berbicara mengenai umat nabi Isa yang diberi Allah Swt nikmat berupa hidangan makanan dari langit untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Alkisah, pada suatu hari nabi Isa memerintahkan Hawariyyun dan umatnya untuk berpuasa selam 30 hari. Setelah selesai, mereka meminta kepada nabi Isa agar diturunkan hidangkan bagi mereka sebagai bukti bahwa Allah Swt telah menerima puasa mereka dan supaya hati mereka menjadi tenang. Nabi Isa kemudian memenuhi permintaan tersebut sebagai bentuk perayaan bagi mereka.

Pada hari itu semua golongan umat nabi Isa bersiap, mulai dari yang muda, yang tua, yang miskin, hingga yang kaya. Mereka semua berkumpul menunggu permintaan dikabulkan. Nabi Isa – sebelum meminta kepada Allah Swt – menasihati mereka dan merasa khawatir sekiranya mereka tidak mau bersyukur dan menaati syarat-syaratnya. Namun, mereka semua tetap bersikeras meminta.

Baca Juga: Bagaimana Kisah Harut dan Marut Sebenarnya dalam Al-Quran?

Tatkala mereka tak mau mengurungkan niat dan permintaan tersebut, maka nabi Isa bangkit menuju tempat shalat, mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu, berdiri di atas kedua kakinya, menundukkan kepala dengan air mata bercucuran, merendahkan diri di hadapan Allah Swt seraya berdoa dan memohon agar permintaan umatnya dikabulkan (Kisah Para Nabi dan Rasul: 870).

Kemudian doa nabi Isa dijawab oleh Allah Swt dengan menurunkan hidangan dari langit dan Umat nabi Isa melihat hal tersebut dengan mata kepala mereka sendiri. Hidangan turun dari langit melalui sela-sela diantara dua awan. Kemudian hidangan tersebut sedikit demi sedikit mulai mendekati mereka. Pada saat bersamaan, Nabi Isa berdoa semoga itu merupakan nikmat Allah Swt, bukan azab-Nya.

Ketika hidangan sampai di hadapan nabi Isa dan kaumnya, beliau berdiri dan berkata, “Dengan menyebut nama Allah, sebaik-baik pemberi rezeki.” Hidangan tersebut terdiri dari tujuh ikan laut dan tujuh roti. Ada yang mengatakan cuka dan ada pula yang mengatakan itu adalah buah delima serta buah-buahan lainnya. Terlepas dari itu semua, hidangan ini merupakan makanan dari Allah Swt.

Lantas nabi Isa memerintahkan umatnya untuk menikmati hidangan dari langit tersebut. Namun mereka malah berkata, “Kami tidak akan makan sebelum kamu makan.” Nabi Isa menjawab, “Kalianlah yang meminta hidangan ini.” Mereka menolak untuk memakan lebih dulu karena khawatir hidangan tersebut merupakan azab dari Allah Swt (Kisah Para Nabi dan Rasul: 871).

Kemudian nabi Isa memerintahkan orang-orang fakir, orang-orang yang kekurangan dan orang-orang tua dengan penyakit menahun yang berjumlah Jumlah sekitar 1.300 orang untuk memakannya. Setelah menikmati hidangan, atas izin Allah setiap penyakit dan disfungsi anggota tubuh mereka semua sembuh total. Ini membuat orang-orang yang tidak mau memakannya sangat menyesal.

Dikisahkan bahwa hidangan Allah Swt yang turun dari langit ini diberikan sekali dalam sehari. Karena sudah ada bukti keamanan dan khasiat hidangan tersebut, maka orang-orang – yang berjumlah sekitar 6.000 orang – mulai berani memakannya. Namun mereka yang memakan hidangan hanya mendapatkan rasa kenyang, tidak sebagus khasiat pertama kali.

Setelah beberapa waktu, hidangan ini tidak lagi turun setiap hari, tetapi berselang satu hari sebagaimana pemanfaatan unta nabi Shalih yang susunya sehari diminum oleh orang-orang dan sehari tidak diminum. Kemudian Allah Swt memerintahkan nabi Isa untuk memberikan hidangan tersebut hanya kepada orang fakir dan orang yang membutuhkan, tidak termasuk orang kaya.

Tindakan nabi Isa di atas lalu mendapatkan beberapa protes dari orang-orang kaya dan orang-orang munafik. Bagi mereka, hal ini sangat tidak adil dan menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat protes tersebut, kemudian Allah Swt memberhentikan pemberian hidangan dan merubah orang-orang yang mempersoalkan distribusi menjadi binatang, yakni babi.

Baca Juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Kisah Bani Israil dan hidangan dari langit juga diceritakan dalam sebuah hadis mauquf riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir yang berujung kepada Sa’id bin Abi ‘Urbah. Ia berkata bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

Hidangan turun dari langit yang terdiri dari roti dan daging. Mereka (umat nabi Isa as) diperintahkan agar tidak berkhianat, tidak menimbun, dan tidak membawanya untuk hari esok. Namun mereka berkhianat, menimbun, dan membawanya, sehingga wujud mereka dirubah menjadi babi-babi.”

Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan rincian kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit ini. Jumhur ulama mengatakan bahwa hidangan memang diturunkan dari langit sebagaimana literal ayat Al-Qur’an. Namun Imam Mujahid dan Hasan al-Bashri menolak pendapat tersebut. Menurut keduanya, kata turun pada Surat al-Maidah ayat 115 hanyalah sebuah kiasan.

Terlepas dari perdebatan ulama mengenai realitas kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit dan serba-serbinya, kisah ini mengajarkan kepada pembaca agar mensyukuri nikmat Allah Swt sebesar atau sekecil apapun itu dan agar tidak iri dengan nikmat orang lain. Karena jika seseorang melakukan hal tersebut – bisa jadi – nikmat yang dimilikinya akan diangkat oleh Allah Swt. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 45-46: Khusyuk dalam Al-Quran

0
Khusyuk dalam Al-Quran
Khusyuk dalam Al-Quran

Umat Islam dalam menjalankan ibadah pasti sudah mengenal istilah khusyuk. Bagi masyarakat Indonesia, kata khusyuk selalu dikaitkan dengan shalat dan doa. Secara umum yang mereka ketahui, khusyuk ialah melakukan ibadah dengan kerendahan hati, tekad yang bulat serta senantiasa mengingat Allah. Namun jika dipahami lebih dalam, maka khusyuk tidak hanya terkait pada dua hal tersebut. Berikut ini penjelasan khusyuk dalam Al-Quran

Dalam Bahasa Arab, khusyuk bukan melulu soal shalat dan berdoa. Khusyuk sendiri berarti menundukan pandangan ke bumi lalu memejamkan mata dan melirihkan suara. Pengertian ini lebih pada perilaku fisik seseorang. Adapun ayat yang membahas khusyuk dalam Al-Quran terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 45 yang berbunyi:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

“Dan minta tolonglah (kepada Allah) dengan Sabar dan Shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 36: Allah Tidak Menyukai Sifat Sombong dan Angkuh

Sabar dan shalat adalah kunci pertolongan

Melalui Al-Quran, Allah memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya untuk menggapai kebaikan dunia dan akhirat yang didambakan. Dua cara yang ditawarkan oleh-Nya ialah dengan kesabaran dan shalat. Mengenai kesabaran, Ibn Kathir mengutip beberapa pendapat diantaranya dari Mujahid yang mengatakan bahwa sabar bermakna puasa. Al-Qurthubi juga mengatakan hal yang sama. Ia mengaitkan dengan penyebutan bukan ramadhan sebagai bukan kesabaran. (Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-Adzim, 1:251)

