Beranda blog Halaman 485

Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setelah membahas tentang kekuasaan Allah swt atas alam raya, Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107 ini menguatkan kembali bahwa ayat-ayat Allah swt baik dalam bentuk alam semesta ataupun dalam bentuk perantara Nabi Muhammad saw merupakan hal yang hak dan tidak ada keraguan di dalamnya.


Baca saebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 100-103


Selanjutnya ditegaskan pula dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107 bahwa tujuan peringatan dan bukti kebenaran ayat-ayat Allah swt diulang-ulang dengan aneka ragam gaya supaya menghilangkan keraguan.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107 ini diakhiri dengan perintah Allah swt kepada Nabi Muhammad saw dan seluruh orang mukmin agar selalu berpegang teguh pada wahyu. Karena hanya itu petunjuk kebenaran.

Ayat 104

Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwasanya tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat telah datang kepada mereka dari-Nya. Tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat itu dapat diketahui oleh mereka baik berupa tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya maupun petunjuk Allah yang diberikan kepada mereka dengan perantaraan Nabi Muhammad berupa wahyu.

Kedua bukti itu dapat memperkuat keyakinan mereka tentang adanya Allah. Sesudah itu Allah menandaskan bahwa barang siapa yang dapat melihat kebenaran dengan jalan memperhatikan kedua bukti itu, dan meyakini adanya Allah serta melakukan amal yang baik, maka manfaat dari semuanya itu adalah untuk dirinya sendiri.

Akan tetapi sebaliknya barang siapa yang tidak mau melihat kebenaran atau berpura-pura tidak mengerti, maka akibat buruk dari sikapnya itu akan menimpa dirinya sendiri.

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا

Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. (Fussilat/41: 46. Perhatikan pula al-Isra′/17: 7)

Di akhir ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada kaumnya bahwa Muhammad sekali-kali bukanlah pemelihara mereka, yakni Nabi Muhammad sekali-kali tidak ditugaskan mengawasi amal-amal mereka dan tidak dapat membuat mereka menjadi mukmin.

Dia hanyalah seorang utusan Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang telah diterimanya. Sebenarnya yang mengawasi amal mereka ialah Allah. Dia mempunyai pengawasan yang tak terbatas terhadap semua amal mereka baik yang mereka lakukan secara terang-terangan ataupun yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Semua amal itu akan diberi balasan yang setimpal.

Ayat 105

Allah menerangkan bahwa Dia telah memberikan bukti-bukti kebenaran secara berulang-ulang di dalam ayat-ayat-Nya dengan gaya bahasa yang beraneka ragam dengan maksud agar dapat memberikan keyakinan yang penuh kepada seluruh manusia dan untuk menghilangkan keragu-raguan, serta memberikan daya tarik kepada mereka agar mereka dapat menerima kebenaran itu dengan penuh kesadaran, dan untuk memberikan alasan kepada kaum Muslimin dalam menghadapi bantahan orang-orang musyrik.

Karena orang-orang musyrik mendustakan ayat-ayat Allah dengan mengatakan Nabi Muhammad mempelajari ayat-ayat itu dari orang lain atau menghafal berita-berita dari orang-orang yang terdahulu seperti firman Allah:

فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

… lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.”  (al-Furqan/25: 5)

Menurut al-Farra′, Alquran mengandung ayat-ayat yang benar dan dapat diterima oleh orang-orang yang bersih hatinya dan mempunyai niat yang kuat untuk menerima ilmu pengetahuan sehingga dapat menerima kebenaran itu dengan penuh keinsafan.


Baca juga: Mengenal Kanjeng Kiai Al-Quran Keraton Yogyakarta


Ayat 106

Allah memerintahkan kepada Nabi saw serta para pengikutnya agar dalam waktu menyampaikan dakwah Islamiyah, tetap berpegang pada wahyu, karena wahyu itulah yang dapat dijadikan tuntunan untuk dirinya dan kaumnya. Tujuan dari dakwah itu ialah untuk menyampaikan kalimat tauhid yaitu pengakuan secara mutlak bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia.

Kalimat tauhid itu harus diresapi dengan hati yang ikhlas, serta diamalkan dengan penuh keyakinan dan dijadikan tujuan tertinggi dari kehidupan manusia. Allah memberikan penegasan kepada Nabi dan kaumnya agar berpaling dari perbuatan-perbuatan orang-orang musyrik dan tidak perlu memaksa orang-orang yang tetap bergelimang dalam kemusyrikan serta tidak mengacuhkan ajakan tauhid.

Tidak berkecil hati karena tuduhan-tuduhan yang diarahkan orang-orang musyrik yaitu bahwa wahyu yang disampaikan Nabi adalah dipelajari dari orang-orang Yahudi. Karena kebenaran itu cahayanya cemerlang dengan sendirinya apabila diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dalam bentuk amal perbuatan. Sedangkan kebatilan meskipun diselubungi dengan berbagai hal yang menarik, namun akhirnya akan terungkap juga kebusukannya.

Ayat 107

Dijelaskan bahwa jika Allah berkehendak menjadikan seluruh manusia beriman kepada-Nya, niscaya tidak ada seorang pun yang musyrik.

Di dalam jiwa manusia terdapat potensi untuk menjadi mukmin atau kafir, taat atau fasiq. Manusia telah diberi hak memilih (ikhtiyar). Potensi yang ada pada manusia dapat berkembang sesuai dengan ilmu dan amal manusia itu sendiri, yang pada saat mau memilih perbuatan mana yang harus dilakukan, bertarunglah dua macam dorongan, dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan dorongan untuk melakukan perbuatan jelek.

Apabila manusia memilih perbuatan dengan mengikuti dorongan yang baik, niscaya mereka akan melihat cahaya kebenaran. Akan tetapi bila mereka mengikuti dorongan-dorongan yang jelek, niscaya mereka tenggelam dalam kegelapan.

Allah menegaskan bahwa Nabi, tidak diberi kekuasaan untuk menjadi pemelihara mereka. Nabi hanyalah mengajak kepada kebaikan, maka apabila mereka tidak mau menerima ajakan itu, karena mengikuti dorongan yang buruk, tentulah ajakan itu tidak akan mereka terima, dan mereka tetap bergelimang dalam kebatilan.

Di akhir ayat ini Allah menguatkan penjelasan-Nya bahwa Nabi tidak diutus untuk mengurusi mereka, yakni dia tidak diberi kekuasan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Hal itu adalah urusan mereka sendiri, karena mereka telah diberi hak pilih untuk menentukan nasib mereka sendiri.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Kanjeng Kiai Al-Quran Keraton Yogyakarta

0
Kanjeng Kiai Al-Quran
Kanjeng Kiai Al-Quran keraton Yogyakarta

Kanjeng Kiai Al-Quran merupakan salah satu mushaf kuno Keraton Yogyakarta. Nama Kanjeng Kiai merupakan istilah yang lazim digunakan dalam tradisi Jawa untuk benda-benda pusaka. Dalam buku Mushaf Kuno Nusantara Jawa, ada empat mushaf di perpustakaan Widya Budaya Keraton Ngayogyokarto Hardiningrat. Dari keempat mushaf tersebut, hanya ada satu yang diketahui asal-usulnya, yakni mushaf Kanjeng Kiai Al-Quran ini.

Fisik mushaf ini berukuran 40 x 28 cm, dengan tebal 575 halaman. Ukuran teksnya 32 x 20 cm dengan 15 baris per halamannya. Mushaf dengan kode C4 ini semula milik Kanjeng Gusti Raden Ayu Sekar Kedhaton, putri Sultan Hamengkubuwana II (1772-1828). Dahulu, kitab suci ini digunakan Raden Ayu Sekar Kedhaton untuk mengaji kepada gurunya yang juga abdi dalem, Haji Mahmud. Namun penulis mushaf ini bukanlah guru mengaji tersebut, melainkan seorang Abdi dalem Surakarta yang bernama Ki Atma Parwita Ordonas Sepuh.

