Beranda blog Halaman 484

Tafsir Surat Al An’am Ayat 111-113

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 111-113 ini pun masih berbicara mengenai hal tersebut, yaitu bila pun permintaan mereka dikabulkan mereka tetap tidak akan beriman, sebagaimana pembahasan yang lalu berbicara mengenai permintaan orang-orang kafir atas mukjizat Nabi Muhammad SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 111-113 dinyatakan alasan keingkaran mereka, yaitu permintaan itu tidak didasari rasa yang tulus untuk mencari kebenaran. Sebaliknya mereka memintanya untuk tujuan permusuhan.

Selanjutnya Tafsir Tafsir Surat Al An’am Ayat 111-113 menerangkan tentang musuh-musuh manusia berupa setan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setan bisa berasal dari jin dan juga berasal dari manusia.

Ayat 111

Dalam ayat ini diterangkan kepada kaum Muslimin, jika sekiranya Allah berkenan menurunkan malaikat-malaikat kepada kaum musyrik sehingga mereka dapat melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri dan dapat mendengar perkataannya dengan telinga mereka sendiri tentang kesaksian para malaikat bahwa Muhammad itu betul-betul utusan Allah.

Dan sekiranya orang-orang yang telah mati dihidupkan kembali lalu berbicara dengan mereka tentang kebenaran Nabi Muhammad, dan juga sekiranya segala sesuatu baik berupa keterangan Alquran tentang kebenaran Nabi dan mukjizatnya itu dikumpulkan dan ditampakkan kepada mereka, niscaya mereka tidak beriman, sebagaimana mereka nyatakan dalam sumpah mereka.

Mereka meminta tanda-tanda itu bukan untuk mencari petunjuk ke arah iman, melainkan untuk tujuan permusuhan, sehingga apapun yang mereka saksikan selalu mereka anggap sebagai sihir. Jika Allah menghendaki mereka beriman, tentu hati mereka terbuka untuk beriman dengan cara yang sungguh-sungguh.

Mereka tidak mengetahui bahwa iman tidak perlu disangkutpautkan dengan melihat tanda-tanda kebenaran, sebab telah menjadi kebenaran umum bahwa keimanan adalah semata-mata anugerah dari Allah Ta’ala.

Walaupun kepada orang-orang musyrik telah diperlihatkan tanda-tanda kebenaran Nabi Muhammad, namun hal itu tidak menjadi jaminan mereka benar-benar akan beriman, sebab datangnya keimanan bukanlah dengan paksaan, melainkan karena keikhlasan hati, karunia, taufik dan hidayah dari Allah swt.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa watak orang musyrik itu tidak diketahui oleh kebanyakan kaum Muslimin sehingga mereka meminta  kepada Nabi Muhammad untuk memperlihatkan mukjizatnya, dengan harapan agar orang-orang kafir itu beriman. (Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kebanyakan orang yang tidak mengetahui ialah orang-orang kafir).

Ayat 112

Menurut Mujahid, Qatadah dan Hasan al-Basri, di antara jin dan manusia itu ada yang menjadi setan. Pendapat ini diperkuat oleh Abu Zar yang ditanya oleh Nabi Muhammad, “Wahai Abu Zar apakah kamu telah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan setan yang berasal dari jin dan manusia?”

Lalu Abu Zar bertanya, “Ya Rasulullah adakah setan-setan dari manusia?” Nabi Muhammad menjawab, “Ya benar-benar ada”. Yang dimaksud di sini adalah manusia yang berperilaku seperti setan, selalu mengajak kepada kejahatan dan permusuhan.

Ayat ini menjelaskan, bahwa kaum Muslimin menghadapi sikap permusuhan orang-orang musyrik. Demikian pulalah Allah menjadikan bagi tiap-tiap Nabi musuh-musuh yang terdiri dari setan-setan baik dari jenis manusia maupun dari jenis jin.

Setan-setan adalah musuh bagi para nabi dan para ulama yang menjadi pewaris para nabi; juga bagi setiap mubalig yang menyiarkan agama Allah, Setiap kali timbul hal yang bertentangan, pastilah yang satu akan mengalahkan yang lain, yang kuat tentu menghancurkan yang lemah, dan menjadi sunatullah, bahwa kesudahan yang baik dan kemenangan terakhir tentu berada di pihak golongan yang benar.


Baca juga: Mengenal Tafsir al-Mahalli, Tafsir Al-Quran Beraksara Arab Pegon Karya Kiai Mujab Mahalli


Apabila turun hujan deras akan timbul banjir, dan ia akan menimbulkan buih yang banyak sekali di atas permukaan air. Buih itu, jika ditiup angin, segera lenyap menghilang sehingga hanya airnya yang tetap di bumi.

Demikian pula kehidupan ini penuh dengan perjuangan; dan seorang pejuang tidak dapat memelihara kedudukannya kecuali dengan kegigihan dan kesabaran. Demikian pula amal-amal yang diterima Allah hanyalah amal-amal yang dikerjakan dengan baik dan ikhlas. Hal ini ditegaskan oleh Allah sebagai berikut:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

Artinya:

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ”Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (al-Baqarah/2: 214)

Setan-setan yang menjadi musuh para nabi berusaha membisikkan kepada orang yang digodanya bujukan yang indah-indah untuk menipu mereka, dan mengelabui penglihatan mereka sehingga dengan tidak disadari mereka tergelincir dari jalan yang benar.

Telah terbukti dengan nyata tipu muslihat setan itu pada peristiwa yang dialami oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Setan bersumpah dengan halus dan menggambarkan kepada Adam bahwa bila Adam dan isterinya mau makan buah khuldi (buah keabadian), maka ia akan tetap tinggal di surga selama-lamanya.

Demikian pula, setan membisikkan kepada orang-orang yang terjerumus melakukan kemaksiatan. Setan tersebut membisikkan agar mereka menggunakan kesempatan untuk hidup bebas merdeka di dunia ini menikmati segala kelezatan hidup, karena mereka tidak perlu takut pada siksaan Allah, karena Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Sekiranya Allah menghendaki agar setan-setan itu tidak menipu manusia, tentulah setan-setan itu tidak dapat berbuat apapun. Tetapi Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk memilih apa yang akan mereka kerjakan menurut petunjuk akalnya yang sehat dan memilih jalan yang akan ditempuhnya, jalan yang benar atau jalan yang salah.

Karena itu, Nabi diperintah untuk tidak menghiraukan mereka, sebab nanti di akhirat mereka harus mempertanggungjawabkan segala tingkah laku mereka selama di dunia. Sedangkan Nabi hanya bertugas menyampaikan.

Ayat 113

Setan membisikkan kata-kata yang penuh tipu daya kepada orang-orang yang akan disesatkannya agar mereka tidak percaya adanya kehidupan akhirat dan agar mereka cenderung pada bisikan-bisikan itu, lalu mereka tertarik untuk mengikuti apa yang dibisikkan.

Adapun orang-orang yang menyadari bahwa setiap perbuatannya pasti harus dipertanggungjawabkan, dia tidak akan tertipu oleh bisikan-bisikan setan, walaupun setan-setan itu berusaha keras untuk mempengaruhi mereka agar mengerjakan apa yang dibisikan.


Baca setelahnya:  Tafsir Surat Al An’am Ayat 114-117


(Tafsir Kemenag)

Inilah Amalan Agar Mudah Bangun Untuk Ibadah Shalat Malam

0
Shalat Malam
Shalat Malam

Ibadah shalat malam – terutama shalat sunah tahajud – memiliki keutamaan agung, karena pada waktu itu sebagian besar manusia beristirahat dan terlelap dalam tidur mereka. Orang yang mau mengorbankan waktu istirahatnya untuk bangun malam dan beribadah kepada Allah Swt akan mendapatkan ganjaran pahala yang tak ternilai.

Allah Swt telah menjelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an tentang besarnya pahala yang diperoleh dari melaksanakan ibadah (shalat) di malam hari. Firman Allah Swt, “Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari (QS, al-Insan [76]: 26).