Ibn Kathir juga mengutip riwayat ibn Hatim dari Umar ra yang berkata:

الصَّبْرُ صَبْرَانِ: صَبْرٌ عِنْدَ الْمُصِيبَةِ حَسَنٌ، وَأَحْسَنُ مِنْهُ الصَّبْرُ عَنْ مُحَارِّمَ الله

“Sabar terbagi menjadi dua, yakni sabar ketika mendapat musibah adalah baik, dan lebih baik lagi adalah bersabar dalam menahan perbuatan yang diharamkan Allah”

Quraish Shihab mengatakan bahwa beberapa ulama memahami ayat diatas merupakan tuntunan kepada kaum muslimin yang taat. Ayat tersebut memerintahkan untuk meminta pertolongan dengan sabar yakni menahan diri dari rayuan yang menuju pada kehinaan. Juga dengan shalat, yakni mengaitkan jiwa dengan Allah serta memohon kepada-Nya dalam menghadapi segala kesulitan dan beban. (Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, 1:221)

Baca juga: Tafsir Surat al-Ma’un ayat 4-7 : Celakalah Mereka yang Lalai dari Sholat

Adapun kata ‘sabar’ dalam ayat tersebut dimaknai Quraish Shihab sebagai menahan diri dari suatu yang tak berkenan di hati dan tabah. Ia juga mengutip pendapat Imam al-Ghazali yang mendefinisikan kata sabar sebagai kemantapan hati dalam melaksanakan perintah agama dan menghadapi bujukan nafsu. Sedangkan shalat ialah sarana untuk mengingat dan memuji Allah atas limpahan rahmat-Nya. Dengan mengingat Allah dan karunia-Nya, maka akan mengantarkan seseorang untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain bisa dimaknai “mintalah pertolongan kepada Allah dengan jalan sabar dan shalat”, ayat tersebut juga bisa dimaknai “jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kamu”. Ini memiliki arti bahwa jadikanlah ketabahan dan shalat sebagai sarana untuk meraih berbagai kebaikan.

Makna khusyuk

Pada ayat tersebut ditutup dengan “sesungguhnya itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. Menurut Quraish Shihab, kedua hal (sabar dan shalat) ialah suatu yang sulit untuk dipraktikan kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Penggunaan dlamir ha pada lafad إِنَّهَا, bukannya huma (dlamir tasniyah) menunjukan bahwa antara sabar shalat merupakan satu kesatuan. Ini bermakna bahwa saat menjalankan shalat/berdoa, maka senantiasa dibaringi dengan kesabaran.

Dalam Tafsir Ibnu Kathir, disebutkan beberapa riwayat yang menjelaskan definisi khusyuk. Ibn Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud khusyuk ialah orang-orang yang tulus dijalan Allah, Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang mukmin sebenarnya, sedangkan Abu ‘Aliyah mengatakan bahwa khusyuk ialah takut kepada Allah.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 50-51: Tidak Ada Peluang untuk Menyekutukan Allah

Adapun makna khusyuk menurut Quraish Shihab adalah ketenangan hati. Ia lebih lanjut menerangkan bahwa khasyi’in ialah mereka yang menekan kehendak nafsunya dan membiasakan dirinya menerima dan merasa tenang menghadapi ketentuan Allah serta selalu mengharapkan kesudahan yang baik. Ia bukan orang yang terperdaya oleh rayuan nafsu dan ia adalah yang sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima dan mengamalkan kebajikan.

Ayat tersebut bukannya membatasi khusyuk hanya dalam shalat, melainkan berkaitan dengan segala aktivitas menusia. Jika kekhusyukan itu dikaitkan dengan shalat, maka ia menuntut manusia agar menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah dalam hatinya sekaligus menunjukan kelemahan dihadapan-Nya.

Dalam praktiknya, Quraish Shihab menerangkan bahwa terdapat beberapa tingkat khusyuk. Puncak kekhusuyukan ialah ketundukan dan kepatuhan tiap anggota badan, pikiran dan haati secara keseluruhan hanya menuju kehadirat Allah. Sedangkan peringkat terendah ialah sekedar pengamalan yang tulus kepada-Nya walau diselingi oleh pikiran yang cenderung negatif.

Dampak kekhusyukan dalam kehidupan

Ali As-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menerangkan bahwa Allah mmberi cara untuk mengalahakan hawa nafsu dan syahwat, menghilangkan kecintaan pada kekuasaan dan rakus terhadap harta benda. Cara tersebut yakni dengan sabar dan shalat. Memang cara tersebut diakui berat, namun tidak bagi mereka yang khusyuk dalam menunaikannya. Pelaksanaan shalat sungguh berat karena ia tidak hanya tunduk secara fisik dan  merendahkan diri di hadapan-Nya, melainkan juga disertai penghayatan dan kehadiran hati.

Kekhusyukan dalam shalat akan memberikan kekuatan bagi seorang dalam menghadapi permasalahan di kehidupannya. Kesabaran dan shalat merupakan dua hal yang mutlak guna meraih sukses. Dalam shalat jika dilakukan dengan khusyuk, maka seseorang mukmin dapat mencurahkan seluruh kegelisahan dan kesedihan kepada Tuhannya dengan memohon pertolongan.

Baca juga: Inilah Amalan Agar Mudah Bangun Untuk Ibadah Shalat Malam

Hasil dari khusyuk dan mengahadap kepada Allah dengan ketawadlu’an ialah rasa ringan, ketenangan dan selalu merendahkan diri karena takut kepada-Nya dan penghayatan ini juga mengantarkan akan kesadaran bahwa ia akan kembali kepada Allah swt. Wallahu ‘alam[]

Mengenal Mansukhut Tilawah (Ayat Yang Dicabut Status Keayatannya)

0
Mansukhut Tilawah adalah pencabutan status suatu ayat
Mansukhut Tilawah adalah pencabutan status suatu ayat

Al-Qur’an oleh para ulama didefinisikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dimana ‘i’jaz bisa muncul lewat satu surat dari kalam tersebut. Diantara ulama yang memakai pengertian ini adalah Imam ‘Abdul ‘Aziz Az-Zamzami dalam nadham karangannya tentang ilmu tafsir. Pengertian tersebut sebenarnya tidak mencantumkan satu kriteria Al-Qur’an yang memang masih diperdebatkan. Yaitu kriteria “yang dianggap ibadah dalam membacanya” (Nahjut Taisir/18).

Sehingga ada juga yang mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dimana i’jaz bisa muncul lewat satu surat dari kalam tersebut, serta dianggap ibadah dalam membacanya. Tambahan kriteria ini mencoba mengecualikan ayat yang dahulunya merupakan bagian dari Al-Qur’an, tapi kemudian tidak lagi dianggap bagian dari Al-Qur’an. Seperti apakah contohnya? Dan mengapa ulama berbeda pendapat dalam mencantumkan kriteria tersebut? simak penjelasannya berikut ini.


Baca juga: Kosa Kata Bahasa Asing dalam Al-Quran


Mengenal Mansukhut Tilawah

Banyak orang saat mendengar adanya pembatalan, pencabutan atau biasa diistilahkan Mansukh atau nusakh dalam Al-Qur’an, beranggapan bahwa praktik tersebut hanya berlaku pada hukum yang dikandung suatu ayat. Memang benar Mansukh dalam Ilmu Al-Qur’an pengertiannya adalah pembatalan suatu hukum. Namun, ulama juga menggunakan istilah Mansukh pada yang dahulunya termasuk ayat Al-Qur’an, kemudia dicabut status ke-ayat-nya. Pemakaian ini tidak atas dasar kata Mansukh sebagai sebuah konsep ilmu, melainkan hanya sebatas kebahasaan saja (Ta’liqat Syaikh Yasin Ala Nadham Zamzami/149).