Dalam keterangan mushaf ini, terdapat kolofon dengan aksara pegon yang menjelaskan nama penyalin, hingga tanggal penyalinan. Berikut ini kolofon yang tertera:

“Kagungan dalem Qur’an ingkang nerat Abdi Dalem Ki Atma Perwita Hurdenas Sepuh kala wiwit anerat ing dinten Arba’ wanci pukul setengah sewelas tanggal ping selikur ing wulan Rabi’ul Akhir ing tahun Jim Awal angkaning warsa 1725. Kala sampun neratipun ing dinten Salasa wanci pukul setengah sanga tanggal ping nem ing wulan Ramadhan ing Surakarta Adiningrat hadza baladi Jawi.”

Setidaknya, arti dari kolofon ini yaitu:

“Qur’an milik Tuan yang menyalin Abdi Dalem Ki Atma Perwita Ordonas Sepuh. Mulai disalin pada hari Rabu pukul 10.30 tanggal 21 Rabi’ul Akhir tahun Jim Awal 1725 (2 Oktober 1798). Selesai disalin pada hari Selasa pukul 8.30 tanggal 6 Ramadan (12 Februari 1799) di Surakarta Adiningrat, negeri Jawa.”


Baca juga: Mengenal Muhammad Dawam Rahardjo dan Karyanya, Ensiklopedi Al-Quran


Dari keterangan tanggal penyalinan, mushaf ini bisa disebut sebagai salah satu benda pusaka yang selamat dari penjarahan Inggris. Dalam catatan, seperti yang diwatakan tirto, pada tanggal 20 Juni 1812 era Sultan Hamengkubuwono II ribuan manuskrip dari perpustakaan Istana dibawa ke Inggris. Hal ini karena saat itu Keraton Yogyakarta jatuh di tangan Inggris.

Selain itu, mushaf ini termasuk benda pusaka yang terawat, karena kondisinya masih utuh 30 juz. Cover mushaf ini dari bahan kulit. Mushaf ini juga menggunakan khat naskhi dengan rasm campuran (usmani dan imla’i). Tinta yang digunakan terdiri dari dua, hitam dan merah. Tinta hitam digunakan untuk huruf biasa, sementara tinta merah untuk harakat Panjang.

Adapun tanda ayat dalam Kanjeng Kiai Al Qur’an ini menggunakan lingkran kuning. Ini menunjukkan karakteristik manuskrip mushaf kuno yang belum menerapkan sistem penomoran. Untuk menandai ayat yang ada di perbatasan juz, penulisnya memberikan tanda lima lingkaran. Sama dengan mushaf lainnya, setiap awal surat ditandai dengan kotak khusus yang mencantumkan nama surah, jumlah ayat, dan tempat turunnya surat.


Baca juga: Iluminasi Mushaf Al-Bantani; Ekspresi Identitas Keislaman Masyarakat Banten


Kanjeng Kiai Al Qur’an termasuk salah satu manuskrip mushaf Keraton Yogyakarta yang paling indah. Setiap halamannya terdapat hiasan komposisi wana merah, emas, biru, hitam, merah muda, dan hijau muda. Motif yang digunakan pun lebih menunjukkan budaya Jawa. Motif hias ini seperti sulur bunga, motif saton, serta garis tegas membentuk bingkai dengan warna emas dan merah. Motif-motif inilah yang kemudian pada tahun 2011 digunakan sebagai refrensi pembuatan mushaf Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Baca juga: Sejarah Baru! KH Sya’roni Ahmadi, Gus Mus dan Sembilan Kaligrafer akan Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus


Kanjeng Kiai Al Qur’an sebagai Rujukan Mushaf Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Kanjeng Kiai Al Qur’an merupakan referensi utama dalam pembuatan mushaf keraton pada tahun 2011. Saat itu Sultan Hamengkubuwono X menyebut bahwa pembuatan Mushaf Keraton ini sebagai upaya pelestarian tradisi penyalinan Al Qur’an di lingkungan kesultanan. Berikut salah satu potongan sambutannya:

“Adalah suatu kemuliaan yang tak ternilai bagi saya pribadi beserta seluruh kerabat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, karena memperoleh berkah, rahmat dan ridha-Nya sehingga dapat mewujudkan tekad untuk memelihara dan menjaga serta melestarikan pusaka budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah berumur lebih dari 200 tahun berupa Mushaf Al-Qur’an yang memiliki nilai tiada terkira bagi kehidupan manusia.”

Dari penjelasan itu, salah satu pusakan yang berumur lebih dari 200 tahun adalah Kanjeng Kiai Al Qur’an. Namun dalam mushaf tahun 2011 ini, kaligrafi yang digunakan merupakan adopsi dari goresan Usman Taha. Selain itu, iluminasi juga mengambil dari manuskrip dan pusaka lain dari keraton. Hal ini tentu untuk memperkaya khazanah mushaf di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Wallahu a’lam []

Al-Mar’ah fil Islam: Antologi Kesetaraan Perempuan dalam Al-Quran, Hadis, dan Sejarah Nabi

0
Al-Mar'ah fil Islam
Al-Mar'ah fil Islam

Tafsir kontekstual tidak hanya dituangkan oleh Muhammad al-Ghazali pada Nahwa Tafsiril Mawdhu’I fi Tafsiril Qur’anil Karim. Ia bersama dua kawannya, Muhammad Sayyid Thantawi dan Ahmad ‘Umar Hasyim juga merancang proyek penulisan tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki, sehingga menjadi satu karya kolaborasi berjudul al-Mar’ah fil Islam. Buku ini menampilkan kesetaraan perempuan yang telah mereka elaborasi dari Al-Quran, sirah (sejarah) dan sunnah Nabi.

Latar belakang pengarang

Tiga ulama ini berasal dari Mesir, sama-sama alumni Al-Azhar dari Fakultas Ushuluddin dan mengabdikan ilmunya di Universitas yang sama.

Muhammad al-Ghazali (1917-1996) merupakan pakar Bahasa Arab, ahli tafsir, dai, pendidik, dan alumni Universitas al-Azhar. Baca: https://tafsiralquran.id/muhammad-al-ghazali-mufassir-penggerak-hermeneutika-asal-mesir/

Sementara, Muhammad Sayyid Thantawi (1928-2010) merupakan alumni doktoral al-Azhar pada bidang Al-Quran dan Hadis. Dalam majalah al-Azhar, al-Bayumi menyebutkan dalam tulisannya yang berjudul al-Imam Muhammad Sayyid Tantawi; Hayat ‘Amirah bi al-Ilm wa al-‘Amal wa al-Iman, bahwa pada 1968, Muhammad Sayyid Thantawi diangkat menjadi dosen di Al-Azhar pada bidang tafsir. Ia juga pernah diutus untuk menjadi dosen tamu di bidang yang sama di Libya pada 1972.

Empat tahun setelah itu, ia dikukuhkan oleh Al-Azhar sebagai guru besar tafsir. Selain di Libya, ia juga dipercaya sebagai ketua jurusan tafsir Universitas Islam Madinah pada 1980 sampai 1884. Ia juga memiliki karya tafsir, yakni at-Tafsir al-Wasith, yang ia tulis selama kurang lebih sepuluh tahun. Kepakarannya di bidang tafsir membuat ia dinobatkan sebagai Grand Sheikh al-Azhar pada 2006 serta sebagai mufti Mesir pada 1986.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 97: Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah

Tokoh terakhir yang turut mengarang al-Mar’ah fil Qur’an, yakni Ahmad ‘Umar Hasyim (1941-sekarang) ialah muhaddits jebolan al-Azhar. Tokoh yang pernah menjabat sebagai rektor al-Azhar ini berhasil meraih gelar doktornya di bidang Hadis pada 1973.

Menyitir laman Pecinta Ulama al-Azhar (2/19), karir Ahmad Amir Hasyim ini antara lain Dekan Al-Azhar cabang Zaqaziq (1987),wakil rektor bidang pembelajaran dan kemahasiswaan (1989), wakil direktur Pascasarjana (1993), dan Rektor Al-Azhar (1995).

Sebagai pakar hadis ia menuangkan pemikirannya pada berbagai karya tulis, antara lain yang menjadi magnum opus-nya “Faydul Bari ‘ala Shahihul Bukhari”, suatu kitab syarah Jami’us Shahih lil Bukhari.