Nabi Muhammad Saw juga menerangkan keutamaan ibadah shalat di malam hari. Beliau Bersabda:

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ.

Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi, hadis ini derajatnya hasan)

Dalam Khasyiyah Raudhi al-Murbi’ (2: 219) diterangkan bahwa shalat yang paling baik setelah shalat wajib lima waktu (al-maktubah) adalah shalat di malam hari, yakni shalat sunnah tahajud dan hal ini telah menjadi ijma’ atau kesepakatan para ulama. Bahkan diriwayatkan bahwa shalat malam adalah kewajiban bagi para nabi dan rasul.

Baca Juga: Inilah Keutamaan Shalat Menurut Al-Quran: Tafsir QS. Al-Ankabut [29] Ayat 45

Ibadah shalat di malam hari tidak hanya terbatas pada shalat tahajud. Ia mencakup shalat tarawih, shalat witir, shalat hajat, shalat tahajud, dan shalat sunah mutlak (shalat sunah yang tidak punya sebab dan tidak terikat dengan waktu tertentu) yang dilakukan di malam hari serta shalat sunah rawatib, baik itu qabliyah atau ba’diyah yang dilakukan di malam hari.

Ibadah shalat di malam hari menjadi utama – selain disebabkan beratnya pelaksanaan bagi seorang hamba dan perlunya usaha yang lebih besar – karena pada malam hari terdapat waktu mustajab, yakni di sepertiga malam. Pada waktu ini, segala macam ibadah dan doa atas izin Allah Swt akan lebih mudah diterima. Pada waktu tersebut pula hati manusia lebih lembut dibandingkan waktu lainnya (Majmu’ Fatawa [5]: 130).

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang apabila seorang muslim memohon kepada Allah Swt dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu tersebut, maka Allah Swt pasti akan memberikan kepadanya, dan hal ini (waktu mustajab) ada pada setiap malam.” (HR. Muslim).

Selain mendapatkan ganjaran pahala, orang yang melakukan shalat malam juga mendapatkan beberapa keutamaan, seperti diangkat derajat, ditentramkan hati dan pikiran, dikabulkan doanya, kesehatan rohani terjaga, menyehatkan tubuh terutama pernafasan, meningkatnya kekebalan tubuh (imunitas), dimudahkan jalan menuju surga, dan lain-lain.

Surat al-Kahfi [18] ayat 109: Amalan Agar Mudah Bangun Untuk Ibadah Shalat Malam

Bangun untuk shalat malam sangatlah sulit jika belum terbiasa. Karena bisa jadi kita sudah terlalu lelah bekerja dan beraktivitas di siang hari. Akhirnya, sepanjang malam kita hanya beristirahat dan tertidur dengan lelap. Kita tidak akan terbangun kecuali subuh datang atau bahkan setelah terbitnya matahari.

Kesulitan untuk bangun malam tidak hanya dialami oleh segelintir orang, tapi juga dialami banyak orang. Menurut Sleep Cycle, rata-rata orang Indonesia bangun sekitar pukul 06. 55 pagi. Hal ini menunjukkan bahwa – terlepas dari kegiatan yang mereka lakukan sebelumnya – tidak banyak orang yang bisa bangun di sepertiga malam.

Salah satu cara agar mudah bangun untuk ibadah shalat di malam hari adalah dengan pembiasaan, yakni melatih diri agar bisa bangun lebih cepat secara perlahan dan berkala. Langkah pertama adalah mempercepat jam tidur, kira-kira sekitar jam 22.00 sampai jam 23.00 malam. Kemudian memastikan kualitas tidur tersebut sebaik mungkin agar istirahat menjadi Optimal.

Selain melalui usaha di atas, menurut al-Ghazali cara agar mudah bangun untuk ibadah shalat di malam hari adalah melalui bacaan atau amalan doa. Ia menerangkan dalam kitab adz-Dzahabul Ibris bahwa ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai amalan doa agar bisa bangun kapan saja pada malam hari untuk beribadah.

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Pandangan Mata Ketika Shalat, ke Depan atau ke Tempat Sujud?

Ayat Al-Qur’an yang dapat diamalkan adalah QS. al-Kahfi [18] ayat 109 yang berbunyi:

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا ١٠٩

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. al-Kahfi [18]: 109).

Amalan ini al-Ghazali kutip dari Ibnu Qutaibah. Ia berkata, “Ada salah seorang yang saleh sangat gemar menjalankan shalat malam. Suatu ketika ia merasa berat sekali untuk bangun malam. Maka ia mengadu pada salah seorang arif. Orang tersebut menjawab, ‘Jika engkau hendak berbaring menuju tempat tidurmu maka bacalah QS. al-Kahfi [18] ayat 109.

Kemudian sebutkanlah kapan engkau hendak bangun pada malam tersebut, in sya Allah engkau akan bangun pada jam itu.’ Orang saleh itu kemudian mengamalkan amalan QS. al-Kahfi [18] ayat 109 setiap sebelum tidur. Lalu ia berkata, ‘Aku pun melakukannya dan aku terbangun pada saat yang kuinginkan.” Wallahu a’lam.

Kapankah Datang Pertolongan Allah Swt? Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 214

0
Pertolongan Allah
Surat al-Baqarah Ayat 214, Pertolongan Allah

“…Kapankah datangnya pertolongan Allah? Ketahuilah olehmu, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Q.S. Al-Baqarah: 214)

Ayat ini turun pada waktu perang Khandaq, di mana umat Islam ditimpa kesulitan, keletihan, kelaparan dan bermacam-macam penderitaan. Sedangkan kaum musyrikin memperlihatkan permusuhannya dengan gencar, sehingga para sahabat ada yang mengeluh. Rasul pun bertanya: Kapankah datang pertolongan Allah? Allah menjawab: “Ketahuilah olehmu, bahwa pertolongan Allah itu dekat.”

Ayat ini merupakan jawaban sekaligus janji Allah atas pertanyaan hamba-Nya tentang kapan datangnya pertolongan Allah. Kita semua tentu yakin bahwa Allah tidak akan ingkar janji. “…Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji.” (Q.S. Ali Imran: 9)

Atas dasar keterangan ayat-ayat di atas, maka tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan datangnya pertolongan Allah. Tentang persisnya, kapan waktu datangnya pertolongan Allah tersebut hanya Allah yang tahu. Dan Dialah yang punya hak prerogatif untuk menentukan kepada siapa dan kapan datangnya pertolongan itu.

Baca Juga: Amal Banyak Tapi Sering Menyebut Kebaikannya, Bagaimana Menurut Al-Quran?

Pada prinsipnya, Allah sudah memberi informasi tentang siapa yang akan mendapatkan pertolongan dari-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolongmu dan mengukuhkan pendirianmu.” (Q.S. Muhammad: 7)

Dalam ayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. Al Hajj : 40)

Allah memang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia mampu melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya. Dia tidak butuh pertolongan siapa pun. Lantas, apa makna ‘menolong’ Allah—sebagai syarat agar Allah menolong kita— dalam ayat tersebut?

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Dzilal al-Qur’an, sebelum menjelaskan tafsir dari kalimat ‘menolong’ Allah, mengajukan sebuah pertanyaan, ”Bagaimana cara orang-orang beriman menolong Allah?” Beliau kemudian menjawab sendiri pertanyaannya, ”Sesungguhnya mereka memurnikan Allah dalam hati mereka dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, baik syirik yang nyata maupun yang tersembunyi, serta tidak menyisakan seseorang atau sesuatu pun bersama-Nya didalam dirinya. Dia menjadikan Allah lebih dicintai dari apapun yang dia cintai serta meneguhkan hukum-Nya dalam keinginan, aktivitas, diam, saat sembunyi-sembunyi, terang-terangan maupun saat malunya, maka Allah akan menolongnya dalam segala urusannya.

Kemudian tentang tafsir kalimat ‘Dia akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu’, Sayyid Qutb menegaskan, banyak jiwa mampu tetap teguh terhadap suatu ujian dan cobaan namun sedikit yang tetap teguh ketika diberi kebahagiaan dan kenikmatan hidup. Keshalehan dan keteguhan hati di atas kesuksesan hidup merupakan derajat yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari kesuksesan itu sendiri.