Sehingga dalam praktinya, ada tiga model pembatalan atau Mansukh di dalam al-qur’an. Ada kalanya pembatalan status ayat serta kandungan (hukum yang dikandung) ayat tersebut, adakalanya hanya dibatalkan kandungannya saja dan bunyi ayatnya masih termasuk Al-Qur’an, dan adakalanya hanya dibatalkan status ayat saja sementara kandungannya tidak dibatalkan.


Baca juga: Ibrah Kisah Nabi Yusuf, Penjara sebagai Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah


Pembatalan status ayat atau diistilahkan Mansukhut Tilawah, adalah pencabutan status suatu ayat masuk dalam Al-Quran. Ayat yang dicabut statusnya tersebut, tidak masuk dalam kitab suci Al-Qur’an dan juga tidak dianggap ibadah dalam membacanya, berkebalikan dengan ayat suci Al-Qur’an yang dianggap beribadah hanya dengan membacanya. Beberapa ulama juga menyatakan bahwa tidak haram menyentuh atau membaca ayat yang sudah di Mansukh status ayatnya (Al-Ihkam Fi Usulil Qur’an/1/295).

Contoh Mansukhut Tilawah

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa ayat yang dibatalkan status ke-ayat-annya terbagi pada yang sekaligus dibatalkan kandungannya (hukumnya), dan pada yang tidak sekaligus dibatalkan kandungannya. Contoh ayat yang dibatalkan status ke-ayat-annya sekaligus kandungannya adalah keterangan di dalam hadis sahih yang diriwayatkan Sayyidah ‘Aisyah sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ. ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ia berkata, dahulu termasuk dari Al-Qur’an yang diwahyukan adalah عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ (dengan sepuluh kali menyusu yang telah diketahui, para ibu yang menyusui itu menjadi mahram bagi bayi yang menyusu). Lalu ayat tersebut dibatalkan dan diganti dengan خَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ (lima kali menyusu). Kemudian Rasulullah salallahualaihi wasallam pun wafat. Dan ayat yang dibatalkan itu (dahulunya) termasuk Al-Qur’an yang dibaca (HR. Imam Muslim).


Baca juga: Ucapan Umar bin Khattab (Khulafaur Rasyidin) yang Diabadikan dalam Ayat Al-Quran


Berdasar keterangan di atas, ayat yang memuat keterangan 10 kali persusuan diganti dengan ayat yang memuat keterangan 5 kali persusuan. Dan ini menunjukkan bahwa ayat yang sudah diganti tersebut pernah menjadi bagian dari Al-Qur’an. Namun kini sudah bukan lagi Al-Qur’an, tidak dianggap ibadah dalam membacanya, dan boleh disentuh serta dibaca oleh orang junub menurut sebagian pendapat.

Pro Kontra Penambahan “Yang Dianggap Ibadah Dalam Membacanya”

Meski benar bahwa Mansukhut Tilawah bukan lagi bagian dari Al-Qur’an, tapi beberapa ulama memandang tidak perlu ada penambahan kriteria “Yang Dianggap Ibadah Dalam Membacanya” dalam definisi Al-Qur’an. Hal ini disebabkan dianggap ibadah atau tidaknya membaca suatu ayat, sebenarnya adalah sebuah produk hukum dari Al-Qur’an yang tak tepat dijadikan bagian dari definisi Al-Qur’an. Namun ulama yang pro terhadap penambahan kriteria tersebut menyatakan, kadang di dalam mendefinisikan sesuatu diperlukan menyebutkan produk dari sesuatu tersebut, bila dapat digunakan untuk menunjukkan perbedaan dengan hal lain. (Nahjut Taisir/18).

Nilai Kesetaraan Hingga Evaluasi Diri; Qiraah Maqashidiyah Kisah Nabi Adam

0
Kisah Nabi Adam dan Hawa
Kisah Nabi Adam dan Hawa

Kisah-kisah Nabi dalam Al-Quran tersebar di berbagai surat. Misal kisah Nabi Adam as. Untuk memahami kisah Nabi dalam Al-Quran dibutuhkan pendekatan yang dapat memberikan pemahaman secara komprehensif. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan yaitu tafsir maqashidi.

Qiraah Maqasidiyah ini disampaikan oleh prof. Abdul Mustaqim dalam sebuah serial diskusi tafsir yang dilaksanakan oleh tafsiralquran.id.

Macam-macam kisah dalam Al-Quran

Dalam kitab Mabahis fi Ulumil Quran dijelaskan bahwa ada 3 macam kisah dalam Al-Quran. Pertama, kisah para Nabi yang di dalamnya mengandung kisah dakwah para Nabi, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhi Nabi, tahapan dakwah dan perkembangan dakwahnya. Terdapat banyak kisah Nabi yang diceritakan dalam Al-Quran misalnya Nabi Nuh, Nabi Yusuf dan lainnya.

Kedua, kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa lampau dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Misalnya kisah Ashabul Kahfi, Zulkarnain, kisah Talut dan Jalut. Ketiga yaitu kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw seperti perang Badar dan perang Uhud yang diceritakan dalam surat Ali Imran, perang Hunain dan perang Tabuk dalam surat At-Taubah dan yang lainnya (Al-Qattan: 436).

Allah menurunkan ayat-ayat kisah bukan tanpa tujuan. Terdapat banyak faedah yang dapat diambil dari adanya kisah dalam Al-Quran. Seperti meneguhkan hati Rasulullah saw dan hati umatnya terhadap agama Allah, memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembangkangnya.

Hal ini dijelaskan dalam QS. Hud [11]: 120

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

Baca Juga: Kisah Dua Anak Nabi Adam: Kedengkian Qabil Terhadap Habil Yang Membawa Petaka

Empat maqashid dalam kisah Nabi Adam as

Kisah Nabi Adam as dalam Al-Quran salah satunya tercantum dalam QS. Al-Baqarah[2]: 35

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

Ayat ini menjelaskan tentang kisah Nabi Adam dan Hawa yang diperintahkan untuk menempati surga dengan syarat tidak mendekati pohon khuldi. Menurut sumber israilliyat diceritakan bahwa Nabi Adam dan Hawa terbujuk oleh rayuan setan yang akhirnya keduanya mendekati pohon kemudian memetik dan dimakanlah buah khuldi oleh keduanya. Karena melanggar perintah itu kemudian Allah swt menurunkan keduanya ke bumi.

Di surat Al-Baqarah ayat 35 ini mengandung beberapa maksud yang tersirat. Dengan menggunakan pendekatan tafsir maqashidi ditemukan empat maksud dari ayat tersebut. Nilai-Nilai yang terkandung di dalamnya antara lain pertama, Nilai Kesetaraan.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 35 menjelaskan bahwa Allah memerintah Nabi Adam dan Hawa untuk menjadi penghuni surga. Hal ini menyiratkan bahwa sebenarnya Allah telah mengajarkan kesetaraan. Pada ayat ini Allah tidak hanya memerintah Nabi Adam (sebagai laki-laki) saja, namun juga memerintah Hawa (representasi dari seorang perempuan) untuk menempati surga dengan segala kenikmatannya. Allah memberikan perhatian kepada keduanya untuk makan makanan yang mereka sukai di dalam surga, tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Baca Juga: Nabi Adam dalam Al-Quran: Manusia Pertama dan Tugasnya di Dunia

Kemudian kedua, Adanya perintah untuk mencintai lingkungan. Surat Al-Baqarah ayat 35 menjelaskan bahwa Nabi Adam maupun Hawa tidak diperbolehkan mendekati pohon. Hal ini dapat diartikan bahwa larangan mendekati pohon dikarenakan adanya kekhawatiran merusak atau sampai menebang. Hal ini dimaksudkan bahwa Allah melarang umat manusia mengganggu atau bahkan sampai menebang pohon yang mempunyai banyak manfaat.