Baca juga: Farid Esack: Mufassir Pejuang Keadilan di Afrika Selatan

Motif penulisan antologi

Penyusunan antologi al-Mar’ah fil Quran dilatari oleh permasalahan pembedaan laki-laki dan perempuan, hingga perampasan hak-hak perempuan. Sedangkan Islam sangat menjunjung tinggi kesetaraan. Untuk menyelesaikan itu, buku ini hadir untuk menarasikan penghormatan dan penjagaan terhadap perempuan sebagaimana dijelaskan dalam mukadimah.

هذا الكتاب يضع أمام القارئ وفي ضوء القرآن الكريم والسيرة النبوية والسنة المطهرة مدى الحفاوة والرعاية اللتين خص الإسلام بهما المرأة: أم الرجل وبنته وزوجته وأخته

“Buku ini dihadirkan untuk pembaca – dan dalam sudut pandang Al-Quran, sirah Nabi, dan Hadis- mencakup pembahasan tentang penghormatan dan perlindungan Islam terhadap perempuan. Baik untuk relasi laki-laki dengan istri, anak, maupun saudara perempuannya”

Konten 

Antologi ini tersesusun dari tiga bagian utama sesuai dengan keahlian masing-masing pengarang. Bagian pertama membicarakan Perempuan dalam Sudut Pandang Sejarah Kenabian yang ditulis oleh Grand Syaikh Muhammad al-Ghazali. Bagian ini terdiri dari lima sub pembahasan antara lain; perempuan di Zaman Jahiliyyah, istri-istri Nabi, ilmu dan etika, serta refleksi tentang bagaimana cara menyikapi perempuan.

Bagian kedua, ditulis oleh Muhammad Sayyid Thantawi, dengan tema besar Perempuan dalam Al-Quran. bagian ini terbagi menjadi lima sub pembahasan, yang meliputi; laki-laki dan perempuan bermuasal dari satu kesatuan yang sama, relasi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Islam, merdeka sebelum dan setelah menikah, kesetaraan, dan pembedaan atas dasar maslahah.

Bada bagian ketiga, Ahmad ‘Umar Hasyim menulis perempuan dari perspektif hadis. Ia menguraikan ke dalam lima sub pembahasan, antara lain; perempuan sebelum Islam, keluarga penyangga kehidupan masyarakat, menikah antara halal dan haram, pelajaran dari kehidupan istri Nabi.

Baca juga: Inilah Tiga Prinsip Kesetaraan Gender dalam Al Quran

Kolaborasi tiga ulama terkemuka Al-Azhar ini tak lain untuk mengupayakan relasi kemitraan yang menguntungkan bagi dua belah pihak serta membangun asas pendidikan yang baik dengan prinsip kesetaraan dan kesalingan. Seperti yang pengarang utarakan sendiri di akhir bukunya. Wallahu a’lam[]

Surat Al-Hujurat Ayat 13: Dalil Sila Kedua Pancasila

0
Dalil pancasila sila kedua
Dalil sila kedua Pancasila

Mengakui persamaan derajat, saling mencintai sesama manusia, dan mengembangkan sikap tenggang rasa adalah butir pengamalan sila kedua berdasarkan ketetapan MPR No.II/MPR/1978. Karena pada dasarnya manusia memiliki derajat yang sama. Hanya ketakwaan yang membedakan kedudukan manusia di hadapan Allah Swt.

Dasar persamaan derajat manusia dalam hak hidup suatu negara dimaknai dengan hak asasi. Artinya, setiap warga Negara mempunyai hak yang sama dalam hukum, pelayanan, dan pemerataan kesejahteraan. Siapa pun ia, ketika melanggar Undang-Undang yang berlaku, ia diberi sanksi.

Baca juga: Ragam Bentuk Keadilan Sosial dalam Pandangan Al-Quran

Surat Al-Hujurat ayat 13, kesetaraan adalah bentuk keadilan

Islam menetapkan kedudukan seseorang di sisi Allah ditinjau dari tingkat takwanya. Orang yang tingkat takwanya tinggi pasti akan bertingkah laku sesuai dengan yang diperintahkan Allah Swt. Ia akan berlaku adil, yang akhirnya dapat mewujudkan masyarakat madani. Secara substansial nilai kesetaraan yang dimaksud sila kedua ini terkandung pada Surat Al-Hujurat ayat 13.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Alloh Maha Mengetahui, Maha Teliti”

Baca juga: Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni: Pertahankan Kesejahteraan Indonesia !

Syaikh al-Mutawalli as-Sya’rawi dalam Tafsir as-Sya’rawi menjelaskan ayat ini, bahwa ke-bhineka-an adalah sebuah keniscayan yang diciptakan Allah Swt guna menggerakkan rotasi kehidupan.

والحق – تبارك وتعالى – يقول : { ياأيها الناس إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأنثى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَآئِلَ لتعارفوا . . . } [ الحجرات : 13 ] . فالتميُّز والتعارف أمر ضروري لاستقامة حركة الحياة ،

 “Allah Swt berfirman : ‘ Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.’ Perbedaan dan saling mengenal adalah sebuah keniscayaan, agar rotasi kehidupan terus berjalan”

Baca juga: Tafsir Surat Ali Imran Ayat 103: Dalil Sila Ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia

Sedangkan, Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy mengungkapkan lebih jelas salah satu substansi yang taercakup dalam ayat tersebut adalah persamaan derajat, interaksi sosial, dan amal sholih. Beliau menguraikan di dalam kitabnya , Tafsir Al-Munir, sebagai berikut :

ذكرت الآية الثالثة ثلاثة أشياء: المساواة، وتعارف المجتمع الإنساني، وحصر التفاضل بالتقوى والعمل الصالح.أما المساواة: فالناس سواسية كأسنان المشط في الأصل والمنشأ الإنساني، فهم من أب وأم واحدة، وفي الحقوق والواجبات التشريعية، وهذه أصول الديمقراطية الحقة

Ayat ketiga menyebutkan tiga hal : persamaan/kesetaraan, interaksi sosial, dan pengkhususan keutamaan berdasarkan taqwa dan amal sholih. Adapun persamaan, manusia sama, ibarat barisan gigi sisir rambut, sama dalam hal asal penciptaannya sebagai manusia, mereka diciptakan dari ayah dan ibu yang sama, sama dalam hak dan kewajiban syariat, ini adalah asas demokrasi yang sebenarnya

Keberagaman adalah keniscayaan. Tujuannya agar saling mengenal, berbagi, saling tenggang rasa dan seterusnya. Secara bersama mempunyai cita-cita yang luhur yaitu membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Wallohu A’lam

Mengenal Muhammad Dawam Rahardjo dan Karyanya, Ensiklopedi Al-Quran

0
M. Dawam Rahardjo
M. Dawam Rahardjo/ Foto: bangkitmedia.com

Muhammad Dawam Rahardjo adalah seorang pemikir Al-Quran kontemporer Indonesia. Selama ini Dawam lebih dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi, dikenal luas juga karena pembelaannya terhadap kelompok minoritas dan membela pluralisme agama. Hubungannya dengan kajian tafsir Al-Quran, bisa dikatakan bahwa Dawam Rahardjo adalah pelopor pendekatan sosiologis dalam tafsir Al-Quran konteks ke Indonesiaan.

Profil, Perjalanan Intelektual, dan Karir Muhammad Dawam Rahardjo

Muhammad Dawam Rahardjo lahir di Solo, pada tanggal 20 April 1942. Putra dari pasangan Muhammad Zuhdi Rahardjo dan Muthmainnah ini adalah putra sulung dari delapan bersaudara. Dawam kecil belajar di Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal Muhammadiyah Kauman. Sejak kecil Dawam mempelajari ilmu-ilmu agama di masjid keraton, di Madrasah Diniyah ini ia belajar ilmu nahwu, saraf, balagah, tajwid, bahasa Arab juga tafsir.

Sekolah formal dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, Sekolah menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas Dawam bertempat di Solo. Ketika di SMA, Dawam sempat menjadi delegasi pertukaran pelajar di Borach High School selama satu tahun di Amerika Serikat. Setelah itu, ia mengambil kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta Jurusan Ekonomi.  Dawam juga pernah menjadi ketua redaksi majalah kampus Gelora sebelum menamatkan kuliahnya pada tahun 1969.