Orang-orang yang ‘menolong’ (agama) Allah, dengan tetap istiqamah berjalan di atas jalan-Nya, tidak menyekutukan-Nya, menaati segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya akan dikokohkan pendiriannya serta dimantapkan hatinya. Mereka tidak akan berubah sedikit pun sikap, perilaku, serta ketaatannya kepada Allah, meski harus berjuang sekuat tenaga menghadapi serangkaian persoalan hidup yang menderanya.

Penyakit yang tak kunjung sembuh, jeratan kemiskinan yang terus-menerus melilit mereka hari demi hari, bisnis yang gagal, bahkan kehilangan orang yang dicintai karena kecelakaan atau musibah lainnya tidak menghalangi mereka untuk terus taat dan tawakkal kepada Allah.

Baca Juga: Ashabul Kahfi: Representasi Perjuangan Pemuda dalam Al-Quran

Di saat lain, ketika kesuksesan telah mereka raih, ketika segala kesenangan hidup mewarnai hari-hari mereka, ketika semua harapan serta cita-cita mereka tercapai, mereka semakin asyik ber-taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah Swt. Mereka ingin menununjukkan rasa syukurnya kepada Sang Pemberi rizki. Mereka ingin disebut sebagai ‘abdan syakura, hamba yang pandai bersyukur atas segala kelimpahan nikmat serta anugerah yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Inilah tipikal orang-orang yang dimantapkan hatinya serta diteguhkan pendiriannya. Rasa sakit, lapar, kekurangan harta benda, bahkan kehilangan orang yang dicintai tidak menyebabkan mereka putus asa, bahkan semakin meningkatkan ibadah serta ketakwaannya kepada Allah. Pun ketika hari-hari mereka diwarnai kesenangan serta kebahagiaan hidup. Alih-alih membuai dan melenakan mereka, justru semakin mendekatkan mereka kepada Sang Pemberi kenikmatan dan kesenangan hidup, yakni Allah Swt. Wallahu A’lam.

Mengenal Mustansir Mir dan Unsur-Unsur Sastra Dalam Al-Quran

0
Mustansir Mir
Mustansir Mir

Setelah Amin Al-Khulli, lahirlah banyak tokoh yang mencoba memahami Al-Quran dengan menggunakan pendekatan sastra. Salah satunya yaitu Mustansir Mir. Sama dengan Amin Al Khulli, seorang tokoh mufasir yang berpendapat bahwa Al-Quran merupakan kitab bahasa Arab paling besar dan paling agung, yang oleh karenanya dia mencoba memahami Al-Quran dengan sastra bukan lagi dengan pendekatan teologis seperti para mufasir sebelumnya, Mustansir Mir juga demikian.  

Muntansir Mir adalah Profesor Islamic Studies pada Youngstown State University, Ohio, US. Dia menyelesaikan sarjana dan magisternya di Punjab University, Lahore, Pakistan. Dia menyelesaikan magister keduanya dan mendapatlan gelar Ph.D dari University of Michigan, Ann Arbor dalam bidang Islamic Studies. Dia mengajar di Universitas Lahore, University of Michigan, University of Virginia, University of Oxford, Youngstown University dan International Islamic University di Malaysia.

Banyak karya yang ditulis oleh Mustansir Mir yang mana ia mengkhususkan kajiannya terhadap pendekatan sastra. Seperti Verbal Idioms of the Quran, The Quran as Literature dan lain sebagainya. Mir menggunakan pendekatan sastra untuk menjelaskan kisah Yusuf dalam Al-Quran.

Mustansir Mir menerapkan kritik sastra kepada Al-Quran dengan menganalisis struktur cerita. Menurutnya, Al-Quran adalah salah satu karya sastra besar seperti Alkitab. Namun demikian, penyajian kesusastraan Al-Quran tidak bervariasi sebanyak yang Alkitab lakukan. Dalam Alkitab, ada lagu-lagu rakyat, puisi-puisi yang berisi duka cita dan ratapan, kegairahan para nabi, puisi yang menggambarkan keindahan alam dan sebagainya.

Pesan dalam Al-Quran disajikan oleh perangkat dan teknik sastra, seperti cerita, perumpamaan, dan sketsa karakter, menggunakan kiasan dan sejenisnya. Beberapa mufasir sebelumnya juga telah menggunakan pendekatan sastra untuk menafsirkan Al-Quran, salah satunya Amin Al-Khulli.

Al-Khulli mengedepankan dua prinsip metodologis yang merupakan metode ideal untuk mengkaji teks sastra. Dua metode tersebut yaitu; pertama, kajian terhadap segala sesuatu yang berada di sekitar Al-Quran (dirasah ma haula Al-Quran) dan kedua, kajian terhadap Al-Quran itu sendiri (dirasah fi Quran nafsihi).

Baca Juga: Amin Al-Khuli: Mufasir Modern Yang Mengusung Tafsir Sastrawi

Kajian seputar Al-Quran terfokus pada pentingnya aspek historis, sosial, kutural dan antropologis wahyu bersamaan dengan masyarakat Arab abad ke 7 Hijriah sebagai objek langsung ketika Al-Quran diturunkan. Secara teknis kajian ini lebih dikenal dengan Ulumul Quran.

Kajian selanjutnya yaitu kajian Al-Quran terhadap dirinya sendiri (dirasah ma fil Quran nafsihi). Kajian ini dimulai dengan meneliti kosa kata Al-Quran dengan mencari bentuk tunggalnya (mufrad) agar dapat dipahami secara total. Setelah mengkaji makna kata dari segi bahasa dan perkembangannya dilanjutkan pada kajian terhadap makna berdasarkan pada pemakaiannya dalam Al-Quran.

Tidak hanya berhenti dalam kajian asal kata, Al-Khulli juga mengamati preferensi penggunaan kata atau struktur bahasa, mengidentifikasi sintaksis (tipe struktur kalimat), leksikal (diksi, penggunaan kata tertentu), deviasi (penyimpangan dari kaidah umum tata bahasa).

Usaha Al-Khuli mengembangkan metode sastra dalam tafsir ini merupakan langkah untuk menjauhkan penafsiran dari subyektifitas mufasir. Sama halnya dengan Al-Khulli, Mir juga berkeinginan untuk merubah pola penafsiran yang subjektif menjadi objektif, setidaknya melalui pendekatan sastra yang telah Mir rumuskan.

Pendekatan Sastra yang digunakan oleh Mir agak sedikit berbeda dengan Al-Khulli. Mir lebih banyak menambahkan hal-hal yang belum tersentuh pada metode sastra Al-Khulli.

Baca Juga: Bint ِِAs-Syathi: Mufasir Perempuan dari Bumi Kinanah

Unsur-unsur sastra Al-Quran

Unsur-unsur sastra Al-Quran menurut Mustansir Mir antara lain; Pertama yaitu word choice. Al-Quran memilih kata-katanya dengan cara yang sangat rinci dan rumit, sehingga maknanya hanya dapat dipahami setelah pembacaan yang teliti. Misalnya Surat Al-Ahzab [33]: 13.

Kedua, gambaran atau kiasan. Al-Quran menggunakan bahasa yang indah. Ekspresi alegoris dan perumpamaan sering digunakan di dalamnya. Keindahannya diakui dari caranya  menggambarkan fenomena alam dan situasi orang Arab abad ke-7. Misalnya dalam QS Al-Qamar [54]: 19-20.

Ketiga, humor, sindiran dan ironi. Dalam Al-Quran tidak terlalu banyak ayat yang mengandung humor. Seperti dalam surat Al-Kahfi [18]:62-64. Keempat, permainan kata dan ambiguitas. Salah satu contoh permainan kata dalam Al-Quran yaitu terkandung dalam QS al-Baqarah[2]:61.