Sebagai penjaga kestabilan udara, pohon haruslah dirawat dan dijaga bukan untuk dirusak ataupun ditebang. Jangan ada lagi penebangan pohon liar, pembakaran hutan dan lainnya. Penghabisan lahan hijau yang kemudian disulap menjadi bangunan-bangunan berkaca adalah salah satu penyebab naiknya suhu udara, berkurangnya daya serap air oleh tanah sehingga berakibat banjir dan semacamnya.

Ketiga, adanya kebebasan memilih (freedom of choices). Dalam surat Al-Baqarah [2]: 35 dijelaskan bahwa Nabi Adam maupun Hawa dari awal sudah diberi tahu larangan mendekati pohon khuldi yang ada di surga. Namun keduanya mendekati pohon khuldi, memetik dan makan buah tersebut. Dari kisah ini dapat ditarik makna bahwa manusia diberikan kebebasan untuk memilih antara hal yang baik atau yang buruk. Jika memilih hal buruk maka mereka juga akan menerima akibat dari apa yang telah mereka perbuat.

Keempat, adanya perintah evaluasi diri. Setelah Nabi Adam dan Hawa mendapatkan hukuman dari Allah yaitu diturunkan ke bumi,  mereka menyadari bahwa apa yang mereka perbuat tidaklah benar. Inilah salah satu upaya evaluasi diri berupa penyesalan dari apa yang telah mereka perbuat.

Demikian empat maqashid dalam kisah Nabi Adam as. Penjelasan ini juga menunjukkan bahwa hasil pembacaan terhadap Al-Quran sangat tergantung pada pendekatan atau kacamata yang digunakan. Beda cara mendekati, beda pula hasilnya.

Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 29

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Pada pembahasan yang lalu Allah telah menegaskan bahwa bumi dan seluruh isinya dianugerahkan untuk manusia agar dimanfaat kan dan dijaga dengan baik, dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 29 ini berbicara mengenai langit.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 27-28


Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 29 ini dijelaskan mengenai perbedaan pendapat mengenai term “tujuh langit”. Apakah maksud tujuh adalah enam+satu atau maksud tujuh adalah jumlah yang tidak terhingga.

Selain itu dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 29 ini juga dijelaskan mengenai langit dari persepektif keilmuan mutakhir. Salah satunya pemaknaan mengenai lapisan lapisan dari atmosfer dan menjadi pelindung bumi.

Ayat 29

Ayat ini menegaskan peringatan Allah swt yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu yaitu Allah telah menganugerahkan karunia yang besar kepada manusia, menciptakan langit dan bumi untuk manusia, untuk diambil manfaatnya, sehingga manusia dapat menjaga kelangsungan hidupnya dan agar manusia berbakti kepada Allah penciptanya, kepada keluarga dan masyarakat.

Kalimat “Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit” memberi pengertian bahwa Allah menciptakan bumi dan segala isinya untuk manusia, Allah telah menciptakan langit lalu Allah menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًاۗ قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, ”Kami datang dengan patuh.” (Fussilat/41: 11)

Jadi langit pertama yang diciptakan Allah sebelum menciptakan bumi waktu itu masih berupa asap tebal yang gemulung dan suhunya panas sekali. Keduanya yaitu langit dan bumi. Dipanggil maksudnya ditetapkan ketentuan dan proses pekerjaannya oleh Allah supaya bekerjasama secara sinergi dan mewujudkan alam yang harmonis.

Pada ayat 29 ini dijelaskan bahwa Allah menyempurnakan langit yang satu dan masih berupa asap itu menjadi tujuh langit. Angka tujuh dalam bahasa Arab dapat berarti enam tambah satu, bisa juga berarti banyak sekali lebih sekadar enam tambah satu.

Jika kita mengambil arti yang pertama (enam tambah satu) maka berarti Allah menjadikan langit yang tadinya satu lapis menjadi tujuh lapis, atau Allah menjadikan benda langit yang tadinya hanya satu menjadi tujuh benda langit.

Tiap-tiap benda langit ini beredar mengelilingi matahari menurut jalannya pada garis edar yang tetap sehingga tidak ada yang berbenturan. Tetapi matahari hanya berputar dan beredar pada garis porosnya saja karena matahari menjadi pusat dalam sistem tata surya ini. Sungguh Allah Mahakaya dan Mahabijaksana mengatur alam yang besar dan luas ini.

Dalam pemahaman astronomi, langit adalah seluruh ruang angkasa semesta, yang di dalamnya ada berbagai benda langit termasuk matahari, bumi, planet-planet, galaksi-galaksi, supercluster, dan sebagainya.

Hal ini dikemukakan oleh Allah di dalam Surah al Mulk/67: 5, yang artinya:

…Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat (langit dunia) dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa Neraka yang menyala-nyala…(al Mulk/67: 5)

Jadi, langit yang berisi bintang-bintang itu memang disebut sebagai langit dunia. Itulah langit yang kita kenal selama ini. Dan itu pula yang dipelajari oleh para ahli astronomi selama ini, yang diduga diameternya sekitar 30 miliar tahun cahaya. Dan mengandung trilyunan benda langit dalam skala tak berhingga.

Namun demikian, ternyata Allah menyebut langit yang demikian besar dan dahsyat itu baru sebagian dari langit dunia, dan mungkin langit pertama. Maka di manakah letak langit kedua sampai ke tujuh?

Sejauh ini belum ada temuan ilmiah “yang tidak dicari-cari” mengenai hubungan antara angka tujuh dan “langit” yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal dengan alam semesta. Memang ada beberapa skala benda langit, misalnya pada satu tata-surya (solar system) ada “matahari” (bintang yang menjadi pusat tata-surya yang bersangkutan) dan ada planet beserta satelitnya.

Milyaran tatasurya membentuk galaksi. Milyaran galaksi membentuk alam semesta. Ini baru enam, untuk menjadikannya tujuh, bisa saja ditambah dengan dimensi alam semesta, yaitu bahwa seluruh alam ini berisikan sejumlah alam semesta. Jadi ada tujuh dimensi dalam alam, dan ini mungkin yang dimaksud dengan langit yang tujuh lapis.

Tetapi masalahnya adalah dalam perjalanan mi’raj Nabi Muhammad saw, beliau melalui lapis demi lapis dari langit itu secara serial, dari lapis pertama, ke lapis kedua dan seterusnya sampai lapis ketujuh dan akhirnya keluar alam makhluk menuju Sidratil-Muntaha. Jadi lapis demi lapis langit itu seperti kue lapis yang berurutan, dari dalam (lapisan pertama) sampai ke lapisan ketujuh. Kenyataan ini berbeda dengan temuan ilmiah.

  1. Djamaluddin, salah seorang astronom Indonesia, yang cenderung memahami “tujuh langit” sebagai benda-benda langit yang tak terhitung jumlahnya dan bukan berlapis-lapis. Dalam bahasa Arab, bilangan tujuh biasanya dipakai untuk menggambarkan jumlah yang sangat banyak.

Di sisi lain tujuh langit, kemungkinan adalah tujuh lapisan-lapisan atmosfer yang dekat dengan bumi ini yaitu: (1) Troposphere (Troposfer), (2) Tropopause (Tropopaus), (3) Stratosphere (Stratosfer), (4) Stratopause (Stratopaus), (5) Mesosphere (Mesofer), (6) Mesopause (Mesopause), dan (7) Thermosphere (Termosfer).