Karir akademiknya terus meroket. Sejak tahun 1993 Dawam diangkat menjadi Guru Besar Ekonomi Pembangunan di Universitas Muhammadiyah Malang dan menjadi Rektor Universitas 45 Bekasi. Ia juga tercatat sebagai salah satu ketua ICMI se-Indoneisa, ketua yayasan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (ELSAF), dan pemimpin Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an. (Saiful Amin Ghofur, Mozaik Mufasir Al-Qur’an dari Klasik hingga Kontemporer,173). 

Baca Juga: KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, Kedekatan antara Gontor dengan Daarul Qur’an

Karya-karya

Muhammad Dawam Rahardjo termasuk ilmuan yang produktif dalam menulis. Karya-karya yang telah ditulis oleh Dawam Rahadjo di antaranya adalah Esai-Esai Ekonomi dan Politik (1983), Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja (1985), Perekonomian Indoneisa: Pertumbuhan dan Krisis, Etika Bisnis dan Manajemen, Kapitalisme Dulu dan Sekarang (1986), Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa (1992), Perspektif Deklarasi Makkah: Menuju Ekonomi Islam (1993), Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial berdasarkan Konsep-konsep Kunci (1996), Paradigma Al-Qur’an: Metodologi Tafsir dan Kritik Sosial (2005), Islam dan Transformasi Sosial-Budaya, Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi dan “The Question of Islamic Banking in Indonesia” dalam Islamic Banking in Sountheast Asia, dan sebagainya.

Baca Juga: Paradigma Al-Qur’an tentang Nilai Perdamaian Sebagai Inti Ajaran Islam

Sekilas tentang Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci

Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci berasal dari kumpulan artikel-artikel yang ditulis secara rutin dalam Jurnal Ulumul Qur’an yang diterbitkan oleh LSAF Jakarta. Penamaan Ensiklopedi ini sangat terkait dengan pemikiran Dawam Rahardjo yang bergelut di bidang sosial.

Penulisan  Ensiklopedi Al-Qur’an dilatar belakangi oleh keresahan Dawam dengan kondisi umat Islam Indonesia. Banyak di antara orang muslim yang hidup secara Islam, mengerti akan rukun Islam, sering mendengarkan khutbah, akan tetapi tidak jarang mereka yang tidak tahu istilah-istilah dalam Al-Qur’an, hal tersebut mengakibatkan konsep tentang keislaman tidak berkembang di masyarakat.

Menurut Dawam, seorang mufassir atau orang yang belajar memahami kandungan Al-Qur’an tidaklah harus mencakup seluruh ayat dalam Al-Qur’an, melainkan sebuah penafsiran bisa diwujudkan dalam bentuk karangan-karangan pendek. Oleh karena itu Dawam hanya memilih tema-tema tertentu sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasainya, dengan begitu ia juga berharap Al-Qur’an terus disiarkan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dibidangnya masing-masing.

Baca Juga: Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Tafsir Al-Quran di Nusantara

Ensiklopedi ini terdiri dari satu jilid, berisi 762 halaman, dengan 27 tema kunci yaitu: fitrah, hanif, Ibrahim, Din, Islam, Taqwa,’Abd, Amanah, Rahmah, Ruh, Nafs, Syaitan, Nabi, Madinah, Khalifah, ‘Adl, Dzalim, Fasiq, Syura, Ulul Amri, Ummah, Jihad, ‘Ilm, Ulul Albab, Rizq, Riba,dan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar.

Sumber penafsiran yang digunakan Dawam adalah Al-Qur’an dan hadis, selain itu ia juga mempertimbangkan pendapat mufassir lain seperti Buya Hamka, Fazlur Rahman, Malik Ghulam Farid, juga tokoh ilmu sosial seperti Sigmund Freud, Auguste Comte dan lainnya.

Dawam menyebut Ensiklopedi Al-Qur’an yang ia tulis merupakan sebuah tafsir Al-Qur’an. Meski banyak yang keberatan akan pernyataan tersebut, Dawam telah menyajikan sebuah gaya baru dalam menafsirkan Al-Qur’an. Quraish Shihab seorang mufassir kenamaan Indonesia menyebutkan karangan Dawam sebagai pemahaman terhadap Al-Qur’an dari seorang sarjana ilmu-ilmu sosial. (Maula Sari, Pemikiran Kontemporer Tafsir Al-Qur’an di Indonesia dalam buku Tafsir Al-Qur’ān di Nusantara, 256-267). Wallahu’alam

Pengertian dan 4 Keutamaan Tawakal Menurut Al-Quran

0
Keutamaan Tawakal
Keutamaan Tawakal dalam Al-Quran

Tawakal adalah salah satu sifat terpuji dalam ajaran Islam. Secara sederhana, tawakal dapat dimaknai sebagai menyerahkan segala perkara kepada Allah Swt dengan sepenuh hati dan berpegang teguh kepada-Nya. Pada saat yang bersamaan, seseorang juga berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha dan memperjuangkan perkara-perkara tersebut.

Kata tawakal berasal dari bahasa Arab, yakni wakilun yang bermakna menyerahkan, membiarkan, dan merasa cukup. Menurut Quraish Shihab, tawakal bukan berarti penyerahan mutlak nasi manusia kepada Allah Swt semata. Penyerahan ini harus didahului dengan usaha manusiawi sebagai salah satu sunatullah yang harus dilakukan manusia.

Keharusan berusaha sebelum bertawakal telah dicontohkan dan ajarkan oleh nabi Muhammad Saw. Diceritakan bahwa suatu ketika salah seorang sahabat mendatangi beliau tanpa terlebih dahulu mengikat untanya. Nabi Saw kemudian bertanya dan sahabat itu menjawab, “Aku telah bertawakal kepada Allah.” Mendengar hal itu, beliau bersabda, “Tambatkanlah terlebih dahulu (untamu), barulah bertawakal” (HR. At-Tirmidzi).

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Tawakal adalah aktivitas hati.” Artinya, tawakal merupakan perbuatan yang dilakukan hati, bukan sesuatu yang diucapkan lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Tawakal adalah buah dari keimanan dan kepercayaan kepada Allah Swt, bukan buah dari ilmu dan pengetahuan (Tahdzib Madarijis Sailikin: 337).

Baca Juga: Takwa dan Tawakkallah, Tips Mencari Rezeki Menurut Al-Quran

Sedangkan imam al-Ghazali mendefinisikan tawakal sebagai sikap menyandarkan diri kepada Allah Swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang, dan hati yang tentram.

Keutamaan Tawakal Menurut Al-Qur’an

Tawakal boleh dilakukan ketika seseorang telah melalui tahap ikhtiar. Ini adalah fase di mana ada tuntutan usaha dan bekerja sungguh-sungguh. Setelah itu, barulah seseorang bisa menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Allah Swt. Jika seseorang meyakini dan memahami arti tawakal, maka tidak ada yang sia-sia atas segala amal yang dilakukan.

Tawakal adalah ajaran Islam yang banyak disebut oleh Al-Qur’an. Tercatat, kata tawakal disebut sebanyak 30 kali dan tersebar dalam 19 surah yang berbeda. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan tentang berbagai bentuk perintah tawakal, keutamaan tawakal, dan bagaimana sikap Allah terhadap orang yang bertawakal.

Dari ayat-ayat di atas, penulis menemukan setidaknya ada 4 macam keutamaan tawakal, yaitu:

  1. Tawakal adalah bagian dari iman

Keutamaan tawakal yang pertama adalah merupakan bagian dari keimanan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bukti seseorang beriman kepada Allah Swt adalah – salah satunya – bertawakal kepada-Nya. Hal ini tercermin dalam QS. Al-Maidah ayat 23 yang berbunyi:

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ٢٣

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Al-Maidah [5]: 23)

  1. Memperoleh kecukupan dari Allah Swt

Keutamaan tawakal yang kedua adalah memperoleh kecukupan dari Allah Swt. Ketika seseorang yang bertawakal kepada Allah Swt, berarti ia menjadikan Allah sebagai wakilnya. Allah sebagai wakil terbaik bagi manusia dengan itu akan memberi kecukupan kepadanya. Dia berfirman:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣

“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq [65]: 3)

  1. Mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat

Keutamaan tawakal yang ketiga adalah mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Hal ini ditegaskan dalam QS. An-Nahl [16] ayat 41-42 yang berbunyi:

وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ ٤١ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ٤٢

“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui, (yaitu) orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”

  1. Tidak dikuasi oleh setan

Keutamaan tawakal yang keempat adalah tidak dikuasai oleh setan. Saat seseorang bertawakal, setan tidak akan mampu menguasai dan mempengaruhi dirinya, karena pada saat itu ia berada sangat dekat dengan Allah Swt. Hal ini dijelaskan Allah Swt dalam QS. An-Nahl [16] ayat 99 yang berbunyi:

اِنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ٩٩

“Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.”