Kelima, narasi. Al-Quran biasanya tidak menceritakan keseluruhan cerita tetapi menceritakan bagian-bagiannya saja dan dalam bab yang berbeda. Ini bertujuan untuk menekankan tujuan mengapa sebuah kisah diceritakan dalam sebuah bab. Sebagai contoh, kisah Ibrahim termuat dalam surat-surat berikut: Al-An’am [6], Al-Anbiya [21], Al-Dhariyat [51] dan Al-Mumtaḥanah [60].

Baca Juga: Mengenal Makna Majaz dalam Al-Quran

Keenam, dialog dramatis. Dialog dalam Al-Quran biasanya diberikan dalam teks sederhana yang berisi pemahaman mendalam tentang pikiran dan perilaku manusia. Dialog biasanya ditemukan dalam narasi cerita-cerita dalam Al-Quran, seperti dialog antara Musa dan Khidr (Surah Al-Kahfi [18]: 65-83), Musa dengan Firaun (Surah Al-Syu’ara [26]: 16- 37) dan lainnya.

Ketujuh, karakter. Karakter Dari aspek teologis, karakter-karakter yang disebutkan dalam Al-Quran muncul dari manifestasi sifat atau karakteristik tokoh yang diriwayatkan. Dibandingkan dengan yang lain, karakter para nabi, seperti Ibrahim, Musa, Yusuf, dan lainnya, kebanyakan disebutkan di dalamnya. Inilah unsur-unsur sastra dalam Al-Quran menurut Mustansir Mir.

Mengenal Tafsir al-Mahalli, Tafsir Al-Quran Beraksara Arab Pegon Karya Kiai Mujab Mahalli

0
tafsir al-mahalli
tafsir al-mahalli (iqra.id)

Kajian tafsir Al-Quran terutama di wilayah kebudayaan Jawa seringkali berhasil mengungkap beragam unsur lokalitas yang kental. Kajian tersebut menjadi unik karena ternyata masih banyak karya-karya tafsir ulama di Jawa yang belum tersentuh oleh para peneliti. Salah satu karya tafsir Al-Quran yang penulis baru ketahui ialah Tafsir Al-Mahalli karya Kiai Mujab Mahalli asal bantul, Yogyakarta.

Kiai kondang yang pernah menjadi politikus ini ternyata sangat produktif dalam menulis. Walaupun demikian popularitas kitab tafsir ini tidak kemudian melambung tinggi seperti penulisnya. Kiai yang dikenal sebagai Gus Dur-nya Jogja ini menulis kitab tafsir dengan gaya Jogja-nya yang kental.

Tafsir al-Mahalli: Sebuah Kenang-Kenangan

Tafsir ini bernama lengkap, Tafsir Al-Mahalli li Ma’rifati Ayati Al-Qur’an wa Nuzuliha. Nama ini disematkan pada kitabnya untuk mengingat jasa besar sang ayah, Kiai Muhammad Mahali, dalam mendidik agama putra-putrinya. Kiai Mujab menghadiahkan kitab ini kepada istrinya tercinta, Nyai Nadhiroh binti Muslih sebagai kenang-kenangan pernikahannya. Dari sini penulis mengasumsikan penulisan kitab tafsir ini dimulai jauh sebelum Kiai Mujab menikah.

Tafsir Al-Mahalli ini masih belum ditemukan naskah aslinya. Dari penelusuran teman penulis yang juga mengembangkan penelitian mengenai kitab ini, diidapati fakta bahwa naskah yang didapat hanya juz 1 saja. Naskah yang lain masih belum dapar diakses. Penerbit kitab ini, yaitu Kota Kembang yang merupakan penyumbang penerbitan kitab ini ternyata juga sudah tutup.

Secara filologis, penulis masih belum pernah mengetahui kitab aslinya sehingga penulis hanya mendapati kitab yang telah di-copy. Kitab yang penulis dapati merupakan tafsir Al-Quran dari awal juz 1 hingga akhir juz 1 yakni awal Surat Al-Fatihah hingga ayat 141 Surat Al-Baqarah. Bila demikian bukan tidak mungkin kiai Mujab Mahalli menafsirkan seluruh Alquran sehingga kitabnya berjumlah 30 juz.

Baca juga: Mufasir Nusantara: Biografi KH. Mudjab Mahalli Al-Jogjawy

Kitab yang penulis dapati ini (juz 1) berjumlah 171 halaman. Halaman depannya berwarna kuning dengan tulisan Tafsir al-Mahalli: li ma’rifati ayati Alquran wa nuzuliha. Penerbitannya dilakukan oleh Penerbit kota kembang pada tahun 1989. Pada saat penerbitannya, kiai Mahalli masih disebut sebagai akhina syab oleh kiai Abdul Wahhab yang berarti beliau masih tergolong muda pada saat menuliskan tafsir ini. Penulisannya manual menggunakan pena khusus menulis aksara Arab.

Bahasa Jawa digunakan oleh kiai Mujab dalam menafsirkan Al-Quran. Tidak hanya bahasanya secara umum, namun dalam memberikan penjelasan-penjelasan yang spesifik atas diksi tertentu, kiai Mujab juga menggunakan diksi yang lumrah di masyarakat. Aksara yang digunakan oleh kiai Mujab dalam Tafsir Al-Mahalli ini ialah aksara Arab-pegon. Ia menggunakan Aksara Pegon dengan harakat dalam setiap menuliskan tafsirnya, baik pada makna gandulnya maupun pada penjelasan tafsirnya.

Jika ditelisik lebih dalam, ternyata ada sedikit perbedaan dalam penggunaan aksara Arab pegon ini dibanding dengan kitab tafsir karya kiai Bisri Musthofa. Kiai Bisri menggunakan Aksara Arab Pegon tanpa harakat dalam menuliskan makna gandulnya. Hal ini menjadi penting diperhatikan guna mengungkap siapakah yang menjadi objek pembaca kitab ini.

Dalam pandangan penulis, kiai Mujab memperhatikan pembaca yang tidak cukup familiar dengan aksara Arab pegon, sehingga dengan adanya harakat memberikan kemudahan kepada pembaca. Berbeda halnya dengan kiai Bisri yang menggunakan Arab pegon tanpa harakat dalam menuliskan makna gandulnya. Dapat dipahami bahwa dua kitab dengan karakter sama ini memiliki segmen pembaca yang berbeda

Dalam melakukan pembahasan, kiai Mujab memiliki cara tersendiri dalam nembentuk sistematikanya. Sistematika penulisan tersebut dapat diruntut ke dalam lima bagian. Pertama pendahuluan surat, di dalamnya kiai Mujab memberikan penjelasan mengenai nama dan asal usul surat tersebut. Seperti layaknua kitab-kitab klasik, nama, makki madani, isi kandungan surat disebutkan semuanya misalnya pada surat al-Baqarah yang berisi tentang keimanan, ksiah-kisah, hukum-hukum dan lain sebagainya.

Pada bagian kedua, kiai Mujab menuliskan ayat-perayat yang akan ditafsirkan sesuai dengan temanya. Jika dalam satu surat pendek, ia langsung menafsirkan semuanya, namun bila pada surat yang panjang semacam surat al-Baqarah, kiai Mujab mengklasifikasikan pada suatu topik tertentu.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul

Topik bahasan yang terdapat dalam Tafsir Al-Mahalli ini berbeda dengan yang ada dalam kitab lain. Kiai Bisri misalnya menafsirkan ayat satu Surat Al-Baqarah. sebagai satu topik tertentu yang membahas secara rinci huruf muqathaah. Adapun yang terdapat dalam kitab Tafsir Al-Mahalli, kiai Mujab menyatukan satu sub bahasan dari ayat pertama hingga ayat kelima

Pada bagian kedua ini, kiai Mujab dalam Tafsir Al-Mahalli menerapkan tradisi memberikan makna gandul yang lumrah dikalangan santri. Pemberian makna gandul ini mengacu pada makna per-kata yang dapat menunjukkan jabatan setiap kata dalam kalimat sehingga baik penafsir maupun pembaca dapat mengetahui kaidah nahwu sharaf atas ayat yang ditafsirkan. Pemberian makna gandul ini juga tidak melibatkan simbol-simbol dalam maknani (baca: memberi terjemahan), yang biasanya merupakan singkatan dan kedudukan suatu kata misalnya mim untuk mubtada dan kha untuk khabar.