Pembagian ini berdasarkan temperatur (suhu) tiap-tiap lapis atmosfer dan jaraknya dari permukaan bumi. Lapisan-lapisan tersebut bersifat kokoh dalam pengertian menyeliputi dan melindungi bola bumi kita secara kokoh karena adanya gaya gravitasi bumi. (Lihat pula tafsir ilmiah Surah ar-Ra’d/13: 2, Surah an-Naba’/78: 12.)

Dalam tafsir Surah ar Ra’d/13: 2 dijelaskan pembagian lapisan atmosfer sedikit berbeda dengan yang dijelaskan di sini, dimana Ionosfer dan Eksosfer disatukan dalam Termosfer. Namun apabila pengertian tujuh langit dalam hal ini dikaitkan dengan Mi’raj Nabi Muhammad saw, nampaknya kurang tepat.

Tujuh langit mungkin pula dapat ditafsirkan sebagai Tujuh Dimensi Ruang-Waktu dalam Kaluza-Klein Theory (KKT). Dalam ilmu Fisika terdapat empat (4) Gaya Fundamental yang ada di jagad raya ini, yaitu Gaya Elektromagnetik, Gaya Nuklir Lemah, Gaya Nuklir Kuat, dan Gaya Gravitasi. Jika ke-empat Gaya ini terbentuk dari Ledakan Besar (Big Bang) dari suatu Singularity, maka mestinya ke-empat gaya ini dahulunya ‘menyatu’ sebagai Satu Gaya Tunggal (Grand Unified Force), ini yang dikenal dalam Grand Unified Theory (GUT, Teori Ketersatuan Agung).


Baca juga: Tafsir Surat Az Zumar Ayat 63: Kunci Langit dalam Al Quran


KKT menjelaskan bahwa untuk dapat menerangkan ketersatuan gaya-gaya yang empat itu, maka adanya geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini tidaklah cukup. Geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini hanya mampu menjelaskan sedikit tentang gaya-gaya Elektromagnetik dan dalam beberapa hal Gaya Gravitasi.

Untuk bisa menjelaskan keempat gaya tersebut, maka KKT menyatakan harus ada tujuh dimensi ruang-waktu (time-space dimensions) yang lain. Dengan demikian bersama empat dimensi yang sudah dikenal, yaitu: garis, bidang, ruang dan waktu; maka total dimensi ada sebelas dimensi (11 dimensi).

Pernyataan ini berbasiskan pada perhitungan Matematika-Fisika. Berbasiskan pada KKT ini para scientists telah mampu pula menghitung garis tengah salah satu dimensi ruang-waktu itu, yaitu sebesar 10-32 cm, jadi dimensi itu sangat kecil sekali. Dengan demikian, tidaklah mungkin dengan instrument yang ada sekarang ini kita dapat menembus tujuh dimensi ruang-waktu yang lain itu.

Kaluza-Klein Theory telah memberikan gambaran adanya Tujuh Dimensi Ruang-Waktu, yang kesemuanya ini akan mengokohkan geometri jagad-raya dengan empat gaya-gaya fundamentalnya. Mungkinkah tujuh langit tersebut adalah tujuh dimensi ruang-waktu menurut Kaluza-Klein Theory? Wallahu alam bissawab.

Pada akhir ayat Allah menyebutkan, “Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”, maksudnya bahwa alam semesta ini diatur dengan hukum-hukum Allah, baik benda itu kecil maupun besar, tampak atau tidak tampak. Semuanya diatur, dikuasai dan diketahui oleh Allah.

Ayat ini mengisyaratkan agar manusia menuntut ilmu untuk memikirkan segala macam ciptaan Allah, sehingga dapat menambah iman dan memurnikan ketaatannya kepada Allah.


Baca setelahnya:


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Tafsir Anom, Tafsir Al-Quran Bahasa Jawa Aksara Arab Pegon Karya Mohammad Adnan

0
tafsir anom
tafsir anom, tafsir al-quran basa jawa (commons.wikimedia.org)

Memasuki penafsiran Al-Quran di wilayah Jawa, kondisi sosial-budaya penafsir juga sangat berperan di dalamnya. Dunia pesantren lahir dan tumbuh serta bahasa-bahasa lokal, seperti Jawa, Sunda, dan Melayu yang dari sisi aksara kemudian dipertemukan dengan aksara Arab sehingga menjadi salah satu ciri khas tersendiri bagi dunia pesantren, seperti halnya di Kompleks Kauman Keraton Surakarta.

Perkembangan Islam yang terjadi pada Keraton yang mempunyai abdi dalem (baca: yang mengurusi) masalah Agama Islam yang bergelar Tafsir Anom. Tafsir Anom atau Tafsir Al-Quran al-Adzim li Tabshir al-Anam adalah kitab tafsir Al-Quran yang ditulis dalam bentuk Aksara Arab Pegon Jawa karya Prof. KH. R. Mohammad Adnan.

Tafsir Anom juga sudah mengalami beberapa kali cetak, pertama kali kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa aksara Arab pegon, kemudian disusun kembali dengan memakai aksara roman (latin). Saat ini, Tafsir Al Quran berbahasa Jawa dan bertuliskan huruf Jawa itu atau Tafsir Anom yang ditulis pada tahun 1923 disimpan di Perpustakaan Sonobudoyo, Yogyakarta.

Spesifikasi Tafsir Anom

Tafsir Al-Quran Suci Bahasa Jawi atau Tafsir Anom Karya Mohammad Adnan ini sudah melalui beberapa kali cetakan. Hal ini dapat dijumpai dalam halaman purwaka yang ditulis oleh H. Abdul Basith Adnan. Adapun cuplikan isinya sebagai berikut:

Suwagri, nalika taksir timur watawis 40 tahun mandegani pakempalan Madikintoko manggen ing Kauman Surakarta. Sampun nate nyithak buku- buku Islam warni-warni, antawisipun kitab Al-Quran Tarjamah Basa Jawi. Kacithak sapisan tahun 1924 mawi jarwa jarwi huruf Arab Pegon.”

Jadi kitab Tafsir Al-Quran Suci Bahasa Jawi atau Tafsir Anom Karya Mohammad Adnan, pertama kali awal terbit di tahun 1924 dengan tulisan huruf Arab Pegon. Ketika itu beliau kira-kira masih berumur 40 tahun.

“Wiwit tahun 1953, Suwargi nyerat malih Tarjamah Al-Quran basa Jawi gagtak anyar. Panyeratipun mboten tuntas rampung, taksih wujud bahan mentah. Himpunan naskah punika sumebar kasimpen wonten pintenpinten panggenan.”

Penjelasannya adalah di tahun 1953, beliau kembali menulis terjemahan berbahasa Jawa. Akan tetapi, tidak sampai selesai dan masih berupa naskah-naskah yang tersebar hingga pada akhirnya dikumpulkan kembali kemudian dibukukan dengan model penulisan yang sama, tanpa mengurangi sedikitpun kata dan kalimatnya.

Baca juga: Mengenal Tafsir Nurul Bajan: Kitab Tafsir Berbahasa Sunda Karya Muhammad Romli

Dalam pembukaan Tafsir Anom-nya, Mohammad Adnan menyampaikan pemikiran-pemikiranya seputar Al-Quran dan tafsirnya. Penjelasan ini dapat dijumpai dalam halaman bebuka yang disusun oleh Mohammad Adnan di Surakarta pada tanggal 11 Juli 1965 M. Pemikiran pertama yang ditulis oleh Mohammad Adnan adalah (Isinipun Al-Quran), artinya adalah “isinya Al-Quran”.