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tawakal adalah sikap berserah diri kepada Allah Swt atas segala sesuatu yang telah manusia usahakan.

Baca Juga: Jangan Pernah Berputus Asa: Tafsir Surat Az-Zumar Ayat 53

Dengan demikian, tidak benar seandainya seseorang bertawakal tanpa mengusahakan sebelumnya. Tawakal juga memiliki banyak keutamaan, diantaranya adalah bagian dari iman, mendapat kecukupan, memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, serta tidak akan dikuasai setan. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Ar-Rum Ayat 41: Menyoal Manusia dan Krisis Ekologis

0
Surat Ar-Rum Ayat 41
Surat Ar-Rum Ayat 41

Artikel singkat ini akan menguraikan salah satu pembahasan dalam karya Yusuf al-Qaradhawi berjudul Ri’ayah al-Bi’ah fi Syari’ah al-Islam. Dalam karya tersebut ada salah satu pembahasan menarik mengenai penafsiran Surat Ar-Rum Ayat 41 yang secara garis besar menyoal manusia dan krisis ekologis.

Sebelum masuk dalam penafsiran Yusuf al-Qaradhawi, mari kita simak terlebih dahulu lafadz Surat Ar-Rum Ayat 41 dan terjemahnya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Surat Ar-Rum Ayat 41)

Dalam membuka pembahasan tentang penafsirkan ayat ini, Yusuf al-Qaradahawi dengan tegas menekankan bahwa Islam telah mengatakan penyebab terjadinya kerusakan terhadap lingkungan merupakan perbuatan manusia yang korup, sikap eksploitatif dan destruktif (tasarrufat al-insan al-munharifah). Surat Ar-Rum Ayat 41 ini yang menjadi landasan argumentasinya.

Baginya, kata fasad dalam ayat ini tidaklah dimaknai secara maknawi yakni berupa kemaksiatan, kemungkaran dan perbuatan keji. Namun, lebih kepada bentuk konkret kerusakan itu sendiri yang disebabkan oleh tindakan manusia (bima kasabat a’id al-nas). Maka secara sederhana, fasad yang dimaksud dalam ayat ini adalah akumulasi dari tindakan non-etis manusia terhadap lingkungan secara berulang-ulang.

Kemudian ia mengambil beberapa penafsiran yang memiliki frekuensi yang sama dengan pendapatnya. Di antaranya adalah penafsiran Al-Alusi dan Ibn ‘Asyur. Keduanya berpendapat bahwa fasad yang dimaksud dalam Surat Ar-Rum Ayat 41 adalah hilangnya kebermanfaatan dan munculnya krisis-krisis di bumi, baik berupa krisis pangan nabati maupun hewani.

Baca Juga: Mengenal Al-Alusi: Sang Arsitek Ruh al-Ma’ani

Selanjutnya dalam menafsirkan penggalan ayat liyudziqahum ba’da alladzi ‘amilu, al-Qaradahawi mengatakan bahwa Tuhan tidak akan menghukumi manusia sepenuhnya dari apa yang telah mereka perbuat, melainkan hanya menimpakan separuhnya agar manusia merasakan dampak dari apa yang mereka lakukan.

Lalu ia pun mengutip QS. al-Fatir [35]: 45 sebagai dasar argumentasinya. La’allahum yarji’un, ia menafsirkan penggalan akhir ayat ini dengan berpendapat bahwa balasan yang Tuhan berikan kepada manusia berupa setengah dari apa yang telah mereka lakukan merupakan cara Tuhan untuk memberikan pengajaran bagi manusia agar menyadari apa telah dilakukan dan membenahi kembali apa yang telah dirusak.

Kemudian ia memberikan statement penutup terhadap penafsirannya, “sesungguhnya rusaknya alam disebabkan oleh rusaknya (etika) manusia, alam tidak akan menjadi baik sebelum manusia memiliki etika yang baik terhadapnya. Dan manusia tidak akan memiliki etika yang baik kecuali kedua hal yang dimilikinya baik yakni akal dan hati. Maka benarlah Tuhan yang telah berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum itu berinisiasi mengubah dirinya sendiri (QS. al-Ra’d [13]: 11)”.

Statement penutup ini mengisyaratkan bahwa ia benar-benar mengharapkan bahwa manusia dapat mengubah mind set dan etikanya terhadap lingkungan. Sebab selama ini lingkungan dapat dikatakan dinilai sebagai makhluk kelas dua di bawah manusia dan bisa diperlakukan layaknya budak.

Bentuk Tindakan Amoral Manusia Terhadap Lingkungan

Adapun setelah menafsirkan ayat tersebut, al-Qaradhawi memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai istilah dari bentuk tindakan-tindakan manusia yang berpotensi untuk merusak lingkungan.

Pertama, taghyir khalq Allah. Dengan mengutip Q.S al-Nisa’ [4]: 119, ia kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mengubah ciptaan Tuhan adalah tindakan manusia yang menyelisihi fitrah dari ketetapan suatu ciptaan yang telah ditetapkan Tuhan.

Seperti manusia yang telah diberikan Tuhan anugrah berupa udara segar yang dengannya manusia dapat bernafas dengan baik maupun air yang bersih, lalu dicemari oleh manusia dengan polutan industri yang tidak menaati aturan ambang batas keamanan polutan yang ada maka tindakan itu telah merusak fitrah dari udara maupun air tersebut.

Kedua, al-zulmu. Ia menjelaskan bahwa zalim merupakan lawan dari adil dan dalam konteks ekologis, zalim di sini bermakna bahwa manusia tidak melakukan interaksi yang baik dengan lingkungan yang semestinya diperlakukan sama dalam memperlakukan sesama manusia.

Ketiga, al-‘uluw fi al-ard. Adapun yang dimaksud menyombongkan diri dalam konteks ini adalah tindakan manusia yang merasa menguasai alam sehingga bisa berlaku semena-mena terhadap alam dan melupakan akan adanya pemilik alam sejati. Dalam menjelaskan poin ini, Qardawi menyetir kisah Fir’aun yang termaktub dalam Q.S. al-Qashshash [28]: 4 dan 38.

Baca Juga: Tafsir Ekologi: Mengenal Ayat-Ayat Lingkungan dalam Al-Quran

Keempat, ittiba’ al-hawa’, dalam konteks ini yang dimaksud adalah manusia mengikuti hawa nafsunya semata dan mengabaikan pikiran jernih serta hatinya dalam mengeksploitasi alam.

Ia mengutip Q.S al-Furqan [25]: 43-44 yang menyatakan bahwa manusia yang menyembah hawa nafsunya tidak ada bedanya dengan binatang yang tidak berakal dan bahkan lebih buruk, sebagai gambaran bagi manusia yang eksploitatif dan destruktif terhadap alam.

Kelima, inhiraf ‘an mizan al-kauni. Ia menjelaskan bahwa alam semesta ini memiliki takaran keseimbangan dan ini direpresentasikan dalam Al-Qur’an dengan pernyataan bahwa segala yang ada di alam semesta ini diciptakan dengan qadr-miqdar (Q.S al-Ra’d [13]: 8, Q.S al-Mu’minun [23]: 18, Q.S al-Hijr [15]: 19).

Maka keseimbangan alam ini harus dijaga oleh manusia dengan tidak bersikap ifrath dan tafrith atau tidak menyianyiakan alam dan tidak mengeksplotasinya dengan berlebihan. Oleh karena itu, manusia harus mampu bersikap adil dalam memperlakukan alam, artinya memanfaatkan apa yang ada di alam ini dengan sesuai kebutuhan serta berlaku ihsan dengan memberikan hak-hak alam sehingga keseimbangan alam tetap terjaga.