Pada bagian ketiga, kiai Mujab memberikan penjelasan mengenai kumpulan ayat dengan menujukkan pula nomor ayat yang ditafsirkan. Pada bagian ketiga ini kiai mahalli memberikan unsur-unsur lokalitas dimana posisi ke-jawaannya cukup kental. Misalnya pada pembahasan di Surat Al-Fatihah ayat ke 5 yang ditafsirkan per-kata dengan namung ing panjenengan nyembah sapa kita, lan namung ing panjenengan nyuwun putullung sapa kita. Hal ini berbeda ketika dijelaskan dalam pabian ketiganya dengan redaksi, dumateng paduka piyambak kita nyembah, lan dumateng paduka piyambak kita nywun pitulung

Selain itu unsur lokal muncul pula dalam penafsiran Q.S. Al-Baqarah ayat 61 dimana kata baqliha, qitsaiha, fumiha, adasiha dan basoliha dimaknai secara lebih bisa dipahami kalangan awam. Baqliha dimaknai sebagai jejanganan (sayur-mayur), qitsaiha dimaknai dengan mentimun, fumiha dimaknai dengan gandum, adasiha dimaknai dengan kedelai, dan basoliha dimaknai dengan brambang (bawang merah).

Makna kata adas dalam Tafsir Kemenag bukanlah kedelai namun disebut dengan kacang adas sedangkan kata fum dimaknai dengan bawang putih. Ada pula pemaknaan kata manna wa salwa di Q.S. Al-Baqarah ayat 57 yang berarti madu lan manuk salwa/manuk gemak. Manuk gemak di sini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan antara burung salwa dengan burung gemak

Seperti pada judul tafsirnya, Kiai Mujab juga menyertakan sabab nuzul untuk setiap ayat yang memiliki riwayat asbabun nuzul. Dalam mengungkapkan suatu sababun nuzul, Kiai Mujab membuat suatu sub dengan judul Asbabun Nuzul pada akhir keterangan kemudian menjelaskan sabab nuzul-nya tanpa memberikan riwayat-riwayat hadis yang biasanya dilakukan ulama klasik.

Pada akhir surat (yakni bagian ke empat sistematikanya), Kiai Mujab memberikan penutup sebagai bentuk kesimpulan dari apa yang telah ditafsirkan. Penutup ini juga memberikan penjelasan mengenai keterkaitannya dengan surat setelahnya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 27-28

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah berbicara mengenai makhluk-makhluk kecil yang Allah jadikan sebagai bahan introspeksi diri bagi orang-orang kafir, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 27-28 bebicara mengenai sifat-sifat tercela orang-orang kafir.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 26


Inti dari sifat-sifat orang-orang kafir dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 27-28 ini bahwa mereka seringkali merusak perjanjian yang telah dibuat dengan Allah SWT. Padahal Allah telah menganugerahkan akal, indra dan lain sebagainya pada mereka agar dapat memikirkan segala yang mereka lakukan.

Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 27-28 ini Allah sekali lagi memberikan bahan introspeksi diri kepada orang-orang kafir dan seluruh manusia bahwa mereka berasal dari tanah dan kembali ke tanah. Selain itu Allah juga mengaskan tentang penganugrahan bumi dan seisinya untuk diambil manfaat oleh mereka.

Ayat 27

Sifat-sifat orang fasik dan juga orang kafir yang tersebut pada ayat di atas, yaitu:

  1. Melanggar perjanjian dengan Allah sesudah perjanjian itu teguh;
  2. Memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya;
  3. Membuat kerusakan di muka bumi.

Orang-orang yang merusak perjanjian Allah yaitu merusak perjanjian Allah dengan makhluk-Nya, bahwa seluruh makhluk-Nya akan beriman hanya kepada-Nya, kepada para malaikat, kepada para rasul, kepada kitab-kitab-Nya, kepada hari kemudian dan kepada adanya qada dan qadar Allah, mengikuti semua perintah dan menghentikan semua larangan-Nya.

Untuk itu Allah swt menganugerahkan kepada manusia akal, pikiran, anggota badan dan sebagainya agar manusia selalu ingat akan janjinya itu. Tetapi orang-orang fasik tidak mau mengindahkannya sesuai dengan firman Allah:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ  لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ  ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

… Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (al A′raf/7: 179)

“Dan mereka juga memutuskan apa yang telah diperintahkan Allah untuk menghubungkannya” ialah segala macam pemutusan hubungan yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya, seperti memutuskan hubungan silaturrahim antara sesama kaum Muslimin (an Nisa′/4: 1), membeda-bedakan para nabi dan rasul yaitu mengimani sebagiannya dan mengingkari sebagian yang lain (al-Baqarah/2: 285) dan sebagainya.


Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 34: Mengakui Keberadaan Perempuan Sebagai Kepala Keluarga


Termasuk pula di dalam memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya ialah mengubah, menghapus atau menambah isi dari kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para rasul-Nya yang berakibat putusnya hubungan antara agama Allah yang dibawa para rasul.

Orang-orang fasik membuat kerusakan di bumi, karena mereka itu tidak beriman, menghalang-halangi orang lain beriman, memperolok-olokkan yang hak, merusak akidah, merusak atau melenyapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk memakmurkan alam ini buat kemaslahatan manusia serta merusak lingkungan hidup. Mereka orang-orang yang rugi di dunia karena tindakan-tindakannya dan rugi di akhirat dengan mendapat kemarahan Allah.

Ayat 28

Sebelum menjadi makhluk hidup, manusia adalah makhluk mati yang berasal dari tanah. Setelah manusia hidup Allah melanjutkan keturunannya dengan mempertemukan sperma laki-laki dan ovum perempuan di dalam rahim perempuan. Setelah melalui beberapa proses, kedua sel ini menjadi bentuk tertentu. Lalu Allah swt meniupkan roh ke dalamnya, sehingga ia menjadi ia manusia.

Pada saat manusia lahir ke dunia, Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, hati dan akal (as Sajdah/32: 7-11), menjadikan makhluk yang paling sempurna bentuknya (at Tin/95: 4), dan paling mulia di sisi-Nya (al Isra′/17: 70).

Allah menjadikan bumi ini untuk manusia untuk diambil manfaatnya, agar manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah, memberi rezeki untuk kelangsungan hidup dan kehidupannya sampai waktu yang ditentukan (Hud/11: 3).

Kemudian malaikat maut mencabut nyawanya, sehingga dia menjadi mati kembali. Pada saatnya, Allah swt menghidupkannya kembali untuk meminta pertanggungjawabannya. Orang yang beriman dibalas dengan surga dan orang-orang kafir dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Ayat ini mengingatkan kepada orang yang beriman tentang beberapa hal:

  1. Allah Mahakuasa menghidupkan dan mematikan, kemudian membangkit-kannya kembali setelah mati. Hanya kepada-Nyalah semua makhluk kembali.
  2. Agar manusia jangan terlalu cenderung kepada dunia. Hidup yang sebenarnya ialah di akhirat nanti. Hidup di dunia merupakan hidup untuk mempersiapkan hidup yang lebih baik nanti.
  3. Allah-lah yang menentukan ukuran, dan batas waktu kehidupan makhluk, seperti kapan suatu makhluk harus ada, bagaimana keadaannya, kapan akhir adanya dan sebagainya.

Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 29


(Tafsir Kemenag)

Ucapan Umar bin Khattab (Khulafaur Rasyidin) yang Diabadikan dalam Ayat Al-Quran

0
Umar bin Khattab (Khulafaur Rasyidin) yang Ucapannya Diabadikan Al-Quran
Umar bin Khattab (Khulafaur Rasyidin) yang Ucapannya Diabadikan Al-Quran

Nama Umar bin Khattab tentu tidak asing lagi di telinga kita. Khalifah yang kedua setelah Abu Bakar As-Siddiq ini memang terkenal karena wibawanya. Kewibawaan Umar bahkan telah nampak sebelum ia mengikrarkan dua kalimat syahadat. Salah satu keistimewaan lainnya yang mungkin jarang kita ketahui adalah, diabadikannya ucapan Khalifah Umar bin Khattab dalam ayat Al-Quran.