Mohammad Adnan dalam menjelaskan isi kandungan Al-Quran dibagi menjadi beberapa kriteria. Pernyataan ini terdapat dalam bebuka yang ditulis oleh Muhammad Adnan dalam tafsirnya:

  1. Ilmu kangge nyumerepi Pangeran (Ma’rifat), kados pundi caranipun emut lan leladi (Ibadah) lan nyuwun pitulungan dumateng panjenenganipun
  2. Ilmu Falsafah, kados pundi caranipun ginaaken akal pikiran. Kados pundi jagi akal pikiran wahu sampun ngantos keblasuk.
  3. Ilmu Sejarah lelampahanipun para Nabi lan Umatipun kanthi dipun sarengi inggil-andhapipun kabudayan ummat punika wahu
  4. Paring sanepa kados pundi budi-daya jagi keamanan negari, keadilan tiyang ingkang gadhahi prakawis wonten Pengadilan. Cara milih pemimpin lan ilmu ingkang magepokan kaliyan punika

Dalam hal penulisan Tafsir Anom ini, beliau tetap menyertakan dasarnya yaitu ayat-ayat Al-Quran dalam bentuk tulisan Arab. Tujuannya agar bisa dimengerti pembaca. Tidak hanya sebuah tulisan Arab yang tidak banyak orang memahami artinya dan juga tidak hanya terjemahan saja seperti kitab Injil yang telah banyak beredar.

Dalam setiap surat, Mohammad Adnan menjelaskan menggunakan Bahasa Jawa terkait arti judul surat, tempat diturunkannya surat, dan menyebutkan berapa jumlah ayat dalam setiap surat. Setelah itu beliau sampaikan juga surat tersebut turun setelah surat apa. Seperti contoh : Surat Ar-Rad (Bledheg), Tinurunake ana ing Madinah, cacahe ayat ; 43. Tumurun sawise surat Muhammad. Dalam tafsir tersebut tidak semua surat diberi keterangan arti judul surat dalam bahasa Jawa. Untuk jumlah ayat dalam setiap surat serta surat tersebut turun setelah surat apa, beliau cantumkan dalam setiap surat.

Setelah penerjemahan surat yang terakhir dalam Al-Quran selesai (An-Nas), Mohammad Adnan mencantumkan Do’anipun Khatam maos Al-Quran, artinya adalah doa-doa yang dibaca ketika sudah khatam membaca Al-Quran. Dalam Tafsir Anom tersebut Mohammad Adnan mencantumkan 29 doa beserta artinya dalam bahasa Jawa.

Model penulisan terjemah bahasa Jawa-nya beliau letakkan di bawah kalimat doa yang berbahasa Arab per satu doa, maksudnya setelah selesai menuliskan satu doa dalam bahasa Arab beliau menuliskan terjemahan bahasa Jawa di bawahnya, kemudian lanjut doa yang kedua, menggunakan Bahasa Arab dan di bawahnya dituliskan terjemahnya dalam bahasa Jawa dan terus berlanjut hingga berjumlah 29.

Baca juga: Mengenal Tafsir Marah Labid, Tafsir Pertama Berbahasa Arab Karya Ulama Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantany

Berdasarkan penelusuran penulis, Tafsir Anom menggunakan metode yang diantaranya:

  1. Metode Tafsir Riwayat seperti yang terdapat dalam QS. Ali Imran (3) : 44. Arti dalam Tafsir Anom.

Ceritane Zakariya lan Maryam mau klebu pamedharing ghoib kang Ingsun wahyoake marang sira (Muhammad) awit sira durung tumitah nalika para Bani Israil nyemplungake kalame (ana ing kali) dienggo tandha yekti sapa kang diparingake dening Allah ngupakara Maryam. Nalika wong Bani Israil padha rebutan Maryam mau, sira iya durung tumitah.

Catatan kaki ayat tersebut dalam Tafsir Al-Quran Suci Bahasa Jawi atau Tafsir Anom karya Mohammad Adnan adalah : Nalika Siti Maryam dipasrahake dening biyunge marang Baitul Mukkaddas, dicaosake ngladeni ana ing ngarsane Allah, ing kono pangerehing Baitul Mukkaddas 29 wong pada rebutan ngopeni Siti Maryam, munggah pancasaning pasulayan mau disumanggaake ing Allah. Wong semono mau padha golongan gawe tandha yekti sarana padha nyemplungake kalam tembaga ana ing Bengawan Ardan. Sing sapa kalame kumambangsarta ora bisa keli yaiku kang diparengake dening Allah ngopeni Siti Maryam, wusana bareng wong 29 mau bebarengan nyemplungake kalam kang kumambang serta ora keli mung kalame Zakariya. Dene kalame wong 28 pada silem.”

  1. Metode tafsir pemikiran seperti yang tertera di dalam penafsiran Q.S. Al Baqarah (2) : 18

Arti dalam Tafsir Anom: ”Wong munafiq iku tuli, tur bisu, sarta wuta. Dadi wong munafik mau podo ora gelem ambalik saka sasare.”

Catatan kaki dari ayat tersebut dalam Tafsir Al-Quran Suci Bahasa Jawi atau Tafsir Anom adalah : “Budheg = karepe ora bisa kelebon pitutur bener. Bisu = karepe ora tau ngucap kang becik. Wutha = karepe ora weruh dalan pituduh.”

Mohammad Adnan mencoba menjelaskan bahwa yang dimaksud dari kata “Budheg” yang artinya “Tuli” tersebut berbeda dengan maksud aslinya, dalam bahasa Indonesianya, maksud asli dari tuli adalah tidak bisa mendengar suara apapun baik yang nyaring, lirih, baik atau

benar. Sedangkan Mohammad Adnan menjelaskan kata “Tuli” menafsirkannya dengan tidak bisa mendengar kalimat yang benar. Ketika manusia hanya menuruti hawa nafsu setan saja, maka dihiraukanlah yang namanya nasehat baik, serta tidak diucapkannya kalimat yang baik. Wallahu A’lam.

Hukum Ghunnah dalam Ilmu Tajwid dan Contohnya dalam Al-Quran

0
Hukum Ghunnah
Hukum Ghunnah

Pengertian Mim dan Nun Tasydid (Ghunnah)

Mim dan Nun yang bertasydid wajib dibaca dengan hukum Ghunnah selama dua harakat atau dua ketukan. Harakat disini berarti saat membacanya, seseorang menekan huruf Mim dan Nun yang bertasydid. Bacaan ini dinamakan dengan hukum Ghunnah.

Pengertian Ghunnah secara bahasa adalah

صوت في الخيشوم

Shautun fi al-Khaysyum

Artinya: suara di pangkal hidung

Secara istilah menurut al-Shadiq Qamhawi dalam al-Burhan fi Tajwid al-Quran adalah

صوت لذيذ مركب في جسم النون و الميم فهي ثابتة فيهما مطلقا

Shautun ladzidzun fi jismi al-nun wa al-mim fahiya tsabitatun fihima muthlaqan

Artinya: Suara dengung yang tersusun dalam bentuk huruf Nun dan Mim yang mana terletak pada kedua hurufnya.

Dalam kitab Tuhfat al-Athfal dijelaskan mengenai Ghunnah sebagai berikut:

وغن نونا ثم ميما شددا # و سم كلا حرف غنة بدا

Wa ghunna nuunan tsumma miiman syuddida # wa sammi kullan harfa ghunnatin badaa

Artinya: Dengungkanlah mim dan nun yang bertasydid.. dan namakanlah kedua huruf tersebut dengan huruf ghunnah dan tampakkanlah

Qamhawi menjelaskan bahwa terdapat tingkatan kesempurnaan cara membaca Ghunnah. Yang paling sempurna adalah membacanya dengan cara mendengung di pangkal hidung. Jika belum bisa, maka boleh membacanya dengan Idgham. Apabila belum mampu maka boleh dibaca Ikhfa. Jika belum mampu juga, maka boleh dibaca Idhar Sukun (dibaca jelas). Dan yang terakhir, jika belum mampu maka boleh dibaca sebagai huruf berharakat saja.