Terakhir, al-kufr bi an‘am Allah. Syukur menjadi salah satu konsep dalam Islam yang menekankan adanya rasa terimakasih atas kenikmatan yang telah diberikan Tuhan.

Dalam Al-Qur’an, ayat tentang syukur yang paling masyhur dikemukakan adalah Q.S Ibrahim [14]: 7. Baginya, konsep syukur ini dalam konteks eko-teologis tidak boleh hanya dicukupkan dengan ungkapan ekspresif semata, namun harus lebih luas yakni dengan menjaga kenikmatan yang telah diberikan (muhafazah ‘ala al-ni’mah). Wallahu A’lam.

Pengertian dan Macam-Macam Shifatul Huruf dalam Ilmu Tajwid

0
Shifatul Huruf
Shifatul Huruf

Pengertian Shifatul Huruf dan Pendapat Ulama Qira’at

Shifatul Huruf  secara bahasa berarti sesuatu yang melekat pada suatu hal seperti warna putih, warna hitam dan semacamnya.  Secara istilah, Shifatul Huruf berarti tata cara yang jelas tentang sifat huruf menurut ketentuannya. Pengertian ini dikemukakan oleh al-Qamhawi dalam karyanya al-Burhan fi at-Tajwid al-Qur’an.

Ulama qira’at memiliki perbedaan pandangan perihal jumlah Shifatul Huruf. Kelompok pertama berpendapat Shifatul Huruf berjumlah empat belas, dengan mengurangi sifat idzlaq, lin, dan menambahkan sifat ghunnah. Sedangkan, kelompok kedua berpendapat enam belas sifat yang mana diikuti oleh As-Syathibi. Kelompok ketiga berpandangan Shifatul Huruf menjadi tujuh belas sifat, pendapat ini diikuti oleh al-Jazari. Pendapat selanjutnya menganggap jumlah Shifatul Huruf hingga dua puluh empat sifat.

Baca Juga: Mengenal lebih dekat Ilmu Tajwid dan Asal-Usulnya Menurut Para Ulama

Dalam kitab al-Burhan fi at-Tajwid al-Qur’an dijelaskan jumlah yang masyhur dipelajari ialah pendapat kelompok ketiga. Sedangkan pada kitab at-Tahdid fi al-Itqan wa at-Tajwid dipaparkan perihal pendapat kedua. Sehingga, pada tulisan ini akan membahas tentang keduanya secara jelas dan singkat.

Macam-macam Shifatul Huruf menurut al-Jazari dan as-Syathibi

  • Hams dan Jahr

Shifatul Huruf Hams merupakan sifat huruf yang ketika dibaca mengalirkan udara. Berkebalikan dengan sifat Jahr yang menahan udara keluar ketika membacanya. huruf-huruf yang bersifat Jahr adalah huruf hijaiyah selain huruf dibawah ini. Huruf hijaiyah yang bersifat hams terdapat sepuluh huruf yang biasa disingkat dengan bacaan “Fahatssahu Syakhshun Sakat”, yaitu huruf

 ف ث ه ح  ص س  ك  ت ش خ

  • Syiddah dan Rakhawah

Syiddah bermakna tertahannya suara, sedangkan Rakhawah mengalirnya suara. Ketika seseorang membaca huruf dengan sifat ini berarti perlu menahan ataupun melepaskan suaranya. Huruf-huruf Syiddah adalah ء, ج, د, ق, ط, ب, ك, ت. Sedangkan huruf Rakhawah adalah selain delapan huruf tersebut.

  • Isti’la dan Istifal

Isiti’la bermakna lidah terangkat ketika membaca sebagian huruf, sedangkan Istifal ialah merendahnya lidah ketika membaca huruf tertentu. Huruf-huruf Isti’la adalah

خ, ص, ض, غ, ط, ق, ظ

Berkebalikan dengan huruf Istifal yakni berlaku pada huruf selainnya.

  • Ithbaq dan Infitah

Ithbaq bermakna terangkatnya lidah hingga menutup semua langit-langit mulut, yang termasuk dalam sifat ini adalah huruf

ص, ض, ط, ظ

Sedangkan infitah yang berarti terbukanya lidah (tidak menutup semua langit-langit mulut) berupa huruf selain keempatnya.

  • Shafir

Shafir bermakna berdesis. Dalam arti ketika membaca huruf bersifat tersebut mengeluarkan bunyi desisan “sss”. Huruf yang termasuk dalam kategori ini adalah huruf

ز, س ,ص

  • Tafassyi dan Istithalah

Tafassyi bermakna udara yang banyak berhembus dari mulut. Sedangkan Istithalah berarti makhraj yang memanjang dari ujung lidah ke ujung yang lain. Huruf yang bersifat Tafassyi adalah huruf ش, dan yang bersifat Istithalah adalah huruf ض.

  • Inhiraf dan Takrir

Inhiraf bermakna meyimpang. Dalam arti makhrajnya menyimpang ke makhraj huruf lain pada saat tertentu. Contohnya makhraj huruf ل menyimpang ke makhraj huruf ن ketika ل dibaca tebal (tafkhim). Sedangkan takrir adalah gerakan berulang ketika membaca suatu huruf. Yang termasuk dalam sifat inhiraf, menurut al-Jazari adalah huruf ل dan ر, sedangkan menurut as-Syathibi adalah huruf ل saja. Sementara itu yang termasuk dalam takrir menurut keduanya adalah huruf ر.

  • Qalqalah

Qalqalah adalah bunyi pantulan dari pembacaan huruf tertentu. Adapun yang termasuk dalam huruf Qalqalah adalah huruf

ق, ط, ب, ج, د.

  • Idzlaq dan Ishmat

Kedua sifat ini adalah khusus pada thoriq al-Jazari. Idzlaq berarti mudah dikeluarkan (diucapkan) dari mulut, karena makhrajnya dekat dengan ujung lidah. Ishmat berarti kebalikannya, yakni tidak semudah idzlaq dalam pengucapan. Huruf-huruf Idzlaq adalah

ف, ر, م, ن, ل, ب

  • Ghunnah

Ghunnah disini sifat yang dikhususkan oleh as-Syathibi, yang berupa huruf Nun dan Mim sukun, dan yang bertasydid.

  • Al-Hawi

al-Hawi disini adalah sifat yang juga dikhususkan oleh as-Syathibi. Al-Hawi berarti huruf yang makhrajnya leluasa untuk mengeluarkan suara yang lebih keras dibandingkan dengan makhraj huruf lain. Huruf yang termasuk disini hanya satu huruf, yaitu ا  Alif.

  • Mad wal lin

Isitilah Mad wal lin merupakan gabungan dari thoriq as-Syathibi dan al-Jazari. Mad merupakan istilah dari as-Syathibi yang berupa huruf Ya, Wawu, dan Alif yang sebelumnya didahului huruf yang berharakat kasrah, dhummah ataupun fathah. Adapun istilah liin merupakan thoriq al-Jazariyyah yang artinya lembut. Huruf yang termasuk liin disini adalah huruf و dan ي sukun yang didahului huruf berharakat fathah.

Semoga bermanfaat untuk pembaca. Wallahu A’lam.

Mengenal Tafsir Al-Quran Pathok Nagari Karya KH. Ali As’ad

0
tafsir al-quran pathok nagari
tafsir al-quran pathok nagari (daaruttauhiid.org)

Selain lokalitas bahasa, kajian lokal Al-Quran juga melahirkan kreatifitas ragam aksara. Misalnya Aksara Jawi (Melayu-Jawi) yang merupakan bentuk tulisan Arab untuk bahasa Melayu, dan Pegon untuk Jawa atau Sunda.

Di Yogyakarta misalnya, terdapat Tafsir Al-Quran Pathok Nagari karya KH. Ali As’ad. Kitab tafsir tersebut merupakan kitab tafsir baru yang ditulis pada tahun 2012. Beliau membuat sebuah kitab tersebut bertujuan supaya di Yogyakarta khususnya di Ndalem Keraton mempunyai kekhasan dalam tafsir atau memahami Al-Quran.

Latar Belakang dan Tujuan Penulisan

Tafsir Al-Quran Pathok Nagari karya KH. Ali As’ad ini pertama kali mulai ditafsirkan pada tahun 2012. Bermula dari adanya majelis pengajian ibu-ibu Nisa al-Qurra yang diselenggarakan setiap hari jumat setelah dzuhur di rumahnya daerah Ploso Kuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman. Kemudian beliau KH. Ali As’ad mempunyai pemikiran untuk membuat kitab tafsir yang digunakan mengisi majlis tersebut.