Tentu kita bertanya kok bisa ucapan Umar bin Khattab diabadikan dalam Al Qur’an? Mengenai hal ini, Kitab Al Itqan fi Ulumil Qur’an anggitan Imam Jalaluddin As-Suyuti memasukkan pembahasan ini dalam ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan berdasarkan lisan sebagian sahabat. Jadi, maksud dari ucapan Umar diabadikan dalam Al Qur’an adalah, ucapan Umar menjadi sebab musabab turunnya ayat Al Quran. Tak hanya itu, ayat yang turun pun terkadang serupa dengan apa yang diucapkannya.


Baca juga: 5 Prinsip Etika Berkomunikasi Menurut Al-Quran


Sebelum mengetahui ayat apa saja yang turun sebab ucapan Umar, kita perlu tahu terlebih dahulu definisi asbabun nuzul. Asbabun nuzul merupakan sebab-sebab turunnya Al Qur’an baik berupa peristiwa maupun pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad. Dari definisi ini kita bisa mengetahui bahwa ucapan sahabat pun bisa menjadi sebab turunnya ayat. Apalagi ucapan itu datang karena merespon suatu peristiwa.

Perihal sosok Umar bin Khattab, memang tidak hanya sekali ucapannya terekam dan menjadi sebab turunnya ayat. Dalam berbagai riwayat, ada yang menyebut tiga bahkan empat kali. Maka tak heran jika Rasulullah Saw pernah bersabda,

إن الله جعل الحق على لسان عمر و قلبه

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran (al-haq) melalui lisan Umar dan hatinya”

Hadis yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi dari riwayat Ibnu Umar ini memang menjadi penguat betapa layaknya ucapan Umar bin Khattab terdokumentasi sebagai sabab nuzulnya ayat Al Qur’an.


Baca juga: Makna Islam Sebagai Agama Perdamaian dalam Al-Quran


Ayat-ayat yang Turun atas Ucapan Umar bin Khattab

Imam Bukhari beserta imam hadis lainnya pernah mengeluarkan sebuah riwayat dari Anas tentang Umar bin Khattab. Kala itu Umar bin Khattab menyebut, “Aku pernah sependapat dengan Tuhanku dalam tiga hal.” Setelah itu Umar bin Khattab menyebut ayat-ayat yang serupa dengan apa yang pernah ia ucapkan.

Pertama, Khalifah Umar pernah bertanya pada Nabi Muhammad, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai mushala (tempat shalat)?” Istimewanya, Allah menurunkan wahyu yang serupa yakni QS. Al Baqarah: 125.

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ

Kedua, Umar juga pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya yang masuk ke rumah istri-istrimu itu ada yang baik dan ada yang jahat. Karena itu perintahkanlah kepada mereka untuk berhijab?” Setelah itu turunlah ayat tentang hijab.


Baca juga: Penafsiran “ Berkah” dalam Surat Al-Isra’ Ayat 1


Ketiga, Umar berkata kepada istri-istri Nabi yang saling cemburu. “Jika Allah memisahkan Nabi dengan kalian maka Allah akan memberikan pengganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.”  Maka turunlah QS. At Tahrim: 5.

عَسٰى رَبُّهٗٓ اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبْدِلَهٗٓ اَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنْكُنَّ

Begitupun dengan Imam Muslim, Ibn Abi Hatim, dan Abdullah bin Abi Laila yang meriwayatkan ucapan Umar sebagai sebab turunnya ayat. Misalnya Ibn Abi Hatim dan Abdullah bin Abi Laila yang juga meriwayatkan ayat lain yang tidak disebutkan Imam Bukhari tadi. Alkisah, Setalah turunnya QS. Al Mu’minun: 12 yang berbunyi,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ

Seketika Umar bin Khattab mengucapkan fatabarakallahu ahsanul khaliqin. Dan lagi-lagi turunlah ayat serupa dengan ucapan Umar. Ayat ini terdapat dalam QS. Al Mu’minun: 14.

فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ

Riwayat terakhir, dari Abdurrahman bin Abi Laila yang mengisahkan, ada seorang Yahudi yang bertemu dengan Umar bin Khathab. Namun orang Yahudi itu justru berkata, “Sesungguhnya Jibril yang telah disebut-sebut oleh temanmu (Muhammad) itu adalah musuh kita.” Merespon ucapan itu, Umar bin Khattab melontarkan ucapan yang kemudian terdokumentasi dalam QS. Al Baqarah: 98.

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَرُسُلِهٖ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكٰىلَ فَاِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِّلْكٰفِرِيْنَ

Yang artinya: “Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir.”


Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 36: Allah Tidak Menyukai Sifat Sombong dan Angkuh


Dalam hal ini, memang bukan hanya ucapan Umar bin Khattab yang diabadikan dalam ayat Al Qur’an. Ada sahabat lain seperti Sa’ad bin Mu’adz, Zaid bin Haritsah, Abu Ayyub dan sahabat lainnya. Namun karena ada beberapa ayat yang turun sebab Umar bin Khattab (tidak hanya satu), nampaknya patut disebut bahwa ini adalah keistimewaan. Terlebih Rasulullah menyebut adanya kebenaran (al-haq) melalui lisan dan qalbu Umar.

Apapun itu, yang terpenting bagi kita adalah mengambil pelajaran dari ini semua.

Wallahu a’lam bis shawab[]

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 34: Mengakui Keberadaan Perempuan Sebagai Kepala Keluarga

0
perempuan kepala keluarga
perempuan kepala keluarga (komunita.id)

Pernikahan seringkali diibaratkan sebagai sebuah bahtera. Di mana tentu akan menemui pasang-surut ombak laut hingga badai-topan bumi Tuhan. Berjalan berdampingan juga saling bahu-membahu merawat pernikahan adalah hal yang selalu diusahakan oleh semua pasangan suami-istri. Sebagai perjanjian yang disetujui oleh mempelai perempuan juga laki-laki, pernikahan adalah komitmen yang dibuat oleh dua pihak, tentu harus merangkul atas keadilan terhadap keduanya.

Namun, standarisasi budaya telah lebih kuat mengakar dalam pola kehidupan masyarakat. Salah satu potretnya adalah laki-laki harus mapan secara finansial atau mempunyai peran yang lebih, dalam tugas publik. Lain halnya dengan perempuan, mereka harus lebih mapan dalam hal keahlian atau skill, yang seringkali dikaitkan dengan persoalan domestik. Sebut saja contohnya seperti memasak, mencuci baju, mengurus rumah hingga menyiapkan kebutuhan keluarga atau rumah tangga.

Relasi suami-istri sangat erat dengan bagaimana konsep nafkah dijalankan. Siapa yang akan menafkahi, apa pekerjaan yang dilakukan pemberi nafkah, bagaimana sirkulasi keuangan keluarga atau rumah tangga setiap harinya, hingga pundi rupiah yang disimpan untuk mengawal tumbuh kembang buah hati kelak pun tidak luput dari perbincangan harian suami-istri.

Yang menjadi pertanyaan adalah jika dalam hukum mainstream, laki-laki (suami) sebagai pencari nafkah utama, bagaimana dengan nasib para perempuan kepala keluarga atau yang lebih akrab disapa “janda”? apakah keberadaannya diakui? Sedangkan dalil agama secara jelas mengatakan bahwa al-rijālu qawwāmūna ‘ala al-nisā.

Baca juga: Tafsir Surah An Nisa Ayat 34: Peran Suami Istri dari Pemutlakan hingga Fleksibilitas Kewajiban

Penafsiran Surat An-Nisa [4]: 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya …”(Q.S. An-Nisa’ [4]: 34)

Menurut Thahir Ibn Asyur yang dikutip oleh M. Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 2, 2003, hlm. 404) bahwa kata al-rijal secara gramatikal bahasa Arab, tidak selalu diartikan sebagai suami. Tidak seperti kata al-nisa atau imra’ah yang senantiasa ditujukan kepada makna istri atau perempuan. Oleh karenanya, awal ayat dari al-Nisa [4] 34 ini berlaku umum, laki-laki dan perempuan.