Baca Juga: Hukum Nun Sukun dan Tanwin dalam Ilmu Tajwid

Hal yang perlu ditekankan dalam hukum Ghunnah ialah mengandung Tasydid dan Idgham. Adanya tingkatan tersebut, menurut hemat penulis, bertujuan untuk memudahkan orang yang baru belajar membaca al-Qur’an. Sehingga perlu tetap berusaha untuk melalui tingkata tersebut, sampai dapat membacanya dengan sempurna.

Contoh-contoh bacaan Hukum Ghunnah dalam al-Quran pada ayat yang ditebalkan

Surat Al-Baqarah ayat 157

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ عَلَیۡهِمۡ صَلَوَ ٰ⁠تࣱ مِّن رَّبِّهِمۡ

Ulaa’ika ‘alaihim shalawaatum mirrabihim

Surat Al-Baqarah ayat 210

هَلۡ یَنظُرُونَ إِلَّاۤ أَن یَأۡتِیَهُمُ ٱللَّهُ فِی ظُلَلࣲ مِّنَ ٱلۡغَمَامِ

Hal yandzuruuna illaa an ya’tiyahumullahu fii zhulalim min al-ghamami

Surat Al-Baqarah ayat 270

وَمَاۤ أَنفَقۡتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوۡ نَذَرۡتُم مِّن نَّذۡرࣲ فَإِنَّ ٱللَّهَ یَعۡلَمُهُۥۗ

Wa maa anfaqtum min nafaqatin au nadzartum min nadzrin fainna Allaha ya‘lamuh.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 114-117

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 114-117 berbicara mengenai pernyataan sikap dari Nabi Muhammad SAW atas orang-orang kafir. Sebagaimana pembahasan yang lalu mengenai permintaan mukjizat dri orang-orang kafir, dalam pembahasan ini ditegaskan bahwa sudah cukup Alquran menjadi bukti atas mukjizat Nabi Muhammad SAW andai mereka mau berfikir jernih.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 111-113


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 114-117 juga dijelaskan bahwa kalimat-kalimat dalam Alquran sudah begitu sempurna. Di dalamnya berisi janji Allah bagi Nabi Muhammad SAW dan orang-orang mukmin dan berisi ancaman bagi orang-orang kafir.

Pada akhir pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 114-117 ini Allah SWT menghimbau orang-orang mukmin agar selalu mengikuti perintah Allah serta tidak mengikuti kemauan orang-orang kafir. Karena hal tersebut akan menyesatkan.

Ayat 114

Ayat ini menerangkan, bahwa Nabi Muhammad menyatakan sikapnya tentang hukum-hukum Allah dengan bentuk pertanyaan, untuk lebih membangkitkan perhatian. Beliau mengatakan, Apakah patut aku mencari hakim selain Allah untuk menetapkan sesuatu, padahal Allah telah menurunkan kepadaku Alquran secara terperinci, mencakup bidang akidah, ibadah, hukum-hukum syariat, dan lain-lain.

Sebenarnya Alquran telah cukup menjadi bukti yang nyata atas kenabian Muhammad, karena Alquran bukan karangannya sendiri, melainkan semata-mata wahyu dari Allah swt. Karena Nabi Muhammad sudah hidup bergaul dengan kaumnya sekitar 40 tahun lamanya, sebelum dia diangkat menjadi Nabi dan belum pernah dalam kurun waktu itu Nabi menyampaikan keterangan-keterangan tentang alam gaib dan tentang kisah rasul-rasul sebelumnya.

Orang-orang musyrik Quraisy menuntut kepada Nabi Muhammad agar mendatangkan mukjizat yang menjadi bukti atas kebenarannya, padahal kepada mereka telah diperlihatkan mukjizat yang paling besar, yaitu Alquran yang mengandung ilmu pengetahuan, dengan susunan kata yang tidak mungkin dapat ditiru oleh siapapun.

Hal itu cukup menjadi dalil, bahwa Allah telah memperkuat kenabiannya, bukan dengan diturunkan Alquran dan penjelasan di dalamnya tentang posisinya sebagai Nabi saja bahkan juga dengan keterangan kitab-kitab Taurat dan Injil, karena kedua kitab tersebut mengandung keterangan-keterangan yang menunjukkan bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar kaum Muslimin jangan sekali-kali merasa ragu tentang kebenaran Alquran.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membaca kitab Taurat dan Injil, telah mengenal Nabi Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, hanya saja mereka menyembunyikan kebenaran itu dan tidak mau menerimanya, karena sebagaimana diinformasikan dalam Alquran mereka merasa dengki kepada Nabi Muhammad.

Ayat 115

Kalimat-kalimat Alquran yang berisi kebenaran dan keadilan telah sempurna. Kalimat-kalimat itu antara lain berisi janji Allah yang akan menolong Muhammad dan pengikut-pengikutnya, sehingga memperoleh kemenangan dan kejayaan; Alquran juga mengancam orang-orang yang mencemoohkan Alquran, bahwa mereka akan dihinakan dan dibinasakan. Firman Allah:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِيْنَ ۖ  ١٧١  اِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُوْرُوْنَۖ  ١٧٢  وَاِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ  ١٧٣

Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang (as-Saffat/37: 171-173)

Kalimat-kalimat itu sempurna, karena sesuai dengan fakta dan kenyataan yang bisa disaksikan dalam sejarah kemenangan nabi-nabi, dan kehancuran musuh-musuhnya tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah.

Janji Allah tak dapat diubah dan pasti Allah akan memberikan pertolongan kepada rasul-rasul dan pengikut-pengikutnya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui segala ucapan mereka yang berkhianat dan mengetahui pula isi hati mereka dan segala dosa yang mereka perbuat.


Baca juga: Makna Islam Sebagai Agama Perdamaian dalam Al-Quran


Ayat 116

Jika kaum Muslimin selalu mengikuti kemauan orang-orang  non Muslim, niscaya mereka berhasil menyesatkan kaum Muslimin dari jalan Allah. Oleh karena itu, Allah melarang keras mengikuti hukum-hukum selain yang diturunkan-Nya.

Larangan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa kaum musyrik hanya mengikuti persangkaan belaka dalam akidah mereka. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu, dan selalu berdusta kepada Allah. Mereka juga menghalalkan bangkai dan hewan yang diperuntukkan bagi berhala.

Sejarah membuktikan bahwa timbulnya kesesatan pada sebagian besar manusia di dunia adalah karena mereka mengikuti hawa nafsu dan prasangka. Ahli Kitab telah meninggalkan petunjuk nabi-nabi mereka dan tersesat jauh dari kebenaran.

Demikian pula para penyembah berhala telah  jauh dari petunjuk nabi-nabi mereka. Nabi Muhammad diberi tahu oleh Allah tentang keadaan umat-umat terdahulu itu dan ini membuktikan kebenaran beliau sebagai Rasul.

Ayat 117

Sesungguhnya Allah yang telah memberi petunjuk kepada Muhammad dan menurunkan wahyu kepadanya. Allah mutlak mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa pula orang-orang yang memperoleh petunjuk-Nya.