Tidak hanya sebatas itu, tujuan utama dari pembuatan kitab Tafsir Al-Quran Pathok Nagari adalah untuk menciptakan kitab tafsir Al-Quran yang bercorak kedaerahan untuk menunjukan identitas dari Yogyakarta, karena pada waktu itu daerah Solo sudah memiliki kitab tafsir sendiri.

KH. Ali As’ad mengajarkan langsung kitab ini pada waktu itu. Beliau menafsirkan Tafsir Al-Quran Pathok Nagari memulainya dengan menafsirkan surat al-Fatiḥah yang beliau jelaskan dalam satu kitab pethilan (kitab pethilan 1), kemudian beliau menafsirkan Q.S Al-Baqarah dalam kitab pethilan 2 dan 3. Dalam menafsirkannya, beliau membentuk tim dari para santrinya untuk membantu beliau mengerjakan penafsiran Tafsir Al-Quran Pathok Nagari. Tim yang dipimpin oleh KH. Ali As’ad tersebut beranggotakan Fattah Yasin (Magelang), Wahid Ulum (Kudus) dan dua anggota lagi yang penulis belum mendapatkan datanya.

Pernah kitab ini disowankan (baca: dikonsultasikan) kepada Ngarso Ndalem agar beliaukui, bahwa kitab ini merupakan kitab tafsir Al-Quran khas Yogyakarta. Seperti kitab Tahlil Hadiningrat yang telah diakui oleh Kasultanan, untuk menunjukan bahwa penduduk Yogyakarta merupakan masyarakat muslim, yang di dalamnya tercakup warga Nahdliyin juga. Namun pada waktu itu, kebetulan Sri Sultan Hamengkubuwono sedang tidak ada dan sampai sekarang belum disowankan lagi kepada Ngarso Ndalem.

Baca juga: Mengenal Tafsir Marah Labid, Tafsir Pertama Berbahasa Arab Karya Ulama Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantany

Ketika kitab ini hendak di-sowan-kan ke Ngarso Ndalem, kitab ini baru selesai beberapa juz sajadan masih dalam bentuk draft kasar. Namun penggarapan kitab ini masih berlanjut.Cara penafsirannya adalah dengan KH. Ali As’ad menyuruh santrinya Fattah Yasin yang merupakan alumni dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri untuk memaknai Al-Quran dengan makna murod Jawa dan Indonesia.

Tujuan dari penafsiran yang dilakukan dengan cara memaknai perkata ini, menurut KH. Ali As’ad adalah supaya orang mengetahui makna asli perkata, tidak hanya terjemahan yang disajikan dalam bentuk global seperti kitab Al-Quran terjemahan pada umumnya. Penyajian seperti ini lebih dapat dipahami oleh para pembacanya, dan yang paling menunjukan itu adalah makna pegon. Selanjutnya dari makna pegon kemubeliaun dimodifikasi lagi dengan makna jawa yang menggunakan tulisan latin.

Proses penafsiran ini berjalan kurang lebih sekitar 3 tahun, yaitu sampai pada tahun 2014. Hal ini karena Fattah Yasin, yaitu salah satu anggota yang memaknai Al-Quran harus kembali pulang ke rumahnya di Magelang.

Sampai sekarang ini, dari draft kasar yang disusun oleh KH. Ali As’ad dan timnya, yang telah dicetak adalah juz 1 yang terdiri dari 3 jilid atau yang disebut dengan pethilan. Pethilan 1 hanya menafsirkan surat al-Fatihah saja, pethilan 2 menafsirkan Q.S. Al-Baqarah ayat 1-74, dan pethilan 3 menafsirkan QS. Al-Baqarah ayat 75-141)

Sumber penulisan kitab

Tafsir Al-Quran Pathok Nagari karya KH. Ali As’ad ini, ia mempunyai dasar-dasar ilmu pengetahuan yang dijadikan sebagai rujukan untuk membangun penafsirannya. Adapun sumber-sumber yang digunakan KH. Ali As’ad untuk menafsirkan Al-Quran, penulis akan memaparkan lebih detail.

Pertama, Al-Quran. Pada kitab Tafsir Al-Quran Pathok Nagari karya KH. Ali As’ad ini, sangat jelas bahwa beliau menafsirkan ayat dengan ayat-ayat Al-Quran yang lainnya. Penafsiran ini bisa dilihat pada kitab pethilan satu ketika KH. Ali As’ad menafsirkan surat al-Fātihah. Ia menjelaskan surat al-Fātihah yang disebut as-sab’ul maśāni dengan QS  Al-Hijr (15): 87 :

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِى وَ الْقُرْأَنَ الْعَظِيْمَ

Selanjutnya dari ayat ini KH. Ali As’ad menjelaskan bahwa yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang adalah surat al-Fātihah yang terdiri dari tujuh ayat. Disebut demikian karena surat al-Fātihah dibaca berulang-ulang ketika sholat.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul

Kedua, hadits. KH. Ali As’ad juga menafsirkan Al-Quran dengan hadits Nabi saw. Seperti pada waktu menafsirkan al-Fātihah sebagai as-sab’ul maśāni, beliau juga merujuk pada hadits Nabi saw:

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ سَبْعُ آيَاتٍ ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِحْدَاهُنَّ ، وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَ الْقُرْأَنُ الْعَظِيْمُ ، وَ هِيَ أُمُّ الكِتَابِ ( رواه البيهاقي و غيره عن أبي هريرة )

Dari hadits ini, KH. Ali As’ad juga memaparkan bahwa al-Fātihah tidak hanya disebut dengan al-sab’u al-maśāni saja tetapi disebut juga dengan Ummul Kitāb (Induk Kitab) atau Ummul Qur’an (Induk Al-Quran). Di samping itu, ia setuju untuk memasukan bacaan basmallah dalam bagian surat al-Fātihah.

Selain menafsirkan surat al-Fātihah dengan hadits sehingga disebut dengan al-sab’u al-maśāni, ketika menafsirkan ayat:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

KH. Ali As’ad menafsirkan ayat tersebut dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Ibnu Umar ra, yaitu:

اَلْحَمْدُ رَأْسُ الشُّكْرِ ، مَاشَكَرَ اَللَّهَ عَبْدٌ لَا يَحْمَدُهُ (رواه البيهاقي عن عبدالله بن عمرو)

Sebelum beliau memunculkan haditsnya terlebih dahulu beliau menjelaskan bahwa lafal hamdalah merupakan pernyataan untuk mengembalikan segala pujian kepada Allah dan wujud syukur kepada-Nya.

Namun dalam menukil setiap hadits yang digunakan untuk menafsirkan ayat, KH. Ali As’ad tidak mencantumkan jalur sanadnya secara rinci dan kualitas dari hadits yang digunakan. Apakah hadits tersebut shahih atau dha’if.

Ketiga, Akal (Ra’y). Akal (ra’y) pada penafsiran KH. Ali As’ad merupakan unsur yang sangat penting dalam menafsirkan tafsir ini. Meskipun dua sumber yang sebelumnya (Al-Quran dan Hadits) juga memiliki peran yang sangat penting. Hal ini karena dengan pemikiran KH. Ali As’ad, beliau dapat menjelaskan dan mengkolaborasikan penjelasan dari Al-Quran dan Hadits, sehingga penafsiran dari suatu ayat dapat dipahami secara utuh.

Peran akal yang digunakan KH. Ali As’ad untuk menafsirkan ayat Al-Quran ini, dikemukakan oleh Fattah Yasin yang merupakan salah satu santri KH. Ali As’ad yang menjadi anggota tim penyusun kitab Al-Quran Pathok Nagari. Beliau mengutarakan bahwa ketika beliau sorogan (menyetorkan) makna terjemahan Al-Quran Pathok Nagari, KH. Ali As’ad menafsirkan sendiri ayat-ayat yang perlu untuk ditafsirkan yang banyak digunakan di masyarakat. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 100-103

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setelah ayat yang lalu membahas fenomena langit agar menjadi bahan introspeksi diri bagi manusia, khusunya orang-orang menyekutukan Allah swt, Tafsir Surat Al An’am Ayat 100-103 memuat hakikat dari perilaku orang-orang musyrik.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 99


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 100-103 ini Allah swt menjelaskan bahwa kemusyrikan mereka pada hakikatnya karena mengikuti bisikan jin dan setan. Padahal mereka tahu bahwa jin itu merupakan ciptaan Allah swt juga. Dan pernyataan mereka yang paling fatal adalah anggapan mereka tentang anak Allah swt (Maha Suci Allah dari segala tuduhan itu).

Pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 100-103 ini diakhiri dengan penyataan Allah swt bahwasannya Ia Maha Suci dari segala yang mereka tuduhkan. Allah yang menguasai Alam beserta isinya. Ia juga yang mengatur Alam dengan begitu runtutnya. Tidak ada sekutu bagiNya.

Ayat 100

Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menjadikan jin sekutu bagi Allah. Dikatakan demikian karena orang-orang musyrik itu meskipun kenyataannya menyembah berhala-berhala, namun pada hakikatnya mereka berbuat demikian itu lantaran mengikuti bisikan jin dan setan.

Allah berfirman:

اِنْ يَّدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلَّآ اِنَاثًاۚ وَاِنْ يَّدْعُوْنَ اِلَّا شَيْطٰنًا مَّرِيْدًاۙ  ١١٧  لَّعَنَهُ اللّٰهُ ۘ وَقَالَ لَاَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًاۙ  ١١٨  وَّلَاُضِلَّنَّهُمْ وَلَاُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَاٰمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ اٰذَانَ الْاَنْعَامِ وَلَاٰمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّتَّخِذِ الشَّيْطٰنَ وَلِيًّا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِيْنًا   ١١٩

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah inasan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, yang dilaknati Allah, dan (setan) itu mengatakan, ”Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu, dan pasti kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, (lalu mereka benar-benar memotongnya), dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya).” Barang siapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, dia menderita kerugian yang nyata. (an-Nisa′/4: 117-119)

Allah menjelaskan kesalahan perbuatan mereka karena mereka sebenarnya telah mengetahui bahwa yang menciptakan jin-jin itu ialah Allah. Itulah sebabnya maka perbuatan mereka itu dicela. Celaan Allah terhadap mereka itu adalah seperti celaan Ibrahim a.s. terhadap kaumnya.

Allah berfirman:

قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ  ٩٥  وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ  ٩٦

”Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (as-Saffat/37: 95-96)

Allah mencela pula perbuatan mereka, karena mereka telah berbohong dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak laki-laki adalah seperti tuduhan orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Allah swt berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰه

Dan orang-orang Yahudi berkata, ”Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani  berkata, ”Al-Masih putra Allah.” (at-Taubah/9: 30)

Sedangkan tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak perempuan diterangkan dalam firman Allah:

فَاسْتَفْتِهِمْ اَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُوْنَۚ   ١٤٩  اَمْ خَلَقْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةَ اِنَاثًا وَّهُمْ شَاهِدُوْنَ  ١٥٠  اَلَآ اِنَّهُمْ مِّنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُوْلُوْنَۙ  ١٥١  وَلَدَ اللّٰهُ ۙوَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَۙ  ١٥٢

Maka tanyakanlah (Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah), ”Apakah anak-anak perempuan itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki?” atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan sedangkan mereka menyaksikan(nya)? Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongannya mereka benar-benar mengatakan, ”Allah mempunyai anak.” Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta. (as-Saffat/37: 149-152)

Mereka melemparkan tuduhan itu dengan tidak mempunyai alasan sedikit pun. Bahkan perkataan mereka menunjukkan kebodohan mereka sendiri atau semata-mata menuruti hawa nafsu.

Di akhir ayat ini Allah membersihkan diri-Nya dari tuduhan-tuduhan mereka, bahwa Dia Mahasuci dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan, yaitu bahwa Allah tidak mempunyai serikat dan tidak mempunyai anak.

Ayat 101

Allah menerangkan bahwa Dialah Pencipta langit dan bumi. Dalam penciptaan jagat raya dan segala isinya, Dia tidaklah meniru dari ciptaan-ciptaan sebelumnya. Dia menciptakan dari tidak ada menjadi ada.

Ini berarti bahwa Allah menciptakannya secara mutlak tidak memerlukan bantuan tenaga ataupun benda-benda lainnya. Oleh sebab itu bagaimana mungkin ia mempunyai anak seperti persangkaan orang-orang musyrik. Padahal Dia tidak memerlukan istri yang dapat melahirkan anak.

Allah menyalahkan anggapan orang-orang musyrik dengan memberikan alasan-alasan yang rasional dengan maksud agar mereka dapat menerima kebenaran. Penjelasan ini merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya, Allah membersihkan diri-Nya dari tuduhan-tuduhan orang-orang musyrik; sedangkan keterangan-keterangan selanjutnya menandaskan bahwa dugaan-dugaan mereka itu tidak masuk akal.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu-Nya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ilmu-Nya azali dan abadi. Hal ini merupakan ketetapan Allah untuk menguatkan alasan-alasan yang dikemukakan sebelumnya serta membatalkan tuduhan orang musyrik yang tidak pada tempatnya itu.

Ayat 102

Allah menerangkan kepada orang-orang musyrik, bahwa Allah memiliki sifat-sifat seperti disebutkan dalam ayat yang lalu. Itulah sebenarnya Tuhan yang wajib mereka sembah.

Yang menciptakan segala sesuatu, tidak ada tuhan yang lain kecuali Dia, bukan tuhan-tuhan yang mereka ciptakan seperti berhala-berhala, atau malaikat-malaikat yang dianggap sebagai anak Tuhan; karena semuanya itu adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak pantas diperserikatkan kepada Dia.

Di akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dialah pemelihara segala sesuatu yaitu menguasai segala urusan, mengurusi jagat raya dan isinya dengan ilmu, hikmat dan kekuasaan-Nya.


Baca juga: Iluminasi Mushaf Al-Bantani; Ekspresi Identitas Keislaman Masyarakat Banten


Ayat 103

Allah menjelaskan hakikat dan keagungan diri-Nya sebagai penegasan dari sifat-sifat-Nya yang telah dijelaskan pada ayat yang baru lalu, yaitu bahwa Allah di atas segala-galanya.

Zat-Nya Yang Agung itu tidak dapat dijangkau oleh indera manusia, karena indera manusia itu memang diciptakan dalam susunan yang tidak siap untuk melihat zat-Nya. Sebabnya tidak lain karena manusia itu diciptakan dari materi, dan inderanya hanya menangkap materi-materi belaka dengan perantaraan materi pula; sedangkan Allah bukanlah materi. Maka wajarlah apabila Dia tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

Yang dimaksud dengan Allah tidak dapat dijangkau dengan indera manusia, ialah selama manusia masih hidup di dunia. Sedangkan pada hari Kiamat, orang-orang beriman akan dapat melihat Allah.

Nabi Muhammad bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَكَمَا تَرَوْنَ الشَّمْسَ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ

(رواه البخاري عن جرير، صحيح البخاري 4، 283)

Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu di hari Kiamat seperti kamu melihat bulan di malam bulan purnama, dan seperti kamu melihat matahari di kala langit tidak berawan.” (Riwayat al-Bukhari dan Jarir, Sahih al-Bukhari IV: 283).

Allah berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ  ٢٢  اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ  ٢٣

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya. (al-Qiyamah/75: 22-23)

Kemungkinan melihat Tuhan di hari Kiamat, khusus bagi orang-orang mukmin sedangkan orang-orang kafir kemungkinan melihat Allah tertutup bagi mereka.

Allah berfirman:

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya. (al-Mutaffifin/83: 15)

Allah menegaskan bahwa Dia dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat, dan ba¡³rah (penglihatan)-Nya dapat menembus seluruh yang ada, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, baik bentuk maupun hakikat-Nya.

Di akhir ayat ini Allah menegaskan lagi bahwa Zat-Nya Mahahalus, tidak mungkin dijangkau oleh indera manusia apalagi hakikat-Nya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu betapa pun halusnya, tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107


(Tafsir Kemenag)