Meskipun demikian, dalam penafsiran Quraish Shihab secara utuh yang bersifat linguistik-ideologis, tetap memaparkan uraian ayat dalam balutan tektualis, yakni laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan.

Quraish Shihab menguatkan tafsirnya dengan menampilkan deretan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari tinjauan psikologis. Bahwa laki-laki memiliki kriteria kepribadian yang sebagian besar menjurus kepada sifat mengayomi dan menjaga. Yang mana berbeda dengan perempuan yang lebih cenderung lembut dan “keibuan”.

Baca juga: Keluarga Ideal Menurut Al-Quran dan Perannya Demi Keutuhan Bangsa

Sejalan dengan argumen Ibn Asyur, hemat penulis kata al-rijal dalam ayat tersebut merupakan sebuah sifat yang senantiasa dilekatkan kepada sosok laki-laki (gender), bukan secara tersurat menyebutkan laki-laki dalam lingkup jenis kelamin. Sifat yang dimaksud, diantaranya pemberani, bertanggung jawab, adil, bijaksana dan sifat lainnya yang disematkan kepada laki-laki atas dasar standarisasi gender.

Oleh karenanya, ayat ini pun dapat menaungi para perempuan yang dipaksa oleh kondisi untuk menjadi kepala keluarga. Faktor yang menjadi penyebab diantaranya karena suami mereka meninggal, penyandang disabilitas, di PHK tanpa pesangon, bahkan hilang kabar dengan alasan bekerja. Mereka harus berperan sebagai seorang ibu juga ayah (kepala keluarga), yang secara otomatis wilayah domestik juga publik turut menjadi kendali mereka. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 36: Allah Tidak Menyukai Sifat Sombong dan Angkuh

0
Allah tidak suka sikap sombong dan angkuh
Allah tidak suka sikap sombong dan angkuh

Ajaran Islam telah melarang umatnya untuk bersikap sombong. Hal ini karena sifat sombong dan angkuh bisa menciptakan jurang pemisah antar orang sehingga sulit bergaul atau membangun relasi dengan yang lain dalam lingkungan masyarakat. Selain itu, umat Islam sudah sepatutnya menyadari bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya ialah tidak ada apa-apanya kecuali sebab Rahmat Allah swt.

Berbagai ayat dalam Al-Quran juga telah mengigatkan umat Islam agar menghindari perilaku sombong, angkuh dan lain sebagainya. Kata al-Kibr, bathar, ‘utuw, ‘uluw dan ‘ajab/’ujub ialah beberapa istilah yang kemudian dimaknai dengan sifat sombong. Selain itu, Allah melalui firman-Nya juga menyebut mereka dengan istilah mukhtalan Fakhura,dan itu bisa ditemukan dalam surat an-Nisa’ ayat 36 yakni:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada  kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”

Baca juga: Tafsir Surat Luqman ayat 18: Jauhi Sikap Sombong dan Angkuh!

Berbuat baik kepada lingkungan sekitar

Melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan kepada umat yang beriman agar hanya beribadah/menghamba kepada Allah dan jangan sekali-kali menyekutukan-Nya. Kemudian dilanjut dengan perintah untuk mempersembahkan kebaikan yang sempurna.

Quraish Shihab mengurutkan tentang siapa saja yang dijadikan objek kebaikan yang tercantum dalam ayat tersebut. Yakni kedua orang tua, kerabat dekat, anak yatim (mereka yang ayahnya meninggal sedang ia belum dewasa), orang miskin, tetangga (baik dekat maupun jauh), teman sejawat (baik dalam suatu perjalanan atau dalam keseharian), ibn Sabil (anak-anak jalanan dan orang yang habis bekalnya saat dalam perjalanan). Dan, hamba sahaya (baik laki maupun perempuan). (Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, 2:256)

Tentang kata ihsan, Quraish Shihab menyebutkan bahwa kata itu disebut dalam al-Quran sebanyak enam kali, dan lima diantaranya ialah berkaitan dengan konteks berbakti kepada orang tua. Ihsan yang berakar pada kata husn bisa diartikan dengan segala hal yang mencakup suatu yang menggembirakan dan disenangi. Hasanah sendiri menggambarkan tentang ada yang menggembirakan manusia karena mendapatkan kenikmatan.

Al-Raghib al-Asfahani juga menerangkan bahwa ihsan bisa digunakan untuk dua hal, pertama memberi nikmat kepada yang lain, dan kedua ialah perbuatan baik. Oleh karenanya ihsan bisa diartikan lebih luas lagi (bukan sekedar memberi nikmat). Bahkan ihsan bisa dikatakan lebih tinggi makna adil. Ini karena adil ialah memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya dengan diri sendiri, sedangkan ihsan ialah memperlakukan orang lain lebih baik dibanding perlakuan terhadap diri sendiri.

Baca juga: Pakaian Isbal, Indikator Kesombongan, dan Tafsir Ayat-Ayat Takabur dalam Al-Quran

Allah tidak menyukai orang yang sombong dan angkuh

Setelah semua objek (sasaran) perbuatan baik sudah disebutkan, lantas ayat tersebut ditutup dengan statemen bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat mukhtalan fakhura.

Abu al-Husain Ahmad dalam Mu’jam Maqayish al-Lughah bahwa kata مُخْتَالًا sering diartikan dengan sombong, sedangkan berdasar pada asal katanya yakni ختل yang memiliki arti penipu atau memperdaya. Adapun kata فَخُورًا ialah berasal dari fakhara yang memiliki arti seorang yang suka menonjolkan atau membanggakan diri.

Berbeda dengan Quraish Shihab yang mengatakan bahwa mukhtal terambil dari kata خيل. Ini karena pada mulanya orang yang sombong, perilakunya didasari oleh khayalan bukan realita yang ada pada dirinya. Seorang yang mukhtal akan menuntunnya pada sikap berbangga diri dengan apa yang ia miliki, bahkan yang hakikatnya tidak ia miliki. Sikap ini juga tergambar pada kata fakhura.

Meskipun kedua kata tersebut memiliki konotasi yang sama (sombong), namun menurut al-Maraghi kata mukhtal cenderung pada kesombongan yang terlihat dari tingkah laku atau gerak perbuatannya. sedangkan Fakhura ialah yang terdengar dari ucapan-ucapannya. Orang tersebut suka menyebut apa yang ia kira sebagai kelebihannya dengan berbangga diri dan merendahkan yang lain. (Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi).

Baca juga: Surat An-Nisa Ayat 32: Larangan Iri Hati Terhadap Orang Lain

Dampak dari sikap Sombong dan membanggakan diri

Al-Maraghi melanjutkan keterangannya bahwa orang yang sombong lagi membanggakan diri tidak menunaikan ibadah dengan sungguh dan benar. Hal ini karena ibadah yang benar dilakukan dengan hati yang khusyu’ dan kekhusyu’an ini menyebar pula ke seluruh anggota tubuh. Ia juga tidak melaksanakan hak kedua orang tua, kerabat dekat, anak yatim dan sebagainya (yang telah disebutkan pada ayat diatas).

Sayyid Quthub cukup tegas menyatakan bahwa seorang memiliki sombong dan membanggakan diri karena tidak adanya iman kepada Allah dan hari akhir, malahan mengikuti setan dan berteman dengannya. Oleh karenanya pada ayat tersebut disebutkan bahwa Allah tidak mengasihi orang-orang yang memiliki sifat sombong. (Sayyid Quthub, Tafsir Di Dzilal al-Quran, 3:365)

Bagi Quraish Shihab, sifat angkuh, sombong dan sebagainya ialah rintangan paling besar dan sulit bagi para pencari ilmu. Mereka yang sombong dan angkuh akan kesulitan mendapatkan ilmu yang akan mengantar mereka pada kebajikan dan kebijaksanaan. Sehingga yang mereka dapatkan justru kebodohan dan mengantarkan pada perilaku tercela dan jahat.