Oleh sebab itu, kaum Muslimin wajib berpedoman pada hukum-hukum yang telah diterangkan dalam Alquran dan menjauhkan diri dari segala macam penyelewengan dan perbuatan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, karena mengikuti kemauan orang-orang yang sesat yang telah diperbudak oleh hawa nafsu, sehingga mereka tidak mengetahui lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121


(Tafsir Kemenag)

Kosa Kata Bahasa Asing dalam Al-Quran

0
Bahasa asing dalam Al-Quran
Bahasa asing dalam Al-Quran

Al-Quran secara umum diturunkan dalam Bahasa Arab. Namun, Bahasa Arab bukanlah satu-satunya bahasa dalam peradaban manusia. Sejak dimulainya kehidupan bumi, manusia dari berbagai etnik wilayah berkoneksi, berinteraksi dan berdiaspora termasuk soal budaya bahasa. Pada saat itu Al-Quran diturunkan tidak lepas dari konteks masyarakat Arab Quraisy. Sehingga menjadi persoalan bahwa, apakah semua kata dalam Al-Quran itu adalah bahasa Arab orisinil, atau ada kata-kata serapan bahasa asing yang telah terarabkan (ta’arib)?

Akibat polemik tersebut muncullah studi ilmu fiqhu al-lughah yang digunakan dalam pegkajian filologi linguistik qur’anik. Karya-karya ulama klasik mewarnai ilmu fiqh al-lughah ini seperti al-Khasais karya Abu al-Fath Usman ibn Jinni, al-Shahibi fi Fiqh al-Lughah karya Ahman ibn Faris, dan al-Muzhar fi Ulum al-Qur’an karya Jalaluddin Abd al-Rahman ibn Abi Bakr al-Suyuthi. Pada perkembangannya, ulama kontemporer juga turut menyempurnakan disiplin fiqh al-lughah ini seperti karya Ali Abd al-Wahid al-Wafi yang berjudul ‘Ilm al-Lughah dan Fiqh al-Lughah, serta Fushul fi Fiqh al-Lughah al-‘Arabiyah karya Abd al-Tawwab Ramadhan.

Dalam ilmu fiqh al-lughah memang terdapat beberapa kosa kata bahasa asing dalam Al-Quran yang diprediksi bukan dari bahasa Arab asli. Para cendekiawan klasik dan modern sebenarnya berbeda pendapat soal ini. terdapat tiga pandangan, ada yang menolak secara mutlak, sedikit menerima, hingga menerima secara terbuka, tentunya dengan dalil masing-masing. Namun jumhur ulama seperti Ibnu Abbas dan murid-muridnya yang terkenal mufassir masyhur berpandangan bahwa memang terdapat kosa kata musta’ribah dalam Al-Quran.

Cendekiawan seperti Jawaliqi, Suyuthi, dan Kaffaji sepakat dengan pandangan Ibnu Abbas. Pada perkembangan selanjutnya pandangan ini dikaji oleh orientalis seperti Arthur Geoffrey yang menelurkan buku The Foreign Vocabulary of The Qur’an, sejarawan kontemporer Ahab Bdaiwi dari Cambridge University dan Leiden University serta pakar linguistik Arab lainnya.

Baca juga: Memahami Makna Tilawah al-Quran dari Segi Bahasa dan Penggunannya dalam Al-Quran

Kata-Kata Musta’ribah dalam Al-Quran

Dalam ilmu fiqh al-lughah ada beberapa kata yang diprediksi telah mengalami pengaraban atau beragining kata yang disebut musta’ribah. Kata-kata tersebut antara lain adalah lafadz سجل dalam surah Al-Anbiya ayat 104. Menurut Suyuthi Jawaliqi, dan Khaffaji sepakat kata tersebut berasal dari bahasa Absynia yang berarti رَجَلً (lelaki), namun Khaffaji mengartikannya surat. Ibn Jinni sepakat dengan Khaffaji yang mengartikannya surat, namun ia berpendapat bahwa kata itu berasal dari Bahasa Parsi. Berbeda dari dua pandangan di atas, Arthur Geoffrey menyatakan bahwa kata ini bukan berasal dari Absynia maupun Parsi, tetapi dari bahasa Yunani yang setara dengan bahasa Latin sigillum.

Kata قِرْطَاس dalam surah Al-An’am ayat 7 juga diprediksi sebagai bahasa asing. Menurut sebagian pakar linguistik dan filologi qur’anik, kata ini berasal dari bahasa Yunani charta dan dalam bahasa Absynia berarti kartas. Namun para mufassir seperti al-Farra’ dan Raghib Isfahani berpendapat bahwa kata ini asli dari bahasa Arab yang berarti shahifah atau lembaran.

Baca juga: Alasan Kenapa Al-Quran Diturunkan Berbahasa Arab

Sejarawan kontemporer sekaligus sarjana Islamic studies Ahab Bdaiwi mengkaji kata-kata musta’ribah dalam Al-Quran yang ia telaah dari ulama-ulama klasik. Ia menyimpulkan bahwa di dalam Al-Quran terdapat beberapa kata asing yang berasal dari Ethiopia, Persia, India, Turki, Nabatean, Syria, Koptik, Ibrani, Yunani, Berber, dan Abysinia.

Menurut Bdaiwi dalam surah AN-Nisa’ ayat 51, lafadz جِبْت adalah nama setan dari Ethiopia kuno, sedang lafadz طَاغُوْت artinya adalah singkatan dari nama peramal atau tipe dari seorang penyihir. Pendapat ini ia kutip dari kritikus Hadis Ibn Abi Hatim yang juga mengutip pandangan Ibn Abbas.

Kata-kata Persia dalam Al-Quran menurut Bdaiwi adalah lafadz اسْتَبْرَق yang muncul 4 kali seperti dalam surah Al-Kahfi ayat 31 yang berarti tebal yang merujuk untuk menyifati “sutra yang tebal”. Tentang kosa kata yang berasal dari India Bdaiwi mengutip Suyuthi untuk lafadz ابْلَعِي dalam surah Hud ayat 44 yang berarti makanan atau minuman. Bdaiwi juga mengutip pandangan Ibn Abi Hatim bahwa semua lafadz كفر dalam Al-Quran sepertinya meminjam dari bahasa Ibrani yang berarti menutupi atau menyembunyikan.

Baca juga: Introducing English Semantics: Teori Semantika Al-Quran Ala Charles W. Kreidler

Kata-kata Nabatean juga ditemukan beberapa dalam Al-Quran seperti lafadz طَوْر سِيْنيْنَ dalam surah al-Tin ayat 2. Kemudian lafadz الْحَوَّارِيُّوْنَ adalah bahasa Nabatean dan lafadz اَسْفَارًا yang berarti buku. Indikasi kata Berber dalam Al-Quran juga ditemukan dalam surah Al-Ma’arij ayat 8 pada lafadz المُهْل yang dimakanai sebagai “jatuh” atau “jatuh ke bawah”.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, dalam disiplin filologi qur’anik memang dikembangkan penemuan-penemuan baru tentang kata-kata musta’ribah ini. Selain terdapat perbedaan pandangan antar mufassir mengenai hal ini, upaya tentang perkembangan studi fiqh al-lughah atas asal-usul kata tersebut terus diteliti oleh para pakar.

Kasuistik tersebut sebetulnya tidak perlu ditanggapi negatif oleh umat muslim, karena pada hakikatnya Al-Quran sendiri tidak tereduksi otentisitasnya sebab adanya kata-kata musta’ribah tersebut. Dan sebagai seorang muslim yang bijak upaya para mufassir dan cendekiawan untuk terus mengembangkan kajian kata-kata musta’ribah tersebut sejatinya akan memperkaya disiplin keilmuan tafsir Al-Quran. Karena dalam Islam sendiri ijtihad terbuka lebar yang menurut Hadis Rasulullah akan mendapatkan dua pahala apabila benar, dan satu pahala apabila keliru. Wallahu a’lam[]