Baca juga: Kisah Dua Anak Nabi Adam: Kedengkian Qabil Terhadap Habil Yang Membawa Petaka

Yang terakhir, perlu ditekankan bahwa penggabungan dua sifat itu bukan bermakna bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang memiliki kedua sifat tersebut secara bersamaan. Namun bila seseorang hanya memiliki salahsatu dari kedua sifat itu, maka itu sudah mengundang kemurkaan-Nya. Namun memang pada realitanya dua sifat itu seringkali beriringan. Wallahu a’lam[]

Tafsir Taj Al-Muslimin min Kalami Rabbi Al-Alamin: Karya Tafsir Kedua KH. Misbah Mustafa

0
Tafsir Taj Al-Muslimin
Tafsir Taj Al-Muslimin

Dalam dunia penafsiran Al-Quran, ketika menyebut KH. Misbah Mustafa, pasti langsung teringat pada karya tafsirnya, yaitu Tafsir Iklil. Namun ternyata karya tafsir beliau tidak hanya itu, karya tafsir Al-Qurannya yang lain yaitu Kitab Taj Al-Muslimin min Kalami Rabbi Al-Alamin.

Tradisi penulisan tafsir di Indonesia diawali dejak ditemukannya sebuah tafsir Surah Al-Kahfi pada abad ke-16 yang ketika itu tidak diketahui nama pengarangnya. Satu abad kemudian ditemukan kitab tafsir Tarjuman al-Mustafid yang ditulis oleh Abdul Rauf Singkel, juga Tafsir Marah Labib fi Kasyfi Ma’na Al-Quran al-Majid karya Syekh Nawawi Al-bantani yang diterbitkan di Makkah dan ditulis dalam Bahasa Arab (Yunan, 1991: 36).

Pada tahun 1920-an Cokroaminoto memperkenalkan terjemahan tafsir karangan Maulvi Mohammed Ali dari Ahmadiyah Lahore. Kemudian sekitar tahun 1930, Mahmud Yunus menerbitkan tafsir Al-Quran Al-Karim. Pada tahun 1937 M, Halim Hasan telah mempersiapkan karyanya di Masjid Raya Binjel, Sumatera Utara. Bagian-bagian dari karya tersebut muncul dalam bentuk majalah pada bulan April 1937 (Federspiel, 1996: 38-39).

Munculnya tafsir Melayu inilah yang kemudian menginspirasi banyak mufasir di Indonesia, sehingga lahirlah kitab-kitab dengan bahasa lokal. Salah satunya kitab Taj Al-Muslimin min Kalami Rabbi Al-Alamin. Karya ini merupakan karya kedua KH Misbah Mustafa setelah tafsir Al-Iklil fi Ma’ani Al-Tanzil.

Baca Juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul

Kitab ini ditulis tepat dua tahun setelah karya pertama beliau selesaikan yaitu pada tahun 1987 M/ 1408 H. Dalam Muqaddimah Tafsir Taj Al-Muslimin Min Kalami Rabbi Al-Alamin, KH Misbah Mustafa menyampaikan keprihatinan beliau dengan keadaan orang Islam.

Banyak orang yang mengaku Islam, berkali-kali mengucapkan kalimat syahadat akan tetapi tidak memahami Al-Quran yang berbahasa Arab. Banyak orang yang lalai dan enggan mempelajari Al-Quran setelah kenikmatan dunia diraihnya. Bahkan tidak jarang kebanyakan umat Islam lebih memilih taklid kepada seseorang yang biasa dipanggil Kyai daripada belajar untuk memahami Al-Quran (Taj Al-Muslimin: 2-5).

Pemberian nama kitab Tafsir Taj Al-Muslimin Min Kalami Rabbi Al-Alamin, diberikan sendiri oleh KH Misbah Mustafa. Masih dalam muqaddimah kitabnya, beliau menjelaskan makna dari Tafsir Taj Al-Muslimin Min Kalami Rabbi Al-Alamin, adalah mahkota untuk orang Islam. KH Misbah Mustafa berharap, dengan adanya kitab ini orang Islam mampu terangkat derajatnya karena memahami firman-firman Allah.

Baca Juga: Mengenal Tafsir Iklil, Kitab Tafsir Berbahasa Jawa Pegon dan Makna Gandul

Sistematika dan Metode Penulisan Kitab

Sistematika penulisan dan metode penafsiran tafsir Taj Al-Muslimin Min Kalami Rabbi Al-Alamin sedikit berbeda dengan kitab tafsir pada umumnya. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa, dengan aksara Arab Pegon dan makna gandul yang menjadi ciri khas karya-karya ulama Jawa. Setiap ayat diterjemahkan secara harfiah dengan menggunakan makna gandul yang ditulis miring ke bawah setiap kata, kemudian diterjemahkan per ayat di bagian bawah.

Halaman kitab ini secara keseluruhan berjumlah 1689  halaman. Juz 1 dimulai dari halaman 1 sampai hamalan 428 (428 halaman), juz 2 melanjutkan halaman pada juz 1 yakni dimulai dari halaman 429 dan diakhiri halaman 793 (364 halaman), juz 3 dari halaman 794 sampai halaman 1189 (395 halaman), dan terakhir juz 4 dimulai dari halaman 1189 sampai halaman 1689 (500 halaman).

KH Misbah Mustafa memulai penafsirannya dengan memuji Allah dan salawat untuk Nabi Muhammad SAW. Dalam muqaddimah kitabnya, KH Misbah Mustafa menulis keutamaan Al-Quran disertai dengan ayat dan hadis yang menjadi landasannya. Ada beberapa keunikan pada penafsiran yang dilakukan oleh KH Misbah Mustafa, yakni, pertama, pada setiap penafsirannya, KH Misbah Mustafa selalu menulis nama surat yang hendak ditafsirkan lengkap dengan tempat turunnya, jumlah ayat, jumlah kalimat dan jumlah huruf.

Seperti ketika menafsirkan QS. Al-Fatihah beliau menulis “Surah Al-Fatihah iki temurun ono ing Makkah, ayate ono pitu, kalimahe ono pitulikur, hurufe ono satus patang puluh” (Surah Al-Fatihah ini turun di Makkah, berjumlah tujuh ayat, dua puluh tujuh kalimat, dan seratus empat puluh huruf).

Kedua, beliau menulis ayat yang hendak ditafsirkan lengkap dengan makna gandul per kata dan ditulis miring. Ketiga, di bawah makna gandul yang ditulis miring beliau menampilkan terjemahan global ditulis dengan lurus, dan terakhir beliau menampilkan tafsiran ayatnya.

Baca Juga: Masih Relevankah Metode Tafsir Ijmali Era Rasulullah SAW? Berikut Penjelasannya

Dalam menafsirkan, beliau selalu menulis ayat yang hendak ditafsirkan dan diberi tanda garis bawah. Karakteristik lainnya, ketika beliau hendak menulis hal-hal yang penting ditandai dengan menulis “Masalah-masalah kang perlu dimangerteni” (Masalah atau persoalan yang perlu diketahui) dan dalam lain kesempatan hanya ditulis dengan istilah “Maslahatun”.

Memperhatikan penafsiran KH Misbah Mustafa dalam kitab Tafsir Taj Al-Muslimin Min Kalami Rabbi Al-Alamin dapat disimpulkan bahwa kitab tersebut menggunakan metode ijmali dengan penjelasannya yang agak panjang dan disusun dengan tartib mushafi.

Dari segi kepenulisannya, kitab tafsir karya kedua KH Misbah Mustafa ini agaknya tidak jauh berbeda dengan karya pertamanya. Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa KH Misbah Mustafa menuliskan tafsir keduanya ini dikarenakan adanya ketidak relaannya terhadap penerbit yang telah merubah subtansi dari isi kitab tafsir pertamanya. Wallahu A’lam.